Вы находитесь на странице: 1из 7

JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)

Volume 5, Nomor 3, Juli 2017 (ISSN: 2356-3346)


http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

ANALISIS PENYEBAB KELUHAN NECK PAIN PADA PEKERJA DI


PABRIK SEPATU DAN SANDAL KULIT KURNIA DI KOTA SEMARANG

Aulia Gita Safitri, Baju Widjasena, Bina Kurniawan


Bagian Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Diponegoro
Email: ggiitaa@gmail.com

Abstract : Neck pain often occurs due to an awkward posture in activities such
as sitting and bowing for long periods. The types of activities studied are sole
cutting, sole mounting, and shoe gluing. These activities were carried out in a
sitting position with small chairs or stools, bending, and bowing. Working
activities at Kurnia Leather Shoes and Sandals Factory have a long duration, and
tend to be static and repetitive so that workers may experience neck pain
complaints. The purpose of this study is to analyze the causes of neck pain
complaints on workers in Kurnia Leather Shoes and Sandals Factory in the
Municipality of Semarang. The research is conducted qualitatively. Data analysis
was done by descriptive analysis. Research subjects are 5 workers of Kurnia
Leather Shoes and Sandals Factory. The triangulation tool in this research is the
assessment result of Base Risk Identification of Ergonomic Factor (BRIEF)
method. The informants interviewed were men with age range above 35 years
old. Based on the assessment by BRIEF Survey method all high-risk informants,
but based on the results of in-depth interviews obtained most informants
experienced neckpain complaints. Neck pain complaints perceived by workers
varying are aches, pains, and dizziness. Informants who do not feel the complaint
is due to the activity that has become a habit. To reduce neck pain complaints,
should stretch the muscles before and after work.

Keywords: Working Postures, Neck Pain Complaints, shoe factory, Base Risk
Identification of Ergonomic Factor

234
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 3, Juli 2017 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

A. PENDAHULUAN mengeluhkan rasa sakit sebanyak


Musculoskeletal disorders 71% pada bahu, 71% pada leher
(MSDs) adalah penyakit akibat kerja bawah, 76% pada punggung, 65%
yang banyak ditimbulkan akibat pada bokong, dan 76% pada
pekerjaan. Istilah MSDs digunakan pinggang.Penelitian yang juga
pakar ergonomi untuk membahas risiko Musculoskeletal
menggambarkan berbagai bentuk Disorders (MSDs) pada pekerja
cidera, nyeri atau kelainan pada sektor informal dilakukan saat
sistem otot rangka yang terdiri dari aktivitas menyetrika pada pekerja
jaringan saraf, otot, tulang, ligamen, laundry Dukuh Gatak di Kelurahan
tendon dan sendi. MSDs merupakan Pabelan pada tahun 2012 yaitu 94,2
masalah yang signifikan pada persen (49 responden) pekerja
pekerja.1 Postur janggal atau sikap mengalami keluhan Musculoskeletal
kerja yang tidak alamiah merupakan pada bagian punggung bawah,
sikap kerja yang menyebabkan bahu, dan leher.3
posisi-posisi bagian tubuh menjauhi Berdasarkan hasil survey awal
posisi alamiahnya, misalnya pada pabrik sepatu dan sandal kulit
pergerakan lengan pekerja terlalu sikap kerja mulai dari pengukuran
terangkat, posisi punggung yang hingga finishing tergolong postur
kerja tidak alamiah seperti
terlalu membungkuk, posisi leher
membungkuk dan menundukkan
mendongak keatas atau kebawah, leher. Wawancara awal pada 2
dan posisi-posisi tidak ergonomis orang ditemui keluhan yang paling
lainnya.2 sering adalah nyeri leher (Neck
Pain) akibat terlalu lamanya posisi
Faktor-faktor yang menundukkan leher. Selain itu dari
mempengaruhi timbulnya keluhan pekerjanya sendiri tidak melakukan
Musculoskeletal adalah faktor beban peregangan pada leher. Selain itu
kerja fisik, individu (usia, jenis dari pekerjanya sendiri tidak
kelamin, tinggi badan, tingkat melakukan peregangan pada leher.
pendidikan, kebiasaan merokok, Serta para pekerja bekerja melebihi
Body Mass Index (BMI), masa kerja, dari 8 jam perharinya, sehingga itu
kebiasaan olah raga), faktor dapat berdampak ke keluhan nyeri
pekerjaan, lingkungan fisik serta leher. Udara di pabrik itu juga cukup
faktor psikososia.1 panas dimana tidak adanya udara
Faktor-faktor yang keluar masuk. Lampu di tempat kerja
mempengaruhi timbulnya keluhan mereka juga sudah cukup terang.
Musculoskeletal adalah faktor beban Serta disana minimnya obat-obatan
kerja fisik, individu (usia, jenis untuk mengatasi keluhan tersebut.
kelamin, tinggi badan, tingkat Berdasarkan masalah diatas,
pendidikan, kebiasaan merokok, maka peneliti ingin melakukan
Body Mass Index (BMI), masa kerja, penelitian tentang analisis postur
kebiasaan olah raga), faktor kerja dan durasi terhadap keluhan
pekerjaan, lingkungan fisik serta neck pain pada pekerja di Pabrik
faktor psikososial.1 Sepatu dan Sandal Kulit Kurnia
Penelitian yang lain dilakukan di
Bekasi pada tahun 2015
mengatakan bahwa pekerja

235
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 3, Juli 2017 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

B. METODE PENELITIAN berhati hati dalam menggunakan


Jenis penelitian ini adalah obat tersebut.
penelitian kualitatif. Subjek penelitian Pabrik Sepatu dan Sandal Kulit
yang diambil sebanyak 5 informan Kurnia tidak memberikan target
dan 1 triangulasi. Instrument yang kepada para pekerja dikarenakan
digunakan dalam penelitian ini sistem kerja pada pabrik tersebut
adalah indept interview dan The adalah borongan sehingga para
BRIEF Survey untuk mengukur pekerja setiap harinya membuat
tingkat risiko MSDs bagian tubuh target sendiri sebanyak 10 pasang
hingga 15 pasang. Akibat sistem
C. HASIL DAN PEMBAHASAN borongan maka tidak adanya jam
1. Karakteristik Informan waktu istirahat yang tetap.
Usia informan berkisar antara 58-
63 tahun. Seluruh informan adalah 2. Aktivitas dan Postur Leher
laki-laki. Hal tersebut dikatakan Pekerja pada Aktivitas di
bahwa semua informan berisiko Pabrik Sepatu dan Sandal Kulit
mengalami keluhan Neck Pain akibat Kurnia
faktor usia yang sudah tidak Salah satu aspek yang
dikatakan sudah tidak muda lagi. dipertimbangkan dalam ergonomi
Pada umumnya keluhan otot adalah postur kerja (work
sekeletal mulai dirasakan pasa usia postures). Posisi tubuh saat bekerja
kerja 25-65 tahun. yang sama dan berulang
Umur berpengaruh terhadap nyeri mempunyai hubungan dengan nyeri
leher berkaitan dengan proses leher. Aktivitas dilakukan dengan
penuaan seiring bertambahnya beberapa postur kerja baik dengan
umur, termasuk degenerasi tulang postur normal atau janggal. Postur
yang berdampak pada peningkatan normal dicapai ketika otot dan
resiko nyeri leher.4 sendi beristirahat secara alami dan
Masa kerja di Pabrik Sepatu dan juga seimbang, sedangkan postur
Sandal Kulit Kurnia bervariasi mulai janggal adalah penyimpangan dari
dari 2 hingga 25 tahun. Masa kerja posisi netral. 6
tersebut merupakan masa kerja Durasi yaitu lamanya pajanan dari
pekerja bekerja di Pabrik Sepatu faktor risiko. Jika pekerjaan
dan Sandal Kulit Kurnia. Hal ini berlangsung dalam waktu yang
berisiko karena keluhan lama, kemampuan tubuh akan
Musculoskeletal biasanya dirasakan menurun dan dapat menyebabkan
pada masa kerja lebih sama lima keluhan pada anggota tubuh. Durasi
tahun. Pekerja berisiko mengalami atau lamanya bekerja dibagi menjadi
keluhan karena semakin lama waktu durasi singkat yaitu kurang dari 1 jam
seseorang untuk bekerja, seseorang per hari, durasi sedang yaitu 1-2 jam
tersebut semakin besar risiko untuk per hari dan durasi lama yaitu lebih
mengalami MSDs. Keluhan otot dari 2 jam.
akan meningkat sejalan dengan Aktivitas di Pabrik Sepatu dan
bertambahnya aktivitas fisik.5 Sandal Kulit Kurnia termasuk
Beberapa informan menderita aktivitas dengan durasi lama karena
riwayat penyakit asma. Untuk aktivitas tersebut dilakukan lebih dari
keluhan nyeri yang ringan dapat dua jam per hari sehingga dapat
diberikan obat anti peradangan non mengakibatkan keluhan neckpain.
steroid. Namun informan harus Postur kerja yang dilakukan di
pabrik sepatu diantaranya postur

236
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 3, Juli 2017 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

kerja membungkuk dan menunduk. neck pain karena penegangan di


Ketika dilakukan penilaian dengan bagian leher dan menimbulkan
menggunakan metode BRIEF keluhan seperti pegal-pegal pada
Survey (Base Risk Identification of pekerja. Semakin lama bekerja
Ergonomic Factor) terlihat bahwa dengan postur janggal, semakin
para pekerja bekerja dengan banyak energi yang diperlukan
postur kerja yang sangat berisiko untuk mempertahankan kondisi
hal ini terlihat dengan adanya tersebut sehingga akan dampak
posisi leher terlalu menunduk dan kerusakan otot rangka yang
memutar. ditimbulkan semakin kuat.7
Pada aktivitas pemotongan, Aktivitas pada pekerjaan tersebut
pengeleman serta pemasangan alas membutuhkan tindakan investigasi
sepatu pekerja melakukan postur lebih lanjut dan perlu perbaikan pada
kerja menunduk yang cukup lama. pola kerja. Tindakan tersebut
Postur menunduk dilakukan pekerja antara lain memberikan
jika objek yang sedang pengetahuan mengenai postur kerja
dikerjakannya berada di bawah yang aman serta tindakan untuk
pandangan mata sehingga pekerja mengatasi keluhan Neck Pain
harus menundukkan kepala untuk seperti peregangan, waktu
melihat objek tersebut. Leher istirahat. Hal ini dilakukan dengan
pekerja menunduk agar dapat harapan dapat mengurangi risiko
melihat dengan jelas bagian sepatu Musculoskeletal Disorders (MSDs)
yang harus di potong, sedangkan terutama bagian leher pada pekerja.
leher memutar jika objek berada di
sebelah kanan maupun kiri Leher 4. Keluhan Neck Pain pada
menunduk dan memutar tersebut Pekerja di Pabrik Sepatu dan
merupakan salah satu postur janggal Sandal Kulit Kurnia
pada leher. Sebagian besar informan
mengalami keluhan neck pain.
3. Hasil Penilaian BRIEF Survey Menurut penilaian BRIEF Survey
(Base Risk Identification of bahwa postur leher dari seluruh
Ergonomic) pada Pekerja di informan dikatakan risiko tinggi.
Pabrik Sepatu dan Sandal Keluhan tersebut muncul setelah
Kulit Kurnia bekerja terutama ketika ingin tidur.
Hasil penilaian skor BRIEF Postur leher menunduk yang
Survey (Base Risk Identification of dilakukan cukup lama dan tidak
Ergonomic) pada pekerja di pabrik adanya peregangan setiap harinya
tersebut aktivitas dengan risiko yang mengakibat keluhan neck pain.
tinggi. Nilai risiko tinggi pada bagian Kondisi otot ketika kekurang
leher ini dikarenakan pada pekerjaan oksigen akan menimbulkan rasa
ini para pekerja melakukan postur pegal pada otot akibatnya
menunduk kearah bawah karena penimbunan asam laktat sehingga
melihat obyek, selain itu durasi posur mengakibatkan keluhan leher.
leher menunduk dalam waktu lama Keluhan utama yang sering terjadi
dan postur leher menunduk maupun pada pekerja dengan gangguan
memutar dilakukan pada saat neck pain adalah nyeri, kekakuan.
memotong, mengelem, dan Beberapa gejala umum yang
memasang alas sepatu tidak menandai terjadinya neck pain
dilakukan gerakan peregangan antara lain lain terasa sakit di daerah
sehingga berisiko terjadinya keluhan leher dan kaku, nyeri otot-otot leher

237
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 3, Juli 2017 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

yang terdapat di leher, dan sakit 4. Berdasarkan hasil wawancara


kepala. Nyeri leher akan cenderung mendalam , didapatkan keluhan
merasa seperti terbakar. Nyeri bisa neckpain sebanyak 3 informan
menjalar ke bahu, lengan, dan dan tidak didapatkan keluhan
tangan dengan keluhan terasa baal sebanyak 2 informan. Keluhan
atau seperti ditusuk jarum. Nyeri neck pain yang dirasakan
yang tiba-tiba dan terus menerus pekerja bervariasi yaitu pegal,
dapat menyebabkan bentuk leher nyeri, dan pusing. Informan
yang abnormal, kepala menghadap yang tidak merasakan keluhan
ke sisi yang sebaliknya. 8 tersebut dikarenakan aktivitas
yang sudah menjadi
D. KESIMPULAN kebiasaan. Waktu istirahat di
Berdasarkan penelitian yang pabrik tersebut tidak baku
telah dilakukan, dapat disimpulkan dikarenakan sistem kerja
bahwa: disana borongan sehingga
1. Semua pekerja berusia > 35 untuk peregangan otot tidak
tahun. Pekerjanya banyak laki – ada. Udara di pabrik tersebut
laki. Masa kerja semua pekerja cukup panas akibat udara
di Pabrik Sepatu dan Sandal untuk keluar masuk kurang
Kulit Kurnia > 2 tahun. Untuk sehingga di tambahkan kipas
riwayat penyakit ada yang angin, untuk pencahayaan
menderita asma, gula darah dan sudah cukup terang.
saraf.
2. Terdapat 3 jenis aktivitas E. SARAN
dengan 1 postur yang dinilai 1. Bagi Pemilik Pabrik Sepatu
menggunakan metode BRIEF dan Sandal Kulit
Survey (Base Risk Identification a . Mengusahakan agar
of Ergonomic) yaitu pemotongan membuat jam istirahat yang
alas sepatu, pemasangan alas tepat pada pukul 12.00 –
sepatu, dan mengelem sepatu. 13.00 untuk makan siang,
Aktivitas-aktivitas tersebut sholat, serta peregangan.
dilakukan dengan posisi duduk b . Menyediakan kotak berisi
dengan kursi kecil atau dingklik, obat-obatan untuk
membungkuk, dan menunduk. mengatasi keluhan terutama
Aktivitas di Pabrik Sepatu dan balsam atau parem kocok,
Sandal Kulit Kurnia memiliki jika masih terasa keluhan
durasi yang lama, serta akibat bekerja dapat dirujuk
cenderung bersifat statis dan ke pelayanan kesehatan.
repetitif. Postur kerja pada c . Menambahkan ventilasi atau
aktivitas pemotongan alas exhaust
sepatu, pemasangan alas 2. Bagi Pekerja Pabrik Sepatu
sepatu, dan mengelem sepatu dan Sandal Kulit
termasuk dalam aktivitas a. Merelaksasikan otot dengan
dengan risiko tinggi dari cara istirahat sejenak seperti
semua informan. peregangan untuk
3. Berdasarkan penilaian dengan mengurangi keluhan nyeri
metode BRIEF Survey (Base atau pegal
Risk Identification of 3. Bagi Peneliti Berikutnya
Ergonomic) terdapat seluruh a. Melakukan penelitian yang
pekerja dengan risiko tinggi. bersifat eksperimental untuk

238
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 3, Juli 2017 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

mengubah stasiun kerja muskuloskeletal pada leher


terutama meja dan kursi pekerja dengan posisi
yang disesuaikan dengan pekerjaan yang statis.
pekerja Universa Med. 2007.
b. Melakukan penelitian tentang
efektifitas pemberian
stretching untuk setiap para
pekerja setelah diberikannya
waktu istirahat.

F. DAFTAR PUSTAKA
1. Tarwaka, Bakri SH, Sudiajeng
L. Ergonomi Untuk
Keselamatan, Kesehatan
Kerja Dan Produktivitas.
Surakarta : Harapan Press;
2004.
2. Tarwaka.dkk. Dasar-Dasar
Keselamatan Kerja Serta
Pencegahan Kecelakaan Di
Tempat Kerja. Surakarta:
Harapan Press; 2013.
3. Sudarmawan. Faktor Risiko
yang Berhubungan dengan
Terjadinya Keluhan
Muskuloskeletal Saat
Menyetrika pada Pekerja
Laundry Dukuh Gatak,
Kelurahan Pabelan. 2012.
4. Budiono, S. D. Bunga Rampai
Hiperkes Dan Kesehatan
Kerja. 2nd ed. Semarang:
Universitas Dippnegoro; 2003.
5. Tarwaka. Ergonomi Industri :
Dasar-Dasar Pengetahuan
Ergonomi Dan Aplikasi Di
Tempat Kerja. Surakarta:
Harapan Press; 2014.
6. Moore SM, Krajewski JT SL.
Practical Demonstration of
Ergonomic Principles. Dep
Heal Hum Serv Centers Dis
Control Prev Natl Inst Occup
Saf Heal.; 2011.
7. Humantech. Applied
Ergonomics Training Manual.
Australia: Barkelery Vale;
1995.
8. Samara D. Nyeri

239
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 3, Juli 2017 (ISSN: 2356-3346) http://ejournal-
s1.undip.ac.id/index.php/jkm

240