Вы находитесь на странице: 1из 282

EVALUASI PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT OLEH BADAN AMIL ZAKAT NASIONAL KABUPATEN LEBAK

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu untuk memperoleh

Gelar Sarjana Ilmu Sosial pada Konsentrasi Kebijakan Publik

Program Studi Ilmu Administrasi Negara

Kebijakan Publik Program Studi Ilmu Administrasi Negara Oleh FAWAZ FAUZAN NIM : 6661122200 FAKULTAS ILMU SOSIAL

Oleh FAWAZ FAUZAN NIM : 6661122200

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

SERANG, JUNI 2017

ABSTRACT

Fawaz Fauzan. 6661122200. Evaluation of The Region Rule in Lebak Number:

11, 2005 about Collection Tithe in Baznas of Lebak, Departement of Public Administration, Faculty of Social and Political Sciences, University of Sultan Ageng Tirtayasa. Advisor I, Dr. Ipah Ema Jumiati, M.Si., Advisor II, Ima Maisaroh, M.Si.

The rule must be evaluated by Baznas of Lebak, because there are many problems are happed in collection, distribution, and advantages of tithe. tithe management in Baznas of Lebak involve some aspects such as Baznas of Lebak, the collective unit of tithe, and alms organization, etc. As for tithe problems in Lebak is less optimal socialization, limited human resources in implementing the program, and less strictly the Baznas of Lebak in optimizing the collective of tithe compulsory from the muzaki. The formulation of the problem in this study on, how the evaluation of Lebak regulation number 11, 2005 about the management of tithe at Baznas Lebak. The purpose of this research is due to know, how the management of tithe is being managed by Baznas of Lebak. The theory is used in this research is criteria theory of regulacy evaluation on Nurkholis (2007:274). Reseacrh method used in this research is descriptive method with qualitative approach. The goal of this research is showing that the tithe management in Baznas of Lebak haven’t been makes maximal, it’s proves with low human capital in technology makes it effectiveles to be informed by Baznas of Lebak, the regulation isn’t suitable with the regulations and doesn’t, be prevalent in collection, advantages and distribution to whole areas in Lebak. Recommendation that can be given is holding the trying to human capital in technology to imform to all aspect of society about working together with tithe organization and making service of infrastruction and technology.

Keywords : Collection, Tithe, Tithe Organisation (Baznas of Lebak).

ABSTRAK

Fawaz Fauzan. 6661122200. Evaluasi Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 11 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Zakat Pada Baznas Kabupaten Lebak, Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Pembimbing 1, Dr. Ipah Ema Jumiati, M.Si., Pembimbing II, Ima Maisaroh, M.Si.

Evaluasi Peraturan Daerah tentang pengelolaan zakat perlu dilakukan oleh Baznas Kabupaten Lebak karena masih banyak permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam kegiatan penghimpunan, penyaluran, dan pendayagunaan zakat. Pengelolaan zakat di Kabupaten Lebak melibatkan beberapa pihak terdiri dari Baznas Kabupaten Lebak, Unit Pengumpul Zakat, Lembaga Amil Zakat dan lain sebagainya. Adapun permasalahan zakat di Kabupaten Lebak ialah kurang optimalnya sosialisasi, terbatasnya sumber daya manusia dalam melaksanakan program, dan Kurang tegasnya pihak Baznas Kabupaten Lebak dalam pengoptimalan pemungutan wajib zakat dari para muzakki. Rumusan masalah dalam penelitian ini mengenai bagaimana Evaluasi Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No 11 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Zakat oleh Baznas Kabupaten Lebak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pengelolaan zakat yang di kelola oleh Baznas Kabupaten Lebak. Teori yang digunakan dalam penelitian ini teori Kriteria Evaluasi Kebijakan menurut Nurcholis (2007 :274). Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengelolaan zakat pada Baznas Kabupaten Lebak belum maksimal, terbukti dengan terbatasnya sumber daya manusia dibidang teknologi, kurang efektifnya sosialisasi yang dilakukan oleh Baznas Kabupaten Lebak, belum di sesuaikannya Peraturan Daerah tentang zakat dengan undang-undang terbaru, dan belum meratanya penghimpunan, pendayagunaan, dan penyaluran ke semua wilayah Kabupaten Lebak. Rekomendasi yang dapat diberikan ialah mengadakan pelatihan terhadap sumber daya manusia dibidang teknologi, melakukan sosialisasi ke seluruh lapisan masyarakat, mengadakan kerjasama dengan Lembaga Amil Zakat masyarakat, dan mengadakan infrastruktur pelayanan dan infrastruktur di bidang teknologi.

Kunci : Pengelolaan, Zakat, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Lebak.

Motto dan Persembahan

Learn from the mistake in the past, try by using

a different way, and always hope for a

successful.

Belajarlah dari kesalahan di masa lalu, mencoba

dengan cara berbeda, dan selalu berharap untuk

sebuah kesuksesan di masa depan.

Skripsi ini kupersembahkan :

Mamah dan Ayah tercinta dan

Seluruh keluarga.

KATA PENGANTAR

Saya ucapkan Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas

berkat rahmad dan hidayah-Nya, beserta ijin-Nya, saya dapat menyelesaikan

Penelitian Skripsi ini dengan judul “Evaluasi Peraturan Daerah Kabupaten Lebak

Nomor 11 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Zakat Pada Badan Amil Zakat

Nasional Kabupaten Lebak” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar

Sarjana Ilmu Sosial pada Konsentrasi Kebijakan Publik Program Studi Ilmu

Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Penelitian skripsi ini mungkin jauh dari kata sempurna. Sehingga penulis

juga

mengharapkan

kritik

dan

saran

untuk

memotivasi

penulis

dalam

penyempurnaan lebih lanjut, demikian penelitian skripsi ini saya ajukan.

Pada Kesempatan ini penyusun mengucapkan Terimakasih yang sebesar-

besarnya Kepada Yang Terhormat :

1. Prof.

Dr.

H.

Tirtayasa.

Sholeh

Hidayat,

M.Pd.,

Rektor

Universitas

Sultan

Ageng

2. Dr. Agus Sjafari, S.Sos., M.Si., Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

3. Listyaningsih, S.Sos., M.Si., Kepala Program Studi Ilmu Administrasi Negara.

4. Dr. Riswanda, Ph.d., Sekretaris Program Studi Ilmu Administrasi Negara dan

selaku penguji skripsi yang sudah memberikan arahan dan menguji skripsi

peneliti dengan baik.

5. Ramhawati, S.Sos, M.Si selaku penguji skripsi yang sudah memberikan

arahan dan menguji skripsi peneliti dengan baik.

viii

6.

Dr. Ipah Ema Jumiati, M.Si., Dosen Pembimbing I yang mengarahkan dan

memberikan masukan dalam penelitian ini.

7. Ima Maisaroh, S.Ag., M.SI., Dosen Pembimbing II yang mengarahkan dan

memberikan masukan dalam penelitian ini.

8. Rini Handayani, S.Si., M.Si. Pembimbing Akademik Program Studi Ilmu

Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan

Ageng Tirtayasa.

9. Seluruh Dosen Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial

dan Ilmu Politik yang telah memberikan Ilmu-Ilmu serta Bimbingannya.

10. Seluruh Staff Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial

dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang telah memberikan

pelayanan terbaiknya kepada Mahasiswa.

11. Seluruh Pegawai BAZNAS Kabupaten Lebak. Yang telah membantu proses

penyelesaian skripsi.

12. Kepada Ayah ku (Almarhum) yang selalu memberikan doa dan motivasi serta

mengajarkan arti kehidupan untuk selalu mensyukuri. dan Ibu ku yang telah

memberikan dukungan moral dan doanya yang tiada henti.

13. Kepada Sahabat-sahabat dan kawan-kawan yang selalu setia untuk membantu

dan memberikan motivasi dan dukungannya dalam penelitian ini.

14. Teman-teman kelas A angakatan 2012 yang selama empat sampai lima tahun

ini menemani hari-hari perkuliahan di kampus

15. Seluruh pihak yang telah membantu, yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

ix

Selain itu, peneliti menyadari pula banyaknya kekurangan dari apa yang

telah coba dipaparkan dan dibahas dalam skripsi ini. Maka dari itu peneliti dengan

segala

keterbukaan,

kerendahan

hati,

dan

juga

kelapangan

dada

bersedia

menerima segala masukan baik itu saran maupun kritik yang dapat membangun

peneliti dalam melangkah dan memutuskan, serta membuat karya lebih baik dan

lebih bermamfaat lagi di kemudian hari.

x

Lebak,

Juni 2017

Peneliti

FAWAZ FAUZAN NIM. 6661122200

DAFTAR ISI

 

Halaman

LEMBAR PERSETUJUAN…………………………………………….

ii

LEMBAR PENGESAHAN……………………………………………

iii

LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS…………………………

iv

ABSTRAK……………………………………………………………

v

ABSTRACT………………………………………………………………………

vi

Motto dan Persembahan…………………………………………………

vii

KATA PENGANTAR…………………………………………………

viii

DAFTAR ISI……………………………………………………………

xi

DAFTAR TABEL………………………………………………………

xiii

DAFTAR GAMBAR……………………………………………………

xv

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah ……………………

1

1.2. Identifikasi Masalah……………………………………….

18

1.3. Pembatasan Masalah……………………………………….

19

1.4. Rumusan Masalah………………………………………….

19

1.5.Tujuan Penelitian…………………………………………

20

1.6.

Manfaat Penelitian…………………………………………

20

BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN ASUMSI DASAR

2.1 Deskripsi Teori……………………………………………

22

2.1.1 Pengertian Kebijakan……………………………

22

2.1.2 Kebijakan Publik…………………………………

23

xi

2.1.3

Implementasi Kebijakan Publik………………….

26

 

2.1.4 Evaluasi Kebijakan Publik……………………….

28

2.1.5 Pengertian Zakat…………………………………

35

2.1.6 Hukum dan Tujuan Zakat………………………

36

2.1.7 Hikmah Zakat…………………………………….

37

2.1.8 Macam-Macam Zakat…………………………….

38

2.2 Deskripsi Perda Kabupaten Lebak No 11 Tahun 2005 tentang

 

Pengelolaan Zakat ……………………………………………

47

2.3 Penelitian Terdahulu…………………………………………

48

2.4 Kerangka Pemikiran Penelitian………………………………

50

2.5 Asumsi Dasar Penelitian……………………………………

53

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

 

3.1

Pendekatan Metode Penelitian………………………….

54

3.2

Fokus Penelitian…

………………………………

54

3.3

Lokasi Penelitian………….…

……………………………

55

3.4

Variabel Penelitian………………………………………

55

3.4.1 Definisi Konsep……………

…………………

55

3.4.2 Definisi Operasional……

………………………

56

3.5

Instrumen Penelitian

……………………………………

57

3.6

Informan Penelitian…

………………………………

58

3.7

Teknik Pengumpulan Data

……………………………

60

3.8

Teknik Analisis Data………………………………………

62

3.9

Uji Keabsahan Data

……………………………………

65

xii

3.10 Jadwal Penelitian……………………………………….

66

BAB VI HASIL PENELITIAN

4.1 Deskripsi Objek Penelitian…………………………………

68

4.1.1 Deskripsi Wilayah Kabupaten Lebak………………

68

4.1.2 Deskripsi (BAZNAS) Kabupaten Lebak……………

73

4.1.2.1

Visi dan Misi BAZNAS Kabupaten Lebak…

74

4.1.3

Arah Kebijakan Umum BAZNAS Kabupaten Lebak

75

4.1.3.1

Tugas Pokok dan Fungsi BAZNAS Kabupaten Lebak

77

4.1.4

Struktur Organisasi BAZNAS Kabupaten Lebak…….

78

4.2 Deskripsi Data………………………………………………….

84

4.2.1 Daftar Informan Penelitian……………………………

84

4.2.2 Deskripsi Data Penelitian……………………………

85

4.3 Deskripsi Hasil Penelitian………………………………………

88

4.3.1

Dimensi Input…………………………………………

88

4.3.2

Dimensi Proses………………………………………

105

4.3.3

Dimensi Output……………………………………….

119

4.3.4

Dimensi Outcome……………………………………

124

4.4 Pembahasan Hasil Penelitian……………………………………

127

4.4.1 Input……………………………………………………

128

4.4.2 Proses…………………………………………………

140

4.4.3 Output………………………………………………….

152

4.4.4 Outcome………………………………………………

156

xiii

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan ……………………………………………………

159

5.2 Saran……………………………………………………………

160

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

xiv

DAFTAR TABEL

 

Halaman

1.1

Perbedaan Lembaga Zakat di Indonesia dan Malaysia……………

7

1.2

Penghimpunan zakat infaq dan shadaqah melalui Baznas

Kabupaten Lebak…………………………………………………….

10

1.3

Penyaluran zakat infaq dan sahadaqah melalui Baznas

Kabupaten Lebak ………………………………………………

11

1.4

Kegiatan Sosialisasi Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Lebak Tahun

2014-2016…………………………………………………………….

15

2.1

Indikator Evaluasi Kebijakan……………………………………

34

2.2

Harta Benda yang Wajib dizakati (Emas dan Perak)……………

41

2.3

Harta Benda yang Wajib dizakati (Binatang Ternak)

42

2.4

Harta Benda yang Wajib dizakat (Pertanian)………………………

43

2.5

Harta Benda Yang Wajib Dizakati Zakat Profesi………………

44

3.1

Fungsi dan Peran Informan Dalam Evaluasi Peraturan Daerah Nomor 11

Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Zakat oleh Baznas Kabupaten Lebak 58

3.2

Pedoman Wawancara………………………………………………

61

3.3

Jadwal Penelitian …………………………………………………

67

4.1

Luas Wilayah dan Pembagian Daerah di Kabupaten Lebak,2015….

70

4.2

Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin, 2015……………………

71

xv

4.3

Laporan

Penghimpunan

dan

Penyaluran

Zakat,

Infak

dan

Shadaqah

Periode januari 31 Desember 2016………………………………

109

4.4 Jumlah Sumber Daya Manusia Baznas Kabupaten Lebak…………

132

4.5 Rencana Penghimpunan Baznas Kabupaten Lebak…………………

145

4.6 Penghimpunan Zakat Mal Baznas Kabupaten Lebak Tahun 2016

xvi

150

DAFTAR GAMBAR

 

Halaman

2.1

Kerangka Pemikiran……………………………………………

52

3.1

Komponen Dalam Analisis Data………………………………

63

4.1

Peta Administratif Kabupaten Lebak……………………………

69

4.2

Struktur Organisasi Baznas Kabupaten Lebak…………………

78

4.3

Struktur Kelembagaan ……………………………………………

91

4.4

Dokumentasi Kegiatan (Penyerahan secara simbolis dana Modal Usaha Bergulir (Dana Produktif) kepada Kelompok Usaha Bersama)

143

xvii

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Indonesia adalah sebuah negara yang penduduknya mayoritas beragama

Islam dan di antara Negara-negara lain Indonesia memiliki persentase umat

muslim Indonesia mencapai hingga 12,7 persen dari populasi dunia. Dari 205 juta

penduduk Indonesia, dilaporkan sedikitnya 88,1 persen beragama Islam.

Dengan

jumlah

penduduk

mayoritas

beragama

Islam,

seharusnya

Indonesia lebih berkembang karena di dalam ajaran agama Islam umat muslim

mengenal istilah zakat, dan zakat adalah salah satu rukun Islam yang harus

dilakukan dan menjadi kewajiban bagi umat muslim. Dengan demikian, maka

seharusnya Indonesia bisa lebih makmur dengan memanfaatkan pengelolaan zakat

yang baik, akan tetapi sampai saat ini Indonesia termasuk Negara berkembang dan

permasalahan kemiskinan di Indonesia masih menjadi tugas pemerintah untuk

mengentaskannya.

BPS merilis data terbaru tahun 2016 jumlah penduduk miskin di Indonesia.

Meskipun mengalami penurunan dari tahun sebelumnya, namun penduduk miskin

di Indonesia masih berjumlah 28.01 juta jiwa, atau sekitar 10.86% dari jumlah

penduduk di Indonesia. Jumlah yang sangat banyak dan masih menjadi tanggung

jawab penuh Negara untuk mengentaskan mereka dari garis kemiskinan.

2

Salah

satu

cara

untuk

menekan

angka

kemiskinan

dan

meningkatkan

perekonomian di Indonesia, masyarakat muslim seharusnya memanfaatkan dana

zakat. Dimana Islam memberikan alternatif kepada umatnya untuk menanggulangi

permasalahan kemiskinan. Bukanlah suatu hal yang tanpa tujuan, setengah hati,

atau bahkan hanya sekedar mencari perhatian. Pengurangan angka kemiskinan,

bagi Islam, justru menjadi asas yang khas dan pokok. Hal ini dibuktikan dengan

zakat yang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai sumber jaminan hak-hak

orang-orang fakir dan miskin itu sebagai bagian dari salah satu rukun Islam yang

harus dilaksanakan oleh umat muslim.

Zakat sebagai rukun Islam merupakan kewajiban setiap muslim yang

mampu membayarnya dan diperuntukkan bagi mereka yang berhak menerimanya.

Dengan pengelolaan yang baik, zakat merupakan sumber dana potensial yang

dapat

dimanfaatkan

masyarakat.

untuk

memajukan

kesejahteraan

umum

bagi

seluruh

Memajukan kesejahteraan umum merupakan salah satu tujuan nasional

negara Republik Indonesia yang diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang

Dasar 1945. Untuk mewujudkan tujuan nasional tersebut, bangsa

Indonesia

senantiasa melaksanakan pembangunan yang bersifat fisik material dan mental

spiritual, antara lain melalui pembangunan di bidang agama yang mencakup

terciptanya suasana kehidupan beragama yang penuh keimanan dan ketakwaan

terhadap

Tuhan

Yang Maha Esa,

meningkatnya

akhlak

mulia,

terwujudnya

kerukunan hidup umat beragama yang dinamis sebagai landasan persatuan dan

kesatuan bangsa, dan meningkatnya peran serta masyarakat dalam pembangunan

3

nasional. Guna mencapai tujuan tersebut, perlu dilakukan berbagai upaya, antara

lain dengan menggali dan memanfaatkan dana melalui zakat.

Agar dana yang dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat fakir

dan

miskin

terutama

untuk

menghilangkan

kesenjangan

mengentaskan

sosial,

perlu

masyarakat

dari

kemiskinan

dan

adanya

pengelolaan

zakat

secara

profesional dan bertanggung jawab yang dilakukan oleh masyarakat bersama

pemerintah. Dalam hal ini pemerintah berkewajiban memberikan perlindungan,

pembinaan,

dan

pelayanan

kepada

muzakki

(wajib

zakat),

mustahiq

(yang

menerima zakat), dan pengelola zakat (LAZ) .Untuk maksud tersebut, perlu

adanya undang-undang tentang pengelolaan zakat yang berasaskan keimanan dan

takwa dalam rangka mewujudkan keadilan sosial, kemaslahatan, keterbukaan, dan

kepastian hukum sebagai pengamalan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Sebenarnya sistem pengelolaan zakat sudah di atur oleh pemerintah.

Dimulai

dengan

regulasi

zakat

pertama

di

Indonesia

yaitu

Surat

Edaran

Kementerian agama No.A/VII/17367 tahun 1951 yang menyatakan bahwa Negara

tidak

mencampuri

urusan

pemungutan

dan

pembagian

zakat,

tetapi

hanya

melakukan pengawasan dan tidak langsung terjun dalam pengimplementasian

program zakat. Hal ini menjadikan pengelolaan zakat di Indonesia menjadi

lambat. Selanjutnya Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri

Agama Republik Indonesia Nomor 29 dan 47 tahun 1991 tentang pembinaan

Badan Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah. Dan diikuti dengan intruksi Menteri

Agama Nomor 5 Tahun 1991 tentang Pembinaan Teknis Badan Amil zakat, Infaq

4

dan shadaqah dan Intruksi

Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 1998 tentang

Pembinaan Umum Badan Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah.

Puncaknya adalah ketika pada tahun 1999, Pemerintah bersama DPR

menyetujui lahirnya Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan

Zakat. Undang-undang Zakat ini kemudian di tindak lanjuti dengan keputusan

Menteri Agama (KMA) Nomor 581 tahun 1999 tentang Pelaksanaan Undang-

undang No 38 tahun 1999 dan Keputusan Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haj

Nomor

D/291

tahun

2000

tentang

Pedoman

Teknis

Pengelolaan

zakat.

Sebelumnya pada tahun 1997 juga keluar Keputusan Menteri Sosial Nomor 19

tahun 1998, yang member wewenang kepada masyarakat yang menyelenggarakan

pelayanan

kesejahteraan

sosial

bagi

fakir

dan

miskin

untuk

melakukan

pengumpulan dana maupun menerima dan menyalurkan ZIS.

Namun Undang-undang No 38 tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat

sudah direvisi dengan Undang-undang No 23 tahun 2011 Tentang pengelolaan

Zakat setelah disahkannya Undang-undang Pengelolaan Zakat tersebut Indonesia

telah memasuki tahap institusionalisasi pengelolaan zakat dalam wilayah formal

kenegaraan. Meskipun masih sangat terbatas.Lembaga-lembaga pengelola zakat

mulai

berkembang,

termasuk

pendirian

lembaga

zakat

yang

dikelola

oleh

pemerintah, yaitu BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional), BAZDA (Badan Amil

Zakat Daerah) dan LAZ (Lembaga Amil Zakat) yang dikelola oleh masyarakat

dengan manajemen lebih baik dan modern.

5

Setidaknya dengan Undang-undang Zakat tersebut telah mendorong upaya

pembentukan lembaga pengelolaan zakat

yang amanah, kuat dan dipercaya

masyarakat. Tentu saja hal ini meningkatkan pengelolaan zakat sehingga zakat

akan lebih optimal. Lembaga-lembaga zakat telah mampu mengelola dana hingga

puluhan milyar rupiah, dengan cakupan penyaluran mencapai seluruh wilayah

Indonesia.

Namun sejauh ini permasalahan zakat di Indonesia masih banyak dan

menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah pusat dan lembaga zakat, dalam

menyelesaikan permasalahan tersebut. Meski Pengelolaan zakat di Indonesia

sudah dipayungi hukum, akan tetapi secara keseluruhan belum optimal. Adapun

permasalahan umum mengenai zakat di Indonesia ialah sebagai berikut :

Pertama. Indonesia adalah Negara yang mayoritas beragama Islam, dan

zakat adalah sebagai kewajiban dari agama Islam untuk menunaikannya, hasil

survey PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center) menunjukan

tingkat kesadaran dan kapasitas masyarakat berzakat sekitar 55% masyarakat

sadar dan mengakui dirinya sebagai wajib zakat (muzakki). Akan tetapi sebagian

besar responden ternyata memilih menyalurkan zakatnya kepada masjid sekitar

rumah.Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap LAZ dan BAZ masing sangat

kecil.Responden yang menyalurkan zakatnya ke BAZ dan LAZ hanya 6% dan

1.2%.

(sumber:www.pirac.org/2012/05/25/mensejahterakan-umat-dengan-zakat/

diakses pada tanggal 26/10/2016. 21:15).

6

Kedua. Pengelolaan zakat di Indonesia belum baik, meskipun pengelolaan

zakat di Indonesia sudah mempunyai aturan yang mengatur pengelolaan zakat.

Pengelolaan zakat di Indonesia sejauh ini masih belum baik karena pengumpulan

dan penyaluran zakat belum baik dan tidak terencana jangka panjang, bagaimana

zakat dapat mempunyai peran penting dalam menentukan perekonomian umat.

Dari pokok permasalahan yang di sebutkan, bahwa meskipun di Indonesia

mayoritas penduduknya adalah muslim dengan potensi zakat yang bisa mencapai

angka yang lebih besar dari tahun sebelumnya ternyata pada kenyataannya hanya

sebagian kecil umat muslim yang mengumpulkan zakat melalui Baznas. Hal ini

mencerminkan bahwa kesadaran muzzaki untuk mengeluarkan zakat melalui

Baznas masih minim.

negara

Menurut

Nurfitriana

(2008)

Indonesia

dan

Malaysia

merupakan

dua

yang

mayoritas

penduduknya

beragama

Islam.

Namun

jika

dilihat

pengelolaan zakat diantara keduanya memiliki perbedaan.Karena dua Negara ini

memiliki

perundangan

dan

struktur

birokrasi

yang

berbeda.

Perbedaan

ini

tentunya berdampak pada performa zakat yang diperoleh di dua Negara ini.Hal ini

perlu menjadi acuan bagi Indonesia untuk melihat bagaimana pengelolaan zakat

yang dilakukan oleh lembaga zakat di Negara Malaysia.

Dibawah ini adalah Tabel 1.1 mengenai perbandingan pengelolaan zakat

di Negara Indonesia dan Negara Malaysia. Sebagai berikut :

7

Tabel 1.1 Perbedaan Lembaga Zakat di Indonesia dan Malaysia

No

Pengelolaan

Indonesia

Malaysia

Zakat

1

Lembaga

Terdapat banyak lembaga pengelola zakat baik formal maupun tradisional

Terdapat empat belas pusat pungutan zakat, masing-masing satu di Negara bagian dan satu di wilayah persekutuan Kuala Lumpur.

Pengelola Zakat

2

Pengaturan

Pengelolaan zakat diatur dalam UU. No. 23 tahun 2011

Tidak diatur dalam undang- undang.

3

Badan pengawas

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) merupakan lembaga pemerintah non struktural yang bersifat mandiri dan bertanggung jawab kepada presiden melalui menteri.

Pusat Pungutan Zakat (PPZ) dan Baitul Maal berada dibawah Majelis Agama Islam Wilayah Persekutuan (MAIWP) yang bertanggung jawab penuh kepada sultan atau pemerintahan Negara Bagian.

lembaga

pengelola zakat

4

Badan pengelola

Lembaga amil ataupun badan amil berfungsi ganda sebagai lembaga pengumpul maupun lembaga penyalur dana zakat.

PPZ berfungsi hanya sebagai pengumpul dana zakat, sedangkan tugas penyaluran dana zakat merupakan tanggung jawab Baitul Maal, dimana antara PPZ dan Baitul Maal, sama berada dibawah naungan MAIWP.

dan penyalur

dana zakat

5

Program

Indonesia mengambil sample LAZNAS Dompet Dhuafa melakukan program-program baik untuk hal konsumtif maupun pemberdayaan, lewat jejaring yang didirikan. Diantaranya :

Baitul Maal Malaysia, dengan dana zakat yang terkumpul begitu besar melakukan program- program yang begitu banyak. Diantaranya :

- Bantuan persekolahan perniagaan.

pengelolaan dana

zakat

- Lembaga pengembangan insani

- Bantuan perobatan, bantuan sewa rumah.

- Lembaga pertanian sehat.

- Bantuan musibah dan agensi pendidikan.

- Layanan kesehatan Cuma-Cuma.

- Bantuan Al-Riqab. Bantuan perkawinan.

- Pembangun komunitas madani.

- Bantuan pelajar institut professional Baitul Maal (IPB). Bantuan pertanian.

- Bantuan menyelesaikan utang gharimin, bantuan ramadhan, dan lain-lain.

- Pemberdayaan peternak lewat kampung ternak.

- Institute manajemen zakat.

- Usaha, lewat DD trafel.

 

Sumber: Nurfitriana (2008)

8

Jika dilihat dari Tabel 1.1 tentang perbandingan pengelolaan zakat antara

Indonesia dan Malaysia. Peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa sistem

pengelolaan antara keduanya sangat berbeda, selain itu Baznas bersifat lembaga

yang non struktural, hal ini menjadikan Baznas sebagai tanggungjawab dalam

pengelolaannya, jika melihat pengelolaan di Malaysia menurut peneliti cukup

efektif dan tentu masyarakat di Malaysia sudah sadar akan pentingnya membayar

zakat. Di Indonesia sendiri jika potensi zakat digali serius oleh Negara maka tidak

menuntup kemungkinan angka kemiskinan dan pengangguran berkurang, dan

perekonomian masyarakat meningkat.

Kabupaten Lebak, yang terletak di Provinsi Banten, merupakan salah satu

daerah binaan kementerian percepatan daerah tertinggal (PDT). Dalam lima tahun

tahun terakhir, pemerintah daerah dan segenap elemen masyarakat setempat

secara

progresif

berusaha

mengubah

ketertinggalan

dengan

berbagai

pembangunan

tertinggal.

Termasuk

di

dalamnya

adalah

pembangunan

infrastruktur,

peningkatan

transparansi

dan

partisipasi

masyarakat,

dan

penghimpunan dan pengelolaan dana masyarakat.

 

Pengembangan

dan

pengelolaan

zakat

menjadi

perhatian

serius

dari

pemerintah

Kabupaten

Lebak

yang

diaplikasikan

antara

lain

dalam

bentuk

penetapan Peraturan Daerah Nomor 11 tahun 2005 tentang Pengelolaan Zakat.

Peratura

Daerah

ini

merupakan

penegasan

terhadap

penghimpunan

dan

penyaluran zakat yang dilakukan oleh BAZNAS Kabupaten Lebak. Berdasarkan

surat keputusan Bupati Kabupaten Lebak Nomor : 400/Kep.255/Kesra/2013.

9

Tentang pembentukan Pengurus Badan Amil Zakat (BAZ) Kabupaten Lebak

Periode

2013-2016.

Sebelum

adanya

Peraturan

daerah,

eksistensi

Baznas

Kabupaten Lebak hanya berfungsi mengumpulkan zakat fitrah. Setelah adanya

Peraturan Daerah Zakat No. 11 Tahun 2005, Baznas Kabupaten Lebak memiliki

fungsi yang lebih dalam fundraising (penghimpunan) dana, tidak hanya zakat

fitrah melainkan juga zakat mal/profesi, infak dan sedekah. selanjutnya dengan

Adanya Peraturan Daerah yang mengatur pengelolaan zakat di Kabupaten Lebak,

pendapatan/ penghimpunan dana zakat, infak dan sedekah diharapkan meningkat

secara signifikan.

Sejauh ini pengelolaan zakat yang dilakukan oleh Baznas Kabupaten

Lebak di Kabupaten Lebak baik, akan tetapi masih banyak masalah-masalah yang

ditemukan baik dari internal maupun ekternalnya, jika dilihat dari internal maka

dapat diketahui sumber daya manusia yang dimiliki terbatas maka dari itu Baznas

Kabupaten

Lebak

mengikutsertakan

Pemerintah

Daerah

dalam

pelaksanaan

Program

zakat,

selain

itu

kurangnya

sosialisasi

yang

dilakukan

untuk

meningkatkan kesadaran masyarakat. Selanjutnya ekternal, kurangnya kesadaran

masyarakat Kabupaten Lebak untuk membayar zakat melalui Baznas Kabupaten

Lebak, hal ini karena kurangnya kepercayaan dan masyarakat lebih memilih

secara

langsung

dibandingkan

masyarakat

berasumsi

bahwa

melalui

Baznas

Kabupaten

Lebak

Karena

jika

melalui

Baznas

prosesnya

berbelit-belit,

penyaluran tidak jelas dan lain sebagainya.

10

Akan tetapi sejauh ini pengelolaan zakat di Kabupaten Lebak jika dilihat

dari dana yang terhimpun setiap tahunnya mengalami naik dan turun cendrung

kurang stabil. Dan ini perlu adanya peningkatan kualitas sumber daya manusia

dan

perbaikan

dalam

hal

pelayanan,

birokrasi

dan

lain

sebagainya

guna

pengelolaan zakat dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat dan

menyediakan lapangan kerja di Kabupaten Lebak.

Berikut dibawah ini adalah Tabel penghimpunan dan penyaluran zakat,

infak dan shadaqah melalui Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Lebak periode

bulan Januari s.d 31 Desember Tahun 2015. Sebagai berikut :

Tabel 1.2 Penghimpunan zakat infaq dan shadaqah melalui Baznas Kabupaten Lebak

NO

 

URAIAN

JUMLAH

A

PENGHIMPUNAN

   
 

Sisa Saldo Tahun 2014

 

Rp 3,428,844,085

I

Zakat Fitrah

   
 

-

Dari unit Pengumpul Zakat Jiwa

18252

Rp 547,560,000

 

-

Dari Perorangan

27

Jiwa

Rp 960,000

 

-

Dari Kantor Kecamatan

214

Jiwa

Rp 6,240,000

II

 

Zakat Mal

 
 

-

Dari Perorangan

Rp 24,270,000

 

-

Dari Pengusaha

Rp 2,000,000

III

 

Zakat Profesi

 
 

-

Dari Unit Pengumpul Zakat

Rp 1,525,455,978

 

-

Dari Perorangan

Rp 48,631,733

IV

 

Zakat Kifarat

5 jiwa

Rp 150,000

V

 

Infaq dan Shadaqah

 
 

-

Dari unit Pengumpul Zakat

Rp 154,602,548

 

-

Dari Perorangan

Rp 16,000,000

 

-

Dari Pengusaha

Rp 2,461,527,377

VI

 

Fidyah/ dll

 
 

a.

Bagi Hasil Penempatan Dana Pada :

 
 

1)

Bank Jabar Banten

Rp 18,467,690

 

2)

Bank Rakyat Indonesia

Rp 3,187,334

 

3)

Bank Syariah Mandiri

Rp 1,328,617

 

4)

Bank Mega Syariah

Rp 31,354,636

11

b. Bagi hasil usaha Alfamart Baznas Kabupaten Lebak

Rp 137,126,235

c. Sewa tempat toko & teras Alfamart

Rp 13,000,000

d. Penerimaan bentuk sumbangan dari :

 

- Nasabah Bank Mandiri Syariah Rangkasbitung

Rp 212,000

- Nasabah BRI Rangkasbitung

Rp 600,000

- BAZNAS Provinsi Banten

Rp 51,500,000

- BAZNAS Pusat kegiatan. Pekan gizi nusantara

Rp 72,500,000

- Pengembalian modal bergulir

Rp 308,650,000

JUMLAH

Rp 8,854,348,273

Sumber: Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Lebak, 2015

Berdasarkan Tabel 1.2 mengenai Penghimpunan dana di Badan Amil

Zakat Nasional Lebak merupakan kegiatan yang progresif. Hal ini bisa dilihat dari

nilai nominal dana yang dikumpulkan mencapai lebih dari Rp. 3,6 Milyar

(pembukuan tahun 2009). Dana tersebut jauh meningkat bila dibandingkan pada

tahun 2003 dengan nilai kurang dari Rp. 100 juta, atau pada tahun 2006 sebesar

Rp. 521 juta, dan pada tahun 2014 mencapai Rp. 8.943.189.818,-. Akan tetapi

tidak setiap tahunnya penghimpunan dana zakat tidak terus meningkat dengan

melihat hasil dana zakat di tahun 2015 sedikit menurun dibandingkan tahun 2014,

hal ini perlu adanya perbaikan dan evaluasi guna di setiap tahun-tahun berikutnya

terus meningkat dana penghimpunan yang diterima Baznas Kabupaten Lebak.

Adapun dibawah ini adalah penyaluran zakat melalui Baznas Kabupaten Lebak :

Tabel 1.3 Penyaluran zakat infaq dan sahadaqah melalui Baznas Kabupaten Lebak

No

Penyaluran

 

Jumlah

B

Penyaluran

 

1

Penyaluran Fuqoro Masakin

Rp 2,251,133,570

2

Penyaluran Fisabilillah

Rp 1,173,404,500

3

Penyaluran Mualaf

Rp 1,100,000

4

Penyaluran Ibnu Sabil

Rp 4,700,000

5

Penyaluran Amilin

Rp

597,219,862

 

Jumlah Total Penyaluran

Rp2,027,567,932

12

Sisa Saldo Rp 4,826,780,342

Sisa Saldo

Rp 4,826,780,342

Sumber : Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Lebak, 2015

Berdasarkan Tabel 1.3 di atas, penyaluran zakat yang dilakukan Baznas

Kabupaten Lebak masih terdapat saldo cukup besar, hal ini tentu optimalnya

penyaluran yang dilakukan Baznas Kabupaten Lebak kepada para mustahiq (yang

berhak menerima zakat) khususnya di Kabupaten Lebak, diharapkan Baznas

Kabupaten Lebak lebih mencakup luas penyaluran dana zakat kepada masyarakat

Kabupaten

Lebak

agar

masyarakat

yang

benar-benar

membutuhkan

dapat

diberikan. Selain itu dapat ditingkatkan kembali program-program zakat yang

berhubungan dengan membangun perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan hasil evaluasi sebelumnya yang diselenggarakan oleh Dompet

Dhuafa Republika (DDR) dan IMZ Jakarta pada hari Rabu, 25 Agustus 2010 di

Warunggunung Lebak. Menyebutkan bahwa sampai saat ini penghimpunan dana

zakat yang dilakukan oleh Baznas Kabupaten Lebak sudah baik, meskipun

dominan tergali hanya melalui infak/sedekah pengusaha. Karena itu harus pula

dikembangkan

kembali

potensi

zakat

mal/profesi/pendapatan

dari

PNS

dan

masyarakat umum yang selama ini kurang tergali dengan maksimal. Sebab dalam

pasal 2 di sebutkan, bahwa setiap masyarakat yang beragama Islam dan mampu

atau badan yang memiliki orang muslim berkewajiban menunaikan zakat.

Selanjutnya, belum optimalnya antara aturan wajib bayar pajak dan wajib

zakat,

meski

para

orang

kaya

menunaikan

zakat

akan

tetapi

mereka

juga

membayar pajak, dan hal ini mereka membayar double antara membayar wajib

pajak dan wajib zakat. Sejauh ini para wajib zakat membayar pula pajak, jika

13

melihat Negara Malaysia sama hal seperti di Indonesia akan tetapi ada perbedaan

antara di Indonesia dan Malaysia jika di Malaysia pada tahun 1978, pemerintah

Malaysia mengesahkan aturan setiap pembayaran zakat individu dapat menjadi

pengurang pajak. Pada tahun 1990, zakat pengurang pajak mulai diberikan kepada

perusahan yang membayar zakat dengan potongan kecil, jika pembayaran zakat

individu dapat menjadi potongan pajak 100%, pada tahun 2005, pemerintah

Malaysia

mengeluarkan

keputusan

menerima

zakat

perusahaan

menjadi

pengurang pajak hanya sebesar 25% saja. Diakses pada tanggal 27/10/2016.01:00

(http://darussaadah.or.id/kajian/19/keberhasilan_pengelolaan_zakat_di_Malaysia.

html)

Selain itu Peraturan Daerah ini masih mempunyai kekurangan yakni tidak

dicantumkannya aturan hukum yang memikat dan memaksa kepada orang yang

enggan membayar zakat. Padahal dengan adanya kekuatan hukum, apabila di

dalamnya ada sanksi atas pelanggaran-pelanggaran yang terjadi bagi muzzaki

yang enggan membayar zakat, maka potensi dana zakat dapat terhimpun secara

maksimal.

Baznas Kabupaten Lebak mempunyai salah satu program unggulan yakni

Mustahiq menjadi Muzakki (M-3) melalui modal usaha bergulir, program ini

mempunyai sasaran kepada para usaha bakulan, gerobak dorong dan usaha-usaha

mikro

lainnya.Diharapakan

dengan

adanya

program

ini

para

pengusaha-

pengusaha kecil dapat berkembang dan Baznas Kabupaten Lebak dapat mencetak

para mustahiq menjadi muzakki tercapai dengan diadakannya program yang

14

meningkatkan perekonomian. Sampai saat ini kelompok binaaan yang ada di

Baznas Kabupaten Lebak sebanyak 35 Kelompok usaha Bersama (KUB) dan

setiap bulannya para KUB tersebut mulai berinfak melalui Baznas Kabupaten

Lebak, tentu ini menjadi salah satu dampak positif dan terus ditingkatkan.

Berdasarkan hasil observasi di lapangan, peneliti menemukan beberapa

permasalahan yang harus segera dibenahi oleh Baznas Kabupaten Lebak guna

kedepannya

proses

kegiatan

pengelolaan

tidak

terhambat

dengan

adanya

permasalahan-permasalahan yang ada. Adapun permasalahan yang ditemukan di

lapangan ialah sebagai berikut :

Pertama,

kurang

optimalnya

sosialisasi

yang

dilakukan

oleh

Baznas

Kabupaten Lebak dalam memikat atau mengajak masyarakat luas khususnya

untuk membayarkan zakatnya melalui Baznas Kabupaten Lebak, karena sampai

saat ini sedikit masyarakat luas yang membayar zakat kepada Baznas lebih

memilih membayarkan zakatnya langsung kepada mustahiq. Menurut wawancara

wakil Baznas Kabupaten Lebak Bapak Wawan menyampaikan bahwa kurangnya

masyarakat untuk membayarkan zakatnya karena mayoritas masyarakat berpikir

mencari yang mudah dan tidak berbelit-belit. Kebanyakan masyarakat langsung

terjun kepada orang yang membutuhkan tanpa menyalurkan zakatnya kepada

Baznas Kabupaten Lebak. Hal ini tentu perlu diperhatikan kedepannya. Tabel 1.5

merupakan

kegiatan

sosialisasi

yang

dilakukan

Baznas

perTahun 2014 2016. Sebagai berikut :

Kabupaten

Lebak

15

Tabel 1.4 Kegiatan Sosialisasi Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Lebak

Tahun 2014-2016

No

Tgl.Bulan.Tahun

Kegiatan

Keterangan

1

14-April-2014

Sinergitas Program Zakat Community Development Baznas Kabupaten Lebak

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Lebak

2

07-Mei-2014

Sosialiasasi (ZIS) Study Banding Baznas Sukabumi

Ketua Baznas Kabupaten Lebak bersama Ketua Baznas Sukabumi

3

24-Juni-2014

RAB Kegiatan Budidaya Jamur Tiram Program ZCD Tahun 2014

Ketua Baznas Kabupaten Lebak

4

22 April 2015

Silaturahmi dan Sosialisasi Zakat, Infak dan Shadaqah.

Bupati Lebak

5

28-Agustus 2015

Pelaksanaan Pendidikan Melalui Program ZCD Baznas Kabupaten Lebak

Kepala Dinas

Pendidikan Kab.

Lebak

6

2- September-2015

Study Banding dan Silaturahmi

Pengurus Badan pelaksana Kabupaten Sukabumi

7

4-Februari-16

Ucapan Terima Kasih atas Program ZCD

Ketua LPZM STAI La Tansa Mashiro

8

5-April-16

Optimalisasi Pengumpulan Zakat

Ketua

DPRDKabupaten

 

Lebak

9

24-Mei-2016

Gerakan Berinfak Rp.

Upz SKPD,

2000

Kecamatan, Perguruan Tinggi, Swasta.

Sumber : Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Lebak, 2016

Dari Tabel 1.4 di atas, dapat dilihat bahwa kegiatan sosialisasi Baznas

Kabupaten Lebak masih kurang optimal karena dalam setiap tahun dapat dihitung

beberapa kali saja, namun hal ini tentu tidak mengurangi kualitas pengelolaan

16

zakat yang dilakukan Baznas Kabupaten Lebak memburuk, tentu hal ini menjadi

catatan kedepannya agar tujuannya dapat tercapai maksimal.

Kedua, kurang adanya ketegasan dari Baznas Kabupaten Lebak yakni

aturan khusus mengenai pemungutan wajib zakat kepada muzakki (wajib zakat)

dengan sanksi ataupun teguran, maka secara perlahan masyarakat akan sadar

untuk membayar zakat melalui Badan Zakat. Di dalam Peraturan Daerah hanya

tercantum bagi para pengelola saja yang mendapatkan sanksi jika terjadinya

kelalaian maupun penyelewengan pengelolaan zakat. Dengan demikian, jika ada

atur yang mengatur wajib zakat yang mengikat kepada masyarakat, maka secara

otomatis potensi dana suatu daerah akan lebih besar.

Ketiga,

menurut

Wakil

Ketua

III

Bapak

KH.

Wawan

Gunawan

menyebutkan bahwa salah satu permasalahan di lapangan ialah

“Kurangnya SDM Baznas Kabupaten Lebak, dengan itu Baznas mengikutsertakan Pemerintah Daerah untuk ikut bersama mengelola zakat dan melaksankan program-program zakat, agar potensi dana zakat di Kabupaten Lebak dapat tergali secara maksimal”.

Sumber daya manusia sangat dibutuhkan dalam sebuah organisasi karena

jika didalam organisasi tersebut tidak terdapat sumber daya manusia maka siapa

yang

akan

menjalankan

sebuah

kebijakan

dan

mencapai

tujuan

yang

telah

ditetapkan bersama, tentu tidak mudah mengendalikan organisasi dengan sumber

daya manusia yang terbatas. Sejauh ini Baznas Kabupaten Lebak dibantu oleh

Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak dalam mengimplementasikan program-

program

zakat.

Karena

sumber

daya

manusia

yang

dimiliki

oleh

Baznas

Kabupaten Lebak terbatas, akan tetapi perlu adanya kemauan dan tekad untuk

17

mengimplementasikan Peraturan Daerah tentang zakat secara sendiri, agar Baznas

Kabupaten Lebak menjadi contoh bagi Kabupaten/Kota di Provinsi Banten untuk

mengelola dana zakat dengan baik dan mandiri. Hal ini perlu adanya tindakan

dalam menyelesaikan masalah mengenai kurangnya sumber daya manusia di

Baznas Kabupaten Lebak agar tujuan dan potensi dana zakat di Kabupaten Lebak

dapat digali dan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Dari permasalahan

yang ditemukan peneliti di lapangan menunjukan

bahwa Baznas Kabupaten Lebak perlu meningkatkan kembali dan mengkaji apa

yang terjadi di lapangan karena sejauh ini peran Baznas Kabupaten Lebak belum

dapat

dirasakan

oleh

masyarakat

luas

khususnya

bagi

para

mustahiq

yang

membutuhkan uluran tangan. Dan sosialisasi yang dilakukan Baznas Kabupaten

Lebak pun sejauh ini kurang karena masyarakat belum mempunyai kesadaran

untuk membayar zakat melalui Baznas Kabupaten Lebak, bahkan masyarakat

tidak mengetahui bahwa mereka harus membayarkan zakatnya melalui Baznas,

yang terjadi di lapangan mayoritas masyarakat membayarkan zakatnya langsung

kepada orang-orang yang membutuhkan dan melalui masjid-masjid disekitar

lingkungannya hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa dana zakat tersebut

tidak tersalurkan kepada orang yang benar membutuhkan. Selain itu sampai saat

ini Baznas Kabupaten Lebak belum bersikap tegas kepada para muzakki untuk

membayar

zakat,

dengan

adanya

sikap

tegas

maka

potensi

dana

zakat

di

Kabupaten Lebak akan tergali secara maksimal. Dan selanjutnya sumber daya

manusia

yang

dimiliki

Baznas

Kabupaten

Lebak

masih

terbatas

dalam

melaksanakan program-program di lapangan. Hal ini perlu adanya tindakan yang

18

harus dilakukan oleh Baznas Kabupaten Lebak dan Lembaga Amil Zakat untuk

memberikan pelayannya kepada para mustahiq dan muzakki guna tujuan utama

Baznas dapat tercapai.

Berdasarkan masalah-masalah yang telah peneliti deskripsikan di atas,

maka peneliti tertarik untuk mengaplikasikan dalam sebuah skripsi yang berjudul

:Evaluasi Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No 11 Tahun 2005 Tentang

Pengelolaan Zakat oleh Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Lebak”.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti mengidentifikasi masalah-

masalah yang terjadi di Kabupaten Lebak mengenai pengelolaan zakat yang

berjalan dan juga peneliti mengutip hasil pengamatan dan studi pendahuluan yang

sebelumnya sudah dilaksanakan. Disini peneliti memfokuskan beberapa aspek

pada pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No 11 Tahun 2005 Tentang

Pengelolaan Zakat oleh Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Lebak. Dan

adapun Identifikasi masalahnya ialah sebagai berikut :

1. Kurang adanya ketegasan dari pihak Badan Amil Zakat Kabupaten Lebak

dalam pengoptimalan pemungutan wajib zakat dari para muzakki.

2. Kurang optimalnya sosialisasi terhadap masyarakat luas tentang kesadaran

membayar zakat terutama pada para muzakki yang sudah memenuhi hibas

(perhitungan) dalam syariat Islam.

19

3.

Terbatasnya

Sumber

daya

manusia

Baznas

Kabupaten

Lebak

dalam

melaksanakan Program-program zakat di lapangan.

1.3 Batasan Masalah

Dari uraian-uraian yang ada di dalam latar belakang dan identifikasi

masalah

peneliti

mempunyai

keterbatasan

kemampuan

dan

berfikir

secara

menyeluruh, maka dengan itu peneliti mencoba membatasi penelitiannya yang ada

dalam identifikasi masalah. Mengingat masalah yang diteliti merupakan masalah

yang kompleks, maka peneliti akan membatasi ruang lingkup kajian dengan

memfokuskan perhatian mengenai:

Bagaimana Evaluasi Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No 11 Tahun

2005 Tentang Pengelolaan Zakat oleh Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten

Lebak ?

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan

identifikasi

masalah

di

atas,

disini

peneliti

sedikitnya

memberikan rumusan masalah mengenai pelaksanaan Peraturan Daerah tentang

pengelolaan zakat pada Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Lebak ialah

sebagai berikut :

Bagaimana Evaluasi Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No 11 Tahun

2005

Tentang

Pengelolaan

Kabupaten Lebak ?

Zakat

oleh

Badan

Amil

Zakat

Nasional

20

1.5 Tujuan Penelitian

Setiap penelitian apapun tentu akan memiliki suatu tujuan dari penelitian

tersebut. Hal ini sangat perlu untuk bisa menjadikan acuan bagi setiap kegiatan

penelitian yang akan dilakukan. Karena tujuan merupakan tolak ukur dan menjadi

target dari kegiatan penelitian tersebut. Tanpa itu semua maka apa yang akan

dilakukan akan menjadi sia-sia. Maksud dan tujuan penelitian tersebut antara lain

yaitu:

Untuk mengetahui Evaluasi Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 11

Tahun

2005

Tentang

Kabupaten Lebak.

1.6 Manfaat Penelitian

Pengelolaan

Zakat

oleh

Badan

Amil

Zakat

Manfaat penelitian akan menjelaskan manfaat teoritis dan praktis dari

diadakannya penelitian ini, antara lain:

1.6.1 Manfaat Teoritis

a. Bagi pengembangan Ilmu Administrasi Negara

Penelitian

ini

dapat

digunakan

untuk

mengembangkan

Ilmu

Administrasi Negara terutama berkaitan dengan evaluasi peraturan

daerah Kabupaten Lebak nomor 11 tahun 2005 tentang pengelolaan

zakat oleh Baznas Kabupaten Lebak.

b. Bagi Peneliti

21

Hasil

penelitian

ini

dapat

menambah

wawasan

dan

pengetahuan

tentang masalah yang diteliti, selain itu sebagai wujud nyata penerapan

teori-teori kebijakan publik yang diterima selama kuliah, serta dapat

membandingkan

antara

teori

dan

praktek

yang

akan

terjadi

di

lapangan.

c. Bagi Instansi Terkait

Merupakan suatu informasi dan sebagai bahan pertimbangan dalam

menentukan kebijakan yang akan diambil, khususnya kebijakan yang

berhubungan dengan permasalahan pengelolaan zakat pada BAZNAS

Kabupaten Lebak.

1.6.2 Manfaat Praktis

a. Penelitian ini bermanfaat memberikan sumbangan pemikiran bagi

pemecahan masalah

yang berhubungan dengan evaluasi peraturan

daerah Kabupaten Lebak nomor 11 tahun 2005 tentang pengelolaan

zakat oleh Baznas Kabupaten Lebak.

b. Penelitian ini bermanfaat untuk membantu Badan Amil Zakat Nasional

Kabupaten

Lebak

dalam

melakukan

Evaluasi

peraturan

daerah

Kabupaten Lebak nomor 11 tahun 2005 tentang pengelolaan zakat oleh

Baznas Kabupaten Lebak.

22

BAB II

KAJIAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN ASUMSI DASAR PENELITIAN

2.1 Deskripsi Teori

Dalam sebuah penelitian diperlukannya sebuah teori untuk memberikan

pengarahan mengenai fokus penelitian yang akan dilaksanakan, dengan itu teori

ini sangatlah penting adanya, disini peneliti akan memaparkan beberapa teori

mengenai judul penelitian yang akan dibawakan di antaranya ialah, sebagai

berikut :

2.1.1 Pengertian Kebijakan

Peraturan

Daerah

Kabupaten Lebak

Nomor 11 Tahun

Pengelolaan

Zakat

merupakan

diimplementasikan

oleh

Pemerintah

sebuah

kebijakan

Kabupaten

Lebak.

yang

sebuah

2005 Tentang

dibuat

dan

implementasi

kebijakan adalah merupakan lanjutan dari proses perumusan kebijakan yang

dibuat oleh

Pemerintah Daerah. Yang selanjutnya nanti setiap kebijakan akan

melalui proses evaluasi oleh Pemerintah setempat. Guna mengahasilkan kebijakan

yang lebih tepat bagi publik.

Secara harfiah, ilmu kebijakan merupakan terjemahan langsung dari kata

policy science (Yebezkel, 1968; 6-8). Beberapa penulis besar dalam ilmu ini,

seperti Willian Dunn, Charles Jones, dan Lee Friedman menggunakan istilah

publik policy dan publik policy analysis dalam pengertian yang tidak berbeda.

Istilah kebijaksanaan atau kebijakan yang diterjemahkan dari kata policy memang

23

biasanya dikaitkan dengan keputusan pemerintah karena pemerintahlah yang

mempunyai

wewenang

atau

kekuasaan

untuk

mengarahkan

masyarakat

dan

bertanggung

jawab

melayani

kepentingan

umum.

Hal

ini

sejalan

dengan

pengertian publik dalam bahasa Indonesia berarti pemerintah, masyarakat, atau

umum. Perbedaan makna antara kebijaksanaan dan kebijakan tidaklah menjadi

persoalan selama diartikan sebagai keputusan pemerintah yang relatif bersifat

umum dan ditunjukan kepada masyarakat umum. (Abidin. 2012: 3)

Kebijakan adalah sebuah instrument pemerintah, bukan saja dalam arti

government, (hanya menyangkut aparatur Negara), melainkan pula governance

yang menyentuh

berbagai

kelembagaan,

baik

swasta,

dunia usaha,

maupun

masyarakat madani (civil society). Kebijakan pada intinya merupakan keputusan

atau

pilihan

tindakan

yang

secara

langsung

mengatur

pengelolaan

dan

pendistribusian sumber daya alam, finansial dan manusia demi kepentingan

publik, yakni rakyat banyak, atau warga Negara.

Berdasarkan hasil uraian di atas mengenai kebijakan, peneliti memberikan

pendapatnya mengenai kebijakan itu sendiri ialah kebijakan adalah suatu tindakan

atau keputusan yang dilakukan oleh orang perorangan maupun kelompok untuk

mencapai sesuatu yang akan dicapainya. Pada intinya kebijakan itu sendiri sebagai

sebuah bentuk menuju ke yang lebih baik maupun sebaliknya.

2.1.2 Kebijakan Publik

Studi

mengenai

pembuatan

kebijakan

publik

merupakan

studi

yang

penting dalam administrasi negara. Beragam pengertian mengenai kebijakan

24

publik ini tidak bisa dihindarkan, karena kata “kebijakan” merupakan penjelasan

ringkas

yang

berupaya

untuk

menerangkan

berbagai

kegiatan

mulai

dari

pembuatan keputusan-keputusan, penerapan dan evaluasinya.

Dalam

berbagai

referensi

ilmiah,

kaitanya

dengan

studi

kebijakan,

penggabungan antara kata “kebijakan” dan “politik” menjadi kebijakan publik

(publik policy) merupakan salah satu topik pokok yang sering dikaji. Menurut

Thoha (2002:56), orang pertama yang menggambarkan ide tentang kebijakan

yang publik dapat dipelajari secara sistematis adalah Dewey. Di dalam bukunya

Logic: The Theory of Inquiry. Dewey memberikan perhatian terhadap sifat

eksperimen dari cara mengukur kebijakan. Ilmuan ini berhasil menggambarkan

bagaimana rencana-rencana tindakan harus dipilih dari berbagai alternatif dan

bagaimana mengamati berbagai akibat yang dapat dipergunakan sebagai uji coba

yang tepat (Thoha, 2002:56)

Hasil

sebuah

pemikiran

Dewey (Thoha,

2002:57) tersebut

kemudian

digunakan

oleh

Harold

Lasswell

pertama

kali

mempertajam

ide

seorang eksperimentalis

ilmu

kebijakan

sebagai

terpisahkan

dari

disiplin

ilmu-ilmu

lain.

Lasswell

mendefinisikan kebijakan publik sebagai suatu program

ilmu

politik

yang

disiplin

yang

tidak

(Nugroho,

2003:3)

yang diproyeksikan

dengan tujuan-tujuan tertentu, nilai-nilai tertentu, dan proyek-proyek tertentu.

Menurut

pandangannya,

kebijakan

merupakan

studi

tentang

proses

pembuatan keputusan atau proses memilih dan mengevaluasi informasi yang

tersedia, kemudian memecahkan masalah-masalah tertentu. Adapun kebijakan

25

publik

sebagaimana

yang

dirumuskan

oleh

Easton

(Thoha,

2002:62-63)

merupakan alokasi nilai yang otoratif oleh seluruh masyarakat. Akan tetapi, hanya

pemerintah sajalah yang berbuat secara otoratif untuk seluruh masyarakat, dan

semuannya yang dipilih oleh pemerintah untuk dikerjakan atau untuk tidak

dikerjakan adalah hasil-hasil dari nilai-nilai tersebut.

Menurut Dye dalam Subarsono AG (2006:2) menyatakan bahwa kebijakan

publik meliputi apapun pilihan pemerintah untuk melakukan atau tidak melakukan

sesuatu

(publik policy is whatever governments choose to do or not to do). Dari

pengertian di atas

dapat diartikan bahwa kebijakan publik merupakan keputusan

pemerintah untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu hal.

Nugroho

sebagai berikut :

dalam

bukunya

Publik

policy

memahami

kebijakan

publik

“Suatu aturan yang mengatur kehidupan bersama yang harus ditaati dan berlaku mengikat berlaku seluruh warganya. Setiap pelanggaran akan diberikan sanksi dengan bobot pelanggarannya yang dilakukan dan sanksi dijatuhkan didepan masyarakat oleh lembaga yang mempunyai tugas menjatuhkan sanksi (Nugroho, 2003:3)

Anderson (1984) dalam Agustino yang berjudul Dasar-Dasar Kebijkan

Publik (2008:7) memberikan pengertian atas definisi kebijakan publik sebagai

berikut:

“Serangkaian kegiatan

yang mempunyai maksud/tujuan tertentu

yang

diikuti dan dilaksanakan oleh seorang aktor atau kelompok aktor yang

berhubungan

dengan

suatu

permasalahan

atau

suatu

hal

yang

diperhatikan”.

26

Dari definsi di atas

dapat disimpulkan bahwa kebijakan publik adalah

serangkaian keputusan atau tindakan yang ditetapkan oleh pemerintah yang

berorientasi pada kepentingan publik yang ditandai dengan adanya pemilihan

alternatif kebijakan. Jadi, kebijakan publik memiliki tiga unsur pokok, yaitu : (1)

kebijakan

publik

dibuat

oleh

pemerintah

yang

berupa

tindakan-tindakan

pemerintah, (2) kebijakan publik harus berorientasi pada kepentingan publik, dan

(3) kebijakan adalah tindakan pemilihan alternatif

untuk dilaksanakan atau tidak

dilaksanakan oleh pemerintah demi kepentingan publik.

Berdasarkan

uraian

di

atas,

mengenai

kebijakan

publik,

peneliti

berpendapat

bahwa

kebijakan

publik

ialah

kumpulan-kumpulan

aspirasi

masyarakat yang ditampung oleh pemerintah guna menyelesaikan permasalahan

yang dialami masyarakat dan pemerintah sebagai aparatur Negara memberikan

solusi dan melakukan tindakan yang nyata. Layaknya sebagai abdi Negara yang

mengabdikan dirinya untuk kepentingan Negara dan masyarakat. Pada intinya

kebijakan

publik

ialah

usaha-usaha

pemerintah

dalam

menampung

aspirasi

masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung untuk menyelesaikan

masalah dan mencapai tujuan yang akan dicapai oleh pemerintah itu sendiri.

2.1.3 Implementasi Kebijakan Publik

Implementasi

kebijakan

pada

prinsipnya

adalah

cara

agar

sebuah

kebijakan dapat mencapai tujuannya. Tidak lebih dan tidak

kurang.

Untuk

mengimplementasikan kebijakan publik, maka ada dua pilihan yang ada, yaitu

langsung mengimplementasikan dalam bentuk program-program atau melalui

27

formulasi kebijakan derivate atau turunan dari kebijakan tersebut. (Nugroho,

2003:158)

Studi implementasi merupakan suatu kajian mengenai studi kebijakan

yang mengarah pada proses pelaksanaan dari suatau kebijkan. Dalam praktiknya

implementasi kebijakan merupakan suatu proses yang begitu kompleks bahkan

tidak jarang bermuatan politis dengan adanya intervensi berbagai kepentingan

untuk melukiskan kerumitan dalam proses implementasi tersebut dapat dilihat

pada pernyataan yang dikemukan oleh seorang ahli studi kebijkan Bardach dalam

Agustino (2008:138) :

“Adalah cukup untuk membuat sebuah program dan kebijakan umum yang kelihatannya bagus di atas kertas. Lebih sulit lagi merumuskannya dalam kata-kata atau slogan-slogan yang kedengarnnya mengenakan bagi telinga para pemimpin dan para pemilih yang mendengarkannya. Dan lebih sulit lagi untuk melaksanakannya dalam bentuk cara yang memuaskan semua orang termasuk mereka anggap klien”

Masih dalam Agustino (2008:139) Mazmanian dan Sabiter dalam bukunya

Implementation

and

Publik

Policy

mendefinisikan

Implementasi

kebijakan

sebagai :

“Pelaksanaan keputusan kebijakan dasar, biasanya dalam bentuk undang- undang, namun dapat pula berbentuk perintah-perintah atau keputusan- keputusan eksekutif yang penting atau keputusan badan peradilan. Lazimnya, keputusan tersebut mengidentifikasi masalah yang ingin dicapai, dan berbagai cara menstrukturkan atau mengatur proses implemntasinya”

Sedangkan, Meter dan Horn (Agustino: 2008:139) mendefiniskan

Implementasi Kebijakan sebagai :

28

“Tindakan-tindakan

yang

dilakukan

baik

oleh

individu-individu

atau

pejabat-pejabat atau kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan

pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan

kebijakan”

Dari tiga definisi tersebut di atas

dapat diketahui bahwa implementasi

kebijakan menyangkut tiga hal, yaitu : (1) adanya tujuan atau sasaran kebijakan,

(2) adanya aktivitas atau kegiatan pencapai tujuan; dan (3) adanya hasil kegiatan

yang dilakukan.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan oleh peneliti mengenai

implementasi kebijakan publik ialah sebagai proses yang sangat penting dalam

semua kegiatan,

jika saja tanpa adanya proses implementasi maka sebuah

perencanaan maupun kebijakan tersebut tidak akan berjalan dan hanya sebagai

data

dan

berkas

saja.

Pada

intinya

berlangsungnya sebuah kebijakan.

2.1.4 Evaluasi Kebijakan Publik

implementasi

berperan

penting

dalam

Kebijakan publik tidak bisa dilepas begitu saja, kebijakan harus diawasi,

dan

salah

satu

mekanisme

pengawasan

tersebut

disebut

sebagai

“evaluasi

kebijakan” evaluasi biasanya ditujukan untuk menilai sejauh mana keefektifan

kebijakan publik guna dipertanggungjawabkan kepada konstituenya, sejauh mana

tujuan dicapai. Evaluasi diperlukan untuk melihat kesenjangan antara harapan

dengan kenyataan di lapangan (Nugroho, 2003:183)

29

Berdasarkan waktu pelaksanaanya, evaluasi kebijakan dibedakan menjadi

3 bagian yaitu (Dunn, 2003)

1. Evaluasi sebelum dilaksanakan (evaluasi summative).

2. Evaluasi pada saat dilaksanakan (evaluasi proses), dan

3. Evaluasi setelah kebijakan/evaluasi konsekuensi (output) kebijakan dan

atau evaluasi pengaruh (outcome) kebijakan.

Pada prinsipnya tipe evaluasi kebijakan sangat bervariasi tergantung dari

tujuan dan level yang akan dicapai. Dari segi waktu evaluasi dibagi menjadi dua

yaitu

evaluasi

preventif

kebijakan

dan

evaluasi

sumatif

kebijakan.Dalam

penelitian ini evaluasi yang dilakukan adalah setelah kebijakan.

Suatu evaluasi mempunyai karakateristik tertentu yang membedakan dari

analisis, yaitu : fokus nilai, interpedensi fakta nilai, orientasi masa kini dan masa

lampau, dan dualitas nilai.

1. Fokus

Nilai.

Evaluasi

ditujukan

kepada

pemberian

nilai

dari

suatu

kebijakan, program maupun kegiatan. Evaluasi terutama ditujukan untuk

menentukan manfaat atau kegunaan dari suatu kebijakan, program maupun

kegiatan, bukan sekedar usaha untuk mengumpulkan informasi mengenai

suatu

hal.

Ketepatan

suatu

tujuan

maupun

sasaran

pada

umumnya

merupakan

hal

yang

perlu

dijawab.

Oleh

karena

itu

suatu

evaluasi

mencakup pula prosedur untuk mengevaluasi

sendiri.

tujuan dan sasaran itu

30

2. Interpedensi Fakta-Nilai. Suatu hasil evaluasi tidak hanya tergantung pada

“Fakta” semata namun juga terhadap “nilai”. Untuk memberi pertanyaan

bahwa suatu kebijakan, program atau kegiatan telah mencapai hasil yang

maksimal atau minimal bagi seseorang, kelompok orang atau masyarakat,

haruslah didukung oleh bukti-bukti (fakta) bahwa hasil kebijakan, program

atau kegiatan merupakan konsekuensi dari tindakan-tindakan yang telah

dilakukan dalam mengatasi/memecahkan suatu masalah tertentu. Dalam

hal ini kegiatan monitoring merupakan suatu pernyataan yang penting bagi

evaluasi.

3. Orientasi masa kini atau masa lampau. Evaluasi diarahkan pada hasil yang

sekarang ada dan hasil

yang diperoleh masa lalu. Evaluasi tidaklah

berkaitan dengan hasil yang diperoleh di masa yang akan datang. Evaluasi

bersifat prospektif, dan berkaitan dengan tindakan-tindakan yang telah

dilakukan.

Rekomendasi

yang dihasilkan

dari

suatu

evaluasi

bersifat

prospektif dan dibuat sebelum tindakan dilakukan.

4. Dualitas Nilai. Nilai yang ada dari suatu evaluasi mempunyai kualitas

ganda, karena evaluasi dipandang sebagai tujuan sekaligus cara (Dunn,

2003:608)

Menurut Suchman dalam Winarno (2014:233-234), terdapat lima langkah

evaluasi kebijakan, yaitu :

1. Mengidentifikasi tujuan program yang akan dievaluasi

2. Analisis terhadap masalah

31

4. Pengukuran terhadap tingkatan perubahan yang terjadi

5. Mekanisme apakah perubahan yang terjadi merupakan akibat dari

kegiatan tersebut atau karena penyebab lain.

6. Beberapa Indikator untuk menentukan keberadaan suatu dampak.

Secara konseptual ada pandangan yang menyatakan bahwa evaluasi dapat

dilakukan pada seluruh periode kegiatan, artinya dapat dilakukan pada saat

kegiatan belum dilaksanakan, evaluasi pada saat kegiatan berjalan, dan setelah

kegiatan dilakukan. (Riyadi, 2003:268)

Oleh karena itu berdasarkan pandangan tersebut, evaluasi dapat dibedakan

menjadi :

1. Pra Evaluasi

Yakni

evaluasi

yang

dilakukan

pada

saat

program

belum

berjalan/beroperasi pada tahap perencanaan.Evaluasi pada periode ini biasanya

difokusnya pada masalah-masalah persiapan dari suatu kegiatan. Dapat pula

evaluasi itu didasarkan pada hasil-hasil pelaksanaan kegiatan sebelumnya yang

secara substansial memiliki ketertarikan dengan kegiatan yang dilaksanakan.

2.

Evaluasi pada saat program tengah berjalan

 

Evaluasi pada periode ini biasanya difokuskan pada penilaian dari setiap

tahap

kegiatan

yang

sudah

dilaksanakan.

Walaupun

belum

bisa

dilakukan

penilaian

terhadap

keseluruhan

proses

program.

Dalam

praktiknya,

evaluasi

seperti ini berbentuk seperti laporan triwulan, semester, atau tahunan (untuk

32

kegiatan jangka menengah). Pada saat program atau kegiatan tengah berjalan

analisis evaluasi bersumber pada hasil pemantauan yang dilaksanakan pada tahap-

tahap kegiatan secara berkelanjutan dan akan memberikan umpan balik untuk

perencana dan pelaksana pembangunan.

3. Evaluasi setelah program selesai atau setelah program berakhir

Evaluasi ini biasa disebut dengan ex post evaluation. Pada evaluasi ini

dilakukan penilaian terhadap seluruh tahapan program yang dikaitkan dengan

tingkat keberhasilannya, sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan dalam

rumusan sasaran atau tujuan program. Gambaran utama evaluasi adalah bahwa

evaluasi menghasilkan tuntutan-tuntutan yang bersifat evaluatif. Disini pertanyaan

utamanya bukan fakta (Apa yang terjadi ?), proses (bagaimana terjadinya ?), atau

penyebab (Apa yang terjadi?) tetapi nilai (Berapa nilainya ?) karena itu evaluasi

mempunyai

sejumlah

karakteristik

yang

analisis kebijakan lainnya.

membedakan

dari

metode-metode

Mengikuti samodra wibawa dkk (1993) dalam (Nugroho, 2003:186-187),

evaluasi kebijakan publik memiliki empat fungsi, yaitu :

1. Eksplanasi. Melalui evaluasi dapat dipotret realitas pelaksanaan program dan dapat dibuat suatu generalisasi pola-pola, hubungan antar berbagai dimensi realitas yang diamatinya. Dari evaluasi ini evaluator dapat mengidentifikasi masalah, kondisi, dan aktor yang mendukung keberhasilan atau kegagalan kebijakan.

2. Kepatuhan. Melalui evaluasi dapat diketahui apakah tindakan yang dilakukan oleh para pelaku, baik birokrasi maupun pelaku lainnya sesuai dengan standard an prosedur yang ditetapkan oleh kebijakan.

3. Audit. Melalui evaluasi dapat diketahui, apakah output benar-benar sampai ke tangan kelompok sasaran kebijakan, atau justru ada kebocoran atau penyimpangan.

33

4. Akunting. Melalui evaluasi dapat diketahui, apa akibat sosial-ekonomi dari kebijakan tersebut.

Ernest R. House membuat taksonomi evaluasi yang cukup berbeda yang

membagi model evaluasi menjadi :

1. Model sistem, dengan indikator utama adalah efesiensi

2. Model perilaku, dengan indikator utama adalah produktivitas dan akuntabilitas

3. Model formulasi keputusan, dengan indikator utama dalah keefektifan dan keterjagaan kualitas

4. Model tujuan bebas (goal free), dengan indikator utama adalah pilihan pengguna dan manfaat sosial.

5. Model kekrtisan seni (art criticism), dengan indikator utama adalah standar yang semakin baik dan kesadaran yang semakin meningkat.

6. Model review professional, dengan indicator utama adalah penerimaan professional.

7. Model kuasi-legal (quast-legal), dnegan indikator utama adalah resolusi.

8. Model studi kasus, dnegan indicator utama adalah pemahaman atas diverisitas (Nugroho,2003:197)

Nurcholis mengatakan bahwa evalausi kebijakan adalah penilaian secara

menyeluruh

yang

menyangkut

Input,

Proses,

Outputs,

dan

Outcames

dari

kebijakan pemerintah daerah (Nurcholis, 2007:274). Evaluasi adalah proses yang

mendasarkan diri pada disiplin yang ketat dan tahapan waktu. Menurutnya

evaluasi membutuhkan sebuah skema umum penilaian, yaitu :

1. Input, yaitu masukan yang diperlukan untuk pelaksanaan kebijakan

2. Proses, yaitu bagaimana sebuah kebijakan diwujudkan dalam bentuk pelayanan langsung kepada masyakarat, bagaimana hambatan dan tantangannya.

3. Outputs, yaitu hasil dari pelaksanaan kebijakan. Apakah suatu pelaksanaan kebijakan mengahasilkan produk sesuai dengan tujuan yang ditetapkan?

4. Outcomes, yaitu apakah suatu pelaksanaan kebijakan berdampak nyata terhadap kelompok sasaran sesuai dengan tujuan kebijakan?

34

Untuk memudahkan tentang pengukuran evaluasi kebijakan Badjuri dan

Yunowo (2002:140-141) menyajikan Tabel indikator evaluasi kebijakan sebagai

berikut :

 

Tabel 2.1

 
 

Indikator Evaluasi Kebijakan

 

No

Indikator

 

Fokus Penilaian

 

1

Input

 

a. Apakah sumber daya pendukung dan bahan- bahandasar yang diperlukan untuk melaksanakan kebijakan?

b. Berapakah SDM (sumber daya), uang atau infrastruktur pendukung lain yang diperlukan?

2

Process

 

a. Bagaimana sebuah kebijakan ditransformasikan dalam bentuk pelayanan langsung kepada masyarakat?

b. Bagaiamanakah efektivitas dan efesiensi dari metode/cara yang dipakai untuk melaksanakan kebijakan publik tersebut?

3

Outputs

 

a. Apakah hasil atau produk yang dihasilkan sebuah kebijakan publik?

b. Berapa orang yang berhasil mengikuti program/kebijakan tersebut?

4

Outcomes

 

a. Apakah dampak yang diterima oleh masyarakat luas atau pihak yang terkena kebijakan?

b. Berapa banyak dampak positif yang dihasilkan?