Вы находитесь на странице: 1из 10

MAKALAH

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH


ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN STRESS AGING & IMUNITAS

Oleh:

1. RAMBU AF'IDATUSSOLIHAH HAYUN


2. LINDA ANANDA HUMAIRO
3. I PUTU SATRA PRAYOGA
4. L. HURNIADI
5. SUSANDI WIRAGUNA
6. SYOFIANDI ARONI
7. MARTONO
8. M. LUKMANUL HAKIM
9. ALPUL LAELY
10. NURUL AINI
11. AINUR ROFIQ
12. NENI HANDAYANI
13. RINALDI NUR ISLAMI
14. RAHMI ASMITA WULANDARI

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN JENJANG S.1

MATARAM
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan rahmat dan
karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Pada kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih yang kepada dosen mata
kuliah Keperawatan Medikal Bedah sehingga makalah ini terselesaikan tepat pada waktunya.
Tidak lupa pula kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang lain atas segala
bantuan dan dukungannya.
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk makalah ini. Akhir kata,
kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Pada penelitian yang berdasar pada konsep psikoneuroimunologi ini, istilah stres digunakan
untuk menggambarkan kondisi psikologik yang tercermin dalam perubahan biologik, seperti
biokimia, seluler dan jaringan, yang berkaitan dengan rangsangan emosional dari korteks
adrenal melalui pelepasan hormone ACTH (Putra, 1993). Konsep psikoneuroimunologi bukan
merupakan penyatuan atas tiga hal (psiko, neuro dan imun), tetapi merupakan komplementasi
ketiga disiplin ilmu yang menetapkan sistem saraf sebagai pusat titik tangkap. Atas dasar itu,
maka setiap rangsanganPsikoneuroimunologi (PNI) adalah suatu cabang ilmu kedokteran
yang mengkaji interaksi antara faktor stress psikologis yang mempengaruhi respon imun,
pengaruh stres psikologis terhadap perubahan respons imun serta manifestasi berbagai
penyakit yang diperantarai oleh sistem imun.
1. Psikoneuroimunologi (PNI) adalah cabang ilmu kedokteran yang mengkaji interaksi
antara faktor psikologis, sistem saraf dan sistem imun melalui modulasi sitem
endokrin. Cabang ilmu ini relatif baru, karena baru berkembang sejak dua dekade
yang lalu dan telah banyak memberikan kontribusi kepada ilmu kedokteran
umumnya. Stresor psikologis yang diterima di otak melalui sistem limbik kemudian
diteruskan ke hipothalamus ditanggapi sebagai stress perception dan kemudian
diterima sistem endokrin sebagai stress responses. Saat ini PNI telah berkembang
dengan pesat dan banyak peneliti dapat menjelaskan peran stres psikologis dalam
patobiologi beberapa penyakit. Respon stres berfungsi untuk menjaga keseimbangan
tubuh yang dikenal sebagai homeostatis. Komunikasi antara sistem saraf pusat (SSP)
dengan jaringan limfoid primer dan sekunder dimediasi secara anatomis melalui serat
saraf yang menginervasi jaringan limfoid seperti kelenjar limfe regional maupun
kelenjar thymus dan juga melalui mediator neurotransmiter dan neuropeptid. Telah
dibuktikan bahwa organ limfoid primer seperti sumsum tulang, timus dan kelenjar
limfe di persarafi oleh serat saraf simpatik. Demikian pula, sel limfoid mempunyai
reseptor terhadap berbagai hormon dan neurotransmiter yang dilepaskan oleh sel saraf
dan kelenjar endokrin. Demikian komunikasi ke dua sistem tersebut dapat terjadi
timbal balik.
Oligter 1988 memberikan batasan tentang PNI (Psikoneuroimunologi) adalah kajian
terhadap interaksi kesadaran, fungsi otak dan syaraf perifer serta ketahanan tubuh terutama
imunologi. Pengertian Psikoneuroimunologi tidak terpisah-pisah tapi merupakan suatu
kesatuan.
B. Rumusan masalah

Bagaimana Asuhan Keperawatan Pada Pasien Stress Aging & Imunitas


(Psikoneuroimunologi)

C. Tujuan Kasus
a. Teridentifikasinya Teori Stress Aging & Imunitas (Psikoneuroimunologi)
b. Terindentifikasinya Teori Asuhan Keperawatan Pada pasien Stress Aging & Imunitas
(Psikoneuroimunologi)
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian
Martin (1938) mengemukakan ide dasar konsep psikoneuroimunologi yaitu: status
emosi menentukan fungsi sistem kekebalan, dan stres dapat meningkatkan kerentanan tubuh
terhadap infeksi dan karsinoma. Dikatakan lebih lanjut bahwa karakter, perilaku, pola coping
dan status emosi berperan pada modulasi sistem imun.
Pada awal tahun 1950-an para ahli perilaku mempelajari hubungan perilaku dengan
sistem kekebalan tubuh yang sangat kompleks dan salah satu isu menarik adalah hubungan
antara stres dengan sistem kekebalan tubuh. Akhir-akhir ini berkembang penelitian tentang
hubungan antara perilaku, kerja saraf, fungsi endokrin dan imunitas. Hasil penelitian inilah
yang selanjutnya mendukung konsep psikoneuroimunologi (Gunawan & Sumadiono, 2007).
Sedangkan Holden (1980) dan Ader (1981) mengenalkan istilah psikoneuroimunologi
yaitu kajian yang melibatkan berbagai segi keilmuan, neurologi, psikiatri, patobiologi dan
imunologi. Selanjutnya konsep ini banyak digunakan pada penelitian dan banyak temuan
memperkuat keterkaitan stres terhadap berbagai patogenesis penyakit termasuk infeksi dan
neoplasma (Gunawan & Sumadiono; 2007).
Psikoneuroimunologi adalah suatu ilmu yang dapat menjelaskan modulasi sistem
imun yang mengalami stres sebagai respons terhadap adanya perubahan perilaku (Ader,
2007). Konsep ini merupakan gabungan antara psiko-neuro dan imunologi, sehingga terdapat
interaksi antara susunan saraf pusat dan sistem imun yang diperantarai oleh aksis HPA
(Hipotalamus-pituitary-adrenal) (Black PH, 1995). Ader juga menyatakan bahwa
psikoneuroimunologi merupakan ilmu yang mempelajari interaksi antara perilaku (behavior),
fungsi neuroendokrin dan proses sistem imun (Putra, 2005).
Komunikasi dua arah antara sistem saraf dan immune networks dapat menjelaskan
bahwa perilaku dan stres dapat berpengaruh pada imunitas, demikian pula sebaliknya, proses
imun dapat mempengaruhi perilaku. Jadi, aktivitas fisik dan psikologis dapat menimbulkan
aktivitas biologis tubuh, termasuk respons ketahanan tubuh (Setyawan, 1995; Siswantoyo,
2005).
Dalam hal ini, istilah stres seringkali digunakan untuk menggambarkan kondisi
psikologis (emosional) dan respon biologis (Black PH, 1994). Istilah stres disiapkan untuk
fenomena psikologis dan fisiologik yang kompleks dan belum diketahui secara jelas (Putra,
1993; Siswantoyo, 2005). Bartrop (1977) melaporkan adanya hubungan antara kondisi
kejiwaan dengan perubahan imunologi.
Demikian pula dengan Breier dkk (1987) melakukan penelitian tentang depresi yang
ditimbulkan oleh stres akibat suara (100 dB). Hasilnya menyatakan bahwa pada keadaan stres
akan terjadi peningkatan kadar adrenocorticotropin hormone (ACTH) yang akan memicu
timbulkan respons tubuh terhadap stres (Siswantoyo, 2005).

Psikoneuroimunologi mempelajari tentang 3 pokok bahasan yang saling berkaitan yaitu antara
pikiran, syaraf dengan ketahanan tubuh.

1. Psikologi (pikiran)
Psikologi Menurut Beberapa Ahli Psikologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani
Psychology yang merupakan gabungan dan kata psyche dan logos. Psyche berarti jiwa
dan logos berarti ilmu. Secara harafiah psikologi diartikan sebagal ilmu jiwa. Istilah
psyche atau jiwa masih sulit didefinisikan karena jiwa itu merupakan objek yang bersifat
abstrak, sulit dilihat wujudnya.
Psikologi adalah sebuah bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan yang mempelajari
mengenai perilaku dan fungsi mental manusia secara ilmiah. Para praktisi dalam bidang
psikologi disebut para psikolog. Para psikolog berusaha mempelajari peran fungsi mental
dalam perilaku individu maupun kelompok, selain juga mempelajari tentang proses
fisiologis dan neurobiologis yang mendasari perilaku.
2. Neurologi (syaraf)
Neurologi adalah spesialisasi medis yang berkaitan dengan studi tentang struktur, fungsi,
dan penyakit dan gangguan pada sistem saraf. Sistem saraf termasuk sistem saraf pusat
(SSP) yang terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang, dan juga sistem saraf perifer
(PNS) yang mencakup saraf individual di semua bagian tubuh. Dokter spesialis neurologi
juga disebut ahli saraf.
3. Imunologi (ketahanan tubuh)
Suatu ilmu yg berparadigma berdasar atas perubahan biologis dari sistem imun ketika ia
merespon benda asing. Keutuhan tubuh dipertahankan oleh sistem kekebalan tubuh yang
terdiri atas sistem imun nonspesifik dan spesifik.
Menurut Holden (2005), mengenalkan istilah psikonuroimunologi yaitu kajian yang
melibatkan berbagai segi keilmuan, neurologi, psikiatri dan imunologi.
Sedangkan menurut Martin ( 2006 ), mengemukakan ide dasar konsep
psikoneroimunologi yaitu :
1. Status emosi menentukan fungsi sistem kekebalan.
2. Stres dapat meningkatkan kerentanan tubuh terhadap infeksi.
B. PROSES KERJA PSIKONEUROIMUNOLOGI
Polliter, 1988 Psiko Neuro Imunologi adalah kajian terhadap interaksi antara
kesadaran, fg otak dan syaraf perifer serta ketahanan tubuh ( imunologi ).
Perasaan stress atau kondisi stress atau respon stress akan terjadi bila seseorang itu sadar atas
tanggung jawabnya. Awarnes itu product dari otak yg disebut persepsi. Rangsangan atau
sinyal stressor akan dirambatkan lewat fg otak atau syaraf perifer sehingga sampai kesist
imun. Ketika sampai ke sistem imun maka akan terjadi perubahan ketahanan tubuh menjadi
menurun, maka akan terjadi peningkatan kerentangan infeksi dan metastase kanker. Persepsi
seseorang akan menetukan Neurotransmiter : Hipotalamus , Pituitari, Adrenal, Aksis.
Hipothalamus akan menghasilkan Corticotropin Releasing Factor dan akan memicu Pituitari
menghasilkan ACTH, memicu Cortek adrenal sehingga menghasilkan Cortisol yang
berpengaruh pada sistem Imun. CORTISOL meningkat, akan menurunkan respon imun.

C. STRES DAN STRESOR

Dalam ilmu psikologi stres diartikan sebagai suatu kondisi kebutuhan tidak terpenuhi secara
adekuat, sehingga menimbulkan adanya ketidakseimbangan. Taylor (1995) mendeskripsikan
stres sebagai pengalaman emosional negatif disertai perubahan reaksi biokimiawi, fisiologis,
kognitif dan perilaku yang bertujuan untuk mengubah atau menyesuaikan diri terhadap situasi
yang menyebabkan stres.

Faktor-faktor yang dapat menimbulkan stres disebut stresor. Stresor dibedakan atas 3
golongan yaitu :

1. Stresor fisik biologik : dingin, panas, infeksi, rasa nyeri, pukulan dan lain-lain.
2. Stresor psikologis : takut, khawatir, cemas, marah, kekecewaan, kesepian, jatuh cinta
dan lain-lain.
3. Stresor sosial budaya : menganggur, perceraian, perselisihan dan lain-lain. Stres dapat
mengenai semua orang dan semua usia

Psikoneuroimunologi berawal dari fakta bahwa stress dapat mempermudah terjadinya infeksi
dan metastase kanker karena kerentanan infeksi dapat meningkat bila terjadi penurunan
ketahanan tubuh. Dan terjadinya metastasis karena terjadinya penurunan daya tahan tubuh.
Pada tahun 1975 mulai dikenal suatu kajian yang mencoba menghubungkan antara kesadaran
dengan fungsi otak atau syaraf perifer dan fungsi imun (psikoneuroimunologi). Stress
merupakan produk dari fungsi otak yang disebut persepsi. Sesuatu dianggap stressor atau
tidak tergantung dari persepsi masing-masing. Berbagai penelitian dilakukan untuk
mengetahui penurunan ketahanan tubuh dapat menyebabkan kerentanan infeksi dan
metastasis.

Menurut ilmu jiwa hidup perlu stress, agar menjadi lebih dewasa atau lebih mampu
menghadapi terjadinya perubahan. (bisa beradaptasi). Perlindungan terhadap seseorang (over
protection) menjadikan seseorang cengeng (labil). Kemampuan menghadapi stressor disebut
koping mekanisme. Semakin berhasil menghadapi stress ,kopingnya semakin tinggi. Seley
tahun 1946 mengkatagorikan stress menjadi 3 tahap :

1. Alarm Stage (waspada/labil) : merupakan reaksi awal tubuh dalam menghadapi berbagai
stresor. Tubuh tidak dapat mempertahankan tahap ini dalam waktu yang lama.
2. Adaptation Stage (eustress) : tubuh mulai beradaptasi dengan adanya stres dan berusaha
mengatasi dan membatasi stresor. Ketidakmampuan beradaptasi akan berakibat orang
menjadi lebih rentan terhadap penyakit.
3. Exhaustion Stage (kelelahan/distress) : tahap dimana adaptasi tidak besa dipertahankan,
disebabkan karena stresor yang berulang atau berkepanjangan sehingga stres berdanpak
pada seluruh tubuh.

D. PENGARUH STRES TERHADAP SISTEM IMUN


Stimulus stres pertama kali diterima oleh sistim limbik di otak yang berperan sebagai
regulasi stres, perubahan neurokimiawi yang terjadi selanjutkan akan mengaktivasi beberapa
organ lain dalan sistem saraf pusat untuk selanjutnya akan membangkitkan respon stres secara
fisiologis, selular maupun molekular. Stresor dapat memacu respons imun tubuh terhadap
berbagai stimulus yang dapat mengganggu kemampuan kompensatorik tubuh dalam upaya
mempertahankan homeostatis. Stresor telah diketahui dapat merangsang sistem tubuh untuk
memproduksi hormon stres utama yaitu glukokortikoid, epinefrin, norepinefrin, serotonin,
dopamin, beta endorfin dan sebagainya. Respon stress tersebut akan membangkitkan suatu
rentetan reaksi melalui beberapa sumbu (axis), dalam upaya menjaga homeostasis, ada 5
sumbu utama respons stres adalah; 1. Sumbu hypothalamus-pituitary-adrenal (HPA axis), 2.
Sumbu Simpato-adrenal-medulari (SAM), 3, Sumbu CRH-Sel Mast, 4. Melalui Neuropeptid,
Sumbu Hipotalamus-Pituitary-Tiroid, Sumbu HPA- Sistem reproduksi.
BAB III

PENUTUP

1. KESIMPULAN

Dalam pembahasan tentang psikoneuroimunologi (PIN) dalam memahami peran stresor


psikologi akut dan kronis pada sistem kekebalan dan perkembangan penyakit arteri koroner
(CAD), dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. PNI mengilustrasikan bagaimana stres psikologi merubah fungsi endotel dan merangsang
kemotaksis.
2. Stres psikologi akut merangsang leukositosis, meningkatkan sitotoksisitas sel NK dan
mengurangi respons proliferasi mitogen, sedangkan stres psikologi kronik dapat
menimbulkan efek buruk bagi kesehatan yang menghasilkan perubahan dalam fungsi
kardiovaskuler dan perkembangan CAD.
3. Stres psikologi akut dan kronis akan meningkatkan faktor hemostasis dan protein fase
akut yang dapat merangsang pembentukan thrombus dan miokard infark.

DAFTAR PUSTAKA
Nursalam, Dian Ninuk. 2007. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiv. Jakarta: Salemba medika

Nursalam. 2006. Efek Strategi Koping dalam Asuhan Keperawatan pada respons
psikologis dan biologis pasien dengan HIV-AIDS. Jurnal Ners.

Notosoedirdjo M. Psychobiological Basis of Psychoneuroimmunology, Folia Medika Indonesiana


1999

Abbas AK, Lichtman AH, Pober JS. Cellular and Molecular Immunology, Massachusetts: W.B.
Saunders Co. 1999.

Maier, S.F., Watkins, L.R., & Fleshner. M. 1994. Psychoneuroimmuno1ogy: The interface between
behavior, brain, and immunity. AmeriCQn Psychofogist.

Antoni MH. Stress management effects on psychological, endocrinological, and immune functioning
in men with HIV infection: empirical support for a psychoneuroimmunological model. Stress
2003.

Walls A. Resilience and psychoneuroimmunology: The role of adaptive coping in immune system
responses to stress. Dissertation Abstracts International 2008: Section B: The Sciences and
Engineering 69;1350.