Вы находитесь на странице: 1из 17

PENGARUH UMUR, GENDER, DAN PENDIDIKAN TERHADAP PERILAKU RISIKO

AUDITOR DALAM KONTEKS AUDIT ATAS LAPORAN KEUANGAN

Taufiequr R. Wirosari., SE., Ak.

Dr. Zaenal Fanani., SE., MSA., Ak.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga, Surabaya

Email : taufiequr.rakhman@gmail.com

ABSTRACT

This research aims to examines and proves the influence of auditor’s risk behavior generated by age,
gender, and education. This is important because risk is the main focus on Professional Standard on
Auditing (PSA) as auditor guidance to audit of financial statement, so it is important to examine that
auditor perception and propensity to face that risk.

This study is a quantitative approach, which respondents are auditors involved in the audit of financial
statements in Indonesian. The data was collected using a questionnaire Ionescu & Turlea (2011). This
research using age (X1), gender (X2), and education (X3) as independent variable and auditor’s risk
behavior (Y) as dependent variable. Hypothesis testing was performed using multiple linear
regression with a 5% significance level. The result show age has a positive and significant influence
on auditor’s risk behavior, in a financial audit context, while gender and education has not significant
influence on auditor’s risk behavior.

Keywords: Risk Averse, Age, Gender, Education, Auditor’s Risk Behavior.

PENDAHULUAN menghindar risiko dimana banyak penelitian


Literatur mengenai umur pada yang membuktikan bahwa perilaku
umumnya sering dikaitkan dengan perilaku menghindar risiko akan meningkat seiring
menghindar risiko, dimana umur berpengaruh dengan bertambahnya umur (Riley & Chow,
signifikan terhadap pola pikir dan respon 1992; Bellante & Green, 2004; Chang et al.,
individu terhadap risiko yang dihadapinya, 2004; Gardner & Steinberg, 2005; Grable et
semakin berumur individu maka akan al., 2009; Chauffman et al., 2010; Ionescu &
cenderung bereaksi terhadap risiko yang Turlea, 2011; Yao et al., 2011; Rolison et al.,
teridentifikasi (Riley & Chow, 1992; Wang & 2012; Duasa & Yusof, 2013). Namun dilain
Hanna 1997; Dror et al., 1998; Bellante & pihak juga tidak sedikit penelitian yang
Green, 2004, Chang et al., 2004; Gardner & menyatakan bahwa perilaku menghindar risiko
Steinberg, 2005; Grable et al., 2009; akan menurun seiring bertambahnya umur,
Chauffman et al., 2010; Ionescu & Turlea, dengan kata lain, semakin berumur seseorang
2011; Yao et al., 2011; Amaefula et al., 2012; maka semakin menyukai risiko (Wang &
Rolison et al., 2012; Duasa & Yusof, 2013), Hanna, 1997; Lin, 2009; Amaefula et al.
akan tetapi terdapat ketidakkonsistenan hasil 2012).
temuan mengenai pengaruh umur dan perilaku
Permasalahan yang sama tentunya & Yusof, 2013). Penelitian ini berusaha untuk
akan muncul pada diri seorang auditor selama lebih lanjut menguji pengaruh umur, gender,
proses audit atas laporan keuangan dan pendidikan terhadap perilaku menghindar
berlangsung. Semakin berumur auditor, maka risiko yang terkait dengan auditor dalam
auditor tersebut akan lebih konservatif dalam konteks audit atas laporan keuangan.
memperoleh bukti untuk menekan risiko ke
tingkat yang paling rendah, dengan kata lain Kedua, berbagai penelitian
prosedur dan pengumpulan sampel lebih sebelumnya menunjukkan hasil yang tidak
banyak untuk membuktikan kebenaran dari konsisten pada variabel umur dimana Riley &
laporan keuangan yang disusun oleh Chow (1992), Bellate (2004), Chang et al.
manajemen perusahaan, sehingga persentase (2004), Gardner & Steinberg (2005), Grable
keyakinan atas opini yang dijaminnya semakin (2009), Chauffman et al. (2010), Yao et al.
besar. Hal ini tentunya menambah biaya dan (2011), Rolison et al. (2012), dan Duasa &
waktu pelaksanaan audit di lapangan, begitu Yusof (2013) menyatakan bahwa semakin
juga sebaliknya. bertambahnya umur, perilaku menghindar
risiko semakin meningkat. Hal ini
Penelitian ini terinspirasi dari bertentangan dengan penelitian yang
penelitian yang dilakukan oleh Ionescu & dilakukan oleh Wang & Hanna (1997), Lin
Turlea (2011) di Romania mengenai pengaruh (2009), dan Amaefula et al. (2012) yang
umur terhadap perilaku risiko auditor dalam menyatakan sebaliknya, semakin
konteks audit atas laporan keuangan dengan bertambahnya umur, perilaku menghindar
maksud membuat penelitian yang serupa risiko akan semakin menurun, dengan kata
dengan kondisi di Indonesia, sekaligus lain, semakin bertambahnya umur individu
mengembangkan penelitian tersebut, melalui akan lebih menyukai risiko. Bahkan Dror et al.
penambahan variabel tambahan yaitu gender (1998), Faff et al. (2008), dan Jayathilake
dan pendidikan sebagai variabel independen (2013) tidak menemukan adanya pengaruh
dari perilaku risiko auditor. signifikan antara umur dan perilaku risiko.
Sedangkan pada variabel gender Barber &
Motivasi penelitian ini adalah sebagai Odean (2001), Faff et al. (2008), dan
berikut: pertama, umur sering dikaitkan secara Jayathilake (2013) yang menyatakan
langsung mempengaruhi perilaku menghindar perempuan lebih berperilaku menghindar
risiko, pendapat umum seputar perilaku risiko dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini
menghindar risiko selama ini ialah semakin bertentangan dengan penelitian yang
berumur seseorang maka akan cenderung dilakukan oleh Grable et al. (2009) dan
untuk menghindari risiko, dan sebaliknya Wendy (2010) yang menyatakan tidak ada
(Riley & Chow, 1992; Wang & Hanna 1997; perbedaan perilaku risiko antara laki-laki dan
Dror et al., 1998; Bellante & Green, 2004, perempuan. Selanjutnya pada variabel
Chang et al., 2004; Gardner & Steinberg, pendidikan menurut Riley & Chow (1992),
2005; Grable et al., 2009; Chauffman et al., Chang et al. (2004) dan Duasa & Yusof (2013)
2010; Ionescu & Turlea, 2011; Yao et al., semakin tinggi pendidikan seorang individu
2011; Amaefula et al., 2012; Rolison et al., akan semakin menurunkan perilaku
2012; Duasa & Yusof, 2013). Selain itu, menghindar risikonya. Hal ini bertentangan
variabel gender tidak kalah menariknya, dengan penelitian yang dilakukan oleh Lin
gender tidak jarang digunakan sebagai variabel (2009), dan Amaefula et al. (2012) yang
yang mempengaruhi perilaku risiko, menyatakan sebaliknya, semakin
perempuan sering disimpulkan lebih berpendidikan individu, maka akan semakin
berperilaku menghindar risiko dibandingkan meningkatkan perilaku menghindar risiko.
laki-laki, hal ini didukung dengan penelitian Bahkan Grable et al. (2009) dan Jayathilake
empiris dari (Riley & Chow, 1992; Barber & (2013) justru menyatakan tidak ada bukti
Odean, 2001; Faff et al., 2008; Duasa & signifikan yang menunjukkan pengaruh
Yusof, 2013; Jayathilake, 2013). Selanjutnya, pendidikan dengan perilaku risiko yang ada.
pendidikan juga sering dikaitkan dengan cara
seseorang menghadapi risiko, semakin Di Indonesia jenjang pendidikan
berpendidikan seseorang, maka akan semakin formal di bidang akuntansi umumnya dilewati
berperilaku menyukai risiko dan berlaku melalui jenjang kesarjanaan (S1), jenjang
sebaliknya (Riley & Chow, 1992; Chang et al., pendidikan profesional (PPA), jenjang
2004; Lin, 2009; Amaefula et al. 2012; Duasa pendidikan magister (S2), hingga jenjang
pendidikan doktoral (S3), adapun pendidikan kondisi umumnya, dalam beberapa kondisi,
profesional yang diambil setelah seseorang mencoba untuk membuatnya konsisten. Dua
mengenyam pendidikan magister dan doktoral informasi yang secara psikologi tidak cocok
merupakan penyesuaian semata. dikatakan sebagai ketidakkonsistenan.
Beberapa bagian dari informasi tersebut dapat
Pentingnya pendidikan formal berkaitan dengan perilaku, perasaan-perasaan,
tentunya membantu auditor dalam membentuk opini-opini, sesuatu yang berkenaan dengan
pola pikir dasar, memetakan risiko terkait lingkungan dan lain sebagainya. Secara
proses audit, serta merumuskan program audit sederhana, kata “kognitif” menguji teori yang
sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan oleh berkaitan dengan hubungan antar informasi.
standar audit. Dalam hal ini tentunya tidak
sama penilaian dan respon auditor yang hanya Serangkaian informasi yang dialami oleh
mengenyam pendidikan sarjana dengan auditor membuat auditor tersebut akan
auditor yang mengenyam pendidikan berusaha mencapai keselarasan antara sikap
profesional dan seterusnya mengenai risiko dan perilaku yang seharusnya. Dalam konteks
yang dihadapi selama proses audit. penelitian ini, teori ini membantu menjelaskan
perilaku risiko auditor saat bertambahnya
Ketiga, penelitian ini berusaha umur, semakin berumur auditor akan
memperbaiki pengukuran sesuai dengan yang cenderung untuk semakin konservatif terhadap
disarankan oleh Ionescu & Turlea (2011) bukti yang menyebabkan pembengkakan
untuk menambahkan poin penilaian pada skala terhadap waktu dan biaya, sedangkan dilain
linkert dalam pengukuran kuesioner yang akan pihak adanya tekanan untuk melakukan audit
disebar dengan tujuan untuk memperoleh hasil dengan lebih efisien memaksa auditor untuk
yang lebih halus dengan tetap tidak cenderung mengambil risiko. Semakin
mempergunakan poin netral pada skala linkert berpendidikan auditor akan semakin
untuk menghindari bias atas pilihan yang ada. mengetahui dampak yang akan terjadi jika
mengambil risiko sehingga menyebabkan
Ketidakkonsistenan hasil penelitian yang menghindari risiko, sedangkan dilain pihak
ada diatas, membutuhkan adanya generalisasi auditor juga memiliki materialitas tersendiri
terhadap fenomena yang ada, oleh karenanya untuk menanggung risiko auditnya. Hal yang
penelitian ini berusaha mengintegrasikan dan serupa juga terjadi antara auditor laki-laki dan
mengajukan bahwa umur, gender, dan auditor perempuan. Teori disonansi kognitif
pendidikan merupakan faktor transeden yang ini membantu menjelaskan pengaruh umur,
mempengaruhi perilaku menghindar risiko gender, dan pendidikan terhadap perilaku
(risk aversion behavior) auditor dalam konteks risiko auditor, dimana sifat psikologi manusia
audit atas laporan keuangan. Berdasarkan latar pada dasarnya mencari kenyamanan dalam
belakang penelitian yang telah dibahas segala situasi membuat teori ini menjadi dasar
sebelumnya, maka rumusan masalah pada mengapa auditor yang lebih berumur dan
penelitian ini sebagai berikut : berumur dibawahnya, laki-laki dan
1. Apakah umur berpengaruh positif terhadap perempuan, lebih berpendidikan dan
perilaku risiko auditor dalam konteks audit pendidikan dibawahnya memiliki perbedaan
atas laporan keuangan? dalam menghadapi risiko.
2. Apakah gender berpengaruh terhadap Perilaku Risiko Auditor
perilaku risiko auditor dalam konteks audit
atas laporan keuangan? Menurut Sitkin & Pablo (1992) perilaku
3. Apakah pendidikan berpengaruh negatif risiko adalah keputusan risiko terkait yang
terhadap perilaku risiko auditor dalam muncul dari keputusan yang diambil,
konteks audit atas laporan keuangan keputusan berisiko yang dimaksud termasuk
ketidakpastian yang lebih atas keluaran
TINJAUAN PUSTAKA (outcomes) yang dihasilkan, penentuan tujuan
Teori Disonansi Kognitif yang sulit untuk dicapai, termasuk
konsekuensi ekstrim yang harus diterima
Menurut Festinger (1962) menyatakan sebagai dampak dari keputusan yang diambil.
bahwa teori disonansi kognitif terjadi jika
seseorang mengetahui beberapa hal yang Sedangkan menurut SA 200 Paragraf 13
secara psikologi tidak konsisten dengan (d) istilah auditor digunakan untuk menyebut
dua subyek yaitu seseorang yang Jayathilake (2013) yang menunjukkan hasil
melaksanakan audit, dalam hal ini rekan laki-laki dan perempuan mempunyai perilaku
perikatan atau anggota team perikatan atau yang berbeda dalam menghadapi risiko.
Kantor Akuntan Publik itu sendiri. Jika yang Berdasarkan penelitian terdahulu, perempuan
dimaksud oleh SA menyatakan bahwa suatu dianggap lebih berperilaku menghindar risiko
ketentuan atau tanggung jawab harus dipenuhi dibandingkan dengan laki-laki. Atas
oleh rekan perikatan, maka tidak lagi kenyataan tersebut, maka tidak menutup
menggunakan istilah auditor, namun istilah kemungkinan hal yang sama bahwa auditor
yang lebih tepat digunakan langsung mengarah perempuan memiliki perilaku risiko yang
kepada rekan perikatan. lebih tinggi dibandingkan dengan auditor
laki-laki.
Berdasarkan terminologi diatas mengenai Karakteristik demografis lainnya yang
perilaku risiko dan auditor, maka dapat dapat mempengaruhi perilaku risiko auditor
disimpulkan bahwa perilaku risiko auditor ialah pendidikan. Pendidikan yang
adalah keputusan risiko terkait yang muncul dimaksudkan pada penelitian ini adalah
dari keputusan yang diambil orang-orang yang pendidikan formal. Pendidikan formal adalah
melaksanakan audit, biasanya rekan perikatan proses memperoleh pengetahuan pada institusi
atau anggota team perikatan, keputusan yang pasti seperti sekolah tinggi, institut dan
berisiko yang dimaksud termasuk universitas. Sesuai dengan penelitian yang
ketidakpastian yang lebih atas keluaran dilakukan oleh Riley & Chow (1992), Chang
(outcomes) yang dihasilkan, penentuan tujuan et al. (2004), Lin (2009), Amaefula et al
yang sulit untuk dicapai, termasuk (2012), Duasa & Yusof (2013) yang secara
konsekuensi ekstrim yang harus diterima umum menunjukkan bahwa latar belakang
sebagai dampak dari keputusan. pendidikan dapat mempengaruhi karakteristik
perilaku risiko dari individu oleh karenanya
KERANGKA KONSEPTUAL semakin tinggi pendidikan dari auditor maka
Penelitian ini berangkat dari penelitian akan cenderung memilih perikatan audit atas
yang dilakukan oleh Ionescu & Turlea (2011) laporan keuangan dengan risiko yang lebih
yang menguji pengaruh umur terhadap tinggi, dengan kata lain semakin tinggi
perilaku risiko auditor yang terlibat perikatan pendidikan auditor, maka perilaku
audit atas laporan keuangan. Pertimbangan menghindar risiko akan semakin menurun.
penggunaan umur dikarenakan umur
merupakan satu dari sekian banyak penentu
Penelitian Sebelumnya dan Pengembangan
perilaku risiko pengambil keputusan.
Hipotesis
Penelitian yang dilakukan oleh Bellante &
Pengaruh Umur Terhadap Perilaku Risiko
Green (2004), Chang et al. (2004), Grable et
Auditor
al. (2009), Chauffman et al. (2010), Ionescu &
Umur merupakan salah satu faktor utama
Turlea (2011), Yao et al. (2011), Rolison et al.
yang dapat mempengaruhi perilaku risiko
(2012), Duasa & Yusof (2013) menunjukkan
auditor. Hal ini terjadi karena makin lama
bahwa perilaku menghindar risiko akan
auditor akan terbiasa dalam memahami
meningkat seiring dengan bertambahnya umur.
kondisi yang akan datang (intuisi) atas risiko
Berdasarkan simpulan dari penelitian
perikatan audit atas laporan keuangan yang
sebelumnya mengenai peningkatan perilaku
akan ditanganinya. Disamping itu, umur juga
menghindar risiko seiring dengan
dapat menunjukkan kematangan profesional
bertambahnya umur, seharusnya juga berlaku
dibidangnya. Dengan demikian umur
pada auditor. Dengan semakin bertambahnya
berpengaruh terhadap peningkatan perilaku
umur auditor yang terlibat dalam perikatan
menghindar risiko (risk aversion behavior).
audit atas laporan keuangan, maka akan
Pada kenyataannya, auditor sering mengalami
semakin konservatif untuk memilih risiko
konflik pada saat penugasan audit. Menurut
yang lebih rendah (risk aversion behavior).
Festinger (1962) apabila terjadi disonansi,
Dalam mempertimbangkan faktor yang
maka seseorang akan berusaha untuk
mempengaruhi perilaku menghindar risiko,
mengurangi disonansi tersebut untuk
perempuan dianggap lebih berperilaku
mencapai konsonansi, hal ini dicapai dengan
menghindar risiko dibandingkan dengan laki-
merubah sikap dan perilakunya. Auditor akan
laki, sesuai dengan hasil penelitian yang
mengalami disonansi kognitif apabila ia telah
dilakukan oleh Riley & Chow (1992), Barber
terbentuk dari latar belakang lingkungan yang
& Odean (2001), Duasa & Yusof (2013),
tidak sedemikian mengerti mengenai risiko Rolison et al. (2012) menemukan bahwa
akan berperilaku menyukai risiko, sehingga individu yang lebih tua lebih berperilaku
perilaku risiko auditor semakin rendah, menghindari risiko dibandingkan dengan yang
perilaku tersebut akan berubah seiring dengan berumur lebih muda. Duasa & Yusof (2013)
bertambahnya umur auditor, setelah semakin menyatakan bahwa perilaku menghindar risiko
banyak mengetahui risiko yang dihadapinya, lebih kecil komposisinya pada individu yang
maka auditor tersebut akan menjadi semakin berumur dibawah investor yang lebih
menghindari risiko. berumur.
Riley & Chow (1992) menyatakan Faktor terpenting yang dapat
terdapat pengaruh signifikan negatif antara mempengaruhi perilaku risiko auditor dalam
umur dan persentese kepemilikan aset yang menghadapi risiko adalah umur dari auditor
berisiko, semakin berumur seseorang akan itu sendiri, semakin berumur auditor akan
semakin berperilaku menghindar risiko (risk cenderung untuk berperilaku menghindari
aversion behavior). Wang & Hanna (1997) risiko. Berdasarkan hasil penelitian dari Riley
menyatakan sebaliknya, bahwa perilaku & Chow (1992), Bellante & Green (2004),
menghindar risiko akan menurun seiring Chang et al. (2004), Gardner & Steinberg
dengan bertambahnya umur. Dilain pihak, (2005), Grable et al. (2009), Chauffman et al.
Dror et al. (1998) berusaha untuk (2010) Ionescu & Turlea (2011), Yao et al.
mengonfirmasi perbedaan tersebut dan (2011), Rolison et al. (2012) yang menyatakan
melakukan pengujian kembali mengenai bahwa semakin berumur seseorang, perilaku
perbedaan perilaku pengambil keputusan menghindar risiko akan semakin meningkat,
antara yang berumur dan yang lebih muda, maka dikembangkan rumuskan hipotesis
hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa sebagai berikut :
pada tingkatan tertentu dimana risiko H1 : Semakin bertambah umur auditor maka
ditingkatkan, maka antara kelompok yang perilaku risiko auditor dalam konteks
lebih berumur dan yang lebih muda tidak audit atas laporan keuangan akan
menunjukkan perbedaan, kedua kelompok semakin meningkat.
tersebut menunjukkan hasil peningkatan
perilaku menghindar risiko yang sama. Pengaruh Gender Terhadap Perilaku
Bellante & Green (2004) menyimpulkan Risiko Auditor
bahwa kelompok yang lebih tua akan semakin Kepercayaan umum bahwa laki-laki
menghindari risiko ketika beranjak lebih tua. seharusnya mengambil risiko yang lebih besar
Chang et al. (2004) menyatakan bahwa pada dibandingkan perempuan, dimana perempuan
umur diatas 65 tahun, ibu rumah tangga akan pada umumnya lebih berperilaku menghindar
lebih berperilaku menghindar risiko. Gardner risiko dibandingkan dengan laki-laki. Teori
& Steinberg (2005) menyatakan bahwa disonansi kognitif gender menyatakan bahwa
perilaku pengambil risiko pada pengambil perbedaan sifat dan karakter bawaan dari laki-
keputusan akan cenderung menurun seiring laki dan perempuan dapat mempengaruhi
dengan peningkatan umur. perilaku dan pola pikir yang berbeda. Hal ini
Grable et al. (2009) menemukan bahwa menjadi pertimbangan faktor terpenting
individu yang berumur lebih akan selanjutnya yang dapat mempengaruhi
mengesampingkan adanya risiko/ lebih perilaku risiko auditor. Riley & Chow (1992)
menghindar terhadap risiko yang ada. Lin menemukan bahwa perilaku menghindar
(2009) pada umur 40 tahun, ibu rumah tangga risiko akan lebih rendah pada laki-laki jika
akan lebih menyukai risiko dibandingkan dibandingkan dengan perempuan. Lebih lanjut
dengan umur sebelumnya. Chauffman et al. laki-laki lebih mempunyai tekanan yang lebih
(2010) dengan meningkatnya umur, maka “thrill seeker” atau pencari sensasi, sehingga
perilaku menghindar risiko (avoidance risk secara konsekuensi laki-laki akan cenderung
behavior) akan semakin meningkat. Yao et al. untuk lebih menyukai risiko, yang akan
(2011) menyimpulkan bahwa umur memiliki berbanding terbalik dengan perempuan,
dampak negatif terhadap keinginan untuk dimana pada konteks ini perempuan menjadi
memiliki aset keuangan yang berisiko. lebih berperilaku menghindar risiko
Namun, Amaefula et al. (2012) berpendapat dibandingkan dengan laki-laki.
sebaliknya, bahwa umur memiliki pengaruh Faff et al. (2008) melakukan pengujian
signifikan positif terhadap perilaku risiko (risk terhadap pengaruh financial risk tolerance
attitude). (FRT) terhadap perilaku menghindar risiko
dengan menggunakan survey online FRT menimbulkan perilaku risk averse.
metric menyimpulkan bahwa pada umumnya Ketidakkonsistenan ini kemudian diuji
perempuan lebih berperilaku menghindar kembali oleh Amaefula et al. (2012), pada
risiko dibandingkan dengan laki-laki, yang penelitiannya mengenai perilaku risiko dan
ditunjukkan dari tendensi untuk lebih banyak asuransi dengan pendekatan causal analysis,
pilihan menyimpan dari pada bertaruh pada hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa
risiko. Hal ini didukung dengan penelitian semakin tinggi tingkat pendidikan maka akan
Jayathilake (2013) atas perilaku risiko mempunyai pengaruh positif terhadap perilaku
pengusaha laki-laki dan perempuan di Sri menghindar risiko. Penelitian selanjutnya yang
Lanka yang membuktikan bahwa pada dilakukan oleh Duasa & Yusof (2013)
dasarnya perempuan lebih berperilaku menyatakan bahwa semakin banyak
menghindar risiko dibandingkan dengan pendidikan formal yang dijalani oleh
pengusaha laki-laki. Berdasarkan hasil seseorang, maka akan menurunkan perilaku
penelitian dari Riley & Chow (1992), Faff et menghindar risikonya. Sehingga atas
al. (2008), Jayathilake (2013) menyatakan pertimbangan tersebut diatas, maka dapat
bahwa perempuan lebih berperilaku dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
menghindar risiko dibandingkan dengan laki-
laki, maka dikembangkan rumuskan hipotesis H3 : Semakin tinggi pendidikan maka perilaku
sebagai berikut : risiko auditor dalam konteks audit atas
H2 : Auditor perempuan memiliki perilaku laporan keuangan akan semakin
risiko yang lebih tinggi dibandingkan menurun.
dengan auditor laki-laki dalam konteks
audit atas laporan keuangan. METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian
Pengaruh Pendidikan Terhadap Perilaku eksplanatori dengan menggunakan kuesioner
Risiko Auditor dan analisis data kuantitatif. Penelitian ini
Faktor terpenting selanjutnya yang dapat menggunakan kuesioner yang diantar langsung
mempengaruhi perilaku risiko auditor adalah kepada auditor yang bekerja pada Kantor
pendidikan. Tingkat pendidikan yang lebih Akuntan Publik (KAP) di Indonesia dengan
tinggi secara umum berpengaruh secara positif pemilihan sampel wilayah Surabaya, Bandung,
terhadap pengambil risiko, semakin dan Jakarta.
berpendidikan maka akan lebih menyukai Alasan pemilihan sampel ini
risiko dengan imbal hasil yang sesuai. dikarenakan konsentrasi terbesar persebaran
Penelitian yang dilakukan oleh Riley & Chow Akuntan Publik (AP) di Indonesia menurut
(1992) menemukan bahwa semakin tinggi profil AP dan KAP yang dikeluarkan oleh
pendidikan seorang individu akan semakin PPAJP tahun 2012 terletak pada pulau Jawa
menurunkan perilaku menghindar risikonya. dengan 87 persen dari 1015 AP yang ada di
Chang et al. (2004) pada penelitiannya yang Indonesia. Dimana dari 87 persen tersebut 68
menguji faktor umur, pendidikan, ras, status persennya berada pada wilayah Jakarta dan
pernikahan, pekerjaan, dan kekayaan terhadap sekitarnya, 6 persen pada wilayah Bandung
toleransi risiko menyimpulkan bahwa pada dan sekitarnya, dan 12 persen pada wilayah
secara umum tingkat pendidikan tidak selalu Surabaya dan sekitarnya. Kondisi ini didukung
menjadi faktor yang mempengaruhi keputusan dengan iklim yang lebih kondusif bagi
investasi, tetapi pada umumnya, investor pertumbuhan perekonomian di pulau Jawa
dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pulau yang lainnya.
akan berinvestasi pada investasi yang berisiko Kuesioner dalam penelitian ini menggunakan
lebih tinggi. Hal ini bertentangan dengan kuesioner Ionescu & Turlea (2011) yang
penelitian Lin (2009) yang menguji pengaruh sedikit dimodifikasi dengan tujuan menambah
perbedaan latarbelakang risiko terhadap informasi yang diperoleh dalam penelitian.
perilaku menghindar risiko dengan Populasi yang digunakan dalam
menggunakan data Survey of Family Income penelitian ini adalah auditor yang bekerja
and Expenditure (SFIE) di Taiwan pada KAP di Surabaya, Bandung, dan
menemukan bahwa individu yang Jakarta. Metode pengambilan sample
berpendidikan tinggi akan semakin berperilaku menggunakan metode simple random
untuk menghindari risiko, semakin tinggi sampling dengan menggunakan fungsi
pendidikan yang diterima maka akan =RANDBETWEEN() pada microsoft excel
2007, dimana setiap elemen populasi memiliki ordinal, yang kodifikasi menjadi lima, yaitu :
peluang yang diketahui dan sama untuk Sarjana (S1) bernilai 1, Profesi Akuntansi (Ak)
terpilih. Desain simple random sampling bernilai 2, Magister (S2) bernilai 3, dan
memiliki bias paling sedikit dan memberikan Doktor (S3) bernilai 4.
generalisasi paling luas (Sekaran, 2003 : 128).
Besaran sampel populasi ditentukan dengan Perilaku Risiko Auditor (Y)
menggunakan rumus Slovin (Consuelo et al. Perilaku risiko auditor adalah keputusan
2007) sebagai berikut : risiko terkait yang muncul dari keputusan yang
𝑁 diambil orang-orang yang melaksanakan audit,
𝑛=
1 + 𝑁𝑒 2 biasanya rekan perikatan atau anggota team
1016𝑥 2 perikatan, keputusan berisiko yang dimaksud
n = termasuk ketidakpastian yang lebih atas
1 + 1016 (0.1)2
n = 91.0139 keluaran (outcomes) yang dihasilkan,
Berdasarkan perhitungan di atas, maka penentuan tujuan yang sulit untuk dicapai,
jumlah sampel yang digunakan dalam termasuk konsekuensi ekstrim yang harus
penelitian ini berjumlah 91 responden Auditor diterima sebagai dampak dari keputusan,
di KAP yang terlibat dalam perikatan audit perilaku risiko auditor ini diukur dengan
atas laporan keuangan yang tersebar di menggunakan kuesioner Ionescu & Turlea
wilayah Surabaya, Bandung, dan Jakarta. (2011). Adapun indikator tersebut dibagi
menjadi tiga, yaitu : IR (penilaian risiko
Definisi Operasional dan Pengukuran teridentifikasi), AR (penilaian risiko secara
Variabel keseluruhan), dan RA (kadar penghindaran
Definisi operasional variabel merupakan terhadap risiko).
unsur penelitian yang memberitahukan
HASIL PENELITIAN DAN
mengenai tatacara mengukur suatu variabel
PEMBAHASAN
penelitian maupun petunjuk pelaksanaan
tentang tatacara mengukur sebuah variabel Tingkat Pengembalian Kuesioner Penelitian
penelitian. Pertanyaan dalam kuesioner untuk Data penelitian dikumpulkan dengan cara
masing-masing variabel dalam penelitian menyebarkan 300 kuesioner pada auditor yang
diukur dengan menggunakan skala Linkert. terlibat dalam audit atas laporan keuangan,
Selanjutnya definisi operasional dari setiap sebanyak total 250 eksemplar disebarkan pada
variabel sebagai berikut : bulan Nopember dengan cara diantarkan
langsung ke KAP sampling terpilih, dan 50
disebarkan saat pendidikan profesional
Umur (X1)
lanjutan yang diadakan di STIESIA-Surabaya
Umur adalah jumlah tahun yang telah
bekerja sama dengan IAPI.
dilewati seseorang sejak dilahirkan, umur
diukur dari tanggal kelahiran hingga tanggal Dari total 300 kuesioner yang disebarkan
kini sebagai identifikasi level sosial atas tersebut, terdapat beberapa kuesioner yang
(Santrock, 2011 : 12). Umur pada penelitian tidak kembali dan cacat dalam pengisiannya
ini diukur dengan skala rasio (responden sehingga tidak memenuhi kualifikasi yang
diminta langsung menuliskan umur pada kotak disyaratkan dalam penelitian ini. Rincian
yang telah disediakan khusus). pengembalian, cacat pengisian, dan kuesioner
tidak kembali sebagai berikut :
Gender (X2)
Gender adalah dimensi sosiokultural dan Tabel 1
psikologis dari laki-laki dan perempuan Tingkat Pengembalian Kuesioner
(Santrock, 2004 : 195). Gender pada penelitian
ini diukur dengan variabel dummy, dimana 0 Keterangan Jumlah
untuk responden laki-laki dan 1 untuk
responden perempuan. Jumlah Kuesioner 300

Pendidikan (X3) Kuesioner yang 250


Pendidikan adalah proses memperoleh diantar langsung
pengetahuan pada institusi yang pasti sekolah
Kuesioner yang 50
tinggi, institut dan universitas (Jhonnie, 1993).
Pendidikan diukur dengan menggunakan skala
disebar saat PPL Tabel 2
Hasil Uji Validitas
Kuesioner yang 189
tidak kembali R hitung
Variabel (Pearson Keterangan
Kuesioner yang 111 Correlation)
kembali Y (Perilaku Risiko Auditor)
Kuesioner cacat/ 20 IR 0.825 Valid
tidak diisi AR 0.826 Valid
RA 0.603 Valid
Persentase 70% Sumber : Pengolahan Data SPSS 22
kuesioner tidak
kembali/ cacat/ Berdasarkan tabel di atas dapat
tidak diisi diketahui bahwa jika nilai r hitung lebih besar
dari r tabel, yaitu r tabel sebesar 0.30 maka
Persentase 30% data dari kuesioner dapat dinyatakan valid
kuesioner yang sehingga bisa dilanjutkan untuk pengolahan
kembali reliabilitas, karena tujuan dari uji validitas
adalah untuk mengetahui apakah data hasil
Sumber : Data primer yang diolah dari kuesioner telah sesuai untuk mengukur
variabel penelitian.
Statistik Frekuensi Penelitian
Umur Uji Reliabilitas
Sebagian besar responden berumur 21-30 Realibilitas suatu variabel yang
tahun dengan jumlah 59 orang (64.8%), dibentuk dari daftar pertanyaan dikatakan baik
responden berumur 31-40 tahun berjumlah 13 jika memiliki nilai Cronbach’s Alpha > dari
orang (14.3%), responden berumur 41-50 0.60. Berdasarkan hasil analisis data,
tahun berjumlah 8 orang (8.8%), responden cronbach’s Alpha pada penelitian ini sebesar
berumur 51-60 tahun berjumlah 4 orang 0.612 dengan kata lain data yang diperoleh
(4.4%), responden berumur 61-70 tahun telah memenuhi kriteria reliabel. Untuk lebih
berjumlah 5 orang (5.5%), responden berumur jelasnya hal ini dapat di lihat pada lampiran 3.
>70 tahun berjumlah 2 orang (2.2%). Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik dilakukan dalam
Gender penelitian kuantitatif sebelum dilakukannya
Persebaran gender auditor yang menjadi proses pengujian hipotesis dengan
responden, sebanyak 47 orang bergender laki- menggunakan regresi linier berganda guna
laki (51.6%) sedangkan sisanya sebanyak 44 mengetahui ada tidaknya penyimpangan yang
orang bergender perempuan (48.4%). terjadi dalam model penelitian.
Uji Normalitas
Pendidikan Penyebaran titik disekitar garis
Sebanyak 48 orang berpendidikan sarjana diagonal merupakan indikasi pola distribusi
(52.7%), 20 orang berpendidikan profesi normal, dengan kata lain model telah
(22%), 22 orang berpendidikan magister memenuhi kriteria asumsi normal. Hal ini juga
(24.2%), dan 1 orang berpendidikan doktor berlaku sebaliknya.
(1%).

Teknik Analisis Data


Uji Kualitas Data
Uji Validitas
Berikut disajikan hasil uji validitas
variabel dependen yaitu perilaku risiko auditor
yang dapat dilihat pada tabel 2 :
Gambar 1 dan Pendidikan) tidak terjadi multikolineritas
Uji Normalitas yang ditunjukkan dengan nilai VIF lebih kecil
dari 10.
Sumber : Pengolahan Data SPSS 22
Berdasarkan pada grafik normal plot Heterokedastisitas
diatas dapat disimpulkan bahwa titik
persebaran berada disekitar dan searah dengan
garis diagonal. Maka model regresi yang ada
dapat digunakan untuk memprediksi perilaku
risiko auditor.

Multikolinearitas

Untuk mendeteksi terjadinya


multikolinieritas dapat dilihat dari Value
Inflation Factor (VIF). Apabila nilai VIF > 10 Gambar 2
maka terjadi multikolinearritas. Dan Uji Heteroskedastisitas
sebaliknya apabila VIF < 10 maka tidak terjadi Sumber : Pengolahan Data SPSS 22
multikolinearitas. Dalam penelitian ini
diperoleh VIF seperti pada tabel 3 sebagai Dari gambar scatterplot di atas dapat
berikut : dilihat bahwa titik-titik menyebar secara acak
serta tersebar baik di atas maupun di bawah
Tabel 3 angka 0 pada sumbu y. Hal ini menunjukkan
Uji Multikolinearitas Value Inflation Factor bahwa tidak terjadi heterokedastisitas pada
(VIF) model regresi, sehingga model layak dipakai
untuk menganalisa data.
Varibel Nilai Keterangan
VIF Analisis Regresi Linier Berganda
Tidak ada Pengujian analisis regresi linier berganda
indikasi dilakukan untuk mengetahui adanya pengaruh
Umur 1,743 kolinearitas antara umur (X1), gender (X2), dan
antar variabel pendidikan (X3) terhadap perilaku risiko
independen auditor (Y). Adapun hasil pengujian analisis
regresi linier berganda dapat diamati pada
Tidak ada tabel 4 berikut :
indikasi
Gender 1,132 kolinearitas Tabel 4
antar variabel
independen Hasil Analisis Regresi
Tidak ada
indikasi
Pendidikan 1,705 kolinearitas Variabel Unstan t Sig. Keteran
antar variabel dardize hitun gan
independen d g
Coeffici
Sumber Data : Data sekunder yang diolah
ents (B)

Keterangan:-Jumlah data (observasi)= 91 (Constant 7.257 Signifika


) n
- Nilai ttabel :  = 5% = 1,980
Umur
0.065 2.851 0,0 Signifika
-Variabel Terikat
PERILAKU RISIKO AUDITOR 05 n

Berdasarkan tabel tersebut dapat Gender Tidak


0.356 0.718 0.4
disimpulkan bahwa variabel (Umur, Gender, signifika
75 n Umur meningkat 1 kali, maka besarnya
Perilaku Risiko Auditor akan meningkat
Pendidika Tidak sebesar 0,065 kali dengan asumsi variabel
-0.225 - 0.5
signifika bebas yang lain tetap (Gender dan
n 0.638 25
n Pendidikan = 0) atau Cateris Paribus.
3. b2 = 0,356
R = 0.320 Nilai parameter atau koefisien regresi b2
ini menunjukkan bahwa setiap variabel
R Square = 0.103 Gender meningkat 1 kali, maka besarnya
Perilaku Risiko Auditor akan meningkat
Adjusted R Square = 0.072 sebesar 0,356 kali atau dengan kata lain
setiap peningkatan Perilaku Risiko
F hitung = 3.320 Auditor dibutuhkan variabel Gender
sebesar 0,356 dengan asumsi variabel
F tabel = 2.68 bebas yang lain tetap (Umur dan
Pendidikan = 0) atau Cateris Paribus.
Sign. F = 0.024 4. b3 = 0.225
Nilai parameter atau koefisien regresi b3
 = 0.05 ini menunjukkan bahwa setiap variabel
Pendidikan meningkat 1 kali, maka
besarnya Perilaku Risiko Auditor akan
Sumber data : Data primer yang diolah
meningkat sebesar 0,225 kali atau dengan
Keterangan : -Jumlah data (observasi) = 91 kata lain setiap peningkatan Perilaku
Risiko Auditor dibutuhkan variabel
- Nilai Ttabel :  = 5% = 1,980 Pendidikan sebesar 0,225, dengan asumsi
variabel bebas yang lain tetap (Umur dan
- Dependent Variabel Perilaku Gender = 0) atau Cateris Paribus.
Risiko Auditor
Hasil Pengujian Hipotesis
Variabel dependen pada model regresi
linier berganda ini adalah Perilaku Risiko Terdapat tiga hipotesis yang diuji dengan
Auditor sedangkan variabel independen adalah menggunakan multiple regresion. Tujuannya
Umur, Gender, dan Pendidikan. Model regresi adalah untuk mengetahui apakah Umur,
berdasarkan hasil analisis di atas adalah : Gender, dan Pendidikan berpengaruh terhadap
Perilaku Risiko Auditor. Berikut ini hasil uji
Y1 = 7,257 + 0,065 AGE + 0,356 GEN – 0,225 perhitungan t dan R2 pada tabel 5
ED + e

Tampak pada persamaan tersebut Tabel 5


menunjukkan angka yang signifikan pada
variabel Umur adapun interpretasi dari Perhitungan Pengujian Hipotesis
persamaan tersebut dapat dijelaskan pada
pemaparan berikut : No Hipotesis Nilai Keterangan
1 Umur t = H1 tidak
1. bo = 7,257
berpengaruh 2,851 ditolak
Nilai konstan ini menunjukkan bahwa
positif
apabila tidak ada yang tercermin pada Sig t
terhadap
(Umur, Gender, dan Pendidikan = 0) maka =
Perilaku
besarnya Perilaku Risiko Auditor akan 0,005
Risiko
meningkat sebesar 7,257 kali. Artinya,
Auditor ttabel =
besaran Perilaku Risiko Auditor akan
1,980
meningkat 7,257 kali sebelum atau tanpa
adanya variabel dependen yang tercermin 2 Gender t = H2 ditolak
pada (Umur, Gender dan Pendidikan = 0). berpengaruh 0,718
2. b1 = 0,065 positif
Sig t
Nilai parameter atau koefisien regresi b1 terhadap
=
ini menunjukkan bahwa setiap variabel Perilaku
Risiko 0,475 pengaruh variabel demografis yang diwakili
Auditor oleh Umur, Gender, dan Pendidikan terhadap
ttabel =
Perilaku Risiko Auditor diperoleh nilai R2 =
1,980
0.103. Angka ini menunjukkan bahwa variasi
3 Pendidikan t = H3 ditolak Perilaku Risiko Auditor yang dapat dijelaskan
berpengaruh -0,638 oleh persamaan regresi yang diperoleh sebesar
negatif 10.3 % sedangkan sisanya, yaitu 89.7%,
Sig t
terhadap dipengaruhi oleh variabel lain di luar
=
Perilaku persamaan model. R sebesar 0.320 artinya
0,525
Risiko korelasi antara variable Umur, Gender, dan
Auditor ttabel = Pendidikan terhadap Perilaku Risiko Auditor
1,980 adalah cukup kuat.
Sumber data : Data sekunder yang diolah Pengaruh Umur terhadap Perilaku Risiko
Auditor dalam konteks audit atas laporan
Pengujian H1 sampai dengan H3 dilakukan
keuangan.
dengan uji t. Untuk H1 nilai tstatistik sebesar
Pola pikir seorang auditor tentunya akan
2,851. Nilai ini lebih besar dari t tabel (2,851 >
semakin berkembang searah dengan
1,980). Dengan demikian pengujian
peningkatan rentang kehidupan yang dilalui.
menunjukkan H1 tidak ditolak. Hasil ini
Selama rentang kehidupan tersebut tentunya
memperlihatkan bahwa umur berpengaruh
akan terjadi proses pematangan pengalaman
secara positif dan signifikan terhadap Perilaku
sehingga dapat menghasilkan perbedaan
Risiko Auditor.
persepsi mengenai risiko. Dalam auditing
Untuk H2 nilai tstatistik sebesar 0,718 Nilai pematangan umur auditor tidak akan terlepas
ini lebih kecil dari t tabel (0,718 < 1,980). dari persepsinya terhadap risiko, khususnya
Dengan demikian pengujian menunjukkan H2 risiko audit. Hal ini lebih jauh berguna dalam
ditolak. Hasil ini memperlihatkan bahwa hal penilaian dan respon terhadap risiko,
auditor perempuan tidak lebih berperilaku dimana terdapat pilihan bagi auditor untuk
menghindar risiko dibandingkan dengan cenderung berperilaku menyukai atau
auditor laki-laki. menghindari risiko audit yang ada.
Untuk H3 nilai tstatistik sebesar -0,638. Nilai Dari penelitian yang telah dilakukan,
ini lebih kecil dari t tabel (-0,638 < 1,980). diperoleh hasil bahwa umur mempunyai
Dengan demikian pengujian menunjukkan H3 pengaruh signifikan terhadap perilaku risiko
ditolak. Hasil ini memperlihatkan bahwa auditor. Pengaruh yang ditimbulkan adalah
auditor yang pendidikan lebih tinggi tidak positif, karena dengan adanya variabel umur
lebih berperilaku menghindar risiko dapat meningkatkan perilaku risiko auditor.
dibandingkan dengan auditor dengan Hal ini disebabkan auditor yang lebih berumur
pendidikan dibawahnya. cenderung untuk bersikap lebih skeptis dan
Kesimpulan yang dapat diambil konservatif terhadap risiko yang dihadapinya.
berdasarkan hasil pengujian hipotesis di atas Hasil penelitian ini bertentangan dengan
adalah variabel umur, gender, dan pendidikan penelitian yang dilakukan oleh Wang & Hanna
tidak berpengaruh secara serentak terhadap (1997), Lin (2009), dan Amaefula et al. (2012)
perilaku risiko auditor, akan tetapi secara yang menyatakan bahwa semakin
parsial hanya variabel umur yang berpengaruh bertambahnya umur, perilaku menghindar
secara signifikan terhadap perilaku risiko risiko akan semakin menurun, dengan kata lain
auditor, sedangkan sisanya gender dan perilaku menyukai risiko akan semakin
pendidikan tidak berpengaruh secara bertambah. Penelitian ini searah dengan
signifikan terhadap perilaku risiko auditor. penelitian yang dilakukan oleh (Riley &
Setelah dilakukan pengujian model, maka Chow, 1992; Bellante & Green, 2004; Chang
langkah selanjutnya adalah dilakukan et al., 2004; Gardner & Steinberg, 2005;
perhitungan korelasi untuk mengukur Grable et al., 2009; Chauffman et al., 2010;
ketepatan garis regresi dalam menjelaskan Ionescu & Turlea, 2011; Yao et al., 2011;
variasi nilai variabel independen. Rolison et al., 2012; Duasa & Yusof, 2013)
yang berkesimpulan bahwa semakin berumur
Hasil analisis korelasi yang diperoleh dari seseorang, maka akan semakin menghindari
output regresi (lampiran) mengkorelasi terhadap risiko yang dihadapinya. Dalam
konteks penelitian ini, semakin bertambah Pengaruh Pendidikan terhadap Perilaku
umur auditor yang terlibat dalam audit atas Risiko Auditor dalam konteks audit atas
laporan keuangan entitas, maka perilaku laporan keuangan.
menghindar risiko audit akan semakin Keberadaan pendidikan melekat selama
meningkat. Hal ini tentunya akan berarti umur manusia khususnya auditor dalam
bahwa dalam menentukan faktor-faktor yang mempertahankan profesionalitas dan
terlibat dengan risiko audit, auditor akan pengatahuan yang dimilikinya. Menurut
cenderung lebih skeptis dan konservatif, baik Johnnie (1993) pendidikan adalah proses
dalam rangka menilai dan merespon risiko memperoleh pengetahuan dan dapat
hingga pada proses penerimaan klien dan menggunakan pengetahuan tersebut dalam
pengumpulan bukti audit. memahami aktivitas dan lingkungan disekitar
kita. Pendidikan merupakan satu dari beberapa
Pengaruh Gender terhadap Perilaku Risiko item yang persyaratan kompetensi dalam SPM
Auditor dalam konteks audit atas laporan no 1 guna memenuhi kualifikasi dasar sebagai
keuangan. auditor, hal tersebut juga yang menjadi
Gender merupakan hal yang membedakan pertimbangan utama dalam penelitian ini
antara laki-laki dan perempuan, perbedaan mengaitkan pengaruh pendidikan terhadap
yang timbul dapat membuat intensi perilaku perilaku risiko dalam kaitan risiko audit atas
dan pola berpikir yang berbeda. Dalam hal laporan keuangan entitas. Pendidikan
perilaku risiko, tidak sedikit penelitian yang seharusnya secara langsung maupun tidak
menyatakan bahwa perempuan akan selalu dapat mempengaruhi pola pikir dan
lebih bersikap untuk menghindari risiko kecenderungan auditor dalam menghadapi
dibandingkan dengan laki-laki (Barber & risiko audit. Namun kenyataannya hasil
Odean, 2001; Faff et al., 2008; dan penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan
Jayathilake, 2013). tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap
Penelitian ini menunjukkan hasil yang perilaku risiko auditor. Kendati demikian
berbeda dengan penelitian-penelitian yang terdapat pengaruh negatif antara pendidikan
dilakukan oleh Barber & Odean (2001), Faff et dan perilaku auditor.
al. (2008), dan Jayathilake (2013) yang
menyatakan bahwa perempuan lebih Hasil penelitian ini menunjukkan hasil
berperilaku menghindari risiko dibandingkan yang berbeda dengan penelitian yang
dengan laki-laki. Gender tidak mempunyai dilakukan oleh Lin (2009), dan Amaefula et al.
pengaruh signifikan terhadap perilaku risiko (2012) yang menyatakan bahwa semakin
auditor. Hasil penelitian ini menunjukkan hasil berpendidikan, maka perilaku menghindar
yang sama dengan penelitian yang dilakukan risiko akan semakin meningkat. Hasil
oleh Wendy (2010) yang menyatakan tidak penelitian ini menunjukkan hasil yang sama
ada perbedaan perilaku risiko antara laki-laki dengan penelitian yang dilakukan oleh Grable
dan perempuan. Hal ini dikarenakan faktor et al. (2009) dan Jayathilake (2013) yang
perilaku risiko tidak hanya dipengaruhi oleh menyatakan tidak ada bukti signifikan yang
faktor gender saja, tetapi masih banyak faktor menunjukkan pengaruh pendidikan dengan
lain yang dapat mempengaruhi, antara lain perilaku risiko yang ada. Hal ini disebabkan
pengalaman dan karakteristik lingkungan oleh perolehan pengetahuan mengenai risiko
disekitarnya. Dalam konteks penelitian ini, yang ada khususnya risiko audit tidak terbatas
auditor perempuan tidak menunjukkan hanya terdapat pada formal pendidikan yang
perilaku risiko yang berbeda dengan auditor dilalui oleh auditor. Banyak faktor lain yang
laki-laki dalam hal menilai dan merespon dapat menjadikan auditor paham akan risiko
risiko audit yang dihadapinya, berarti bahwa yang dihadapinya, antara lain dari
tidak ada perbedaan penerimaan terhadap pengalaman, pelatihan, dan kursus.
risiko audit. Gender bukan merupakan faktor
satu-satunya yang dapat mempengaruhi SIMPULAN DAN SARAN
perilaku risiko auditor, tetapi masih ada Simpulan
banyak faktor lainnya yang dapat Penelitian ini bertujuan untuk menguji
dipertimbangkan, seperti kompetensi, pengaruh antara umur, gender, dan pendidikan
pengalaman, time pressure, fee audit, dsb. terhadap perilaku risiko auditor dalam konteks
audit atas laporan keuangan. Dari hasil analisis
yang telah dilakukan maka simpulan penelitian
antara lain, sebagai berikut :
1. Umur berpengaruh positif terhadap yang dibutuhkan, sehingga perlu untuk
perilaku risiko auditor dalam konteks audit mengatur kombinasi umur auditor yang
atas laporan keuangan. melakukan audit atas laporan keuangan untuk
2. Auditor perempuan tidak terbukti lebih mencapai tujuan audit berbasis risiko yang
berperilaku menghindar risiko disyaratkan oleh Standar Profesional Akuntan
dibandingkan dengan laki-laki. Publik (SPAP).
3. Pendidikan formal yang lebih tinggi tidak Tidak adanya perbedaan perilaku risiko
terbukti secara signifikan berpengaruh antara auditor laki-laki dan perempuan dapat
terhadap perilaku risiko auditor. menjadi titik temu bagi auditor dalam
4. Adanya kombinasi umur, gender, dan melakukan pelatihan yang memadai sesuai
pendidikan yang beragam dalam team yang disyaratkan oleh Standar Pengendalian
berguna dalam efisiensi dengan tetap Mutu (SPM) sehingga persepsi mengenai
menjaga efektifitas audit yang dilakukan risiko ada dapat diterapkan dilapangan dengan
melalui adanya kombinasi perilaku risiko memadai dan sesuai kriteria standar, dalam hal
yang melekat pada masing-masing kriteria penugasan audit, tidak perlu juga untuk
tersebut. membedakan antara auditor perempuan dan
auditor laki-laki dalam industri tertentu, tidak
Keterbatasan adanya perbedaan persepsi mengenai risiko
1. Pada penelitian ini perilaku risiko auditor juga merupakan peluang bagi auditor untuk
diukur dengan IR (penilaian risiko melakukan seleksi penerimaan staf dengan
teridentifikasi), AR (penilaian risiko cara yang lebih efisien yaitu cukup dengan
secara keseluruhan), dan RA (kadar satu cara/ metode, tanpa membedakan
penghindaran terhadap risiko). Ketiga perempuan dan laki-laki.
indikator tersebut belum dapat sepenuhnya Fakta yang ada di Indonesia justru berkata
menjadi tolak ukur perilaku risiko auditor sebaliknya bahwa semakin berpendidikan
karena penelitian ini hanya membahas auditor, maka auditor tersebut akan cenderung
mengenai perilaku risiko auditor dalam menghindari risiko, hal ini menunjukkan
konteks audit atas laporan keuangan. bahwa masih belum ada titik temu yang
Sedangkan dalam profesi audit, jasa yang memadai antara dunia pendidikan dan praktisi.
ditawarkan tidak terbatas pada audit atas Dengan adanya SPAP yang baru dengan
laporan keuangan saja. pendekatan audit berbasis risiko diharapkan
2. Pada penelitian ini klasifikasi auditor yang auditor yang lebih berpendidikan akan dapat
lebih berumur dan lebih berpendidikan menilai risiko secara moderat, tidak terlalu
masih belum dapat disebutkan dengan menghindari risiko, sehingga audit atas
jelas batasannya, sehingga pada laporan keuangan dapat dilakukan dengan
penafsirannya masih cenderung bias. lebih efisien dari segi waktu dan biaya
Bagi Akademisi
Saran Umur merupakan tantangan tersendiri
1. Penelitian kedepan diharapkan untuk untuk mencapai kompetensi yang disyaratkan
melakukan penelitian perilaku risiko oleh SPAP sebagai kualifikasi seorang auditor,
auditor secara menyeluruh, tidak terbatas kondisi ini diperparah dengan rendahnya minat
hanya audit atas laporan keuangan saja, akademisi untuk terjun pada Kantor Akuntan
tetapi menilai perilaku risiko auditor Publik (KAP) sebagai auditor keuangan yang
dengan cakupan yang lebih kompleks dan disebabkan oleh minimnya sosialisasi tenaga
utuh. pendidik terhadap mahasiswa tentang prospek
2. Penelitian selanjutnya diharapkan untuk dan peluang karir sebagai auditor, sehingga
menentukan kriteria yang lebih jelas profesi auditor dianggap sulit, tidak
mengenai kriteria lebih berumur dan lebih menyenangkan, dan berpenghasilan rendah
berpendidikan, begitu juga sebaliknya. menjadi sebaliknya, perlu upaya pendidik
untuk mensosialisasikan bahwa profesi auditor
Implikasi menarik dan penuh dengan peluang karir yang
Bagi Auditor jelas.
Umur perlu diperhatikan, karena semakin Adanya kesamaan peran gender terhadap
berumur auditor akan semakin skeptis dan perilaku risiko tentunya menjadi peluang
konservatif terhadap bukti, sehingga dapat tersendiri tenaga pendidik untuk memberikan
berdampak pada tingginya waktu dan biaya pengajaran dengan metode yang sama.
Fakta bahwa semakin berpendidikan memiliki persepsi yang moderat terhadap
auditor akan semakin menghindari risiko hal risiko, sehingga audit atas laporan keuangan
ini perlu disikapi dengan pemberian materi dapat dilaksanakan dengan lebih efisien dari
pada perkuliahan yang lebih mendekati dunia segi waktu dan biaya.
praktek agar cikal bakal auditor dapat

DAFTAR PUSTAKA

Amaefula, C., Okezie, C. A., & Mejeha, R. (2012). Risk Attitude and Insurance : A Causal Analysis.
American Journal of Economics, 2 (3), 26-32. doi: 10.5923/j.economics.20120203.01
Barber, B., & Odean, T. (2001). Boys Will Be Boys : Gender, Overconvidence, and Common Stock
Investment. Journal of Economic, 261-292.
Bellante, D., & Green, A. C. (2004). Relative Risk Aversion the Elderly. Review of Financial
Economics, 13, 269-281.
Chauffman, E., Shulman, E. P., Steinberg, L., Claus, E., Banich, M. T., Graham, S., & Woolard, J.
(2010). Age Differences in Affective Decision Making as Indexed by Performance on the
Iowa Gambling Task. Developmental Psychology, 46 (1), 193-207. doi: 10.1037/a0016128
Chang, C.-C., Devaney, S. A., & Chiremba, S. T. (2004). Determinants of Subjective and Objective
Risk Tolerance. Journal of Personal Finance, 3 (3), 53-67.
Dror, I. E., Katona, M., & Mungur, K. (1998). Age Differences in Decision Making : To Take Risk or
Not? Gerontology, 44, 67-71.
Duasa, J., & Yusof, S. A. (2013). Determinants of Risk Tolerance on Financial Asset Ownership : A
Case of Malaysia. International Journal of Business and Society, 14 (1), 1-16.
Elder, R. J., Mark, B. S., & Alvin, A. A. (2008). Auditing and Assurance Services An Integrated
Approach (12 ed.). New Jersey: Pearson Education.
Faff, R., Mulino, D., & Chai, D. (2008). On The Linkage Between Financial Risk Tolerance and Risk
Aversion. The Journal of Financial Research, XXXI (1), 1-23.
Festinger, Leon. (1962). Cognitive Dissonance. Scientific American Offprints,Vol 200. No.4 pp 93-
102.
Gardner, M., & Steinberg, L. (2005). Peer Influence in Risk Taking, Risk Preference, and Risky
Decision Making in Adolescence and Adulthood : An Experimental Study. Developmental
Psychology, 41 (4), 625-635. doi: 10.1037/0012-1649.41.4.625
Grable, J. E., McGill, S., & Britt, S. (2009). Risk Tolerance Estimation Bias : The Age Effect. Journal
of Business & Economics Research, 7 (7).
Http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&ved=0CEgQFjA
C&url=http%3A%2F%2Fwww.ppajp.depkeu.go.id%2Fremository%2Fdownloads%2FProfil
%2520AP%2520dan%2520KAP.pdf&ei=WoKFUpHrCo-
lkgWQsoG4AQ&usg=AFQjCNFeXnBfcCdT15qVM06v23mp5lpp1Q&sig2=b4jLmKitQtmnt
gS6Y7XUJw&bvm=bv.56643336,d.dGI. Diakses 9 Februari 2013.
Indonesia., I. A. P. (2013). Standar Profesional Akuntan Publik Tujuan Keseluruhan Auditor
Independen dan Pelaksanaan Audit Berdasarkan Standar Audit. Jakarta: Salemba Empat.
Ionescu, I. O., & Turlea, E. (2011). The Financial Auditor's Risk Behaviour-The Influence of Age on
Risk Behaviour in A Financial Audit Context. Accounting and Management Information
Systems, 10 (4), 444-458.
Jayathilake, P. M. B. (2013). Gender Effects on Risk Perception and Risk Behavior of Entrepreneurs
at SMES in Sri Lanka. Asia Pasific Journal of Marketing & Management Review, 2 (2).
Johnnie, P. (1993). Formal Education : A Paradigm of Human Resource Development. The
International Journal of Educational Management, 7 (5), 4-8.
Riley, W. B., & Chow, K. V. (1992). Asset Allocation and Individual Risk Aversion. Financial
Analysts Journal, 48 (6), 32-37.
Rolison, J. J., Hanoch, Y., & Wood, S. (2012). Risky Decision Making in Younger and Older Adults :
The Role of Learning. Psychology and Aging, 27 (1), 129-140. doi: 10.10137/a0024689
Santrock, J. W. (2004). Educational Psychology (2 ed.). New York: McGraw-Hill Companies, Inc.
Santrock, J. W. (2011). Life Span Development (13 ed.). New York: McGraw-Hill Companies, Inc.
Sitkin, S. B., & Pablo, A. L. (1992). Reconceptualizing The Determinants of Risk Behavior.
Academic of Management Review, 17 (1), 9-38.
Wang, H., & Hanna, S. (1997). Does Risk Tolerance Decrease With Age? Financial Counseling and
Planning, 8 (2).
Wendy. (2010). Apakah Investor Saham Menderita Myopic Loss Aversion? Eksperimen Laboratori.
Jurnal Bisnis dan Ekonomi (JBE), 17 (2), 85-96.
Yao, R., Sharpe, D. L., & Wang, F. (2011). Decomposing the Age Effect on Risk Tolerance. The
Journal of Socio-Economics, 40, 879-887. doi: 10.1016/j.soec.2011.08.023

LAMPIRAN KUESIONER PENELITIAN

Anda akan diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan, beberapa pertanyaan


mensyaratkan anda untuk membuat keputusan dalam situasi yang dapat diduga,
pertanyaan lainnya mensyaratkan anda untuk menyatakan pendapat anda.

Segala informasi yang anda sediakan akan digunakan hanya untuk tujuan penelitian saja
dan akan dijamin kerahasiaannya. Anda tidak akan dapat diidentifikasi dari informasi
yang telah anda sediakan.

Peneliti harap anda dapat menyelesaikan questioner dengan senang hati dan terima kasih
atas waktu yang telah diberikan untuk menjawab pertanyaan dalam questioner ini

Pertanyaan 1.

Berapa umur anda?

 Jenis Kelamin : 1) Laki-laki 2) Perempuan


 Pendidikan Terakhir : 1) S1 (Sarjana) 3) S2 (Magister)
2) Profesi (PPA) 4) S3 (Doktor)

Pertanyaan 2.

Anda terpilih menjadi auditor PT ABC, sepanjang pengetahuan anda perusahaan tersebut
merupakan developer menengah dengan shareholder yang juga menjadi manajemen
perusahaan. Anda mengetahui bahwa perusahaan telah menginvestasikan sejumlah besar
cadangan keuangannya pada pembangunan area perumahan yang dalam tahap
penyelesaian. anda mengetahui jika perusahaan mengatur untuk menjual semua rumah
yang ada pada area perumahan di tahun berjalan, maka sejumlah besar penjualan tersebut
akan berhasil, tidak hanya secara keuangan tetapi juga secara market share. Tetapi jika
perusahaan tidak menjual semua rumah yang ada pada area perumahan tersebut,
perusahaan akan dihadapkan dengan permasalahan likuiditas yang serius serta
permasalahan reputasi yang ada. Anda juga mengetahui bahwa ada 60% peluang
perusahaan akan menjual semua rumah dan 40% peluang perusahaan tidak dapat menjual
semua rumah.

Asumsikan bahwa hanya informasi ini yang diperoleh, mohon nyatakan pendapat anda
atas pernyataan berikut ini :

Risiko bawaan (inherent risk) pada PT ABC adalah rendah

Jawaban :

(Dimohon untuk tick mark (√)hanya pada satu kotak)

Amat Sangat Sangat Tidak Amat Sangat


Sangat Setuju Setuju Tidak Setuju
Setuju Setuju Tidak Setuju

Pertanyaan 3.

Pendekatan terkini mengenai audit atas laporan keuangan satu diantaranya berdasarkan
risiko. Pendekatan audit berdasarkan risiko didasarkan pada tujuan perusahaan : kepastian
tingkat keuntungan, mendapatkan kepastian market share, memperbaiki kepastian tingkat
likuiditas, peningkatan merk dagang, dll. Dengan mempertimbangkan kasus pada PT
ABC, yang disajikan pada pertanyaan sebelumnya (pertanyaan 2), mohon nyatakan
pendapat anda atas pernyataan berikut ini :

Risiko bisnis pada kasus PT ABC (risiko jika perusahaan gagal meraih tujuan
strategisnya) adalah kecil

Jawaban :

(Dimohon untuk tick mark (√) hanya pada satu kotak)


Amat Sangat Sangat Tidak Amat Sangat
Sangat Setuju Setuju Tidak Setuju
Setuju Setuju Tidak Setuju

Pertanyaan 4.

Asumsikan bahwa anda larut dan hidup dalam gaya hidup yang nyaman, diluar yang anda
miliki, anda diberi uang sebesar USD 1,000 dengan kondisi yang mengharuskan anda
untuk memilih diantara dua pilihan :

 Anda dapat mengambil risiko (berjudi) USD 1,000 – dengan 50% peluang untuk
menang, dalam hal ini anda menyimpan USD 1,000 (seluruhnya), dan dengan 50%
peluang untuk kalah, dalam hal ini anda kehilangan uang USD 1,000 (seluruhnya).

Atau

 Anda dapat menyimpan USD 500 dari USD 1000 tanpa judi.

Mohon nyatakan pendapat anda atas pernyataan berikut ini :

Mengambil risiko (berjudi) USD 1,000 adalah pilihan yang lebih baik

Jawaban :

(Dimohon untuk tick mark (√) hanya pada satu kotak)

Amat Sangat Sangat Tidak Amat Sangat


Sangat Setuju Setuju Tidak Setuju
Setuju Setuju Tidak Setuju