Вы находитесь на странице: 1из 8

MEDIA VIDEO UNTUK MENINGKATKAN PERILAKU PENGGUNAAN

ANTIBIOTIKA UNTUK ANAK DENGAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN


AKUT (ISPA)

Dian Permata Sari, Yuni Sufyanti Arief, Ilya Krisnana


Korespondensi:
Dian Permata Sari, d/a: Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga
Kampus C Mulyorejo Surabaya 60115 Telp. (031)5913257
Email: dianersunair@gmail.com

ABSTRACT
Acute Respiratory Infections (ARI), especially upper respiratory infections often affects 2-6 year-
old children. It makes the mothers of the patients looking for a quick solution to cure ARI and ask
the doctors to prescribe antibiotics and even buy them without any prescribtions. Video can be
used to stimulate both auditory and visual system to change behavior. The aim of this study is to
analyze effects of health education with the video as a media to change the behavior of mothers in
the use of antibiotics in children with ARI. This study used a pre-experimental design. Its
population is mothers who have children with a history of ARI that is in the Public Health of
Mulyorejo. The sample is chosen through purposive sampling technique. The independent variable
is health education with video as a media, while the dependent variable is the knowledge and
attitude of mothers. Data were collected by questionnaire that has been test for validity and
reliability and analyzed using Wilcoxon Signed Rank Test with alpha level ≤ 0.05. This study
showed result that this method affects the change in knowledge (p=0.000) but the attitude has not
changed with p = 0.414. It can be concluded that health education with video as a media can be
used by healthcare providers to improve knowledge of mothers in the use of antibiotics in children
with ARI. Future studies are expected to be carried out more samples and add the intensity in
giving of this method to increase the mother’s attitude.

Keywords: video, behavior, antibiotic, ARI (Acute Respiratory Infections)

PENDAHULUAN Namun di lapangan seringkali ditemukan ibu


yang masih meminta antibiotik pada dokter
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
di puskesmas, padahal dokter tidak
merupakan penyakit yang menyerang saluran
meresepkan antibiotik pada anak dengan
pernapasan, baik saluran pernapasan atas
ISPA bagian atas karena tidak ditemukan
yang meliputi infeksi di atas laring, maupun
indikasi untuk diberikan antibiotik.
saluran pernapasan bawah yang meliputi
infeksi laring ke bawah. Pengertian akut Berdasarkan data kunjungan pasien dari
adalah infeksi berlangsung hingga 14 hari puskesmas Mulyorejo dalam periode satu
(Rahajoe, 2012). Ibu memiliki peran yang bulan, yaitu pada tanggal 1 Januari hingga 28
penting dalam perawatan anak dengan ISPA, Februari 2014, ada 1081 pasien yang
karena ibu adalah orang yang dinilai paling menderita ISPA. Sebanyak 34 % merupakan
dekat dengan anak. Salah satu perawatan anak berusia 0-5 tahun. Menurut hasil
yang dapat dilakukan ibu adalah dengan wawancara dengan dokter di Puskesmas
memberikan obat untuk anak yang menderita Mulyorejo, ibu pasien sering meminta resep
ISPA, khususnya ISPA bagian atas. ISPA obat berupa antibiotik untuk anaknya yang
bagian atas sebagian besar disebabkan oleh menderita ISPA bagian atas. Data ini
virus, namun pada beberapa kasus seperti diperkuat dengan hasil wawancara dengan 8
faringitis dapat disebabkan karena bakteri. ibu yang memiliki anak usia 12 bulan sampai

26
Jurnal Pediomaternal Vol. 3 No. 1 Oktober 2014-April 2015
dengan 3 tahun dengan riwayat ISPA bagian memiliki anak dengan ISPA, khususnya
atas. Semua responden mengungkapkan bagian atas untuk memperbaiki perilaku ibu
bahwa saat anaknya menderita batuk pilek, dalam penggunaan antibiotik pada anak
mereka membawa anaknya ke pelayanan dengan ISPA menggunakan media berupa
kesehatan (puskesmas, dokter spesialis anak, video. Video dipilih karena pada
dan bahkan rumah sakit), namun ada 1 pelaksanaannya melibatkan banyak indera
responden yang mengaku membeli sendiri untuk mengolah informasi berupa
obat-obatan di apotek bila anaknya tidak pendengaran dan melihat gambar bergerak,
kunjung sembuh setelah dibawa ke pelayanan sehingga meningkatkan retensi memori
kesehatan. Obat yang dibeli berupa obat hingga 50% daripada pada ceramah yang
batuk dan juga antibiotik. 7 dari 8 orang hanya melibatkan indera pendengaran dan
mengungkapkan bahwa antibiotik merupakan meningkatkan retensi ingatan sebanyak 20%
obat yang sangat diperlukan untuk (Nursing Education, 2013). Pendidikan
pengobatan batuk pilek pada anak. Walaupun kesehatan merupakan bagian dari strategi
tidak mengetahui alasan pastinya, mereka promosi kesehatan yang diharapkan dapat
mengaku bahwa dengan diberi antibiotik, mengubah perilaku individu atau kelompok.
anaknya sembuh dari batuk pilek. Di Baik pengetahuan maupun sikap, keduanya
samping itu, saat anaknya dibawa ke termasuk ke dalam domain perilaku, dalam
pelayanan kesehatan karena menderita batuk hal ini convert behavior atau perilaku
pilek, mereka selalu diberi antibiotik. Namun tertutup yang merupakan perilaku yang tidak
1 dari 8 responden mengakui, tidak pernah dapat dilihat atau diamati, namun tetap dapat
memberikan antibiotik pada anaknya karena diukur (Maulana, 2007). Penelitian ini
takut akan reaksi alergi berupa kulit yang dilakukan untuk menganalisis pengaruh
memerah dan gatal, walaupun telah pendidikan kesehatan dengan media video
diresepkan oleh dokter. 4 dari 8 responden terhadap perubahan perilaku ibu dalam
mengaku meminta antibiotik pada dokter penggunaan antibiotik pada anak dengan
walaupun tidak diresepkan dan tidak ISPA.
diberikan oleh dokter, dan semua responden
mengetahui bahwa antibiotik bila tidak
dihabiskan akan menimbulkan kebal. Selain
itu, menurut pernyataan dari perawat senior BAHAN DAN METODE
di puskesmas Mulyorejo, pendidikan Penelitian ini merupakan jenis penelitian pra
kesehatan yang dilakukan disana masih eksperimental one group pra post test design.
berupa penyuluhan dengan metode ceramah, Populasi terjangkau adalah 43 ibu yang
sehingga belum mengena ke masyarakat. memiliki anak dengan riwayat ISPA yang
Pemakaian antibiotik yang tidak sesuai telah berkunjung ke Puskesmas Mulyorejo
dengan indikasi dapat menimbulkan efek pada bulan Februari-April 2014 dan memiliki
yang yang tidak diinginkan, seperti diare, kriteria inklusi yaitu memiliki anak dengan
kemerahan pada kulit, dan nyeri perut. usia 1-5 tahun serta dapat membaca dan
Dampak yang lebih buruk dapat berupa menulis. Pengambilan sampel dilakukan
reaksi alergi, toksikosis pada renal, dan dengan cara nonprobability sampling dengan
reaksi pada kulit yang parah. Di samping itu, teknik purposive sampling dan diperoleh
antibiotik yang digunakan tidak sesuai sampel sebanyak 19 responden.
dengan indikasi dapat menimbulkan Penelitian ini menggunakan dua variabel,
resistensi pada bakteri yang pada akhirnya yaitu pendidikan kesehatan dengan media
bakteri mengembangkan dirinya sehingga video dan perilaku ibu yang meliputi
sulit diobati pengetahuan dan sikap. Instrumen yang
Beratnya dampak yang ditimbulkan oleh digunakan adalah instrumen modifikasi dari
pemakaian antibiotik yang tidak rasional instrumen yang telah digunakan dalam
membuat peneliti ingin memberikan penelitian Mohamed, et.al., (2014) yang
pendidikan kesehatan kepada ibu yang berjudul Pattern, Knowledge, and Attitudes

27
Jurnal Pediomaternal Vol. 3 No. 1 Oktober 2014-April 2015
of Irrational Antibiotic Use in the Saudi Kesehatan terhadap Penggunaan Antibiotik
Community, yang digabung dengan pada Infeksi Saluran Pernapasan Akut.
penelitian oleh Swastinitya, et.al. (2013) Kuesioner telah diuji validitas dan
yang berjudul Pengetahuan dan Perilaku reliabilitasnya.
Pengunjung Puskesmas dan Tenaga

HASIL PENELITIAN

Pre Post
Sikap Ibu
N % N %
Negatif 11 57,9 9 47,4
Positif 8 42,1 10 52,6
Total 19 100 19 100
Wilcoxon Signed
p=0,414
Rank Test
Posyandu Mawar II merupakan salah satu posyandu meliputi penimbangan dan
dari sembilan posyandu balita yang terdapat pemberian makanan tambahan pada balita
di kelurahan Mulyorejo dengan balita yang dilaksanakan setiap hari kamis minggu
Pre Post
Pengetahuan Ibu
N % N %
Kurang 3 15,8 0 0
Cukup 8 42,1 2 10,5
Baik 8 42,1 17 89,5
Total 19 100 19 100
Wilcoxon Signed
p=0,000
Rank Test
terdaftar sebanyak 80 balita. Kegiatan di keempat setiap bulannya.

Tabel 1 Sikap ibu sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan dengan media video di
Posyandu Mawar II Kelurahan Mulyorejo pada bulan Juni 2014

Tabel 2 Pengetahuan ibu sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan dengan media
video di Posyandu Mawar II Kelurahan Mulyorejo pada bulan Juni 2014

Pengetahuan ibu terkait penggunaan Setelah diberikan pendidikan kesehatan


antibiotik pada anak yang menderita ISPA dengan media video, didapatkan hasil yaitu
sebelum diberikan pendidikan kesehatan dari 19 responden, hampir seluruhnya
dengan metode ceramah dan media video memiliki pengetahuan baik (89,5%),
didapatkan hasil sebagai berikut. Dari total sebagian kecilnya memiliki pengetahuan
19 responden, ibu yang memiliki cukup (10,5%), dan tidak ada responden yang
pengetahuan baik dan cukup memiliki memiliki pengetahuan kurang.
persentase yang sama, yaitu 42,1%, dan responden memiliki sikap yang negatif
sebagian kecil ibu memiliki pengetahuan (57,9%), dan responden yang memiliki sikap
kurang, yaitu sebesar 15,8%. positif sebanyak 8 responden atau 42,1%.
Sikap responden setelah diberi pendidikan
kesehatan dengan media video didapatkan

28
Jurnal Pediomaternal Vol. 3 No. 1 Oktober 2014-April 2015
hasil bahwa responden dengan sikap positif Pengetahuan responden yang berkriteria baik
memiliki jumlah yang lebih banyak (52,6%) dan cukup memiliki persentase yang sama,
daripada responden dengan sikap negatif yaitu 42,1%, dan pengetahuan responden
yang berjumlah 47,4% atau sebanyak 9 yang berkriteria kurang adalah sebesar 15,8%
responden. yang berjumlah 2 responden dan keduanya
merupakan responden dengan pendidikan
Secara keseluruhan, pengetahuan responden SMA. Hal ini berarti hampir dari setengah
mengalami perubahan setelah diberikan responden sudah memiliki pengetahuan yang
pendidikan kesehatan dengan media video. baik tentang penggunaan antibiotik pada anak
Ada 16 responden yang pengetahuannya dengan ISPA. Hal ini didukung dengan data
meningkat setelah diberi perlakuan. Ada 2 demografi berupa umur, tingkat pendidikan,
responden yang pengetahuannya tidak maupun jumlah anak. Responden yang
mengalami perubahan, dan bahkan ada 1 berumur 31-40 tahun memiliki jumlah yang
responden yang mengalami penurunan paling banyak bila dibandingkan dengan
pengetahuan setelah diberi pendidikan kelompok umur lainnya. Karena matangnya
kesehatan dengan media video. usia berpengaruh dengan kematangan
berpikir dan bekerja, sehingga responden
Hasil uji statistik dengan Wilcoxon Signed yang umurnya lebih matang memiliki
Rank menunjukkan hasil p=0,000. Hal ini pengetahuan yang tinggi. Selain itu, hampir
menunjukkan bahwa ada pengaruh antara setengah dari responden berpendidikan SMA.
pendidikan kesehatan dengan media video Secara umum, tingkat pendidikan sebanding
terhadap perubahan pengetahuan ibu dalam dengan pengetahuan seseorang. Dengan
penggunaan antibiotik pada anak dengan demikian, semakin tinggi pendidikan
ISPA. Sikap ibu terkait penggunaan seseorang, pengetahuan seseorang akan
antibiotik pada anak dengan ISPA sebelum meningkat pula. Pengetahuan yang diteliti
diberi pendidikan kesehatan dengan media berupa definisi ISPA, bagaimana gejala dan
video didapatkan hasil bahwa 11 dari 19 gambaran klinis, klasifikasi ISPA, cara
perawatan anak dengan ISPA, dan
Berdasarkan tabel di atas diperoleh hasil penggunaan antibiotik pada anak dengan
sikap responden sebelum dan setelah diberi ISPA khususnya ISPA bagian atas.
perlakuan secara umum tetap. Hal ini
ditunjukkan dengan jumlah responden yang Menurut Nelson dan Phelps (1966) dalam
tidak mengalami perubahan sikap sebanyak Cutler & Lleras-Muney (2011), pendidikan
13 responden dari total 19 responden. sangat penting pada sesuatu yang
Sedangkan responden yang mengalami memerlukan adaptasi untuk berubah. Hal ini
peningkatan sikap setelah diberi perlakuan sependapat dengan Schultz (1975) dalam
sebanyak 4 orang, dan yang mengalami Cutler & Lleras-Muney (2011), bahwa
penurunan sikap sebanyak 2 orang. pendidikan meningkatkan kemampuan
individu untuk menyerap informasi, dan juga
Dari hasil uji statistik menggunakan analisis Rozenzweig (1995) dalam Cutler & Lleras-
Wilcoxon Signed Rank didapatkan hasil Muney (2011), bahwa pendidikan
signifikansi p = 0,414, lebih tinggi dari nilai meningkatkan kemampuan individu untuk
p yang telah ditetapkan yaitu 0,005. Hal ini mengartikan dan menguraikan informasi
menunjukkan bahwa secara umum yang diberikan. Semua ide tersebut dapat
pendidikan kesehatan dengan media video dengan mudah diaplikasikan dalam konteks
tidak berpengaruh pada perubahan sikap ibu perilaku kesehatan.
dalam menggunakan antibiotik pada anak
dengan ISPA, namun tetap berperan dalam Secara umum, pengetahuan sangat erat
peningkatan sikap bagi sebagian kecil dengan pendidikan, dimana seseorang dengan
responden. pendidikan tinggi diharapkan memiliki
pengetahuan yang tinggi pula. Namun bukan
PEMBAHASAN berarti seseorang dengan pendidikan rendah

29
Jurnal Pediomaternal Vol. 3 No. 1 Oktober 2014-April 2015
memiliki pengetahuan yang rendah. Hal ini disebabkan karena responden tidak
tidak mutlak, karena pengetahuan seseorang memperhatikan ketika diberikan pendidikan
akan kesehatan dapat diperoleh melalui kesehatan. Hal ini berkaitan dengan peneliti
pendidikan non formal dan pengalaman yang menampilkan video tanpa memberikan
sendiri (Wawan & M, 2010). Selain itu, feedback di tengah pemutarannya, sehingga
pengetahuan seseorang juga dapat responden tidak memperhatikan pemutaran
dipengaruhi oleh umur. Dari segi dan tidak paham akan materi yang diberikan.
kepercayaan masyarakat, orang dewasa lebih Perubahan yang begitu terlihat adalah tidak
dipercaya dari orang yang belum tinggi ada responden yang memiliki pengetahuan
kedewasaannya. Hal ini sebagai cerminan kurang, serta hampir semua responden atau
dari pengalaman dan kematangan jiwa. sebanyak 89,5% memiliki pengetahuan yang
baik, dan sisanya 10,5% memiliki
Seseorang yang berpendidikan tinggi dapat pengetahuan yang cukup.
memiliki pengetahuan yang lebih baik
daripada yang berpendidikan rendah. Namun Pendidikan kesehatan dengan media video
walaupun demikian, 2 responden dengan merupakan sebuah upaya untuk mengubah
pendidikan SMA mendapatkan skor perilaku ke arah yang lebih baik. Pada
pengetahuan yang kurang. Pendidikan dan prinsipnya, semakin banyak pancaindra yang
pengetahuan yang berbanding lurus tentu saja dilibatkan, maka semakin jelas pula
tidak dapat menjadi patokan. Bila dilihat pengertian maupun pengetahuan yang
melalui data demografi, responden dengan diperoleh. Menurut penelitian yang pernah
pendidikan SMA yang memiliki pengetahuan dilakukan, mata memiliki peran sebanyak
kurang, keduanya baru memiliki satu anak, 75%-87% dalam menyampaikan pengetahuan
sehingga belum berpengalaman dan belum ke otak, sedangkan indera lain menyalurkan
pernah mendapatkan informasi seperti yang pengetahuan sebanyak 13% sampai 25%
disampaikan oleh peneliti. Selain itu (Maulana, 2007). Video juga memiliki
keduanya merupakan orang yang bekerja, kemampuan untuk memanipulasi kondisi
bukan ibu rumah tangga yang tentu saja akan ruang dan waktu sehingga peserta dapat
banyak meluangkan waktunya untuk anak, diajak melihat objek baik yang sudah
atau mencari informasi tentang kesehatan maupun yang belum terjadi (Notoatmodjo,
anak di pusat pelayanan kesehatan terdekat. 2005). Informasi yang diperoleh dari peneliti
Di samping itu, responden tersebut juga yang didukung dengan video yang diputar
memiliki umur yang relatif muda (23 dan 24 mengenai penggunaan antibiotik pada anak
tahun), sehingga secara umum kognitifnya dengan ISPA khususnya ISPA bagian atas
belum matang apabila dibandingkan dengan akan diterima oleh panca indera yang
kelompok umur lain. Sebagai tambahan, 3 kemudian diteruskan oleh neuron menuju
dari 6 responden dengan pendidikan SMP sistem saraf pusat dan disimpan sebagai
yang memiliki pengetahuan baik, 2 di memori. Dengan demikian, pengetahuan
antaranya memiliki anak lebih dari satu. Hal akan meningkat (Notoatmodjo, 2007). Selain
ini yang menyebabkan responden tersebut itu, menurut King dalam teorinya yang
memiliki pengalaman yang cukup dan bernama Goal of Attainment mengatakan
menjadikannya sebagai acuan dalam bahwa adanya interaksi antara perawat dan
mengambil sebuah keputusan. klien akan memunculkan aksi, yang dalam
hal ini adalah peneliti yang memberikan
Setelah diberikan pendidikan kesehatan pendidikan kesehatan dengan media video.
dengan media video dan dilakukan post-test, Oleh sebab itu, muncullah reaksi baik dari
hampir seluruh responden mengalami responden maupun dari peneliti. Peneliti
peningkatan pengetahuan, yaitu sebesar berkomunikasi kepada responden, dan sistem
84,2%. Namun sebanyak 10,5% responden visual dan auditori dari responden
tidak mengalami perubahan pengetahuan, dan terstimulasi yang kemudian memunculkan
bahkan 5,3% mengalami penurunan adanya interaksi, dan tercipta sebuah
pengetahuan. Penurunan pengetahuan transaksi dimana informasi akan diolah

30
Jurnal Pediomaternal Vol. 3 No. 1 Oktober 2014-April 2015
melalui lima indera, diteruskan ke neuron, Menurut tabel 5.3, responden yang memiliki
sistem saraf pusat, hingga akhirnya dapat sikap negatif lebih banyak dari pada
meningkatkan pengetahuan responden responden yang memiliki sikap positif.
(Alligood, M.R, 2014). Responden yang memiliki sikap negatif
berjumlah 11 orang (57,9%) sedangkan yang
Sesuai dengan teori, hampir seluruh memiliki sikap positif sebanyak 9 orang atau
responden mengalami peningkatan 42,1 %. Sikap seseorang dapat dibentuk
pengetahuan setelah diberikan pendidikan melalui pengalaman. Dalam hal ini
kesehatan dengan media video. Hal ini terjadi pengalaman dapat dibandingkan dengan
karena informasi yang diserap tidak hanya jumlah anak yang dimiliki oleh responden.
bersumber dari peneliti saja, melainkan juga Sebanyak 7 dari 11 responden yang memiliki
dilengkapi dengan ilustrasi dan suara yang sikap negatif hanya memiliki 1 anak saja. Hal
terdapat pada video sehingga informasi lebih ini menunjukkan bahwa responden yang
mengena. Namun demikian ada responden memiliki satu anak cenderung memiliki sikap
yang tidak mengalami perubahan, atau yang negatif, karena responden belum
mengalami penurunan pengetahuan. Hal ini mendapatkan pengalaman dalam penggunaan
dapat disebabkan karena responden tidak antibiotik pada anak dengan ISPA. Selain itu,
memberikan perhatian kepada fasilitator dan pengetahuan juga dapat memengaruhi sikap
sibuk dengan anak balita yang dibawa ke dari responden. Seperti hasil yang diperoleh,
tempat penelitian dan tentunya memerlukan responden yang memiliki sikap negatif, 2 dari
perhatian lebih. Bagaimanapun juga, bila 11 responden memiliki pengetahuan yang
informasi yang diberikan tidak diserap kurang, dan 3 dari 11 responden memiliki
dengan baik oleh indera manusia, maka kriteria pengetahuan cukup. Dari 9 responden
kemungkinan diretensi juga semakin kecil. yang memiliki sikap positif, 6 responden
memiliki pengetahuan yang cukup dan 1 dari
Berdasarkan tabel 5.3 tentang sikap ibu 9 responden memiliki pengetahuan yang
mengenai penggunaan antibiotik pada anak baik. Di samping itu, sebanyak 3 responden
ISPA diperoleh hasil bahwa 11 responden yang memiliki 2 anak, 4 anak, dan 3 anak
(57,9%) memiliki sikap negatif, dan 8 memiliki sikap yang positif, dikarenakan
responden memiliki sikap positif (42,1%). responden tersebut memiliki cukup
Sikap yang diukur berupa sikap ibu mengenai pengalaman yang menjadikannya sebuah
penyakit ISPA bagian atas pada anak, acuan untuk memutuskan sikap.
perawatan yang dilakukan pada anak dengan
ISPA bagian atas, dan pemakaian antibiotik Berdasarkan data yang diperoleh, sebanyak
yang benar pada anak dengan ISPA bagian 21,1% responden memiliki peningkatan sikap
atas. dari negatif menjadi positif, 2 responden
mengalami penurunan sikap karena saat
Faktor yang mempengaruhi sikap seseorang menampilkan video, peneliti tidak
terhadap objek menurut Azwar (2008) memberikan masukan di sela-sela
adalah: pengalaman pribadi, pengaruh orang penayangannya sehingga responden tidak
lain yang dianggap penting, pengaruh fokus kepada materi sehingga penyerapan
kebudayaan, media massa, faktor emosional, materi tidak maksimal sehingga sikap
dan lembaga pendidikan atau lembaga menurun, dan 68,4% responden tidak
agama.Menurut Azwar (2008), sikap dapat mengalami perubahan sikap.
dipengaruhi oleh pengetahuan. Selain itu,
perubahan sikap pada dasarnya dipengaruhi Faktor yang mempengaruhi perubahan sikap
oleh faktor pengetahuan dan keyakinan atau menurut Wawan dan Dewi (2010) dapat
kepercayaan yang didapatkan dari hasil berupa tiga faktor, yaitu baik dari pemberi
penginderaan, yang salah satunya didapatkan pesan, isi pesan, dan penerima pesan itu
melalui pendidikan atau proses belajar sendiri. Faktor dari sumber pemberi pesan
(Notoatmodjo, 2007). adalah semakin percaya orang tersebut
dengan pemberi pesan, maka akan mudah

31
Jurnal Pediomaternal Vol. 3 No. 1 Oktober 2014-April 2015
mempengaruhi penerima pesan tersebut. Oleh lebih intensif. Peneliti hanya memberikan
karena itu kredibilitas yang tinggi diperlukan intervensi berupa satu kali pertemuan dan
untuk membuat penerima pesan terpengaruh. tidak memberikan umpan balik saat
Selain itu, daya tarik fisik juga diperlukan pemutaran video. Hal ini menyebabkan
dalam mempengarugi pemikiran penerima responden tidak fokus pada pemberian materi
pesan. Faktor dari isi pesan itu sendiri dapat dan berpengaruh pada hasil sikap responden
berupa usulan, menakuti, dan pesan dari satu yang cenderung tetap. Namun demikian,
sisi maupun dua sisi. Pesan dari dua sisi lebih masih ada 21% responden yang mengalami
disukai untuk mengubah pandangan orang perubahan sikap ke arah positif, yang berarti,
yang bertentangan dengan apa yang pemberian pendidikan kesehatan dengan
disampaikan oleh pemberi informasi, karena media video berkontribusi dalam peningkatan
seseorang akan lebih terpengaruh bila yang sikap responden. Hal ini dapat disebabkan
menyampaikan lebih dari satu dan memiliki karena pesan yang diberikan bukan hanya
kredibilitas tinggi. Faktor dari penerima bersumber dari peneliti, namun juga dari
pesan dapat dibagi menjadi dua, yaitu pihak yang telah memiiki kredibilitas tinggi
kepribadian seseorang yang sulit maupun seperti dokter dan apoteker yang terdapat di
mudah dibujuk, bisa dari faktor umur video yang diberikan peneliti kepada
maupun tingkat pendidikan, dan dari arah responden, sehingga meningkatkan
perhatian maupun penafsiran. Karena keyakinan responden terhadap pemberi
informasi yang diperoleh tangan pertama bisa informasi terkait informasi yang diberikan.
saja berbeda jika informasi diteruskan ke
penerima kedua. SIMPULAN DAN SARAN
SIMPULAN
Pada penelitian yang dilakukan oleh peneliti,
terdapat 4 responden (21%) yang mengalami Setelah dilakukan penelitian dengan
perubahan sikap dari positif menjadi negatif. memberikan pendidikan kesehatan dengan
Angka ini lebih sedikit daripada responden media video, dapat diambil kesimpulan
yang tidak mengalami perubahan sikap bahwa metode ini dapat meningkatkan
(68,4%). Hal ini terjadi karena muatan pengetahuan ibu terkait penggunaan
materi yang disampaikan oleh pemberi antibiotik pada anak ISPA, tetapi tidak dapat
informasi adalah informasi yang bersifat mengubah sikap responden meskipun ada
menentang pandangan dari penerima sebagian kecil responden yang mengalami
informasi. Seperti yang telah diketahui peningkatan sikap.
bahwa responden sudah berkeyakinan bahwa
antibiotik selalu dapat menyembuhkan batuk
pilek pada anak yang dibuktikan dengan skor SARAN
kuesioner sikap parameter penggunaan
antibiotik pada anak dengan ISPA yang Perawat anak maupun Puskesmas dapat
rendah meskipun secara umum responden memberikan pendidikan kesehatan dengan
mengetahui bahwa antibiotik digunakan media video lebih dari satu kali pertemuan
untuk infeksi yang disebabkan karena bakteri untuk mengubah pengetahuan dan sikap ibu
dan batuk pilek kebanyakan disebabkan terkait penggunaan antibiotik pada anak
karena virus yang dibuktikan dengan skor dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut
kuesioner tentang pengetahuan, dimana (ISPA). Peneliti selanjutnya dapat
hampir seluruh responden memiliki menggunakan sampel yang lebih banyak
pengetahuan yang baik. Di samping itu, dari untuk memperoleh hasil penelitian yang lebih
sifat influenceability responden itu sendiri. representatif.
Karena responden yang paling banyak adalah
dari jenjang pendidikan SMA, dengan KEPUSTAKAAN
demikian responden tersebut memiliki
pengalaman yang cukup baik sehingga untuk Alligood, M. R. 2014. Nursing Theories and
mengubah sikap diperlukan pertemuan yang Their Works. 8 ed. Missouri: Mosby.

32
Jurnal Pediomaternal Vol. 3 No. 1 Oktober 2014-April 2015
Azwar, S. 2008. Sikap Manusia: Teori dan
Pengukuranya. Jakarta: Pustaka
Pelajar.
Cutler, D. M. & Lleras-Muney, A. 2011.
Understanding in Ifferences in Health
Behaviors by Education. National
Institutes of Health, 29(1), pp. 1-28.
Maulana, H. D. 2007. Promosi Kesehatan.
Jakarta: EGC.
Mohamed, H. F. et al. 2014. Patterns,
Knowledge and Attitudes of
Irrational Antibiotik Use in the Saudi
Community. Journal of Biology,
Agriculture, and Healthcare, IV(4),
pp. 72-77.
Notoatmodjo, S. 2005. Promosi Kesehatan:
Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rineka
Cipta.
Notoatmodjo, S. 2007. Kesehatan
Masyarakat: Ilmu dan Seni. Jakarta:
Rineka Cipta.
Nursing Education. 2013. Collaborative for
Teaching Excellence.
(http://www.austincc.edu/adnfac/coll
aboirative/definitions.htm). Accessed
19 April 2014.
Rahajoe, N. N. Supriyatno, B. & Setyanto, D.
B. 2012. Buku Ajar Respirologi
Anak. Jakarta: Ikatan Dokter Anak
Indonesia.
Swastinitya, A. et al. 2013. Pengetahuan dan
Perilaku Pengunjung Puskesmas dan
Tenaga Kesehatan terhadap
Penggunaan Antibiotik pada ISPA.
eJKI, I(2), pp. 124-129.
Wawan, A. & M, D. 2010. Teori Pengukuran
Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku
Manusia. Jakarta: Nuha Medika.

33
Jurnal Pediomaternal Vol. 3 No. 1 Oktober 2014-April 2015