Вы находитесь на странице: 1из 9

PENGARUH TERAPI BEKAM BASAH TERHADAP TEKANAN DARAH PADA

PASIEN DENGAN HIPERTENSI GRADE I DI RUMAH SEHAT MINA

Mega Ayudia Saundari1, Siti Rahmalia Hairani Damanik2, Jumaini3


Program Studi Ilmu Keperawatan
Universitas Riau
Email: megaayudia23@gmail.com

Abstract

The case of hypertension keeps increasing as the population increases. Long lasting hypertension can cause permanent
damage to vital organs such as heart, kidney and brain. Management of hypertension can be non-pharmacology, one of
which is wet cupping therapy. This study aims to determine the effect of wet cupping therapy on blood pressure in
patients with grade 1 hypertension at Rumah Sehat Mina with pre-experiment research design and one group pretest-
postest design without control group. The sample was 24 respondents based on the inclusion criteria. The sample
selection used nonprobability sampling technique with accidental sampling method. Data collection tools used are
observation and interview sheets, manual sphygmomanometer, stethoscope and cupping equipment. Data analysis
method used univariate analysis to know the distribution of respondent and bivariate characteristic using wilcoxon test.
The results showed the characteristics of respondents were 40-60 years old (66.7%), with the most female sex (62.5%),
the majority of high school educated (50.0%) and not working (37.5%). The result of statistical test found that there is a
change of blood pressure, decreasing with difference of mean value of systole (4,67) and diastol (1,79). The statistical
test showed the effect of wet cupping therapy on systolic blood pressure in patients with grade 1 hypertension with p
value (0.003) <α (0.05), and there was no effect of wet cupping therapy on diastolic blood pressure in patients with
grade 1 hypertension with p value (0.108)> α (0.005).

Keywords: Blood Pressure, Hypertension, Wet Cupping Therapy

PENDAHULUAN banyak menderita hipertensi (31,7%) jika


Menurut American Heart Association dibandingkan dengan masyarakat daerah
(AHA, 2017 dalam Whelton, P. K., et al, perdesaan (30,2%).
2017) hipertensi adalah suatu kondisi dimana Penderita hipertensi di tahun 2013 untuk
tekanan darah sistolik berada di atas 130 rawat jalan adalah sebanyak 17.039 kasus
mmHg dan tekanan darah diastolik di atas 80 sedangkan untuk rawat inap 950 kasus (Dinkes
mmHg. Triyanto (2014) menyatakan bahwa Provinsi Riau, 2013). Berdasarkan Penyakit
hipertensi merupakan suatu keadaan dimana Tidak Menular (PTM) kasus hipertensi untuk
seseorang mengalami peningkatan tekanan Kota Pekanbaru tahun 2014 berada pada
darah di atas normal yang mengakibatkan peringkat pertama sebanyak 26.452 kasus,
peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan sedangkan berdasarkan sepuluh penyakit
angka kematian (mortalitas). Klasifikasi dari terbesar di Puskesmas berada di urutan ke dua
hipertensi terdiri atas derajat 1dan derajat 2 yaitu 20.601 kasus (Dinkes Kota Pekanbaru,
(Whelton, P.K, et al, 2017). 2014). Penderita hipertensi kembali
Data World Health Organization (WHO, mengalami peningkatan ditahun 2016 yaitu
2013) menunjukkan dari 17 juta kematian 35.419 kasus, yang merupakan kasus tertinggi
karena penyakit kardiovaskuler, 9,4 juta dari sepuluh besar kunjungan kasus PTM di
disebabkan oleh komplikasi dari hipertensi. Puskesmas untuk Kota Pekanbaru (Dinkes
Prevalensi hipertensi tertinggi di negara Kota Pekanbaru, 2016).
Afrika, yaitu sebesar 46% dan terendah negara Penanganan hipertensi perlu dilakukan
Amerika yaitu 35%. sesegera mungkin untuk mencegah terjadinya
Kementrian Kesehatan Republik gangguan fungsi organ tubuh, terutama organ
Indonesia (Kemenkes RI, 2017) menyatakan vital seperti jantung dan ginjal (Kemenkes RI,
prevalensi masyarakat Indonesia dengan 2013). Kerusakan pada organ tersebut dapat
hipertensi sebesar 30,9%. Hipertensi menjadi permanen jika dibiarkan berlangsung
didapatkan pada perempuan (32,9%) lebih dalam waktu yang lama, dimana hipertensi
tinggi jika dibandingkan laki-laki (28,7%). pada sebagian besar kasus tidak menunjukkan
Masyarakat daerah perkotaan juga lebih gejala hingga akhirnya terjadi stroke dan

50
serangan jantung (Nurrahmani & Kurniadi, 2015). Menurut ABI (2011) bekam basah
2015). bermanfaat untuk mengeluarkan semua
Penanganan hipertensi dapat dilakukan kotoran dan endapan yang ada di pembuluh
dengan penatalaksanaan medis, yaitu terapi darah yang berhubungan dengan peredaran
farmakologi dan nonfarmakologi (Muttaqin, darah.
2009). Terapi farmakologi dalam menangani Kerusakan pada cel mask akibat dari
hipertensi menggunakan obat-obatan atau pembekaman akan melepaskan zat seperti
senyawa kimia seperti diuretik, simpatolitik, serotonin, histamin, bradikinin, slow releasing
vasodilator, antagonisangiotensin dan substance, prostaglandin, prostasiklin. Zat-zat
penghambat saluran kalsium (Muttaqin, 2009). tersebut akan mendilatasi kapiler dan arteriol.
Penderita hipertensi diharuskan untuk Dilatasi kapiler dan arteriol juga dapat terjadi
mengkonsumsi obat hipertensi secara rutin ditempat yang jauh dari tempat pembekaman,
untuk mengendalikan tekanan darah. sehingga menyebabkan terjadinya perbaikan
Mengkonsumsi obat hipertensi secara rutin mikrosirkulasi pembuluh darah. Efek relaksasi
dalam jangka waktu panjang membuat yang ditimbulkan pada otot-otot yang kaku
penderita khawatir akan efek samping dari menyebabkan terjadinya penurunkan tekanan
obat seperti batuk, kelelahan, pusing, sering darah (Ridho, 2015).
kencing, retensi cairan, disfungsi seksual, Terapi bekam basah juga dapat
aritmia jantung dan reaksi alergi (Nurrahmani menstimulasi syaraf permukaan kulit yang
& Kurniadi, 2015). akan dilanjutkan pada cornu posterior
Efek samping dari mengkonsumsi obat medullaspinalis melalui syaraf A-delta dan C
hipertensi dalam waktu panjang membuat serta tractus spino thalamicus kearah thalamus
penderita hipertensi beralih ke terapi yang akan menghasilkan endorphine.
nonfarmakologi seperti menurunkan berat Endorphine bagi tubuh berfungsi untuk
badan, mengurangi stres, mengurangi menenangkan dan melebarkan pembuluh
mengkonsumsi alkohol, tidak merokok, darah, sehingga menurunkan tekanan darah
olahraga dan teknik relaksasi (Muttaqin, (ABI, 2011). Penderita hipertensi yang
2009). Menurut AHA, 2017 (dalam Whelton, mengalami penyempitan pembuluh darah,
P. K., et al, 2017) orang dewasa dengan dengan dilakukan pembekaman pori-pori dan
hipertensi grade 1 diperkirakan 10 tahun pembuluh darah akan berdilatasi sehingga
mendatang berisiko menderita atherosclerosis aliran darah menjadi lancar dan akan
cardiovasculer disease (ASCVD), dimana menurunkan tekanan darah (Rosidawati &
10% dari kasus hipertensi tersebut dapat Nurahmi, 2016).
ditangani dengan terapi nonfarmakologi. Salah Sebagian rangsangan akan diteruskan
satu terapi nonfarmakologi yang efektif untuk menuju motor neuron melalui serabut afferent
mengatasi hipertensi adalah terapi bekam simpatik yang akan menimbulkan reflek
(Rahman, 2016). intubasi nyeri (ABI, 2011). Nyeri dan
Terapi bekam atau hijamah menurut hipertensi memiliki keterkaitan, dimana salah
Asosiasi Bekam Indonesia (ABI, 2011) adalah satu tanda dan gejala dari hipertensi adalah
peristiwa penghisapan untuk mengeluarkan nyeri kepala (Nurrahmani & Kurniadi, 2015).
darah kotor dari permukaan kulit. Menurut Hubungan nyeri kepala dan hipertensi ini
Umar (2011) terapi bekam adalah metode sesuai dengan penelitian Astuti (2013) yang
pengobatan dengan menggunakan tabung atau menyatakan bahwa terapi bekam basah
gelas yang ditelungkupkan pada permukaan berpengaruh terhadap penurunan frekuensi
kulit sehingga menimbulkan bendungan lokal. serangan dan skala nyeri pada 23 responden
Murtie (2013) menyatakan bahwa terapi penderita migrain di Klinik bekam Jetis
bekam ini telah diwariskan secara turun Malang. Rata-rata penurunan nyeri sebesar
temurun oleh para Nabi dan Rasul. 9.965 kali serangan dalam kurun waktu 1
Terapi bekam basah merupakan proses bulan dengan rata-rata serangan 13 kali
pembekaman dengan melakukan sayatan atau sebulan dan rata-rata penurunan skala nyeri
penusukan halus untuk mengeluarkan darah sebesar 5.434 yang artinya terjadi penurunan
kotor yang ada di kapiler epidermis (Ridho, nyeri kepala sampai skala ringan.

51
Penelitian Rosidawati dan Nurahmi penelitian one group pretest-postest.
(2016) menyimpulkan bahwa terapi bekam Rancangan dalam penelitian ini meliputi tiga
basah memiliki pengaruh yang signifikan langkah, yaitu melakukan observasi awal
terhadap tekanan darah pada pasien hipertensi (pretest) sebelum dilakukan intervensi untuk
dengan nilai p value untuk tekanan darah mengetahui keadaan awal, kemudian
sistolik 0,001 (< 0,05) dan 0,000 (< 0.05) dilakukan intervensi, selanjutnya peneliti
untuk tekanan darah diastolik. melakukan postest untuk menilai efek atau
Berdasarkan studi pendahuluan yang hasil dari intervensi yang telah dilakukan
dilakukan oleh peneliti pada tanggal 22 sebelumnya (Notoatmodjo, 2012).
Agustus 2017 di Klinik Rumah Sehat Mina Pada tahap pre test, peneliti mengukur
didapatkan 19 dari 55 orang pasien berbekam tekanan darah responden dengan
dengan keluhan hipertensi grade 1. Rata-rata menggunakan sphygmomanometer merk GEA
kunjungan pasien dalam satu bulan untuk dan stetoskop merk Onemed. Pengukuran
tahun 2017 adalah sebanyak 101 orang. tekanan darah dilakukan sebanyak 2 kali
Wawancara yang dilakukan peneliti pada dengan jarak 2 menit, pada lengan atas kiri
tanggal 10 September 2017, terhadap 4 orang atau kanan dengan posisi pasien duduk
pasien dengan hipertensi grade I didapatkan 2 bersandar dan lengan lurus. Pada tahap pre test
orang pasien yang telah rutin berbekam setiap ini tekanan darah responden diukur setelah
bulannya mengatakan dengan berbekam badan responden beristirahat selama 10 menit dari
terasa lebih ringan, sakit kepala berkurang, perjalanan.
nafsu makan meningkat, dan tidur lebih Setelah melakukan pre test, peneliti
nyenyak, sehingga pasien berasumsi bahwa meminta terapis bekam untuk melakukan
terapi bekam bermanfaat untuk menurunkan terapi bekam basah yang berfokus pada 7 titik
tekanan darah. Sedangkan 2 orang pasien lagi sunah, yaitu 2 titik urat leher kiri dan kanan
merupakan pasien yang baru pertama kali (akhdain), 1 titik punuk (al-kahil), 2 titik bahu
berbekam mengatakan tidak merasakan kiri dan kanan (katifain), 2 titik pinggang kiri
apapun setelah berbekam. dan kanan (al-warik) serta 2 titik organ jantung
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti kiri dan kanan. Proses pembekaman dilakukan
tertarik untuk melakukan penelitian tentang selama 30 menit dengan terlebih dahulu
pengaruh terapi bekam basah terhadap tekanan melakukan masase pada area yang dibekam.
darah pada pasien dengan hipertensi grade 1 di Kemudian dilakukan pengkopan pada titik-
Rumah Sehat Mina. titik yang dibekam selama 3-5 menit yang
dilanjutkan dengan penusukan halus pada area
Tujuan penelitian ini adalah untuk yang telah dikop dengan menggunakan lanset
mengetahui pengaruh terapi bekam basah dan lancing device. Kemudian dilakukan
terhadap tekanan darah pada pasien dengan penghisapan kembali selama 3-5 menit
hipertensi grade 1 di Rumah Sehat Mina di sehingga darah kotor keluar dan tertampung
Kota Pekanbaru. di dalam kop. Setiap responden diberikan
terapi bekam basah sebanyak 1 kali, sesuai
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dengan yang disampaikan oleh Yasin (2011),
memberikan informasi bagi pelayanan bahwa di dalam hadist tentang bekam
keperawatan sebagai salah satu terapi dikatakan bahwa para sahabat Nabi melakukan
komplementer untuk pengobatan hipertensi bekam setiap bulan secara rutin.
yang dapat meminimalkan penggunaan obat- Pada tahap post test, peneliti mengukur
obat kimia. kembali tekanan darah responden dengan
menggunakan alat ukur sphygmomanometer
METODOLOGI PENELITIAN dan stetoskop yang sama. Sebelum dilakukan
Penelitian ini dilaksanakan di Rumah pengukuran tekanan darah responden yang
Sehat Mina Kota Pekanbaru yang dimulai dari telah selesai berbekam diminta untuk tidur
bulan Agustus 2017 sampai bulan Januari miring kesalah satu sisi tempat tidur,
2018. Penelitian ini menggunakan desain kemudian duduk diatas tempat tidur, baru
penelitian pre-experiment dengan rancangan kemudian pasien boleh turun dari tempat tidur

52
untuk ganti pakaian. Kemudian dilakukan HASIL PENELITIAN
pengukuran tekanan darah kembali 30 menit 1. Analisis Univariat
setelah responden dibekam, sebanyak 2 kali Tabel 1
pengukuran dengan jarak 2 manit. Distribusi Karakteristik Responden
Populasi dalam penelitian ini adalah Karakteristik N
Persentase
pasien yang menderita hipertensi grade I yang (%)
Usia
berkunjung dan melakukan bekam basah di
20-39 tahun 5 20,83
Rumah Sehat Mina Kota Pekanbaru. (Dewasa Awal)
Pengambilan sampel menggunakan teknik 40-60 tahun 16 66,7
nonprobability sampling dengan jenis (Dewasa menengah)
accidental sampling. Accidental sampling 60 tahun keatas 3 12,5
(Dewasa Akhir)
adalah teknik pengambilan sampel dari
Jenis Kelamin
responden yang kebetulan ada di tempat Laki-laki 9 37,5
penelitian sesuai dengan konteks penelitian Perempuan 15 62,5
(Notoatmodjo, 2012). Sampel yang digunakan Pendidikan
dalam penelitian ini diambil berdasarkan SMP 2 8,3
kriteria inklusi dan eksklusi yaitu 24 orang SMA 12 50,0
Perguruan Tinggi 10 41,7
responden. Pekerjaan
Alat ukur yang digunakan pada PNS/ABRI 5 20,8
penelitian ini adalah lembar kuesioner yang Swasta 4 16,7
berisi data responden dan alat Wiraswasta 6 25
sphygmomanometer merk GEA beserta Tidak bekerja 9 37,5
stetoskopmerk OneMed untuk mengukur
tekanan darahresponden sebelum dan setelah Berdasarkan tabel 1 dari 24 responden
dilakukan intervensi. yang berbekam dengan hipertensi grade 1,
Analisis data dalam penelitian ini mayoritas berusia dewasa menengah (66,7%),
menggunakan analisis univariat dan bivariat. dengan jenis kelamin terbanyak perempuan
Analisis univariat bertujuan untuk (62,5%) dan memiliki pendidikan mayoritas
mendeskripsikan karakteristik responden SMA (50,0%) dengan latar belakang pekerjaan
terkait umur, jenis kelamin, pendidikan dan adalah mayoritas tidak bekerja (37,5%).
pekerjaan. Analisis bivariat digunakan untuk
mengetahui apakah ada pengaruh yang Tabel 2
signifikan antara dua variabel, yaitu variabel Tekanan Darah Responden Sebelum dan
terapi bekam basah dan variabel tekanan Setelah Terapi Bekam Basah
Tekanan Sebelum Setelah Positif Negati
darah. Pada penelitian ini, sebelum dilakukan
f
analisis bivariat peneliti terlebih dahulu Darah Mean SD Mean SD Rank Rank
melakukan uji normalitas data. Sistol 126,42 7,569 121,75 6,543 4 19
Uji normalitas data bertujuan untuk Diastol 81,79 4,170 80,00 4,212 6 15
mengetahui distribusi data normal atau tidak.
Berdasarkan uji normalitas data dengan
menggunakan test of normalityshapiro-wilk Berdasarkan tabel 2 didapatkan rata-rata
didapatkan bahwa distribusi data tidak normal tekanan darah sistol responden sebelum
untuk tekanan darah sistol dan diastol sebelum diberikan terapi bekam basah 126,42 mmHg
terapi bekam basah. Peneliti kemudian dan setelah terapi bekam basah 121,75 mmHg,
melakukan transformasi data dan melakukan terjadi penurunan tekanan darah sistol sebesar
uji normalitas data kembali, didapatkan 4,67 mmHg. Tekanan darah diastol menurun
distribusi data masih tidak normal sehingga sebesar 1,79 mmHg dari 81,79 mmHg ke
peneliti menggunakan uji alternatif yaitu uji 80,00 mmHg setelah dilakukan terapi bekam
statistik wilcoxon. basah.

53
Tabel 3 hipertensi grade I adalah rentang usia
Uji Normalitas Data Tekanan Darah dewasa menengah 16 responden (66,7%)
Responden dan diikuti dengan usia dewasa awal 5
Tekanan Darah Median Min-Max P value orang responden (20,83%). Hasil penelitian
Sistol sebelum ini sejalan dengan penelitian Safrianda,
terapi bekam 130,00 111-139 0,041
Parjo dan Maulana (2015) karakteristik
basah
Diastol sebelum responden yang berbekam dengan keluhan
terapi bekam 80,00 70-88 0,021 hipertensi mayoritas berada pada rentang
basah usia 36-55 tahun, dimana perubahan
dinding arteri mengalami penebalan pada
Tabel 3 menunjukkan bahwa tekanan usia 45 tahun karena adanya penumpulkan
darah sistol dan diastol sebelum terapi bekam zat-zat kolagen pada lapisan otot pembuluh
basah tidak terdistribusi normal dengan nilai p darah sehingga pembuluh darah akan
value adalah 0,041<α (0,05) dan 0,021<α berangsur-angsur menyempit dan menjadi
(0,05). Berdasarkan distribusi data yang tidak kaku.
normal, maka uji statistik yang digunakan Penelitian Rahman (2016)
adalah uji Wilcoxon. menyatakan bahwa perubahan struktur dan
fungsi alamiah pada sistem pembuluh
2. Analisis Bivariat darah, seperti aterosklerosis, hilangnya
Tabel 4 elastisitas jaringan ikat dan penurunan
Analisis Tekanan Darah Sebelum dan Setelah dalam relaksasi otot polos pembuluh darah
Terapi Bekam Basah yang terjadi seiring bertambahnya usia
Tekanan Sebelum Setelah P menyebabkan menurunnya kemampuan
Darah Mean SD Mean SD value distensi dan daya renggang pembuluh darah
Sistol 126,42 7,569 121,75 6,543 0,003 sehingga mengakibatkan resiko hipertensi
Diastol 81,79 4,170 80,00 4,212 0,108
meningkat pada lanjut usia.
b. Jenis kelamin
Berdasarkan tabel 4 diatas, terjadi Sebagian besar karakteristik
penurunan rata-rata tekanan darah sistol dari responden berjenis kelamin perempuan
126,42 mmHg ke 121,75 mmHg dan rata-rata yaitu sebanyak 15 orang (62,5%). Seorang
tekanan darah diastol dari 81,79 mmHg ke perempuan lebih cenderung menderita
80,00 mmHg. Hasil uji wilcoxon pada tekanan hipertensi di atas usia 50 tahun atau setelah
darah sistol didapatkan nilai p value (0,003)<α menopause, jika dibandingkan laki-laki
(0,05), yang berarti hipotesis diterima atau H0 yang beresiko diusia dewasa muda (Jansen,
ditolak, ada pengaruh yang signifikan antara 2013). Hormon estrogen yang berperan
sebelum dan setelah dilakukan terapi bekam dalam meningkatkan kadar high density
basah terhadap tekanan darah sistol pada lipoprotein (HDL), dimana kadar HDL
pasien dengan hipertensi grade I di Rumah yang tinggi dapat mencegah terjadinya
Sehat Mina. aterosklerosis sehingga seorang perempuan
Hasil uji statistik tekanan darah diastol yang belum menopause beresiko kecil
menunjukkan nilai p value (0,108)> α (0,05), untuk hipertensi. Perempuan mengalami
yang berarti hipotesis ditolak atau H0 diterima. banyak perubahan pada saat menopause,
Ini berarti tidak ada pengaruh terapi bekam baik hormonal maupun emosional yang
basah terhadap tekanan darah diastol pada dapat menimbulkan stres sehingga
pasien dengan hipertensi grade I di Rumah berpengaruh terhadap peningkatan tekanan
Sehat Mina. darah (Irianto, 2014).
Berbeda dengan penelitian Irawan
PEMBAHASAN dan Ari (2012), dimana didapatkan seluruh
1. Karakteristik Responden responden pada penelitian tersebut berjenis
a. Usia kelamin laki-laki. Laki-laki beresiko
Berdasarkan penelitian yang telah mengalami hipertensi disebabkan oleh
dilakukan di Rumah Sehat Mina didapatkan perilaku tidak sehat seperti kebiasaan
responden yang paling banyak menderita
54
merokok, mengkonsumsi alkohol, value tekanan darah sistol sebelum dan setelah
pengangguran dan stress akibat beban kerja terapi bekam basah adalah 0,003<α (0,05) dan
yang terlalu tinggi (Rahman, 2016). diastol 0,108>α (0,05). Hasil yang didapat
c. Pendidikan menunjukkan bahwa ada pengaruh yang
Karakteristik responden berdasarkan signifikan antara sebelum dan setelah lakukan
tingkat pendidikan terbanyak adalah SMA, terapi bekam basah terhadap tekanan darah
yaitu 12 orang responden (50,00%). Hasil sistol dan tidak ada pengaruh yang signifikan
penelitian ini sejalan dengan penelitian terhadap tekanan darah diastolpada pasien
Safrianda, Parjo dan Maulana (2015), dengan hipertensi gradeI di rumah Sehat
tentang efektifitas terapi bekam basah Mina. Dikatakan hipertensi grade 1 adalah jika
terhadap perubahan tekanan darah pada tekanan darah sistol berada antara rentang 130-
penderita hipertensi didapatkan 68,75% 139 mmHg dan tekanan diastol antara 80-89
responden berpendidikan SMA memilih mmHg.
melakukan terapi bekam basah untuk Hasil penelitian juga menunjukkan 19
menurunkan tekanan darah. Tingkat dari 24 orang responden mengalami penurunan
pendidikan dapat mempengaruhi tekanan darah sistol setelah dilakukan bekam
kemampuan dan pengetahuan seseorang basah, hal ini disebabkan karena proses
dalam menerima dan menyerap informasi penghisapan oleh cup bekam yang
kesehatan.Seseorang dengan pendidikan mengakibatkan pori-pori dan pembuluh darah
yang tinggi dapat mencari tahu dan berdilatasi sehingga peredaran darah menjadi
memutuskan tindakan yang tepat untuk lancar dan tekanan darah turun (Rosidawati &
mengatasi masalah kesehatan. Nurahmi, 2016). Penurunan tekanan darah
d. Pekerjaan juga dapat terjadi karena proses mengeluarkan
Mayoritas responden pada penelitian darah kotor dari dalam tubuh saat dilakukan
ini tidak bekerja atau tidak memiliki penusukan halus pada kulit, yang
aktivitas yang tetap (dalam penelitian ini menyebabkan berkurangnya volume darah,
adalah IRT) sebanyak 9 orang (37,5%). relaksasi otot serta vasodilatasi yang terdeteksi
Dari 9 orang responden yang tidak bekerja oleh baroreseptor yang akan diteruskan ke
tersebut 8 diantaranya adalah ibu rumah medulla oblongata sehingga mengaktifkan
tangga. Ibu rumah tangga merupakan sistem syaraf simpatis atau parasimpatis untuk
profesi yang rentan akan stress. Stress yang mengembalikan tekanan darah mendekati
berkepanjanang ditambah dengan besarnya tekanan darah semula (Thamrin, 2012). Sesuai
beban fisik dan psikis dapat mempengaruhi dengan hasil penelitian Susanah, Sutriningsih
pola tidur, yang nantinya akan dan Warsono (2017) pada 23 orang responden,
mempengaruhi tekanan darah. terjadi penurunan selisih nilai mean pada sistol
Hal ini berbeda dengan penelitian (11,74) dan diastol (7,39) dengan nilai p value
Jansen (2013), dimana penelitian yang (0,00)<α (0,005). Responden mengalami
dilakukan terhadap 15 orang pasien penurunan dari hipertensi grade 2 ke
hipertensi primer yang paling banyak hipertensi grade1.
adalah bekerja sebagai wiraswasta Peneliti juga mendapatkan 3 orang
sebanyak 6 orang (40%). Hal ini mungkin responden dimana tidak terdapat perbedaan
disebabkan aktivitas dan tututan kerja yang tekanan darah diastol sebelum dan setelah
tinggi yang memicu timbulnya stress terapi bekam basah, hal ini disebabkan karena
sehingga meningkatkan tekanan darah. tubuh memiliki mekanisme refleks
baroreseptor yang berusaha mengembalikan
2. Pengaruh terapi bekam basah terhadap tekanan darah mendekati tekanan darah
tekanan darah pada pasien hipertensi semula melalui aktivasi sistem syaraf otonom
grade I (Thamrin, 2012). Sesuai dengan penelitian
Berdasarkan penelitian yang telah Thamrin (2012) dari uji statistik didapatkan
dilakukan di Rumah Sehat Mina Kota tidak ada perbedaan tekanan darah sebelum
Pekanbaru terhadap 24 orang responden dan sesudah terapi bekam dengan nilai p value
didapatkan hasil uji statistik wilcoxon nilai p untuk tekanan darah sistol adalah 0.872>α

55
(0,05) dan tekanan darah diastol 0,343>α terapi bekam basah pada pasien hipertensi
(0,05). dapat menurunkan rata-rata tekanan darah
Responden yang mengalami peningkatan sistol 4,67 mmHg dari rata-rata tekanan darah
tekanan darah diastol setelah terapi bekam sistol sebelum bekam basah 126,42 mmHg ke
basah sebanyak 6 orang responden. Asumsi nilai rata-rata 121,75 mmHg setelah terapi
peneliti hal ini dapat disebabkan karena bekam basah. Untuk tekanan darah diastol
adanya rasa nyeri saat dilakukan penusukan terjadi penurunan rata-rata dari 81,79 mmHg
halus pada area yang dikop atau perasaan sebelum terapi bekam basah ke 80,00 mmHg
cemas terhadap tindakan yang akan dilakukan setelah diberikan terapi bekam basah, terjadi
dimana responden baru pertama kali penurunan rata-rata sebesar 1,79 mmHg.
berbekam. Berdasarkan uji statistik wilcoxon pada
Mekanisme kerja dari terapi bekam tekanan darah sistol menunjukkan hasil yang
basah selain disebutkan di atas, juga dengan signifikan dengan nilai p value (0,003)<α
menimbulkan reaksi peradangan. Reaksi (0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa
peradangan tersebut muncul setelah dilakukan terapi bekam basah berpengaruh terhadap
penusukan untuk mengeluarkan darah tekanan darah sistol pada pasien hipertensi
kotordari dalam tubuh, yang ditunjukkan grade 1 di rumah Sehat Mina. Nilai uji
dengan adanya kerusakan pada cell mask statistik untuk tekanan darah diastol tidak
sehingga kulit (kutis), jaringan bawah kulit menunjukkan hasil yang signifikan dengan
(sub kutis), facia dan otot akan melepaskan nilai p value (0,108)>α (0,05), sehingga dapat
zat seperti serotonin, histamin, bradikinin dan ditarik kesimpulan bahwa terapi bekam basah
slow reacting substance (SRS). Zat-zat inilah tidak berpengaruh terhadap tekanan darah
yang akan menyebabkan dilatasi kapiler dan diastol pada pasien hipertensi grade 1 di
arteriol pada area yang dibekam, perbaikkan Rumah Sehat Mina.
mikrosirkulasi pembuluh darah, relaksasi pada SARAN
otot polos pembuluh darah sehingga 1. Bagi Ilmu Keperawatan
menurunkan tahanan dari pembuluh darah Hasil penelitian ini hendaknya dapat
yang akan berdampak pada menurunnya digunakan untuk tata laksana penurunan
tekanan darah (Ridho, 2015). tekanan darah pada pasien dengan
Penusukan halus yang dilakukan saat hipertensi grade 1 dan dapat digunakan
terapi bekam basah juga dapat menstimulasi sebagai masukan atau sumber informasi di
syaraf permukaan kulit yang akan dilanjutkan masyarakat ataupun di Rumah Sakit sebagai
pada cornu posterior medulla spinalis melalui salah satu pengobatan nonfarmakologi.
syaraf A-delta dan C serta tractus spino 2. Bagi Tempat Penelitian
thalamicus kearah thalamus yang akan Hasil penelitian ini dapat digunakan
menghasilkan endorphine (Ridho, 2015). oleh pasien yang datang berobat ke Rumah
Endorphine yang dihasilkan dapat Sehat Mina untuk mengetahui manfaat
menenangkan dan memperbaiki suasana hati. terapi bekam bagi penderita hipertensi.
Dengan suasana hati yang senang dan tenang Rumah Sehat Mina hendaknya dapat
maka dengan sendirinya tubuh akan merasa menurunkan waktu tunggu pasien wanita
rileks sehingga denyut jantung dan cardiac dengan menambah l tenaga terapis bekam
output akan menurun, yang menyebabkan wanita.
tekanan darah juga akan turun (Irawan & Ari, 3. Bagi Masyarakat
2012). Masyarakat hendaknya dapat
memanfaatkan klinik terapi bekam sebagai
SIMPULAN salah satu pengobatan nonfarmakologi yang
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dapat membantu menurunkan tekanan
karakteristik responden paling banyak usia darah pada pasien hipertensi.
dewasa menengah (66,7%), dengan jenis 4. Bagi Peneliti Selanjutnya
kelamin perempuan (62,5%), mayoritas Hasil penelitian ini dapat dijadikan
pendidikan SMA (50,0%), dan mayoritas sebagai evidence based dan tambahan
pekerjaan tidak bekerja (37,5%). Pemberian informasi untuk mengembangkan penelitian

56
lebih lanjut tentang manfaat lain dari terapi http://ejurnaladhkdr.com/index.php/coba
bekam basah. /article/download/12/6/.
Irianto, K. (2014). Anatomi dan fisiologi.
UCAPAN TERIMAKASIH Bandung: Alfabet.
Terimakasih yang tak terhingga atas bantuan Jansen, S. (2013). Efektifitas terapi bekam
dan bimbingan dari berbagai pihak dalam terhadap penurunan tekanan darah pada
penyelesaian laporan penelitian ini penderita hipertensi primer. Skripsi
(tidak dipublikasikan). Pekanbaru:
1 Universitas Riau.
Mega Ayudia Saundari: Mahasiswa
Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Kemenkes RI. (2013). Riset kesehatan dasar
Riau, Indonesia tahun 2013. Jakarta: Kemenkes RI.
2 Kemenkes RI. (2017). Profil kesehatan
Siti Rahmalia Hairani Damanik: Dosen
Departemen Keperawatan Medikal Bedah Indonesia tahun 2016. Jakarta:
Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Kemenkes RI.
Riau, Indonesia Murtie, A. (2013). Kupas tuntas pengobatan
3 tradisional: Pemahaman, manfaat,
Jumaini: Dosen Departemen Keperawatan
Jiwa Program Studi Ilmu Keperawatan teknik dan praktik. Yogyakarta: Trans
Universitas Riau, Indonesia Idea Publishing.
Muttaqin, A. (2009). Pengantar asuhan
DAFTAR PUSTAKA keperawatan klien dengan gangguan
Asosiasi Bekam Indonesi. (2011). Standard sistem kardiovaskuler.Jakarta: Salemba
Operating Procedure Bekam. Bogor: Medika.
Bidang Penelitian dan Pengembangan Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi penelitian
ABI. kesehatan.Jakarta: Rineka Cipta.
Astuti, D. D. (2013). Pengaruh terapi bekam Nurrahmani, U., & Kurniadi, H. (2015). Stop!:
basah (wet cupping therapy) terhadap Gejala penyakit jantung koroner,
penurunan frekuensi serangan dan skala kolesterol tinggi, diabetes melitus,
nyeri pada penderita migrain di klinik hipertensi. Yogyakarta: Istana Media.
bekam Jetis Malang. Diperoleh tanggal Rahman, M. A. (2016). Pengaruh terapi
08 Agustus 2017 dari http://onesearch. bekam terhadap tekanan darah pada
id/Record/IOS4109.29878?widget=&li b pasien hipertensi di Klinik Bekam Abu
raryid=382#toc. Zaki Mubarak. Diperoleh tanggal 14
Dinkes Kota Pekanbaru.(2014). Profil Agustus 2017 dari http://repository.
kesehatan Kota Pekanbaru tahun 2014. kt.ac.id/dspace/bitstre am/ 123456789/
Diperoleh tanggal 15 Agustus 2017 dari 30634/1/MUHAMMAD%20ALFIAN %
http://www.depkes.go.id/resources/down RAHM A N -FKIK.pdf.
load/profil/PROFILKABKOTA2014/14 Ridho, A. A. (2015). Bekam Sinergi. Jakarta:
71RiauKotaPekanBaru2014.pdf Aqwamedika.
Dinkes Kota Pekanbaru.(2016). Laporan Rosidawati, I., & Nurahmi, I. (2016).Pengaruh
tahunan tahun 2016. Pekanbaru: Dinkes terapi bekam basah terhadap tekanan
Kota Pekanbaru. darah pada pasien hipertensi.Diperoleh
Dinkes Provinsi Riau. (2013). Profil kesehatan tanggal 20 September 2017 dari
Provinsi Riau tahun 2013. Diperoleh https://ojs.unud.ac.id/index.php/coping/a
tanggal tanggal 06 September 2017 dari rticle/view/32447/19567.
http://dinkesriau.net/downlot.php?file=P Safrianda, E., Parjo.,& Maulana, M. A. (2015).
rofil%20Kesehatan%20Provinsi%20Ria Efektifitas terapi bekam basah terhadap
u%20Tahun%202013.pdf. perubahan tekanan darah pada
Irawan, H., & Ari, S. (2012). Pengaruh terapi penderita hipertensi di Rumah Terapi
bekam terhadap penurunan tekanan Thibbun NabawyPontianak.Diperoleh
darah pada klien hipertensi. Diperoleh tanggal 18 September 2017 dari
tanggal 16 Oktober 2017 dari http://jurnal.untan.ac.id/index.php/jmkep

57
erawatanFK/article/download/10528/101
46
Susanah, S., Sutriningsih, A., &
Warsono.(2017). Pengaruh terapi
bekam terhadap penurunan tekanan
darah pada penderita hipertensi di
Poliklinik Trio Husada Malang.
Diperoleh tanggal 23 Januari 2018 dari
https://publikasi.unitri.ac.id/index.php/fi
kes/article/download /651/523
Thamrin, H. (2012). Perbedaan tekanan darah
sebelum dan sesudah terapi bekam di
Rumah Sehat Afiat Cinere.Diperoleh
tanggal 25 Januari 2018 dari http://reposi
tory.uinjkt.ac.id/dspace/handle/1234567
89/25559.
Triyanto, E. (2014). Pelayanan keperawatan
bagi penderita hipertensi secara
terpadu.Yogyakarta: Graha Ilmu.
Umar, W. A. (2011). Sembuh dengan satu
titik. Solo: Al Qowam.
Whelton, P. K, et al. (2017). Guideline for the
prevention, detection, evaluation and
management of high blood pressure in
adult. Diperoleh tanggal 10 Desember
2017 dari http://hyper.Ahajournals.org/
content/hypertensionaha/early/2017/11/1
0/HYP.0000000000000065.full.pdf?dow
n load=true
WHO. (2013). Aglobal brief on hypertension.
Diperoleh tanggal 11 Desember 2017
dari http://apps.who.int/iris/bitstream /10
665/79059/1/WHO_DCOWHD2013.2e
ng.pdf?ua =1
Yasin, A. (2011). Bekam sunnah Nabi dan
mukjizat medis. Surakarta: Al Qowam.

58