Вы находитесь на странице: 1из 9

Peran Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau dalam Pelestarian Budaya Daerah

di Provinsi Riau.
Oleh:

PUTI BUNGSU

(bungsuputti21@yahoo.com)
Pembimbing: Dr. Febri Yuliani, S.Sos, M.Si.
Jurusan Ilmu Administrasi – Prodi Ilmu Administrasi Publik
Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Universitas Riau
Kampus Bina Widya Jl. H.R. Soebrantas Km. 12,5 Simp. Baru Pekanbaru

288293-Telp/Fax. 0761-63277
Abstract
Developing the culture in province is form the local government to keep Riau Malay
culture. LAM Riau have a role to arranging a plan and managing the activity and developing
custom activity too, art/ culture society, and making efficient use of culture assets and relic
from history by inventorying. But this way still running not well. How does the LAM Riau
roles in conservating Melayu Riau culture in Riau Province and what the factor that
influence LAM Riau roles to conservating the culture in Riau culture.

The concept of the theory used is organization development by Sondang P. Siagian


(2012) to confronting the changes consist of education and commucation; participation;
effort to expedite and give support, negotiation; and compulsion. This study uses qualitative
methods research with descriptive data analysis. The author uses data collection techniques
interviews, observation, and library studies. With the use of Key Informants as a source of
information and using the technique of triangulation as a source in the vadilitas test data.
Based on the result of the research, LAM Riau roles to conservating the culture in
Riau province hasn’t been done optimally, it is still an implementation the roles which has
not been reached, like participation to society generally still far from our prospect,
negotiation between the manager is so not binding. Factors that affect the implementation of
the strategy are human resources have not been sufficient good, e lack of funds owned, andd
determining authority or policy that can not made by LAM Riau.

Keywords: Organization Development, Conservating, Malay Culture

JOM FISIP No 2 Vol 2 Oktober 2015 Page 1


PENDAHULUAN Melayu yang terdapat dalam Daerah
Riau yang serasi dengan hukum syara’
Adat Istiadat dan budaya Melayu Riau dan hukum negara;
adalah seperangkat nilai-nilai kaidah- 2. Menanam dan memperluas
kaidah dan kebiasaan yang tumbuh dan pengetahuan masyarakat Melayu
berkembang sejak lama bersamaan dengan terhadap Adat Istiadat dan Nilai Sosial
pertumbuhan dan perkembangan Budaya Melayu dalam membentuk
masyarakat yang telah dikenal, dihayati generasi penerus yang berjati diri ke
dan diamalkan oleh yang bersangkutan Melayuan dan bermanfaat dalam
secara berulang-ulang secara terus- mengangkat Tuah, Marwah, Harkat
menerus dan turun-temurun sepanjang dan Martabat Melayu dalam
sejarah. adat istiadat dan budaya Melayu kehidupan bermasyarakat, berbangsa
Riau yang tumbuh dan berkembang dan bernegara;
sepanjang zaman tersebut dapat 3. Mengadakan dan mengupayakan
memberikan andil yang cukup besar kerjasama yang serasi dan bermanfaat
terhadap kelangsungan hidup dengan semua golongan masyarakat
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. lainnya dan Pemerintah;
Sebagai tindak lanjut Peraturan 4. Memberikan pendapat dan saran baik
Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun diminta maupun tidak diminta, kepada
2007 tentang pedoman Fasilitasi Pemerintah Daerah dalam
Organisasi Kemasyarakatan Bidang meningkatkan peran serta masyarakat
Kebudayaan, Keraton, dan Lembaga Adat Adat untuk menggerakkan proses dan
dalam Pelestarian dan Pengembangan pelaksanaan pembangunan Daerah
Budaya Daerah yang mana membahas Riau serta pelestarian Nilai-Nilai
tentang bagaimana Menteri Dalam Negeri Adat;
melakukan pembinaan terhadap 5. Mengupayakan pengembalian dan
pemerintah daerah, selanjutnya pihak pemulihan hak-hak tradisional dan
pemerintah daerah melaksanakan konstitisional Masyarakat Adat
pembinaan terhadap satuan kerja Melayu sesuai dengan rasa keadilan,
perangkat daerah terkait pemberian kepatutan dan perundang-undangan
fasilitas dalam pengembangan dan yang berlaku.
pelestarian budaya daerah di provinsi. Peran serta lembaga adat melayu riau
Selanjutnya kepala daerah dan pimpinan dalam pelestarian budaya daerah yang
lembaga adat secara bersama-sama terdapat dalam Peraturan Daerah Provinsi
menindaklanjuti kebijakan pembinaan Riau No. 1 Tahun 2012 pada Bab IX Pasal
dengan melakukan penyesuaian 11, LAM Riau di setiap tingkatan
perencanaan dan kegiatan. Peraturan ini berperan:
dijadikan pedoman dalam melakukan a. melakukan inventarisasi aktifitas adat
pengembangan dikaitkan dengan istiadat, seni dan nilai sosial budaya
pelestarian adat dan budaya daerah secara Daerah;
sinergis, terencana dan berkesinambungan. b. melakukan inventarisasi aset kekayaan
Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau budaya dan peninggalan sejarah
ini memiliki tugas pokok sebagaimana daerah;
diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi c. melakukan penyusunan rencana dan
Riau No. 1 Tahun 2012 pada Bab VII Pasal pelaksanaan kegiatan pengelolaan
9, yaitu : serta pengembangan aktifitas adat,
1. Mengadakan usaha-usaha penemuan, seni/nilai sosial budaya daerah; dan
pengumpulan dan pengelolaan bahan-
bahan serta data Adat dan Budaya
JOM FISIP No 2 Vol 2 Oktober 2015 Page 2
d. melakukan penyusunan rencana dan dilinkungan pemerintahan, pendidikan
pelaksanaan kegiatan pemeliharaan bahkan dikalangan masyarakat pada
serta pendayagunaan aset kekayaan umumnya.
budaya dan peninggalan sejarah 2. Masyarakat Riau masa kini lebih
daerah. dominan menggunakan busana-busana
Harapan untuk menjadikan daerah modern yang merujuk kepada budaya
Riau sebagai pusat Budaya Melayu se- asing (selain melayu). Bahkan jika
Asia Tenggara ini merupakan terget baru ditemui sekarang ini masih ada
yang sedang dibidik oleh Lembaga Adat beberapa masyarakat yang tetap
Melayu (LAM) Riau dan menjadi berbusana melayu dalam beberapa
komitmen baru dalam rangka pencapaian kegiatan, namun tidak seutuhnya lagi
visi dan misi Riau 2020. Adat Melayu memiliki makna berpakaian secara
Riau bersifat hakiki dan tidak boleh melayu yang sebenarnya. Banyak
terkikir oleh masa dan moderenisasi masyarakat yang sekarang lebih
dengan masuknya budaya baru. Tapi justru memilih berbusana yang praktis yang
budaya Melayu harus dipupuk dan terus tentu saja dapat mengikis nilai-nilai
dikembangkan dan terus menyesuaikan berpakaian secara melayu.
dengan mengambil nilai-nilai positif dari Banyak masalah dan tantangan yang
budaya yang masuk. harus dihadapi baik internal maupun
Faktanya di Riau saat ini banyak eksternal, jika tidak diarahkan secara tepat
mengalami perubahan dan pergeseran dapat mengakibatkan kehilangan identitas
nilai-nilai budaya didalam masyarakat asli nya. Oleh karena Lembaga Adat
akibat kemajuan ilmu dan teknologi, yang Melayu (LAM) Riau merupakan lembaga
selanjutnya memberi peluang semakin yang berkaitan erat dengan usaha
terabaikannya adat dan budaya Melayu itu pelestarian nilai-nilai budaya daerah, maka
sendiri. Dalam menghadapi fenomena lembaga inilah yang memiliki peran besar
sosial modern dimana nilai-nilai budaya dalam konteks ini. Namun berdasarkan
asing semakin menguat intervensinya, hasil prariset dilapangan, peneliti melihat
yang mulai mengikis nilai-nilai budaya masih terdapat beberapa kekurangan yang
daerah. ada di internal lembaga ini, salah satunya
Seiring dengan lemahnya kedudukan terbukti bahwa lembaga ini tidak memiliki
dan peran pemangku dan pemuka Adat, visi dan misi secara tertulis. Sesuai dengan
memberi peluang semakin terabaikannya bidang-bidang yang ada dilembaga ini,
adat dan budaya Melayu dalam masyarakat mereka belum memliki program kerja
di Provinsi Riau yang multikultural. yang jelas baik secara tertulis bahkan
Beberapa hal yang terkait dengan pendokumentasian secara administratif
kejadian ini dapat dilihat dengan adanya belum terlaksana sebagaimana mestinya.
indikasi masih rendahnya sosialisasi
tentang nilai-nilai sosial budaya melayu TINJAUAN PUSTAKA
yang dilakukan oleh pihak Lembaga Adat
Melayu (LAM) Riau kepada Menurut Siagian (2012:3-15)
masyarakatnya. Fenomena yang terjadi di Pengembangan organisasi dikatakan
Provinsi Riau saat ini yaitu sebagai sebaagai instrumen ilmiah dalam
berikut: meningkatkan efektivitas dan kesehatan
1. Dalam tata cara berbicara masih organisasi karena pengembangan
banyak ditemui masyarakat yang tidak organisasi mengandung unsur-unsur :
menggunakan bahasa melayu dalam 1. terencana,
berbagai kegiatan, baik itu 2. mencakup seluruh organisasi,
3. berdampak jangka panjang,
JOM FISIP No 2 Vol 2 Oktober 2015 Page 3
4. melibatkan manajemen puncak, untuk melakukan tugas dan peran
5. menggunakan berbagai bentuk tersebut, hendaknya didasarkan atas
intervesi berdasarkan pendekatan pengetahuan dan keterampilan atas
keprilakuan. tugas tersebut. Tidak didasarkan atas
Faktor-faktor yang menyebabkan pilih kasih dan perasaan tidak suka.
timbulnya tantangan dan perubahan Pengembangan oragnisasi senantiasa
tersebut adalah sebagai berikut: berdasarkan pada ilmu pengetahuan,
a. Tantangan utama masa depan, akal sehat, dan didukung adanya
b. Perubahan dalam konfigurasi keterampilan-keterampilan tertentu.
ketenagakerjaan, Bukan atas dasar emosi.
c. Tingkat pendidikan para pekerja, 4. Untuk meningkatkan derajat
d. Teknologi, keterbukaan dalam berkomunikasi
e. Situasi perekonomian, baik vertikal, horizontal mapun
f. Berbagai kecenderungan sosial diagonal. Dengan demikian tujuan ini
g. Faktor geopolitik, tidak mengenal kerahasiaan, artinya
h. Persaingan, bahwa aktifitas pembinaan organisasi
i. Pelestarian lingkungan. itu bukanlah misterius dan serba
Walaupun masing-masing organisasi rahasia.
mempunyai tujuan yang berbeda-beda 5. Untuk meningkatkan tingkat
dalam mengembangkan, membina, kesemangatan dan kepuasan orang-
membaharui dan menyempurnakan orang yang ada didalam organisasi.
organisasinya, akan tetapi secara umum Semangat kerja yang ada dan
tujuan dari pemngembangan organisasi kepuasan yang diperoleh semua orang
dapat diamati sebagai berikut : didalam organisasi, melalui
1. Untuk meningkatkan kepercayaan dan pembinaan organisasi dapat
dukungan diantara para anggota ditingkatkan. Dengan demikian
organisasi. Tujuan ini tercermin dari pembinaan organisasi lebih
pengertian kolaborasi yang ingin berorientasi pada segi personal
menciptakan saling kepercayaan dibandingkan dengan segi
antara atasan dan atasan, atasan nonpersonal.
bawahan, dan antara bawahan dengan 6. Untuk mendapatkan pemecahan yang
bawahan. sinergitik terhadap masalah-masalah
2. Untuk meningkatkan kesadaran yang mempunyai frekuensi besar. Ini
berkonfrontasi dengan masalah- dapat diartikan sebagai sejumlah
masalah organisasi, baik dalam energi dari suatu kelompok yang dapat
kelompok ataupun antara anggota- dikendalikan.
anggota kelompok. Tujuan ini 7. Untuk meningkatkan tingkat
bermaksud bahwa setiap ada masalah pertanggungjawaban pribadi dan
dalam organisasi, maka masalah kelompok baik didalam pemecahan
tersebut tidak boleh dibiarkan. Dengan masalahnya maupun didalam
pembinaan organisasi semua masalah pelaksanaannya.
akan dicari pemecahannya. Salah satu pembenaran yang paling
3. Meningkatkan suatu lingkuangan kuat bagi pengembangan organisasi ialah
“kewenangan dalam tugas” yang pandangan yang mengatakan bahwa agar
didasarkan atas pengetahuan dan berhasil pada dekade sekarang dan siap
keterampilan. Hal ini berarti bahwa memasuki abad ke 21, organisasi harus
setiap tugas dan peranan yang mampu mewujudkan perubahan. Ciri-ciri
didalamnya melekat kewenangan perubahan yang berhasil itu antara lain :

JOM FISIP No 2 Vol 2 Oktober 2015 Page 4


a. Kemampuan bergerak lebih cepat b. Jenis dan Sumbar Data
dalam arti lebih inovatif dan tanggap Penelitian ini menggunakan dua jenis
terhadap tunttutan lingkungannya; sumber data, yakni data primer dan data
b. Sadar tentang komitmennya pada skunder sesuai dengan klasifikasi atau
peningkatan mutu produk yang pengelompokkan informasi atau data yang
dihasilkan, berupa barang dan jasa; telah diperoleh.
c. Peningkatan keterlibatan para anggota a. Data Primer
organisasi dalam proses pengambilan Yaitu data yang diperoleh dari
keputusan. Terutama yang hasil wawancara dan pengamatan
menyangkut karier, pekerjaan dan penelitian yang berkaitan langsung
penghasilannya; dengan permasalahan yang dihadapi
d. Organisasi yanng strukturnya atau diperoleh melalui kegiatan yang
menjurus kepada bentuk yag semakin dilakukan penulis dengan langsung
datar dan bukan piramidal, antara lain turun ke lokasi penelitian untuk
berkat penerapan teknologi dan mendapatkan data yang lengkap dan
perubahan kultur organisasi. berkaitan dengan masalah yang diteliti,
Menurut Siagian (2012:93) dalam yaitu langsung dari informan yang
menghadapi kecenderungan terhadap menjadi objek penelitian, yaitu : Peran
perubahan maka dapat dilakukan dengan Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau
hal-hal berikut ini : dalam Pelestarian Budaya Daerah di
1. Pendidikan dan komunikasi. Provinsi Riau.
2. Partisipasi. b. Data Skunder
3. Upaya memperlancar dan memberikan Yaitu data yang diperoleh dari
dukungan. dokumen-dokumen atau laporan-
4. Negosiasi. laporan yang ada kaitannya dengan
5. Manipulasi dan kooptasi. masalah penelitian. Data yang
6. Paksaan. digunakan sebagai sarana pendukung
untuk memahami masalah yang akan
HASIL DAN PEMBAHASAN diteliti yang diperoleh dari instansi
atau kantor yang terkait dengan tujuan
Metode analisa data yang di pakai perolehan data. Serta dari perpustakaan
dalam penelitian ini adalah metode untuk mendapatkan teori-teori tertentu
kualitatif yaitu berusaha memaparkan data yang relevan dengan permasalahan
yang ada dari berbagai sumber dan penelitian termasuk peraturan yang
menghubungkan fenomena-fenomena berlaku.
yang ada serta menelusuri segala fakta c. Informan Penelitian
yang berhubungan dengan permasalahan Subjek penelitian adalah pihak yang
yang dibahas berdasarkan hasil penelitian mengetahui atau memberikan informasi
tentang Peran Lembaga Adat Melayu maupun kelengkapan mengenai objek
(LAM) Riau dalam Pelestarian Budaya penelitian. Peneliti menggunakan informan
Daerah di Provinsi Riau. penelitian melalui key informan. Adapan
a. Lokasi Penelitian yang menjadi key informan dalam
Penelitian ini dilaksanakan pada penelitian ini adalah Kepala Bidang
Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau Dewan Pimpinan Harian (DPH) Lembaga
tingkat provinsi yaitu di Balai Adat Adat Melayu (LAM) Riau. Untuk
Melayu Riau jalan Diponegoro, Pekanbaru memperoleh informasi tersebut peneliti
serta tokoh budayawan melayu dan menggunakan teknik Snowball Sampling.
masyarakat yang ada di Riau.

JOM FISIP No 2 Vol 2 Oktober 2015 Page 5


Adapun yang menjadi informan dalam 3. Studi Pustaka
penelitian ini adalah sebagai berikut : Penulis dalam memperoleh
1. Ketua Dewan Pimpinan Harian informasi juga memakai buku-buku
Lembaga Adat Melayu Riau literatur dan situs internet yang
2. Koordinator Bidang Pendataan/ berhubungan dengan penelitian ini.
Pendokumentasian/ Pengkajian e. Analisis Data
dan Pegembangan Nilai-nilai Analisa data yang dilakukan dalam
Adat dan Budaya Melayu Riau penelitian ini adalah menggunakan metode
3. Koordinator Bidang Pembinaan deskriptif kualitatif, yaitu data-data yang
dan Pelestarian Pengembangan diperoleh akan dibahas secara menyeluruh
Seni Budaya berdasarkan kenyataan yang terjadi di
4. Tokoh Budayawan Melayu dan lembaga tempat penelitian ini
Masyarakat dilaksanakan, kemudian dibandingkan
d. Teknik Pengumpulan Data dengan konsep maupun teori-teori yang
Teknik pengumpulan data merupakan mendukung pembahasan terhadap
langkah yang paling strategis dalam permasalahan dalam penelitian ini, dan
penelitian, karena tujuan utama dari kemudian mengambil kesimpulan yang
penlitian adalah mendapatkan data berlaku umum.
(Sugiyono : 2009 ). Untuk mendapatkan Dalam hal ini, peneliti menggunkan
data pada penelitian ini, penulis teknik pemeriksaan keabsahan data dengan
menggunakan cara sebagai berikut : triangulasi. Triangulasi adalah teknik
1. Observasi pemeriksaan keabsahan data yang
Yaitu dimana penulis melakukan memanfaatkan sesuatu yang lain. Diluar
pengamatan langsung terhadap objek dari data itu untuk pengecekan atau
yang akan diteliti mengenai Peran sebagai pendamping terhadap data itu.
Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau Teknik triangulasi yang peneliti gunakan
dalam Pelestarian Kebudayaan Daerah adalah teknik triangulasi dengan sumber,
di Propinsi Riau. Proses ini yaituu membandingkan dan mengecek
berlangsung dengan pengamatan yang kembali derajat kepercayaan suatu
meliputi melihat dan mencatat informasi yang diperoleh melalui waktu
kejadian. Observasi bisa dikatakan dan alat yang berbeda dalam penelitian
sebagai kegiatan yang menjadi kualitatif. Hal tersebut dapat dicapai
pencatatan secara sistematik kejadian, dengan cara membandingkan data hasil
prilaku objek yang dilihat dan hal-hal pengamatan dengan data hasil wawancara
yang diperlukan dalam mendukung dan membandingkan hasil wawancara
penelitian yang sedang di teliti. dengan isi suatu dokumen yang berkaitan
2. Wawancara (Lexy J. Maleong, 2004:330).
Wawancara adalah tanya jawab
antara dua orang atau lebih SIMPULAN
(narasumber) dan mencatat jawaban
sari pertanyaan yang diberikan serta ini Berdasarkan hasil penelitian yang penulis
merupakan salah satu alat utama yang lakukan tentang Peran Lembaga Adat
digunakan dalam pengumpulan Melayu (LAM) Riau dalam Pelestarian
informasi. Ini dilakukan untuk Budaya Daerah di Provinsi Riau dapat di
mendiskusikan topik tertentu secara tarik kesimpulan sebagai berikut :
rinci dengan sejumlah kecil orang yang 1. Peran Lembaga Adat Melayu (LAM)
sesuai dengan pengalaman dan Riau dalam pelestarian budaya daerah
kecenderungan mereka. di Provinsi Riau berdasarkan
indikator-indikator dalam menghadapi
JOM FISIP No 2 Vol 2 Oktober 2015 Page 6
perkembangan dan perubahan yang 2. Untuk sesama pengurus Lembaga
terjadi belum tercapai. Hal ini Adat Melayu (LAM) Riau agar
dikarenakan lembaga ini belum dapat meningkatkan kualitas
mampu melaksanakan peran, tugas sumber daya manusianya. Hal ini
dan fungsinya secara maksimal. bisa dilakukan dengan mengadakan
Secara keseluruhan kelemahannya pelatihan dalam berorganisasi atau
masih terkait dengan pelaksanaan jika diperlukan dengan
operasional kelembagaan ini sehari- mendatangkan orang atau tim dari
hari, apalagi dalam pelaksanaan pihak luar yaitu sebagai konsultan
pelesatrian budaya daerah belum dapat untuk dapat memberikan perubahan
terwujud sebagaimana dengan yang didalam organisasi tersebut. Karena
diinginkan. tidak menutup kemungkinan kita
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi yang berada didalamnya terkadang
proses Peran Lembaga Adat Melayu tidak dapat merasakan dan
(LAM) Riau dalam pelestarian budaya mengetahui masalah apa yang
daerah di Provinsi Riau berdasarkan terjadi didalam internal organisasi
observasi langsung adalah faktor kita sendiri, dan pihak luar yang
internal yaitu berupa sumber daya selama ini tidak terlibat terkadang
manusia yang mendukung dan sumber juga memiliki kemampuan tertentu
daya dana yang menjadi salah satu yang dapat membantu proses
faktor penghambat jalannya lembaga penyelesaiannya.
ini. Selanjutnya faktor eksternal yang 3. Kegiatan-kegiatan LAM Riau
mempengaruhinya adalah penentuan jangan terlalu fokus dan
kewenangan yang tidak bisa dilakukan ditargetkan untuk lingkungan
oleh Lembaga adat ini. pendidikan saja, tetapi hendaknya
diimbangi juga dengan kegiatan-
SARAN kegiatan untuk semua kalangan
masyarakat Riau.
Dari penelitian yang telah dilakukan
dan masalah-masalah yang ditemukan, ada DAFTAR PUSTAKA
beberapa saran dari peneliti yang
diharapkan membangun serta dapat Blau, Peter M. & W. Richard Scott. 1962.
dijadikan masukan dan juga pertimbangan Formal Organizations: A
oleh pihak-pihak yang terkait. Adapun Comparative Approach. San
saran yang dapat diberikan oleh penulis Francisco: Chandler Publishing Co.
dalam penelitian ini adalah: Effendy, Tenas. 2004. Tunjuk Ajar
1. Lembaga Adat Melayu (LAM) Melayu (Butir-butir Budaya
Riau lebih meningkatkan perannya Melayu). Yogyakarta : Adicita
dalam pelestarian budaya daerah Karya Nusa.
Riau. Terutama dari segi Endarmoko, E. 2006. Tesaurus Bahasa
pelaksanaan kegiatan, sosialisasi- Indonesia. Cet. I; Jakarta: PT
sosialisasi yang berhubungan Gramedia.
dengan pelesatrian budaya melayu, Etzioni, Amitai. 1985. Organisasi-
hendaknya lebih ditingkatkan lagi Organisasi Modern. Terjemahan.
agar kemelayuan di Riau bisa tetap Jakarta: Universitas Indonesia Press.
bertahan dan dirasakan oleh Gufron, 1994. Pemikiran dan Tahapan
masyarakat setempat. dalam Pelestarian Permukiman
Tradisional

JOM FISIP No 2 Vol 2 Oktober 2015 Page 7


Hendropuspito, O.C. 1989. Sosiologi Thoha, Miftah. 2002. Peminaan
Sistematik. Jakarta: Penerbit Organisasi: Proses Diagnosa dan
Kanisius. Intervensi. Jakarta: Raja Grafindo
Indrawijaya, Adam I. 2000. Perilaku Persada.
Organisasi. Bandung: Sinar Baru Uphoff, Norman.T. 1986. Local
Algesindo. Institutional Development: An
Ismail, Musa. 2007. Membela Marwah Analitycal Sourcebook with Cases.
Melayu. Pekanbaru: UIR Press. West Hartford Connecticut:
Lubis, S.B. Hari & Martani Huseini. 1987. Kumarian Press.
Teori Organisasi: Suatu
Pendekatan Makro. Depok: Pusat Website:
Antar Universitas Ilmu-ilmu Sosial www.lamriau.org
Universitas Indonesia (PAU-IS-UI).
Lutfi, Muchtar.1977. Sejarah Riau. http://kbbi.web.id
Pekanbaru: Universitas Riau
Maleong, J. Lexy. 2004. Metodologi
Penelitian Kualitatif. Bandung. PT
Remaja Rosdakarya.
Martindale, Donn. 1966. Institutions,
Organizations, and Mass Society.
New York: University of Minnesota.
Martoadmojo,Karmidi. 1993. Pelestarian
Bahan Pustaka. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Peursen, C.A. Van. 1988. Strategi
Kebudayaan. Yogyakarta :
Kanisius.
Ranjabar, Jacobus. 2006. Sistem Sosial
Budaya Indonesia. Bogor :Ghalia
Indonesia.
Saharuddin. 2001. Nilai Kultur Inti dan
Institusi Lokal Dalam Konteks
Masyarakat Multi-Etnis. Depok:
Program Pascasarjana Universitas
Indonesia.
Sedyawati, Edi. 2014. Kebudayan di
Nusantara. Depok : Komunitas
Bambu.
Siagian, Sondang P. 1995. Teori
Pengembangan Organisasi.
Jakarta: Bumi Aksara.
Soekanto, Soerjono. 2003. Sosiologi
Suatu Pengantar. Jakarta : Rajawali
Pers.
Syafiie, Inu Kencana. 2001. Sistem
Administrasi Negara Republik
Indonesia. Bumi Aksara. Jakarta

JOM FISIP No 2 Vol 2 Oktober 2015 Page 8


JOM FISIP No 2 Vol 2 Oktober 2015 Page 9