You are on page 1of 12

AskepAsfiksiaNeonatorus

Ana NurkhasanahTuesday, November 3, 2015AskepAnak


1. Definisi
Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara
spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan
hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan atau
segera lahir (Prawiro Hardjo, Sarwono, 1997).
Asfiksia Neonatotum adalah keadaan dimana bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas
secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Keadaan ini biasanya disertai dengan keadaan
dimana hipoksia dan hiperapneu serta sering berakhir dengan asidosis (Santoso NI, 1992).
Asfiksia neonatorum ialah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara
spontan dan teratur segera setelah lahir (Hutchinson, 1967). Keadaan ini disertai dengan
hipoksia, hiperkapnia dan berakhir dengan asidosis. Hipoksia yang terdapat pada penderita
asfiksia ini merupakan faktor terpenting yang dapat menghambat adaptasi bayi baru lahir
terhadap kehidupan ekstrauterin (Gabriel Duc, 1971). Penilaian statistic dan pengalaman klinis
atau patologi anatomis menunjukan bahwa keadaan ini merupakan penyebab utama mortalitas
dan morbiditas bayi baru lahir. Hal ini dibuktikan oleh Drage dan Berendes (1966) yang
mendapatkan bahwa skor Apgar yang rendah sebagai manifestasi hipoksia berat pada bayi saat
lahir akan memperlihatkan angka kematian yang tinggi.
Haupt (1971) memperlihatkan bahwa frekuensi gangguan perdarahan pada bayi sebagai
akibat hipoksia sangat tinggi. Asidosis, gangguan kerdiovaskular serta komplikasinya sebagai
akibat langsung dari hipoksia merupakan penyebab utama kegagalan adaptasi bayi baru lahir
(James, 1958). Kegagalan ini akan sering berlanjut menjadi sindrom gangguan pernafasan pada
hari-hari pertama setelah lahir (James, 1959). Penyelidikan patologi anatomis yang dilakukan
oleh Larrhoce dan Amakawa (1971) menunjukkan nekrosis berat dan difus pada jaringan otak
bayi yang meninggal karena hipoksia. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa sekuele
neurologis sering ditemukan pada penderita asfiksia berat. Keadaan ini sangat menghambat
pertumbuhan fisis dan mental bayi di kemudian hari. Untuk menghindari atau mengurangi
kemungkinan tersebut diatas, perlu dipikirkan tindakan istimewa yang tepat dan rasionil sesuai
dengan perubahan yang mungkin terjadi pada penderita asfiksia.
Asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan dengan
sempurna, sehingga tindakan perawatan dilaksanakan untuk mempertahankan kelangsungan
hidup dan mengatasi gejala lanjut yang mungkin timbul. Untuk mendapatkan hasil yang
memuaskan, beberapa faktor perlu dipertimbangkan dalam menghadapi bayi dengan asfiksia.
2. Etiologi
Pengembangan paru bayi baru lahir terjadi pada menit-menit pertama kelahiran dan
kemudian disusul dengan pernafasan teratur. Bila terdapat gangguan pertukaran gas atau
pengangkutan oksigen dari ibu ke janin, akan terjadi asfiksia janin atau neonatus. Gangguan ini
dapat timbul pada masa kehamilan, persalinan atau segera setelah lahir. Hampir sebagian besar
asfiksia bayi baru lahir ini merupakan kelanjutan asfiksia janin, karena itu penilaian janin selama
masa kehamilan, persalinan memegang peranan yang sangat penting untuk keselamatan bayi.
Gangguan yang timbul pada akhir kehamilan atau persalinan hampir selalu disertai
anoksia/hipoksia janin dan berakhir dengan asfiksia neonatus dan bayi mendapat perawatan yang
adekuat dan maksimal pada saat lahir.
Penyebab kegagalan pernafasan pada bayi, adalah:
a. Faktor ibu
Hipoksia ibu dapat menimbulkan hipoksia janin dengan segala akibatnya. Hipoksia ibu
ini dapat terjadi kerena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetika atau anastesia
dalam.Gangguan aliran darah uterus dapat mengurangi aliran darah pada uterus yang
menyebabkan berkurangnya aliran oksigen ke plasenta dan janin. Hal ini sering ditemukan pada
keadaan ; gangguan kontraksi uterus, misalnya hipertoni, hipotoni, atau tetani uterus akibat
penyakit atau obat, hipotensi mendadak pada ibu karna perdarahan, hipertensi pada penyakit
eklamsi dan lain-lain.
b. Faktor plasenta
Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta. Asfiksi
janin akan terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta, misalnya solusio plasenta,
perdarahan plasenta, dan lain-lain.
c. Faktor fetus
Kompresi umbilikus akan mengakibatkan gangguan aliran darah dalam pembuluh darah
umbilikus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat
ditemukan pada keadaan tali pusat menumbung, melilit leher, kompresi tali pusat antara janin
dan jalan lahir dan lain-lain.
d. Faktor neonatus
Depresi pusat pernafasan pada BBL dapat terjadi karena ; pemakaian obat
anastesi/analgetika yang berlebihan pada ibu secara langsung dapat menimbulkan depresi pusat
pernafasan janin, traoma yang terjadi pada persalinan mosalnya perdarahan intra cranial,
kelainan kongenital pada bayi masalnya hernia diafragmatika, atresia atau stenosis saluran
pernafasan,hipoplasia paru dan lain-lain.
3. Patofisiologi
Selama kehidupan di dalam rahim, paru janin tidak berperan dalam pertukaran gas oleh
karena plasenta menyediakan oksigen dan mengangkat CO2 keluar dari tubuh janin. Pada
keadaan ini paru janin tidak berisi udara, sedangkan alveoli janin berisi cairan yang diproduksi
didalam paru sehingga paru janin tidak berfungsi untuk respirasi. Sirkulasi darah dalam paru saat
ini sangat rendah dibandingkan dengan setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh karena konstriksi
dari arteriol dalam paru janin. Sebagian besar sirkulasi darah paru akan melewati Duktus
Arteriosus (DA) tidak banyak yang masuk kedalam arteriol paru.
Segera setelah lahir bayi akan menariknafas yang pertama kali (menangis), pada saat ini
paru janin mulai berfungsi untuk respirasi. Alveoli akan mengembang udara akan masuk dan
cairan yang ada didalam alveoli akan meninggalkan alveoli secara bertahap. Bersamaan dengan
ini arteriol paru akan mengembang dan aliran darah kedalam paru akan meningkat secara
memadai. Duktus Arteriosus (DA) akan mulai menutup bersamaan dengan meningkatnya
tekanan oksigen dalam aliran darah. Darah dari jantung kanan (janin) yang sebelumnya melewati
DA dan masuk kedalam Aorta akan mulai memberi aliran darah yang cukup berarti kedalam
arteriole paru yang mulai mengembang DA akan tetap tertutup sehingga bentuk sirkulasi
extrauterin akan dipertahankan.
Hipoksia janin atau bayi baru lahir sebagai akibat dari vasokonstriksi dan penurunan
perfusi pru yang berlanjut dengan asfiksia, pada awalnya akan terjadi konstriksi Arteriol pada
usus, ginjal, otot dan kulit sehingga penyediaan Oksigen untuk organ vital seperti jantung dan
otak akan meningkat. Apabila askfisia berlanjut maka terjadi gangguan pada fungsi miokard
dan cardiac output. Sehingga terjadi penurunan penyediaan oksigen pada organ vital dan saat ini
akan mulai terjadi suatu “Hypoxic Ischemic Enchephalopathy (HIE) yang akan memberikan
gangguan yang menetap pada bayi sampai dengan kematian bayi baru lahir. HIE ini pada bayi
baru lahir akan terjadi secara cepat dalam waktu 1-2 jam, bila tidak diatasi secara cepat dan
tepat (Aliyah Anna, 1997).
4. GejalaKlinis
Bayi yang mengalami kekurangan O2 akan terjadi pernafasan yang cepat dalam periode
yang singkat apabila asfiksia berlanjut, gerakan pernafasan akan berhenti, denyut jantung juga
menurun, sedangkan tonus neuromuskular berkurang secara barangsur-angsur dan memasuki
periode apnue primer. Gejala dan tanda asfiksia neonatorum yang khas antara lain meliputi
pernafasan cepat, pernafasan cuping hidung, sianosis, nadi cepat.
Gejala lanjut pada asfiksia :
a. Pernafasan megap-magap dalam
b. Denyut jantung terus menurun
c. Tekanan darah mulai menurun
d. Bayi terlihat lemas (flaccid)
e. Menurunnya tekanan O2 anaerob (PaO2)
f. Meningginya tekanan CO2 darah (PaO2)
g. Menurunnya PH (akibat acidosis respiratorik dan metabolik)
h. Dipakainya sumber glikogen tubuh anak metabolisme anaerob
i. Terjadinya perubahan sistem kardiovaskular
j. Pernafasan terganggu
k. Detik jantung berkurang
l. Reflek / respon bayi melemah
m. Tonus otot menurun
n. Warna kulit biru atau pucat
5. Komplikasi
Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatus antara lain :
a. Edema otak & Perdarahan otak
Pada penderita asfiksia dengan gangguan fungsi jantung yang telah berlarut sehingga
terjadi renjatan neonatus, sehingga aliran darah ke otak pun akan menurun, keadaaan ini akan
menyebabkan hipoksia dan iskemik otak yang berakibat terjadinya edema otak, hal ini juga dapat
menimbulkan perdarahan otak.
b. Anuria atau oliguria
Disfungsi ventrikel jantung dapat pula terjadi pada penderita asfiksia, keadaan ini dikenal
istilah disfungsi miokardium pada saat terjadinya, yang disertai dengan perubahan sirkulasi. Pada
keadaan ini curah jantung akan lebih banyak mengalir ke organ seperti mesentrium dan ginjal.
Hal inilah yang menyebabkan terjadinya hipoksemia pada pembuluh darah mesentrium dan
ginjal yang menyebabkan pengeluaran urine sedikit.
c. Kejang
Pada bayi yang mengalami asfiksia akan mengalami gangguan pertukaran gas dan
transport O2 sehingga penderita kekurangan persediaan O2 dan kesulitan pengeluaran CO2 hal
ini dapat menyebabkan kejang pada anak tersebut karena perfusi jaringan tak efektif.
d. Koma
Apabila pada pasien asfiksia berat segera tidak ditangani akan menyebabkan koma
karena beberapa hal diantaranya hipoksemia dan perdarahan pada otak.
6. Pemeriksaandiagnostik
a. Laboratorium AGD
Untukmengkajitingkatdimanaparu-
parumampuuntukmemberikanoksigen yang
adekuatdanmembuangkarbondioksidasertatingkatdimanaginjalmampuuntuk
menyerapkembaliataumengekresi ion-ion bikarbonatuntukmempertahankan
PH darah yang normal.
b. Riwayatpenyakitdanpemeriksaanfisik
c. Foto rontgen dada (baby gram)
Jaringan pulmonal normal adalah radiolusent karenanya ketebalan atau densitas yang
dihasilkan oleh cairan, tumor, benda asing dan kondisi patologis lain dapat dideteksi dengan cara
pemeriksaan rontgen.
d. Elektrolitdarah
e. Guladarah
f. Pulse Oximetry
Adalahmetodepemantauan non
invasifsecarakontinueterhadapsaturasiOksigen Hemoglobin. Jadi pulse
oximetry
merupakansuatucaraefektifuntukmemantaupasienterhadapperubahahnsatura
sioksigen yang kecil / mendadak.
7. Penatalaksanaan
a. Resusitasi
1) Tahapanresusitasitidakmelihatnilai APGAR.
2) Terapimedikamentosa
b. Epinefrin
Indikasi :
1) Denyutjantungbayi< 60 x/m setelah paling tidak 30
detikdilakukanventilasiadekuatdanpemijatan dada.
2) Asistolik.
Dosis : 0,1-0,3 ml/kg BB dalamlarutan 1 : 10.000 (0,01 mg-0,03 mg/kg
BB). Cara : i.vatauendotrakeal. Dapatdiulangsetiap 3-5 menitbilaperlu.
c. Volume ekspander
Indikasi :
1) Bayibarulahir yang
dilakukanresusitasimengalamihipovolemiadantidakadarespondenganresusitas
i.
2) Hipovolemiakemungkinanakibatadanyaperdarahanatausyok.
Klinisditandaiadanyapucat, perfusiburuk, nadikecil/lemah,
danpadaresusitasitidakmemberikanrespon yang adekuat.
Jeniscairan :
1) Larutankristaloid yang isotonis (NaCl 0,9%, Ringer Laktat)
2) Transfusidarahgolongan O negatifjikadidugakehilangandarahbanyak. Dosis
: dosisawal 10 ml/kg BB i.vpelanselama 5-10 menit.
Dapatdiulangsampaimenunjukkanresponklinis.
d. Bikarbonat
Indikasi :
1) Asidosismetabolik, bayi-bayibarulahir yang mendapatkanresusitasi.
Diberikanbilaventilasidansirkulasisudahbaik.
2) Penggunaanbikarbonatpadakeadaanasidosismetabolikdanhiperkalemiaharu
sdisertaidenganpemeriksaananalisa gas darahdankimiawi.
Dosis: 1-2 mEq/kgBBatau 2 ml/Kg BB (4,2%) atau 1 ml/kgBB (8,4%). Cara
: Diencerkandenganaquabidesataudekstrose 5%
samabanyakdiberikansecaraintravenadengankecepatan minimal 2 menit.
Efeksamping : Padakeadaanhiperosmolaritasdankandungan CO2
daribikarbonatmerusakfungsimiokardiumdanotak.
e. Nalokson
Naloksonhidrochloridaadalahantagonisnarkotik yang
tidakmenyebabkandepresipernafasan.
Sebelumdiberikannalaksonventilasiharusadekuatdanstabil.
Indikasi :
1) Depresipernafasanpadabayibarulahir yang ibunyamenggunakannarkotik 4
jam sebelumpersalinan.
2) Jangandiberikanpadabayibarulahir yang
ibunyabarudicurigaisebagaipemakaiobatnarkotikasebabakanmenyebabkanta
nda with drawltiba-tibapadasebagianbayi. Dosis : 0,1 mg/kg BB (0,4 mg/ml
atau 1 mg/ml). Cara : Intravena, endotrakealataubilaperpusibaikdiberikan
I.M atau S.C.
f. Suportif
1) Jaga kehangatan.
2) Jaga salurannapas agar tetapbersihdanterbuka.
3) Koreksigangguanmetabolik (cairan, glukosadarahdanelektrolit).
B. KonsepAsuhanKeperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas orang tua
b. Identitasbayibarulahir
c. RiwayatPersalinan
d. Pemeriksaanfisik:
1) Keadaanumumtampaklemah
2) Kepala : bentukmesocephal, ubun-ubunbesarsudahmenutup.
3) Mata : sklera tak ikterik, konjungtifa tak anemis
4) Hidung : bentuksimetris, adacupinghidung, nampakmegap-megap,
belumnapas
5) Telinga : bentuk simetris, tak ada kotoran
6) Mulut : bibir sianosis, membran mukosa tak kering
7) Leher : tak ada pembesaran kelenjar tiroid
8) Dada : bentuk simetris, ada retraksi dada
9) Frekuensi nafas < 30 kali/menit, atau apena (henti napas > 20 detik)
10) Jantung : denyutjantung< 100 kali/menit
11) Paru-paru : masih terdengar suara nafas tambahan ( ronkhi basah +)
12) Abdomen : meteorismus + tali pusat berwarna putih dan masih basah
13) Kulit : warnakulitsianosi
14) Extremitas : tak ada tonus otot, tonus otot sedikit/lemah
15) Refleks : takadareflekmoro
2. Diagnosakeperawatan
a. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hipoventilasi
b. Hipotermi berhubungan dengan terpapar lingkungan dingin
c. Resiko infeksi berhubungan dengan presedur invasif.
d. Pola makan bayi tidak efektif b.d kegagalan neurologik

3. Rencanakeperawatan
N DianogsaKeperawat
o an Tujuan Intervensi
ManajemenJalanNapas (3140):
1. Bukajalannapas
2. Posisikan bayi untuk memaksimalkan
Setelah dilakukan ventilasi dan mengurangi dispnea
tindakan keperawatan
3. Auskultasi suara napas, catat adanya
selama…X 24 jam, suara tambahan
diharapkan pola napas
4. Identifikasi bayi perlunya pemasangan
bayi efektif dengan alat jalan napas buatan
kriteria: 5. Keluarkansekretdengansuctin
Status Respirasi : 6. Monitor respirasi dan ststus oksigen
Ventilasi (0403) : bila memungkinkan
- Pernapasanpasien 30- Monitor Respirasi (3350) :
60X/menit. 1. Monitor kecepatan, irama, kedalaman
- Pengembangan dada dan upaya bernapas
Pola napas tidak simetris. 2. Monitor pergerakan, kesimetrisan
efektif b.d hipoventil
- Iramapernapasanteratur dada, retraksi dada dan alat bantu
asi. - Tidak ada retraksi dada pernapasan
Batasankarakteristi saat bernapas 3. Monitor adanyacupinghidung
k: - 4. Monitor padapernapasan: bradipnea,
- Bernapas Inspirasidalamtidakdit takipnea, hiperventilasi,
menggunakan otot emukan respirasikusmaul, cheyne stokes,
napas tambahan. - Saat bernapas tidak apnea
- Dispnea memakai otot napas
5. Monitor
- Napaspendek tambahan adanyapenggunaanototdiafragma
- Frekwensi napas < - Bernapas mudah tidak
6. Auskultasi suara napas, catat area
25 kali / menit atau > ada suara napas penurunan dan ketidakadanya ventilasi
1. 60 kali / menit tambahan dan bunyi napas.
Hipotermi b.d Setelah dilakukan PengobatanHipotermi (3800) :
terpapar lingkungan tindakan keperawatan
1 Pindahkan bayi dari lingkungan yang
2. dingin. selama…X 24 jam dingin ke tempat yang hangat (di
Batasankarakteristi hipotermi teratasi de- dalam incubator atau di bawah lampu
k: ngan indicator : sorot)
- Pucat TermoregulasiNeonat2 Bila basah segera ganti pakaian bayi
- Kulitdingin us (0801) : dengan yang hangat dan kering, beri
- Suhu tubuh di bawah
- Suhuaxila 36-37˚ C selimut
rentang normal - RR : 30-60 X/menit 3 Monitor suhubayi
- Menggigil - Warnakulitmerahmuda 4 Monitor gejala hipotermi : fatigue,
- Kuku sianosis - Tidakada distress lemah, apatis, perubahan warna kulit.
- respirasi 5 Monitor status pernapasan
Pengisiankapilerla- Tidakmenggigil 6 Monitor intake/output
mbat - Bayitidakgelisah
- Bayi tidakletargi
MengontrolInfeksi (6540) :
1. Bersihkan box / incubator
setelahdipakaibayi lain
Setelah dilakukan
2. Pertahankan teknik isolasi bagi bayi
tindakan keperawatan ber-penyakit menular
selama…X 24 jam bayi
3. Batasipengunjung
diharapkan terhin-dar
4. Instruksikan pada pengunjung untuk
dari tanda dan gejala cuci tangan sebelum dan sesudah
infeksi dengan indicator berkunjung
: 5. Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci
Status Imun (0702) : tangan
- RR : 30-60X/menit 6. Cuci tangan sebelum dan sesudah
Resikoinfeksi - Iramanapasteratur mela-kukan tindakan keperawatan
FaktorResiko : - Suhu 36-370 C 7. Pakai sarung tangan dan baju sebagai
1. Prosedurinvasif - Integritaskulitbaik pelindung
2. Ketidak adanya pera-
- Integritasnukosabaik 8. Pertahankan lingkungan aseptik selama
watan imun buatan - Leukositdalambatas pemasangan alat
33. Malnutrisi normal 9. Gantiletak IV periferdan line
kontroldan dressing sesuaiketentuan
10. Tingkatkan intake nutrisi
11. Beriantibiotikbilaperlu.
MencegahInfeksi (6550)
1. Monitor tanda dan gejala infeksi
sistemik dan lokal
2. Batasipengunjung
3. Skriningpengunjungterhadappenyakitm
enular
4. Pertahankan teknik aseptik pada bayi
beresiko
5. Bilaperlupertahankanteknikisolasi
6. Beri perawatan kulit pada area eritema
7. Inspeksi kulit dan membran mukosa
terhadap kemerahan, panas,
dan drainase
8. Dorongmasukannutrisi yang cukup
9. Berikanantibiotiksesuai program
Pola makan bayi
tidak efektif b.d
kegagalan neurologik
Enteral Tube Feeding (1056) :
Batasankarakteristi
- Pasang NGT / OGT
k:
- Monitor ketepataninsersi NGT / OGT
- Tidak mampu dalam
- Cek peristaltic usus
menghisap, menelan
- Monitor terhadapmuntah / distensi
dan bernafas
abdomen
- Tidak mampu dalam Setelah dilakukan
- Cek residu 4-6 jam sebelum pemberian
memulai atau tindakan keperawatan
enteral
menunjang selama … X 24 jam
4. penghisapan efektif pola makan bayi efektif
Daftarpustaka:

http://asuhankeperawatankesehatan.blogspot.co.id/2013/03/askep-bayi-dengan-asfiksia-
neonaturum.html
Alen. C.V. (1998). MemahamiProsesKeperawatan dan DiagnosaKeperawatan. EGC. Jakarta
Arif. M. (2000). KapitaSelektaKedokteran. Jilid 2. FKUI. Jakarta
Brunner and Suddart. (2001). Buku Ajar KeperawatanMedikalBedah, Edisi 8, EGC. Jakarta
Carpenito. J.L. (2001). DiagnosaKeperawatan. EGC. Jakarta
Doengoes. M.E. (2001). PenerapanProsesKeperawatan dan DiagnosaKeperawatan. EGC. Jakarta
Dorland. (2002). KamusSakuKedokteran. Edisi 25. EGC. Jakarta
Hidayat. A.A.A. (2005). PengantarIlmuKeperawatanAnak I. Salemba Media. Jakarta
Markum. A.H. (2002). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jilid I. FKUI. Jakarta
Nelson. (2000). Ilmu Kesehatan Anak. EGC. Jakarta
Ngastiyah. (1997). Perawatan Anak Sakit. EGC. Jakarta
Nursalam. dkk. (2001). Asuhan Keperawatan Pada Bayi dan Anak (untuk perawat dan bidan). Salemba
Medika: Jakarta