You are on page 1of 2

Sejarah Perlawanan Pangeran Diponegoro Terhadap

Belanda (1825–1830)

Tema : Perlawanan Pangeran Diponegoro Terhadap

Belanda (1825–1830)

Naskah

(L : SAMPAK SREPEK)

moderator

(Pengaruh Belanda di Surakarta dan Yogyakarta semakin bertambah kuat pada


permulaan abad ke-19. Khususnya di Yogyakarta, campur tangan Belanda telah menimbulkan
kekecewaan di kalangan kerabat keraton yang kemudian menimbulkan perlawanan di bawah
pimpinan Pangeran Diponegoro).

SET 1 ( Pangeran Diponegoro bersama kerabat keraton melakukan rapat ) Jaranan/


LADRANG SLAMET

 Surya mantaram ( kekecewaan terhadap tindakan belanda yang


semakin intensif mencampuri urusan keraton melalui patih Danurejo . ( kaki
tangan belanda)

 Pangeran Notoprodjo (Pajak petani yang semakin berat)

 Pangeran Mangkubumi ( hak pada kalangan bangsawan banyak


yang dikurangi) IRENG MANIS

(lagu selingan Ayo Ngguyu)

SAMPAK

SET 2 ( De Kock melakukan rapat bersama para jendralnya mengenai


perlawanan Pangeran Diponegoro yang semakin kuat dan mendesak pasukan belanda.)

De Kock dan jendral melakukan rapat.

 Siasat benteng stelsel

 Siasat pemberian hadiah (20.000,-)


 Siasat ajakan berunding dengan Pangeran Diponegoro dan
akhirnya tertangkap (anak buah De Kock mengajak berunding dengan menu
makan malam sate kelinci). Kelinci Ucul

SET 3 ( Dengan berbagai tipu daya akhirnya semuanya telah tertangkap dan di
masukkan dalam penjara )

 (Di dalam penjara)

 Surya Mantaram bercerita bahwa ia kangen dengan


keluarganya (kangen)

 Notoprodjo juga bercerita bahwa ia bertemu wanita yang


cantik waktu melakukan perlawanan terhadap belanda (nyidam sari)

 Mangkubumi juga bercerita terhadap wanita yang ia sukai


sejak dahulu ( ireng manis)

PENUTUP

PEMAIN DRAMA : PRAJURIT

1. Moderator : Nining 1. TOPLES

2. Pangeran Diponegoro : Alek 2. AGUS

3. De Kock : Rudi 3. TUKIMAN

4. Pangeran Surya Mantaram : Teguh 4. TINUS

5. Pangeran Notoprodjo : irvan

6. Pangeran Mangkubumi : Supri