You are on page 1of 3

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/327690708

C-reactive protein (CRP) Vs high-sensitivity CRP (hs-CRP)

Article · September 2018

CITATIONS READS
0 1,604

1 author:

Yunika puspa dewi


Siloam Hospitals Yogyakarta
20 PUBLICATIONS   4 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Micronutrients View project

All content following this page was uploaded by Yunika puspa dewi on 17 September 2018.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


C-reactive protein (CRP) Vs high-sensitivity CRP (hs-CRP)
Yunika Puspa Dewi

Permintaan pemeriksaan laboratorium C-reactive protein (CRP) dan high-sensitivity CRP


(hs-CRP) semakin banyak dalam praktek klinis. Sayangnya, masih banyak kesalahan persepsi
mengenai kedua jenis parameter tersebut.

C-reactive protein merupakan molekul polipeptida dari kelompok pentraxins yang


merupakan protein fase akut. CRP diproduksi di hati dan produksinya dikontrol oleh sitokin
khususnya interleukin-6.1 CRP meningkat 4-6 jam setelah stimulus; konsentrasinya meningkat 2
kali lipat setiap 8 jam; dan mencapai puncak dalam 36-50 jam. Waktu paruh CRP 19 jam sehingga
bahkan dengan hanya 1 stimulus membutuhkan beberapa hari untuk kembali ke kadar awal.
Walaupun termasuk protein fase akut, kadar CRP juga berubah selama proses inflamasi kronis.2

Pengukuran kadar CRP menggunakan immunoassays, kebanyakan dengan teknik


immunoturbidimetric dan nephelometric. Secara umum, batas terendah deteksi teknik ini antara 3
sampai 5 mg/L. Pada pertengahan 1990an, teknik pengukuran CRP yang lebih sensitif
dikembangkan menggunakan ultrasensitive ELISA atau particle - enhanced techniques dan diberi
nama “high-sensitivity” atau “highly sensitive” CRP. Secara umum, batas deteksi teknik ini adalah
0.3 mg/L dengan batas kuantifikasi pada kadar 0.11 sampai 0.31 mg/L. Secara sederhana dapat
disimpulkan hs-CRP dapat mengukur kadar CRP yang rendah pada orang sehat.3,4,5

Penelitian selama 4 dekade terakhir menunjukan secara konsisten kadar CRP mengikuti
distribusi non-Gaussian yang condong ke satu sisi dan tidak ada batas yang jelas antara kadar CRP
normal dan abnormal. Hal ini menyebabkan definisi kadar CRP normal pada tingkat populasi sulit
ditentukan. Kadar CRP dipengaruhi oleh jenis kelamin, usia, etnis, polimorfisme genetika dan lain-
lain. Stimulus inflamasi ringan seperti asap rokok, polusi udara dan konsumsi esterogen juga
mempengaruhi kadar CRP.1

Reference interval CRP pada orang dewasa berdasarkan konsensus adalah <5 mg/L. Secara
umum, inflamasi ringan dan infeksi virus menyebabkan kadar CRP meningkat antara 10 sampai
40 mg/L, sedangkan inflamasi yang lebih berat dan infeksi bakteri menyebabkan kadar CRP
meningkat antara 40 sampai 200 mg/L.1,2,6

Penelitian epidemiologi menunjukan kadar CRP sedikit meningkat pada sebagian besar
populasi, berhubungan dengan berbagai macam gaya hidup dan penyakit yang berhubungan
dengan risiko terjadinya aterosklerosis.1 Berdasarkan hal ini, hs-CRP digunakan sebagai penanda
untuk menilai risiko penyakit kardiovaskular.4 American Heart Association (AHA) dan Centers
for Disease Control and Prevention (CDC) membuat beberapa rekomendasi mengenai
penggunanaan hs-CRP untuk menilai risiko penyakit kardiovaskular. Hs-CRP merupakan penanda
independen dari risiko penyakit kardiovaskular. Pemeriksaan hs-CRP sebaiknya dilakukan pada
orang dengan metabolisme yang stabil tanpa gejala inflamasi atau infeksi dan dibandingkan
dengan kadar sebelumnya. Penilaian risiko penyakit kardiovaskular idealnya menggunakan rata-
rata 2 kali pemeriksaan dengan jangka waktu antar pemeriksaan 2 minggu. Screening seluruh
populasi dewasa menggunakan hs-CRP tidak direkomendasikan dan hs-CRP bukan pengganti
faktor risiko tradional penyakit kardiovaskular.5,7

Kesimpulannya, CRP dan hs-CRP merupakan molekul yang sama. Perbedaan antara CRP
dan hs-CRP adalah pada sensitivitas analitiknya dimana hs-CRP dapat mengukur kadar CRP yang
sangat rendah sehingga dapat digunakan sebagai penanda inflamasi kronis. Inflamasi kronis
merupakan salah satu risiko penyakit kardiovaskular sehingga hs-CRP banyak digunakan sebagai
penanda risiko penyakit kardiovaskular. CRP dengan sensitivitas analitik terbatas hanya dapat
mengukur kadar CRP yang tinggi sehingga banyak digunakan sebagai penanda inflamasi akut.

Daftar pustaka

1. Irving K, David S, Marina M. A unifying biologic explanation for “high-sensitivity” C-


reactive protein and “low-grade” inflammation. Arthritis Care and Research.
2010;62(4):442–6.

2. Fonseca LAM, Sumita NM, Duarte NJC, Lichtenstein A, Duarte AJS. C-reactive protein :
clinical applications and proposals for a rational use ☆. Rev Assoc Med Bras [Internet].
2013;59(1):85–92. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/S2255-4823(13)70434-X

3. Moutachakkir M, Hanchi AL, Baraou A, Boukhira A, Chellak S. John Libbey Eurotext -


Annales de Biologie Clinique - Immunoanalytical characteristics of C-reactive protein and
high sensitivity C-reactive protein. JLE. 2017;75(2):225–9.

4. Yucel D. C-Reactive Protein vs. High - Sensitivity C - Reactive Protein: What is the
Difference? Turkish Journal of Biochemistry [Internet]. 2014;39(1):43–4. Available from:
http://www.journalagent.com/z4/download_fulltext.asp?pdir=tjb&plng=eng&un=TJB-
92408

5. Knight ML. The Application of High-Sensitivity C-Reactive Protein in Clinical Practice.


US Pharm. 2015;40(2):50–4.

6. Heil W, Ehrhardt V. Reference Ranges for Adults and Children: Pre-Analytical


Considerations. 9th ed. Mannheim: Roche Diagnostic Ltd; 2008.

7. Cleveland Clinic laboratories. High Sensitivity C-Reactive Protein (hs-CRP). Vol. 12.
Cleveland Clinic; 2004. p. 1–4.

View publication stats