Вы находитесь на странице: 1из 11

Correlation of Simple Nutrition Screening Toll (SNST) in Nutritional Assessment as a Risk

Factor for Cardiovascular Disease in the Elderly

Hubungan antara Simple Nutrition Screening Toll (SNST) dalam Nutritional Assesment

sebagai Faktor Resiko Penyakit Kardiovaskuler pada Lansia

Muhammad Rivai Azis Al Hafidz, Ratna Indriawati2


1
School Of Medicine, Faculty Of Medicine and Health Sciences Universitas Muhammadiyah

Yogyakarta,
2
Departement of Public Health Sciences Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

ABSTRACT

Nutrition is needed for elderly people to maintain their quality of life. Naturally the aging
process will result in a decline in one's physical and mental abilities. One health problem that
often occurs is cardiovascular disease. In Wonosari General Hospital, the prevalence of
cardiovascular disease in the elderly is still quite high at 37.42% (Profile of RSUD Wonosari,
2017). SNST is a nutritional screening tool used to identify adult patients at risk of
malnutrition or malnourished patients. The purpose of this study was to determine the
relationship between SNST with BMI, blood pressure, LDL cholesterol, HDL cholesterol,
blood sugar, smoking behavior, food intake, diet, and frequency of eating as a risk factor for
cardiovascular disease in the elderly at the Internal Medicine Polyclinic Regional General
Hospital Wonosari Gunungkidul Regency, Special Region of Yogyakarta. The study design
used cross sectional where the independent variables (risk factors and dependent variables
(effects) were observed only once at the same time. The population in this study were all
elderly patients in the internal polyclinic of Wonosari Hospital in the period of March 2017 to
March 2018. Collection the data is done using structured interviews with questionnaires and
secondary data collection includes anthropometric and biochemical data.To find out the
relationship between variables used Chi-Square Test or Kai Squared (X2) test using the SPSS
for windows program. the results of 92.20% are not at risk of malnutrition and 7.80% are at
risk of malnutrition.The statistical test results are kai squared (X2) or Chi-Square Test, using
a significance level of α 0.05 obtained p results greater than 0.05 which means there was no
significant relationship between SNST and IMT, blood pressure, LDL cholesterol, HDL
Cholesterol, blood sugar, smoking behavior, food intake, diet, and eating frequency as
cardiovascular risk factors in old age. From the results of this study it can be concluded that
there is no relationship between SNST and BMI, pressure blood, LDL cholesterol, HDL
cholesterol, blood sugar, smoking behavior, food intake, diet, and frequency of eating as
cardiovascular risk factors in the elderly.
Keywords: SNST , elderly, cardiovascular risk factors.
INTISARI

Nutrisi dibutuhkan oleh orang lanjut usia untuk menjaga kualitas hidup mereka. Secara alami
proses penuaan akan mengakibatkan penurunan kemampuan fisik dan mental seseorang.
Salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi adalah penyakit kardiovaskular. Di Rumah
Sakit Umum Wonosari, prevalensi penyakit kardiovaskular pada lansia masih cukup tinggi
yaitu 37,42% (Profil RSUD Wonosari, 2017). SNST adalah alat skrining nutrisi yang
digunakan untuk mengidentifikasi pasien dewasa yang berisiko kekurangan gizi atau pasien
kurang gizi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara SNST
dengan BMI, tekanan darah, kolesterol LDL, kolesterol HDL, gula darah, perilaku merokok,
asupan makanan, diet, dan frekuensi makan sebagai faktor risiko penyakit kardiovaskular
pada lansia di Rumah Sakit Umum Daerah Poliklinik Obat Penyakit Dalam Kabupaten
Wonosari Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desain penelitian
menggunakan cross sectional di mana variabel independen (faktor risiko dan variabel
dependen (efek) diamati hanya sekali pada waktu yang sama. Populasi dalam penelitian ini
adalah semua pasien lansia di poliklinik internal Rumah Sakit Wonosari periode Maret 2017
hingga Maret 2018. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan wawancara
terstruktur dengan kuesioner dan pengumpulan data sekunder meliputi data antropometrik
dan biokimia. Untuk mengetahui hubungan antara variabel yang digunakan uji Chi-Square
atau uji Kai Squared (X2) menggunakan program SPSS for windows. hasil 92,20% tidak
berisiko kekurangan gizi dan 7,80% berisiko kekurangan gizi. Hasil uji statistik adalah kai
kuadrat (X2) atau Uji Chi-Square, menggunakan tingkat signifikansi α 0,05 yang diperoleh
hasil p lebih besar dari 0,05 yang berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara SNST
dan IMT, tekanan darah, kolesterol LDL, Kolesterol HDL, gula darah, perilaku merokok,
asupan makanan, diet, dan e Frekuensi sebagai faktor risiko kardiovaskular di usia tua. Dari
hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara SNST dan BMI,
tekanan darah, kolesterol LDL, kolesterol HDL, gula darah, perilaku merokok, asupan
makanan, diet, dan frekuensi makan sebagai faktor risiko kardiovaskular di tua.

Kata kunci : SNST, usia lanjut, faktor resiko kardiovaskuler.

Pendahuluan lanjut untuk mempertahankan kualitas

Gizi sangat dibutuhkan bagi usia hidupnya. Bagi lanjut usia yang
mengalami gangguan gizi diperlukan sudah dikeluhkan oleh lansia (Departemen

untuk penyembuhan dan mencegah agar Kesehatan, 2008). Dan menurut hasil studi

tidak terjadi komplikasi pada penyakit yang telah dilakukan, salah satu masalah

yang dideritanya. Asupan gizi yang sangat kesehatan yang sering terjadi pada lansia

diperlukan bagi usia lanjut sehat untuk adalah penyakit kardiovaskuler . Dan

mempertahankan kualitas hidupnya. beberapa faktor resiko yang dapat

Sementara untuk usia lanjut yang sakit, mempengaruhi: umur, jenis kelamin,

asupan gizi diperlukan untuk proses merokok, stress, konsumsi alkohol,

penyembuhan dan mencegah agar tidak konsumsi garam, pendapatan, status gizi,

terjadi komplikasi lebih lanjut. (Setyowati, dan obesitas (Andriani, 2011).

2010). Secara global Penyakit Tidak

Lanjut usia seperti juga tahapan- Menular sebagai penyebab kematian

tahapan usia yang lain dapat juga nomor satu setiap tahunnya adalah

mengalami keadaan gizi baik dan gizi penyakit kardiovaskuler. Pada tahun 2008

kurang baik. Lanjut usia di indonesia yang diperkirakan sebanyak 17,3 juta kematian

berada dalam keadaan kurang gizi disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler.

sebanyak 3,4%, berat badan kurang Lebih dari 3 juta kematian tersebut terjadi

28,3%, berat badan ideal berjumlah sebelum usia 60 tahun dan seharusnya

42,4%, berat badan lebih sebanyak 6,7% dapat dicegah. Kematian “dini” yang

dan obesitas 3,4% (Darmojo, 2006). disebabkan oleh penyakit jantung terjadi

Menurut Departemen Kesehatan, berkisar sebesar 4% di negara

secara alamiah proses penuaan akan berpenghasilan tinggi sampai dengan 42%

mengakibatkan kemunduran kemampuan terjadi di negara berpenghasilan rendah.

fisik dan mental seseorang. Umumnya Kematian yang disebabkan oleh penyakit

lebih banyak gangguan organ tubuh yang kardiovaskuler, terutama penyakit jantung
koroner dan stroke diperkirakan akan terus 19,3% ( Profil Dinas Kesehatan Kota

meningkat mencapai 23,3 juta kematian Yogyakarta Tahun 2013).

pada tahun 2030.(Kemenkes RI,2014) Metode Penelitian


Berdasarkan hasil survey di Kota Penelitian ini menggunakan
Yogyakarta , kota dengan umur harapan metode cross sectional dilakukan selama 3
hidup rata rata 73,71 tahun (Sumber BPS bulan dengan total 51 responden.
Kota Yogyakarta tahun 2013), dan jumlah Pengumpulan data dilakukan di primer
lansia dengan katagori umur diatas 45 dengan wawancara dengan kuesioner
tahun sebesar 125.880. (30,95 %.). panduan. Pengambilan data sekunder
Penyakit- penyakit degenerative seperti dilakukan untuk memperoleh data data
Penyakit jantung merupakan penyebab antropometri dan biokimia. Tempat
kematian tertinggi dengan persentase penelitian di Poliklinik Penyakit dalam

RSUD Wonosari Kabupaten Gunungkidul.

Hasil Penelitian

Tabel 1. Hubungan antar variabel meliputi hubungan antara

Simple Nutrition Screening Tool (SNST) dengan faktor resiko

kardiovaskuler

SNST Statistik
Tidak Uji X2
Faktor
Kategori Beresiko Malnutrisi Total (Chi-
Resiko P
Malnutrisi Square
n % n % n % Test)
Indeks Kurus 3,227 0,199
2 3,90 1 2,00 3 5,90
Massa (10 – 17)
Tubuh Normal
37 72,50 2 3,90 39 76,50
(IMT) (18 – 24)
Obesitas 8 15,70 1 2,00 9 17,60
(25 – 35)
Total 47 92,20 4 7,80 51 100,00
Normal
(120/80 18 35,30 2 3,90 20 39,20
mmHg)
Tekanan Hipertensi
Darah (121/80 – 0,212 0,514
29 56,90 2 3,90 31 60,80
(mmHg) 140/90
mmHg)
Total 47 92,20 4 7,80 51 100,00
Normal
(35-110 47 92,20 4 7,80 51 100,00
HDL mg/dL)
tidak
Cholesterol Rendah bisa -
(mg/dL) (<35 0 0,00 0 0,00 0 0,00 diukur
mg/dL)
Total 47 92,20 4 7,80 51 100,00
Normal
(50-130 17 33,30 1 2,00 18 35,30
LDL mg/dL)
Cholesterol Tinggi
0,201 0,654
(mg/dL) (131-200 30 58,80 3 5,90 33 64,70
mg/dL)
Total 47 92,20 4 7,80 51 100,00
Normal
(50-100 37 72,50 3 5,90 40 78,40
mg/dL)
Gula Darah
Diabetes
(mg/dL) 0,030 0,862
(101-250 10 19,60 1 2,00 11 21,60
mg/dL)
Total 47 92,20 4 7,80 51 100,00
Merokok 25 49,00 3 5,90 28 54,90
Perilaku Tidak
Merokok 22 43,00 1 2,00 23 45,10
merokok 0,708 0,383
Total 47 92,20 4 7,80 51 100,00

Asupan 100 % 18 35,30 2 3,90 20 39,20


Makanan 50 – 99 % 11 21,60 1 2,00 12 23,50
(% dari Puasa 18 35,30 1 2,00 19 37,30 0,308 0,857
kebutuhan)
Total 47 92,20 4 7,80 51 100,00
Diet 0 0,00 0 0,00 0 0,00
Diet yang tidak
dijalani Tidak diet 47 92,20 4 7,80 51 100,00
bisa -
Total 47 92,20 4 7,80 51 100,00 diukur
2 kali/hari 17 33,30 2 3,90 19 37,30
Frekuensi
Makan 3 kali/hari 30 58,80 2 3,90 32 62,70
0,302 0,479
Total 47 92,20 4 7,80 51 100,00

Tabel diatas menunjukkan bahwa hasil uji statistik kai

kuadrat (X2) atau (Chi-Square Test) antara IMT, tekanan darah,

LDL Cholesterol, HDL Cholesterol , gula darah, perilaku

merokok, asupan makanan, diet dan frekuensi makan sebagai

faktor resiko kardiovaskuler dengan SNST menggunakan tingkat

signifikansi α 0,05 diperoleh hasil p>0,05. Berarti tidak ada

hubungan yang signifikan antara SNST dengan frekuensi makan

sebagai faktor resiko kardiovaskuler. Dan hasil pengukuran

dengan menggunakan SNST diperoleh hasil sebesar 92,20% tidak

beresiko malnutrisi dan 7,80% beresiko malnutrisi.

Diskusi obesitas sebesar 17,60 % menunjukkan

Hasil pengukuran SNST bahwa obesitas masih menjadi masalah.

berhubungan secara signifikan dengan Obesitas sering didapatkan

indeks massa tubuh (IMT) sebagai faktor bersama-sama dengan hipertensi, DM dan

resiko kardiovaskuler (α 0,05 < p=0,199). hipertrigliserdemia. Obesitas juga dapat

Identifikasi malnutrisi berdasar SNST juga meningkatkan kadar kolesterol total dan

memiliki hubungan yang bermakna dengan LDL kolesterol. Resiko PJK akan jelas

parameter status gizi berupa indeks Massa meningkat bila berat badan mulai melebihi

tubuh(IMT). Masih tingginya angka 20 % dari berat badan ideal. Obesitas akan

mengakibatkan terjadinya peningkatan


volume darah sekitar 10 -30 %. (Sumiati, trombosis merupakan penyebab utama

2010) kematian di dunia(WHO,2007).

Hal ini tentu merupakan beban Kejadiannya PJK pada hipertensi

tambahan bagi jantung, otot jantung akan sering ditemukan dan secara langsung

mengalami perubahan struktur berupa berhubungan dengan tingginya tekanan

hipertropi atau hiperplasi yang keduanya darah sistolik. Tekanan darah yang normal

dapat mengakibatkan terjadinya gangguan merupakan penunjang kesehatan yang

pompa jantung atau 28 lazim disebut utama dalam kehidupan. Hipertensi

sebagai gagal jantung atau lemah jantung. menginduksi remodeling jantung, seperti

Pada gagal jantung penderita akan hipertrofi, fibrosis interstitial, dan aktivitas

merasakan lekas capek, sesak napas bila abnormal sistem saraf simpatis jantung,

melakukan aktifitas ringan, sedang, yang merupakan faktor risiko dalam

ataupun berat (tergantung dari derajat beberapa penyakit jantung yang sangat

lemah jantung). (Sumiati, 2010;Kasron, berbahaya, seperti fibrilasi ventrikel dan

2012 ). gagal jantung kongestif (Tomek, 2017).

SNST juga berhubungan erat Hasil penelitian juga dilaporkan

dengan tekanan darah sebagai faktor resiko kadar LDL Cholesterol tinggi pada

kardiovaskuler (α 0,05 < p=0,514). responden malnutrisi sebanyak 5,90 %.

Penyakit Kardiovaskuler atau LDL Cholesterol tinggi akan

cardiovascular disease (CVD) adalah mengakibatkan aterogenesis terjadi

penyakit yang berkaitan dengan cepat yang berakibat pada makin

dengan jantung dan pembuluh darah. tingginya faktor resiko menderita penyakit

Penyakit kardiovaskular akibat kardiovaskuler.

aterosklerosis dinding pembuluh darah dan Alwi (2012) menyatakan bahwa

kaitannya antara profil lipid LDL dan


Hipertensi terhadap penyakit jantung perokok dan pada perempuan perokok 4

koroner adalah adanya peningkatan kali lebih besar daripada bukan perokok.

superoksida dan stress oksidatif, disfungsi Rokok dapat menyebabkan 25 % kematian

endotel, system rennin angitensin, aktivasi PJK pada laki-laki dan perempuan umur di

endotelin-1 dan dyslipidemia, sehingga bawah 65 tahun atau 80 % kematian PJK

merangsang pertumbuhan dan migrasi sel pada laki-laki umur di bawah 45 tahun.

oto polos, yang selanjutnya akan (Kasron,2012)

meningkatkan vascular cell adhesion Merokok merupakan salah satu

molecule (ICAM-1) dan kemokin seperti faktor risiko utama PJK di samping

monocyte chemoattractant protein (MCP- hipertensi dan hiperkolesterolemia.

1) dan sitokin yang menginduksi mediator Merokok pasif kronis dan aktif tetap

inflamasi seperti nuclear factor kappa B menjadi epidemi internasional dan faktor

(NF-kB) dan activator protein (AP-1) risiko utama untuk pengembangan

yang mengakibatkan progresivitas penyakit kardiovaskular (CVD).

aterosklerosis. Kerusakan jantung yang diinduksi oleh

Sebanyak 54,90% responden rokok dibagi menjadi dua mekanisme

dilaporkan mempunyai perilaku merokok. utama dan dapat dipertukarkan: (1) efek

Merokok merupakan salah satu faktor buruk langsung pada miokardium yang

risiko utama PJK di samping hipertensi menyebabkan kardiomiopati merokok dan

dan hiperkolesterolemia. Orang yang (2) efek tidak langsung pada miokardium

merokok lebih 20 batang perhari dapat dengan memicu komorbiditas seperti

mempengaruhi atau memperkuat efek dua sindrom aterosklerotik dan hipertensi yang

faktor utama resiko lainnya. Kematian akhirnya merusak dan mengubah jantung

mendadak akibat PJK pada laki-laki (Abdullah dkk., 2017).

perokok 10 kali lebih besar daripada bukan Kasron (2012) mengatakan rokok
dapat menurunkan kadar HDL kolesterol. gagal jantung lebih tinggi dibandingkan

Makin banyak jumlah rokok yang dihisap, dengan gagal jantung non-diabetes.

kadar HDL kolesterol makin menurun. Meningkatnya frekuensi gagal jantung

Pada perempuan perokok maka penurunan disebabkan oleh penyakit jantung iskemik,

kadar HDL kolesterolnya lebih besar hipertrofi ventrikel kiri, kardiomiopati

dibandingkan laki-laki perokok. Merokok diabetes dan ekspansi volume

juga dapat meningkatkan tipe IV ekstraseluler yang resisten terhadap

hiperlipidemi dan hipertrigliserid, peptida natriuretik atrium. (Bell,2019)

pembentukan platelet yang abnormal pada

diabetes melitus disertai obesitas dan

hipertensi sehingga perokok cenderung Kesimpulan


lebih mudah terjadi proses aterosklerosis Kesimpulan menunjukkan bahwa
daripada yg bukan perokok. (Kasron, tidak ada hubungan antara Simple
2012). Nutrition Screening Tool (SNST) dengan
Sebanyak 21,60% responden indeks massa tubuh (IMT), tekanan darah,
menderita diabetes. Diabetes Melitus LDL Cholesterol, HDL Cholesterol , gula
(DM) terbukti merupakan faktor risiko darah, perilaku merokok, asupan
yang kuat untuk semua penyakit makanan, diet dan frekuensi makan
aterosklerotik. Mortalitas dan morbiditas sebagai faktor resiko kardiovaskuler pada
PJK pada penderita DM 2-3 kali 23 lipat usia lanjut.
dibandingkan dengan yang non DM. Pada
Saran
penderita DM dewasa 75-80 % akan
Simple Nutrition Screening Tool
meninggal karena komplikasi PJK. Pada
(SNST) tidak sensitif untuk deteksi dini
pasien diabetes tipe 2, frekuensi gagal
atau skrining faktor resiko penyakit
jantung meningkat dan mortalitas akibat
kardiovaskuler pada usia lanjut seperti
indeks massa tubuh (IMT), tekanan darah, Jakarta.

LDL Cholesterol, HDL Cholesterol , gula 6. Supriyono, M., 2008. Faktor-faktor

darah, perilaku merokok, asupan makanan, Risiko yang Berpengaruh Terhadap

diet dan frekuensi makan. Disarankan Kejadian Penyakit Jantung Koroner

menggunakan metode lain yang lebih pada Kelompok Usia kurang dari

sensitif. samadengan 45 tahun, Tesis. Semarang:


Daftar Pustaka
PPS Magister
1. Dinkes Kota Yogyakarta. 2013. Profil
7. Susetyowati., 2014. Development,
Kesehatan Kota Yogyakarta Tahun
Validation and Reliability of the
2013. Yogyakarta: Dinas Kesehatan
Screening Tool (SNST) for Adult
Kota Yogyakarta
Hospital Patient in Indonesia. The
2. Kementerian Kesehatan Indonesia,
Journal of Nutrition & Health
2010, Profil Kesehatan Indonesia Tahun
8. Vera Todorovic, 2017. Universal
2009, Jakarta : Kementerian Kesehatan
Screening Tool (MUST) for Adults
RI
Edited on Behalf of MAG, Christine
3. Kasron. 2012. Buku Ajar Gangguan
Russel, Trebecca Stratton, Jill Ward and
Sistem Kardiovaskuler. Yogyakarta ;
Marinos Elia
Nuha Medika ; 3. Sumiati, & Rustika.
9. Setyowati, Wiwik. 2010. “Pengaruh
(2010). Penanganan Stress pada
Pendidikan Kesehatan Terhadap
Penyakit Jantung Koroner. CV. Trans
Pengetahuan Keluarga Tentang Gizi
info media. Jakarta
Lanjut Usia di Rumah di Desa Siwal
4. Komisi Nasional Lanjut Usia. Profil
Kecamatan Baki Kabupaten
Penduduk Lanjut Usia 2009. Jakarta:
Sukoharjo.”
Komnas Nasional Lanjut Usia; 2010
10. Alwi, I. 2012. Tatalaksana Holistik
5. Perki, 2013, Pedoman Tatalaksana
Penyakit Kardiovaskular. Cetakan
Penyakit Kardiovaskuler di Indonesia.
Kedua. Internal Publishing. Pusat

Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam,

Jakarta Pusat.

11.Tomek, Jakub, dan Gil Bub. 2017.

“Hypertension-induced remodelling: on

the interactions of cardiac risk factors.”

The Journal of physiology 595 (12):

4027–36.

12. Bell, David S.H., dan Edison

Goncalves. 2019. "Heart Failure in the

diabetic patient epidemiology, etiology,

prognosis, therapy and the effect of

glucose lowering medications."

13. Abdullah dkk. 2017. “Functional,

Cellular, and Molecular Remodeling of

the Heart under Influence of Oxidative

Cigarette Tobacco Smoke.”