You are on page 1of 44

Bagian Ilmu Kesehatan Anak Tutorial Klinik

Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

KEJANG DEMAM SEDERHANA DAN TONSILITIS


BAKTERIAL

Disusun oleh:
Abidah Sholihatuz Zahro
1710029003

Pembimbing:
dr. Annisa Muhyi, Sp. A, M.Biomed

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
FEBRUARI 2018

i
TUTORIAL KLINIK

Kejang Demam Sederhana dan Tonsilitis Bakterial

Sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian stase Anak


ABIDAH SHOLIHATUZ ZAHRO
1710029003

Menyetujui,

dr. Annisa Muhyi, Sp. A, M.Biomed

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
FEBRUARI 2018

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat


rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan Tutorial Kasus mengenai“Kejang
Demam Sederhana dan Tonsilitis Bakterial”. Tutorial ini disusun dalam rangka
tugas kepaniteraan klinik di Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit
Daerah Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.
Penulis menyadari bahwa keberhasilan penulisan tutorial klinik ini tidak
lepas dari bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis
menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada :
1. dr. Ika Fikriah, M.Kes, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas
Samarinda.
2. dr. Soehartono, Sp.THT-KL, selaku Ketua Program Studi Profesi Dokter
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
3. dr. Hendra, Sp. A, sebagai Kepala Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman.
4. dr. Annisa Muhyi, Sp.A, selaku dosen pembimbing tutorial klinik.
5. dr. Sukartini, Sp.A, selaku dosen pembimbing klinik selama penulis di stase
Ilmu Kesehatan anak.
6. Seluruh pengajar yang telah mengajarkan ilmunya kepada penulis hingga
pendidikan saat ini.
7. Rekan sejawat dokter muda stase Ilmu Kesehatan Anak angkatan 2017/2018
yang telah bersedia memberikan saran dan mengajarkan ilmunya pada
8. Seluruh
penulis. pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu oleh penulis.
Penulis menyadari terdapat ketidaksempurnaan dalam tutorial klinik ini,
sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran demi penyempurnaan. Akhir
kata, semoga dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca.

Samarinda, Februari 2018

Penulis

iii
iv
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ........................................................................................... iii
DAFTAR ISI ........................................................................................................... v
BAB 1 PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
BAB 2 KASUS ....................................................................................................... 2
BAB 3 TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................... 10
3.1 Kejang demam sederhana ............................................................................ 10
Definisi.. ................................................................................................................ 10
Klasifikasi ........................................................................................................... 10
Prognosis ............................................................................................................... 14
Penatalaksanaan .................................................................................................... 19
Edukasi ................................................................................................................ 20
Vaksinasi ............................................................................................................... 20
3.2 Tonsilitis, Faringitis , dan Tonsilofaringitis ......................................................... 21
Definisi ................................................................................................................ 21
Epidemiologi ......................................................................................................... 21
Patogenesis .......................................................................................................... 22
Manifetasi klinis .................................................................................................... 23
Diagnosis................................................................................................................25
Penatalaksanaan .................................................................................................... 26
Kompilkasi ............................................................................................................ 27
BAB 4 PEMBAHASAN ....................................................................................... 29
4.1 Anamnesis.................................................................................................... 29
4.2 Pemeriksaan Fisik ........................................................................................ 32
4.3 Pemeriksaan Penunjang ............................................................................... 34
4.4 Diagnosis ..................................................................................................... 34
4.5 Penatalaksanaan ........................................................................................... 35
BAB 4 KESIMPULAN ......................................................................................... 38
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 39

v
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh
(suhu rektal di atas 380 C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium.
Dalam praktek sehari-hari orang tua sering cemas bila anaknya mengalami kejang,
karena setiap kejang kemungkinan dapat menimbulkan epilepsi dan trauma pada
otak.
Demam sendiri merupakan mekanisme tubuh untuk melawan infeksi,
salah satunya saat terjadi saat anak mengalami tonsiliitis seperti pada kasus yang
akan dibahas. Tingkat kemampuan sebagai dokter umum untuk penanganan
kejang demam yaitu 4 yaitu mampu mendiagnosis, melakukan penatalaksanaan
secara mandiri dan tuntas. Berdasarkan data-data diatas oleh karena itu pentingnya
untuk membahas tentang kejang demam.

1.2 Tujuan
1) Menambah ilmu dan pengetahuan mengenai penyakit yang dilaporkan.
2) Membandingkan informasi yang terdapat pada literatur dengan kenyataan
yang terdapat langsung pada kasus.
3) Mendiagnosa dengan cepat dan menyusun rencana tatalaksana yang tepat
kepada pasien.

1
BAB 2
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas
Identitas pasien
Nama : An. AAK
Usia : 1 Tahun 5 Bulan
Jenis Kelamin : Perempuan
Berat Badan : 9,5 Kg
Tinggi Badan : 85 centimeter
Anak ke : Kedua dari dua bersaudara
Agama : Islam
Alamat : Jl. Kedondong Dalam no.5 Samarinda

Identitas Orang Tua


Nama Ayah : Tn. H
Usia : 32 Tahun
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Jl. Kedondong Dalam no.5 Samarinda
Pendidikan terakhir : SMA
Pernikahan ke : pertama

Nama Ibu : Ny. W


Usia : 26 tahun
Pekerjaan : IRT
Alamat : Jl. Kedondong Dalam no.5 Samarinda
Pendidikan terakhir : SMA
Pernikahan ke : pertama

MRS tanggal 3 Februari 2018 Pukul 23.30 WITA.

2
3.2 Anamnesa
Anamnesa dilakukan pada tanggal 5 Januari 2018, di ruang Angsoka.
Alloanamnesa oleh pasien dan ibu kandung pasien.

3.2.1 Keluhan Utama


Kejang

3.2.2 Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke IGD RSUD Abdul Wahab Sjahranie pukul 22.00 malam
dengan keluhan kejang. Kejang sebanyak 1 kali dirasakan selama kurang lebih 5
menit. Keluhan dirasakan pertama kali, sebelumnya pasien belum pernah kejang.
Sebelum kejang pasien demam terlebih dahulu. Demam muncul saat malam hari
beberapa jam sebelum kejang. Orang tua merasa bahwa pasien demam tinggi
walaupun tidak diukur suhunya. Sebelumnya pasien demam, batuk dan pilek
sekitar 1 minggu yang lalu. Demam sudah tidak ada lagi, hanya tersisa batuk dan
pilek. Batuk berdahak hijau terjadi sepanjang hari disertai dengan ingus yang
berwana kuning kehijauan. Batuk dan pilek terutama saat malam hari dan cuaca
dingin. Nyeri menelan (-), sakit tenggorokan (-), mual muntah (-), sakit kepala (-),
sesak napas (-) suara mengorok (-). Penurunan nafsu makan (+).

3.2.3 Riwayat Penyakit Dahulu


Tidak pernah menderita keluhan seperti ini sebelumnya. Riwayat MRS
sebelumnya tidak ada. Alergi susu sapi dan hati ayam.

3.2.4 Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat kejang pada ibu pasien. Riwayat thalasemia pada kakak kandung
pasien. Riwayat hipertensi, diabetes melitus, asma disangkal.

3.2.5 Pertumbuhan dan Perkembangan Anak


Berat badan lahir : 3090 gram
Panjang badan lahir : 49 cm

3
Berat badan sekarang : 9,5 kg
Tinggi badan sekarang: 85 cm
Gigi keluar : 8 bulan
Tersenyum : OT lupa
Miring : OT lupa
Tengkurap : 4 bulan
Duduk : 6 bulan
Merangkak : OT lupa
Berdiri : 1 tahun
Berjalan : 1 tahun
Berbicara : 1 tahun

3.2.6 Makan dan Minum Anak


ASI : ASI ekslusif 6 bulan sampai usia 2 tahun
Makanan lunak : Mulai usia 7 bulan sampai 1 tahun
Makan padat dan lauknya : 1 tahun sampai sekarang

3.2.7 Pemeriksaan Prenatal


Periksa di : Klinik bidan
Penyakit kehamilan : Tidak ada
Obat-obat yang sering diminum : Tidak ada

3.2.8 Riwayat Kelahiran


Lahir di : Klinik bidan
Ditolong oleh : Bidan
Usia dalam kandungan : Aterm
Jenis partus : Spontan

2.2.10 Keluarga Berencana


Keluarga Berencana : Suntik hormon

3.2.11 Jadwal Imunisasi

4
Imunisasi BCG, Polio, Campak, DPT, Hepatitis B lengkap
Imunisasi Usia saat imunisasi
I II III IV Booster Booster
I II
BCG 1 bulan ////// ////// ////// ////// //////
Polio 1 bulan 2 bulan 4 bulan 6 bulan - -
Campak 9 bulan ////// ////// ////// ////// //////
DPT 2 bulan 4 bulan 6 bulan ////// - -
Hepatitis B 0 bulan 2 bulan 6 bulan - - -

3.3 Pemeriksaan Fisik


Dilakukan pada tanggal 5 Febrauri 2018
Keadaan Umum : Sakit sedang
Kesadaran : Composmentis
Berat Badan : 9,1 Kg
Panjang Badan : 85 cm
Tanda Vital : Tekanan Darah tidak dilakukan
Nadi 150 x/menit
Pernafasan 28 x/menit
Temperatur axila 38,3o C
Kepala/leher
Rambut : Warna hitam, tidak mudah di cabut
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), pupil isokor,
diameter 3mm/3mm, reflex cahaya (+/+), edema palpebra
(-/-)
Hidung : Sekret hidung (-), pernafasan cuping hidung (-), mimisan
(-), bekuan darah (-)
Mulut : Mukosa bibir tampak basah, sianosis (-), perdarahan (-),
tonsil hiperemis (+), stomatitis (-), pseudomembran (+)
Leher : Pembesaran kelenjar getah bening (-) nyeri tekan (-)
bullneck (-)

5
Thorax
Paru: Inspeksi : Tampak simetris, pergerakan simetris,
retraksi supra sternum (-), retraksi
supraclavicula (-),
Palpasi : Pelebaran ICS (-), fremitus raba D=S
Perkusi : Sonor
Auskultasi : suara napas vesikuler, Stridor (-), Ronki
(-/-), wheezing (-/-)
Jantung: Inspeksi :Ictus cordis tampak pada ICS 5
midclavicularis sinistra
Palpasi :Ictus cordis teraba pada ICS 5
midclavicularis sinistra
Perkusi : Normal pada batas jantung
Auskultasi : S1S2 tunggal reguler kesan normal,murmur
(-),gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : flat, sikatriks (-) striae (-) hernia umbilikalis (-) scar (-)
Palpasi : Soefl, nyeri tekan (-), organomegali (-), turgor kulit normal
Perkusi : Timpani, acites (-)
Auskultasi : Bising usus (+) kesan normal

Ekstremitas
Ekstremitas superior : Akral hangat, pucat (-/-), edem (-/-),
Ekstremitas inferior : Akral hangat, pucat (-/-), edem (-/-),

6
3.4 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
a. Laboratorium 3 Februari 2018
Pemeriksaan hematologi dan kimia klinik pukul 22:25:21
Pemeriksaan yang Hasil yang Nilai Normal
dialkukan didapat
Leukosit 26.590/mm3 4.500 – 14.500/ mm3
Hemoglobin 10,8g/dl 14,0 – 18,0 g/dl
Hematokrit 34,1 % 35,0 – 45.0%
Trombosit 378.000 / mm3 150.000 – 450.000/ mm3
Gula Darah Sewaktu 143 mg/dl 70 – 140 mg/dl
Natrium 133 mmol/L 135- 155 mmol/L
Kalium 4 mmol/L 3.6 – 5,5 mmol/L
Chloride 96 mmol/L 98-108 mmol/L

3.5 Diagnosis Kerja (IGD)


Kejang Demam Sederhana
3.6 Penatalaksanaan IGD
Konsul ke dr. Sp.A
 IVFD D5 1/2 NS 950 cc/24 jam

 PCT 3x100mg

 Diazepam 3x1,5mg pulv

 Ij. Ceftriaxon 2 dd 400mg

Lembar Follow Up
Tanggal Pemeriksaan Terapi
4 Feb-2018 S: Demam hari kedua, batuk A : Kejang Demam
(perawatan H-1) pilek (+) kejang (-) muntah (-) Sederhana
penurunan nafsu makan (+) P:
O:
N: 110 x/menit, reguler,kuat  IVFD D5 1/2 NS 950
angkat cc/24 jam
RR:26 x/Menit,
T:38 0C,  PCT 3x100mg
BB : 9,3kg
TB : 85cm  Diazepam 3x1,5mg pulv
K/L An (-/-) ik (-/-)
pembesaran KGB (-)  Ij. Ceftriaxon 2 dd
Tho Whz (-/-), rho (-/-),

7
stridor (-) S1 S2 tunggal 400mg
reguler.
Abd BU (+) N, -
Ext akral hangat, CRT < 2
detik, petekie (-), rumple leed
(+)

Lab :
Leukosit : 26.500/mm3
Hb : 10,8 g/dL
Ht : 31,1 %
Plt : 378.000/mm3
5 Februari 2018 S: Demam hari ke 3, batuk A : Tonsilitis Bakterial +
(perawatan H-2) pilek (+) kejang (-) muntah (-) KDS
penurunan nafsu makan (+) P:
O:  Swab + kultur tenggorok
CM  Isolasi
N:120 x/menit, reguler,kuat  IVFD D5 1/4 NS 500
angkat cc/24 jam
RR:26 x/Menit,
T:40 0C,  PCT 3x100mg
K/L An (-/-) ik (-/-)
pembesaran KGB (-) tonsil  Diazepam 3x1,5mg pulv
hiperemis (+) pseudomembran
(+) berkurang, bullneck (-)  Ij. Ceftriaxon 2 dd
Tho ves (+/+) Whz (-/-), rho 400mg
(-/-), stridor (-) S1 S2 tunggal
reguler.  Diet TKTP 3x1
Abd BU (+) N,
Ext akral hangat, CRT < 2  Susu ad lib
detik,

Lab :
Neisser I (-)

8
6 Februari 2018 S: Demam hari ke-4, batuk A : Tonsilitis Bakterial +
(perawatan H-3) pilek (+) kejang (-) muntah (-) KDS
penurunan nafsu makan (+) P:
O:  IVFD D5 1/4 NS 500
CM cc/24 jam
TD : 90/60 mmHg
N:76 x/menit, reguler,kuat  Ceftriaxon stop
angkat
RR:26 x/Menit,  PCT stop
T:36,8 0C
K/L An (-/-) ik (-/-)  Eritromicin 4 x 1/4 cth
pembesaran KGB (-)
Tho Whz (-/-), rho (-/-),  PCT 3 x 1/2 cth
stridor (-) S1 S2 tunggal
reguler.
Abd BU (+) N,
Ext akral hangat, CRT < 2
detik

Lab :
Neisser II (-)

7 Februari 2018 S: Demam hari ke-5, batuk A :Tonsilitis bakterial + KDS


(perawatan H ke pilek (+) kejang (-) muntah (-) P :
4) penurunan nafsu makan (+) - Acc KRS
O:  Eritromicin 4 x 1/4 cth
CM
TD : 90/60 mmHg
N: 110 x/menit, reguler,kuat
angkat
RR:26 x/Menit,
T:36,5 0C
K/L An (-/-) ik (-/-)
pembesaran KGB (-)
pseudomembran (-)
Tho Whz (-/-), rho (-/-),
stridor (-) S1 S2 tunggal
reguler.
Abd BU (+) N,
Ext akral hangat, CRT < 2
detik

Lab :
Neisser II (-)

9
BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Kejang Demam Sederhana

Definisi

Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh
(suhu rektal di atas 380 C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium.
Dalam praktek sehari-hari orang tua sering cemas bila anaknya mengalami kejang,
karena setiap kejang kemungkinan dapat menimbulkan epilepsi dan trauma pada
otak. (Ismael, dkk, 2016)
Keterangan :
1. Kejang terjadi karena kenaikan suhu tubuh, buka gangguan elektrolit atau
metabolik lainnya.
2. Bila ada riwayat kejang tanpa demam sebelumnya maka tidak disebut sebagai
kejang demam
3. Anak berumur 1-6 bulan masih dapat mengalami kejang demam namun jarang
sekali. National Institute of health (1980) menggunakan batasan lebih dari 3
bulan, sedangkan Nelson dan Ellenburgh (1978), serta ILAE (1993) menggunakan
batasan usia lebih dari 1 bulan. Bila anak berumur kurang dari 6 bulan mengalami
kejang didahului demam, pikirkan kemungkinan lain, terutama infeksi sususnan
saraf pusat.
4. Bayi berusia kurang dari 1 bulan tidak termasukd alam rekomendasi ini
melainkan termasuk dalam kejang demam. (Ismael, dkk, 2016)

Epidemiologi
Kejang demam terjdi pada 2-5 % anak berumur 6 bulan - 5 tahun

10
Kejang merupakan gangguan syaraf yang sering dijumpai pada anak.1-3
Insiden kejang demam 2,2-5% pada anak di bawah usia 5 tahun. 1-3 Anak
laki-laki lebih sering dari pada perempuan dengan perbandingan 1,2–1,6:1.1,2
Saing B (1999), menemukan 62,2%, kemungkinan kejang demam berulang pada
90 anak yang mengalami kejang demam sebelum usia 12 tahun, dan 45% pada
100 anak yang mengalami kejang setelah usia 12 tahun.1 Kejang demam
kompleks dan khususnya kejang demam fokal merupakan prediksi untuk
terjadinya epilepsi. Sebagian besar peneliti melaporkan angka kejadian epilepsi
kemudian hari sekitar 2 – 5 %.(Ismael, dkk, 2006)

Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6 bulan – 5 tahun. Anak
yang pernah mengalami kejang tanpa demam, kemudian kejang demam kembali
tidak termasuk dalam kejang demam.Kejang disertai demam pada bayi berumur
kurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam kejang demam. Bila anak berumur
kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami kejang didahului demam,
pikirkan kemungkinan lain misalnya infeksi SSP, atau epilepsi yang kebetulan
terjadi bersama demam. (Ismael, dkk, 2006)

Klasifikasi 1. Kejang demam sederhana (Simple febrile seizure) 2. Kejang demam


kompleks (Complex febrile seizure) (Ismael, dkk, 2016)

1. Kejang demam sederhana

Kejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari 5 menit, dan umumnya
akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik dan atau klonik, tanpa
gerakan fokal. Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam. Kejang demam
sederhana merupakan 80% di antara seluruh kejang demam.

2. Kejang demam kompleks

Kejang demam dengan salah satu ciri berikut ini:

11
1. Kejang lama > 15 menit

2. Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial

3. Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam

Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit atau kejang
berulang lebih dari 2 kali dan di antara bangkitan kejang anak tidak sadar. Kejang
lama terjadi pada 8% kejang demam.

Kejang fokal adalah kejang parsial satu sisi, atau kejang umum yang didahului
kejang parsial.

Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau lebih dalam 1 hari, di antara 2
bangkitan kejang anak sadar. Kejang berulang terjadi pada 16% di antara anak
yang mengalami kejang demam.

Pemeriksaan penunjang

1. Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada kejang demam,


tetapi dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam, atau
keadaan lain misalnya gastroenteritis dehidrasi disertai demam. Pemeriksaan
laboratorium yang dapat dikerjakan misalnya darah perifer, elektrolit dan gula
darah

2. Pungsi lumbal

12
Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau
menyingkirkan kemungkinan meningitis. Berdasarkan bukti terbaru, saat ini
pemeriksaan lumbal tidak dilakukan rutin pada anak dibawah 12 bulan yang
mengalami kejang demam sederhana dengan keadaan umum baik. Risiko
terjadinya meningitis bakterialis adalah 0,6%-6,7%. Pada bayi kecil seringkali
sulit untuk menegakkan atau menyingkirkan diagnosis meningitis karena
manifestasi klinisnya tidak jelas. Oleh karena itu pungsi lumbal dianjurkan pada:
Indikasi pungsi lumbal :
1. Terdapat tanda dan gejala rangsang meningeal
2. Terdapat kecurigaan adanya infeksi SSP berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan klinis
3. dipetimbangkan pada anak dengan kejang demam yang sebelumnya telah
mendapat atibiotik dan pemberian antibiotik tersebut dapat mengaburkan tanda
dan gejala meningitis. (Ismael dkk, 2016)

Elektroensefalografi

Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) tidak dapat memprediksi berulangnya


kejang, atau memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien kejang
demam. Oleh karenanya tidak direkomendasikan . Pemeriksaan EEG masih dapat
dilakukan pada keadaan kejang demam yang tidak khas. Misalnya: kejang demam
kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun, atau kejang demam fokal.
Pemeriksaaan EEG tidak diperlukan untuk kejang demam kecuali apabila
bangkitan bersifat fokal. (Ismael dkk, 2016)

13
Pencitraan

Foto X-ray kepala dan pencitraan seperti computed tomography scan (CT-scan)
atau magnetic resonance imaging (MRI) jarang sekali dikerjakan, tidak rutin dan
hanya atas indikasi seperti: 1. Kelainan neurologik fokal yang menetap
(hemiparesis) 2. Paresis nervus kranialis (Ismael dkk, 2016)

Prognosis

Prognosis kejang demam secara umum sangat baik. Kejadian kecacatan sebagai
komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan. Perkembangan mental dan
neurologis umumnya tetap normal pada pasien yang sebelumnya normal.
Penelitian lain secara retrospektif melaporkan kelainan neurologis pada sebagian
kecil kasus, dan kelainan ini biasanya terjadi pada kasus dengan kejang lama atau
kejang berulang baik umum atau fokal. Kemungkinan mengalami kematian
karena kejang demam tidak pernah dilaporkan. Suatu studi melaporkan terdapat
gangguan recognition memory padda anak yang mengalami kejang lama

Kemungkinan berulangnya kejang demam

Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor risiko
berulangnya kejang demam adalah : 1. Riwayat kejang demam dalam keluarga 2.
Usia kurang dari 12 bulan 3. Temperatur yang rendah saat kejang (kurang dari 39
C) 4. Cepatnya kejang setelah demam ( Interval waktu yang singkat antara awitan
demam dengan kejang). 5. Apabila kejang demam pertama merupakan kejang
demam kompleks.

Bila seluruh faktor di atas ada, kemungkinan berulangnya kejang demam adalah
80%, sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan berulangnya
kejang demam hanya 10%-15%. Kemungkinan berulangnya kejang demam paling
besar pada tahun pertama.

14
Faktor risiko terjadinya epilepsi

Faktor risiko lain adalah terjadinya epilepsi di kemudian hari. Faktor risiko
menjadi epilepsi adalah : 1. Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas
sebelum kejang demam pertama. 2. Kejang demam kompleks 3. Riwayat epilepsi
pada orang tua atau saudara kandung 4. KDS yang berulang 4 episode atau lebih
dalam satu tahun.

Masing-masing faktor risiko meningkatkan kemungkinan kejadian epilepsi


sampai 4%-6%, kombinasi dari faktor risiko tersebut meningkatkan kemungkinan
epilepsi menjadi 10%- 49% . Kemungkinan menjadi epilepsi tidak dapat dicegah
dengan pemberian obat rumat pada kejang demam

Penatalaksanaan saat kejang

Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan pada waktu pasien datang
kejang sudah berhenti. Apabila datang dalam keadaan kejang obat yang paling
cepat untuk menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan secara
intravena. Dosis diazepam intravena adalah 0,2-0,5 mg/kg perlahan-lahan dengan
kecepatan 2 mg/menit atau dalam waktu 3-5 menit, dengan dosis maksimal 10
mg. Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh orang tua atau di rumah adalah
diazepam rektal. Dosis diazepam rektal adalah 0,5-0,75 mg/kg atau diazepam
rektal 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk
berat badan lebih dari 10 kg. Atau diazepam rektal dengan dosis 5 mg untuk anak
dibawah usia 3 tahun atau dosis 7,5 mg untuk anak di atas usia 3 tahun (lihat
bagan penatalaksanaan kejang demam). (Ismael dkk, 2016)

15
Bila setelah pemberian diazepam rektal kejang belum berhenti, dapat diulang lagi
dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit. Bila setelah 2
kali pemberian diazepam rektal masih tetap kejang, dianjurkan ke rumah sakit. Di
rumah sakit dapat diberikan diazepam intravena dengan dosis 0,3-0,5 mg/kg. Bila
kejang tetap belum berhenti diberikan fenitoin secara intravena dengan dosis awal
10-20 mg/kg/kali dengan kecepatan 1 mg/kg/menit atau kurang dari 50 mg/menit.
Bila kejang berhenti dosis selanjutnya adalah 4-8 mg/kg/hari, dimulai 12 jam
setelah dosis awal. Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti maka pasien harus
dirawat di ruang rawat intensif. (Ismael dkk, 2006)

Bila kejang telah berhenti, pemberian obat selanjutnya tergantung dari jenis
kejang demam apakah kejang demam sederhana atau kompleks dan faktor
risikonya. Pemberian obat pada saat demam

Antipiretik

Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi risiko


terjadinya kejang demam , namun para ahli di Indonesia sepakat bahwa antipiretik
tetap dapat diberikan . Dosis parasetamol yang digunakan adalah 10 –15
mg/kg/kali diberikan 4 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali. Dosis Ibuprofen 5-10
mg/ kg/kali ,3-4 kali sehari Meskipun jarang, asam asetilsalisilat dapat
menyebabkan sindrom Reye terutama pada anak kurang dari 18 bulan, sehingga
penggunaan asam asetilsalisilat tidak dianjurkan.

Antikonvulsan

Yang dimaksud dengan obat antikonvulsan intermitten adalah obat antikonvulsan


yang diberikan hanya pada saat demam.

Profilaksias intermitten diberikan pada kejang demam dengan salah satu faktor
resiko dibawah ini :

16
 Kelainan neurologis berat, misalnya palsi serebral

 Berulang 4 kali atau lebih dalam setahun

 Usia <6 bulan

 Bila kejang terjadi pada suhu tubuh kurang dari 39 derajat celcius

 Apabila pada episode kejang demam sebelumnya, suhu tubuh meningkat


dengan cepat.

Pemakaian diazepam oral dosis 0,3 mg/kg setiap 8 jam pada saat demam
menurunkan risiko berulangnya kejang pada 30%- 60% kasus, begitu pula dengan
diazepam rektal dosis 0,5 mg/ kg setiap 8 jam pada suhu > 38,5 0 C. Dosis
tersebut cukup tinggi dan menyebabkan ataksia, iritabel dan sedasi yang cukup
berat pada 25-39% kasus.Fenobarbital, karbamazepin, dan fenitoin pada saat
demam tidak berguna untuk mencegah kejang demam

Pemberian obat rumat

Indikasi pemberian obat rumat Pengobatan rumat hanya diberikan bila kejang
demam menunjukkan ciri sebagai berikut (salah satu):

1. Kejang lama > 15 menit

2. Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, misalnya
hemiparesis, paresis Todd, cerebral palsy, retardasi mental, hidrosefalus.

3. Kejang fokal

4. Pengobatan rumat dipertimbangkan bila:

17
• Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam.

• Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 11 bulan.

• kejang demam > 4 kali per tahun

Penjelasan:

• Sebagian besar peneliti setuju bahwa kejang demam > 15 menit merupakan
indikasi pengobatan rumat

• Kelainan neurologis tidak nyata misalnya keterlambatan perkembangan ringan


bukan merupakan indikasi pengobatan rumat

• Kejang fokal atau fokal menjadi umum menunjukkan bahwa anak mempunyai
fokus organik.

Jenis antikonvulsan untuk pengobatan rumat

Pemberian obat fenobarbital atau asam valproat setiap hari efektif dalam
menurunkan risiko berulangnya kejang

Berdasarkan bukti ilmiah bahwa kejang demam tidak berbahaya dan penggunaan
obat dapat menyebabkan efek samping, maka pengobatan rumat hanya diberikan
terhadap kasus selektif dan dalam jangka pendek (rekomendasi D).

18
Pemakaian fenobarbital setiap hari dapat menimbulkan gangguan perilaku dan
kesulitan belajar pada 40-50% kasus. Obat pilihan saat ini adalah asam valproat.
Pada sebagian kecil kasus, terutama yang berumur kurang dari 2 tahun asam
valproat dapat menyebabkan gangguan fungsi hati. Dosis asam valproat 15-40
mg/kg/hari dalam 2-3 dosis, dan fenobarbital 3-4 mg/kg per hari dalam 1-2 dosis. .
Lama pengobatan rumat Pengobatan diberikan selama 1 tahun bebas kejang,
kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan.. (Ismael dkk, 2016)

Edukasi pada orang tua

Kejang selalu merupakan peristiwa yang menakutkan bagi orang tua. Pada saat
kejang sebagian besar orang tua beranggapan bahwa anaknya telah meninggal.
Kecemasan ini harus dikurangi dengan cara yang diantaranya:

1. Menyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis baik.

2. Memberitahukan cara penanganan kejang

3. Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali

4. Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang efektif tetapi harus diingat
adanya efek samping obat.

Beberapa hal yang harus dikerjakan bila kembali kejang

1. Tetap tenang dan tidak panik

2. Kendorkan pakaian yang ketat terutama disekitar leher

19
3. Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring. Bersihkan
muntahan atau lendir di mulut atau hidung. Walaupun kemungkinan lidah tergigit,
jangan memasukkan sesuatu kedalam mulut.

4. Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang.

5. Tetap bersama pasien selama kejang

6. Berikan diazepam rektal. Dan jangan diberikan bila kejang telah berhenti.

7. Bawa kedokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih
(Ismael dkk, 2016)

Vaksinasi

Sejauh in tidak ada kontra indikasi untuk melakukan vaksinasi terhadap anak yang
mengalami kejang demam. Kejang setelah demam karena vaksinasi sangat jarang.
Angka kejadian pasca vaksinasi DPT adalah 6-9 kasus per 100.000 anak yang
divaksinasi sedangkan setelah vaksinasi MMR 25-34 per 100.000. Dianjurkan
untuk memberikan diazepam oral atau rektal bila anak demam, terutama setelah
vaksinasi DPT atau MMR. Beberapa dokter anak merekomendasikan parasetamol
pada saat vaksinasi hingga 3 hari kemudian.

3.2 Tonsilitis, faringitis dan tonsilofaringitis


Selain rinitis, faringitis juga merupakan salah satu IRA -atas yang banyak terjadi
pada anak. Keterlibatan tonsil pada tidak derajat beratnya penyakit. Faringitis
biasa pada anak, meskipun jarang anak berusia di bawah l tahun. Insidens
meningkat sesuai dengan bertambahnya umur mencapai puncaknya pada usia 4-7
tahun, dan berlanjut hingga dewasa. Insiden faringitis Streptokokus tertinggi pada

20
usia 5-18 tahun, jarang pada usia di bawah tahun, dan sebanding antara laki-laki
dan perempuan. (Rahajoe, 2013)
Faringitis dapat disebabkan oleh bakteri dan virus. Oleh karena itu, diperlukan
strategi untuk melakukan diagnosis dan memberikan tatalaksana, agar dapat
membedakan psien-pasien yang membutuhkan terapi antibiotik, dan mencegah
serta meminimalisir penggunaan medikamentosa yang tidak perlu. Diperkirakan
sebanyak 30 juta kasus tonsilofaringitis didiagnosis setiap tahunnya di Amerika
Serikat. Sebelas persen anak usia sekolah berobat ke dokter setiap dengan
diagnosis faringitis. (Rahajoe, 2013)

Definisi
Istilah faringitis akut digunakan untuk menunjukkan semua infeksi akut pada
faring, termasuk tonsilitis (tonsilofaringitis) yang berlangsung hingga 14 hari.
Faringitis merupakan peradangan akut membran mukosa faring dan struktur lain
di sekitarnya Karena letaknya yang sangat dekat dengan hidung dan tonsil, jarang
terjadi hanya infeksi lokal faring atau tonsil. Oleh karena itu, pengertian faringitis
secara luas mencakup tonsilitis, nasofaringitis, dan tonsilofaringitis. Infeksi pada
daerah faring dan sekitarnya ditandai dengan keluhan nyeri renggorok. Faringitis
Streptokokus beta bemolitikus grup (SBHGA) adalah infeksi akut orofaring
dan/atau nasofaring oleh SBHGA. (Rahajoe, 2013)

Etiologi
Berbagai bakteri dan virus dapat menjadi etiologi faringitis, baik faringitis sebaga
manifestasi tunggal maupun sebagai bagian dari penyakit lain. Virus merupakan
etiolog terbanyak faringitis akut, terutama pada anak berusia 3 tahun (prasekolah).
Virus penyebab penyakit respiratori seperti Adenovirus, Rhinov dan virus
parainfluenza dapat penyebab faringitis. Virus Epstein Barr virus, Barr virus, EB)
dapat menyebabkan faringitis, tetapi disertai dengan gejala infeksi mononukleusis
seperti splenomegali dan limfadenopati generalisata. . Infeksi sistemik seperti
infeksi virus campak, CMV, virus rubella, dan berbagai virus lainnya juga dapat
menunjukan gejala faringitis akut. (Rahajoe, 2013)

21
Streptokokus beta hemolitikus grup A adalah bakteri penyebab terbnayak
faringitis/ tonsilofaringitis akut. Bakteri tersebut mencakup 15-30 % (diluar
kejadian epidemik) dari penyebab faringitis akut pada anak, sedangkan pada
dewasa hanya sekitar 5-10 kasus. Mikroorganisme seperti klamidia dan
mikoplasma dilaporkan dapat menyebabkan infeksi, tetapi sangat jarang . Di
negara Inggris dan skandinavia pernah dilaporkan infeksi arcobacterium
hemolitikum .(Rahajoe, 2013)

Patogenesis
Nasofaring dan orofaring adalah tempat untuk organisme ini, kontak langsung
engan mukosa nasofaring yang terinfeksi atau dengan benda yang terkontaminasi
seperti sikat gigi merupakan penularan yang kurang berperan, demikian juga
penularan melalui makanan. (Rahajoe, 2013)
Penyebaran SBHGA memerlukan pejamu yang rentan dan difasilitasi dengan
kontak erat. Infeksi jarang terjadi pada anak berusia diabwah 2 tahun, mungkin
karena kurang kuatnya SBHGA melekat pada sel-sel epitel. Infeksi pada toddlers
paling sering melibatka nasofaring atau kulit. Remaja biasanya telah mengalami
kontak dengan organisme beberapa kali sehingga terbentuk kekebalan, oleh
karena itu infeksi SBHGA lebih jarang oada kelompok ini. (Rahajoe, 2013)
Kontak dengan sekumpulan besar anak, misalnya pada kelompok sekolah, akan
mempertinggi penyebaran penyakit. Rata-rata anak prasekolah mengalami 4- 8
episode infeksi saluran respiratori atas setiap tahunnya, sedangkan anak usia
sekolah mengalami 2-6 episode setiap tahunnya. Faringitis akut jarang disebabkan
oleh bakteri, di antara penyebab bakteri tersebut, SBHGA merupakan penyebab
terbanyak. Streptokokus grup C dan makanan terbukti dapat menyebabkan
epidemi faringitis akut, sering berkaitan dengan dapat e) dan air (waterbome)
yang terkontaminasi. Pada beberapa kasus dapat menyebabkan glome akut
(GNA). organisme ini mungkin juga tetapi menyebabkan kasus-kasus faringitis
sporadik yang menyerupai faringitis SBHGA, kurang berat. Streptokokus grup C
dan D lebih sering terjadi pada dewasa. (Rahajoe, 2013)
Arcanobacterim hemolytictm relatif jarang menyebabkan faringitis akut,
tetapi sering menyerupai faringitis Streptokokus. Penyakit ini cenderung terjadi

22
pada remaja dan dewasa muda. Saat ini faringitis difteri jarang ditemukan di
negara maju. terjadi pada anak yang tidak diimunisasi dan yang berasal dari
kelompok sosial ekonomi rendah. Infeksi oleh EBV, anggota dari famili
Herpesviridae dan sebagian besar terjadi pada anak berusia 15-24 tahun.
Frekuensi kejadian faringitis Mycoplasma masih belum jelas. Chlamydia
pneumoniae faringitis baik sebagai suatu sindrom tersendiri, bersamaan dengan
pneumonia, atau mendahului pneumonia. Apabila tidak terdapat penyakit saluran
respiratori-bawah, biasanya tidak teridentifikasi. (Rahajoe, 2013)
Bakteri maupun virus dapat secara langsung menginvasi mukosa faring yang
kemudian menyebabkan respon peradangan lokal. Rhinovirus menyebabkan iritasi
mukosa faring sekunder akibat sekresi nasal. Sebagian besar peradangan
melibatkan nasofaring, uvula dan palatum mole. Perjalanan penyakitnya ialah
terjadi inokulasi dari agen uvula, dan infeksius di faring yang menyebabkan
peradangan lokal, sehingga menyebabkan eritema faring, tonsil, ataukeduanya.
Infeksi ditandai dengan invasi lokal serta pelpasan toksin ekstaraseluler dan
protease. Transmisi dari virus yang khusus dan SBHGA terutama terjadi akibat
kontak tangan dengan dibandingkan kontak oral sekret hidung dibandingkan
dengan kontak oral. Gejala akan tampak setelah masa inkubasi yang pendek, yaitu
24-72 jam.

Manifestasi klinis
Gejala faringitis yang khas akibat bakteri streptokokus berupa nyeri tenggorokan
dengan awitan mendadak, disfagia dan demam. Urutan gejala yang biasanya
dikeluhkan oleh anak berusia diatas 2 tahun adalah nyeri kepala, nyeri perut dan
muntah. Selain itu juga didapatkan demam yang dapt mencapai 40 C, beberapa
jam kemudian terdapat nyeri tenggorok. Gejala seperti rinorea, sauar serak,
konjungtivitis dan diare disebbakan oleh virus. Kontak dengan pasien rinitis juga
dapat ditemukan pada anamnesis.(Rahajoe, 2013)
Pada pemeriksaan fisis, tidak semua pasien tonsilofaringitis akut streptokokus
menunjukkan tanda infeksi yaitu eritema pada tonsil dan faring yang tonsil
disertai dengan pembesaran tonsil.
Faringitis streptokokus sangat mungkin jika dijumpai gejala dan tanda berikut

23
 awitan akut, disertai mual dan muntah
 faring hiperemis demam
 nyeri tenggorokan
 tonsil bengkak dengan eksudasi kelenjar getah bening leher anterior bengkak
dan nyeri
 uvula bengkak dan merah
 eksoriasi hidung disertai lesi impetigo sekunder
 ruam skarlatina
 petekie palatum mole.
Akan tetapi, penemuan tersebut bukan merupakan tanda pasti faringitis
Streptokokus, karena dapat juga ditemukan pada penyebab tonsilofaringitis yang
lain. Sedangkan bila dijumpai gejala dan tanda berikut ini, maka kemungkinan
besar bukan faringitis streptokokus: usia di bawah 3 tahun awitan bertahap
kelainan melibatkan beberapa mukosa konjuntivitis, diare, batuk, pilek, suara
serak mengi, ronki di paru eksantem ulseratif. (Rahajoe, 2013)
Tanda khas faringitis difteri adalah membran asimetris, mudah berdarah, dan
berwarna kelabu pada faring. Membran tersebut dapat meluas dari batas anterior
tonsil hngga ke mole dan/atau ke uvula. Pada faringitis akibat virus dapat juga
ditemukan ulkus di palatum mole dan palatum mole dan didnding faring serta
eksudat dipalatum dan tonsil, tetapi sulit dibedakan dengan eksudat pada faringitis
streptokokus. Gejala timbul dapat menghilang dalam 24 jam, berlangsung 4-10
hari (self limiting disease), jarang menimbulkan komplikasi dna memiliki
prognosis yang baik. (Rahajoe, 2013)

24
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan laboratorium
Sulit untuk membedakan antara faringitis streptokokus dan faringitis virus hanya
berdasarkan anamnesis dan pemeriksaa fisik. Baku emas penegakan diagnosa
faringitis bakteri atau virus adalah melalui pemeriksaan kultur dari apusan
tenggorok. Apusan tenggorok yang adekuat pada area tonsil diperlukan untuk
menegakkan adanya S.pyogenes. Untuk memaksimalisasikan akurasi, maka
diambil apusan dari dinding faring posterior dna regio tonsil, lalu di iokulasikan
pda media agar darah domba 5 % dan piringan basitrasin diaplikasikan, kemudian
ditunggu 24 jam.
Pada saat ini terdapat metode cepat untuk mendeteksi antigen streptokokus grup A
(rapid antigen detection test). metode uji cepat ini mempunya sensitivitas dan
spesitivitas yang cukup tinggi (sekitar 90% dan 95%) dna hasilnya dapat diketahui
dlam 10 menit, sehingga metode ini setidaknya dapt digunakan untuk pengganti
pemeriksaan kultur. Secraa umum, bila uj tersebut negatif, maka apusan
tenggorok seharusnya dikultur pada dua cawan agar darah untuk mendapatkan

25
hasil yang terbaik untuk S.pyogenes. Pemeriksaan kultur dapat membantu
mengurangi pemberian antibiotk yang tidka perlu pada faringitis.

Tatalaksana
Usaha untuk membedakan faringitis bakteri dan virus bertujuan agar
pemberian antibiotik sesuai indikasi. Faringitis Streptokokus grup A merupakan
satu-satunya faringitis yang memiliki indikasi kuat dan aturan khusus dalam
penggunaan antibiotik (selain difteri yang disebabkan oleh Corynebacterium
diphteriae) . Pemberian antibiotik tidak diperlukan pada faringitis virus, karena
tidak akan mempercepat waktu penyembuhan atau mengurangi derajat keparahan.
Istirahat cukup dan pemberian cairan vang sesuai merupakan terapi suportif yang
dapat diberikan. Selain itu, pemberian gargles (obat kumur) dan lozenges (obat
hisap), pada anak yang cukup b dapat meringankan keluhan nyeri tenggorok.
Apabila terdapat nyeri yang berlebih atau terutama pada diberikan parasetamol
atau ibuprofen. Pemberian aspirin tidak dianjurkan, Influenza, karena insidens
sindrom Reye kerap terjadi.

Terapi Antibiotik
Pemberian antibiotik pada faringitis harus berdasarkan pada gejala klinis dan hasil
kultur positif pada pemeriksaan usapan tenggorok. Akan tetapi, hingga saat ini
masih terdapat pemberian antibiotik yang tidak rasional untuk kasus faringitis
akut. Salah satu penyebabnya adalah terdapat faringitis menjadi faringitis akut
Streptokokus memberikan antibiotik karena khawatir dengan salah satu
komplikasinya, berupa demma reumatik
Antibiotik pilihan pada terapi faringitis streptokokus grup A adalah penisilin V
oral 15-30 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis selama 10 hari atau benzatin penisiilin G
IM dosis tunggal dengan dosis 600.000 IU (BB<30 kg) dan 1.200.000 IU
(BB>30kg). Amoksisilin dapat digunakan sebagai pengganti penisilin pada ank
yang lebih kecil, karena selain efeknya sama, amoksisilin juga memilii rasa yang
lebih enak. Amoksisislin dengan dosis 50 mg/kgBB/hari dibagi 2 selama 6 hari,
efektivitasnya sama dengan Penisilin V oral selama10 hari. Untuk anak yang
alergi penisilin dapat diberikan eritromicin etil suksinat 40 mg/kgBB/hari,

26
eritromicin estolat 20-40mg/kgBB/hari dengan pemebrian 2,3, atau4 kali per hari
selama 10 hari atau dapat juga diberikan makrolid baru misalnya azitromisin
dengan dosis tunggal 10mg/kgBB/hari selam 3 hari berturut-turut. Antibiotik
golongan sefalosporin generasi I dan II dapat juga memberikan efek yang sama,
tetapi pemakaiannya tidak dianjurkan, karena selain mahal resiko resistensinya
juga lebih besar. (Rahajoe, 2013)

Tonsilektomi
Pembedahan elektif adenoid dan tonsil telah digunakan secara luas untuk
mengurangi frekuensi tonsilitis rekuren. Dasar ilmiah tindakan ini masih belum
jelas. Pengobatan dengan adenoidektomi dan tonsilektomi telah menurun dalam 2
dekade terakhir. Ukuran tonsl dan adenoid bukanlah indikator yang tepat.
biasanya dilakukan pada tonsilofaringitis berulang atau kronis. satunya adalah
kriteria Terdapat beberapa indikator klinis yang digunakan, salah atau lebih
episode digunakan Children's Hospital of Pittsburgh Study, yaitu: tujuh infeksi
tenggorokan yang diterapi dengan antibiotik pada tahun sebelumnya, lima atau
bih episode infeksi tenggorokan yang diterapi dengan antibiotik setiap tahun
selama 2 dan tiga atau lebih episode infeksi tenggorokan yang diterapi dengan
antibiotik setiap tahun selama 3 tahun sebelumnya. American Academy and and
Neck Surgery menetapkan terdapatnya tiga atau lebih episode yang diterapi dalam
setahun sebagai bukti yang cukup untuk melakukan Indikator klinis atas tidak
dapat diterapkan di Indonesia kan pemikiran lebih lanjut.

Komplikasi
Kejadian komplikasi pada faringitis akut virus sangat jarang. Beberapa kasus d
menjadi otitis media purulen Pada faringitis bakteri dan virus dapat ditemukan
komplikasi ulkus kronik yang cukup luas. Komplikasi faringitis bakteri terjadi
akibat perluasan langsung atau hematogen. Akibat perluasan langsung, faringitis
dapat berlanjut menjadi rinosinusitis otitis media, mastoiditis, adenit servikal,
retrofaringeal atau parafaringeal, atau pneumonia. Penyebaran hematogen
Streptokokus hemolitikus grup A dapat mengakibatkan meningitis, ostomielitis

27
atau artritis septik, sedangkan komplikasi nonsupuratif berupa demam reumatik
dan glomerulonefritis

28
BAB 4
PEMBAHASAN

4.1 Anamnesis
Pasien datang ke IGD RSUD Abdul Wahab Sjahranie pukul 22.00 malam
dengan keluhan kejang. Kejang sebanyak 1 kali dirasakan selama kurang lebih 5
menit. Keluhan dirasakan pertama kali, sebelumnya pasien belum pernah kejang.
Sebelum kejang pasien demam terlebih dahulu. Demam muncul saat malam hari
beberapa jam sebelum kejang. Orang tua merasa bahwa pasien demam tinggi
walaupun tidak diukur suhunya. Sebelumnya pasien demam, batuk dan pilek
sekitar 1 minggu yang lalu. Demam sudah tidak ada lagi, hanya tersisa batuk dan
pilek. Batuk berdahak hijau terjadi sepanjang hari disertai dengan ingus yang
berwana kuning kehijauan. Batuk dan pilek terutama saat malam hari dan cuaca
dingin. Nyeri menelan (-), sakit tenggorokan (-), mual muntah (-), sakit kepala (-),
sesak napas (-) suara mengorok (-). Penurunan nafsu makan (+).

29
Teori : Kasus :

Kejang (+) selam 5 menit


1. Kejang demam sederhana
Berhenti sendiri
Bentuk lurus dengan tangan dan kaki kaku
Kejang demam yang berlangsung singkat,
Tidak berulang dalam 24 jam
kurang dari 5 menit, dan umumnya akan
Batuk pilek (+)
berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum
Nyeri menelan (-),
tonik dan atau klonik, tanpa gerakan fokal.
sakit tenggorokan (-)
Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam.
mual muntah (-)
Kejang demam sederhana merupakan 80%
sakit kepala (-)
di antara seluruh kejang demam.
sesak napas (-)
suara mengorok (-)
2. Kejang demam kompleks
Penurunan nafsu makan (+)
Demam (+)
Kejang demam dengan salah satu ciri Kontak dengan penderita keluhan yang sama
berikut ini: (-)

1.Kejang lama > 15 menit

2.Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau


kejang umum didahului kejang parsial

3.Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24


jam

Kejang lama adalah kejang yang


berlangsung lebih dari 15 menit atau kejang
berulang lebih dari 2 kali dan di antara
bangkitan kejang anak tidak sadar. Kejang

30
lama terjadi pada 8% kejang demam.

Kejang fokal adalah kejang parsial satu sisi,


atau kejang umum yang didahului kejang
parsial.

Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau


lebih dalam 1 hari, di antara 2 bangkitan
kejang anak sadar. Kejang berulang terjadi
pada 16% di antara anak yang mengalami
kejang demam.

Tonsilitis
Gejala yang khas akibat bakteri
streptokokus berupa nyeri tenggorokan
dengan awitan mendadak, disfagia dan
demam. Urutan gejala yang biasanya
dikeluhkan oleh anak berusia diatas 2
tahun adalah nyeri kepala, nyeri perut
dan muntah. Selain itu juga didapatkan
demam yang dapt mencapai 40 C,
beberapa jam kemudian terdapat nyeri
tenggorok. Gejala seperti rinorea, sauar
serak, konjungtivitis dan diare
disebbakan oleh virus. Kontak dengan
pasien rinitis juga dapat ditemukan pada
anamnesis

31
4.2 Pemeriksaan Fisik
Teori Kasus
Pada pemeriksaan fisik perlu digali : Faring hiperemis
Kesadaran : apakah terdapat penurunan Demam
kesadaran, suhu tubuh : apakah terdapat demam Tonsil bengkak T2-T3
Tanda rangsang meningeal : kaku kuduK, Pseudomembran (+)
brudzinski I dan II, Kernig dan Laseque Membran putih asimetris (+)
Pemeriksaan nervus kranialis thoraks, abdomen dan ekstremitas
Tanda peningkatan tekanan intrakranial : dalam batas normal.
ubun-ubun besar (UUB) menonjol, papil edema Kaku kuduk (-), refleks fisiologis (-),
Tanda infeksi di luar SSP : ISPA, OMA, ISK dan refleks patologis (-)
lain-lain
Pemeriksaan neurologi : tonus, motorik, refleks
fisiologis dan refleks patologis.
Faringitis streptokokus sangat mungkin jika
dijumpai gejala dan tanda berikut
 awitan akut, disertai mual dan muntah
 faring hiperemis demam
 nyeri tenggorokan
 tonsil bengkak dengan eksudasi kelenjar
getah bening leher anterior bengkak dan
nyeri
 uvula bengkak dan merah
 eksoriasi hidung disertai lesi impetigo
sekunder
 ruam skarlatina
 petekie palatum mole.
Akan tetapi, penemuan tersebut bukan
merupakan tanda pasti faringitis Streptokokus,
karena dapat juga ditemukan pada penyebab
tonsilofaringitis yang lain. Sedangkan bila
dijumpai gejala dan tanda berikut ini, maka

32
kemungkinan besar bukan faringitis
streptokokus: usia di bawah 3 tahun awitan
bertahap kelainan melibatkan beberapa mukosa
konjuntivitis, diare, batuk, pilek, suara serak
mengi, ronki di paru eksantem ulseratif.
(Rahajoe, 2013)
Tanda khas faringitis difteri adalah membran
asimetris, mudah berdarah, dan berwarna kelabu
pada faring. Membran tersebut dapat meluas
dari batas anterior tonsil hngga ke mole dan/atau
ke uvula. Pada faringitis akibat virus dapat juga
ditemukan ulkus di palatum mole dan palatum
mole dan didinding faring serta eksudat
dipalatum dan tonsil, tetapi sulit dibedakan
dengan eksudat pada faringitis streptokokus.

33
4.3 Pemeriksaan Penunjang
Teori Kasus
Pemeriksaan Penunjang

- Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan Pemeriksaan Darah (3/02/2018)


3
secara rutin pada kejang demam, tetapi dapat Leukosit : 26.500/mm (Leukositosis)
Hb : 10,8 g/dL (menurun)
dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi Ht : 31,1 %
penyebab demam, atau keadaan lain misalnya Plt : 378.000/mm3

gastroenteritis dehidrasi disertai demam. Pemeriksaan swab tenggorok


Pemeriksaan laboratorium yang dapat Neisser I negatif
dikerjakan misalnya darah perifer, elektrolit dan Neisser II negatif
gula darah
- Pungsi lumbal Tidak ada indikasi untuk melakukan

- EEG pungsi lumbal, EEG dan radiologis.

- Foto

Tonsilitis : DL dan kultur

1.4 Diagnosis
Teori Kasus
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik Pasien didiagnosa sebagai Kejang
dan pemeriksaan penunjang, diagnosa Demam Sederhana + Tonsilitis Bakterial
pasien ini adalah Kejang Demam
Sederhana + Tonsilitis Bakterial

34
4.5 Penatalaksanaan
Teori Kasus

35
 IVFD D5 1/2 NS 950 cc/24 jam

untuk menghentikan kejang adalah  PCT 3x100mg


diazepam yang diberikan secara intravena.
 Diazepam 3x1,5mg pulv
Dosis diazepam intravena adalah 0,2-0,5
 Ij. Ceftriaxon 2 dd 400mg
mg/kg perlahan-lahan dengan kecepatan 2
mg/menit atau dalam waktu 3-5 menit,  Eritromicin 4 x 1/4 CTH

dengan dosis maksimal 10 mg. Obat yang


praktis dan dapat diberikan oleh orang tua
atau di rumah adalah diazepam rektal.
Dosis diazepam rektal adalah 0,5-0,75
mg/kg atau diazepam rektal 5 mg untuk
anak dengan berat badan kurang dari 10 kg
dan 10 mg untuk berat badan lebih dari 10
kg. Atau diazepam rektal dengan dosis 5
mg untuk anak dibawah usia 3 tahun atau
dosis 7,5 mg untuk anak di atas usia 3
tahun (lihat bagan penatalaksanaan kejang
demam). Bila setelah pemberian
diazepam rektal kejang belum berhenti,
dapat diulang lagi dengan cara dan dosis
yang sama dengan interval waktu 5 menit.
Bila setelah 2 kali pemberian diazepam
rektal masih tetap kejang, dianjurkan ke
rumah sakit. Di rumah sakit dapat
diberikan diazepam intravena dengan dosis
0,3-0,5 mg/kg. Bila kejang tetap belum
berhenti diberikan fenitoin secara intravena
dengan dosis awal 10-20 mg/kg/kali
dengan kecepatan 1 mg/kg/menit atau
kurang dari 50 mg/menit. Bila kejang
berhenti dosis selanjutnya adalah 4-8
mg/kg/hari, dimulai 12 jam setelah dosis

36
awal. Bila dengan fenitoin kejang belum
berhenti maka pasien harus dirawat di
ruang rawat intensif.

Bila kejang telah berhenti, pemberian obat


selanjutnya tergantung dari jenis kejang
demam apakah kejang demam sederhana
atau kompleks dan faktor risikonya.
Pemberian obat pada saat demam

Antipiretik : Dosis parasetamol yang


digunakan adalah 10 –15 mg/kg/kali
diberikan 4 kali sehari dan tidak lebih dari
5 kali. Dosis Ibuprofen 5-10 mg/ kg/kali
,3-4 kali sehari

Antikonvulsan : Pemakaian diazepam oral


dosis 0,3 mg/kg setiap 8 jam pada saat
demam menurunkan risiko berulangnya
kejang pada 30%- 60% kasus,
Fenobarbital, karbamazepin, dan fenitoin
pada saat demam tidak berguna untuk
mencegah kejang demam

Pemberian obat rumat

37
BAB 4
KESIMPULAN

Telah dilakukan pemeriksaan pada pasien anak perempuan usia 1 tahun 5


bulan yang didiagnosis dengan Kejang Demam Sederhana dan Tonsilitis
Bakterial berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang
didapatkan penegakkan diagnosis dan penatalaksanaan yang telah sesuai dengan
literatur yang mendukung pada kasus tersebut.

38
DAFTAR PUSTAKA

1. WHO. 2011. Buku Saku : Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit.


2. Rahajoe, Supriyatno, Setyanto 2013. Buku Ajar Respirologi Anak edisi kedua.
FK UI. IDAI. Indonesia
3. Ismael, dkk. 2016. Rekomendasi Penatalaksanaan Kejang Demam. IDAI.
Indonesia
4. Ismael, dkk. 2006. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. IDAI.
Indonesia

39