You are on page 1of 23

PENATALAKSAAN CLEFT AND PALATE

Disusun oleh :
Azis Aimaduddin.AI

Pembimbing(K)
Dr. Amru Sungkar, SpB. SpBP-RE

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
RSUD DR. MOEWARDI

1
PENATALAKSANAAN CLEFT LIP PALATE

Penatalaksanaan kelainan celah bibir dan celah langit-langit memerlukan penanganan


berbagai multidisiplin. Hal ini merupakan masalah yang kompleks, variatif, memerlukan waktu
yang lama, serta membutuhkan berbagai ilmu dan tenaga ahli, di antaranya dokter bedah
plastik, dokter anak, dokter bedah mulut, pediatric dentists, orthodontist, prosthodontist,
otolaryngologist, speech pathologist, geneticist dan psikiater atau psikolog untuk menangani
masalah psikologis pasien. (Lalwani, 2013)
Sebelum melakukan operasi, orangtua diharapkan mendapatkan konseling yang baik.
Hal ini penting untuk membantu mengurangi kecemasan orangtua pasien dan memberikan
informasi mengenai operasi yang akan dilakukan dan bagaimana tampilan anak mereka setelah
dilakukan operasi. Konseling juga dilakukan bagi anak agar saat bertambah besar mereka tidak
terganggu secara psikologis. (Lalwani, 2013)
Anak yang memiliki celah bibir dan atau celah langit-langit memiliki masalah dalam
proses makan karena itu dibutuhkan metode agar anak tetap mendapat asupan gizi yang cukup.
Pemberian makan pada anak dengan celah langit-langit lebih sulit dibanding anak dengan celah
bibir karena pada celah langit-langit, anak cenderung mengalami kesulitan menghisap atau
menelan. Untuk mengatasinya, dapat digunakan dot khusus dengan nipple yang kecil agar
aliran air susu bisa kontinu dan terkontrol. Berbeda dengan penderita celah bibir saja yang
masih bisa diberi susu dengan botol atau dot biasa. (Lee, 2013)
Beberapa praktisi merekomendasikan penggunaan obturator (plastic plate) untuk
menutup celah selama anak sedang makan. Plate ini membutuhkan modifikasi agar selalu pas
sejalan dengan perkembangan pertumbuhan langit-langit anak. Namun pada beberapa kasus
celah langit-langit, bayi bisa diberi asupan makan tanpa menggunakan obturator yaitu bila
orangtua bisa mengikuti instruksi pemberian makan yang benar. Posisi pemberian air susu
kepada anak diperhatikan, posisi untuk anak yang menderita celah bibir dengan langit-langit
atau celah langit-langit saja diusahakan lebih tegak (upright position) agar tidak mudah
tersedak. Orangtua dapat menggendong bayinya pada 35°-45° terhadap lantai. Dengan
memberikan informasi dan pelatihan, bayi bisa diberi makan dengan menggunakan preemie
nipple yaitu nipple yang sifatnya lebih lembut dan mudah disesuaikan dengan cleft atau dengan
menggunakan nipple khusus seperti Mead-Johnson cross cut nipple dimana aliran susu dapat
2
disesuaikan. Dapat juga merekomendasikan jenis dot khusus untuk anak dengan celah yaitu
dot yang memiliki nipple yang panjang atau bersayap dimana susu yang keluar bisa langsung
menuju ke faring. (Lee, 2013)

MASALAH
Manifestasi klinis masalah dari kelainan labioschisis antara lain :
1. Masalah asupan makanan
Merupakan masalah pertama yang terjadi pada bayi penderita labioschisis. Adanya labioschisis
memberikan kesulitan pada bayi untuk melakukan hisapan pada payudara ibu atau dot.
Tekanan lembut pada pipi bayi dengan labioschisis mungkin dapat meningkatkan kemampuan
hisapan oral. Keadaan tambahan yang ditemukan adalah reflex hisap dan reflek menelan pada
bayi dengan labioschisis tidak sebaik bayi normal, dan bayi dapat menghisap lebih banyak
udara pada saat menyusu. Memegang bayi dengan posisi tegak lurus mungkin dapat membantu
proses menyusu bayi. Menepuk-nepuk punggung bayi secara berkala juga daapt membantu.
Memberikan asupan dengan menggunakan sendok , dapat meningkatkan resiko dari
pneumonia aspirasi. (Mulliken, 2014)
Bayi yang hanya menderita labioschisis atau dengan celah kecil pada palatum biasanya dapat
menyusui, namun pada bayi dengan labioplatoschisis biasanya membutuhkan penggunaan
dot khusus. Dot khusus dengan lubang yang mengarah ke posterior (cairan dalam dot ini
dapat keluar dengan tenaga hisapan kecil) ini dibuat untuk bayi dengan labio- palatoschisis dan
bayi dengan masalah pemberian makan/ asupan makanan tertentu. (Mulliken, 2014).

2. Infeksi Saluran Pernapasan Atas


Pada bayi dengan labioschisis, akan bernapas melalui mulut, sehingga udara akan langsung
masuk kedalam saluran napas tanpa dilembabkan dan disaring seperti pada pernapasan melalui
hidung. Hal ini akan menyebabkan terjadinya ISPA yang berulang.

3. Masalah Pendengaran
Penderita CLP mengalami gangguan pada tuba eustachia dimana akan tetjadi kelumpuhan otot
levator palatine dan tensor vili palatine yang terinsersi dengan daerah tepi pada langit-langit
keras. Infeksi telinga anak dengan labio- palatoschisis lebih mudah untuk menderita infeksi
telinga karena terdapatnya abnormalitas perkembangan dari otot-otot yang mengontrol
pembukaan dan penutupan tuba eustachius. (Mulliken, 2014) Dengan bertambahnya usia maka
insiden terjadi kegagalan fungsi tuba eustachia semakin tinggi pula. Adanya ISPA akan
3
memnyebabkan mudahnya terjadinya infeksi pada saluran tengah ( otitis media ). Evaluasi
dilakukan setiap 3-4 bulan hingga ada perbaikan. Indikasi untuk dilakukan miringotomi dan
dan pemasangan tube untuk mengalirkan carian mucous pada telinga tengah ( grommet tube
) sangat konduktif untuk mengatasi kehilangan pendengaran dan otitis media yang tidak
kunjung sembuh.

4. Gangguan pertumbuhan gigi


Anak yang lahir dengan labioschisis mungkin mempunyai masalah tertentu yang
berhubungan dengan kehilangan, malformasi, dan malposisi dari gigi geligi pada arean dari
celah bibir yang terbentuk.

5. Gangguan berbicara
Pada bayi dengan labio-palatoschisis biasanya juga memiliki abnormalitas pada
perkembangan otot-otot palatum mole. Saat palatum mole tidak dapat menutup ruang/
rongga nasal pada saat bicara, maka didapatkan suara dengan kualitas nada yang lebih tinggi
(hypernasal quality of speech). Meskipun telah dilakukan reparasi palatum, kemampuan otot-
otot tersebut diatas untuk menutup ruang/ rongga nasal pada saat bicara mungkin tidak
dapat kembali sepenuhnya normal. Anak mungkin mempunyai kesulitan untuk menproduksi
suara/ kata "p, b, d, t, h, k, g, s, sh, and ch", dan terapi bicara (speech therapy) biasanya sangat
membantu. (Mulliken, 2014)

6. Penderita CLP mengalami berbagai permasalahan yang ditimbulkan akibat cacat ini
adalah psikis, fungsi dan estetik dimana ketiganya saling berhubungan. Untuk fungsi dan nilai
estetik baik untuk bibir, hidung dan rahangnya diperlukan pembedahan. Disamping jasa
seorang spesialis Bedah Plastik juga dibutuhkan sebuah tim dokter lain yang terdiri dati dokter
THT, dokter gigi spesialis ortodentis, dokter anak, tim terapi bicara dan pekerja sosial.
Penderita CLP paling utama terjadi gangguan dalam berbicara, penyakit pada telinga dan
mungkin saja jalan nafas menjadi ikut terganggu. Oleh karena itu dibutuhkan seorang ahli THT
untuk melihat gangguan yang terjadi ini. (Quinn, 2015)
Bayi yang baru lahir dengan CLP segera dipertemukan dengan pekerja sosial untuk diberi
penerangan agar keluarga penderita tidak mengalami stress dan menerangkan harapan yang
bisa didapatkan dengan perawatan yang menyeluruh bagi anaknya, Selain itu dijelaskan juga
masalah yang akan dihadapi kelak pada anak. Menerangkan bagaimana memberi minum bayi
agar tidak banyak yang tumpah. Pekerja sosial membuatkan suatu record psicososial pasien
4
dari sini diambil sebagai bagian record CLP pada umumnya. Pekerja sosial akan mengikuti
perkembangan psikososial anak serta keadaan keluarga dan lingkungannya.(Mulliken, 2014)

TAHAPAN OPERASI PADA CLP

Tahapan Pre-Operasi :
Dilakukan edukasi terhadap orangtua pasien mengenai tatacaram pemberian asupan makanan
dan tindakan operasi. Sebe1um dilakukan operasi, kondisi bayi harus sehat, tindakan
pembedahan mengikuti tata cara ""rule of ten": bayi berumur lebih 10 minggu, berat 10 pon
atau 5 kg, dan memiliki hemoglobin lebih dari 10 gr%.

1. OPERASI TAHAP I ( Usia 3 bulan )


Labioplasty
Dilakukan pada usia 3 bulan, memenuhi syarat “ rule of ten “
a. Operasi labioplasty ( bibir)
b. Operasi primary rhinoplasty ( perbaikan hidung)
c. Evaluasi telinga, adakah tanda2 otitis media, bila perlu dilakukan miringotomy
kemudian pemasangan grommets tube.

2. OPERASI TAHAP II ( Usia 10-12 bulan )


Palatoplasty
Perbaikan langit-langit disebut Palatorahy dilakukan pada usia 10 - 12 bulan, usia tersebut akan
memberikan hasil fungsi bicara yang optimal karena memberikan kesempatan jaringan pasca
operasi sampai matang pada proses penyembuhan luka sehingga sebelum penderita mulai
bicara dengan demikian soft palate dapat berfungsi dengan baik. Jika operasi dilakukan
terlambat sering hasil operasi dalam hal kemampuan mengeluarkan suara normal dan suara
sengau,hal ini terjadi karena anak sudah terbiasa melafalkan suara yang salah, sudah ada
mekanisme kompensasi memposisikan lidah pada posisi yang salah.
Dilakukan evaluasi pendengaran dan telinga

5
3. TAHAPAN III ( Usia 1,5 -4 tahun)
Speech Terapi
a. Evaluasi bicara, dimulai 3 bulan pasca operasi,setelah penyembuhan luka baik,
tidak ada fistula. Speech terapi dilakukan oleh speech pathologist.
b. Evaluasi pendengaran dan telinga

4. TAHAPAN IV ( Usia 5-6 tahun )


Vellopharingeal Insufisiensi ( VPI )
Velofaringeal insufisiensi adalah penutupan yang tidak sempurna dari katup
velofaringeal sewaktu berbicara dan ditandai dengan hipernasalitas ( suara sengau ).
Velofaringeal insufisiensi sering digunakan untuk menggambarkan defek anatomis atau
structural yang mencegah penutupan orofaringeal yang adekuat. Insufisiensi velofaringeal
adalah tipe VPD yang paling umum. Ini termasuk dengan velum pendek atau cacat, yang
umum terjadi pada anak-anak dengan riwayat celah langit-langit, bahkan setelah perbaikan
langit-langit. Disfungsi Velofaringeal adalah kesulitan bicara yang terjadi ketika otot langit-
langit lunak di bagian belakang atap mulut tidak menutup rapat di dinding belakang
tenggorokan saat berbicara. Ini menyebabkan udara keluar melalui hidung bukan mulut.

penyebab VPI setelah tindakan palatoplasti (Nakamura dan tezuka


• Short palate
Keadaan ini disebabkan kondisi anatomis awal sebelum dioperasi terdapat cleft
palate yg dalam
• Insufficient velar elevation
Tindakan releasing otot-otot palatum saat tindakan operasi tidak dilakukan
dengan baik, sehingga gerakan velar post palatoplasty terbatas. Selain tindakan
releasing yg tidak bagus, scar post palatoplasty juga akan mempengaruhi gerakan
velar pasca palatoplasty
• Midline defect of the velum
Keadaan ini terjadi karena perbaikan defek pada muskulus uvula yang tidak baik,
sehingga menyebabkan fistula
Insufisiensi velofaringeal terjadi pada sekitar 20-30% pasien setelah perbaikan langit-
langit mulut primer. Hal ini disebabkan oleh sejumlah faktor yang berbeda, seperti tingkat
keparahan dan jenis cleft, teknik bedah, dan usia pada saat operasi.

6
Diagnosis
Anamnesis : suara hipernasal, misartikulasi, nasal emisi
Pemeriksaan Fisik:
i. Evaluasi bicara( speech analisis ), mengidentifikasi adanya velofaringeal insuffisiensi,
anomaly dari organ pembentuk suara yaitu fungsi dan penempatan dari lidah, bibir, gigi,
palatum molle dan palatum durum dalam membuat bunyi atau anomaly dari neuromuscular.
ii. Evaluasi klinis, melihat derajat gerakan dari palatum molle dan otot faringeal, juga
posisi dari otot levator pada palatum molle.
iii. Test kaca, meletakkan kaca dibawah hidung dan pasien disuruh berbicara, bila kaca
berembun berarti ada udara yang keluar dari hidung saat berbicara.
Pemeriksaan Penunjang : Flexible Nasoendoscopy, Phonating cephalogram, Nasometry.
Tindakan : Vellopharingioplasty ( posterior wall augmentation, Autologous fat grafting,

5. TAHAPAN V ( usia 6-7 tahun )


Secondary Rhinoplasty dan revisi scar

6. TAHAPAN VI ( Usia 8-9 tahun )


ORTOGNATIC Surgery
Evaluasi gusi , gigi dan rahang, pembentukan lengkung orthodonti, pembuatan model
gigi.
Koreksi untuk kelainan ini dilakukan pada saat usia 8-9 tahun, dan bekerja sama dengan
dokter gigi ahli ortodonsi. Komplikasi pasca operasi yang sering terjadi berupa lepasnya
jahitan, dan terjadinya kelainan pertumbuhan maksila akibat terlalu tegangnya otot yang
dihubungkan, Pada celah bibir komplit bilateral terdapat tiga masalah tambahan yaitu keadaan
premaksila yang menonjol, kolumela yang inadekuat dan insufisiensi suplai darah ke
prolabium, kolumela dan premaksila inadekuat.( Campbell A,2010)

7. TAHAPAN VII ( usia 7-9 tahun)


ALVEOLAR BONE GRAFT
Pada usia 7-9 tahun dilakukan operasi penambalan tulang pada celah alveolar/maxilla
untuk tindakan bone graft dimana ahli orthodonti yang akan mengatur pertumbuhan gigi
caninus kanan-kiri celah agar normal. Dilakukan sebelum terjadinya erupsi gigi permanen
pada saat akar gigi Caninus maxilla telah terbentuk , 2/3 panjang dari normal. Sebelum

7
dilakukan alveolar bone graft, gigi susu atau gigi lain yang mempunyai prognosis buruk di
ektraksi, agar tidak menjaikan locus minorus yang menyebabkan gagalnya alveolar bone grfat
Bone graft ini diambil dari bagian spongius crista iliaca..

8. TAHAPAN VIII
Final Touch ( usia 12-13 tahun)

9. TAHAPAN IX ( 18 tahun atau lebih )


Le Fort Osteotomy ( maxillary advancement )
Evaluasi dari tulang-muka.
Evaluasi pada perkembangan selanjutnya pada penderita CLP sering didapatkan
hipoplasia pertumbuhan maxilla sehingga terjadi dish face muka cekung. Keadaan ini
dapat dikoreksi dengan cara operasi advancement ostetomi Le Fort I(maxillary
advancement) pada usia 17 tahun dimana tulang-tulang muka telah berhenti
pertumbuhannya. Hal ini dilakukan oleh bedah ortognatik, memotong bagian tulang
yang tertinggal pertumbuhannya dan merubah posisinya maju ke depan.

Grab & Smith Plastic Surgery, 6 edition

8
Teknik Pembedahan Celah Bibir

1. Teknik untuk unilateral cleft lip

Beberapa prosedur bedah untuk memperbaiki unilateral cleft lip telah dikemukakan
dengan variasi yang beragam antara lain "Rose-Thompson Straight Line Closure, Randall-
Tennison triangular flap repair, Mulard rotation-advancement repair, LeMesurier quadrilateral
flap repair, Lip adhesion, and Skoog dan Kernahan-Bauer upper dan lower lip Z-plasty repair.
Dan masih banyak lagi teknik- teknik yang lain seperti teknik Delaire dan teknik Poole. Setiap
teknik tersebut bertujuan untuk mengembalikan kontuinitas dan fungsi dari musculus
orbicularis dan menghasilkan anatomis yang simetris. Kesemuanya mencoba untuk
memperpanjang pemendekan philtrum pada bagian bercelah dengan melekatkan jaringan dari
elemen bibir lateral ke elemen bibir medial, dengan menggunakan berbagai kombinasi antara
lain merotasi, memajukan. dan mentransposisikan penutup. (Debra, 2014)

Teknik Rose-Thompson straight line closure merupakan teknik untuk penyambungan


linear defek minimal tanpa distorsi lantai nostril diawali dengan pertimbangan mengenai titik
anatomis yang ada.

Dua teknik yang sering digunakan yaitu teknik rotasi Millard dan teknik triangular.
Teknik Millard membuat dua flap yang berlawanan di mana pada sisi medial dirotasi ke bawah
dari kolumella untuk menurunkan titik puncak ke posisi normal dan sisi lateral dimasukkan ke
arah garis tengah untuk menutupi defek pada dasar kolumella. (Debra, 2014)

Keuntungan dari teknik rotasi Millard adalah jaringan parut yang terbentuk berada pada
jalur anatomi normal dari collum philtral dan batas hidung.

Teknik triangular dikembangkan oleh Tennison dan kawan-kawan dengan


menggunakan flap triangular dari sisi lateral, dimasukkan ke sudut di sisi medial dari celah
tepat di atas batas vermillion, melintasi collum philtral sampai ke puncak cupid. Triangle ini
menambah panjang di sisi terpendek dari bibir. Teknik ini menghasilkan panjang bibir yang
baik tetapi jaringan parut yang terbentuk tidak terlihat alami. (Debra, 2014)

Teknik Milliard Rotation Advancement adalah teknik yang dikembangkan oleh


Milliard dengan perbaikan bertahap cocok untuk memperbaiki baik cleft lip komplit maupun
inkomplit. Teknik ini sederhana, tapi diperlukan mata yang baik dan tangan yang bebas karena
merupakan teknik-teknik 'cut as you go' bagian nasal rekonstruksi harus didudukkan pada
posisi anatomi sphincter oral, rotasi seluruh crus lateral + medial dari kartilago lateral,
rekonstruksi dasar hidung (baik lebar dan tingginya) dengan koreksi asimetris maksila yang
hipoplastik untuk meninggikan ala bawah yang mengalami deformitas dan penempatan
kolumella dan septum nasi ke midline untuk memperoleh nostril yang simetris.

Bagian bibir yang normal disiapkan untuk menerima bagian sisi yang sumbing pada
teknik Miliard, untuk itu maka sisi yang sehat dengan cupid’s bow. harus diiris sepanjang
bawah kolumella dan dibebaskan ke bawah, ke arah estetika normal. Bagian bibir yang
sumbing harus diiris sedemikian rupa untuk mengisi gap celah yang telah disiapkan pada bibir
yang sehat.
9
2. Teknik untuk complit dan incomplit bilateral cleft lip

Apabila celah bilateral komplit pada satu sisi dan inkomplit pada sisi yang lain tidak
hanya terjadi defisiensi bilateral tapi juga asimetris dari distorsi. Adaptasi prinsip rotation
advancement terbagi kepada dua tahap, cleft komplit dirotasi dan diangkat untuk menutupi
supaya suplai darah ke prolabium dialirkan deft incomplete. lika kolurnella terdapat
pemendekan unilateral flap c digunakan untuk pemanjangan. Satu bulan lebih kemudian, sisi
yang kedua dirotasi dan ditarik supaya simetris. (Mulliken, 2014)

3. Teknik untuk complete bilateral cleft lip

Complit bilateral cleft terdapat tiga masalah tambahan yang biasanya tidak terdapat di
incomplete cleft (1) premaksilla yang menonjol. (2) kolumella yang inadekuat atau tidak ada
(3) satu-satunya suplai darah ke prolabium adalah melalui kolumella dan premaksilla.
Perbaikan secara bedah melibatkan beberapa prosedur primer dan sekunder. Prosedur
pembedahan dan waktu pelaksanaannya bervariasi, tergantung dari tingkat keparahan defeknya
dan keputusan dari dokter bedahnya.

Waktu yang tepat untuk dilakukan operasi perbaikan masih diperdebatkan. Namun
dokter bedah plastik biasa memilih rentang waktu antara 24 jam sampai 12 bulan setelah
kelahiran. Terdapat pendapat lain yang menunda sampai beberapa bulan untuk menunggu bayi
lebih besar dan lebih kuat. Jika tidak ada kontraindikasi medis, bisa diikuti rule of ten, yaitu
dapat dilakukan operasi bila pasien berusia 10 minggu, berat badan 10 pon dan hemoglobin
setidaknya 10 g/dl. Namun jika terdapat kondisi medis yang membahayakan kesehatan bayi,
operasi ditunda sampai resiko medis minimal. (Balaji, 2013)

Penutupan bibir awal (primary lip adhesion) dilakukan selama beberapa bulan pertama
lalu dilanjutkan dengan perbaikan langit-langit. Tujuan dari penutupan bibir awal ini adalah
untuk mendapatkan penampilan yang lebih baik, mengurangi insiden penyakit saluran
pernafasan dan untuk mengizinkan perbaikan definitif tanpa halangan berupa jaringan scar
yang berlebihan. Prostetik dan orthopedic appliances dapat digunakan untuk mencetak atau
memperluas segmen maksila sebelum penutupan defek langit-langit. Selanjutnya, autogenus
bone graft dapat ditempatkan pada daerah defek tulang alveolar. (Balaji, 2013)

Prosedur perbaikan sekunder jaringan lunak dan prosedur ortognatik dapat dilakukan
untuk meningkatkan fungsi dan tampilan estetik. Teknik yang digunakan dalam penutupan
celah bibir yang baik, selain berorientasi pada kesimetrisan dan patokan anatomi bibir juga
memperhitungkan koreksi kelainan yang sering dijumpai bersamaan, misalnya hidung, baik
pada saat yang bersamaan dengan labioplasty maupun pada kesempatan yang telah
direncanakan kemudian hal ini untuk mempersiapkan jaringan dan menghindari parut atau scar
yang berlebihan. Prosedur yang mungkin dilakukan antara lain seperti perbaikan konfigurasi
anatomi bibir, hidung, langit-langit durum, langit-langit molle dan alveolus. Penggunaan alat
ortodontik juga dapat dilakukan untuk mendapatkan susunan gigi geligi yang baik didalam
lengkung rahang dan memiliki hubungan fungsional yang baik pula. (Balaji, 2013)

10
Labioplasty

Operasi labioplasty dilakukan pada usia kurang lebih 3 bulan dan mengikuti ketentuan rule of
tens yaitu :

1. Berat bayi minimal 10 pounds

2. Hemoglobin lebih atau sama dengan 10 gr/dl dan

3. lekosit maksimal 10.000 /dl.

Tujuan utama labioplasty adalah menciptakan bibir dan hidung yang seimbang dan simetris
dengan jaringan parut minimal dan menciptakan bibir yang berfungsi baik dengan mengurangi
pengaruh operasi terhadap pertumbuhan dan perkembangan lengkung maksila. (Marie M.
2012)

Untuk tujuan tersebut maka setiap elemen celah bibir dan hidung harus dibentuk seanatomis
mungkin (kartilago, kulit, otot dan mukosa nasal) dengan memperhatikan pengambilan
jaringan minimal untuk mencegah kurangnya volume bibir dan hidung. Penanganan tepi insisi
yang baik juga harus dilakukan untuk mengurangi jaringan parut pasca operasi. (Marie M.
2012)

Gambar 8. triangular cleft lip repair. A) menandai daerah yang akan di triangular cleft lip repair.
B) penampakan selama operasi triangular repair. C) perbaikan komplit. (Marie M. 2012)

Palatoplasty

Tujuan palatoplasty adalah memisahkan rongga mulut dan rongga hidung, membentuk
katup velofaringeal yang kedap air dan kedap udara dan memperoleh tumbuh kembang
maksilofasial yang mendekati normal. Tantangan daripada palatoplasty dewasa ini bukanlah
hanya bagaimana menutup defek celah langit-langit namun juga bagaimana didapatkan fungsi
bicara yang optimal tanpa mengganggu pertumbuhan maksilofasial. (Bagheri, 2013)

Waktu yang paling tepat untuk dilakukannya palatoplasty masih tetap menjadi
kontroversi. Sebagian ahli bedah mendukung waktu palatoplasty sebelum usia 12 bulan karena

11
lebih menguntungkan perkembangan bicara pasien sebab proses belajar bicara dimulai pada
usia 12 bulan. (Bagheri, 2013). Penundaan palatoplasty lebih menguntungkan untuk
perkembangan maksilofasial namun lebih merugikan untuk perkembangan bicara pasien.
Waktu yang paling optimal untuk palatoplasty sampai sejauh ini secara ilmiah belum terbukti
namun sebagian besar ahli bedah sepakat bahwa palatoplasty harus dilakukan sebelum usia 2
tahun. (Bagheri, 2013)

Terdapat berbagai jenis teknik palatoplaty namun yang paling sering dipakai adalah
teknik von langenbeck dan V-Y push back (Veau- Wardill-Kilner). Kedua teknik ini memiliki
kelebihan dan kekurangan (Bagheri, 2013)

Von langenbeck Palatoplasty

Teknik von langenbeck menggunakan mukoperiosteal flap bipedikel pada palatum durum dan
palatum molle untuk menutup defek celah langit-langit. Basis anterior dan posterior bipedikel
flap didekatkan kearah medial untuk menutup celah langit-langit.

Keuntungan :

a. Teknik mudah dikerjakan

b. Waktu operasi cepat

Kekurangan :

a. Tidak mampu memanjangkan palatum ke posterior sehingga kemungkinan terjadinya


velopharingeal incompetence lebih tinggi.

b. Fungsi bicara tidak optimal

Gambar 9. A) marking desain flap B) Bipedikel mucoperiosteal flap dielevasi dari lateral
relaxing incision ke margin celah langit-langit dilanjutkan dengan penutupan lapisan
mucoperiosteum nasal. flap mucoperiosteum rongga mulut komplit. (Bagheri, 2013)

V-Y Pushback ( Veau- Wardill Kilner) palatoplasty

12
Gambar 10. A) penentuan marking insisi. B) mukoperiosteal flap oral dielevasi dengan
mempertahankan neurovascular bundle palatinus mayus pada kedua sisi dilanjutkan retroposisi
dan repair m. levator velli palatine setelah penutupan mukoperiosteal nasal. C) penjahitan
mukoperiousteum oral. (Bagheri, 2013)

Keuntungan :

1. Memperpanjang palatum ke posterior

2. Meningkatkan fungsi bicara sebagai akibat palatum yang bisa diperpanjang lebih ke
posterior

Kekurangan :

1. Kemungkinan timbul fistula pada daerah antara palatum durum dan palatum molle
karena mukoperiosteum yang tipis didaerah tersebut.

2. Meninggalkan tulang terbuka / denuded bone yang lebar pada tepi lateral celah langit-
langit. Daerah ini kemudian membentuk jaringan parut yang berperan pada konstriksi
lengkung maksila.

3. Waktu operasi lebih lama (Bagheri, 2013)

13
PERAWATAN POST OPERASI LABIOPLASTY

Setelah lapangan operasi diberihkan dengan Nacl 0,9 %,luka operasi dan jahitan diberi
dengan gentamisin zalp mata. Diberikan antibiotic selama 3 hari. Setiap 2-3 kali luka
dibersihkan dengan kassa yang dibasahi Nacl 0,9 %, kemudian di olesi lagi dengan cream
antibiotic.

Jahitan diangkat pada hari ke 6. Anak dianjurkan untuk minum dengan sendok selama
2 minggu, setelah itu diperbolehkan menggunakan dot ( Djohansyah Marjuki, 2002)

Komplikasi operasi

Early : perdarahan, wound dehisense, infeksi

Delay : fistula, parut tidak baik, asimetri bibir, wound dehisens

PERAWATAN POST OPERASI PALATOPLASTY

Segera setelah sadar, pemderita diperbolehkan minum dan makanan cair sampai dengan
3 minggu dan selanjutnya makan makanan biasa. Bagi anak kecil biasakan setelah makan
makanan cair dilanjutkan dengan minum air putih. Berikan antibiotic selama 3 hari.

( Djohansyah Marjuki, 2002)

14
DESAIN INCISI MILLARD 1

15
SEORANG ANAK LAKI-LAKI USIA 6 BULAN DENGAN
LABIOGNATOSCHIZIS UNILATERAL SINISTRA INKOMPLIT
NON SYNDROMIK

IDENTITAS PASIEN
Nama Penderita : An. A
Umur : 6 bulan
Agama : Islam
Alamat : Karanganyar
No. CM : 459082
Masuk RS : 13 Mei 2019

II. DAFTAR MASALAH


No. Problem Aktif Tanggal Problem Tanggal
Pasif
1. Labiognatoschizis unilateral 13 Mei 2019
sinistra inkomplit

III. ANAMNESIS
Alloanamnesis dengan ibu pasien di poli bedah plastik jam 10.30 tanggal 13 Mei 2019
Keluhan Utama : sumbing bibir dan gusi mulut

Riwayat Penyakit Sekarang :


Sejak lahir pasien menderita sumbing bibir dan gusi. Minum ASI (-), minum ASI/susu
formula (+) dengan sendok. Pasien berobat ke dokter dan disarankan untuk operasi.
Penderita akhirnya dibawa ke poli bedah plastik RSDM. Keluhan kelainan lain tidak ada.

Riwayat Penyakit Dahulu :


- Riwayat penyakit jantung bawaan (-)
- Riwayat alergi (-)

16
Riwayat Penyakit Keluarga :
- Tidak ada anggota keluarga yang setelah lahir mengalami sakit seperti ini

Riwayat Sosial Ekonomi :


Ayah bekerja sebagai petani, ibu tidak bekerja. Biaya pengobatan ditanggung BPJS.
Kesan: sosial ekonomi kurang.

Riwayat Perinatal :
Pre Natal :
Anak lahir dari ibu G3P2A0, 38 tahun, hamil 39 minggu. ANC > 4x, mendapat imunisasi
TT 1x. Selama hamil ibu tidak pernah mengalami penyakit kehamilan, hipertensi (-),
DM (-), trauma saat hamil, tidak mengalami perdarahan jalan lahir, tidak pernah minum
jamu, tidak pernah meminum obat-obatan tanpa resep dokter, hanya minum vitamin
dan tablet tambah darah yang diberikan dokter.
Natal :
Lahir bayi perempuan, usia kehamilan 39 minggu, lahir secara normal, bayi lahir
langsung menangis,, biru-biru (-), kuning (-), anus (+), jari-jari lengkap, BBL 3200 gr.
Post Natal :
Anak dibawa kontrol ke dokter dan disarankan untuk dilakukan operasi, keadaan anak
didapatkan celah pada daerah bibir dan gusi mulut.

Riwayat Makan Dan Minum :


0-sekarang : susu ASI + formula, semau anak, ±10x/hari

Riwayat Imunisasi :
Lengkap sesuai umur

Riwayat Perkembangan Dan Pertumbuhan Anak :


Pertumbuhan :
Berat badan : 6,0 kg
Panjang badan : 60 cm
Lingkar kepala : 37 cm

Perkembangan :
17
Perkembangan anak sesuai umur
Riwayat Keluarga Berencana Orang Tua : Tidak menggunakan kontrasepsi

IV. DIAGRAM SILSILAH KELUARGA

V. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum : tampak baik, aktif, dan tampak sumbing pada bibir dan gusi mulut
disebelah kiri
Kesadaran : compos mentis
Tanda Vital : HR : 104x/menit
RR : 26x/menit
T : 36,80 C
Kepala : mesosefal
Mata : konjungtiva palpebra pucat (-/-), sclera ikterik (-/-), hipertelori (-)
Telinga : discharge (-/-), low seat ear (-)
Hidung : discharge (-/-), saddle nose (-)
Mulut : tampak celah pada bibir dan gusi mulut di sebelah kiri, celah tidak
sampai langit-langit dan dasar cavum nasi, gigi belum ada.
Tenggorok : faring hiperemis (-), tonsil T1/T1
Leher : trakea letak tengah
Thorax :

18
Pulmo:
Inspeksi : simetris saat statis dan dinamis
Palpasi : stem fremitus tidak dapat dinilai
Perkusi : sonor di seluruh lapangan paru
Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan (-/-)

Cor :
Inspeksi : ictus cordis tak tampak
Palpasi : ictus cordis teraba di SIC V 2cm medial LMCS
Perkusi : konfigurasi jantung sulit dinilai
Auskultasi : suara jantung I-II normal, suara tambahan (-)
Abdomen :
Inspeksi : datar
Palpasi : supel
Perkusi : timpani, sulit dinilai
Auskultasi : bising usus (+) normal
Vertebra : spina bifida (-)
Genitalia : perempuan, labia mayor menutup labia minor
Ekstremitas : superior inferior
Sianosis -/- -/-
Edema -/- -/-
Akral dingin -/- -/-
Capp.refill <2”/<2” <2”/<2”
Status Lokalis
I : terlihat adanya celah pada bibir dan gusi pada mulut sebelah kiri, celah bibir
tidak mencapai langit-langit.
Pa : celah pada gusi sebagian

19
VI. DIAGNOSIS
Labiognatoschizis unilateral sinistra inkomplit non syndromik

VII. PLAN
Labioplasty Millard I

20
Telah dilakukan operasi Labioplasty Millard pada tanggal 14 Mei 2019
Laporan operasi :
- Posisi supine dlm GA, toilet medan operasi tutup dengan duk steril.
- Pasang intraoral pack.
- Gambar design incisi Millard I
1. Cupid Bow yang paling rendah
2. Cupid Bow yang paling Tinggi
3. Mengukur jarak yang sama
4. Jarak; white skin roll mulai menghilang/ paling tebal dari sudut bibir
5. Tarik garis Lurus s.d batang Columella (membagi dua)
6. Sejajar dengan No.5
7. Pas disudut hidung
8. Sejajar dengan No.6
- Dilakukan Incisi dari:
5 ke 3
8 ke 3
3 ke Bawah
- Dilakukan Incisi dari:
6 ke 7
- Flap A
6 ke 4
4 ke bawah
- Flap B
5 ke 3
3 ke bawah
Flap C
- Jahit mukosa setinggi mungkin untuk menghindari fistel oronasal
- Jahit otot dengan benang multifilamen absorable 5.0
- Jahit kulit dengan benang monofilamen nonabsorable 6.0

21
TGL Follow Up Plan
15 S: - Plan:
Mei 0: KU baik Medikasi luka
2019 Status lokalis R. Labialis: Rawat luka terbuka dgn
I : luka kering, krusta (+) , wound dehisens – gentamisin zalp mata.
Assestment : Minum ASI/Susu formula dg
Post labioplasty ai Labiognatoschizis unilateral sendok
sinistra inkomplit non syndromic DPH I Tidak boleh menghisap/nge
Dot selama 2 minggu
Rawat jalan

17 S: - Plan:
Mei 0: KU baik Medikasi luka
2019 Status lokalis R. Labialis: Rawat luka terbuka dgn
I : luka kering, krusta (+) , wound dehisens – gentamisin zalp mata.
Assestment : Minum ASI/Susu formula dg
Post labioplasty ai Labiognatoschizis unilateral sendok
sinistra inkomplit non syndromic DPH III Tidak boleh menghisap/nge
Dot selama 2 minggu

21 S: - Plan:
Mei 0: KU baik Aff Hecting
2019 Status lokalis R. Labialis: Minum ASI/Susu formula dg
I : luka kering, krusta (-) , wound dehisens – sendok
Assestment : Tidak boleh menghisap/nge
Post labioplasty ai Labiognatoschizis unilateral Dot selama 2 minggu
sinistra inkomplit non syndromic DPH VII

22
DAFTAR PUSTAKA

Bagheri, Shahrokh C., Chris Jo. Cleft lip and palate. Clinical Review of Oral and maxillofacial
Surgery. Amerika: Mosby Elsevier 2013 : 336-431

Balaji SM. Textbook of oral & maxillofacial surgery. New Delhi: Elsevier 2013: 493-514.

Djoehansyah Marjuki, Tehnik Pembedahan Celah Bibir dan langit-langit, Jakarta, Sagung seto,
2002

Debra SJ, Michael DJ. Neonatal Cleft Lip and Cleft Palate Repair. Goliath. July 2014

Lalwani, Anil K.. Current diagnosis & treatment. Head & Neck Surgery. New York: A Lange
Medical book 2013: 323-38.

Lee, K. J.. Essential Head and Neck Surgery, 9th edition, Mc Graw Hill 2013: 293-303.

Marie M. Pediatric Cleft Lip and Palate Treatment and Management. Medscape reference :
2012

Mulliken JB. The Changing Faces of Children with Cleft Lip and Palate. NEJM. Vol:351.
August 2014. P. 745-7

Quinn FB. Cleft lip and Palate. UTMB Dept. of Otolaryngology Grand Rounds. July 2014
Smith’s Plastic surgery. 6th edition. 2015: p.201-8

Thorne CH. Congenital Anomalies and Pediatric Plastic Surgery. At : Grabb and

Tolarova, MM. Pediatric cleft lip and palate. July 2015. Available on
http://emedicine.medscape.com/article/995535-overview

23