Вы находитесь на странице: 1из 35

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN VISI DAN MISI PEMBANGUNAN

PERIODE PERTAMA PEMERINTAHAN KOTA TIDORE KEPULAUAN

Idris Sudin
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nuku Tidore
Email: idrissudin.is@gmail.com

ABSTRACT

The backround of vision policy implementation in this govermental development,


was pushed by the duty of political elite leader for implementing their promise to societies
through vision and mission presentation, so the power legitimation could be believed
societies. This research explain about the implementation in developmental mission and
vision Tidore Government during 2005-2010 years. More substansially, the aim that
would be reached are to know the succes implementation model of George Edaward III,
about communication, , resourch, bureaucratic structure and dissposition in making that
vision and mission. Besides that, this thesis also want to study the policy implementation
failure in Tidore developmental programe. The model that uses is Merille Gerindle model,
foccused that an implementation is failure because two factors, namely: (1) it relates with
the policy contents, (2) and, it relates with the public policy environment.
Methode that used in this research is qualitative research model. The data analysis
model, according to Miles Huberman in this research describing three analysis rank (1)
data reduction, (2) data presentation, (3) Conclussion result. The research result showed
that several field communication in implementing vision and mission like religion and
indepence by self-regulating that exist or according with RPJMD developmental planning,
, mass media, semiloka, form seminary, consolidation form, there is religion medium for
civiz religious form. Resources are still lack, bureaucratic structural empowering is still
weak. It insight by intervention behaviour and disfungtion between one part with the
others.. Disposition is also still improved because low of commitmen, thrust, consistency
in developmental implementation in Tidore Archipelago. Even the faile form policy
implementation in order to make governmental programe indicates that policy makers and
politital elite has big power to influence those implementation developmental programe
implementation in Tidore Archipelago, because they determine the decission contents of
those programes.
The Reccomendations mjust be improved in implemanting Governemntal
developmental’s vision and mission is to communicate those vission and and at the really
foccus. The improvement of human resources by practice and education wiyth step by
step system for state apparatus in Tidore Government. Redesign of bureaucratic structure
has aims in order to make open system and design management system toward simple of
bureaucratic structure and make many function. People need ability improvement with
commitmen, trust, consistency for doing government duty, with consider policy contents
and policy environmental contex in the field area.
Key words: Implementation, vision/Mision, Programe Policy, and Development.

1
A. P E N D A H U L U A N konsisiten baik secara konseptual maupun
penerapannya.
1. Latar Belakang
Darise (2008) mengatakan, bahwa
Salah satu persoalan mendasar
dalam pelaksanaan pemerintahan dan
kehidupan bernegara khususnya dalam
pembangunan secara nasional, berdasarkan
proses penyelenggaran pemerintahan, baik
prinsip otonomi dan desentralisasi,
di tingkat pusat maupun daerah adalah
pemberian kewenangan yang luas kepada
bagaimana membangun atau menciptakan
daerah memerlukan koordinasi dan
mekanisme pemerintahan yang dapat
pengaturan untuk lebih mengharmoniskan
mengemban misinya untuk mewujudkan
dan myelaraskan pembangunan, baik
fungsi pemerintahan yaitu menyejahterakan
pembangunan nasional, pembangunan
masyarakat secara berkeadilan
daerah maupun pembangunan antar daerah.
sebagaimana terformulasi dalam rumusan
Berdasarkan pertimbangan ini, ditetapkan
visi pemerintahan tersebut. Untuk
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2005
mewujudkan kesejahteraan masyarakat,
tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
pemerintah harus melaksanakan
Nasional. Undang-undang ini pada
pembangunan. Selain untuk memelihara
dasarnya mengamanatkan bahwa
keabsahannya (legitimasi), pemerintah juga
perencanaan pembangunan daerah adalah
akan dapat membawa kemajuan bagi
satu kesatuan dalam sistem perencanaan
masyarakatnya sesuai dengan
nasional dengan tujuan untuk menjamin
perkembangan zaman.
adanya keterkaitan dan konsistensi antara
Upaya perwujudan visi tersebut tentu
perencanaan, penganggaran, pelaksanaan,
melalui perumusan misi penyelenggaraan
serta pengendalian dan pengawasan.
pemerintahan, dan secara praktis,
Undang-undang Nomor 25 tahun
implementasi misi penyelenggaraan
2005 tentang Sistem Perencanaan
pemerintahan dilakukan melalui tahapan
Pembangunan Nasional, memiliki
formulasi kebijakan yang melahirkan
keterkaitan dengan Undang-undang Nomor
program dan kegiatan pembangunan.
32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
Idealnya, dalam formulasi kebijakan dan
dan Undang-undang Nomor 17 tahun 2003
implementasi harus terintegrasi dan
tentang Keuangan Negara. Produk hukum

2
ini menegaskan dokumen perencanaan Kota Tidore Kepulauan sebagai
sebagai wujud administratif dari formulasi bagian integral dari Negara Kesatuan
kebijakan pembangunan yang harus dibuat Republik Indonesia memiliki kewajiban
oleh pemerintah daerah, baik propinsi, yang sama dalam hal pelaksanaan amanat
kabupaten atau kota adalah: (1) Rencana Undang-Undang tersebut diatas.
Pembangunan Jangka Panjang Daerah Sehubungan dengan penyelenggaraan
(RPJPD); (2) Rencana Pembangunan pemerintahan Kota Tidore Kepulauan yang
Jangka Menengah Daerah (RPJMD); (3) secara defenitif baru berlangsung pada
Rencana Kerja Pemerintah Daerah periode pertama (2005-2010) dan periode
(RKPD). Terdapat pula dokumen kedua (2010-2015), maka penilaian atau
perencanaan yang dibuat oleh Satuan Kerja evaluasi atas formulasi dan implementasi
Pemerintah Daerah (SKPD) sebagai bentuk kebijakan yang tepat pada periode awal
penjabaran, yaitu: (1) Rencana Strategis dapat memberikan arah yang semakin jelas
Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra bagi penyelengaraan pemerintahan dan
SKPD); (2) Rencana Kerja SKPD (Renja pembangunan yang semakin baik pada
SKPD). Dokumen-dokumen perencanaan masa depan.
ini terkait satu dengan yang lainnya serta Dengan dasar pemikiran yang telah
memiliki singkronisasi dengan dokumen diuraikan, penelitian ini dimaksudkan
perancanaan pembangunan Nasional. untuk: mengkaji proses implementasi dari
Produk hukum tersebut, juga kebijakan visi dan misi pembangunan pada
mengamanatkan kepada pemerintah daerah, periode pemerintahan tersebut, mengetahui
agar dalam memformulasikan kebijakan sejauhmana konsistensi pemerintah daerah
perencanaan pembanguan harus konsisten dalam memformulasikan kebijakan yang
pada sasaran mewujudkan visi bersesuaian dengan upaya mewujudkan visi
pembangunan daerah dan tujuan pembangunan dalam periode pemerintahan
pembangunan nasional. Karena konsistensi tahun 2005-2010. Selanjutnya menjelaskan
dalam implementasi kebijakan serta tingkat capaian kinerja pembangunan pada
strateginya dapat menjamin terwujudnya periode pertama pemerintahan pasca
Visi pembangunan daerah. pemekaran atau tepatnya perubahan status
menjadi kota.

3
Berdasarkan waktu pelaksanaannya, Tidore Kepulauan pada periode 2005-
penelitian ini telah dilaksankan pada ‘masa 2010.
transisi’ periode pemerintahan 2005-2010
4. Manfaat Penelitian
dan 2010-2015 tepatnya pada akhir tahun
Diharapkan dengan penelitian ini
2009. Akan tetapi untuk tujuan penyebaran
dapat bermanfaat:
informasi atas bentuk evaluasi
a. Sebagai referensi dalam pembelajaran
penyelenggaraan pemerintahan daerah,
tentang pembangunan.
maka hasil penelitian ini diterbitkan pada
b. Sebagai bahan evaluasi bagi para
jurnal edisi ini.
penyelenggara pemerintahan daerah
2. Rumusan Masalah dalam rangka penyelenggaraan
Rumusan masalah dalam penelitian pembangunan yang lebih baik pada
ini adalah: masa depan.
a. Bagaimana Implementasi kebijakan
Misi Pembangunan Pemerintahan Kota B. TINJAUAN PUSTAKA
Tidore Kepulauan dalam Periode 2005-
1. Pengertian Kebijakan
2010?
Penggunaan istilah kebijakan (policy)
b. Faktor Apa saja yang mempengaruhi
seringkali saling dipertukarkan dengan
kegagalan Implementasi Kebijakan
istilah tujuan (goals), program, keputusan,
Pembangunan pemerintahan dalam
undang-undang, ketentuan-ketentuan,
mewujudkan misi Kota Tidore
usulan-usulan, dan rancangan-rancangan
Kepulauan dalam Periode 2005-2010?.
besar.
3. Tujuan Penelitian Perserikatan Bangsa-bangsa (1975)
Penelitian ini bertujuan untuk: (dalam Wahab, 1997: 2) memberi makna
a. mengetahui implementasi kebijakan kebijakan berupa suatu deklarasi mengenai
misi pembangunan Kota Tidore suatu dasar pedoman bertindak, suatu arah
Kepulauan dalam periode 2005-2010. tindakan tertentu, suatu program mengenai
b. mengetahui dan menjelaskan faktor aktivitas-aktivitas tertentu atau suatu
pengaruh atau penghambat dalam rencana tertentu, suatu program mengenai
implementasi misi pembangunan Kota aktivitas-aktivitas tertentu atau suatu

4
rencana tertentu. Kebijakan pada intinya orang; (3) adanya pemecahan masalah; dan
adalah sebagai pedoman untuk bertindak. (4) adanya tujuan tertentu. Apabila
Pedoman ini boleh jadi amat sederhana keempat elemen tersebut dipadukan maka
atau kompleks, bersifat umum atau khusus, dapat diperoleh suatu pengertian bahwa
luas atau sempit, kabur atau jelas, longgar kebijakan adalah serangkaian tindakan
atau rinci, kualitatif atau kuantitaif, publik yang berisi keputusan-keputusan yang
atau privat. diikuti dan dilakukan oleh seseorang atau
Pengertian lain yang dikemukakan sekelompok orang guna memecahkan suatu
oleh Anderson (1997) bahwa kebijakan itu masalah untuk mencapai tujuan tertentu.
adalah “A purposive course of action Meskipun istilah itu dapat dilakukan
followed by an actor or set actors in secara umum, namun pada kenyataannya
dealing with a problem or matters of lebih sering dan secara luas dipergunakan
concern” (serangkaian tindakan yang dalam kaitannya dengan tindakan-tindakan
mempunyai tujuan tertentu yang diikuti dan atau kegiatan-kegiatan pemerintah serta
dilaksanakan oleh seorang pelaku atau perilaku negara pada umumnya, yang lebih
sekelompok pelaku guna memecahkan dikenal dengan sebutan kebijakan negara
suatu masalah tertentu). (public policy).
Dikemukakan oleh Easton (dalam Anderson (1979: 3) mengemukakan
Wahab, 1989: 21) secara singkat bahwa bahwa “public policies are those policies
kebijakan adalah “A policy …consist of developed by governmental bodies and
web of decisions and actions than officials” (kebijakan negara adalah
allocate…..values” (suatu kebijakan kebijakan-kebijakan yang dikembangkan
….terdiri atas serangkaian keputusan- oleh badan-badan atau pejabat-pejabat
keputusan dan tindakan untuk pemerintah). Dan yang terakhir yang
mengalokasikan….nilai-nilai). dikemukakan oleh Jenkins (dalam Wahab,
Dari ketiga pendapat mengenai 1997: 4) bahwa kebijakan negara, yaitu “A
rumusan arti kebijakan, pada intinya setiap set of interrelated decisions taken by a
rumusan mengandung beberapa elemen political actor or group of actors
yaitu : (1) adanya serangkaian tindakan; (2) concerning the selection of goals and the
dilakukan oleh seseorang atau sekelompok means of achieving them within a specified

5
situation where these decisions should, in tentang kebijakan negara (public policy),
principle, be within the power of these yaitu:
actors to achieve” (serangkaian keputusan a. Bahwa kebijakan negara itu dalam
yang saling berkaitan, yang diambil oleh bentuk perdananya berupa penetapan
seorang aktor politik atau sekelompok aktor tindakan-tindakan pemerintah.
politik berkenaan dengan tujuan yang telah b. Bahwa kebijakan negara itu tidak cukup
dipilih beserta cara-cara untuk hanya dinyatakan tetapi dilaksanakan
mencapainya dalam suatu situasi dimana dalam bentuknya yang nyata.
keputusan-keputusan tersebut ingin dicapai c. Bahwa kebijakan negara baik untuk
oleh para aktor tersebut). melakukan sesuatu atau tidak melakukan
Kebijakan negara, bagaimanapun sesuatu itu mempunyai dan dilandasi
rumusannya pada hakekatnya mengarah dengan maksud dan tujuan tertentu.
pada kepentingan publik (public interest), d. Bahwa kebijakan negara itu harus
dengan mempertimbangkan nilai-nilai yang senantiasa ditujukan bagi kepentingan
ada. Seseorang atau sekelompok orang seluruh anggota masyarakat.
aktor politik (administator publik) harus
2. Implementsi Kebijakan
senantiasa memasukkan pikiran-pikiran
Menurut Edwards III yang dikutip
publik dalam wacana politiknya, dan bukan
oleh Widodo (2009: 96), implementasi
hanya pikirannya atau kemauannya semata-
kebijakan di pengaruhi oleh empat variable
mata sebagai dasar pengambilan keputusan.
yang saling berhubungan, yakni: (1)
Dengan demikian, kebijakan negara dapat
komunikasi (communication), (2)
disimpulkan yaitu serangkaian tindakan
sumberdaya (resources), (3) disposisi
yang dilakukan ataupun tidak dilakukan
(dispositions), dan (4) struktur birokrasi
pemerintah, baik yang dilakukan oleh
bureaucratic strukture). Keempat variabel
seorang atau sekelompok orang untuk
ini, lebih lanjut dijelaskan oleh Subarsono
mencapai suatu tujuan tertentu yang
(2008: 90-92) sebagai berikut:
berorientasi pada kepentingan masyarakat
Pertama, Komunikasi. Keberhasilan
(publik). Berkaitan dengan pengertian
implementasi kebijakan masyaratkan agar
kebijakan negara, Islamy (1997: 20)
implementor mengetahui apa yang harus di
merumuskan beberapa elemen penting
lakukan. Tujuan dan sasaran kebijakan

6
harus ditransmisikan kepada kelompok (standard operating procedures atau SOP).
sasaran (target group) untuk mengurangi SOP menjadi pedoman bagi setiap
distorsi implementasi. Artinya apa bila implementor dalam bertindak. Struktur
tujuan dan sasaran satu kebijakan tidak organisasi yang terlalu panjang akan
jelas atau tidak di ketahui sama sekali oleh cenderung melemahkan pengawasaan.
kelompok sasaran, maka kemungkinan
akan terjadi resistensi dari kelompok 3. Faktor Yang mempengaruhi
kegagalan Implementasi
sasaran.
Kedua, Sumberdaya. Meski isi Menurut Grindle, yang dikutip oleh

kebijakan dikomunikasikan secara jelas dan Nugroho (2006: 132) keberhasilan

konsisten, tetapi implementor kekurangan inplementasi kebijakan dipengaruhi oleh

sumberdaya untuk melaksanakan, maka dua variable bersar, yaitu isi kebijakan

implementasi tidak akan berjalan efektif. (contet of policy) dan lingkungan

Sumberdaya tersebut mencakup implementasi (context of implementation).

sumberdaya manusia, yakni kompetensi Ide dasar dari teori ini adalah setelah

implementor, dan sumberdaya financial. kebijakan ditransformasikan, maka langkah

Ketiga, Disposisi. Berkaitan dengan selanjutnya adalah melakukan inplementasi

watak dan karakteristik yang dimiliki oleh kebijakan. Keberhasilan implementasi

implementor, seperti komitmen, kejujuran, kebijakan ditentukan oleh sejaumanah

dan sifat demokratis. Apabila implementor derajat (implementability) kebijakan

memiliki disposisi yang baik, maka dia tersebut. Uraian Teori ini:

akan dapat menjalankan kebijakan dengan Pertama, variable isi, yang meliputi:

baik seperti apa yang di inginkan oleh (1) kepentingan yang ter-pengaruhi oleh

pembuat kebijakan. Keempat, Struktur kebijakan. sejauh mana kepentingan

organisasi, yang bertugas mengimplemen- kelompok sasaran (target grops) termuat

tasikan kebijakan memiliki pengaruh yang dalam isi kebijakan. (2) jenis manfaat yang

signifikan terhadap implementasi akan dihasilkan. (3) derajat perubahan yang

kebijakan. Salah satu dari aspek struktur diinginkan, atau sejauh mana perubahan

yang penting dari setiap organisasi adalah yang diinginkan dari sebuah kebijakan. (4)

adanya prosedur operasi yang standar kedudukan pembuat kebijakan. apakah


letak sebuah program sudah tepat. (5)

7
pelaksana program, apakah sebuah capacity dari organisasi/aktor atau
kebijakan telah menyebutkan kelompok organisasi/aktor yang dipercaya
implementatornya dengan rinci. (6) Sumber untuk mengemban tugas mengimplemen-
daya yang memadai. tasikan kebijakan tersebut.
Kedua variable implementasi, yang Secara obyektif, bahwa kebijakan
meliputi: (1) kekuasaan, kepentingan, dan negara mengandung resiko untuk gagal.
strategi aktor yang terlibat. Seberapa besar Pengertian kegagalan kebijakan negara
kekuasaan, kepentingan, dan strategi yang oleh Hogwood dan Gunn (1986) dalam
dimiliki oleh para actor yang terlibat dalam Wahab (1997: 61-62) dibagi ke dalam dua
implementasi kebijakan. (2) karakteristik kategori, yaitu: (1) Non Implementation
lembaga dan penguasa. (3) kepatuhan dan (tidak terimplementasikan), ini
daya tanggap kelompok sasaran. mengandung beberapa berupa: Kebijakan
Implementasi merupakan suatu itu tidak dilaksanakan sesuai dengan
proses untuk mewujudkan tujuan-tujuan rencana; Pihak-pihak yang terlibat dalam
yang telah dipilih dan ditetapkan sebelum kebijakan tidak mau bekerjasama;
menjadi kenyataan. Namun, tidak Bekerjanya tidak efisien; Tidak menguasai
semuanya program yang diimplemen- permasalahan dan diluar jangkauan
tasikan benar-benar berlangsung mulus dan kekuasaan; atau Hambatan-hambatan yang
efektif, karena ada faktor-faktor yang ada tidak sanggup ditanggulangi. (2)
mempengaruhi keberhasilan implementasi Unsuccesful Implementation (Implemen-
kebijakan. Dalam proses kebijakan selalu tasi yang tidak berhasil)
terbuka kemungkinan adanya perbedaan Inipun mengandung alasan berupa:
antara harapan pembuat kebijakan dengan Kondisi eksternal tidak menguntungkan;
apa yang senyatanya dicapai. Keadaan ini Kebijakan tersebut tidak berhasil
oleh Dunsire (1978) dalam Wahab (1997: mewujudkan dampak atau hasil akhir yang
61) dinamakan implementation gap. Besar dikehendaki.
kecilnya perbedaan tersebut sedikit banyak Kebijakan yang gagal biasanya
akan tergantung pada apa yang oleh disebabkan oleh beberapa faktor: (1)
William (1971; 1975) dalam Wahab (1997: pelaksanaannya memang jelek (bad
61) disebut sebagai implementation execution), dalam arti pelaksana tidak

8
memiliki keahlian sesuai dengan tuntutan politik, infrastruktur, social, budaya,
kebijakan; (2) Kebijakannya tidak pertahanan dan teknologi. Portes (1976),
mencerminkan kepentingan rakyat atau mendefenisiskan pembangunan sebagai
kebijakannya jelek (bad policy), dan atau transformasi ekonomi, social dan budaya.
(3) karena tidak sesuai dengan harapan Pembangunan nasional adalah proses
rakyat maka kebijakan itu memang perubahan (transformasi) yang direncana-
bernasib jelek (bad luck) (Wahab, 1997) kan untuk memperbaiki berbagai aspek
Apabila suatu kebijakan yang kehidupan masyarakat kearah yang
diimplementasi mengalami kegagalan, diinginkan, melalui kebijakan strategi dan
maka dapat menimbulkan pertanyaan rencana. Perubahan atau transformasi
mengapa kegagalan itu dapat terjadi. dalam struktur ekonomi, misalnya, dapat
Mengetahui sebab kegagalan, dapat dilihat dari adanya peningkatan atau
memberi penjelasan tentang bagaimana pertumbuhan produksi yang cepat disektor
cara mengatasinya dan implementasinya industri dan jasa, sehingga kontribusinya
dapat dikembangkan. Sebab kegagalan terhadap pendapatan nasional semakin
implementasi suatu kebijakan berbeda besar. Sebaliknya, kontribusi sektor
antara satu kebijakan dengan kebijakan pertanian akan menjadi semakin kecil dan
yang lain. Hal ini berkaitan dengan berbanding terbalik dengan pertumbuhan
beberapa aspek sebagaimana yang industrialisasi dan modernisasi ekonomi.
dikemukakan oleh Maarse (dalam Wahab, Secara umum dapat dipahami bahwa
1997), yaitu (1) isi dari suatu kebijakan pembangunan adalah perubahan social,
yang akan diimplementasikan, (2) tingkat sedangkan perubahan social tidak selalu
informasi dari pelaku yang terlibat, (3) identik dengan pembangunan. Dalam
banyaknya dukungan bagi kebijakan yang konteks ini pembangunan adalah perubahan
diimplementasikan, dan (4) pembagian yang direncanakan, disengaja dan
potensi. diinginkan untuk mencapai tujuan tertentu.
Karakteristik yang cukup penting
4. Pengertian Pembangunan
dalam pembangunan adalah adanya
Pembangunana adalah proses
kemajuan/perbaikan (progress), per-
perubahan yang meliputi seluruh dimensi
tumbuhan dan difersifikasi. Kemajuan
kehidupan masyarakat, baik ekonomi,

9
misalnya, dapat diidentifikasi dari adanya memenuhi kebutuhan tersebut, indikator
peningkatan dalam rasionalisasi kehidupan pembangunan akan bergeser kepada fektor-
masyarakat, teknologi dan efisiensi. faktor sekunder dan tersier, seperti:
Sedangkan pertumbuhan identik dengan pertumbuhan ekonomi yang mendorong
kemajuan ekonomi yang ditandai oleh pemerataan, kesejahteraan dan peningkatan
peningkatan pendapatan masyarakat kualitas hidup; Menguatkan ekonomi
sebagai akibat dari pertumbuhan nasional/domestik yang dapat memperluas
produktifitas dan diikuti oleh diversifikasi lapangan kerja, sehingga daya beli
kegiatan ekonomi, baik vertikal maupun masyarakat terus meningkat baik untuk
horizontal. Dengan demikian, barang lokal maupun inpor; Diversifikasi
pembangunan memiliki tiga ciri dasar, kegiatan/sektor ekonomi dengan penguatan
yaitu pertumbuhan, diversifikasi/- sektor industri dan jasa disertai dengan
diferensiasi dan perbaikan (progress) yang keseimbangan antara produksi barang
terjadi pada semua aspek dan tingkat ekspor dan inpor; Partisipasi masyarakat
kehidupan masyarakat. dalam kehidupan politik dan proses
Variabel-variabel pembangunan pembuatan keputusan; Tersedianya
berubah dengan kecepatan yang berbeda kesempatan untuk memperoleh pendidikan
ditempat yang berbeda. Variabel bagi semua lapisan masyarakat. Stabilitas
pembangunan ini mencakup faktor-faktor sosial, politik dan pemerintahan yang
primer seperti natioan building, atau disertai dengan penguatan hak-hak azasi
penetaan kelembagaan, penurunan angka manusia.
kelahiran dan kematian, pengurangan Pembangunan dapat dibedakan
angka kemiskinan, pendidikan dasar, menjadi pembangunan ekonomi (Economic
infrastruktur wilayah dan komunikasi, yang development) dan pembangunan sosial
berorientasi pada pemenuhan berbagai (social development) Pembangunan
kebutuhan dasar, seperti listrik masuk desa, ekonomi berkenaan dengan investasi,
pembukaan akses bagi wilayah yang peningkatan penyerapan angkatan kerja,
terisolir, layanan kesehatan pedesaan dan dan peningkatan upah buruh. Pembangunan
harga makanan pokok yang rendah. Untuk ekonomi dapat dipahami sebagai proses
negara atau wilayah yang telah dapat dimana pemerintah bekerjasama dengan

10
kelompok-kelompok masyarakat dan memiliki singkronisasi dan pola hubungan
swasta dalam mengelola sumberdaya yang yang jelas dalam setiap pentahapannya.
tersedia untuk menciptakan lapangan kerja Berkaitan dengan pemikiran ini, menurut
dan menstimulasi kegiatan ekonomi. Rahmat (2009), Sebuah kebijakan
Pembangunan sosial berkenaan dengan berhubungan dengan kebijakan terdahulu
pembangunan masyarakat secara dan akan diikuti oleh kebijakan yang
menyeluruh, mencakup ekonomi, politik, lainnya. Kerana kebijakan pada dasarnya
budaya, hukum, kelembagaan, kesehatan, adalah pedoman untuk bertindak guna
pendidikan dan dimensi-dimensi sosial mencapai tujuan. Tujuan dimaksud dapat
lainnya. Didalamnya mencakup juga diartikan sebagai visi pembangunan yang
pemberdayaan sektor swasta dan ditetapkan atau dicanangkan oleh
masyarakat sipil, proses politik yang pemerintah daerah.
partisipatif dan akuntabel, pembangunan Pada perspektif seperti ini, kebijakan
infrstruktur ekonomi dan sosial, termasuk harus pula didukung oleh suatu bentuk
pelayanan sosial yang memadai dan kekuasaan agar dapat memaksakan
memuskan (Blakely, 2000). berbagai pihak terkait, baik unsur
Uraian ini mengarahkan bahwa pemerintah, maupun komponen masyarakat
tujuan pembangunan dapat dipahami yang terlibat selaku unsur pelaksana
sebagai akibat akhir dari seluruh upaya kebijakan untuk mengindahkan kebijakan
pembangunan. Sedangkan strategi atau tersebut sebagai pedoman. Suatu bentuk
perencanaan merupakan pilihan lintas kekuasaan tersebut dapat dibentuk dengan
sebab akibat yang secara sistematik menegaskan kebijakan tersebut sebagai
dilakukan dan asumsi-asumsi yang bentukan produk hukum atau status
diharapkan tersedia, agar tujuan keputusan yang memiliki kekuatan hukum
pembangunan dapat tercapai (Indra mengikat bagi berbagai pihak. Penyertaan
Bastian, 2006). status kekuasaan bagi suatu kebijakan ini.
Dalam penyelenggaran pemerintahan Akan menjamin konsistensi pada tahapan
proses pembangunan pada setiap periode implementasi dan sekaligus pada
diharapkan dapat berkesinambungan. perumusan kebijakan selanjutnya. Untuk
Dalam hal ini perumusan kebijakan harus itu, terhadap visi sebagai tujuan dan

11
kebijakan sebagai formulasi strategi untuk dilapangan. Disamping itu, ruang gerak
pencapaian visi yang harus memiliki pemerintah daerah dalam perencanaan dan
singkronisasi dan konsistensi secara pengaturan pembangunan dengan perioritas
konseptual dibingkai pula dengan sesuai potensi daerah yang terbatas.
ketentuan hukum yang mengikat bagi Dalam Otonomi Daerah, berbagai
berbagai pihak. Hal ini penting untuk aspek yang erat kaitannya dengan
memungkinkan konsolidasi organisasi, perencanaan pembangunan berkaitan
yang membawa pada suasana dengan alokasi sumber daya, peningkatan
meningkatnya partisipasi dalam peran masyarakat, potensi dan
implementasi mewujudkan visi keanekaragaman daerah. Semua aspek
pembangunan tersebut ( Brison, 2007). tersebut dipadukan dalam satu kesatuan
Pemikiran diatas berhubungan sistem pembangunan nasional (Indra
dengan yang disampaikan Max Milikan Bastian, 2006).
dalam Myron Weiner, (1986): Bila
C. METODE PENILITIAN
kesempatan untuk mengecap hasil
pembangunan dan turut serta dalam 1. Jenis penelitian
kegiatan pembangunan tidak Jenis penelitian ini adalah penelitian
disebarluaskan dalam masyarakat, maka kwalitatif dengan metode deskriptif.
akan timbul frustrasi yang membahayakan Menurut Hasan, 2002, Deskriptif artinya
tingkat kestabilan minimum yang melukiskan variabel demi variabel, satu
diperlukan bagi terlaksananya kebijakan demi satu berdasarkan rumusan masalah.
pembangunan secara efektif. Metode deskriptif ini digunakan dengan
tujuan:
5. Perencanaan Pembangunan Daerah
a. Mengumpulkan informasi aktual secara
Konsep perencanaan Pembangunan
rinci, yang melukiskan gejala yang
bertujuan mengoptimalkan penggunaan
ada,
potensi sekaligus mengurangi ketimpangan
b. Mengidentifikasi masalah atau
pembangunan antar daerah. Terdapat
memeriksa kondisi dan praktek-praktek
banyak masalah dalam pelaksanaannya,
yang berlaku,
antara lain kurangnya konsistensi
c. Membuat perbandingan atau evaluasi
perencanaan hingga permasalahan

12
d. Menentukan apa yang dilakukan orang 3. Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Penelitian
lain atau lembaga lain dalam
menghadapi masalah yang sama dan Penelitian ini dilaksanakan di Kota

belajar dari pengalaman mereka untuk Tidore Kepulauan dengan latar penelitian

menetapkan rencana dan keputusan pelaksanaan pemerintahan pada periode

pada waktu yang akan datang. 2005 sampai dengan 2010, sebagai bentuk

Dengan demikian, metode deskriptif evaluasi terhadap penyelenggaraan

ini digunakan untuk melukiskan secara pemerintahan pada periode awal

sistematis fakta atau karakteristik bidang pembangunan daerah yang baru dibentuk.

tertentu secara aktual dan cermat, dalam hal Adapun waktu pelaksanaan penelitian ini

ini bidang perencanaan pembangunan di adalah selama 2 (dua) bulan, terhitung

Kota Tidore Kepulauan. sejak bulan September 2009 sampai dengan


bulan November 2009.
2. Desain Penelitian
Dari jenis penelitian tersebut diatas, 4. Subjek Penelitian

penelitian ini dilakukan dengan desain Subjek penelitian ini terdiri dari

deskriptif. Desain ini bertujuan untuk komponen atau unsur perumus dan

menguraikan sifat atau karakteristik dari pengambil kebijakan serta beberapa dari

suatu fenomena tertentu. (Hasan, 2002) unsur pelaksana kebijakan, berdasarkan

mengemukakan bahwa tujuan dari desain rumusan masalah dalam penelitian ini.

ini hanya mengumpulkan fakta dan Unsur perumus dan pengambil kebijakan

menguraikannya secara menyeluruh dan terdiri dari unsur DPRD, Kepala Daerah,

diteliti sesuai dengan persoalan yang akan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.

dipecahkan. Dengan demikian penelitian Sedangkan unsur pelaksana Kebijakan

ini diharapkan dapat mengurai karakteristik Kepala SKPD yang diambil secara random.

dari fenomena implementasi kebijakan misi


5. Variabel atau Objek Penelitian
sebagaimana rumusan masalah berdasarkan
Rumusan visi dan misi pelaksanaan
hasil pengumpulan fakta, yang selanjutnya
pembangunan, agenda pokok, kabijakan
penarikan kesimpulan didasarkan pada
umum dan perioritas program dalam rangka
penguraian fakta tersebut.
mewujudkan visi pembangunan, yakni
terdiri dari: dirumuskan pada setiap tahun

13
terhitung sejak tahun pertama a. Dengan menggunakan pedoman
penyelenggaraan tugas pemerintahan wawancara yang memuat pertanyaan
definitif Kota Tidore Kepulauan (tahun untuk memunculkan jawaban dalam
2005-2010). bentuk pernyataan dari informan yang
terdiri dari pelaku atau perumus
6. Sumber Data
pelaksana kebijakan serta dari unsur
Berdasarkan sumber pengambilan-
masyarakat.
nya, data penelitian terdiri dari:
b. Dengan menggunakan instrument
a. Data Primer yaitu data yang bersumber
wawancara (interview). Dimana
langsung dari penelusuran pada pelaku
pengumpulan data dilakukan dengan
atau perumus dan pelaksana kebijakan
mengajukan pertanyaaan langsung
pada periode pemerintahan tersebut,
kepada informan, dengan memberikan
serta dari unsur masyarakat. Sumber
kebebasan kepada informan untuk
data yang dimaksudkan sebagai
memberikan jawaban dan pernyataan
informan diantaranya (Wali Kota
sesuai dengan keinginannya
Tidore Kepulauan, Sekertaris Bappeda
berdasarkan rumusan masalah
Kota Tidore Kepulauan, Unsur DPRD,
penelitian.
dan Sekertaris Kota Tidore Kepulauan).
Untuk pengumpulan data sekunder
b. Data Sekunder bersumber dari
dilakukan dengan teknik Studi
penelusuran dokumen pada instansi
Dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan
pemerintah daerah yang terkait.
data yang tidak langsung ditujukan pada
Dokumen dimaksud adalah dokumen
subyek penelitian, melalui dokumen.
yang yang berisikan kebijakan
Dokumen dimaksud adalah dokumen-
perencanaan pembangunan daerah Kota
dokumen perencanaan pembangunan
Tidoere Kepulauan
daerah Kota Tidore Kepulauan yang terdiri
7. Teknik dan Instrumen Pengumpulan dari:
Data a. Dokumen Rencana Pembangunan
Teknik pengumpulan data primer Jangka Panjang Daerah
dilakukan dengan 2 (dua) cara: b. Dokumen Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah

14
c. Dokumen Rencana Kerja Pemerintah c. Pengecekan sejawat, ini dilakukan
Daerah untuk membuat peneliti tetap
d. Dokumen Peraturan Daerah tentang mempertahankan sikap terbuka dan
Anggaran Pendapan dan Belanja kejujuran,peneliti dapat mereview
Daerah persepsi,pandangan dan analisis yang
Keseluruhannya adalah dakomentasi sedang peneliti lakukan.
dari tahun 2005 sampai dengan 2009. d. Kecukupan referensial. Bahan referensi
digunakan untuk dapat meningkatkan
8. Keabsahan Data
derajat kepercayaan dan kebenaran data,
Untuk mendata keabsahan data
yaitu hasil rekaman tape atau bahan
diperlukan teknik pemeriksaan.
dokumentasi lainnya, termasuk foto.
Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan
atas sejumlah kriteria,ada empat kriteria (2). Keteralihan (transferability)

yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : Dalam penelitian ini peneliti
membangun nilai transfer penelitian
(1). Derajat kepercayaan (credibility)
dengan cara melaporkan hasil penelitian
Dalam penelitian ini peneliti
seteliti dan secermat mungkin agar semua
mengikuti beberapa cara yang dapat
pihak dapat memahami temuan-teman yang
disamakan dengan uji validitas agar
diperoleh peneliti.
kebenaran hasil penelitian dapat dipercaya,
misalnya: (3). Ketergantungan (dependability)
a. Ketekunan pengamatan: dengan Dilakukan untuk menilai apakah
ketekunan peneliti menemukan situasi proses penelitian bermutu atau tidak yang
dan informasi yang relevan dengan dihubungkan dengan pemeriksaan dari
fokus penelitian sehingga peneliti dapat hasil-hasil data yang akan diperoleh di
memperoleh data dan informasi secara lapangan. Dependability menurut istilah
cermat,terinci dan mendalam. konvensional disebut dengan reability atau
b.Triangulasi: Melakukan pengumpulan reabilitas. Reabilitas adalah syarat syarat
data sekaligus menguji kredibilitas data bagi validitas,hanya dengan alat yang
tersebut dengan teknik pengumpulan dan reliable maka diperoleh data yang valid.
sumber data yang berbeda. Alat utama dalam penelitian naturalistik ini
adalah peneliti sendiri.

15
Untuk menjamin kebergantungan a. Triangulasi teknik: Peneliti melakukan
dan kepastian yang perlu dilakukan adalah pengambilan data sekaligus menguji
menyatukan dependability dengan kebenaran data dengan cara melakukan
confimability,hal ini dikerjakan melalui pengumpulan data dengan teknik
suatu cara yang disebut audit trail pengumpulan yang berbeda pada sumber
(memeriksa dan melacak suatu kebenaran) yang sama.
yaitu suatu usaha yang lasim dilakukan b. Triangulasi sumber: melakukan
oleh akuntan pemeriksa keuangan. Proses pengumpulan data dari sumber yang
audit trail ini dikuti dalam usaha untuk berbeda dengan teknik yang sama.
menjamin kebenaran penelitian naturalistic, c. Triangulasi situasi: Melakukan
pada penelitian tesis ini audit trail pengumpulan data sekaligus menguji
dilakukan oleh pembimbing. Dalam hal ini kredibilitas data dengan perbedaan
yang diperiksa antara lain : proses waktu dan situasi peangambilan data
penelitian, taraf kebenaran data serta pada sumber yang sama.
tafsiran.
9. Teknik Analsis Data
(4).Kepastian (confirmabilty) Analisis data adalah proses
Dalam penelitian ini merupakan mengorganisasikan dan mengurutkan data
usaha ilmiah yang dilakukan oleh peneliti kedalam pola, kategori dan satuan uraian
dengan cara disiplin yang terikat dengan dasar, sehingga dapat ditemukan tema dan
kaidah penelitian kualitatif dan terbuka dapat dirumuskan hipotesis kerja.
bagi pemeriksa dan verifikasi oleh orang Disarankan oleh (Moleong,2004:280) yaitu
yang berminat untuk menilai kualitas hasil observasi, wawancara, dokumentasi, dan
penelitian dengan menguji apakah data catatan lapangan, dibaca, dipelajari dan
yang ada hasilnya tetap stabil. ditelaah maka langkah berikutnya adalah
Selanjutnya menurut (Hamdi, dianalisis dengan langkah-langkah sebagai
2004:83 ) untuk membuktikan data atau berikut
informasi yang telah dikumpulkan dalam
a. Reduksi Data
suatu penelitian kualitatif perlu diuji
Data yang diperoleh dari lapangan
keabsahannya melalui teknik-teknik
disusun dalam bentuk uraian atau laporan
triangulasi sebagai berikut :
yang terrinci. Laporan-laporan tersebut

16
direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal Perkembangan Kota Tidore dimulai
pokok, difokuskan pada hal-hal penting, dari sejarah Kesultanan. Pulau Tidore
dan disusun lebih sistematis. Untuk merupakan pusat dari Kesultanan Tidore,
keefektifan penelitian, data segera bersanding dengan Kesultanan Ternate,
dianalisis selama pengumpulan data dan Jailolo dan Kesultanan Bacan. Keempat
setelah data terkumpul. Kesultanan ini memiliki pertalian
kekerabatan sebagai kakak beradik, yang
b. Penyajian data
membentuk persatuan kerajaan di Maluku
Penyajian data merupakan proses
Utara dengan sebutan “Maloku Kie Raha”.
penysunan informasi yang kompleks
Persatuan ini tangguh dalam melawan
kedalam bentuk yang sistemtis,sehingga
penjajah.
menjadi lebih sederhana dan selektif serta
Di daerah ini, etika dan kultur ke-
dapat dipahami maknanya. Penyajian data
Islam-an merupakan landasan utama dalam
dimaksudkan untuk memperoleh temuan-
menata struktur kesultanan maupun rumah
temuan bermakna, serta memberikan
tangga. Tatanan ke-Islaman ini muncul
kemungkinan adanya penarikan
dalam istilah” Adat yang bersendikan
kesimpulan dan pengambilan tindakan.
agama dan agama bersendikan
c. Menarik kesimpulan /verifikasi
Kitabullah”. Istilah berpengaruh terhadap
Berdasarkan data-data dari berbagai
aktifitas masyarakat yang sangat
sumber,peneliti mengambil kesimpulan
dipengaruhi oleh agama.
yang bersifat mendasar “grounded”.
Masyarakat Tidore juga memiliki
Dengan kata lain kesmpulan harus
keragaman bahasa yang terdiri dari
senantiasa diverivikasi selama penelitian
beberapa dialeg. Sikap mental yang sangat
berlangsung (Nasution 2003:129).
menonjol dalam kehidupan sehari-hari
adalah tolong menolong dalam berbagai
D. DESKRIPSI WILAYAH
hal, seperti pembangunan rumah acara
PENELITIAN
perkawinan maupun penagnan musibah

1. Sejarah Singkat Kota Tidore sesama warga. Sikap ini sangat terpelihara

Kepulauan dengan baik, sehingga dalam kehidupannya


nampak pada beberapa adat dan kebiasaan

17
yang bersifat sosial, seperti Bari (kerja Tanggal 31 Mei 2003 Gubernur
sama mebantu dengan sukarela), Mayae Maluku Utara melantik Drs. M,Nur
Keterbukaan meminta bantuan sukarela, Djauhari sebagai penjabat Walikota Tidore
dan Marong (tolong menolong dalam hal Kepulauan.
membersihkan kebun dan membangun Tahun 2005 Daerah ini memulai
rumah). pemerintahan defenitif periode pertama.
Pada fase awal kemerdekaan, daerah Tepatnya tanggal 8 Nofember 2005
ini adalah Ibukota Perjuangan Irian Barat Gubernur Maluku Utara atas nama Menteri
Tahun 1956 dengan Gubernur Pertama dalam Negeri Melantik Drs. H. Achmad
Sultan Zainal Abidin Syah yang juga Mahifa dan Salahuddin Adrias, ST sebagai
Sultan Tidore. Daerah ini dikembalikan ke Walikota dan Wakil Walikota definitif
Provinsi Maluku sebagai Daerah periode 2005-2010 (Hasil Pilkada Tidore
Administratif Tidore pada Tahun 1962 Kepulauan Tahun 2005).
Kepres No, 1 Tahun 1962. Perubahan nama Dalam Rencana Tata Ruang
Administratif Tidore menjadi Halmahera Wilayah(RTRW) Nasional, kawasan yang
Tengah sesuai Surat Edaran Gubernur kini menjadi Kota Tidore Kepulauan,
Maluku Tanggal 8 Juli 1969. ditetapkan sebagai kawasan budidaya
Berdasarkan UUD No. 6 Tahun 1990 dengan pengembangan prioritas. Kemudian
ditetapkan sebagai Daerah Otonom Tingkat dalam struktur RTRW Provinsi Maluku
II Halmahera Tengah. Berdasarkan Utara, Kota Tidore Kepulauan ditetapkan
Undang-Undang No. 1 Tahun 2003 sebagai ”Kota Orde 1” . Dengan
Kabupaten Halmahera Tengah dimekarkan penetapan tersebut, maka Kota Tidore
menjadi Kabupaten Halmahera Tengah Kepulauan merupakan kota yang penting
dengan Ibukota di Weda, Kabupaten dan strategis di Indonesia. Di wilayah
Halmahera Timur di Maba dan Tidore yang provinsi Maluku Utara, posisi Kota Tidore
semula sebagai ibu kota kabupaten Kepulauan merupakan Kota terluas dan
Halmahera tengah bentuk sebagai daerah bahkan bersifat strategis secara politis
tersendiri berstatus kota dengan nama Kota yakni karena kawasan pusat pemerintahan
Tidore Kepulauan. Provinsi yaitu di Sofifi (Kecamatan Oba

18
Utara), secara administratif wilayah dari mempercepat terwujudnya kesejahteraan
Kota Tidore Kepulauan. masyarakat melalui peningkatan pelayanan,
pemberdayaanan masyarakat serta
2. Luas Wilayah, Letak Geografis dan mendorong peran swasta dalam
Jumlah Penduduk pelaksanaan pembangunan. Formulasi
kebijakan otonomi ini, tertuang dalam
Luas wilayah Kota Tidore Kepulauan
Rencana Pembangunan jangka Menengah
adalah 13 857,20 km2, berada pada batas
Daerah(RPJMD) Kota Tidore Kepulauan
astronomis 00 - 200 Lintang Utara hingga 00
Tahun 2005-2010 yang menetapkan visi
- 500 Lintang Selatan dan pada posisi
pemerintahan yakni: “Menciptakan Kota
127010’ - 127045’ Bujur Timur. Kota ini
Tidore yang beriman, maju, mandiri dan
berciri kepulauan, didalamnya terdapat 12
berperadaban”. Dimana masing masing
pulau dengan total luas daratan 1.550,37
jargon pada visi tersebut terincikan dalam
km2, terdiri dari 8 kecamatan dan 91
bentuk agenda pelaksanaan pembangunan
Kelurahan/Desa. Berbatasan dengan
pada setiap tahun dalam periode pertama
Kabupaten Halmahera Barat disebelah
pemerintahan 2005-2010. Uraian visi
utara, dengan Kabupaten Halmahera
tersebut adalah sebagai berikut:
Selatan di sebelah selatan, dengan
Beriman: Terpatrinya agama sebagai
Halmahera Timur dan Halmahera Tengah
landasan berpikir dan bertindak dalam
di sebelah timur, serta berbatasan dengan
kehidupan individu, keluarga, lingkungan,
Kota Ternate di sebelah barat. Jumlah
pemerintahan dan umum.
Penduduk Kota Tidore Kepulauan
Maju: Meningkatkan kualitas
sebanyak 92.226 jiwa.
sumberdaya manusia yang memiliki
kemampuan (skill), memahami tugas dan
3. Visi dan Misi
tanggungjawabnya, energik, inovatif dan
Sebagai wujud implementasi amanat
berkepribadian.
Undang-Undang nomor 32 tahun 2004
Mandiri: Tersedianya infastruktur
tentang Pemerintahan Daerah,
wilayah yang mendukung aksesibilitas
Pemerintahan periode awal Kota Tidore
sosial dan ekonomi, tersedianya lapangan
Kepulauan memformulasikan kebijakan
kerja, meningkatnya produktifitas serta
otonomi yang diarahkan untuk

19
terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan dasar kelompok usaha mikro, kecil dan
masyarakat. menengah (UMKM)
Berperadaban: Terciptanya 5) merefitalisasi nilai-nilai” adat se
kedamaian sosial atas dasar toleransi dan atorang” beserta kelembagaannya serta
penghormatan terhadap kelembagaan sosial mewujudkan kehidupan masyarakat
serta diperankannya institusi adat sebagai yang aman, damai, harmonis, dan
pilar pembangunan. berkepribadian.
Berdasarkan visi pembangunan
tersebut, ditetapakn misi pembangunan E. HASIL PENELITIAN DAN
Kota Tidore Kepulauan adalah sebagai INTERPRETASI DATA
berikut:
1) meningkatkan kualitas keberagamaan Keberhasilan suatu kebijakan yang
dilingkungan masyarakat dan diusung pemerintah memiliki karakteristik
pemerintahan. dan model yang berbeda. Dimana dalam
2) meningkatkan kualitas SDM melalui konteks kebijakan publik keberhasilan
pelayanan pendidikan dan kesehatan suatu kebijakan terletak pada unsur
,pembinaan aparatur pemerintah Daerah, implementasi oleh pemerintah yang sedang
pembinaan keperempuanan, membangun daerahnya atau sedang
kepemudaan dan Olah Raga. mewujudkan misi pembangunan
3) meningkatkan pembangunan pemerintahan. Pada bagian ini menjelaskan
infrastruktur sosial, ekonomi, dan perihal implementasi misi dengan
pemerintahan serta pengembangan menggunkan model George Edward III
kawasan strategis dan cepat tumbuh (komunikasi, sumber daya, disposisi, dan
berdasarkan rencana tata ruang wilayah struktur birokrasi) dan faktor keberhasilan
Kota Tidore Kepulauan. maupun kegagalan oleh Model Merille
4) meningkatkan pembiayaan Gerindle (isi kebijakan dan konteks
pembangunan dengan mengoptimalisasi implementasi).
pengelolaan sumber-sumber pendapatan
Daerah dan peningkatan peran serta 1. Dimensi Komunikasi

20
Untuk mewujudkan misi Selain rapat koordinasi,maka yang harus
pembangunan tentunya pemerintah dilakukan adalah rapat kerja pemerintah,

Walikota Tidore Kepulauan memiliki cara rapat pembuatan KUA/PPAS, rapat


Koordinasi penyusunan APBD.
dan strategi untuk mengkomunikasi
Sementara itu, sosialisasi bagi publik
mengenai hal-hal yang terkait dengan misi
lebih melihat pada dokumen
tersebut. Salah satunya bagaimana
perencanaan melalui lokakarya, seminar,
mengkomunikasikan Tidore kepulauan
dan media (wawancara, 10/10/09).
yang beriman, mandiri dan berperadaban.
Sebagai visi dan misi ini menurut Walikota Untuk mencapai target dari misi ini,

Tidore Kepulauan (H.Achmad Mahifa) secara ideal harus sesuai antara rumusan

mengatakan bahwa: misi dengan implementasi kebijakan


(1)Melalukan koordinasi aktor pelaku pembangunan dilapangan. Hal ini perlu
pembangunan untuk persamaan persepsi, dituangkan dalam kerja-kerja pemerintahan
(2)Sosialisasi kemasyarakat melalui untuk mewujudkan masyarakat Tidore
pelaksana kegiatan pemerintahan secara Kepulauan yang memiliki keimanan
teknis, dimana ada musrembang dari kepada Tuhan, kemandirian dalam
tingkat Desa, Kelurahan, Kecamatan ,
melakukan berbagai aktivitas
Kabupaten dan Kota kemudian rapat
pemberdayaan, dan bahkan berperadaban
kerja perencana pemerintahan dibawah
untuk melihat kepentingan-kepentingan
ke forum konsolidasi dan komunikasi
daerah dan masyarakat. Hal ini juga
visi dan misi dari program pembangunan
dijelaskan Unsur Dewan Perwakilan
(wawancara, 10 /10/09).
Rakyat Kota Tidore Kepulauan bahwa:
Selain yang dijelaskan Walikota Sosialisasi dan komunikasi visi dan misi
diatas, maka proses mengkomunikasikan tersebut melalui program dan kegiatan
misi pembangunan Kota Tidore Kepulauan setiap SKPD atau strategi kerja
ditambahkan oleh Sekertaris Bappeda Kota pembangunan daerah” (wawancara,
Tidore Kepulauan (Fatharudun Soleman ) 12/10/09).

dalam bentuk dan cara yang berbeda untuk


Dimensi keimanan, kemandirian dan
menyampaikan masalah keimanan,
peradaban masih dalam konteks konsep
kemandirian dan berperadaban, bahwa:
yang diusahakan agar tujuan misi ini dapat
dilaksanakan secara bijaksana oleh

21
pemerintahan yang sedang digalakkan. pemerintah untuk lebih mengefektifkan
Implementasi kebijakan ini bertujuan untuk lembaga-lembaga keagamaan.
melindungi dan memberikan kemananan
bagi penganut agama yang hidup rukun dan 2. Dimensi Sumber Daya
damai dilingkungan pemerintahan Tidore Dalam melaksanakan visi dan misi
Kepulauan. pembangunan pemerintahan Kota Tidore
Namun yang menjadi perhatian dari Kepulauan, salah satu syarat adalah
komunikasi keberagamaan ini adalah pengembangan sumber daya yang
mempertimbangkan kualitas dilingkungan memadai, sehingga hal ini dapat digunakan
masyarakat, hal ini dikatakan Sekertaris sebagai landasan dalam penyelenggaraan
Daerah Kota Tidore Kepulauan (Ibrahim pemerintahan di dearah. Sumber daya yang
Maradjabessy): dimaksudkan ini tidak sekedar pada satu
(1) Melaksanakan program/kegiatan yang aspek yaitu sumber daya manusia akan
mengarah pada peningkatan penghayatan tetapi juga sumber daya pendukung lainnya
ajaran agama dilingkungan masyarakat seperti infrastruktur lainnya yang
melalui pendidikan formal dan
mendukung implementasi kebijakan visi
nonformal, (2) pembinaan wawasan
dan misi pembangunan Tidore Kepulauan.
keagamaan, (3) penataan lembaga
Kualitas sumber daya manusia yang
keagamaan, (4) pembinaan
mendorong terwujudnya misi sehingga
keberagamaan antar umat beragama, (5)
menciptakan kota Tidore Kepulauan yang
melakukan program peningkatan
kesejahteraan (imam, syara’ah, pendeta bermartabat, mandiri, dan berperadaban,
dan petugas keagamaan lainnya untuk meningkatkan kualitas sumber daya
(wawancara, 10/10/09). manusia harus dilakukan melalui beberapa
aspek. Hal ini dikatakan unsur Dewan
Sasaran yang dicapai dari dimensi Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota
komunikasi dalam konteks agama bagi Tidore Kepulauan yang terkait dengan
masyarakat Kota Tidore Kepulauan ini, bidang kesehatan, pendidikan pembinaan
tidak saja dilakukan dilembaga formaldan aparatur pemerinahan menurutnya bahwa:
nonformal keagamaan namun dapat juga Masih rendahnya bidang pelayanan
dilakukan melalui pembinaan antar umat kesehatan diarahkan pada pembangunan
beragama dalam meningkatkan kepedulian Puskesmas di semua desa/kecamatan dan

22
penempatan petugas pelayanan pendidikan dan pembinaan aparatur bahwa:
kesehatan, bidang pendidikan Bidang-bidang yang kami sebutkan di atas
menekankan pada pemerataan dan sudah tertuang dalam Rencana
pembukaan jangkauan pendidikan sejak
Pembagunan Jangka Menengah Daerah
usia dini sampai perguruaan tinggi.
Kota Tidore Kepulauan, dan akan
Sementara itu, pada bidang pembinaan
dilaksanakan sesuai dengan anggaran yang
aparatur pemerintahan diarahkan pada
ada (wawancara, 10/10/09).
pendidikan dan pelatihan serta
Melihat pandangan dan gambaran
bimbingan teknik (wawancara,
10/10/09). dari Wali Kota di atas, maka bidang yang
disebutkan ini masih dilihat sebagai
Tentunya untuk menjawab dan persoalan-persoalan daerah yang krusial
mengarahkan beberapa bidang strategis ini dan memiliki peran untuk mendorong ke
dalam mewujudkan misi pembangunan arah implementasikan kebijakan
maka langkah-langkah yang harus pembangunan yang bermartabat mandiri
ditempuh adalah; (1) adanya perumusan dan memiliki budaya yang handal.
agenda dalam proses tindak lanjut, (2) Mendukung pandangan Wali Kota dan
perumusan target capaian untuk masing- Unsur DPRD Kota Tidore Kepulauan di
masing program, (3) penetapan alokasi atas bahwa mewujudkan visi dan misi di
pemberdayaan dan anggota, (4) bagaimana Kota ini masih pada taraf dan tingkatan
mengimplementasikan, (5) pengawasan, (6) untuk mempersiapkan diri dari sumber
evaluasi untuk menjamin tindak lanjut yang daya yang dimilikinya. Dalam pandangan
efektif . Fataruddin Soleman (Sekertaris Bappeda
Di sisi lain, mewujudkan atau Kota Tidore Kepulauan) mengatakan
mengimplementasikan misi di beberapa bahwa:
bidang ini harus sudah dirasakan oleh Yang pertama adalah menyiapkan
masyarakat secara luas di Kota Tidore sumber daya aparatur di bidang
Kepulauan, namun ada pandangan yang kesehatan, bidang pendidikan
berbeda dengan apa yang dikatakan Wali pemerintah, kedua; penyiapan sarana dan
Kota terpilih Ahmad Mahifa, terkait prasarana untuk menunjang bidang

dengan visi dan misi pembangunan pendidikan kesehatan dan penelitian


dalam rangka peningkatan mutu
pemerintahan dibidang kesehatan,

23
pendidikan di tingkat masyarakat, ketiga; Tikep untuk mewujudkannya harus
setiap tahun anggaran untuk bidang diarahkan pada
kesehatan dan pendidikan disiapkan (1) pelayanan kesehatan, yang paling
20% dari total APBD yang diusung pokok adalah peningkatan akses
(wawancara, 10/10/09). masyarakat terhadap pelayanan
kesehatan yang berkualitas, (2) aspek
Dengan demikian untuk mewujudkan
pendidikan yang paling pokok adalah
langkah-langkah visi dan misi ini, tentunya
peningkatan pemerataan dan
diwujudkan dengan menentukan program
keterjangkauan masyarakat dalam
dan kegiatan yang sinergis dengan Rencana
mengejar pendidikan sejak usia dini
Pembangunan Jangka Menengah, Renstra,
sampai dengan pendidikan tinggi,
SKPD, dan RKPD. Hal lain juga yang turut dengan sarana yang memadai dan tenaga
mengimplementasikan terlaksanya visi dan kependidikan yang handal, (3)
misi ini adalah bahwa pengelolaan sumber peningkatan sumber daya aparatur
anggaran yang efektif, efisien dan tepat dengan kemampuan membangun
sasaran. Bahkan monitoring, evaluasi, dan (wawancara, 11/10/09).

pengawasan program dan kegiatan adalah Hasil wawancara di atas, menjelaskan


dilaksanakan ke depan kemudian menjadi implementasi kebijakan program misi
umpan balik di tahun mendatang. berupa bidang kesehatan, pendidikan dan
Pada kesempatan yang lain, peningkatan sumber daya manusia
Sekertaris Kota Tidore Kepulauan menilai memiliki substansi penting, karena sangat
bahwa mewujudkan kualitas sumber daya diharapkan masyarakat Kota Tidore
manusia dalam rangka pelaksanaan misi Kepulauan untuk lebih maju dalam
untuk mewujudkan visi pembangunan, mengembangkan sektor tersebut di atas.
sehingga terciptanya Kota Tidore yang
beriman, mandiri, maju dan berperadaban 3. Dimensi Disposisi

yang dilakukan untuk meningkatkan Untuk meningkatkan pembangunan

sumber daya manusia melalui pelayanan infrastruktur sosial, ekonomi dan

kesehatan, pendidikan, dan pembinaan pemerintahan sebagai dimensi dalam misi

aparatur pemerintahan. Menurut Sekertaris pembangunan pemerintahan Kota Tidore


Kepulauan, para aktor kebijakan dan elit
politik, tidak saja memiliki pengtetahuan

24
dalam menentukan dan membangun penyelenggaraan pemerintahan. Karena
kebijakan tetapi, komitmen, nilai kejujuran, dengan modal dan dasar inilah
kepercayaan dan bahkan nilai-nilai pembangunan dapat berjalan sesuai dengan
demokrasi menjadi instrumental utama tujuan ditetapkannya. Komitmen dan
dalam implementasi misi menuju kepercayaan dalam pembangunan juga di
pembangunan yang mandiri, bermartabat jelaskan Sekertaris Bappeda Kota Tidore
bahkan berperadaban. Untuk hal ini Kepulauan bahwa; Dengan berbekal
Sekertaris Kota Tidore mengatakan bahwa: kemampuan dan komitmen terhadap
Sebagaimana diketahui bahwa kebijakan yang jelas, ditetapkan dalam
perencanaan yang baik itu belum cukup perencanaan, maka implementasi visi dan
tanpa didukung kemampuan SDM yang misi dapat berjalan secara konsisten untuk
memadai , dengan kepercayaan dan
pencapaian misi pembangunan kota tidore
SDM yang handal, tak cukup namun
(wawancara, 11/10/09).
perlu komitmen. Untuk itu kita sangat
Konsistensi akan komitmen dalam
berkomitmen pula untuk terus menerus
penyelenggaraan pemerintahan harus
memacu SDM aparatur sekaligus
menjadi perhatian dan isu utama untuk
mengasuh komitmennya yang bersinergi
untuk mewujudkan visi dan misi dikelola, karena diakui bahwa Kota Tidore
pembangunan ini untuk kemajuan kota Kepulauan masih memiliki kelemahan-
yang nantinya bisa setara dengan daerah kelemahan dalam konteks pembangunan
lainnya walaupun disana-sini masih yang menjamin partisipasi dan pelayanan
harus dibenahi dari sisi SDM dan publik secara umum. Olehnya disposisi dan
Kelembagaan (wawancara, 11/10/09). kemampuan dalam membangun Kota

Wawancara di atas menjelaskan Tidore Kepulauan harus menjadi tujuan

bahwa dalam mewujudkan misi utama. Wali Kota Tidore Kepulauan

pembangunan pemerintahan Kota Tidore mengatakan bahwa;

Kepulauan, tidak hanya mengandalkan Kemampuan, komitmen dan konsistensi


ini yang dibutuhkan, karena di kota ini
sumber daya manusia yang berkualitas,
masih kurang para aparat yang memiliki
namun komitemen, kepercayaan dan
kemampuan tersebut. Bahkan ketiga hal
karakter dari aktor kebijakan pembangunan
ini bisa menjamin apa yang kita
menjadi unsur yang penting dalam
rencanakan dapat terlaksana sesuai

25
harapan tentang pengelolaan hal ini akan dampaknya dapat dinikmati
pemerintahan yang baik, pelaksanaan atau dirasakan masyarakat Kota Tidore
pembangunan yang baik, dan lebih b aik Kepulauan. Dalam arti bahwa dimensi
dan penting adalah pelayanan
disposisi dalam wujud komitmen, kejujuran
masyarakat, yang semakin baik
dan menerapkan nilai-nilai demokrasi,
(wawancara, 11/10/09).
ketika pejabat publik di Kota Tidore
Di sisi lain, kemampuan akan Kepulauan terlihat dalam praktek
pengelolaan pembangunan dengan pemerintahan sehari-hari.
komitemen dan kepercayaan akan
4. Dimensi Struktur Birokrasi
menumbuhkan sikap membangun negara
Salah satu dimensi dari implementasi
atau bangsa bahkan Kota menjadi lebih
kebijakan publik oleh George Edwar III,
ringan dan bertanggungjawab. Jika
adalah ”struktur birokrasi”. Dimensi ini
komitmen dijalankan secara baik, maka
juga memiliki kekuatan untuk keberhasilan
pemerintahan akan berjalan dengan
suatu pemerintahan. Implementasi akan
dukungan dan kepercayaan publik di Kota
struktur birokrasi meniscayakan
Tidore Kepulauan. Hal ini dikatakan oleh
kemudahan dan bahkan mengurangi
Unsur Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
pemborosan uang negara dalam
Kota Tidore Kepulauan bahwa; Karena
penyelenggaraan pemerintahan. Dimensi
dengan kemampuan dan komitmen yang
ini juga menentukan dan mengurangi
baik dalam konteks pemerintahan. Maka
konflik kepentingan di antara aktor dari elit
pengelolaan pemerintahan akan berjalan
politik. Di akui bahwa struktur birokrasi
baik bahkan berakses pada pelaksanaan
yang ada di Kota Tidore Kepulauan masih
pembangunan dan pelayanan masyarakat
membutuhkan analisis untuk tentang aturan
yang baik pula (wawancara, 11/10/09).
main, komitmen dan kemampuan dalam
Dengan demikian bahwa pengelolaan
mengembangkan fungsinya, hal ini
pemerintahan bisa baik jika, para
dikatakan Wali Kota Tidore Kepulauan
penyelenggara pembangunan memiliki
bahwa;
komitmen yang sama dalam mewujudkan
Bagi saya untuk kondisi Kota Tidore saat
dan mengembangkan misi untuk
ini, di pemerintahan belum cukup baik.
diimplementasikan secara baik pula. Dan
Lagi pula berkonsekuensi dengan

26
ketentuan peraturan dan perundang- peraturan dan perundang-undangan yang
undangan, sehingga kemampuan, berlaku karena, untuk melakukan sistem
komitmen dan konsistensi yang harus perampingan struktur birokrasi
diasah agar tugas pokok dan fungsinya
memerlukan tujuan dan latar belakang yang
dapat berjalan dengan baik (wawancara,
jelas, sehingga pertimbangan-pertimbangan
11/10/09).
menajdi unsur penting untuk mengurangi
Struktur birokrasi yang dimiliki orientasi pemborosan bagi penyelenggaraan
pemerintahan Kota Tidore Kepulauan pemerintahan. Terkait dengan masalah di
masih membutuhkan perubahan-perubahan atas, maka, Sekertaris Kota Tidore
di sana sini, mengingat fungsinya belum Kepulauan mengungkapkan bahwa;
optimal dalam melaksanakan tugas-tugas Menurut kami ya, mungkin belum terlalu
diinternal lembaga. Bahkan belum secara ideal, tapi yang diharapkan keluarannya

baik mengimplementasikan Rencana dapat berfungsi secara maksimal. Perlu


dikethui bahwa struktur birokrasi itu kan
Pemabangunan Menengah Daerah
berdasarkan ketentuan PP No 41 tentang
(RPJMD) di Kota Tidore Kepulauan,
organisasi perangkat daerah. Kami sudah
Sekertaris Bappeda mengatakan ketika
mendesain berdasarkan ketentuan
diwawancarai bahwa;
tersebut dan berdasarkan pertimbangan
Belum cukup dalam memudahkan
kondisi daerah, kemampuan pembiayaan
penetapan struktur kelembagaan
dan strategi pengembangan dalam
birokrasi belum sesuai dengan ketentuan
implementasi visi dan misi pembangunan
dan peraturan perundang-undangan,
Kota Tidore Kepulauan. Di samping itu,
dimana struktur birokrasi yang ada saat
perkembangan pembangunan kawasan
ini sudah memiliki uraian tugas namun,
strategis dan cepat tumbuh kami
belum optimal pelaksanaannya yang
galakkan saat ini sesungguhnya telah
sesuai dengan upaya implementasi
bergerak dari pemetaan wilayahnya
RPJMD Kota Tidore Kepulauan
sekarang itu pula pada pengembangan
(wawancara,11/10/09).
infrastruktur kawasan antara lain utilitas
Dalam pelaksanaan misi terkait perkotaan(wawancara, 11/10/09)

dengan implementasi kebijakan Mewujudkan ide-ide pembangunan


pembangunan secara umum, harus pemerintahan di Kota Tidore Kepulauan
disesuaikan dengan aturan main atau dalam konteks implementasi kebijakan

27
yang terkait dengan struktur birokrasi, regulasi yang lebih menjamin upaya
banyak hal yang harus didoring sebagai pengembangan(wawancara, 11/10/09).

keberhasilan dari implementasi program Hasil wawancara unsur DPRD di


yang telah disuung. Perampingan akan atas, menunjukkan bahwa tujuan
struktur birokrasi dalam mewujudkan misi perampingan struktur birokrasi
pembangunan Kota Tidore dalam konteks mengindikasikan memperkecil struktur dan
implementasi program pembangunan ke menambah fungsi akan lebih baik dalam
depan. Dalam hal ini menurut Unsur implementasi kebijakan pembangunan Kota
DPRD Kota Tidore Kepulauan Tidore Kepulauan. Di sisi lain bahwa
Mengatakan bahwa: reformasi akan struktur birokrasi sebagai
Saat ini dapat dikatakan baik, walaupun
salah satu dimensi implementasi kebijakan
demikian idealnya masih dapat dilakukan
akan sangat berpengaruh dalam
perampingan struktur dengan prinsip
mewujudkan misi pembangunan. Hal ini
struktur yang sempit kaya fungsi dan dari
karena struktur birokrasi juga menentukan
aspek pembiayaan masih efisien sebagai
berjalannya sistem dalam mengelola
contoh, untuk Dinas Pendapatan Daerah,
bagian keuangan Setda dan perlengkapan pemerintahan di Kota Tidore Kepulauan.
dapat digabungkan dalam satu SKPD
5. Dimensi Isi Kebijakan
yakni satuan Karya Perangkat Daerah,
Dalam dimensi isi kebijakan berupa
misalnya Badan Pengelolaan Keuangan
dan Aset Daerah. Menurutnya misi pembangunan Kota Tidore Kepulauan
perkembangan pembangunan kawasan bermplikasi pada aktor-aktor kebijakan
strategis dan cepat tumbuh dan yang dapat mengendalikan berbagai konsep
berkembang dalam proses implementasi yang diusung, karena masa depan
kebijakan semestinya di susuin dalam implementasi misi dari pemerintahan yang
dokumen perencanaan dan pemekaran sedang berjalan memberikan inspirasi
wilayah. Hal ini harus disosialisasikan
bahwa aktor kebijakan seperti legislatif dan
mulai dari perda tentang RUTRW tetapi
eksekutif sangat menentukan dan
karena kawasan strategis dan cepat
mempengaruhi semua isi kebijakan
tumbuh itu dalam pengembangan
pembangunan pemerintah ke depan. Dari
diperlukan konsentrasi khusus, maka
kedua aktor ini boleh jadi mendominasi
harus dengan pembiayaan dan aspek
kepentingan kelompok masing-masing

28
dengan mengatasnamakan kepentingan relatif rendah atau belum terjadi
rakyat, sebagaimana dikatakan Sekertaris pemerataan-pemerataan, dalam hal ini di
Kota Tidore Kepulauan bahawa; tegaskan Wali Kota Tidore (Ahmad
Sangat di pengaruhi oleh aktor kebijakan Mahifa) bahwa;
legislatif dan eksekutif, karena Sejauh ini memang ada kepentingan
pengambilan keputusan atas persetujuan tetapi kepentingan yang rasional dibiayai
lembaga tersebut. Karena itu boleh dengan rencana pengembangan daerah
dibilang bahwa ini adalah sebuah sebagai suatu upaya untuk meningkatkan
keputusan politik tetapi yang terpenting kesejahteraan rakyat, tetapi kebijakan
dari sini yaitu kebijakan yang dihasilkan yang dihasilkan pun relatif masih harus
di dasarkan pada kepentingan dan ada pembenahan-pembenahan ke dalam
pertimbangan rasional dan komitmen. lembaga, sehingga para aktor kebijakan
Tidak semua keputusan itu didasarkan meninggalkan kepentingan-kepentingan
pada dokumen perencanaan di atasnya. pribadi (wawancara, 11/10/09).
Akan tetapi sering kepentingan pribadi,
atau kelompok mendominasi yang Di akui oleh Wali Kota bahwa perlu
mengatasnamakan kepentingan rakyat ada pembenahan-pembenahan di tubuh
untuk mewujudkan visi dan misi birokrasi pemerintah Kota Tidore
pembangunan Kota Tidore Kepulauan Kepulauan, dimana para aktor kebijakan
(wawancara,11/10/09). dan elit politik lainnya untuk membatasi
kepentingan-kepentingan mereka.
Misi pembangunan secara ideal harus
Sementara itu, dalam pandangan yang
mengikuti aturan main yang berlaku di saat
berbeda bahwa secara riil pengaruh
suatu perumusan kebijakan ditetapkan
lembaga dalam implementasi program visi
sebagai agenda yang mendesak.
dan misi begitu kuat. Dalam hal ini antara
Wawancara di atas, lebih menonjolkan
harapan dan kenyataan sangat berbeda,
kepentingan pribadi dan kelompok bahkan
misalnya apa yang dirumuskan melalui
partai dalam mengelola pemerintahan atau
RPJMD belum tentu ada realisasi pada
dalam mewujudkan misi pembangunan.
tataran praksis. Hal ini dikatakan Unsur
Artinya terkait dengan kepentingan para
DPRD bahwa;
aktor dalam implementasi kebijakan publik.
Sangat dipengaruhi oleh lembaga,
Bagi kepentingan rakyat dianggap masih
sebagai contoh bahwa program yang

29
telah dirumuskan terkadangan tidak melalui intervensi program-program dalam
diaplikasikan dilapangan sesuai rencana mewujudkan misi pembangunan. Namun
yang disusun. Misalnya ada di APBD, interfensi dari visi dan misi ini paling
tetapi terkadang bias dari arah kebijakan
tidak, minimal berpengaruh pada
umum yang ditetapkan dengan standar
kepentingan dan kekuasaan dalam
pada RPJMD dan RKPD
implementasi program pembangunan Koata
(wawancara,11/10/09).
Tidore. Hal ini dikatakan Sekertaris
Keberhasilan implementasi kebijakan Bappeda Kota Tidore Kepulauan
program visi dan misi ke depan, maka (Fatarudin Soleman) mengatakan ketika
harus merubah paradigma yang sesuai diwawancarai;
dengan kondisi masyarakat yaitu apa yang Memang berpengaruh tetapi tidak begitu
menjadi kebutuhan yang ditetapkan sebagai banyak karena aktor yang dimaksudkan

rencana strategis kebijakan pembangunan dalam strategi mewujudkan visi dan


misi ini itu harus dilakukan secara
yang mendorong bagi pimpinan ke depan
rasional dan objektif dalam kerangka
yang baik lagi. Namun dalam konteks ini
melaksanakan program-program yang
kebijakan ini, peluang dan kesempatan
telah ditawarkan khususnya di Todore
pejabat publik dapat membatalkan dan
Kepulauan (wawancara,11/10/09).
sekaligus intervensi program dalam misi
pembangunan yang diwujudkan. Kepentingan akan kekuasaan
merupakan hal biasa terjadi dalam dunia
6. Dimensi Konteks lingkungan politik, apalagi mewujudkan dalam konteks
Implementasi
implementasi visi dan misi pembangunan
Dalam konteks lingkungan kebijakan
kota Tidore Kepulauan. Akan tetapi secara
visi dan misi pembangunan mengisyaratkan
ideal politik yang baik adalah politik yang
bahwa kekuasaan, kepentingan dan strategi
dapat mencerahkan negara dan
aktor dalam pembangunan memiliki
masyarakatnya. Perjuangan akan kekuasaan
pengaruh, karena proses implementasi
dalam mewujudkan pembangunan Kota
kebijakan untuk mencapai sasaran
Tidore Kepulauan. Jadi secara substantif
pembangunan Kota Tidore melalui banyak
kekuasaan dalam politik harus
aktor yang terlibat didalamnya. Pengaruh
mengindikasikan perjuangan dan
aktor dalam kekuasaan diorientasikan
kepentingan masyarakat. Terkait dengan

30
kepentingan kekuasaan ini, Sekertaris Kota Dalam konteks kepentingan
Tidore menguraikan bawah; kekuasaan pada implementasi kebijakan.
Menurut kami bahwa unsur kekuasaan, Masalah visi dan misi merupakan unsur
kepentingan dan strategi aktor sesuatu atau komponen penting dalam keberhasilan
yang terpenting. Apapun kepentingan dan atau kegagalan dalam implementasi
harus mengacuh pada implementasi visi
kebijakan pembangunan, karena dalam
dan misi, memang perlu diakui bahwa
konteks ini keberhasilna dan kegagalan
siapa yang tidak memiliki kepentingan
juga ditentukan oleh penguasa yang
ketika berhadapan dengan kekuasaan,
memiliki legitimasi dalam pemerintahan.
namun harus juga mempertimbangkan
kepentingan masyarakat, dan keuangan
daerah (wawancara, 11/10/09). F. P E N U T U P

Kekuasaan politik dalam suatu 1. Kesimpulan


pemerintahan mengisyaratkan kekuasaan Dari hasil pembahasan pada bagian
akan kepentingan elit politik yang sebelumnya, penelitian ini menghasilkan
memegang legitimasi kekuasaan, dimana kesimpulan yang terdiri:
mewujudkan konsep dan program
a. Dimensi komunikasi, ditemukan bahwa
pembangunan ke depan. Intinya bahwa
untuk implementasi kebijakan program
pengaruh kekuasaan dan kepentingan aktor
pembangunan pada unsur keagamaan
harsu didasarkan pada program misi elit
dinilkai sejak tahapan perencanaan
politik yang sedang memimpin
yang dilakukan melalui tingkat
pemerintahan. Hal ini diungkapkan Wali
Musrembang (Kecamatan Desa dan
Kota Tidore Kepulauan bahwa:
Kelurahan), melalui rapat, forum
Masalah kepentingan dalam kekuasaan
komunikasi. Dari beberapa tahapan ini
suatu lembaga merupakan hal biasa,
terkadang bias, dimana rumusan materi
karena apapun kekuasaan pasti memiliki
kebijakan yang dikomunikasikan pada
pengaruh untuk menjaga legitimasi dan
kepentingannya dalam rangka tingkat musrembang seharusnya
melaksanakan visi dan misi menjadi konsensus, namun pada
pembangunan Kota Tidore Kepulauan. tahapan selanjutnya tidak terakomodasi
(wawancara, 11/10/09. dalam bentuk kebijakan yang

31
diimplementasikan. Faktanya pada dan SDM apartur pemerintahan. Ini
musrembang tingkat desa/kelurahan menunjukkan belum optimalnya
terumuskan 5 (lima) program perioritas. implementasi misi atau program
namun tingkat kecamatan pengajuan kebijakan pembangunan bidang-bidang
program perioritas tersebut tereduksi yang disebutkan di atas.
dalam bentuk perioritas kecamatan, dan c. Pada dimensi disposisi, masih kurangnya
tidak semua prioritas desa/kelurahan kemampuan untuk berkomitmen dalam
terakomodir. Proses reduksi ini terjadi melaksanakan tugas pemerintahan
pula pada tingkat selanjutnya, yakni dengan mempertimbangkan ke-
tingkat rapat kerja perencanaan percayaan dan konsistensi pada aturan
pembangunan ditingkat kota. Kondisi dan perundang-undangan. Karena
ini memperlihatkan bentuk komunikasi komitmen dapat merangsang dinamika
kebijakan yang tidak konsisiten penyelenggaraan pemerintahan, bahkan
sehingga memunculkan rasa tidak puas masih kurangnya aparat yang memiliki
bagi masyarakat terkait penyelenggara- komitmen di Kota Tidore Kepulauan.
an pembangunan yang tidak d. Struktur birokrasi belum cukup memadai
bersesuaian dengan kebutuhan antara kemampuan daerah sering
masyarakat. Bahkan lokakarya, bertentangan dengan peraturan dan
seminar, media masa belum perundang-undangan yang berlaku atau
memberikan hasil yang memuaskan regulasi yang ditetapkan. Bahkan
bagi masyarakat di Kota Tidore belum cukup dalam memudahkan dan
Kepulauan. Ini terkait dengan dimensi menetapkan struktur birokrasi
komunikasi yang belum maksimal kelembagaan belum sesuai dengan
dalam mencapai target dan sasaran. aturan, belum optimalnya pelaksanaan
b. Sumber daya, ditemukan masih Rencana Pembangunan Jangka
rendahnya SDM bidang kesehatan dan Menengah Derah (RPJMD).
pelayanan kesehatan, rendahnya akses e. Dimensi isi Implementasi Kebijakan.
pelayanan pendidikan dari Sekolah Kegagalan sebuah implementasi
Dasar sampai Perguruan Tinggi, kebijakan karena dipengaruhi oleh
rendahnya SDM bidang pendidikan, aktor kebijakan seperti eksektif dan

32
legislatif atas keputusan politik yang visi dan misi pembangunan. Di sisi lain,
mengarah pada kepentingan pribadi dan dalam meningkatkan kualitas
kelompok. Dalam kekuasaan pendidikan dari Sekolah Dasar sampai
kepentingan tetap ada dan dapat Perguruan Tinggi, tenaga kependidikan
mempengaruhi isi kebijakan yang perlu diberi tunjungan khusus dalam
diputuskan berpihak pada kepentingan merangsang kualitas kerja.
penguasa. c. Pada dimensi Disposisi, diharapkan
f. Dimensi konteks lingkungan kebijakan, setiap aparatur agar meningkatkan
dipengaruhi oleh kepentingan penguasa kepercayaan dan memperteguh
dalam rangka mengimplementasikan komitmen serta konsistensinya pada
misi pembangunan pemerintahan. tanggungjawab pelaksanaan tugas
Untuk perlakuan penguasa dalam pemerintahan untuk melayani
melegetimasi kepentingan ini menjadi masyarakat di Kota Tidore Kepulauan.
sesuatu yang wajar. d. Pada dimensi Struktur birokrasi, harus
adanya penetapan struktur birokrasi
2. Saran
sesuai dengan situasi dan kondisi
Saran yang dapat disampaikan dari
internal lembaga dan wilayahnya di
hasil penelitian ini adalah:
Kota Tidore Kepulauan,
a. Pada dimensi komunikasi, semua aktor
mempertahankan dan melaksanakan
harus memposisikan diri untuk
uraian tugas, diharapkan struktur
mengkomunikasikan misi melalui; (1)
berjalan secara ideal, bahkan adanya
Musrembang, (2) rapat kerja, (3) forum
sistem perampingan struktur birokrasi
konsolidasi, (4) lokakarya, (5) seminar,
yang sempit tetapi kaya fungsi.
(6) implementasi program disertai
e. Dalam mempertimbangkan dimensi isi
pembinaan dan penataan lembaga.
kebijakan, maka diharapkan bahwa (1)
b. Dalam mengembangkan sumber daya
materi kebijakan yang
pembangunan Kota Tidore Kepulauan
diimplementasikan, secara ideal harus
bahwa saatnya pemerintah Kota Tidore
sesuai dengan dokumen perencanaan
Kepulauan meningkatkan sumber daya
yang telah diputuskan dalam
manusia diberbagai bidang kehidupan.
Musrembang, dan RPJMD, (2) isi
Hal ini disesuaikan dengan perumusan

33
implementasi kebijakan pembangunan Depdagri, (2004). Undang-Undang RI
Nomor 25, Tahun 2004 tentang
harus mempertimbangkan kepentingan
SistemPerencanaan Pembangunan
masyarakat, bukan kepentingan elit Nasional. Jakarta: Sinar Grafika.
politik, (3) kepentingan harus secara
Depdagri, (2004). Undang-Undang RI
rasional demi kepentingan Nomor 32, Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah. Jakarta:
pengembangan daerah.
Sinar Grafika.
f. Dalam konteks lingkungan implementasi,
Hasan. M.I., (2002). Pokok-Pokok
diharapkan bahwa pada saatnya elit
Materi Metodologi Penelitian dan
politik merubah paradigma untuk Aplikasi. Jakarta: Ghalia Indonesia.
mendahulukan kepentingan masyarakat,
Indra Bastian., (2006). Sistem Perencanaan
dan mendahulukan program secara dan Penganggaran Pemerintah
Daerah Di Indonesia. Jakarta:
rasional, yang dibutuhkan masyarakat,
Salemba Empat.
dimana sesuai dengan perumusan misi
Miron Weiner. (1986). Modernisasi
pembangunan Kota Tidore Kepulauan.
Dinamika Pertumbuhan.
Yogyakarta: Gajah
Mada University Press.
DAFTAR PUSTAKA
Moeleong,J.Lexy.2002.Metode penelitian
Abdul Wahab, Solichin. 1997. Analisis Kualitatif.PT Remaja Rosdakarya
Kebijaksanaan: Dari Formulasi ke
Implementasi Kebijaksanaan
Nasution.1988.Metode Penelitian Naturalis
Negara. Edisi Kedua. Bumi Aksara.
Jakarta. Kualitatif. Tarsito.Bandung

Nugroho, Riant. 2006. Kebijakan Publik


-----------,1989. Analisis Kebijaksanaan
Negara:Teori dan Aplikasinya. PT untuk Negara Berkembang: Model-
Danar Wijaya, Brawijaya model Perumusan, Implementasi,
University Press. Malang. dan Evaluasi. Jakarta. Elex Media
Kompotindo.
Anderson, James E. 1979. Public Policy
Making. New York. NJ: Holt Nurlan Darise. (2008). Pengelolaan
Reinhartnwinston.
Keuangan Pada Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD). Jakarta:
Bryson. J.M., (2007). Perencanaan
PT.Indeks.
Strategis Bagi Organisasi Sosial.
Yogyakarta:
Rahmat, (2009). Teori Administrasi dan
Pustaka Pelajar. Manajemen Publik. Jakarta: Pustaka
Arif.

34
Subarsono. 2008. Analisis Kebijakan
Publik, Konsep, Teori, dan Aplikasi.
Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

Siagian S.P. (1978). Administrasi


Pembangunan. Jakarta: PT.
Gunung Agung.

Widodo, Joko. 2009. Analisis Kebijakan


Publik: Konsep dan Aplikasi
Analisis Proses Kebijakan Publik.
Jakarta. Bayumedia Publising.

35