Вы находитесь на странице: 1из 13

ANALISIS PROSES PERENCANAAN PENGANGGARAN

HIBAH DAN BANTUAN SOSIAL YANG BERSUMBER DARI


ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH
(Studi Pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan Dan
Aset Daerah Kabupaten Morowali)

Arifin1, Djayani Nurdin dan Nina Yusnita2


arifinukasaipin@gmail.com
1
Mahasiswa Program Studi Magister Manajemen Pascasarjana Universitas Tadulako
2
Dosen Program Studi Magister Manajemen Pascasarjana Universitas Tadulako

Abstract
The study aims to determine and describe the process of grant-budgeting and social
assistance planning based on the local Revenue and Expenditure Budgets of Morowali Districts. It
also means to explore and analyze "policy" in grant-budgeting and social assistance planning in
the year of 2011-2015. Tipe of study is qualitative; data collecting method include observation,
documents and in-depth interviews to selected informants that are considered to have better
understand and directly participated in the processof grant-budgeting and social assistance planig.
Study results show that the cause of irregularities in budgetplanningis the lack of understanding
from the executive and legislative in the planning process of both budgets and is elitist. In addition,
the interactions or "indications" that occur tend to be collaborative because each has its own
interests in the form of cooperation and accommodation for self-image of political elites and the
interests of the group, rather than representing the public interest. Most of the grants and social
assistance expenditures are used for organizational operations and the construction of worship
houses with a nominal range of hundredsmillions to billions of rupiah. The mode of deviation or
"indications" that have occurred so far in the form of placing the targeted or occupying key
positions in the nepotism beneficiary and the lack of oversight of the legislature.
Keywords: budgeting planning, indication and collaboration, grant expenditure, and social
assistance expenditure

Otonomi daerah merupakan salah satu legislatif sebagai pembuat kebijakan di


bentuk keputusan politik untuk memberikan tingkat daerah untuk mewujudkan cita-cita
kewenangan kepada daerah dalam upaya dan substansi otonomi daerah tersebut
meningkatkan pelayanan publik dan tercermin dalam proses penetapan Anggaran
kesejahteraan masyarakat. Dengan Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 Hibah dan Bantuan Sosial pada
Tahun 1999 yang kemudian direvisi menjadi awalnya dapat dilakukan secara
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 “gelondongan” dengan alokasi tertentu pada
tentang Pemerintahan Daerah diharapkan tahap perencanaan anggaran. Artinya belanja
dapat memberikan perubahan ke arah yang hibah dan bantuan sosial dialokasikan
lebih baik dalam penyediaan pelayanan jumlahnya, namun penerima dan
publik serta berdampak pada peningkatan pertanggungjawaban dari uang yang nantinya
kesejahteraan rakyat. dicairkan tidak terintegrasi. Pemberian hibah
Pengelolaan keuangan daerah dimulai dan bantuan sosial dapat dilakukan
dengan perencanaan/penyusunan Anggaran seenaknya dan diberikan pada orang tertentu
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). demi kepopuleran kepemimpinan sesaat
Komitmen kepala daerah beserta lembaga tanpa memikirkan keberlanjutan dari

86
87 e Jurnal Katalogis, Volume 5 Nomor 12, Desember 2017 hlm 86-98 ISSN: 2302-2019

pencapaian kesejahteraan yang lebih besar. daerah, keputusan kepala dinas, dan lain-
Sehingga dengan demikian dalam lain”
perencanaan penganggaran dana hibah dan Di Kabupaten Morowali telah
bantuan sosial belum sepenuhnya terwujud ditetapkan Satuan Kerja Perangkat Daerah
sebagaimana yang telah diharapkan. (SKPD) yang mengelola dana hibah dan
Tempo.co, 2016 memberitakan bantuan sosial mulai dari penganggaran
Kepolisian Daerah Riau akhirnya menahan sampai kepada penentuan orang/lembaga
bupati Bangkalis periode 2010-2015 dengan yang akan menerima bantuan hibah. SKPD
inisial HS pada hari jum’at 04 Maret 2016 dimaksud adalah Dinas Pendapatan,
terkait dengan kasus korupsi dana bantuan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah
sosial (bansos) Bengkalis tahun anggaran (DPPKAD) Kabupaten Morowali.
2012 sebesar 272 milyar. Kasus dugaan Fakta empiris di lapangan sesuai
korupsi Bengkalis bergulir sejak 2012, Laporan Hasil Pemeriksaan Badan Pemeriksa
anggaran Hibah dan Bansos senilai 272 Keuangan (LHP-BPK) perwakilan Provinsi
milyar disalurkan kepada 2.000 lembaga Sulawesi Tengah pada pemerintah daerah
sosial dan organisasi kemasyarakatan yang Kabupaten Morowali tahun anggaran 2015
diduga fiktif karena tidak jelas jenis kegiatan masih banyak temuan, yakni mekanisme
dan tujuan sosial (sumber: Tempo co. 2016). penganggaran, pembayaran dan
Hal ini menunjukan bahwa dana hibah pertanggungjawaban Hibah tidak tepat serta
dan bantuan sosial sangat rentan dengan pengendalian pelaksanaannya lemah
penyalahgunaan. Itu artinya sebuah kebijakan diantaranya:
yang mengatur dan mengarahkan a. Perencanaan: 1) penerima hibah dan
pengelolaan hibah dan bantuan sosial ini bansos tidak memiliki kriteria tertentu, 2)
diharapkan implementasi dengan baik. Pemberian hibah tidak dilengkapi dengan
Nasucha (2004:37) menyatakan bahwa proposal.
kebijakan publik adalah kewenangan b. Pelaksanaan dan Penatausahaan: 1)
pemerintah dalam pembuatan suatu Terdapat hibah uang senilai Rp.
kebijakan yang digunakan ke dalam 414.300.000 tidak dilengkapi dengan SK
perangkat peraturan hukum. Kebijakan Bupati, 2) Pengendalian proses penetapan
tersebut bertujuan untuk menyerap dinamika nama hingga pencairan dana hibah
sosial dalam masyarakat, yang dijadikan pendidikan umum lemah, 3) Mekanisme
acuan perumusan kebijakan sosial agar penyaluran dan pencairan dana hibah
tercipta hubungan sosial yang harmonis. pendidikan umum tidak memadai.
Perkataan ini seakan memperkuat bahwa c. Pelaporan dan pertanggungjawaban :
sebuah kebijakan sangat perlu untuk terjadi selisih antara uang yang dicairkan
pengelolaan hibah dan bantuan sosial ini. dengan pertanggungjawan yang
Kebijakan publik yang mengatur dimasukan.
pengelolaan hibah dan bantuan sosial ini d. Pengendalian (monitoring dan evaluasi)
berbentuk peraturan. Nugroho (2003:159) tidak sesuai dengan Permendagri Nomor
mengatakan:“Kebijakan publik dalam bentuk 32 tahun 2011 sebagaimana telah diubah
undang-undang atau perda adalah jenis dengan Permendagri Nomor 39 tahun
kebijakan publik yang memerlukan kebijkan 2012 tentang pedoman pemberian hibah
publik penjelas atau yang sering diistilahkan dan bantuan sosial yang bersumber dari
sebagai peraturan pelaksanaan. Kebijakan APBD.
publik yang bisa langsung oprasional antara Perencanaan mekanisme penerima
lain kepres, kepmen, keputusan kepala bantuan hibah dan bantuan sosial sering
ditetapkan pada tahun berjalan. Sehingga hal
Arifin, dkk. Analisis Proses Perencanaan Penganggaran Hibah Dan Bantuan Sosial yang Bersumber .......................88

ini berakibat pada pengganggaran di mana HASIL DAN PEMBAHASAN


kelompok/individu penerima bantuan
tersebut tidak tepat sasaran. 1) Perencanaan Penganggaran Belanja
Hibah dan Bantuan Sosial
METODE Sejak tahun 2007 Pemerintah Daerah
Kabupaten Morowali telah mengalokasikan
Penelitian ini termasuk penelitian belanja hibah dan bantuan sosial yang
kualitatif, merupakan penelitian bersifat bersumber dari APBD dengan mengacu pada
kontekstual yang berusaha menekankan pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13
pemaknaan suatu fenomena yang secara Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
spesifik berkaitan dengan pengembangan Keuangan Daerah. Peraturan ini masih
ilmu pengetahuan. Sebagai landasan teori bersifat umum dalam mengatur masalah
dalam memahami pendekatan kualitatif belanja hibah dan bantuan sosial sehingga
berdasarkan pendapat Bogdan dan Taylor pengelolaan kedua jenis belanja tersebut
dalam Moleong (2006) mendefinisikan belum jelas peruntukkannya. Begitu juga
metode kualitatif sebagai prosedur penelitian dengan kriteria penerima hibah dan bantuan
yang menghasilkan data deskriptif berupa sosial serta syarat yang harus dipenuhi untuk
kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang mendapatkan hibah dan bantuan sosial.
dan perilaku yang diamati. Menurut mereka, Sehingga pengelolaannya tergantung pada
pendekatan ini diarahkan pada latar dan keinginan kepala daerah selama tidak
individu tersebut secara holistik (utuh) yaitu : bertentangan dengan peraturan yang berlaku
Penelitian deskriptif adalah studi untuk bukan didasarkan pada permasalahan yang
menemukan fakta dengan interpretasi yang dihadapi masyarakat. Hal ini diakui oleh
tepat, melukiskan secara tepat sifat-sifat dari Bupati Morowali sesuai wawancara pada hari
beberapa fenomena individu, menentukan Jum’at tanggal 27 Januari 2017 Pukul 09.30
frekuensi terjadinya suatu keadaan untuk Wita sebagai berikut:
meminimalkan reabilitas. Analisanya “Pengganggaran hibah dan bansos sebelum
dikerjakan berdasarkan ex post facto, artinya tahun 2013 hanya bersifat umum, artinya
data dikumpulkan setelah semua kejadian kita tidak menguraikan nama-nama
berlangsung (Nazir.1983:105). Sementara itu penerima di APBD karena belum kita
Sugiyono (2005:60) menjelaskan bahwa mengetahui siapa-siapa saja yang akan
penelitian deskriptif adalah penelitian yang mengajukan permohonan, masyarakat kita
dilakukan terhadap variabel mandiri, yaitu juga ini nanti ada kebutuhan baru mereka
tanpa membuat perbandingan atau mengajukan peroposal dan sampai saat ini
menghubungkan dengan variabel lain. belum ada tim verifikasi khusu masalah
Tujuan penelitian deskriptif adalah untuk hibah dan bansos siapa-siapa saja yang
mengabarkan secara tepat sifat-sifat indifidu, layak untuk mendapatkan bantuan tersebut”.
keadaan, gejala atau kelompok tertentu atau
menemukan penyebaran (frekuensi) suatu 2) Mekanisme Formal Perencanaan
gejala dan gejala lainnya dalam masyarakat. Penganggaran Hibah dan Bantuan
Sosial
Bastian, (2009:39), menguraikan
pengertian anggaran yaitu:merupakan
pernyataan mengenai estimasi kinerja yang
hendak dicapai selama periode waktu tertentu
yang dinyatakan dalam ukuran finansial,
sedangkan penganggaran adalah proses atau
89 e Jurnal Katalogis, Volume 5 Nomor 12, Desember 2017 hlm 86-98 ISSN: 2302-2019

metode untuk mempersiapkan suatu sosial dalam Lampiran III Peraturan Kepala
anggaran, yang dipraktekan dalam organisasi Daerah tentang Penjabaran APBD atau yang
sektor publik sebagai kebijakan politik”. dikenal dengan istilah by name by address
Sementara belanja hibah dan bantuan sosial, Berdasakan Peraturan Menteri Dalam
tahap perencanaannya diawali dengan Negeri Nomor 39 Tahun 2012 tentang
masuknya proposal dari masyarakat atau Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan
kelompok masyarakat yang ditujukan kepada Sosial yang Bersumber dari APBD dan
bupati. Proposal yang masuk kemudian di Peraturan Bupati Morowali Nomor 9 Tahun
evaluasi oleh SKPD terkait sesuai dengan 2012 tentang Tata Cara Penganggaran,
lining sektornya. Selanjutnya hasil evaluasi Pelaksanaan, Penatausahaan, dan
kepala SKPD tersebut menjadi rekomendasi Pertanggungjawaban dan Pelaporan serta
sebagai dasar untuk menentukan jumlah Monitoring dan Evaluasi Hibah dan Bantuan
anggaran belanja hibah dan bantuan sosial Sosial yang Bersumber dari Anggaran
dalam KUA dan PPAS yang akan dibahas Pendapatan dan Belanja Daerah, secara garis
bersama-sama dengan DPRD. Penentuan besar tahapan proses perencanaan Anggaran
alokasi anggaran belanja hibah dan bantuan Belanja Hibah dan Bantuan Sosial yang
sosial ini tanpa proses penjaringan aspirasi Bersumber dari APBD Kabupaten Morowali
masyarakat dalam Musrembang sebagaimana adalah sebagai berikut:
belanja modal, tetapi masyarakat dapat Tahap Pertama: Pemerintah, pemerintah
secara langsung mengajukan permohonan daerah lainnya, perusahaan daerah,
bantuan untuk mengatasi permasalahan yang masyarakat dan organisasi kemasyarakatan
dihadapi. serta anggota/kelompok masyarakat
Secara umum tahapan dan mekanisme menyampaikan usulan permohonan hibah
proses perencanaan anggaran belanja hibah atau bantuan sosial secara tertulis berupa
dan bantuan sosial dari tahun 2011 hingga proposal kepada Bupati.
2015 tidak ada perbedaan yang mendasar. Tahap Kedua: Bupati menunjuk SKPD
Sebelumnya pada periode tahun 2007-2011 terkait (melalui disposisi) untuk melakukan
mekanisme penganggaran menggunakan evaluasi terhadap proposal tersebut dengan
sistem paket (plafond) tanpa mencantumkan tujuan untuk mengetahui keberadaan
penerima hibah dan bantuan sosial. Pada (domisili) pemohon apakah sudah sesuai
tahun 2012 sesuai dengan Permendagri dengan proposal yang diajukan (tidak fiktif).
Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman SKPD terkait tersebut adalah:
Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang a. Sekretariat Daerah Cq. Kabag
Bersumber dari APBD khusus untuk Pemerintahan melakukan evaluasi usulan
penganggaran hibah diharuskan hibah dari pemerintah, pemerintah daerah
mencantumkan nama dalam lampiran lainnya dan perusahaan daerah.
Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran b. Sekretariat Daerah Cq. Kabag
APBD, sedangkan bantuan sosial tetap Kesejahteraan Rakyat melakukan evaluasi
dengan sistem paket (plafond). Kemudian usulan hibah dari masyarakat di bidang
pada tahun 2013, berpedoman pada perekonomian, kesehatan, keagamaan,
Permendagri Nomor 39 Tahun 2012 tentang olah raga non profesional, kesenian, adat
Perubahan atas Permendagri Nomor 32 istiadat dan organisasi kemasyarakatan
Tahun 2011, penganggaran baik hibah serta bantuan sosial dari anggota/
maupun bantuan sosial tidak lagi dengan kelompok masyarakat.
sistem paket melainkan dengan c. Dinas Pendidikan melakukan evaluasi
mencantumkan daftar nama penerima, alamat usulan hibah dari masyarakat bidang
penerima serta besaran hibah dan bantuan
Arifin, dkk. Analisis Proses Perencanaan Penganggaran Hibah Dan Bantuan Sosial yang Bersumber .......................90

pendidikan dan organisasi perda dan perkada dievaluasi oleh Menteri


kemasyarakatan bidang pendidikan. Dalam Negeri.
d. Badan kesatuan bangsa, politik dan Tahap kedelapan: Setelah dievaluasi oleh
perlindungan masyarakat melakukan mendagri, maka nama-nama yang tercantum
evaluasi usulan hibah dari KPU dalam calon penerima hibah dan bantuan
Kabupaten, Panwaslukada Kabupaten dan sosial yang tertera dalam APBD berhak
Pengamanan Pemilu Kepada Daerah untuk menerima dana tersebut.
Kabupaten.
Tahap ketiga: Kepala SKPD terkait 3) Kolaborasi Perencanaan Penganggaran
menyampaikan hasil evaluasi berupa Hibah dan Bantuan Sosial
rekomendasi kepada Bupati melalui TAPD.
Tahap kempat: TAPD memberikan a. Eksekutif
pertimbangan atas rekomendasi tersebut Untuk menjalankan roda pemerintahan
sesuai dengan prioritas dan kemampuan dan aktivitas pembangunan, Pemerintah
keuangan daerah. Kabupaten Morowali memiliki perangkat
Tahap kelima: Rekomendasi kepala SKPD pemerintah daerah dengan komposisi 2
dan pertimbangan TAPD menjadi dasar sekretariat, 14 Dinas, 14 Lembaga Teknis
pencantuman alokasi anggaran hibah dalam Daerah, dan 9 kecamatan dan 3 Lembaga
rancangan KUA dan PPAS yang akan Lain Daerah. Semua instansi pemerintah
dibahas bersama DPRD. daerah tersebut memiliki tugas pokok dan
Tahap keenam: Setelah dibahas bersama fungsinya masing-masing dalam
TAPD dan Banggar DPRD, maka melaksanakan tugas pemerintahan.
dicantumkanlah semua nama-nama calon Dalam rangka perencanaan penyusunan
penerima yang jelas (by name by address) dan pembahasan APBD Kabupaten
dalam rencana kegiatan anggaran (RKA) Morowali setiap tahunnya dibentuklah Tim
yang selanjutnya dimasukkan dalam Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD). Tim
RAPBD. ini memiliki tugas untuk menyusun dan
Tahap ketujuh: RAPBD kemudian dibahas membahas Kebijakan Umum APBD (KUA),
kembali bersama DPRD untuk disepakati Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara
menjadi perda dan dijabarkan dalam (PPAS), Rancangan APBD di tingkat
peraturan kepada daerah tentang APBD eksekutif dan selanjutnya dilakukan
untuk dijalankan pada 1 Januari tahun pembahasan bersama-sama dengan legislatif.
berikutnya. Setelah disetujui oleh DPRD, Adapun susunan TAPD Kabupaten Morowali
tahun 2015 adalah sebagai berikut:
91 e Jurnal Katalogis, Volume 5 Nomor 12, Desember 2017 hlm 86-98 ISSN: 2302-2019

Tabel 1. Tim Anggaran Pemerintah Daerah Kabupaten MorowaliTahun 2015


No. Jabatan Organik Kedudukan dalam Tim
1. Bupati Morowali Penanggungjawab
2. Wakil Bupati Wakil Penanggungjawab
3. Sekretaris Daerah Kabupaten Ketua
4. Asisten Adminstrasi Sekretaris Daerah Koordinator
Kabupaten
5. Kepala Dinas PPKAD Wakil Ketua I
6. Kepala BAPPEDA Wakil Ketua II
7. Sekretaris Dinas PPKAD Sekretaris I
8. Sekretaris BAPPEDA Sekretaris II
9. Para Kepala Bidang pada Dinas PPKAD Anggota
10. Para Kepala Bidang pada BAPPEDA Anggota
11. Kabag Administrasi Pembangunan dan Anggota
SDA Setdakab. Morowali
12. Para Kepala Seksi pada Dinas PPKAD Anggota
13. Para Kepala Seksi pada BAPPEDA Anggota
14. Staf Dinas PPKAD dan Staf BAPPEDA Sekretariat TAPD
Kab. Morowali
Sumber: DPPKAD Kabupaten Morowali 2017

b. Legislatif laki dan 4 orang perempuan, yang diketuai


Jumlah anggota DPRD Kabupaten oleh H. Ambo Dalle, SH dan dua orang wakil
Morowali hasil pemilihan umum tahun 2014 yakni H. Silahudin Karim dan Drs. Taslim.
berjumlah 25 orang terdiri dari 21 orang laki-

Tabel 2. Anggota DPRD Kabupaten Morowali Berdasarkan Jenis Kelamin


Periode 2014-2019
No. Partai Politik Laki-Laki Perempuan Jumlah
1. Demokrat 4 1 5
2. Golkar 3 1 4
3. Nasdem 3 - 3
4. PKB 3 - 3
5. Hanura 2 - 2
6. Gerindra 2 - 2
7. PAN 1 1 2
8. PBB 2 - 2
9. PKS - 1 1
10. PDI-P 1 - 1
Jumlah 21 4 25
Sumber: Morowali Dalam Angka 2016

Adapun alat-alat kelengkapan DPRD jabatan keanggotaan DPRD yang memiliki


adalah sebagai berikut: tugas antara lain melakukan pembahasan
1) Komisi-Komisi terhadap rancangan peraturan daerah dan
Komisi merupakan alat kelengkapan rancangan keputusan DPRD; melakukan
DPRD yang dibentuk pada awal masa pengawasan terhadap pelaksanaan
Arifin, dkk. Analisis Proses Perencanaan Penganggaran Hibah Dan Bantuan Sosial yang Bersumber .......................92

pembangunan, pemerintahan dan memberikan laporan tertulis kepada


kemasyarakatan sesuai dengan bidang komisi Pimpinan DPRD tentang hasil pelaksanaan
masing-masing; membantu pimpinan DPRD tugas komisi.
untuk mengupayakan penyelesaian masalah 2) Badan Anggaran DPRD
yang disampaikan Bupati dan masyarakat Badan Anggaran DPRD merupakan
kepada DPRD; menerima, menampung dan alat kelengkapan DPRD yang bersifat tetap.
membahas serta menindaklanjuti aspirasi Bersama-sama dengan Tim Anggaran
masyarakat; memperhatikan upaya pemerintah Daerah (TAPD), Banggar DPRD
peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah; mempunyai tugas memberikan saran dan
melakukan kunjungan kerja komisi yang pendapat berupa pokok-pokok pikiran DPRD
bersangkutan atas persetujuan pimpinan kepada Bupati dalam mempersiapkan
DPRD; mengadakan rapat kerja dan dengar RAPBD selambat-lambatnya lima bulan
pendapat; mengajukan usul kepada pimpinan sebelum ditetapkannya.
DPRD yang termasuk dalam ruang lingkup
bidang tugas masing-masing komisi serta

Tabel 3. Susunan Pimpinan dan Keanggotaan Badan AnggaranDPRD Kabupaten Morowali


Periode 2014-2019
NO. NAMA UNSUR JABATAN
1. H. AMBO DALLE Pimpinan Ketua
2. SILAHUDIN K, S.Sos Pimpinan Wakil Ketua
3. Drs. TASLIM Partai Nasdem Wakil Ketua
4. AMINUDDIN A, S.Pdi Fraksi Demokrat Anggota
5. MOH. ANSAR, S.IP Fraksi Demokrat Anggota
6. MAKMUR A.MADING, Par Fraksi Demokrat Anggota
7. IRIANE ILYAS, SE Fraksi Golkar Anggota
8. LUKMAN HANAFI Fraksi PKB Anggota
9. SUBHAN MATORANG, S.Pi Fraksi HANURA Anggota
10. SYAHRUDIN, SE Fraksi Merah Putih Anggota
11. ASGAR ALI, S.Pdi Fraksi Merah Putih Anggota
12. KUSWANDI Fraksi Nasdem Anggota
13. H. FATMAWATI M, SE. M.Si Sekretaris DPRD Sekretaris (bukan anggota)
14. JUFRI Kabag Keuangan DPRD Kabag Keuangan Set DPRD
Sumber: DPRD Kabupaten Morowali 2017

Berdasarkan uraian di atas, dapat hibah dan bantuan sosial terutama


dikatakan bahwa pedoman atau kebijakan ketidakpahaman legislatif tentang hibah dan
umum pemberian hibah dan bantuan sosial bantuan sosial.
APBD Kabupaten Morowali setiap tahunnya Sesuai wawancara dengan Ketua
semakin kompleks, tidak hanya berdasarkan Komisi II DPRD Kabupaten Morowali
pada peraturan menteri dalam negeri tetapi tanggal 9 Februari 2017 Pukul 09.00 sebagai
juga berpedoman pada peraturan Bupati, berikut:
khususnya 2 (dua) tahun terakhir. Hanya saja “ini juga pembelanjaran buat kami
peneliti menilai semua peraturan tersebut walaupun sesungguhnya kami selaku
masih memiliki kekurangan yang dapat banggar dan sebagai ketua komisi II, bukan
menjadi celah untuk terjadinya kami tidak pernah tau dan bukan juga kami
penyimpangan dalam pengelolaan belanja tidak pernah evaluasi tapi memang dalam
93 e Jurnal Katalogis, Volume 5 Nomor 12, Desember 2017 hlm 86-98 ISSN: 2302-2019

proses penganggaran itu seperti apa yang Tabel 4. Anggaran Hibah dan Bantuan
terjadi selama ini, yang kami tau itu ada Sosial Kabupaten Morowali
hibah dan bansos, tetapi kami dari Periode 2011-2015
pembahasan anggaran tidak tau klasifikasi BANTUAN BANTUAN
hibah seperti apa dan bansos seperti apa No TAHUN HIBAH SOSIAL
karena sudah terjadi setiap tahun seperti itu, (Rp) (Rp)
makanya ini adalah ilmu besar bagi kami”
1. 2011 11.585.696.000 11.470.660.000
Ketidakpahaman legislatif tentang 2. 2012 50.951.323.900 6.763.500.000
penempatan pos anggaran Hibah dan 3. 2013 48.978.426.005 2.700.000.000
Bantuan Sosial dapat mengakibatkan 4 2014 22.100.000.000 770.000.000
terjadinya salah penempatan pos mata 5. 2015 16.084.300.000 770.000.000
anggaran, artinya yang seharusnya pos Sumber: DPPKAD Kab.Morowali 2017
anggaran bantuan sosial tetapi dianggarkan di
pos belanja hibah seperti penganggaran Tabel diatas menggambarkan
bantuan sosial rumah ibadah yang seharusnya peningkatan anggaran hibah di tahun 2012
sebagai bantuan sosial tetapi dianggarkan dan 2013 karena ada 4 (empat) kategori
bantuan hibah. lembaga atau organisasi penerima dana hibah
APBD Kabupaten Morowali. Pertama,
4) Ketidak Sesuaian Alokasi Pos Belanja kategori hibah kepada lembaga non
Hibah dan Bantuan Sosial departemen meliputi Palang Merah Indonesia
Pertemuan nilai dan kepentingan para (PMI), Badan Narkotika Nasional (BNN),
perencana kebijakan dalam proses Komisi Pemilihan Umum (KPU), Panitia
perencanaan anggaran hibah dan bantuan Pengawas Pemilu (PANWASLU), POLRES;
sosial APBD Kabupaten Morowali serta Kedua, hibah kepada Badan/Lembaga/
interaksi yang terjadi antar aktor dalam Organisasi meliputi PKK, Dharma Wanita,
proses tersebut sebagaimana telah peneliti KONI, Pramuka; Ketiga, hibah kepada
uraikan pada sub bab sebelumnya, pada lembaga pendidikan meliputi semua lembaga
akhirnya memunculkan kesepakatan- yang bergerak dalam bidang pendidikan; Dan
kesepakatan. Kesepakatan-kesepakatan itu yang keempat, hibah kepada organisasi
menjadi titik pertemuan serta solusi bagi kemasyarakatan meliputi organisasi-
pertarungan kepentingan yang terjadi dalam organisasi yang berasal dari masyarakat
perencanaan anggaran dan tentu saja yakni pada tahun 2012 dan 2013
menguntungkan semua pihak yang terlibat. peruntukkannya lebih didominasi untuk
Berikut ini dapat dilihat alokasi anggaran pembangunan rumah ibadah.
belanja hibah dan bantuan sosial APBD Alokasi belanja hibah APBD
Kabupaten Morowali selama 5 (lima) tahun Kabupaten Morowali bersifat fluktuatif.
terakhir sebagai hasil dari kesepakatan para Akan tetapi, pada tahun 2012 dan 2013
perencanaanggaran. hampir semua bidang, kecuali hibah kepada
lembaga pendidikan, mendapatkan alokasi
tambahan dana yang sangat besar. Bahkan
alokasi dana hibah kepada masyarakat/
organisasi kemasyarakatan mengalami
kenaikan tajam terus menerus dalam kurun
waktu 3 (tiga) tahun terakhir (2012-2014).
Hal ini berbeda dengan alokasi dana hibah
kepada lembaga pendidikan yang justru terus
mengalami penurunan khususnya pada tahun
2011 dan 2012. Hal ini sejalan dengan
Arifin, dkk. Analisis Proses Perencanaan Penganggaran Hibah Dan Bantuan Sosial yang Bersumber .......................94

pendapat Jhingan (2000) bahwa perencanaan seharusnya di belanja bantuan sosial


adalah teknik/cara untuk mencapai tujuan, ditempatkan pada pos belanja hibah. Ketidak
untuk mewujudkan maksud dan sasaran sesuaian penempatan pos anggaran ini diakui
tertentu yang telah ditentukan sebelumnya oleh Kepala Dinas PPKAD sesuai
dan telah dirumuskan dengan baik oleh wawancara pada tanggal 26 Januari 2017
badan perencana, tujuan tersebut mungkin Pukul 14.00 Wita sebagai berikut:
untuk mencapai sasaran sosial, politik atau “Penempatan pos anggaran pembangunan
lainnya. rumah ibadah dan bantuan pendidikan
Di samping itu, penyebab naiknya pos memang selama ini kita poskan di bantuan
belanja hibah tahun 2012 dan 2013 karena hibah. Kalau memang seperti itu aturannya
munculnya ide pembangunan Islamic Center Insya Allah kita akan benahi kedepan
di Bungku sebesar Rp. 9.000.000.000 dan bagimana yang bagus supaya kita tidak
Chris Centrum di Kolonodale sebesar Rp menyalahi ketentuan karena ini akan
3.500.000.000. Organisasi ini lahir atas berimplikasi pada proses
kesepakatan antara eksekutif dan legislatif. pertanggungjawaban. Saya kira ini kita
Ide awal munculnya organisasi ini dari harus respon kebetulan ini sementara
Bupati Morowali kemudian melalui proses penyusunan DPA dan saya akan pantau
negosiasi yang panjang akhirnya disetujui langsung bagimana penempatan
oleh DPRD Kabupaten Morowali. Untuk nomenklatur yang benar. Terkait dengan
Islamic Center Ketua pengurusnya bantuan pendidikan umum memang selama
merupakan Ketua Majelis Ulama Indonesia ini kita serahkan pada dinas pendidikan
Kabupaten Morowali. Penyebab lain menangani proses verifikasi berkas sampai
meningkatnya jumlah hibah pada tahun 2012 pertanggungjawabannya dan memang sama
dan 2013 adalah bertambahnya jumlah kita penganggararannya karena bantuan
bantuan pendidikan umum. Pada tahun 2011 berbentuk tunai, jadi saya berharap kemarin
bantuan pendidikan umum sebesar Rp supaya dinas pendidikan dikonsultasikan ke
589.800.000,-, tahun 2012 menurun menjadi BPK atau BPKP supaya status penerima
Rp.520.000.000 dan tahun 2013 naik drastis bantuan itu kita tidak menyalahi aturan”.
sebesar Rp 4.700.000.000,- sedangkan untuk Hal senada juga disampaikan anggota
belanja bantuan sosial dari tahun 2011 Badan Anggaran DPRD Kabupaten
hingga tahun 2013 didominasi untuk kegiatan Morowali dalam wawancara pada tanggal 09
pembangunan rumah ibadah, pondok Februari 2017 Pukul 20.00 Wita sebagai
pesantren, bantuan pendidikan dan organisasi berikut:
kemasyarakatan. “Memang penganggaran hibah dan bansos
Berdasarkan uraian alokasi anggaran selama ini kita tidak mengoreksi lagi apakah
belanja hibah dan bantuan sosial APBD sudah benar pos mata anggarannya atau
Kabupaten Morowali di atas, dapat tidak, dan kita tidak mengetahui seperti apa
dipastikan bahwa perencanaan alokasi kedua itu kriteria dan persyaratan penerima hibah
jenis belanja tidak sesuai dengan Peraturan dan bansos, apa yang diajukan oleh dinas
Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun keuangan sudah itu yang kita setujui tinggal
2011 serta perubahan kedua Nomor 39 kami biasa menambahkan dan
Tahun 2012 tentang Pedoman Pemberian menyampaikan ke anggaran sesuai usulan
Hibah dan Bantuan Sosial yang Bersumber yang masuk.”
dari APBD, hal ini dapat di lihat pada
penempatan pos belanja yang seharusnya di
pos belanja hibah tapi ditempatkan pada pos
belanja bantuan sosial dan sebaliknya yang
95 e Jurnal Katalogis, Volume 5 Nomor 12, Desember 2017 hlm 86-98 ISSN: 2302-2019

5) Alokasi Belanja Hibah dan Bantuan 2012 dan PSU 2013, dana hibah yang
Sosial yang berbau Nepotisme diberikan kepada organisasi-organisasi
Selama ini kepengurusan organisasi khususnya organisasi yang dikelola oleh
penerima hibah maupun bantuan sosial yang pejabat di ekseskutif maupun legislatif
bersumber dari APBD Kabupaten Morowali seperti PMI, Pramuka, KONI baru
sebagian besar diisi oleh orang-orang yang dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan yang
menduduki jabatan penting dalam lembaga bersifat sosial bagi masyarakat tidak seperti
eksekutif maupun legislatif, istri bupati atau tahun-tahun sebelumnya yang habis
masyarakat biasa yang menjadi orang-orang digunakan untuk kepentingan organisasi dan
pilihan bupati. pengurusnya. Hal ini sesuai dengan
Penentuan anggaran organisasi pernyataan Bendahara Bantuan Sosial dalam
kepemudaan dan organisasi bidang wawancara pada tanggal 17 Januari 2017
keagamaan secara gelondongan, artinya tidak Pukul 10.00 Wita sebagai berikut:
dirinci secara detail siapa semua penerima “Selama ini dana hibah habis dipakai
hibah dan bantuan sosial, hal ini tidak sesuai organisasi untuk operasional kantor, sewa
dengan peraturan Menteri Dalam Negeri gedung, perjalanan dinas, honor pengurus
Nomor 39 Tahun 2012 pada Pasal 11 A organisasi dan sedikit sekali berdampak
bahwa kepala daerah harus mencantumkan pada masyarakat. Mereka (pengurus
daftar nama penerima, alamat penerima dan organisasi) tidak pernah menganggarkan
besaran hibah atau bansos yang diterima kegiatan-kegiatan yang melibatkan
dalam Lampiran III peraturan kepala daerah masyarakat secara langsung kecuali tahun-
tentang penjabaran APBD. Sesuai tahun 2014-2015. Waktu itu ada beberapa
wawancara dengan Kepala Seksi Penyusunan organisasi binaan pak ketua (ketua DPRD)
Anggaran DPPKAD pada tanggal 24 Januari menganggarkan kegiatan pramuka dalam
2017 Pukul 11.00 Wita sebagai berikut: rincian anggaran biaya dalam proposal
“Dalam pencantuman nominal pagu permohonan hibah mereka. Kegiatannya
anggaran dalam APBD khususnya hibah dan kalau tidak salah melakukan Jambore di
bansos yang ada di DPA DPPKAD pada Bandung dananya habis di kegiatan-kegiatan
tahun-tahun sebelumnya secara gelondongan nasional. Ada juga binaan ibu bupati seperti
karena belum kita tau siapa semua yang PMI dan pembagian sembako kepada ibu-ibu
mendapatkan dana tersebut, serta biasa melalui kegiatan di PKK dan Dharma
proposal pengajuan organisasi masyarakat Wanita”.
atau kelompok keagamaan nanti pada tahun Kenyataan di atas tentu saja
berjalan baru masuk atau biasa hanya mengindikasikan adanya kaitan erat antara
melalui telpon oleh pejabat tertentu supaya kegiatan-kegiatan organisasi hibah tersebut
dianggarkan organisasi ini proposalnya terutama yang dikelola oleh.
nanti menyusul. Akhirnya di APBD itu kita
tidak uraikan secara rinci nominalnya, tapi 7) Kurangnya Pengawasan
alhamdulillah mulai tahun 2016 kemarin kita Secara normatif, lembaga legislatif
sudah rinci secara jelas dipenjabaran dalam menjalankan kekuasaannya memiliki
APBD”. tiga fungsi yakni: Pertamaadalah fungsi
legislasi, yakni sebagai wakil rakyat
6) Penggunaan Anggaran Hibah dan menampung dan berusaha mewujudkan
Bantuan Sosial Bukan pada Substansi aspirasi dan kepentingan rakyat melalui
Kepentingan Masyarakat kebijakan. Kedua, fungsi anggaran
Pada saat menjelang penyelenggaraan (budgeting) yakni memiliki kewenangan
pemilihan umum kepala daerah pada tahun menentukan APBD. Ketiga, fungsi
Arifin, dkk. Analisis Proses Perencanaan Penganggaran Hibah Dan Bantuan Sosial yang Bersumber .......................96

pengawasan (controlling), yang daerah yang sangat rawan terjadinya


berkewajiban untuk menilai kinerja penyimpangan dalam bentuk korupsi, kolusi,
eksekutif. Akan tetapi, ketiga fungsi tersebut dan nepotisme (KKN). Perubahan yang
belum dijalankan secara optimal oleh DPRD terjadi dalam suasana transisi menjadi sulit
Kabupaten Morowali terutama berkaitan untuk dikendalikan. Eksekutif sebagai
dengan kebijakan anggaran belanja hibah dan pengelola dan pengendali keuangan daerah
bantuan sosial yang bersumber dari APBD. dengan kekuasaan politik yang terbatas. Di
Pertama, fungsi legislasi dalam hal ini sisi lain, legislatif muncul sebagai supremasi
adalah penetapan kebijakan mengenai yang memegang kendali politik dengan
kriteria penerima hibah dan bantuan sosial sumber keuangan yang amat tergantung bagi
serta masalah apa saja yang layak untuk eksekutif. Dua kutub kekuasaan membuka
dibantu. Sejak tahun 2011, tahun pertama peluang terjadinya sinergi negatif untuk
kali Pemerintah Morowali menetapkan melakukan kolusi.
kebijakan untuk menyelenggarakan
pemberian dana hibah dan bantuan sosial KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
kepada masyarakat yang bersumber dari
APBD Kabupaten Morowali hingga sekarang Kesimpulan
ini, tidak terlihat peran DPRD dalam a) Proses perencanaan penganggaran belanja
penentuan siapa saja yang dapat dibantu hibah dan bantuan sosial APBD
melalui dua jenis belanja tersebut. Kabupaten Morowali selama ini
Hal ini sesuai dengan hasil wawancara khususnya periode tahun 2011-2015
Anggota Badan Anggaran DPRD Kabupaten bersifat elitis, hanya melibatkan lembaga
Morowali pada tanggal 09 Februari tahun eksekutif dan legislatif.
2017 Pukul 14.00 Wita sebagai berikut: b) Secara umum penentuan jumlah anggaran
“Selama ini proses penganggaran hibah dan belanja hibah dan bantuan sosial tidak
bansos kami belum paham seperti apa itu berdasarkan proposal hanya inisiatif dari
kriteria penerima hibah dan bansos, apa pemerintah, bukan dari masyarakat.
yang diusulkan oleh SKPD itu kami tidak Penyelenggaraan pemberian dan
terlalu persoalkan karena mungkin mereka pengelolaan kedua jenis belanja tersebut
yang lebih pahami prosedurnya. Yang kami hanya ditujukan untuk menjawab
tau itu ada hibah dan ada bansos, kalau ada kepentingan aktor yang terlibat dalam
usulan masyarakat masuk sesuai hasil reses proses perencanaannya. Sementara
dilapangan kami konsultasikan ke SKPD kepentingan masyarakat bukan menjadi
terkait untuk dianggarakan dalam bentuk prioritas utama bahkan terabaikan.
program kegiatan tidak melalui hibah atau c) Proses perencanaan penganggaran hibah
bansos karena ini bagaikan sisi mata uang dan bantuan sosial mulai dari pengajuan
yang saling menguntungkan antara proposal sampai penetapan dalam APBD
masyarakat dengan penyelenggara belum sepenuhnya sesuai dengan aturan
pemerintahan. Ketidak tahuan kami tentang perundang-undangan yang berlaku, ini
hibah dan bansos ini juga salah satu yang disebabkan karena ketidak pahaman atau
menyelamatkan kami untuk tidak terjebak ketidak tahuan oleh aktor perencana baik
seperti di daerah-daerah lain. Dana aspirasi di eksekutif maupun legislatif.
kami itu kami kolaborasikan dengan d) Indikasi yang dilakukan para elit daerah
program bupati” untuk mewujudkan kepentingannya dalam
Menurut Isra (2006: 135 - 136) penyelenggaraan pemberian dana hibah
desentralisasi politik lebih banyak membuka dan bantuan sosial APBD Kabupaten
akses bagi elit lokal pada sumber-sumber Morowali ini dengan menempatkan
97 e Jurnal Katalogis, Volume 5 Nomor 12, Desember 2017 hlm 86-98 ISSN: 2302-2019

oknum-oknum yang ada di birokrasi atau UCAPAN TERIMA KASIH


orang dekat dalam organisasi yang sudah
ada atau organisasi baru bentukannya. Penulis menyadari bahwa dalam
Selain itu juga ada yang lebih memilih penyelesaian artikel ini tidak terlepas dari
untuk duduk langsug dalam kepengurusan bantuan dan masukan, saran dan tanggapan,
suatu organisasi. Tindakan ini dilakukan bimbingan serta arahan dari berbagai pihak.
sebagai bentuk pencitraan diri dan usaha Untuk itu dengan segala rasa hormat dan
untuk memperkuat basis kekuasaan serta ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya
mengkohkan kemapanan ekonomi penulis sampaikan kepada Prof. Dr. Djayani
mereka. Nurdin, S.E.,M.Si.sebagai PembimbingKetua
e) Kurangnya pengawasan dari legislatif dan Dr. Nina Yusnita, S.E.,M.Si.,Ak. sebagai
yang seharusnya ditujukan untuk Pembimbing Anggota yang selalu sabar dan
mencegah terjadinya penyalahgunaan tekun membimbing, memberikan perhatian
kekuasaan, justru terperangkap dalam dan meluangkan waktunya untuk
hubungan nepotisme yang timbul dari mengarahkan penulis dalammenyelesaian
interaksi yang terjadi antara lembaga artikel ini.
eksekutif dan legislatif.
DAFTAR RUJUKAN
2) Rekomendasi
Dari hasil hasil penelitian yang telah Bastian Indra, 2009, Sistem Perencanaan dan
dijelaskan, maka beberapa rekomendasi yang Penganggaran Pemerintahan Daerah
diajukan adalah: di Indonesia, Salemba Empat, Jakarta
a) Perlunya penetapan kebijakan mengenai Chaizi Nasucha, 2004, Reformasi
batas maksimal anggaran belanja hibah Administrasi Publik. Jakarta: PT.
dan bantuan sosial dalam APBD serta Grasindo
pembatasan maksimal jumlah bantuan https://m.tempo.co.2016.Korupsi dana
baik dana hibah maupun bantuan sosial Bansos, Mantan Bupati Bengkalis
untuk setiap penerima bantuan sehingga Ditahan. Diakses tanggal 06-6-2016
tercipta rasa keadilan, baik ditingkat pusat Pukul 15.20 Wita
melalui peraturan menteri dalam negeri Moleong, Lexy J. 2002 Metodologi
(permendagri) maupun di tingkat daerah Penelitian Kualitatif. PT. Remaja
melalui peraturan kepala daerah. Rosdakarya, Bandung.
b) Melakukan sosialisasi terhadap peraturan Nugrho. Riant. 2003. Kebijakan Publik
tentang pengelolaan dana hibah dan Formulasi, Implementasi, Evaluasi,
bantuan sosial PT. Alex Media Komputindo, Jakarta.
c) Melakukan penambahan bidang atau seksi Peraturan Bupati Morowali Nomor 9 Tahun
di DPPKAD sebagai pengelola dana hibah 2012 tentang Tata Cara Penganggaran,
dan bantuan sosial sehingga tidak terjadi Pelaksanaan dan Penatausahaan,
dominasi kekuasaan pada satu SKPD Pertanggung Jawaban dan Pelaporan
dalam pengelolaan belanja hibah dan serta Monitoring dan Evaluasi Hibah
bantuan sosial. Hal ini bertujuan untuk dan Bantuan Sosial
meminimalisir terjadinya interaksi antar Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32
aktor terutama antara lembaga eksekutif Tahun 2011 tentang Pedoman
dan legislatif yang akan berdampak Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial
terjadinya penyimpangan pada yang Bersumber Dari Anggaran
perencanaan penganggaran sampai Pendapatan dan Belanja Daerah
penggunaan dan pertanggungjawaban.
Arifin, dkk. Analisis Proses Perencanaan Penganggaran Hibah Dan Bantuan Sosial yang Bersumber .......................98

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39


Tahun 2012 tentang Perubahan Atas
Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 32 Tahun 2011 tentang
Pedoman Pemberian Hibah dan
Bantuan Sosial yang Bersumber Dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah
Saldi, Isra. 2006. Wakil Rakyat Menjarah
Uang Rakyat. [penyunt.] Danang
Trisasongko dan dkk. Melawan
Korupsi: dari Aceh sampai Papua, 10
Kisa Pemberantasan Korupsi di
Indonesia. Jakarta : Kemitraan & PT
Penebar Swadaya.
Sugiyono, 2014. Metode Penelitian
Pendidikan pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D. Alvabeta.
Bandung.