Вы находитесь на странице: 1из 8

KAJIAN PUSTAKA : PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN

TUBERCULOSIS DENGAN MEDIA AUDIOVISUAL PADA KADER

Vita Dwi Futmasari1, Laily Fatmalasari1, Ledwi Wisi1, Sri Jati Permata1, Nur
Muslimah1, Nurul Nginayati1, Ovi Andini1, Putri Wulandari1, Ria Surianti1,
Ridawati1, Rina Budi1, Rina Yunita1
1
Mahasiswa Profesi Ners, Jurusan Keperawatan, Poltekkes Kemenkes Semarang
vitafutmasari25@gmail.com

Abstrak
Latar belakang : Tuberculosis dikenal salah satu Reemerging Disease karena
menimbulkan berbagai komplikasi organ dengan penyebab berasal dari gaya hidup tidak
sehat. Jutaan orang meninggal dan tertular tuberkulosis setiap tahunnya sehingga beban
tanggungan pembiayaan kesehatan semakin meningkat. Penularan Tuberculosis dapat
dicegah dengan media edukasi melalui video yang dapat meningkatkan pengetahuan klien
dan kader sebagai tokoh masyarakat dalam kesehatan.
Tujuan : Secara sistematis meninjau studi yang berkaitan dengan pengaruh pendidikan
kesehatan tuberculosis dengan media audiovisual.
Metode : Kajian pustaka telah dilakukan melalui database jurnal database jurnal Proquest,
PubMed, EBSCO, Ovid dalam rentang waktu 5 tahun terakhir. Kata kunci yang digunakan
yaitu health education AND audiovisual AND tuberculosis. Kriteria inklusi yang
ditetapkan adalah artikel yang dipublikasikan dalam rentang 5 tahun terakhir, tipe artikel
clinical trial, journal article, randomized controlled trial, human, english languange,
academic journal, original article, tersedia free full text, tipe file pdf. Kriteria eksklusinya
adalah artikel yang berfitur selain audiovisual seperti leaflet atau booklet dalam bentuk
kertas.
Hasil : Data dianalisis berisi judul, penulis, tahun, metodologi, dan hasil. Peneliti
mengidentifikasi 11.068 judul tanpa duplikasi dan disaring menjadi 2 artikel yang
membahas pengaruh pendidikan kesehatan tuberculosis dengan media audiovisual. Hasil
penelitian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku
kepatuhan klien terhadap pengobatan. Media audiovisual efektif meningkatkan motivasi,
pengetahuan pada klien maupun masyarakat pada umumnya. Media ini praktis dan
menarik melalui video edukasi. Pengembangan media ini mendukung program penyakit
menular di fasilitas layanan kesehatan primer.
Simpulan : Media audiovisual dapat meningkatkan pengetahuan pada kader sebagai upaya
preventif maupun promotif yang mendukung program pengendalian penyakit menular di
fasilitas layanan kesehatan primer melalui tokoh masyarakat di lingkungan terdekat klien
dengan Tuberculosis.

Kata kunci : audiovisual, pendidikan kesehatan, tuberculosis


LATAR BELAKANG
Tuberkulosis atau yang sering disebut TB hingga saat ini masih menjadi masalah
kesehatan yang utama di dunia dan juga di Indonesia dan belum ada satu negara pun yang
bebas dari TB. Jutaan orang meninggal dan tertular tuberkulosis setiap tahunnya. Bahkan
negara maju sekalipun, pada mulanya kejadian TB yang telah menurun belakangan ini naik
kembali sehingga TB disebut salah satu Reemerging Disease. Kebanyakan TB menyerang
paru, namun dapat menyerang organ lain. TB paru sampai saat ini masih menjadi masalah
utama kesehatan masyarakat dan secara global masih menjadi masalah kesehatan global
disemua negara (Kemenkes RI, 2014).
Indonesia merupakan negara dengan kasus TBC tertinggi nomor dua di dunia.
Kasus TBC pun tak kunjung menurun. Jumlah penderita TBC dengan jenis kelamin laki-
laki lebih tinggi daripada penderita perempuan dan penderita di daerah pedesaan berjumlah
lebih sedikit dibandingkan di daerah perkotaan dengan penderita TBC lebih banyak. Kasus
TBC ini belum seluruhnya terdeteksi, dan belum semuanya juga terobati (WHO, 2018).
Pada tahun 2017, Indonesia memiliki kasus TBC dengan jumlah sebesar 420.994 kasus.
Data tersebut terlihat bahwa penderita TBC laki-laki berjumlah lebih banyak daripada
penderita TBC perempuan. Alasannya kemungkinan besar karena banyak laki-laki yang
merokok dan perempuan lebih patuh dan teliti dalam hal minum obat. Menurut data tahun
2016 sesuai dengan rating kasus TBC tertinggi se-Jawa Tengah diperoleh oleh kota
Magelang dengan jumlah kasus 791/100.00 penduduk yang ada. Data yang diperoleh
tersebut menunjukkan peningkatan dari tahun 2015 ke tahun 2016 (Dinkes Jawa Tengah,
2017). Dari data yang diperoleh di tahun 2017, Kota Semarang memiliki kasus TBC
dengan jumlah sebanyak 3.882 kasus. Sesuai dengan data tersebut terlihat bahwa banyak
penderita TBC yang berada direntang usia berusia remaja hingga dewasa muda.
Kemudian, lebih dari 50% penderita laki-laki, kemungkinan karena kurangnya memelihara
kesehatan tubuh (Dinkes Kota Semarang, 2018).
TBC Paru (untuk selanjutnya disebut TBC) adalah penyakit yang disebabkan oleh
bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Tuberkulosis paru (TB paru) adalah penyakit
infeksius yang menyerang parenkim paru dan juga dapat ditularkan ke bagian tubuh
lainnya, termasuk meningens, ginjal, tulang dan nodus limfe. Pengetahuan keluarga TB
paru akan berakibat pada sikap keluarga tersebut untuk menjaga dirinya tidak terkena TB
paru. Sikap tersebut akan mempengaruhi perilaku seseorang untuk berperilaku hidup sehat
dan menjaga kebersihan lingkungan agar dapat terhindar dari penyakit TB paru. Faktor
lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan, merupakan sumber penularan berbagai
jenis penyakit termasuk TB paru (Kemenkes RI, 2014).
Penularan TB paru dapat dicegah melalui beberapa program penanggulangan TB.
Program penanggulangan Tuberculosis yang dibuat oleh Depkes RI di bidang promotif
adalah dengan penyuluhan kesehatan. Penyuluhan dilaksanakan dengan menyampaikan
pesan penting tentang tuberculosis secara langsung ataupun menggunakan media.
Pengelompokan media berdasarkan perkembangan teknologi dibagi menjadi media cetak,
audiovisual dan komputer. Audiovisual merupakan salah satu media yang menyajikan
informasi atau pesan secara audiovisual. Dalam rangka menekan angka kejadian TB maka
tindakan pencegahan penyakit perlu dilakukan, salah satu tindakan pencegahan adalah
dengan pendidikan kesehatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang
pentingnya kesehatan. Pendidikan kesehatan agar hasilnya baik diperlukan media
pendidikan. Media audiovisual dianggap lebih baik dari media yang lain. Media
audiovisual dianggap lebih menarik, karena menggabungkan audio, visual, animasi
sehingga peserta akan lebih mudah memahami dan tidak membosankan dan bersifat lebih
dinamik (Brown, 2011).
Program penanggulangan TB yang disusun oleh Depkes RI di bidang promotif
adalah penyuluhan kesehatan. Penyuluhan kesehatan tentang TB perlu dilakukan karena
masalah TB banyak berkaitan dengan masalah pengetahuan dan perilaku masyarakat.
Metode penyuluhan kesehatan yang paling sering digunakan untuk berbagi pengetahuan
dan fakta kesehatan adalah metode ceramah karena pertimbangan waktu, biaya, tenaga dan
sarana serta cenderung membosankan. Salah satu metode penyuluhan kesehatan dapat
menggunakan media audiovisual yaitu film. Sulastri & Kartika (2016), menjelaskan bahwa
dengan pendidikan kesehatan menggunakan media audio visual dapat meningkatkan
pengetahuan masyarakat. Berdasarkan fenomena tersebut, penulis tertarik membahas
kajian pustaka tentang “Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tuberculosis Dengan Media
Audiovisual Pada Kader”

TUJUAN
Untuk mengidentifikasi artikel-artikel penelitian tentang penggunaan media
audiovisual dalam pengetahuan pencegahan pada para kader sebagai mediator dari petugas
di fasilitas pelayanan primer. Hasil kajian pustaka akan dijadikan sebagai referensi
pengembangan media audiovisual sebagai media pendidikan kesehatan tentang
Tuberculosis.

METODE
Pencarian artikel telah dilakukan secara komperehensif menggunakan database
jurnal Proquest, PubMed, EBSCO, Ovid dalam rentang waktu 5 tahun terakhir. Kata kunci
yang digunakan yaitu health education AND audiovisual AND tuberculosis. Data yang
diperoleh disajikan dengan tabel yang meliputi judul, penulis, tahun, metodologi, hasil dan
rekomendasi yang kemudian di analisis oleh peneliti. Kriteria inklusi yang ditetapkan
adalah artikel yang dipublikasikan dalam rentang 5 tahun terakhir, tipe artikel clinical trial,
journal article, randomized controlled trial, human, english languange, academic journal,
original article, tersedia free full text, tipe file pdf. Kriteria eksklusinya adalah artikel yang
berfitur selain audiovisual seperti leaflet atau booklet dalam bentuk kertas. Langkah dalam
memilih artikel yang digunakan sebagai bahan kajian pustaka adalah:
11.068 artikel
Proquest : 134
PubMed :6
EBSCO : 75
Ovid : 10.853
Awal penyaringan 5 tahun terakhir
Dihilangkan : 9.402

Proquest : 82, Pubmed : 3, EBSCO : 19, Ovid : 1562


artikel yang telah tersaring
Penyaringan lanjutan
Dihilangkan : 63
Proquest : 21, Pubmed : 2, EBSCO : 18, Ovid : 1562
artikel yang telah tersaring
Penyaringan lanjutan
Dihilangkan : 6
Proquest : 15, Pubmed : 2, EBSCO : 18, Ovid : 1562
artikel dinilai berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi Penyaringan berdasarkan kriteria
inklusi lanjutan dan penilaian
kualitas bukan leaflet, m-health
Dihilangkan : 1.595
Proquest : 0, Pubmed : 1, EBSCO : 1, Ovid : 0
artikel termasuk ke dalam kriteria inklusi dan
sesuai dengan tujuan

Bagan 1: Pemilihan jurnal berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi.


HASIL
Tabel 1. Analisis Jurnal
NO PENULIS JUDUL TAHUN METODE DAN SAMPEL HASIL
1. Peter D Massey, Steps on a journey to 2015 Metode Cross-sectional dengan DVD ini direkam dan diproduksi di bulan Maret-Juni 2013 dan diputar di 41
Rowena TB control in Solomon sampel 416 orang. desa dan dusun. DVD survei pra-pasca diselesaikan oleh 64% (255/400) dari
Asugeni, John Islands: a cross- orang yang melihat DVD di desa-desa. respon survei pra-DVD
Wakageni, Esau sectional, mixed menunjukkan moderat untuk pengetahuan yang tinggi tentang tanda-tanda
Kekeubata, methods pre-post TB, gejala dan pengobatan tetapi 76/255 (30%) menyatakan TB disebabkan
John evaluation of a local oleh sihir dan 85/255 (33%) tidak benar menyatakan bahwa obat TB harus
Maena’aadi, language DVD dihentikan ketika pasien merasa lebih baik.
John Survei pasca-DVD menunjukkan peningkatan yang signifikan pada orang di
Laete’esafi, desa-desa pesisir pelaporan (i) batuk 3 minggu akan memicu penilaian medis
Jackson dan (ii) TB terutama menyebar melalui udara. Pernyataan yang TB tidak
Waneagea, disebabkan oleh sihir meningkat pasca-DVD di kedua desa pesisir dan
Vunivesi pegunungan, namun namun kepercayaan sihir di desa-desa pegunungan tetap
Asugeni, David tinggi pada 20/70 (29%). Kepercayaan sihir di desa-desa pegunungan tetap
MacLaren and tinggi pada 20/70 (29%).
Richard Speare
2. Chee Kin Lam, Using Video 2018 Metode terapi video langsung Selama masa penelitian, 70% (50/71) dari pasien yang memenuhi syarat
Kara Mcginnis Technology to Increase teramati untuk pengobatan infeksi ditempatkan di V3HP. Pengobatan selesai antara pasien V3HP adalah 88%
Pilote, Ashraful Treatment Completion tuberkulosis laten dan observasi. (44/50) dibandingkan dengan 64,9% (196/302) di antara pasien 3HP di
Haque, Joseph for Patients With Sampel yang digunakan yaitu klinik DOT ( P <. 001). Sebanyak 360 video sesi dilakukan untuk V3HP
Burzynski, Latent Tuberculosis pasien yang dirawat karena pasien dengan median 8 (rentang: 1-11) sesi per pasien dan waktu rata-rata 4
Christine Infection on 3-Month diagnosa LTBI dengan 3HP antara (kisaran: 1-59) menit per sesi. masalah kepatuhan (misalnya,> 15 menit
Chuck, Isoniazid and Februari dan Oktober 2015 terlambat) selama sesi video yang terjadi 104 kali. Tidak ada efek samping
Michelle Rifapentine: An berjumlah 360. utama yang dilaporkan oleh V3HP pasien.
Macaraig Implementation Study
DISKUSI
Menurut penelitian Massey et al. (2015), yang berjudul langkah langkah pada
perjalanan pengendalian TB di pulau Solomon: dengan metode cross seksional, metode
gabungan evaluasi pre-post DVD bahasa Lokal didapatkan hasil ada pengaruh perbedaan
pengetahuan pada orang orang yang menonton DVD dengan sebelumnya tanpa menonton
DVD. Survei pre-DVD para partisipan dari pengetahuan sedang hingga tinggi tentang tanda-
tanda, gejala dan pengobatan TB. Terdapat 30% menyatakan TB di sebabkan karena sihir dan
33% lainnya menyatakan bahwa pengobatan TB harus di hentikan ketika pasien merasa lebih
baik. Setelah menonton DVD di dapatkan peningkatan yang signifikan dalam proporsi
masyarakat pesisir yang melaporkan bahwa batuk 3 minggu akan memicu penilaian di klinik
atau di rumah sakit. Dan terdapat perubahan signifikan dalam respon yang benar terhadap
survei pengetahuan juga terlihat setelah menonton DVD bahwa TB menyebar terutama
melalui udara; tidak hanya menular melalui tangan, makanan dan pakaian; dan bahwa TB
tidak disebabkan karena sihir. Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada
pengaruh psikoedukasi melalui audio visual pada tingkat pengetahuan keluarga/paritisipan
tentang TB. Hal ini menunjukkan keberhasilan media audio visual dalam pendidikan
kesehatan. DVD direkam dan diproduksi pada Maret-Juni 2013 dan diputar di 41 desa dan
dusun. Survei DVD pra-posting diselesaikan oleh 64% (255/400) orang yang melihat DVD di
desa-desa. Tanggapan survei sebelum DVD menunjukkan pengetahuan sedang hingga tinggi
tentang tanda, gejala, dan pengobatan TB tetapi 76/255 (30%) menyatakan TB disebabkan
oleh sihir dan 85/255 (33%) salah menyatakan bahwa pengobatan TB harus dihentikan ketika
pasien merasa lebih baik. Survei pasca-DVD menunjukkan peningkatan signifikan pada
orang-orang di desa-desa pesisir yang melaporkan (i) batuk 3 minggu akan memicu penilaian
medis dan (ii) TB terutama menyebar melalui udara. Pernyataan bahwa TB tidak disebabkan
oleh sihir meningkat pasca-DVD di desa-desa pesisir dan pegunungan, namun kepercayaan
pada sihir di desa-desa pegunungan tetap tinggi pada 20/70 (29%).
Tuberkulosis tetap menjadi masalah kesehatan utama bagi orang-orang di daerah
Kwaio Timur Kepulauan Solomon. Meningkatkan pengawasan dan respon terhadap penyakit
menular ini akan memungkinkan membatuat keuntungan kesehatan yang akan dilakukan
dengan mengembangkan dari DVD yang dirancang khusus untuk meningkatkan kesadaran
pendetita TB dan pelayanan kesehatan dan orang-orang daerah agar meningkatkan
pemahaman tentang TB. Kebanyakan orang daerah menganggap bahwa TB disebabkan oleh
sihir dan jika dilakukan pengobatan harus dihentikan jika pasien merasa sudah lebih baik dari
sebelumnya. Hasil penelitian yang lain yang mengatakan bahwa peluang pendidikan terbatas
karna beragam keyakinan budaya, pada penelitian ini juga dilaporkan bahwa faktor
penyebabkan TB yaitu tingkat pendidikan yang rendah. Dalam studi Afrika Barat pasien
umumnya menggambarkan TB adalah penyakit alami atau ajaib dan cara penangannya cukup
dengan pengobatan tradisional.
Pengembangan layanan TB termasuk pendidikan TB yang bisa diterima masyarakat
diakui sangat penting. Ini terbukti melalui keterlibatan yang mendalam dengan tokoh
masyarakat dan komunitas yang memungkinkan pengembangan DVD, pembuatan film, yang
semua motode dipusatkan pada komunikasi lisan bercerita dan diskusi bagian integral dari
budaya. Pembuatan DVD ini tidak hanya mengukur perubahan dalam pengetahuan, tetapi
juga pemahaman tentang aspek-aspek bagaimana orang memahami tentang TB sebagai
fenomena sosial, budaya dan penyakit. Evaluasi DVD petugas kesahatan dan masyarakat
secara independen membuaat cerita kesehatan dengan bahasa mereka sendiri dan pemahaman
budaya lokal mereka. Ini terbukti presentasi DVF dalam bahasa lokal sudah sangar populer
sehingga orang-orang meminta agar DVD tersebut disajikan dis setiap dususn di Kwaio.
Memiliki DVD sangat membantu dan menyebarluaskan pesan dengan cepat. Sebagai hasil
dari proyek dan evaluasi itu recom - diperbaiki bahwa model pengobatan TB berbasis
masyarakat sesuai dengan budaya dan mendukung promosi kesehatan sumber daya
dikembangkan dan diujicobakan dalam pengaturan ini. Selain itu DVD harus tersedia dalam
bahasa Kepulauan Solomon yang paling umum digunakan - Kepulauan Solomon Pijin . Hal
ini akan memungkinkan komunitas lain untuk melihat dan mendengar apa yang telah selesai
di East Kwaio dan mempertimbangkan apakah sesuatu yang serupa bisa devel - oped dalam
pengaturan lokal. Ada peningkatan lambat dalam jumlah pemutar DVD di daerah tersebut,
tetapi penggunaan teknologi nirkabel yang dapat menampilkan video meningkat dengan
cepat. Proses pengembangan sumber audio-visual berbasis komunitas tentang TB, dalam
bahasa lokal, dan kemudian menggunakan DVD memfasilitasi keterlibatan masyarakat yang
lebih kuat. Semakin kuat keterlibatan dengan pelayanan kesehatan kemudian menyediakan
jalur untuk kesehatan lebih lanjut perbaikan.
Keberhasilan suatu pendidikan kesehatan dapat di nilai dari pencapaian tujuan dari
pendidikan kesehatan tersebut, seperti yang di maksud dengan pendidikan kesehatan
merupakan suatu proses perkembangan yang berubah secara dinamis yang di dalamnya
seseorang menerima atau menolak informasi, sikap, maupun praktek baru yang berhubungan
dengan tujuan hidup sehat. Tujuan pendidikan kesehatan adalah tercapainya perubahan
perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam membina dan memelihara perilaku sehat
dan lingkungan sehat, serta berperan aktif dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang
optimal. Jadi pendidikan kesehatan merupakan salah satu upaya promotif dan preventif di
bidang pelayanan kesehatan yang dapat di lakukan oleh seluruh tenaga kesehatan dengan
memperhatikan strategi pelaksanaan dan pemilihan media yang tepat agar tujuan dapat
tercapai. Media audiovisual merupakan media pendidikan kesehatan yang menarik perhatian
dan merangsang lebih banyak indera para responden. Audio visual adalah alat bantu lihat dan
dengar untuk menstimulasi indra mata dan pendengaran waktu proses penyampaian bahan
pengajaran (Notoatmodjo, 2012). Salah satu upaya pemberantasan TB adalah dengan
melakukan pendidikan kesehatan. Di mana kegiatan ini perlu di lakukan secara
berkesinambungan dan di lakukan dengan koordinasi lintas program. Puskesmas melalui
kader kader wajib melakukan upaya program pencegahan dan pemberantasan penyakit
menular, sehingga perlu di persiapkan strategi pendidikan kesehatan yang tertuang dalam
SAP (satuan acara penyuluhan) di mana perlu di persiapkan media dalam menyampaikan
informasi yang akan di sampaikan.
Berdasar penelitian Lam et al. (2018) yang berjudul menggunakan teknologi video
untuk meningkatkan pengobatan penyelesaian untuk pasien dengan laten tuberculosis infeksi
diatas 3 bulan isoniazid dan rifapentin dengan studi implementasi. Pengamatan langsung
melalui studi implementasi V3HP, NYC DOHMH mengadaptasi bahan lunak konferensi
video. Pada 50 V3HP pasien. Dengan kriteria inklusi : pasien yang dirawat karena LTBI,
mereka yang berusia ≥ 12 tahun, laki-laki atau tidak hamil, nonnursing betina yang tidak
terinfeksi HIV/individu yang terinfeksi yang tidak memakai obat anti retroviral, dan pasien
yang dapat dihubungi via telepon dalam kasus DOT kunjungan terjawab. Melalui V3HP
dilakukan pengobatan selama 16 minggu setelah selalui pengobatan. Penilaian dilakukan
pada sebelum dan setelah melalui pengobatan selama 16 minggu. Waktu sesi rata-rata adalah
5 (kisaran 1-59 menit). Selama masa penelitian, 70% (50/71) dari pasien yang memenuhi
syarat ditempatkan di V3HP. Pengobatan selesai antara pasien V3HP adalah 88% (44/50)
dibandingkan dengan 64,9% (196/302) di antara pasien 3HP di klinik DOT ( P <. 001).
Sebanyak 360 video sesi dilakukan untuk V3HP pasien dengan median 8 (rentang: 1-11) sesi
per pasien dan waktu rata-rata 4 (kisaran: 1-59) menit per sesi. masalah kepatuhan
(misalnya,> 15 menit terlambat) selama sesi video yang terjadi 104 kali. Tidak ada efek
samping utama yang dilaporkan oleh V3HP pasien.

PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
Brown, N. W. (2011). Psychoeducational group : Process and Practice (3rd ed.). New York:
Routledge Taylor and Francis Goup.
Dinkes Jawa Tengah. (2017). Buku Saku Kesehatan tahun 2016. Semarang: Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Tengah.
Dinkes Kota Semarang. (2018). Profil Kesehatan Kota Semarang tahun 2017. Semarang:
Dinas Kesehatan Kota Semarang.
Kemenkes RI. (2014). Pedoman Nasional Pengendalian Tuberculosis. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI.
Lam, C. K., Pilote, K. M., Haque, A., Burzynski, J., Chuck, C., & Macaraig, M. (2018).
Using Video Technology to Increase Treatment Completion for Patients With Latent
Tuberculosis Infection on 3-Month Isoniazid and Rifapentine : An Implementation
Study. Journal of Medical Internet Research, 20(11). https://doi.org/10.2196/jmir.9825
Massey, P. D., Asugeni, R., Wakageni, J., Kekeubata, E., Maena, J., Laete, J., … Speare, R.
(2015). Steps on a journey to TB control in Solomon Islands : a cross-sectional , mixed
methods pre-post evaluation of a local language DVD. BMC International Health and
Human Rights, 15(1). https://doi.org/10.1186/s12914-015-0041-3
Notoatmodjo, S. (2012). Konsep Perilaku dan Pendidikan Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Sulastri, Y., & Kartika. (2016). Psikoedukasi Keluarga Meningkatkan Kepatuhan Minum
Obat ODGJ Di Puskesmas Kedaton Bandar Lampung. Jurnal Kesehatan, 7(2).
WHO. (2018). What is Multidrug Resistant Tuberculosis (MDR-TB) and how do we
control ? World Health Organization.