Вы находитесь на странице: 1из 10

Sumber : http://bedahumum-fkunram.blogspot.

com/2009/02/hubungan-penyembuhan-luka-dengan-
usia.html

Senin, Februari 23, 2009


HUBUNGAN PENYEMBUHAN LUKA DENGAN USIA ANAK PADA PASIEN
SIRKUMSISI POLIKLINIK BEDAH MINOR RSUD MATARAM PERIODE
FEBRUARI SAMPAI APRIL 2008

atas izin pemilik karya tulis


oleh: Diayanti Tenti Lestari

ABSTRACT

Background: We saw the circumcision can be done at any age. The community did not know
about the effect of the age of circumcision done. The study about the correlation between
circumcision wound healing and the age of circumcision done, still rare to be found. Purpose:
Find out the correlation between the time of circumcision wound healing in the different age at
minor surgery clinic Mataram public hospital during February to April 2008. Method:
Observational study research with cohort prospective research design. Subject of the study is 64
circumcision patients at under 12 years old in minor surgery clinic Mataram public hospital
during February until April 2008.

Result: All of the circumcision patients who had normal healing time was 58% and had
elongation time was 42%. The healing of patient at age 1 months old- 1 years old was 0%, at 1
years old - < 6 years old was 58% and 6 years old -12 years old was 60%. The delayed
inflammation at 1 years old - < 6 years old was 43% and at 6 years old – 12 years old was 60%.
The delayed proliferation at 1 years old - < 6 years old was 43% and at 6 years old- 12 years old
was 40%.

Conclusion: There is no correlation between time of circumcision wound healing and the age
of circumcision.

Keyword ; Circumcision, Wound Healing, Age

LATAR BELAKANG

Penelitian di Amerika hampir 1,2 juta neonatus disirkumsisi. Di India sekitar 33% penduduk
pria mengalami sirkumsisi. Menurut asosiasi anak (Texas Pediatric Surgical Associates, 1999)
sirkumsisi dilakukan pada beberapa hari setelah kelahiran atau dengan indikasi adanya infeksi
penis berulang, inflamasi frenulum dan fimosis. Canadian Paediatric Society (1996) dan Williams N.
(1993) menjelaskan bahwa insiden terjadinya komplikasi sirkumsisi pada usia neonatus, yaitu
bekisar 0,2%-2%. Selain itu sirkumsisi pada usia neonatus akan mencegah terjadinya infeksi
traktus urinarius dan insiden infeksi tersebut pada usia anak dilaporkan dari hasil penelitian
sebanyak 1%-2% (American Academy of Pediatrics, 1999).

Pemilihan usia anak untuk disirkumsisi sangat beragam di beberapa derah di Indonesia sepeti
di Jawa dan Sumatra mereka memilih waktu menjelang pubertas untuk disirkumsisi. Kebiasaan
yang ada di masyarakat Lombok, sirkumsisi dilakukan pada waktu tertentu dan usia 1 sampai 10
tahun (data poloklinik bedah minor, 2007). Dalam penelitian ini akan dilakukan analisis masa
penyembuhan luka dengan perbedaan usia pasien yang disirkumsisi. Apakah semakin dini usia
pelaksanaan sirkumsisi dapat mempengaruhi waktu penyembuhan luka?

Penyembuhan Luka

Penyembuhan luka yaitu kemampuan tubuh untuk menangani trauma jaringan dipengaruhi
oleh luasnya kerusakan dan keadaan umum kesehatan tiap orang, respon tubuh pada luka lebih
efektif jika nutrisi yang tepat tetap dijaga, respon tubuh secara sistemik pada trauma serta
vaskularisai yang baik ke jaringan yang luka (Taylor, 1997).

Proses penyembuhan luka mencakup reaksi kimia dan seluler dan berhubungan dengan
penyatuan jaringan-jaringan setelah adanya jejas. Proses perbaikan pada jaringan manusia
berhubungan pula dengan sistem jaringan dan regenerasinya. Proses penyembuhan luka ada 3
tipe atau bentuk, yakni penyembuhan primer, penyembuhan sekunder dan penyembuhan tersier
(De Jong, 2005).

Fase Hemostasis

Proses inflamasi didahului oleh proses hemostatis. Adanya luka akan meyebabkan rusaknya
pembuluh darah dan pembuluh limfatik. Vasokonstriksi akan segera terjadi selanjutnya pada
proses hemostasis platelet yang berperan mengatasi pardarahan dan mengeluarkan faktor
pembekuan untuk selanjutnya memproduksi fibrin dan menghasilklan sitokin yang membantu
proses penyembuhan.

Hemostasis yang efektif membutuhkan kooordinasi fungsi pembuluh darah, platelet, faktor
koagulasi dan sistem fibrinolisis. Respon awal pembuluh darah terhadap jejas atau trauma adalah
vasokonstriksi arteriolar yang akan mengurangi aliran darah lokal dan menghindari kehilangan
banyak darah. Selanjutnya akan diikuti oleh aktivasi platelet yang melekat pada dinding
pembuluh darah di daerah jejas atau luka kemudian terjadilah agregasi platelet yang membentuk
massa oklusi yang merupakan plak hemostasis primer. Jejas atau luka akan menyebabkan
kerusakan vascular, kemudian kerusakan vaskular akan mengaktifkan faktor koagulasi dan
terbentuklah trombin yang akan mengkonversi fibrinogen plasma yang larut dalam sirkulasi
menjadi bentuk tidak larut atau fibrin (Lowe, 2003).
Fase Inflamasi

Fase inflamasi adalah fase yang selalu terjadi dan berperan sebagai prekursor proses
penyembuhan. Proses inflamasi memiliki karakteristik adanya migrasi leukosit ke daerah luka
dan sel-sel inflamasi akan meregulasi matriks jaringan ikat (Schwartz. et. al., 1998). Cairan
eksudat dan abses akan tampak pada inflamasi akut. Sel yang mengalami jejas akan melepaskan
katekolamin dan prostaglandin dan segera setelah jejas akan terjadi vasokonstriksi. Selanjutnya
permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi edema lokal. Reaksi pembengkakan ini
dimediasi oleh histamine, kinin, prostaglandin, leukotrien dan produk sel endothelial (Kumar,
2007).

Fase inflamasi dipengaruhi oleh usia. Sel – sel yang berperan dalam fase ini adalah
makrofag, limposit dan leukosit, sel-sel ini juga dipengaruhi oleh usia. Leukosit akan meningkat
pada orang tua. Jumlah makrofag dan limposit akan menurun seiring semakin tua usia individu,
begitu pula dengan produksi faktor pertumbuhan seperti VEGF. Transformasi limposit juga
dipengaruhi keadaan nutrisi pasien ( Gosain dan Dipietro, 2004).

Fase Proliferasi

Fase proliferasi meliputi tahap angiogenesis, deposit kolagen, pembentukan jaringan


granulasi dan kontraksi luka. Fase ini berlangsung dari hari ke-3 atau 4 sampai hari ke-
21(Midwood. et. al., 2004).

Keratinosit, fibroblas dan sel endotel vaskular sangat berperan dalam proses proliferasi.
Proses fibroplasi lebih cepat pada usia muda.Penurunan jumlah dan ukuran fibroblas dan hasil
akhir penutupan luka dipengaruhi oleh usia. Angiogenesis akan menurun seiring dengan
pertambahan usia. Produksi kolagen pun menurun pada usia tua ( Howard, E. Dan Harvey, S.,
2008).

Fase maturasi ( proses akhir dalam penyembuhan luka)

Fase akhir dalam masa penyembuhan, skar akan terbentuk pada akhir proses penyembuhan
luka. Degradasi kolagen seimbang dengan sintesis kolagen. Kolagen akan menggantikan daerah
yang mengalami jejas atau luka, jika daerah yang tergantikan kolagen tergolong luas maka
daerah kulit itu akan tersusun dari jaringan yang lebih kuat atau lebih keras. Semakin banyak
kolagen menggantikan daerah luka maka semakin luas pula area kerusakan jaringan, selanjutnya
akan terjadi tarikan daerah kulit sekitar dan timbullah sikatriks atau skar (Kumar, 2007). Proses
ini berlangsung 6 minggu awal dan diteruskan sampai 6-12 bulan setelah itu dan dapat diamati
dari perubahan warna kulit, tekstur dan ketebalan kulit di daerah luka (Bertschinger, 1991).
Pemilihan Usia Sirkumsisi

Sejauh ini tidak ada batasan umur melakukan khitan. Sirkumsisi di Amerika Serikat banyak dilakukan
pada bayi baru lahir. Biasanya, ukuran penis dan kesiapan emosional anak juga merupakan
pertimbangan. Waktu yang baik untuk melakukan sirkumsisi adalah selama periode neonatus (<28 hari).
Resiko pasca sirkumsisi berupa nyeri, perdarahan dan infeksi akan bertambah setelah melewati periode
tersebut dan membutuhkan anestesi lebih banyak dibanding dengan usia neonatus. Orang tua di
Amerika Serikat memilih untuk melakukan sunat pada anaknya pada neonatus karena alasan kesehatan
(Lerman, 2001).

METODOLOGI PENELITIAN

Jenis Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan rancangan penelitian kohort
prospektif untuk mengetahui hubungan antara usia anak dengan masa penyembuhan luka
sirkumsisi. Populasi penelitian ini adalah semua pasien sirkumsisi di Poliklinik RSU Mataram
selama bulan Februari 2008 sampai April 2008. Subyek penelitian adalah pasien sirkumsisi yang
berusia di bawah 12 tahun di Poliklinik RSU Mataram selama bulan Februari 2008 sampai April
2008. Variabel bebas penelitian ini adalah rentang( kelompok) usia pasien sirkumsisi. Variabel
terikat yaitu penyembuhan luka.

Cara pengambilan sampel dengan consecutive sampling yaitu mengumpulkan semua pasien
sirkumsisi yang datang dan memenuhi kriteria sampai memenuhi subyek penelitian yang
diperlukan. Jumlah subyek penelitian sebanyak 64 anak. Pengumpulan data dikumpulkan dari
data primer pasien yang menjalani sirkumsisi di poliklinik bedah RSU Mataram. Data primer ini
diperoleh dengan cara wawancara langsung orang tua yang merawat pasien sirkumsisi
menggunakan lembar observasi.

HASIL

Pasien sirkumsisi yang diambil dari data klinik bedah minor RSU Mataram tercatat sejumlah
64 orang selama tiga bulan (Februari sampai April 2008). Karakteristik pasien dilihat dari usia,
asal dan tujuan sirkumsisi.

Tabel 4.1 Distribusi Pasien

Kelompok Usia Jumlah Persentase Kelompok Usia


<1bulan 0 0%
1bulan-<1tahun 1 1,60%
1-<6tahun 58 90,60%
6-12tahun 5 7,80%
Total 64 100%
Tabel 4.2. Fase Inflamasi Memanjang
Jumlah anak Persentase anak
Kelompok
dengan inflamasi dengan fase inflamasi
usia Jumlah memanjang memanjang
<1bulan 0 0 0%
1bulan-<1tahun 1 0 0%
1-<6tahun 58 25 43%
6-12tahun 5 3 60%

Tabel 4.3 Fase Proliferasi Memanjang

Jumlah anak dengan Persentase anak dengan


proliferasi fase proliferasi
Kelompok usia Jumlah memanjang memanjang
<1bulan 0 0 0%
1bulan-<1tahun 1 1 100%
1-<6tahun 58 25 43%
6-12tahun 5 2 40%

Tabel 4.4 Kesembuhan tiap Kelompok Usia

rentang usia anak disirkumsisi


Derajat 1 bulan- <1 tahun 1-<6tahun 6-12tahun
kesembuhan Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Persentase
Sembuh 33 56.9% 3 60.0%
Belum sembuh 1 100.0% 25 43.1% 2 40.0%
Total 1 100.0% 58 100.0% 5 100.0%

PEMBAHASAN

Pemilihan usia bayi baru lahir (<1 bulan) tidak dominan di daerah penelitian, yaitu di
Mataram dan sekitarnya. Orang tua cenderung memilih usia 1 tahun sampai 6 tahun untuk
pelaksanaan sirkumsisi, namun tidak ada alasan spesifik untuk pemilihan usia ini, menurut
mereka pemilihan usia ini mengikuti saudara dan tetangga mereka yang sudah memiliki
pengalaman mensirkumsisi anaknya.

Penelitian ini hanya mengambil dua fase penyembuhan, yaitu fase inflamasi dan fase
proliferasi. Fase hemostasis berlangsung segera setelah terjadi luka dan pada anak tanpa
gangguan pembekuan darah fase ini tidak akan lama. Jahitan pada luka sirkumsisi berperan pula
dalam proses peneymbuhan awal ini dan semua pasien mendapat perlakuan sama dari rumah
sakit tempat mensirkumsisi. Observasi dilakukan pada pasien dengan melihat tanda proliferasi
yaitu jaringan granulasi pada hari ke-12 sampai ke-14 setelah sirkumsisi, jika didapatkan
jaringan granulasi pada observasi hari itu maka pasien tersebut mengalami pemanjangan
proliferasi.

Pemanjangan fase inflamasi tidak selalu diikuti pemanjangan fase proliferasi. Berdasarkan observasi,
15% pasien dengan fase inflamasi normal mengalami fase proliferasi memanjang ataupun sebaliknya
fase inflamasi memanjang namun fase proliferasi normal. Hasil ini menunjukkan fase inflamasi dan fase
proliferasi pada penyembuhan luka dipengaruhi faktor- faktor yang dapat memperpanjang masa
tersebut, misalnya saja perawatan luka, aktifitas anak ataupun nutrisi, seperti yang dijelaskan oleh
Gosain dan Dipietro (2004).

Hubungan Usia dan Masa Penyembuhan Luka


Berdasarkan analisa data dengan menggunakan
metode analisis ”chi-square” pada data pasien sirkumsisi
yang berjumlah 64 anak dengan pembagian usia 1 bulan -
< 1 tahun, 1- < 6 tahun dan 6 -12 tahun, dengan tingkat
kepercayaan 95% diperoleh nilai p= 0,6 (> 0,05) yang
menunjukkan tidak ada perbedaan masa penyembuhan
sirkumsisi bermakna pada kelompok usia anak.
Hasil penelitian ini didukung oleh Baharestani (2003)
yang melakukan penelitian pada populasi pediatrik
dengan ulkus ataupun luka bekas operasi. Penelitian
tersebut menjelaskan tentang karakteristik khusus dari
penyembuhan luka pada anak-anak dan bayi baru lahir.
Menurut Baharestani, meskipun pola penyembuhan luka
pada anak sama dengan pola penyembuhan orang
dewasa, namun luka pada bayi baru lahir dan anak-anak
adalah tipe yang lebih cepat menutup dibanding luka tipe
ulkus juga yang terjadi pada orang dewasa karena pada
bayi dan anak jumlah fibroblas lebih banyak, produksi
kolagen dan elastin lebih cepat dan pembentukan jaringan
granulasi yang lebih cepat pula dibanding orang dewasa
(Baharestani, 2003) .
Secara normal, kecepatan respon penyembuhan luka
pada bayi baru lahir dan anak-anak akan rendah pada
kondisi malnutrisi protein kalori, hipotensi, edema, infeksi
dan ketidakstabilan psikologi, ini termasuk faktor yang
mempengaruhi penyembuhan luka pada anak dan bayi
baru lahir. Bayi baru lahir memiliki resiko tinggi untuk
mengalami sepsis karena infeksi sekunder dari proliferasi
bakteri pada daerah luka, sehingga memungkinkan terjadi
penurunan daya kohesi antara dermis dan epidermis
(Baharestani, 2003).
Penelitian ini didukung pula oleh penelitian mengenai
hubungan antara usia dengan masa penyembuhan luka
yang dipaparkan oleh Valencia (2001) pada usia tua dan
muda (orang tua dan remaja atau anak). Penelitian
tersebut menyatakan bahwa semakin tua usia pasien
maka angka komorbiditasnya akan meningkat. Respon
terhadap fase inflamasi, fase proliferasi dan maturasi
mengalami perubahan dengan pengaruh usia.
Usia tua akan berhubungan dengan perubahan pada
penyembuhan luka yang berkaitan dengan penurunan
respon inflamasi, angiogenesis yang tertunda, penurunan
sintesis dan degradasi kolagen serta penurunan
kecepatan epitelisasi (Butler, 2006). Hal ini mendukung
hasil penelitian bahwa penyembuhan pada kelompok usia
anak (usia muda) termasuk penyembuhan normal
sehingga pemanjangan waktu luka disebabkan ada faktor
lain yang mempengaruhi penyembuhan luka tersebut dan
bukan karena perbedaan usia.
Penelitian hubungan masa penyembuhan luka dan usia
ini dilakukan pada usia anak dengan rentang yang tidak
ekstrim dalam artian setiap kelompok memiliki interval
yang dekat satu dengan kelompok usia lainnya.
Penyembuhan luka yang dijelaskan pada penelitian
sebelumnya (Valencia, 2001) adalah perbandingan
penyembuhan luka usia muda dan usia tua (usia <20tahun
dan usia >50 tahun).

Perawatan Luka dengan Kesembuhan Luka

Secara keseluruhan orang tua pasien yang disirkumsisi di RSU Mataram diberi edukasi
untuk melakukan perawatan luka selama satu minggu setelah sirkumsisi. Berdasarkan analisis
didapatkan p=0,04 (p<0,05) yang dapat disimpulkan perawatan luka mempengaruhi masa
penyembuhan. Pencegahan infeksi akan mempengaruhi proses penyembuhan luka.

Pengaruh Nutrisi Pada Penyembuhan Luka

Hubungan nutrisi dengan penyembuhan luka dipaparkan dalam penelitian yang


menyebutkan bahwa jaringan tubuh akan dipengaruhi nutrisi, perfusi jaringan dan oksigenasi.
Iskemi jaringan dan kerusakan jaringan akan terjadi jika sel kekurangan oksigen dan nutrisi.
Anak-anak harus diberikan nutirsi yang adekuat untuk mendukung proses penyembuhan.

Pengaruh Sistem Imun pada Penyembuhan Luka

Penelitian ini menilai sistem imun pasien sirkumsisi dengan indikator sedang mengalami
sakit atau tidak. Hasil analisis data keadaan imun dengan kesembuhan luka, diperoleh p=0,019
(p<0,05) sehingga dsimpulkan keadaan umum anak mempengaruhi kesembuhan luka sirkumsisi.

SIMPULAN
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian dapat disimpulkan beberapa hal berikut

Tidak ada perberbedaan waktu penyembuhan luka sirkumsisi pada setiap kelompok usia, Usia
pelaksanaan sirkumsisi yang paling banyak dipilih oleh orang tua di daerah penelitian (Mataram,
Lombok Barat dan Lombok Tengah) adalah usia 1 – 6 tahun., Dalam waktu 12 hari luka
sirkumsisi sudah dapat sembuh dengan tidak menunjukkan tanda proliferasi., Faktor yang
mempengaruhi penyembuhan luka sirkumsisi selain usia adalah imunitas anak, perawatan luka
dan nutrisi anak.

KEPUSTAKAAN

American Academy of Pediatrics, (1999- released: March 1), New AAP Circumcision Policy
Released.
Baharestani Mylene Mona, (2003), An Overview of Neonatal and Pediatric Wound Care
Knowledge and Considerations: Wound Managemet Journal; 165: 728-737, Available from:
http://www.o-wm.com/ostemywoundmanagemetjournal.html ᄃ.
Bertschinger, Julia, (1991), Circumcision, Noharmm Journal; 17: 22-23, Available from :
http://www.emedicine.com/ped/pedindex.shtml.

Butler Colleen T, (2006), Pediatric Skin Care, Pediatric Nursing ᄃ Magazine. Pitman; 32(5): 443.

De Jong dan Sjamsuhidajat. R, (2004), Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2; EGC: Jakarta.

Gosain Ankush and Dipetro Luisa, (2004), Aging and Wound Healig; World Journal Surgery;
28:321-326.

Howard, C., Howard, F., & Weitzman, M, (1994), The Effect on Pain, Acetaminophen Analgesis
In Neonatal Circumcision: Pediatrics Journals; 93: 645.

Kumar Abbas Fausto and Mitchell Robbins, (2007), Basic Pathology, Eighth Edition: Elsevier-
Saunders.

Lerman SE, Liao JC, (2001), Neonatal circumcision: Pediatric Clinics of North America, 48(6):
1539–1557.

Lowe, G, (2004), Hemostatis and Thrombosis In Medical Biochemistry; Mosby: London, Pp: 55-
65.
Midwood K.S., Williams L.V., and Schwarzbauer J.E, (2004), Tissue Repair And The Dynamics
of The Extracellular Matrix: The International Journal Of Biochemistry & Cell Biology;
36(6): 1031-1037.
Schwartz Seymour I (editor., et. al,), (1998), Principles of Surgery, Companion Handbook 7th
edition Spencer: McGraw-Hill Professional. Electronic book.
Valencia Isabel. P, Falabela Anna. F, Lawrence Schachner. A, (2001), New Development in
Wound Care for Infant and Children; Pediatric Journals: Proquest Medical Library, Available
from: http://www.proquest.umi.com, (Accessed: 2007, June 20)