Вы находитесь на странице: 1из 18

43 | JURNAL ILMU BUDAYA

Volume 7, Nomor 1, Juni 2019 E-ISSN: 2621-5101 P-ISSN: 2354-7294

PENDIDIKAN ANAK DALAM LES RECRES DU PETIT NICOLAS KARYA


RENE GOSCINNY DAN JEAN-JACQUES SEMPE

1
Nurul Dwi Rizki, 2Masdiana
1,2,
Departemen Sastra Prancis, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin, Makassar

NurulDwiRzk@yahoo.com
masdiana@fs.unhas.ac.id

Correspondence author

Ade Yolanda Latjuba


adeyolanda@unhas.ac.id

Abstract
The study entitled "Children's Education in Les Récrés du Petit Nicolas by René Goscinny and Jean-
Jacques Sempé" aims to describe parenting and the impact of the parenting style on the life of Nicolas.
Nicolas is the main character in this short story collection, who is still in his early years. The upbringing
he received from his parents at home and the teacher and education staff in the school had shaped his
personality. For this reason, a study of this collection of stories uses descriptive analysis with an intrinsic
approach. This means that the intrinsic elements of the stories are analyzed based on the concepts and
theories of early childhood care. The results of the analysis show that Nicolas's parenting model is the
authoritative parenting model. This parenting style describes parents who encourage children to be
independent, while still giving control to their children's attitudes and behavior. While the pattern of
education in schools leads to authoritarian education which is characterized by interaction with teachers
and school supervisors who are limiting, threatening and even punishing. The impact of this upbringing
turned out to have made Nicolas, a child who was creative, open and friendly, dared to express opinions,
be cooperative and willing to admit mistakes. Nicolas is also sensitive to his surroundings and has high
curiosity.

Keywords: authoritarian education, authoritative parenting, child education, literature.

LATAR BELAKANG mengungkapkan bahwa sastra sebagai wujud


ekspresi individu yang menggunakan bahasa
Sastra adalah kombinasi antara ide untuk menyatakan pikiran, perasaan,
dan imajinasi yang dituangkan ke dalam keyakinan yang diperoleh dari pengalaman
suatu bentuk, sastra juga merupakan karya menjalani kehidupan. Karena itu karya
seni yang mengolah manusia dan segala sastra merefleksikan hidup dan kehidupan
aspek kehidupannya. Sumardjo (1984) nyata manusia yang dipadu dengan
44 | JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 7, Nomor 1, Juni 2019 E-ISSN: 2621-5101 P-ISSN: 2354-7294

kemampuan berimajinasi dan berkreasi orang dewasa. Semua ini tergambar jelas
seorang pengarang yang didukung dalam kumpulan cerpen tersebut.
pengalaman dan pengamatannya terhadap Penulis meyakini bahwa gambaran
kehidupan. tokoh Nicolas di dalam cerpen Les Récrés
Bahasa yang digunakan dalam karya du Petit Nicolas ini dapat menjadi kajian
sastra adalah bahasa ekspresif yang telah yang menarik pada masa sekarang ini.
diseleksi, dan diolah dengan susunan yang Nicolas sebagai tokoh utama dalam
teratur serta indah untuk menghadirkan keseluruhan isi cerpen tersebut diberikan
kenyataan hidup. Oleh karena itu, dapat peran dalam hiruk pikuk persahabatan,
dikatakan pula bahasa ekspresi sastra yang kegembiraan, perselisihan, dan juga hiruk
menceritakan kenyataan hidup dalam bentuk pikuk kehidupan anak di sekolah dan di
artistik, dapat memunculkan makna rumah. Proses pertumbuhan Nicolas sebagai
tersendiri bagi pembaca atau penikmatnya. anak modern di masanya, berpusat pada
Kesan awal membaca kumpulan pengalaman dan interpretasinya terhadap
cerpen Les Récrés du Petit Nicolas adalah interaksi keseharian baik di rumah, sekolah
rasa penasaran untuk membaca tuntas dan maupun lingkungan secara luas. René
ternyata ceritanya sangat menarik. Dalam Goscinny dan Jean-Jacques Sempé sebagai
buku ini terdapat banyak hal yang dapat penulis cerpen juga memasukkan cerita
mengingatkan kita pada masa kecil. Masa tentang dunia orang dewasa sebagai
kecil sangat menyenangkan, tidak pernah gambaran interaksi sosial yang dilakonkan
terlupakan dan keceriaan di masa kecil oleh tokoh Nicolas yang cukup kompleks.
selalu membawa suatu kebahagiaan jika Beberapa ahli pendidikan anak
diingat kembali. Masa kecil di mana kita mengatakan bahwa periode usia anak pada
dapat berimajinasi dengan bebas dan di masa sensitif ini juga merupakan fase
masa kecil pula kita dapat belajar sedikit peletak dasar untuk pengembangan
demi sedikit tentang kehidupan. kemampuan anak. Sudono (2017:2) dalam
René Goscinny dan Jean-Jacques studinya menemukan bahwa anak usia dini
Sempé (1963) memberikan illustrasi dan dan usia awal Sekolah Dasar tumbuh dan
gambaran tentang tokoh seorang anak berkembang melalui proses yang unik.
melalui 17 cerpen yang di dalamnya ada Keunikannya dapat disaksikan melalui
judul anatra lain Le vase rose du salon, Le interaksi keseharian mereka dan respons
nez de tonton Eugène, La montre. Mereka masing-masing anak berdasarkan
menceritakan dengan jelas kehidupan sosial pengalaman di mana mereka tumbuh dan
seorang anak. Interaksi tokoh dengan berkembang. Pada umumnya, pertumbuhan
lingkungan yang berbeda-beda digambarkan seorang anak berawal dari interaksi di
melalui campuran humor, kegembiraan, dan lingkungan keluarga, masa transisi antara
kelembutan kanak-kanak; juga digambarkan usia dini dan perkembangan belajar di
interaksi anak dengan orang dewasa serta sekolah, serta berlanjut dengan interaksi
bagaimana seorang anak merespon sesuatu pertemanan dan lingkungan masyarakat
berdasarkan sudut pandangnya sendiri, secara umum.
sehingga kadang menimbulkan Proses pembelajaran seorang anak
kesalahpahaman dengan orang dewasa. pada masa transisi yaitu pra sekolah dan usia
Maksud hati meniru figur yang dikagumi, kelas awal Sekolah Dasar memberikan
namun ternyata dipahami berbeda oleh pengalaman kepada Nicolas tentang arti
45 | JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 7, Nomor 1, Juni 2019 E-ISSN: 2621-5101 P-ISSN: 2354-7294

kehidupan. Pengalaman Nicolas, Dalam cerita, pengembang peristiwa


menggambarkan proses pendidikan seorang dapat muncul sebagai manusia atau makhluk
anak dalam membentuk keterampilan dasar, lain seperti binatang, benda atau suatu
seperti membaca, menulis dan berhitung. entitas. Tokoh cerita menurut Schmit dan
Sedangkan perkembangan interpretasi anak, Viala (1982) dalam buku yang berjudul
diperoleh dari pengalaman mengetahui Savoir Lire adalah:
adanya peraturan yang diterapkan baik di
sekolah maupun di rumah, belajar mematuhi “Les participants de l’action sont
peraturan dan tata cara keluarga. Konsep ordinairement les personnager du récit. Il
diri anak juga sangat dipengaruhi oleh s’agit très souvent d’humains; mais une
peranan orangtua dan lingkungan. Peranan chose, un animal ou une entilé (la justice, la
orangtua dan lingkungan keluarga memiliki Mort, etc.) peuvent être personifies et
pengaruh besar terhadap tokoh anak untuk considérés alors comme des personages.”
tumbuh berkembang dan belajar tentang (1982:69)
lingkungan sosial.
Dengan alasan sebagaimana [Semua yang berpartisipasi dalam suatu
dikemukakan tadi, artikel ini bermaksud tindakan biasanya adalah tokoh cerita.
membuktikan bahwa cerita dalam cerpen Sering kali berupa manusia, sebuah benda,
Les Récrés du Petit Nicolas bisa seekor hewan atau suatu yang abstrak
memberikan kontribusi terhadap realita (keadilan, kematian, dst.) yang
sosial dewasa ini. Terutama tentang dipersonifikasikan dan kemudian
pengalaman tumbuh kembang seorang anak, diperlakukan sebagai pelaku cerita].
proses pendidikan anak usia dini dan Oleh karena itu secara singkat dapat
pengaruh lingkungan terhadap dikatakan bahwa, pengembang peristiwa
perkembangan dan pendidikan anak. Untuk adalah semua mahluk berwujud dan entitas
itu, penulis memberi judul artikel ini tidak berwujud yang ditampilkan dalam
“Pendidikan Anak dalam Les Récrés du sebuah cerita yang mendukung jalan cerita
Petit Nicolas karya René Goscinny dan atau alur cerita.
Jean-Jacques Sempé”.
Penokohan
LANDASAN TEORI
Setiap tokoh memiliki watak atau
Pengembang Peristiwa dalam Cerita karakter yang berbeda-beda. Gambaran
setiap tokoh dimulai dari watak, sikap, sifat
Pelaku yang mengembangkan dan kondisi fisik. Gambaran tokoh dalam
peristiwa dalam cerita disebut tokoh cerita. cerita disebut penokohan. Ada banyak
Tokoh adalah seseorang yang diciptakan ragam penokohan, seperti penokohan statis
pengarang untuk mendukung jalan cerita dan atau penokohan tidak berkembang dan
dapat diidentifikasi dari cara berfikir, penokohan berkembang. Pemberian nama
berpenampilan, nama serta penilaian tokoh merupakan penokohan yang paling
lain terhadap dirinya. Karena itu, menurut sederhana. Panggilan atau “sebutan” tehadap
Wellek dan Warren (2014:265) kemunculan seorang tokoh merupakan cara seorang
seorang tokoh cerita, hamper selalu ditandai pengarang memberi kepribadian yang
dengan tingkah laku, gerak-gerik, dan gaya menghidupkan cerita. Suatu cara ekonomis
bicara tersendiri untuk menandainya.
46 | JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 7, Nomor 1, Juni 2019 E-ISSN: 2621-5101 P-ISSN: 2354-7294

untuk mencirikan watak tokoh (Wellek dan • Sosiologis atau social adalah yang
Warren, 2014 :264-265). berkaitan dengan kehidupan masyarakat,
Sedangkan, menurut Schmit dan seperti strata sosial, jenis pekerjaan,
Viala (1982) penokohan adalah kumpulan tingkat pendidikan, perbedaan pandangan
ciri-ciri fisik, moral dan sosial yang hidup, suku bangsa, dan berbagai
merupakan kombinasi dari être (siapa dia) aktivitas social lain.
dan faire (apa yang dilakukan), sebagaimana • Fisiologis atau fisik berkaitan dengan
dijelaskan kutipan di bawah ini: tubuh, misalnya jender, umur, kondisi
tubuh, raut wajah, dan lain sebagainya.
“Un personage est toujours une collection
de traits: physique, moraux, sociaux. La
combinaison de ces traits et la manière de Ruang, Waktu, dan Suasana dalam
les presenter, constituent le protait du Cerita
personages. Le portrait relève de la
Keterangan mengenai ruang, waktu serta
description, mais il peut intégrer des
suasana terjadinya peristiwa di dalam suatu
elements proprements narratives.” (Schmit
cerita disebut dengan latar. Latar adalah
dan Viala, 1982:70)
unsur intrinsik yang dibangun dalam karya
sastra yang meliputi ruang, waktu serta
(Seorang tokoh merupakan kumpulan dari
suasana yang memperjelas alur cerita. Jenis
sifat-sifat: fisik, moral, dan sosial.
atau macamnya adalah sebagai berikut :
Penggabungan dari sifat-sifat tersebut dan
• Latar waktu menjelaskan kapan peristiwa
cara menampilkannya merupakan gambaran
yang diceritakan dalam cerita terjadi,
tokoh. Gambaran tersebut dapat
misalnya: pagi, siang, sore, malam , di
membangun deskripsi, dapat juga
zaman dulu, di masa depan, dan lain
menyatukan unsur-unsur naratif itu sendiri).
sebagainya.
• Latar tempat menjelaskan tempat di mana
Definisi tersebut di atas dapat
tokoh atau pelaku mengalami kejadian
dirangkum dalam suatu pengertian yang
atau peristiwa yang diceritakan di dalam
memandang bahwa penokohan sebagai cara
cerita, misalnya di dalam bangunan tua,
menampilkan tokoh yang terlibat dalam
di sebuah gedung, di lautan, di hutan, di
cerita dan watak-wataknya. Dengan kata lain
sekolah, di dalam pesawat, di ruang
penokohan adalah cara pandang seorang
angkasa, dan lain sebagainya.
pengarang dalam menampilkan tokoh-tokoh
• Latar suasana menjelaskan situasi yang
dari suatu cerita berdasarkan nilai seni dan
dialami tokoh atau pelaku dalam suatu
kreatifitasnya.
peristiwa. Namun dapat juga terjadi, latar
Gambaran karakter dapat pula
suasana dijelaskan atau diceritakan oleh
disebut dengan perwatakan. Perwatakan atau
narrator untuk memperjelas cerita.
characterization dapat dianalisis
Dapat disimpulkan bahwa analisis
berdasarkan dimensi:
unsur intrinsik karya sastra merupakan
• Psikologis atau psikis, yaitu berkaitan
gambaran cerita secara utuh berdasarkan
dengan kejiwaan, ukuran moralitas,
tampilan tokoh, penokohan, latar cerita
kecerdasan, penguasaan diri dan perasaan
tanpa melihat unsur luar dari cerita yang
pribadi, serta bakat atau keahlian khusus
dimaksud.
yang dimiliki.
47 | JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 7, Nomor 1, Juni 2019 E-ISSN: 2621-5101 P-ISSN: 2354-7294

pertumbuhan dan perkembangan anak secara


individu. Untuk itu situasi dan lingkungan
Konsep Pendidikan Usia Dini pertumbuhan anak perlu diperkaya, terutama
lingkungan bermain anak (Desmita, 2008).
Manusia sebagai mahluk individu sejak
Beberapa ahli pendidikan anak
awal kelahirannya telah dibekali potensi diri
mengatakan bahwa periode masa keemasan
berupa bakat dan kemampuan membangun
ini, merupakan fase peletak dasar untuk
pengetahuannya sendiri. Itulah sebabnya
pengembangan kemampuan anak. Sudono
seorang anak yang berusia dini sekalipun
(2017:2) dalam studinya menemukan bahwa
siap ditumbuh kembangkan potensi yang
anak usia dini dan usia awal Sekolah Dasar
dimiliki. Dengan harapan, lingkungan di
tumbuh dan berkembang melalui proses
mana ia tumbuh siap dengan situasi dan
yang unik. Keunikannya dapat disaksikan
kondisi yang dapat merangsang munculnya
melalui interaksi dan respons keseharian dari
potensi yang tersembunyi tersebut (Desmita,
masing-masing anak berdasarkan
2008). Anak yang berusia 0 sampai 8 tahun
pengalaman. Sudono (2017) menambahkan
berada pada masa keemasan sepanjang
bahwa, kecepatan berkembang seorang anak
proses perkembangan manusia. Masa ini
tidak sama satu dengan lainnya. Hal ini
disebut juga dengan istilah ‘masa
dipengaruhi stimulus pendidikan yang
keemasan’ (the golden age) yang muncul
diberikan kepadanya di masa pertumbuhan
sekali dalam kehidupan manusia dan tidak
fisik yang pesat dan masa di mana
dapat diulangi. Tingkat pertumbuhan dan
kelenturan otaknya mudah menerima
perkembangan selama kategori usia ini
rangsangan. Namun demikian, pemberian
dibagi menjadi empat fase, yaitu 1) masa
stimulasi pendidikan yang sesuai dengan
bayi, sejak lahir sampai dengan usia satu
karakteristik perkembangan anak, akan
tahun; 2) masa Batita (Toddler) usia satu
menjadikan berbagai aspek berkembang
sampai tiga tahun; 3) masa Pra Sekolah
anak menjadi maksimal. Sementara Mutiah
(early childhood) di usia tiga sampai enam
(2010:113) mengatakan bahwa salah satu hal
tahun; dan 4) masa kelas awal SD, usia
penting dalam perkembangan anak yaitu
enam sampai delapan tahun. Menurut para
proses belajar. Belajar melalui bermain
ahli, keempat fase inilah yang sering disebut
dapat dilakukan dengan seluruh panca
masa keemasan, di mana pada masa ini perlu
indra. Dengan melibatkan berbagai macam
diperhatikan pengembangan potensi diri,
alat indra, kekuatan motorik halus dan kasar
termasuk pembentukan karakter dan
dapat dilatih, di samping juga melatih
kepribadian anak (Sudono, 2017). Masa
kemampuan berpikir, mengingat, dan
keemasan ini juga disebut periode sensitif,
memproses segala informasi yang
dimana anak mulai peka dan mudah
diperolehnya dari lingkungan. Bermain
menerima berbagai rangsangan serta
identik dengan dunia anak-anak. Bagi anak,
merespon stimulasi yang diterimanya.
bermain adalah hidup dan hidup adalah
Dalam periode ini terjadi perkembangan
bermain, sehingga sulit membedakan kapan
pendewasaan baik fisik maupun psikis,
anak-anak bermain, kapan belajar dan kapan
sehingga anak siap merespon balik dalam
mereka bekerja. Mutiah menambahkan
wujud perilakunya. Pada fase ini kepekaan
bahwa melalui bermain, anak juga akan
masing-masing anak berbeda, yang
mengembangkan berbagai aspek kecerdasan
dipengaruhi oleh situasi dan lingkungan
48 | JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 7, Nomor 1, Juni 2019 E-ISSN: 2621-5101 P-ISSN: 2354-7294

secara bersamaan dan belajar melalui orang tua, sehingga sudah merupakan
permainan dapat mengoptimalkan hasilnya. kewajiban bagi para orangtua membangun
Dari penjelasan di atas, secara pondasi yang kokoh untuk keberhasilan
singkat dapat dikatakan bahwa pendidikan masa depan anaknya. Untuk itu orangtua
anak lebih menekankan pada proses simulasi diharapkan menciptakan lingkungan yang
yang benar yang mereka dapatkan dalam kondusif, memahami perkembangan dan
kesehariannya mulai dari rumah, sekolah kebutuhan akan pengembangan potensi diri
sampai pada lingkungan sekitarnya. Strategi anak. Hal ini dapat memancing potensi
pemberian stimulasi dalam pendidikan anak, kecerdasan dan rasa percaya diri anak.
seharusnya berorientasi pada belajar sambil Desmita (2008) menjelaskan peranan
bermain. Melalui bermain, anak dikenalkan orangtua dalam keluarga sangat penting
dengan diri dan lingkungannya, bahkan juga dalam membimbing dan mendampingi anak
dengan Tuhannya melalui ciptaan- di kehidupan sehari-hari, sehingga anak
ciptaannya. Sejalan dengan pendapat Mutiah mampu mengenali kekuatan dan kelemahan
(2010) bahwa bermain merupakan sarana yang ada pada dirinya dan pada akhirnya
berinteraksi dan belajar yang memberi mereka dapat mengembangkan potensi
peluang kepada anak untuk bereksplorasi, sesuai bakat dan minatnya. Sementara Euis
berekspresi, berkreasi secara menyenangkan, (2004:18) mengatakan “Pola asuh
di samping juga belajar mengidentifikasi merupakan serangkaian interaksi yang
aturan-aturan, norma-norma, larangan yang intensif, orangtua mengarahkan anak untuk
berlaku dalam suatu kelompok masyarakat. memiliki kecakapan hidup”. Singkat kata,
pendidikan dalam keluarga merupakan
Pendidikan dalam Keluarga interaksi antara orangtua dan anak dalam
penanaman nilai, norma, dan aturan yang
Ayah dan Ibu adalah “pendidik pertama,
berlaku di masyarakat, serta pengembangan
utama dan kodrat” (Suwarno, 1982: 90).
minat dan bakat yang dimiliki anak. Pola
Tugas utama mencerdaskan anak sebagai
asuh orangtua adalah proses interaksi
pondasi awal tetaplah ada pada pendidikan
orangtua dengan anak dimana orangtua
dalam keluarga yang dalam hal ini ada pada
mencerminkan sikap dan perilakunya dalam
orangtua, meskipun anak mereka telah
menuntun dan mengarahkan perkembangan
bersekolah. Peran mendidik dan mengasuh
anak serta menjadi teladan dalam
anak sangatlah penting sebab pendidikan
menanamkan perilaku.
anak dimulai dari pendidikan orangtua di
Baumrind (2008) dan Santrock
rumah. Pada tahap awal pertumbuhannya,
(2002: 257-258) menjelaskan bahwa secara
pelayanan orangtua kepada anaknya, dapat
umum orangtua menerapkan empat macam
dipandang sebagai proses mendidik.
pola asuh atau parenting style dan yang
Agnes, dkk (2007) menyampaikan
dimaksudkan adalah sebagai berikut:
bahwa orangtua memiliki andil besar untuk
Authoritarian parenting adalah pola
kebaikan masa depan anak mereka, karena
asuh yang bersifat mengatur, mengekang
berkaitan dengan interaksi keseharian
dan menghukum. Orangtua tipe ini
mereka dalam mengembangkan potensi diri
memerintahkan anak untuk mengikuti
anak. Proses tumbuh kembang dan
petunjuknya, patuh dan tunduk terhadap
penanaman aqidah sebagai peletak dasar
semua perintah dan arahannya, serta cara
sikap dan perilaku anak berada di tangan
berpikir anak juga diatur. Orangtua
49 | JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 7, Nomor 1, Juni 2019 E-ISSN: 2621-5101 P-ISSN: 2354-7294

mengendalikan penuh segala aspek orangtua dalam mengasuh anaknya. Ketiga


kehidupan anaknya. Pola asuh ini, tidak cara tersebut adalah sebagai berikut:
mengizinkan anak banyak cakap/bicara dan Pertama, Pola Asuh Otoriter, pola
tidak ada kebebasan untuk bertanya atau asuh ini ditandai dengan adanya aturan yang
mengemukakan pendapat, sehingga kaku dibuat orangtua. Kebebasan anak
interaksi yang terjadi hanya bersifat satu sangat dibatasi oleh aturan ini, karena
arah dan sedikit sekali komunikasi secara orangtua menginginkan anak berperilaku
verbal. seperti yang diinginkannya. Bila aturan-
Authoritative parenting adalah pola aturan ini dilanggar, orangtua akan
asuh yang mendorong seorang anak untuk menghukum anak, dengan hukuman yang
menjadi mandiri namun tetap diberi batasan bersifat fisik.
dan kendali yang bertujuan untuk Kedua, Pola Asuh Demokratis,
mengontrol tindakannya. Menyampaikan ditandai dengan adanya sikap terbuka dari
pendapat diperbolehkan, karena orangtua orangtua dan anak. Aturan dibuat dan
bersikap membimbing dan mendukung. Pola disetujui bersama. Anak diberi kebebasan
asuh seperti ini, orangtua mengasuh anaknya untuk mengemukakan pendapat, perasaan,
dengan penuh kehangatan dan biasanya dan keinginannya dan belajar untuk dapat
merangkul anaknya dengan suara yang menanggapi pendapat orang lain.
lembut. Ketiga, Pola Asuh Permisif, memberi
Neglectful parenting atau pola asuh kebebasan kepada anak untuk berperilaku
yang acuh tak acuh di mana pola asuh ini sesuai dengan keinginannya sendiri.
mengabaikan keterlibatan aktif orangtua Orangtua tidak pernah membuat aturan dan
dalam kehidupan anaknya. Anak dari arahan kepada anak. Semua keputusan
orangtua dengan gaya asuh seperti ini, diserahkan kepada anak tanpa adanya
merasa bahwa kehidupan orangtua berbeda pertimbangan orangtua.
dibandingkan dengan kehidupan mereka Uraian di atas menegaskan kesamaan
(anak muda), karena itu keterlibatan pola asuh, misalnya Authoritarian parenting
orangtua lebih dalam pada masalah mereka dan otoriter menekankan pada sikap
tidak terlalu diperlukan. Mereka lebih suka berkuasa, disiplin dan kepatuhan yang
mencari solusi dari sesama mereka (anak berlebihan. Sementara Authoritative
muda). parenting dan Demokratis menekankan
Indulgent parenting adalah pola asuh sikap keterbukaan dan kasih sayang
yang melibatkan orangtua dalam kehidupan orangtua terhadap anaknya. Sedangkan
anaknya, akan tetapi keterlibatan ini tidak Neglectful parenting, Indulgent parenting
banyak memberi batasan atau kekangan dan permisif yaitu orangtua cenderung
pada anak. Orangtua membiarkan anaknya membiarkan atau tidak terlibat dalam urusan
untuk melakukan apa saja yang anak anak, acuh tak acuh, memperbolehkan anak
inginkan. Mereka membiarkan anak mencari melakukan apa yang diinginkan dan
cara sendiri untuk mencapai tujuannya. orangtua menuruti segala kemauan anak.
Orangtua tipe ini tidak memperhitungkan Hal ini sejalan dengan konsep pola asuh
seluruh aspek perkembangan anak. menurut Santrock (2004).
Sementara Yatim dan Irwanto Dampak dari ketiga pola asuh ini
(dalam Agustiawati 2014: 4-5) menjelaskan akan terlihat pada anak. Pola asuh otoriter
bahwa ada tiga cara yang digunakan dapat membentuk anak menjadi pendiam,
50 | JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 7, Nomor 1, Juni 2019 E-ISSN: 2621-5101 P-ISSN: 2354-7294

tertutup, sulit bersosialisasi, dan cenderung diinginkan, maka perlakukan orangtua agak
menarik diri dari kehidupan sosial. Anak kasar dan bahkan memusuhi anaknya.
menjadi penakut, mudah tersinggung, Kematangan pengalaman sebagai orangtua
pemurung, dan mudah stress. Pola asuh tipe juga dapat membuatnya lebih mengerti dan
ini juga membuat anak kurang memiliki memahami kebutuhan anak. Selain itu juga
inisiatif untuk melakukan sesuatu dan karakteristik dari anak itu sendiri. Anak lahir
mudah dipengaruhi dan tidak memiliki dengan bawaan atau genetik dari
pendirian yang kuat. Anak juga bisa orangtuanya, dan kemudian melekat pada
memiliki sikap suka menentang, diri anak tersebut yang menyebabkan
memberontak, dan tidak mau mematuhi kebutuhannya berbeda dengan anak yang
peraturan. lain.
Pola asuh demokratis akan Selain faktor-faktor di atas yang
berdampak pada anak yang akan tumbuh mempengaruhi dampak pola asuh orangtua,
menjadi pribadi yang bersahabat. Anak Hurlock (dalam Sakti 2017:15) juga
termotivasi untuk berprestasi dan menambahkan bahwa dalam konsep
mempunyai keterampilan komunikasi yang mendidik dan mengasuh anak khususnya di
baik, percaya diri, bertanggungjawab, dalam lingkungan keluarga, metode
kooperatif dan mampu mengontrol diri pemberian pola asuh yang tepat juga sangat
dengan perilaku yang sesuai kesepakatan menentukan keberhasilan mendidik anak.
masyarakat. Menurut Baumrind (2008), tipe Orangtua perlu menggunakan metode yang
pola asuh ini juga membuat anak cenderung tepat sesuai dengan tingkat perkembangan
memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan anak. Metode yang dimaksud adalah sebagai
termotivasi untuk berprestasi. berikut:
Sementara pola asuh permisif Metode Pembiasaan, adalah
mengakibatkan anak bebas bertindak sesuka kebiasaan yang diberikan orangtua kepada
hati, agresif, sukar beradaptasi, emosi labil anak, baik atau buruk akan membekas pada
dan juga mempunyai sifat selalu curiga. diri anak dan ucapan-ucapan yang sesuai
Kehangatan dalam pola asuh tipe ini akan membentuk diri anak. Misalnya, orang
cenderung membuat anak menjadi manja tua yang sering meminta maaf kepada
karena terlalu disayang, kurang komitmen anaknya jika melakukan kesalahan, maka
pribadi untuk menjadi anak yang disiplin anakpun akan mengikuti dan melakukan hal
dan bertanggungjawab. yang sama jika mereka merasa bersalah.
Sementara menurut Hurlock (2008) Ucapan-ucapan yang sering diucapkan
ada beberapa faktor yang mempengaruhi orangtua akan membentuk ciri seorang anak
pola asuh yang diterapkan orangtua kepada dan perbuatan yang sering diulang-ulang
anaknya antara lain, pengalaman orangtua di sudah pasti akan menjadi kebiasaan.
masa kecil yakni perlakukan yang diterima Metode keteladanan, adalah cara
di masa lalu dari orangtuanya. Peristiwa memberi keteladanan yang dapat ditiru atau
yang mengikuti kelahiran anak juga akan dicontoh. Menurut Santrock (dalam Sakti
berpengaruh terhadap pola asuh 2017: 15) keteladanan adalah metode terbaik
orangtuanya. Misalnya jika anak itu lahir dalam mendidik. Khusus pada pendidikan
atas kemauan orangtua, maka mereka usia dini, keteladanan yang paling baik
mendapatkan kehangatan dari orangtuanya, adalah dari orangtua. Ayah yang memberi
sebaliknya jika kelahiran yang tidak contoh ketaudalan kepada istri dan anak-
51 | JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 7, Nomor 1, Juni 2019 E-ISSN: 2621-5101 P-ISSN: 2354-7294

anak, ibu memberikan dorongan dan digunakan di lingkungan masyarakat luas.


dukungan yang baik kepada suami, sehingga Dengan demikian, tanggungjawab orangtua
anak-anak meneladani apa yang dicontohkan selama anak di sekolah diambil alih oleh
orangtua. sekolah, dalam hal ini guru (Ratna, Y. &
Metode nasehat atau dialog, Haryanto, D. 2011).
merupakan metode yang paling efektif Guru menjadi kata kunci
dalam menanamkan sikap dan nilai moral keberhasilan anak di sekolah, sebab peran
kepada anak. Nasehat sangat berperan guru sangat diperlukan dalam menyukseskan
memberikan penjelasan tentang baik tugas sekolah yaitu menyediakan
buruknya sesuatu dan membimbing anak di pengetahuan, keterampilan dan pengalaman.
dalam melakukan hal-hal yang baik. Guru juga dituntut untuk memperhatikan
Metode pemberian penghargaan dan anak secara individu, karena antara satu
hukuman, adalah cara di mana orangtua anak dengan anak yang lain memiliki
menanamkan nilai-nilai moral, sikap dan perbedaan yang sangat mendasar (Ratna, Y.
perilaku anak melalui pemberian & Haryanto, D. 2011).
penghargaan dan hukuman. Metode ini juga Jika mengingat kembali pengalaman
secara tidak langsung menanamkan etika ketika masih duduk di kelas I SD, guru kita
untuk menghargai orang lain. Sebaliknya, lah yang pertama kali membantu memegang
jika anak tidak patuh dan melanggar aturan pensil untuk menulis, bahkan memegang
yang ada, maka mereka perlu diberikan satu persatu tangan siswanya dan membantu
teguran dan sanksi yang sesuai dengan menulis secara benar. Guru pula yang
tingkat usia mereka. memberi dorongan agar siswa berani berkata
Penjelasan ini menekankan pada benar dan membiasakan anak untuk
interaksi antara anak dan orangtua di dalam bertanggungjawab terhadap setiap
keluarga. Untuk itu, orangtua harus perbuatannya. Guru juga bertindak sebagai
menyadari dan menerapkan pola asuh yang penolong ketika ada siswa yang butuh ke
paling cocok dan sesuai yang mereka toilet, atau sakit di kelas, bahkan ketika ada
rasakan dapat diterapkan dalam mengasuh masalah yang lebih rumit. Guru lah yang
dan mendidik anak-anaknya, agar menggendong ketika ada yang jatuh atau
berdampak positif terhadap sikap, dan berkelahi dengan temannya, menjadi
perilaku anak mereka. Pola parenting yang perawat, dan banyak peran lain yang sangat
diterapkan di dalam rumah seharusnya menuntut kesabaran, kreatifitas dan
mengacuh pada pola asuh yang dapat profesionalisme. Dapat dikatakan bahwa
mencerdaskan anak. guru menjadi pengganti orangtua di
sekolah.
Pendidikan di Sekolah Sekolah dan rumah merupakan
tempat di mana anak mendapatkan
Sekolah berperan penting dalam
pendidikan. Pendidikan di sekolah
meneruskan pendidikan awal yang diperoleh
merupakan pendidikan formal yang dilalui
anak di lingkungan keluarga. Pada
oleh seorang anak setelah mendapat
umumnya sekolah merupakan tempat
pendidikan secara informal dari orangtua di
dimana anak memperoleh pengalaman,
rumah. Sekolah menjadi tempat anak
pengetahuan, keterampilan hingga akhirnya
memperoleh pengalaman, pengetahuan,
anak memperoleh bekal hidup yang kelak
keterampilan melalui proses belajar secara
52 | JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 7, Nomor 1, Juni 2019 E-ISSN: 2621-5101 P-ISSN: 2354-7294

formal. Sekolah juga menjadi sarana dalam pengetahuan yang sudah ada. Kedua,
berinteraksi dan bersosialisasi antara peserta akomodasi, yaitu proses menyesuaikan diri
didik dan guru. Sementara proses belajar dan skema pengetahuan pada
mengajar yang terjadi adalah sumbangsih lingkungannya. Piaget menambahkan bahwa
dari guru yang memberikan bekal kepada saat bermain, anak tidak belajar sesuatu
anak didik untuk kehidupan masa depan yang baru, tetapi mereka belajar
anak. mempraktikkan dan menyesuaikan
keterampilan yang baru diperoleh. Meskipun
Teori Kognitif dari Jean Piaget bermain bukan penentu utama untuk
perkembangan kognisi, akan tetapi bermain
Jean Piaget mengemukakan secara terperinci
memberi sumbangan yang sangat penting di
mengenai perkembangan intelektual anak
dalam pengembangan kecerdasan sosial
dan berpendapat bahwa anak menciptakan
anak (Mutiah, 2010: 102-103). Piaget (1974)
sendiri pengetahuan mereka tentang
dalam Mutiah (2010) menambahkan jenis –
dunianya melalui interaksi mereka, berlatih
jenis pengetahuan yang diperoleh anak
menggunakan informasi yang sudah mereka
dalam masa pertumbuhan dan
dengar sebelumnya dengan menggabungkan
perkembangannya. Jenis-jenis pengetahuan
informasi baru dengan keterampilan yang
tersebut meliputi: (1) pengetahuan tentang
sudah dikenal, mereka juga menguji
alam dan dunia sekitarnya; (2) pengetahuan
pengalamannya dengan gagasan-gagasan
yang berkaitan dengan logika matematika;
baru (Mutiah, 2010: 48-50).
dan (3) pengetahuan sosial. Hal ini
Menurut Piaget (1974) dalam Mutiah
dikembangkan lebih lanjut oleh Mutiah
(2010), anak menjalani tahapan
(2010:25) dengan menggarisbawahi
perkembangan kognisi sampai akhirnya
beberapa ide pokok tentang perkembangan
proses berpikir anak menyamai proses
kognitif anak dari Piaget, sebagai berikut:
berpikir orang dewasa. Sejalan dengan
a. Anak adalah pembelajar yang aktif. Anak
tahapan perkembangan kognisinya, kegiatan
adalah partisipan aktif dalam
bermain mengalami perubahan dari tahap
pembelajaran mereka sendiri, dan banyak
sensor motorik, bermain khayal sampai
yang dipelajari berasal dari aktivitas
kepada bermain sosial yang disertai aturan
keseharian mereka.
permainan. Dalam teori Piaget, bermain
b. Anak mengorganisasi apa yang mereka
bukan saja mencerminkan sikap
pelajari dari pengalaman mereka.
perkembangan motorik anak, tetapi juga
c. Anak menyesuaikan lingkungan mereka
memberikan sumbangan terhadap
melalui proses asimilasi dan akomodasi.
perkembangan kognisi itu sendiri (Mutiah,
d. Anak kritis berinteraksi dengan
2010: 48-50).
lingkungan yang dapat mengembangkan
Mutiah (2010) menjelaskan
kemampuan kognitif mereka.
argumentasi Piaget bahwa dalam proses
e. Anak kritis berinteraksi dengan orang
belajar, anak akan menghadapi dua proses
lain.
perkembangan kognitif. Untuk itu perlu
f. Anak-anak berpikir sesuai dengan
adaptasi dan adaptasi membutuhkan
tingkatan umurnya.
keseimbangan antara dua proses tersebut
yang saling menunjang. Pertama, asimilasi,
Teori Kognitif Piaget ini dibangun
yaitu proses memasukkan pengetahuan baru
berdasarkan kombinasi sudut pandang
53 | JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 7, Nomor 1, Juni 2019 E-ISSN: 2621-5101 P-ISSN: 2354-7294

psikologi yaitu aliran struktural dan aliran kebutuhan makanan, minuman, pakaian,
konstruktif. Psikologi struktural yang rekreasi maupun kebutuhan pendidikan
mewarnai teori Piaget dapat dikaji dari anak. Sebagai pondasi awal kematangan
pandangannya tentang inteligensi yang seorang anak pada usia dini atau usia pra-
berkembang melalui perkembangan kualitas sekolah dan usia sekolah, tetap berada pada
struktur kongnitif. Sedangkan aliran pendidikan dalam keluarga, dalam hal ini
konstruktif yang menyatakan bahwa anak pendidikan dan pola asuh dari orangtua.
membangun kemampuan kongnitifnya Fase pertama pertumbuhan seorang
melalui interaksi dengan dunia sekitarnya anak sangat tergantung pada didikan atau
(Ratna, Y. dan Haryanto, D. 2011). pola asuh dari orangtuanya. Untuk itu dapat
Piaget dikenal dengan teorinya yang dikatakan bahwa keluarga adalah
menggarisbawahi bahwa perkembangan lingkungan pertama dan utama menjadi
kognitif anak mempunyai empat aspek yang penentu proses perkembangan seorang anak
perlu dipahamai oleh orangtua dan guru yang pada hakikatnya merupakan suatu
yakni kematangan, sebagai hasil proses pendidikan non-formal.
perkembangan susunan syaraf. Pengalaman, Data di bawah menggambarkan salah
yaitu hubungan timbal balik antara satu bentuk interaksi anak dan orangtua di
organisme dengan dunianya. Interaksi sosial, dalam lingkungan keluarga. Nicolas bermain
yaitu pengaruh yang diperoleh dalam bola dalam rumah dan tidak sengaja
hubungannya dengan lingkungan sosial. memecahkan vas bunga di ruang tamu :
Ekulibrasi, yaitu adanya kemampuan atau
sistem mengatur dalam diri organisme agar Nicolas ! m’a dit Maman, tu sais qu’il est
dia selalu mempertahankan keseimbangan defendu de jouer à la balle dans la maison !
dan menyesuaikan diri terhadap Regarde ce que tu as fait : tu as cassé le
lingkungannya (Ratna, Y. dan Haryanto, D. vase rose du salon ! Ton père tenait
2011). beaucoup, à ce vase. Quand il viendra, tu lui
avoueras ce que tu as fait, il te punira et ce
PEMBAHASAN sera une bonne leçon pour toi! ( Le vase
rose du salon : 43)
Adapun metode analisis yang
digunakan mendasarkan pada urutan
[Nicolas ! Ibu berkata kepadaku, kamu tahu
kronologi kehidupan tumbuh kembang
kamu dilarang bermain bola dalam rumah!
seorang anak hingga masuk usia sekolah.
lihat apa yang kamu lakukan: kamu
Gambaran tentang interaksi dan pengaruh
memecahkan vas merah muda di ruang
lingkungan serta dampak pendidikan dan
tamu! Ayah kamu sangat menyukai vas itu.
pola asuh yang diterima Nicolas. Analisis
Ketika dia tiba, kamu harus menjelaskan apa
ini diawali dengan interaksi antara orangtua
yang telah kamu lakukan, dia akan
dan anak di dalam keluarga dan pola asuh
menghukummu dan memberikan pelajaran
atau pendidikan non-formal yang diterapkan
yang baik untukmu!]
orangtua Nicolas.

Pola Asuh Nicolas di Rumah Data di atas menjelaskan bahwa latar


tempat ini terjadi di rumah Nicolas. Nicolas
Di rumah, orangtua sedang bermain bola di dalam rumah dan
bertanggungjawab terhadap pemenuhan ibunya mengingatkan bahwa bermain bola
54 | JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 7, Nomor 1, Juni 2019 E-ISSN: 2621-5101 P-ISSN: 2354-7294

harusnya tidak di dalam rumah, sebab seorang anak melakukan hal-hal yang
bermain bola merupakan permainan di luar positif, merupakan salah satu metode pola
ruangan atau di ruang terbuka. Nicolas tidak asuh yang masih menjadi pro-kontra.
menghiraukan nasehat ibunya, dan terjadilah Kelompok yang setuju dengan ide
hal yang tidak diinginkan bola mengenai vas tersebut, menganggap bahwa pemberian
bunga yang ada di ruang tamu, terjatuh dan hukuman atau sanksi kepada anak adalah
pecah. Data di atas juga menunjukkan merupakan pembelajaran yang benar. Sesuai
bahwa Ibu Nicolas merupakan sosok dengan konsep Gunarsa (2004) bahwa
orangtua yang mempraktekkan pola asuh aturan sudah dikenalkan kepada anak sejak
Authoritative parenting yaitu pengasuhan dini, di samping penerapan disiplin juga
yang berwibawa, dimana orangtua dengan sudah dijalankan. Karena itu pemberian
otoritas yang ada padanya mengarahkan hukuman kepada anak yang bersalah bukan
anak untuk menjadi independen tetapi hal yang fatal, tetapi menjadikan
dengan masih membatasi dan mengontrol pembelajaran yang benar di dalam
tindakan mereka. Pola asuh semacam ini menerapkan disiplin. Begitu pula
memberikan kesempatan kepada anak untuk sebaliknya, jika anak melaksanakan sesuatu
bertukar pikiran, di mana tipe orangtua yang benar dan berprestasi, maka pemberian
seperti ini biasanya bersikap membimbing reward atau penghargaan juga seharusnya
dan mendukung, meskipun masih membatasi dilakukan, sehingga ada keseimbangan.
dan mengontrol tindakan anak mereka. Selain itu, anak termotivasi untuk
Sejalan dengan pendapat Gunarsa (2004:34) melakukan hal-hal yang positif sebab
bahwa anak usia dini sebaiknya diajarkan mereka mendapatkan penghargaan
untuk mengenal aturan-aturan yang harus (Gunarsa, 2004).
diikuti. Untuk itu dikatakan bahwa,
komunikasi terbuka dan penerapan disiplin Pola Pendidikan Nicolas di Sekolah
di dalam keluarga dapat memudahkan anak
Sekolah adalah lembaga pendidikan
bergaul di masyarakat kelak. Gambaran
formal untuk seseorang menuntut ilmu.
yang ada dalam kutipan tersebut adalah ibu
Ratna, Y. & Haryanto, D. (2011)
Nicolas ingin mengajarkan aturan-aturan
mengatakan bahwa sekolah mengambil alih
yang harus dipahami oleh Nicolas. Ibunya
tanggungjawab orangtua dalam memberikan
juga ingin mengajarkan tentang keberanian
pengetahuan, ketrampilan, dan pengalaman
untuk mengakui kesalahan Nicolas di depan
kepada anak selama berada di sekolah. Oleh
ayahnya.
karena itu, dapat dikatakan bahwa sekolah
Data ini juga memperlihatkan pola
merupakan pendidikan kedua setelah
asuh dengan metode pemberian penghargaan
keluarga.
dan hukuman kepada anak yang bertujuan
Di sekolah, anak sebagai peserta
untuk mengajarkan sikap dan perilaku anak,
didik menghabiskan banyak waktu untuk
agar bisa memahami dan mengikuti aturan-
berinteraksi dengan sesama anggota
aturan yang berlaku. Metode ini juga
komunitas tersebut. Bagi anak, sekolah
sekaligus menanamkan etika untuk
merupakan tempat menyalurkan rasa ingin
menghargai orang lain. Interaksi antara
tahunya mengenai apa yang terjadi di
anak dan orangtua dalam hal pemberian
sekelilingnya dan kemampuannya untuk
sanksi atau hukuman jika melakukan
berorganisasi serta membuat rencana yang
kesalahan dan reward akan diberikan jika
55 | JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 7, Nomor 1, Juni 2019 E-ISSN: 2621-5101 P-ISSN: 2354-7294

bagus. Di sekolah juga anak berinteraksi dan Interaksi yang terjadi antara Nicolas
bersosialisasi antara peserta didik, guru dan dan pengawas sekolah menggambarkan
tenaga kependidikan lainnya. bahwa ada interaksi sosial yang kurang
Data di bawah ini adalah salah satu bersahabat dengan anak didik di sekolah itu,
contoh interaksi Nicolas dengan lingkungan terutama dengan pengawas sekolah. Data di
sekolah. Pengawas sekolah datang dan atas juga memberikan bayangan kepada
bertanya apa yang sedang terjadi dan pembaca bahwa pengawas sekolah
Nicolas pun mengeluarkan hidung seharusnya tidak melakukan ancaman
mainannya. Ini membuat pengawas sekolah kepada Nicolas hanya karena mainan hidung
tersinggung. tersebut. Situasi seperti itu bertolak belakang
dengan teori yang menunjukkan bahwa
Alors, moi, J’ai sorti le nez de tonton lingkungan sekolah seharusnya menjadi
Eugène de ma poche et je lui ai montré. Je tempat belajar yang menyenangkan bagi
ne sais pas pourquoi, mais ça l’a mis dans anak didik dalam segala hal. Namun
une colère terrible, le Bouillon, de voir le demikian orangtua tetap memantau
nez de tonton Eugène. perkembangan anak sebagai hasil interaksi
Regardez-moi bien dans les yeux, il a dit le dengan lingkungan sekolah.
Bouillon, qui s’est relevé. Je n’aime pas
qu’on se moque de moi, mon petit ami. Vous
viendrez jeudi en retenue, c’est compris? (Le Dampak Pola Asuh/Pendidikan pada
nez de tonton Eugène : 19) Tokoh Nicolas
Pola asuh melibatkan interaksi antara
[Jadi, aku, mengambil hidung paman
anak dan orangtua untuk membentuk
Eugène dari kantong celanaku dan aku
perilaku, sikap, minat, bakat anak. Interaksi
memberinya. Aku tidak tahu kenapa, tapi itu
yang dimaksud bertujuan untuk
membuat si pengawas sekolah sangat
menanamkan nilai, norma dan aturan yang
marah, pada saat melihat hidung paman
berlaku di masyarakat, mengembangkan
Eugène.
minat dan bakat yang dimiliki anak serta
Tatap mata saya baik-baik, si pengawas
harapan orang tua dalam mendidik, merawat
sekolah berkata, yang berdiri tegak. Aku
dan membesarkan anak-anaknya (Hurlock,
tidak suka kamu mengolok-olokku, teman
2012). Proses interaksi tersebut bermanfaat
kecil. Kamu datang hari kamis untuk
bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.
dihukum mengerti?]
Penjelasan di bawah ini
menggambarkan dampak pola asuh orangtua
Data di atas menunjukkan salah satu
dan proses pembelajaran di sekolah terhadap
interaksi yang terjadi di sekolah antara
perkembangan sikap dan perilaku Nicolas.
Nicolas dengan pengawas sekolah. Ketika
Dampak yang dimaksud digambarkan
pengawas sekolah marah kepada Nicolas
melalui berbagai macam karakter dan sifat-
karena mainan hidung paman Eugène,
sifat yang menonjol dalam diri Nicolas
pada saat itu juga Nicolas secara tidak
sebagai layaknya seorang anak laki-laki usia
langsung diajari menggunakan bahasa
dini yang tumbuh di dalam lingkungan
makian yang pada akhirnya terekam di
keluarga, sekolah dan lingkungan di
dalam otak sebagai bahasa yang kurang
sekelilingnya.
komunikatif dan sedikit kasar.
56 | JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 7, Nomor 1, Juni 2019 E-ISSN: 2621-5101 P-ISSN: 2354-7294

dikatakan bahwa di dalam kehidupannya,


Nicolas merasakan dan menikmati
Anak bersikap terbuka dan berani kehangatan dalam keluarga, sehingga
mengutarakan pendapat melahirkan pribadi yang bersahabat.
Salah satu dampak pola asuh yang Anak yang Imajinatif
menonjol pada diri Nicolas adalah ia
menjadi anak yang senang terbuka dan Nicolas tergolong anak yang
berani mengutarakan pendapat. Data di mempunyai pemikiran yang kreatif dan daya
bawah ini dapat digunakan untuk imajinasi yang tinggi. Berikut contoh yang
memperkuat argumen mengenai sikap menggambarkan hal tersebut.
terbuka Nicolas.
Dans la cour, j’ai vu les copains et j’ai mis
Oh ! Oui papa ! Achète-moi celui-là, on mon nez pour leur montrer et on a tous
dirait le nez de tonton Eugène ! rigolé. On dirait le nez de ma tante Claire, a
Tonton Eugène, c’est le frère de papa ; il est dit Maixent. Non, j’ai dit, c’est le nez de
gros, il raconte des blagues et il rit tout le mon tonton Eugène, celui qui est
temps. (Le nez de tonton Eugène : 17) explorateur. (Le nez de tonton Eugène : 18)

[Oh ! ya ayah ! belikan aku itu (hidung [Di halaman sekolah, aku melihat teman-
mainan) karena seperti hidung paman teman dan aku memakai mainan hidung itu
Eugène! Paman Eugène, adik ayah; dia untuk menunjukkan pada mereka lalu kami
besar, lucu, suka lelucon dan ia suka tertawa semua tertawa. Seperti hidung bibiku Claire,
setiap saat]. kata Maixent. Bukan, kataku, itu hidung
paman Eugèneku, dia seorang penjelajah].
Data di atas menunjukkan keceriaan
Nicolas sebagai sosok seorang anak di Data di atas menggambarkan bahwa,
dalam pengasuhan yang hangat dan dekat Nicolas tertarik dengan ‘hidung mainan’
dengan orangtuanya. Nicolas adalah sosok yang ada di toko, karena dia ingin membuat
seorang anak yang gembira dan ceria serta teman-temannya tertawa. Nicolas senang
tumbuh menjadi pribadi yang bersahabat. berimajinasi dan rasa ingin tahunya
Hal ini dibuktikan dengan komunikasi membuat Nicolas ingin membuktikan bahwa
terbuka antara Nicolas dan orangtuanya. permainan hidung tersebut mampu membuat
Selain ceria, Nicolas juga memperlihatkan teman-temannya tertawa. Seorang anak
keberaniannya dengan meminta kepada mempunyai kesenangan tersendiri dalam
ayahnya untuk membelikan mainan. Terlihat memiliki mainan. Dalam proses tumbuh
jelas gambaran psikologis Nicolas yang kembangnya, mereka dapat berkreasi dan
menunjukkan sikap keterbukaan dan berimajinasi melalui permainannya dan
keberanian terhadap orangtuanya yaitu membuktikan kepenasarannya tentang
meminta sesuatu yang dia inginkan. sesuatu. Jamaris (2010) mengatakan bahwa
Keterbukaan seperti ini menunjukkan bahwa proses belajar seorang anak melalui
Nicolas mendapat ruang untuk berkreasi, permainan sangatlah penting diperhatikan.
sehingga dia senang berinteraksi dengan Dengan alasan bahwa bermain dapat
orangtuanya. Dengan demikian dapat membantu menggunakan seluruh panca
57 | JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 7, Nomor 1, Juni 2019 E-ISSN: 2621-5101 P-ISSN: 2354-7294

indranya, sehingga kekuatan motorik, mencerminkan sikap kooperatif yang tinggi.


kemampuan berpikir dan mengingat dapat Secara umum dapat dikatakan bahwa pola
menjadi kuat, baik secara fisik, mental asuh yang otoritatif atau yang berwibawa
maupun sosial. dan pengasuhan yang hangat, akan
membantu anak tumbuh menjadi pribadi
Anak kooperatif dan mau mengakui yang bersahabat. Orangtua yang suka
kesalahan memberikan motivasi dan komunikasi
terbuka akan mendorong anak bersikap dan
Dampak lain yang tergambar dalam
berperilaku yang menyenangkan, antara lain
diri Nicolas adalah dia menjadi anak yang
percaya diri, penuh tanggungjawab, jujur
senang bekerjasama dan juga berani
dan mampu mengontrol diri. Anak juga
mengakui kesalahan. Petikan data di bawah
dapat memperlihatkan sikap kooperatif,
adalah salah satu pembuktian.
sehingga memiliki motivasi untuk
berprestasi.
Maman a ramassé les morceaux de vase qui
étaient sur le tapis et elle est allée dans la Anak memiliki kepekaan terhadap
cuisine. Moi, j’ai continué à pleurer, parce lingkungan sekeliling
qu’avec papa, le vase, ça va faire des
histoires. Nicolas termasuk anak yang cukup
Eh bien ?tu lui as dit, à Papa, ce que tu as sensitif terhadap sesuatu dan peka dengan
fait ? keadaan di sekitarnya. Data berikut sebagai
Moi, je veux pas lui dire !j’ai explique, et pembuktiannya:
j’ai pleuré un bon coup. (Le vase rose du
salon : 43-44) La maîtresse, elle s’est fâchée et elle s’est
mise à crier, en disant qu’elle n’aimait pas
[Ibu mengambil potongan-potongan vas di les pitres et que si e continuais comme ça. Et
karpet dan ia pergi ke dapur. Aku, lanjut puis elle m’a dit : Apportez-moi ce nez !
menangis, karena dengan ayah, vas itu Alors, moi, j’y suis allé en pleurant, j’ai mis
mempunyai banyak kenangan. le nez sur le bureau de la maîtresse et elle a
Jadi? Kamu sudah mengatakan, ke ayah, apa dit qu’elle le confisquait, et puis elle m’a
yang telah kamu lakukan? donné à conjuguer le verbe: ‘Je ne dois pas
Aku, ingin mengatakannya! aku apporter des nez en carton en classes
menjelaskan dan aku menangis dengan d’histoire, dans le but de faire le pitre et de
baik]. dissiper mes camarades’. (Le nez de tonton
Eugène : 23)
Data di atas menunjukkan
penggambaran secara tidak langsung saat [Bu guru marah dan mulai berteriak,
Nicolas memecahkan vas bunga di ruang mengatakan bu guru tidak suka badut dan
tamu. Ibunya memberi saran untuk secara aku seperti itu. Dan kemudian bu guru
terbuka meminta maaf kepada ayah, sebab berkata: Berikan hidung itu! Jadi, aku
vas bunga tersebut adalah vas kesayangan menangis, lalu menempatkan hidung di meja
ayah. Nicolas dengan rendah hati mengakui bu guru dan bu guru berkata bahwa hidung
kesalahannya dan sikap tersebut itu disita, kemudian bu guru memberi aku
memperlihatkan perilaku terpuji sekaligus konjugasi kata kerja : 'aku tidak perlu
58 | JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 7, Nomor 1, Juni 2019 E-ISSN: 2621-5101 P-ISSN: 2354-7294

membawa mainan hidung di kelas sejarah, [Untungnya, aku tahu membaca waktu, tidak
dalam rangka untuk menjadi badut dan seperti tahun lalu ketika aku masih kecil dan
membuat teman-temanku menghilang’]. aku memaksa semua orang untuk melihat
waktu di jam tanganku, yang tidak mudah].
Data di atas menunjukkan kepekaan
dan sensitifitas Nicolas. Nicolas adalah anak Dari data di atas, diketahui bahwa
yang memiliki kepribadian sensitif dan Nicolas adalah anak yang senang belajar hal
cenderung peka terhadap keadaan orang lain baru seperti belajar membaca, menghitung,
yang ada di sekitarnya. Anak yang peka dan dan belajar mengenal waktu. Nicolas
sensitif senang disayangi dan dicintai. menjadi gambaran anak usia dini yang sudah
Namun, data di atas juga menunjukkan terbiasa belajar, termasuk belajar membaca
bahwa guru Nicolas merupakan guru yang waktu. Hal ini juga menunjukkan bahwa
tegas dan suka memberi hukuman. Hal ini Nicolas sudah mulai menyadari akan
sangat berbeda dengan pola asuh yang pentingnya mengetahui waktu. Nicolas di
diterima Nicolas dari orangtuanya. sisi lain, adalah sosok seorang anak yang
Terlihat jelas dari data di atas, suka bertanya dengan perkataan yang kritis
interaksi guru dengan Nicolas kurang dan sebagai bukti bahwa ia mempunyai rasa
bersahabat, sehingga sikap Nicolas menjadi ingin tahu yang cukup tinggi.
cengeng dan ketakutan. Guru Nicolas Data di atas juga menggambarkan
memberikan respon dengan bahasa yang perkembangan kepribadian Nicolas, sikap
kurang mendidik serta ‘body language’ percaya diri sudah mulai nampak. Nicolas
seperti pada saat ia menegur Nicolas dengan sudah belajar untuk tidak memaksakan
berteriak. Hal ini membuat Nicolas sedih kehendaknya kepada orang lain dan sudah
dan menangis. Kepekaan dan sensitifitas belajar bahwa tidak semua kehendak dia
Nicolas sebagai anak kecil bukanlah hal dapat dipaksakan kepada orang lain untuk
yang aneh, ini bisa berdampak negatif bila dilaksanakan. Hal ini dibuktikan ketika dia
perlakuan yang diterima tidak bersahabat. tidak mau lagi memaksakan orang lain untuk
membantu membaca waktu karena merasa
Anak yang kritis dan memiliki rasa ingin sudah memahami. Nicolas melakukan
tahu yang tinggi refleksi diri sekaligus menandakan bahwa
dirinya mampu mengontrol diri dan tidak
Nicolas memiliki ciri-ciri sebagai
memaksakan kehendak kepada orang lain.
anak yang kritis dan rasa penasaran tentang
Dengan demikian terbukti bahwa Nicolas
sesuatu cukup tinggi. Hal ini dapat
dengan pola asuh yang diterapkan
dibuktikan melalui data berikut:
orangtuanya memberikan dampak positif
yang berhubungan dengan kematangan
Heureusement, je sais bien lire l’heure, pas
berpikir seorang anak seusianya.
comme l’année dernière quand j’étais petit
Sementara, pola pendidikan yang
et j’aurais été oblige tout le temps de
diterima Nicolas di sekolah memberikan
demander aux gens quelle heure il est à ma
dampak negatif. Tingkah laku, pengambilan
montre, ce qui n’aurait pas été facile. (La
keputusan, dan cara berpikir diatur oleh
montre : 25)
guru. Dalam proses belajar, guru Nicolas
cenderung memaksa, memerintah, memberi
ancaman, dan memberi hukuman. Karena itu
59 | JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 7, Nomor 1, Juni 2019 E-ISSN: 2621-5101 P-ISSN: 2354-7294

dampak pola pendidikan di sekolah terhadap pendidikan yang Authoritarian atau otoriter
Nicolas telah membuatnya menjadi cengeng, yang ditandai dengan interaksi antara guru
suka bersedih, menjadi penakut dan tidak dan pengawas sekolah yang bersifat
fokus pada pelajarannya. Namun karena membatasi, mengancam bahkan
pola asuh orangtua yang tepat di rumah, menghukum. Pola didik militer yang ada di
sehingga pada akhirnya Nicolas dapat dalam cerpen ini kemungkinan dihubungkan
menyeimbangkan diri dan dapat beradaptasi dengan pola pembelajaran dimana cerpen ini
dengan baik di lingkungan sekolah maupun dibuat.
di lingkungan luar. Dampak dari pola asuh orangtua
yang otoritatif menjadikan Nicolas sebagai
KESIMPULAN anak yang gembira, suka berkreasi, berani
mengemukakan pendapat, memiliki rasa
Hasil analisis cerpen Les Récrés du
ingin tahu yang tinggi, dan bersahabat.
Petit Nicolas karya René Goscinny dan
Selain itu, Nicolas sadar dan mampu belajar
Jean-Jacques Sempé telah memberikan
dari kesalahannya tanpa ditegur oleh kedua
gambaran secara komprehensif tentang
orangtuanya. Karena Nicolas mempunyai
konsep ‘pendidikan anak’ versi cerpen
kepekaan dan sensitifitas yang tinggi. Semua
tersebut, terutama pola asuh dan pola
ini diakibatkan dengan adanya komunkasi
pendidikan serta dampaknya terhadap
terbuka dan perlakuan yang hangat dari
Nicolas. Untuk itu dapat ditarik beberapa
orangtua Nicolas. Orangtua Nicolas telah
kesimpulan yang memberikan gambaran
memainkan peran sebagai ‘pendidik pertama
tentang tokoh Nicolas.
dan utama’. Pendidikan informal yang
Model pola asuh yang diterima
dibangun dalam keluarga terlihat pada
Nicolas di rumah cenderung
hubungan yang hangat antara Nicolas
memperlihatkan model Authoritative
dengan ibu dan ayahnya. Dampak pola didik
parenting atau pola asuh yang otoritatif atau
yang otoriter dari sekolah mengakibatkan
yang demokratis. Pola asuh ini
Nicolas cengeng, suka sedih dan menangis,
menggambarkan orangtua yang memberikan
dan tidak fokus dalam pelajaran. Di
dorongan kepada anak untuk menjadi
pendidikan formal, Nicolas dididik dengan
mandiri, namun tetap memberikan kontrol
menggunakan bahasa ancaman dan
terhadap sikap dan perilaku anak.
hukuman serta sikap yang kasar baik dari
Metode nasehat dan dialog
guru maupun lingkungan sekolah, membuat
merupakan cara untuk menanamkan sikap
Nicolas, sensitif dan peka berlebihan.
dan moral serta pola komunikasi dua arah
antara anak dan orangtua yang membuat DAFTAR PUSTAKA
Nicolas memahami dampak-dampak secara
rasional dari suatu perbuatannya, sebab Agnes, T.H. dkk. 2007. Peranan Orang Tua
Nicolas merasa diperhatikan oleh Dan Praktisis Dalam Membantu
orangtuanya. Metode pembiasaan dan Tumbuh Kembang Anak Berbuat
keteladanan orangtua juga merupakan Melalui Pemahaman Teori Dan Tren
metode yang biasa dilakukan orangtua Pendidik Jilid I. Jakarta: Pernada
Nicolas dalam pengasuhan. Media Group.
Pola pendidikan yang diterima Agustiawati, I. 2014. Pengaruh Pola Asuh
Nicolas dari sekolah mengarah pada Orangtua terhadap Prestasi Belajar
60 | JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 7, Nomor 1, Juni 2019 E-ISSN: 2621-5101 P-ISSN: 2354-7294

Siswa pada Mata Kuliah Pelajaran Piaget, Jean. 1974. The Language and
Akuntansi Kelas XI IPS di SMA Negeri Thought of the Child.
26 Bandung. (skripsi). Universitas Ratna, Y. & Haryanto, D. 2001. Teori-Teori
Pendidikan Indonesia. Dasar Psikologi Pendidikan Jilid I.
http://repository.upi.edu/12418 Jakarta: Prestasi Pustaka
Baumrind, D. 2008. Parenting for Sakti Aj, Awang Kuncoro. 2015. Pola Asuh
Character: five Experts, Five Orangtua dalam Membimbing Moral
Practices. Anak Usia Prasekolah (Skripsi).
Desmita. 2008. Psikologi Perkembangan. http://digilib.uin-
Bandung: Remaja Rosdakarya suka.ac.id/17746/1/BAB%20I%2C%2
Euis, Sunarti. 2004. Mengasuh Anak dengan 0IV%2C%20DAFTAR%20
Hati. Jakarta: PT Elex Media Santrock, John W. 2002. Perkembangan
Komputindo. Masa Hidup Edisi ke-5 Jilid 1. Jakarta:
Goscinny, R. dan Jean-Jacques Sempé. Erlangga
1963. Les Récrés du Petit Nicolas. Santrock, John W. 2004. Psikologi
Paris: Folio Junior. Pendidikan. Jakarta: Prenadamedia
Hurlock, Elizabeth. 2008. Perkembangan Group
Anak Jilid II. Jakarta: Airlangga. Schmitt, M.P., Viala, A.1982. Savoir-Lire.
Hurlock, Elizabeth. 2012. Psikologi Paris: Didier.
Perkembangan Suatu Pendekatan Suwarno. 1982. Pengantar Umum
Sepanjang Rentang Kehidupan. Pendidikan. Jakarta: Aksara Baru.
Jakarta: Erlangga. Wellek, R. and Warren, A. 2014. Teori
Jamaris, Martini. 2010. Orientasi Baru Kesusastraan (terjemahan). Jakarta:
dalam Psikologi Pendidikan. PT Gramedia.
Jakarta:Yayasan Penamas Murni.
Mutiah, Dian. 2010. Psikologi Bermain
Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.