Вы находитесь на странице: 1из 15

PERANAN KEPOLISIAN DALAM MENCEGAH TINDAK PIDANA PEMERASAN

YANG DILAKUKAN OLEH PREMAN DI WILAYAH HUKUM


KEPOLISIAN SEKTOR KOTA PEKANBARU
Oleh :Bayu Sugara
Pembimbing 1 :Dr. Erdianto, SH.,MHum
Pembimbing 2 :Ledy Diana, SH.,MH
Alamat: Jl. Lobak, Komp.Ligako Blok M No.1 Kec.Tampan, Pekanbaru
Email :bayusugara1409@gmail.com – Telepon: 085355399209

ABSTRACT

Extortion is a criminal offense that is often done by a thug who is usually a disease of
society. The criminal act of extortion should be prevented and eradicated because of it is
impacts makes comfort and disturbed public tranquility. Police as a state apparatus that
perform the function of law enforcement, custodians, security, and public order and the
protection, shelter, and serve the community. The police on duty to prevent and combat the
crime of extortion. The purpose of this thesis, that is: first, the role of municipal the city police
of Pekanbaru in preventing criminal acts of extortion committed by thugs, second, obstacles
faced by the city police of Pekanbaru in preventing criminal acts of extortion committed by
thugs, third, the efforts of the municipal the city police of Pekanbaru in prevent the crime of
extortion carried out by thugs pliers.
This research is a sociological study, this study was conducted in eleven police of
Pekanbaru sector, while the overall population and the sample is related to the overall
problems examined in this study. Source of data used is primary data, secondary data, and
tertiary data. Data collection techniques in this study were interviews, questionnaire and
literature study and data analysis technique used is by a qualitative way.
Out of the results of research can be concluded, first, the role the police city of
Pekanbaru in preventing the crime of extortion committed by a thug with first requests that
preventive action (non-penal), pre-emptive, and repressive. Second, barriers, faced the police
city of Pekanbaru in preventing the crime of extortion committed by thugs in the police city of
Pekanbaru include: a lack of information from the public, the lack of human resources Polri,
lack of public awareness, victims who did no report. Third, the efforts of the police city of
Pekanbaru sector to prevent acts of thuggery and extortion committed by thugs include:
providing information and knowledge to the public to danger of acts thuggery and extortion
committed by thugs, the efforts of police to foster good relationship to the society. Advice
writer, first, the police city of Pekanbaru sector in realizing it is role as the prevention and
eradication of the crime of extortion should be more consistent in carrying out it is role both in
action, preventive, pre-emptive, repressive. Second, to overcome barriers to the prevention and
eradication of the crime of extortion need to collaborate and embrace the community, improve
facilities and infrastructure. Thirdly, the police city of Pekanbaru must strive to increase the
prevention of acts of thuggery and extortion committed by thugs so that action can eradicate
thuggery.

Keywords: Character-The Police city of Pekanbaru sector-Prevention-Extortion

JOM Fakultas Hukum Volume IV Nomor 1 Februari 2017 1


I. PENDAHULUAN dimintai uang atau sejenisnya, mereka juga
A. Latar Belakang melakukan penekanan fisik maupun psikis
Untuk memahami kejahatan itu agar mereka mau mendukung kebutuhan
sendiri.1 Preman berasal dari kata free hidupnya. Sebagai ilustrasi yang dapat
yang artinya bebas dan Man yang artinya dipaparkan dalam aksi preman yang
manusia, sehingga dapat diberi pengertian melakukan pemerasan, seperti: preman di
dari preman sebagai manusia yang pasar memungut pungutan liar dari lapak-
memiliki kecenderungan gaya hidup bebas lapak kaki lima, yang bilamana ditolak
seenaknya sendiri tidak peduli lingkungan, akan berpengaruh terhadap rusaknya lapak
memaksakan kehendak dan lebih jauh lagi yang bersangkutan.
mereka melakukan tindakan kriminal Salah satu upaya pencegahan
seperti memalak dan memeras dari gaya kriminalitas sebagai suatu gejala sosial
hidupnya yang seperti itu akhirnya (kemasyarakatan) adalah dengan cara
meresahkan masnyarakat.2 pelaksanaan perundang-undangan pidana
Pemerasan perbuatan atau cara oleh sistem peradilan pidana (criminal
memeras, meminta uang dan sejenisnya justice system) yang dibentuk oleh
dengan ancaman.3 Pemerasan yang Negara.4 Komponen-komponen sistem
merupakan suatu tindak pidana yang diatur peradilan pidana adalah kepolisian,
di dalam Pasal 368 Kitab Undang-Undang kejaksaan, pengadilan, dan lembaga
Hukum Pidana, yang berbunyi: permasyarakatan yang masing-masing
(1)Barang siapa dengan maksud untuk dapat dilihat lagi sebagai suatu subsistem
menguntungkan diri sendiri atau orang tersendiri.5 Komponen sistem peradilan
lain secara melawan hukum, memaksa pidana yang penulis bahas dalam
seseorang dengan kekerasan atau penelitian ini adalah fungsi kepolisian
ancaman kekerasan untuk memberikan adalah salah satu fungsi pemerintahan
barang sesuatu, yang seluruhnya atau negara di bidang sangat digemari dan
sebagian adalah kepunyaan orang itu berkembang pesat seolah-olah permainan
atau orang lain, atau menghapuskan judi tersebut merupakan suatu hal yang
piutang, diancam karna pemerasan pemeliharaan keamanan dan
dengan pidana penjara paling lama ketertiban masyarakat, penegakan hukum,
Sembilan bulan. perlindungan, pengayoman, dan pelayanan
(2)Ketentuan pasal 365 ayat kedua, ketiga, kepada masyarakat.6 Kepolisian sebagai
dan keempat berlaku terhadap kejahatan lembaga penegakkan hukum dalam
ini. menjalankan tugasnya tetap tunduk dan
Tindak pidana pemerasan yang patuh pada tugas dan wewenang
dilakukan oleh preman pada mulanya sebagaimana yang diatur dalam Undang-
mereka berbuat apa saja yang dapat Undang.7 Dalam Pasal 5 Undang-Undang
menghasilkan uang, namun karena melihat
ada orang-orang penakut yang dapat
4
I.S Heru Permana, Politik Kriminal,
Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta:
1
Topo Santoso dan Eva Achjani Zulfa, 2007 hlm. 12.
5
Kriminologi, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, Ibid
6
2004, hlm. 1. Mukhlis. “Peranan POLRI Menangani
2
Ichsan Anugrah Putra, “Peranan Kepolisian Demokrasi Masyarakat dalam Pemelihan Kepala
Dalam Menanggulangi Premanisme Sebagai Daerah Secara Langsung di Indonesia”, Artikel
Tindak Pidana Diwilayah Hukum Polsek pada Jurnal Konstitusi, BKK Fakultas Hukum
Senapelan”, Skripsi, Program Sarjana Universitas Universitas Riau, Kerja Sama dengan Mahkamah
Islam Riau, Pekanbaru, 2012, hlm. 1. Konstitusi, Vol.III, No. 2 November 2010, Hlm.
3
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus 126.
7
Besar Bahasa Indonesia (edisi keempat) , PT Supriadi, Etika dan Tanggung Jawab Profesi
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2012, hlm. Hukum di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta: hlm.
1.052. 12.

JOM Fakultas Hukum Volume IV Nomor 1 Februari 2017 2


Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Berdasarkan hal tersebut, penulis
Negara Republik Indonesia, yang berbunyi tertarik untuk melakukan pengkajian
(1)Kepolisian Negara Republik Indonesia secara mendalam terhadap pemerasan
merupakan alat negara yang berperan yang dilakukan oleh preman di sekitar
dalam memelihara keamanan dan masyarakat serta upaya pencegahan yang
ketertiban masyarakat, menegakan di lakukan oleh Kepolisian Kota
hukum serta, memberikan Pekanbaru. Untuk itu penulis melakukan
perlindungan, pengayoman, dan penelitian dalam bentuk Penulisan Hukum
pelayanan kepada masyarakat dalam atau Proposal yang berjudul :
rangka terpeliharanya keamanan dalam “Peranan Kepolisian Dalam Mencegah
negeri. Tindak Pidana Pemerasan Yang
(2)Kepolisian Negara Republik Indonesia Dilakukan Oleh Preman Di Wilayah
adalah Kepolisian Nasional yang Hukum Kepolisian Kota Pekanbaru”.
merupakan satu kesatuan dalam B. Rumusan masalah
melaksanakan peran sebagaimana 1. Bagaimanakah peranan kepolisian kota
dimaksud dalam ayat(1). Pekanbaru dalam mencegah tindak
Berdasarkan data yang diperoleh dari pidana pemerasan yang dilakukan oleh
pihak Polisi Resor Kota Pekanbaru tentang preman ?
preman yang melakukan tindak pidana 2. Apa hambatan yang dihadapi kepolisian
pemersan dua tahun terakhir yang terjadi kota Pekanbaru dalam mencegah tindak
pada tahun 2014 dan 2015 yang mana pidana pemerasan yang dilakukan oleh
rinciannya sebagai berikut: preman ?
Tabel I.1 3. Apa upaya yang dilakukan kepolisian
Data Kasus Tindak Pidana kota pekanbaru dalam mencegah tindak
Pemerasan pidana pemerasaan yang dilakukan oleh
No Nama 2014 2015 preman?
1 Polsek Pekanbaru 2 1 C. Tujuan dan kegunaan penelitian
Kota 1. Tujuan penelitian
2 Polsek Sukajadi _ _ a. Untuk mengetahui peranan
kepolisiankota Pekanbaru dalam
3 Polsek Bukit Raya 2 2 mencegah pemerasan yang
4 Polsek Lima Puluh _ _ dilakukan oleh preman di wilayah
Kota hukum kota Pekanbaru.
5 Polsek Tenayan 4 2 b. Untuk mengetahui hambatan yang
Raya dihadapi kepolisian kota Pekanbaru
6 Posek Tampan 1 1 dalam mencegah tindak pidana
pemerasan.
7 Polsek payung 5 6 c. Untuk mengetahui upaya kepolisian
Sekaki kota Pekanbaru dalam mencegah
8 Polsek Rumbai _ _ tindak pidana pemerasan yang
9 Polsek Senapelan _ _ dilakukan oleh preman.
2. Kegunaan Penelitian
10 Polsek Rumbai 1 2 a. Penelitian ini menambah
Pesisir pengetahuan dan pemahaman
11 Polsek Kawasan _ _ penulis khususnya mengenai
Pelabuhan masalah yang diteliti.
Sumber data : Kepolisian Sektor Kota b. Penelitian ini dapat menjadikan
Pekanbaru 2014 dan 2015 sebagai masukan bagi masnyarakat.
c. Penelitian ini sumbangan pemikiran dan
alat mendorong bagi rekan-rekan

JOM Fakultas Hukum Volume IV Nomor 1 Februari 2017 3


mahasiswa untuk melaksanakan etimologis, istilah politik hukum
penelitian selanjutnya. merupakan terjemahan bahasa Indonesia
D. Kerangka Teori dari istilah hukum belanda politik, yang
1. Teori Peranan merupakan bentukan dari dua kata rech
Peranan adalah suatu sistem kaidah- dan politiek.11Dalam bahasa belanda
kaidah yang berisikan patokan-patokan tindak pidana disebut “strafbaar feit” yang
perikelakuan, pada kedudukan-kedudukan terdiri dari kata strafbaar diartikan
tertentu di dalam masyarakat, kedudukan dihukum dan feit berarti kenyataan.Jadi
mana yang dapat dipunyai pribadi ataupun strafbaar feit adalah sebagian dari
kelompok-kelompok.8 Suatu peranan kenyataan yang dapat dihukum.12Strafbaar
tertentu, dapat dijabarkan kedalam unsur- feit telah diterjemahkan dalam bahasa
unsur sebagai berikut:9 Indonesia sebagai:
a. Peranan yang ideal (ideal role); a. Perbuatan yang dapat atau boleh
b. Peranan yang seharusnya (expected dihukum;
role) adalah peranan yang dalam b. Peristiwa pidana;
pelaksanaannya menurut penilaian c. Perbuatan pidana;
masyarakat yang diharapkan d. Tindak pidana; dan
dilaksanakan secermat-cermatnya dan e. Delik.
peranan ini tidak dapat ditawar dan Tindak pidana menurut Moeljatno
harus dilaksanakan seperti yang merupakan “perbuatan yang dilarang oleh
ditentukan. suatu aturan hukum larangan mana disertai
c. Peranan yang diangap oleh diri sendiri ancaman (sanksi) yang berupa pidana
(perceived role); tertentu, bagi barang siapa melanggar
d. Peranan yang sebenarnya dilakukan larangan tersebut”.13Bentuk pidana yang
(actual role) adalah cara bagaimana diatur dalam Kitap Umum Hukum Pidana
sebenarnya peranan itu dijalankan. (KUHP) dimuat dalam pasal 10 yaitu
Peranan ini pelaksanaannya lebih luas, terdiri dari pidana pokok dan pidana
dapat disesuaikan dengan situasi dan tambahan.14
kondisi tersebut. Pidana Pokok terdiri dari :
Kiranya dapat dipahami bahwa a. Pidana mati;
peranan yang ideal dan yang seharusnya b. Pidana penjara;
datang dari pihak lain, sedangkan peranan c. Pidana kurungan;
yang dianggap diri sendiri serta peranan d. Pidana denda.
yang sebenarnya dilakukan berasal dari Pidana tambahan terdiri dari :
diri pribadi. Sudah tentu bahwa didalam a. Pencabutan dari hak-hak tertentu;
kenyataannya, peranan-peranan tadi b. Penyitaan dari benda-benda tertentu;
berfungsi apabila seseorang berhubungan c. Pengumunan dari keputusan hakim.
dengan pihak lain.10 Penentuan suatu perbuatan sebagai
2. Teori Tindak Pidana tindak pidana sepenuhnya tergantung
Penetapan suatu perbuatan menjadi kepada perumusan di dalam Perundang-
suatu tindak pidana tergantung politik Undangan, sebagai konsekuensi asas
hukum pembentuk undang-undang. Secara
11
Imam Syaukani dan A Ahsin Tohari, Dasar-
8
Soerjono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi dasar Politik Hukum, Raja Grafindo Persada,
Hukum, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta: 2006, Jakarta, 2004, hlm. 19.
12
hlm. 139. Erdianto Effendi, Pokok-Pokok Hukum
9
Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor yang Pidana, Alfa Riau, Pekanbaru: 2010, hlm. 99.
13
Mempengaruhi Penegakan Hukum, PT. Raja Adami Chazawi, Pelajaran Hukum
Grafindo Persada, Jakarta: 2013, hlm. 20. Pidana(Bagian I), Rajawali Pers, Jakarta, 2007,
10
Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor Yang hlm. 71.
14
Mempengaruhi Penegakan Hukum, PT.Raja Erdianto Effendi, Hukum Pidana Indonesia,
Grafindo Persada, jakarta: 2007, hlm.8. PT Refika Aditama, Bandung, 2011 hlm. 146.

JOM Fakultas Hukum Volume IV Nomor 1 Februari 2017 4


legalitas yang dianut oleh pidana 3. Tindak Pidana adalah suatu perbuatan
Indonesia, bahwa tidak ada suatu yang dilakukan manusia yang dapat
perbuatan dapat dihukum kecuali bertanggung jawab yang mana
ditentukan di dalam Undang-Undang. perbuatan tersebut dilarang atau
3. Teori Kebijakan Kriminalisasi diperintahkan atau dibolehkan oleh
Kebijakan kriminalisasi menetapkan undang-undang yang diberi sanksi
perbuatan yang semula bukan tindak berupa sanksi pidana.19
pidana menjadi suatu tindak pidana dalam 4. Kebijakan adalah suatu kumpulan
suatau peraturan perundang- keputusan yang diambil oleh seseorang
undangan.Pada hakikatnya, kebijakan pelaku atau kelompok politik, dalam
kriminalisasi merupakan bagian dari usaha memilih tujuan dan cara untuk
kebijakan kriminal dengan mengunakan mencapai tujuan itu.20
sarana hukum pidana, dan oleh karena itu 5. Preman Adalah manusia yang memiliki
termasuk bagian dari kebijakan hukum kecenderungan gaya hidup bebas
pidana.15Dalam rangka menanggulangi seenaknya sendiri tidak peduli
kejahatan diperlukan berbagai sarana lingkungan, memaksakan kehendak dan
sebagai reaksi yang dapat diberikan lebih jauh lagi mereka melakukan
kepada pelaku kejahatan, berupa sanksi tindakan kriminal.21
pidana maupun bukan pidana, yang dapat 6. Pemerasan perbuatan atau cara
diintegrasikan satu dengan yang lainnya. memeras, meminta uang dan sejenisnya
Sarana pidana dianggap relevan untuk dengan ancaman.22
menanggulangi kejahatan, berarti 7. Kepolisiaan adalah segala hal-ihwal
diperlukan konsepsi politik hukum pidana, yang berkaitan dengan fungsi dan
yakni mengadakan pemilihan untuk lembaga polisi sesuai dengan peraturan
mencapai hasil perundang-undangan perundang-undangan.23
pidana yang sesuai dengan keadaan dan F. Metode Penelitian
situasi pada suatu waktu dan untuk masa- 1. Jenis Penelitian
masa yang akan datang.16 Dalam penelitian ini pendekatan yang
E. Kerangka Konseptual digunakan adalah penelitian yuridis
1. Pencegahan adalah yaitu suatu upaya sosiologis yang artinya meninjau
yang di lakukan sebelum atau setelah keadaan permasalahan yang ada di
sesuatu terjadi, pencegahan itu terdiri lapangan di kaitkan dengan aspek hukum
dari pencegahan primer dan pencegahan yang berlaku dan yang mengatur
sekunder.17 permasalah tersebut.Karena dalam
2. Peranan adalah hak-hak dan kewajiban- penelitian ini penulis langsung
kewajiban di dalam sebuah kedudukan,
itu merupakan pengertian dari peranan 19
Erdianto, Hukum Pidana Indonesia, PT
atau role.18 Refika Aditama, Bandung, 2011, hlm. 100.
20
Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar ilmu politik,
PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2009, hlm.
20.
15 21
Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Ichsan Anugrah Putra, “Peranan Kepolisian
Kebijakan Hukum Pidana. PT Citra Aditya Bakti, Dalam Menanggulangi Premanisme Sebagai
Bandung, 2008, hlm. 2-3. Tindak Pidana Diwilayah Hukum Polsek
16
Sudarto, Hukum dan Hukum Pidana, Alumni, Senapelan”, Skripsi, Program Sarjana Universitas
Bandung, hlm 109. Islam Riau, Pekanbaru, 2012, hlm. 1.
17 22
Lydia Harlina Martono Dan Satya Joewana, Departemen Pendidikan Nasional, Kamus
Pencegahan Dan Penanggulangan Besar Bahasa Indonesia (edisi keempat) , PT
Penyalahgunaan Narkoba Berbasis Sekolah, Balai Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2012, hlm.
Pustaka, Jakarta; 2006, hlm. 36. 1.052.
18 23
Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor yang Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
Mempengaruhi Penegakan Hukum, PT. Raja 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik
Grafindo Persada, Jakarta: 2013, hlm. 20. Indonesia.

JOM Fakultas Hukum Volume IV Nomor 1 Februari 2017 5


mengadakan penelitian pada lokasi atau Tabel I.2
tempat yang diteliti guna memberikan Jumlah Populasi dan Sampel
gambaran secara lengkap dan jelas tentang Jumlah Jumlah Perse
No Responden
masalah yang diteliti. Populasi Sampel ntase
2. Lokasi Penelitian Kepala Sub
Untuk memperoleh data-data yang Bagian
diperlukan, maka penulis melakukan Hubungan
penelitian dengan mengambil lokasi 1 1 1 100 %
Masnyaraka
Kepolisian Sektor Kota Pekanbaru. t Polresta
Pemilihan lokasi tersebut didasarkan Pekanbaru
kepada pertimbangan bahwa di Kepolisian Kanit
Sektor Pekanbaru tersedia informasi dan Reserse
data-data yang berkaitan dengan aksi Kriminal
pemerasan yang dilakukan oleh preman di 2 Kepolisian 11 7 63%
kota Pekanbaru. di Wilayah
3. Populasi dan Sampel Sektor
a. Populasi Pekanbaru
Populasi adalah sekumpulan objek yang Preman 50 20 40%
3
hendak di teliti berdasarkan lokasi
penelitian yang telah di tentukan Jumlah 62 32
sebelumnya sehubungan dengan
24 Sumber: Data Primer Olahan Tahun
penelitian ini. Adapun yang di jadikan
2016
populasi dalam sampel ini adalah
4. Sumber Data
sebagai berikut:
Dalam penelitian pada umumnya
1. Kepala Sub Bagian Hubungan
dibedakan antara data yang diperoleh
Masnyarakat Polresta Pekanbaru;
secara langsung dari masyarakat dan dari
2. Kanit Reserse Kriminal;
bahan-bahan pustaka.Yang diperoleh
3. Preman di Kota Pekanbaru.
langsung dari masyarakat disebut data
b. Sampel
primer, sedangkan yang diperoleh dari
Sampel merupakan bagian dari populasi
bahan-bahan pustaka lazimnya dinamakan
yang akan dijadikan sebagai objek
data sekunder.25 Didalam penelitian ini,
penelitian. Dalam pengambilan sampel
penulis akan mengumpulkan data yang
penulis memakai beberapa metode
terdiri:
diantaranya:
a. Data Primer
1. Metode sensusyaitu menetapkan
Data primer adalah data yang penulis
sampel berdasarkan jumlah populasi
dapatkan atau peroleh secara langsung
yang ada;
melalui responden dengan cara
2. Random sampling, yaitu
wawancara di lapangan mengenai hal-
pengambilan sampel yang dilakukan
hal yang bersangkutan dengan masalah
secara acak dari populasi yang akan
yang diteliti yaitu aksi pemerasan yang
di teliti.
dilakukan preman di Pekanbaru.
Untuk lebih jelasnya mengenai populasi
b. Data sekunder
dan sampel dapat dilihat pada tabel
Data sekunder adalah data yang
dibawah ini:
diperoleh peneliti dari berbagai studi
kepustakaan serta peraturan perundang-
undangan, buku-buku literatur serta

25
Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum
24
Bambang Waluyo, Penelitian Hukum Dalam Normatif,jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2001,
Praktek, Sinar Grafik, Jakarta: 2002, hlm 44. hlm12-13

JOM Fakultas Hukum Volume IV Nomor 1 Februari 2017 6


pendapat para ahli yang berkaitan dengan pencegahan aksi pemerasan
dengan permasalahan penelitian ini, oleh kepolisian kota Pekanbaru.
yang terdiri dari: 6. Analisis Data
1. Bahan Hukum Primer Data dan bahan yang telah terkumpul dan
Yaitu semua bahan atau materi diperoleh dari penelitian akan diolah,
hukum yang mempunyai kedudukan disusun dan dianalisa secara kualilatif
mengikat secara yuridis, seperti atrinya data yang berdasarkan uraian
peraturan perundang-undangan. kalimat atau data tidak dianalisis dengan
Dalam hal ini meliputi : mengunakan statistik atau matematika
a. Kitab Umum Hukum Pidana apapun sejenisnya yang menghasilkan
(KUHP); data deskriptif, yaitu apa yang
b. Undang-Undang Republik dinyatakan responden secara tertulis atau
Indonesia Nomor 2 tahun 2002 lisan dan fakta-fakta di lapangan
tentang Kepolisian Negara dipelajari serta dituangkan pada hasil
Republik Indonesia. penelitian ini. Dari pembahasan tersebut,
2. Bahan Hukum Sekunder akan menarik kesimpulan secara deduktif
Yaitu bahan hukum yang yaitu penarikan kesimpulan dari yang
memberikan penjelasan mengenai bersifat umum kepada khusus.
bahan hukum primer diantaranya, II. HASIL PENELITIAN DAN
rancangan Undang-Undang, hasil- PEMBAHASAN
hasil penelitian, hasil karya ilmiah A. Peranan Kepolisian Kota Pekanbaru
dari kalangan hukum, dan lainnya. Dalam Mencegah Tindak Pidana
3. Bahan Hukum Tersier Pemerasaan Yang Dilakukan Oleh
Yaitu bahan-bahan penelitian yang Preman
di peroleh dari kamus bahasa Kepolisian Sektor Pekanbaru
Indonesia, jurnal, dan internet untuk dalam menciptakan ketentraman dan
mendukung data primer dan rasa aman mengedepankan cara-cara
sekunder. yang baik, Cara ini dapat tergambar
5. Teknik Pengumpulan Data demi hakikat yang telah mereka
a. Wawancara lakukan. Kepolisian Sektor Kota
Wawancara yaitu melakukan Tanya Pekanbaru dalam menjalankan tugas
jawab langsung dengan yang berkaitan dengan perannya dalam
responden.Adapun wawancara yang upaya pencegahan terhadap pemerasan
dilakukan ditujukan langsung kepada yang dilakukan oleh preman.
pihak yang berkaitan (yang berperan) Kepolisian Sektor Kota
khususnya Kepolisian Kota Pekanbaru Pekanbaru dalam menjalankan
sebagai satu pihak aparat yang berperan perannya untuk mencegah tindak
di dalam pencegahan terhadap pidana pemerasan yang dilakukan oleh
pemerasan yang dilakukan oleh preman preman melakukan beberapa hal:26
tersebut. 1. Patroli
b. Kuisioner Patroli adalah salah satu kegiatan
Kuisioner adalah suatu daftar yang kepolisian yang dilakukan oleh dua
berisikan pertanyaan-pertanyaan yang orang atau lebih anggota Kepolisian,
harus dijawab atau dikerjakan oleh sebagai usaha dalam mencegah
responden atau orang yang ingin bertemunya niat dan kesempatan,
diselidiki.
c. Kajian Kepustakaan 26
Wawancara dengan Ibu Henni Irawati,
Mengkaji, menelaah dan menganalisis Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat
berbagai literatur yang berhubungan Kepolisian Resor Kota Pekanbaru, Hari Kamis 5
November 2015, Bertempat di Kepolisian Resor
Kota Pekanbaru.

JOM Fakultas Hukum Volume IV Nomor 1 Februari 2017 7


dengan cara mendatangi, mengamati/ dalam penyuluhan mengenai tindak pidana
mengawasi/ memperhatikan situasi dan khususnya pemerasan.
kondisi yang diperkirakan akan Dari hasil penelitian yang penulis
menimbulkan segala bentuk kejahatan atau lakukan, adapun identitas serta barang
gangguan keamanan ketertiban masyarakat bukti yang berhasil disita oleh pihak
yang melanggar hukum, guna memelihara kepolisian dari para tersangka tindak
ketertiban dan menjamin keamanan umum pidana pemerasan adalah sebagai berikut:
masyarakat. Tabel IV. 1
Polsek Pekanbaru melakukan patroli Data Tersangka Pemerasan dan Barang
di tempat yang rawan akan pemerasan Bukti Yang Berhasil Disita Oleh
serta rawan terjadi tindak pidana di Kepolisian Sektor Kota Pekanbaru
wilayah kota Pekanbaru. Kepolisian Sektor Tahun 2014-2015
Kota Pekanbaru melakukan penjagaan di NO Nomor Tersa TKP Barang Thn
dan ngka Bukti
tempat-tempat yang dicurigai akan terjadi
tanggal
tindak pidana pemerasan dengan LP
menempatkan personil polri untuk 1 Lp/36/I/ Indra Jl.Satria, Uang 2015
penjagaan keamanan. masyarakat. 15 Irawan Kel.Rejos Rp.
2. Cipta Kondisi (Razia) 11-2014 , LK, ari, 6.000.000
Kepolisian Sektor Kota Pekanbaru 32 Th Kec.Tena
melakukan cipta kondisi secara Anggo yanRaya
menyeluruh dengan mendatangi tempat- ta
tempat yang diduga akan terjadinya tindak Pemud
pidana pemerasan tersebut. Selain itu juga a
dilokasi yang dicurigai seperti tempat Pancas
ila
pemangkalan preman yang ada di sekitar
2 Lp/917/ Yopi Jl. Datuk Uang 2015
area pasar tradisional. Pihak kepolisian
XI/15 Leo Setia Rp.
melakukan aksi cipta kondisi pada malam 08-11- Rinanz Maharaja, 260.000
minggu, hari-hari libur sekolah, dan hari- 2015 a Lk, Tangkera
hari besar lainnya. 22 Th ng Timur
Wilayah-wilayah yang dilakukan Kec.
titik razia adalah beberapa wilayah pasar Bukit
tradisional dan tempat pemangkalan Raya
preman yang diindikasi sebagai tempat Sumber: Min Reskrim Polsek
yang sangat rawan akan terjadinya tindak Pekanbaru
pidana pemerasan. Maka dari itu Belum maksimalnya penanganan
pentingnya pihak kepolisian melakukan kasus pemerasan yang dilakukan oleh
razia di tempat yang rawan akan aksi preman bukan semata-mata kesalahan dan
pemerasan agar masyarakat bisa kekurangan yang terletak pada pihak
merasakan aman dan nyaman di kepolisian namun juga berbagai faktor
lingkungan tempat tinggalnya. lainnya. Penulis memberikan beberapa
3. Penyuluhan pertanyaan mendasar kepada beberapa
Kepolisian Sektor Pekanbaru dengan preman yang menjadi sampel dan
melakukan penyuluhan kepada masyarakat responden dalam penelitian ini berupa
untuk memberikan pemahaman terhadap kuisioner. Berikut merupakan pertanyaan
masyarakat akan pentingnya sadar hukum mendasar beserta jawaban yang penulis
mengenai tindak pidana. Penyuluhan yang dapatkan, yaitu:
dilakukan oleh pihak kepolisian melalui
unit Pembinaan Masyarakat (Binmas)
melakukan peran serta tanggung jawab di

JOM Fakultas Hukum Volume IV Nomor 1 Februari 2017 8


Tabel IV.2 pribadi, namun tidak jarang pula sesuai
Aksi Preman Yang dengan sebagian responden menyatakan
MelakukanPemerasan Sebagai Mata aksi premanisme dan pemerasan
Pencarian merupakan kebutuhan kelompok dan
No Responden Jumlah Presentasi keinginan sekelompok orang.Aksi
1 Ya 15 75% premanisme dan pemerasan yang berasal
2 Tidak 5 25% dari kelompok dilakukan dengan
Jumlah 20 100% menyebarkan anggota dalam hal ini
Sumber: Data Olahan Lapangan 2016 preman di wilayah yang berbeda. Dan
Dari uraian tabel IV.1 di atas terlihat hasil dari aksi premanisme dan pemerasan
bahwa 15 orang atau 75% preman yang pada umumnya akan di berikan kepada
menjadi responden menyatakan (ya) pimpinan kelompok.
melakukan aksi premanisme dan Tabel IV.4
pemerasan sebagai mata pencarian. Dan Faktor Pendidikan yang
selebihnya menyatakan (tidak) sejumlah 5 Melatarbelakangi Melakukan Aksi
orang atau 25% yang menjadikan aksi Premanisme dan Pemerasan
premanisme dan pemerasan hanya untuk No Responden Jumlah Presentasi
kesenangan dan narkoba. 1 Ya 16 80%
Dari uraian diatas penulis 2 Tidak 4 20%
berpendapat bahwa dari 20 responden
Jumlah 20 100%
melakukan aksi premanisme dan
pemerasan sebagian besar menjadikan Sumber: Data Olahan Lapangan 2016
tindak kriminal ini untuk memenuhi Dari uraian tabel IV.3 di atas terlihat
kebutuhan hidup dan keluarganya. Dengan bahwa 16 orang atau 80% preman yang
kata lain aksi premanisme dan pemerasan menjadi responden menyatakan (ya)
merupakan jalan hidup bagi sebagian melakukan aksi premanisme dan
preman yang berada di kota Pekanbaru. pemerasan merupakan faktor pendidikan.
Tabel IV.3 Dan selebihnya menyatakan (tidak)
Aksi Preman Yang sejumlah 4 orang atau 20% yang
MelakukanPemerasan Untuk Mencari menjadikan aksi premanisme dan
Keuntungan Pribadi pemerasan bukan merupakan faktor
No Responden Jumlah Presentasi pendidikan.
1 Ya 12 60% Pada umumnya penulis melihat aksi
premanisme dan pemerasan dilakukan oleh
2 Tidak 8 40%
preman di wilayah Pekanbaru merupakan
Jumlah 20 100% akibat dari faktor pendidikan.Dimana
Sumber: Data Olahan Lapangan 2016 sebagian besar preman tidak memiliki
Dari uraian tabel IV.2 di atas terlihat pendidikan yang cukup, hal inilah yang
bahwa 12 orang atau 60% preman yang menyebabkan para preman melakukan
menjadi responden menyatakan (ya) tindakan kriminal.Dengan semakin
melakukan aksi premanisme dan banyaknya masyrakat yang tidak memiliki
pemerasan untuk mencari keuntungan pendidikan yang cukup maka semakin
pribadi. Dan selebihnya menyatakan mudah menjadi pelaku criminal dan
(tidak) sejumlah 8 orang atau 40% yang melakukan aksi premanisme.Dan penulis
menjadikan aksi premanisme dan juga melihat selain faktor pendidikan dan
pemerasan untuk segolongan orang atau faktor lingkungan yang mempengaruhi
kepentingan kelompok. terjadinya aksi premanisme.
Aksi premanisme dan pemerasan
yang dilakukan oleh sebagian preman di
Pekanbaru merupakan sebuah kebutuhan

JOM Fakultas Hukum Volume IV Nomor 1 Februari 2017 9


Tabel IV.5 pendekatan terhadap aksi premanisme dan
Aparat penegak hukum ada yang pemerasan.
melindungi preman dalam melakukan Sosialisasi atau pendekatan
pemerasan terhadap premanisme dan pemerasan pada
No Responden Jumlah Presentasi dasarnya sudah dilakukan oleh pihak yang
1 Ya 0 0% berwenang, dari hasil responden yang
2 Tidak 20 100% penulis simpulkan bahwa sosialisasi dan
pendekatan telah dilakukan terhadap
Jumlah 20 100%
preman namun beberapa kali dilakukan
Sumber: Data Olahan Lapangan 2016 tidak tepat sasaran.
Dari uraian tabel IV.4 di atas terlihat Dari rangkaian tabel diatas dapat kita
bahwa 0 orang atau 0% preman yang cermati bahwa pada dasarnya tindak
menjadi responden menyatakan (ya) pidana pemerasan dan premanisme ini
bahwa ada kaitannya dengan aparat merupakan faktor dari lemahnya ekonomi
penegak hukum dalam melakukan aksi masyarakat sehingga dengan latar
premanisme dan pemerasan. Dan belakang tidak cukup pendidikan,
selebihnya menyatakan (tidak) sejumlah lingkungan dan pengaruh obat terlarang
20 orang atau 100% bahwa tidak ada dan kebutuhan yang begitu sulit
kaitannya dengan aparat hukum dalam menyebabkan pelaku memutuskan cara
melindungi aksi premanisme dan pemerasan untuk mencari sumber
pemerasan. kehidupan. Hal ini juga dapat dikaitkan
Aksi premanisme dan pemerasan dengan pertumbuhan ekonomi di
tidak akan pernah dengan mudahnya dapat masyarakat serta dalam kebijakan
dihilangkan dari suatu masyrakat hal ini pemerintah dalam hal pemenuhan
berkaitan dengan kedudukan aparat kehidupan masyarakat, sehingga tidak
penegak hukum di tengah semata-mata kepolisian yang bertanggung
masyarakat.Tidak bisa kita pungkiri bahwa jawab dengan persoalan premanisme dan
aksi premanisme dan pemerasan ini kerap pemerasan ini.
kali luput dari penegakkan hukum. B. Hambatan Yang Dihadapi Kepolisian
Tabel IV.6 Kota Pekanbaru Dalam Mencegah
Pihak kepolisian ada melakukan Tindak Pidana Pemerasan Yang
sosialisasi atau pendekatan terhadap Dilakukan Oleh Preman
aksi premanisme dan pemerasaan 1. Faktor Internal
No Responden Jumlah Presentasi a. Kendala Informasi
1 Ya 12 60% Untuk kendala penegakan hukum ini
2 Tidak 8 40% dimulai dari kurangnya informasi yang
diperoleh oleh kepolisian terhadap tindak
Jumlah 20 100%
pidana pemerasan yang beredar di
Sumber: Data Olahan Lapangan kalangan masyarakat. Sejauh ini proses
2016 pencegahan yang dilakukan kepolisian
Dari uraian tabel IV.5 di atas belum maksimal karena informasi yang di
terlihat bahwa 12 orang atau 60% preman dapatkan dari masnyarakat kurang, pada
yang menjadi responden menyatakan (ya) umumnya masnyarakat yang mengetahui
ada pihak kepolisian yang melakukan adanya tindak pidana pemerasan yang ada
sosialisasi atau pendekatan terhadap aksi disekitarnya enggan untuk
premanisme dan pemerasan. Dan menginformasikannya kepada polisi
selebihnya menyatakan (tidak) sejumlah 8 karena tidak mau repot untuk memberikan
orang atau 40% tidak ada pihak kepolisian informasi.
yang melakukan sosialisasi atau b. Terbatasnya Sumber Daya Manusia di
Kepolisian Sektor Pekanbaru

JOM Fakultas Hukum Volume IV Nomor 1 Februari 2017 10


Jumlah personil polisi yang sedikit Korban yang terkena tindak pidana
di bagian-bagian sektor kecamatan jika pemerasan yang tidak melapor,
dibandingkan dengan jumlah penduduk mempunyai tiga faktor:
yang banyak di kecamatan, sehingga tidak 1. Takut karena ancaman yang dibuat oleh
tercangkup seluruhnya tindak pidana atau tersangka;
kriminalitas yang ada di wilayah 2. Nominal uang yang diminta tidak
kecamatan tersebut . seberapa;
c. Minimnya Sarana dan Prasarana 3. Tidak mau repot untuk melaporkan
Faktor sarana dan prasarana tindak pidana pemerasan yang baru saja
merupakan suatu kendala yang dihadapi dialaminya.28
oleh pihak kepolisian. Faktor sarana C. Upaya Kepolisian Kota Pekanbaru
meliputi kurangnya kendaraan operasional Dalam Mencegah Tindak Pidana
yang dimiliki oleh polsek kota Pekanbaru Pemerasaan Yang Dilakukan Oleh
sehingga menyulitkan pihak kepolisian Preman
dalam melakukan kegiatan atau operasi. 1. Upaya Pre-emtif (antisipasi)
Kepolisian Sektor hanya mempunyai 1 .Upaya pre-emtif adalah upaya-
mobil patroli dan 2 unit sepeda motor yang upaya awal yang dilakukan oleh pihak
diangap masih sangat kurang untuk kepolisian untuk mencegah terjadinya
pelaksanaan operasional yang akan tindak pidana. Usaha-usaha yang
dilakukan pihak kepolisian. Selain itu dilakukan di dalam penanggulangan
tidak ada pengadaan akses seperti kejahatan secara pre-emtif menanamkan
komputer, print, dan swadaya.27 nilai-nilai atau norma-norma yang baik
2. Faktor Eksternal sehingga norma-norma terintenalisasi
a. Kurangnya Kesadaran Masyarakat dalam diri seseorang. Meskipun ada
Kurangnya kesadaran masyarakat kesempatan untuk pelanggaran atau
terhadap hukum dapat mendorong kejahatan tapi tidak ada niatnya untuk
masnyarakat untuk menolak keberadaan melakukan tindakan tersebut maka tidak
suatu hukum, karena masyarakat yang akan terjadi kejahatan. Jadi dalam upaya
tidak patuh akan hukum akan bersikap pre-emtif faktor niat menjadi hilang
acug tak acuh terhadap hukum yang meskipun ada kesempatan.
berlaku itu dalam kehidupannya. Penyebab Adapun upaya pre-emtif yang
kurangnya kesadaran masyarakat terhadap dilakukan oleh Kepolisian Sektor
29
hukum itu dapat disebabkan karena Pekanbaru, yaitu:
kurangnya pemahaman masyarakat akan a. Sosialisasi kepada masyarakat
hukum itu sendiri, penyuluhan hukum Untuk memberikan pemahaman
menjadi cara yang terbaik dan ampuh kepada masyarakat mengenai tindak
untuk menanamkan kesadaran hukum pidana, khususnya tindak pidana
dalam masyarakat. pemerasanyang dilakukan oleh preman.
Dalam penyuluhan hukum ini, polisi Upaya yang dilakukan oleh Kepolisian
memberitahukan kepada masyarakat Sektor Pekanbaru untuk melaksanakan
bahwa pemerasan itu dilarang dalam peran serta tanggung jawab didalam
Undang-Undang, kemudian mensosialisasikan atau memberikan
memberitahukan unsur-unsur pemerasan.
b. Korban yang Tidak Melapor
28
Wawancara dengan Bapak IPDA HR
Panjaitan, SH, Kepala Unit Reserse Kriminal
Polsek Pekanbaru Kota, Hari Senin 18 Juli 2016,
Bertempat di Polsek Pekanbaru Kota.
27 29
Wawancara dengan Bapak IPDA Suleman D, Wawancara dengan Bapak Iptu Rahmad,
Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Tenayan Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Rumbai
Raya, Hari kamis 14 Juli 2016, Bertempat di Pesisir, Hari Kamis 14 Juli 2016, Bertempat di
Polsek Tenayan Raya. Polsek Rumbai Pesisir.

JOM Fakultas Hukum Volume IV Nomor 1 Februari 2017 11


penyuluhan ataupun seminar mengenai anggota kepolisian di daerah-daerah
tindak pidana pemerasan dan yang rawan akan terjadinya aksi
premanisme, yaitu Kepolisian Sektor premanisme. Dengan menempatkan
Pekanbaru khususnya bagian Reserse beberapa anggota kepolisian di daerah
Kriminal menjadi narasumber di yang rawan akan terjadinya aksi
berbagai kegiatan sosialisasi, premanisme, pelaku atau preman akan
penyuluhan ataupun seminar. takut untuk melakukan tindakan
b. Mengaktifkan sistem keamanan kriminal karena adanya pihak aparat
lingkungan (Siskamling) penegak hukum di tempat yang
Pihak kepolisian memberitahukan biasanya preman atau pelaku
kepada warga atau masyarakat agar melakukan aksi premanisme..
mengaktifkan siskamling di daerah b. Memelihara ketertiban dan menjamin
tempat tinggal mereka, untuk upaya keamanan umum masyarakat
meningkatkan sistem keamanan dan Kepolisian sebagai aparat negara
ketertiban masyarakat. Mengaktifkan yang bertugas untuk memberikan
siskamling bertujuan untuk perlindungan, pengayoman, pelayanan
mengantisipasi terjadinya ancaman, kepada masyarakat dalam rangka
gangguan keamanan, dan tindak pidana terpeliharanya ketertiban dan keamanan
yang ada di tengah masyarakat. didalam masyarakat.
2. Upaya Preventif (Non-Penal) Dari keterangan diatas, maka yang
Upaya non penal merupakan lebih diutamakan adalah tugas preventif
kebijakan penanggulangan kejahatan yang (mencegah), merupakan suatu kesimpulan
paling strategis. Hal itu dikarenakan non bahwa lebih baik mencegah timbulnya
penal lebih bersifat sebagai upaya suatu penyakit, dari pada mengobati
pencegahan (preventif) sebelum terjadinya penyakit yang telah timbul, disamping
suatu tindak pidana. Sasaran utama non memerlukan biaya yang besar kadang-
penal adalah menangani dan kadang sulit untuk mengobati penyakit
menghapuskan faktor-faktor pendorong yang telah mendalam.
yang menyebabkan terjdinya suatu tindak 3. Upaya Represif
pidana, yang berpusat pada masalah- upaya refresif adalah salah satu
masalah atau kondisi-kondisi sosial yang upaya yang ditujukan kepada seseorang
dapat menimbulkan kejahatan. yang telah menjadi jahat untuk
Peran preventif yang dilakukan oleh menolongnya kembali ke jalan yang benar
kepolisian kota Pekanbaru demi agar tidak mengulangi kembali
31
terciptanya keamanan dan kenyaman di perbuatannya. Upaya ini merupakan
masyarakat di kota Pekanbaru antara lain, rangkaian upaya pencegahan terhadap
yaitu:30 suatu tindak pidana yang telah terjadi.
a. Kepolisian menempatkan personil atau Adapun peranan secara represif
anggota polri di daerah yang rawan (penindakan) yang dilakukan oleh
terjadi aksi premanisme Kepolisian Sektor Kota Pekanbaru
Pencegahan yang dilakukan oleh terhadap tindak pidana pemerasan yang
pihak kepolisian untuk mencegah aksi dilakukan oleh preman, yaitu sebagai
premanisme dan pemerasan yang berikut :
dilakukan oleh preman dapat dilakukan a. Proses Penyelidikan
dengan cara menempatkan personil atau Penyidik Reserse Kriminal Polsek
Pekanbaru akan melakukan tindakan
30
Wawancara dengan Ibu AKP Henny Irawati,
31
SH, Kepala Hubungan Masyarakat Kepolisian Wawancara dengan Bapak Ipda M Bahari,
Resor Kota Pekanbaru, Hari selasa Tanggal 18 SH, Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Bukit
July 2016, Bertempat di Kepolisian Resor Kota Raya, Hari Jumat 15 Juli 2016, Bertempat di polsek
Pekanbaru. Bukit Raya.

JOM Fakultas Hukum Volume IV Nomor 1 Februari 2017 12


penyelidikan apabila mendapat laporan apabila terdapat cukup bukti guna
dan pengaduan terkait tindak pidana kepentingan penyidikan atau
pemerasan. Unit Reserse Kriminal harus penuntutan dan atau peradilan dalam
melakukan proses penyelidikan untuk hal serta menurut cara yang diatur
mengumpulkan bukti permulaan yang dalam Undang-Undang ini. Proses
cukup apakah suatau perbuatan tersebut penangkapan terhadap pelaku tindak
merupakan tindak pidana pemerasaan, pidana pemerasan dengan adanya
dengan melakukan beberapa hal, yaitu:32 laporan serta adanya bukti permulaan
1. Mendatangi TKP (Tempat Kejadian yang cukup maka upaya penangkapan
Perkara) dapat dilakukan dengan tepat guna
Dengan mendatangi tempat kejadian kepentingan pemeriksaan penyidikan.
perkara kepolisian bisa secara langsung 2. Penahanan
datang ke tempat dimana pelaku Penempatan tersangka atau
melakukan tindak pidana dan kepolisian terdakwa ditempat tertentu oleh
akan melakukan olah TKP. penyidik agar tersangka tidak bisa
2. Melakukan olah TKP melarikan diri, Penahanan yang
a. Mencari dan mengumpulkan dilakukan penyidik berguna untuk
keterangan, petunjuk, barang bukti, memeriksa tersangka mengenai
identitas tersangka dan korban perbuatan pidana yang dilakukannya
maupun saksi untuk kepentingan dan tersangka tidak bisa menghilangkan
penyelidikan selanjutnya; barang bukti serta mengulangi
b. Mencari hubungan antara perbuatannya.
saksi/korban, tersangka, dan barang 3. Pemberkasan
bukti; Proses penyidikan dilakukan
c. Memperoleh gambaran tindak terhadap pelaku hingga dibuatlah
pidana yang terjadi berkas perkara dan diserahkan kepada
Kepolisian yang telah melakukan Jaksa, apabila berkas perkara
beberapa tahap penyelidikan dan telah dikembalikan untuk dilengkapi oleh
mengetahui perbuatan tersebut merupakan jaksa kepada penyidik yang disebut P-
tindak pidana, pihak kepolisian akan 18 dengan petunjuknya P-19. Setelah
melakukan proses penyidikan. berkas perkara sudah dilengkapi oleh
b. Proses Penyidikan penyidik dan dianggap sudah lengkap
Penyidik Reserse Kriminal oeh kejaksaan (P-21), penyidik
Kepolisian Sektor Pekanbaru dalam menyerahkan berkas perkara kepada
menjalankan tugasnya melakukan Jaksa Penuntut Umum (JPU) serta
beberapa hal, yaitu:33 dilakukan serah terima barang bukti dan
1. Penangkapan tersangka ke pihak JPU.
Menurut Pasal 1 butir 20 KUHAP Begitulah upaya-upaya yang
dijelaskan bahwasanya penangkapan dilakukan pihak kepolisian untuk
adalah suatu tindakan penyidik berupa mencegah tindak pidana pemerasaan
pengekangan sementara waktu yang dilakukan oleh preman. Menurut
kebebasan tersangka atau terdakwa penulis upaya yang dilakukan oleh
pihak kepolisian dalam mencegah
32
Wawancara dengan Bapak IPDA Abdul tindak pidana pemerasan yang
Halim, S.E, Kepala Unit Reserse Kriminal dilakukan oleh preman belum begitu
Kepolisian Sektor Senapelan, Hari Selasa 26 Juli
maksimal dan masih memungkinkan
2016, Bertempat di Polsek Senapelan Kota
Pekanbaru tindak pidana pemerasan akan terus ada
33
Wawancara dengan Bapak Iptu Efrin J di kota Pekanbaru.
Manulang, SH, Kepala Unit Reserse Kriminal
Polsek Payung Sekaki, Hari Rabu 13 Juli 2016,
Bertempat di Polsek Payung Sekaki.

JOM Fakultas Hukum Volume IV Nomor 1 Februari 2017 13


III. PENUTUP masyarakat akan mengerti akan dampak
A. Kesimpulan yang terjadi dari tindak pemerasaan.
1. Peranan kepolisian kota Pekanbaru Hal ini akan meningkatkan kesadaran
dalam mencegah tindak pidana masyarakat akan hukum agar tidak
pemerasan yang dilakukan oleh preman melakukan tindak pidana.
yaitu dengan melakukan patroli, razia, 2. Kepolisian harus meningkatkan kualitas
dan penyuluhan. Namun dalam dalam mengatasi hambatan-hambatan
melaksanakan tindakan tersebut belum terhadap tindak pidana pemerasan.
berjalan secara maksimal dan efektif Pemerintah harus menambahkan dan
dikarenakan masih banyaknya meningkatkan sarana dan prasarana
hambatan yang dihadapi oleh kepolisian untuk mendukung kinerja Kepolisian
sektor kota Pekanbaru. dalam mencegah terjadinya tindak
2. Hambatan yang dihadapi kepolisian pidana pemerasan.
kota Pekanbaru dalam mencegah tindak 3. Pihak kepolisian harus lebih
pidana pemerasan yang dilakukan oleh meningkatkan pencegahan terhadap
preman di kota Pekanbaru: Pertama, aksi premanisme dan pemerasan yang
Kendala kurangnya informasi dari dilakukan oleh preman agar aksi
masyarakat, Kedua, kurangnya SDM premanisme bisa di berantas dan pihak
polri di kepolisian sektor Pekanbaru, kepolisian harus memaksimalkan
Ketiga, minimnya sarana dan prasarana, perannya sebagai aparat penegak
Keempat, kurangnya kesadaran hukum.
masyarakat, Kelima, korban yang tidak DAFTAR PUSTAKA
melapor. A. Buku
3. Upaya yang dilakukan Kepolisian Arief, Barda Nawawi, 2008, Bunga
Sektor kota Pekanbaru untuk mencegah Rampai Kebijakan Hukum
aksi premanisme dan pemerasan yang Pidana. PT Citra Aditya Bakti,
dilakukan oleh preman diantaranya: Bandung.
pertama pre-emtif, yaitu upaya untuk .
mengantisipasi faktor-faktor yang Budiardjo, Miriam, 2009, Dasar-Dasar
menjadi penyebab, pendorong, dan ilmu politik, PT Gramedia
peluang terjdinya tindak pidana. Kedua Pustaka Utama, Jakarta.
preventif, upaya tindakan penencegahan Chazawi, Adami, 2007, Pelajaran
agar tidak terjadinya tindak pidana. Hukum Pidana (Bagian I),
Ketiga represif, upaya penindakan Rajawali Pers, Jakarta.
kepada seseorang yang melakukan Dirdjosisworo, Soedjono, 2010
tindak pidana. Pengantar Ilmu Hukum,
B. Saran Rajawali Pers, Jakarta.
1. Kepolisian Sektor Pekanbaru dalam Erdianto, 2011, Hukum Pidana
mewujudkan peranannya sebagai Indonesia, PT Refika Aditama,
pencegah dan pemberantas tindak Bandung.
pidana pemerasan seharusnya lebih , 2010 Pokok-Pokok Hukum
konsisten dalam menjalankan perannya Pidana, Alaf Riau, Pekanbaru.
baik dalam melakukan patroli, cipta Hartono, 2010 Penyidikan Dan
kondisi dan penyuluhan . Pihak Penegakan Hukum Pidana
kepolisian dapat bertindak lebih aktif Melalui Pendekatan Hukum
pada saat melakukan patrol dan Progresif, Sinar Grafika,
penyuluhan, semakinnya dekatnya Jakarta.
pihak kepolisian dengan masyarakat M, Faal, 2000, Penyaringan Perkara
maka masyarakat akan menaruh Pidana oleh Kepolisian,
kepercayaan terhadap kepolisian dan Pradnya Paramita, Jakarta.

JOM Fakultas Hukum Volume IV Nomor 1 Februari 2017 14


Marpaung, Leden, 2009, Proses dan Faktor Penyebabnya”,
Penanganan Perkara Pidana Jurnal Ilmu Hukum,
(Penyelidikan dan Fakultas Hukum
Penyidikan), Sinar Grafika, Universitas Riau, Edisi 1,
Jakarta. No. 1 Agustus.
Moeljatno, 2008, Asas-asasHukum Departemen Pendidikan Nasional,
Pidana, Rineka Cipta, Jakarta. 2012, Kamus Besar Bahasa
Muhammad, Abdulkadir, 2006, Etika Indonesia (edisi keempat) ,
Profesi Hukum, PT. Citra PT Gramedia Pustaka
Aditya Bakti, Bandung. Utama, Jakarta.
Rahardjo, Satjipto, 2009 Pendidikan Ichsan Anugrah Putra, 2012, “Peranan
Hukum Sebagai Pendidikan Kepolisian Dalam
Manusia, Genta Publishing, Menanggulangi
Yogyakarta. Premanisme Sebagai
Soekanto, Soerjono, 2013, Faktor- Tindak Pidana Diwilayah
Faktor yang Mempengaruhi Hukum Polsek Senapelan”,
Penegakan Hukum, PT. Raja Skripsi, Program Sarjana
Grafindo Persada, Jakarta. Universitas Islam Riau,
, 2001, Penelitian Pekanbaru.
Hukum Normatif, PT. Raja
Grafindo Persada, Jakarta. C. Peraturan Perundang-Undangan
Syarifin, Pipin, 2000 Hukum Pidana Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981
Indonesia, Pustaka Setia Tentang Kitab Undang-
Bandung. Undang Hukum Acara
Tohari, A Ahshin dan Imam Syaukani, Pidana, Lembaran Negara
2004, Dasar-dasar Politik Republik Indonesia Tahun
Hukum, Raja Grafindo 1981 Tentang Hukum
Persada, Jakarta. Acara Pidana Nomor 76 ,
Waluyo, Bambang, 2002, Penelitian Tambahan Lembaran
Hukum Dalam Praktek, Sinar Negara Republik Indonesia
Grafik, Jakarta. Nomor 3209.
Zulfa, Eva Achjani dan Topo Santoso, Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002
2004, Kriminologi, PT Raja tentang Kepolisian Negara
Grafindo Persada, Jakarta. Republik Indonesia,
Lembaran Negara Republik
B. Jurnal / Kamus / Skripsi Indonesia Tahun 1999
Mukhlis, 2010, “Peranan POLRI Nomor 169, Tambahan
Menangani Demokrasi Lembaran Negara Republik
Masyarakat dalam Indonesia Nomor 3890.
Pemelihan Kepala Daerah
D. Website
Secara Langsung di
http://www.hukumonline.com/pusatdata
Indonesia”, Artikel pada
/detail/23828/node/760/putu
Jurnal Konstitusi, BKK
san-ma-no-81k_pid_1982-
Fakultas Hukum
simon-hutahuruk, diakses,
Universitas Riau, Kerja
tanggal, 15 Juli 2016.
Sama dengan Mahkamah
http://www.boyyendranatamin.com/201
Konstitusi, Vol.III, No. 2
5/03/tindak-pidana-
November.
pemerasan-
Erdianto, 2010, “Makelar Kasus/Mafia
blacmail.html?m=1, diakses
Hukum, Modus Operandi
tanggal, 14 Juli 2016.

JOM Fakultas Hukum Volume IV Nomor 1 Februari 2017 15