Вы находитесь на странице: 1из 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut definisi World Health Organization (WHO) kardiovaskuler
adalah penyakit jantung yang disebabkan gangguan fungsi jantung dan pembuluh
darah. Secara global penyebab kematian nomor satu setiap tahunnya adalah
penyakit kardiovaskuler. Pusat data dan informasi kementerian kesehatan
Republik Indonesia 2013 mempublikasikan berdasarkan diagnosis dokter
prevalensi penyakit jantung koroner di indonesia tahun 2013 sebesar 0,5% atau
diperkirakan sekitar 883.447 orang. Tercatat juga Jumlah penderita penyakit
jantung korener terbanyak terdapat di provinsi Jawa Barat sebanyak 2.650.340
orang (Info Datin, 2013).
Jantung berfungsi memompa darah keseluruh tubuh yang bertujuan untuk
kelangsungan hidup manusia. Apabila jantung tidak berfungsi dengan baik, maka
perlu dicurigakan bahwa hal tersebut mengakibatkan terjadinya suatu gangguan
pada jantung. Salah satu gangguan pada jantung yang sudah tidak asing
dikalangan masyarakat adalah Jantung Koroner. Jantung Koroner adalah suatu
keadaan dimana suplai darah pada bagian jantung terhenti sehingga sel otot
jantung mengalami kematian (Patricia & Dorrie, 2009). Jantung koroner
merupakan penyakit jantung dan pembuluh darah yang menjadi penyebab
kematian nomor satu di dunia.
Jantung Koroner merupakan penyakit yang serius dimana pasien harus
dilakukan perawatan khusus untuk mempercepat penyembuhan klien. Perawatan
tersebut merupakan tugas tenaga kesehatan untuk merawat pasien. Pada pasien
Infark Miokard kebutuhan oksigen yang diperlukan oleh tubuh lebih besar dari
pada suplai oksigen ketubuh. Menurut Peggy jenkins, 2013 tindakan untuk
menurunkan kebutuhan oksigen meliputi tindakan seperti tirah baring. Tirah
baring merupakan suatu intervensi untuk tetap berada ditempat tidur bertujuan

1
2

untuk mengurangi aktivitas fisik dan meningkatkan oksigen ke Myokard. Klien


Tirah baring mengalami kurangnya kekuatan otot dan imobilisasi.
Gangguan Imobilisasi dapat mengganggu fungsi metabolik normal salah
satunya gangguan pencernaan (Patricia, 2006). Imobilisasi sangat penting untuk
proses eliminasi dalam pemenuhan kebutuhan tubuh manusia. Guyton & Hall
(2010) mengatakan bahwa Pada pasien tirah baring dirumah sakit terjadinya
kelemahan otot-otot akibat dari berkurangnya latihan, dan imobilitas. Ia juga
menjelaskan sebaiknya pada pasien penyakit jantung koroner harus menjalani
tirah baring dalam waktu yang lama. Oleh sebab itu tirah baring yang terlalu lama
berpengaruh pada penurunan kondisi otot mengakibatkan berkurangnya
imobilisasi sehingga pada pasien tirah baring akan mengakibatkan konstipasi.
Angka kejadian konstipasi di Amerika terhitung kira-kira 4,5 juta
penduduk mengalami masalah konstipasi (Folden, et al, 2002). Terhitung
Kejadian konstipasi sebesar 5,9 % pada usia dibawah 40 tahun, dan sebesar 4-6 %
pada pasien penyakit jantung yang menjalani tirah baring dirumah sakit. Angka
kejadian konstipasi cukup tingi pada pasien yang dirawat dirumah sakit dan rawat
inap sebesar 46%, kejadian konstipasi meningkat sebesar 17-51% pada usia
dewasa yang mengalami penurunan fisik. Di Indonesia sendiri terhitung
3.857.327 jiwa yang mengalami konstipasi (Database US Census Bureaupada,
2003).
Kata konstipasi sudah tidak asing dikalangan masyarakat atau sering
disebut dengan sembelit. Konstipasi merupakan kebutuhan dasar manusia.
Pandangan para ahli terhadap kebutuhan dasar manusia menurut Henderson 1996
dalam buku Potter & Perry 2010 bahwa eliminasi (buang air besar dan kecil)
merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Kemudian ia menambahkan
bahwa Kebutuhan dasar manusia merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh
manusia untuk mempertahankan keseimbangan fisiologis maupun psikologis
individu. Maka dapat disimpulkan eliminasi merupakan kebutuhan dasar manusia
yang mengatur keseimbangan dalam tubuh manusia.
Konstipasi sering terjadi pada pasien tirah baring salah satunya penyakit
jantung koroner. Adapun efek dari konstipasi pada pasien penyakit jantung
3

koroner adalah dapat meningkatkan beban kerja jantung pada saat defekasi. Pada
pasien jantung perlu diupayakan juga agar tidak mengalami konstipasi karena
Kesulitan defekasi menyebabkan peningkatan kerja jantung dan menyebabkan
valseva manouver (ekspirasi untuk merentang glotis yang tertutup). valseva
manouver menyebabkan penurunan alir balik vena, tekanan darah rendah,
bradycardia.
valseva manouver adalah suatu keadaan dimana pembuangan napas
dilakukan secara paksa. Hal ini sangat dikhawatirkan apabila klien penyakit
jantung koroner mengedan secara paksa akan mengakibatkan kerja beban jantung
meningkat (Patricia, 2006). Dengan pemakaian obat pencahar secara menerus bisa
juga menyebabkan konstipasi karena dapat menurunkan tonus usus sehingga usus
menjadi kurang respon terhadap stimulus obat yang diberikan (Wahit iqbal,
2007).Tirah baring yang terlalu lama berpengaruh pada penurunan kondisi otot.
Untuk mengatasi hal tersebut perawat mengatur intervensi untuk mengurangi
kerja beban jantung akibat proses defekasi.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Doreen, Suzanne, Stanley, pada
tahun 2011 yang berjudul “ abdominal massage for the alleviation of constipation
symptoms in people with multiple sceloris : a randomized controlled feasibility
study”. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dampak abdominal massage
pada pasien multiple sceloris. Abdominal massage bertujuan untuk menstimulus
dan membantu kesehatan saluran pencernaan sehingga menurunkan tegangan
pada abdomen, memperlancar pergerakan peristaltik usus untuk mempermudah
proses defekasi. Menunjukkan adanya penurunan tingkat kejadian konstipasi
pada kelompok intervensi. Setelah dilakukan Abdominal massage selama 2-4 kali
pasien dapat buang air besar secara lancar.
Fenomena yang terjadi dimasyarakat bahwa penanganan keluhan dengan
konstipasi bukan hanya diobati dengan farmakologis tetapi juga dengan non
farmakologis. Arif Mutaqin (2009) mengatakan bahwa pendekatan non
farmakologis dapat dilakukan pada kejadian konstipasi yaitu meliputi teknik-
teknik mengurangi stres, olahraga yang cukup, makan-makanan yang
mengandung serat dan relaksasi merupakan intervensi yang harus dilakukan pada
4

kejadian konstipasi. Terapi non farmakologis salah satunya Massage dengan


memberikan sentuhanmerupakan teknik integrasi sensori yang mempengaruhi
sistem saraf otonom (Potter & perry, 2005).
Sentuhan yang diberikan dapat memberikan kenyamanan. Kenyamanan
tersebut akan menimbulkan respon relaksasi. Dalam bukunya Potter & Perry
(2010) mengatakan Apabila individu mempersepsikan sentuhan sebagai stimulus
untuk rileks, kemudian akan muncul respon relaksasi dan relaksasi sangat penting
untuk meningkatkan kenyamanan dan membebaskan diri dari ketegangan dan
stress akibat penyakit yang dialami. Salah satu teknik memberikan Massage
adalah Abdominal massage. Abdominal massage merupakan suatu metode berupa
pijatan yang difokuskan pada daerah abdominal yang telah direkomendasikan
untuk penggunaan pada pasien konstipasi (Marybetts, 2009).
Terapi non farmakologis merupakan terapi yang diaplikasikan dalam
dunia kesehatan. Khususnya pada Massage yang memberikan sentuhan yang
nyaman pada klien. Abdominal Massage berguna untuk menstimulus dan
membantu kesehatan saluran pencernaan sehingga menurunkan tegangan pada
abdomen khususnya pada pasien tirah baring. Abdominal Massage merupakan
terapi non farmakologis yang dilakukan dengan sentuhan yang diberikan kepada
pasien untuk memberikan kenyamanan. Dalam hal ini Abdominal Massage
dilakukan pada pasien konstipasi seperti infark miokard yang membantu
memperlancar konstipasi.
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di Rumah Sakit Dustira
Cimahi di ruang 3 jantung selama bulan januari 2016 diperoleh data 58 pasien
penyakit jantung koroner yang di rawat inap. Penyakit jantung koroner umumnya
akan dilakukan bedrest total selama 4-7 hari menyesuaikan kondisi klien. Hasil
wawancara dengan kepala ruangan, klien ada yang mengeluh tidak bisa buang air
besar. Biasanya perawat akan memberikan pencahar untuk melunakkan feses.
Terapi non farmakologis yang dilakukan di Ruang 3 jantung belum menerapkan
terapi Abdominal Massage. Namun perawat hanya menganjurkan klien dengan
mengkonsumsi makanan yang tinggi serat.
5

Berdasarkan fenomena yang terjadi, peneliti tertarik untuk melakukan


penelitian mengenai “Pengaruh Abdominal Massage terhadap kejadian konstipasi
pada pasien Penyakit Jantung Koroner dengan Tirah Baring di Rumah Sakit
Dustira Cimahi.”

1.2 Identikasi Masalah


Eliminasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang sangat penting
untuk mendukung fungsi normal tubuh. Gangguan pada eliminasi salah satunya
adalah konstipasi. Konstipasi merupakan hal yang tidak asing dikalangan
masyarakat atau sering disebut sembelit. Seseorang dikatakan konstipasi ditandai
dengan adanya feses yang keras dan tidak mengalami frekuensi buang air besar 3
kali dalam seminggu. Biasanya konstipasi terjadi pada klien tirah baring, aktivitas
terganggu sehingga mengakibatkan menurunnya peristaltik usus. Khususnya pada
pasien kardiovaskuler mengedan selama buang air besar dapat menyebabkan
peningkatan tekanan intrakanial.
Penyakit jantung termasuk jantung koroner merupakan penyebab
kematian utama yang terjadi di dunia, Sehingga harus segera ditangani dengan
cepat. Pasien jantung biasanya harus rawat inap dan perlu diistirahatkan tirah
baring yang disesuaikan dengan kondisinya. Tirah baring yang terlalu lama
berpengaruh pada penurunan kondisi otot, berkurangnya imobilisasi sehingga
pada pasien tirah baring akan mengakibatkan konstipasi. Efek dari konstipasi pada
pasien jantung koroner adalah dapat meningkatkan beban kerja jantung pada saat
defekasi dan terjadinya Valsava Manouever. Untuk mengatasi konstipasi perlu
dilakukan intervensi untuk mengurangi kerja beban jantung akibat defekasi.
Terapi komplementer seperti massage merupakan sistem pengobatan dan
perawatan kesehatan. Fenomena yang terjadi dimasyarakat bahwa penanganan
keluhan konstipasi bukan hanya dapat diobati dengan farmakologis tetapi juga
memakai prinsip non farmakologis dengan melakukan Abdominal Massage.
Massage atau dalam dunia kesehatan diaplikasikan dengan sentuhan langsung
yang diberikan kepada pasien dengan tujuan lebih mendekatkan diri kepada
pasien, memberikan kenyamanan, dan mengurangi tingkat kecemasan pada pasien
6

tirah baring. Salah satu teknik memberikan massage adalah tindakan pijat perut
atau Abdominal Massage.

1.3 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan pada pendahuluan di
atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Apakah terdapat
pengaruh Abdominal Massage terhadap konstipasi pada pasien Penyakit Jantung
Koroner dengan tirah baring di Rumah Sakit?”.

1.4 Tujuan Penelitian


1.4.1 Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh massage abdominal terhadap kejadian konstipasi
pada pasien penyakit jantung koroner dengan tirah baring di Rumah Sakit Dustira
Cimahi.
1.4.2 Tujuan Khusus
1.4.2.1 Untuk mengetahui keadaan konstipasi sebelum diberikan tindakan
abdominal massage pada pasien Penyakit Jantung Koroner di Rumah
Sakit Dustira Cimahi.
1.4.2.2 Untuk mengetahui keadaan konstipasi sesudah diberikan tindakan
abdominal massage pada pasien tirah baring di Rumah Sakit Dustira
Cimahi.
1.4.2.3 Untuk mengetahui defekasi sebelum dan sesudah dilakukan abdominal
massage terhadap kejadian konstipasi pada Pasien Penyakit jantung
Koroner dengan tirah baring di Rumah Sakit Dustira Cimahi.

1.5 Hipotesis Penelitian


Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh Abdominal
Massage terhadap kejadian konstipasi pada pasien Penyakit Jantung Koroner
dengan tirah baring di Rumah Sakit Dustira Cimahi.
7

1.6 Manfaat penelitian


1.6.1 Bagi rumah sakit
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan sebagai
kebijakan dalam memberikan terapi non farmakologis dengan abdominal
massage sebagai upaya untuk memperlancar konstipasi sehingga dapat
meningkatkan kualitas pelayanan di rumah sakit.
1.6.2 Bagi perawat
Sebagai landasan dalam memberikan asuhan keperawatan untuk
mengatasi kostipasi pada pasien penyakit jantung koroner. Abdominal
Massage Memberikan informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan
pertimbangan untuk memperlancar konstipasi pada pasien penyakit
jantung koroner dengan tirah baring secara non farmakologis yang
diberikan perawat.
1.6.3 Bagi Pasien
Dalam penelitian ini diharapkan dapat melancarkan konstipasi yang terjadi
pada pasien penyakit jantung koroner dan jika terjadi konstipasi berulang
pasien dapat melakukan secara mandiri.