Вы находитесь на странице: 1из 22

Ta’dibi ISSN 2442-4994 Volume 5 Nomor 1, April 2016 1

MANAJEMEN PROGRAM TAHFIZHL ALQURAN PADA PONDOK PESANTREN


MODERN

PROGRAM MANAGEMENT MEMORIZING THE QURAN AT ISLAMIC BOARDING


SCHOOL

Muhammad Riduan1a , Mustolah Maufur1, Omon Abdurakhman1


1
Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Djuanda Bogor,
Jl. Tol Ciawi No. 1 Kotak Pos 35 Ciawi Bogor 16720
a
Korespondensi: Muhammad Riduan, Email: riduanm046@gmail.com
(Diterima: 04-01-2016; Ditelaah: 11-01-2016; Disetujui: 18-01-2016)

ABSTRACT

This research is motivated urgency of memorizing the Quran as a form of guarding its
authenticity and prepareing the next generation who memorized the Quran that indicate beings
scholars, noble as a form of beings who excel in Achieving Complete Standard Learning At a
minimum, be able to compete in continue to pursue higher education, applicative and systematic,
active and excel in the religion based on the Quran and Hadith. Therefore, the need for good
management memorizing program and systematically, so that the program objectives can be
achieved effectively and efficiently. Formulation of the problem in this research is how the
memorizing Quran program management at boarding Fathan Mubina and whether the supporting
factors and obstacles in memorizing the Quran? The research is a qualitative research with case
study approach. Data were obtained by interview, documentation and observation. The results of
this study indicate that the process of program activities memorizing the Quran at boarding
Fathan Mubina school from planning, implementation, until the evaluation has been running
well. This can be seen from the results goal of memorizing the Quran has reached 80% of the
number of students who memorized and the cleric in charge of memorizing always makes a
target memorizing each students were arranged in the planning of learning such as school
calendars, annual program, determining the allocation of time and week effective.
Implementation of the rote learning of the Quran wear tahsin method, Tahfidz, talaqqi, and
tasmi. In addition, principals and coordinators memorizing always coordinate, monitor and
supervise the teachers when learning takes place. Evaluation form, the lesson is to test the daily
deposit, the deposit rote memorizing Semester and Final Exam (UAT). As for the children who
have not experienced mastery, then do remedial accordance with the provisions.
Keywords: Management, Program, Memorizing, the Quran, boarding school

ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi pentingnya kegiatan menghafal Alquran sebagai bentuk penjagaan
keaslian Alquran dan mempersiapkan generasi penerus yang hafal Alquran bersanad yang
berindikator insan cendekia, berakhlak mulia sebagai bentuk dari insan yang unggul dalam
Pencapaian Standar Ketuntasan Belajar Minimal, mampu bersaing dalam melanjutkan ke jenjang
pendidikan yang lebih tinggi, aplikatif, aktif dan berprestasi dalam keagamaan berdasarkan
Alquran dan Hadits. Oleh karena itu, perlu adanya pengelolaan program tahfizh yang baik dan
sitematis, agar tujuan program tersebut dapat tercapai secara efektif dan efisien. Rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana manajemen program tahfizh Alquran di Pondok
Pesantren Fathan Mubina dan apakah faktor pendukung dan penghambat dalam menghafal
2 Ridwan Manajemen Program Tahfizhl Alquran

Alquran? Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data
penelitian diperoleh dengan metode wawancara, dokumentasi, dan observasi. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa proses kegiatan program tahfizh Alquran di Pondok Pesantren Fathan
Mubina dari mulai perencanaan, pelaksanaan, sampai evaluasi sudah berjalan dengan baik. Hal
tersebut dapat dilihat dari hasil percapaian target hapalan Alquran sudah mencapai 80% dari
sejumlah santri yang hapal dan ustadz penggung jawab tahfizh selalu membuat target hafalan
setiap santri yang disusun dalam perangkat perencanaan pembelajaran seperti kalender
pendidikan, Prota, Prosem, penentuan alokasi waktu dan minggu efektif. Pelaksanaan
pembelajaran tahfidzul Qur’an memakai metode tahsin, tahfidz, talaqqi, dan tasmi. Di samping
itu kepala sekolah dan koordinator tahfidz yang selalu mengkoordinasi, memonitoring dan
melakukan supervisi kepada para guru ketika pembelajaran berlangsung. Bentuk evaluasi
pembelajaran yang dilakukan adalah dengan tes setoran harian, setoran hafalan Semester dan
Ujian Akhir tahfidz (UAT). Sedangkan untuk anak yang belum mengalami ketuntasan, maka
dilakukan remedial sesuai dengan ketentuan.
Kata Kunci: Manajemen, Program, Tahfizh, Alquran, Pondok Pesantren

Ridwan. 2016. Manajemen Program Tahfizhl Alquran Pada Pondok Modern. Ta’dibi 5 (1): 1 -
22
PENDAHULUAN Alquran yang diturunkan kepada Nabi
Muhammadldari zaman dahulu hingga yang
Alquran adalah kalam Allahlyang ada sekarang ini masih terjaga keaslian dan
merupakan mukjizat serta kitab suci yang kemurniannya, sesuai dengan apa yang
terakhir diturunkan Allahl dengan perantara diajarkan oleh Nabi Muhammadl kepada
malaikat Jibril q kepada Nabi Muhammad n para sahabatnya, dalam hubungan ini Allahl.
dan dituliskan di mushaf serta diriwayatkan Berfirman: "Sesungguhnya kamilah yang
dengan mutawatir, membacanya termasuk menurunkan Alquran, dan sesungguhnya
ibadah. Dan Alquran juga sebagai kitab kami benar-benar memeliharanya” (QS. Al-
petunjuk (hudan) yang dapat menuntun Hijr: 9).
umat manusia ke jalan yang benar. Alquran Salah satu cara untuk menjaga
adalah kitab kehidupan dan pedoman bagi keaslian Alquran ialah menghafalkannya
siapa saja yang menginginkan keselamatan yang biasa dikenal dengan tahfizhul qur’an,
di dunia dan terlebih di akhirat. Selain itu ia dan berbeda dengan kitab-kitab lainnya,
juga berfungsi sebagai pembeda (furqon) Alquran itu mudah dihafal dan ternyata
antara yang benar dan yang bathil. banyak pula orang yang sanggup menghafal
(Lembaga Percetakan Alquran (LPQ) Alquran 30 juz di luar kepala.(A. Muhaimin
Kemenag RI, 2012: 3) Sebagaimana Zen, 2013: xii)
dijelaskan oleh Allah ldalam surat al- Karena memelihara kesucian dengan
Baqarah ayat 185. (Beberapa hari yang menghafalkannya adalah pekerjaan yang
ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, terpuji dan amal yang mulia, yang sangat di
bulan yang di dalamnya diturunkan anjurkan Rasulullah. Dan Allahltelah
(permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi memudahkan dalam menghafal dan
manusia dan penjelasan-penjelasan menghayati Alquran kepada hamba-Nya
mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang serius menghafalnya. “Dan
yang hak dan yang bathil). (Q.S al-Baqarah Sesungguhnya telah Kami mudahkan
ayat 185) Alquran untuk pelajaran, Maka Adakah
Ta’dibi ISSN 2442-4994 Volume 5 Nomor 1, April 2016 3

orang yang mengambil pelajaran?”(Q.S Al- penghafal Alquran bersanad yang


Qomar: 17,22,32,40) berindikator insan cendekia yang berakhlak
mulia adalah insan yang unggul dalam
Disitulah Rasulullah serta para pencapaian standar ketuntasan belajar
sahabat-sahabatnya banyak yang hafal minimal, persaingan melanjutkan ke jenjang
Alquran, hingga sampai saat ini para pendidikan yang lebih tinggi, aplikasi,
penghafal Alquran banyak berkembang di aktivitas dan prestasi keagamaan
manapun dan menjadi tradisi pada zaman berdasarkan Alquran dan Hadits.
sekarang serta masih dilakukan oleh umat Kegiatan tahfizh di Pondok Pesantren
Islam di dunia ini. Fathan Mubina memiliki model yang khas.
Pondok pesantren adalah suatu wadah atau Para santri ditargetkan untuk mampu
tempat yang akan membentuk karakter dan menghafal Alquran dengan target yang telah
mental spiritual sadar sepenuhnya terhadap ditentukan, yaitu menghafal 2 juz dalam
akan kewajiban dan tanggungjawabnya jenjang setiap kenaikan kelas karena target
sebagai salah satu lembaga pendidikan yang itu tersebut sebagai syarat kenaikan kelas
akan mengisi pembangunan ini. para santri. Para santri diharapkan sudah
Dibangunnya pondok-pondok pesantren memiliki hafalan yang lancar (itqan) pada
baru baik oleh masyarakat maupun kenaikan kelas dan mereka juga dituntut
pemerintah, terutama khusus yang untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar
menghafal Alquran memungkinkan untuk sebagaimana sekolah Umum. Mereka tetap
memberi kesempatan yang luas kepada masuk kelas setiap hari supaya bisa
anak-anak dan remaja yang lain untuk mengikuti pendidikan resmi diselenggarakan
belajar menghafal Alquran. Hal ini oleh pemerintah. Pondok pesantren
menunjukkan bahwa melalui pesantren, menyelenggarakan kegiatan tersebut dengan
berbasis Alquran mampu menjadi sumber harapan mampu menghasikan generasi
solusi dalam memecahkan masalah qurani yang berkualitas dengan wawasan
pemasalahan kehidupan individu bahkan luas.
masyarakat. Melihat, mengamati, dan mencermati
Pada akhir-akhir ini, bahwa banyak program pesantren yang memenej program
terjadi perubahan yang cukup signifikan tahfizh Alquran pada pondok pesantren
pada dunia pesantren. Baik dalam sistem modern seperti Pondok Pesantren Fathan
pendidikan ataupun manajemen lembaga. Mubina, penulis merasa tertarik untuk
Hal ini menjadikan pendidikan Islam terus melakukan penelitian lebih lanjut dengan
tertantang untuk mempertahankan muncul pertanyaan penelitian: (1)
eksitensinya dan terus berbenah diri untuk Bagaimana manajemen program tahfizh
bisa bersaing, bahkan bisa menjadi lembaga Alquran pada Pondok Pesantren Modern?
pendidikan yang unggul pada masa yang (2) Apakah faktor pendukung dan faktor
akan datang. penghambat dalam penerapan kurikulum
Di Indonesia pada saat ini, dalam pembelajaran tahfizh Alquran Pondok
perkembangan lembaga-lembaga Islam yang Pesantren Modern?
mendidik para santri untuk mampu Adapun tujuan dari penelitian ini
menguasai ilmu Alquran secara mendalam, adalah: (1) Untuk mengetahui manajemen
dan menjadi hafidz dan hafidzhah. program tahfizh Alquran pada Pondok
Salah satunya yaitu Pondok Pesantren Pesantren Fathan Mubina, (2) Untuk
Fathan Mubina lembaga berbasis modern, mengetahui faktor pendukung dan faktor
dalam upayanya mencetak generasi penghambat dalam penerapan kurikulum
4 Ridwan Manajemen Program Tahfizhl Alquran

dalam pembelajaran tahfizh Alquran Pondok Di antara ketiga metode tersebut, yang
Pesantren Fathan Mubina. terakhir tampaknya paling banyak dipakai
orang dalam mengahafal Alquran. Selain itu,
MATERI DAN METODE ada juga metode menghafalkan Alquran
adalah sebagai berikut:
Materi 1) Metode Kitabah
2) Metode Sama’i
Deskripsi Konseptual Program Tahfizh 3) Metode Jami’
Alquran
Syarat-syarat dalam Menghafal Alquran
Pengertian Tahfizh Alquran
Selain cara-cara yang telah diuraikan di atas,
Tahfizh Alquran merupakan usaha ada beberapa hal yang juga bias membantu
seseorang untuk menjaga, menekuni dan dalam menghafal Alquran dan mencapai
menghafal Alquran agar tidak hilang dari hasil yang maksimal, baik dalam rangka
ingatan dengan cara selalu membacanya, menghafal atau menjaga hafalan Alquran.
menjaga hafalannya secara terus menerus hal ini sering disebut degan hal faktor
(A. Muhaimin Zen, 2013 : 5). pendukung dalam menghafal Alquran Hal-
hal tersebut adalah:
Metode Tahfizh Alquran. 1. Niat (Intention)
Dalam hal cara atau metode menghafal 2. Menjauhi Maksiat Dan Perbuatan Dosa
Alquran yang efektif, berlaku keberagaman, 3. Menjauhi Sifat-sifat Tercela
bukan keseragaman. Maksudnya antara satu (madzmumah)
dan lain orang berlaku metode yang tidak 4. Tentukan Target Hafalan Setiap Hari
sama, tergantung pada karakter, daya serap 5. Kontinuitas ) ‫) إ ْنتَ َظ َم‬
dan daya ingat masing-masing. Saat ini 6. Sanggup Mengulang-ulang Materi yang
sudah banyak hafizh yang membukukan sudah Dihafal
pengalaman menghafal mereka berbagai 7. Motivasi (Motivation)
macam metode dalam rangka mempermudah
proses menghafal Alquran. (A. Muhaimin
Zen, 2013: 55) Metode tersebut di Faktor-faktor Penghambat dalam
antaranya: Menghafal Alquran
1. Metode seluruhnya, yaitu membaca satu
halaman dari baris pertama sampai baris Agar proses menghafal dapat berjalan
terakhir secara berulang-ulang sampai efektif dan efesien, seorang penghafal
hafal Alquran hendaknya mengetahui faktor-
2. Metode bagian, yaitu orang yang faktor penghambat dalam menghafal
menghafal ayat demi ayat, atau kalimat Alquran. Sehingga, pada saatnya menghafal
demi kalimat yang dirangkaikan sampai ia sudah mendapatkan solusi terbaik untuk
satu halaman. pemecehannya (H. Sa’dulloh, 2008 : 67).
3. Metode campuran, yaitu kombinasi Diantara Faktor-faktor yang
antara metode seluruhnya dengan metode menghambat seseorang dalam proses
bagian. Mula-mula dengan membaca satu menghafal Alquran sering terjadi di
halaman berulang-ulang, kemudian antaranya:
diulang kembali secara keseluruhan (H. 1. Malas (Kaslanun)
Sa’dulloh, 2008 : 57). 2. Tidak Menjauhi Perbuatan Dosa
3. Bersikap Sombong (Ujub)
Ta’dibi ISSN 2442-4994 Volume 5 Nomor 1, April 2016 5

4. Tak Ada Rencana atau Target yang bawah ini.


Jelas
5. Tidak Bisa Mengatur Waktu Tabel 2.1
ْ َ‫ِى – ن‬
6. Sering Lupa (‫سيَان‬ ّ ‫)نَس‬ Fungsi-fungsi Manajemen
7. Kurang Perhatian atau Tak Ada
Motivasi George R. John F. Mee MC. Namara
Terry
Manajemen Program 1. Planning 1. Planning 1. Planning
2. Organizing 2. Organizing 2. Programming
Pengertian Manajemen Program 3. Actuating 3. Motivating 3. Budgeting
4. Controlling 4. Controlling 4. System
Manajemen program adalah terapan dari Henry Drs. P. Siagian Jhon. D. Millet
pengertian dan prinsip-prinsip manejemen Fayol
umum. Secara bahasa (etimologi) 1. Planning 1. Planning 1. Directing
manajemen berasal dari kata kerja “to 2. Organizing 2. Organizing 2. facilitation
3. Commanding 3. Motivation
manage” yang berarti mengatur (Oemar
4. Coordination 4. Controlling
Hamalik, 2012 : 27). 5. Controlling 5. Evaluation
Adapun menurut istilah (terminologi)
terdapat banyak pendapat mengenai
pengertian manajemen salah satunya Dari beberapa fungsi-fungsi
menurut Harold koontz dan Cryril O’Donel, manajemen para ahli di atas dapat dikatakan
Manajemen adalah usaha mencapai suatu bahwa manajemen program merupakan
tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain. usaha untuk pengelolaan terkoordinasi yang
Dengan demikian manajer mengadakan meliputi perencanaan (Planning), organisasi
koordinasi atas sejumlah aktivitas orang lain (organizing), pelaksanaan (actuating),
yang meliputi perencanaan, control (controlling), penilaian (evaluation)
pengorganisasian, penempatan, pengarahan, dari sekelompok pendidik dan tenaga
dan pengendalian. Sedangkan menurut pendidik untuk mencapai tujuan dan
Prayudi, manajemen adalah pengendalian manfaat program secara efektif dan efesien.
dan pemamfaatan dari pada semua factor
1. Perencanaan (planning)
dan sumber daya yang menurut suatu
Perencanaan adalah kegiatan
perencanaan (Planning) diperlukan untuk
menentukan tujuan serta merumuskan
mencapai atau menyelesaikan suatu tujuan
sertan mengatur pendayagunaan
kerja tertentu (Eka Prihatin, 2011 : 2).
sumber-sumber daya:, informasi,
Manajemen pada hakekatnya dapat
finansial, metode, dan waktu yang di
dipahami sebagai proses kerjasama sama
ikuti dengan pengambilan keputusan
dua orang atau lebih dengan menggunakan
serta penjelasan tentang pencapaian
sumber daya yang dimiliki organisasi untuk
tujuan, penentuan kebijakan, penetuan
mencapai tujuan yang telah ditetapkan
program, penentuan metode-metode dan
(Onisimus Amtu, 2011 : 1).
prosedur tertentu dan penentuan jadwal
Fungsi-fungsi Manajemen Program pelaksanaan kegiatan (Darwiyn Syah,
Supardi, dkk, 2007: 29).
Fungsi-fungsi manajemen yang dkemukakan PP RI no. 19 th. 2005 tentang
para penulis tidak sama, tergantung pada standar nasional pendidikan pasal 20
sudut pendekatan dan pandangan mereka menjelaskan bahwa; “Perencanaan
(H. Malayu S.P. Hasibuan, 2005 :3). Untuk proses pembelajaran memiliki silabus,
bahan perbandingan dikemukan pembagian perencanaan pelaksanaan pembelajaran
fungsi-fungsi manajemen pada tabel 2.1 di
6 Ridwan Manajemen Program Tahfizhl Alquran

yang memuat sekurang-kurangnya untuk mengetahui apakah tujuan yang


tujuan pembelajaran, materi ajar, telah ditentukan dapat dicapai, apakah
metode pengajaran, sumber belajar, dan pelaksanaan program sesuai dengan
penilaian hasil belajar” (Peraturan rencana, dan dampak apa yang terjadi
Pemerintah Republik Indonesia no. 19 setelah program dilaksanakan. Evaluasi
tahun 2005 Tentang Standar Nasional program berguna bagi para pengambil
Pendidikan: 15). keputusan untuk menetapkan apakah
2. Pengorganisasian (organizing) program akan dihentikan, diperbaiki,
Pengorganisasian adalah suatu proses dimodifikasi, diperluas, atau
penentuan, pengelompokan dan ditingkatkan (Djuju Sudjana, 2008: 9).
pengaturan bermacam-macam aktivitas
yang diperlukan mencapai tujuan, Pondok Pesantren Modern
menempatkan orang-orang pada setiap
aktivitas, menyediakan alat-alat yang Pondok adalah sebuah asrama di mana para
diperlukan, menetapkan wewenang santrinya tinggal bersama dan belajar di
yang secara relatif didilegasikan kepada bawah bimbingan seseorang guru yang lebih
setiap individu yang akan melakukan dikenal dengan sebutan “kyai” (H.
aktifitas tersebut (Syauful Sagala, 2013: Ramayulis, 2012 : 269). Sedangkan
42). pesantren berasal dari kata santri, dengan
3. Pelaksanaan (actuating) awalan “pe” dan akhiran “an” yang berarti
Pelaksanaan program pembelajaran tempat santri-santri atau murid-murid belajar
merupakan proses kegiatan belajar mengaji.
mengajar di kelas maupun di luar kelas Modern dalam istilah di pesantren
yang secara langsung antara guru dan ialah berkonotasi pada nilai-nilai
peserta didik. Jadi pelaksanaan adalah komodernan yang positif seperti disiplin,
interaksi guru dengan peserta didik rapi, tepat waktu, kerja keras. Termasuk
dalam rangka untuk menyampaikan nilai modern yang bersifat fisikal yang
bahan ajar kepada peserta didik dan tergambar dalam cara berpakaian santri
untuk mencapai tujuan pengajaran. dengan simbol dasi, jas, dan rambut pendek
4. Penilaian (evaluation) ala militer.
Penilaian (evaluation) adalah kegiatan Pondok Pesantren Modern adalah
mengumpulkan, mengolah dan (kholaf, ashriyah), yang merupakan
menyajikan data untuk masukan dalam kebalikan dari Pondok Pesantren Salaf
pengambilan keputusan mengenai (salafiyah, tradisional). Pondok pesantren
program yang sedang atau telah Modern memiliki konotasi yang bermacam-
dilaksanakan. Penilaian dilakukan macam. Tidak ada definisi dan kriteria pasti
terhadap seluruh atau sebagian unsur- tentang pon-pes seperti apa yang memenuhi
unsur program serta terhadap atau patut disebut dengan pesantren
pelaksanaan program pendidikan. 'modern'.
Evaluasi program harus dan dapat Di Indonesia mencatat, bahwa pondok
diselenggarakan secara terus menerus, pesantren adalah bentuk lembaga pendidikan
berkala, dan sewaktu. Kegiatan evaluasi pribumi tertua di Indonesia (Departemen
ini dapat dilakukan pada saat sebelum, Agama RI Direktorat Jenderal Kelembagaan
sedang, atau setelah program Agama Islam, 2003 : 7). Secara garis
pendidikan dilaksanakan. Evaluasi besarnya, dijumpai dua macam pendapat
merupakan kegiatan yang bermaksud yang mengutamakan tentang pandangannya
tentang asal usul pesantren, sebagai institusi
Ta’dibi ISSN 2442-4994 Volume 5 Nomor 1, April 2016 7

pendidikan Islam. Pertama pesantren adalah untuk menghasilkan data deskriptif berupa
institusi pendidikan Islam, yang berasal dari kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang
tradisi mereka berkesimpulan, bahwa dan perilaku yang diamati.
pesantren lahir dari pola kehidupan Penelitian ini merupakan penelitian
tasawwuf, yang kemudian berkembang di kualitatif yang berbentuk dalam jenis
wilayah Islam, seperti timur tengah dan penelitian lapangan (field research) yang
afrika utara yang dikenal dengan sebutan berusaha mengadakan penelitian ke lokasi
Zawiyat. Kedua pesantren merupakan secara langsung dengan maksud
kelanjutan dari tradisi hindu budha yang memperoleh data-data yang akurat, cermat
sudah mengalami proses Islamisasi. Mereka dan lebih lengkap.
melihat adanya hubungan antara perkataan Adapun pendekatan yang digunakan
pesantren dengan kata shastri dari Bahasa pada penelitian adalah pendekatan studi
sanskerta (H. Ramayulis, 2012: .263). kasus yaitu merupakan pengujian secara
Meskipun dalam kondisi fisik yang rinci terhadap, suatu latar, satu subyek, satu
sederhana, pesantren ternyata mampu tempat penyimpanan, atau peristiwa tertentu.
menciptakan tata kehidupan tersendiri yang Dalam penelitian ini studi kasus dititik
unik, terpisah, dan berbeda dari kebiasaan beratkan pada Manajemen Program Tahfizh
umum. Bahkan lingkungan dan tata Alquran di Pondok Pesantren Fathan
kehidupan pesantren dapat dikatakan Mubina di Desa Ciawi Kab Bogor Jawa
sebagai subkultur tersendiri dalam Barat supaya mendapatkan data deskriptif
kehidupan masyarakat sekitarnya (Ahmad berupa kata-kata tertulis yang disusun
Damanhuri, Didin Hafidhuddin, Endin berdasarkan data lisan, perbuatan, dan
Mujahidin, 2013 : 32). dokumentasi yang diamati secara holistik
Sejalan dengan hal inilah, materi yang dan bisa diamati secara konteks.
diajarkan di pondok pesantren semuanya Sumber data dalam penelitian adalah
terdiri dari materi agama yang berlangsung Subjek dari mana data dapat diperoleh.
dihali dari kitab-kitab klasik yang berbahasa Adapun menurut Lofland dan Lofland,
arab. Akibat perkembangan zaman dan seperti dikutip oleh Moleong, “Sumber data
tuntutannya, tujuan pondok pesantren pun utama dalam penelitian kualitatif adalah
bertambah dikarenakan peranannya yang kata-kata, tindakan, selebihnya adalah
signitifikan, Tujuan itu adalah (4) berupaya tambahan seperti dokumen dan lain-lain (S.
meningkatkan pengembangan masyarakat di Margono, 2003: 36).
berbagai sektor kehidupan. Sedangkan karakteristik dari data
Namun sesungguhnya, toga Tujuan pendukung berada dalam bentuk data
terakhir adalah manifestasi dari hasil yang tambahan dalam penelitian ini dapat
dicapai pada tujuan pertama, tafaqquh fid- berbentuk surat-surat, daftar hadir, data
din. Tujuan ini pun pun semakin statistik ataupun segala bentuk dokumentasi
berkembang sesuai dengan tuntutan yang yang berhubungan fokus penelitian.
ada pada saat pondok pesantren itu berdiri Dalam penelitian yang penulis lakukan
(Ahmad Damanhuri, Didin Hafidhuddin, ini sumber datanya meliputi 3 unsur, yaitu:
Endin Mujahidin, 2013 : 9). (1) Persona yaitu sumber data yang bisa
memberikan data berupa jawaban lisan
Metode melalui wawancara atau jawaban
Penelitian ini merupakan jenis penelitian tertulis.(Suharsimi Arikunto, 2013: 172).
kualitatif. Penelitian kualitatif, yaitu sebuah Ucapan Pengasuh, Uztadz penanggungjawab
penelitian yang menggunakan prosedur tahfizh, santri tahfizh dan pihak-pihak yang
8 Ridwan Manajemen Program Tahfizhl Alquran

terkait dalam penelitian ini yang penulis ini. Peneliti dapat mengajukan berbagai
amati dan wawancarai mejadi sumber data pertanyaan berikutnya yang lebih terahah
utama yang dituangkan melalui catatan pada suatu tujuan. Berikut ini beberapa
tertulis. (2) Tempat yaitu sumber data yang contoh garis besar bentuk pertanyaan yang
menyajikan tampilan berupa keadaan diam diajukan dalm wawancara: (1) Pertanyan
dan bergerak. (Suharsimi Arikunto, 2013: tentang tujuan program tahfizh Pondok
172) Data yang berupa kondisi fisik yayasan Pesantren Fathan Mubina, (2) Pertanyaan
dan juga aktivitas yang dialami sehari-hari tentang berkenaan sistem pembelajaran
oleh seluruh komunitas yang ada di yayasan tahfizh Pondok Pesantren Fathan Mubina
menjadi sumber data pendukung yang dan metode tahfizh Alquran Pondok
diwujudkan melalui rekaman gambar. (3) Pesantren Fathan Mubina, (3) Pertanyaan
Sumber tulisan yaitu sumber data yang tentang faktor-faktor penghambat dan
menyajikan tanda-tanda berupa huruf, pendukung serta pengembangan budaya
angka, gambar, atau simbol-simbol lain. menghafal Alquran, (4) Pertanyaan tentang
(Suharsimi Arikunto, 2013: 172) Sumber pengembangan sumber daya manusia
data ini diperoleh dari buku-buku, dokumen, pengembangan sarana prasarana.
arsip, dan lain sebagainya. Data yang
penulis kumpulkan dari Pondok Pesantren Observasi
Fathan Mubina data yang berkaitan dengan Observasi diartikan sebagai pengamatan dan
fokus penelitian. Jika dicermati dari segi pencatatan secara sistematik terhadap gejala
sifatnya, maka data yang dikumpulkan yang tampak pada objek penelitian. (S.
adalah data kualitatif berupa kata-kata dan Margono, 1997:158) Di dalam penelitian ini
bahasa tertulis, kata-kata subjek yang penulis menggunakan teknik observasi
kemudian diubah dalam bahasa tulis, dan partisipan dimana peneliti datang ke tempat
fenomena perilaku subjek yang yang akan diteliti dan diamati.
diabtraksikan dalam Bahasa tulis. Observasi partisipan adalah suatu
proses pengamatan bagian dalam dilakukan
Teknik Pengumpulan Data oleh observer dengan ikut mengambil
bagian dalam kehidupan orang-orang yang
Wawancara mendalam
akan observasi. (S. Margono, 1997:161)
Wawancara adalah suatu percakapan yang Observasi dan pengamatan yaitu
diarahklan pada suatu masalah tertentu. peneliti terjun langsung dan ikut serta dalam
(Imam Gunawan, 2014: 160) Wawancara kegiatan program Tahfizh Alquran di
mendalam merupakan wawancara yang Pondok Pesantren Fathan Mubina.
bebas dimana peneliti tidak menggunakan Tujuan Observasi ini adalah untuk
pedoman wawancara yang telah tersusun mengetahui bagaimana proses program
secara sistematis dan lengkap untuk tahfizh yang diajarkan pada santri di Pondok
pengumpulan datanya. Pedoman wawancara pesantren Fathan Mubina meliputi: (a)
yang digunakan hanya berupa garis-garis Bagaimana proses program pembelajaran
besar permasalahan yang akan ditanyakan. tahfizh Alquran dalam kelas, baik cara guru
(Sugiono, 2011: 140) mengajar hafalan baru, mengulang serta
Wawancara dilakukan secara proses lainya. (b) Bagaimana tanggapan
mendalam kepada sejumlah responden yakni santri-santri melalui gerak gerik serta sikap
para ustadz penanggung jawab program lain yang diamati. (c) Sarana dan prasarana
tahfizh di pondok pesantren Fathan Mubina yang digunakan di Pondok pesantren Fathan
yang memiliki kaitannya dengan penelitian Mubina.
Ta’dibi ISSN 2442-4994 Volume 5 Nomor 1, April 2016 9

ustadz, beserta pihak lain yang berkaitan.


Dokumentasi Lebih jauh lagi, hasil wawancara tersebut
kemudian ditelaah kembali dengan basil
Dokumentasi merupakan catatan peristiwa pengamatan yang dilakukan selama masa
yang sudah berlalu. Dokumen berbentuk penelitian untuk mengetahui bagaimanakah
tulisan, gambar, atau karya-karya Manajemen Program Tahfizh,
monumental dari seseorang. (Sugiono, 2011: bagaimanakah sistem pengajaran Ustadz.
329). Setiap bahan tertulis atau tulisan yang Setelah semua data terkumpul, langkah
memuat informasi. Biasanya ditulis di atas berikutnya adalah menjelaskan objek
kertas dan informasinya ditulis memakai permasalahan secara sistematis serta
tinta baik memakai tangan atau memakai memberikan analisis terhadap objek kajian
media elektronik (printer). Teknik ini tersebut.
peneliti gunakan untuk mencari data-data Dalam memberikan penjelasan
yang berupa catatan atau tulisan yang mengenai data yang diperoleh digunakan
berkaitan dengan pelaksanaan manajemen metode deskriptif kualitatif yaitu suatu
program tahfizh Alquran di Pondok metode penelitian yang berusaha
pesantren Fathan Mubina, di antaranya: (a) mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa,
Profil, visi, misi dan tujuan Pondok kejadian yang bersifat sekarang. Jadi
pesantren Fathan Mubina. (b) Kurikulum digunakannya metode deskriptif adalah
program tahfizh Alquran di Pondok untuk mendeskripsikan proses program
pesantren Fathan Mubina berupa struktur pembelajaran Tahfizh Alquran di Pondok
Yayasan dan lain-lainnya. (c) File atau Pesantren Fathan Mubina.
dokumen mengenai data guru dan santri. (d) Untuk penelitian ini penulis
Foto-foto gedung sekolah dan di kelas ketika menggunakan teknik analisis data Model
pembelajaran berlangsung. Miles dan Hubermen bahwa aktivitas dalam
analisis data kualitatif dilakukan secara
Prosedur Analisis Data interaktif dan berlangsung secara terus
menerus sampai tuntas, sehingga datanya
Analisis data adalah proses mencari dan sudah jenuh. (Sugiono, 2014: 246) Maka
menyusun secara sistematis data yang analisis data yang dilakukan akan melalui
diperoleh dari hasil wawancara, catatan beberapa tahapan yaitu data reduction
lapangan, dokumentasi, dengan cara (reduksi data), data display (penyajian data),
mengorganisasikan data kedalam kategori, dan consclusion drawing/verification
menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan (kesimpulan).
sintesa, menyusun kedalam pola, memilih Data Reduction (Reduksi Data) yaitu
mana yang penting dan yang akan dipelajari, mereduksi data berarti merangkum, memilih
dan membuat kesimpulan sehingga mudah hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal
difahami oleh diri sendiri maupun orang yang penting, dicari tema dan polanya.
lain. (Sugiono, 2014: 244) Dengan demikian data yang telah direduksi
Analisis data ini digunakan untuk akan memberikan gambaran yang lebih
menyusun, mengolah, dan menghubungkan jelas, dan mempermudah peneliti untuk
semua data yang diperoleh dari lapangan melakukan pengumpulan data selanjutnya,
sehingga menjadi sebuah kesimpulan atau dan mencarinya bila diperlukan. (Sugiono,
teori. Dalam analisis data dilakukan 2014: 247). Data yang direduksi adalah
pengecekan data yang berasal dari mengenai proses program pembelajaran
wawancara dengan pengasuh, murabbi, Tahfizh Alquran di Pondok Pesantren
10 Ridwan Manajemen Program Tahfizhl Alquran

Fathan Mubina yang terkumpul, baik dari Pemeriksaan Keabsahan Data


hasil penelitian lapangan atau kepustakaan
dibuat sebuah rangkuman. Keabsahan data merupakan konsep penting
Data Display (penyajian data) yaitu yang diperbaharui dari konsep kesahihan
penyajian data adalah menyajikan (validitas) dan keterandalan (reliabilitas).
sekumpulan informasi yang tersusun, maka Penelitian merupakan kerja ilmiah, untuk
akan memudahkan untuk memahami apa melakukan ini mutlak dituntut secara
yang terjadi, merencanakan kerja objektivitas, untuk memebuhi kriteria ini
selanjutnya berdasarkan apa yang telah dalam penelitian maka kesahihan (validitas)
difahami tersebut. (Sugiono, 2014: 249). dan keterandalan (reliabilitas) harus
Setelah itu melalui penyajian data, maka dipenuhi kalau tidak maka proses penelitian
data dapat terorganisasikan sehingga akan itu perlu dipertanyakan keilmiahannya.
semakin mudah dipahami. Sajian data (Iskandar, 2013: 230)
tersebut dimaksudkan untuk memilih data Untuk menguji keabsahan data yang
yang sesuai dengan kebutuhan peneliti dikumpulkan, maka peneliti menggunakan
tentang program pembelajaran Tahfizh teknik kepercayaan (credibility) dalam
Alquran di Pondok Pesantren Fathan penelitian. (1) Perpanjangan
Mubina. Ini artinya data yang telah keikutsertaan/Pengamatan. Keikutsertaan
dirangkum tadi kemudian dipilih, sekiranya peneliti sangat menentukan dalam
data mana yang diperlukan untuk penulisan pengumpulan data. Keikutsertaan tersebut
laporan penelitian. tidak hanya dilakukan dalam waktu singkat,
Penyajian data dapat berupa grafik, tetapi memerlukan perpanjangan
matrik maupun table. Data yang disajikan keikutsertaan pada latar penelitian. (Lexy J.
tersebut diantra lain sejarah berdirinya Moleong, 2011: 327) Dengan perpanjangan
Pondok Pesantren Fathan Mubina, letak keikutsertaan maka peneliti kembali ke
geografis, kondisi lingkungan, keadaan lapangan, melakukan pengamatan,
guru, keadaan santri, proses program tahfizh wawancara kembali dengan sumber data
Alquran, visi-misi, sarana prasarana dan yang pernah ditemui maupun yang baru. (2)
seluruh hasil penelitian. Meningkatkan Ketekunan, (3)
Conclusion Drawing/ verification Meningkatkan ketekunan berarti melakukan
(kesimpulan) pengamatan secara lebih cermat dan
Langkah ketiga yaitu penarikan berkesinambungan. Dengan cara tersebut
kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan ini maka kepastian data dan urutan peristiwa
akan diakui dengan bukti- bukti yang akan dapat direkam secara pasti dan
diperoleh ketika penelitian di lapangan. sistematis. (Sugiyono, 2015: 370) Sebagai
Verifikasi data dimaksudkan untuk bekal peneliti untuk meningkatkan
penentuan data akhir dari keseluruhan ketekunan adalah dengan cara membaca
proses tahapan analisis sehingga berbagai referensi buku maupun hasil
keseluruhan permasalahan mengenai penelitian atau dokumentasi-dokumentasi
program pembelajaran Tahfizh Alquran di yang terkait dengan temuan yang diteliti. (3)
Pondok Pesantren Fathan Mubina dapat Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini
terjawab sesuai dengan data dan diartikan sebagai pengecekan data dari
permasalahannya. berbagai sumber dengan berbagai cara dan
berbagai waktu. (Sugiyono, 2015: 372) (a)
Triangulasi sumber untuk menguji
kredibilitas data dilakukan dengan cara
Ta’dibi ISSN 2442-4994 Volume 5 Nomor 1, April 2016 11

mengecek data yang telah diperoleh melalui sebuah perencanaan pembelajaran yang baik
berbagai sumber. Peneliti mengecek data atau lebih terperinci akan membuat guru
melalui beberapa narasumber yaitu sumber lebih mudah dalam hal penyampaian materi
pertama pimpinan; yang kedua coordinator pembelajaran, pengorganisasian peserta
program tahfizh dan pembimbing didik di kelas, maupun pelaksanaan evaluasi
ekstrakurikuler tahfizh Alquran atau pembelajaran baik proses ataupun hasil
penanggung jawab tahfizh Alquran; yang belajar.
ketiga para santri. (b) Triangulasi teknik Sebelum merencanakan program
untuk menguji kredibilitas data dilakukan tahfizh di Pondok Pesantren Fathan Mubina
dengan cara mengecek data kepada sumber terlebih dahulu sudah diadakan rapat dengan
yang sama dengan teknik yang berbeda. unsur yang terkait langsung sebagai
Peneliti mengecek data melalui beberapa pelaksanaan program tahfizh seperti
teknik yang digunakan yaitu wawancara, Pimpinan Pondok, Kepala Sekolah,
observasi dan dokumentasi. (c) koordinator tahfizh, dan para instruktur
Menggunakan bahan referensi yang di tahfizh. Dalam rapat tersebut membahas
maksud dengan bahan referensi di sini perencanaan pembelajaran tahfizh Alquran
adalah adanya pendukung untuk untuk masa yang akan datang. Dengan
membuktikan data yang telah ditemukan adanya rapat ini diharapkan perencanaan
oleh peneliti. Maka peneliti menggunakan pembelajaran dapat lebih terencana.
rekaman saat melakukan wawancara untuk Dalam proses perencanaan Program
dapat mendukung validitas data yang Tahfizh Alquran di Pondok Pesantren
diperoleh. Fathan Mubina ada beberapa tahapan-
tahapan. Berikut ini akan dijelaskan
tahapan-tahapan tersebut:
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penentuan Materi Program Tahfizh
Deskripsi Data Alquran
Materi hafalan Tahfizh Alquran di Pondok
Manajemen Tahfizh Alquran di Pondok Pesantren Fathan Mubina mulai tahun
Pesantren Fathan Mubina pelajaran 2004-2005 atas kebijakan yayasan
dan para Asatidz yakni dari kelas 1
Perencanaan Program Tahfizh Alquran materinya juz 30 yakni Juz amma secara
di Pondok Pesantren Fathan Mubina bertahap dan berangsur-angsur surat demi
Program adalah rangkaian kegiatan-kegiatan surat di iringi dengan perbaikan bacaan
atau seperangkat tindakan untuk mencapai Alquran (Tahsinul Qur’an) para santri yang
tujuan. Perencanaan program merupakan belum lancar dalam bacaannya. Sedangkan
untuk mengembang suatu rencana, prosedur untuk kelas 2-5 materinya juz 1-7 secara
kerja dengan metode yang baru dan bertahap dan berangsur-angsur ayat demi
mengembangkan kebijakan-kebijakan ayat dan surat demi surat, selanjutnya kelas
berupa aturan dan ketentuan. Tujuan 6 materinya meneruskan atau mengulangi
perencanaan program adalah untuk materi yang dulu yakni juz 30 dan juz 1-7.
meningkat kemampuan guru dalam proses Karena untuk mengejar target minimal yang
pelaksanaan program karna yang sudah ditetapkan. (Hasil wawancara, Ustadz
menentukan suatu keberhasilan proses Mus Ahmad Khoirul Huda, 10/2/2016)
perencanaan program adalah guru itu Adapun materi dan target hafalan
sendiri, hal ini didasarkan dengan membuat kelas satu adalah juz 30 yakni surat An-
12 Ridwan Manajemen Program Tahfizhl Alquran

Naba’ sampai surat An-nas, kelas dua adalah wawancara, Ustadz Mus Ahmad Khoirul
juz 1-2 yakni surat al-baqorah ayat 1-252, Huda, 10/2/2016) Maka di pondok pesantren
kelas tiga adalah juz 3 yakni surat al- fathan mubina mengajurkan kepada ustazh
Baqorah ayat 253-286 dan surah Ali Imran penanggung jawab tahfizh dalam pembuatan
ayat 1-91 serta ditambah atau mengulangi perangkat perencanaan pembelajaran seperti
dengan materi yang dulu yakni Juz 30 dan Kalender pendidikan, perhitungan pekan
Juz 1-2 , kelas empat adalah juz 4-5 yakni efektif dan jam tatap muka, Prota (Program
surat ali Imron ayat 92-200 dan surat an tahunan), Prosem (Program semester).
nisa’ ayat 1-147, kelas lima adalah juz 6-7 Dan setelah akhir kenaikan kelas
surat An Nisa’ ayat 148-176, surat Al nantinya program-program perencanaan dan
Maidah ayat 1-120 dan surat An An’am ayat seluruh lembar penilaian dari hasil hafalan
1-110, dan kelas 6 mengulangi materi atau santri disusun dan dikumpulkan, diserahkan
muraja’ah dari kelas satu sampai kelas 5 kepada ustadz koordintor tahfizh. Hal ini
yakni juz 30 dan juz 1-7. dilakukan sebagai bentuk laporan akhir
pertanggung jawaban tugas mengajar
Penentuan Alokasi Waktu Jam Pelajaran program tahfizh. Dengan menyusun
Alokasi waktu sebagai acuan terkiranya program-program perencanaan pembelajaran
berapa lama waktu yang akan terpakai tersebut, diharapkan kegiatan pembelajaran
dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan Tahfizh Alquran akan menjadi terarah
dalam proses belajar anak didik dalam dengan baik.
materi yang telah ditentukan. Alokasi suatu
hal yang sangat perlu diperhatikan untuk Pelaksanaan Program Tahfizh Alquran
memperkirakan jumlah jam pelaksanaan di Pondok Pesantren Fathan Mubina
program pembelajaran yang akan Pelaksanaan kegiatan program adalah
diperlukan. Melihat materi dan target sebagai titik yang dilakukan secara
hafalan yang sangat banyak tersebut, oleh terencana oleh pendidik dalam rancangan
karenanya Pondok Pesantren Fathan Mubina pelaksanaan yang telah disusun dengan baik
memberikan waktu yang sangat banyak di dalam target materi maupun rencana
pula. Sehingga perminggunya 6 jam mata pembelajaran. Karena itu dalam pelaksanaan
pelajaran yakni 1 jam setiap hari awal kegiatan ini harus memiliki hal yang
memulai pembelajaran. Jadi setiap hari ada menunjukkan penerapan langkah-langkah
pelajaran tahfizh Alquran. dan di tambah metode dan strategi kegiatan belajar
dengan waktu setelah subuh dan setelah mengajar.
magrib. (Hasil wawancara, Ustadz Syahrul Dalam penerapan ini mempunyai
Mubarok, S.Hi, 10/2/2016). beberapa langkah yang harus dilakukan
dalam pembelajaran tahfizh diantaranya:
Membuat Perangkat Perencanaan
Pembelajaran Langkah-langkah kegiatan pembelajaran
Tahfizh Alquran
Dalam pembuatan perencanaan
pembelajaran, dari hasil wawancara dengan Pelaksanaan pembelajaran mempunyai
Ustadz Mus Ahmad Khoirul Huda selaku langkah-langkah meliputi kegiatan
koordinator program tahfizh di Pondok pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan
Pesantren Fathan Mubina mengatakan penutup. Dan hasil dari wawancara dan
bahwa dalam setiap pembelajaran yang pengamatan proses program pembelajaran
tersusun rapi pasti ada namanya perangkat Tahfizh Alquran di Pondok Pesantren
perencanaan pembelajaran. (Hasil Fathan Mubina, ada berapa tahapan yang
Ta’dibi ISSN 2442-4994 Volume 5 Nomor 1, April 2016 13

dilakukan oleh ustadz-ustadz tahfizh dalam Materi Setiap Pertemuan


proses kegiatan pembelajaran di kelas
kurang lebihnya yaitu sebagai berikut: Sesuai dengan materi dan target hafalan
1) Pendahuluan, Dalam tahap ini yang telah dijelaskan di atas. Untuk
koordinator tahfizh dan para ustadz mewujudkan target hafalan pada Santri
penanggung jawab tahfizh telah Pondok Pesantren Fathan Mubina, maka
melakukan pembiasaan untuk senantiasa setiap pertemuan disesuaikan dengan standar
berdoa bersama santri sebelum prosedur pelaksanaan program tahfizh, oleh
melaksanakan atau memulaikan karena itu para santri diwajibkan menghafal
pelajaran. Dan setelah itu menanyakan minimal 1 halaman. Semua itu tergantung
kehadiran santri, kemudian memotivasi dari kemampuan hafalan santri, guru ustadz
dan membuat gairah belajar anak untuk dapat memberikan himbauan minimal 1
menghafal Alquran dan setelah itu halaman, jika anak bisa lebih dari yang
muraja’ah bersama-sama dan bagi kelas 1 dihimbaukan itu lebih bagus, tetapi jika anak
itu diawali dengan kegiatan tahsin. tidak bisa dan sulit sekali untuk menghafal,
2) Kegiatan inti. Dalam tahap ini ustazh maka disuruh untuk tadarus atau muraja’ah
penanggung jawab tahfizh melakukan saja, yang terpenting gairah anak untuk
serangkaian aktivitas dalam pembelajaran menghafal Alquran sudah muncul dan masih
dengan membimbing santri untuk ada. (Hasil wawancara, Ustadz Mus Ahmad
menghafal Alquran. Untuk kelas 1 cara Khoirul Huda, 10/2/2016)
proses penghafalannya dilakukan dengan Adapun materi untuk pertemuan
tahsin dan membaca dengan bersama- muraja’ah itu tergantung pada batas hafalan
sama dituntut oleh ustadz-ustadznya santri dan untuk materi pertemuan ta’lim
dengan mengulang-ulang bacaan tergantung pada kelompok masing-masing
perkata/perlafadz, dan secara tidak dan kepada ustadz yang membimbing
langsung mereka hafal dengan sekaligus memantau perkembangan santri.
sendirinya. Sedangkan kelas 2 sampai Biasanya materi untuk ta’lim adalah kelas 1.
kelas 6 para ustadz meminta santri Melihat kemampuan anak dalam membaca
menghafal sendiri dengan memberikan Alquran berbeda-beda, maka batas tadarus
kurang lebih 20 menit untuk menghafal 1 untuk mentahsin anak kelompok satu
halaman. Setelah dirasa banyak santri dengan kelompok yang lainnya berbeda
yang hafal, ustadz kemudian memanggil sehingga materinya juga sedikit berbeda.
satu persatu santri untuk setoran hafalan Teknik yang digunakan instruktur
dengan membawa buku pantauan tahfizh. tahfizh pada Program tahfizh Pondok
3) Kegiatan penutup. Dalam tahap ini para Pesantren Fathan Mubina untuk
ustadz muraja’ah lagi terhadap ayat yang menyelesaikan semua setoran hafalan santri
tadi dihafal. Kemudian ustadz menyuruh agar sesuai dengan waktu pembelajaran
santri yang belum setoran hafalan, untuk yang diberikan yaitu dengan memberikan
menghafal di asrama dan di setor lagi target minimal setoran 1 halaman. Hal ini
setelah magrib dan setelah subuh. Setelah dilakukan agar seluruh santri mendapat
itu ustadz menutup pembelajaran dengan bimbingan. Selain itu juga agar hafalan yang
membaca Shodaqallahul Adzim, dan disetorkan betul-betul sudah mantap.
berdo’a bersama-sama. Materi bimbingan yang digunakan
dalam pelaksanaan pembelajaran tahfizh
Alquran pada Pondok Pesantren Fathan
Mubina:
14 Ridwan Manajemen Program Tahfizhl Alquran

1) Tahsin yaitu memperdengarkan bacaan Sedangkan pelaksanaan pembelajaran


Alquran dengan melihat mushaf Alquran tahfizh kelas 2-6 yaitu santri menyetorkan
kepada instruktut tahfizh guna hafalannya kepada instruktur dengan cara
memperbaiki bacaan santri agar dapat satu persatu. Bimbingan tahsin dilakukan
membaca Alquran sesuai dengan qaidah apabila santri melakukan kesalahan pada
tajwid, ini biasanya dipakai sama saat menyetorkan hafalan. Setelah santri
tingkatan kelas 1. mampu menyelesaikan hafalan 1 surah maka
2) Setoran (tahfizh), para santri dilakukan ujian tahfizh 1 surah.
menyetorkan hafalan di hadapan Berbeda dengan santri kelas 1 yang
instruktur tahfizh satu persatu secara berada pada program tahfizh reguler, santri
bergiliran. pada tahfizh kelas 2-6 ini sudah memahami
3) Pengulangan hafalan (muraja’ah), santri bagaimana cara menghafal, sehingga mereka
melakukan muraja’ah secara individu, dapat menghafal Alquran setengah sampai
berpasangan, dan muraja’ah bersama. satu halaman setiap harinya, selain itu
mereka lebih mudah diatur sehingga
Berdasarkan hasil observasi dan mempermudah ustadz tahfizh untuk
wawancara terhadap pelaksanaan kegiatan mengaturnya tanpa di komando lagi mereka
bimbingan tahfizh Alquran untuk santri sudah dapat mengetahui apa yang harus
tahfizh kelas 1 ada sedikit perbedaan dengan mereka lakukan.
pelaksanaan pembelajaran tahfizh. Pada Setengah jam setelah magrib dan subuh
tahfizh kelas 1, metode bimbingan mereka dengan sendirinya murajaah Alquran
dilaksanakan dengan setoran tahsin dan secara berpasang-pasangan. Setelah itu
setoran hafalan (tahfizh). Tahsîn diberikan santri menyetorkan hafalannya kepada
khusus bagi santri yang kemampuan instruktur dengan cara satu persatu. Apabila
membaca Alqurannya masih kurang kepada santri melakukan kesalahan pada saat
instruktur tahfizh. Santri menyetorkan menyetorkan hafalan, maka instruktur
hafalannya kepada instruktur dengan cara tahfizh langsung membetulkannya. Sesuai
satu persatu dan Instruktur tahfizh menerima dengan materi hafalan yang terdapat pada
setoran hafalan santri sambil membetulkan Pondok Pesantren Fathan Mubina, maka
bacaannya apabila terjadi kesalahan pada setiap pertemuan disesuaikan dengan standar
saat menghafal. Setelah santri mampu prosedur pelaksanaan program tahfizh,
menyelesaikan hafalan 1 halaman maka setiap hari para santri dapat menyetorkan
dilakukan ujian tahfizh perhalaman. hafalannya minimal 1 halaman, jika santri
Selain kegiatan tahsin dan tahfizh, bisa menyetorkan hafalan Alquran melebihi
kegiatan muraja’ah juga dilaksanakan pada apa yang dihimbaukan itu lebih bagus.
pembelajaran tahfizh Alquran santri kelas 1. Tetapi jika santri tidak bisa atau sulit sekali
Santri melakukan setoran tahfizh dan untuk menghafal Alquran, maka mereka di
muraja’ah setiap kali pertemuan. Muraja’ah suruh untuk tadarus atau murâja’ah saja.
dilakukan dengan cara bersama-sama setelah Yang paling terpenting disini ialah gairah
melaksanakan shalat magrib dan setelah anak untuk menghafal Alquran sudah
subuh sesekali muraja’ah dilakukan dengan muncul. Adapun materi untuk pertemuan
cara berpasangan, dan sesekali bersama- murâja’ah itu tergantung pada batas hafalan
sama secara bergiliran ayat demi ayat. santri yang berbeda-beda sehingga
Banyaknya hafalan yang dibaca tergantung materinya pun sedikit berbeda.
dari komando instruktur tahfizh. Melihat materi hafalan dan jam pelajaran
yang banyak tersebut memang sudah baik,
Ta’dibi ISSN 2442-4994 Volume 5 Nomor 1, April 2016 15

karena tetap memperhatikan kondisi menghafal juga dapat menfasihkan dan


psikologis anak. mentartilkan dalam membaca Alquran.
Untuk pelaksanaannya pertama, ustadz-
Metode yang digunakan ustadznya membacakan ayat-ayat yang
Salah satu faktor yang terpenting dan tidak akan dihafal dan santrinya
boleh diabaikan dalam pelaksanaan mendengarkan, kemudian murid
pembelajaran adalah adanya metode yang melantunkan bersama-sama. Hal seperti
tepat untuk mentransfer materi yang itu dilakukan secara berulang-ulang terus
diajarkan. Oleh karena itu penggunaan menerus sampai anak terbiasa
metode pembelajaran harus memperhatikan mendengarkannya. Setelah ayat-ayat itu
kekhasan masing-masing materi pelajaran, dapat mereka baca dengan baik dan
kondisi santri serta persediaan sarana dan benar, dengan sedikit demi sedikit
prasarana. mencoba melepaskan mushaf (menutup
Proses program Tahfizh Alquran mushaf) dan demikian seterusnya
Pondok Pesantren Fathan Mubina sehingga ayat-ayat yang sedang
dilaksanakan dengan menggunakan berbagai dihafalnya yaitu benar-benar sepenuhnya
metode yang disesuaikan dengan masuk dalam ingatannya. Jadi secara
kemampuan memori hafalan anak dan otomatis secara tidak sadar mereka dapat
keadaan anak yang belum lancar membaca menghafal dengan sendirinya. Setelah
Alquran. Untuk mengatasi kebosanan kira-kira semua santri hafal, barulah
metode pembelajaran tahfizh selalu berubah- mereka disuruh menyetorkan kepada
ubah sesuai dengan keadaan santri, sehingga ustadz.
dalam suatu program tahfizh ustadz- 3) Metode Muraja’ah (mengulang hafalan).
ustdzahnya menggunakan metode gabungan. Metode Muraja’ah atau mengulang ulang
Adapun metode-metode yang digunakan bacaan hafalan digunakan ketika pertama
guru-guru tahfizh antara lain: kali mengawali pelajaran. Adapun
1) Metode Tahsin (perbaikan bacaan). setoran murâja’ah secara umum caranya
Metode tahsin atau perbaikan bacaan tidak jauh berbeda dengan setoran
Alquran digunakan untuk santri kelas 1 hafalan yaitu membacakan hafalannya
sebagai santri baru dan masih lemah yang terdahulu yang sudah ia hafal
dalam bacaannya, hal ini dilakukan untuk sebelumnya atau pengulangan hafalan
perbaikan bacaan sebelum menghafal yang dilakukan santri baik secara
Alquran. Para santri kelas 1 sebelum individu, berpasangan, maupun
memasuki tahapan menghafal Alquran memperdengarkan hafalan muraja’ah di
mereka dianjurkan memperbaiki bacaan depan gurunya.
Alquran kepada ustadz pembimbing 4) Metode Tasmi’ (memperdengar/
halaqah dimesjid maupun ustadz menyimak). Metode ini dilakukan murid-
pernanggungjawab tahfizh dikelasnya. murid ketika sulit dan bosan menghafal
2) Metode Jami’ (pembimbing membaca, sendiri. Biasanya dilakukan dalam
murid-murid menirukan berulang- halaqah dimesjid ataupun dikelas yang
ulang). Metode Jami’ biasanya sudah lancar menghafal Alquran. Dalam
digunakan untuk kelas awal (kelas 1), pelaksanaanya, murid-murid berhadapan
khususnya yang belum lancar membaca dengan teman dengan teman sebangku
Alquran. Motode ini berguna selain atau teman dekatnya dalam satu kelas
dapat untuk membimbing santri untuk untuk semak’an, yang satu melantunkan
ayat yang dihafal, yang satu menyimak
16 Ridwan Manajemen Program Tahfizhl Alquran

hafalannya, secara bergantian. Setelah terpenting seorang guru harus membuat


hafal nantinya bisa disetorkan langsung suasana tidak tegang, nyaman,
ke ustadz-ustadzahnya. menyenangkan untuk menghafal dan tidak
5) Metode Talaqqi (menyetor hafalan) jenuh dan membosankan.
Metode talaqqi (menyetor hafalan) Pengelolaan kelas diperlukan karena dari
selain sebagai metode sekaligus juga hari ke hari dan bahkan waktu ke waktu
untuk menilai seberapa jauh hafalan tingkah laku dan perbuatan anak didik selalu
santri. Kegiatan setor hafalan Alquran di berubah. Hari ini anak didik dapat belajar
Pondok Pesantren Fathan Mubina secara tenang besok belum tentu. Karena itu, kelas
umum caranya tidak jauh berbeda selalu diatur dinamis dalam bentuk perilaku,
dengan metode di pondok pesantren perbuatan, sikap mental dan emosioanal
yang khusus untuk program tahfizh. anak didik. Oleh karena itu guru diharapkan
Adapun cara yang dilakukan dengan dapat mengelola seoptimal sehingga dapat
ustadz dan ustadzahnya menyuruh siapa menunjang proses pembelajaran. Selain itu
yang sudah hafal untuk menyetorkan dalam pelaksanaan pembelajaran juga
hafalannya, dan memanggil satu persatu memuat kegiatan dari fungsi-fungsi
santri. Setelah itu santri manajemen lainnya, seperti
memperdengarkan hafalannya di depan pengorganisasian, pemotivasian, pemberian
ustadznya dan dinilai di buku pantauan fasilitas (facilitating), dan pengawasan
tahfizh Terkadang ustadz-ustdzahnya pembelajaran, yakni sebagai berikut:
melakukan setor hafalan di tempat 1) Pengorganisasian Pembelajaran
terbuka, seperti di halaman sekolah agar Pengorganisasian melibatkan penentuan
suasana lebih enak dan nyaman. berbagai kegiatan seperti pembagian
6) Metode Penugasan. Metode ini dilakukan pekerjaan ke dalam berbagai tugas
ustadz dengan memberikan tugas hafalan khusus yang harus dilakukan guru dan
kepada santri untuk menambah peserta didik dalam proses
hafalannya atau memperkuat hafalannya pembelajaran. Adapun
di asrama. Dengan variasi dalam pengorganisasian yang dilakukan dalam
penggunaan strategi dan metode dalam program pembelajaran tahfizh Alquran
proses pembelajaran diharapkan santri yakni kepala madrasah sebagai
dalam program pembelajaran tahfizh pimpinan pondok melakukan
tetap semangat dan aktif dalam mengikuti pembagian tugas dan wewenang
proses pembelajaran. (Hasil wawancara, (pengorganisasian) yakni dengan
Ustadz Mus Ahmad Khoirul Huda, membentuk khusus koordinator
10/2/2016). program, seperti menunjuk koordinator
program tahfizh sendiri. Dengan adanya
Pengelolaan Kelas pengorganisasian pembelajaran
memberikan gambaran bahwa kegiatan
Dalam mengelola kelas ustadz-ustadz belajar dan mengajar mempunyai arah
tahfizh juga dapat dikatakan cukup baik. Hal dan penanggung jawab yang jelas.
ini dibuktikan misalnya dari penataan Kepala madrasah sebagai pimpinan
ruangan dalam mengatur posisi duduk dalam memberikan fasilitas dan
memang terkadang tidak teratur, bahkan kelengkapan pembelajaran, sedangkan
mereka bias melakukan kegiatan belajar kedudukan guru untuk menentukan dan
dengan duduk di lantai atau lesehan. Sering mendesain pembelajaran dengan
juga menghafal di luar bersama-sama di luar mengorganisasikan alokasi waktu,
ruang (ruang terbuka). Tetapi yang
Ta’dibi ISSN 2442-4994 Volume 5 Nomor 1, April 2016 17

desain kurikulum, media dan Fathan Mubina yang dapat digunakan


kelengkapan pembelajaran dan lainnya. dalam pembelajaran tahfizh memang
2) Motivasi Pembelajaran masih minim, terutama dari Alat peraga
Di dalam pendidikan motivasi atau media pembelajaran. Oleh karena
mempunyai peranan penting, dengan itu pihak yayasan diharapkan dapat
membangkitkan motivasi anak menambahnya. Karena fasilitas
terangsang untuk menggunakan potensi- mempunyai fungsi atau kehadirannya
potensi yang dimiliki secara konstruktif sangat menentukan dalam proses belajar
dan produktif untuk mencapai tujuan, mengajar dan tentunya berimbas atau
dan tujuan itu dianggapnya sebagai berpengaruh terhadap keberhasilan
kebutuhan yang harus diraihnya. proses pembelajaran disekolah. Sebab
Dalam pembelajaran tahfizh di Pondok ketepatan dalam menggunakan fasilitas
Pesantren Fathan Mubina ustadz-ustadz belajar secara baik, efektif, efisien,
tahfizh selalu memberi motivasi di maka hasil dari pada kegiatan belajar
setiap proses pembelajarannya kepada mengajar yang dicapai akan semakin
anak didiknya supaya menghafal. Hal baik. Tetapi sebaliknya jika kurang
tersebut harus selalu dilakukan oleh tepat dalam menggunakan fasilitas
para ustadz karena santri terkadang belajar maka hasil dari pada kegiatan
mengalami kebosanan dan malas belajar mengajar yang dicapai kurang
menghafal. Oleh karena itu ustadz harus baik. Oleh karena itu, kegiatan belajar
mampu mengembangkan motivasi tepat mengajar perlu menggunakan fasilitas
pada setiap anak didik pada waktu belajar yang sesuai agar tujuan
belajar. Banyak cara yang dapat pembelajaran yang telah ditetapkan
dilakukan untuk agar potensi yang dapat dicapai dengan efisien karena
dimiliki santri termotivasi pada waktu ketetapan dalam menggunakan fasilitas
belajar, antara lain menciptakan situasi belajar besar pengaruhnya terhadap
yang kondusif untuk belajar, keberhasilan proses belajar mengajar.
menciptakan persaingan yang sehat 4) Pembinaan (conforming)
antara sesama santri waktu belajar, Dalam pembelajaran tahfizh disamping
menimbulkan rasa puas terhadap apa guru peran Rois madrasah (pimpinan
yang dia pelajari dan terhadap hasil pondok) sangatlah penting ketika
yang ia peroleh dan memberikan pujian. pembelajaran tahfizh. Dalam hal ini
Tanpa motivasi seorang santri akan beliau harus selalu memonitoring
malas dan enggan belajar dan sekolah (supervisi) dan untuk mengecek dan
dan akhirnya tentu saja tidak akan memastikan kegiatan pembelajaran
mencapai suatu keberhasilan dalam tahfizh di kelas. Dengan itu ustadz tidak
belajar. semena-mena dan sembarangan dalam
3) Fasilitas (Facilitating) mengajar. Pengawasan tersebut
Fasilitas Pondok Pesantren merupakan sangatlah penting dilakukan untuk
faktor yang teramat penting dalam memastikan semua program dan
menunjang proses belajar mengajar kegiatan pondok dilaksanakan sesuai
dalam rangka pemberian bekal kepada standar proses yang dipersyaratkan
santri. Diharapkan dengan dukungan untuk mencapai sasaran yang
fasilitas yang cukup santri mampu ditetapkan. Selain itu dengan
mengaplikasikan ilmunya dengan baik. pengawasan dan supervisi, kepala
Fasilitas yang ada di Pondok Pesantren
18 Ridwan Manajemen Program Tahfizhl Alquran

sekolah dapat membantu dalam memanggil satu persatu dengan membawa


mengatasi problematika pembelajaran. buku pantauan tahfizh santri. Setelah itu
Ustadz melakukan pengawasan ustadz-ustadzahnya memberikan catatan
terhadap program yang ditentukannya penilaian di buku pantauan tahfizh santri.
apakah sudah dilaksanakan sesuai Setiap kali pertemuan dalam pelajaran
dengan rencana yang ditetapkannya tahfizh Alquran santri tidak selalu
sendiri. Untuk keperluan pengawasan menyetorkan hafalannya artinya ketika
ini ustadz mengumpulkan, santri itu sudah mampu untuk menyetorkan
menganalisis, dan mengevaluasi hafalannya maka santri akan menyetorkan
kegiatan belajar serta memanfaatkannya hafalannya.
untuk mengendalikan pembelajaran Jika santri belum mampu untuk
sehingga tercapai tujuan belajar. menyetorkan hafalannya, mereka disuruh
untuk tadarus atau muraja’ah saja. Maka
Evaluasi Program Tahfizh Alquran di setoran hafalannya ditunda pada pertemuan
Pondok Pesantren Fathan Mubina berikutnya. Sebenarnya kemampuan setor
Untuk dapat menilai dan mengukur sampai hafalan bagi santri tidak dibatasi tetapi
dimana keberhasilan yang dicapai dalam semua itu disesuaikan dengan kemampuan
program Tahfizh Alquran, maka diperlukan santri sendiri-sendiri. Tetapi agar
evaluasi. Evaluasi dalam program mencakup pembelajaran lebih terarah ustadz-
evaluasi hasil belajar dan evaluasi proses ustadzahnya menganjurkan memberikan
pembelajaran. target minimal hafal 1 halaman, tergantung
dari panjang pendeknya ayat yang dihafal.
Evaluasi Hasil Pembelajaran Tahfizh Evaluasi setor harian ini merupakan
Alquran langkah ini dimaksudkan agar santri selalu
rutin dan rajin menghafal sehingga
Dari beberapa hasil wawancara dan diharapkan santri mampu mencapai target
observasi dapat diketahui bahwa sistem yang ditetapkan.
evaluasi pembelajaran Tahfizh Alquran yang 2) Evaluasi Setoran Semesteran (evaluasi
dilakukan di Pondok Pesantren Fathan sumatif)
Mubina menggunakan penilaian berbentuk Evaluasi setoran evaluasi semesteran
sistem setoran hafalan. dilakukan setiap enam bulan sekali. Dalam
Tetapi waktu pelaksanaannya juga pelaksanaan evaluasi ini dengan cara
seperti dengan mata pelajaran lainnya yakni mengulang dari hafalan dari ayat yang sudah
dengan melakukan ulangan setoran harian, hafal. Setiap penilaian dalam jangka waktu
juga dengan melakukan ulangan setoran semesteran biasanya ada target tertentu.
dalam setiap mid semester dan semesteran Untuk santri yang belum mencapai
dan setoran akhir kelulusan. Adapun bentuk target hafalan, maka dilakukan remidi sesuai
mekanisme setoran hafalan yang dilakukan prosedur. Ketika ada santri yang memang
untuk lebih jelasnya meliputi sebagai sulit sekali menghafal untuk mencapai target
berikut: yang diharapkan, ustadz-ustadzahnya tidak
1) Evaluasi Setoran Harian (evaluasi membebankan dan tidak memaksa mereka.
formatif) Karena supaya santri tidak ada rasa trauma
Evaluasi setoran harian dilakukan dan tidak terganggu psikologinya. Jadi target
setiap akhir pada jam pelajaran tahfizh. hafalan tersebut bukan memaksa dan
Untuk pelaksanaannya biasanya ustadz- menjadi syarat kenaikan kelas, tetapi hanya
ustdzahnya menyuruh maju santri yang sebagai himbauan atau anjuran saja, agar
sudah hafal atau bisa juga dengan
Ta’dibi ISSN 2442-4994 Volume 5 Nomor 1, April 2016 19

lebih pembelajaran menjadi terarah dengan


baik. Dan yang terpenting anak sudah ada Faktor-faktor Pendukung dan
kemauan untuk menghafal. Penghambat Program Tahfízh Alquran
3) Evaluasi Akhir Kelulusan
Evaluasi akhir kelulusan dilaksanakan Berdasarkan hasil observasi dan wawancara,
setiap menjelang kelulusan santri (talamidz) faktor-faktor pendukung program tahfizh
Pondok Pesantren Fathan Mubina yaitu Alquran pada lembaga pendidikan Pondok
ujian akhir tahfizh (UAT) dan pentashehkan Pesantren Fathan Mubina ini adalah faktor-
(pembenaran bacaan dan hafalan) yang faktor yang keberadaannya turut membantu
dibimbing langsung oleh Rois madrasah dalam meningkatkan hasil hafalan dan
(pimpinan pondok) dan dibantu ustadz menurut Ustadz Mus Ahmad Khoirul Huda
tahfizh. Untuk target minimal yang harus selaku koordinator program tahfizh di
dicapai santri kelas 6 ketika menjelang Pondok Pesantren Fathan Mubina
kelulusan yakni juz 30 dan juz 1-7. (Hasil mengatakan bahwa salah satu faktornya
wawancara, Ustadz Mus Ahmad Khoirul adalah faktor niat atau minat. (Hasil
Huda, 10/2/2016) wawancara, Ustadz Mus Ahmad Khoirul
Selain ketiga jenis tes diatas juga Huda, 10/2/2016) Bila dijabarkan, faktor-
terkadang Pondok Pesantren Fathan Mubina faktor pendukung yang ada adalah:
mengadakan perlombaan tahfizh Qur’an Faktor Niat
(Musabaqoh Hifdzul Qur’an). Dengan Niat adalah menginginkan sesuatu dan
adanya perlombaan tersebut diharapkan bertekad hati untuk mendapatkannya, niat
anak-anak lebih bersemangat dan ini sering disebut gairah atau keinginan dan
termotivasi untuk semakin menambah yang dimaksud dalam skripsi ini adalah niat
hafalannya dan sekaligus guru dapat santri Pondok Pesantren Fathan Mubina
mengevaluasi dan mengetahui prestasi anak selalu ingin menghafal Alquran.
didiknya. Dari hasil penelitian diketahui adanya
Adapun aspek-aspek yang dinilai niat santri untuk menghafal Alquran dan niat
dalam evaluasi pembelajaran tersebut orang tua agar anaknya ikut menghafal
adalah: (1) Partisipasi aktif dan keseriusan Alquran. Bahkan ada beberapa orang santri
dalam menghafal, (2) Tajwid dan fashahah, yang ingin menghafal Alquran dengan
(3) Akhlak terhadap pembimbing, (4) sempurna (30 juz). Artinya santri tidak
Akhlak terhadap Alquran, (5) Kelancaran hanya sekedar ingin memenuhi target
hafalan. (Hasil wawancara, Ustadz Mus hafalan yang telah ditentukan oleh Pondok
Ahmad Khoirul Huda, 10/2/2016) Pesantren Fathan Mubina, tetapi lebih dari
4) Evaluasi Proses Pembelajaran tahfizh itu mereka ingin menjadi seorang
Bentuk evaluasi proses pembelajaran hafizh/hafizhah.
yang dilakukan Pondok Pesantren Fathan
Mubina yakni dalam rapat awal tahun yang
diadakan oleh yayasan pembangunan umat Faktor Tentukan Target Menghafal atau
“Fathan Mubina” dengan melibatkan semua Pengaturan Waktu
guru yayasan pembangunan umat “Fathan
Mubina” dari tingkat, SMP dan SMA Fathan Tentukan Target menghafal atau Pengaturan
Mubina untuk menilai kegiatan program waktu menghafal Alquran sangat perlu
tahfizh pada kurun waktu satu tahun. (Hasil untuk diperhatikan apabila untuk santri
wawancara, Ustadz Mus Ahmad Khoirul Pondok Pesantren Fathan Mubina yang
Huda, 10/2/2016) santrinya adalah anak-anak yang masih
dalam tahap kedewasan, yang tentunya
20 Ridwan Manajemen Program Tahfizhl Alquran

belum mampu mengatur waktunya, dan santri dalam menghafal Alquran, meskipun
karena santrinya disamping belajar motivasi orang tua dan ustadz itu berbeda-
menghafal Alquran juga belajar pelajaran beda, dengan adanya motivasi dari sosok
formal, maka pembagian waktu mempunyai orang tua dan ustadz dapat mengurangi salah
peranan yang tinggi untuk lancarnya proses satu faktor penghambat dalam menghafal
penghafalan Alquran. Alquran.
Alokasi waktu di pondok pesantren
fathan mubina sepenuhnya sudah ditetapkan KESIMPULAN DAN IMPLIKASI
oleh pihak pondok itu sendiri dan biasanya
dilaksanakan sebelum pelajaran umum dan Kesimpulan
ditambah dengan waktu lainnya yaitu Manajemen tahfizh Alquran di Pondok
setelah magrib dan subuh yang Pesantren Fathan Mubina dilakukan melalui
dilaksanankan dalam halaqah masjid. 3 pendekatan: 1) Perencanaan program
Dengan sudah ditetap waktu-waktu tersebut tahfizh Alquran di Pondok Pesantren Fathan
di atas, maka diharapkan bisa menjadi Mubina. Dalam tahap Perencanaan program
kefektifan dalam proses program tahfizh tahfizh Alquran di Pondok Pesantren Fathan
Alquran di Pondok Pesantren Fathan Mubina yang dilakukan oleh pihak yayasan
Mubina dan dapat berjalan dengan baik. Fathan Mubina, kepala sekolah, koordinator
Fakto-faktor penghambat ini tahfizh dan guru-guru tahfizh yaitu dengan
datangnya bisa dalam diri santri ataupun dari cara: a) Merumuskan dan menetapakan
luar santri. Adapun faktor-faktor yang tujuan program pembelajaran tahfizh
dirasakan sering mengganjal santri dalam Alquran yang hendak dicapai, b)
menghafal adalah: (1) Munculnya sifat Menetapkan kurikulum dan materi
malas pada diri santri, (2) Kesulitan santri pembelajaran tahfizh Alquran yang menjadi
dalam menghafal, (3) Kelupaan atau sering acuan dalam proses pelaksanaan program
lupa terhadap ayat-ayat yang telah dihafal, tahfizh Alquran. Berdasarkan rapat yang
(4) Kebanyakan bermain atau tidak bisa dilakukan antara pihak yayasan Fathan
mengatur waktu, (5) Kurangnya perhatian Mubina dan pihak pesantren memutuskan
ataupun motivasi (Hasil wawancara, Ustadz materi yang dipakai 2 juz/th, c) Menentuan
Mus Ahmad Khoirul Huda, 10/2/2016) alokasi waktu jam pelajaran dalam
Untuk mengatasi hal-hal yang terjadi seminggu. Hal ini dilakukan dengan
seperti di atas, maka Pondok Pesantren menyesuaikan materi yang semakin banyak,
Fathan Mubina membuat langkah-langkah oleh karenanya jam pelajaran ditambah
diantaranya: (1) Menjadwalkan semua menjadi 6 jam perminggunya, d) Membuat
kegiatan harian santri (2) Selalu memotivasi perangkat perencanaan pembelajaran (Prota,
santri untuk menghafal, (3)Pengawasan Prosem) sebagai acuan pembelajaran
yang ketat terhadap santri, (4) Menerapkan dikelas. 2) Pelaksanaan program tahfizh
sangsi-sangsi untuk santri (Hasil Alquran di Pondok Pesantren Fathan
wawancara, Ustadz Mus Ahmad Khoirul Mubina. Dalam tahap Pelaksanaan program
Huda, 10/2/2016). tahfizh Alquran di Pondok Pesantren Fathan
Hasil tersebut menunjukan bahwa Mubina yaitu meliputi kegiatan: Pertama,
yang kurang diterapkan adalah motivasi kegiatan ustadz sebagai manajer di kelas
orang tua dan ustadz dalam pembelajaran yakni mengajar, mendidik, memotivasi, dan
tahfiz ini. Karna motivasi orang tua dan membantu dan membimbing santri supaya
ustadz juga menentukan, bahwa orang tua mendukung dalam menghafal Al-Quran.
dan ustadz merupakan faktor ekternal bagi kedua, ustadz menggunakan metode materi
Ta’dibi ISSN 2442-4994 Volume 5 Nomor 1, April 2016 21

sesuai dengan melihat kemampuan santri, sehingga ustadz dapat mengecek dan
ketiga guru mengelola kelas yang memantau hafalan santrinya. Adapun aspek
menunjang proses pembelajaran. Selain itu yang dinilai, yaitu: aspek kelancaran
kegiatan pimpinan pondok yang dilakukan hafalan, tajwid, fashahah, ahlak (sikap).
dalam mengelola pelaksanaan pembelajaran Adapun evaluasi proses pembelajaran untuk
tahfizh yaitu: (1) Dalam fungsi menilai keberhasilan ustadz dalam mengajar
pengorganisasian: a) Membentuk tahfizh yakni rapat akhir tahun yang
koordinator khusus program pembelajaran diselenggarakan oleh pihak yayasan. Hal itu
tahfizh, b) Memilih dan menunjuk ustadz dilakukan guna mengetahui keberhasilan
penanggungjawab tahfizh. (2) Dalam fungsi pembelajaran tahfizh dalam kurun waktu
pemotivasian: Pimpinan pondok memotivasi satu tahun. Dan nantinya dapat dicari umpan
dan membimbing asatidz, ketika asatidznya baliknya agar dijadikan bahan perbaikan
mengalami kesulitan dan masalah dalam untuk program pembelajaran tahfizh
mengajar. (3) Dalam fungsi facilitating: selanjutnya.
Pimpinan pondok dan pihak yayasan Faktor pendukung dan penghambat
berusaha memberikan fasilitas, sarana program tahfízh Alquran Pondok Pesantren
prasarana, alat peraga/media pembelajaran Fathan Mubina yaitu: 1) Faktor pendukung :
yang dibutuhkan oleh para ustadz. Seperti: a) Faktor Niat, b) Faktor Tentukan Target
gedung dan ruang kelas yang nyaman, buku Menghafal atau Pengaturan Waktu. 2)
kisah-kisah orang terdahulu dan papan tulis. Faktor penghambat : a) Munculnya Sifat
(4) Dalam fungsi pengawasan (controlling): Malas Pada Diri Santri, b) Kesulitan Santri
Pimpinan pondok selalu berkeliling-keliling Dalam Menghafal, c) Kelupaan atau Sering
memonitoring (mengawasi) dan mengecek Lupa Terhadap Ayat-ayat yang Telah
kegiatan pembelajaran tahfizh. 3) Evaluasi Dihafal, d) Kebanyakan Bermain atau Tidak
Program Tahfizh Alquran di Pondok Bisa Mengatur Waktu dan, e) Kurangnya
Pesantren Fathan Mubina. Bentuk evaluasi Perhatian ataupun Motivasi.
hasil pembelajaran yang dilakukan ustadz
untuk menilai santri dalam program tahfizh Implikasi
Alquran di Pondok Pesantren Fathan
Mubina yaitu dengan menggunakan tes Dari hasil penelitian ini dapat dikembangkan
setoran harian, setoran, setoran hafalan penelitian serupa tentang manajemen
semester dan ujian akhir tahfidz (UAT). program tahfizh Alquran terutama pada
Sedangkan untuk anak yang belum pondok pesantren modern, serta dapat
mengalami ketuntasan, maka dilakukan mengembangkan pondok pesantren berbasis
remedial sesuai dengan ketentuan. Untuk modern dalam sistem tahfizh Alquran guna
pelaporan hasil hafalan santri terdapat buku mencapai tujuan pendidikan yang lebih
pantauan tahfizh santri yang digunakan efektif.
untuk memantau hafalan anak tersebut,
efektif.

DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi, 2013. Prosedur


Penelitian Suatu Pendekatan
Amtu Onisimus, 2011. Manajemen Praktik. Jakarta: rineka cipta.
Pendidikan di Era Otonomi Daerah, Damanhuri Ahmad, Hafidhuddin Didin,
Bandung: Penerbit Alfa Beta. Mujahidin Endin, 2013. Inovasi
22 Ridwan Manajemen Program Tahfizhl Alquran

Pegelolaan Pesantren Terpadu, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia


Bogor: Unida Press. no. 19 tahun 2005 Tentang Standar
Departemen Agama RI Al Hikmah, 2010. Nasional Pendidikan.
Al-Quran dan Terjemahannya, Prihatin Eka, 2011. Manajemen Peserta
Bandung: CV Penerbit Diponegoro. Didik, Bandung: Alfabeta.
Departemen Agama RI Direktorat Jenderal Ramayulis, H., 2012. Sejarah Pendidikan
Kelembagaan Agama Islam, 2003. Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Pondok Pesantren dan Madrasay Sa’dulloh, H., 2008. Cara Cepat Menghafal
Diniyah Pertumbuhan Dan Al-Qur’an. Jakarta: Gema Insani
Perkembangannya, Jakarta Press.
Gunawan Imam, 2014. Metode Penelitian Sagala Syauful, 2013. Memahami
Kualitatif Teori & Praktik, Jakarta: Organisasi Pendidikan, Bandung:
Bumi Aksara. AlfaBeta.
Hamalik Oemar, 2012. Manajemen Sudjana Djuju, 2008. Evaluasi Program
Pengembangan Kurikulum, Pendidikan Luar Sekolah, Bandung:
Bandung: Pt Remaja Rosdakarya. Pt Remaja Rosdakarta.
Hasibuan S.P. Malayu H., 2005. Manajemen Sugiyono, 2011. Metode Penelitian
Sumber Daya Manusia, Jakarta: Pt Kuantitaf, Kualitatif, R&D.
Bumi Aksara. Bandung: Alfabeta.
Iskandar, 2013. Metodologi Penelitian
Pendidikan dan Sosial, Jakarta : Sugiyono, 2014. Metode Penelitian
Referensi. Pendidikan Pendekatan Kuantitaf,
Lembaga Percetakan Al-Qur’an (LPQ) Kualitatif, R&D. Bandung: Alfabeta.
Kemenag RI, 2012. Keutamaan Al- Sugiyono, 2015. Metode Penelitian
Qur’an dalam kesaksian Hadis. Pendidikan Pendekatan Kuantitaf,
Ciawi-Bogor: Lembaga Percetakan Kualitatif, R&D. Bandung: Alfabeta.
Al-Qur’an Kemenag RI. Syah Darwiyn, Supardi, dkk, 2007.
Margono, S, 1997. Metodologi Penelitian Perencanaan Sistem Pengajaran
pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Pendidikan Agama Islam, Jakarta:
Cipta. GP Press.
Margono, S, 2003. Metodologi Penelitian Zen, Muhaimin A, 2013. Tahfidz Al-Qur’an
pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Metode Lauhun. Jakarta: Trans
Cipta. Pustaka
Moleong, Lexy, J, 2011. Metodologi
Penelitian Kualitatif , edisi revisi.
Bandung: Pt Remaja Posdakarya.