You are on page 1of 4

Salah satu masalah terbesar yang harus diselesaikan di kota Semarang saat ini adalah semakin

tingginya tindakan intoleransi. Sejak dulu, Semarang masyhur dikenal sebagai kota yang di
dalamnya hidup masyarakat dari beragam etnik, agama, suku, ras dan budaya. Heterogenitas
masyarakat Semarang adalah sebuah kenyataan masa kini yang terbentuk dari sejarah panjang
berdirinya kota Semarang itu sendiri.

Namun, ada sebagian kelompok yang saat ini mencoba menegasikan kenyataan keberagaman
itu. Sebagian kelompok ini merasa bahwa kelompoknya berada di atas kelompok yang lain.
Mereka dengan semena-mena membubarkan, menolak, dan tak jarang mengusir perkumpulan
yang diadakan oleh kelompok lain. Mereka merasa bahwa hanya kelompoknyalah yang berhak
hidup, tinggal dan berkegiatan di kota yang sejatinya bukan hanya miliknya ini.

Tentu kita semua tahu siapa kelompok itu. Iya benar, adalah orang-orang yang
mengatasnamakan diri sebagai Front Pembela Islam (FPI), Forum Umat Islam (FUI), dan berbagai
kelompok lain yang mengatasnamakan diri sebagai Islam namun tindakannya sama sekali tidak
Islami (mencerminkan nilai-nilai Islam).

Kita semua tahu bagaimana sepak terjang FPI di berbagai daerah selama ini. Di Semarang
sendiri, tercatat FPI telah berulah dengan menolak kegiatan buka puasa bersama Ibu Shinta
Nuriyah Wahid dengan sejumlah tokoh umat Katolik di gereja Semarang. Karena ditolak FPI,
maka kegiatan terpaksa harus dipidah ke Aula Balai Kelurahan Pudak Payung Semarang.

Tidak jauh berbeda dengan FPI, FUI, organisasi yang ujug-ujug berdiri ini beberapa kali pula
berulah. Pada bulan Oktober 2016 lalu mereka menolak kegiatan peringatan 10 Syuro yang
diadakan oleh penganut Syiah. Sedianya acara ini diselenggarakan di Gedung Pusat Kesenian
Jawa Tengah, namun karena ditolak oleh sejumlah kelompok yang salah satunya adalah FUI,
maka kemudian acara terpaksa dipindahkan ke Masjid Yayasan Nuruts Tsaqafah, Petek, Kota
Semarang.

Diatas hanyalah sebagian contoh tindakan intoleran yang dipamerkan oleh kelompok tertentu di
Kota Semarang ini. Dalam kurun waktu dua tahun terakhir saja (2016-2017), Yayasan Lembaga
Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang merilis ada empat kali penolakan terhdap kegiatan-
kegiatan yang melibatkn komponen lintas iman. Tentu ini adalah alarm yang sangat
membahayakan. Jika tidak ada tindakan untuk mencounter kelompok-kelompok intoleran di
kota Semarang ini, maka dikhawatirkan gerakan mereka akan semakin membesar dan dapat
pula memngganggu ketentraman yang selama ini sudah kita rasakan.
Saya adalah mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo Semarang jurusan Islamic Studies yang
secara khusus berkonsentrasi pada Hukum Keluarga Islam (Al Ahwal Al Syakhsiyah). Saat ini saya
menginjak semester pertama, masuk pada semester genap bulan Januari yang lalu. Sejak kecil
saya memang sudah concern pada hukum Islam dan segala dinamika di dalamnya. Hal itu saya
buktikan dengan masuk di pesantren pada usia saya yang ke 12 tahun. Usia yang terbilang cukup
awal untuk seorang anak lepas dari ketergantungan orang tua di rumah.

Bukan tanpa alasan mengapa pesantren menjadi pilihan saya untuk menimba pengetahuan
agama. Pesantren, model pendidikan yang murni berasal dari Indonesia ini, dalam mengajarkan
diskursus keislaman mempunyai cara yang unik. Pesantren tidak memberikan pendidikan agama
kepada santrinya (sebutan untuk orang yang belajar di pesantren) dengan cara instan,
melainkan dengan cara berjenjang. Hal pertama dalam pembekajaran keislaman di pesantren
adalah dengan belajar ilmu bahasa Arab. Dalam ilmu bahasa Arab sendiri, ada ilmu Nahwu,
Shorf, Balaghah, Mantiq, Bayan, dan lain sebagainya. Dalam ilmu Nahwu saja, di pesantren,
dipelajari mulai dari yang paling dasar, berlanjut di atasnya, dan di atasnya lagi. Kitab Nahwu
yang paling dasar, sebut saja Nahwu Wadlih. Berlanjut di atasnya, Kitab Jurumiyah, di atasnya
lagi ada ‘Imrithy, di atasnya ada AlFiyyah, dan seterusnya.

Demikianlah. Ternyata cukup rumit ketika seseorang ingin belajar diskursus keislaman. Ada
berbagai tahapan ilmu yang harus dipelajari agar dapat memahami ajaran agama secara benar.
Maka saya menjadi begitu heran jika ada seorang yang sebelumnya tercatat tidak pernah belajar
ilmu-ilmu di pesantren tadi kemudian mendeklarasikan diri sebagai ustadz, kiai, atau ahli agama.

Diskursus keislaman terus saya pertajam dengan melanjutkan studi di kampus UIN Walisongo
Semarang. Di Semarang saya juga terlibat aktif di Lembaga Kajian Sosial dan Agama (Elsa) dan
Gusdurian. Dua organisasi ini menarik saya untuk masuk ke dalamnya karena keduanya
merupakan organisasi yang mengolaborasikan Islam dengan Keindonesiaan. Dua hal yang wajib
diketahui seorang warga Indonesia yang sekaligus beragama Islam.

Tidak hanya fokus pada isu agama, saya belakangan juga fokus pada isu sosial. Hal tersebut saya
wujudkan dengan bergabung dengan komunitas Earth Hour Semarang. Saya hanya ingin,
lingkungan alam di perkotaan ini tetap lestari. Hal itu saya lakukan karena saya berprinsip bahwa
menjaga lingkungan adalah merupakan bagian dari tugas menunaikan keimanan.
Projek sosial yang ingin saya buat di kota Semarang adalah membuat sebuah forum kajian
Agama yang mengungkap bahwa setiap agama pada intinya mengajarkan kebaikan dan kasih
sayang. Hal itu mendesak untuk direalisasikan karena sekarang ini, di kota Semarang sendiri
khsusnya, semakin marak terjadi radikalisme barbaju agama. Artinya, agama "diperkosa"
sedimikian rupa untuk meligitimasi sikap barbar sebagian kelompok. Hal itu terjadi karena tidak
lain, salah satunya disebabkan oleh ketidakpahaman kelompok tersebut mengenai nilai-nilai inti
ajaran agama.

Berikutnya, yang mungkin menjadi sebab lain adalah kesalahan dalam mengambil guru agama.
Tidak jarang terjadi, di sekolahan dan di kampus-kampus tertentu, guru agama yang seharusnya
menyampaikan nilai-nilai agama yang damai dan penuh kasih justru menyusupkan virus
kebencian di kepala-kepala anak didiknya. Ini tentu menjadi keprihatianan bersama. Bibit
kebencian yang ditanam di otak anak-anak kita bisa jadi akan menjadi bom waktu yang bisa
meledak kapan saja. Sudah banyak contoh realnya dimana kemudian ada seorang anak yang
mengafirkan orang tuanya sendiri, dan oleh karena "kafir" maka wajib diperangi. Sungguh
memprihatinkan.

Inilah buah dari pemahaman agama yang salah. Maka, lewat Aiesec yang jaringannya mendunia
ini, saya ingin ikut mengampanyekan tentang pentingnya memahami agama dan mengambil
guru agama secara benar. Dalam beragama kitapun harus berprinsip bahwa agama adalah untuk
kemanusiaan. Tidak ada yang lebih tinggi dibanding dengan kemanusiaan itu sendiri, pun agama.
Pekerjaan impian saya adalah menjadi salah satu anggota Dewan Keamanan PBB. Pekerjaan
tersebut begitu ingin saya lakukan karena pekerjaan inilah yang saya rasa sesuai dengan apa
yang selama ini saya cita-citakan, yaitu terwujudnya keamanan dunia.