Вы находитесь на странице: 1из 6

Jurnal Kesehatan

Volume 10, Nomor 2, Agustus 2019


ISSN 2086-7751 (Print), ISSN 2548-5695 (Online)
http://ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id/index.php/JK

Analisis Determinan Persepsi Masyarakat Mengenai


Kesehatan Lingkungan di Sentra Industri Jumputan
Tuan Kentang Kertapati Palembang

Depita Meriyani1, Hilda Zulkifli2, Muhammad Faizal3


1
Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Sriwijaya Palembang, Indonesia
2
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan, Universitas Sriwijaya Palembang, Indonesia
3
Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya Palembang, Indonesia
Email: depitameriyani@yahoo.co.id

Abstract: Determinant Analysis of Community Perceptions of Environmental Health in


Jumputan Tuan Kentang Kertapati Industrial Center Palembang. The existence of a jump
cloth industry in the Palembang Kertapati Potatoes as many as 26 home industries as the central
center of the fabric industry in Palembang City has had a positive impact as well as a negative
impact. The positive impact of the availability of jobs for the surrounding community while the
negative impact is causing water pollution. The purpose of the study was to analyze community
perceptions, especially related to public health, near the jump center industrial location in Tuan
Kentang Village, Jakabaring District, Palembang. The study population was 521 families. The
sample of 105 households by stratified random sampling is a community that lives around the
jump center industrial center. This study uses a quantitative method, with a cross-sectional design.
The instrument of data collection in the form of a questionnaire based on the health belief model
concept, interviews, and observations, the data were analyzed by multiple logistic regression. The
results showed that community perceptions (53.3%) of public health-related industries were
categorized as poor. Chi-Square test results showed a relationship between age (p-value 0.009),
gender (p-value 0.003), education level (p-value 0.019) and environmental sanitation conditions
(p-value 0.031) to community perceptions. It was concluded that age has a relationship with
people's perception of the jumputan industry center in the city of Palembang.

Keywords: Cloth industrial, Community perception, Environmental sanitation conditions

Abstrak: Analisis Determinan Persepsi Masyarakat Mengenai Kesehatan Lingkungan di


Sentra Industri Jumputan Tuan Kentang Kertapati Palembang. Keberadaan industri kain
jumputan di Tuan Kentang Kertapati Palembang sebanyak 26 home industry sebagai pusat sentral
industri kain di Kota Palembang membawa dampak positif sekaligus dampak negatif. Dampak
positif tersedianya lapangan pekerjaan bagi masyarakat di sekitar sedangkan dampak negatifnya
yaitu menimbulkan pencemaran air. Tujuan penelitian menganalisis persepsi masyarakat
khususnya terkait kesehatan masyarakat terdekat lokasi sentra industri jumputan di Kelurahan
Tuan Kentang Kecamatan Jakabaring Palembang. Populasi penelitian berjumlah 521 KK. Sampel
105 KK dengan cara random sampling merupakan masyarakat yang bermukim di sekitar sentra
industri jumputan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, dengan desain cross sectional.
Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner berdasarkan konsep health belief model,
wawancara dan observasi, data dianalisis dengan regresi logistik ganda. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa persepsi masyarakat (53,3%) tentang industri terkait kesehatan masyarakat
dikategorikan kurang baik. Hasil uji Chi Square menunjukkan adanya hubungan antara umur (p-
value 0,009), jenis kelamin (p-value 0,003), tingkat pendidikan (p-value 0,019) dan kondisi
sanitasi lingkungan (p-value 0,031) terhadap persepsi masyarakat. Disimpulkan bahwa umur
mempunyai hubungan dengan persepsi masyarakat terhadap sentra industri jumputan di Kota
Palembang.

Kata kunci: Industri kain, Persepsi masyarakat, Kondisi sanitasi lingkungan

PENDAHULUAN mengandung pewarna sintetis yang dihasilkan


oleh industri tekstil skala besar maupun Industri
Salah satu limbah yang sangat mengganggu Kecil dan Menengah (IKM). Limbah tersebut
kelestarian lingkungan adalah air limbah yang didominasi oleh pencemaran karena penggunaan

163
164 Jurnal Kesehatan, Volume 10, Nomor 2, Agustus 2019, hlm 163-168

zat warna sintetis dalam proses produksinya. Air optimum sehingga air limbah yang diolah dapat
limbah pewarna sintetis yang bersumber dari sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan. Saat
pabrik tekstil maupun tenun dapat mengakibatkan terjadi banjir maka limbah kain jumputan
perubahan warna dan derajat keasaman badan mencemari lingkungan pemukiman penduduk.
penerima air (Agustina, et al 2011). Limbah hasil Oleh karena itu, diperlukannya persepsi
industri menjadi salah satu persoalan serius di era masyarakat di lingkungan sentra industri kain
industrialisasi. Saat ini, pencemaran lingkungan jumputan Tuan Kentang Kertapati Palembang, hal
akibat limbah industri sudah cukup ini dapat dijadikan evaluasi dalam strategi
memprihatinkan. Bahan kimia yang digunakan pengelolaan lingkungan.
dalam produk tekstil dapat membuat bahaya
kesehatan. Pencelupan tekstil membutuhkan
jumlah air yang tinggi (200 ton air per ton METODE
produk) dan beberapa zat kimia berbahaya. Lebih
dari 10.000 jenis pewarna yang digunakan untuk Populasi pada penelitian ini adalah
pewarnaan atau pencetakan pada tekstil (Akarslan masyarakat Kelurahan Tuang Kentang berada di
dan Demiralay, 2015). sentra industri jumputan berjumlah 521 KK
Penelitian yang dilakukan pada unit tekstil dengan perhitungan sampel minimal didapatkan
di Mumbai, India menunjukkan insidensi 11-33% 105 orang menjadi responden dalam penelitian
dari bronkitis kronis pada pekerja tekstil. ini. Pengambilan teknik sampling dengan cara
Prevalensi penyakit pernapasan di antara pekerja stratified random sampling digunakan karena
tekstil anak adalah 26,4%, sementara itu 15,2% populasi terdiri dari beberapa lapisan atau
di antaranya anak-anak (Singh, 2016). kelompok individual dengan karakteristik yang
Berdasarkan Peraturan Menteri LH No. 5 Tahun berbeda. Teknik random dalam penelitian ini
2014 tentang Baku Mutu Air Limbah dalam hal dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
usaha dan/atau kegiatan yang belum memiliki a. Mengidentifikasi jumlah RT dan total
baku mutu air limbah yang ditetapkan populasi
melakukan kajian untuk menentukan parameter b. Menentukan jumlah RT sampel yang
kunci terkandung air limbah yang meliputi : 1) diinginkan
bahan baku yang digunakan; 2) proses yang c. Mendaftar semua anggota yang termasuk
terjadi; 3) produk yang dihasilkan; 4) Identifikasi sebagai populasi dan sampel
setiap senyawa yang terkandung. d. Menentukan jumlah sampel dengan rumus
Keberadaan industri kain jumputan di Tuan tertentu
Kentang Kertapati Palembang sebanyak 26 home e. Memilih sampel dengan menggunakan prinsip
industry sebagai pusat sentral industri kain di acak dalam teknik random
Kota Palembang membawa dampak positif
sekaligus dampak negatif. Dampak positif Besarnya sampel dalam penelitian ini
tersedianya lapangan pekerjaan bagi masyarakat ditentukan dengan rumus perhitungan sampel
di sekitar sedangkan dampak negatifnya yaitu minimal dari Paul Leedy sebagai berikut :
menimbulkan pencemaran air. Industri kain
jumputan Tuan Kentang semuanya tidak memiliki
instalasi pengolahan air limbah (IPAL), sehingga
pembuangan limbah cair tersebut dialirkan ke
selokan yang bermuara di sawah pemukiman
Dimana : N = Ukuran Sampel
penduduk sekitar.
Z = Standard Score untuk ∞ yang dipilih
IPAL merupakan hal penting dalam
e = Sampling error
mengolah air limbah sebelum dialirkan ke badan
P = Proporsi harus dalam populasi
air (sungai, selokan, dan sebagainya). Sinergritas
masyarakat menjadi modal utama dalam
Dengan berdasarkan rumus di atas maka
pemeliharaan IPAL. Seluruh masyarakat yang
jumlah sampel pada penelitian ini ditentukan
menggunakan IPAL menjaga air limbah yang
sejumlah 105 KK. Pada penelitian ini, peneliti
dialirkan ke IPAL tidak mengandung sampah. Hal
menggunakan kuesioner berbentuk skala model
yang sering terjadi pada masyarakat kota yaitu
Likert untuk mengetahui persepsi responden
membuang sampah ke air limbah (Nafi’ah, 2015).
penelitian. Pengumpulan data variabel bebas dan
Kelembagaan pengelola IPAL perlu
terikat menggunakan kuesioner. Setelah data
dibentuk agar pengelola IPAL dapat ditangani
terkumpul kemudian dilakukan analisis data
dengan baik dan teratur. IPAL harus dikelola
univariat, bivariat dilanjutkan dengan regresi
dengan baik agar dapat beroperasi secara
logistik biner. Penelitian ini telah mendapatkan
Meriyani, Analisis Determinan Persepsi Masyarakat Mengenai Kesehatan Lingkungan 165

persetujuan etik penelitian dari Komisi Etik Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden
Penelitian Kesehatan Fakultas Kesehatan Variabel n %
Masyarakat, Universitas Sriwijaya No. Umur
193/UN.9.1.10/KKE/2018. <42 tahun 56 53,3
> 42 tahun 49 46,7
Jenis Kelamin
Perempuan 66 62,9
HASIL
Laki-laki 39 37,1
Tingkat Pendidikan
Berdasarkan hasil penelitian yang Rendah (<SMA) 69 65,7
diperoleh, 105 responden sebagai sampel Tinggi (≥ SMA) 36 34,3
penelitian menunjukkan bahwa paling banyak Kondisi Sanitasi
berumur <42 tahun, jenis kelamin perempuan Lingkungan 62 59
paling banyak, tingkat pendidikan yang tinggi Kurang Baik 43 41
(<SMA). Sebagian besar responden memiliki Baik
kondisi sanitasi lingkungan kurang baik dan pada Persepsi Masyarakat
variabel persepsi, responden paling banyak Kurang Baik 56 53,3
mempunyai persepsi kurang baik terhadap sentra Baik 49 46,7
industri kain jumputan.

Tabel 2. Hubungan Umur dengan Persepsi Masyarakat


Persepsi Masyarakat
Total
Umur Kurang Baik Baik p-value PR (95%CI)
n % n % n %
<42 tahun 37 66,1 19 33,9 56 100 1,704
0,009
> 42 tahun 19 38,8 30 61,2 49 100 (1,144-2,539)

Variabel umur responden memiliki prevalensi masyarakat yang berumur <42 tahun
hubungan untuk mempengaruhi persepsi 1,7 kali memiliki persepsi kurang baik
masyarakat p-value=0,009 (𝛼=0,05). Berdasarkan dibandingkan dengan masyarakat yang berumur
tabel diatas di dapatkan PR 1,704 yang artinya >42 tahun.

Tabel 3. Hubungan Jenis Kelamin dengan Persepsi Masyarakat


Persepsi Masyarakat
Jenis Total
Kurang Baik Baik p-value PR (95%CI)
Kelamin
n % n % n %
Perempuan 43 65,2 23 34,8 66 100 0,512
0,003
Laki-laki 13 33,3 26 66,7 39 100 (0,317-0,825)

Hasil penelitian menunjukkan terdapat meningkatkan 0,5 kali memiliki persepsi baik
hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dibandingkan dengan jenis kelamin perempuan.
dengan persepsi masyarakat dengan p- Diketahui bahwa jenis kelamin menjadi faktor
value=0,003 (𝛼=0,05). Berdasarkan tabel diatas protektif persepsi baik terhadap sentra industri
di dapatkan PR 0,512 yang artinya prevalensi jumputan Tuan Kentang Kertapati Palembang.
masyarakat yang berjenis kelamin laki-laki

Tabel 4. Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Persepsi Masyarakat


Persepsi Masyarakat
Tingkat Total
Kurang Baik Baik p-value PR (95% CI)
Pendidikan
n % n % n %
Rendah (<SMA) 43 62,3 26 37,7 56 100 1,726
0,019
Tinggi (≥SMA) 13 36,1 23 63,9 49 100 (1,077-2,766)

Terdapat perbedaan yang bermakna 1,7 yang artinya prevalensi masyarakat yang
dengan p-value = 0,019 (𝛼= 0,05) menunjukkan tingkat pendidikan rendah (<SMA) akan 1,7 kali
bahwa variabel tingkat pendidikan memiliki memiliki persepsi kurang baik dibandingkan
hubungan untuk mempengaruhi persepsi dengan tingkat pendidikan tinggi (≥SMA).
masyarakat. Berdasarkan tabel 4 di dapatkan PR
166 Jurnal Kesehatan, Volume 10, Nomor 2, Agustus 2019, hlm 163-168

Tabel 5. Kondisi Sanitasi Lingkungan dengan Persepsi Masyarakat


Kondisi Persepsi Masyarakat
Total
Sanitasi Kurang Baik Baik p-value PR (95% CI)
Lingkungan n % n % n %
Kurang Baik 39 62,9 23 37,1 62 100 1,591
0,031
Baik 17 39,5 26 60,5 43 100 (1,09-2,412)

Terdapat perbedaan yang bermakna yang optimal dalam menerima hal-hal yang baru.
dengan p-value=0,031 (𝛼=0,05) menunjukkan Penelitian Kustanti (2009) responden dengan usia
bahwa variabel kondisi sanitasi lingkungan 39-45 tahun sebanyak 57% memiliki aspek
memiliki hubungan untuk mempengaruhi pemahaman masyarakat cukup baik dalam arti
persepsi masyarakat. Diketahui bahwa orang positif tentang fungsi drainase di pemukiman
yang mempunyai kondisi sanitasi kurang baik 1 masyarakat. Penelitian Yulanda (2013) Sebagian
kali lebih besar untuk meningkatkan persepsi responden pada penelitian ini berada yaitu
yang kurang baik terhadap sentra industri sebanyak 70% atau sebanyak 21 responden
jumputan Tuan Kentang Kertapati Palembang. berusia 37 tahun. Hal ini bisa dilihat berdasarkan
jumlah penduduk yang mayoritas tergolong usia
Tabel 6. Hasil Analisis Model Akhir pertengahan (30-50 tahun) memiliki persepsi
95% CI For EXP (B) terhadap pengelolaan lingkungan. Penelitian
Variabel p-value OR
Min Maks Laksmi (2008), umur 40 tahun sebanyak 33,3%
Umur 0,009 3,361 1,349 8,374 memiliki hubungan terhadap pengelolaan sampah.
Penelitian Ferosandi (2017) usia responden <42
Hasil analisis multivariat menunjukkan tahun sebanyak 58%, semakin muda usia akan
bahwa variabel yang mempunyai hubungan meningkatkan kebijakan dalam memberikan
dengan persepsi masyarakat terhadap sentra persepsi tentang kesehatan masyarakat.
industri jumputan di Kota Palembang adalah Dengan demikian dapat disimpulkan
variabel umur. bahwa variabel umur berhubungan terhadap
persepsi masyarakat, masyarakat yang berumur
<42 memiliki persepsi kurang baik terhadap
PEMBAHASAN limbah kain jumputan Tuan Kentang Kertapati
Palembang. Masyarakat sekitar sudah mengetahui
Hubungan Umur dengan Persepsi Masyarakat dampak bahaya limbah kain jumputan, akan tetapi
sudah terbiasa dengan lingkungan pemukiman
Menurut data dari Kelurahan Tuan seperti itu telah lama. Maka masyarakatpun, tidak
Kentang, yang tercatat masyarakat berada di terlalu menghiraukan tentang dampak limbah kain
lingkungan RT 31, RT 01, RT 26, RT 27 jumputan, setelah dilakukannya wawancara dan
masyarakat jumlah umur muda lebih banyak pembagian kuesioner, responden menganggapi
daripada umur tua. Hasil multivariat dengan dengan baik bahwa ternyata dampak limbah kain
menggunakan uji regresi binary logistic jumputan berbahaya bagi kesehatan dan
OR=3,361 (95% CI: 1,349-8,374) dengan nilai p- lingkungan masyarakat sekitar.
value=0,009 menunjukan bahwa variabel umur
merupakan variabel yang paling dominan Hubungan Jenis Kelamin dengan Persepsi
berhubungan terhadap persepsi masyarakat di Masyarakat
lingkungan sentra kain jumputan.
Berdasarkan teori Rosentoch & Baker Hasil wawancara selama penelitian
(1974), Fisher (1984) dalam Laksmi (2008) berlangsung, responden yang diteliti paling
bahwa usia merupakan salah satu faktor yang banyak berjenis kelamin perempuan yaitu 66
mempengaruhi persepsi. Usia termasuk faktor orang dan responden laki-laki didapatkan
modifikasi yang mempengaruhi persepsi dalam sebanyak 39 orang. Hal berkaitan ini dengan
teori Health Belief Model. Pengaruh usia dan pekerjaan yang sebagian besar responden adalah
persepsi, dimana seorang balita tidak akan bisa ibu rumah tangga dan wiraswasta. Hasil
membedakan sesuatu berbahaya pada dirinya multivariat dengan menggunakan uji regresi
dibandingan seseorang yang lebih tua usianya. binary logistic menunjukan bahwa jenis kelamin
Penelitian Tuty (2017) usia responden 17- merupakan bukan variabel confounding terhadap
34 tahun sebanyak 66% termasuk dalam usia persepsi masyarakat di lingkungan sentra kain
muda, mempunyai kemampuan fisik dan mental jumputan.
Meriyani, Analisis Determinan Persepsi Masyarakat Mengenai Kesehatan Lingkungan 167

Berdasarkan teori faktor-faktor yang dapat mengetahui kondisi sebenarnya proses


menimbulkan adanya persepsi yaitu karena pembuatan kain jumputan dalam kehidupan
adanya dua faktor baik internal maupun sehari-hari dan bagaimana dampak di
eksternal. Menurut Rosentoch dan Becker (1974) lingkungan. Dampak positif untuk ibu rumah
dalam Laksmi (2008), faktor-faktor yang tangga mendapatkan pendapatan ekonomi
mempengaruhi persepsi individual adalah jenis tambahan. Dampak negatif disekitar lingkungan
kelamin. Jenis kelamin mempengaruhi persepsi limbah kain jumputan mengendap di saluran air
seseorang, karena perempuan memiliki tingkat pemukiman penduduk, dikarenakan saluran air
kepekaan perasaan yang lebih tinggi tersumbat maka sampah-sampah tertumpuk di
dibandingkan dengan laki-laki. Hubungan saluran air tersebut.
perempuan dengan lingkungan adalah dimana
lingkungan merupakan bagian penting dalam Hubungan Tingkat Pendidikan dengan
kehidupan perempuan demi pemenuhan Persepsi Masyarakat
kebutuhan hidup.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Tingkat pendidikan merupakan salah satu
Lestari (2016) sebagian besar 62,5% responden karakteristik responden dalam penelitian ini.
perempuan sebagian besar bekerja tidak jauh dari Pendidikan merupakan hal yang sangat penting
lokasi tempat tinggalnya sehingga lebih mudah dalam mempengaruhi pikiran seseorang termasuk
ditemui di rumah masing-masing. Sedangkan persepsi suatu objek. Menurut David Krech
responden laki-laki memiliki jam kerja yang (1962) bahwa pesepsi seseorang dipengaruhi oleh
lebih lama yaitu hingga sore hari ataupun berada kerangka pengetahuan yang diperoleh dari
di luar kota pada hari kerja dan hanya dapat pendidikan, pengamatan, atau bacaan serta
ditemui pada hari libur (sabtu dan minggu). pengalaman yang telah dialami yang tidak terlepas
Penelitian Yulanda (2013) hampir sebagian dari dari lingkungan sekitarnya. Menurut Hesty (2015)
jumlah responden yaitu sebanyak 43,3%, tingkat pendidikan dari masyarakat yang dapat
mengatakan bahwa melestarikan lingkungan mempengaruhi perilaku dan pengetahuan dari
hidup adalah dengan menjaga kebersihan. Peran seseorang tentang sanitasi lingkungan. Tingkat
perempuan untuk lingkungan dalam mengawasi pengetahuan dari masyarakat sudah sebagian
kondisi lingkungan, memelihara lingkungan dan besar baik tetapi dalam tindakannya tidak
memberikan pendidikan mengenai lingkungan. melakukan sanitasi lingkungan yang baik, hal ini
Indikator persepsi manfaat terhadap bisa disebabkan karena kesibukan masyarakat
kondisi status sosial bagi masyarakat sehingga tidak melihat sanitasi lingkungan yang
menunjukkan sebanyak (66%) jenis kelamin ada di sekitar tempat tinggal responden.
perempuan setuju dengan pernyataan itu. Hasil Penelitian ini sejalan dengan Ferosandi
wawancara selama penelitian berlangsung, (2017) jumlah responden yang tingkat pendidikan
responden yang diteliti paling banyak berjenis rendah persepsi baik adalah 32,7% hasil statistik
kelamin perempuan. Hal berkaitan ini dengan menunjukkan bahwa variabel tingkat pendidikan
pekerjaan yang sebagian besar responden adalah tidak memiliki hubungan untuk mempengaruhi
Ibu Rumah Tangga dan Wiraswasta. Ibu rumah persepsi kesehatan masyarakat. Penelitian Lestari
tangga selalu berada di rumah, sedangkan bapak (2016) responden yang memiliki tingkat
yang menjadi kepala keluarga bekerja saat pendidikan rendah sebanyak 90% berhubungan
pembagian kuesioner ini. Perempuan memiliki dengan persepsi, upaya strategi perusahaan dalam
persepsi kurang baik karena tinggal di rumah membina hubungan baik dengan masyarakat
setiap hari kurang lebih 10 jam beraktivitas di sekitar adalah dengan cara menjalin komunikasi
daerah sekiar pemukiman, malam harinya berada dan melakukan tanggung jawab sosial
di rumah masing-masing, kecuali ada perusahaan. Penelitian Hermawan (2012)
kepentingan mendesak. Ada sebanyak 33 ibu responden yang memiliki pendidikan dasar
rumah tangga yang termasuk menjadi pekerja sebanyak 56,9%, ibu rumah tangga yang
upah paruh waktu bekerja dengan pengrajin memiliki tingkat pendidikan tinggi lebih sedikit
jumputan. dibandingkan dengan ibu rumah tangga yang
Dengan demikian dapat disimpulkan memiliki tingkat pendidikan menengah dan
bahwa variabel jenis kelamin berpengaruh pendidikan dasar. Penelitian Lestari (2016)
terhadap persepsi masyarakat, beberapa home tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor
indsutry kain jumputan mempekerjakan beberapa yang berpengaruh terhadap persepsi. Tingkat
ibu rumah tangga di sekitar permukiman untuk pendidikan juga sangat mempengaruhi persepsi
membantu menjahit dan melepaskan kain yang serta sikap. Semakin tinggi pengetahuan dan
sudah diikat. Responden perempuan yang lebih
168 Jurnal Kesehatan, Volume 10, Nomor 2, Agustus 2019, hlm 163-168

pengalaman yang dimiliki seseorang maka pendidikan berpengaruh terhadap persepsi


semakin produktif untuk melakukan penilaian. masyarakat, sehingga dapat dikatakan bahwa
Indikator persepsi manfaat terhadap dunia rendah tingkat pendidikan yang dimiliki
ketenagakerjaan di sentra kain jumputan Tuan responden, memiliki wawasan pengetahuannya
Kentang sebanyak (55,2%) masyarakat setuju tentang bahaya air buangan kain jumputan
dengan pernyataan ini. Para pekerja upah paruh dikarenakan mereka sudah lama tinggal didaerah
waktu bekerja di pengrajin jumputan tanpa dilihat sekitar sentra industri kain jumputan, masyarakat
dari tingkat pendidikannya, para pengrajin sangat yang memiliki persepsi baik di lingkungan sentra
tertolong atas bantuan yang diberikan warga industri kain jumputan merupakan pengrajin dan
sekitar, karena mereka target penyelesaian anak dari pemilik home industry jumputan.
pemesanan kain jumputan dapat dilakukan
dengan cepat. Akan tetapi pada pekerja
pencelupan dan pengecatan, para pengrajin SIMPULAN
mempercayai pekerjaan ini dengan anggota
keluarganya sendiri. Variabel yang mempunyai hubungan
Dengan demikian dapat disimpulkan dengan persepsi masyarakat terhadap limbah
bahwa terdapat hubungan antara tingkat sentra industri jumputan adalah variabel umur,
pendidikan dengan persepsi masyarakat, tingkat jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan kondisi
pendidikan dipengaruhi pengamatan pengalaman sanitasi lingkungan. Umur mempunyai hubungan
yang telah dialami yang tidak terlepas dari dengan persepsi masyarakat terhadap sentra
lingkungan sekitarnya. Variabel tingkat industri jumputan di Kota Palembang.

DAFTAR PUSTAKA

Agustina, Nurisman, S., Prasetyowati, dan Laksmi. (2008). Persepsi Pekerja di Tempat
Haryani K. (2011). Pengolahan Air Pembuangan Akhir (TPA) X Terhadap
Limbah Pewarna Sintetis Dengan Risiko Sampah Longsor. (Tesis. Fakultas
Menggunakan Reagen Fenton. Prosiding Kesehatan Masyarakat, Universitas
Seminar Nasional Avoer Ke-3. ISBN 979. Indonesia). Depok.
587-395. Lestari, S. (2016). Persepsi Masyarakat Terhadap
Akarslan dan Demiralay. (2015). Effects of Aspek Sosial Ekonomi Ruang Terbuka
Textile Materials Harmful to Human Hijau Taman GOR Di Kota Palu Provinsi
Health. International Conference on Sulawesi Tengah. Warta Rimba. Issn:
Computational and Experimental Science 2406-8373. (1).74-81
and Engineering. 128(2). 407-408. Nafi’ah.B.A. (2015). Implementasi Instalasi
Ferosandi A. (2017). Analisis Persepsi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Domestik
Masyarakat Lingkungan Industri Karet Komunal: Model Tata Kelola Lingkungan
Remah di Kota Palembang. (Tesis, Deliberatif Dalam Good Environmental
Fakultas Kesehatan Masyarakat. Governance Di Kota Blitar. Jurnal
Universitas Sriwijaya). Kebijakan dan Manajemen Publik.
Hermawan, Y. (2015). Hubungan antara tingkat Volume 3, Nomor 3. Hal 218-224
pendidikan dan persepsi dengan perilaku Singh. (2016). Safety And Health Issues In
ibu rumah tangga dalam pemeliharaan Workers In Clothing And Textile
kebersihan lingkungan. Bumi Lestari Industries. International Journal of Home
Journal of Environment, 5(2). Science. 2(3). 38-40
Hesty. (2015). Hubungan Antara Pengetahuan Tuty. N.W.D. (2017). Korelasi Faktor Pembentuk
dan Sikap dengan Tindakan Sanitasi Persepsi Dengan Persepsi Konsumen
Lingkungan Masyarakat di Kelurahan Terhadap Media Pemasaran Online.
Buraka Kecamatan Pulau Bunaken Kota Journal Of Sustainable Agriculture. 32(2).
Manado. Jurnal FKM Manado. 108-115. (www.Goodplant.co.id)
Kustanti, S. (2009). Perilaku Dan Persepsi Yulanda. (2013). Persepsi Perempuan Terhadap
Masyarakat Terhadap Program Lingkungan Hidup dan Partisipasinya
Pengelolaan Limbah Cair Domestik dalam Pengelolaan Sampah Rumah
Dengan Sistem Sanitasi Terpusat Di Tangga. Jurnal Sosiologi. 1(2). 165-181.
Kecamatan Gubeng Surabaya. Jurnal
Lingkungan. 1-28