Вы находитесь на странице: 1из 12

e-Journal GEDUNG

Program Studi Teknik Sipil S1, ITN MALANG

JOURNAL
STUDI PERENCANAAN PORTAL BAJA MENGGUNAKAN METODE LRFD PADA
GEDUNG FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI MALANG

JB. I Wayan Andika Wibisana Putra

Jurusan Teknik Sipil, ITN Malang, Jl. Jaksa Agung Suprapto Gang 1 No. 54 Malang
Email : Awibisana1@gmail.com

Abstract
The present, the construction of multi-storey buildings is becoming a trend in big cities because of limited land.But in
planning it is also necessary to consider factors such as safety, design strength, stability and efficiency in the process.
Analysis of the forces that occur must also be taken into account, so that when the building is subject to force, it will
be able to withstand the forces that occur. To plan the structure of a building that uses steel material, it can be planned
with an alternative steel WF because this component is assumed to be a non-bent component because the elements
are compressed, fully confined both in the direction of the strong axis, and the weak axis. Encased steel column
structure is an alternative in building planning, which is a WF steel profile combined with concrete. The advantage
that can be obtained from the use of Encased column structure is that the column can bear a large load of both press
and Pull. In this case planning uses the Load and Resistance Factor Design (LRFD) method which in Indonesia we
can use SNI 03-1729-2015 as a specification in structural planning. This is intended to get optimal and safe connection
requirements according to the load acting on the structure. From the calculation results, the optimal size of the WF
steel profile for the main beam is WF. 450.200.9.14, joist 1 WF. 350.175.7.11 and joist 2 WF 200.150.6.9. For the
Encased 1 column, the dimensions of 800 x 500 with WF 600.300.12.20 are obtained, while the Encased 2 column
has dimensions of 650 x 400 with WF 450.200.9.14. In the joint beam-column joints on the flanges, the type of end
plate joints with 20 mm thick end plates and 4 - Ø22,225 mm bolts are used. Ø22 mm, joist connection 1 - joist 2 using
an elbow L 80.80.8 mm with a number of bolts 4 - Ø22,225 mm, and for base plate the base plate dimensions of
1000.700.30 mm with anchor number 9 - Ø19,05 mm 750 mm long.

Keywords : Upper Structure, WF Beam, Encase Column, Steel Connection.

Abstrak
Dewasa ini, pembangunan gedung bertingkat menjadi tren di kota – kota besar karena terbatasnya lahan. Namun
dalam perencanaannya perlu juga diperhatikan faktor – faktor seperti keamanan, kekuatan desain, kestabilan, serta
efisiensi dalam pengerjaannya. Analisis terhadap gaya – gaya yang terjadi juga harus diperhitungkan, sehingga ketika
Gedung tersebut dikenai gaya, akan mampu menahan gaya – gaya yang terjadi. Untuk merencanakan struktur atas
bangunan yang menggunakan material baja, dapat direncanakan dengan alternatif baja WF karena komponen ini
diasumsikan sebagai komponen tak tertekuk karena bagian elemen mengalami tekan, sepenuhnya terkekang baik dalam
arah sumbu kuat, maupun sumbu lemahnya. Struktur kolom baja Encased merupakan alternatif dalam perencanaan
bangunan, yang dimana merupakan profil baja WF yang dikombinasikan dengan beton. Keuntungan yang di dapat dari
digunakannya struktur kolom Encased adalah kolom yang dapat memikul beban yang besar baik tekan maupun Tarik.
Dalam hal ini perencanaan menggunakan metode Load and Resistance Faktor Design (LRFD) yang di Indonesia kita
dapat menggunakan SNI 03-1729-2015 sebagai spesifikasi dalam perencanaan struktur. Hal ini dimaksudkan untuk
mendapatkan kebutuhan sambungan yang optimal dan aman sesuai dengan beban yang berkerja pada struktur. Dari hasil
perhitungan didapatkan ukuran optimal profil baja WF untuk balok induk yaitu WF. 450.200.9.14, balok anak 1 WF.
350.175.7.11 dan balok anak 2 WF 200.150.6.9. Untuk kolom Encased 1 didapatkan dimensi 800 x 500 dengan WF
600.300.12.20, kolom Encased 2 didapatkan dimensi 650 x 400 dengan WF 450.200.9.14. Pada sambungan balok induk
- kolom bertemu pada flens digunakan jenis sambungan end plate dengan tebal end plate 20 mm dan jumlah baut 4 –
Ø22,225 mm, sambungan balok induk - balok anak 1 menggunakan sambungan siku L 80.80.8 mm dengan jumlah baut
4 - Ø22 mm, sambungan balok anak 1 - balok anak 2 menggunakan sambungan siku L 80.80.8 mm dengan jumlah baut
4 – Ø22,225 mm, dan untuk base plate diperoleh dimensi pelat landasan 1000.700.30 mm dengan jumlah angkur 9 –
Ø19,05 mm panjang 750 mm.

Kata Kunci : Struktur Atas, Balok WF, Kolom Encase, Sambungan Baja.
e-Journal GEDUNG
Program Studi Teknik Sipil S1, ITN MALANG

I. PENDAHULUAN II. LANDASAN TEORI


Perencanaan struktur bangunan dapat dibagi A. Material Baja
menjadi dua yaitu, struktur atas dan struktur bawah. Berikut merupakan sifat-sifat mekanis baja
Struktur atas meliputi balok, kolom, pelat lantai, dan struktural :
juga atap yang berfungsi untuk mendukung beban 1. Modulus Elastisitas, E : 200.000 MPa
yang yang bekerja pada suatu bangunan. Sedangkan (SNI 1729:2015, Hal 51)
struktur bawah meliputi pondasi, yang berfungsi untuk 2. Modulus Geser, G : 80.000 Mpa
menahan dan menyalurkan beban dari struktur atas ke (SNI 1729:2015, Hal 37)
bawah. Dalam perencanaannya, ada beberapa factor 3. Angka Poisson, µ : 0,30
yang harus diperhatikan, meliputi keamanan, (SNI 1729:2002, Hal 9)
kekuatan, stavility, dan efisiensi dalam 4. Koefisien Pemuaian, α : 14 × 10-6/°C
pembangunannya. (SNI 1729:2015, Hal 220)
Adapun dalam perencanaan struktur portal ini Catatan : 1 Mpa = 10 kg/cm2
mengacu pada peraturan SNI 1729:2015 tentang Sedangkan bedasarkan tegangan leleh dan
spesifikasi untuk bangunan gedung baja struktural. regangan putusnya, mutu material baja dibagi menjadi
Spesifikasi ini memberikan kriteria untuk desain, beberapa kelas mutu sebagai berikut :
fabrikasi dan ereksi bangunan gedung baja struktural Tabel 1. Jenis Baja
dan struktur lainnya, dimana struktur lainnya Tegangan Tegangan
Regangan
didefinisikan sebagai struktur yang didesain., Jenis Putus Leleh
Minimum
dipabrikasi, dan diereksi dalam cara yang sama pada Baja Minimum Minimum
(%)
bangunan gedung. Menurut SNI 1729:2015, metode fu (MPa) fy (MPa)
LRFD (Load and Resistance Factor Design) adalah BJ 34 340 210 22
metode yang memproporsikan komponen struktur BJ 37 370 240 20
sedemikian sehingga kekuatan desain sama atau BJ 41 410 250 18
melebihi kekuatan perlu komponen akibat aksi BJ 50 500 290 16
kombinasi beban DFBK. BJ 52 520 360 14
BJ 55 550 410 13
A. RUMUSAN MASALAH Sumber : SNI 03-1729-2002, p11.
Berdasarkan latar belakang maka perlu dibuat B. Pembebanan Struktur
suatu perumusan masalah. Adapun perumusan masalah 1. Beban Mati
yang penulis kemukakan adalah sebagai berikut : Beban mati yang digunakan dalam perencangan
1. Berapa dimensi profil baja WF (Wide bangunan gedung dan struktur lain adalah berat dari
Flange) yang dibutuhkan untuk balok suatu gedung yang bersifat tetap yang mengacu pada
komposit ? PPURG 1987 dan berat sendiri bangunan yang
2. Berapa dimensi profil baja WF (Wide dihitung oleh program ETABS dengan input
Flange) yang dibutuhkan untuk kolom selfweight pada program.
komposit ? 2. Beban Hidup
3. Berapa dimensi sambungan dan base plate ? Beban hidup yang digunakan dalam perancangan
4. Berapa jumlah baut dan panjang angkur yang bangunan gedung dan struktur lain harus beban
dibutuhkan pada base plate ? minimum yang diharapkan terjadi akibat penghunian
dan penggunaan bangunan gedung, akan tetapi tidak
B. Maksud dan Tujuan boleh kurang dari beban merata minimum yang
Maksud dari perencanaan struktur ini adalah ditetapkan dalam Tabel 4-1 SNI 1727:2013 Halaman
untuk merencanakan struktur struktur portal baja pada 25.
Gedung Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas 3. Beban Gempa
Negeri Malang. Untuk pembebanan gempa mengacu pada SNI
Adapun tujuan dilakukannya perencanaan 1726:2012 dengan menggunakan Peta Sumber dan
tersebut, yaitu : Bahaya Gempa Tahun 2017 sebagai acuan dalam
1. Menghitung dimensi profil baja WF yang perhitungan.
dibutuhkan untuk balok komposit. 4. Beban Kombinasi
2. Menghitung dimensi profil baja WF yang Menurut SNI 1727:2013 dan SNI 1726:2012
dibutuhkan untuk kolom komposit. kombinasi beban yang harus diperhitungkan adalah :
3. Menghitung dimensi sambungan dan base plate. a. 1,4D
4. Menggambarkan detail rencana sesuai b. 1,4D + 1,6L
perhitungan. c. 1,2D + L + 𝑄𝐸𝑥 (Ω0 + 0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) + 𝑄𝐸𝑦 (Ω0 +
0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷)
e-Journal GEDUNG
Program Studi Teknik Sipil S1, ITN MALANG

d. 1,2D + L - 𝑄𝐸𝑥 (Ω0 + 0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) + 𝑄𝐸𝑦 (Ω0 + Keterangan :


0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) 𝑃𝑛 : kuat tarik normal
e. 1,2D + L + 𝑄𝐸𝑥 (Ω0 + 0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) − 𝑄𝐸𝑦 (Ω0 + 𝐴𝑔 : luas penampang bruto (mm2)
0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) 𝑓𝑦 : tegangan leleh (Mpa)
(Ω
f. 1,2D + L - 𝑄𝐸𝑥 0 + 0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) − 𝑄𝐸𝑦 0 + (Ω Kondisi keruntuhan tarik pada penampang
0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) netto (SNI 1729:2015, Pasal D2-2, Hal.28)
g. 1,2D + L + 𝑄𝐸𝑥 (Ω0 + 0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) + 𝑄𝐸𝑦 (Ω0 + 𝑷 𝒏 = 𝑨 .
𝒆 𝒖𝒇
0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) Keterangan :
h. 1,2D + L - 𝑄𝐸𝑥 (Ω0 + 0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) + 𝑄𝐸𝑦 (Ω0 + 𝑃𝑛 : kuat tarik normal
0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) 𝑓𝑢 : tegangan tarik putus (Mpa)

i. 1,2D + L + 𝑄𝐸𝑥 (Ω0 + 0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) − 𝑄𝐸𝑦 (Ω0 + Luas Netto Efektif


(SNI 1729:2015, Pasal D3-1, Hal.29)
0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷)
𝑨𝒆 = 𝑨𝒏 𝑼
j. 1,2D + L - 𝑄𝐸𝑥 (Ω0 + 0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) − 𝑄𝐸𝑦 (Ω0 +
0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) Keterangan :
k. 0,9D + L + 𝑄𝐸𝑥 (Ω0 − 0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) + 𝑄𝐸𝑦 (Ω0 − 𝐴 : luas penampang (mm2)
0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) 𝑈 : faktor reduksi (1 − (𝑥/𝐿)) ≤ 0,90
l. 0,9D + L - 𝑄𝐸𝑥 (Ω0 − 0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) + 𝑄𝐸𝑦 (Ω0 − 𝑥 : eksentrisitas sambungan,
0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) 𝐿 : panjang sambungan dalam arah gaya
m. 0,9D + L + 𝑄𝐸𝑥 (Ω0 − 0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) − 𝑄𝐸𝑦 (Ω0 − Tarik
0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) E. Batang Tekan Baja Profil
n. 0,9D + L - 𝑄𝐸𝑥 (Ω0 − 0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) − 𝑄𝐸𝑦 (Ω0 − Kekuatan tekan desain, ∅𝑐 𝑃𝑛 , dan kekuatan tekan
0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) tersedia, Pn/Ωc, ditentukan sebagai berikut :
o. 0,9D + L + 𝑄𝐸𝑥 (Ω0 − 0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) + 𝑄𝐸𝑦 (Ω0 − Kekuatan tekan nominal, 𝑃𝑛 , harus nilai terendah
0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) yang diperoleh berdasarkan pada keadaan batas dari
p. 0,9D + L - 𝑄𝐸𝑥 (Ω0 − 0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) + 𝑄𝐸𝑦 (Ω0 − tekuk lentur, tekuk torsi, dan tekuk torsi-lentur.
0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) ∅𝑐 = 0,90
q. 0,9D + L + 𝑄𝐸𝑥 (Ω0 − 0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) − 𝑄𝐸𝑦 (Ω0 − Panjang Efektif
0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) (SNI 1729:2015, Pasal E2, Hal.35)
r. 0,9D + L - 𝑄𝐸𝑥 (Ω0 − 0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷) − 𝑄𝐸𝑦 (Ω0 − Faktor panjang efektif, K, untuk perhitungan
kelangsingan komponen struktur, KL/r.
0,2𝑆𝐷𝑆 𝐷)
Keterangan :
C. Teori Load And Resistance Factor Design
L : panjang tanpa dibreising lateral dari
(LRFD) Struktur Baja
komponen struktur, in. (mm)
Desain harus dilakukan sesuai dengan
r : radius girasi,in. (mm)
persamaan:
Untuk komponen struktur yang dirancang
𝑹𝒖 ≥ ∅𝑹𝒏 (SNI 1729:2015, Pasal B3-1, Hal.12)
berdasarkan tekan, rasio kelangsingan efektif
Keterangan :
KL/r, sebaiknya tidak melebihi 200.
∅ : Faktor Ketahanan
Tahan Tekan Nominal
𝑅𝑛 : Kekuatan Nominal
Komponen struktur yang mengalami gaya
∅𝑅𝑛 : Kekuatan desain
tekan konsentris akibat beban terfaktor Pu,
𝑅𝑢 : Kekuatan perlu menggunakan
menurut SNI 1729:2015, Pasal E1 harus
kombinasi beban LRFD memenuhi persyaratan sebagai berikut:
Faktor reduksi dalam perencanaan struktur
P u ≤ Φ c. P n
berdasarkan Load and Resistance Factor Design Keterangan :
(LRFD) ditentukan dalam SNI 1729:2015. Φ : faktor reduksi kekuatan (Φ =0,85 )
D. Batang Tarik Baja Profil Dinyatakan
Pu : beban terfaktor
bahwa semua komponen struktur yang memikul gaya
Pn : kuat tekan nominal komponen struktur,
tarik aksial terfaktor sebesar 𝑃𝑢 , harus memenuhi : Daya dukung nominal Pn struktur tekan
𝑷𝒖 ≤ ∅ 𝑷𝒏 (SNI 1729:2015, Pasal D2-1, Hal.28) dihitung sebagai berikut :
Keterangan : 𝒇𝒚
𝑃𝑢 : gaya aksial terfaktor 𝑷𝒏 = 𝑨𝒈 . 𝒇𝒄𝒓 = 𝑨𝒈 .
𝝎
𝑃𝑛 : kuat tarik nominal Dengan besarnya 𝜔 ditentukan oleh 𝜏𝑐 , yaitu :
∅ : faktor tahanan (0,9) a. Untuk 𝜏𝑐 < 0,25 maka 𝜔 = 1
Kondisi leleh Tarik pada penampang bruto b. Untuk 0,25 < 𝜏𝑐 < 1,2 maka 𝜔 =
1,43
(SNI 1729:2015, Pasal D2-1, Hal.28)
1,6−0,67 𝜏𝑐
𝑷𝒏 = 𝑨𝒈 . 𝒇𝒚
c. Untuk 𝜏𝑐 < 1,2 maka 𝜔 = 1,25 𝜏𝑐2
e-Journal GEDUNG
Program Studi Teknik Sipil S1, ITN MALANG

𝑓 +𝑓𝑐𝑟𝑧 4 . 𝑓𝑐𝑟𝑦 . 𝑓𝑐𝑟𝑧 .𝐻 Mn = kekuatan tekan nominal ( Mn


fcr = ( 𝑐𝑟𝑦 ) x 1 √1 − 2
2𝐻 (𝑓𝑐𝑟𝑦 +𝑓𝑐𝑟𝑧 ) = Mp = Fy . Zx )
fcrz = (
𝐺.𝐽
) Kontrol desain komponen struktur untuk
𝐴.𝑟02 kombinasi lentur dan tekan
𝐼𝑥 + 𝐼𝑦
r02 = + x02 + y02 ( SNI 1729:2015,hal 79 )
𝐴 𝑃𝑟
𝑡12 + 𝑡22 Bila ≤ 0,2 menggunakan persamaan
H = 1- 𝑃𝑐
𝑟02 𝑃𝑟 8 𝑀𝑟𝑥 𝑀𝑟𝑦
Keterangan : + ( + ) ≤ 1,0
𝑃𝑐 9 𝑀𝑐𝑥 𝑀𝑐𝑦
𝑃𝑟
a. x0, y0 merupakan koordinat pusat geser Bila ≤ 0,2 menggunakan persamaan
𝑃𝑐
terhadap titik berat, x0 = 0 untuk siku ganda 𝑃𝑟 𝑀𝑟𝑥 𝑀𝑟𝑦
dan profil T. +( + ) ≤ 1,0
2𝑃𝑐 𝑀𝑐𝑥 𝑀𝑐𝑦
𝑓𝑦
b. fcrz = Keterangan :
𝑤𝑖𝑦
Pr = Kekuatan aksial perlu, N
𝐸
c. G adalah modulus geser, G = ( ) Mr = kekuatan lentur perlu, Nmm
2(1+𝑣)
1 X = Sumbu kuat lentur
d. J adalah konstanta puntir, J = ∑ 𝑏. 𝑡 2
3 Y = Sumbu lemah lentur
F. Baja Profil WF (Wide Flange) Faktor Panjang Tekuk (Kc)
Kontrol Tekuk Torsi – Lateral Faktor panjang tekuk kolom ujung-ujung ideal
( SNI 1729:2015, Pasal F2, hal 51 ) disajikan dalam tabel dibawah ini :
Pembatasan panjang Lp dan Lr ditentukan Tabel 2. Nilai Kc untuk kolom dengan ujung-
sebagai berikut : ujung yang ideal
𝐸
𝐿𝑝 = 1,76𝑟 √
𝐹𝑦

𝐸 𝐽𝑐 𝐽𝑐
𝐿𝑟 = 1,95𝑟𝑡𝑠 √ + √( )²+
0,7𝐹𝑦 𝑆𝑥ℎ𝑜 𝑆𝑥ℎ𝑜

0,7𝐹𝑦
6,76 ( )²
𝐸
Komponen Struktur Menahan Tekanan Aksial
( SNI 1729:2015,table B4.1a, Hal. 17-18)
𝐾𝑐.𝐸
Sayap𝜆 = 𝑏/𝑡 ≤ 0,64√
𝐹𝑦
𝐸
Badan𝜆 = ℎ/𝑡𝑤 ≤ 1,49√
𝐹𝑦
Kekuatan tekan desain ditentukan dari ( SNI
1729:2015,hal 35 ) Sistem rangka batang (truss) adalah struktur
Pc = 𝝓𝒄 . 𝑷𝒏 yang terbentuk dari elemen – elemen batang lurus,
Keterangan : dimana sambungan antar ujung – ujung batang
Pc = kekuatan tekan desain diasumsikan sendi sempurna. Struktur seperti ini dapat
𝛷𝑐 = koefisien tekan = 0,90 dipandang sebagai struktur pada gambar, dimana nilai
Pc = Kekuatan tekan nominal ( Fcr . Ag ) Kc adalah 1.
Fcr = tegangan kritis Untuk kolom berujung sendi, panjang ekivalen
Ag = luas penampang ujung sendi KL merupakan panjang L sebenarnya;
Komponen Struktur Menahan Tekanan Lentur dengan demikian K = L. Panjang efektif kolom (Lk)
( SNI 1729:2015,table B4.1b ) didapat dengan mengalihkan suatu faktor panjang
Kompak ( 𝜆 < 𝜆𝑝 ) efektif (k) dengan panjang kolom (L), nilai “k” didapat
dari nomograf (AISC, LRFD; Manual Of Steel
𝐸
Sayap𝜆 = 𝑏/𝑡 ≤ 𝜆𝑝 = 0,38√ Counstraction, Column Design 3-6), dengan
𝐹𝑦
menghitung nilai G, yaitu :
ℎ 𝐸 𝐼
Badan 𝜆 = ≤ 𝜆𝑝 = 3,76√ ∑(𝐿)𝑘𝑜𝑙𝑜𝑚
𝑡𝑤 𝐹𝑦 𝐺= 𝐼
∑( )𝑏𝑎𝑙𝑜𝑘
Kekuatan tekan desain ditentukan dari ( SNI 𝐿

1729:2015,hal 47 ) Keterangan :
Mb = 𝜙𝑏. 𝑀𝑛 I : Momen kelembaman kolom/balok (cm4)
Keterangan : L : Panjang kolom/balok (cm)
Mb = kekuatan tekan desain
𝜙𝑏 = koefisien tekan = 0,90
e-Journal GEDUNG
Program Studi Teknik Sipil S1, ITN MALANG

Keterangan :
Rn : Kuat tarik nominal
Ø : Faktor reduksi tarik (0,75)
Fn : Tegangan tarik nominal, fnt , atau
tegangan geser, fnv (MPa)
Ab : Luas tubuh baut tidak berulir
nominal atau bagian berulir (mm2)
Menentukan Jumlah Baut :
𝑹𝒖
𝒏=
Ø.𝑹𝒏
Keterangan :
n = Jumlah baut
𝑅𝑛 = Tahanan nominal baut
𝑅𝑢 = Beban terfaktor
Kombinasi terhadap tarik dan geser :
𝑹𝒏 = 𝒇′𝒏𝒕 . 𝑨𝒃
Gambar 1. Nomograf panjang tekuk kolom (SNI 1729:2015, Pasal J3, Hal.129)
𝒇𝒏𝒕
G. Perencanaan Sambungan 𝒇′ 𝒏𝒕 = 𝟏, 𝟑 . 𝒇𝒏𝒕 − 𝒇𝒓𝒗 ≤ 𝒇𝒏𝒕
Ø.𝒇𝒏𝒗
Perencanaan Sambungan Baut (SNI 1729:2015, Pasal J3, Hal.130)
Kontrol jarak antar baut : Keterangan :
a. Jarak baut ke tepi (S1) Ab : Luas tubuh baut tidak berulir
Jarak Tepi Minimum SNI 1729:2015, Tabel J3.4, nominal atau bagian berulir (mm2)
Hal.127 f’nt : Tegangan tarik nominal yang
b. Jarak antar baut (S2) dimodifikasi mencakup efek tegangan
Jarak antara pusat – pusat standar, ukuran geser (MPa)
berlebih, atau lubang – lubang slot tidak boleh Ø : Faktor reduksi (0,75)
kurang dari 2 2/3 kali diameter nominal, d, dari fnt : Tegangan tarik nominal (MPa)
pengencang, jarak 3d yang lebih umum. fnv : Tegangan geser (MPa)
(Sumber : SNI 1729:2015,Pasal J3 p129) frv : Tegangan geser yang diperlukan
Kuat nominal terhadap tarik dan geser : menggunakan kombinasi beban
(SNI 1729:2015, Pasal J3, Hal. 129) DFBK (MPa)
𝑹𝒏 = 𝒇𝒏 . 𝑨𝒃 Kontrol terhadap momen :
Keterangan : (SNI 1729:2015, Pasal J3, Hal.129)
Rn : Kuat tarik nominal 𝟎,𝟗 . 𝒇𝒚 . 𝒂𝟐 .𝒃
Ø : Faktor reduksi tarik (0,75) Ø. 𝑴𝒏 = + ∑𝒏𝒊=𝟏 𝑻 . 𝒅 𝒊
𝟐
Fn : Tegangan tarik nominal, fnt , atau 𝟎,𝟕𝟓 .𝒇𝒖𝒃 . 𝒏𝒃.𝒏.𝑨𝒃
𝒂=
tegangan geser, fnv (MPa) 𝒇𝒚 .𝒃
Ab : Luas tubuh baut tidak berulir ∑𝒏𝒊=𝟏 𝑻 . 𝒅𝒊 =
nominal atau bagian berulir (mm2) 𝟎, 𝟕𝟓 . 𝒇𝒖𝒃 . 𝒏𝟏 . 𝒏𝟐 . 𝑨𝒃 . (𝒅𝒊 𝒕𝒆𝒓𝒋𝒂𝒖𝒉)
Kuat nominal tumpu pada lubang – lubang Keterangan :
baut : n1 : Jumlah kolom baut
(SNI 1729:2015, Hal.132) n2 : Jumlah baris baut
𝑅𝑛 = 1,2 . 𝑙𝑐 . 𝑡𝑝 . 𝑓𝑢 ≤ 2,4 . 𝑑 . 𝑡𝑝 . 𝑓𝑢 Ab : Luas penampang baut
Keterangan : b : Lebar balok
Rn = Kuat tumpu nominal 𝑎 : Tinggi penampang tekan
Ø = Faktor reduksi tumpu (0,75) fub : Kuat tarik nominal baut
𝑓𝑢 = Kuat tarik putus terendah dari baut fy : Tegangan leleh
atau plat (MPa) Perencanaan Sambungan Las
𝑡𝑝 = Tebal plat (mm) Kontrol sambungan las
d = Diameter baut nominal (mm) (SNI 1729:2015)
lc = Jarak bersih, dalam arah gaya, 𝑹𝒖 ≤ ∅𝑹𝒏𝒘
antara tepi lubang dan tepi lubang yang Keterangan :
berdekatan atau tepi dari baut atau plat (mm) Ru : Beban terfaktor las
Kuat nominal terhadap tarik dan geser : Rnw : Tahanan nominal per satuan
(SNI 1729:2015, Pasal J3, Hal. 129) panjang las
𝑹𝒏 = 𝒇𝒏 . 𝑨𝒃 Ø : Faktor reduksi (0,75)
e-Journal GEDUNG
Program Studi Teknik Sipil S1, ITN MALANG

Tegangan nominal dari logam las : 𝟎,𝟗𝟓 .𝒅−𝟎,𝟖𝟎 .𝒃𝒇


∆=
𝟐
fnw = 0.60 Fexx (1 + 0.50 sin1.5 ∅)
𝑵 = √𝑨 + ∆
𝑨
Keterangan : 𝑩=
𝑵
Fexx : kekuatan klasifikasi logam pengisi Keterangan :
(MPa) Δ : Jarak antara ujung terluar baja
∅ : sudut pembebanan yang diukur dari dengan tepi base plate
sumbu longitudinal las, derajat N : Tinggi base plate
Tahanan nominal Las : B : Lebar base plate
∅𝑹𝒏𝒘 = ∅ . 𝒕𝒆 . 𝟎, 𝟔 𝒇𝒖𝒘 d : Tinggi profil baja
Keterangan : bf : Lebar profil baja
Ø : Faktor reduksi (0,75) A : Luas penampang base plate
te : Tebal efektif las (0,707a) dengan Tebal Base Plate
a = tebal las sudut ( N  0,95.d )
fuw : Mutu las m
Throad Efektif untuk las sudut :
2
( B  0,8.bf )
Te = 0.707 . a n
Keterangan : 2
Te : tebal efektif (mm) 2.𝑃𝑢
a : ukuran minimum las sudut (mm) Maka : 𝑡𝑝 = (𝑚 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑛)√
0,9 .𝑓𝑦 . 𝐵 . 𝑁
Keterangan :
Panjang Las maksimum : tp : Tebal base plate
𝑳𝒘 = 𝟐 . (𝒃𝒃 − 𝒕𝒘 ) B : Lebar base plate
Keterangan : N : Tinggi base plate
Lw : Panjang maksimum las fy : Tegangan leleh baja
tw : Tebal badan(web) profil baja bf : Lebar profil baja
bb : Lebar plat ujung Perhitungan Angkur
Kekuatan yang diberikan oleh sambungan 𝑷𝒖 𝑴𝒖
𝒇𝒑 = ±
las 𝑨 𝑾

∅𝑴𝒏 = ∅𝑴𝒑
III. METODOLOGI PERENCANAAN
Keterangan :
A. Data – Data Perencanaan
Mn : Momen nominal
Data perencanaan Gedung Fakultas Ilmu
Mp : Momen plastis
Keolahragaan Universitas Negeri Malang Atas
Ø : Faktor reduksi (0,9)
∅.𝑴𝒏 Gedung Giant Mall Sukun, Malang :
𝑻𝒖 𝒎𝒂𝒌𝒔 = 1. Data Struktur
𝒉𝒃 −𝒕𝒇𝒃
Keterangan : Lokasi Gedung : Jalan Semarang
Mn : Momen nominal No. 5 Malang
hb : Tinggi plat ujung Fungsi Bangunan : Gedung Kuliah
tfb : Tebal plat ujung Jumlah Lantai : 8 Lantai
Ø : Faktor reduksi (0,9) Panjang Bangunan : 70 meter
𝑻𝒖 𝒎𝒂𝒌𝒔 > 𝑳𝒘 . ∅. 𝑹𝒏𝒘 Lebar Bangunan : 28 meter
Keterangan : Tinggi Bangunan : 37,750 meter
Lw : Panjang maksimum las Struktur Bangunan : Portal baja
Tu maks : Gaya tarik terbesar 2. Data Material
H. Plat Landasan (Base Plate) Profil baja struktur : WF (Wide
Luas Bidang Base Plate Flange)
Desain luas plat dasar harus lebih besar dari luas Jenis profil baja : BJ 52
baja yang ada. Tegangan leleh profil (fy) : 360 MPa
Pu ≤ Ø . Pp Tegangan putus profil (fu) : 520 MPa
Pu ≤ Ø . (0,85 . f’c . A) Modulus Elastisitas Baja (Es) : 200000 MPa
Keterangan : Modulus Geser Baja (G) : 80000 MPa
Pp : Kekuatan penampang profil Mutu Beton (f’c) : 30 MPa
Pu : Beban ultimate Modulus Elastisitas Beton (Ec): 25742,96 MPa
f’c : Kuat tekan beton
A : Luas penampang base plate
Dimensi Base Plate
e-Journal GEDUNG
Program Studi Teknik Sipil S1, ITN MALANG

Diagram Alir Ruang Kuliah (kelas) 1,92 kN/m2


Bagan alir analisa perencanaan struktur Ruang Penyimpanan 7,18 kN/m2
gedung baja : Perpustakaan 2,87 kN/m2
Koridor 4,79 kN/m2
Start Tanggan dan Bordes 4,79 kN/m2
Ruang Makan 4,79 kN/m2
Ruang Mesin Elevator 0,13 kN/m2
Pengumpulan Data: Balkon 4,79 kN/m2
- Data Perencanaan Gedung Laboratorium 2,87 kN/m2
- Peraturan-peraturan yang berlaku Ruang Arsip dan Komputer 4,79 kN/m2
- Buku – buku Literatur Gym 4,79 kN/m2
Lobby 4,79 kN/m2
Panggung Pertemuan 4,79 kN/m2
Penentuan Dimensi Penampang
Lantai Podium 7,18 kN/m2
Beban Gempa
Beban gempa dalam skripsi ini dihitung
Perhitungan Pembebanan dengan metode analisis static ekivalen
berdasarkan SNI 1726:2012. Adapun dari
Tidak Analisa beban gempa, parameter – parameter
yang diperoleh adalah sebagai berikut :
Perhitungan Analisa Struktur  Kategori resiko bangunan
 Factor keutamaan gempa (Ie) : 1,5
 Klasifikasi Situs : SD
 Respon spectra percepatan
Kontrol : - Periode pendek (Ss) : 0,77
- Mencari Nilai Vs dan - Periode 1 dtk (S1) : 0,34
Vd  Koefisien situs
- Partisipating Mass Ratio - Periode pendek (Fa) : 1,192
- Simpangan Struktur (Drift) - Periode 1 dtk (Fv) : 1,720
 Parameter respon percepatan
- Periode pendek (SMS) : 0,918
- Periode 1 dtk (SM1) : 0,585
Aman  Parameter percepatan spectral desain
- Periode pendek (SDS) : 0,612
Perencanaan Balok, - Periode 1 dtk (SD1) : 0,390
Kolom, Sambungan,  Kategori desain seismik (KDS) :D
dan Base Plate  Koefisien R, Cd, dan Ω0
-R :8
- Cd :3
Gambar Hasil Perencanaan - Ω0 : 5,5
 Periode Struktur Fundamental (Ta) : 0,7
 Koefisien Respon Gempa (Cs) : 0,075
Kesimpulan  Desain Base Shear (V) : 1840,787 kN
Tabel 4. Gaya Lateral Per Lantai
Vx Vy Fx Fy
Lantai Cvx Cvy
(kN) (kN) (kN) (kN)
Finish
Atap 0,2521 0,2521 1840,787 1840,79 464,102 464,102
Gambar 2. Diagram Alir Lantai RL 0,2185 0,2185 1840,787 1840,79 402,184 402,184
Lantai 7 0,1540 0,1540 1840,787 1840,79 283,433 283,433
Lantai 6 0,1269 0,1269 1840,787 1840,79 233,543 233,543
IV. PERHITUNGAN STRUKTUR
Lantai 5 0,1021 0,1021 1840,787 1840,79 187,927 187,927
A. Perhitungan Pembebanan Lantai 4 0,0785 0,0785 1840,787 1840,79 144,560 144,560
Beban Hidup Terdistribusi Bangunan (Tabel Lantai 3 0,0505 0,0505 1840,787 1840,79 92,906 92,906
4.1 SNI 1727-2013 Halaman 25) Lantai 2 0,0161 0,0161 1840,787 1840,79 29,597 29,597
Tabel 3. Beban Hidup Terdistribusi Bangunan Lantai 1 0,0014 0,0014 1840,787 1840,79 2,535 2,535
Ruang Kantor 2, 4 kN/m2 TOTAL 1840,787 1840,787
Atap datar, berhubung, lengkung 0,96 kN/m2
Loteng yang dapat didiami 1,96 kN/m2
e-Journal GEDUNG
Program Studi Teknik Sipil S1, ITN MALANG

Tabel 5. Kontrol Simpangan EX Batas Layan Tabel 10. Kontrol Stabilitas pada Web
Elemen λpw λw Ket.
Balok Induk 88,6 42,889 Kompak
Balok Anak 1 88,6 42,86 Kompak
Balok Anak 2 88,6 27,667 Kompak

Tabel 11. Kontrol Kuat Lentur Balok


(Momen Positif)
Elemen Mu/φ Mp Ket
(Nmm) (Nmm)
Balok Induk 974878949,6 195694600 OK
Balok Anak 1 557903494,9 100580200 OK
Balok Anak 2 246813235,7 18859600 OK
Tabel 6. Kontrol Simpangan EY Batas Layan
Tabel 12. Kontrol Kuat Lentur Balok
(Momen Negatif)
Elemen Mu/φ Mp Ket.
(Nmm) (Nmm)
Balok Induk 558669177 195694600 OK
Balok Anak 1 305182378,6 100580200 OK
Balok Anak 2 117179490,6 18859600 OK

Tabel 13. Kontrol Kuat Geser Balok


Elemen φ Vn (N) Vu (N) Ket.
Balok Induk 675345,6 288234,8 OK
Tabel 7. Kontrol Simpangan EX Batas Ultimate Balok Anak 1 408240 200218,5 OK
Lantai
Ketinggian Simpangan Simpangan Faktor
∆S x ξ Batas izin Cek
Balok Anak 2 193622,4 123872,1 OK
(mm) X antar tingkat Pengali (mm)
Atap 1750 32,605 1,003 5,600 5,616 35 Ok
RL 2000 31,602 4,029 5,600 22,562 40 Ok Tabel 14. Kontrol Lendutan Balok Komposit
7 5000 27,573 3,060 5,600 17,136 100 Ok
6
5
4000
4000
24,513
20,985
3,528
4,031
5,600
5,600
19,755
22,576
80
80
Ok
Ok
Elemen
Δ (mm) Δ izin (mm) Ket.
4 4000 16,954 4,223 5,600 23,647 80 Ok
3 4000 12,731 4,637 5,600 25,967 80 Ok
Balok Induk 5,879 22,22 OK
2 4000 8,094 6,427 5,600 35,99 80 Ok Balok Anak 1 10,535 22,22 OK
1 5500 1,667 1,667 5,600 9,336 110 Ok
Basement 3500 0,000 0,000 0,000 0,000 13,125 Ok
Balok Anak 2 4,069 14,86 OK

Tabel 8. Kontrol Simpangan EY Batas Ultimate Tabel 15. Jumlah Stud pada Balok Komposit
Lantai
Ketinggian Simpangan Simpangan Faktor
∆S x ξ Batas izin Cek Elemen Stud
(mm) Y Pengali
42 Φ22
antar tingkat (mm)
Atap 1750 60,684 2,035 5,600 11,397 35 Ok Balok Induk
RL 2000 58,649 9,331 5,600 35,252 40 Ok Balok Anak 1 40 Φ19
7 5000 49,318 5,180 5,600 29,009 100 Ok
6 4000 44,138 5,958 5,600 33,364 80 Ok Balok Anak 2 24 Φ19
5 4000 38,180 6,944 5,600 38,886 80 Ok
4 4000 31,236 7,510 5,600 42,056 80 Ok
C. Perencanaan Kolom Encase
3 4000 23,726 7,944 5,600 44,485 80 Ok Direncanakan Kolom Encase dengan dimensi
15,783 12,452 5,600 79,827
2
1
4000
5500 3,331 3,331 5,600 18,654
80
110
Ok
Ok
800 mm x 500 mm menggunakan Profil WF
Basement 3500 0,000 0,000 0,000 0,000 13,125 Ok 600.300.12.20.
B. Perencanaan Balok Komposit Adapun kontrol – kontrol yang ada pada kolom
Direncanakan dimensi balok : encase ditabelkan sebagai berikut :
Balok Induk : WF 450.200.9.14 Tabel 16. Kontrol pada Kolom Encase
Balok Anak 1 : WF 350.175.7.11 Kontrol Nilai Ket
Balok Anak 2 : WF 200.150.6.9 Geser Φc Vn ≥ Ve OK
Hasil Kontrol Stabilitas Penampang pada Web 1213056 N ≥ 295276,1 N
dan Flange Tekan Φc ≥ Pu OK
Tabel 9. Kontrol Stabilitas pada Flange 3725848,3 N ≥ 2527159 N
Elemen λpf λf Ket. Lentur Φc ≥ Mu OK
Balok Induk 8,96 7,143 Kompak Penampan 1396116000 Nmm ≥
Balok Anak 1 8,96 7,955 Kompak g 1241487060 Nmm
Balok Anak 2 8,96 8,33 Kompak
e-Journal GEDUNG
Program Studi Teknik Sipil S1, ITN MALANG

Tekuk Φc ≥ Mu OK
Lateral 2542204620 Nmm ≥
1241487060 Nmm
Interaksi P OK
8 Mpr1 + Mpr2 ≤
u
Gaya P
+
9 ϕbMn + ϕbMny
Aksial n
dan ≤ 1
Lentur
0,828 ≤ 1

D. Perencanaan Sambungan Gambar 4. Sambungan Anak 1 – Induk Kondisi 2


1. Sambungan Balok – Balok
Data Sambungan Balok – Balok :
 Plat siku penyambung 80.80.8
 Mutu plat siku BJ 52
fyp : 360 MPa
fup : 520 MPa
 Mutu baut A325
fub : 620 MPa
fnv : 372 MPa
 Diameter baut : 22,225 mm
Dari hasil perencanaan, didapat hasil kontrol Gambar 5. Sambungan Anak 2 – Anak 1
sambungan balok – balok sebagai berikut : 2. Sambungan Balok – Kolom
Tabel 17. Kontrol Geser Sambungan Balok Data Sambungan Balok – Balok :
Sambungan Vub (N) φRnv (N)  Plat siku penyambung 80.80.8
 Mutu plat siku BJ 52
Anak 1 – Induk 50054,626 216365,192 fyp : 360 MPa
Kondisi 1 fup : 520 MPa
Anak 1 – Induk 33369,751 108182,596  Mutu baut A325
Kondisi 2 fub : 620 MPa
Anak 1 – Anak 2 30968,038 108182,596 fnv : 372 MPa
 Diameter baut : 22,225 mm
Tabel 18. Kontrol Tumpu Sambungan Balok  Las : Elektrode E7014
Sambungan Vn (N) φRn (N) FEXX : 482 MPa
Anak 1 – Induk 1126,088 145618,2 Dari hasil perencanaan, didapat hasil kontrol
Kondisi 1 sambungan balok induk–kolom sebagai berikut :
Anak 1 – Induk 1126,088 166420,8 Kontrol Geser :
Kondisi 2 Vub < φRnv
72058,688 N < 1088182,596 N
Anak 1 – Anak 2 696,694 124815,6
Kontrol Kuat Nominal Las :
Pu < φPn
288234,753 N < 588946,41 N
Kontrol Plat Penyambung Pada Badan Balok
ke Flange Kolom
Dari perhitungn didapat dimensi plat
penyambung 10 mm x 300 mm
 Kontrol Geser Blok Plat
φRn > Vu
1006317 N > 288234,753 N
 Kontrol Kuat Nominal Las Fillet
Gambar 3. Sambungan Anak 1 – Induk Kondisi 1 φ Pn > Pu
588946,41 N > 288234,753 N
Kontrol Plat Penyambung Pada Badan
Kolom ke Flange Balok
Dari perhitungan didapat dimensi plat
penyambung 30 mm x 300 mm
e-Journal GEDUNG
Program Studi Teknik Sipil S1, ITN MALANG

 Kuat Tarik Plat Penyambung pada flange


balok
φRn > Puf
2430000 N > 1379430,07 N
 Kuat Tarik Fraktur Penyambung pada
flange balok
φRn > Puf
2943135 N > 1379430,07 N
 Kontrol Geser Blok Plat
φRn > Vu
4288567,5 N > 1379430,07 N
 Kontrol Kuat Nominal Las Fillet
φ Pn > Puf Gambar 7. Sambungan Kolom - Kolom
3036754,925 N > 1379430,07 N E. Perencanaan Base Plate
 Kontrol Kuat Tekan Plat Penyambung Data Sambungan Base Plate :
φ Pn > Puf  Mutu plat sambungan BJ 52
2425584,657 N > 1379430,07 N fyp : 360 MPa
fup : 520 MPa
 Mutu baut A325
fub : 620 MPa
fnv : 372 MPa
 Diameter baut : 22,225 mm
 Diameter angkur : 19,05 mm
 Las : Elektrode E7024
FEXX : 510 MPa
Dari perhitungan, didapat data base plate sebagai
berikut :
 Lebar base plate : 700 mm
Gambar 6. Sambungan Induk - Kolom
3. Sambungan Kolom – Kolom  Panjang base plate : 1000 mm
Data Sambungan Kolom – Kolom :  Tebal base plate : 30 mm
 Mutu plat sambungan BJ 52  Jumlah angkur tiap sisi : 3 buah
fyp : 360 MPa  Panjang angkur : 750 mm
fup : 520 MPa  Lh min (sisi bengkok angkur) : 40 mm
 Mutu baut A490 Adapun kontrol angkur terhadap gaya yang
fub : 780 MPa bekerja adalah :
fnv : 457 MPa φ Pn > Pu
 Diameter baut : 22,225 mm 10574626 N > 1198730,5 N
 Las : Elektrode E7014
FEXX : 482 MPa
Dari hasil perencanaan, didapat hasil kontrol
sambungan kolom –kolom sebagai berikut :
Kontrol Plat Penyambung Pada Badan Balok
ke Flange Kolom
Dari perhitungan didapat dimensi plat
penyambung 15 mm x 300 mm pada flange
kolom dan plat penyambung 15 mm x 200 mm
pada web kolom, dengan kontrol :
φRnv > Vub
265803,48 N > 1448,538 N Gambar 8. Penampang Base Plate
 Kontrol Baut pada Sumbu Global X-X
φRnv > Fmax V. KESIMPULAN DAN SARAN
265803,48 N > 204075,016 N A. Kesimpulan
 Kontrol Baut pada Sumbu Global Y-Y Dari hasil perhitungan struktur baja pada
φRnv > Fmax pembangunan Gedung Fakultas Ilmu
265803,48 N > 261735,979 N Keolahragaan Universitas Negeri Malang
menggunakan metode Load and Resistance
e-Journal GEDUNG
Program Studi Teknik Sipil S1, ITN MALANG

Factor Design (LRFD), dapat ditarik Jumlah baut (1 sisi) = 4 baut


kesimpulan sebagai berikut : Jarak baut ke tepi (S1) = 50 mm
1. Dimensi profil baja yang dibutuhkan untuk Jarak antar baut (S) = 100 mm
balok induk komposit menggunakan WF Mutu las = E7014
450.200.9.14, balok anak 1 komposit Tebal las rencana (a) = 10 mm
menggunakan WF 350.175.7.11, dan balok  Sambungan kolom - kolom
anak 2 komposit menggunakan WF Sambungan antar flens kolom dengan
200.150.6.9. rincian sebagai berikut :
2. Dimensi kolom komposit yang dibutuhkan Mutu Baut = A490
adalah kolom 1 dengan dimensi 800 mm x Plat penyambung = 15 mm x 300
500 dengan profil baja yang digunakan mm
adalah WF 600.300.12.20, serta kolom 2 Diameter baut (db) = 22,225 mm
dengan dimensi 650 mm x 400 mm dengan Jumlah baut = 8 baut
profil baja yang digunakan adalah WF Jarak baut ke tepi (S1) = 60 mm
450.200.9.14. Jarak antar baut (S) =180 mm
3. Dari hasil analisa pada sambungan, maka Sambungan web kolom dengan rincian
digunakan sambungan las maupun sebagai berikut :
sambungan baut dengan rincian sebagai Plat penyambung = 15 mm x 200 mm
berikut : Diameter baut (db) = 22,225 mm
Mutu baut = A325 Jumlah baut = 8 baut
Kuat Tarik baut (fub) = 620 MPa Jarak baut ke tepi (S1) = 60 mm
Tegangan geser baut (fnv) = 372 MPa Jarak antar baut (S) = 100 mm
Mutu las yang digunakan = E7014 4. Base plate dengan rincian sebagai berikut :
FEXX = 482 MPa Dimensi base plate = 1000 mm x 700 mm
 Sambungan balok induk – balok anak Ketebalan base plate = 30 mm
Digunakan plat siku penyambung dengan Jumlah angkur yang = 9 buah
dimensi 80 x 80 x 8 Diameter angkur = 19,05 mm
Kondisi 1 : Jumlah baut (1 sisi) = 3 baut
Diameter baut (db) = 22,225 mm Panjang angkur = 750 mm
Jumlah baut (1 sisi) = 4 baut B. Saran
Jarak baut ke tepi (S1) = 30 mm Berdasarkan hasil perencanaan yang
Jarak antar baut (S) = 80 mm dilakukan pada Gedung Fakultas Ilmu
Kondisi 2 : Keolahragaan Universitas Negeri Malang diatas,
Diameter baut (db) = 22,225 mm maka penulis memberikan saran :
Jumlah baut (1 sisi) = 6 baut 1. Perencanaan struktur portal baja komposit dapat
Jarak baut ke tepi (S1) = 25 mm dianalisis dalam berbagai program bantu seperti
Jarak antar baut (S) = 50 mm ETABS, SAP2000, Staadpro, dll. Namun dalam
 Sambungan balok anak 1 – balok anak 2 perencanaannya tetap perlu memperhatikan
Digunakan plat siku penyambung dengan peraturan – peraturan yang ada, hemat biaya, dan
dimensi 80 x 80 x 8 efisiensi dalam pengerjaannya.
Diameter baut (db) = 22,225 mm 2. Dalam merencankan sambungan harus dihitung
Jumlah baut (1 sisi) = 4 baut perencanaan struktur komposit harus
Jarak baut ke tepi (S1) = 30 mm memperhitungkan aspek dari kemudahan dalam
Jarak antar baut (S) = 50 mm pelaksanaan, jangan sampai perencanaan
 Sambungan balok induk – kolom tersebut tidak bias dilaksanakan di lapangan.
Sambungan badan balok pada kolom
dengan rincian : DAFTAR PUSTAKA
Plat penyambung = 10 mm x 300 mm Agus, Setiawan. 2013. Perencanaan Struktur Baja
Diameter baut (db) = 22,225 mm Dengan Metode LRFD edisi kedua. Jakarta:
Jumlah baut (1 sisi) = 4 baut Erlangga.
Jarak baut ke tepi (S1) = 30 mm Anonim (1987), Pembebanan Struktur Berdasarkan
Jarak antar baut (S) = 80 mm Peraturan Pembebanan Indonesia untuk
Mutu las = E7014 Rumah dan Gedung.
Tebal las rencana (a) = 6 mm Anonim (2002), SNI 03–1729–2002 Tata Cara
Sambungan flens balok pada kolom Perencanaan Struktur Baja Untuk
dengan rincian : Bangunan Gedung, Badan Standarisasi
Plat penyambung = 30 mm x 300 mm Nasional.
Diameter baut (db) = 22,225 mm
e-Journal GEDUNG
Program Studi Teknik Sipil S1, ITN MALANG

Anonim (2012), SNI 1726:2012 Tata Cara Anonim (2017), Peta Sumber dan Bahaya Gempa
Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Indonesia 2017.
Struktur Bangunan Gedung dan Non C. G. Salmon, Johnson, J. E. 1995. Struktur Baja
Gedung, Badan Standarisasi Nasional. 1, Desain dan Perilaku edisi ketiga.
Anonim (2013), SNI 1727:2013 Beban Jakarta: PT. Gramedia Pusat Utama.
Minimum Untuk Perancangan Bangunan Dewobroto, Wiryanto. 2010. Struktur Baja
Gedung dan Struktur Lain, Badan Perilaku, Analisis, & Desain – AISC 2010
Standarisasi Nasional. edisi kedua.
Anonim (2015), SNI 1729:2015 Spesifikasi Moestopo, Muslinang. 2014. Shortcourse HAKI.
Untuk Bangunan Gedung Baja Struktural,
Badan Standarisasi Nasional.