You are on page 1of 23

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAMILY FOLDER
Ray Sirvel
102012030

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang memberi gejala yang
berlanjut untuk suatu target organ, seperti stroke untuk otak, penyakit jantung koroner untuk
pembuluh darah jantung dan untuk otot jantung. Hipertensi atau sering disebut penyakit darah
tinggi adalah suatu keadaan dimana pembuluh darah kehilangan elastisitas (yang dosebabkan salah
satunya adalah oleh kondisi pembuluh darah yang sudah tua, kaku dan rapuh), sehingga
menyebabkan peningkatan tekanan darah pada pembuluh nadi atau arteri melebihi nilai normal.
Menurut WHO, seseorang dikatakan menderita hipertensi apabila tekanan darahnya lebih dari
140/90 mmHg. Penyakit ini telah menjadi masalah utama dalam kesehatan masyarakat yang ada
di Indonesia maupun di beberapa negara yang ada di dunia karena tekanan darah tinggi merupakan
penyebab kematian dan kesakitan yang tinggi. Darah tinggi sering diberi gelar The Silent Killer
karena hipertensi merupakan pembunuh tersembunyi. Diperkirakan sekitar 80 % kenaikan kasus
hipertensi terutama di negara berkembang tahun 2025 dari sejumlah 639 juta kasus di tahun 2000,
di perkirakan menjadi 1,15 milyar kasus di tahun 2025. Prediksi ini didasarkan pada angka
penderita hipertensi saat ini dan pertambahan penduduk saat ini.
Di Indonesia banyaknya penderita Hipertensi diperkirakan 15 juta orang tetapi hanya 4%
yang merupakan hipertensi terkontrol. Saat ini penyakit degeneratif dan kardiovaskuler sudah
merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Hasil survei kesehatan rumah
tangga (SKRT) tahun 1972, 1986, dan 1992 menunjukkan peningkatan prevalensi penyakit
kardiovaskuler yang menyolok sebagai penyebab kematian dan sejak tahun 1993 diduga sebagai
penyebab kematian nomor satu.

Hipertensi pada penderita penyakit jantung iskemik ialah 16,1%, suatu persentase yang
rendah bila dibandingkan dengan prevalensi seluruh populasi (33,3%), jadi merupakan faktor
risiko yang kurang penting. Juga kenaikan prevalensi dengan naiknya umur tidak dijumpai.
Golongan umur 45 tahun ke atas memerlukan tindakan atau program pencegahan yang terarah.
Tujuan program penanggulangan penyakit kardiovaskuler adalah mencegah peningkatan jumlah
penderita risiko penyakit kardiovaskuler dalam masyarakat dengan menghindari faktor penyebab
seperti hipertensi, diabetes, hiperlipidemia, merokok, stres, obesitas, riwayat keluarga dan lain-
lain

Faktor penyebab hipertensi 90% belum diketahui secara pasti, tapi berkaitan dengan gaya
hidup/ life style (pola makan tidak sehat, tingkat kesibukan yang sangat tinggi dan tingkat stress
tinggi, kurang istirahat dan olah raga).
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Diabetes Melitus (DM) adalah suatu penyakit yang mengakibatkan tidak seimbangnya
kemampuan tubuh menggunakan makanan secara efisien yang disebabkan oleh pankreas gagal
memproduksi insulin atau terjadi misfungsi tubuh yang tidak bisa menggunakan insulin secara
tepat. Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit kronik yang prevalensinya terus meningkat
setiap tahun . Jumlah penderita diabetes mellitus di Indonesia tahun 2000 mencapai 8,43 juta jiwa
dan diperkirakan mencapai 21,257 juta jiwa pada tahun 2030, bahkan saat ini prevalensi DM di
Indonesia menduduki urutan ke empat di dunia setelah India, China dan Amerika Serikat.
WHO memperkirakan sekitar 4 juta orang meninggal setiap tahun akibat komplikasi DM.
Berdasarkan data Departemen Kesehatan (DepKes) angka prevalensi penderita diabetes di
Indonesia pada tahun 2008 mencapai 5,7% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 12 juta
jiwa. Penyakit DM terdiri dari DM tipe 1 dan DM tipe 2. DM tipe 1 yaitu diabetes yang bergantung
pada insulin di mana tubuh kekurangan atau tidak diproduksinya hormon insulin sedangkan DM
tipe 2 yaitu keadaan di mana hormon insulin dalam tubuh tidak dapat berfungsi dengan
semestinya.1 Penyakit DM tipe 2 di Indonesia merupakan salah satu penyebab utama penyakit tak
menular atau sekitar 2,1% dari seluruh kematian.
Diperkirakan sekitar 90% kasus DM di seluruh dunia tergolong DM tipe 2. Jumlah
penderita DM tipe 2 semakin meningkat pada kelompok umur dewasa terutama umur > 30 tahun
dan pada seluruh status sosial ekonomi Obesitas terutama yang bersifat sentral merupakan salah
satu factor yang mempengaruhi timbulnya penyakit DM Tipe 2. Timbunan lemak yangberlebihan
di dalam tubuh dapat mengakibatkan resistensi insulin yang berpengaruh terhadap kadar gula
darah penderita diabetes mellitus.1

1.2 Masalah

Menurut penelitian epidemiologi yang sampai saat ini dilaksanakan di Indonesia,


kekerapan diabetes di Indonesia berkisar antara 1,4 dengan 1,6%. Pada tahun 2006, Departemen
Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bekerja sama dengan Bidang
Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan melakukan Surveilans Faktor Risiko
Penyakit Tidak Menular di Jakarta yang melibatkan 1591 subyek, terdiri dari 640 laki-laki dan 951
wanita. Survei tersebut melaporkan prevalensi DM di lima wilayah DKI Jakarta sebesar 12,1%
dengan DM yang terdeteksi sebesar 3,8% dan DM yang tidak terdeteksi sebesar 11,2%.
Berdasarkan data ini diketahui bahwa kejadian DM yang belum terdiagnosis masih cukup tinggi,
hampir 3x lipat dari jumlah kasus DM yang sudah terdeteksi.1

1.3 Tujuan

1. Mengetahui dan memahami tentang penyakit Diabetes Melitus baik penyebab dan
komplikasinya serta menerapkan prinsip-prinsip pelayanan kedokteran secara
komprehensif dan holistik dan peran aktif dari pasien dan keluarga.
2. Untuk memenuhi tugas Skill Lab Family Folder pada blok community medicine.
3. Meningkatkan kesadaran pasien dan keluarganya mengenai pentingnya kesehatan.
4. Memantau perkembangan penyakit pasien serta kepatuhan pasien menjalani terapi.
Serta memberikan penjelasan mengenai pentingnya minum obat untuk mencegah
kekambuhan penyakit.
5. Memberikan penyuluhan mengenai faktor faktor resiko untuk early diagnosis penyakit
pasien sehingga penanganannya lebih baik.
6. Menciptakan komunitas masyarakat yang sehat.
1.4 Metode

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data ini adalah metode observasi, yaitu dengan
melakukan kunjungan langsung ke rumah pasien dengan mendapat alamat dan data dasar dari
Puskesmas Jelambar II.

Bab II

Kunjungan Rumah

Puskesmas : Puskesmas Duri Kepa

Tanggal kunjungan rumah : 08 Juli 2019

Data riwayat keluarga :

I. Identitas pasien :
Nama : Lasmini

Umur : 61 tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Pendidikan : Sekolah Menengah Keatas (Tamat)

Alamat : Gg. Masjid RT. 03 / RW 08 Kelurahan Duri Kepa

Telepon : 081280650026

II. Riwayat biologis keluarga :


a. Keadaan kesehatan sekarang : Baik
b. Kebersihan perorangan : Baik. Terlihat rapih dan bersih, serta selalu
cuci tangan setiap sebelum makan
menggunakan sabun cuci tangan dan mandi
dua kali sehari.
c. Penyakit yang sering diderita : Hipertensi dan Kolesterol Tinggi
d. Penyakit keturunan : Tidak ada. Ayah bu Lasmini memiliki asma,
Suami memiliki penyakit jantung. Tetapi bu
Lasmini maupun anaknya tidak ada yang
memiliki riwayat asma maupun jantung.
e. Penyakit kronis/ menular : Tidak ada
f. Kecacatan anggota keluarga : Tidak ada
g. Pola makan : Kurang. Bu Lasmini mengatakan bahwa ia
hanya makan ketika merasa lapar sehingga
tidak teratur pola makan kesehariannya.
h. Pola istirahat : Baik. Bu Lasmini tidur cukup pada malam
hari dan beristirahat pada siang hari.
i. Jumlah anggota keluarga : 2 orang

III. Psikologis keluarga


a. Kebiasaan buruk : Sering makan kacang
b. Pengambilan keputusan : Bu Lasmini
c. Ketergantungan obat : Tidak ada
d. Tempat mencari pelayanan kesehatan: Posbindu RW 08 dan Puskesmas Duri Kepa
e. Pola rekreasi : Baik.

IV. Keadaan rumah/ lingkungan


a. Jenis bangunan : Permanen
b. Lantai rumah : Keramik
c. Luas rumah : +/- 60 x 20 m2
d. Penerangan : Kurang
e. Kebersihan : Sedang
f. Ventilasi : Sedang
g. Dapur : Ada
h. Jamban keluarga : Ada
i. Sumber air minum : Air Galon
j. Sumber pencemaran air : Tidak
k. Pemanfaatan pekarangan : Tidak
l. Sistem pembuangan air limbah : Ada
m. Tempat pembuangan sampah : Ada
n. Sanitasi lingkungan : Baik

V. Spiritual keluarga
a. Ketaatan beribadah : Baik
b. Keyakinan tentang kesehatan : Baik

VI. Keadaan sosial keluarga


a. Tingkat pendidikan : Sedang
b. Hubungan antar anggota keluarga : Baik
c. Hubungan dengan orang lain : Baik
d. Kegiatan organisasi sosial : Baik
e. Keadaan ekonomi : Sedang (Cukup)

VII. Kultural keluarga


a. Adat yang berpengaruh : Tidak ada
b. Lain-lain : Tidak ada

VIII. Anggota keluarga :


IX.
Nama1 Hub dgn Umu Pendidika Pekerjaan Agama Keadaan Keadaa Imunisas KB
1 KK r n kesehata n gizi i
n
1. Lasmini Kepala 61 SMA Ibu rumah Islam baik Baik - -
keluarga tahun tangga
2. Hamidah Anak 42 SMA Ibu rumah Islam baik - - -
tahun tangga

X. Keluhan utama :
Kepala pusing

XI. Keluhan tambahan :


Tidak bisa gerak tangannya

XII. Riwayat penyakit sekarang :


Bu Lasmini rutin melakukan pengecekan kesehatann di Posbindu setiap bulannya.
Pada pemeriksaan Posbindu Juni 2019, didapatkan hasil bahwa bu Lasmini memiliki
tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol yang tinggi. Bu Lasmini mengaku
mempunyai riwayat darah tinggi dan kadar kolesterol tinggi semenjak tahun 2016.
Selain itu Os mengaku kadang tegang pada daerah belakang leher tetapi tidak pernah
merasa pusing.
Dari pemeriksaan di Posbindu bulan Juni 2019, bu Lasmini diberikan obat untuk
darah tinggi dan kolesterolnya tetapi tidak diminum dikarenakan ditakutkan akan
kecanduan obat.

XIII. Riwayat penyakit dahulu :


Riwayat hipertensi sejak 2 tahun yang lalu

XIV. Pemeriksaan fisik :


Keadaan umum : Tampak Sehat

Kesadaran : Compos mentis

Tanda-tanda vital :

a. Tekanan darah : 140/85


b. Frekuensi nadi : 92 x/menit
c. Frekuensi napas : 24 x/menit
Pemeriksaan Fisik dan Penunjang :

Beberapa pemeriksaan yang dilakukan untuk diagnosis dan evaluasi adalah riwayat
penyakit, pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan fisik, laboratorium (darah, urin,
elektrolit, KGD, kolesterol dll.) dan pemeriksaan khusus (EKG, X-Ray thorax dll).

1. Pemeriksaan Tekanan Darah

Pengukuran tekanan darah dilakukan dengan menggunakan sphygmomanometer, dengan


lebar manset standar 12-14 cm, kemudian balutkan manset tersebut pada lengan atas, pada
pasien dengan posisi berbaring yang sebelumnya sudah istirahat sekitar 10 menit.
Penetapan tekanan darah adalah melalui auskultasi yang diletakkan diatas arteri pada
bagian distal mancet lengan atas. Kemudian tekanan dinaikkan sampai pada kolom air
raksa sphygmomanometer meninggi, kemudian turunkan perlahan-lahan sampai di dengar
5 bentuk / jenis suara korottkoff.

2. Pemeriksaan Umum / Fisik


Pemeriksaan fisik pada kepala bisa dijumpai adanya muka sembab pada mata, Moon face
pada wajah dan dilakukan juga pemeriksaan Funduscopy mata. Pada Leher dapat dijumpai
tekanan vena jugularis yang meningkat dan pembesaran kelenjar tiroid. Pada pemeriksaan
thorax dapat dijumpai adanya pembesaran jantung, suara tambahan atau desah, pada
auskultasi paru dapat dijumpai adanya krepitasi dan ronchi basah pada basis paru. Pada
abdomen dapat dijumpai hepatomegali, asites dan ballotement ginjal. Pada extremitas
dapat dijumpai adanya edema pretibial, retromaleolar dan kelemahan otot.
3. Pemeriksaan Laboratorium :
Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan rutin darah yang terdiri dari: Hb, lekosit
dan erytrosit dan urine yang terdiri dari: proteinuria, glukosuria, hematuria, pyuria dan
cylinderuria . Pemeriksaan penunjang darah meliputi: ureum, kreatinin, asam urat, lipid
profile, elektrolit dan kadar gula darah. Pemeriksaan penunjang urin meliputi: proteinuria
kwantitatif, excresi Na dan K, Vanyl mandelic acid (VMA) dan pemeriksaan mikrobiologis
atau pembiakan kuman
4. Pemeriksaan Khusus

1. Pemeriksaan E.K.G yaitu pemeriksaan untuk melihat keterlibatan jantung


2. Pemeriksaan radiologist meliputi: I.V.P biasa, Rapid sequence I.V.P, Arteriografi
ginjal, Isotop renografi dan X-foto toraks maupun tengkorak.
3. Pemeriksaan Biopsi ginjal dan histopatologi.
4. Pemeriksaan Biokemik yang meliputi: Catekolamin, Kortikosteroid, Aldosteron,
Renin, Dll
5. Pemeriksaan Funduscopy

XV. Diagnosis penyakit : - Hipertensi stadium II

XVI. Diagnosis keluarga : - Darah tinggi

XVII. Anjuran penatalaksanaan penyakit :


a. Promotif : menghimbau kepada pasien dan keluarga lain, agar dapat
menjalankan pola hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan yang sehat,
tidak tinggi kolesterol, menghindari rokok, melakukan olahraga ringan dan
mengurangi aktivitas yang berat dan menyita banyak pikiran.

b. Preventif : menjalankan pola atau gaya hidup yang sehat dengan


mengkonsumsi makanan yang tidak tinggi kandungan kolesterolnya,
mengurangi konsumsi kacang-kacangan, menghindari rokok, berolahraga
ringan, mengurangi aktivitas yang membutuhkan banyak pikiran, menghindari
stress, hindari makanan mengandung asam urat, membatasi aktivitas fisik.

c. Kuratif :
- Terapi medikamentosa :
Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja
tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar
penderita dapat bertambah kuat( Pengobata hipertensi umumnya perlu
dilakukan seumur hidup penderita. Pengobatan standar yang dianjurkan oleh
Komite Dokter Ahli Hipertensi ( Joint National Committee On Detection,
Evaluation And Treatment Of High Blood Pressure, Usa, 1988 ) menyimpulkan
bahwa obat diuretika, penyekat beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE
dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan
penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita. Pengobatannya meliputi :

 Diuretik: HCT 1-2 X 25 mg/ hari atau furosemid 1-2 X 40 mg/ hari.
Kontraindikasi: DM, Gout
 Beta bloker : Propanolol 2-3 X 10 mg / hari. Kontraindikasi : Asma, DM,
Gagal Jantung
 Adrenergik neuron bloker : Reserpin 1-3 X 0,1 mg . Kontraindikasi : ulkus
ventrikuli
 ACE-inhibitor: captopril 2-3 × 12,5-25 mg
 Dan lain-lain

d. Rehabilitatif : - Olahraga ringan dan istirahat cukup


- Pencegahan hipertensi dengan istirahat cukup tidak stress

XVIII. Prognosis
Penyakit : dubia ad bonam

Keluarga : bonam

Masyarakat : bonam

XVII. Resume dan Saran :

Dari hasil pemeriksaan saat kunjungan rumah pada tanggal 8 Juli 2014, didapatkan bahwa
pasien menderita hipertensi. Pasien berusia 56 tahun. Pasien memberi perhatian yang cukup baik
akan keadaan kesehatan dirinya dan anggota keluarganya. Pasien seorang tukang ojek memiliki 3
orang anak.

Rumah pasien tergolong kurang sehat tetapi dilihat dari ventilasi yang kurang . Penerangan
rumah kurang baik, rumah pasien berlantaikan semen. Di dalam rumah terdapat dapur dan 1 kamar.
Pasien dan keluarganya menggunakan air ledeng di sekitar rumahnya sebagai sumber air minum,
untuk mandi dan mencuci. Tidak terdapat pembuangan sistem pembuangan air limbah dan sampah
di depan rumah pasien. Rumah pasien tidak terdapat pekarangan yang dapat dimanfaatkan.
Terdapat satu kamar mandi yang digunakan bersama keluarganya.

Ditinjau dari spiritual keluarga keluarga pasien merupakan keluarga yang cukup taat
beribadah beragama Islam. Keluarga pasien juga keluarga merupakan yang sehat dan tidak
mengidap penyakit apapun baik yang diderita secara per orangan maupun yang memungkinkan
untuk diturunkan.

Saat ini kondisi pasien cukup baik. Selain pengobatan secara medis, untuk mencapai tingkat
kesehatan yang lebih optimal hendaknya didukung pula oleh kondisi rumah yang lebih sehat,
kebersihan diri yang lebih baik, cukupnya asupan gizi, serta mengontrol pola makan dan berolah
raga secara teratur.

TINJAUAN PUSTAKA

HIPERTENSI

A. Pendahuluan
Sampai saat ini hipertensi masih tetap menjadi masalah karena beberapa hal, antara lain
mneingkatnya prevalensi hipertensi, masih banyaknya pasien hipertensi yang belum
mendapat pengobatan maupun yang sudah diobati tetapi tekanan darahnya belum mencapai
target, serta adanya penyakit penyerta dan komplikasi yang dapat meningkatkan morbiditas
dan mortalitas.

B. Etiologi

Hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu :

1. Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya
2. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain

Hipertensi primer terdapat pada lebih dari 90% penderita hipertensi, sedangkan 10% sisanya
disebabkan oleh hipertensi sekunder. Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan
pasti penyebabnya, data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering
menyebabkan terjadinya hipertensi. Faktor tersebut adalah sebagai berikut :

a. Faktor keturunan

Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar
untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi.

b. Ciri perseorangan

Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah umur ( jika umur
bertambah maka TD meningkat ), jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan )
dan ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih ).

c. Kebiasaan hidup

Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah konsumsi garam
yang tinggi ( melebihi dari 30 gr ), kegemukan atau makan berlebihan, stress dan
pengaruh lain misalnya merokok, minum alcohol, minum obat-obatan ( ephedrine,
prednison, epineprin )

C. Epidemiologi
Data epidemiologi menunjukkan bahwa dengan makin meningkatnya populsi usia lanjut,
maka jumlah pasien dengan hipertensi kemungkinan besar juga bertambah, dimana baik
hipertensi sistolik maupu n kombinasi hipertensi sistolik dan diastolic sering timbul pada
lebih dari separuh orang yang berusia > 65 tahun. Selain itu laju pengendalian tekanan
darah yang dahulu terus meningkat, dalam decade terakhir tidak menunjukkan kemajuan
lagi dan pengendalian tekanan darah ini hanya mencapai 34 % dari seluruh pasien
hipertensi. Sampai saat ini data hipertensi yang lengkap sebagian besar berasal dari Negara-
negara yang sudah maju. Data dari The National Health and Nutrition Examination Survey
(NHNES) menunjukkan bahwa dari tahun 1999-2000, insidens hipertensi pada orang
dewasa adalah sekitar 29-31 % yang berarti terdapat 58-65 juta orang hipertensi di
Amerika, dan terjadi peningkatan 15 juta dari data NHANES III tahun 1988-1991.

D. Definisi

Suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas


normal yang mengakibatkan peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka
kematian (mortalitas).Penulisan tekanan darah (contoh: 120/80 mmHg) didasarkan pada
dua fase dalam setiap denyut jantung.

Hipertensi adalah tekanan sistolik >140 mmHg dan tekanan diastolik >90 mmHg
secara kronik. Berdasarkan penyebabnya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan, yaitu:

1. Hipertensi essensial/primer. Jenis hipertensi yang penyebabnya masih belum dapat


diketahui. disebut juga hipertensi idiopatik. Sekitar 90% penderita hipertensi menderita
jenis hipertensi ini. Oleh karena itu, penelitian dan pengobatan lebih banyak ditujukan
bagi penderita hipertensi essensial ini.
2. Hipertensi sekunder atau hipertensi renal. Jenis hipertensi yang menjadi penyebabnya
dapat diketahui, sering disebut hipertensi renal karena kelainan ginjal menjadi penyebab
tersering. Penyebab hipertensi sekunder ini antara lain kelainan pada pembuluh darah
ginjal, gangguan kelenjar tiroid, atau penyekit kelenjar adrenal.Terdapat pada sekitar
5% kasus. Penyebab spesifiknya diketahui seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal,
hipertensi vaskular renal, hiperaldosteronisme primer dan sindrom Cushing,
feokromositoma, koarktasio aorta, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan dan
lain-lain.

Tabel I. Klasifikasi tekanan darah untuk dewasa diatas 18 tahun

Klasifikasi Tekanan Darah Tekanan Sistolik dan Diastolik


(mmHg)

Normal <120 dan <80


Prehipertensi 120-139 atau 80-89

Hipertensi 140-159 atau 90-99


Stadium I

Hipertensi >160 atau >100


Stadium II

 Sumber JNC VII 2003 JNC 7 (the Seventh US National Committee on Prevention,
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure)

BATASAN

Menurut WHO (1978), batasan tekanan darah yang masih dianggap normal adalah
140/90 mmHg dan tekanan darah sama dengan atau diatas 160/95 mmHg dinyatakan
sebagai hipertensi. Tekanan darah di antara normotensi dan hipertensi disebut borderline
hypertension. Batasan tersebut tidak membedakan usia dan jenis kelamin sedangkan
batasan hipertensi yang memperhatikan perbedaan usia dan jenis kelamin diajukan oleh
kaplan (1985) sebagai berikut: pria yang berusia <45 dinyatakan hipertensi jika tekanan
darah pada waktu berbaring 130/90 mmHg atau lebih, sedangkan yang berusia >45
dinyatakan hipertensi jika tekanan darahnya 145/95 mmHg atau lebih. Wanita yang
mempunyai tekanan darah 160/95 mmHg atau lebih dinyatakan hipertensi.

The Sixth Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection,


Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (1997) mendefinisikan hipertensi
sebagai tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih atau tekanan darah diastolik 90
mmHg atau lebih atau sedang dalam pengobatan antihipertensi.

E. Patogenesis
Hipertensi esensial adalah multifaktorial yang timbul terutama karena interaksi antara
faktor-faktor resiko tertentu. Faktor-faktor resiko yang mendorong timbulnya kenailan
tekanan darah tersebut adalah :
1. Faktor resiko, seperti: diet dan asupan garam, stress, ras, obesitas, merokok dan
genetis
2. System saraf simpatis
 Tonus simpatis
 Variasi diurnal
3. Keseimbangan antara modulator vasodilatasi dan vasokonstriksi : endotel
pembuluh darah berperan utama, tetapi remodeling dari endotel, otot polos dan
interstitium juga memberikan kontribusi akhir
4. Pengaruh system otokrin setempat yang berperan pada system rennin, angiotensin
dan aldosteron.

F. Kerusakan Organ Target


Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Kerusakan organ-organ target yang umum ditemui pada pasien hipertensi adalah
:

1. Jantung
 Hipertrofi ventrikel kiri
 Angina atau infark miokardium
 Gagal jantung
2. Otak
 Stroke atau transient ischemic attack
3. Penyakit ginjal kronis
4. Penyakit arteri perifer
5. Retinopati

Beberapa penelitian menemukan bahwa penyebab kerusakn organ-organ tersebut dapat


melalui akibat langsung dari kenaikan tekanan darah pada organ, atau karena efek tidak
langsung , antara lain adanya autoantibodi terhadap reseptor ATI angiotension II, stress
oksidatif, down regulation dari ekspresi nitric oxide synthase. Penelitian lain juga
membuktikan bahwa diet tinggi garam dan sensitivitas terhadap garam berperan besar
dalam timbulnya kerusakan organ target, misalnya kerusakan pembuluh darah akibat
meningkatnya ekspresi transforming growth factor-β (TGF-β).
Adanya kerusakan organ target terutama pada jantung dan pembuluh darah, akan
memperburuk prognosis pasien hipertensi. Tingginya morbidaitas dan mortalitas pasien
hipertensi terutama disebabkan oleh timbulnya penyakit kardiovaskular.

Faktor resiko penyakit kardiovaskular pada pasien hipertensi antara adalah :

 Merokok
 Obesitas
 Kurangnya aktivitas fisik
 Dislipidimia
 Diabetes mellitus
 Mikroalbiminuria
 Umur (laki-laki) > 55 tahun, perempuan 65 tahun
 Riwayat keluarga dengan penyakit jantung kardiovaskular premature

Pasien dengan pra-hipertensi beresiko mengalami peningkatan tekanan darah menjadi


hipertensi, mreka yang tekanan darahnya berkisar antara 130-139/80-89 mmHg dalam
sepanjang hidupnya akan mengalami dua kali resiko menjadi hipertensi dan mengalami
kardiovaskular daripada yang tekanan darahnya lebih rendah.

Pada orang yang berumur lebih dari 59 tahun, tekanan darah sistolik > 140 mmHg
merupakan faktor resiko yang lebih penting untuk terjadinya penyakit kardiovaskular
daripada tekanan darah diastolik :

 Resiko penyakit kardiovaskular dimulai pada tekanan darah 115/75 mmHg


meningkat dua kali dengan tiap kenaikan 20/10 mmHg
 Resiko penyakit kardiovaskular bersifat kontinyu, konsisten dan independen dari
faktor resiko lainnya
 Individu berumur 55 tahun memiliki 90% resiko untuk mengalami hipertensi

G. Evaluasi Hipertensi
Evaluasi pada pasien hipertensi bertujuan untuk :
1. Menilai pola hidup dan identifikasi faktor-faktor resiko kardiovaskular lainnya atau
menilai adanya penyakit penyerta yang mempengaruhi prognosis dan menentukan
pengobatan
2. Mencari penyebab kenaikan tekanan darah
3. Menentukan ada tidakanya kerusakan target organ dan penyakit kardiovaskular

Evaluasi pasien hipertensi adalah dengan melakukan anamnesis tentang keluhan pasien,
riwayat penyakit dahulu dan penyakit keluarga, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan
penunjang.

Anamnesis meliputi :

1. Lama menderita hipertensi dan derajat tekanan darah


2. Indikasi adanya hipertensi sekunder
a) Keluarga dengan riwayat penyakit ginjal
b) Adanya penyakit ginjal, infeksi saluran kemih, hematuri, pemakian obat-
obat analgesic
c) Episode berkeringat, sakit kepala, kecemasan, palpitasi (feokromositoma)
d) Episode lemah otot dan tetani (aldosteronisme)
3. Faktor-faktor resiko :
a) Riwayat hipertensi atau kardiovaskular pada pasien atau keluarga pasien
b) Riwayat hiperlipidemia pada pasien atau keluarga pasien
c) Riwayat diabetes mellitus pada pasien atau keluarga pasien
d) Kebiasaan merokok
e) Pola makan
f) Kegemukan, intensitas olahraga
g) Kepribadian
4. Gejala kerusakan organ
a) Otak dan mata : sakit kepala, vertigo, gangguan penglihatan, transient
ischemic attack, deficit sensoris atau motoris
b) Jantung : nyeri dada, sesak, bengkak kai
c) Ginjal : haus, poliuria, nokturia, hematuri
d) Arteri perifer : ekstremitas dingin
5. Pengobatan antihipertensi sebelumnya
6. Faktor-faktor pribadi, keluarga dam lingkungan.

Pemeriksaan fisik selain memeriksa tekanan darah, juga untuk evaluasi adanya penyakit
penyerta, kerusakan organ target serta kemungkinan adanya hipertensi sekunder.

Pengukuran tekana darah :

 Pengukuran rutin di kamar periksa


 Pengukuran 24 jam (Ambulatory Blood Pressure Monitoring-ABPM)
 Pengukuran sendiri oleh pasien

Pemeriksaan penunjang pasien hipertensi terdiri dari :

 Tes darah rutin


 Gluukosa darah
 Kolesterol total serum
 Kolesterol LDL dan HDL serum
 Trigliserida serum
 Asam urat serum
 Kreatinin serum
 Kalium serum
 Hemoglobin dan hematokrit
 Urinalisis
 Elektrokardiogram

Evaluasi pasien hipertensi juga diperlukan untuk menentukan adanya penyakit penyerta
sistemik, yaitu :

 Arteriosklerosis (malalui pemerikasaan profil lemak)


 Diabetes (terutama pemerikasaan gula darah)
 Fungsi ginjal (dengan pemeriksaan proteinuria, kreatinin serum, serta
memperkirakan laju filtrasi glomerulus)
Pada pasien hipertensi, beberapa pemeriksaan untuk menentukan kerusakan organ target
dapat dilakukan secara rutin, sedangkan pemeriksaan lainnya hanya dilakukan bila ada
kecurigaan yang didukung oleh keluhan dan gejala pasien. Pemeriksaan untuk
mengevaluasi adanya kerusakan organ target meliputi :

1. Jantung
 Pemeriksaan fisis
 Foto polos dada (untuk pembesaran jantung, kondisi arteri intratoraks dan
sirkulasi pulmoner)
 Elektrokardiografi (untuk deteksi iskemia, gangguan konduksi, aritmia,
serta hipertrofi ventrikel kiri)
 Ekokardiografi
2. Pembuluh darah
 Pemeriksaan fisis termasuk perhitungan pulse pressure
 Ultrasonografi (USG) karotis
 Fungsi endotel
3. Otak
 Pemeriksaan neurologis
 Diagnosis stroke ditegakkan dengan menggunakan cranial computed
tomography (CT) scan atau magnetic resonance imaging (MRI) (untuk
pasien dengan gangguan neural, kehilangan memori atau gangguan
kognitif)
4. Mata
 Funduskopi
5. Fungsi ginjal
 Pemeriksaan fungsi ginjal dan penentuan adanya proteinuria/mikro-
makroalbuminuria serta rasio albumin kreatinin urin
 Perkiraan laju filtrasi glomerulus

H. Pengobatan
Pengobatan hipertensi terdiri dari terapi nonfarmakologis dan farmakologis. Terapi
nonfarmakologis harus dilaksnakan oleh semua pasien hipertensi dengan tujuan
menurunkan tekanan darah dan mengendalikan faktor-faktor resiko serta penyakit
pemyerta lainnya.

Terapi nonfarmakologis terdiri dari :

 Menghentikan merokok
 Menurunkan berat badan berlebih
 Menurunkan konsumsi alcohol berlebih
 Latihan fisik
 Menurunkan asupan garam
 Meningkatkan konsumsi buah dan sayur serta menurunkan asupan lemak

Jenis-jenis obat antihipertensi untuk terapi farmaklogis hipertensi diantaranya :

 Diuretika, terutama jenis Thiazide (thiaz) atau Aldosterone Antagonist (Aldo Ant)
 Beta Blocker (BB)
 Calcium Channel Blocker atau Calcium Antagonist (CCB)
 Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI)
 Angiotensin II Receptor Blocker atau AT1 receptor antagonist/blocker (ARB)
 Direct renin inhibitor (DRI)

Masing-masing obat antihipertensi memiliki efektivitas dan keamanan dalam pengobatan


hipertensi, tetapi pemilihan obat antihipertensi juga dipengaruhi beberapa faktor yaitu:

 Faktor sosial ekonomi


 Profil faktor resiko kardiovaskular
 Ada tidaknya kerusakan organ target
 Ada tidaknya penyakit penyerta
 Variasi individu dari respon pasien terhadap obat antihipertensi
 Kemungkinan adanya interaksi dengan obat yang gunakan pasien untuk penyakit
lain
 Bukti ilmiah kemampuan obat antihipertensi yang akan digunakan dalam
menurunkan resiko kardiovaskular

Untuk sebagian besar pasien hipertensi, terapi dimulai secara bertahap, dan target tekanan
darah dicapai secara progresif dalam beberapa minggu. Dianjurkan untuk menggunakan
obat antihipertensi dengan masa kerja panjang atau yang memberikan efikasi 24 jam
dengan pemberian sekali sehari. Pilihan apakah memulai terapi dengan satu jenis obat
antihipertensi atau dengan kombinasi tergantung pada tekanan darah awal dan ada tidkanya
komplikasi. Jika terapi dimulai dengan satu jenis obat dan dalam dosis rendah dan
kemudian tekanan darah belum mencapai target maka selanjutnya adalah meningkatkan
dosis obat tersebut, atau berpindah ke antihipertensi lain dengan dosis rendah. Efek
samping umumnya bisa dihindari dengan menggunakan dosis rendah, baik tunggal maupun
kombinasi. Sebagian besar pasien memerlukan kombinasi obat antihipertensi untuk
mencapai target tekanan darah, tetapi terapi kombinasi dapat meningkatkan biaya
pengobatan dan menurunkan kepatuhan pasien karena jumlah obat yang harus diminum
bertambah.

Kombinasi yang telah terbukti efektif dan dapat ditoleransi pasien adalah :

 CCB dan BB
 CCB dan ACEI atau ARB
 CCB dan diuretika
 AB dan BB
 Kadang diperlukan tiga atau empat kombinasi obat

I. Pemantauan
Pasien yang telah mulai mendapat pengobatan harus datang kembali untuk evaluasi
lanjutan dan pengaturan dosis obat sampai target tekanan darah tercapai. Setelah tekanan
darah tercapai dn stabil, kunjungan berikutnya dengan interval 3-6 bulan tetapi frekuensi
kunjungan ini juga ditentukan oleh ada tidaknya kormoditas seperti gagal jantung, penyakit
yang berhubungan seperti diabetes dan kenutuhan akan pemeriksaan laboratorium.
Strategi untuk meningkatkan kepatuhan pada pengobatan :
 Empati dokter akan meningkatkan kepercayaan, motivasi dan kepatuhan pasien
 Dokter harus mempertimbangkan latarbalakang budaya kepercayaan pasien serta
sikap pasien terhadap pengobatan
 Pasien diberitahu hasil pengukuran tekanan darah, target yang masih harus
dicapai, rencana pengobatan selanjutnya serta pentingnya mengikuti rencana
tersebut.

Penyebab hipertensi resisten :

1. Pengukuran tekanan darah yang tidak benar


2. Dosis belum memadai
3. Ketidakpatuhan pasien dalam penggunan obat antihipertesni
4. Ketidakpatuhan pasien dalam memperbaiki pola hidup
 Asupan alcohol berlebih
 Kenaikan berat badan berlebih
5. Kelebihan volume cairan
 Asupan garam berlebih
 Terapi diuretika tidak cukup
 Penurunan fungsi ginjal berjalan progresif
6. Adanya terapi lain
 Masih menggunakan bahan/obat lain yang meningkatkan tekanan darah
 Adanya obat lain yang mempengaruhi atau berinteraksi dengan kerja obat
antihipertensi
7. Adanya oernyebab hipertensi lain/sekunder

Jiak dalam 6 bulan target pengobatan (termasuk target tekanan darah) tidak tercapai, harus
dipertimbangkan untuk melakukan rujukan ke dokter spesialis atau subspesialis.

Pengobatan antihipertensi umumnya untuk selama hidup. Penghentian pengobatan cepat


atau lambat akan diikuti dengan naiknya tekanan darah sampai seperti sebelum dimulai
pengobatan antihipertensi. Walaupun demikian untuk menurunkan dosis dan jumlah obat
antihipertensi secara bertahap bagi pasien yang diagnosis hipertensinya sudah pasti serta
tetap patuh terhadap pengobatan nonfarmakologis. Tindakan ini harus disertai dengan
pengawasan tekanan darah yang ketat.

Lampiran ( Foto keadaan lingkungan lingkungan pasien ) :