You are on page 1of 18

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN HIPERBILIRUBIN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Keperawatan Anak

Dosen Pengampu : Ns. Erni Suprapti, M. Kep

Disusun Oleh:

1. Akylah Mutiara Dewi (17.003)


2. Desi Yulianti (17.019)
3. Nikmah Rahmania (17.061)
4. Octa Yudha (17.064)
5. Sukamto (17.084)
6. Tugas Dwi Koranto (17.092)

AKADEMI KEPERAWATAN

KESDAM IV/ DIPONEGORO

SEMARANG

2019
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang…………….………………………………………………
B. Tujuan ……………………………………………………….……………
BAB II KONSEP DASAR MEDIS
A. Pengertian ………………………..…………………………….
B. Etiologi …………………..
C. Patofisiologi ……………………………………………....
D. Pathway……………………
E. Manisfistasi klinis………..
F. Pengobatan
G. Pemeriksaan penunjang
BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
B. Diagnosa
C. Interensi

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan……………………………………………………………....
B. Saran……………………………………………………………………..
DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hiperbilirubinemia merupakan peningkatan kadar plasma bilirubin 2
standar deviasi atau lebih dari kadar yang diharapkan berdasarkan umur bayi atau
lebih dari presentil 90. Hiperbilirubinemia merupakan salah satu fenomena klinis
yang paling sering ditemukan pada bayi baru lahir.Lebih dari 85% neonatus cukup
bulan kembali dirawat dalam minggu pertama kehidupan disebabkan oleh keadaan
ini. Insiden hiperbilirubinemia di Amerika 65%, Malaysia 75%, sedangkan
Surabaya 30% pada tahun 2000, dan 13% pada tahun 2002. Ikterus atau Jaundice
terjadi akibat akumulasi bilirubin dalam darah sehingga kulit, mukosa, dan atau
sklera bayi tampak kekuningan.Hal tersebut disebabkan karena adanya akumulasi
bilirubin tak terkonjugasi yang berlebih.Hiperbilirubinemia merupakan istilah yang
sering dipakai untuk ikterus neonatorum setelah ada hasil laboratorium yang
menunjukkan peningkatan kadar bilirubin. Ikterus akan tampak secara visual jika
kadar bilirubin lebih dari 5-7 mg/dl.
Hiperbilirubin merupakan keadaan yang umum terjadi pada bayi preterm
maupun aterm. Peningkatan kadar bilirubin > 2 mg/dL sering ditemukan hari hari
pertama setelah lahir. 60% neonatus yang sehat mengalami Ikterus. Pada
umumnya,peningkatan kadar bilirubin tidak berbahaya dan tidak memerlukan
pengobatan. Namun beberapa kasus berhubungan dengan dengan beberapa
penyakit, seperti penyakit hemolitik, kelainan metabolisme dan endokrin , kelainan
hati dan infeksi. Pada kadar lebih dari 20mg/dL, bilirubin dapat menembus sawar
otak sehingga bersifat toksik terhadap sel otak. Kondisi hiperbilirubinemia yang
tak terkontrol dan kurang penanganan yang baik dapat menimbulkan komplikasi
yang berat seperti bilirubin ensefalopati dan kernikterus akibat efek toksik bilirubin
pada sistem saraf pusat dimana pada tahap lanjut dapat menjadi athetoid cerebral
palsy yang berat.

Penelitian bertujuan mengetahui bebearapa faktor risiko ( infeksi pada ibu,

adanya riwayat obstetri ketuban pecah dini, air ketuban keruh, dan eksklusifitas

pemberian ASI ) terhadap hiperbilirubinemia pada neonatus.


B. Tujuan
a. Untuk mengetahui pengertiann hiperbilirubin?
b. Untuk mengetahui tanda dan gejala hiperilirubin?
c. Untuk mengetahui faktor penyebeb hiperbilirubin?
d. Untuk mengetahui daignosa hiperbilirubin
BAB II

KONSEP DASAR MEDIS

A. Pengertian
Hiperbilirubinemia adalah keadaan pada BBL dimana kadar bilirubin serum
total lebih dari 10 mg% pada minggu pertama ditandai dengan ikterus, dikenal ikterus
neonatorum yang bersifat patologis atau hiperbilirubinemia.
Hiperbilirubinemia adalah suatu keadaan meningkatnya kadar bilirubin di
dalam jaringan ekstra vaskuler sehingga konjungtiva, kulit dan mukosa akan berwarna
kuning. Keadaan ini berpotensi besar karena ikterus yang merupakan kerusakan otak
akibat perlengketan bilirubin indirek pada otak.

B. Etiologi
Dikatakan hiperbilirubinemia apabila ada tanda-tanda sebagai berikut:
1) Ikterus terjadi pada 24 jam pertama
2) Peningkatan konsentrasi bilirubin 5 mg% atau lebih setiap 24 jam
3) Konsentrasi bilirubin serum 10 mg% pada neonatus cukup bulan 12,5 mg% pada
neonatus kurang bulan
4) Ikterus yang disertai proses hemolysis
5) Ikterus disertai dengan berat badan lahir kurang 2kg, masa esfasi kurang 36 mg,
dedikasi, hipoksia, sindrom gangguan pernapasan, infeksi trauma lahir kepala,
hipoglikemia, hiperaktif.
Adapun penyebab dari ikterus diantaranya adalah sebagai berikut :
1) Produksi bilirubin yang berlebihan
2) Gangguan dalam proses ambil dan konjugasi hepar
3) Gangguan transportasi dalam metabolisme bilirubin
4) Gangguan dalam ekskresi.

C. Patofisiologi
Hiperbilirubinemia merupakan salah satu fenomena klinis yang paling sering
ditemukan pada bayi yang baru lahir.Lebih dari 85% bayi cukup bulan yang kembali
dirawat pada minggu pertama kehidupan disebabkan oleh keadaan ini.Bayi dengan
hiperbilirubinemia tampak kuning akibat akumulasi pigmen bilirubin yang berwarna
kuning pada sclera dan kulit.
Pada janin, tugas mengeluarkan bilirubin dari darah dilakukan oleh plasenta,
dan bukan oleh hati.Setelah bayi lahir, tugas ini langsung diambil alih oleh hati, yang
memerlukan sampai beberapa minggu untuk penyesuaian.Selama selang waktu
tersebut, hati bekerja keras untuk mengeluarkan bilirubin dari darah.Walaupun
demikian, jumlah bilirubin yang tersisa masih menumpuk di dalam tubuh.Oleh karena
bilirubin berwarna kuning, maka jumlah bilirubin yang berlebihan dapat member
warna pada kulit, sclera, dan jaringan-jaringan tubuh lainnya.
D. Pathway

E. Manifestasi Klinis
1. Sklera, kuku dan membran mukosa tampak ikterus akibat pengendapan bilirubin indirek
pada kulit yang cenderung tampak kuning terang atau orange, ikterus pada tipe
obstruksi kulit tampak berwarna kuning kehijauan atau keruh. Perbedaan ini hanya
dapat dilihat pada ikterus yang berat.
2. Muntah
3. Anoreksia
4. Warna urine gelap
5. Warna tinja pucat

F. Pengobatan
1. Fototerapi
Fototerapi dapat digunakan tunggal atau dikombinasi dengan transfusi
pengganti untuk menurunkan bilirubin.Bila neonatus dipapar dengan cahaya
berintensitas tinggi, tindakan ini dapat menurunkan bilirubin dalam kulit. Secara
umum, fototerapi harus diberikan pada kadar bilirubin indirek 4-5 mg/dl.
Neonatus yang sakit dengan berat badan kurang dari 1000 gram harus difototerapi
bila konsentrasi bilirubin 5 mg/dl. Beberapa pakar mengarahkan untuk
memberikan fototerapi profilaksis 24 jam pertama pada bayi berisiko tinggi dan
berat badan lahir rendah.

2. Intravena immunoglobulin (IVIG)


Pemberian IVIG digunakan pada kasus yang berhubungan dengan faktor
imunologik.Pada hiperbilirubinemia yang disebabkan oleh inkompatibilitas
golongan darah ibu dan bayi, pemberian IVIG dapat menurunkan kemungkinan
dilakukannya transfusi tukar.

3. Transfusi pengganti
Transfusi pengganti digunakan untuk mengatasi anemia akibat eritrosit yang
rentan terhadap antibodi erirtosit maternal; menghilangkan eritrosit yang
tersensitisasi; mengeluarkan bilirubin serum; serta meningkatkan albumin yang
masih bebas bilirubin dan meningkatkan keterikatannya dangan bilirubin.

4. Penghentian ASI
Pada hiperbilirubinemia akibat pemberian ASI, penghentian ASI selama 24-48
jam akan menurunkan bilirubin serum. Mengenai pengentian pemberian ASI
(walaupun hanya sementara) masih terdapat perbedaan pendapat.

5. Terapi medikamentosa
Phenobarbital dapat merangsang hati untuk menghasilkan enzim yang
meningkatkan konjugasi bilirubin dan mengekskresikannya. Obat ini efektif
diberikan pada ibu hamil selama beberapa hari sampai beberapa minggu sebelum
melahirkan. Penggunaan phenobarbital post natal masih menjadi pertentangan
oleh karena efek sampingnya (letargi).Coloistrin dapat mengurangi bilirubin
dengan mengeluarkannya melalui urin sehingga dapat menurunkan kerja siklus
enterohepatika.

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan bilirubin serum
Pada bayi cukup bulan bilirubin mencapai puncak kira- kira 6 mg/dl, antara 2 dan
4 hari kehidupan.Apabila nilainya diatas 10 mg/dl, tidak fisiologis. Pada bayi
dengan prematur kadar bilirubin mencapai puncaknya 10- 12 mg/dl, antara 5 dan
7 hari kehidupan. Kadar bilirubin yang lebih dari 14 mg/dl adalah tidak fisiologis.
Dari Brown AK dalam text books of Pediatrics 1996: icterus fisiologis pada bayi
cukup bulan bilirubin indirek munculnya icterus 2 sampai 3 hari dan hilang 4
sampai 5 hari dengan kadar bilirubin yang mencapai puncak 10- 12 mg/dl.
Sedangkan pada bayi dengan prematur, bilirubin indirek munculnya 3 sampa 4
hari dan hilang 7 sampai 9 hari dengan kadar bilirubin yang mencapai puncak 15
mg/dl. Dengan peningkatan kadar bilirubin indirek kurang dari 5 mg/dl/ hari. Pada
icterus patologis meningkatnya bilirubin lebih dari 5 mg/dl perhari, dan kadar
bilirubin direk 1 dari 1 mg/dl. Maisets, 1994 dalamWhaley dan Wong 1999:
meningkatnya kadar serum bilirubin total lebih dari 12 sampa 13 mg/dl.
2. Ultrasound
Untuk mengevaluasi anatomi cabang kantong empedu.
3. Radioisotope Scan
Digunakan untuk membantu membedakan hepatitis dan atresia biliary.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

DENGAN HIPERBILLIRUBINEMIA

A. Pengkjian
Tgl. Pengkajian :
Jam pengkajian :

Ruang/Kelas :

No. Regitrasi :

Tgl. MRS :

1. Identitas
a. Identitas pasien
Nama :

Umur :

Jenis kelamin :

Pendidikan :

Gol. Darah :

Alamat :

b. Identitas penanggung jawab


Nama :

Umur :

Jenis kelamin :

Agama :

Pekerjaan :

Alamat :

Hubungan dengan klien :


2. Keluhan utama
a. Keluhan utama
 Mengkaji dan memonitor dampak perubahan kadar bilirubin (seperti
jaundice, konsentrasi urin, letari, kesulitn makan, refleksi mor, adanya
termo, intrabilitas)
 Keadaan umum lemah, TTV tidak stabil terutama suhu tubuh
(hipertermi). Reflek hisap pada bayi menurun, BB turun, pemeriksaan
tonus otot (kejang/tremor). Hidrasi bayi mengalami penurunan. Kulit
tampak kuning dan mengelupas (skin resh), sclera mata kuning
(kadang-kadang terjadi kerusakan pada retina) perubahan warna urine
dan feses. Pemeriksaan fisik
b. Riwayat kesehatan sekarang
 Mengkaji kulit pada abdomen, ketegangan, adanya vomiting, cyanosis
c. Riwayat kesehatan dahulu
 Riwayat atau pengalama masa lalu calon ibu pasien tentang kesehatan
atau penyakit yang pernah dialami, trauma penyakit yang ada
hubungannya dengan penyakit yang sekarang diderita.
 Terdapat gangguan hemolisis darah (ketidaksesuaian golongan Rh atau
golongan darah A,B,O). Infeksi, hematoma, gangguan metabolisme
hepar obstruksi saluran pencernaan, ibu menderita DM.
 Pemeriksaan bilirubin menunjukkan adanya peningkatan.

3. Pola fungsi kesehatan


a. Pola peresepsi kesehatan
 Mempertahankan kontak orang tua dengan bayi di ruang foto terapi
ketempat kunjungan orang tua
b. Pola nutrisi dan metabolisme
 Pekajian nutrisi yang meliputi :
 Antropometri (A) : BB, TB, LLA( data dari pemeriksaan fisik )
 Biochemical (B) : hasil pemeriksaan laboratorium yang berkenaan
dengan status klien contoh : Hb,albumin,dll.
 Clinical (C) : tanda dan gejala klinis yang dapat diobservasi
merujuk ke pemeriksaan fisisk, contoh : konjugtiva anmis, rambut
tipis kemerahan dll.
 Diet (D) : kaji pla mkan (ferkuensi, porsi makan, jenis makan
yangbiasa dikomsumsi)
 Cairan
 Pola minum ( frekuensi, jumlah, dan jenis cairan yang
dikomsumsi)
 Bila klien memakian infus catat berapa jumlah cairan yang masuk
 Mempertahankan intek cairan dengan menyediakan cairan peroral atau
cairan parenteral ( melalui intervena)
 Memonitoring output diantaranya jumlah urin, warna dan buang air
besarnya.
 Mengkaji setatus dehidrasi dengan memonitoring suhu setaip 2 jam
setiap mengkaji membran mukosa dan fontanela.
4. Pemeriksaan fisisk
a. Keadaan umum
 Lemah TTV tidak stabil terutama suhu tubuh (hipertermi). Reflek hisap
pada bayi menurun, BB turun, pemeriksaan tonus otot (kejang/tremor).
Hidrasi bayi mengalami penurunan. Kulit tampak kuning dan
mengelupas (skin resh), sclera mata kuning (kadang-kadang terjadi
kerusakan pada retina) perubahan warna urine dan feses. Pemeriksaan
fisik
b. Pemeriksaan tanda – tanda vital
 Melakikan foto terapi dengan mengatur waktu sesuai dengan prosedur
 Memonitor tanda – tandan vital meliputi suhu, pernafasan tekanan darah,
nadi.
 Mengatur posisi setiap 6 jam selama foto terapi
 Mengkaji kondisi kulit

c. Pemeriksaan abdomen
 Perut membuncit, terjadi pembesaran hati
d. Pemeriksaan fungsi neurologi
 Adanya kejang, epistotonus, tidak mau minum, letargi, refleks moro
lemah atau tidak ada sama sekali
e. Pengkajian psikososial
Dampak sakit anak pada hubungan dengan orang tua, apakah orang tua merasa
bersalah, perpisahan dengan anak.
f. Pemeriksaan kulit
 Mengkaji intergritas kulit selama terapi dengan mengeringankan darah
yang basah untuk mengurangi ritasi serta mempertahankan kebersiahan
kulit
Pendokumentasian data obyektif:
 Ikterus yang terjadi pada 24 jam pertama.
 Kadar bilirubin serum melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan
dan melebihi 12,5 mg% pada neonatus yang kurang bulan.
 Terjadi peningkatan bilirubin lebih dari 5 mg% perhari.
 Ikterus menetap sesudah 2 minggu.
 Kadar bilirubin direk melebihi 1 mg%.
 Ikterus disertai keadaan proses hemolisasi
 Ikterus disertai keadaan bert badan lahir rendah kurang dari 2500 gram,
masa gestasi kurang dari 36 minggu, asifeksia, hipoksia, sindrom
gangguan pernafasan dll.

B. Diagnosa Keperawatan
a. Diagnosa keperawatan
1. Definisi volume cairan b.d kehilangan aktif volume cairan (evaporasi), diare
2. Hipertermi b.d paparan lingkungan panas (efek fototerapi), dehidrasi
3. Resiko kerusakan intergitas kulit b.d pgmentasi (jaundice), hipertermi,
perubahan turgor kulit , eritema

C. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi (NIC)
Keperawatan (NOC)
1 Defisit volume Setelah dilakukan tindakan - Jaga
cairan b.d keperawatan selama 3x24 intake/asupan
kehilangan aktif jam, diharapkan masalah dan catat
volume cairan deficit volume cairan dapat output
(evaporasi) teratasi dengan kriteria hasil (pasien)
sebagai berikut: - Monitor TTV
1. Masalah turgor kulit pasien
dari skala 3 (cukup - Monitor
terganggu) menjadi makanan/caira
skala 5 (tidak n yang
terganggu) dikonsumsi
2. Masalah intake dan hitung
cairan dari skala 3 asupan kalori
(cukup terganggu) harian
menjadi skala 5 - Kolaborasi
(tidak terganggu) terapi IV yang
3. Masalah bola mata di tentukan
cekung dan lunak - Monitor
dari skala 3 (cukup asupan cairan
terganggu) menjadi selama 24 jam
skala 5 (tidak - Edukasi
terganggu) keluarga
4. Masalah nadi cepat pasien untuk
dan lemah dari skala membantu
3 (cukup terganggu) dalam
menjadi skala 5 pemberian
(tidak terganggu) makanan/caira
5. Masalah kehilangan n dengan baik
berat badan dari
skala 3 (cukup
terganggu) menjadi
skala 5 (tidak
terganggu)

6. Masalah
peningkatan suhu
tubuh dari skala 3
(cukup terganggu)
menjadi skala 5
(tidak terganggu)
2 Hipertermi b.d Setelah dilakukan tindakan - Monitor suhu
paparan keperawatan selama 3x24 paling tidak
lingkungan panas jam, diharapkan masalah setiap 2 jam,
(efek fototerapi) hipertermi dapat teratasi sesuai
dengan kriteria hasil sebagai kebutuhan
berikut : - Monitor suhu
1. Memonitor bayi baru lahir
lingkungan terkait sampai stabil
faktor yang - Pasang alat
meningkatkan suhu monitor suhu
tubuh dari skala 3 inti secara
(kadang-kadang kontinu, sesuai
menunjukkan) kebutuhan
menjadi skala 5 - Observasi
(secara konsisten suhu dan
menunjukkan) warna kulit
2. Mengetahui - Edukasi
hubungan usia keluarga
dengan suhu tubuh pasien
dari skala 3 (kadang- mengenai
kadang indikasi
menunjukkan) adanya
menjadi skala 5 kelelahan
(secara konsisten akibat panas
menunjukkan) dan
3. Memodifikasi penanganan
lingkungan sekitar emergensi
untuk mengontrol yang tepat,
suhu tubuh dari sesuai
skala 3 (kadang- kebutuhan
kadang - Kolaborasi
menunjukkan) pemberian
menjadi skala 5 obat anti
(secara konsisten piretik
menunjukkan)
4. Mempertahankan
keutuhan kulit dari
skala 3 (kadang-
kadang
menunjukkan)
menjadi skala 5
(secara konsisten
menunjukkan)
3 Hiperbilirubinemia Setelah dilakukan tindakan - Berikan orang
neonatal b.d keperawatan selama 3x24 tua materi
nutrisi bayi tidak jam, masalah tertulis yang
adekuat hiperbilirubinemia neonatal sesuai dengan
diharapkan dapat diatasi kebutuhan
dengan kriteria hasil sebagai pengetahuan
berikut: yang telah
1. Masalah intake diidentifikasi
nutrisi dari skala 2 - Instruksikan
(sedikit adekuat) orang
menjadi skala 5 tua/pengasuh
(sepenuhnya untuk memberi
adekuat) makan hanya
2. Masalah ASI atau susu
perbandingan formula untuk
berat/tinggi dari tahun pertama
skala 2 (sedikit (tidak ada
adekuat) menjadi makanan padat
skala 5 (sepenuhnya sebelum 4
adekuat) bulan)
3. Masalah hidrasi dari - Instruksikan
skala 2 (sedikit orang tua /
adekuat) menjadi pengasuh
skala 5 (sepenuhnya untuk
adekuat) menghindari
4. Masalah menempatkan
pertumbuhan dari sereal dalam
skala 2 (sedikit botol (hanya
adekuat) menjadi formula atau
skala 5 (sepenuhnya ASI)
adekuat) - Instruksikan
orang tua /
pengasuh
untuk
menghindari
penggunaan
madu atau
sirup jagung
- Instruksikan
orang tua /
pengasuh
untuk
membuang
sisa susu
formula dan
membersihkan
botol setiap
selesai
memberikan
makan

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hiperbilirubin adalah suatu kedaaan dimana kadar bilirubin serum total yang
lebih dari 10 mg % pada minggu pertama yang ditendai dengan ikterus pada kulit,
sclera dan organ lain. Keadaan ini mempunyai potensi meningkatkan kern ikterus,
yaitu keadaan kerusakan pada otak akibat perlengketan kadar bilirubin pada otak.
Hiperbilirubin ini keadaan fisiologis (terdapat pada 25-50 % neonatus cukup bulan
dan lebih tinggi pada neonates kurang bulan).
Hiperbilirubin ini berkaitan erat dengan riwayat kehamilan ibu dan
prematuritas.Selain itu, asupan ASI pada bayi juga dapat mempengaruhi kadar
bilirubin dalam darah.

B. Saran
Penulis mengharapkan agar makalah ini dapat bermanfaat bagi kita,
menambah ilmu pengetahuan serta wawasan bagi para pembaca khususnya bagi
mahasiswa, namun penulis menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka
penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi perbaikan
makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

Maryati, Dwi, S.SiT. Dkk. 2013.Buku Ajar Neonatus, Bayi dan Balita. Jakarta : Trans
info media.

Royyan, Abdullah. 2012. Asuhan Keperawatan Klien Anak. Yogyakarta : Pustaka


Pelajar

Suriadi, Rita Yuliani. 2010. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta: CV.AGUNG
SETO
https://www.academia.edu/13119105/ASUHAN_KEPERAWATAN_HIPERBIRIRU
BIN_PADA_NEONATUS