You are on page 1of 17

Universitas Kristen Krida Wacana

Laporan Family Folder

di Pusat Kesehatan Masyarakat Wanakerta, Kecamatan teluk

jambe barat, Kabupaten Karawang 14 Januari 2018 sampai

dengan 7 Februari 2019

Oleh:

Raydel BrianKwee Amalo

11.2016.301

Kepaniteraan Ilmu Kedokteran Komunitas

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jakarta, February 2019
Kata Pengantar

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas karunia-Nya
saya dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu
kewajiban dalam rangka Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Komunitas Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana.

Makalah ini dibuat dengan pendekatan kedokteran keluarga. Semoga laporan yang saya
buat ini dapat berguna dan bermanfaat bagi para pembaca. Akhir kata, saya mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala bimbingan dan bantuan yang telah diberikan
dalam penyelesaian makalah ini kepada dr. Ernawaty Tamba, MKM dan semua pihak yang
turut membantu terselesainya makalah ini.

Saya juga menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah yang saya buat
ini, oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun sehingga di masa
mendatang dapat ditingkatkan menjadi lebih baik.

Jakarta, February 2018


Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Penyakit Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang mengalami peningkatan terus
menerus dari tahun ke tahun. Hipertensi dikenal secara luas sebagai penyakit kardiovaskular.
Diperkirakan telah menyebabkan 4.5% dari beban penyakit secara global, dan prevalensinya
hampir sama besar di negara berkembang maupun di negara maju. Pada kebanyakan kasus,
hipertensi terdeteksi saat pemeriksaan fisik karena alasan penyakit tertentu, sehingga sering
disebut sebagai “silent killer”.
Hipertensi merupakan salah satu pencetus terjadinya penyakit jantung, ginjal dan stroke.
Berdasarkan riset kesehatan dasar (riskedas) 2018 prevalensi Hipertensi di Indonesia sangat
tinggi, yakni mencapai 34,1 persen dari total jumlah penduduk dewasa. Hamid menjelaskan
prevalensi Hipertensi di Indonesia lebih tinggi jika dibandingkan dengan Singapura yang
mencapai 27,3 persen, Thailand dengan 22,7 persen dan Malaysia mencapai 20% persen. Namun
demikian, lanjutnya, banyak orang yang tidak mengetahui dan menyadari bahwa dirinya
menderita hipertensi.
Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi diperoleh
pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung
berelaksasi (diastolik). Tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg didefinisikan sebagai "normal".
Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi
biasanya terjadi pada tekanan darah 140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga kali
dalam jangka beberapa minggu.
Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah;
tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat
sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis.

1
BAB II
LAPORAN KASUS

Puskesmas : Wanakerta
Tgl kunjungan rumah : 1 february 2019, Pukul 08.30 WIB
Data riwayat keluarga :
I. Identitas Pasien
a. Nama : Rohimah
b. Umur : 55 tahun
c. Jenis Kelamin : Perempuan
d. Pekerjaan : Tidak ada
e. Pendidikan : SD
f. Alamat : desa Margakaya, Wanakerta, teluk jambe barat, karawang

II. Riwayat Biologis Keluarga


a. Keadaan kesehatan sekarang : Baik
b. Kebersihan perorangan : Baik
c. Penyakit yang sering diderita : Hipertesi
d. Penyakit keturunan : Tidak ada
e. Penyakit kronis/menular : Tidak ada
f. Kecacatan anggota keluarga : Tidak ada
g. Pola makan : Baik
h. Pola istirahat : Baik
i. Jumlah anggota keluarga : 3 orang

III. Psikologis Keluarga


a. Kebiasaan buruk : Tidak ada
b. Pengambilan keputusan : Keluarga
c. Ketergantungan obat : Tidak ada
d. Tempat mencari pelayanan kesehatan : Puskesmas
e. Pola pengobatan : Obat-obat dari puskesmas
f. Pola hubungan sosial : Baik
g. Pola aktifitas kemasyarakatan : Baik
h. Pola kunjungan ke puskesmas : kontrol bila obat sudah habis
i. Pola rekreasi : Jarang

IV. Keadaan Rumah/ Lingkungan


a. Jenis bangunan : Permanen
b. Lantai rumah : Keramik

2
c. Jenis tembok : Semen, batu bata
d. Luas rumah : 7x15x2,5 m2
e. Jumlah orang yang tinggal : 3 orang
f. Penerangan : Baik
g. Kebersihan : Baik
h. Ventilasi : Kurang
i. Dapur : Ada
j. Keadaan dapur dan kebersihan : kotor dan tidak tertata rapi
k. Tempat penyimpanan makanan : lemari makan
l. Tempat penyimpanan alat makan : Di rak piring
m. Keadaan kamar mandi dan wc : Sedikit kotor dan tidak tertata rapi
n. Jamban keluarga : Ada
o. Sumber air minum : Ledeng dan air tanah
p. Sumber pencemaran air : Tidak ada
q. Pemanfaatan pekarangan : Tidak ada
r. Sistem pembuangan air limbah : Ada
s. Tempat pembuangan sampah : Ada
t. Sanitasi lingkungan : Sedang

V. Spiritual Keluarga
a. Ketaatan beribadah : Baik
b. Keyakinan tentang kesehatan : Baik
VI. Keadaan Sosial Keluarga
a. Tingkat pendidikan : Sedang
b. Hubungan antar anggota keluarga : Baik
c. Hubungan dengan orang lain : Baik
d. Kegiatan organisasi sosial : Sedang
e. Keadaan ekonomi : Sedang
VII. Kultural Keluarga
a. Adat yang berpengaruh : Tidak ada
b. Lain-lain : Tidak ada
VIII. Daftar Anggota Keluarga

Keadaan
Status Domisili
Jenis Tanggal Pendidika kesehatan
Nama Pekerjaan Hub. Keluarga Perkawi serumah/
Kelamin Lahir n penyakit
nan tidak
bila ada
Rohmat L 14-6-1963 Swasta SMA Kepala Keluarga Suami Serumah -
26-12-
Rohimah P IRT SMP Kepala Keluarga Istri Serumah HT
1964
09-01- Belum
Sriyati P Kuliah S1 Anak Serumah -
1998 Kawin
Ani P 06-08- - SMA Anak Belum Serumah -

3
Yunita 2002 Kawin
2
IX. Keluhan Utama
Lemas, Mudah lelah, pusing
X. Keluhan Tambahan
Pegal- pegal seluruh badan
XI. Riwayat Penyakit Sekarang
Hipertensi
XII. Riwayat Penyakit Dahulu
Os memiliki riwayat hipertensi. Riwayat penyakit lainnya disangkal.
XIII. Pemeriksaan Fisik
 Status Generalis :
- Keadaan Umum : Baik
- Kesadaran : Compos mentis
- Keadaan gizi : Cukup
- Tekanan Darah : 160/90 mmHg
- Nadi : 66 kali / menit
- Pernapasan : 20 kali / menit
- Suhu : 36,2 o C
- Berat badan : 45 kg
- Tinggi badan : 148 cm

 Status Gizi
BB(kg)
IMT = 2 2 = 20,55
TB (m )
IMT normal : 18,5–22,9 kg/m2 Status gizi = normal

XIV. Diagnosis Penyakit


Hipertensi

XV. Diagnosis Keluarga


Tidak ada

XVI. Anjuran Penatalaksanaan penyakit :


a. Promotif :
- Harus rutin memeriksakan diri ke bidan, guna mengontrol kadar tekanan darah
untuk mencegah terjadinya komplikasi.
b. Preventif :
- Atur pola makan/dietnya, perhatikan makanan berlemak tinggi, dan kadar garam
- Banyak berolahraga dan beraktivitas fisik
c. Kuratif :
- Captopril ( anti hipertensi)

4
d. Rehabilitatif :
- Edukasi (tentang penyakit, gejala penyakit, cara menangani dan cara pencegahan)
- Exercise
- Nutrisi dengan gizi yang lengkap dan pengaturan makanan mencegah peningkatan
kadar tekanan darah
- Penggunaan obat – obat long term control hipertensi

XVI. Prognosis
- Penyakit : Prognosis penyakit hipertensi pasien ini dapat dikatakan ad bonam,
karena adanya rasa kesadaran untuk sembuh dan mau menjaga pola
makannya, dan juga terus mengkonsumsi obat yang diberikan bidan.

- Keluarga : kondisi kesehatan anggota keluarga yang lain dalam keadaan baik.

- Masyarakat : Ad bonam, bukan penyakit menular.

XVII. Resume
Dari hasil pemeriksaan saat kunjungan rumah pada tanggal 24 Juli 2015,
didapatkan bahwa pasien hipertensi. Pasien berusia 82tahun. Pasien memberi perhatian
yang cukup baik akan keadaan kesehatan dirinya dan keluarganya. Pasien sebagai kepala
keluarga. Pasien memiliki 12 orang anak, tetapi hanya anak pertama yang menemani di
rumah itu dan cucu nya tinggal di satu rumah.
Rumah pasien tergolong rumah yang kurang sehat dilihat ventilasi tidak memadai.
Penerangan dan kebersihan rumah kurang baik, dengan kondisi rumah yang agak
berantakan, penuh dengan barang-barang. Terdapat dapur di belakang rumah dan jamban
dalam rumah pasien yang tergolong kurang tertata rapih dan kurang bersih . Pasien dan
keluarganya menggunakan air ledeng sebagai sumber air minum dan mandi
menggunakan air tanah.
Ditinjau dari spiritual keluarga keluarga pasien merupakan keluarga yang cukup taat
beribadah pasien beragama Islam. Keluarga pasien juga merupakan keluarga yang sehat.
Saat ini kondisi pasien cukup baik. Pasien rajin mengontrol tekanan darahnya. Namun
untuk mencapai tingkat kesehatan yang lebih optimal hendaknya didukung pula oleh
kondisi rumah yang lebih sehat dan rapi, cukup dan seimbangnya asupan gizi, serta
mengontrol pola makan dan minum, serta keteraturan berobat bagi pasien.
BAB III

5
TINJAUAN PUSTAKA

1. Klasifikasi Hipertensi

Klasifikasi Tekanan Darah TDS (mmHg) TDD (mmHg)


Normal < 120 < 80
Prahipertensi 120 – 139 80 – 89
Hipertensi derajat 1 140 – 159 90 – 99
Hipertensi derajat 2 >160 >100
Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention, Detection,
Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7) klasifikasi tekanan darah pada orang
dewasa terbagi menjadi kelompok normal, prahipertensi, hipertensi derajat I, dan derajat II.2

2. Etiologi5
Pada 90-95% orang mengalami peningkatan tekanan darah (hipertensi esensial) yang
sebabnya tidak diketahui yang ditingkatkan oleh gaya hidup yang kurang aktif, merokok, berat
badan berlebih, diet tinggi lemak, konsumsi alcohol dan stress. 1 Pada 5-10% orang (hipertensi
sekunder) mempunyai penyakit lain yang mendasari menyebabkan tingginya tekanan darah dan
memerlukan pengobatan segera.1

Terdapat faktor-faktor risiko yang berperan dalam hipertensi. Faktor resiko yang dapat
diubah dan tidak dapat diubah.

Faktor – Faktor yang dapat diubah termasuk gaya hidup, antara lain :

 Merokok
 Kurang aktivitas fisik
 Kelebihan berat badan
 Diet tinggi lemak
 Asupan garam berlebih
 Konsumsi alcohol berlebih

Faktor – Faktor yang tidak dapat diubah, antara lain :

 Riwayat keluarga dengan hipertensi


 Usia > 45 tahun pada pria dan >55 tahun pada wanita

6
 Etnik / suku bangsa

3. Patofisiologi
a) Pengaturan Tekanan Darah

Tekanan darah ditentukan oleh dua faktor utama, yaitu

- Curah jantung
Hasil kali antara frekuensi denyut jantung dengan isi sekuncup, sedangkan isi sekuncup
ditentukan oleh aliran balik vena dan kekuatan kontraksi miokard.
- Resistensi vascular
Resistensi perifer ditentukan oleh tonus otot polos pembuluh darah, elastisitas dinding
pembuluh darah dan viskositas darah.

Semua parameter di atas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain sistem saraf simpatis dan
parasimpatis., sistem rennin-angiotensin-aldosteron (SRAA) dan faktor lokal berupa bahan-
bahan vasoaktif yang diproduksi oleh sel endotel pembuluh darah.3

Sistem saraf simpatis bersifat presif yaitu cenderung meningkatkan tekanan darah dengan :

- Meningkatkan frekuensi denyut jantung,


- Memperkuat kontraktilitas miokard
- Meningkatkan resistensi pembuluh darah

Sistem saraf parasimpatis bersifat depresif, yaitu menurunkan tekanan darah dengan :

- Menurunkan frekuensi denyut jantung.

SRAA juga bersifat presif berdasarkan efek vasokonstriksi angiotensin II dan perangsangan
aldosteron yang menyebabkan retensi air dan natrium di ginjal sehingga meningkatkan volume
darah. Selain itu terdapat sinergisme antara sistem simpatis dan SRAA yang saling memperkuat
efek masing-masing.3

Sel endotel pembuluh darah memproduksi berbagai bahan vasoaktif yang sebagiannya
bersifat vasokonstriktor seperti

7
- Endotelin, tromboksan, A2 dan angiotensin II lokal, dan sebagian lagi bersifat
vasodilator seperti endothelium-derived relaxing factor yang dikenal dengan nitric oxide (NO)
dan prostasiklin (PG12).
Selain itu jantung, terutama atrium kanan memproduksi hormone yang disebut atriopeptin
(atrial natriuretic peptide, ANP) yang bersifat diuretic, natriuretik, dan vasodilator yang
cenderung menurunkan tekanan darah.3
Mekanisme hipertensi tidak dapat dijelaskan dengan satu penyebab khusus, melainkan
sebagai akibat interaksi dinamis antara faktor genetik, lingkungan dan faktor lainnya. Tekanan
darah dirumuskan sebagai perkalian antara curah jantung dan atau tekanan perifer yang akan
meningkatkan tekanan darah. Retensi sodium, turunnya filtrasi ginjal, meningkatnya rangsangan
saraf simpatis, meningkatnya aktifitas renin angiotensin alosteron, perubahan membran sel,
hiperinsulinemia, disfungsi endotel merupakan beberapa faktor yang terlibat dalam mekanisme
hipertensi.4,5

Mekanisme patofisiologi hipertensi salah satunya dipengaruhi oleh sistem renin angiotensin
aldosteron, dimana hampir semua golongan obat anti hipertensi bekerja dengan mempengaruhi
sistem tersebut. Renin angiotensin aldosteron adalah sistem endogen komplek yang berkaitan
dengan pengaturan tekanan darah arteri. Aktivasi dan regulasi sistem renin angiotensin
aldosterouran Tekanan Darah diatur terutama oleh ginjal. Sistem renin angiotensi aldosteron
mengatur keseimbangan cairan, natrium dan kalium. Sistem ini secara signifikan berpengaruh
pada aliran pembuluh darah dan aktivasi sistem saraf simpatik serta homeostatik regulasi tekanan
darah (Dipiro, 2005).4

4. Gejala Klinis
 Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah, akibat
peningkatan tekanan darah intrakranium
 Penglihatan kabur akibat kerusakan retina karena hipertensi
 Ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat
 Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus
 Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler 2,4

5. Pemeriksaan Fisik5

8
Pada pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran tekanan darah dikedua lengan.
mencari kerusakan organ sasaran (retinopati, gangguan neurologi, payah jantung
kongestif, diseksi aorta). Palpasi denyut nadi, auskultasi untuk mendengar ada atau tidak
bruit pembuluh darah besar, bising jantung dan ronki paru.5,6

Pengukuran tekanan darah dilakukan sesuai dengan standar WHO dengan alat
sphygomanometer. Untuk menegakan diagnosis hipertensi perlu dilakukan pengukuran
tekanan darah minimal 2 kali dengan jarak 1 minggu bila tekanan darah
<160/100mmHg.2

6. Pemeriksaan Penunjang5
Pemeriksaan penunjang pasien hipertensi :

- Hematologi lengkap
- Gula darah
- Profil lemak
- Fungsi ginjal : Urea N, kreatinin, asam urat, albumin urin kuantitatif
- Gangguan elektrolit : Natrium, kalium
- hsCRP
- EKG6

Penatalaksanaan6
Medikamentosa

Penggulangan hipertensi dengan obat dilakukan bila dengan perubahan pola hidup
tekanan darah belum mencapai target (<140/90mmHg) atau < 130/80 mmHg pada
diabetes atau penyakit ginjal kronik pemilihan obat berdasarkan ada/tidaknya indikasi
khusus. Bila tidak ada indikasi khusus pilihan obat juga tergantung dari derajat hipertensi
(grade 1 atau 2).

Alogaritma penanggulangan hipertensi:

9
Anti
Indikasi khusus Diuretic B blocker ACEI ARB CCB
aldosteron
Gagal jantung + + + + +
Pasca infark miokard + + +
Resiko tinggi PJK + + + +
DM + + + + +
Penyakit Ginjal Kronik + +
Cegah stroke berulang + +
Pencegahan
 Pencegahan primer
Pencegahan primer berupa kegiatan untuk menghentikan atau mengurangi faktor risiko
hipertensi sebelum penyakit hipertensi terjadi. Pencegahan primer dilaksanakan melalui berbagai
upaya, seperti promosi kesehatan mengenai peningkatan perilaku hidup sehat, yakni diet yang
sehat dengan cara makan cukup sayur dan buah, rendah garam dan lemak, rajin melakukan
aktivitas dan tidak merokok.
 Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder lebih ditujukan pada kegiatan deteksi dini untuk menemukan
penyakit. Bila ditemukan kasus, maka dapat dilakukan pengobatan secara dini.
 Pencegahan Tertier

10
Pencegahan tertier dilaksanakan agar penderita hipertensi terhindar dari komplikasi yang
lebih lanjut, serta untuk meningkatkan kualitas hidup dan memperpanjang lama ketahanan hidup.
Dalam pencegahan tertier, kegiatan difokuskan kepada mempertahankan kualitas hidup
penderita. Pencegahan tertier dilaksanakan melalui tindak lanjut dini dan pengelolaan hipertensi
yang tepat, serta minum obat teratur agar tekanan darah dapat terkontrol dan tidak memberikan
komplikasi seperti penyakit ginjal kronik, stroke, dan jantung. Penanganan respons cepat juga
menjadi hal yang utama agar kecacatan dan kematian dini akibat penyakit hipertensi dapat
terkendali dengan baik.

BAB IV
KESIMPULAN & SARAN

1. KESIMPULAN
Dari hasil kunjungan ke rumah pasien (Bu Rohimah) di Wanakerta, grogol petamburan
Jakarta, Pasien menderita penyakit Hipertensi grade II dan dengan melakukan pendekatan

11
kedokteran keluarga diketahui tidak ada riwayat keturunan dalam keluarga. Dalam
menegakkan diagnosis, pasien ini menjelaskan beberapa gejala yang membantu dalam
penegakkan diagnosis, seperti sering sakit kepala, dan badan pegal-pegal. Namun karena
tingginya kesadaran pasien tentang kesehatan diri, maka pasien sering mengontrol
kesehatannya ke bidan desa dan teratur mengkonsumsi obat-obat yang diberikan puskesmas.

2. SARAN
a) Puskesmas
Diharapkan dapat lebih sering melakukan pendekatan kepada masyarakat melalui
penyuluhan-penyuluhan dalam usaha promotif dan preventif kesehatan masyarakat.

b) Pasien
 Membicarakan masalahnya kepada orang terdekat atau orang yang dipercaya,
sehingga mengurangi beban pikirannya.
 Berusaha untuk lebih memahami penyakit yang dideritanya dan tetap menjaga
kesehatan melalui pola hidup sehat dan minum obat secara teratur.
 Tetap rajin mengontrol kesehatannya ke pelayanan kesehatan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Perhimpunan Hipertensi Indonesia. Konsesus Penatalaksanaan Hipertensi Dengan Modifikasi


Gaya Hidup. Jakarta : InaSH, 2011.

12
2. Yogiantoro, Mohammad. Hipertensi Esensial dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi V
Jilid III. Jakarta : Interna Publishing, 2009.
3. Nafrialdi. Antihipertensi dalam Buku Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI, 2008
4. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Teknis Penemuan dan Penatalaksanaan Penyakit
Hipertensi. Jakarta : Departemen Kesehatan R.I. , 2006.
5. Perhimpunan Hipertensi Indonesia. Ringkasan Eksklusif Penaggulangan Hipertensi. Jakarta :
InaSH, 2007.

LAMPIRAN

13
Foto 1 . Rumah tampak depan Foto 2. Toilet

Foto 3. Salah satu Kamar

14