Вы находитесь на странице: 1из 11

Pengolahan Limbah Cair Indstri Tahu Menggunakan Tanaman Thypa

Latifolia Dengan Proses Fitoremediasi

Dwi Azrul Disyamto, Shinta Elystia, Ivnaini Andesgur


Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan, Dosen Program Studi Teknik
Lingkungan
Fakultas Teknik UniversitasRiau
Kampus Bina Widya Jl.HR. Soebrantas KM 12,5 Pekanbaru, Kode Pos 28293
E-mail: dwiazrul_tl@yahoo.com

ABSTRACT

Industry tahu in Indonesia will continue to grow in line with the increase in
population, due to the increasing market demand. Industry know in Indonesia will
continue to grow in line with the increase in population, due to the increasing
market demand. The negative impact of industrial pollution if the idea is
emergence to environmental wastewater directly discharged without any
treatment. To anticipate the potential impact, it is necessary efforts through a
variety of alternative waste treatment waste treatment technologies are effective
and efficient, one alternative is to use the process of phytoremediation. Based on
the morphology of plants Thypa latifolia is suitable for processing by
phytoremediation. This study aims to determine the allowance for BOD using
Thypa latifolia plants in industrial wastewater know. This research used a plastic
tub the size of 50cm x 36cm x 31cm, 10cm soil media thickness, media thickness
5cm sand, and gravel media 5cm thick with plant density variations Typha
latifolia (0,5 g/cm2; 0,75 g/cm2, and 1 g/cm2), the variation Hidraulic Loading
Rate / HLR (500 l/m2.day; 750 l/m2.day; and 1000 l/m2.day). Concentration of
waste pollutant parameters analyzed include BOD, which is processed by Typha
latifolia before successive concentration of 1271-1741 mg/l, while after treatment
the concentration phytoremediation process successively turned into 232-996
mg/l. These results indicate that the method of the phytoremediation using Typha
latifolia capable of removing concentrations of BOD, effluent industrial know. In
general, variations in plant density, and HLR have a significant influence, this is
evidenced by the difference in removal efficiency is much different. Plant density
1 g/cm2 with 0 g/cm2, and the HLR 500 l/m2.day to 1000 l/m2.day. Pensentase
overall removal efficiency of BOD, were obtained in this study ranged
respectively from 42.77 to 84.76%. The need of sample dilution to the effluent of
phytoremediation waste below the standards that have been set.

Keywords : Phytoremediation, Hidraulic Loading Rate (HLR), Plant Density,


Waste Water Tahu Industry, Thypa Latifolia.

JOM FTEKNIK Volume 1 No. 2 Oktober 2014 1


PENDAHULUAN 535-585 FTU, warna 2.225-2.250
Perkembangan industri dewasa Pt.Co, amonia 23,3-23,5 mg/1,
ini telah memberikan sumbangan BOD5 6.000-8.000 mg/1 dan COD
besar terhadap perekonomian 7.500-14.000 mg/1 (Herlambang,
Indonesia. Namun di lain pihak hal 2002) dalam (Febrian, 2007).
tersebut juga memberi dampak pada Herlambang (2002) menuliskan
lingkungan akibat buangan industri. dampak yang ditimbulkan oleh
Salah satunya dari industri tahu, pencemaran bahan organik limbah
sebagian besar industri tahu industri tahu adalah gangguan
merupakan industri rumah tangga terhadap kehidupan biotik. Turunnya
yang belum memiliki unit kualitas air perairan akibat
pengolahan limbah, dimana limbah meningkatnya kandungan bahan
cair langsung dibuang ke selokan organik.
atau badan air tanpa pengolahan Ada beberapa proses yang
terlebih dahulu. Padahal sebanyak sudah banyak digunakan untuk
1,5-3 m3 limbah cair akan dihasilkan mengolah limbah cair tahu agar tidak
untuk setiap pengolahan satu kuintal mencemari lingkungan, antara lain
kedelai (Nurhasan dkk, 2007). proses menggunakan reaktor aerob-
Limbah cair adalah limbah dalam anaerob, biofilter aerob, dan
wujud cair yang dihasilkan dari fitoremediasi. Pada penelitian ini
kegiatan industri yang dibuang ke penulis menggunakan proses
lingkungan dan diduga dapat fitoremediasi untuk mengolah limbah
menurunkan kualitas lingkungan cair tahu UD. Dika Putra. Istilah
(Keputusan Menteri Negara fitoremediasi berasal dari kata
Lingkungan Hidup nomar 51 tahun Inggris phytoremediation. kata ini
1995). Dampak yang ditimbulkan sendiri tersusun atas dua bagian kata,
oleh pencemaran limbah industri yaitu phyto yang berasal dari kata
tahu adalah gangguan terhadap Yunani phyton (tumbuhan) dan
kehidupan biotik dan turunnya remediation yang berasal dari kata
kualitas air akibat meningkatnya Latin remedium (menyembuhkan)
kandungan bahan organik. (Fachrurozi, dkk, 2010). Jadi
Pada proses pembuatan tahu, fitoremediasi (Phytoremediation)
limbah cair dihasilkan dari proses merupakan suatu sistem dimana
pencucian, perendaman, proses hasil tanaman tertentu yang bekerjasama
penggumpalan, pengepresan, dan dengan mikroorganisme dalam
tumpahan proses serta pembersihan media (tanah, koral dan air) dapat
tempat. Karakteristik buangan mengubah zat kontaminan
industri tahu meliputi dua hal, yaitu (pencemar) menjadi kurang atau
karakteristik fisika dan kimia. tidak berbahaya bahkan menjadi
Karakteristik fisika meliputi padatan bahan yang berguna secara ekonomi.
total, padatan tersuspensi, suhu, Industri UD. Dika Putra
warna, dan bau. Karakteristik kimia merupakan industri kecil produksi
meliputi bahan organik, bahan tahu yang berada di jalan Sukajadi,
anorganik dan gas. Suhu air limbah Kubang Pekanbaru. Industri ini
tahu berkisar 37-45°C, kekeruhan mampu menghasilkan ±700 kg/hari

JOM FTEKNIK Volume 1 No. 2 Oktober 2014 2


tahu dengan pemakaian air bersih diperoleh penurunan kadar BOD
±6000 l/hari dan menghasilkan optimum dengan menggunakan
limbah cair ±4800 l/hari. Limbah variasi kerapatan tanaman dan
cair berasal dari beberapa proses, hidraulic loading rate (HLR).
antara lain proses pencucian, proses Hydraulic Loading Rate adalah
perendaman, proses penggumpalan, merupakan kecepatan aliran limbah
dan proses pengepressan. Air limbah didalam reaktor pengolahan yang
yang mengandung polutan tinggi berbanding lurus dengan debit dan
dihasilkan dari buangan proses berbanding terbalik dengan luas
penggumpalan dan pengepressan. penampang reaktor (Syafrudin,
Untuk mengatasi limbah cair tersebut 2014)
agar aman dibuang ke lingkungan Adapun tujuan penulis
diperlukan suatu pengolahan limbah melakukan penelitian ini adalah
cair, agar nantinya dapat mengurangi Mengetahui kemampuan tumbuhan
beban limbah yang masuk ke dalam Thypa latifolia dalam penurunan
badan air. kandungan BOD pada limbah
Pada penelitian ini metode industri tahu, menentukan efisiensi
fitoremediasi diuji cobakan untuk penyisihan parameter pencemar
mengolah limbah cair industri tahu yaitu BOD pada limbah cair tahu
UD. Dika Putra Pekanbaru dengan dengan metode fitoremediasi,
parameter yang diukur, terdiri dari mempelajari pengaruh faktor
BOD Pemeriksaan terhadap BOD kerapatan tanaman dan variasi
sangat diperlukan untuk mengetahui Hydraulic Loading Rate (HLR)
jumlah konsentrasi zat organik yang terhadap efisiensi pengolahan limbah
terkandung dalam air limbah. Nilai cair tahu dengan metode
BOD tinggi akan mengakibatkan fitoremediasi, dan membandingkan
berkurangnya kandungan oksigen di hasil BOD, setelah diolah dengan
badan air sehingga dapat baku mutu yang ditetapkan dalam
mengganggu ekosistem perairan. PERMEN LH Nomor 15 Tahun 2008
Pada penelitian pengolahan tentang „Baku Mutu Limbah Cair
limbah cair tahu UD. Dika Putra ini, Bagi Kegiatan Industri‟.
penulis menggunakan tanaman Adapun manfaat dari penelitian
Thypa latifolia atau biasa disebut ini adalah :
juga dengan tanaman ekor kucing. a. Memberikan masukan atau
Thypa Latifolia adalah jenis informasi mengenai salah satu
tumbuhan yang bersifat colonial. cara dalam pengolahan limbah
Tanaman ini banyak di jumpai industri tahu dengan metode
disekitar lahan basah alami di fitoremediasi menggunakan
Indonesia. Tanaman Thypa latifolia tanaman Thypa latifolia;
mempunyai daya tahan yang cukup b. Memberikan alternatif baru
kuat dan tidak mudah mati serta dalam metode pengolahan
mempunyai akar serabut yang sangat limbah yang efektif dan efisien;
lebat sehingga penyerapan terhadap Menambah referensi data
bahan pencemar terhadap unsur hara penelitian dalam penanganan
yang dibutuhkan relative besar. masalah pencemaran
Diharapkan pada penelitian ini

JOM FTEKNIK Volume 1 No. 2 Oktober 2014 3


lingkungan, terutama diindustri karakteristik fisika dan kimia.
tahu. Karakteristik Fisika meliputi padatan
total, padatan tersuspensi, suhu,
TINJAUAN PUSTAKA warna, dan bau. Karakteristik kimia
Limbah industri tahu adalah meliputi bahan organik, bahan
limbah yang dihasilkan dari proses anorganik dan gas. Suhu buangan
pembuatan tahu. Limbah yang industri tahu berasal dari proses
dihasilkan terdiri dari dua jenis, yaitu pemasakan kedelai. Suhu limbah cair
limbah padat dan cair. Limbah padat tahu pada umumnya lebih tinggi dari
belum dirasakan dampaknya air bakunya, yaitu 40°C sampai
terhadap lingkungan, karena limbah 46°C. Suhu yang meningkat di
padat atau yang sering kita sebut lingkungan perairan akan
ampas tahu dapat diolah kembali mempengaruhi kehidupan biologis,
menjadi oncom atau dapat kelarutan oksigen dan gas lain,
dimanfaatkan sebagai makanan kerapatan air, viskositas, dan
ternak, seperti ayam, bebek, sapi, dan tegangan permukaan.
kambing. Akan tetapi limbah cairlah Sebagai usaha atau kegiatan
yang merupakan bagian terbesar dan pembuatan tahu yang berpotensi
berpotensi untuk mencemari menimbulkan pencemaran dan
lingkungan. Sebagian besar limbah kerusakan lingkungan hidup wajib
cair yang dihasilkan bersumber dari melakukan upaya pencegahan
cairan kental yang terpisah dari pencemaran air dengan menetapkan
gumpalan tahu pada tahap proses baku mutu limbahnya, maka
peggumpalan dan penyaringan yang diperlukan suatu standar yang
disebut air dadih atau whey. Limbah mengatur buangan limbah cair dari
cair lainnya bersumber dari proses usaha pabrik tahu. Adapun standar
sortasi dan pembersihan, pengupasan yang mengatur buangan limbah cair
kulit, pencucian, penyaringan, industri tahu mengacu kepada
pencucian peralatan proses dan Peraturan Menteri Lingkungan
lantai. Jumlah limbah cair yang Hidup Nomor 15 Tahun 2008
dihasilkan oleh industri pembuatan tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi
tahu sebanding dengan penggunaan Usaha Dan/ Atau Kegiatan
air dalam pemrosesannya. Jumlah Pengolahan Kedelai dan, Peraturan
kebutuhan air dan jumlah limbah cair Pemerintah Republik Indonesia
yang dihasilkan dilaporkan berturut- nomor 82 tahun 2001 tentang
turut sebesar 45 dan 43,5 liter untuk Pengolahan Kualitas Air dan
setiap kilogram bahan baku kacang Pengendalian Pencemaran Air.
kedelai (Nuraida, 1985) dalam Phyto asal kata Yunani
(Nurhasmawaty, 2008), akan tetapi “phyton” yang berarti tumbuhan
pada beberapa industri tahu sebagian /tanaman (plant), Remediation asal
kecil dari limbah cair tersebut kata latin remediare (to remedy)
(khususnya whey) dimamfaatkan yaitu memperbaiki/ menyembuhkan
kembali sebagai bahan penggumpal atau membersihkan sesuatu. Jadi
(Dhahiyat, 1990). Fitoremediasi (Phytoremediation)
Karakteristik limbah cair merupakan suatu sistem dimana
industri tahu meliputi dua hal, yaitu tanaman tertentu yang bekerjasama

JOM FTEKNIK Volume 1 No. 2 Oktober 2014 4


dengan micro-organisme dalam bahan pencemar terhadap unsur hara
media (tanah, koral dan air) dapat yang dibutuhkan relative besar.
mengubah zat kontaminan
(pencemar/pollutan) menjadi kurang METODOLOGI PENELITIAN
atau tidak berbahaya bahkan menjadi Bahan utama yang digunakan
bahan yang berguna secara ekonomi dalam penelitian ini adalah limbah
(Syahputra, 2006) dalam Eka (2010). cair tahu industri UD. Dika Putra
Thypa Latifolia adalah sejenis yang beralamat di Jalan Sukajadi,
rerumputan, tinggi dan berdaun tebal Kubang Pekanbaru, dan bahan
tanpa tulang daun. Akar tanaman pendukung seperti tanaman Thypa
yang disebut juga ekor kucing ini Latifolia, kerikil, pasir kasar, tanah,
merupakan akar serabut yang serta bahan-bahan kimia yang
berfungsi seperti akar tunjang untuk digunakan untuk pengujian BOD
memperkuat batang tumbuhan. Akar pada sampel air limbah tahu.
ini juga berfungsi sebagai organ yang Hal-hal yang perlu
menghisap air, mineral dan unsur diperhatikan dalam melakukan
hara tanah. Daun Thypa Latifolia proses fitoremediasi ini adalah
seperti pita memanjang dan agak pemasangan serta pengkondisian
tebal, tumbuh langsung dari akar. reaktor. Alat utama yang digunakan
Pada permukaan tubuhnya, Thypa dalam penelitian ini adalah sebuah
Latifolia mempunyai lapisan reaktor yang terdiri dari sebuah bak
endodermal (lapisan yang terdapat di berbahan plastik yang berukuran P x
bagian dalam dinding sel) yang tebal L x T = 50 cm x 36 cm x 31 cm.
untuk melindungi diri dari Berikut adalah peralatan yang
kehilangan air saat musim kemarau. digunakan dalam pembuatan reaktor:
Tanaman cattail dapat hidup dengan 1) Pipa pvc ½ inchi;
baik pada pH 4 – 10 dan temperatur 2) Kran (Gate Valve);
10 – 300 C. Bunga dari tanaman ini 3) Ember plastik yang berfungsi
bisa dimanfaatkan untuk mengusir sebagai bak influen 20 liter, dan
nyamuk. Caranya, bunga dibakar effluen;
hingga mengeluarkan aroma yang Reaktor yang digunakan dalam
sangat tajam dan asapnya dapat penelitian ini berjumlah 4 unit. Tiga
mengusir nyamuk. Tanaman Thypa unit reaktor berisi tanaman Thypa
Latifolia ini banyak di jumpai Latifolia dengan variasi kerapatan
disekitar lahan basah alami di tanaman, dan 1 reaktor lagi sebagai
Indonesia. Tanaman Thypa Latifolia kontrol tanpa tanaman. Reaktor ini
mempunyai daya tahan yang cukup menggunakan pola aliran kontinyu.
kuat dan tidak mudah mati serta Gambar rangkaian reaktor dapat
mempunyai akar serabut yang sangat dilihat pada Gambar 3.1 berikut.
lebat sehingga penyerapan terhadap

JOM FTEKNIK Volume 1 No. 2 Oktober 2014 5


pada influen dapat dilihat pada tabel
4.1
Tabel 4.1 Hasil Uji Influen Limbah
Cair Industri Tahu UD. Dika Putra
sebelum dilakukannya fitoremediasi.
Hasil Uji
Kerapatan
HLR Sampel
No. Tanaman
Gambar 3.1 Reaktor Fitoremediasi (L/m2.hr) BOD
(gr/cm2)
Tampak Samping (mg/l)
1 0 1486
2 0,5 1584
500
3 0,75 1584
4 1 1653
5 0 1477
6 0,5 1493
750
7 0,75 1271
8 1 1526
Gambar 3.2 Instalasi Reaktor 9 0 1741
10 0,5 1643
Pada penelitian ini 1000
11 0,75 1467
menggunakan variabel tetap yaitu: 12 1 1369
 Ukuran reaktor, dimana Sumber : Hasil Penelitian
P=50 cm, L=36 cm, T=31 Berdasarkan hasil uji
cm; parameter pada tabel diatas dapat
 Tanaman Thypa Latifolia diketahui bahwa limbah cair tahu
Variabel yang berubah pada UD. Dika Putra tidak layak dibuang
penelitian ini yaitu : langsung ke lingkungan, karena nilai
 Kerapatan tanaman 0,5 BOD telah melampaui baku mutu
gr/cm2, 0,75 gr/cm2, dan 1 yang telah diperbolehkan yaitu BOD,
gr/cm2; 150 mg/l sesuai dengan Peraturan
 Hidraulic Loading Rate Menteri Lingkungan Hidup nomor
(HLR 500, 750, dan 1000 15 tahun 2008 tentang “Baku Mutu
L/m2.hr Air Limbah Bagi Usaha dan/atau
Kegiatan Pengolahan Kedelai”.
HASIL DAN PEMBAHASAN Untuk itu perlu adanya pengolahan
4.1 Hasil Uji Limbah Cair Industri limbah cair tahu sebelum dibuang ke
Tahu lingkungan.
Karakteristik influen limbah 4.2 Hasil Uji Parameter Effluen
cair industri tahu meliputi pengujian Limbah Cair Industri Tahu.
analisa BOD. Sebelum dilakukannya Karakteristik effluen limbah
pengolahan menggunakan proses cair industri tahu meliputi pengujian
fitoremediasi, limbah cair tahu BOD dengan variasi Hidraulic
dianalisis parameter BOD untuk Loading Rate (HLR) dan kerapatan
mengetahui kualitas limbah cair tanaman. Adapun hasil pengujian
tersebut. Hasil analisis limbah cair Effluen limbah cair tahu setelah
dilakukannya pengolahan

JOM FTEKNIK Volume 1 No. 2 Oktober 2014 6


menggunakan proses fitoremediasi Tabel 4.3 Persentase Eisiensi
adalah sebagai berikut. Penyisihan Pencemar
Kerapatan
Tabel 4.2 Hasil Uji Effluen HLR BOD
No. Tanaman Td
Limbah Cair Tahu Menggunakan (L/m2.hr) 2 (%)
(gr/cm )
Proses Fitoremediasi 1. 0 48,78
Kerapatan 2. 0,5 192 51,84
HLR BOD 500
No. Tanaman Td
(L/m2.hr) 2 (mg/l) 3. 0,75 menit 72,97
(gr/cm ) 4. 1 84,76
1. 0 761 5. 0 44,49
2. 0,5 192 604 6. 0,5 128 59,50
500 750
3. 0,75 menit 428 7. 0,75 menit 72,47
4. 1 252 8. 1 84,77
5. 0 820 9. 0 42,77
6. 0,5 128 604 10. 0,5 53,66
750 96
7. 0,75 menit 305 1000
11. 0,75 menit 72,14
8. 1 232 12. 1 80,16
9. 0 996 Sumber : Hasil Penelitian
10. 0,5 96 761
1000 Dari Tabel 4.3 menunjukkan bahwa
11. 0,75 menit 408
12. 1 271 adanya pengaruh Hidraulic Loading
Sumber : Hasil Penelitian Rate (HLR) yang mempengaruhi
efisiensi penyisihan pencemar.
Dari hasil pengujian parameter BOD
Dimana HLR berpengaruh dengan td
pada efluen pengolahan dapat
atau waktu tinggal limbah dengan
dihitung efisiensi penyisihan
reaktor. Dimana semakin lama waktu
pencemaran limbah cair industri tahu
tinggal limbah pada reaktor, maka
UD. Dika Putra. Adapun persentase
semakin besar efisiensi penyisihan
efisiensi penyisihan pencemar pada
pencemar. Hal ini disebabkan oleh
limbah cair industri tahu UD. Dika
waktu ditensi yang cukup akan
Putra dengan metode fitoremediasi
memberikan kesempatan kontak
adalah sebagai berikut pada tabel 4.3.
antara mikroorganisme dengan air
limbah.
4.3 Penurunan Biochemical Oxygen
Demand (BOD) Dalam
Pengolahan Limbah Cair Tahu.
Dari hasil penelitian ini
menunjukan adanya pengaruh variasi
kerapatan tanaman dan Hidraulic
Loading Rate (HLR) pada
penyisihan limbah cair industri tahu
dengan metode fitoremediasi.
Berikut adalah grafik pengaruh
kerapatan tanaman dan HLR
terhadap efisiensi penyisihan BOD
dengan fitoremediasi.

JOM FTEKNIK Volume 1 No. 2 Oktober 2014 7


Kerapatan tanaman juga
terlihat mempengaruhi efisiensi
pengolahan BOD. Dimana semakin
tinggi kerapatan tanaman, didapatkan
semakin tinggi pula efisiensi
penyisihan BOD. Pada kerapatan 1
gr/cm2 tanaman akan lebih banyak
dibandingkan dengan kerapatan yang
Gambar 4.1 Grafik Persentase lain. Maka mikroorganisme pada
Pengaruh Variasi Perlakuan kerapatan 1 gr/cm2 akan lebih banyak
Terhadap Efisiensi Penyisihan BOD dibandingkan kerapatan lain, karena
mikroorganisme akan tumbuh
Pada gambar 4.1 terlihat efisiensi disekitar akar tumbuhan tersebut.
penyisihan BOD pada variasi HLR Maka proses Rhyzodegradetion atau
500 l/m2.hari lebih tinggi disebut juga enhenced rhezosphere
dibandingkan dengan HLR 750 biodegradation yaitu penguraian zat-
l/m2.hari dan 1000 l/m2.hari. Hal ini zat kontaminan oleh aktivitas
diakibatkan pada HLR 500 l/m2.hari microba yang berada disekitar akar
waktu kontak limbah dengan reaktor tumbuhan akan berlangsung lebih
lebih lama dibandingkan dengan banyak (wood dalam Euis, 2011).
HLR 750 l/m2.hari, dan 1000 4.4 Perbandingan Influen Sebelum
L/m2.hari. Hal ini membuktikan pengolahan Dengan Baku Mutu
bahwa semakin rendah HLR, maka KEPMEN LH Nomor 15 Tahun
proses ini akan berlangsung secara 2008.
perlahan-lahan, sehingga waktu
kontak menjadi lebih lama. Hasil dari effluen industri tahu
Salmariza dkk (2002), menyatakan UD. Dika Putra yang di dapat dari
dengan adanya kontak yang lebih penelitian ini dibandingkan dengan
lama pada setiap lapisan aerob baku mutu limbah cair tahu, yaitu
maupun anaerob, menyebabkan Keputusan Menteri Lingkungan
proses dekomposisi atau degradasi Hidup Nomor 15 Tahun 2008 “Baku
akan berjalan lebih sempurna. mutu air limbah bagi usaha dan/atau
Sebaliknya, jika HLR semakin kegiatan pengolahan kedelai‟. Nilai
tinggi, maka waktu kontak limbah influen limbah cair tahu sebelum
cair dengan mikroorganisme pada dilakukannya pengolahan limbah
setiap lapisan akan lebih singkat, dilakukan pengujian parameter BOD.
akibatnya proses dekomposisi atau Didapat hasil seperti tertera pada
degradasi yang terjadi belum begitu tabel berikut.
sempurna

JOM FTEKNIK Volume 1 No. 2 Oktober 2014 8


Tabel 4.4 Perbandingan Influen limbah Industri Tahu Sebelum Dilakukannya
Pengolahan Dengan Baku Mutu
Uji
Kerapatan Baku
HLR Sampel
No. Tanaman Mutu Keterangan
(L/m2.hr) BOD
(gr/cm2) (mg/l)
(mg/l)
1 0 1486 Tidak
2 0,5 1584 Tidak
500 150
3 0,75 1584 Tidak
4 1 1653 Tidak
5 0 1477 Tidak
6 0,5 1493 Tidak
750 150
7 0,75 1271 Tidak
8 1 1526 Tidak
9 0 1741 Tidak
10 0,5 1643 Tidak
1000 150
11 0,75 1467 Tidak
12 1 1369 Tidak
Sumber : Hasil Penelitian Thypa Latifolia dengan variasi
Pengujian influen melebihi baku kerapatan tanaman, dan Hidraulic
mutu yang telah ditetapkan, yaitu Loading Rate (HLR). Berikut adalah
BOD 150 mg/l. Maka dari itu perlu hasil effluen pengolahan limbah cair
dilakukannya pengolahan limbah cair tahu menggunakan proses
industri tahu dengan metode fitoremediasi.
fitoremediasi menggunakan tanaman

Tabel 4.5 Perbandingan Effluen limbah Industri Tahu Setelah Dilakukannya


Pengolahan Dengan Baku Mutu
No. HLR Kerapatan Uji Sampel Baku Keterangan
(L/m2.hr) Tanaman (mg/l) Mutu
(gr/cm2) (mg/l)
1 500 0 761 Tidak
2 0,5 604 Tidak
150
3 0,75 428 Tidak
4 1 252 Tidak
5 750 0 820 Tidak
6 0,5 604 Tidak
150
7 0,75 305 Tidak
8 1 232 Tidak
9 1000 0 996 Tidak
10 0,5 761 Tidak
150
11 0,75 408 Tidak
12 1 271 Tidak
Sumber : Hasil Penelitian

JOM FTEKNIK Volume 1 No. 2 Oktober 2014 9


2) Diperlukan penelitian lanjutan dengan
Dari hasil tabel 4.5 didapat bahwa
menggunakan tanaman lain sebagai agen
hasil olahan limbah cair tahu menggunakan
fitoremediasi agar semakin banyak
fitoremediasi belum memenuhi baku mutu
tanaman yang dapat dimanfaatkan;
yang telah ditetapkan. Hal ini bisa saja
3) Pada penelitian ini, effluen pengolahan
terjadi akibat kurang lamanya waktu kontak
masih diatas baku mutu yang telah
limbah cair dengan reaktor. Perlu adanya
ditetapkan. Untuk itu perlu adanya
pengolahan lanjutan agar beban limbah
mengolahan pendahuluan sebelum
diharapkan dibawah baku mutu yang telah
dilakukannya proses fitoremediasi ini,
ditetapkan.
salah satunya dengan pengenceran
sampel limbah yang akan diolah.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan yang telah dilakukan maka DAFTAR PUSTAKA
Dhahiyat. Y., 1990. Karakteristik Limbah
dapat disimpulkan sebagai berikut :
1) Thypa Latifolia mampu menyisihkan Cair Tahu Dan Pengolahannya Dengan
Enceng Gondok (Eichornia Crassipes),
parameter pencemar BOD pada limbah
dalam Pohan Nurhasmawati, 2008.
cair tahu, dimana mampu menyisihkan
Pengolahan Limbah Cair Industri Tahu
parameter pencemar hingga 84,76 %;
Dengan Proses Biofilter Aerobik, Tesis,
2) Pada proses fitoremediasi dengan
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik,
tanaman Thypa Latifolia ini mampu
Universitas Sumatra Utara, Medan.
menyisihkan pemcemar limbah cair
industri tahu, dimana pensentase Euis Nurul Hidayah, Wahyu Aditya, 2010.
efisiensi penyisihan BOD yang Potensi dan Pengaruh Tanaman Pada
diperoleh pada penelitian ini adalah Pengolahan Air Limbah Domestik
42,77-84,76%; Dengan Sistem Constructed Wetland.
3) Variasi kerapatan tanaman, dan Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas
Hidraulic Loading Rate (HLR) Teknik, Universitas Pembangunan
memberikan pengaruh yang dalam Nasional “Veteran”, Jawa
penyisihan BOD. Dimana nilai efisiensi Timur.Nurhasan dan Pramudyanto, BB.,
penyisihan pencemar terbaik terjadi (2007), Penanganan air Limbah Pabrik
pada variasi kerapatan tanaman 1 g/cm2, Tahu, Yayasan Bina Karya Lestari
dan pada variasi HLR 500 l/m2.hari (Bintari).
yaitu hingga penyisihan 88,08%; Febrian Kaswinarni, 2007. Kajian Teknis
4) Pada Effluen pengolahan nilai parameter Pengolahan Limbah Padat dan Cair
BOD masih diatas baku mutu PERMEN Industri Tahu. Tesis, program Studi
LH Nomor 15 Tahun 2008, dan belum Ilmu Lingkungan, Universitas
bisa dibuang langsung ke lingkungan. Diponegoro, Semarang.
Adapun saran dalam penelitian ini Fachrurozi M, Budi Utami Listiatie, Suryani
adalah sebagai berikut : Dyah, 2010. Pengaruh Variasi
1) Diperlukannya penelitian lanjutan Biomassa Pistia Stratiotes L. Terhadap
dengan menggunakan pola aliran batch Penurunan Kadar BOD, COD, dan TSS
dan menggunakan td lebih lama, Limbah Cair Tahu Di Dusun Klero
sehingga diharapkannya penurunan Sleman Yogyakarta.
konsentrasi BOD dibawah baku mutu http://journal.uad.ac.id/index.php/KesM
yang telah ditetapkan;

JOM FTEKNIK Volume 1 No. 2 Oktober 2014 12


as/article/view/551, Diakses 7 Januari Nurhasmawaty Pohan, 2008. Pengolahan
2014, Pkl 13.16 WIB. Limbah Cair Industri Tahu Dengan
Proses Biofilter Aerobik. Tesis, Pasca
Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Sarjana. Universitas Sumatra Utara ,
Hidup nomar 51 tahun 1995 Tentang
Medan.
„Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan
Industri‟. Syafrudi, 2014. Pengolahan Air Limbah
Domestik Tipe Greywater
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup
Menggunakan Reaktor Upflow
Nomor 15 Tahun 2008 Tentang “Baku
Anaerobic Sludge Blanket (UASB).
Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau
Disertasi, Program Doktor Ilmu
Kegiatan pengolahan kedelai”.
Lingkungan, Universitas Diponegoro,
Semarang
.

JOM FTEKNIK Volume 1 No. 2 Oktober 2014 13