Вы находитесь на странице: 1из 20

DISKUSI TOPIK

AUTISME

PEMBIMBING :
dr. H. Isa Multazam Noor, Sp. KJ

Disusun oleh :
Athiyyatuz Zakiyyah (1102015039)
Maya Intan Andriyani (1102012159)
Nur Hanief (1102015171)
Rossalia Visser (1102015209)
Vindi Athira (1102013297)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
RUMAH SAKIT JIWA ISLAM KLENDER
JAKARTA
2019
CASE VIGNETTE AUTISM

Jacob Maderson is a 5-year-old boy with autism. He has difficulty communicating


with his peers and frequently fails to respond when people speak to him. Jacob
never initiates conversations and rarely makes eye contact with other individuals.
Periodically, Jacob becomes upset and loses his temper throughout the school day.
Jacob is not the only person with autism in his family. His older brother, Charlie,
exhibits some signs of autism, including certain repetitive behaviors, difficulty with
social skills, and behavioral problems. Despite these barriers, Charlie has been
successfully integrated into a general education classroom.

Jacob was placed in a special education class at Springfield Elementary School


at the beginning of September. Mrs. Pheeta, Jacob’s teacher, has been unable to
find effective teaching strategies to work with Jacob. He rarely listens to Mrs.
Pheeta and has difficulty interacting with the six other students in his class. At
home, Mr. and Mrs. Maderson have noticed that Jacob loses his temper more
frequently since their move to Springfield last year. They have learned that the
methods that helped Charlie change his behavior do not seem to be effective with
Jacob.

Jacob Maderson anak berusia 5 tahun dengan autism. Jacob mempunyai kesulitan
dalam berkomunikasi dengan sebayanya dan seringkali gagal merespon ketika
orang berbicara dengannya. Jacob jarang berinisiatif untuk berkomunikasi dan
jarang kontak mata dengan orang lain ketika berkomunikasi. Belakangan ini, Jacob
menjadi marah dan kehilangan emosinya sepanjang hari sekolah. Jacob bukan satu-
satunya orang dengan autisme pada keluarganya. Kakaknya, Charlie, menunjukkan
beberapa tanda-tanda autisme, termasuk perilaku tertentu yang berulang, kesulitan
dengan keterampilan sosial, dan masalah perilaku. Meskipun hambatan ini, Charlie
telah berhasil diintegrasikan ke dalam kelas pendidikan umum.

1
Jacob mengikuti kelas pendidikan khusus di Sekolah Dasar Springfield pada awal
September. Guru Jacob, Ibu Pheeta mengalami kesulitan dalam mengajari Jacob.
Jacob jarang untuk mendengarkan ibu Pheeta dan mengalami kesulitan dalam
berinteraksi dengan 6 teman sekelasnya. Di rumah, Tuan dan Nyonya Maderson
mengakui bahwa anaknya sering kehilangan emosinya sejak mereka pindah ke
Springfield tahun lalu. mereka mengatakan metode untuk membantu Charlie dalam
merubah perilaku Charlie tidak efektif diterapkan kepada Jacob.

Gejala Kasus
1. Jacob berusia 5 tahun
2. Kesulitan dalam berkomunikasi dengan sebaya
3. Gagal merespon ketika orang berbicara dengannya
4. Jarang berinisiatif untuk berkomunikasi
5. Jarang kontak mata ketika komunikasi
6. Mudah kesal dan kehilangan kesabaran di sekolah dan di rumah sejak pindah
rumah
7. Di keluarga juga ada yang memiliki gejala yang sama yaitu kakaknya
8. Mengikuti kelas Pendidikan khusus
9. Gurunya kesulitan mengajarinya karena Tommy jarang mendengarkan gurunya
10. Metode untuk mengubah perilaku tidak efektif

Kriteria diagnosis

Kriteria diagnostik menurut DSM IV, seperti yang tertera dibawah ini.
A. Harus ada 6 gejala atau lebih dari 1, 2 dan 3 di bawah ini:
a. Gangguan kualitatif dari interaksi sosial (minimal 2 gejala)
- Gangguan pada beberapa kebiasaan nonverbal seperti kontak mata,
ekspresi wajah, postur tubuh, sikap tubuh dan pengaturan interaksi
social
- Kegagalan membina hubungan yang sesuai dengan tingkat
perkembangannya
- Tidak ada usaha spontan membagi kesenangan, ketertarikan,
ataupun keberhasilan dengan orang lain (tidak ada usaha
menunjukkan membawa, atau menunjukkan barang yang ia
tertarik).
- Tidak ada timbal balik sosial maupun emosional

2
b. Gangguan kualitatif dari komunikasi (minimal 1 gejala)
- Keterlambatan atau tidak adanya perkembangan bahasa yang
diucapkan (tidak disertai dengan mimik ataupun sikap tubuh yang
merupakan usaha alternatif untuk kompensasi)
- Pada individu dengan kemampuan bicara yang cukup. terdapat
kegagalan dalam kemampuan berinisiatif maupun mempertahankan
percakapan dengan orang lain.
- Penggunaan bahasa yang meniru atau repetitif atau bahasa
idiosinkrasi.
- Tidak adanya variasi dan usaha untuk permainan imitasi sosial
sesuai dengan tingkat perkembangan.
c. Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dari perilaku,
minat dan aktivitas (minimal 1 gejala).
- Kesibukan (preokupasi) dengan satu atau lebih pola ketertarikan
stereotipik yang abnormal baik dalam hal intensitas maupun fokus.
- Tampak terikan kepada rutinitas maupun ritual spesifik yang tidak
berguna.
- Kebiasaan motorik yang stereotipik dan repetitif (misalnya
mengibaskan atau memutar-mutar tangan atau jari, atau gerakan
tubuh yang kompleks).
- Preokupasi persisten dengan bagian dari suatu obyek.
B. Keterlambatan atau fungsi yang abnormal tersebut terjadi sebelum umur 3
tahun, dengan adanya gangguan dalam 3 bidang yaitu: interaksi sosial;
penggunaan bahasa untuk komunikasi sosial; bermain simbol atau
imajinasi.
C. Kelainan tersebut bukan disebabkan oleh penyakit Rett atau gangguan
disintegratif (sindrom Heller).

Diagnosis Multiaksial
Aksis I : F84.0 Autisme Masa Kanak
Aksis II : F60.3 Gangguan Kepribadian Emosional Tak Stabil
Aksis III : Tidak ada masalah
Aksis IV : Masalah berkaitan dengan lingkungan sosial
Aksis V : GAF 80-71 Gejala sementara & dapat diatasi, disabilitas ringan
dalam sosial, pekerjaan, sekolah, dll.

TINJAUAN PUSTAKA
AUTISME

3
1. Pendahuluan
Istilah autisme akhir – akhir ini sangat sering munccul di berbagai media
massa vaik cetak maupun elektronik, juga berbagai penelitian telah dilakukan di
banyak negara, ditinjau dari berbagai aspek perkembangan, baik biologi, psikologi
maupun sosio – kultural. Walaupun masih belum ada kesepakatan antara sesame
kliniskus dan peneliti tentang hal ini. Dengan memakai kriteria diagnostik dari ICD
– X & DSM IV TR label autisme cukup jelas dan bersifat permanen atau 0-3’s
Diagnostic Classification of Mental Health and Developmental Disorders of
Infancy and Early Childhood dimana diagnostis suatu gangguan yang muncul
masih terbuka untuk perubahan dan perkembangan dari masing – masing anak. 1
2. Definisi Autisme
ASD (Autism Spectrum Disorders) atau autistic disorder telah didefinisikan oleh
APA (American Psychiatric Assotiation) merupakan gangguan atau kecacatan
perkembangan dengan karakteristik abnormalitas dalam komunikasi verbal dan non
verbal, perilaku berulang dan kerusakan interaksi sosial. Autistik adalah kondisi
yang menggambarkan individu yang seolah-olah mereka hidup dalam dunianya
sendiri. Di dalam PPDGJ III (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan
Jiwa di Indonesia III) gangguan spektrum autisme disebut sebagai Autisme Masa
Kanak. Gejala-gejala gangguan autistik secara klinis dapat dilihat dalam 3 tahun
pertama kehidupan dan menetap sepanjang kehidupan. 2
Autisme masa kanak menurut ICD X/DSM V merupakan salah satu jenis
gangguan perkembangan pervasif, yang biasanya muncul sebelum usia 3 tahun.
Gangguan ini juga dikenal dengan istilah Autisme Infantil. Kondisi ini
mengakibatkan gangguan pada interaksi sosial, pola komunikasi, minat dan gerakan
yang terbatas, stereotipik dan diulang – ulang. Kondisi yang sama apabila memakai
kriteria diagnostik CD 0 – 3 dikenal sebagai Multisystem Developmental Disorder
(MSDD). Autisme atau autisme infantil ( Early Infantile Autism) pertama kali
dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner 1943 seorang psikiatris Amerika. Istilah autisme
dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis pada anak-anak yang unik
dan menonjol yang sering disebut Sindrom Kanner. Ciri yang menonjol pada
sindrom Kanner antara lain ekspresi wajah yang kosong seolaholah sedang

4
melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain untuk menarik
perhatian mereka atau mengajak mereka berkomunikasi. 1,3
3. Epidemiologi
Autisme mempengaruhi sekitar 0,5 -1 dalam 1000 anak dengan dengan rasio
antara laki-laki dan wanita 4:1. Menurut suatu studi, autisme meningkat di populasi
kanak-kanak. Pada tahun 1966, 4-5 bayi per 10.000 kelahiran dikembangkan
autisme, sedangkan pada tahun 2003, dua studi menunjukkan bahwa antara 14-39
bayi per 10.000 mengembangkan gangguan tersebut. Meskipun tidak ada
pertanyaan yang lebih banyak kasus klinis yang terdeteksi, peningkatan prevalensi
autisme di perdebatkan sebagai praktek diagnostik telah berubah selama bertahun-
tahun dan telah berubah evaluasi kasus yang sebelumnya tidak dikenal. 4
4. Etiologi
Autisme bukanlah gangguan fungsional semata, namun didasari oleh
gangguan organik dalam perkembangan otak. penyebab spesifik dari autisme pada
90-95% adalah tidak diketahui. Sehingga penanganan maupun riset autisme ini
melibatkan banyak bidang, baik kedokteran, pendidikan, psikologi, sosial dan
sebagainya. Etiologi pasti dari autis belum sepenuhnya jelas. Beberapa teori yang
menjelaskan tentang autisme yaitu: 2
1. Teori Psikoanalitik
Teori yang dikemukakan oleh Bruto Bettelheim (1967) menyatakan bahwa
autisme terjadi karena penolakan orangtua terhadap anaknya. Anak menolak
orang tuanya dan mampu merasakan perasaan negatif mereka. Anak tersebut
meyakini bahwa dia tidak memiliki dampak apapun pada dunia sehingga
menciptakan ”benteng kekosongan” untuk melindungi dirinya dari
penderitaan dan kekecewaan.
2. Teori Genetika
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa laki-laki 3-4 kali beresiko lebih
tinggi dari wanita. Sementara risiko autis jika memiliki saudara kandung yang
juga autis sekitar 3%. Kelainan gen dari pembentuk metalotianin juga
berpengaruh pada kejadian autis. Metalotianin adalah kelompok protein yang
merupakan mekanisme kontrol tubuh terhadap tembaga dan seng. Fungsi
lainnya yaitu perkembangan sel saraf, detoksifikasi logam berat, pematangan

5
saluran cerna, dan penguat sistem imun. Disfungi metalotianin akan
menyebabkan penurunan produksi asam lambung, ketidakmampuan tubuh
untuk membuang logam berat dan kelainan sistem imun yang sering
ditemukan pada orang autis. Teori ini juga dapat menerangkan penyebab lebih
berisikonya laki-laki dibanding perempuan. Hal ini disebabkan karena sintesis
metalotianin ditingkatkan oleh estrogen dan progesteron.
3. Studi biokimia dan riset neurologis
Pemeriksaan post mortem otak dari beberapa penderita autistik menunjukkan
adanya dua daerah di dalam sistem limbik yang kurang berkembang yaitu
amygdala dan hippocampu. Kedua daerah ini bertanggung jawab atas emosi,
agresi, sensory input, dan belajar. Penelitian ini juga menemukan adanya
defisiensi sel Purkinje di serebelum. Dengan menggunakan MRI, telah
ditemukan dua daerah di serebelum, lobulus VI dan VII yang pada individu
autistik secara nyata lebih kecil daripada orang normal. Satu dari kedua daerah
ini dipahami sebagai pusat yang bertanggung jawab atas perhatian. Dari segi
biokimia jaringan otak, banyak penderita autistik menunjukkan kenaikan dari
serotonin dalam darah dan cairan serebrospinal dibandingkan dengan orang
normal.
5. Gambaran Klinis
Perkembangan abnormal terlihat sebelum usia 3 tahun dengan konstelasi
gangguan dalam interaksi sosial dan komunikasi, terbatas dan berulang kepentingan
dan perilaku.5
a. Terganggu interaksi sosial
Ada ketidakmampuan untuk membentuk hubungan dengan teman sebaya
usia, dan kurang mengembangkan keterampilan empati (kemampuan untuk
memahami bagaimana orang lain merasa dan berpikir). Bermain imitasi kurang dan
biasanya kontak mata dihindari. Selain itu pada kualitas tatapan berbeda, menjadi
lebih tetap (kaku) dan lebih tahan lama dibandingkan non-autistik individu. Banyak
anak yang menolak dipegang atau disentuh, meskipun mereka bisa menikmati
kontak tubuh jika mereka memulainya. Kesulitan anak-anak ini dalam berinteraksi
sering membuat sulit bagi orang lain untuk hangat dengan mereka. Orang tua
mungkin merasa bersalah tentang kurangnya kehangatan yang mereka hadirkan

6
sendiri. Kelainan komunikasi pembangunan dari usia dini adalah masalah
memahami isyarat dan pidato, dengan penundaan yang pasti dalam pengembangan
dan pemahaman bahasa lisan. 5
Satu dari dua anak dengan autis gagal untuk mengembangkan bahasa lisan
yang bermanfaat, dan melakukannya dalam bentuk yang normal. Tidak memiliki
komunikasi sosial kesana kemari, seringkali diulang-ulang atau mengambil bentuk
monolog. Sebagai hasil dari ketidakmampuan mereka untuk berkomunikasi dengan
"dunia batin" orang lain, mereka belajar melalui menyalin apa yang mereka lihat
dan dengar. Mereka mungkin mengacu pada diri mereka sebagai "Anda" atau "dia",
ulangi kata-kata dalam arti cara (echolalia), atau mengambil pada pidato stereotip
terdengar di lain dan digunakan dalam konteks yang salah. Kelainan pada intonasi,
ritme dan lapangan juga dapat hadir (Dysprosidy). Pemahaman bahasa lisan
dikompromikan. Meskipun banyak memahami kata-kata individu, masalah yang
timbul saat ini diurutkan bersama-sama. Tidak ada pemahaman metafora, sarkasme
ironi, dan berlebihan, namun penggunaan ujaran orang dewasa dan tidak adanya
ekspresi perasaan dapat memberikan kualitas pseudomature atau bahkan
pseudoprofound untuk pidato. 5
Masalah komunikasi non-verbal termasuk kurangnya penilaian jarak
interpersonal, tatapan mata yang lama, atau tidak pantas melihat mulut daripada
mata. Mungkin ada sesuatu dari tubuh dibatasi untuk hadir dan gerakan wajah.
Obyek berbagi dan menunjuk ini terutama terbatas. Orangtua dan guru mungkin
mengalami kesulitan komunikasi sebagai ketidakmampuan untuk "melewati
mereka" atau pengalaman menjadi "dikunci".5

b. Terbatas dan berulang kepentingan dan perilaku


Anak-anak autis menunjukkan perilaku stereotip dan kepentingan mereka
mungkin menjadi disibukkan oleh bagian tertentu dari mainan, atau tertarik dalam
properti sensorik tertentu dari objek seperti rasa, tekstur, warna, atau bau. Mungkin
mainan berbaris selama berjam-jam. Bermain biasanya tidak simbolik atau
imajinatif dengan kekakuan dan membatasi bermain pola dan kepentingan. Anak
mungkin mengalami diet yang sangat terbatas dan dari waktu ke waktu berhenti
makan sepenuhnya tanpa alasan yang jelas. Rutinitas tertentu ditaati dengan cara

7
yang kaku dengan perubahan kecil menyebabkan ekstrim reaksi. Sebaliknya,
peristiwa besar dalam hidup mungkin tidak terdaftar. Selama keasyikan tahun
sekolah atau minat khusus seperti peta, laporan cuaca dan jadwal kereta api dapat
berkembang. Stereotypies sederhana seperti tangan mengepak, berjingkat berjalan,
jari berputar, berputar dan sering goyang dipamerkan. Orangtua sering bingung
mengenai apakah mereka harus mengakomodasi perilaku ini atau mencoba untuk
memodifikasi mereka. 5
c. Abnormal terhadap respon rangsangan sensorik
Dari usia yang sangat muda respon abnormal sensorik stimulus dapat hadir,
kadang-kadang menyesatkan klinisi ke mencurigai bahwa anak ini baik buta atau
tuli. Ekstrim respon dan kepekaan terhadap suara dapat dilihat, seperti mengabaikan
ledakan untuk menutupi telinga ketika pembungkus dari manis dihapus. Meskipun
sentuhan ringan atau stroke dapat mengakibatkan penarikan, anak sengaja dapat
menggigit dan membakar bagian tubuh atau Bang kepala mereka. Jika nuansa
kotoran terutama yang menarik bagi anak, mengolesi feses mungkin ketegangan
yang menonjol atau bahkan melegakan. Tanggapan terhadap rangsangan visual
yang mungkin termasuk pesona dengan kontras cahaya dan mengintip pada objek
dalam cara yang tidak biasa dan dengan visi perifer. Hiperaktif bersamaan dan
mode makanan yang umum. Fitur mencolok adalah hilangnya commensurability
dari menanggapi rangsangan-kehilangan "fine tuning".5
c. Intelijen
Sekitar tiga perempat dari individu autis memiliki IQ di bawah ini 70,
dengan IQ sebagai prediktor yang paling kuat hasil. Terlepas dari IQ ada profil
kognitif yang berbeda dengan kemampuan visuospatial kuat dan symbolisation
miskin, pemahaman tentang ide-ide abstrak dan keterampilan kreatif. Sebuah
minoritas menunjukkan pulau kemampuan khusus (autistik sarjana), seperti
keterampilan numerik, kalender dan keterampilan di bidang musik dan seni. 5

6. Kriteria Diagnosis
Kriteria Diagnosis Autistik Berdasarkan DSM IV:
A. Total enam atau lebih hal dari 1, 2 dan 3 dengan sekurangnya dua dari 1 dan
masing-masing satu dari 2 dan 3.

8
1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial seperti ditujukan oleh
sekurangkurangnya dua dari berikut:
a) Gangguan jelas dalam penggunaan perilaku nonverbal multipel seperti
tatapan mata, ekspresi wajah, postur tubuh dan gerak-gerik untuk
mengatur interaksi sosial.
b) Gagal untuk mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang
sesuai menurut tingkat perkembangan.
c) Tidak adanya keinginan spontan untuk berbagi kesenangan, minat, atau
pencapaian dengan orang lain (misalnya tidak memamerkan, membawa,
atau menunjukkan benda yang menarik minat).
d) Tidak ada timbal balik sosial atau emosional.
2. Gangguan kualitatif dalam komunikasi seperti yang ditujukkan oleh
sekurangnya satu dari berikut:
a) Keterlambatan dalam atau sama sekali tidak ada, perkembangan bahasa
ucapan (tidak disertai oleh usaha untuk berkompensasi melalui cara
komunikasi lain seperti gerak-gerik atau mimik).
b) Pada individu dengan bicara yang adekuat gangguan jelas dalam
kemampuan untuk memulai atau mempertahankan percakapan dengan
orang lain.
c) Pemakaian bahasa atau bahasa idiosinkratik secara stereotipik dan
berulang.
d) Tidak adanya berbagai permainan khayalan atau permainan pura-pura
sosial yang spontan yang sesuai menurut tingkat perkembangan.
3. Pola perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas, berulang, dan stereotipik,
seperti ditunjukkan oleh sekurangnya satu dari berikut :
a) Preokupasi dengan satu atau lebih pola minat yang stereotipik dan
terbatas, yang abnormal baik dalam intensitas maupun fokusnya.
b) Ketaatan yang tampaknya tidak fleksibel terhadap rutinitas atau ritual
yang spesifik dan nonfungsional.
c) Manerisme motorik stereotipik dan berulang (misalnya menjentikkan,
atau memuntirkan tangan atau jari atau gerakan kompleks seluruh
tubuh).

9
B. Keterlambatan atau fungsi abnormal pada sekurangnya satu bidang berikut
dengan onset sebelum usia 3 tahun :
1. Interaksi sosial.
2. Bahasa yang digunakan dalam komunikasi sosial.
3. Permainan simbolik atau imaginatif.
C. Gangguan tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan Rett atau gangguan
disintegratif masa anak-anak

Kriteria Diagnosis Autisme Berdasarkan PPDGJ III 1


Autisme masa kanak
a. Gangguan perkembangan pervasif yang ditandai oleh adanya kelainan dan/atau
hendaya perkembangan yang muncul sebelum usia 3 tahun, dan dengan ciri
kelainan fungsi dalam tiga bidang : interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku
yang terbatas dan berulang. 1
b. Biasanya tidak jelas ada periode perkembangan yang normal sebelumnya,
tetapi bila ada, kelainan perkembangan sudah menjadi jelas sebelum usia 3
tahun, sehingga diagnosis sudah dapat ditegakkkan. Tetapi gejala-gejalanya
(sindrom) dapat didiagnosis pada semua kelompok umur. 1
c. Selalu ada hendaya kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal baik
(reciprocal social interaction). Ini berbentuk apresiasi yang tidak adekuat
terhadap isyarat sosio-emosional, yang tampak sebagai kurangnya respons
terhadap emosi orang lain dan/atau kurangnya modulasi terhadap perilaku
dalam konteks sosial; buruk dalam menggunakan isyarat sosial dan integrasi
yang lemah dalam perilaku sosial, emosional dan komunikatif, dan khususnya,
kurangnya respons timbal balik sosio-emosional. 1
d. Demikian juga terdapat hendaya kualitatif dalam komunikasi. Ini berbentuk
kurangnya penggunaan keterampilan bahasa yang dimiliki di dalam hubungan
sosial; hendaya dalam permainan imaginatif dan imitasi sosial; keserasian yang
buruk dan kurangnya interaksi timbal balik dalam percakapan; buruknya
keluwesan dalam bahasa ekspresif dan kreativitas dan fantasi dalam proses
pikir yang relatif kurang; kurangnya respons emosional terhadap ungkapan
verbal dan non-verbal orang lain; hendaya dalam menggunakan variasi irama

10
atau penekanan sebagai modulasi komunikatif; dan kurangnya isyarat tubuh
untuk menekankan atau memberi arti tambahan dalam komunikasi lisan. 1
e. Kondisi ini juga ditandai oleh pola perilaku, minat dan kegiatan yang terbatas,
berulang dan stereotipik. Ini berbentuk kecenderungan untuk bersikap kaku
dan rutin dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari; biasanya berlaku untuk
kegiatan baru dan juga kebiasaan sehari-hari serta pola bermain. Terutama
sekali dalam masa kanak yang dini, dapat terjadi kelekatan yang khas terhadap
benda-benda yang aneh, khususnya benda yang tidak lunak. Anak dapat
memaksakan suatu kegiatan rutin dalam ritual yang sebetulnya tidak perlu;
dapat terjadi preokupasi yang stereotipik terhadap suatu minat seperti tanggal,
rute atau jadwal; sering terdapat stereotipi motorik; sering menunjukkan minat
khusus terhadap segi-segi nonfungsional dari benda-benda (misalnya bau atau
rasanya); dan terdapat penolakan terhadap perubahan dari rutinitas atau dalam
detil dari lingkungan hidup pribadi (seperti perpindahan mebel atau hiasan
dalam rumah). 1
f. Semua tingkatan IQ dapat ditemukan dalam hubungannya dengan autisme,
tetapi pada tiga perempat kasus secara signifikan tedapat retardasi mental. 1

Autisme tak khas


a. Gangguan perkembangan pervasif yang berbeda dari autisme dalam hal usia
onset maupun tidak terpenuhinya ketiga kriteria diagnostik. Jadi kelainan
dan/atau hendaya perkembangan menjadi jelas untuk pertama kalinya pada usia
setelah 3 tahun; dan/atau tidak cukup menunjukkan kelainan dalam satu atau
dua dari tiga bidang psikopatologi yang dibutuhkan untuk diagnosis autisme
(interaksi sosial timbal-balik komunikasi, dan perilaku terbatas, stereotipik, dan
berulang) meskipun terdapat kelianan yang khas daalam bidang lain. 1
b. Autisme tak khas sering muncul pada individu dengan retardasi mental yang
berat, yang sangat rendah kemampuannya, sehingga pasien tidak mampu
menampakkan gejala yang cukup untuk menegakkan diagnosis autisme; ini juga
tampak pada individu dengan gangguan perkembangan yang khas dari bahasa
reseptif yang berat. 1

11
7. Diagnosis Banding
a. Skizofrenia dengan onset masa anak-anak
Skizofrenia jarang pada anak-anak di bawah 5 tahun. Skizofrenia disertai
dengan halusinasi atau waham, dengan insidensi kejang dan retardasi mental yang
lebih rendah dan dengan IQ yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak autistik.6

Tabel 1. Perbedaan gangguan autistik dan skizofrenia dengan onset masa kanak -
kanak
Kriteria Gangguan Autistik Skizofrenia dengan
onset
masa anak-anak
Usia onset <38 bulan >5 tahun
Insidensi 2-5 dalam 10.000 Tidak diketahui,
kemungkinan sama atau
bahkan lebih jarang
Rasio jenis kelamin 3-4:1 1,67:1
(L:P)
Riwayat keluarga Tidak naik atau Naik
skizofrenia kemungkinan tidak naik
Status sosioekonomi Terlalu mewakili Lebih sering pada SSE
kelompok SSE tinggi Rendah
(artefak)
Kriteria Gangguan Autistik Skizofrenia dengan
onset
masa anak-anak
Penyulit prenatal dan Lebih sering pada Lebih jarang pada
perinatal dan gangguan autistik skizofrenia
disfungsi otak
karakteristik perilaku Gagal untuk Halusinasi dan waham,
mengembangkan gangguan pikiran
hubungan

12
: tidak ada bicara
(ekolalia);
frasa stereotipik; tidak ada
atau buruknya
pemahaman
bahasa; kegigihan atas
kesamaan dan stereotipik.
fungsi adaptif Biasanya selalu terganggu Pemburukan fungsi
Tingkat inteligensi Pada sebagian besar kasus Dalam rentang normal,
subnormal, sering sebagian besar normal
terganggu parah (70%) bodoh (15%-70%)
Pola I.Q. Jelas tidak rata Lebih rata
Kejang Grand mal 4-32% Tidak ada atau insidensi
Rendah

b. Retardasi mental dengan gangguan emosional/perilaku


Kira-kira 40% anak autistik adalah teretardasi sedang, berat atau sangat
berat, dan anak yang teretardasi mungkin memiliki gejala perilaku yang termasuk
ciri autistik. Ciri utama yang membedakan antara gangguan autistik dan retardasi
mental adalah: 6
1. Anak teretardasi mental biasanya berhubungan dengan orang tua atau
anak-anak lain dengan cara yang sesuai dengan umur mentalnya.
2. Mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain.
3. Mereka memilki sifat gangguan yang relatif tetap tanpa pembelahan
fungsi.

c. Gangguan bahasa reseptif /ekspresif campuran


Sekelompok anak dengan gangguan bahasa reseptif/ekspresif memiliki ciri
mirip autistik.6

Tabel 2. Perbedaan gangguan autistik dan gangguan bahasa/ekspresif campuran

13
Kriteria Gangguan autistik Gangguan bahasa
reseptif/ekspresif
campuran
Insidensi 2-5 dalam 10.000 5 dalam 10.000

Ratio jenis kelamin 3-4 : 1 sama atau hampir sama


(L:P)
Riwayat keluarga 25 % kasus 25 % kasus
adanya
keterlambatan bicara /
gangguan bahasa
Ketulian yang sangat jarang tidak jarang
Berhubungan
Komunikasi nonverbal tidak ada/rudimenter Ada
(gerak gerik, dll)
Kelainan bahasa lebih sering lebih jarang
(misalnya ekolalia, frasa
stereotipik diluar
konteks)
Gangguan artikulasi lebih jarang lebih sering
Tingkat intelegensia sering terganggu parah Walaupun mungkin
terganggu, seringkali
kurang parah

Kriteria Gangguan autistik Gangguan bahasa


reseptif/ekspresif
campuran
Pola test IQ tidak rata, rendah pada lebih rata, walaupun IQ
skor verbal, rendah pada verbal lebih rendah dari
sub test pemahaman IQ kinerja
Perilaku autistik, lebih sering dan lebih tidak ada atau jika ada,

14
gangguan kehuidupan parah kurang parah
sosial, aktivitas
stereotipik dan
ritualistik
Permainan imaginatif tidak ada/rudimenter biasanya ada

d. Afasia didapat dengan kejang


Afasia didapat dengan kejang adalah kondisi yang jarang yang kadang sulit
dibedakan dari gangguan autistik dan gangguan disintegratif masa anak-anak.
Anak-anak dengan kondisi ini normal untuk beberapa tahun sebelum kehilangan
bahasa reseptif dan ekspresifnya selama periode beberapa minggu atau beberapa
bulan. Sebagian akan mengalami kejang dan kelainan EEG menyeluruh pada saat
onset, tetapi tanda tersebut biasanya tidak menetap. Suatu gangguan yang jelas
dalam pemahaman bahasa yang terjadi kemudian, ditandai oleh pola berbicara yang
menyimpang dan gangguan bicara. Beberapa anak pulih tetapi dengan gangguan
bahasa residual yang cukup besar.6
e. Ketulian kongenital atau gangguan pendengaraan parah
Anak-anak autistik sering kali dianggap tuli oleh karena anak-anak tersebut
sering membisu atau menunjukkan tidak adanya minat secara selektif terhadap
bahasa ucapan. Ciri-ciri yang membedakan yaitu bayi autistik mungkin jarang
berceloteh sedangkan bayi yang tuli memiliki riwayat celoteh yang relatif normal
dan selanjutnya secara bertahap menghilang dan berhenti pada usia 6 bulan – 1
tahun. Anak yang tuli berespon hanya terhadap suara yang keras, sedangkan anak
autistik mungkin mengabaikan suara keras atau normal dan berespon hanya
terhadap suara lunak atau lemah. Hal yang terpenting, audiogram atau potensial
cetusan auditorik menyatakan kehilangan yang bermakna pada anak yang tuli.
Tidak seperti anak-anak autistik, anak-anak tuli biasanya dekat dengan orang
tuanya, mencari kasih sayang orang tua dan sebagai bayi senang digendong.6
f. Pemutusan psikososial
Gangguan parah dalam lingkungan fisik dan emosional (seperti pemisahan
dari ibu, kekerdilan psikososial, perawatan di rumah sakit, dan gagal tumbuh) dapat
menyebabkan anak tampak apatis, menarik diri, dan terasing. Keterampilan bahasa

15
dan motorik dapat terlambat. Anak-anak dengan tanda tersebut hamper selalu
membaik dengan cepat jika ditempatkan dalam lingkungan psikososial yang
menyenangkan dan diperkaya, yang tidak terjadi pada anak autistik.6

8. Tatalaksana Autisme
Penanganan anak-anak autisme sangat sukar untuk disembuhkan. Bukan
saja oleh karena isolasi mentalnya sudah merupakan dunia anak yang sudah mantap
dan yang disenangi, akan tetapi semua anggota rumah tangga harus ikut serta dalam
terapi kelompok. Gangguan autisme tidak bisa disembuhkan secara total tetapi
gejala-gejala yang timbul dapat dikurangi semaksimal mungkin agar anak tersebut
dapat berbaur dalam lingkungan yang normal. 3
Dalam tatalaksana gangguan autisme, terapi perilaku merupakan yang paling
penting. Metode yang digunakan adalah metode Lovaas. Metode Lovaas adalah
metode modifikasi tingkah laku yang disebut dengan Applied Behavior Analysis
(ABA). Berbagai kemampuan yang diajarkan melalui program ABA dapat
dibedakan menjadi enam kemampuan besar, yaitu: 7
1. Kemampuan memperhatikan
Program ini terdapat dua prosedur. Pertama melatih anak untuk bisa
memfokuskan pandangan mata pada orang yang ada di depannya atau
disebut dengan kontak mata. Yang kedua melatih anak untuk
memperhatikan keadaan atau objek yang ada di sekelilngnya.
2. Kemampuan menirukan
Pada kemampuan imitasi anak diajarkan untuk meniru gerakan motorik
kasar dan halus. Selanjutnya urutan gerakan, meniru tindakan yang disertai
bunyi-bunyian.
3. Bahasa reseptif
Melatih anak agar mempunyai kemampuan mengenal dan bereaksi terhadap
seseorang, terhadap kejadian lingkungan sekitarnya, mengerti maksud
mimik dan nada suara dan akhirnya mengerti kata-kata.
4. Bahasa ekspresif
Melatih kemampuan anak untuk mengutarakan pikirannya, dimulai dari
komunikasi preverbal (sebelum anak dapat berbicara), komunikasi dengan

16
ekspresi wajah, gerakan tubuh dan akhirnya dengan menggunakan kata-kata
atau berkomunikasi verbal
5. Kemampuan preaakademis
Melatih anak untuk dapat bermain dengan benar, memberikan permainan
yang mengajarkan anak tentang emosi, hubungan ketidakteraturan, dan
stimulus-stimulus di lingkungannya seperti bunyi-bunyian serta melatih
anak untuk mengembangkan imajinasinya lewat media seni seperti
menggambar benda-benda yang ada di sekitarnya.
6. Kemampuan mengurus diri sendiri
Program ini bertujuan untuk melatih anak agar bisa memenuhi kebutuhan
dirinya sendiri. Pertama anak dilatih untuk bisa makan sendiri. Yang kedua,
anak dilatih untuk bisa buang air kecil atau yang disebut toilet training.
Kemudian tahap selanjutnya melatih mengenakan pakaian, menyisir
rambut, dan menggosok gigi.

Terapi Medikamentosa
Pemberian obat pada anak harus didasarkan pada diagnosis yang tepat,
pemakaian obat yang tepat, pemantauan ketat terhadap efek samping dan mengenali
cara kerja obat. Perlu diingat bahwa setiap anak memiliki ketahanan yang berbeda-
beda terhadap efek obat, dosis obat dan efek samping. Oleh karena itu perlu ada
kehati-hatian dari orang tua dalam pemberian obat yang umumnya berlangsung
jangka panjang. Saat ini pemakaian obat diarahkan untuk memperbaiki respon anak
sehingga diberikan obat-obat psikotropika jenis baru seperti obat-obat
antidepressan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor) yang bisa memberikan
keseimbangan antara neurotransmitter serotonin dan dopamin. Yang diinginkan
dalam pemberian obat ini adalah dosis yang paling minimal namun paling efektif
dan tanpa efek samping. 6,7
Saat ini pemakaian obat diarahkan untuk memperbaiki respon anak sehingga
diberikan obat-obat psikotropika jenis baru seperti obat-obat antidepressan SSRI
(Selective Serotonin Reuptake Inhibitor) yang bisa memberikan keseimbangan
antara neurotransmitter serotonin dan dopamin. Bisa juga benzodiazepin seperti
misalnya fluoxentine (prozac), risperidone (risperdal.)Yang diinginkan dalam

17
pemberian obat ini adalah dosis yang paling minimal namun paling efektif dan
tanpa efek samping. 6,7
Pemakaian obat akan sangat membantu untuk memperbaiki respon anak
terhadap lingkungan sehingga ia lebih mudah menerima tata laksana terapi lainnya.
Bila kemajuan yang dicapai cukup baik, maka pemberian obat dapat dikurangi
bahkan dihentikan. 6,7

9. Prognosis
Prognis untuk penyandang autis tidak selalu buruk. Bagi banyak anak,
gejala autisme membaik dengan pengobatan dan tergantung pada umur. Beberapa
anak autis tumbuh dengan menjalani kehidupan normal atau mendekati normal.
Anak-anak dengan kemunduran kemampuan bahasa di awal kehidupan, biasanya
sebelum usia 3 tahun, mempunyai resiko epilepsi atau aktivitas kejang otak. Selama
masa remaja, beberapa anak dengan autisme dapat menjadi depresi atau mengalami
masalah perilaku. Dukungan dan layanan tetap dibutuhkan oleh penderita autis
walaupun umur bertambah, tetapi ada pula yang dapat bekerja degan sukses dan
hidup mandiri dalam lingkungan yang juga mendukung. 6,8

DAFTAR PUSTAKA

18
1. Widayanti, ika, Elvira, Sylvia D (Editor). 2013. Autisme Masa Kanak dalam
Buku Ajar Psikiatri Edisi Kedua. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
2. Rahmawati D. 2002. Gangguan Berbahasa dan Bicara Pada Anak Dengan
Autisme Infantil: Kumpulan Makalah Simposium Neuropediatri “The Child
Who Does Not Speak”. Semarang: Fakultas Kedokteran Uniniversitas
Dipenogoro.
3. Yusuf, EA. 2003. Autisme: Masa Kanak. Sumatra Utara: Universitas Sumatra
Utara.
4. Chamberlin, Stacey;Narins, Brigham.2005. The Gale Encyclopedia of
Neurological Disorders volume 1. USA.
5. John M Leventhal, MD. 2010. Practical Child Psychiatry: The clinician’s
guide. Diakses dari http://dl4a.org/uploads/pdf/Practical.Child.Psychiatry.pdf
pada tanggal 19 Desember 2016
6. Sadock, Benjamin James; Sadock, Virginia Alcott. 2007. Kaplan & Sadock's
Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition.
New York.
7. Campbell JM, Morgan SB, et al. 2004. Autism Spectrum Disorder and Mental
Retardation. New York.
8. National institute of Neurological Disorder and Stroke. 2009. Autism Fact
Sheet. Diakses dari http://www.ninds.nih.gov pada tanggal 19 Desember 2016

19