Вы находитесь на странице: 1из 231

MODEL PENGELOLAAN LAHAN RAWA LEBAK BERBASIS

SUMBERDAYA LOKAL UNTUK PENGEMBANGAN


USAHATANI BERKELANJUTAN
(Studi Kasus Di Kecamatan Sungai Raya dan
Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya - Kalimantan
Barat)

ROIS

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011
PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN
SUMBER INFORMASI

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa segala pernyataan


dalam disertasi saya yang berjudul ―Model Pengelolaan Lahan Rawa Lebak
Berbasis Sumberdaya Lokal untuk Pengembangan Usahatani Berkelanjutan―
merupakan gagasan atau karya saya dengan arahan Komisi Pembimbing, dan
belum pernah diajukan untuk program sejenis diperguruan tinggi manapun.
Sumber informasi yang berasal atau dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
Daftar Pustaka.

Bogor, Juli 2011

Rois
NRP.P062070021
ABSTRACT

The exploitation of swamp land is still limited when compared to the


cultivation of dry land or irrigated land. Some of the factors that make the
exploitation of swamp area far from expectation and its yields not maximum, for
example 1) the wrong perception of farmers that the farming they are doing now
has given high income, 2) a lack of capital, 3) low technological access, 4)
characteristics of farmer‘s subsistence, and 5) tradition-based farming. This study
was aimed to formulate a resources-based swamp land development model to
increase land productivity and farmer Income. This research was conducted in
the Sub-District of Sungai Ambangah in the District of Sungai Raya, and the Sub-
District of Pasak Piang in the District of Sungai Ambawang, in the Regency of
Kubu Raya, West Kalimantan Province. The analysis of each crop cultivated in
both Sungai Ambangah and Pasak Piang gave the following results respectively
for both areas; (1) rice with the R/C ratio of 3,30 and 4,80; (2) rubber with B/C
ratio of 1,23 and 24,35; and (3) palm with the B/C ratio of 1,52. These results, if
linked to the value of Appropriate Living Needs (ALN) and the minimum land area
(ML) that must be fulfilled, indicate that the farmers in Sungai Ambangah could
reach only 26,92% of ALN and require a minimum land of about 3,15 hectares;
whereas the farmers of Pasak Piang could meet 34,53% of ALN and need a
minimum land of approximately 2,54 hectares. Further, the sustainability status
for the five dimensions in the existing condition of Sungai Ambangah obtained the
index value of 54,82% or the category of sustainable enough for the institutional
dimension, while the other four dimensions got the value of less than 50,00%, or
categorized as less sustainable. As for the village of Pasak Piang, it got the index
value of 52,19% or the category of sustainable enough also for the institutional
dimension, whereas the other four dimensions obtained the value of less than
50,00% or considered less sustainable. The model formulated from the results of
this study is based on the available local resources in both research sites, a
model of sustainable farm development on swamp lands (UTLRL). Conceptually,
this is also called an integrated farming model, that is, by integrating crops and
livestock. The recommended policies formulated from the results of this study
include: (1) the pattern of farming and increased cropping index, (2) maintenance
of livestock, (3) the provision of farm capital, (4) the availability of micro finance
institutions, (5) the active role of agricultural extension agencies, (6) farmers and
farmer groups, (7) support from research institutions and higher education, and
(8) post-harvest management and marketing.

Key words: model management, swamp land, local resources, sustainable


farming
RINGKASAN

ROIS. Model Pengelolaan Lahan Rawa Lebak Berbasis Sumberdaya Lokal


untuk Pengembangan Usahatani Berkelanjutan (Studi Kasus Di Kecamatan
Sungai Raya dan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya – Kalimantan
Barat). Dibimbing oleh SUPIANDI SABIHAM, IRSAL LAS, MUNIF
GHULAMAHDI, dan MACHFUD.

Indonesia mempunyai lahan rawa seluas 33,40 juta hektar yang terdiri
atas rawa pasang surut dan rawa lebak dan umumnya tersebar di Pulau
Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Di Kalimantan Barat, terdapat rawa lebak
seluas 35 436 hektar dan baru dimanfaatkan sekitar 27,6%. Secara umum,
pemanfaatan rawa lebak masih terbatas dan hanya bersifat untuk menopang
kehidupan sehari-hari dan masih tertinggal jika dibandingkan dengan
agroekosistem lain, seperti lahan kering atau lahan irigasi. Hal itu disebabkan
oleh berbagai kendala, baik kendala fisik lahan maupun non fisik. Penelitian
sebelumnya menunjukkan beberapa faktor non fisik sebagai penyebab sehingga
pengusahaan rawa lebak masih jauh dari harapan dan belum memberikan hasil
yang maksimal, antara lain 1) adanya persepsi dari petani yang keliru bahwa
usahatani yang dijalani sekarang telah menghasilkan pendapatan yang tinggi, 2)
kurangnya modal, 3) akses teknologi yang rendah, 4) sifat subsistem petani dan
5) berusahatani karena kebiasaan. Penelitian bertujuan (1) untuk
mengidentifikasi karakteristik rawa lebak dan petani yang memanfaatkan rawa
lebak, (2) menganalisis kesesuaian lahan beberapa tanaman utama yang
diusahakan di rawa lebak, (3) menganalisis kelayakan usahatani saat ini di rawa
lebak, (4) mengetahui indeks dan status keberlanjutan usahatani di rawa lebak,
(5) mengetahui variabel-variabel dominan model pengelolaan rawa lebak
berkelanjutan berdasarkan lima dimensi keberlanjutan, dan (6) merumuskan
model pengelolaan lahan rawa lebak berbasis sumberdaya lokal untuk usahatani
berkelanjutan.
Penelitian dilaksanakan di dua desa, yaitu Desa Sungai Ambangah
Kecamatan Sungai Raya, dan Desa Pasak Piang Kecamatan Sungai Ambawang,
Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat, dari bulan Februari sampai bulan
Oktober 2010. Metode yang digunakan adalah studi literatur, survey dan
observasi langsung ke lapangan, wawancara, dan analisis laboratorium. Data
primer dan data sekunder diperoleh melalui survey lapangan, analisis
laboratorium, wawancara dan studi literatur. Analisis data meliputi: (1) analisis
deskriptif, (2) analisis kesesuaian lahan, (3) analisis kelayakan usahatani, (4)
analisis keberlanjutan, (5) analisis leverage, (6) analisis Monte Carlo, (7) analisis
kebutuhan pemangku kepentingan, (8) analisis prospektif, (9) analisis
pendapatan dan kebutuhan ramahtangga, (10) analisis kebutuhan hidup layak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tanaman utama yang
diusahakan oleh petani di rawa lebak baik di Desa Sungai Ambangah maupun
Pasak Piang terdiri atas: tanaman padi, tanaman karet dan kelapa sawit.
Sedangkan kelas kesesuaian lahan aktual pada masing-masing satuan
penggunaan lahan yaitu pada kelas sesuai marginal (S3nr), dengan faktor
pembatas adalah pH tanah, baik di Desa Sungai Ambangah maupun Pasak
Piang. Analisis usahatani masing-masing tanaman yang diusahakan baik di Desa
Sungai Ambangah maupun Pasak Piang berturut-turut adalah (1) tanaman padi
nilai R/C ratio 3,30 dan 4,8; (2) tanaman karet nilai benefit cost (B/C) ratio 1,23
dan 24,35, dan (3) tanaman kelapa sawit diperoleh nilai B/C ratio adalah 1,52.
Hasil analisis pendapatan usahatani pada kondisi eksisting, apabila dihubungkan
dengan nilai Kebutuhan Hidup Layak (KHL) dan Luas lahan minimal (Lm) yang
harus dipenuhi, maka petani di Desa Sungai Ambangah hanya dapat memenuhi
sebesar 26,92% KHL dan memerlukan luas lahan minimal (Lm) masing-masing
untuk padi, karet dan kelapa sawit adalah 11,48, 5,49 dan 2,21 hektar.
Sedangkan untuk petani di Desa Pasak Piang dapat memenuhi sebesar 34,53%
KHL dan memerlukan luas lahan minimal (Lm) masing-masing untuk padi, karet
dan kelapa sawit 12,63, 3,76 dan 2,21 hektar.
Selanjutnya, status keberlanjutan untuk lima dimensi keberlanjutan pada
kondisi eksisting di Desa Sungai Ambangah diperoleh nilai indeks sebesar
54,82% atau pada kategori cukup berkelanjutan untuk dimensi kelembagaan,
sedangkan empat dimensi lainnya diperoleh nilai kurang dari 50,00% atau
dikategorikan kurang berkelanjutan. Untuk Desa Pasak Piang diperoleh nilai
indeks sebesar 52,19% atau pada kategori cukup berkelanjutan juga untuk
dimensi kelembagaan, sedangkan empat dimensi lainnya diperoleh nilai kurang
dari 50,00% atau dikategorikan kurang berkelanjutan. Variabel-variabel dominan
yang perlu dilakukan perbaikan pada kelima dimensi, masing-masing adalah: [1]
Dimensi ekologi untuk Desa Sungai Ambangah terdiri atas: (1) periode
tergenang, (2) produktivias lahan. Sedangkan Desa Pasak Piang adalah: (1)
produktivias lahan, (2) kandungan bahan organik, (3) periode tergenang, dan (4)
penggunaan pupuk. [2] Dimensi ekonomi untuk Desa Sungai Ambangah terdiri
dari: (1) harga produk usahatani, (2) ketersediaan sarana produksi, (3)
keuntungan usahatani, (4) produksi usahatani, dan (5) ketersediaan modal
usahatani. Sedangkan Desa Pasak Piang adalah: (1) harga produk usahatani,
(2) ketersediaan sarana produksi, (3) keuntungan usahatani, dan (4) efesiensi
ekonomi. [3] Dimensi sosial budaya untuk Desa Sungai Ambangah terdiri dari: (1)
pola hubungan masyarakat dalam usaha pertanian, (2) rumah tangga petani
yang pernah mengikuti penyuluhan pertanian, dan (3) jumlah rumah tangga
petani. Sedangkan Desa Pasak Piang adalah: (1) peran adat dalam kegiatan
pertanian, (2) rumah tangga petani yang pernah mengikuti penyuluhan pertanian,
(3) pola hubungan masyarakat dalam usaha pertanian, (4) jumlah rumah tangga
petani, (5) tingkat pendidikan formal petani, dan (6) intensitas konflik. [4] Dimensi
teknologi untuk Desa Sungai Ambangah terdiri atas: (1) jumlah alat
pemberantasan jasad pengganggu, (2) pengendalian gulma, dan (3) pemupukan.
Sedangkan Desa Pasak Piang adalah: (1) jumlah alat pemberatasan jasad
penggangu, (2) ketersediaan mesin pompa air, dan (3) ketersediaan mesin
pascapanen. [5] Dimensi kelembagaan untuk Desa Sungai Ambangah terdiri
dari: (1) keberadaan petugas penyuluh lapangan, (2) ketersediaan lembaga
keuangan mikro, dan (3) keberadaan lembaga sosial. Sedangkan Desa Pasak
Piang adalah: (1) ketersediaan lembaga keuangan mikro, dan (2) keberadaan
lembaga sosial.
Dari ketiga skenario yang disusun, skenario III, yang memberikan nilai
indeks keberlanjutan dan nilai pendapatan usahatani yang tertinggi untuk kedua
desa penelitian. Nilai indeks keberlanjutan yang diperoleh untuk masing-masing
dimensi, berturut-turut adalah yaitu 59,71%, 92,91%, 90,55%, 76,68% dan
85,70% untuk Desa Sungai Ambangah dan 79,89%, 67,11%, 80,18%, 72,58%
dan 76,23% untuk Desa Pasak Piang. Sedangkan pendapatan yang diperoleh
dari tiga tanaman yang diusahakan berturut-turut adalah Rp2 090 000,-,
Rp4 370 000,- dan Rp10 862 527,60,- per hektar per tahun untuk Desa Sungai
Ambangah dan Rp1 900 000,-, Rp6 387 667,- dan Rp Rp10 862 527,60,- per
hektar per tahun untuk Desa Pasak Piang.
Model yang dirumuskan dari hasil penelitian ini yang didasarkan
ketersediaan sumberdaya lokal yang ada di kedua lokasi penelitian adalah model
pengembangan usahatani lahan rawa lebak (UTLRL) berkelanjutan.
Implementasi model pengelolaan lahan rawa lebak ini disebut juga model
pertanian terpadu. Penerapan dari model pertanian terpadu dimaksud adalah
bentuk integrasi antara tanaman dan ternak.
Hasil simulasi model di Sungai Ambangah petani yang memiliki lahan
usahatani padi dan karet, belum dapat memenuhi Kebutuhan Hidup Layak (KHL).
Sedangkan untuk petani yang mempunyai lahan usahatani padi, karet dan
kelapa sawit, sebanyak 22,50% telah memenuhi KHL dan sisanya sebanyak
77,50% belum memenuhi KHL. Untuk yang belum memenuhi KHL, dengan
melakukan usaha pemeliharaan ternak yang jumlahnya masing-masing 1 – 2
ekor sapi (s1 – s2) dan 50 - 100 ekor itik (i1 - 12) dapat memenuhi KHL. Untuk
petani di Desa Pasak Piang yang memiliki lahan usahatani padi dan karet, dari
seluruh kombinasi penggunaan lahan yang ada sebanyak 16,67% dapat
memenuhi KHL. Dan sisanya sebanyak 83,33% belum dapat memenuhi KHL.
Sedangkan untuk petani yang memiliki lahan usahatani padi, karet dan kelapa
sawit sebanyak 58,33% dapat memenuhi KHL, dan sisanya sebanyak 41,67%
belum dapat memenuhi KHL. Untuk yang belum memenuhi KHL, dapat dilakukan
dengan usaha pemeliharaan ternak yang jumlahnya 1 - 3 ekor sapi (s1 – s3) dan
50 – 150 ekor itik (i1 – i3).
Rekomendasi kebijakan yang dirumuskan dari hasil penelitian ini berupa:
(1) pola tanam dan meningkatkan indeks pertanaman, (2) pemeliharaan ternak,
(3) ketersediaan modal usahatani, (4) ketersediaan lembaga keuangan mikro, (5)
peran aktif lembaga penyuluhan pertanian, (6) peran aktif petani dan kelompok
tani, (7) dukungan lembaga riset dan PT, dan (8) pengelolaan pasacapanen dan
pemasaran hasil.

Keywords: model pengelolaan, lahan rawa lebak, sumberdaya lokal, usahatani,


berkelanjutan
©Hak Cipta milik IPB, tahun 2011
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
yang wajar IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB
MODEL PENGELOLAAN LAHAN RAWA LEBAK
BERBASIS SUMBERDAYA LOKAL UNTUK
PENGEMBANGAN USAHATANI BERKELANJUTAN
(Studi Kasus Di Kecamatan Sungai Raya dan Kecamatan Sungai
Ambawang, Kabupaten Kubu Raya - Kalimantan Barat)

ROIS

Disertasi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Doktor pada
Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2 0 11
Penguji pada Ujian Tertutup (Rabu, 27 April 2011):

1. Dr. Ir. Sri Mulatsih, M.S.


(Staf Pengajar Departemen Ilmu Ekonomi dan
Menejemen, IPB)
2. Dr. Ir. Syaiful Anwar, M.Sc
(Staf Pengajar Departemen Ilmu Tanah dan
Sumberdaya Lahan, Faperta, IPB)

Penguji pada Ujian Terbuka (Kamis, 21 Juli 2011):


1. Dr. Ir. Kasdi Subagyono, M.Sc
(Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan
Teknologi Pertanian, Departemen Pertanian)
2. Dr. Ir. Sandra A. Azis, M.S.
(Staf Pengajar Departemen Agronomi dan
Hortikultura, Faperta, IPB)
Judul Disertasi : Model Pengelolaan Lahan Rawa Lebak Berbasis Sumberdaya
Lokal untuk Pengembangan Usahatani Berkelanjutan (Studi
Kasus di Kecamatan Sungai Raya dan Kecamatan
Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya – Kalimantan
Barat)
Nama : Rois
NRP. : P. 062070021
Program Studi : Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan

Disetujui
Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Supiandi Sabiham, M.Agr Prof(r). Dr. Ir. Irsal Las, M.S
Ketua Anggota

Dr. Ir. Munif Ghulamahdi, M.S Dr. Ir. Machfud, M.S


Anggota Anggota

Mengetahui

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana


Pengelolaan Sumberdaya Alam dan
Lingkungan

Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, M.S Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc. M.Agr

Tanggal Ujian: 21 Juli 2011 Tanggal Lulus:


PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-
Nya sehingga disertasi ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam
penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Februari 2010 ini ialah kebijakan
pengelolaan rawa lebak, dengan judul Model Pengelolaan Lahan Rawa Lebak
Berbasis Sumberdaya Lokal untuk Pengembangan Usahatani Berkelanjutan di
Kalimantan Barat.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:
1. Prof. Dr. Ir. Supiandi Sabiham, M.Agr, selaku ketua komisi pembimbing yang
telah memberikan arahan, nasehat dan motivasi secara terus menerus
dengan penuh dedikasi dari awal perencanaan penelitian sampai selesainya
disertasi ini.
2. Prof. Dr. Ir. Irsal Las, MS, Dr. Ir. Munif Ghulamahdi, MS dan Dr. Ir. Machfud,
MS, selaku anggota komisi pembimbing yang telah banyak memberikan
bimbingan, arahan, saran, dan koreksian-koreksiannya yang kritis dan tajam
sehingga menambah kualitas disertasi ini.
3. Rektor Universitas Panca Bhakti dan Dekan Fakultas Pertanian Universitas
Panca Bhakti Pontianak yang telah memberikan kesempatan kepada penulis
untuk mengikuti pendidikan program Doktor di Institut Pertanian Bogor.
4. Dr. Ir. Sri Mulatsih, MS, Staf Pengajar Departemen Ilmu Ekonomi dan
Menejemen IPB, dan Dr. Ir. Syaiful Anwar, M.Sc, Staf Pengajar Departemen
Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB, sebagai Dosen Penguji pada Ujian
Tertutup.
5. Dr. Ir. Kasdi Subagyono, M.Sc, Kepala Balai Besar Pengkajian dan
Pengembangan Teknologi Pertanian, Departemen Pertanian, dan Dr. Ir.
Sandra Arifin Aziz, MS, Staf Pengajar Departemen Agronomi dan
Hortikultura IPB, sebagai Penguji Luar Komisi pada Ujian Terbuka.
6. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional,
yang telah memberikan bantuan beasiswa BPPS.
7. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian RI,
melalui penelitian program Kerjasama Kemitraan Penelitian Pertanian
dengan Perguruan Tinggi (KKP3T).
8. Pemerintah Kabupaten Kubu Raya, khususnya dinas teknis terkait, Bapak
Sarja, SP dan Ibu Ir. Yerlina sebagai kepala BPP Sungai Ambawang dan
Sungai Raya, PPL di Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang, yang telah
memberikan bantuan dan informasinya.
9. Para mahasiswa Iskandar, Muhammad Irsad, Johandi, Risi, yang telah
membantu dan para Ketua dan Anggota Kelompok Tani serta masyarakat,
baik di Desa Sungai Ambangah maupun di Desa Pasak Piang yang telah
memberikan informasi dengan segala kesungguhan membantu peneliti
selama proses pengumpulan data.
10. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan
Lingkungan Institut Pertanian Bogor khususnya angkatan 2007 atas
kebersamaan dan kerjasamanya selama menempuh pendidikan.
11. Orang Tua dan Mertua saya, Kakak dan Adik serta seluruh keluarga yang
telah memberikan doa, semangat dan kasih sayangnya selama penulis
menempuh pendidikan.
12. Istriku Irma Saftariana, SH dan putra putriku Filza Ghassani Ladupa dan
Hafizt Ghilman Ramadhan Ladupa atas segala pengertian, pengorbanan,
ketabahan serta doa dan kasih sayangnya.
Penulis menyadari bahwa disertasi ini masih jauh dari sempurna, namun
demikian penulis berharap semoga disertasi ini bermanfaat.

Bogor, Juli 2011

Rois
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Donggala pada tanggal 29 Januari 1967, merupakan


putra keempat dari enam bersaudara dari ayah Hasbi Ladupa dan Ibu Siti
Maemunah. Pendidikan sarjana ditempuh di jurusan Agronomi Fakultas
Pertanian Universitas Tadulako (UNTAD) Palu, lulus pada tahun 1992. Pada
tahun 2000 penulis mengikuti program Magister Pertanian (S2) di Program
Pascasarjana Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung, pada Program Studi
Ilmu Tanah. Kesempatan untuk melanjutkan ke program doktor pada program
studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan di Institut Pertanian Bogor
pada tahun 2007, dengan Beasiswa BPPS diperoleh dari Departemen
Pendidikan Nasional Republik Indonesia.

Sejak Maret 1994 sampai saat ini, penulis bekerja sebagai staf pengajar
di Fakultas Pertanian Universitas Panca Bhakti (UPB) Pontianak di lingkungan
Koordinator Perguruan Tinggi (Kopertis) Wilayah XI Kalimantan.

Artikel ilmiah penulis berjudul ―Analisis Indeks dan Status Keberlanjutan


Pemanfaatan Rawa Lebak di Desa Pasak Piang Kecamatan Sungai Ambawang,
Kabupaten Kubu Raya – Kalimantan Barat‖ telah diterbitkan dalam Jurnal
Ekonomi dan Pembangunan ISSN: 0852-9124, Volume II Nomor 2 Nopember
2010. Artikel berjudul ―Model Pengembangan Lahan Rawa Lebak Berbasis
Sumberdaya Lokal untuk Peningkatan Produktivitas Lahan dan Pendapatan
Petani‘ akan diterbitkan pada Jurnal Sumberdaya Lahan dan Lingkungan edisi
Oktober 2011. Artikel berjudul ―Analisis Indeks dan Status Keberlanjutan
Usahatani di Rawa Lebak Desa Sungai Ambangah Kabupaten Kubu Raya‖ siap
terbit dalam Jurnal Agrosains ISSN: 1693-5225, Volume 8, Nomor 1 April 2011.
Karya-karya ilmiah tersebut merupakan bagian dari program S3 penulis.
DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL………………………………………………………………….. xv
DAFTAR GAMBAR………………………………………………………………. xix
DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………………….. xxiii
I PENDAHULUAN…………………………………………………………. 1
1.1 1.1 Latar Belakang…………………………….………………………… 1
1.2 1.2 Tujuan Penelitian…………………………….…….………………... 4
1.2.1 Tujuan Umum………………………….……………………… 4
1.2.2 Tujuan Khusus………….…………………………………….. 4
1.3 1.3 Kerangka Pemikiran………..……………………………………….. 5
1.4 1.4 Perumusan Masalah………………………………………………… 6
1.5 1.5 Manfaat Penelitian…………………………………………………... 7
1.6 1.6 Kebaruan (Novelty)………………………………………………….. 8
II TINJAUAN PUSTAKA…………………………………………………… 9
2.1 Pengertian Rawa Lebak…………………………………………….. 9
2.2 Karakteristik Ekologi Lahan Rawa Lebak…………………………. 11
2.3 Sumberdaya Lokal…………………………………………………... 12
2.4 Produktivitas………………………………………………………….. 13
2.5 Pendapatan Petani…..……………………………………………... 14
2.6 Analisis Usahatani…………………………………………………… 15
2.6.1 Indikator kelayakan usahatani……………………………….. 15
2.6.2 Kebutuhan Hidup Layak……………………………………… 16
2.7 Sistem Usahatani Berkelanjutan…………………………………… 17
2.8 Indikator untuk Mengukur Keberlanjutan………………………….. 21
III METODOLOGI PENELITIAN…………………………………………… 23
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian……………………………………….. 23
3.2 Bahan dan Alat………………………………………………………. 24
3.3 Disain Penelitian……………………………………………………... 24
3.4 Rancangan Penelitian……………………………………………….. 27
3.5 Jenis dan Sumber Data……………………………………………... 28
3.5.1 Data fisik tanah dan iklim…………………………………….. 28
2.5.2 Data tanaman…………………………………………………. 29
2.5.3 Data sosial,ekonomi teknologi dan kelembagaan…………. 29
3.6 Metode Pengumpulan Data………………………………………… 30
3.7 Teknik Pengambilan Sampel………………………………………. 30
3.8 Analisis Data…………………………………………………………. 30
3.8.1 Analisis deskriptif…………………………………………….. 31
3.8.2 Analisis kesesuaian lahan…………………………………… 31
3.8.3 Analisis kelayakan usahatani……………………..……….... 31
3.8.4 Analisis keberlanjutan………………………………………... 32
3.8.5 Analisis Leverage…………………………………………….. 34
3.8.6 Analisis Monte Carlo…………………………………………. 34
3.8.7 Analisis kebutuhan pemangku kepentingan (Stakeholder) 35
3.8.8 Analisis prospektif…………………………………………….. 35
3.8.9 Analisis pendapatan dan kebutuhan rumahtangga……..... 38
3.8.10 Analisis kebutuhan hidup Layak (KHL)…………………… 38
3.9 Rekomendasi Kebijakan……………………………………………. 39
IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN………………………………. 41
4.1 Luas Wilayah dan Kepadatan Penduduk…………………………. 41
4.2 Penggunaan Lahan, Topografi dan Iklim……………….………… 43
4.3 Kondisi Sosial dan Ekonomi……………………………….………. 46
4.4 Karakteristik Lahan dan Petani Rawa Lebak…………………….. 48
4.5 Jenis Tanaman, Produktivitas, dan Kendala Usahatani………… 52
4.6 Analisis Kesesuaian Lahan………………………………………… 53
V ANALISIS PENDAPATAN DAN KEBUTUHAN RUMAHTANGGA…. 59
5.1 Analisis Kelayakan Usahatani…………………………………….. 59
5.1.1 Usahatani padi………………………………………………. 59
5.1.2 Usahatani karet……………………………………………... 61
5.1.3 Usahatani Kelapa Sawit……………………………………. 64
5.2 Analisis Pendapatan dan Kebutuhan Rumahtangga…………… 65
5.2.1 Pendapatan rumahtangga petani…………………………. 65
5.2.2 Pengeluaran rumahtangga petani………………………… 70
5.2.3 Tingkat pemenuhan rumahtangga petani………………… 71
5.3 Analisis Kebutuhan Hidup Layak dan Luas Lahan Minimal……. 73
VI STATUS KEBERLANJUTAN USAHATANI RAWA LEBAK SAAT INI 77
6.1 Keberlanjutan Rawa Lebak Masing-masing Dimensi………..…. 77
6.1.1 Keberlanjutan rawa lebak dimensi ekologi……………….. 77
6.1.2 Keberlanjutan rawa lebak dimensi ekonomi……………… 80
6.1.3 Keberlanjutan rawa lebak dimensi sosial budaya……….. 82
6.1.4 Keberlanjutan rawa lebak dimensi teknologi…………….. 84
6.1.5 Keberlanjutan rawa lebak dimensi kelembagaan……….. 86
6.1.6 Pola indeks keberlanjutan usahatani rawa lebak dalam
diagram layang……………..………………………………. 89
6.2 Variabel-Variabel Dominan dalam Pengelolaan Lahan Rawa
Lebak Berkelanjutan……………………… ………………………. 92
6.2.1 Atribut sensitif yang mempengaruhi sistem pengelolaan
rawa lebak……………………………………………………. 93
6.2.2 Kebutuhan pemangku Kepentingan………………………. 95
6.2.3 Faktor penting untuk keberlanjutan pengelolaan rawa
Lebak………………………………………………………… 96
6.3 Skenario Model Pengelolaan Lahan Rawa Lebak Berkelanjutan 102
6.4 Nilai Indeks Keberlanjutan masing-masing skenario dan
gabungan antara MDS dan kebutuhan Stakeholders dari lima
Dimensi dan Nilai BC ratio, Persentase KHL, dan Lm antara
Kondisi Eksisting dengan masing-masing Skenario..………….. 109
VII MODEL PENGEMBANGAN DAN STRATEGI PENERAPAN
USAHATANI DI RAWA LEBAK………………………………………... 117
7.1 Sumberdaya Lokal Rawa Lebak..…………………………………. 117
7.2 Potensi Turunan Sumberdaya Lokal Rawa Lebak………………. 122
7.2.1 Pengolahan padi…………………………………………….. 125
7.2.2 Sekam………………………………………………………… 126
7.2.3 Dedak…………………………………………………………. 128
7.3 Konsep Pengembangan Usahatani di Rawa Lebak
Berdasarkan Sumberdaya Lokal………………………………….. 129
7.4 Model Pengembangan Usahatani Berdasarkan Pola Tanam
Tanaman Setahun………………………………………………….. 144
7.5 Model Konseptual Pengembangan Usahatani Lahan Rawa
Lebak (UTLRL)……………………………………………………… 157
VIII REKOMENDASI KEBIJAKAN………………………………………….. 165
IX KESIMPULAN DAN SARAN…………………………………………… 169
9.1 Kesimpulan………………………………………………………….. 169
9.2 Saran…………………………………………………………………. 170
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………................ 171
LAMPIRAN…………………………………………………………………………. 183
DAFTAR TABEL

Halaman
11.7 Pembagian lahan rawa lebak berdasarkan ketinggian dan lama
genangan..………………………………………………………………….. 10
21.8 Parameter kimia dan fisik serta metode analisis yang digunakan……. 28
31.9 Jenis, sumber dan teknik pengumpulan data…………………………... 29
4 Kategori indeks dan status keberlanjutan………………………………. 33
5 Pedoman penilaian………………………………………………………… 36
6 Pengaruh antar faktor……………………………………………………... 36
7 Ilustrasi keadaan yang mungkin terjadi dimasa yang akan datang….. 37
8 Kemungkinan skenario model pengelolaan rawa lebak berkelanjutan 38
9 Luas wilayah, Ibukota Kecamatan dan jumlah desa di Kabupaten
Kubu Raya………………………………………………………………….. 41
10 Jumlah penduduk Kabupaten Kubu Raya menurut jenis kelamin
(jiwa)………………………………………………………………………… 42
11 Penggunaan lahan di Kabupaten Kubu Raya Tahun 2008…………… 43
12 Kemiringan lahan di Kabupaten Kubu Raya……………………………. 43
13 Curah hujan (mm) rata-rata bulanan tahun 2000-2010 di Kabupaten
Kubu Raya………………………………………………………………….. 44
o
14 Suhu udara ( C) rata-rata bulanan tahun 2000-2010 di Kabupaten
KubuRaya…………………………………………………………………... 45
15 Kelembaban udara (%) rata-rata bulanan tahun 2000-2010 di
Kabupaten Kubu Raya……………………………………………………. 46
16 Pertumbuhan ekonomi, PDRB dan nilai LQ menurut sektor
Kabupaten Kubu Raya tahun 2003 – 2006 (Persen)………………….. 47
17 Kondisi fisik lahan, Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang………. 49
18 Selisih rata-rata produksi dan penggunaan faktor produksi dibanding
anjuran di lahan rawa lebak Sungai Ambangah dan Pasak Piang…… 49
19 Keragaan umum dan status kepemilikan lahan petani di Sungai
Ambangah dan Pasak Piang…………………………………………….. 51
20 Jenis tanaman, produksi, kendala dan peluang perbaikan usahatani
di rawa lebak Desa Sungai Ambangah Kecamatan Sungai Raya dan
Pasak Piang……………………………………………………………….. 52
21 Nilai penerimaan dan pendapatan petani berdasarkan produksi
eksisting beberapa jenis tanaman di rawa lebak (Rp/th)……………… 53
22 Hasil analisis kesesuaian lahan aktual di Desa Sungai Ambangah….. 54
23 Hasil analisis kesesuaian lahan potensial di Desa Sungai Ambangah 55
24 Hasil analisis kesesuaian lahan aktual di Desa Pasak Piang………… 56
25 Hasil analisis kesesuaian lahan potensial di Desa Pasak Piang…….. 57
26 Hasil analisis usahatani padi di rawa lebak Desa Sungai Ambangah
dan Pasak Piang (ha/th)………………………………………………….. 60
27 Hasil analisis sensitivitas usahatani padi akibat fluktuasi harga,
produksi dan biaya produksi di Desa Sungai Ambangah (ha)………. 60
28 Hasil analisis sensitivitas usahatani padi akibat fluktuasi harga,
produksi dan biaya produksi di Desa Pasak Piang (ha)………………. 61
29 Hasil analisis usahatani karet di rawa lebak Desa Sungai Ambangah
dan Pasak Piang (ha/th)…………………………………………………... 62
30 Hasil analisis sensitivitas usahatani karet di rawa lebak akibat
fluktuasi harga, produksi dan biaya produksi di Desa Sungai
Ambangah………………………………………………………………….. 63
31 Hasil analisis sensitivitas usahatani karet di rawa lebak akibat
fluktuasi harga, produksi dan biaya produksi di Desa Pasak Piang…. 63
32 Hasil analisis usahatani kelapa sawit di rawa lebak Desa Sungai
Ambangah dan Pasak Piang (ha/th)…………………………………… 64
33 Hasil analisis sensitivitas usahatani kelapa sawit di rawa lebak akibat
fluktuasi harga, produksi dan biaya produksi di Desa Sungai
Ambangah dan Pasak Piang…………………………………………….. 65
34 Jenis usaha non pertanian responden di Desa Sungai Ambangah
dan Pasak Piang…………………………………………………………… 66
35 Sumber dan rata-rata nilai pendapatan rumahtangga petani rawa
lebak di Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang…………………… 67
36 Sumber dan rata-rata nilai pendapatan rumahtangga petani rawa
lebak di Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang dari hasil
usahatani (Rp/bln)…………………………………………………………. 68
37 Sumber dan rata-rata nilai pendapatan rumahtangga petani rawa
lebak di Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang dari hasil
usahatani dan usaha ternak (Rp/bln)……………………………………. 68
38 Sumber dan rata-rata nilai rendapatan rumahtangga petani rawa
lebak di Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang dari hasil
usahatani dan tukang bangunan (Rp/bln)………………………………. 69
39 Sumber dan rata-rata nilai pendapatan rumahtangga petani rawa
lebak di Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang dari hasil
usahatani dan usaha kios (Rp/bln)……………………………………… 70
40 Rata-rata nilai pengeluaran rumahtangga petani rawa lebak………… 71
41 Rata-rata tingkat pemenuhan kebutuhan rumahtangga petani di
Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang berdasarkan jenis
penghasilan dan jumlah pengeluaran (Rp/bln)………………………… 72
42 Kebutuhan Hidup Layak di Desa Sungai Ambangah dan Pasak
Piang per Tahun…………………………………………………………... 73
43 Pendapatan petani dari hasil usahatani padi, karet dan kelapa sawit
terhadap KHL (%) di Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang
(ha/th)……………………………………………………………………….. 74
44 Luas lahan minimal (Lm) di Desa Sungai Ambangah dan Pasak
Piang dari masing-masing tanaman yang diusahakan terhadap KHL 75
45 Atribut sensitif mempengaruhi keberlanjutan pengelolaan rawa lebak
di Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang………………………….. 89
46 Nilai Stress dan R2 status keberlanjutan pengelolaan rawa lebak
dimasing-masing lokasi penelitian………………………………………. 91
47 Perbedaan Indeks keberlanjutan antara Rap-Lebak (MDS) dengan
Monte Carlo Pada masing-masing Lokasi Penelitian…………………. 92
48 Penggabungan dan penyederhanaan kebutuhan para pemangku
kepentingan………………………………………………………………... 95
49 Faktor-faktor penting/pengungkit dari hasil analisis keberlanjutan dan
analisis pemangku kepentingan berdasarkan bobotnya……………… 97
50 Penyederhanaan/penggabungan faktor-faktor penting berdasarkan
prioritas untuk Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang…………… 98
51 Uraian masing-masing skenario untuk pengembangan model
pengelolaan rawa lebak di Desa Sungai Ambangah dan Pasak
Piang………………………………………………………………………... 103
52 Atribut sensitif masing-masing dimensi yang dinaikkan pada
skenario I untuk Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang…………. 104
53 Nilai indeks keberlanjutan pengelolaan rawa lebak untuk Desa
Sungai Ambangah dan Pasak Piang pada skenario I………………… 105
54 Atribut sensitif masing-masing dimensi yang dinaikkan pada
skenario II untuk Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang………… 106
55 Nilai indeks keberlanjutan pengelolaan rawa lebak untuk Desa
Sungai Ambangah dan Pasak Piang pada skenario II………………... 107
56 Atribut sensitif masing-masing dimensi yang dinaikkan pada
skenario III untuk Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang………... 108
57 Nilai indeks keberlanjutan pengelolaan rawa lebak untuk Desa
Sungai Ambangah dan Pasak Piang pada skenario III……………….. 109
58 Nilai indeks keberlanjutan masing-masing dimensi, nilai indeks
keberlanjutan gabungan antara MDS dan kebutuhan stakeholders
antara kondisi eksisting dengan masing-masing skenario di Desa
Sungai Ambangah dan Pasak Piang…………………………………… 109
59 Nilai BC ratio, persentase KHL (%) dan Lm (ha/KK) antara kondisi
eksisting dengan masing-masing skenario di Desa Sungai
Ambangah dan Pasak Piang…………………………………………….. 110

60 Pendapatan dan nilai tambah pendapatan dari kondisi eksisting


terhadap masing-masing skenario yang disusun untuk Desa Sungai
Ambangah dan Pasak Piang…………………………………………….. 111

61 Jarak euclidian antara kondisi eksisting dan masing-masing skenario


di Desa Sungai Ambangah………………………………………………. 114
62 Jarak Euclidian antara kondisi eksisting dan masing-masing skenario
di Desa Pasak Piang……………………………………………………… 115
63 Potensi sumberdaya lokal di Desa Sungai Ambangah dan Pasak
Piang………………………………………………………………………... 117
64 Luas panen padi. potensi limbah jerami dan produksi pupuk kompos
di wilayah Kecamatan Polokarta tahun 2007…………………………... 123
65 Komposisi sekam................................................................................. 127
66 Analisa usahatani ternak kambing (skala usaha 9 ekor) dengan
pemberian Blok Suplemen Pakan (BSP)………………………………. 138
67 Rata-rata pendapatan peternak itik sistem pemeliharaan tradisional
(Rp/Bulan)………………………………………………………………….. 139
68 Analisis ekonomi usaha ternak ayam (Rp/th)………………………….. 140
69 Pola usahatani padi dan jagung berbasis sumberdaya tanaman lokal 142
70 Berbagai pola tanam padi dan jagung terhadap jenis ternak…………. 143
71 Pola integrasi tanaman karet dan jenis ternak…………………………. 143
72 Pola integrasi tanaman kelapa sawit dan jenis ternak………………… 144
73 Pola tanam pada suatu daerah irigasi…………………………………… 149
74 Pola tanam di rawa lebak………………………………………………… 150
75 Rekomendasi pola tanam untuk tanaman pangan berbasis
sumberdaya tanaman lokal………………………………………………. 154
76 Pola usahatani tanaman pangan (padi – jagung), perkebunan (karet,
sawit) dan ternak……….…………………………………………………. 159
77 Pola usahatani tanaman pangan (padi, jagung), perkebunan (karet,
sawit) dan ternak………………………………………………………….. 160
78 Matriks luas kepemilikan lahan petani berbasis padi untuk
memenuhi KHL …………………………………………………………… 162
79 Rekomendasi kebijakan model usahatani rawa lebak berkelanjutan 166
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1 Karangka pemikiran penelitian…………………………………………. 6
2 Peta lokasi penelitian [a] Provinsi Kalimantan Barat, [b] Kabupaten
Kubu Raya, [c] Kecamatan Sungai Raya, dan [d] Kecamatan
Sungai Ambawang………………………………………………………. 23
3 Struktur tujuan, metode, variabel dan keluaran/output penelitian….. 26
4 Diagram layang indeks keberlanjutan………….……………………… 33
5 Tingkat pengaruh dan ketergantungan antar faktor dalam sistem…. 37
6 Persentase luas wilayah berdasarkan kecamatan di Kabupaten
Kubu Raya………………………………………………………………... 42
7 Curah hujan (mm) rata-rata bulanan tahun 2000-2010 di
Kabupaten Kubu Raya…………………………………………………... 44
8 Suhu (oC) rata-rata bulanan di Kabupaten Kubu Raya……………… 45
9 Kelembaban (%) udara rata-rata bulanan di Kabupaten Kubu Raya 46
10 Distribusi penduduk menurut suku bangsa diKabupaten Kubu Raya 47
11 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang
mempengaruhi keberlanjutan dimensi ekologi (b) di rawa lebak
Desa Sungai Ambangah………………………………………………… 77
12 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang
mempengaruhi keberlanjutan dimensi ekologi (b) di rawa lebak
Desa Pasak Piang……………………………………………………….. 79
13 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang
mempengaruhi keberlanjutan dimensi ekonomi (b) di rawa lebak
Desa Sungai Ambangah………………………………………………… 80
14 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang
mempengaruhi keberlanjutan dimensi ekonomi (b) di rawa lebak
Desa Pasak Piang……………………………………………………….. 81
15 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang
mempengaruhi keberlanjutan dimensi sosial budaya (b) di rawa
lebak Desa Sungai Ambangah…………………………………………. 82
16 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang
mempengaruhi keberlanjutan dimensi sosial budaya (b) di rawa
lebak Desa Pasak Piang………………………………………………… 83
17 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang
mempengaruhi keberlanjutan dimensi teknologi (b) di rawa lebak
Desa Sungai Ambangah………………………………………………… 85
18 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang
mempengaruhi keberlanjutan dimensi teknologi (b) di rawa lebak
Desa Pasak Piang……………………………………………………….. 86
19 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang
mempengaruhi keberlanjutan dimensi kelembagaan (b) di rawa
lebak Desa Sungai Ambangah…………………………………………. 87
20 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang
mempengaruhi keberlanjutan dimensi kelembagaan (b) di rawa
lebak Desa Pasak Piang………………………………………………… 88
21 Diagram layang analisis indeks dan status keberlanjutan rawa
lebak di Sungai Ambangah……………………………………………... 91
22 Diagram layang analisis indeks dan status keberlanjutan rawa
lebak di Pasak Piang……………..……………………………………… 91
23 Pengaruh dan ketergantungan antar atribut sensitif berdasarkan
hasil analisis leverage di Desa Sungai Ambangah…………………... 93
24 Pengaruh dan ketergantungan antar atribut sensitif berdasarkan
hasil analisis leverage di Desa Pasak Piang………………………….. 94
25 Pengaruh dan ketergantungan antar faktor pengungkit berdasarkan
analisis kebutuhan stakeholders di Desa Sungai Ambangah dan
Pasak Piang………………………………………………………………. 96
26 Pengaruh dan ketergantungan antar faktor pengungkit hasil
analisis leverage dan pemangku kepentingan di Sungai Ambangah 99
27 Pengaruh dan ketergantungan antar faktor pengungkit hasil
analisis leverage dan pemangku kepentingan di Pasak Piang…….. 101
28 Indeks keberlanjutan lima dimensi keberlanjutan masing-masing
pada kondisi eksisting, skenario I, II, dan III untuk Desa Sungai
Ambangah………………………………………………………………… 113
29 Indeks keberlanjutan lima dimensi keberlanjutan masing-masing
pada kondisi eksisting, skenario I, II, dan III untuk Desa Pasak
Piang………………………………………………………………………. 113
30 Sistem usahatani terpadu di adopsi dari Rustam et al. (2009)……… 136
31 Model konseptual pengembangan UTLRL berbasis sumberdaya
lokal………………………………………………………………………... 158
32 Pola usahatani padi, karet, sawit dan ternak………….……………… 159
33 Pola usahatani tanaman padi, tanaman perkebunan dan ternak….. 161
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
1 Hasil analisis contoh tanah lebak Sungai Ambangah, Kecamatan
Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya….………………………………. 183
2 Hasil analisis contoh tanah lebak Pasak Piang, Kecamatan Sungai
Ambawang, Kabupaten Kubu Raya….…………..……………………. 183
3 Kriteria penilaian sifat kimia tanah………………………………….….. 184
4 Kriteria kesesuaian lahan untuk padi sawah tadah hujan…………… 185
5 Kriteria kesesuaian lahan untuk karet…………………………………. 186
6 Kriteria kesesuaian lahan untuk kelapa sawit.………………………... 187
7 Penerimaan, pengeluaran dan pendapatan per hektar dari
usahatani padi di rawa lebak Desa Sungai Ambangah……………... 188
8 Penerimaan, pengeluaran dan pendapatan per hektar dari
usahatani padi di rawa lebak Desa Pasak Piang…………..……….... 188
9 Hasil analisis usahatani karet di rawa lebak Desa Sungai Ambanga 189
10 Hasil analisis usahatani karet di rawa lebak Desa Pasak Piang……. 189
11 Rekapitulasi analisis pendapatan usahatani kelapa sawit di Desa
Sungai Ambangah dan Pasak Piang (ha/th)………………………….. 190
12 Proyeksi produksi karet kering dan estimasi produksi lateks….……. 191
13 Perkiraan produksi TBS, minyak sawit dan inti sawit pada berbagai
umur tanaman kelapa sawit………………………………………….…. 192
14 Atribut dan skor keberlanjutan ekologi di rawa lebak………………… 193
15 Atribut dan skor keberlanjutan ekonomi di rawa lebak………………. 194
16 Atribut dan skor keberlanjutan sosial budaya di rawa lebak………… 195
17 Atribut dan skor keberlanjutan teknologi di rawa lebak……………… 196
18 Atribut dan skor keberlanjutan kelembagaan di rawa lebak………… 197
19 Simulasi pola pertanian terpadu berbagai praktek usahatani dari
berbagai tanaman berbasis sumberdaya tanaman lokal dan jenis
ternak untuk Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang…………… 198
20 Estimasi pendapatan (Rp/tahun) dari simulasi model pertanian
terpadu di Desa Sungai Ambangah……………………………………. 201
21 Estimasi pendapatan (Rp/tahun) dari simulasi model pertanian
terpadu di Desa Pasak Piang…………………………………………... 204
22 Simulasi pendapatan petani di Desa Sungai Ambangah
berdasarkan luas kepemilikan lahan usahatani dalam
memenuhi KHL…………………………………………………………… 207
23 Simulasi pendapatan petani di Desa Pasak Piang berdasarkan luas
kepemilikan lahan usahatani dalam memenuhi KHL………………… 212
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Rawa merupakan sebutan bagi semua lahan yang tergenang air, yang
penggenangannya dapat bersifat musiman ataupun permanen dan ditumbuhi
oleh tumbuhan (vegetasi). Di Indonesia terdapat lahan rawa meliputi areal 33,40
– 39,40 juta hektar (Subagjo dan Widjaja-Adhi, 1998), sedangkan menurut Ardi et
al., (2006) luas lahan ini diperkirakan sekitar 33,40 juta hektar yang terdiri dari
rawa pasang surut dan rawa lebak. Rawa pasang surut seluas 24,20 juta hektar
dan rawa lebak seluas 13,27 juta hektar, yang umumnya tersebar di Pulau
Sumatera 5,70 juta hektar, Kalimantan 3,40 juta hektar, dan Papua 5,20 juta
hektar (Balai Penelitian Rawa, 2005).
Berdasarkan sistem klasifikasi Ramsar, lahan rawa atau lahan basah
terbagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu lahan basah pesisir dan lautan, lahan
basah daratan, dan lahan basah buatan (Puspita, 2005). Rawa lebak (swamps
land) termasuk ke dalam lahan basah daratan. Provinsi Kalimantan Barat,
dengan luas total 14,64 juta hektar memiliki ekosistem lahan basah seluas
3 659 736 hektar (Hikmatullah et al., 2008). Dari luasan tersebut, terdapat sekitar
35 436 hektar adalah rawa lebak. Dan baru sekitar 9 796 hektar atau sekitar
27,6% yang telah dimanfaatkan (Dinas Pertanian Provinsi Kalbar, 2008).
Rawa lebak umumnya merupakan daerah yang terdapat di kiri dan kanan
sungai besar dan anak sungai, dengan topografi datar, tergenang air pada
musim penghujan, dan kering pada musim kemarau. Genangan air merupakan
watak bawaan (inherence) dan sebagai ciri hidro-ekologi rawa sehingga dapat
menjadi unsur pembeda utama, antara satu daerah dengan lainnya, sekalipun
dalam satu kawasan (Noor, 2007). Ekosistem rawa lebak merupakan dataran
banjir, dan dibeberapa tempat selain untuk kegiatan pertanian, juga memiliki
kontribusi penting bagi masyarakat sekitar untuk kegiatan perikanan, dan dari
kegiatan ini rawa lebak dapat dijadikan sebagai salah satu sumber protein
hewani, jalur transportasi, kesempatan kerja dan juga sebagai sumber
penghasilan alternatif (Sulistiyarto, 2008).
Dalam keadaan tergenang, rawa lebak lebih sesuai untuk usaha tanaman
padi, oleh sebab itu padi merupakan salah satu komoditi penting dalam sistem
usahatani di rawa lebak. Dari total lahan rawa lebak yang telah diusahakan untuk
pertanian, hampir 91 persen diusahakan untuk usahatani padi dengan pola
tanam satu kali dalam setahun, sedangkan yang diusahakan dua kali padi
setahun baru sekitar 9 persen (Sudana, 2005). Pada kondisi kering rawa lebak
banyak diusahakan tanaman palawija (Waluyo, 2000). Berdasarkan hasil
penelitian dengan menggunakan varietas unggul, produktivitas padi di lahan
rawa lebak dapat mencapai 2,0 – 2,5 ton per hektar (Noor, 2007), dan tanaman
kedelai mencapai 1,2 – 1,9 ton hektar (Waluyo dan Ismail, 1995). Namun
demikian, pemanfaatan lahan rawa lebak masih terbatas dan hanya bersifat
untuk menopang kehidupan sehari-hari dan masih tertinggal jika dibandingkan
dengan agroekosistem lain, seperti lahan kering atau lahan irigasi (Noor, 2007).
Rawa lebak merupakan ekosistem yang lebih cepat rusak dan berubah jika
dibandingkan dengan ekosistem lain, dan tidak hanya rentan terhadap
perubahan langsung seperti konversi menjadi lahan pertanian atau permukiman,
tetapi juga rentan terhadap perubahan kualitas air sungai yang mengalirinya
(Lewis et al., 2000). Selain itu, kendala non fisik, terutama masalah status
kepemilikan lahan yang banyak dikuasai oleh kelompok tertentu yang berprofesi
sebagai non petani (Arifin et al., 2006) dan ketidak-jelasan kepemilikan lahan
(Irianto, 2006). Dengan kondisi demikian, apabila ekosistem rawa lebak tidak
dikelola dan diatur dalam pemanfaatannya, maka hal itu dapat menimbulkan
konflik. Konflik menurut Kartodihardjo dan Jhamtani (2006) dapat terjadi apabila
tidak adanya kesepakatan dalam menetapkan aturan main pengelolaan
sumberdaya alam yang digunakan sebagai landasan. Muara dari keadaan di
atas, pada gilirannya dapat mempercepat proses pengrusakan/degradasi.
Kenyataan membuktikan bahwa lahan rawa lebak sampai saat ini belum dapat
memberikan produktivitas seperti yang diharapkan. Hasil penelitian yang
dilakukan oleh Nazemi et al., (2006) menemukan beberapa faktor penyebab
lainnya sehingga pengusahaan lahan rawa lebak belum memberikan hasil yang
maksimal diantaranya: (1) adanya persepsi dari petani yang keliru bahwa
usahatani yang dijalani sekarang telah memberikan hasil yang maksimal, (2)
kurangnya modal, (3) akses teknologi yang rendah, (4) sifat subsisten petani
dan (5) berusahatani karena kebiasaan.
Disisi lain, beberapa faktor yang mendukung dalam pengembangan
usahatani seperti padi, terong, labu/waluh di lahan rawa lebak menunjukkan
tingkat keuntungan yang cukup baik yang dinyatakan dengan R/C > 1 atau
menguntungkan diusahakan, kontribusi usahatani terhadap pendapatan cukup
besar dilihat dari pendapatan bersih petani, dan pemasaran hasil yang dapat
diserap pasar walaupun pasar lokal. Peluang pengembangan usahatani di lahan
ini cukup besar, dalam rangka untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan
mendukung ketahanan pangan di daerah maupun nasional (Zuraida et al., 2006).
Selanjutnya, adanya potensi lahan rawa lebak yang tersedia masih
cukup luas, yang apabila diasumsikan bahwa 10 persen saja dari luas yang
tersedia dapat dikelola/dimanfaatkan untuk padi dengan baik dengan intensitas
tanam meningkat dari nol kali menjadi satu kali tanam, maka dapat menghasilkan
produksi padi sekitar 2 663 200 ton menjadi 5 326 400 ton dari satu kali tanam
menjadi dua kali tanam dengan rata-rata produktivitas 2 ton per hektar. Hasilnya
akan terjadi lompatan produksi yang sangat signifikan, apabila produktivitasnya
bisa direalisasikan mencapai 3 ton per hektar atau bahkan 4 ton per hektar
(Irianto, 2006).
Konversi lahan yang terjadi beberapa tahun terakhir terhadap ketahanan
pangan nasional merupakan ancaman yang serius, mengingat konversi lahan
tersebut sulit dihindari sementara dampak yang ditimbulkan terhadap masalah
pangan bersifat permanen, kumulatif dan progresif. Masalah pangan yang
ditimbulkan bersifat permanen. Artinya, masalah pangan tersebut tetap akan
terasa dalam jangka panjang meskipun konversi lahan sudah tidak terjadi lagi.
Masalah pangan yang ditimbulkan bersifat progresif. Artinya, walaupun luas
lahan yang dikonversi per tahun selama periode t0 (pada tahun ke-0) hingga tn
(pada tahun ke-n) adalah tetap, namun peluang produksi padi yang hilang akibat
konversi lahan tersebut akan semakin besar. Dengan kata lain, masalah pangan
yang disebabkan oleh setiap hektar lahan yang dikonversi akan semakin besar
dari tahun ke tahun (Irawan, 2005). Lebih lanjut dikatakan bahwa dampak
konversi lahan sawah terhadap masalah pangan apabila tidak segera diatasi
dapat menyebabkan semakin terbatasnya ketersediaan sumberdaya lahan yang
dapat dijadikan lahan persawahan, terutama di daerah Pulau Jawa.
Oleh karena itu, usaha pemanfaatan dan pengelolaan rawa lebak untuk
mengatasi kondisi di atas, merupakan sesuatu hal yang sangat penting dan
strategis. Mengingat laju konversi lahan dan kebutuhan pangan nasional setiap
tahun terus mengalami peningkatan. Kebutuhan luas lahan baku untuk sawah
menurut Las (2010) mencapai 8,3 juta hektar, sementara lahan kering potensial
yang tersedia dan sesuai untuk tanaman semusim hanya tersisa 7,0 juta hektar.
Hal ini memaksa untuk memanfaatkan lahan rawa lebak yang ketersediaannya
cukup luas. Namun demikian, dalam pemanfaatan rawa lebak untuk usahatani
memerlukan penanganan yang spesifik, hal itu ditunjukkan adanya
permasalahan yang cukup kompleks. Penyusunan model usahatani yang bersifat
spesifik dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada yang sesuai dengan
karakteristik biofisik lahan dan sosial budaya masyarakat setempat dan terpadu
sangat diperlukan. Kepentingan produksi atau ekonomi disatu sisi menjadi
sesuatu hal yang penting diperhatikan karena dalam hal mempertahankan
kelangsungan kehidupan mereka, tidak akan terlepas dari usaha pemenuhan
kebutuhan. Dilain pihak, kepentingan ekologi atau lingkungan juga menjadi hal
penting dan tidak dapat diabaikan, karena dalam proses produksi selain
membutuhan sumberdaya dalam hal ini lahan sebagai modal juga dihasilkan
produk dan limbah sebagai hasil sampingan (Daniel, 2004).
Untuk itu, dalam upaya mencapai keberlanjutan dan kelestarian
sumberdaya, diperlukan suatu strategi dan pendekatan interdisiplin untuk
mencari keterpaduan antar komponen melalui pemahaman secara holistik
(menyeluruh) dan utuh yang mengintegrasikan aspek ekologi, ekonomi, sosial
budaya, teknologi dan kelembagaan. Dengan pendekatan interdisiplin dimaksud,
dan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal yang ada diharapkan
terjadi perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang ada di kawasan rawa
lebak ke arah yang lebih baik. Dan dalam pemanfaatannya dapat menekan dan
mengurangi terjadinya kerusakan kawasan rawa lebak sehingga sebagai suatu
ekosistem yang spesifik rawa lebak tetap terpelihara dan terjaga kelestariannya.

1.2 Tujuan Penelitian

1.2.1 Tujuan Umum

Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah merumuskan model


pengelolaan lahan rawa lebak berbasis sumberdaya lokal untuk usahatani
berkelanjutan.

1.2.2 Tujuan Khusus

Tujuan umum tersebut diwujudkan melalui tujuan khusus sebagai berikut:

1. Menganalisis karakteristik rawa lebak dan petani yang memanfaatkan


rawa lebak
2. Menganalisis kesesuaian lahan beberapa tanaman utama yang
diusahakan di rawa lebak
3. Menganalisis kelayakan usahatani saat ini di rawa lebak
4. Menganalisis indeks dan status keberlanjutan usahatani di rawa lebak
5. Menganalisis variabel-variabel dominan model pengelolaan rawa
lebak berkelanjutan berdasarkan lima dimensi keberlanjutan

1.3 Kerangka Pemikiran

Pemanfaatan rawa lebak oleh masyarakat dilatari oleh potensinya


sebagai sumberdaya, desakan kebutuhan akan lahan, dan pangan serta
kemampuan indegeneus knowledge dari petani dalam memanfaatkan lahan
rawa lebak. Tetapi pada kenyataannya pemanfaatan lahan rawa lebak untuk
usahatani, belum dapat memberikan hasil secara optimal. Hal tersebut dapat
dipahami, karena rawa lebak disamping mempunyai fungsi ekologis dan fungsi
produksi juga sebagai salah satu ekosistem yang mempunyai karakteristik yang
fragil dan labil. Keterbatasan ketrampilan, teknologi, modal dan sarana
pendukung yang ada mengakibatkan pengelolaan lahan rawa lebak masih
sangat terbatas dan belum diperolah hasil yang maksimal sehingga belum
mampu memberikan perbaikan kesejahteraan bagi masyarakat tani yang
memanfaatkan rawa lebak sebagai sumber pendapatan keluarga.
Menyadari akan kondisi tersebut, maka diperlukan suatu strategi
pengelolaan lahan rawa lebak, diantaranya pemilihan jenis tanaman yang
sesuai dengan ekosistem rawa lebak, melakukan pendekatan sosial
kemasyarakatan, pendekatan ekonomi, teknologi dan kelembagaan serta
memanfaatkan sumberdaya lokal yang ada. Dari pendekatan tersebut
diharapkan terjadi peningkatan kualitas lingkungan, peningkatan produktivitas
lahan dan peningkatan pendapatan. Dengan adanya perbaikan faktor-faktor di
atas, maka ekosistem rawa lebak yang dimanfaatkan sebagai lahan usahatani
dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat. Dengan meningkatnya
pendapatan masyarakat, diharapkan juga dapat berdampak terhadap perbaikan
kondisi sosial masyarakat, dan akhirnya ekosistem rawa lebak tetap terpelihara
dan lestari sebagai salah satu kekayaan ekosistem yang spesifik.
Banyaknya faktor yang berperan dan rumit serta kompleksnya masalah
yang dihadapi, maka pengembangan sistem usahatani lahan rawa lebak perlu
dilakukan secara terpadu yang diformulasikan dalam suatu model pengelolaan
lahan rawa lebak berbasis sumberdaya lokal untuk pengembangan usahatani
berkelanjutan. Hasil dari penelitian ini adalah tersusunnya model pengelolaan
lahan rawa lebak berbasis sumberdaya lokal untuk pengembangan usahatani
berkelanjutan di lokasi studi. Kerangka berpikir dalam bentuk diagram disajikan
pada Gambar 1.

Fungsi Lahan Rawa Fungsi


Ekologis Lebak Produksi

Karateristik Produktivitas Sistem Sosial Sarana


fisik, kimia Rendah Usahatani Ekonomi prasarana
dan biologi

Ekologi Sosial Ekonomi Teknologi Kelembagaan

Sumberdaya Lokal

Model Pengembangan
Rekomendasi UT Lahan Rawa Lebak
Berkelanjutan

Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian

1.4 Perumusan Masalah

Potensi lahan rawa lebak yang sesuai untuk usaha pertanian masih cukup
luas, di pihak lain, pemanfaatan lahan rawa lebak masih terbatas, dan walaupun
sudah dimanfaatkan hasil yang diperoleh belum seperti yang diharapkan.
Padahal peluang untuk meningkatkan peran lahan ini ke depan masih cukup
besar sebagai modal dalam pembangunan pertanian dalam arti luas. Namun
diperlukan kehati-hatian dalam pengelolaannya, karena karakeristik khas yang
dimiliki oleh rawa lebak.
Budidaya pertanian di lahan rawa lebak, sebagai lahan marginal yang
rapuh menghadapi berbagai kendala diantaranya adalah kendala biofisik lahan,
sosial ekonomi, dan kelembagaan (Qomariah et al., 2006). Beberapa kendala
fisik diantaranya; adanya genangan air, pH tanah yang rendah, adanya
kandungan zat racun (aluminium, besi, hidrogen sulfida, natrium), tanah miskin
hara baik makro dan mikro, serta adanya serangan hama/penyakit dan gulma.
Sedangkan kendala sosial ekonomi diantaranya; keterbatasan modal dan
sebagian petani masih mencari pekerjaan di luar usahataninya. Kendala
kelembagaan diantaranya adalah lemahnya peran kelompok tani (KT),
dikarenakan kelembagaan pertanian kurang menempatkan petani sebagai
pengambil keputusan dalam usahataninya, karena dominasi pengaruh intervensi
para pihak luar terhadap kelompok tani (Slamet, 2003), rendahnya peran
koperasi unit desa (KUD), dan petugas penyuluh lapang (PPL). Hasil penelitian
Anantanyu (2009) di tiga kabupaten di Jawa Tengah menunjukkan bahwa
dukungan penyuluhan pertanian pada umumnya masih berada pada kategori
sedang, dan lemahnya dukungan lembaga keuangan (LK), kurangnya
permodalan dan kurang tersedianya kelembagaan permodalan perdesaan yang
mampu memberikan kredit usahatani yang cukup dengan bunga rendah (Fadjry
et al., 2006).
Berbagai kendala di atas dapat diatasi, dengan menggunakan berbagai
pendekatan diantaranya adalah (1) pengembangan bertahap berdasar atas
pemanfaatan sumberdaya (resource base) dan sistem usahatani terpadu
(integrated farming system); (2) pemilihan komoditas yang sesuai, didukung
penerapan teknologi spesifik lokasi (tipologi lahan dan genangan air); (3)
kesesuaian komoditas dengan dinamika pasar; (4) konsep tata air sesuai kondisi
lahan dan kebutuhan pertanian; (5) efisiensi sistem kelembagaan agribisnis; (6)
peningkatan sarana dan prasarana penunjang; dan (7) pengembangan
kemandirian dan partisipasi serta kesejahteraan masyarakat (petani dan swasta).
Kemandirian petani dianggap sebagai tujuan akhir dari suatu usaha
pembangunan pertanian. Sedangkan partisipasi petani adalah derajat
keseluruhan peran-serta petani dalam kegiatan kelembagaan dimana petani
menjadi bagian/anggota (Anantanyu, 2009). Hal lain yang juga memerlukan
perhatian ekstra adalah penyediaan sumberdaya manusia yang terampil
(penyuluh). Keberadaan sumberdaya manusia (SDM) pertanian diharapkan
dapat berperan aktif dari mulai pembukaan lahan, pelaksanaan budidaya, pasca
panen, dan pemasaran hasil.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :


1. Dapat digunakan dalam penetapan arah dan strategi kebijakan dalam
pemanfaatan dan pengembangan lahan rawa lebak secara
berkelanjutan
2. Model pengelolaan lahan rawa secara berkelanjutan yang dirumuskan
dari hasil penelitian ini, dapat dijadikan sebagai salah satu rujukan
untuk pemanfaatan lahan rawa lebak di tempat lain
3. Manfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan, sebagai bahan
referensi, pengkajian dan penelitian lebih lanjut

1.6 Kebaruan (Novelty)

Kebaruan dari penelitian ini terletak pada pengintegrasian berbagai


komponen usahatani dan dimensi keberlanjutan dalam pemanfaatan
sumberdaya lokal yang digunakan untuk penyusunan model pengelolaan lahan
rawa lebak yang berbasis pada pola tanam dan integrated farming dalam rangka
peningkatan pendapatan petani di rawa lebak. Komponen usahatani dimaksud
adalah sumberdaya lahan, air, modal, sarana produksi, tenaga kerja. Dimensi
keberlanjutan dimaksud adalah ekologi, ekonomi, sosial budaya, teknologi dan
kelembagaan. Sumberdaya lokal yang dimaksud adalah sumberdaya manusia,
sumberdaya alam, dan sumberdaya teknologi yang ada di lokasi penelitian.
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Rawa Lebak

Kata lebak diambil dari kosakata Jawa yang diartikan sebagai ‘lembah atau
tanah rendah‘ (Poerwadarminto, 1976 dalam Noor, 2007). Sedangkan kata
lebak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai tempat air yang
tergenang dan di dalamnya terdapat lumpur yang dalam (Alwi et al., 2003).
Rawa lebak adalah wilayah daratan yang mempunyai genangan hampir
sepanjang tahun minimal selama tiga bulan dengan tinggi genangan minimal 50
cm. Rawa lebak secara khusus diartikan sebagai kawasan rawa dengan bentuk
wilayah berupa cekungan dan merupakan wilayah yang dibatasi oleh satu atau
dua tanggul sungai (levee) atau antara dataran tinggi dengan tanggul sungai.
Bentang lahan rawa lebak menyerupai mangkok yang bagian tengahnya paling
dalam dengan genangan paling tinggi. Semakin ke arah tepi sungai atau tanggul
semakin rendah genangannya. Sedangkan rawa lebak yang dimanfaatkan atau
dibudidayakan untuk pengembangan pertanian, termasuk perikanan dan
peternakan diistilahkan dengan sebutan lahan rawa lebak. Rawa lebak yang
sepanjang tahun tergenang atau dibiarkan alamiah disebut rawa monoton.
Karena kedudukannya menjorok masuk jauh dari muara sungai besar sering
disebut juga dengan rawa pedalaman (Noor, 2007).
Beragam istilah digunakan untuk sebutan rawa lebak, misalnya di Jambi,
Sumatra Barat, dan Sumatra Selatan disebut rawang atau lebung; di Riau
disebut payo atau lumo; di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan disebut
baruh dan watun; Kalimantan Timur disebut rapak atau kelam. Sedangkan Mac
Kinnon et al. (2000) menyebut rawa lebak sebagai danau-danau dataran banjir
yang mempunyai dasar lebih luas dari sungai pada umumnya dan selalu
mendapatkan luapan air (banjir) dari sungai-sungai besar. Selain karena luapan
sungai, genangan dapat juga bersumber dari curah hujan setempat atau juga
banjir kiriman. Genangan di lahan rawa lebak kadang-kadang bersifat ladung
(stagnant) dan kalaupun mengalir, sangat lambat. Rawa lebak pada musim
hujan tergenang karena berbentuk cekungan dengan drainase jelek. Namun,
pada musim kemarau menjadi kering. Pada musim hujan genangan air dapat
mencapai tinggi antara 4 - 7 meter, tetapi pada musim kemarau lahan dalam
keadaan kering, kecuali dasar atau wilayah paling bawah.
Pada Pertemuan Nasional Pengembangan Pertanian Lahan Rawa Pasang
Surut dan Lebak tahun 1992 di Cisarua Bogor, istilah lahan rawa (swamps)
dipilah menjadi dua, yaitu rawa pasang surut (tidal swamps) dan rawa lebak atau
rawa pedalaman (non tidal swamps). Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No.
64/PRT/1993 dinyatakan rawa dibedakan dalam tiga kategori, yaitu (1) rawa
pasang surut, (2) rawa pantai, dan (3) rawa pedalaman atau rawa lebak.
Sedangkan menurut Subagjo (2006) tipologi rawa lebak didasarkan pada
ketinggian genangan dan atau lamanya genangan sebagaimana disajikan pada
Tabel 1.
Tabel 1 Pembagian lahan rawa lebak berdasarkan ketinggian dan lama
genangan
Lama Ketinggian genangan (cm)
genangan
< 50 50 - 100 > 100
< 3 bulan Lebak dangkal Lebak tengahan Lebak tengahan
3 – 6 bulan Lebak dangkal Lebak tengahan Lebak dalam
> 6 bulan Lebak dangkal Lebak dalam Lebak dalam
Sumber: Subagjo (2006)

Menurut Noor (2007), klasifikasi atau pembagian tipologi rawa lebak dalam
arti luas dapat didasarkan pada ketinggian tempat, ketinggian genangan, lama
genangan, waktu genangan, jenis ekologi, vegetasi, bentuk wilayah, dan jenis
pemanfaatan. Berdasarkan ketinggian tempat rawa lebak dapat dibagi dua
tipologi, yaitu (1) rawa lebak dataran tinggi dan (2) rawa lebak dataran rendah.
Rawa lebak dataran tinggi/pegunungan banyak ditemukan di Sumatra dan Jawa,
sedangkan dataran rendah (lowland) sebagian besar tersebar di Kalimantan.
Petani di Hulu Sungai, Kalimantan Selatan membagi rawa lebak dengan
sebutan watun (arti lahan rawa lebak), yaitu watun I, II, III dan IV (Anwarham,
1989; Ar-Riza, 2000). Batasan dan klasifikasi watun didasarkan menurut
hidrotopografi dan waktu tanam padi. Pembagian watun tersebut:
Watun I : wilayah sepanjang 200-300 depa menjorok masuk dari tanggul
(1 depa = 1,7 meter), dengan hidrotopografinya relatif paling
tinggi.
Watun II : wilayah sepanjang 200-300 depa (=510 m) menjorok masuk
dari batas akhir watun I, dengan hidrotopografinya lebih
rendah dari watun I.
Watun III : wilayah sepanjang 200-300 depa (=510 m) menjorok masuk
dari batas akhir watun II, dengan hidrotopografinya lebih
rendah dari watun II.
Watun IV : wilayah yang lebih dalam menjorok masuk dari batas akhir
watun III, dengan hidrotopografinya relatif paling rendah.
Watun I, II, III sampai IV masing-masing identik dengan istilah lebak
dangkal, lebak tengahan, lebak dalam, dan lebak sangat dalam atau lebung
(deepwater land).
Berdasarkan ada dan tidaknya pengaruh sungai, rawa lebak dibagi dalam
tiga tipologi, yaitu (1) lebak sungai, (2) lebak terkurung, dan (3) lebak setengah
terkurung (Kosman dan Jumberi, 1996) dalam Noor (2007). Batasan dan
klasifikasi lebak menurut ada tidaknya pengaruh sungai sebagai berikut.
Lebak sungai : lebak yang sangat nyata mendapat
pengaruh dari sungai sehingga tinggi
rendahnya genangan sangat
ditentukan oleh muka air sungai.
Lebak terkurung : lebak yang tinggi rendahnya genangan
ditentukan oleh besar kecilnya curah
hujan dan air rembesan (seepage) dari
sekitarnya.
Lebak setengah terkurung : lebak yang tinggi rendahnya genangan
ditentukan oleh besar kecilnya curah
hujan, rembesan, dan juga sungai
sekitarnya.

2.2 Karakteristik Ekologi Lahan Rawa Lebak

Lahan rawa lebak (Noor, 2007) termasuk ekologi lahan basah (wetland)
yang dicirikan oleh suasana genangan dalam waktu yang panjang. Bentuk
wilayah yang menyerupai cekungan dengan dasar yang luas dengan drainase
yang jelek. Lahan rawa lebak merupakan dataran banjir sungai dengan beda
muka air antara musin hujan dan musin kemarau lebih dari 2 meter, disamping
itu juga merupakan dataran rendah dengan ketinggian 3 - 5 meter di atas
permukaan laut. Fisiografinya merupakan cekungan dengan batas daerah yang
berlereng 4 – 10 persen, sehingga tidak ada pengaruh nyata dari pasang surut
air laut (Irianto, 2006). Tanah lahan rawa lebak dapat berupa tanah organik
(gambut), tanah mineral endapan sungai, dan endapan marin. Pada tanah
gambut, kematangan gambut umumnya termasuk gambut saprik. Sedangkan
pada tanah mineral tekstur umumnya liat, liat berdebu, sampai lempung liat
berdebu, dengan konsistensi lekat dan plastis (Arifin et al., 2006). Gambut saprik
(matang) yaitu gambut yang sudah melapuk lanjut, bahan asalnya tidak dikenali,
berwarna coklat tua sampai hitam, dan apabila diremas kandungan seratnya
kurang dari 15 persen (Permentan No 14 tahun 2009).
Lahan rawa lebak dipengaruhi oleh iklim tropika basah dengan curah hujan
antara 2 000-3 000 mm per tahun dengan 6 - 7 bulan basah (bulan basah =
bulan yang mempunyai curah hujan bulanan >200 mm) atau antara 3 - 4 bulan
kering (bulan kering = bulan yang mempunyai curah hujan bulanan <100 mm).
Bulan basah berlangsung pada bulan Oktober/Nopember sampai Maret/April,
sedangkan bulan kering berlangsung antara bulan Juli sampai September. Suhu
udara pada kawasan ini berkisar antara 24 - 32oC dan kelembaban nisbi 80-90%.
Pengaruh iklim sangat kuat pada musin kemarau karena rawa lebak sebagai
kawasan terbuka. Penguapan pada kawasan terbuka cukup tinggi, sehingga
suhu udara dapat mencapai 35 - 40oC (Ismail et al., 1996; Arifin et al., 2006
dalam Noor, 2007).

2.3 Sumberdaya Lokal

Sumberdaya (resources) mempunyai banyak pengertian diantaranya


adalah (1) persediaan, baik cadangan maupun yang baru; (2) suatu input dalam
proses produksi; (3) suatu atribut dari lingkungan yang menurut anggapan
manusia mempunyai nilai dalam jangka waktu tertentu, yang dibatasi oleh
keadaan sosial, politik, ekonomi dan kelembagaan; (4) sebagai hasil penilaian
manusia terhadap unsur-unsur lingkungan hidup yang diperlukannya; dan dapat
pula didefenisikan (5) sebagai unsur-unsur lingkungan alam, baik fisik maupun
hayati, yang diperlukan manusia untuk meningkatkan kesejahteraanya dan
memenuhi kebutuhannya (Soerianegara, 1979).
Sumberdaya (resources) yang ada dapat dikelompokkan dalam tiga bentuk
yaitu (1) sumberdaya manusia; (2) sumberdaya alam; dan (3) sumberdaya
teknologi. Sumberdaya manusia adalah sumberdaya yang dalam hal ini dapat
dimaknai sebagai subyek (pelaku) sekaligus obyek, yang mempunyai peran
sangat penting dalam memanfaatkan, mengelola dan memelihara sumberdaya
yang ada. Sedangkan sumberdaya alam (natural resources) adalah semua
aspek lingkungan yang bukan buatan manusia dan terdapat pada permukaan
bumi, di udara, di dalam bumi, di laut, di dalam laut, di dasar dan di bawah dasar
laut (Zen, 2001).
Selanjutnya, sumberdaya teknologi yang secara definisi dimaknai sebagai
hasil buah pikir dari suatu pengetahuan. Teknologi itu sendiri merupakan bagian
dari budaya. Teknologi secara luas dapat terdiri dari, tecnoware (perangkat
teknis), humanware (perangkat manusia), inforware (perangkat informasi) dan
orgaware (perangkat organisasi). Keempat komponen tersebut, selalu berperan
dalam sebuah proses transformasi, tepatnya dalam merubah suatu input menjadi
output (Sasmojo, 2001). Input atau masukan menurut (Sewoyo, 2001) dapat
berupa bahan baku alami (bahan mineral, bahan biologis), dan atau bahan
setengah jadi (bahan kimia, bahan bangunan, bahan pakaian). Sedangkan
output atau keluaran dapat berupa barang-barang konsumsi (makanan, obat,
peralatan, perabotan).
Dalam tulisan ini yang dimaksudkan dengan sumberdaya lokal, yaitu (1)
sumberdaya manusia dengan segala pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki
oleh masyarakat lokal, tradisional atau asli; (2) sumberdaya alam adalah
sumberdaya yang ada di lingkungan tempat tinggal mereka dimana mereka telah
berinteraksi secara turun temurun; dan (3) sumberdaya teknologi adalah
sumberdaya hasil olah-pikir dan uji-coba yang telah mereka lakukan, dan
kemudian menjadi semacam pengetahuan/teknologi mereka tentang sistem alam
yang terakumulasi melalui proses yang cukup panjang untuk selanjutnya
diwariskan secara lisan. Biasanya hasil uji-coba dalam bentuk teknologi tersebut
menurut Mitchell (2000), tidak dapat dijelaskan melalui istilah-istilah ilmiah. Dan
akhirnya, bagaimana ketiga sumberdaya lokal tersebut dapat dimanfaatkan
secara optimal dalam kegiatan usahatani di rawa lebak.

2.4 Produktivitas

Produktivitas diartikan sebagai keinginan manusia untuk meningkatkan


mutu kehidupan. Oleh karena itu perlu adanya usaha untuk meningkatkan mutu
kehidupan supaya terjadi perubahan dari waktu ke waktu. Produktivitas dapat
pula diartikan sebagai ukuran efisiensi, efektivitas dan kualitas dari setiap sumber
yang digunakan selama produksi berlangsung dengan membandingkan jumlah
yang dihasilkan (keluaran) dengan setiap sumberdaya yang digunakan
(masukan). Unsur-unsur produktivitas: (1) efisiensi, produktivitas sebagai rasio
keluaran dengan masukan merupakan ukuran efisiensi pemakaian sumberdaya
(masukan) terencana dengan pemakaian masukan yang sebenarnya. Jadi
pengertian efisiensi berorientasi pada masukan. Efisiensi dapat dipahami
sebagai kegiatan penghematan sumber-sumber dalam kegiatan produksi, seperti
penghematan pemakaian bahan, uang, tenaga kerja, waktu, air dan sebagainya;
(2) efektivitas, menggambarkan seberapa jauh target yang ditetapkan dapat
tercapai, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Efektivitas berorientasi pada
keluaran; dan (3) kualitas, masukan dan kualitas proses akan menentukan
kualitas keluaran. Keluaran yang berkualitas baik, akan meningkatkan rasio
keluaran dengan masukan dalam nilai tambah, berarti meningkatkan
produktivitas.
Dalam konteks pertanian, produktivitas berperan penting dalam mencapai
kecukupan produksi pangan. Peningkatan produksi pangan sangat ditentukan
oleh berbagai faktor diantaranya adalah ketersediaan air, kondisi lahan, input
produksi dan pemeliharaan.

2.5 Pendapatan Petani

Pendapatan adalah seluruh penerimaan dapat berupa uang atau barang


dari hasil usaha atau produksi. Pendapatan rumahtangga dapat diartikan sebagai
jumlah keseluruhan dari pendapatan formal, informal dan subsistem. Pendapatan
formal adalah penghasilan yang diperoleh melalui pekerjaan pokok. Sedangkan
pendapatan subsistem adalah penghasilan yang diperoleh dari faktor produksi
yang dinilai dengan uang (Mulyanto dan Ever, 1982). Pendapatan rumahtangga
dapat juga didefenisikan sebagai seluruh penerimaan yang didapat setiap
rumahtangga atau lebih disederhanakan adalah sebagai balas jasa dari faktor-
faktor ekonomi (Anonim, 2000). Ada keterkaitan yang erat antara pendapatan,
faktor produksi dan tingkat kesejahteraan suatu rumahtangga. Selanjutnya
menurut (Tjahyono, 1987) besarnya pendapatan petani dapat berasal dari
usahatani dan non tani .
Mosher dalam Mubyarto (1989) mengemukakan bahwa semua petani
menginginkan kesentosaan dalam keluarganya. Sehingga kebutuhan keluarga
selalu dapat dipenuhi semuanya. Oleh karena itu, petani akan selalu berusaha
untuk meningkatkan intensitas usahataninya dengan berbagai cara agar supaya
pendapatannya menjadi meningkat. Berkaitan dengan hal ini, Pendapatan dari
usahatani diperoleh dengan menjumlahkan semua pendapatan yang diperoleh
dari usahatani yang dilakukannya. Sedangkan penghasilan dari luar usahatani
diperoleh dari penjumlahan seluruh penghasilan sampingan yang dilakukan di
luar usahatani.
Menurut Soekartawi (2002) perubahan tingkat pendapatan akan
mempengaruhi banyaknya barang yang akan dikonsumsi, pada tingkat
pendapatan rumah tangga yang rendah, dengan tingkat pengeluaran rumah
tangga lebih besar dari pendapatan, maka tingkat konsumsi tidak hanya dibiayai
oleh pendapatan mereka saja, melainkan dari sumber lain seperti tabungan yang
dimiliki, penjualan harta benda, atau pinjaman bentuk lain. Biasanya semakin
tinggi tingkat pendapatan, maka konsumsi yang dilakukan rumah tangga akan
semakin besar pula. Bahkan seringkali dijumpai dengan bertambahnya
pendapatan, maka barang yang dikonsumsi bukan hanya bertambah akan tetapi
kualitas barang yang diminta juga bertambah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan petani ditinjau dari
faktor sosial dan ekonomi antara lain adalah tingkat pendidikan, jarak kebun dari
rumah, jam kerja efektif, jumlah tenaga kerja dan input produksi. Tingkat
pendidikan merupakan modal utama, dengan jenjang pendidikan formal yang
lebih tinggi, maka besar kemungkinannya untuk dapat menerima inovasi maupun
gagasan-gagasan baru yang dapat memperbaiki kegiatan usahatani.
Pengambilan keputusan untuk menghindari risiko usahatani dapat dilakukan
dengan tingkat pendidikan yang memadai (Hermanto, 2005).

2.6 Analisis Usahatani

2.6.1 Indikator kelayakan usahatani

Berbagai cara penilaian investasi telah dikembangkan dan digunakan


dibidang pertanian. Menurut Pujosumarto (1995), kriteria investasi yang dapat
digunakan dalam menilai kelayakan suatu kegiatan usaha dapat dilakukan
antara lain melalui cara perhitungan, revenue cost ratio (R/C ratio) atau benefit
cost ratio (B/C ratio).
Analisis usahatani yang dimaksudkan adalah analisis biaya dan
pendapatan usahatani yang diperoleh keluarga tani berdasarkan produksi
tanaman dan pendapatan. Biaya-biaya usahatani adalah semua biaya yang
dikeluarkan petani selama proses produksi dalam setiap jenis tanaman yang
diusahakan. Secara garis besar biaya tersebut dapat dikelompokkan menjadi
dua yaitu biaya variabel (biaya tidak tetap) dan biaya tetap. Biaya-biaya tidak
tetap adalah semua biaya yang dikeluarkan petani sesuai dengan jenis usahatani
yang akan dikerjakan dan sistem pengelolaan yang akan diterapkannya. Adapun
yang termasuk biaya tidak tetap ini antara lain pembelian bibit, pengolahan
tanah, pemupukan, pencegahan hama/penyakit, pemanenan, penjemuran hasil
(pengolahan hasil), pemasaran. Biaya tetap dapat berupa pajak, biaya perawatan
alat, biaya penyusutan, retribusi dan bunga pinjaman (Soekartawi, 2002).
Untuk mengantisipasi terjadinya fluktuasi perubahan jumlah, biaya dan
harga produksi, diperlukan analisis sensitivitas dengan asumsi-asumsi sebagai
berikut :
• Harga produksi turun 20%, jumlah dan biaya produksi tetap
• Biaya produksi meningkat 20%, jumlah dan harga produksi tetap
• Harga produksi turun 20%, biaya produksi naik 20%, jumlah produksi tetap
• Jumlah dan harga produksi masing-masing turun 20%, biaya produksi tetap
• Jumlah dan harga produksi masing-masing turun 20%, biaya produksi
meningkat 20%
Produksi tetap dan harga produksi naik 20%
Produksi turun dan harga produksi naik 20%

2.6.2 Kebutuhan Hidup Layak

Pengertian kemiskinan menurut versi pemerintah sangat beragam, antara


lain menurut: (1) BKKBN, kemiskinan adalah suatu keadaan keluarga miskin
prasejahtera yang tidak dapat melaksanakan ibadah menurut agamanya; tidak
mampu makan dua kali sehari; tidak memiliki pakaian berbeda untuk di rumah,
bekerja dan bepergian; bagian tertentu dari rumah berlantai tanah; dan tidak
mampu membawa anggota keluarga ke sarana kesehatan; (2) BPS, kemiskinan
adalah kondisi dimana seseorang hanya dapat memenuhi kebutuhan makannya
kurang dari 2 100 kalori per kapita per hari, dan (3) Bappenas (2002), kemiskinan
mencakup unsur-unsur: (a) ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar
(pangan, pendidikan, kesehatan, perumahan, air bersih, transportasi, dan
sanitasi); (b) kerentanan; (c) ketidakberdayaan; (d) ketidakmampuan
menyalurkan aspirasinya; sedangkan (4) Sajogyo (1977) mengemukakan bahwa
ukuran garis kemiskinan untuk wilayah Indonesia dispesifikasi atas tiga tingkat
kemiskinan yang mencakup konsepsi ‗Nilai Ambang Kecukupan Pangan‘ yaitu
miskin, miskin sekali, sangat miskin. Garis kemiskinan tersebut dinyatakan dalam
(Rp/bln) yang ekuivalen dengan nilai tukar beras (kg/orang/tahun) sehingga
dapat dibandingkan dengan nilai tukar antar daerah dan antar waktu, baik di
perdesaan maupun di perkotaan. Nilai ambang kecukupan pangan untuk tingkat
pengeluaran rumah tangga di daerah perdesaan berkisar antara 240 – 320 kg
per orang per tahun, sedangkan untuk daerah perkotaan berkisar antara 360 –
480 kg per orang per tahun.
Untuk mengukur apakah suatu keluarga tani telah hidup layak, yakni
apabila keluarga tersebut telah dapat memenuhi kebutuhan meliputi pangan,
tempat tinggal, pakaian, pendidikan, kesehatan, kegiatan sosial, rekreasi,
asuransi dan tabungan. Berdasarkan asumsi tersebut, maka jumlah pendapatan
bersih yang harus diperoleh setiap keluarga tani untuk dapat hidup layak minimal
senilai beras 320 kg per th x harga (Rp/kg) x jumlah anggota keluarga x 2,5
(Sinukaban, 2007).

2.7 Sistem Usahatani Berkelanjutan

Usahatani merupakan suatu industri biologis yang memanfaatkan materi


dan proses hayati untuk memperoleh laba yang layak bagi pelakunya yang
dikemas dalam berbagai subsistem mulai dari subsistem praproduksi, produksi,
panen, pascapanen, distribusi, dan pemasaran (Adnyana, 2001). Menurut Rifai
dalam Soehardjo dan Dahlan (1973) usahatani adalah setiap organisasi dari
alam, tenaga kerja dan modal yang diperuntukan bagi produksi di lapangan
pertanian, dimana tatalaksana organisasi tersebut dilaksanakan oleh seseorang
atau sekumpulan orang-orang. Defenisi usahatani menurut Fardiyanti dalam
Sunarso (2005) adalah kegiatan dibidang pertanian yang mengorganisasikan
alam, tenaga kerja dan modal yang ditujukan untuk produksi dibidang pertanian.
Usahatani merupakan kegiatan yang menggunakan faktor produksi (sumberdaya
alam, modal dan tenaga kerja) untuk menghasilkan produk pertanian yang
bermanfaat bagi manusia.
Faktor-faktor produksi dalam usahatani antara lain: faktor produksi alam,
faktor produksi tenaga kerja, faktor produksi modal dan pengelolaan. Modal
menurut Soehardjo dan Dahlan (1973) adalah barang-barang bernilai ekonomi
yang digunakan untuk menghasilkan tambahan kekayaan atau meningkatkan
produksi. Modal dalam usahatani yaitu:
1. Tanah beserta bagian-bagian yang terdapat di atasnya seperti tanggul
saluran air.
2. Bangunan-bangunan seperti; kandang ternak, lumbung, gudang.
3. Alat-alat pertanian dan mesin; alat-alat sederhana yaitu: bajak, garu,
cangkul, linggis, mesin traktor, pengolah tanah, mesin penanam dan
mesin pemungut hasil.
4. Tanaman dan ternak.
5. Sarana produksi pertanian yang terdiri dari, bibit, pupuk, obat, pengendali
hama dan penyakit tanaman.
6. Uang tunai untuk membeli perlengkapan produksi yang diperlukan.
Menurut Mosher dalam Soehardjo dan Dahlan (1973) pengelolaan
usahatani adalah kemampuan petani dalam menentukan, mengorganisasi dan
mengkoordinasi penggunaan faktor-faktor produksi seefektif mungkin sehingga
produksi pertanian memberikan hasil yang lebih baik. Dalam pengambilan
keputusan, patani dihadapkan pada berbagai prinsip usahatani yaitu:
1. Penentuan perkembangan harga
Penentuan tentang harga faktor produksi dan komoditas yang akan
diusahakan relatif penting karena keuntungan usaha tergantung pada
harga yang berlaku;
2. Kombinasi beberapa cabang usaha
Jika terdapat lebih dari satu cabang usaha, seorang petani akan
dihadapkan pada pilihan kombinasi yang baik sehingga didapatkan
keuntungan yang setinggi-tingginya dalam setahun;
3. Pemilihan cabang usaha
Penentuan cabang usahatani dipengaruhi oleh faktor-faktor fisik dan
ekonomi seperti: luas lahan usahatani, tipe usahatani, produktivitas tanah,
persediaan tenaga kerja, biaya mendirikan cabang usaha, keadaan harga
diwaktu cabang usaha itu menghasilkan;
4. Penentuan cara produksi
Penentuan cara produksi terdiri atas: penentuan jumlah dan jenis pupuk
yang digunakan, jarak tanam, cara bercocok tanam dan lain sebagainya;
5. Pembelian sarana produksi yang diperlukan
Petani perlu menentukan apakah uang yang dimilikinya hendak
digunakan untuk membeli makanan, pupuk atau membeli peralatan;
6. Pemasaran hasil pertanian
Masalah pemasaran yang sering dihadapi petani adalah waktu, tempat,
cara penjualan, kualitas produksi, cara pengepakan yang efisien, alat
yang digunakan dan lain-lain;
7. Pembiayaan usahatani
Biaya jangka panjang (biaya pengembangan dan perluasan usaha) dan
biaya jangka pendek (biaya pertanaman, biaya perbaikan alat, serta biaya
hidup petani dan keluarganya selama menunggu musim panen); dan
8. Pengelolaan modal dan pendapatan
Perubahan usahatani kearah yang lebih komersiil untuk memperoleh
peningkatan pendapatan merupakan masalah karena kurangnya modal
yang mereka miliki. Pendapatan yang diperoleh dari hasil produksi
kebanyakan ditujukan untuk komsumsi keluarga.
Usahatani dapat digolongkan dalam dua kategori yaitu subsistem dan
komersial. Usahatani subsistem diperuntukan untuk memenuhi kebutuhan
keluarga dengan penggunaan alat yang masih sederhana, sedangkan usahatani
komersial lebih berorientasi bisnis dan diarahkan pada pemenuhan permintaan
pasar agar keuntungan yang diperoleh semakin besar.
Sistem usahatani dikatakan berkelanjutan jika dalam pengelolaannya
menerapkan teknologi yang ramah lingkungan atau tidak menimbulkan
eksternalitas negatif pada lingkungan baik lingkungan biofisik maupun lingkungan
sosial ekonomi pada tingkat mikro maupun makro. Menurut Adnyana (2001)
beberapa strategi yang dapat diterapkan sebagai suatu upaya untuk mewujudkan
sistem usahatani berkelanjutan, yaitu (1) sistem usahatani yang ingin dicapai
sedapat mungkin diwujudkan melalui pemanfaatan sumberdaya internal untuk
mensubtitusi penggunaan sumberdaya eksternal; (2) mengurangi penggunaan
pupuk buatan yang bersumber dari sumberdaya yang tidak dapat pulih; (3)
menekan intensitas penggunaan pestisida dan herbisida serta penerapan
pengendalian hama terpadu (PHT) secara massal; (4) memperluas penerapan
rotasi tanaman dan diversifikasi horizontal untuk meningkatkan kesuburan tanah,
pengendalian hama penyakit, meningkatkan produktivitas dan menekan risiko;
dan (5) mempertahankan residu tanaman maupun input eksternal serta
penanaman tanaman penutup tanah guna mempertahankan kelembaban dan
kesuburan tanah.
Menurut Suryana et al. (1998) konsep berkelanjutan mengandung
pengertian bahwa pengembangan produk pertanian harus tetap memelihara
kelestarian sumberdaya alan dan lingkungan hidup guna menjaga keberlanjutan
pertanian dalam jangka panjang lintas generasi (inter-generational sustainability),
antara lain dengan mengembangkan sistem usahatani konservasi, penerapan
pengendalian hama terpadu (PHT), dan kepatuhan pada prosedur Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) pertanian. Perlu pula diterapkan prinsip
pengembangan sistem usahatani berkelanjutan. Prinsip ini mengandung ciri
bahwa sistem usahatani perlu memiliki kemampuan merespon perubahan pasar,
inovasi teknologi yang terus-menerus, menggunakan teknologi yang ramah
lingkungan dan mengupayakan pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan
hidup (Departemen Pertanian, 2001).
Menurut Pambudy (1999) sejalan dengan perkembangan pembangunan
bidang pertanian, kegiatan usahatani perlu pula dilaksanakan melalui
pendekatan teknis, terpadu, dan agribisnis: (1) pendekatan teknis, dilakukan
dengan tujuan peningkatan produksi pertanian, sehingga dapat memenuhi
tuntutan kebutuhan pembangunan pertanian dengan upaya: (a) penggunaan bibit
unggul; (b) menekan kejadian hama dan penyakit tanaman melalui kegiatan
penolakan, pencegahan, penyelidikan, pemberantasan, dan pengendalian
penyakit, dan (c) penggunaan pupuk sesuai dengan kebutuhan tanaman; (2)
pendekatan terpadu, dengan cara melakukan pembinaan secara pasif melalui
tiga penerapan teknologi, yaitu teknologi produksi, ekonomi dan sosial.
Penerapan teknologi produksi dilakukan melalui: perbaikan mutu bibit,
pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, dan pengelolaan tanah. Sebagai
pendukung penerapan teknologi produksi diterapkan pula teknologi ekonomi
berupa perbaikan pascapanen dan pemasaran, sedangkan penerapan teknologi
sosial dilakukan dengan mengorganisir petani dalam kelompok tani dan koperasi;
dan (3) Pendekatan agribisnis, sistem agribisnis berarti pemanfaatan tanah atau
lahan sebagai tempat untuk melakukan kegiatan usahatani yang berorientasi
pada peningkatan pendapatan petani. Sistem agribisnis juga merupakan
kegiatan yang mengintegrasikan pembangunan sektor pertanian secara simultan
(dalam arti luas) dengan pembangunan industri dan jasa yang terkait dalam
suatu kluster industri (industrial cluster) yang mencakup empat subsistem
(Saragih, 2000). Keempat subsistem tersebut adalah: (1) subsistem agribisnis
hulu (upstream off-farm agribussiness), yaitu kegiatan ekonomi (produksi dan
perdagangan) yang menghasilkan sapronak seperti bibit, pupuk, dan pestisida;
(2) subsistem agribisnis budidaya pertanian (on-farm agribussiness), yaitu
kegiatan ekonomi yang selama ini disebut sebagai kegiatan budidaya pertanian;
(3) subsistem agribisnis hilir (downstream off-farm agribussiness), yaitu kegiatan
ekonomi yang mengola dan memperdagangkan hasil pertanian; (4) subsistem
jasa penunjang (supporting institution), yaitu kegiatan yang menyediakan jasa
bagi kegiatan usahatani seperti perbankan, asuransi, koperasi, transportasi, Balai
Penyuluh Pertanian (BPP), kebijakan pemerintah, lembaga pendidikan dan
penelitian.
Menurut Irawan dan Pranadji (2002), agribisnis merupakan sistem terpadu
yang meliputi empat bagian (subsistem) yaitu: (1) subsistem pengadaan dan
distribusi sarana dan prasarana produksi yang akan dipergunakan sebagai input
produksi pada subsistem budidaya; (2) subsistem produksi atau usahatani, yang
akan menghasilkan produk pertanian primer, misalnya daging, beras, jagung dan
lain-lain; (3) subsistem pengolahan hasil dan pemasaran, dan (4) subsistem
pelayanan pendukung, berupa fasilitas jalan, kredit, kebijakan pemerintah dan
lain-lain.

2.8 Indikator untuk Mengukur Keberlanjutan

Indikator keberlanjutan adalah alat yang digunakan untuk memberikan


infomasi secara langsung atau tidak langsung mengenai viabilitas sebuah sistem
di masa mendatang dari berbagai level tujuan (ekologi, ekonomi, sosial),
penggunaannya dianggap penting karena menjadi informasi bagi perencanaan
dan pengembangan sistem selanjutnya.
Walker dan Router (1996) menggolongkan indikator ini dalam dua tipe,
yaitu (1) indikator kondisi, yaitu indikator yang menjelaskan kondisi sistem pada
saat ini relatif terhadap kondisi yang diharapkan, dan (2) indikator trend, yaitu
indikator yang menjelaskan perubahan dalam sistem berdasarkan waktu
sehingga dapat digunakan untuk memonitor kecenderungan yang akan terjadi di
dalam sistem. Chen et al., (2002) merekomendasikan indikator untuk menilai
keberlanjutan pertanian berdasarkan tekanan populasi, degradasi lingkungan,
penggunaan sumberdaya yang tidak efesien dan manajemen sumberdaya yang
tidak tepat. Food Agriculture Organization (FAO, 2000) menggunakan indikator
seperti rasio lahan pertanian terhadap populasi, proporsi lahan irigasi, produksi
pertanian dan kontribusi sektor pertanian terhadap pendapatan domestik untuk
menilai situasi umum dari produksi pertanian di Negara-negara berkembang.
Beragamnya indikator yang digunakan, menunjukkan bahwa pemilihan indikator
harus disesuaikan dengan tujuan dan karateristik sistem yang sedang dihadapi.
Pemilihan indikator yang tepat adalah kunci keberhasilan dari pelaksanaan
analisis keberlanjutan sistem yang akan dilakukan.
III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di dua lokasi, yaitu Desa Sungai Ambangah


Kecamatan Sungai Raya, dan Desa Pasak Piang Kecamatan Sungai Ambawang,
terletak di Kabupaten Kubu Raya Provinsi Kalimantan Barat. Lokasi penelitian
ditentukan secara purposive sampling, yaitu dipilih langsung dua desa tersebut.
Oleh karena itu, penelusuran data dan informasi mencakup kedua desa yang
bersangkutan. Kemudian dari dua desa terpilih ditentukan secara sengaja petani
yang tinggal di kawasan dan sekitar rawa lebak.
Penelitian lapangan untuk memperoleh data dan informasi faktual sesuai
dengan tujuan dan persoalan yang dikaji. Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan
Februari 2010 sampai dengan bulan Oktober 2010.

[a] [b]

[c] [d]
Gambar 2 Peta lokasi penelitian: [a] Provinsi Kalimantan Barat, [b] Kabupaten
Kubu Raya, [c] Kecamatan Sungai Raya, dan [d] Kecamatan
Sungai Ambawang
3.2 Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini dan disesuaikan dengan data
yang dikumpulkan terdiri dari: (1) bahan kimia dan Munsell Soil Color Chart yang
digunakan untuk analisis kimia dan fisik tanah; (2) wadah untuk sampel tanah
berupa plastik; (3) bahan kuesioner untuk keperluan wawancara; dan (4) peta
lokasi.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini dan disesuaikan dengan data
yang dikumpulkan terdiri dari; bor tanah, pH meter, GPS, kompas, kamera
seperangkat alat laboratorium untuk analisis tanah, dan alat tulis kantor.

3.3 Disain Penelitian

Tahap awal dari penelitian ini dimulai dengan memotret secara menyeluruh
dan komprehensif keadaan karakteristik rawa lebak dan persoalan berkenaan
dengan masyarakat petani di sekitar rawa lebak, selanjutnya merumuskan atau
mendisain model berdasarkan keadaan tersebut. Aspek utama yang menjadi
fokus perhatian adalah mengidentifikasi dan memetakan interaksi antara petani
dengan rawa lebak serta elemen-elemen kunci yang mempengaruhinya.
Setelah melakukan identifikasi dan pemetaan interaksi kemudian
dilanjutkan dengan identifikasi kebutuhan petani menurut skala prioritasnya
(Storey, 1999). Kebutuhan diilustrasikan sebagai suatu hubungan yang saling
terkait.
Elemen-elemen kunci yang menjadi dasar pengelolaan diperoleh dengan
mengidentifikasi dan memilah sejumlah faktor penting yang diperoleh secara
parsial pada masing-masing dimensi penelitian yang dikaji. Selanjutnya elemen
kunci yang diperoleh dikonfirmasikan kembali melalui diskusi bersama dengan
pakar dan stakeholder terkait dalam bentuk expert meeting/focus group
discussion. Dengan demikian maka proses dan mekanisme perumusan disain
pengelolaan rawa lebak merupakan kesepakatan atau hasil bersama oleh
seluruh stakeholder (Schonhuth dan Kievelitz, 1984).
Disain penelitian pada Gambar 3 menunjukkan tahapan dan alur kegiatan
yang dilakukan dalam penyelesaian studi ini. Dalam hal ini sasaran akhir yang
ingin dicapai adalah disain model pengelolaan rawa lebak berbasis sumberdaya
lokal untuk pengembangan usahatani secara berkalanjutan (tujuan umum
penelitian). Untuk keperluan perumusan model, maka dilakukan pengkajian
terhadap aspek biofisik, sosial ekonomi petani, kelembagaan, serta sarana dan
prasarana yang ada di kawasan rawa lebak. Pada masing-masing aspek kajian
yang ditelaah dilakukan pengumpulan data dan informasi sesuai dengan variabel
dan parameter yang diukur. Data dan informasi yang terkumpul selanjutnya
dianalisis secara parsial dengan menggunakan berbagai instrumen dan alat
analisis disesuaikan dengan substansi yang ditelaah/dikaji. Hasil analisis parsial
dan fakta-fakta aktual lainnya yang diperoleh di lapangan kemudian disintesis
(secara deskriptif) untuk dijadikan dasar penyusunan model sesuai dengan
sasaran dan tujuan yang diinginkan. Dalam penelitian ini tujuan penelitian 1, 2, 3,
4, dan 5 merupakan tujuan antara yang disintesis untuk menjawab tujuan
penelitian 6 (sebagai tujuan umum penelitian). Secara rinci struktur tujuan,
metode, variabel analisis, dan keluaran penelitian dapat dilihat pada Gambar 3
26
TUJUAN METODE VARIABEL & ANALISIS DATA KELUARAN/OUTPUT
PENELITIAN PENGUMPULAN DATA DATA/INFORMASI PENELITIAN

Tujuan 1: 1. Survey: pengamatan 1. Karakteristik rawa lebak


Karakteristik rawa lebak langsung, pengambilan 2. Karakteristik sosekbud petani
dan petani contoh tanah dan 3. Pendapatan & kebutuhan RT 1. Jenis rawa lebak
wawancara 1. Deskriptif
2. Analisis kesesuaian lahan 2. Struktur pendapatan &
- Sui Ambangah pengeluaran RT
- Pasak Piang 3. Analisis R/C; B/C
Tujuan 2: 3. Keragaan petani,dan
4. Analisis KHL
Analisis kesesuaian lahan usahatani

2. Wawancara dan PRA: 1. Teknis budidaya RL


- Sui Ambangah 2. Penggunaan saprotan
Tujuan 3: - Pasak Piang 3. Sarana prasarana pendukung
Analisis kelayakan 1. Indeks & status
1. Analisis MDS keberlanjutan
usahatani
2. Analisis leverage 2. Atribut penting
3. Monte Carlo 3. Nilai random error
3. Observasi
Tujuan 4: 1. Kondisi biofisik RL
- Kawasan RL
Mengetahui indeks dan 2. Fakta dan fenomena lainya
- Diluar Kaw. RL
status keberlanjutan dan
variabel dominan 1. Faktor penting
1. Analisis stakeholder 2. Faktor-faktor yg
4. Penelusuran dokumen: 1. Data/informasi SDA,SDM,SDT 2. Analisis prospektif
- Laporan penelitian lokal, utilitas, dll berpengaruh
Tujuan 5: - Laporan dinas 2. Jenis kegiatan/proyek,
Disain model dan - Dokumen2 lainnya kebijakan serta hasil pelaks.
kebijakan pengelolaan
rawa lebak berkelanjutan Sumberdaya lokal
5. Wawancara mendalam 1. Masalah-masalah dlm
- Pakar pengelolaan. RL
2. Alternatif solusi pemecahan Model Pengelolaan RL
- Informan kunci Sintesis
masalah Berkelanjutan
3. Harapan di masa depan

Ket: aliran informasi dan kesatuan atribut yg disentesis untuk menyusun model
Gambar 3 Struktur tujuan, metode, variabel dan keluaran/output penelitian
3.4 Rancangan Penelitian

Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, maka rancangan penelitian yang


digunakan terdiri dari, (1) studi literatur (desk study); (2) survey dan observasi
langsung ke lapangan (direct observation); (3) wawancara (interview dan in-
depth interview); dan (4) analisis tanah di laboratorium. Studi literatur, dilakukan
untuk memperluas dan melengkapi hasil kajian yang terkait dengan lingkup
penelitian. Penelusuran literatur dilakukan terhadap berbagai laporan dan
dokumen hasil-hasil penelitian terkait, serta data dan informasi dari sumber-
sumber lain. Survey dan observasi langsung ke lapangan (direct observation),
dilakukan untuk mengetahui dan melihat secara langsung berbagai keadaan dan
perilaku petani dan stakeholders lainnya, serta keberadaan dan ketersediaan
infrastruktur pendukung. Hasil kegiatan ini digunakan sebagai dasar klarifikasi
dan cek silang (cross check) terhadap berbagai informasi yang ada. Wawancara
(interview), dilakukan untuk mengumpulkan data dan informasi kuantitatif dan
kualitatif dari kelompok sasaran (responden) yang telah ditetapkan. Data dan
informasi yang dikumpulkan berkenaan dengan karakteristik ekologi, ekonomi,
sosial budaya, teknologi, dan kelembagaan. Sedangkan in-depth interview,
dilakukan untuk mengetahui kebutuhan stakeholders, permasalahan yang
dihadapi, harapan dan pendapat yang terkait dengan masalah pengembangan
pertanian berkelanjutan dan lingkungan di rawa lebak secara lebih mendalam
dan komprehensif. Kelompok sasaran dalam wawancara ini adalah informan
kunci (key informan) yang memiliki kompetensi (pakar) dengan kajian yang
ditelaah. Analisis laboratorium, dilakukan terhadap contoh tanah dari masing-
masing penggunaan lahan (eksisting) yang ada di dua lokasi penelitian.
Petani yang menjadi sampel (responden) dari penelitian ini adalah petani
yang bertempat tinggal dan yang berusahatani di rawa lebak, terkecuali
responden pakar. Penetapan jumlah sampel (responden) mengacu pada
pendapat Arikunto (1993); (1) apabila obyek penelitian jumlahnya kurang dari
100 lebih baik diambil semuanya; (2) jika jumlahnya besar atau lebih dari 100
dapat diambil antara 10 – 15 persen atau 20 – 25 persen atau lebih, tergantung
waktu, tenaga, dana, luas wilayah pengamatan, atau besar sedikitnya data, dan
besarnya risiko penelitian serta tingkat homogenitas sampel. Sedangkan
responden pakar berasal dari daerah lain, karena pemilihan pakar yaitu para ahli
atau praktisi yang memiliki keahlian, reputasi dan atau pengalaman pada aspek
yang terkait dengan penelitian ini.
3.5 Jenis dan Sumber Data

3.5.1 Data fisik tanah dan iklim


Dalam kegiatan survey lapangan dilakukan pengamatan dan pengambilan
sampel tanah dan pengumpulan data iklim.
(1) Data tanah yang diamati, yaitu melalui pengamatan dan pengukuran di
lapangan meliputi: bentuk lahan, lereng, drainase, kedalaman efektif,
kedalaman sulfidik, bahaya erosi, bahaya banjir, batuan permukaan, dan
kemudahan pengolahan.
(2) Pengambilan contoh tanah untuk analisis laboratorium dilakukan pada
masing-masing satuan penggunaan lahan yang ada, yaitu di lahan
pertanaman padi, kebun karet dan kebun kelapa sawit. Dalam hal ini, ketiga
tanaman tersebut paling umum diusahakan oleh petani setempat.
Pengambilan contoh tanah dilakukan secara stratified random sampling.
Setiap satuan penggunaan lahan yang ada, diambil contoh tanah komposit
masing-masing untuk lahan sawah pada kedalaman 0 – 30 cm, sedangkan
untuk kedua lahan karet dan kelapa sawit, diambil pada kedalaman 30 – 60
cm. Selanjutnya, contoh tanah tersebut dianalisis di laboratorium untuk
diperoleh data berupa: pH, kandungan bahan organik, N total, P tersedia,
kation-kation dapat tukar (K, Na, Ca, Mg), Kapasitas Tukar Kation,
kejenuhan basah, Al dan H dapat tukar, dan tekstur. Parameter kimia dan
fisik serta metode analisis tanah yang digunakan selengkapnya disajikan
pada Tabel 2.
Tabel 2 Parameter kimia dan fisik serta metode analisis yang digunakan
Parameter kimia dan fisik Metode analisis
pH H2O Gelas elektroda
C organik (%) Walkley and Black
N total (%) Kjeldhal
P2O5 (ppm) Bray I
+ -1
K-tersedia (cmol kg ) Ekstrak NH4OAc 1N pH:7
+ -1
Na (cmol kg ) Ekstrak NH4OAc 1N pH:7
+ -1
Ca (cmol kg ) Ekstrak NH4OAc 1N pH:7
+ -1
Mg (cmol kg ) Ekstrak NH4OAc 1N pH:7
+ -1
KTK (cmol kg ) Ekstrak NH4OAc 1N pH:7
Kejenuhan basa (%) Ekstrak NH4OAc 1N pH:7
+ -1
Al-dd (cmol kg ) Ekstrak KCl 1N
+ -1
H-dd (cmol kg ) Ekstrak KCl 1N
Tekstur (3 fraksi) Pipet (gravimetri)
(3) Data iklim berupa: data curah hujan, suhu udara, dan kelembaban udara
merupakan data sekunder yang dikumpulkan atau diambil dari stasiun
meteorologi yang terdekat dengan lokasi penelitian dalam hal ini adalah
Stasiun Meterologi Supadio Pontianak.

3.5.2 Data tanaman

Data dan informasi sistem budidaya tanaman diperoleh melalui


pengamatan langsung di lapangan dan wawancara terhadap petani. Data
tersebut meliputi: jenis benih atau bibit yang digunakan, asal benih atau bibit,
teknis penanaman dan jarak tanam, waktu tanam, pemeliharaan (pemupukan,
pengairan, pengendalian hama penyakit, penyiangan, pemangkasan), produksi,
pasca panen dan pemasaran.

3.5.3 Data sosial, ekonomi, teknologi dan kelembagaan

Data sosial, ekonomi, teknologi dan kelembagaan diperoleh melalui


wawancara langsung ke petani, pedagang, petugas penyuluh lapangan, tokoh
masyarakat, aparat desa dan kecamatan, para pakar dan juga melalui
pengumpulan dokumen mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten dan
provinsi. Jenis data, sumber data dan teknik pengumpulan data secara lengkap
disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3 Jenis, sumber dan teknik pengumpulan data


Sumber
No Jenis Data Teknik Pengumpulan Data
Data
1. Tanah (fisik dan kimia), iklim (curah hujan, Primer Pengambilan contoh dan analisis
suhu, kelembaban udara), fisiografi. tanah, pengukuran di lapang
Sekunder Studi literatur, dokumentasi dan
laporan dinas terkait
2. Sistem usahatani (benih/bibit yang digunakan, Primer Desk study, PRA, Survey dan
pemeliharaan: pemupukan, pengendalian observasi lapang, wawancara
hama penyakit; panen, produksi, pemasaran) (interview dan indepth interview)
Sekunder Laporan penelitian, jurnal,
dokumen
3. Sosial ekonomi petani (demografi, pemilikan Primer Desk study, PRA, Survey dan
lahan, jumlah anggota keluarga, jumlah usia observasi lapang, wawancara
produktif, curahan tenaga kerja, penggunaan (interview dan indepth interview)
saprodi, biaya hidup, harga saprodi, harga Sekunder Laporan penelitian, jurnal,
komoditas, pengeluaran-pendapatan usahatani dokumen
dan non usahatani, preferensi petani terhadap
komoditas dan rawa lebak)
4. Kelembagaan (kebijakan sumber penyediaan Primer Desk study, PRA, Survey dan
saprodi, lembaga keuangan, KUD, sistem observasi lapang, wawancara
penanganan hasil, ketersediaan informasi dan (interview dan indepth interview)
teknologi, pelayanan penyuluhan) Sekunder Studi literatur dan dokumen
5. Infrastruktur pendukung (pasar, jalan, gudang, Primer Desk study, PRA, Survey,
pabrik pengolahan, pompa air, irigasi, alsintan) observasi lapang, dan wawancara
(interview dan indepth interview)
Ket: PRA (Participatory Rural Appraisal)
3.6 Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data primer dilakukan secara partisipatif melalui diskusi,


wawancara, pengisian kuesioner, pengambilan contoh tanah, serta pengamatan
langsung terhadap sistem usahatani di lokasi penelitian. Data sekunder diperoleh
melalui studi pustaka, peta, laporan hasil penelitian, dan dokumen dari berbagai
instansi yang berhubungan dengan bidang penelitian.

3.7 Teknik Pengambilan Sampel

Sampel responden untuk analisis kondisi sosial ekonomi petani terdiri dari
ketua kelompok dan anggota kelompok tani yang dipilih secara acak (random
sampling). Dari sembilan kecamatan yang ada di Kabupaten Kubu Raya
ditentukan secara sengaja (purposive) dua kecamatan sebagai sampel yang
mewakili daerah rawa lebak.
Responden dipilih secara acak (random sampling), sebanyak 25 persen
dari 174 kepala keluarga yaitu 45 responden di Desa Sungai Ambangah, dan 25
persen dari 112 kepala keluarga yaitu 28 responden di Desa Pasak Piang.
Responden pakar ditentukan secara sengaja (purposive sampling) sebanyak
sembilan orang yang mewakili semua pemangku kepentingan atau mewakili
unsur birokrasi, akademisi, LSM, dan Masyarakat, seperti Ketua Bappeda
Kabupaten Kubu Raya, ahli pengelolaan sumberdaya lahan, tokoh masyarakat,
lembaga swadaya masyarakat (LSM), ahli dibidang pengairan dan rawa, dan
berbagai instansi teknis yang berhubungan dengan pengembangan sistem
usahatani (Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan). Dasar pertimbangan dalam
penentuan responden ini dengan menggunakan kriteria sebagai berikut:
1. Keberadaan responden dan kesediaan untuk dijadikan responden.
2. Memiliki reputasi, kedudukan atau jabatan dan telah menunjukkan
kredibilitasnya sebagai pakar pada bidang yang diteliti.
3. Telah memiliki pengalamanan dalam bidangnya.

3.8 Analisis Data

Sesuai dengan tujuan penelitian serta jenis data sifat data yang
dikumpulkan, maka analisis data yang dilakukan meliputi: (1) analisis deskriptif,
(2) analisis kesesuaian lahan, (3) analisis kelayakan usahatani, (4) analisis
keberlanjutan untuk masing-masing dimensi, (5) analisis leverage, (6) analisis
Monte Carlo, (7) analisis kebutuhan pemangku kepentingan, (9) analisis
prospektif, (9) analisis pendapatan dan kebutuhan rumahtangga, dan (10)
analisis kebutuhan hidup layak.
3.8.1 Analisis deskriptif
Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai (khususnya tujuan 1), maka
pelaksanaan penelitian bersifat eksploratif-deskriptif. Arah penelitian adalah
penemuan kriteria rawa lebak dan keragaan petani yang ada di lokasi penelitian
berdasarkan kondisi faktual di lapangan. Selanjutnya dibuat deskripsi secara
sistematis, faktual dan akurat terhadap fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan
antar fenomena yang ditelaah dan merumuskan berbagai alternatif solusi sesuai
dengan aspek yang dikaji.
Untuk mendapatkan data dan informasi objektif sesuai dengan kebutuhan
penelitian, maka dilakukan pengumpulan data dan informasi yang dilakukan
dengan menggunakan berbagai teknik yaitu: survey dan pengukuran langsung di
lapangan, wawancara (interview dan indepth interview), dan studi literatur.
3.8.2 Analisis kesesuaian lahan
Analisis kesesuian lahan dilakukan untuk mendapatkan kesesuaian
penggunaan lahan untuk penggunaan suatu jenis tanaman tertentu, melalui
pendekatan matching atau kecocokan antara kualitas dan sifat-sifat tanah (land
qualities/land characteristics) dengan kriteria kelas kesesuaian lahan yang
disusun berdasarkan persyaratan tumbuh suatu komoditas pertanian yang
berbasis lahan (Djaenudin et al., 2003).
3.8.3 Analisis kelayakan usahatani
Analisis usahatani yang dilakukan adalah analisis revenue cost ratio
(RCR) dan benefit cost ratio (BCR). Kedua analisis ini untuk mengetahui apakah
usahatani yang dijalankan saat ini, menguntungkan atau tidak menguntungkan.
Analisis R/C ratio dan B/C ratio dengan menggunakan persamaan Soekartawi
(2002):
n Bt
Σ --------
t
i=0 (1+i)
B/C=------------------------- …………………………..…………..(1)
n Ct
Σ ---------
t
i=0 (1-t)
Keterangan :
Bt = manfaat tahun ke-t i = discount rate (%)
Ct = biaya pada tahun ke-t t = tahun (umur)
Apabila nilai R/C ratio atau B/C ratio lebih besar dari satu, maka
usahatani dikatakan menguntungkan dikembangkan, sebaliknya bila R/C ratio
atau B/C ratio lebih kecil dari satu, maka usahatani tidak menguntungkan untuk
dikembangkan.
Dalam penilaian kelayakan usahatani tanaman dengan
mempertimbangkan, yaitu: (1) umur ekonomis untuk tanaman tahunan yang
diusahakan dalam hal ini tanaman karet dan kelapa sawit, masing-masing
sampai umur 35 tahun untuk tanaman karet yang didasarkan hasil
informasi/wawancara terhadap petani di lapangan dan 25 tahun untuk tanaman
kelapa sawit; (2) tingkat suku bunga (discount factor) yang digunakan dalam
analisis ekonomi adalah 18%. Tingkat suku bunga berperilaku progresif untuk
mengurangi nilai sekarang terhadap hasil dan manfaat yang diperoleh di waktu
yang akan datang. Semakin jauh waktu dipilih ke depan, semakin kecil nilai
manfaat untuk waktu yang akan datang.
Selanjutnya dilakukan analisis sensitivitas (Monde, 2008). Analisis ini
dengan berpatokan kepada kenaikkan pendapatan dan penurunan produksi dan
biaya produksi. Analisis ini dilakukan dengan mengasumsikan nilai-nilai yang
diperoleh terhadap kemungkinan yang akan terjadi dengan perubahan sebesar
20%:
- Biaya produksi meningkat 20%, jumlah dan harga produksi tetap
- Harga produksi turun 20%, jumlah dan biaya produksi tetap
- Harga produksi turun 20%, biaya produksi naik 20%, jumlah produksi tetap
- Jumlah dan harga produksi masing-masing turun 20%, biaya produksi tetap
- Jumlah dan harga produksi masing-masing turun 20%, biaya produksi naik
20%
- Produksi tetap harga naik 20%
- Produksi turun dan harga naik 20%
3.8.4 Analisis keberlanjutan
Untuk mengetahui kondisi dan tingkat keberlanjutan usahatani di lahan
rawa lebak saat ini dan hasil penyusunan skenario untuk masa yang akan
datang, dilakukan analisis keberlanjutan dengan menggunakan metode rapid
appraisal menggunakan analisis Rap-Lebak (Rap-lebak). Analisis ordinasi Rap-
Lebak dengan metode MDS dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa
tahapan, yaitu (1) tahap penentuan atribut sistem usahatani rawa lebak yang
meliputi lima dimensi yaitu dimensi ekologi, ekonomi, sosial budaya, teknologi
dan kelembagaan; (2) tahap penilaian setiap atribut dalam skala ordinal (scoring)
berdasarkan kriteria keberlanjutan setiap dimensi; (3) tahap analisis ordinasi
Rap-lebak dengan metode MDS dengan menggunakan software Rap-Lebak
excel untuk menentukan ordinasi dan nilai stress melalui ALSCAL Algoritma; (4)
penyusunan indeks dan status keberlanjutan sistem usahatani saat ini
berdasarkan lima dimensi yang menjadi indikator keberlanjutan.
Pada setiap dimensi terdiri dari tujuh hingga delapan atribut yang
mencerminkan keberlanjutan usahatani di rawa lebak dan masing-masing atribut
tersebut diberikan penilaian/skor. Skor ini menunjukkan nilai dalam kisaran baik
(good) dan buruk (bad). Berdasarkan skor tersebut kemudian dilakukan analisis
mengunakan ordinasi statistik yang disebut Multi Dimensional Scalling (MDS).
Jika nilai indeks lebih dari 50% maka sistem yang dikaji tersebut dapat
dikategorikan berkelanjutan (sustainable) dan apabila nilai indeks kurang dari
50% maka sistem yang dikaji dianggap belum berkelanjutan. Adapun nilai skor
yang merupakan nilai indeks keberlanjutan setiap dimensi dapat dilihat pada
Tabel 4.
Tabel 4 Kategori indeks dan status keberlanjutan
Nilai Indeks Kategori
0 – 24,99 Buruk : Tidak berkelanjutan
25 – 49,99 Kurang : Kurang berkelanjutan
50 – 79,99 Cukup : Cukup berkelanjutan
80 – 100,00 Baik : Sangat berkelanjutan

Nilai indeks keberlanjutan untuk setiap dimensi di atas, dapat pula


divisualisasikan dalam bentuk diagram layang-layang (kite diagram)
sebagaimana ditunjukkan Gambar 4.

Dimensi Ekologi
100

80

60
40
Dimensi Kelembagaan Dimensi Ekonomi
20
0

Dimensi Teknologi Dimensi Sosial Budaya

Gambar 4 Diagram layang indeks keberlanjutan


3.8.5 Analisis Leverage
Analisis laverage (daya ungkit) dilakukan untuk mengetahui atribut yang
sensitif dan intervensi yang perlu dilakukan. Hasil analisis laverage dinyatakan
dalam bentuk persen (%) perubahan root mean square (RMS) dari masing-
masing atribut jika dihilangkan dalam ordinasi. Atribut-atribut dengan persentase
tertinggi merupakan atribut yang paling sensitif berpengaruh terhadap
keberlanjutan (Kavanagh, 2001; Pitcher dan David, 2001). Atau semakin besar
perubahan root mean square (RMS), maka semakin sensitif peranan atribut
tersebut terhadap peningkatan status keberlanjutan.

3.8.6 Analisis Monte Carlo


Analisis Monte Carlo dilakukan untuk menduga pengaruh galat pada
selang kepercayaan 95 persen. Analisis ini merupakan metode simulasi statistik
untuk mngetahui pengaruh random error pada proses pendugaan dan diperlukan
untuk mempelajari efek ketidakpastian dari beberapa faktor seperti (1) kesalahan
pembuatan skoring dalam setiap atribut, (2) dampak keragaman skoring dari
perbedaan penilaian, (3) stabilitas MDS dalam running, dan (4) tinggi nilai S-
Stress dari algoritma ASCAL. Jika perbedaan antara hasil perhitungan MDS dan
Monte Carlo kurang dari satu, maka sistem yang dikaji cukup baik atau sesuai
dengan kondisi nyata (Kavanagh, 2001; Pitcher dan David, 2001). Nilai S-stress
dan koefisien determinasi (R2) berfungsi juga untuk mengetahui perlu tidaknya
penambahan atribut, dan sekaligus mencerminkan keakuratan dimensi yang
dikaji dengan keadaan yang sebenarnya. Nilai tersebut diperoleh berdasarkan
dua titik yang berdekatan terhadap titik asal ordinasi. Sedangkan penentuan
jarak dalam MDS didasarkan pada euclidian distance (Fauzi dan Anna, 2005).
Dalam ruang berdimensi n dengan persamaan sebagai berikut:

d= .............................(2)

Ordinasi dari obyek atau titik kemudian diaproksimasi dengan


meregresikan jarak euclidian (dij) dari titik i ke titik j dengan titik asal (δij).

dij = + βδij + ε .............................................................................(3)

Untuk meregresikan persamaan di atas, digunakan metode least squared


bergantian berdasarkan akar eucludian distance (square distance) atau disebut
dengan metode ALSCAL (Fauzi dan Anna, 2005). Metode ini mengoptimalkan
jarak kuadrat (squared distance = dijk) terhadap data kuadrat (titik asal = Oijk),
dalam ruang tiga dimensi (i,j,k) yang disebut S-Stress, sesuai dengan persamaan
berikut:


................................................................(4)

Jarak kuadrat merupakan jarak euclidian, sesuai dengan persamaan berikut:

.................................................................(5)

Goodness of fit dalam MDS untuk mengukur ketepatan konfigurasi dari


suatu titik yang dapat mencerminkan data aslinya. Goodness of fit mencerminkan
besaran nilai S-Stress dari R2. Nilai S-Stress yang rendah menunjukkan good fit,
sedangkan nilai S-stress yang tinggi menunjukkan sebaliknya (Fauzi dan Anna,
2005). Menurut Kavanagh and Pitcher (2004), model yang baik atau hasil analisis
cukup baik, apabila nilai S-Stress kurang dari 0,25 (S<0,25), dan R2 mendakati 1
(100%).

3.8.7 Analisis kebutuhan pemangku kepentingan (Stakeholder)


Analisis kebutuhan pemangku kepentingan dilakukan untuk mengetahui
faktor-faktor penting yang berpengaruh dan berperan dalam sistem
pengembangan rawa lebak secara berkelanjutan pada masa yang akan datang.
Analisis ini dilakukan dengan cara melakukan wawancara mendalam (indepth
interview) dan identifikasi kebutuhan semua pemangku kepentingan terhadap
rawa lebak. Berbagai kebutuhan stakeholder tersebut kemudian diformulasikan
dalam bentuk deskripsi faktor kunci pemenuhan kebutuhan stakeholder
pengelolaan kawasan rawa lebak pada masa yang akan datang. Faktor-faktor ini
menjadi masukan dalam skenario yang akan disusun.

3.8.8 Analisis prospektif


Analisis prospektif dilakukan untuk menyusun skenario arahan kebijakan
dengan cara menentukan faktor-faktor kunci yang berpengaruh dan memprediksi
kemungkinan yang akan terjadi pada masa yang akan datang sesuai dengan
tujuan yang akan dicapai. Analisis prospektif dilakukan melalui beberapa
tahapan, yaitu (1) menetapkan tujuan, (2) melakukan identifikasi kriteria, (3)
mendiskusikan kriteria yang telah ditentukan, (4) analisis pengaruh antara faktor,
(5) membangun dan memilih skenario, dan (6) implikasi skenario (Bourgeois,
2007).
Penentuan faktor kunci dalam analisis ini dilakukan dengan
menggabungkan faktor-faktor kunci yang sensitif berpengaruh terhadap kinerja
sistem dari hasil analisis keberlanjutan dan faktor kunci yang diperoleh dari
analisis kebutuhan. Pengaruh antar faktor kunci diberikan nilai (skor) oleh pakar
dengan menggunakan pedoman seperti pada Tabel 5.
Tabel 5 Pedoman penilaian
Skor Keterangan
0 Tidak ada pengaruh
1 Berpengaruh kecil
2 Berpengaruh sedang
3 Berpengaruh sangat kuat
Sumber: Hardjomidjojo, 2006

Pengaruh antar faktor diisi dengan memberikan angka pada masing-


masing faktor dengan pedoman sebagai berikut:
(1) Jika faktor tersebut tidak ada pengaruh terhadap faktor lain, jika ya
diberikan nilai 0
(2) Jika tidak, selanjutnya dilihat apakah pengaruhnya kecil, diberikan
nilai 1, dan jika pengaruh sedang, diberikan nilai 2.
(3) Jika tidak, selanjutnya dilihat apakah pengaruhnya sangat kuat, jika
ya diberikan nilai 3.
Pengaruh antar faktor selanjutnya disusun ke dalam bentuk matriks
sebagaimana Tabel 6.
Tabel 6 Pengaruh antar faktor
Dari A B C D .............
Terhadap
A
B
C
D
......
Sumber: Bourgeois, 2007

Untuk menentukan kemungkinan-kemungkinan yang terbaik pada masa


yang akan datang, dilakukan penentuan faktor-faktor penting/faktor
pengungkit/elemen-elemen kunci dari beberapa faktor yang telah disusun
sebelumnya. Faktor-faktor penting/pengungkit tersebut, dianggap faktor kunci
yang sangat berpengaruh terhadap model pengelolaan rawa lebak secara
berkelanjutan. Penentuan faktor-faktor penting/pengungkit dilakukan dengan cara
seperti pada Gambar 5.
(1) (2)

Pengaruh
Faktor Penentu Faktor Penghubung
(DrivingVariables) (Leverage Variables)
INPUT STAKE

(3) (4)
Faktor Bebas Faktor Terkait
(Marginal Variables) (Output Varables)
UNUSED OUTPUT

Ketergantungan

Gambar 5 Tingkat pengaruh dan ketergantungan antar faktor dalam


sistem

Masing-masing kuadran dalam diagram mempunyai karakteristik faktor


yang berbeda (Bourgeois and Jesus, 2004), yaitu:
a. Kuadran 1 (driving variables), memuat faktor-faktor yang mempunyai
pengaruh kuat dengan tingkat ketergantungan yang kurang kuat. Faktor
pada kuadran ini merupakan faktor penentu atau penggerak (driving
variables) yang paling kuat dalam sistem.
b. Kuadran 2 (leverage variables), memuat faktor-faktor yang mempunyai
pengaruh dan ketergantungan yang kuat (leverage variables). Faktor
pada kuadran ini dianggap peubah yang kuat.
c. Kuadran 3 (outout variables), memuat faktor-faktor yang mempunyai
pengaruh kecil, namun ketergantungannya tinggi.
d. Kuadran 4 (marginal variables), memuat faktor-faktor yang mempunyai
pengaruh dan ketergantungan kecil (rendah).
Berdasarkan faktor-faktor penting/faktor pengungkit yang diperoleh di
atas, selanjutnya dijadikan sebagai alternatif dalam penyusunan skenario.
Ilustrasi keadaan yang mungkin terjadi dimasa yang akan datang dapat dilihat
pada Tabel 7.
Tabel 7 Ilustrasi keadaan yang mungkin terjadi dimasa yang akan datang
Faktor penting Keadaan yang mungkin terjadi
1 1A 1B 1C
2 2A 2B 2C
3 3A 3B 3C
.... .... .... ....
n nA nB nc
Berdasakan hasil dari Tabel 7, langkah selanjutnya adalah membangun
skenario rekomendasi kebijakan pengembangan model pengelolaan rawa lebak
berkelanjutan dengan beberapa kemungkinan skenario seperti Tabel 8.
Tabel 8 Kemungkinan skenario model pengelolaan rawa lebak berkelanjutan
Skenario Uraian Urutan faktor
1 Bertahan pada kondisi saat ini, dengan ............................
perbaikan terbatas ..................
2 Melakukan perbaikan tetapi tidak ............................
maksimal ..................
3 Melakukan perbaikan secara ............................
menyeluruh dan terintegrasi ..................

3.8.9 Analisis pendapatan dan kebutuhan rumahtangga


Untuk mengetahui pendapatan rumahtangga petani dilakukan analisis
dengan menjumlahkan penghasilan semua anggota keluarga (kepala keluarga,
istri, anak, dan anggota lainnya) yang bersumber dari luar kegiatan usahatani
maupun dari kegiatan usahatani yang dihitung dalam suatu periode tertentu.
Selanjutnya dihitung proporsi pendapatan rumahtangga yang bersumber dari
usahatani.
Pada saat yang sama, dilakukan perhitungan kebutuhan rumahtangga
dengan menjumlahkan semua kebutuhan rumahtangga, baik untuk kebutuhan
primer, sekunder, dan kebutuhan tersier yang juga dihitung dalam suatu periode
tertentu. Perhitungan ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat pemenuhan
kebutuhan keluarga dan inventarisasi berbagai macam kebutuhan berdasarkan
prioritas pemenuhannya. Dalam hal ini kebutuhan rumahtangga dibatasi pada
kebutuhan-kebutuhan pokok (kebutuhan primer). Langkah berikutnya, dilakukan
formulasi keseimbangan antara kebutuhan dengan penghasilan rumahtangga.

3.8.10 Analisis kebutuhan hidup layak (KHL)


Untuk mengukur apakah suatu keluarga tani telah hidup layak, maka
dilakukan analisis kebutuhan hidup layak (KHL). Dalam hal ini kebutuhan hidup
layak didasarkan pada kebutuhan dasar, yaitu untuk pangan, sandang, papan,
pendidikan, kesehatan dan sosial. Analisis ini dilakukan dengan cara
menyetarakan jumlah pendapatan bersih yang diperoleh setiap rumahtangga
petani untuk dapat hidup layak yaitu minimal senilai beras 320 kg/th x harga
(Rp/kg) x jumlah anggota keluarga x 2,5 (Sinukaban, 2007). Pedoman yang
dipakai untuk perhitungan adalah:
- Nilai setara 320 kg beras per orang per tahun untuk memenuhi 3 (tiga)
kebutuhan hidup primer (pangan, sandang, papan) dengan rincian 8,9 kg
beras x 3 x 12 bulan = 320,4 kg atau dibulatkan 320 kg/org/th (100%). Dalam
sehari kebutuhan hidup per orang sebesar 290 gram beras, sebulan 290 gram x
30 = 8,9 kg per bulan.
- Untuk kebutuhan kesehatan dan rekreasi 50% x 320 kg beras/org/th
- Kebutuhan pendidikan 50% x 320 kg beras/org/th.
- Kebutuhan sosial, asuransi dll. 50% x 320 kg beras/org/th.
Untuk melengkapi hasil analisis ini dilanjutkan dengan analisis kebutuhan
lahan minimal yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan hidup layak, yaitu
dengan mengkonversi nilai kebutuhan hidup layak ke nilai produktivitas lahan
minimum. Dalam penetapan luas lahan minimal (Lm), digunakan persamaan:
Lm = KHL/Pb, dimana: Pb adalah pendapatan bersih per hektar (Monde, 2008).

3.9 Rekomendasi Kebijakan

Dari serangkaian analisis yang dilakukan, selanjutnya disusun


rekomendasi. Rekomendasi kebijakan dalam bentuk model pengelolaan rawa
lebak berkelanjutan, merupakan tujuan utama dari penelitian ini. Rekomendasi
kebijakan ini diharapkan dapat menjadi bahan rancangan kebijakan untuk
pengelolaan rawa lebak di Kabupaten Kubu Raya pada khususnya dan daerah
lain pada umumnya.
IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Luas Wilayah dan Kepadatan Penduduk

Kabupaten Kubu Raya merupakan salah satu Kabupaten yang ada di


Kalimantan Barat dengan luas wilayah mencapai 6 985,24 km2 (Tabel 9). Secara
geografis, Kabupaten Kubu Raya berada di sisi Barat Daya Provinsi Kalimantan
Barat atau berada pada posisi 0o 13‘ 27‖ Lintang Utara sampai dengan 1o 0‘ 15‖
Lintang Selatan dan 109o 58‘ 47‖ Bujur Timur sampai dengan 109o 58‘ 17‖ Bujur
Timur yang terdiri dari sembilan kecamatan dan 106 desa.
Dari Sembilan Kecamatan yang ada, kecamatan yang memiliki wilayah
terluas adalah Kecamatan Batu Ampar seluas 2 002,70 km2 atau 28,86 persen
dari luas Kabupaten Kubu Raya dan kecamatan dengan wilayah terkecil adalah
Kecamatan Rasau Jaya yaitu 111,70 km2 atau 1,59 persen dari luas Kabupaten
Kubu Raya. Sedangkan luas wilayah Kecamatan Sungai Raya dan Sungai
Ambawang sebagai lokasi penelitian masing-masing dengan luasan 929,30 km2
atau 13,30 persen dan 726,10 km2 atau 10,40 persen dari luas Kabupaten Kubu
Raya (Tabel 9 dan Gambar 6).

Tabel 9 Luas wilayah, Ibukota Kecamatan dan jumlah desa di Kabupaten


Kubu Raya
No Kecamatan Ibukota Luas Area Jumlah
2
Kecamatan (km ) Desa
1 Batu Ampar Padang Tikar 2 002,70 14
2 Terentang Terentang 786,40 9
3 Kubu Kubu 1 211,60 19
4 Teluk Pakedai Teluk Pakedai 291,90 14
5 Sungai Kakap Sungai Kakap 453,17 12
6 Rasau Jaya Rasau Jaya 111,70 6
a)
7 Sungai Raya Arang Limbung 929,30 14
8 Sungai Ambawang Kuala 726,10 13
b)
Ambawang
9 Kuala Mandor B Kuala Mandor 473,00 5
Jumlah 6 985,24 106
a) b)
Keterangan: dan Lokasi Penelitian
Sumber: Kabupaten Kubu Raya Dalam Angka, 2009
Batu Ampar
7%
10% Terentang
29%
Kubu
13% Teluk Pakedai
Sungai Kakap
2% Rasau Jaya
6% 11%
Sungai Rayaa)
4% Sungai Ambawangb)
17%
Kuala Mandor B

Gambar 6 Persentase luas wilayah berdasarkan kecamatan di Kabupaten Kubu Raya

Penduduk di Kabupaten Kubu Raya menurut jenis kelamin sampai tahun


2009 sebanyak 253 261 jiwa laki-laki dan 242 697 jiwa perempuan atau dengan
total sebanyak 495 958 jiwa (Tabel 10). Penduduk ini tersebar di sembilan
kecamatan. Penyebaran penduduk terlihat belum merata dimana kecamatan
yang memiliki kepadatan penduduk terpadat yaitu Kecamatan Sungai Raya
dengan jumlah penduduk sebesar 206 981 jiwa, kemudian diikuti Kecamatan
Sungai Kakap sebanyak 95 611 jiwa dan Kecamatan Sungai Ambawang
sebanyak 59 645 jiwa. Sedangkan kecamatan dengan jumlah penduduk yang
tersedikit adalah Kecamatan Terentang yaitu hanya mencapai 8 637 jiwa.

Tabel 10 Jumlah penduduk Kabupaten Kubu Raya menurut jenis kelamin


(jiwa)
No Kecamatan Laki-Laki Perempuan Jumlah
1 Batu Ampar 16 982 15 428 32 410
2 Terentang 4 525 4 112 8 637
3 Kubu 17 185 16 114 33 299
4 Teluk Pakedai 8 330 8 031 16 361
5 Sungai Kakap 48 369 47 242 95 611
6 Rasau Jaya 10 970 10 629 21 599
7 Sungai Raya 104 932 102 049 206 981
8 Sungai Ambawang 31 042 28 603 59 645
9 Kuala Mandor B 10 926 10 489 21 415
Jumlah 253 261 242 697 495 958
Sumber: Kabupaten Kubu Raya Dalam Angka, 2009
4.2 Penggunaan Lahan, Topografi dan Iklim

Penggunaan tanah di Kabupaten Kubu Raya yang tertinggi adalah hutan


lebat mencapai 216 714,55 hektar atau 31,02 persen, sedangkan penggunaan
tanah yang terendah adalah untuk permukiman yang hanya mencapai 2 393,30
hektar atau 0,34 persen dari luas wilayah Kabupaten Kubu Raya seluas
698 520,00 ha (Tabel 11).

Tabel 11 Penggunaan lahan di Kabupaten Kubu Raya Tahun 2008


No Jenis Penggunaan Lahan Luas (ha) Persentase (%)
1 Permukiman 2 393,30 0,34
2 Perkebunan Rakyat 81 834,84 11,76
3 Perkebunan Besar 3 525,50 0,50
4 Kebun Campuran 14 191,29 2,03
5 Sawah 10 121,50 1,45
6 Tegalan / Ladang 39 439,30 5,65
7 Semak 67 939,26 9,73
8 Hutan Sejenis 62 756,80 8,98
9 Hutan Lebat 216 714,55 31,02
10 Hutan Belukar 199 605,66 28,58
Jumlah 698 520,00 100,00
Sumber: RTRW Kab. Kubu Raya, 2008

Kemiringan lahan di Kabupaten Kubu Raya sebagian besar berupa


wilayah datar mencapai 96,04% (Tabel 12). Dan terdapat sejumlah kecil wilayah
dengan kelerengan yang sangat curam (1,05%).

Tabel 12 Kemiringan lahan di Kabupaten Kubu Raya


No Lereng (%) Luas (ha) Persentase (%)
1 0–2 670 825,20 96,04
2 16 – 25 20 390,00 2,92
3 40 – 50 3 462,80 0,50
4 > 60 3 842,00 0,55
Jumlah 698 520,00 100,00
Sumber: RTRW Kab. Kubu Raya, 2008

Curah hujan di Kabupaten Kubu Raya selama 10 tahun terakhir


berdasarkan data dari Stasiun Supadio Pontianak tahun 2010 (Tabel 13 dan
Gambar 7), menunjukkan bahwa rata-rata curah hujan bulanan terendah yaitu
pada bulan Agustus mencapai 185,58 mm, sedangkan curah hujan tertinggi pada
bulan Januari mencapai 346,44 mm per bulan. Dan rata-rata curah hujan
bulanan mencapai 274,53 mm per bulan. Klasifikasi iklim lokasi penelitian
menurut Scmidt and Ferguson termasuk tipe C atau beriklim basah dengan rata-
rata bulan basah mencapai tujuh bulan per tahun yang terjadi pada bulan
Agustus, September, Oktober, Nopember, Desember, Januari dan Februari.
Tabel 13 Curah hujan (mm) rata-rata bulanan tahun 2000-2010 di
Kabupaten Kubu Raya
Bln 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rerata
Jan 582,0 306,4 466,9 349,4 384,2 290,5 184,0 281,0 124,5 262,0 233,5 346,44
Peb 164,4 253,0 76,5 296,6 351,3 166,3 345,4 91,7 106,4 66,9 274,1 219,26
Mar 169,0 269,1 285,9 201,8 215,6 221,6 137,3 202,5 209,8 291,0 286,1 248,97
Apr 178,7 357,1 334,9 213,7 312,0 258,0 260,2 314,2 321,4 372,2 210,2 313,26
Mei 63,0 160,7 141,5 146,5 386,3 409,8 228,2 61,9 233,8 182,5 0 214,80
Jun 301,7 223,4 136,0 133,9 113,4 167,8 219,7 437,5 101,8 135,4 0 197,06
Jul 194,7 301,5 153,7 212,6 249,1 151,7 40,6 311,7 317,1 121,9 0 205,46
Ags 371,8 154,8 164,0 206,5 18,9 161,7 57,2 142,4 279,0 299,5 0 185,58
Sep 340,8 155,2 107,6 132,0 308,9 229,6 171,0 215,1 200,5 189,5 0 205,02
Okt 252,7 345,4 210,7 301,9 181,8 538,3 129,7 590,7 565,2 381,9 0 349,83
Nop 343,1 469,0 362,3 334,3 351,3 309,5 296,8 249,5 246,2 668,0 0 363,00
Des 191,0 183,5 297,4 257,2 421,6 140,9 477,2 365,7 426,1 309,2 0 306,98
Sumber: Stasiun Klimatologi Supadio-Pontianak, 2010

Sedangkan curah hujan dalam bentuk diagram batang Gambar 7


menunjukkan distribusi curah hujan dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2010
atau selama 10 tahun terakhir.

800

700
TAHUN 2000
CURAH HUJAN (mm/bln)

600
TAHUN 2001

500 TAHUN 2002

TAHUN 2003
400
TAHUN 2004

300 TAHUN 2005

TAHUN 2006
200
TAHUN 2007

100 TAHUN 2008

TAHUN 2009
0
TAHUN 2010
Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
BULAN

Gambar 7 Curah hujan (mm) rata-rata bulanan tahun 2000-2010 di Kabupaten


Kubu Raya

Suhu udara di Kabupaten Kubu Raya berdasarkan data dari Stasiun


Supadio Pontianak tahun 2010 (Tabel 14 dan Gambar 8), menunjukkan bahwa
suhu rata-rata bulanan terendah 25,35 oC yaitu pada bulan Februari, sedangkan
suhu tertinggi 27,33 oC pada bulan Mei.
Tabel 14 Suhu udara (oC) rata-rata bulanan tahun 2000-2010 di Kabupaten
Kubu Raya
Bln 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rerata
Jan 26,1 26,1 26,2 26,4 26,4 26,6 26,3 26,7 26,7 26,2 26,7 26,30
Peb 26,2 26,6 26,6 26,5 26,7 26,9 26,8 26,7 24,5 26,2 27,3 25,35
Mar 26,7 26,6 26,9 26,7 26,9 27,1 27,3 26,7 26,1 26,7 26,7 26,45
Apr 26,3 26,6 26,8 26,6 26,8 27,2 25,8 26,8 25,9 27,2 27,9 26,34
Mei 27,4 27,2 27,5 27,7 27,3 27,1 26,9 27,1 27,1 28,0 0 27,33
Jun 27,1 26,7 27,0 27,4 27,4 27,3 26,9 26,7 27,0 27,8 0 27,13
Jul 27,1 26,5 27,3 26,7 26,0 27,0 27,9 26,7 26,6 27,2 0 26,90
Ags 26,3 27,2 27,1 27,3 27,2 27,3 27,4 26,9 26,8 27,7 0 27,12
Sep 26,6 26,1 27,0 26,7 26,4 26,9 26,6 27,1 27,0 27,7 0 26,81
Okt 26,2 26,5 26,8 26,7 26,7 26,4 26,9 26,5 26,3 26,7 0 26,57
Nop 26,4 26 ,2 26,4 26,4 26,3 26,1 26,5 26,1 26,9 26,5 0 26,38
Des 26,1 26,1 26,8 26,2 26,0 26,1 26,5 26,2 26,1 26,4 0 26,25
Sumber: Stasiun Klimatologi Supadio-Pontianak, 2010

Sedangkan suhu udara di lokasi penelitian dalam bentuk diagram garis


sebagaimana disajikan pada Gambar 8.

27.5

27
Suhu Rerata Bulanan (oC)

26.5

26

25.5 SUHU
RERATA
25 BULANAN

24.5

24
Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
Bulan

o
Gambar 8 Suhu ( C) rata-rata bulanan di Kabupaten Kubu Raya

Kelembaban udara rata-rata bulanan selama 10 tahun terakhir di lokasi


penelitian baik di Desa Sungai Ambangah dan Desa Pasak Piang, menunjukkan
bahwa kelembaban udara terendah terjadi pada bulan Agustus yaitu mencapai
83%, sedangkan kelembaban udara tertinggi terjadi pada bulan Desember
mencapai 89,10%. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15 Kelembaban udara (%) rata-rata bulanan tahun 2000-2010 di
Kabupaten Kubu Raya
Bln 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rerata
Jan 92 87 89 88 88 87 88 89 87 87 85 87,91
Peb 85 87 85 86 85 86 85 86 95 86 85 86,45
Mar 88 85 85 86 85 85 85 87 90 84 85 85,91
Apr 90 87 89 87 87 85 86 88 86 86 84 86,82
Mei 88 86 87 84 86 88 88 88 86 83 0 86,40
Jun 89 84 87 83 82 88 84 86 84 82 0 84,90
Jul 86 84 84 84 87 87 83 86 85 80 0 84,60
Ags 88 81 84 84 79 86 81 83 84 80 0 83,00
Sep 89 88 88 85 86 88 86 84 84 81 0 85,90
Okt 89 88 88 87 86 89 88 89 87 86 0 87,70
Nop 90 89 88 89 90 91 89 90 86 88 0 89,00
Des 89 88 87 89 90 91 90 90 89 88 0 89,10
Sumber: Stasiun Klimatologi Supadio-Pontianak, 2010

Sedangkan kelembaban udara di lokasi penelitian dalam bentuk diagram


garis sebagaimana disajikan pada Gambar 9.

90
Kelembaban Udara Rerata Bulanan (%)

89
88
87
86
85
84
83 Kelembaban
Rerata
82 Bulanan
81
80
79
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Bulan

Gambar 9 Kelembaban (%) udara rata-rata bulanan di Kabupaten Kubu Raya

4.3 Kondisi Sosial dan Ekonomi

Suku yang ada di Kabupaten Kubu Raya meliputi suku Melayu, Madura,
Jawa/Sunda, Bugis, Cina, Dayak dan lain-lain. Warga keturunan Cina merupakan
suku yang terbanyak mencapai 48,37 persen, kemudian diikuti Jawa mencapai
17,19 persen, Melayu 16,98 persen, Dayak 10,97 persen dan Bugis 8,33 persen.
Sedangkan suku Madura hanya mencapai 4,53 persen (Gambar 10).
11.00% 17%
11.00% Melayu
5%
Madura
Jawa/Sunda
17% Bugis
Cina
Dayak
8.00%
48.00% Lain-lain

Gambar 10 Distribusi penduduk menurut suku bangsa di Kabupaten Kubu Raya

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kubu Raya, cenderung meningkat dari


tahun ke tahun (Tabel 16). Sektor yang mengalami pertumbuhan ekonomi
tertinggi pada tahun 2003 dan 2004 adalah sektor listrik, gas dan air minum,
sedangkan pada tahun 2005 dan 2006 adalah sektor pertanian. Selanjutnya
berdasarkan data tahun 2006 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terdapat
tiga sektor utama yang memiliki kontribusi tinggi terhadap PDRB Kabupaten
Kubu Raya, secara berturut-turut adalah sektor industri pengolahan, sektor
pertanian dan sektor perdagangan, hotel dan restoran. Kemudian, berdasarkan
nilai Location Quation (LQ) sektor unggulan Kabupaten Kubu Raya adalah sektor
industri pengolahan dan sektor pertanian, hal itu ditunjukkan oleh nilai LQ yang
lebih besar dari 1.
Tabel 16 Pertumbuhan ekonomi, PDRB dan nilai LQ menurut sektor
Kabupaten Kubu Raya tahun 2003 – 2006 (persen)
Tahun PDRB KKR Nilai LQ Sektor
Sektor Thn 2006 Thn 2006
2003 2004 2005 2006
Pertanian 5,82 7,17 8,77 10,56 387 744,97 1,13
Pertambangan dan - - - - 0,00 0,00
Penggalian
Industri Pengolahan 1,85 1,85 1,85 1,85 568 226,95 2,23
Listrik, Gas dan Air 7,95 8,03 8,10 8,17 4 430,98 0,75
Minum
Bangunan 5,84 5,85 5,85 5,85 19 190,27 0,18
Perdagangan, Hotel dan 1,01 1,02 1,03 1,04 172 962,67 0,54
Restoran
Pengangkutan dan 4,03 4,17 4,37 4,76 76 975,79 0,82
Komunikasi
Keuangan, Persewaan 4,80 4,96 5,15 5,38 38 017,65 0,57
dan Jasa Perusahaan
Jasa-jasa 10,59 14,96 15,03 15,09 82 363,04 0,58
Jumlah 3,37 3,98 4,52 5,20
Sumber: Hasil olahan
4.4 Karakteristik Lahan dan Petani Rawa Lebak

Berdasarkan hasil orientasi lapangan dan informasi yang dihimpun dari


beberapa petani dan aparat desa pada saat penelitian, menunjukkan bahwa
kondisi lahan rawa lebak di kedua lokasi penelitian sejak tahun 2004 dengan
adanya reklamasi sungai, relatif tidak mengalami penggenangan yang cukup
lama, kecuali pada beberapa lokasi masih terjadi banjir apabila hujan lebat. Dan
apabila terjadi banjir, penggenangan hanya berlangsung paling lama sekitar 2
minggu. Menurut penduduk setempat hal itu disinyalir akibat dari: (1) kapasitas
sungai ambangah dan sungai pasak piang di bagian hilir tidak dapat menampung
beban debit banjir akibat terjadinya pendangkalan karena banyaknya sedimen
pada bagian dasar sungai, sedimen yang terbentuk sebagai akibat adanya
aktivitas penebangan hutan di bagian hulu sungai. Sebagaimana yang ditemukan
oleh Noor (2007) bahwa selain aktivitas penebangan hutan, juga adanya aktivitas
berat seperti pertambangan, perlandangan intensif dan hutan yang gundul dapat
berakibat pendangkalan sungai di bagian hilir. (2) tinggi genangan untuk lahan
sawah hanya sekitar 40 cm khususnya sawah-sawah yang terletak di dekat
sungai. Kondisi ini, apabila menggunakan batasan menurut kriteria Subagjo pada
halaman 10, maka dari total luasan rawa lebak di Desa Sungai Ambangah yang
mencapai 260 hektar dan 221 hektar di Desa Pasak Piang tidak masuk dalam
kategori lahan rawa lebak karena batasan tinggi atau lama genangan pada
kedua lokasi penelitian tersebut tidak terpenuhi. Menurut Noor (2007) rawa lebak
yang telah mengalami pengatusan (drainase) setelah dilakukan reklamasi
sehingga muka air turun dan lahan tidak lagi tergenang secara permanen,
kecuali hanya beberapa hari apabila hujan lebat, semestinya tidak lagi dapat
dikategorikan sebagai lahan rawa lebak. Lahan semacam ini lebih sesuai
dikategorikan sebagai lahan tadah hujan karena karakter rawa lebak yang terkait
genangan tidak lagi melekat secara inherence. Lahan semacam ini umumnya
sudah dikembangkan menjadi lahan kelapa sawit, karet, jeruk, dan sebagainya.
Keadaan fisik lahan di kedua Desa, memperlihatkan kandungan unsur hara
yang bervariasi, mulai dari sangat rendah sampai tinggi, pH tanah di kedua lokasi
sangat rendah hanya berkisar antara 3,23 sampai 3,38 dengan kandungan C
organik yang sangat tinggi, KTK dan N total yang tinggi. Tekstur tanah di Desa
Sungai Ambangah adalah lempung liat berdebu dan debu berliat untuk Desa
Pasak Piang (Tabel 17).
Tabel 17 Kondisi fisik lahan, Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang
Parameter Sungai Ambangah Pasak Piang
- Temperatur udara rata-rata tahunan : 26,4-27,2 : 26,4 – 27,2
- Bulan kering (<100 mm/th) : 1-2 bulan : 1-2 bulan
- Curah hujan tahunn : 3 142,3 mm/th : 3 142,3 mm/th
- Drainase tanah : agak terhambat : agak terhambat
- Tekstur tanah : lempung liat berdebu : debu berliat
- Kedalaman efektif : sedang (50 cm) : dalam (>75 cm)
- Gambut: - kematangan :- :-
- Ketebalan :- :-
- KTK tanah : 24,59 cmol(+)/kg : 26,84 cmol(+)/kg
- pH : 3,24 : 3,38
- N total : 0,47% : 0,78%
- P2O5 tersedia : 13,67 ppm : 6,16 ppm
- K : 0,25 cmol(+)/kg : 0,19 cmol(+)/kg
- Periode banjir : ringan : ringan
- Frekuensi :- :-
- Salinitas : ≤2 ds/cm : ≤1 ds/cm
- Kejenuhan aluminium :- :-
- Kedalaman pirit : >100 cm : >150 cm
- Struktur :- :-
- Konsistensi :- :-
- Kemiringan lahan : <3% : <3%
- Batu dipermukaan : 0% : 0%
- Singkapan batuan (rock outocrops) : 0% : 0%
- Total bahaya erosi : ringan : ringan
Sumber: Hasil pengamatan, analisis laboratorium dan data Stasiun Meterologi Supadio

Petani responden baik di Desa Sungai Ambangah maupun Desa Pasak


Piang dalam penggunaan faktor produksi khususnya pupuk secara rata-rata
belum menggunakan pemupukan sesuai anjuran di dalam kegiatan usahatani
mereka. Hal itu terlihat dari selisih pemberian pupuk oleh petani di Desa Sungai
Ambangah maupun Desa Pasak Piang yang dibandingkan dengan anjuran
pemupukan yang seharusnya diberikan menurut rekomendasi yang dikeluarkan
oleh BPTP Kalbar (Tabel 18).

Tabel 18 Selisih rata-rata produksi dan penggunaan faktor produksi dibanding


anjuran di lahan rawa lebak Sungai Ambangah dan Pasak Piang
Sungai Ambangah Pasak Piang
Uraian Rata- Anjuran**) Selisih Rata- Anjuran Selisih
rata*) rata
1. Produksi (t/GKG) 1,1 1,9 0,8 0,9 1,9 1,0
2. Faktor Produksi
- Urea (kg) 100 85 >15 25 80 55
- SP-36 (kg) 25 85 60 25 85 60
- KCl (kg) 25 50 25 0 50 50
- Pupuk Kandang (t) 0 1,2 1,2 0 1,0 1,0
- Kapur (t) 0 2,0 2,0 0 2,0 2,0
Sumber: *) hasil wawancara; **) BPTP Kalbar, 2009
Berdasarkan Tabel 19 diperoleh gambaran bahwa karakteristik petani
baik di Desa Sungai Ambangah maupun Desa Pasak Piang khususnya dari sisi
umur, didominasi petani yang berusia 30 sampai 50 tahun masing-masing
mencapai 60,1% dan 82,2%. Hal ini menunjukkan bahwa petani yang ada
tergolong pada kelompok usia produktif. Umur berhubungan dengan
pertumbuhan dan kematangan serta pengalaman. Pengalaman merupakan
sumberdaya untuk kesiapan dirinya belajar lebih lanjut (Vacca dan Walker dalam
Jarmie, 1985). Umur seseorang juga berkaitan dengan kapasitas belajar,
penurunan kapasitas belajar seseorang berlangsung secara drastis pada umur
60 tahun yaitu pada fase usia lanjut. Umur seseorang berhubungan juga dengan
kapasitas kerja dan produktivitas kerja
Distribusi petani berdasarkan tingkat pendidikan, baik di Desa Sungai
Ambangah maupun di Desa Pasak Piang lebih didominasi oleh yang
berpendidikan Sekolah Dasar. Akan tetapi, di Desa Sungai Ambangah ditemukan
petani yang berpendidikan tinggi (diploma), sedangkan di Desa Pasak Piang
pendidikan tertinggi petani hanya mencapai tingkat Sekolah Menengah Atas.
Pendidikan menurut Houle (1975), merupakan proses pengembangan
pengetahuan, ketrampilan maupun sikap, yang dilakukan secara terencana
sehingga diperoleh perubahan-perubahan. Perubahan menurut Wiraatmadja
(1977) adalah perubahan perilaku berdasarkan ilmu-ilmu dan pengamalan yang
sudah diakui dan direstui oleh masyarakat. Tingkat pendidikan seseorang akan
berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya pada sesuatu yang dipelajarinya,
disamping itu hasil-hasil belajar yang perlu diperoleh dari pendidikan yang telah
diikuti seseorang akan menentukan semangatnya untuk belajar (Slamet, 1975).
Sedangkan rata-rata jumlah anggota keluarga petani mencapai 4,3 jiwa untuk
Desa Sungai Ambangah dan 4,2 jiwa di Desa Pasak Piang.
Status kepemilikan lahan di kedua Desa adalah milik sendiri. Dan secara
keseluruhan petani tergabung dalam kelompok tani. Distribusi petani
berdasarkan luas lahan garapan untuk tanaman padi di Desa Sungai Ambangah
didominasi petani yang memiliki luas lahan garapan >0,5 – 1,0 (40,2%) dan >1,0
– 2,0 (37,2%) dan Desa Pasak Piang >1,0 – 2,0 (35,7%) dan >1,0 – 2,0 (32,1%).
Sedangkan distribusi petani berdasarkan luas lahan garapan tanaman karet di
Sungai Ambangah didominasi oleh yang memiliki luas lahan garapan antara >1,0
– 2,0 (27,4%), tetapi di Desa Pasak Piang didominasi oleh responden yang
memiliki luas lahan garapan >1,0 – 2,0 (52,2%). Distribusi petani berdasarkan
luas lahan garapan tanaman kelapa sawit baik di Desa Sungai Ambangah
maupun Desa Pasak Piang semua responden memiliki luas lahan garapan
antara >0,5 – 1,0. Jumlah lahan garapan berdasarkan masing-masing luas
kepemilikan di Desa Sungai Ambangah berturut-turut dari yang tertinggi yaitu
>0,5 – 1,0 hektar mencapai 41,3% diikuti luas >1,0 – 2,0 hektar mencapai 29,3%,
0 - 0,5 hektar mencapai 16,3% dan >2 hektar hanya mencapai 13,1%.
Sedangkan untuk Desa Pasak Piang berturut-turut dari yang tertinggi yaitu >0,5 –
1,0 hektar mencapai 39,0% diikuti luas >1,0 – 2,0 hektar mencapai 27,2%, 0 –0,5
hektar mencapai 21,4% dan >2 hektar hanya mencapai 12,4%. Distribusi petani
berdasarkan pengalaman berusahatani khususnya komoditas padi berkisar
antara 10 hingga 20 tahun, di Sungai Ambangah mencapai 56,8%, sedangkan
Pasak Piang mencapai 53,7%. Selengkapnya disajikan pada Tabel 19.

Tabel 19 Keragaan umum dan status kepemilikan lahan petani di Sungai


Ambangah dan Pasak Piang
Jumlah petani (%)
No Klasifikasi Keterangan Sungai Pasak Piang
Ambangah
1 Usia (th) <30 13,6 10,7
30 – 40 20,4 39,3
40 – 50 27,4 32,2
> 50 38,6 17,8
2 Pendidikan Tidak Sekolah 2,2 -
SD 45,4 53,5
SLTP 20.4 25,1
SLTA 25,2 21,4
Diploma 6,8 -
3 Jumlah Anggota 2-3 33,3 42,9
Keluarga (jiwa) 4-5 42,3 35,7
>6 24,4 21,4
4 Status Kepemilikan Millik sendiri 100 100
Lahan Sewa - -
5 Tergabung dalam Ya 100 100
kelompok Tani Tidak - -
6 Luas Lahan 0 – 0,5 13,6 21,4
Garapan (ha) Padi >0,5 – 1,0 40,2 35,7
>1,0 – 2,0 37,2 32,1
>2 ha 9,0 10,8
0 – 0,5 0,0 0,0
Karet >0,5 – 1,0 22,7 12,2
>1,0 – 2,0 27,4 52,2
>2 15,9 19,5
0 – 0,5 0,0 0,0
Sawit >0,5 – 1,0 22,7 35,4
>1,0 – 2,0 0,0 0,0
>2 0,0 0,0
Lanjutan
Jumlah petani (%)
No Klasifikasi Keterangan Sungai Pasak Piang
Ambangah
Jumlah 0 – 0,5 16,3 21,4
>0,5 – 1,0 41,3 39,0
>1,0 – 2,0 29,3 27,2
>2 ha 13,1 12,4
7 Pengalaman 0 – 10 29,5 28,5
berusahatani padi (th) 11 – 20 56,8 53,7
> 20 13,5 17,8
Jumlah responden (petani) 45 27
Sumber : Hasil wawancara

4.5 Jenis Tanaman, Produktivitas, dan Kendala Usaha Tani

Hasil analisis pendahuluan tentang jenis tanaman, produktivitas, kendala


usahatani dan peluang perbaikan sebagaimana disajikaan pada Tabel 20.
Berdasarkan Tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa tiga tanaman utama yang
diusahakan oleh masyarakat di daerah rawa lebak adalah padi, karet dan kelapa
sawit. Namun demikian rata-rata produksi yang dihasilkan khususnya tanaman
padi dan karet, relatif rendah baru mencapai 1,0 ton per hektar di Sungai
Ambangah dan 0,8 ton per hektar per tahun di Pasak Piang untuk padi. Untuk
tanaman karet berkisar antara 0,99 ton per hektar di Sungai Ambangah dan 0,95
ton per hektar per tahun di Pasak Piang. Dan kelapa sawit belum berproduksi.
Tabel 20 Jenis tanaman, produksi, kendala dan peluang perbaikan usahatani di
rawa lebak Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang
Rata-rata
Kelompok Jenis Indeks
Produksi Penanaman
Kendala Usahatani
Tanaman Tanaman
(ton/ha)
Tanaman Padi 1. Indeks penanaman, pemupukan
Semusin 1. Sungai 1,0 100 belum sesuai anjuran,
Ambangah penggunaan varietas lokal,
ketersediaan air, pH rendah,
2. Pasak 0,8 100 adanya serangan H/P, luas
Piang
lahan garapan sempit.
2. Modal terbatas, terbatasnya
tenaga kerja, waktu tanam
masih berdasarkan
kebiasaan/adat
Tanaman Karet 1. Jenis lokal, tanaman tua, Jarak
Tahunan 1. Sungai tanam, tanpa pemupukan,
Ambangah 0,99 - kualitas produk rendah
2. Pasak 0,95 2. Harga ditentukan pembeli
Piang
-
Kelapa - - -
Sawit*)
Sumber: Hasil wawancara Ket: *)umur tanaman ± 2,5 tahun saat penelitian
Tingkat produksi padi terendah 0,6 ton/ha di Desa Pasak Piang dan
tertinggi 1,3 ton/ha di Desa Sungai Ambangah. Secara parsial tingkat produksi
padi di Desa Sungai Ambangah mencapai 0,8 – 1,3 ton/ha/tahun dengan
produksi rata-rata adalah 1,0 ton/ha/tahun. Sedangkan di Desa Pasak Piang
hanya mencapai 0,6 – 1,1 ton/ha/tahun dengan produksi rata-rata adalah 0,8
ton/ha/tahun. Nilai produksi tersebut jika dikonversikan dengan harga gabah
kering giling (GKG) setempat yang hanya mencapai Rp3 000,- per kg, maka
penerimaan petani di Sungai Ambangah setara dengan Rp3 000 000,- dan di
Pasak Piang setara dengan Rp2 400 000,-. Sedangkan tingkat produksi
komoditas karet di Desa Sungai Ambangah dari data yang diperoleh mencapai
0,72 ton/ha terendah dan tertinggi 1,26 ton/ha dan 0,5 ton terendah dan tertinggi
1,20 ton/ha di Pasak Piang, dengan rata-rata produksi adalah 0,99 ton/ha/tahun
di Sungai Ambangah dan 0,95 ton/ha/tahun di Pasak Piang. Untuk tanaman
kelapa sawit belum berproduksi dan saat penelitian dilaksanakan tanaman
kelapa sawit baru berumur sekitar 2,5 tahun. Dari dua tanaman yang telah
menghasilkan dilakukan analisis, dan hasilnya sebagaimana disajikan pada
Tabel 21.
Tabel 21 Nilai penerimaan dan pendapatan petani berdasarkan produksi
eksisting beberapa jenis tanaman di rawa lebak (Rp/th)
Rata-rata Produksi Rata-rata Nilai Produksi
Produksi (ton/ha)
Jenis (ton/ha) (Rp/thn/ha)
Tanaman Sungai Pasak Sungai Pasak Sungai Pasak
Ambangah Piang Ambangah Piang Ambangah Piang
Padi*) 0,8 – 1,3 0,6 – 1,1 1,0 0,8 3 000 000 2 400 000
Karet**) 0,72 – 1,26 0,5 – 1,20 0,99 0,95 7 920 000 6 650 000
Kelapa - - - - - -
Sawit***)
Sumber: hasil olahan
Ket: *) Harga GKG di kedua lokasi penelitian Rp3 000,- per kg
**) Harga karet Rp8 000/kg di Sungai Ambangah, dan Rp7 000,-/kg di Pasak Piang
***) Harga TBS Rp1 300,- per kg

4.6 Analisis Kesesuaian Lahan

Analisis kesesuaian lahan dilakukan dengan mencocokan antara data


kualitas lahan dengan persyaratan penggunaan lahan untuk tanaman padi, karet
dan kelapa sawit, sesuai dengan kriteria kesesuaian lahan yang diterbitkan oleh
Balai Penelitian Tanah, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan
Agroklimat (Djaenudin et al., 2003).
Tabel 22 Hasil analisis kesesuaian lahan aktual di Desa Sungai Ambangah
Kelas Kesesuaian Lahan Aktual
Persyaratan Penggunaan
Padi Ladang Karet Kelapa Sawit
Lahan/Karakteristik Lahan
Nilai Data Kelas Nilai Data Kelas Nilai Data Kelas
Temperatur (tc)
Temperatur rarata (oC) 26,4–27,2 S1 26,4–27,2 S1 26,4–27,2 S1
Ketersediaan Air (wa)
Curah hujan bln ke 1 (mm) 346,44 346,44 346,44
Curah hujan bln ke 2 (mm) 219,26 S1 219,26 S1 219,26 S1
Curah hujan bln ke 3 (mm) 248,97 248,97 248,97
Curah hujan bln ke 4 (mm) 313,26 313,26 313,26
Kelembaban (%) 84,25 84,25 84,25
Media Perakaran (rc)
Drainase Agak terhambat S1 Agak terhambat S1 Agak terhambat S1
Lempung Liat Lempung Liat Lempung Liat
Tekstur *) Berdebu S2 Berdebu S2 Berdebu S2
Kedalaman tanah (cm) sedang (50-75) S1 sedang (50-75) S2 sedang (50-75) S2
Retensi Hara (nr)
KTK liat (cmol) 24,59 S1 24,59 S1 24,59 S1
pH H2O 3,24 S3 3,24 S3 3,24 S3
Bahaya Erosi (eh)
Lereng (%) <3 S1 <3 S1 <3 S1
Bahaya erosi Sangat rendah S1 Sangat rendah S1 Sangat rendah S1
Bahaya Banjir (fh)
Genangan F1 S2 F1 S2 F1 S2
Penyiapan Lahan (lp)
Batuan di permukaan (%) 0 S1 0 S1 0 S1
Singkapan batuan (%) 0 S1 0 S1 0 S1
Kelas Kesesuain Lahan
S3nr S3nr S3nr
Aktual
Sumber: Hasil olahan; Anilisis laboratorium; dan Stasiun Meterologi Supadio Pontianak

Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan di Desa Sungai Ambangah


(Tabel 22), dengan memasukan data-data tanah dan iklim ke dalam pedoman
kesesuaian lahan untuk tanaman padi, karet dan kelapa sawit, maka diperoleh
kelas kesesuaian lahan aktual yaitu pada kelas S3nr dengan faktor pembatas pH
tanah, baik untuk tanaman padi, karet dan kelapa sawit. Faktor pembatas yang
ditemukan ini, dapat diperbaiki dengan cara pemberian kapur, sehingga pH tanah
di Desa Sungai Ambangah, dapat mencapai kisaran pH optimal untuk ketiga
jenis pemanfaatan lahan yang dimaksud.
Dari hasil pemberian kapur tersebut di atas, maka kelas kesesuaian lahan
potensial yang diperoleh menjadi kelas S2rc/fh dengan faktor pembatas adalah
tekstur dan genangan air. Selengkapnya disajikan pada Tabel 23.
Tabel 23 Hasil analisis kesesuaian lahan potensial di Desa Sungai Ambangah
Kelas Kesesuaian Lahan Potensial
Persyaratan Penggunaan Padi Ladang Karet Kelapa Sawit
Lahan/Karakteristik Lahan Kelas Kelas Kelas Kelas Kelas Kelas
Aktual Potensial Aktual Potensial Aktual Potensial
Temperatur (tc)
Temperatur rarata (oC) S1 S1 S1 S1 S1 S1
Ketersediaan Air (wa)
Curah hujan bln ke 1 (mm)
Curah hujan bln ke 2 (mm) S1 S1 S1 S1 S1 S1
Curah hujan bln ke 3 (mm)
Curah hujan bln ke 4 (mm)
Kelembaban (%)
Media Perakaran (rc)
Drainase S1 S1 S1 S1 S1 S1
Tekstur *) S2 S2 S2 S2 S2 S2
Kedalaman tanah (cm) S1 S1 S2 S1 S2 S1
Retensi Hara (nr)
KTK liat (cmol) S1 S1 S1 S1 S1 S1
pH H2O S3 S1 S3 S1 S3 S1
Bahaya Erosi (eh)
Lereng (%) S1 S1 S1 S1 S1 S1
Bahaya erosi S1 S1 S1 S1 S1 S1
Bahaya Banjir (fh)
Genangan S2 S1 S2 S1 S2 S1
Penyiapan Lahan (lp)
Batuan di permukaan (%) S1 S1 S1 S1 S1 S1
Singkapan batuan (%) S1 S1 S1 S1 S1 S1
Kelas Kesesuain Lahan S2rc S2rc S2rc
Potensial
Keterangan: Pembatas:
S1: sangat sesuai tc: temperatur nr: retensi hara lp: penyiapan lahan
S2: cukup sesuai wa: ketersediaan air eh: bahaya erosi
S3: sesuai marginal rc: media perakaran fh: bahaya banjir

Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan di Desa Pasak Piang Tabel


24, dengan memasukan data-data tanah dan iklim ke dalam pedoman
kesesuaian lahan untuk tanaman padi, karet dan kelapa sawit, maka diperoleh
kelas kesesuaian lahan aktual diperoleh pada kelas S3nr dengan faktor
pembatas pH tanah, baik untuk tanaman padi, karet dan kelapa sawit.
Tabel 24 Hasil analisis kesesuaian lahan aktual di Desa Pasak Piang
Kelas Kesesuaian Lahan Aktual
Persyaratan Penggunaan
Padi Ladang Karet Kelapa Sawit
Lahan/Karakteristik Lahan
Nilai Data Kelas Nilai Data Kelas Nilai Data Kelas
Temperatur (tc)
-Temperatur rarata (oC) 26,4–27,2 S1 26,4–27,2 S1 26,4–27,2 S1
Ketersediaan Air
-Curah hujan bln ke 1 (mm) 346,44 346,44 346,44
-Curah hujan bln ke 2 (mm) 219,26 219,26 219,26
-Curah hujan bln ke 3 (mm) 248,97 S1 248,97 S1 248,97 S1
-Curah hujan bln ke 4 (mm) 313,26 313,26 313,26
-Kelembaban (%) 84,25 84,25 84,25
Media Perakaran (rc)
Drainase Agak terhambat S1 Agak S1 Agak S1
terhambat
terhambat
Debu berliat S2 S2 Debu berliat S2
Tekstur *) Debu berliat

Kedalaman tanah (cm) dalam (>75) S1 dalam (>75) S1 dalam(>75) S2


Retensi Hara (nr)
KTK liat (cmol) 26,84 S1 26,84 S1 26,84 S1
pH H2O 3,38 S3 3,38 S3 3,38 S3
Bahaya Erosi (eh)
Lereng (%) <3 S1 <3 S1 <3 S1
Bahaya erosi Sangat rendah S1 Sangat S1 Sangat S1
rendah rendah
Bahaya Banjir (fh)
Genangan F1 S2 F1 S2 F1 S2
Penyiapan Lahan (lp)
Batuan di permukaan (%) 0 S1 0 S1 0 S1
Singkapan batuan (%) 0 S1 0 S1 0 S1
Kelas Kesesuain Lahan S3nr S3nr S3nr
Aktual
Sumber: Hasil olahan; Anilisis laboratorium; dan Stasiun Meterologi Supadio Pontianak

Faktor pembatas yang ditemukan ini, dapat diperbaiki dengan cara


pemberian kapur, sehingga pH tanah di Desa Pasak Piang tersebut, dapat
mencapai kisaran pH optimal untuk ketiga jenis tanaman yang dimaksud.
Dengan demikian kelas kesesuaian lahan potensial yang diperoleh menjadi kelas
S2rc/fh dengan faktor pembatas adalah tekstur dan genangan air. Selengkapnya
disajikan pada Tabel 25.
Tabel 25 Hasil analisis kesesuaian lahan potensial di Desa Pasak Piang
Kelas Kesesuaian Lahan Potensial
Persyaratan Penggunaan Padi Ladang Karet Kelapa Sawit
Lahan/Karakteristik Lahan Kelas Kelas Kelas Kelas Kelas Kelas
Aktual Potensial Aktual Potensial Aktual Potensial
Temperatur (tc)
Temperatur rarata (oC) S1 S1 S1 S1 S1 S1
Ketersediaan Air (wa)
Curah hujan bln ke 1 (mm)
Curah hujan bln ke 2 (mm) S1 S1 S1 S1 S1 S1
Curah hujan bln ke 3 (mm)
Curah hujan bln ke 4 (mm)
Kelembaban (%)
Media Perakaran (rc)
Drainase S1 S1 S1 S1 S1 S1
Tekstur *) S2 S2 S2 S2 S2 S2
Kedalaman tanah (cm) S1 S1 S2 S1 S2 S1
Retensi Hara (nr)
KTK liat (cmol) S1 S1 S1 S1 S1 S1
pH H2O S3 S2 S3 S2 S3 S2
Bahaya Erosi (eh)
Lereng (%) S1 S1 S1 S1 S1 S1
Bahaya erosi S1 S1 S1 S1 S1 S1
Bahaya Banjir (fh)
Genangan S2 S1 S2 S1 S2 S1
Penyiapan Lahan (lp)
Batuan di permukaan (%) S1 S1 S1 S1 S1 S1
Singkapan batuan (%) S1 S1 S1 S1 S1 S1
Kelas Kesesuain Lahan S2rc S2rc S2rc
Potensial
Keterangan: Pembatas:
S1: sangat sesuai tc: temperatur nr: retensi hara lp: penyiapan lahan
S2: cukup sesuai wa: ketersediaan air eh: bahaya erosi
S3: sesuai marginal rc: media perakaran fh: bahaya banjir
V. ANALISIS PENDAPATAN DAN KEBUTUHAN RUMAHTANGGA

5.1 Analisis Kelayakan Usahatani

Berbagai cara penilaian atau analisis usahatani dibidang pertanian telah


dikembangkan dan digunakan. Cara penilaian yang digunakan dalam penelitian
ini berupa analisis return cost ratio atau R/C ratio dan benefit cost ratio atau B/C
ratio. Pada prinsipnya analisis R/C ratio dan B/C ratio adalah sama, hanya saja
pada analisis B/C data yang dipentingkan adalah besarnya manfaat. Sedangkan
analisis R/C, data yang dipentingkan adalah besarnya penerimaan. Dari hasil
analisis ini diharapkan dapat diketahui apakah usahatani yang sedang
berlangsung di lokasi studi sudah berjalan secara efektif dan efisien. Dikatakan
efektif apabila suatu usahatani dapat memanfaatkan sumberdaya yang ada
dengan sebaik-baiknya. Dan dikatakan efisien apabila pemanfaatan sumberdaya
tersebut menghasilkan keluaran yang melebihi masukkan (Soekartawi, 2002).
Secara umum hasil investigasi di lapangan diketahui bahwa tingkat
pendapatan petani usahatani dari tanaman padi dan tanaman karet di Desa
Sungai Ambangah dan Desa Pasak Piang relatif berbeda kecuali untuk tanaman
kelapa sawit.

5.1.1 Usahatani padi


Hasil wawancara lebih lanjut terhadap petani di Sungai Ambangah bahwa
penerimaan usahatani padi mencapai Rp3,0 juta per hektar, sedangkan di Pasak
Piang hanya mencapai Rp2,4 juta per hektar per tahun. Perbedaan ini lebih
disebabkan oleh perbedaan dalam hal penggunaan pupuk, di Desa Sungai
Ambangah penggungaan pupuk urea, SP36, dan KCl masing-masing dengan
dosis 100 kg, 50 kg, dan 50 kg. Sedangkan di Desa Pasak Piang penggunaan
pupuk masing-masing hanya mencapai 25 kg urea, 25 kg SP36, dan tanpa
diberikan pupuk KCl (Tabel lampiran 7 dan 8). Adanya perbedaan pemberian
input produksi ini, mengakibatkan total biaya produksi (pengeluaran) di Desa
Sungai Ambangah dan Pasak Piang juga berbeda. Di Sungai Ambangah biaya
produksi (pengeluaran) usahatani padi mencapai Rp910 000,- sedangkan di
Pasak Piang hanya mencapai Rp500 000,- per hektar. Perbedaan biaya
pengeluaran tersebut juga berimplikasi terhadap tingkat pendapatan yang
diperoleh. Tingkat pendapatan yang diperoleh dengan tanpa memperhitungkan
nilai sewa lahan dan pajak masing-masing adalah Rp2,09 juta per hektar per
tahun di Sungai Ambangah dan Rp1,9 juta per hektar per tahun di Pasak Piang,
dengan nilai R/C rasio masing-masing 3,3 dan 4,8. Selengkapnya hasil analisis
tersebut disajikan pada Tabel 26.
Tabel 26 Hasil analisis usahatani padi di rawa lebak Desa Sungai Ambangah
dan Pasak Piang (ha/th)
Uraian Sungai Ambangah Pasak Piang
Penerimaan (Rp) 3 000 000 2 400 000
Pengeluaran (Rp) 910 000 500 000
Pendapatan (Rp) 2 090 000 1 900 000
R/C ratio 3,30 4,80
Sumber: Hasil olahan

Hasil uji sensitivitas usahatani padi pada kondisi eksisting di Desa Sungai
Ambangah, apabila terjadi penurunan produksi, harga, dan biaya produksi
masing-masing 20%, masih memberikan nilai ekonomi yang positif. Apabila
asumsi-asumsi ini terjadi, maka untuk nilai R/C ratio pada semua asumsi yang
berupa penurunan produksi, harga dan biaya produksi lebih besar dari 1 atau
menguntungkan. Berdasarkan nilai R/C ratio tersebut, menunjukan bahwa
usahatani padi di Desa Sungai Ambangah masih menguntungkan untuk
diusahakan. Selengkapnya hasil analisis tersebut disajikan pada Tabel 27.
Tabel 27 Hasil analisis sensitivitas usahatani padi akibat fluktuasi harga,
produksi dan biaya produksi di Desa Sungai Ambangah (ha)
No Asumsi Penerimaan Pengeluaran Total pendapatan R/C ratio
(Rp) (Rp) (Rp)
1 Tanpa fluktuasi 3 000 000 910 000 2 090 000 3,30
2 Biaya produksi 3 000 000 1 092 000 1 908 000 2,75
naik 20%
3 Harga produksi 2 400 000 910 000 1 490 000 2,64
turun 20%
4 Harga turun dan 2 400 000 1 092 000 1 308 000 2,20
biaya naik 20%
5 Produksi dan 1 920 000 910 000 1 010 000 2,11
harga turun 20%
6 Produksi dan 1 920 000 1 092 000 828 000 1,76
harga turun 20%
dan biaya naik
20%
7 Produksi tetap 3 600 000 910 000 2 690 000 3,96
harga naik 20%
8 Produksi turun 2 880 000 910 000 1 970 000 3,16
harga naik 20%
Ket: *Diskonto 18%

Hasil uji sensitivitas usahatani padi pada kondisi eksisting di Desa Pasak
Piang, apabila terjadi penurunan produksi, harga, dan biaya produksi masing-
masing 20%, juga masih memberikan nilai ekonomi yang positif. Apabila asumsi-
asumsi ini terjadi, maka untuk nilai R/C ratio pada semua asumsi yang berupa
penurunan produksi, harga dan biaya produksi juga lebih besar dari 1 atau
menguntungkan. Berdasarkan nilai R/C ratio tersebut, menunjukkan bahwa
usahatani padi di Desa Pasak Piang juga masih menguntungkan untuk
diusahakan (Tabel 28).

Tabel 28 Hasil analisis sensitivitas usahatani padi akibat fluktuasi harga,


produksi dan biaya produksi di Desa Pasak Piang (ha)
No Asumsi Penerimaan Pengeluaran Total pendapatan R/C ratio
(Rp) (Rp) (Rp)
1 Tanpa fluktuasi 2 400 000 500 000 1 900 000 4,80
2 Biaya produksi 2 400 000 600 000 1 800 000 4,00
naik 20%
3 Harga produksi 1 920 000 500 000 1 420 000 3,84
turun 20%
4 Harga turun dan 1 920 000 600 000 1 320 000 3,20
biaya naik 20%
5 Produksi dan 1 536 000 500 000 1 036 000 3,07
harga turun 20%
6 Produksi dan 1 536 000 600 000 936 000 2,56
harga turun 20%
dan biaya naik
20%
7 Produksi tetap 2 880 000 500 000 2 380 000 5,76
harga naik 20%
8 Produksi turun 2 304 000 500 000 1 804 000 4,61
harga naik 20%
Sumber: Hasil Olahan

5.1.2 Usahatani karet


Hasil investigasi di lapangan baik di Desa Sungai Ambangah maupun
Desa Pasak Piang, diketahui bahwa tanaman karet yang diusahakan petani saat
ini telah berumur sekitar 25 tahun. Secara umum bahwa tanaman karet hanya
berproduksi sampai umur 30 tahun, tetapi menurut informasi yang diperoleh
melalui petani di lapangan tanaman karet dapat berproduksi sampai umur 35-40
tahun. Namun demikian, untuk keperluan dalam tulisan ini, analisis usahatani
karet dilakukan pada saat penelitian dilaksanakan. Dari hasil investigasi lebih
lanjut diketahui bahwa produksi karet yang diperoleh dapat mencapai 990 kg per
hektar di Sungai Ambangah dan 950 kg per hektar di Pasak Piang dengan harga
mencapai Rp8 000,- per kg di Sungai Ambangah dan Rp7 000,- per kg di Pasak
Piang. Dengan demikian pendapatan setiap rumahtangga petani dalam setahun
pada kondisi eksisting untuk Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang masing-
masing sebesar Rp4 370 000,- dan Rp6 387 667,- per tahun (Tabel 29).
Sedangkan proyeksi pendapatan petani untuk tahun ke 27 hingga tahun ke 34
masing-masing desa penelitian ini, secara lengkap disajikan pada Tabel lampiran
9 dan 10.
Tabel 29 Hasil analisis usahatani karet di rawa lebak Desa Sungai Ambangah
dan Pasak Piang (ha/th)
Uraian Sungai Ambangah Pasak Piang
Penerimaan (Rp) 7 920 000 6 650 000
Pengeluaran (Rp) 3 550 000 262 333
Pendapatan (Rp) 4 370 000 6 387 667
B/C ratio 1,23 24,35
Sumber: Hasil Olahan

Dari hasil analisis usahatani karet, petani di Desa Pasak Piang


memperoleh pendapatan 46,17% lebih tinggi, jika dibandingkan dengan
pendapatan petani di Desa Sungai Ambangah. Perbedaan pendapatan dikedua
lokasi penelitian ini lebih disebabkan oleh perbedaan dalam hal pemberian input
produksi. Biaya input produksi menurut Soekartawi (2002) diklasifikasi sebagai
biaya tidak tetap atau biaya variabel contohnya adalah biaya untuk sarana
produksi. Dalam hal ini pemberian dan penggunaan pestisida dalam proses
pemeliharaan tanaman karet di Desa Pasak Piang lebih rendah jika dibandingkan
dengan Desa Sungai Ambangah. Hal itu mengakibatkan, komponen biaya yang
dikeluarkan untuk pembiayaan usahatani karet di Desa Pasak Piang juga
menjadi rendah. Hasil analisis Tabel 29 menunjukkan bahwa komponen biaya
pengeluaran di Desa Pasak Piang hanya mencapai 7,59% dari biaya
pengeluaran di Desa Sungai Ambangah. Konsekuensi dari keadaan ini, petani
dikedua lokasi penelitian tersebut memperoleh pendapatan yang berbeda pula.
Hasil uji sensitivitas usahatani karet Tabel 30 pada kondisi eksisting di
Desa Sungai Ambangah, apabila terjadi penurunan produksi, harga, dan biaya
produksi masing-masing 20%, hanya pada saat produksi dan harga turun dan
biaya naik, pada saat produksi tetap dan harga naik, dan pada saat produksi
turun dan harga naik nilai B/C ratio lebih besar dari 1. Sedangkan pada kondisi
biaya produksi naik, harga produksi turun, harga turun dan biaya naik, dan
produksi dan harga turun nilai B/C ratio yang diperoleh lebih kecil dari 1 (Tabel
30).
Tabel 30 Hasil analisis sensitivitas usahatani karet di rawa lebak akibat fluktuasi
harga, produksi dan biaya produksi di Desa Sungai Ambangah
No Asumsi Penerimaan Pengeluaran Total pendapatan B/C ratio
(Rp) (Rp) (Rp)
1 Tanpa fluktuasi 7 920 000 3 550 000 4 370 000 1,23
2 Biaya produksi 7 920 000 4 260 000 3 660 000 0,86
naik 20%
3 Harga produksi 6 336 000 3 550 000 2 786 000 0,78
turun 20%
4 Harga turun dan 6 336 000 4 260 000 2 076 000 0,49
biaya naik 20%
5 Produksi dan 5 068 800 3 550 000 1 518 800 0,43
harga turun 20%
6 Produksi dan 5 068 800 4 260 000 808 800 1,19
harga turun 20%
dan biaya naik
20%
7 Produksi tetap 9 504 000 3 550 000 5 954 000 1,68
harga naik 20%
8 Produksi turun 7 603 200 3 550 000 4 053 200 1,14
harga naik 20%
Sumber: Hasil Olahan

Selanjutnya hasil uji sensitivitas usahatani karet di Desa Pasak Piang,


apabila terjadi penurunan atau kenaikkan produksi, harga, dan biaya produksi
masing-masing 20%, semua asumsi yang dianalisis menunjukkan nilai B/C ratio
lebih besar dari 1. Berdasarkan nilai B/C ratio tersebut, menunjukkan bahwa
usahatani karet di Desa Pasak Piang menguntungkan untuk diusahakan (Tabel
31).

Tabel 31 Hasil analisis sensitivitas usahatani karet di rawa lebak akibat fluktuasi
harga, produksi dan biaya produksi di Desa Pasak Piang
No Asumsi Penerimaan Pengeluaran Total pendapatan B/C ratio
(Rp) (Rp) (Rp)
1 Tanpa fluktuasi 6 650 000 262 333 6 387 667 24,35
2 Biaya produksi 6 650 000 314 799,6 6 335 200,4 20,12
naik 20%
3 Harga produksi 6 336 000 262 333 5 281 667 20,13
turun 20%
4 Harga turun dan 6 336 000 314 799,6 5 229 200,4 16,61
biaya naik 20%
5 Produksi dan 5 068 800 262 333 4 172 867 15,91
harga turun 20%
6 Produksi dan 5 068 800 314 799,6 4 120 400,4 13,09
harga turun 20%
dan biaya naik
20%
7 Produksi tetap 9 504 000 262 333 8 053 667 30,70
harga naik 20%
8 Produksi turun 7 603 200 262 333 6 390 467 24,36
harga naik 20%
Sumber: Hasil Olahan
5.1.3 Usahatani kelapa sawit

Berdasarkan hasil investigasi terhadap petani di Desa Sungai Ambangah


dan Pasak Piang diketahui bahwa kelapa sawit yang diusahakan saat ini masih
berumur 2,5 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa kurang lebih 6 – 12 bulan ke
depan tanaman kelapa sawit akan memasuki masa berbunga dan berbuah.
Secara umum, pertumbuhan kelapa sawit di lapangan juga sangat baik. Pada
Tabel lampiran 11 memperlihatkan bahwa komponen biaya pada tahun pertama
relatif lebih besar jika dibandingkan dengan pada tahun kedua dan ketiga. Hal ini
dikarenakan adanya komponen biaya pembelian bibit tanaman dan pembukaan
lahan. Pada tahun pertama sampai tahun ketiga pendapatan petani dari
usahatani kelapa sawit masih negatif, dan memasuki tahun keempat pendapatan
usahatani mulai positif. Pendapatan usahatani kelapa sawit cukup signifikan
diperoleh masing-masing dari yang tertinggi adalah pada tahun ke 18, 22, 23 dan
24.

Tabel 32 Hasil analisis usahatani kelapa sawit di rawa lebak Desa Sungai
Ambangah dan Pasak Piang (ha/th)
Uraian Sungai Ambangah dan Pasak Piang
Penerimaan (Rp) 17 989 745,59
Pengeluaran (Rp) 7 127 218,00
Pendapatan (Rp) 10 862 527,60
B/C ratio 1,52
Sumber: Hasil Olahan

Dari hasil analisis usahatani tanaman kelapa sawit baik di Desa Sungai
Ambangah dan Pasak Piang Tabel 32, memperlihatkan bahwa petani di kedua
desa tersebut hanya memperoleh pendapatan masing-masing sebesar Rp10 862
527,60,- per tahun selama usahatani kelapa sawit diusahakan. Sedangkan nilai
B/C ratio diperoleh adalah 1,52 atau dikategorikan menguntungkan.
Hasil uji sensitivitas usahatani kelapa sawit pada kondisi eksisting di Desa
Sungai Ambangah dan Pasak Piang, apabila terjadi penurunan produksi, harga,
dan biaya produksi masing-masing 20%, secara umum masih menguntungkan.
Apabila asumsi-asumsi ini terjadi, maka nilai B/C ratio pada kondisi tanpa
fluktuasi, produksi dan harga turun dan biaya naik, produksi tetap harga naik, dan
produksi turun harga naik, memberikan nilai lebih besar dari 1, sedangkan
apabila produksi dan harga turun, dan produksi dan harga dan biaya naik 20%,
maka nilai B/C ratio masing-masing hanya mencapai 0,92 dan 0,60 atau tidak
menguntungkan, karena lebih kecil dari 1 (Tabel 33).
Tabel 33 Hasil analisis sensitivitas usahatani kelapa sawit di rawa lebak akibat
fluktuasi harga, produksi dan biaya produksi di Desa Pasak Piang
Total
Penerimaan Pengeluaran
No Asumsi pendapatan B/C ratio
(Rp) (Rp)
(Rp)
1 Tanpa fluktuasi 17 989 745,59 7 127 218 10 862 527,59 1,52

2 Biaya produksi naik 20% 17 989 745,59 8 552 661,6 9 437 083,99 1,10

Harga produksi turun


3 17 140 304,97 7 127 218 10 013 086,97 1,40
20%
Harga turun dan biaya
4 17 140 304,97 8 552 661,6 8 587 643,37 1,00
naik 20%

Produksi dan harga


5 13 712 243,98 7 127 218 6 585 025,98 0,92
turun 20%
Produksi dan harga
6 turun 20% dan biaya 13 712 243,98 8 552 661,6 5 159 582,38 0,60
naik 20%
Produksi tetap harga
7 25 710 457,46 7 127 218 18 583 239,46 2,61
naik 20%
Produksi turun harga
8 20 568 365,97 7 127 218 13 441 147,97 1,89
naik 20%
Sumber: Hasil Olahan

5.2 Analisis Pendapatan dan Kebutuhan Rumahtangga

5.2.1 Pendapatan rumahtangga petani


Secara teoritis, kebutuhan hidup anggota rumahtangga dapat dipenuhi
melalui dua sumber pendapatan, yaitu dari curahan tenaga kerja (labour income)
dan dari luar curahan tenaga kerja (non labour income). Pendapatan yang
bersumber dari curahan tenaga kerja, dapat berasal dari pekerjaan pokok dan
pekerjaan sampingan. Sedangkan pendapatan yang bersumber dari luar curahan
tenaga kerja, dapat berasal dari transfer income dan property income.
Pendapatan menurut Tarbiah (2009) adalah selisih antara penerimaan dan biaya.
Sumber pendapatan/penghasilan rumahtangga petani seperti yang
disajikan pada Tabel 34, menggambarkan bahwa masyarakat yang berdomisili di
kawasan rawa lebak pada umumnya mengandalkan penghasilan rumahtangga
dari kegiatan pertanian yang meliputi tanaman pangan, perkebunan dan
sebagian kecil peternakan dan usaha warung dan berprofesi sebagai tukang
kayu/bangunan. Rumahtangga petani yang dijadikan sebagai responden
sebanyak 45 responden di Sungai Ambangah dan 28 responden di Pasak Piang
secara keseluruhan (100%) mengandalkan penghasilan dari kegiatan pertanian,
walaupun sebagian kecil juga mengandalkan penghasilan dari kegiatan
sampingan. Terdapat 3 orang petani (6,7%) dari 45 orang responden di Desa
Sungai Ambangah, juga memiliki penghasilan dari luar usahatani, dalam hal ini
adalah pendapatan bersumber dari usaha warung atau kios sembako. Dan
masing-masing 2 orang petani lainnya (4,4%), memiliki penghasilan dari kegiatan
usaha peternakan ayam dan menjadi tukang kayu atau buruh bangunan.
Sedangkan di Desa Pasak Piang terdapat 2 orang petani (7,4%) dari 28 orang
responden memiliki penghasilan dari luar usahatani, yaitu usaha warung atau
kios sembako. Dan terdapat 8 orang petani (29,6%), memiliki penghasilan dari
usaha ternak yaitu babi dengan banyaknya ternak yang diusahakan bervariasi
berkisar dari 5 – 25 ekor per petani. Masing-masing dari jumlah ternak yang ada
terdiri dari 2 ekor induk dan sisanya adalah anaknya.
Tabel 34 Jenis usaha non pertanian responden di Desa Sungai Ambangah
dan Pasak Piang
Sungai Ambangah Pasak Piang
Jumlah Persen Jumlah Persen
No Jenis usaha
responden (%) responden (%)
(org) (org)
1 Ternak 2 4,4 8 29,6
2 Tukang bangunan 2 4,4 - -
3 Warung/kios 3 6,4 2 7,4
Jumlah 7 15,5 10 37,0
Sumber: Hasil wawancara

Dari usaha ternak setiap tahun petani di kedua Desa tersebut menjual hasil
ternak mereka rata-rata 2 – 3 ekor per tahun. Berat rata-rata berkisar 20 - 25 kg
per ekor, dengan harga jual di lokasi penelitian sebesar Rp20 000,- per kg (Tabel
35). Sedangkan dari usaha sebagai tukang, khususnya kepala tukang di Desa
Sungai Ambangah sekitar Rp50 000,- per hari, dengan jumlah hari kerja dalam
seminggu adalah 6 hari, maka dalam sebulan dapat diperoleh penghasilan dari
usaha sebagai tukang bangunan tersebut sebesar Rp1 200 000,-. Namun
demikian penghasilan dari usaha ini bersifat insidental dan sangat tergantung
dari adanya pembangunan rumah dan sejenisnya. Sedangkan dari usaha warung
atau kios, petani responden di kedua lokasi penelitian dapat memperoleh
penghasilan atau keuntungan masing-masing Rp11 500,- dan Rp7 500,- dari
penjualan berbagai kebutuhan harian (sabun, indomie, rokok dll).
Rata-rata besarnya penghasilan rumahtangga petani di rawa lebak Desa
Sungai Ambangah dan Pasak Piang masing-masing sebesar Rp1 816 501,- per
bulan dan Rp766 956 per bulan, dimana sekitar 29,6% dan 90,5% bersumber
dari usahatani, sekitar 66,7% dan 9,7% bersumber dari luar usahatani. Hal ini
mengindikasikan bahwa tingkat ketergantungan ekonomi masyarakat akan hasil
usahatani khususnya di Desa Pasak Piang sangat tinggi sedangkan untuk Desa
Sungai Ambangah secara relatif cukup tinggi.

Tabel 35 Sumber dan rata-rata nilai pendapatan rumahtangga petani rawa lebak
di Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang
Sungai Ambangah Pasak Piang
Sumber penghasilan Nilai Persen Nilai Persen
No
rumahtangga petani Penghasilan ( % ) Penghasilan ( % )
(Rp/bln) (Rp/bln)
1 Hasil usahatani
a. Padi 174 167 9,6 158 333 20,1
b. Karet 364 167 20,0 532 206 70,3
c. Kelapa sawit 0 0 0 0
Jumlah dari hasil UT 538 334 29,6 690 539 90,5
2 Luar UT (ternak)*) 66 667 3,7 66 667 8,4
3 Penghasilan lain-lain
a. Kios 11 500 0,6 9 750 1,2
b. Tukang bangunan**) 1 200 000 66,1 0 0
Jumlah dari luar UT 1 211 500 66,7 76 417 9,7
Jumlah 1 816 501 100 766 956 100
Sumber: Hasil wawancara; Rata-rata di jual 2 (40 kg) ekor per tahun dengan harga
Rp20 000,- kg; **)Upah tukang Rp50 000 per hari

Kontribusi pendapatan seperti yang disajikan pada Tabel, tidak baku dan
statis, melainkan sewaktu-waktu dapat berubah. Perubahan dimaksud terutama
sangat tergantung pada ketersediaan lapangan kerja dalam hal ini pembangunan
rumah. Demikian pula halnya, pendapatan dari usaha warung dan hasil
penjualan ternak. Sedangkan sumber penghasilan yang relatif tetap adalah dari
hasil kegiatan usatahani dan ini diperlihatkan dengan 100% responden
menggantungkan sumber penghasilan mereka dari kegiatan usahatani. Dengan
demikian, penghasilan pokok atau utama petani di kedua lokasi penelitian
diperoleh dari hasil usahatani.
Kontribusi pendapatan rumahtangga petani responden di Desa Sungai
Ambangah dan Pasak Piang dari hasil usahatani yang dijalani saat ini masing-
masing hanya sebesar Rp538 334,- per bulan dan Rp690 539,- per bulan. Dari
pendapatan tersebut, masing-masing sekitar 20,0% di Sungai Ambangah dan
70,3% di Pasak Piang bersumber dari usahatani karet, dan sekitar 9,6% dan
20,1% bersumber dari usahatani padi.
Tabel 36 Sumber dan rata-rata nilai pendapatan rumahtangga petani rawa lebak
di Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang dari hasil usahatani
(Rp/bln)
Sumber Sungai Ambangah Pasak Piang
No penghasilan Nilai Persen Nilai Persen
rumahtangga Penghasilan (%) Penghasilan (%)
petani (Rp/bln) (Rp/bln)
1 Hasil
usahatani
a. Padi 174 167 9,6 158 333 20,1
b. Karet 364 167 20,0 532 206 70,3
c. Kelapa sawit 0 0 0 0
Jumlah 538 334 29,6 690 539 90,4
Sumber: Hasil wawancara dan hasil olahan

Kontribusi pendapatan petani dari hasil kegiatan usahatani dan usaha


ternak seperti yang disajikan pada Tabel 37. Hasil analisis menunjukkan bahwa
rata-rata besarnya penghasilan rumahtangga petani di rawa lebak Desa Sungai
Ambangah dan Pasak Piang dari hasil usahatani dan luar usahatani dalam hal ini
adalah penghasilan yang bersumber dari usaha ternak, masing-masing sebesar
Rp605 001,- per bulan dan Rp757 206,- per bulan. Dari penerimaan tersebut
sekitar 29,6% dan 90,4% bersumber dari usahatani, dan 3,7% dan 8,4%
bersumber dari usaha ternak.

Tabel 37 Sumber dan rata-rata nilai pendapatan rumahtangga petani rawa lebak
di Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang dari hasil usahatani dan
usaha ternak (Rp/bln)

Sumber Sungai Ambangah Pasak Piang


No penghasilan Nilai Persen Nilai Persen
rumahtangga Penghasilan (%) Penghasilan (%)
petani (Rp/bln) (Rp/bln)
1 Hasil usahatani
a. Padi 174 167 9,6 158 333 20,1
b. Karet 364 167 20 532 206 70,3
c. Kelapa sawit 0 0 0 0
2 Luar UT 66 667 3,7 66 667 8,4
(ternak)*)
Jumlah 605 001 33,3 757 206 98,8
Sumber: Hasil wawancara dan hasil olahan; Rata-rata dijual 2 ekor (40 kg) per tahun
dengan harga Rp20 000, per kg.

Kontribusi pendapatan petani dari hasil kegiatan usahatani dan usaha


warung atau kios seperti yang disajikan pada Tabel 38. Dari hasil analisis
menunjukkan bahwa rata-rata besarnya penghasilan rumahtangga petani di rawa
lebak Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang dari hasil usahatani dan
penghasilan lain, dalam hal ini penghasilan dari usaha warung atau kios adalah
masing-masing sebesar Rp549 834,- per bulan dan Rp700 289,- per bulan. Dari
penghasilan ini, sekitar 29,6% dan 90,4% bersumber dari usahatani, dan 0,6%
dan 1,2% bersumber dari usaha warung atau kios.

Tabel 38 Sumber dan rata-rata nilai rendapatan rumahtangga petani rawa lebak
di Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang dari hasil usahatani dan
tukang bangunan (Rp/bln)

Sumber Sungai Ambangah Pasak Piang


No penghasilan Nilai Persen Nilai Persen
rumahtangga Penghasilan (%) Penghasilan (%)
petani (Rp/bln) (Rp/bln)
1 Hasil usahatani
a. Padi 174 167 9,6 158 333 20,1
b. Karet 364 167 20 532 206 70,3
c. Kelapa sawit 0 0 0 0
2 Penghasilan lain-
lain
- Kios 11 500 0,6 9 750 1,2
Jumlah 549 834 30,2 700 289 91,6
Sumber: Hasil wawancara dan hasil olahan

Kontribusi pendapatan petani dari hasil kegiatan usahatani dan usaha


sebagai tukang atau buruh bangunan seperti yang disajikan pada Tabel 39. Hasil
analisis menunjukkan bahwa rata-rata besarnya penghasilan rumahtangga petani
di rawa lebak Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang dari hasil usahatani dan
penghasilan lain, dalam hal ini dari usaha menjadi tukang atau buruh bangunan
adalah masing-masing sebesar Rp1 738 334,- per bulan dan Rp690 539,- per
bulan. Dari penghasilan tersebut, sekitar 29,6% dan 90,4% bersumber dari
usahatani, dan sekitar 66,1% di Sungai Ambangah bersumber dari penghasilan
sebagai tukang atau buruh bangunan, namun demikian penghasilan yang
bersumber dari hasil usaha menjadi tukang atau buruh bangunan bersifat
insedentil (sementara/tergantung adanya kegiatan pembangunan rumah atau
sejenisnya), sedangkan di Pasak Piang tidak ditemukan adanya responden yang
berprofesi sebagai tukang atau buruh bangunan.
Tabel 39 Sumber dan rata-rata nilai pendapatan rumahtangga petani rawa lebak
di Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang dari hasil usahatani dan
usaha kios (Rp/bln)
Sumber Sungai Ambangah Pasak Piang
No penghasilan Nilai Persen Nilai Persen
rumahtangga Penghasilan (%) Penghasilan (%)
petani (Rp/bln) (Rp/bln)
1 Hasil usahatani
a. Padi 174 167 9,6 158 333 20,1
b. Karet 364 167 20 532 206 70,3
c. Kelapa sawit 0 0 0 0
2 Penghasilan
lain-lain
- Tukang 1 200 000 66,1 0 0
bangunan**)
Jumlah 1 738 334 95,7 690 539 90,4
Sumber: Hasil wawancara; **)Upah tukang Rp50 000 per hari.

5.2.2 Pengeluaran rumahtangga petani


Alokasi pengeluaran petani di Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang,
masih didominasi untuk memenuhi kebutuhan makan. Dari rata-rata pengeluaran
rumahtangga sebesar Rp810 380,- per bulan di Desa Sungai Ambangah dan
Rp853 750 per bulan di Desa Pasak Piang, sebanyak 68,5% pengeluaran petani
di Desa Sungai Ambangah dan sebanyak 61,5% pengeluaran petani di Desa
Pasak Piang diperuntukan untuk memenuhi keperluan makanan. Pengeluaran
untuk kebutuhan makanan di Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang tersebut,
masing-masing 37,0% dan 35,1% digunakan untuk membeli beras dan sisanya
31,5% dan 26,4% untuk kebutuhan selain beras yaitu lauk-pauk. Kecilnya porsi
pengeluaran untuk kebutuhan selain beras seperti lauk-pauk (terutama sayur)
karena sebagian besar kebutuhan akan lauk tersebut, diperoleh dari hasil usaha
di pekarangan atau daerah sekitar tempat tinggal dan hanya membeli bahan-
bahan keperluan lain yang tidak bisa diperoleh atau diambil dari sekitar tempat
tinggal mereka, seperti bumbu-bumbuan, garam, ikan asin dan lain-lain. Struktur
pengeluaran rumahtangga di kedua desa penelitian seperti yang disajikan pada
Tabel 40 menggambarkan adanya variasi pengeluaran selain untuk keperluan
bahan pokok dalam hal ini adalah kebutuhan untuk makanan.
Tabel 40 Rata-rata nilai pengeluaran rumahtangga petani rawa lebak
Sungai Ambangah Pasak Piang
Alokasi pengeluaran Nilai Persen Nilai Persen
No
rumahtangga petani pengeluaran (%) pengeluaran (%)
(Rp/bln) (Rp/bln)
1 Makanan pokok
a. Beras 300 000 37,0 300 000 35,1
b. Lauk-pauk 255 000 31,5 225 000 26,4
Jumlah Makanan 555 000 68,5 525 000 61,5
2 Bukan Makanan 150 750 18,5 195 500 22,9
3 Pakaian 22 480 2,8 30 750 3,6
4 Pendidikan 31 500 3,9 27 000 3,2
5 Pengeluaran lain-lain 50 650 6,3 75 500 8,8
Total Jumlah 810 380 100 853 750 100
Sumber: Hasil wawancara

Komponen pengeluaran yang disajikan pada Tabel 40 dibatasi hanya


pada pengeluaran rutin yang harus dikeluarkan setiap rumahtangga.
Pengeluaran-pengeluaran lainnya seperti biaya perbaikan rumah, pengobatan,
dan biaya sosial lainnya tidak diperhitungkan karena sifatnya insidental dan
besarnya sulit diprediksi secara pasti.
Untuk pengeluaran bukan makanan, dibatasi hanya pada kebutuhan rutin
yang dianggap harus dipenuhi oleh sebagian anggota masyarakat, yaitu kopi/teh
dan gula. Kebutuhan ini sudah menyatu dengan masyarakat perdesaan secara
turun-temurun dan kepentingannya dianggap setingkat lebih rendah
dibandingkan dengan kebutuhan makan. Pengeluaran rutin lainnya adalah
perawatan kesehatan, yaitu untuk sabun mandi dan sabun cuci. Khusus untuk
pakaian, sebenarnya bukanlah merupakan pengeluaran rutin rumahtangga. Pada
umumnya pengeluaran ini dilakukan setahun sekali dan bagi sebagian keluarga
bukan merupakan suatu keharusan. Kebutuhan untuk pembelian pakaian
biasanya dikeluarkan menjelang Hari Raya baik Idul Fitri maupun hari raya Natal
dan/atau pada saat tahun ajaran baru khusus bagi mereka yang memiliki anak
sekolah. Menurut pengakuan masyarakat, dari berbagai komponen pengeluaran
seperti yang diilustrasikan pada Tabel 40 di atas, yang harus selalu dipenuhi
adalah pengeluaran untuk keperluan bahan makanan sedangkan kebutuhan
lainnya masih dapat ditunda.
5.2.3 Tingkat pemenuhan kebutuhan rumahtangga petani
Secara keseluruhan tingkat pemenuhan kebutuhan petani di Desa Sungai
Ambangah dan Pasak Piang berdasarkan jenis penghasilan disajikan pada Tabel
41.
Tabel 41 Rata-rata tingkat pemenuhan kebutuhan rumahtangga petani di Desa
Sungai Ambangah dan Pasak Piang berdasarkan jenis penghasilan
dan jumlah pengeluaran (Rp/bln)
Desa
No Jenis penghasilan (Rp/bln) Sungai Pasak Piang
Ambangah
Penerimaan
1. Usahatani 538 334 690 539
2. UT dan Ternak 605 001 757 206
3. UT dan Warung/kios 549 834 700 289
4. UT dan Tukang 1 738 334 690 539
5. UT + Ternak + kios + tukang 1 816 501 766 956
Pengeluaran 810 380 853 750
Jumlah Pendapatan 1 -272 046 -163 211
Jumlah Pendapatan 2 -205 379 -96 544
Jumlah Pendapatan 3 -260 546 -153 461
Jumlah Pendapatan 4 927 954 -163 211
Jumlah Pendapatan 5 td -86 794
Sumber: Hasil olahan; Ket: td=tidak ada data

Tingkat pemenuhan kebutuhan rumahtangga petani sekitar 60%


rumahtangga petani di Desa Sungai Ambangah tidak dapat memenuhi
kebutuhan mereka dan hanya sekitar 10% yang dapat memenuhi kebutuhan,
yaitu rumahtangga petani yang mempunyai penghasilan selain dari usahatani
juga mempunyai penghasilan tambahan dari usaha menjadi tukang atau buruh
bangunan (Tabel 41). Kelebihan anggaran rumahtangga petani ini mencapai
Rp927 954,- per bulan. Rumahtangga petani yang mempunyai penghasilan dari
usahatani dan usaha lainnya dalam hal ini adalah penghasilan dari usaha
ternak, kios dan menjadi tukang dari hasil survey di lapangan, tidak ditemukan
adanya responden rumahtangga petani yang mempunyai penghasilan
sebagaimana dimaksud.
Sedangkan rumahtangga petani di Desa Pasak Piang secara keseluruhan
tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka. Namun demikian dari hasil tersebut
memperlihatkan bahwa rumahtangga petani yang memiliki kekurangan atau
defisit anggaran kebutuhan rumahtangga adalah petani yang hanya
mengharapkan sumber penghasilan dari usahatani yaitu sebesar -Rp139 778.
Sedangkan kekurangan anggaran kebutuhan rumahtangga pada urutan
berikutnya adalah dari usahatani dan usaha warung atau kios yang mengalami
defisit sebesar -Rp130 028,- per bulan.
Berdasarkan komposisi ini tentunya dapat disimpulkan bahwa tingkat
pemenuhan kebutuhan keluarga untuk kedua desa yaitu Sungai Ambangah
secara relatif hanya rumahtangga petani yang mempunyai sumber penghasilan
dari usahatani dan usaha sebagai tukang atau buruh bangunan yang dapat
terpenuhi, sedangkan untuk Desa Pasak Piang semua jenis sumber penghasilan
belum terpenuhi. Perhitungan nilai pengeluaran yang digunakan ini belum
memperhitungkan, pengeluaran yang sifatnya insidental seperti pengobatan,
biaya sosial, rokok, dan pengeluaran tidak terduga lainnya. Jika semua
pengeluaran ini dimasukkan maka defisit keuangan rumahtangga petani akan
semakin besar. Disamping itu, jumlah dan komposisi pengeluaran rumahtangga
petani relatif konstan, sedangkan jumlah dan komposisi penerimaan
rumahtangga setiap saat berubah, karena tidak ada sumber penerimaan rutin
yang tetap. Walaupun dari penjualan hasil karet relatif tetap, tetapi kadang-
kadang harga jual yang ditetapkan oleh pembeli dalam hal ini adalah pedagang
pengumpul juga bervariasi (fluktuatif), hal ini terjadi karena lembaga pemasaran
yang tetap seperti KUD atau yang lainnya belum ada. Dalam penelitian ini yang
menjadi fokus perhatian adalah tingkat pemenuhan kebutuhan rumahtangga
petani yang bersumber dari kegiatan usahatani.

5.3 Analisis Kebutuhan Hidup Layak (KHL) dan Luas Lahan Minimal (Lm)

Untuk mengetahui apakah pendapatan petani dari kegiatan usahatani


yang mereka jalankan baik di Desa Sungai Ambangah maupun Pasak Piang,
telah memenuhi kebutuhan hidup layak (KHL), maka perlu dilakukan analisis
lebih lanjut. Hasil selengkapnya disajikan pada Tabel 42.
Tabel 42 Kebutuhan Hidup Layak di Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang
per Tahun
Harga Jumlah
Jenis Persen Kg Pengeluaran Kebutuhan
beras*) anggota
pengeluaran (%) beras (Rp/org/th) (Rp/KK/th)
(Rp/kg) keluarga
KFM 100 320 6 000 1 920 000 9 600 000
Pendidikan 50 160 6 000 960 000 4 800 000
Kesehatan 50 160 6 000 960 000 5 4 800 000
Sosial dan 50 160 6 000 960 000 4 800 000
Tabungan
KHL 24 000 000
Sumber: Data primer diolah; Ket: *) harga beras saat penelitian
Nilai KHL baik petani di Desa Sungai Ambangah maupun di Pasak Piang
sebesar Rp24 000 000,- per KK per tahun dengan jumlah anggota keluarga
sebanyak 5 orang (Tabel 42).
Dari hasil analisis usahatani terhadap tiga komoditas (padi, karet dan
kelapa sawit) yang dilakukan, diperoleh rata-rata jumlah pendapatan petani di
Desa Sungai Ambangah mencapai Rp6 460 000,- per hektar per tahun, dengan
rincian padi mencapai Rp2 090 000,-, karet Rp4 370 000,- per hektar per tahun
dan kelapa sawit belum menghasilkan. Sedangkan rata-rata jumlah pendapatan
petani di Desa Pasak Piang mencapai Rp8 567 667,- per hektar per tahun,
dengan rincian padi Rp1 900 000,-, karet Rp6 387 667,- per hektar per tahun dan
kelapa sawit belum menghasilkan. Secara rinci pendapatan petani di kedua desa
tersebut disajikan pada Tabel 43.

Tabel 43 Pendapatan petani dari hasil usahatani padi, karet dan kelapa sawit
terhadap KHL (%) di Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang
(ha/th)
Pendapatan petani per jenis tanaman Persentase
Desa (Rp/ha/tahun) Jumlah (Rp) terhadap KHL
Padi Karet Kelapa (%)
sawit
Sungai
2 090 000 4 370 000 0 6 460 000 26,92
Ambangah
Pasak Piang 1 900 000 6 387 667 0 8 287 667 34,53
Sumber: Data primer diolah

Pendapatan rata-rata petani di Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang


dalam setahun dari ketiga jenis tanaman yang diusahakan, masing-masing Desa
mencapai Rp6 460 000,- dan Rp8 287 667,- (Tabel 43). Pendapatan rata-rata
petani ini apabila dihubungkan dengan standar kebutuhan hidup layak di kedua
lokasi penelitian tersebut yang mencapai Rp24 000 000,- per kepala keluarga per
tahun (lihat Tabel 42), dari hasil tersebut rumahtangga petani untuk Desa Sungai
Ambangah baru memenuhi sekitar 26,92% dari kebutuhan hidup layak (KHL)
keluarga. Sedangkan rumahtangga petani untuk Desa Pasak Piang baru
memenuhi sekitar 34,53% dari kebutuhan hidup layak (KHL) keluarga.
Analisis luas Lahan minimal (Lm) dari masing-masing tanaman yang
diusahakan oleh petani baik di Desa Sungai Ambangah maupun Desa Pasak
Piang yaitu padi, karet dan kelapa sawit, sebagaimana disajikan pada Tabel 44.
Tabel 44 Luas lahan minimal (Lm) di Desa Sungai Ambangah dan Pasak
Piang dari masing-masing tanaman yang diusahakan terhadap
KHL
Jenis Tanaman Sungai Ambangah Pasak Piang
Lm (ha) Lm (ha)
Padi 11,48 12,63
Karet 5,49 3,76
Kelapa sawit 2,21 2,21
Sumber: Hasil olahan

Luas lahan minimal (Lm) untuk masing-masing tanaman yang diusahakan


baik di Desa Sungai Ambangah maupun Pasak Piang yang dapat memenuhi
KHL petani, berturut-turut untuk tanaman padi, karet dan kelapa sawit adalah
11,48 hektar dan 12,63 hektar, 5,49 hektar dan 3,76 hektar dan 2,21 hektar dan
2,21 hektar (Tabel 44).
VI. STATUS KEBERLANJUTAN USAHATANI RAWA LEBAK SAAT INI

6.1 Keberlanjutan Rawa Lebak Masing-masing Dimensi

Analisis status keberlanjutan pemanfaatan rawa lebak di Desa Sungai


Ambangah dan Pasak Piang, dilakukan melalui analisis keberlanjutan dengan
Multidimensional Scaling (MDS) yang disebut Rap-Lebak. Dimensi yang
dianalisis untuk mengetahui status keberlanjutan terdiri dari dimensi ekologi,
ekonomi, sosial budaya, teknologi dan kelembagaan. Indeks dan status
keberlanjutan dari masing-masing dimensi diperlukan untuk melakukan
perbaikan-perbaikan pada masa yang akan datang terhadap atribut-atribut
sensitif yang mempengaruhi pengelolaan rawa lebak.

6.1.1 Keberlanjutan rawa lebak dimensi ekologi


Analisis indeks dan status keberlanjutan untuk dimensi ekologi di Desa
Sungai Ambangah dan Pasak Piang menggunakan delapan atribut. Kedelapan
atribut tersebut diperkirakan sebagai atribut yang paling berpengaruh terhadap
keberlanjutan dimensi ekologi. Adapun atribut tersebut terdiri atas (1) persentase
luas lahan garapan, (2) penggunaan pupuk, (3) kelas kesesuaian lahan, (4)
kandungan bahan organik tanah, (5) produktivitas lahan, (6) periode tergenang,
(7) periode kekeringan, dan (8) ketersediaan sistem irigasi.
Hasil analisis keberlanjutan untuk Desa Sungai Ambangah pada Gambar
11a dapat diketahui bahwa nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi ekologi
mencapai 35,55% atau pada kategori kurang berkelanjutan.

RAPLEBAK Ordination Analisis Leverage Dimensi Ekologi Sungai Ambangah

60 Ketersediaan sistem
irigasi
UP
Periode kekeringan
Sumbu Y setelah Rotasi: Skala Sustainability

40

Periode tergenang

20
Produktivitas lahan
Attribute

39.55
0 BAD GOOD Kandungan bahan
organik tanah
0 20 40 60 80 100 120
Kelas kesesuaian
lahan
-20

Penggunaan pupuk

-40
Persentase luas lahan
DOWN
0 1 2 3 4 5 6 7
-60
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute
Sumbu X setelah Rotasi: Skala Sustainability Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

(a) (b)
Gambar 11 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang mempengaruhi
keberlanjutan dimensi ekologi (b) di rawa lebak Desa Sungai Ambangah
Hasil analisis leverage dimensi ekologi, dari delapan atribut yang
dianalisis (Gambar 11b), terdapat dua atribut sensitif yang mempengaruhi
usahatani di rawa lebak saat ini, yaitu (1) periode tergenang, dan (2)
produktivitas lahan. Kedua atribut sensitif yang mempengaruhi keberlanjutan
ekologi tersebut diketahui mempunyai keterkaitan yang sangat erat.
Periode tergenang perlu dikelola dengan baik, karena penggenangan
dapat menyebabkan perubahan-perubahan sifat kimia tanah, yang ditentukan
oleh potensial reduksioksidasi (redoks). Pada pH 7 dengan nilai potensial redoks
450 - 550 mV mulai terjadi reduksi nitrat (denitrifikasi), antara 350 - 450 mV mulai
terbentuk Mn2+, pada 300 mV tidak ada O2 bebas, pada 250 mV tidak ada nitrat,
pada 150 mV mulai terbentuk Fe2+, pada - 50 mV mulai terjadi reduksi sulfat
membentuk H2S (Marschner, 1986).
Untuk memperbaiki produktivitas lahan dapat dilakukan dengan
menerapkan sistem usahatani konservasi melalui, pengaturan pola tanam,
penambahan bahan organik dengan daur ulang sisa panen dan gulma, serta
penerapan budidaya lorong (Adiningsih dan Mulyadi, 1992). Penerapan teknologi
tersebut akan berdampak terhadap meningkatnya ketersediaan P dan bahan
organik tanah serta menurunnya kadar Al. Hasil penelitian Arief dan Irman
(1993) disimpulkan bahwa pemberian amelioran berupa kapur, pupuk kandang,
daun gamal, jerami padi dan kieserit mampu meningkatkan hasil padi gogo dan
kedelai di tanah podzolik merah kuning. Pupuk diketahui berperan penting
terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Pupuk yang diberikan dapat
menjadi tambahan unsur hara yang sudah ada di dalam tanah, sehingga jumlah
unsur hara yang ada dalam tanah tersebut dapat tersedia untuk mensuplai
kebutuhan tanaman. Dengan demikian, kedua atribut sensitif tersebut perlu
mendapat perhatian dan dikelola dengan baik agar nilai indeks keberlanjutan
dimensi ini menjadi meningkat dimasa yang akan datang.
Hasil analisis keberlanjutan untuk Desa Pasak Piang (Gambar 12a)
memperlihatkan bahwa nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi ekologi hanya
mencapai 45,36% atau pada kategori kurang berkelanjutan.
RAPLEBAK Ordination Analisis Leverage Dimensi Ekologi Pasak Piang

60
Ketersediaan sistem
UP irigasi

Sumbu Y setelah Rotasi: Skala Sustainability 40 Periode kekeringan

Periode tergenang
20
Produktivitas lahan

Attribute
45.36
0 BAD GOOD Kandungan bahan
organik tanah
0 20 40 60 80 100 120
Kelas kesesuaian
lahan
-20

Penggunaan pupuk

-40 Persentase luas lahan

DOWN
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
-60 Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute
Removed (on Sustainability scale 0 to 100)
Sumbu X setelah Rotasi: Skala Sustainability

(a) (b)
Gambar 12 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang mempengaruhi
keberlanjutan dimensi ekologi (b) di rawa lebak Desa Pasak Piang

Dari hasil analisis leverage dimensi ekologi dari delapan atribut yang
dianalisis (Gambar 12b), terdapat empat atribut sensitif yang mempengaruhi
usahatani di rawa lebak saat ini, yaitu (1) kandungan bahan organik tanah; (2)
produktivitas lahan; (3) periode tergenang, dan (4) penggunaan pupuk. Keempat
atribut sensitif yang mempengaruhi keberlanjutan ekologi tersebut juga
mempunyai keterkaitan yang sangat erat antara satu atribut dengan atribut yang
lainnya. Kandungan bahan organik tanah merupakan salah satu indikator
kesuburan tanah. Bahan organik tanah diketahui berperan dalam hal
menyediakan unsur hara untuk pertumbuhan tanaman. Mikroorganisme yang
terdapat di dalam tanah, dapat berperan dalam hal perubahan unsur hara dari
bentuk tidak tersedia menjadi tersedia untuk tanaman. Ketersediaan bahan
organik juga penting sebagai nutrisi untuk aktivitas dan pertumbuhan
mikroorganisme. Tanah yang memiliki kandungan bahan organik yang cukup,
juga dapat memperbaiki kondisi tanah agar tidak terlalu berat dan tidak terlalu
ringan dalam pengelolaan tanah. Pengaruh lain dari bahan organik terhadap sifat
fisik tanah adalah berhubungan dengan sifat porositas tanah. Porositas tanah
berhubungan dengan aerasi tanah, dan status kadar air tanah. Penambahan
bahan organik akan meningkatkan kemampuan tanah dalam menahan air,
sehingga tanah tersebut dapat menyediakan air tanah untuk pertumbuhan
tanaman. Peran bahan organik terhadap kesuburan tanah antara lain terhadap
peningkatan kapasitas tukar kation, kapasitas pertukaran anion, pH tanah daya
sanggah tanah dan terhadap keharaan tanah (Atmojo, 2003). Dengan demikian,
keempat atribut sensitif tersebut perlu mendapat perhatian dan dikelola dengan
baik agar nilai indeks dimensi ini menjadi meningkat dimasa yang akan datang.

6.1.2 Keberlanjutan rawa lebak dimensi ekonomi


Analisis indeks dan status keberlanjutan untuk dimensi ekonomi di Desa
Sungai Ambangah dan Pasak Piang menggunakan tujuh atribut yang dilakukan
dalam analisis keberlanjutan. Ketujuh atribut tersebut diperkirakan sebagai
atribut yang paling berpengaruh terhadap keberlanjutan dimensi ekonomi.
Adapun atribut tersebut terdiri atas (1) pendapatan rata-rata petani, (2) produksi
usahatani, (3) ketersediaan modal usahatani, (4) harga produk usahatani, (5)
ketersediaan sarana produksi, (6) keuntungan usahatani, dan (7) efesiensi
ekonomi.
Hasil analisis keberlanjutan untuk Desa Sungai Ambangah pada Gambar
13a dapat diketahui bahwa nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi ekonomi
mencapai 35,04% atau pada kategori kurang berkelanjutan.

RAPLEBAK Ordination Analisis Leverage Dimensi Ekonomi Sungai Ambangah

60
Efesiensi ekonomi
UP
Sumbu Y setelah Rotasi: Skala Sustainability

40 Keuntungan usahatani

Ketersediaan sarana
20 produksi
Attribute

Harga produk usahatni


0 GOOD
0 20 40 60 80 100 120
Ketersediaan modal
BAD
usahatani
35.04
-20
Produksi usahatani

-40 Pendapatan rata-rata


petani
DOWN
0 2 4 6 8 10 12 14 16
-60
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute
Sumbu X setelah Rotasi: Skala Sustainability Removed (on Sustainability scale 0 to 100)
(a)
(b) (b)
Gambar 13 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang mempengaruhi
keberlanjutan dimensi ekonomi (b) di rawa lebak Desa Sungai Ambangah

Hasil analisis leverage dimensi ekonomi, dari tujuh atribut yang dianalisis
(Gambar 13b) terdapat lima atribut sensitif yang mempengaruhi usahatani di
rawa lebak saat ini, yaitu (1) harga produk usahatani, (2) ketersediaan sarana
produksi, (3) keuntungan usahatani, (4) produksi usahatani, dan (5) ketersediaan
modal usahatani. Kelima atribut sensitif yang mempengaruhi keberlanjutan
ekonomi tersebut mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Sarana dan
prasarana pertanian merupakan sumberdaya yang penting dalam mendukung
kegiatan usahatani, hal ini tidak hanya berlaku ditingkat lahan pertanian (on farm)
akan tetapi juga berlaku pada skala yang lebih luas seperti dalam proses
pengolahan, pemasaran hasil, pasca panen, dan sebagainya.
Keuntungan atau pendapatan usahatani yang merupakan selisih antara
penerimaan dan semua biaya yang dikeluarkan. Penerimaan usahatani menurut
Soekartawi (2002) adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan
harga jual. Keuntungan usahatani sangat tergantung dari produksi usahatani dan
harga produk usahatani. Produk usahatani sangat tergantung dari ketersediaan
sarana dan input produksi. Dengan demikian atribut-atribut sensitif tersebut perlu
mendapat perhatian dan dikelola dengan baik agar nilai indeks dimensi ini
menjadi meningkat dimasa yang akan datang.
Sedangkan hasil analisis keberlanjutan untuk Desa Pasak Piang pada
Gambar 14a dapat diketahui bahwa nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi
ekonomi mencapai 24,20% atau pada kategori buruk = tidak berkelanjutan.

RAPLEBAK Ordination Analisis Leverage Dimensi Ekonomi Pasak Piang

60
Efesiensi ekonomi
UP
Sumbu Y setelah Rotasi: Skala Sustainability

40 Keuntungan usahatani

Ketersediaan sarana
20 produksi
Attribute

Harga produk usahatni


0 GOOD
0 20 40 60 80 100 120
Ketersediaan modal
BAD
usahatani

-20
24.20
Produksi usahatani

-40 Pendapatan rata-rata


petani
DOWN
0 2 4 6 8 10 12 14 16
-60
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute
Sumbu X setelah Rotasi: Skala Sustainability Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

(a) (b)
Gambar 14 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang mempengaruhi
keberlanjutan dimensi ekonomi (b) di rawa lebak Desa Pasak Piang

Hasil analisis leverage dimensi ekonomi, dari tujuh atribut yang dianalisis
(Gambar 14b), terdapat empat atribut sensitif yang mempengaruhi usahatani di
rawa lebak saat ini, yaitu (1) harga produk usahatani, (2) ketersediaan sarana
produksi, (3) keuntungan usahatani, dan (4) efesiensi ekonomi. Keempat atribut
sensitif yang mempengaruhi keberlanjutan ekonomi tersebut mempunyai
keterkaitan yang sangat erat. Dengan demikian, keempat atribut sensitif tersebut
perlu mendapat perhatian dan dikelola dengan baik agar nilai indeks dimensi ini
menjadi meningkat dimasa yang akan datang.
Produk usahatani dari segi kualitas dan kuantitas sangat dipengaruhi oleh
ketersediaan dan aplikasi sarana produksi (pupuk, pestisida) yang sesuai. Harga
produk usahatani juga akan berpengaruh terhadap keuntungan usahatani. Harga
produk usahatani juga dipengaruhi oleh efisiensi ekonomi. Makin efisien suatu
proses produksi, maka semakin besar keuntungan yang diperoleh, tidak
terkecuali dalam proses produk hasil pertanian.

6.1.3 Keberlanjutan rawa lebak dimensi sosial budaya


Analisis indeks dan status keberlanjutan untuk dimensi sosial budaya di
Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang menggunakan tujuh atribut untuk
dilakukan analisis keberlanjutan. Ketujuh atribut tersebut diperkirakan sebagai
atribut yang paling berpengaruh terhadap keberlanjutan dimensi sosial budaya.
Adapun atribut tersebut terdiri atas (1) status kepemilikan lahan, (2) jumlah
rumah tangga petani, (3) rumah tangga petani yang pernah mengikuti
penyuluhan pertanian, (4) peran adat dalam kegiatan pertanian, (5) pola
hubungan masyarakat dalam usaha pertanian, (6) tingkat pendidikan formal
petani, dan (7) intensitas konflik.
Hasil analisis keberlanjutan untuk Desa Sungai Ambangah pada Gambar
15a dapat diketahui bahwa nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi sosial
budaya mencapai 43,89% atau pada kategori kurang berkelanjutan.
RAPLEBAK Ordination Analisis Leverage Dimensi Sosial Budaya Sungai Ambangah

60
Inensitas konflik
UP
Tingkat pendidikan
Sumbu Y setelah Rotasi: Skala Sustainability

40
formal petani

Pola hub. Masyarakat


20 dlm usaha pertanian
Attribute

Peran adat dalam


48.89
kegiatan pertanian
0 GOOD
0 20 40 60 80 100 120 Rumah tangga petani
BAD yg pernah mengikuti
penyuluhan pertanian
-20
Jumlah rumah tangga
petani

-40 Status kepemilkan


lahan
DOWN
0 1 2 3 4 5 6 7 8
-60
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute
Sumbu X setelah Rotasi: Skala Sustainability Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

(a) (b)
Gambar 15 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang mempengaruhi
keberlanjutan dimensi sosial budaya (b) di rawa lebak Desa Sungai
Ambangah

Hasil analisis leverage dimensi sosial budaya, dari tujuh atribut yang
dianalisis (Gambar 15b), terdapat tiga atribut sensitif yang mempengaruhi
keberlanjutan usahatani di rawa lebak saat ini, yaitu (1) pola hubungan
masyarakat dalam usaha pertanian berupa kerjasama dalam hal penanaman,
panen atau kegiatan lainnya, (2) rumah tangga petani yang pernah mengikuti
penyuluhan pertanian, dan (3) jumlah rumah tangga petani. Ketiga atribut
sensitif yang mempengaruhi keberlanjutan sosial budaya tersebut mempunyai
keterkaitan yang sangat erat. Hal ini diperlihatkan dalam berbagai penelitian
(misalnya Evans, 1982; Lorenz, 1966), yang menunjukkan bahwa disamping
faktor dalam diri manusia (intrinsik) terdapat faktor luar (ekstrinsik) yang
mempengaruhi kemampuan manusia untuk hidup bersama-sama dengan orang
atau kelompok lain secara baik. Untuk selanjutnya faktor ini disebut sebagai
faktor penunjang. Faktor penunjang yang mempengaruhi kemampuan manusia
untuk hidup bersama-sama secara selaras dan serasi dapat digolongkan menjadi
dua hal, yaitu peluang dan stimulasi. Aspek peluang pertama-tama dapat dilihat
dengan bertambahnya jumlah orang dalam suatu lingkup atau wilayah. Dengan
mengikuti penyuluhan pertanian, maka keterbatasan-keterbatasan dan segala
permasalahan yang dihadapi oleh petani dalam hal kegiatan usahataninya dapat
dicarikan solusi jalan keluarnya. Sedangkan ketersediaan rumah tangga petani
merupakan salah satu sumberdaya khususnya sumberdaya manusia yang
berperan dalam mendukung kelancaran kegiatan usahatani. Dengan demikian,
ketiga atribut sensitif tersebut perlu mendapat perhatian dan dikelola dengan baik
agar nilai indeks dimensi ini menjadi meningkat dimasa yang akan datang.
Sedangkan hasil analisis keberlanjutan untuk Desa Pasak Piang pada
Gambar 16a dapat diketahui bahwa nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi
sosial budaya mencapai 48,30% atau pada kategori kurang berkelanjutan.

RAPLEBAKOrdination Analisis Leverage Dimensi Sosial Budaya Pasak Piang

60
Inensitas konflik
UP
Tingkat pendidikan
Sumbu Y setelah Rotasi: Skala Sustainability

40
formal petani

Pola hub. Masyarakat


20 dlm usaha pertanian

48.30
Attribute

Peran adat dalam


kegiatan pertanian
0 GOOD
0 20 40 60 80 100 120 Rumah tangga petani
BAD yg pernah mengikuti
penyuluhan pertanian
-20
Jumlah rumah tangga
petani

-40 Status kepemilkan


lahan
DOWN
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18
-60
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute
Sumbu X setelah Rotasi: Skala Sustainability Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

(a) (b)
Gambar 16 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang mempengaruhi
keberlanjutan dimensi sosial budaya (b) di rawa lebak Desa Pasak Piang
Hasil analisis leverage dimensi sosial budaya, dari tujuh atribut yang
dianalisis (Gambar 16b) terdapat enam atribut sensitif yang mempengaruhi
keberlanjutan di rawa lebak saat ini, yaitu (1) peran adat dalam kegiatan
pertanian, (2) rumah tangga petani yang pernah mengikuti penyuluhan pertanian,
(3) pola hubungan masyarakat dalam usaha pertanian, (4) jumlah rumah tangga
petani, (5) tingkat pendidikan formal petani, dan (6) intensitas konflik. Keenam
atribut sensitif yang mempengaruhi keberlanjutan sosial budaya tersebut
mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Perbedaan atribut sensitif untuk
dimensi sosial budaya baik jumlah atribut maupun jenis atribut antara Desa
Sungai Ambangah dan Pasak Piang secara faktual di lapangan memungkinkan
terjadi. Dari hasil diskusi dan wawancara terhadap petani di lokasi studi
khususnya Desa Pasak Piang, diperoleh informasi bahwa kegiatan usahatani
yang mereka lakukan masih sangat bergantung terhadap nilai-nilai budaya lokal
seperti dalam penentuan waktu tanam. Penentuan waktu tanam ditentukan oleh
Tetua Adat atau Tokoh Adat yang oleh masyarakat disana menyebutnya sebagai
Tuha tahun. Dan hasil cross check terhadap Tetua Adat yang ditemui Bapak
Herkulanus Utuh berusia sekitar 65 tahun menurut pengakuan yang
bersangkutan, membenarkan apa yang menjadi keyakinan masyarakat disana
dalam penentuan waktu tanam. Melalui arahan dan penentuan waktu tanam dari
Tetua Adat, masyarakat yakin bahwa mereka akan berhasil dalam kegiatan
usahataninya, dan apabila melanggar akan mendapatkan kegagalan dalam
usahatani. Ini berlaku untuk kegiatan usahatani padi khususnya, karena
menanam padi menurut kepercayaan mereka merupakan suatu bentuk
pelestarian kebudayaan. Menanam padi bagi mereka merupakan hal yang
mendasar dan wajib, karena hasil padi tidak untuk diperjualbelikan tetapi untuk
memenuhi kebutuhan pangan dalam rumah tangga mereka, kalaupun hasil
panen berlebih disimpan sebagai cadangan untuk kebutuhan dimasa yang akan
datang apabila terjadi gagal panen.

6.1.4 Keberlanjutan rawa lebak dimensi teknologi

Analisis indeks dan status keberlanjutan untuk dimensi teknologi di Desa


Sungai Ambangah dan Pasak Piang menggunakan delapan atribut untuk
dilakukan analisis keberlanjutan. Kedelapan atribut tersebut, diperkirakan
sebagai atribut yang paling berpengaruh terhadap keberlanjutan dimensi
teknologi. Adapun atribut tersebut adalah (1) pengolahan tanah, (2) pemupukan,
(3) pengendalian gulma, (4) jumlah alat pemberantasan jasad pengganggu, (5)
ketersediaan mesin pompa air, (6) ketersediaan mesin pasca panen, dan (7)
pola tanam, dan (8) jadual tanam
Hasil analisis keberlanjutan untuk Desa Sungai Ambangah pada Gambar
17a dapat diketahui bahwa nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi teknologi
mencapai 37,53% atau pada kategori kurang berkelanjutan.

RAPLEBAK Ordination Analisis Leverage Dimensi Teknologi Sungai Ambangah

60
Pola tanam
UP
Ketersediaan mesin
Sumbu Y setelah Rotasi: Skala Sustainability

40
pasca panen

Ketersediaan pompa
20 air

Attribute
Jumlah alat
pemberantasan jasad
0 BAD GOOD pengganggu

0 20 40 60 80 100 120
Pengendalian Gulma
37.53
-20
Pemupukan

-40
Pengolahan tanah
DOWN
0 1 2 3 4 5 6 7
-60
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute
Sumbu X setelah Rotasi: Skala Sustainability
Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

(a) (b)
Gambar 17 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang mempengaruhi
keberlanjutan dimensi teknologi (b) di rawa lebak Desa Sungai Ambangah

Hasil analisis leverage dimensi teknologi, dari tujuh atribut yang dianalisis
(Gambar 17b) terdapat tiga atribut sensitif yang mempengaruhi usahatani di rawa
lebak saat ini, yaitu (1) jumlah alat pemberantasan jasad pengganggu, (2)
pengendalian gulma, dan (3) pemupukan. Ketiga atribut sensitif yang
mempengaruhi keberlanjutan teknologi tersebut mempunyai keterkaitan yang
sangat erat. Dengan demikian, ketiga atribut sensitif tersebut perlu mendapat
perhatian dan dikelola dengan baik agar nilai indeks dimensi ini menjadi
meningkat dimasa yang akan datang.
Sedangkan hasil analisis keberlanjutan untuk Desa Pasak Piang pada
Gambar 18a dapat diketahui bahwa nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi
teknologi mencapai 28,92% atau pada kategori kurang berkelanjutan.
RAPLEBAK Ordination Analisis Leverage Dimensi Teknologi Pasak Piang

60
Jadual tanam

UP
Pola tanam
40
Sumbu X setelah Rotasi: Skala Sustainability

Ketersediaan mesin pasca panen

20
Ketersediaan mesin pompa air

Attribute
28.92
0 BAD GOOD Jml alat pemberantasan jasad pengganggu
0 20 40 60 80 100 120

Pengendalian gulma
-20

Pemupukan

-40
Pengolahan tanah
DOWN
0 1 2 3 4 5 6 7 8
-60
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute
Sumbu X setelah Rotasi: Skala Sustainability Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

(a) (b)
Gambar 18 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang mempengaruhi
keberlanjutan dimensi teknologi (b) di rawa lebak Desa Pasak Piang

Hasil analisis leverage dimensi teknologi, dari delapan atribut yang


dianalisis (Gambar 18b) terdapat tiga atribut sensitif yang mempengaruhi
usahatani di rawa lebak saat ini, yaitu (1) jumlah alat pemberatasan jasad
penggangu, (2) ketersediaan mesin pompa air, dan (3) ketersediaan mesin pasca
panen. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa serangan hama dan penyakit
terhadap tanaman di lokasi penelitian cukup beragam diantaranya adalah
penggerak batang (Ostrinia furnacalis Guenee) pada tanaman padi, jamur akar
putih (Rigidoporus lignosus) pada tanaman karet, dan serangan belalang pada
tanaman kelapa sawit. Serangan hama dan penyakit tersebut, oleh petani disana
tidak dilakukan pengendalian secara intensif, tetapi umumnya dibiarkan oleh
mereka. Oleh karena itu, pada masa yang akan datang dapat dilakukan
penerangan atau penyuluhan terhadap petani agar supaya intensitas
pengendalian penyakit ini lebih ditingkatkan.

6.1.5 Keberlanjutan rawa lebak dimensi kelembagaan


Analisis indeks dan status keberlanjutan untuk dimensi kelembagaan di
Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang menggunakan delapan atribut untuk
dilakukan analisis keberlanjutan. Kedelapan atribut tersebut diperkirakan sebagai
atribut yang paling berpengaruh terhadap keberlanjutan dimensi kelembagaan.
Adapun atribut tersebut terdiri dari (1) keberadaan kelempok tani, (2) intensitas
pertemuan kelompok tani, (3) keberadaan lembaga sosial, (4) ketersediaan
lembaga keuangan mikro, (5) ketersediaan petugas penyuluh pertanian, (6)
kondisi prasarana jalan desa, (7) keberadaan balai penyuluh pertanian, dan (8)
kios saprodi.
Hasil analisis keberlanjutan untuk Desa Sungai Ambangah pada Gambar
19a dapat diketahui bahwa nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi
kelembagaan mencapai 54,82% atau pada kategori cukup berkelanjutan.

RAPLEBAK Ordination Analisis Leverage Dimensi Kelembagaan Sungai Ambangah

200 Ketersediaan kios


saprodi

keberadaan balai
penyuluh pertanian
Sumbu Y setelah Rotasi: Skala Sustainability

150

Kondisi prasarana
jalan desa
100
Keberadaan petugas

Attribute
penyuluh pertanian

50 BAD UP Ketersediaan lembaga


keuangan mikro

Keberadaan lembaga
sosial
0 GOOD
0 20 40 60 80 100 120 Intensitas pertemuan
54.82 kelompok tani

-50 DOWN
Keberadaan kelompok
tani

0 1 2 3 4 5 6 7 8
-100
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute
Sumbu X setelah Rotasi: Skala Sustainability Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

(a) (b)
Gambar 19 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang mempengaruhi
keberlanjutan dimensi kelembagaan (b) di rawa lebak Desa Sungai
Ambangah

Hasil analisis leverage dimensi kelembagaan, dari tujuh atribut yang


dianalisis (Gambar 19b) terdapat tiga atribut sensitif yang mempengaruhi
usahatani di rawa lebak saat ini, yaitu (1) keberadaan petugas penyuluh
lapangan, (2) ketersediaan lembaga keuangan mikro, dan (3) keberadaan
lembaga sosial. Ketiga atribut sensitif yang mempengaruhi keberlanjutan
kelembagaan tersebut mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Sebagaimana
diketahui bahwa tanpa modal, suatu usaha tidak akan dapat berjalan walaupun
syarat-syarat yang lain untuk menjalankan atau mendirikan suatu usaha sudah
dimiliki. Untuk maksud tersebut, biasanya sebelum suatu usaha dijalankan,
terlebih dahulu dilakukan analisis pemodalan. Analisis pemodalan dilakukan
untuk mengetahui seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk
pengadaan tanah atau sewa lahan serta biaya investasi seperti pembelian bibit,
pupuk, biaya tenaga kerja dan pascapanen. Dari hasil wawancara di lapangan,
semua responden mengatakan mereka kekurangan modal. Untuk mengatasi
kekurangan modal tersebut, diperlukan lembaga keuangan yang dapat
memberikan pinjaman modal usaha, maka keberadaan lembaga keuangan skala
mikro merupakan salah satu alternatif jalan keluarnya (Tim Penulis PS, 2008).
Sedangkan dalam konteks lembaga sosial dimaksudkan adalah lembaga yang
dapat mengatur individu-individu dalam berinteraksi. Suparlan (2004) dalam
Rudito dan Femiola (2008) menjabarkan secara lebih rinci bahwa dalam pranata
sosial komuniti, diatur status dan peran untuk melaksanakan aktivitas pranata
yang bersangkutan. Dengan kata lain bahwa peran-peran tersebut terangkai
membentuk sebuah sistem yang disebut sebagai pranata sosial atau institusi
sosial yakni sistem antar hubungan norma-norma dan peranan-peranan yang
diadakan dan dibakukan guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang dianggap
penting oleh masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, keberadaan lembaga
penyedia modal dan lembaga sosial sebagai atribut sensitif merupakan atribut
yang perlu mendapat perhatian. Dengan tersedianya kedua lembaga tersebut
diharapkan nilai indeks dimensi ini akan menjadi meningkat dimasa yang akan
datang.
Sedangkan hasil analisis keberlanjutan untuk Desa Pasak Piang pada
Gambar 20a dapat diketahui bahwa nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi
kelembagaan mencapai 52,19% atau pada kategori cukup berkelanjutan.

RAPLEBAK Ordination Analisis Leverage Dimensi Kelembagaan Pasak Piang

200 Ketersediaan kios


saprodi

keberadaan balai
Sumbu Y setelah Rotasi: Skala Sustainability

150 penyuluh pertanian

Kondisi prasarana
jalan desa
100
Keberadaan petugas
Attribute

penyuluh pertanian

50 BAD UP Ketersediaan lembaga


keuangan mikro

Keberadaan lembaga
52.19 sosial
0 GOOD
0 20 40 60 80 100 120
Intensitas pertemuan
kelompok tani

-50 DOWN
Keberadaan kelompok
tani

0 1 2 3 4 5 6
-100
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute
Sumbu X setelah Rotasi: Skala Sustainability Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

(a) (b)
Gambar 20 Indeks dan status keberlanjutan (a), dan atribut sensitif yang mempengaruhi
keberlanjutan dimensi kelembagaan (b) di rawa lebak Desa Pasak Piang

Hasil analisis leverage dimensi kelembagaan, dari tujuh atribut yang


dianalisis (Gambar 20b) terdapat dua atribut sensitif yang mempengaruhi
usahatani di rawa lebak saat ini, yaitu (1) ketersediaan lembaga keuangan mikro,
dan (2) keberadaan lembaga sosial. Kedua atribut sensitif yang mempengaruhi
keberlanjutan dimensi kelembagaan ini juga sama dengan atribut sensitif untuk
Desa Sungai Ambangah di atas, dengan demikian berdasarkan uraian yang telah
disampaikan sebelumnya, maka kedua atribut sensitif ini, merupakan atribut
penting untuk diperhatikan apabila ingin meningkatkan nilai indeks keberlanjutan
dimensi kelembagaan di masa yang akan datang.
Selanjutnya Tabel 45, menunjukkan atribut-atribut sensitif yang
mempengaruhi keberlanjutan pengelolaan rawa lebak berdasarkan hasil analisis
leverage terhadap seluruh atribut yang diberikan penilaian. Dari 38 atribut yang
diberikan penilaian terhadap rawa lebak di Desa Sungai Ambangah, diperoleh 16
atribut sensitif. Sedangkan di Desa Pasak Piang dari 38 atribut yang diberikan
penilaian, diperoleh 19 atribut sensitif. Selanjutnya atribut-atribut sensitif ini akan
digunakan sebagai faktor penting/faktor pengungkit untuk memperbaiki status
keberlanjutan pengelolaan rawa lebak pada masa yang akan datang, baik di
Desa Sungai Ambangah maupun Pasak Piang.
Tabel 45 Atribut sensitif mempengaruhi keberlanjutan pengelolaan rawa lebak
di Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang
Sungai Ambangah Pasak Piang
No Atribut sensitif Skor No Atribut sensitif Skor
1 Harga produk usahatani 14,0 1 Peran adat dalam kegiatan pertanian 15,6
2 Ketersediaan sarana produksi 11,6 2 Harga produk usahatani 14,5
3 Keuntungan usahatani 9,5 3 Rumah tangga petani yg pernah 12,5
4 Produksi usahatani 7,5 mengikuti penyuluhan pertanian
5 Pola hubungan masyarakat dalam 7,4 4 Pola hubungan masyarakat dalam 11,5
usahatani usahatani
6 Ketersediaan lembaga keuangan mikro 7,1 5 Jumlah rumah tangga petani 9,5
7 Ketersediaan modal usahatani 7,0 6 Ketersediaan sarana produksi 9,0
8 Rumahtangga petani yg pernah 6,8 7 Kandungan bahan organik tanah 8,9
mengikuti penyuluhan pertanian 8 Produktivitas lahan 8,2
9 Keberadaan petugas penyuluh 6,7 9 Keuntungan usahatani 8,1
lapangan 10 Efesiensi ekonomi 7,9
10 Jumlah alat pemberantasan jasad 6,6 11 Periode tergenang 7,5
pengganggu 12 Tingkat pendidikan formal petani 7,1
11 Pengendalian gulma 6,5 13 Intensitas konflik 7,0
12 Periode tergenang 6,4 14 Jumlah alat pemberantasan jasad 6,8
13 Jumlah rumah tangga petani 5,9 pengganggu
14 Produktivitas lahan 5,7 15 Ketersediaan lembaga keuangan mikro 6,7
15 Keberadaan lembaga sosial 5,6 16 Keberadaan lembaga sosial 6,0
16 Pemupukan 5,5 17 Ketersediaan mesin pompa air 5,6
18 Penggunaan pupuk 5,3
19 Ketersediaan mesin pasca panen 5,1

6.1.6 Pola indeks keberlanjutan usahatani rawa lebak dalam diagram layang

Nilai indeks untuk setiap dimensi di Desa Sungai Ambangah Gambar 21


menunjukkan adanya keragaman antara satu dimensi dengan dimensi yang lain.
Dari diagram layang ini dapat diketahui bahwa dimensi mana yang lebih
diutamakan untuk dikelola agar dimensi tersebut menjadi cukup berkelanjutan
atau nilai indeks di atas 50% atau bahkan nilai indeksnya bisa lebih besar dari
75% (kategori berkelanjutan).
Dari kelima dimensi yang dianalisis ternyata dimensi kelembagaan yang
mempunyai nilai indeks relatif terbesar yaitu 54,82% (cukup berkelanjutan), jika
dibandingkan dengan empat dimensi lainnya yang semuanya berada pada
kategori kurang berkelanjutan. Dimensi yang paling rendah nilai indeks
keberlanjutannya adalah dimensi ekonomi yang hanya mencapai 35,04% (kurang
berkelanjutan). Keadaan ini sesuai dengan hasil analisis dimensi ekonomi
Gambar 13a, hasil ini menunjukkan bahwa apabila ingin ditingkatkan status
keberlanjutan dari kategori ‗kurang‘ menjadi ‗cukup‘ berkelanjutan, perlu
mengelola atribut-atribut sensitif yang berpengaruh terhadap keberlanjutan
dimensi ekonomi, terutama mengelola harga produk usahatani, ketersediaan
sarana produksi, keuntungan usahatani, produksi usahatani, dan ketersediaan
modal usahatani. Sedangkan nilai indeks untuk setiap dimensi di Desa Pasak
Piang Gambar 22 juga menunjukkan adanya keragaman antara satu dimensi
dengan dimensi yang lain. Dari diagram layang ini dapat diketahui bahwa
dimensi mana yang lebih diutamakan untuk dikelola agar dimensi tersebut
menjadi berada pada kategori nilai indeks juga di atas 50% (kategori cukup
berkelanjutan) atau di atas 75% (kategori berkelanjutan).
Dari kelima dimensi yang dianalisis ternyata dimensi kelembagaan yang
mempunyai nilai indeks sebesar 52,19% atau pada kategori cukup berkelanjutan,
sedangkan tiga dimensi lainnya yaitu ekologi, sosial budaya dan teknologi berada
pada kategori kurang berkelanjutan, dan satu dimensi yaitu ekonomi berada
pada kategori tidak berkelanjutan atau dengan nilai indeks keberlanjutan hanya
mencapai 24,20%. Keadaan ini sesuai dengan hasil analisis dimensi ekonomi
Gambar 14a. Dari hasil ini, mengindikasikan bahwa apabila dimensi ini ingin
ditingkatkan status keberlanjutan dari kategori ‗tidak‘ berkelanjutan menjadi
‗cukup‘ berkelanjutan atau bahkan berkelanjutan, maka perlu mengelola atribut-
atribut sensitif yang berpengaruh terhadap keberlanjutan dimensi ekonomi.
Atribut-atribut sensitif tersebut adalah mengelola harga produk usahatani,
ketersediaan sarana produksi, keuntungan usahatani, dan efisiensi ekonomi.
Sungai Ambangah Pasak Piang

Ekologi Ekologi
100 100
80 80
60 6045.36
39.55
Kelembaga 40 Kelembaga 40
54.82 Ekonomi 52.19 Ekonomi
an 20 35.04 an 20 24.2
0 0

37.53 28.92
43.89 48.3
Sosial Sosial
Teknologi Teknologi
Budaya Budaya

Gambar 21 Diagram layang analisis indeks Gambar 22 Diagram layang analisis indeks dan
dan status keberlanjutan rawa status keberlanjutan rawa lebak di
lebak di Sungai Ambangah Pasak Piang

Nilai S-Stress yang dihasilkan dimasing-masing dimensi, mempunyai nilai


yang lebih kecil dari ketentuan (<0.25), dengan asumsi bahwa semakin kecil dari
0,25 semakin baik. Sedangkan nilai Koefesien Determinasi (R2) disetiap dimensi
cukup tinggi (mendekati 1). Dengan demikian, kedua parameter statistik tersebut
menunjukkan seluruh atribut yang digunakan dalam setiap dimensi di kedua
lokasi penelitian sudah cukup baik menerangkan keberlanjutan sistem
pengelolaan rawa lebak (Tabel 46).
Tabel 46 Nilai Stress dan R2 status keberlanjutan pengelolaan rawa lebak
dimasing-masing lokasi penelitian
Parameter dan lokasi Dimensi keberlanjutan
penelitian Ekologi Ekonomi Sosial Budaya Teknologi Kelembagaan
S-Stress Sungai 0,1389946 0,1507659 0,1500685 0,1397085 0,1476557
ambangah
Pasak Piang 0,1374439 0,1484612 0,1525913 0,1383314 0,1415626

R2 Sungai 0,9459976 0,9281701 0,937069 0,9467362 0,9419487


Ambangah
Pasak Piang 0,9416752 0,9301242 0,923359 0,9450684 0,9477773
Sumber: Data primer diolah

Hasil analisis Monte Carlo menunjukkan bahwa nilai status indeks


keberlanjutan pengelolaan rawa lebak pada selang kepercayaan 95 persen
didapatkan hasil yang tidak banyak mengalami perbedaan (<1) antara hasil
analisis MDS dengan analisis Monte Carlo (Tabel 47). Kecilnya perbedaan nilai
indeks keberlanjutan antara hasil analisis dari kedua metode tersebut
membuktikan bahwa (1) kesalahan dalam pembuatan skor setiap atribut relatif
kecil, (2) ragam pemberian skor akibat perbedaan opini relatif kecil, (3) proses
analisis yang dilakukan secara berulang-ulang relatif stabil, dan (4) kesalahan
pemasukkan data dan data yang hilang dapat dihindari. Perbedaan ini juga
menunjukkan bahwa sistem yang dikaji memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi.
Beberapa parameter hasil uji statistik ini menunjukkan bahwa metode Rap-Lebak
cukup baik dipergunakan sebagai salah satu instrumen dalam evaluasi
keberlanjutan pengelolaan rawa lebak.

Tabel 47 Perbedaan Indeks keberlanjutan antara Rap-Lebak (MDS) dengan


Monte Carlo Pada masing-masing Lokasi Penelitian
Indeks keberlanjutan (%)
Perbedaan (selisih)
Dimensi MDS MONTE CARLO
keberlanjutan Sungai Pasak Sungai Pasak Sungai Pasak
Ambangah Piang Ambangah Piang Ambangah Piang
Ekologi 39,55 45,36 38,86 45,88 0,69 0,52
Ekonomi 35,04 24,20 35,87 24,32 0,83 0,12
Sosial Budaya 43,89 48,30 43,58 48,47 0,31 0,17
Teknologi 37,53 28,92 37,83 29,60 0,30 0,68
Kelembagaan 54,82 52,19 54,35 52,77 0,47 0,58
Sumber: Data primer diolah

6.2 Variabel-Variabel Dominan dalam Pengelolaan Lahan Rawa Lebak


Berkelanjutan

Disain pengembangan model pengelolaan lahan rawa lebak secara


berkelanjutan dilakukan dengan terlebih dahulu menyusun skenario
pengembangan model pengelolaan lahan rawa lebak secara berkelanjutan pada
masa yang akan datang. Penyusunan skenario tersebut, dengan cara
menentukan faktor-faktor kunci yang berpengaruh terhadap pengembangan
model tersebut. Untuk mendapatkan faktor-faktor kunci tersebut dilakukan
dengan menggunakan analisis prospektif.
Analisis prospektif ditahap ini, dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu (1)
menentukan faktor kunci yang diperoleh dari atribut-atribut sensitif yang
mempengaruhi indeks keberlanjutan pengelolaan lahan rawa lebak pada saat ini,
(2) mengidentifikasi faktor kunci dimasa depan yang diperoleh melalui analisis
kebutuhan dari semua pihak yang berkepentingan atau pemangku kepentingan
(stakeholders), dan (3) melakukan kombinasi antar faktor kunci ditahap satu dan
tahap dua. Dari kombinasi ini akan diperoleh faktor kunci gabungan kondisi saat
ini (existing condition). Dengan demikian faktor kunci yang diperoleh adalah
faktor kunci yang merupakan representasi dari kebutuhan bersama.
6.2.1 Atribut sensitif yang mempengaruhi sistem pengelolaan rawa lebak
1. Desa Sungai Ambangah
Berdasarkan hasil analisis leverage terhadap lima dimensi yang
mempengaruhi pengelolaan lahan rawa lebak di Desa Sungai Ambangah,
diperoleh 16 atribut sensitif yang mempengaruhi indeks keberlanjutan dan
menjadi faktor penting/faktor pengungkit sebagaimana disajikan pada Tabel 44.
Dari 16 faktor penting tersebut, dilakukan penyeleksian kembali untuk
memperoleh faktor-faktor penting yang selanjutnya faktor penting tersebut, akan
dijadikan sebagai dasar dalam penyusunan skenario. Untuk memperoleh faktor-
faktor penting tersebut dilakukan analisis prospektif terhadap 16 atribut sensitif di
atas.
Hasil analisis prospektif Gambar 23, menunjukkan bahwa terdapat
sebanyak 12 faktor penting yang terdiri dari (1) ketersediaan modal usahatani, (2)
jumlah alat pemberantasan jasad pengganggu, (3) harga produk usahani, (4)
ketersediaan sarana produksi, (5) keuntungan usahatani, (6) produksi usahtani,
(7) ketersediaan lembaga keuangan mikro, (8) rumahtangga petani yang pernah
mengikuti penyuluhan pertanian, (9) pengendalian gulma, (10) periode
tergenang, (11) jumlah rumah tangga petani, dan (12) pemupukan.

Gambaran Tingkat Kepentingan Faktor-Faktor yang Berpengaruh


pada Sistem yang Dikaji
1.60

Jumlah alat
1.40 pemberantasan jasad
Ketersediaan modal pengganggu
usahatani

Ketersediaan sarana Harga produk usahatani Jumlah rumah tangga


1.20 produksi petani

Keuntungan usahatani Periode tergenang


RT petani yg pernah
1.00 mengikuti penyuluhan
Produksi usahatani pertanian Pengendalian gulma
Pengaruh

Pemupukan Ketersediaan lembaga


keuangan mikro
0.80

Keberadaan lembaga
sosial
0.60 Pola hubungan
masyarakat dlm Produktivitas lahan
usahatani

0.40

0.20

-
- 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20 1.40 1.60

Ketergantungan

Gambar 23 Pengaruh dan ketergantungan antar atribut sensitif berdasarkan hasil


analisis leverage di Desa Sungai Ambangah
2. Desa Pasak Piang
Berdasarkan hasil analisis leverage terhadap lima dimensi yang
mempengaruhi pengelolaan lahan rawa lebak di Desa Pasak Piang, diperoleh 19
atribut sensitif yang mempengaruhi indeks keberlanjutan dan menjadi faktor
penting/faktor pengungkit sebagaimana disajikan pada Tabel 44. Dari 19 faktor
penting tersebut, dilakukan penyeleksian kembali untuk memperoleh faktor-faktor
penting yang selanjutnya faktor penting tersebut, akan dijadikan sebagai dasar
dalam penyusunan skenario. Untuk memperoleh faktor-faktor penting tersebut
dilakukan analisis prospektif terhadap 19 atribut sensitif tersebut.
Hasil analisis prospektif Gambar 24, menunjukkan bahwa terdapat
sebanyak 12 faktor penting yang terdiri dari (1) peran adat dalam kegiatan
pertanian, (2) harga produk usatahi, (3) rumah tangga petani yang pernah
mengikuti penyuluhan pertanian, (4) pola hubungan masyarakat dalam
usahatani, (5) ketersediaan sarana produksi, (6) kandungan bahan organik
tanah, (7) produktivitas lahan, (8) keuntungan usahatani, (9) efesiensi ekonomi,
(10) periode tergenang, (11) tingkat pendidikan formal petani, dan (12)
ketersediaan lembaga keuangan mikro.

Gambaran Tingkat Kepentingan Faktor-Faktor yang Berpengaruh


pada Sistem yang Dikaji

1.80

1.60 Keuntungan usahatani

1.40 Kandungan bahan


organik tanah

1.20 Peran adat dalamHarga produk usahatani


Ketersediaan lembaga
kegiatan pertanian Tingkat pendidikan
keuangan mikro
RT petani yg pernah formal
Pengaruh

Pola hub. Masyarakat mengikuti penyuluhan Periode tergenang


1.00 Ketersediaan sarana
dlm usahatani pertanian
Produktivitas lahan produksi
Efesiensi ekonomi
0.80
Jumlah rumah tangga
petani Jumlah alat
0.60 pemberantasan jasad
pengganggu
Intensitas konflik

0.40

0.20

-
- 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20 1.40 1.60 1.80

Ketergantungan

Gambar 24 Pengaruh dan ketergantungan antar atribut sensitif berdasarkan hasil


analisis leverage di Desa Pasak Piang
6.2.2 Kebutuhan pemangku kepentingan (stakeholders)

Hasil wawancara terhadap semua pemangku kepentingan (stakeholders),


baik di Desa Sungai Ambangah maupun Pasak Piang terhadap pengelolaan
rawa lebak secara berkelanjutan pada masa yang akan datang yang didasarkan
atas jenis tanaman yang telah diusahakan saat ini, maka diperoleh beberapa
kebutuhan yang perlu mendapatkan perhatian. Kebutuhan tersebut,
dikelompokkan berdasarkan jenis tanaman, maka didapatkan masing-masing
untuk tanaman padi, yaitu diperlukan: (1) jenis padi unggul, (2) peningkatan
indeks pertanaman padi, (3) pemupukan rasional, (4) pemeliharaan yang intensif,
(5) peningkatan peran lembaga penyuluhan pertanian, dan (6) teknis budidaya
konservasi rawa lebak; untuk tanaman karet, yaitu diperlukan: (1) peremajaan
tanaman, (2) penggunaan jenis yang unggul, (3) teknologi pengolahan yang
memadai, dan (4) pemelihaaran yang intensif; dan untuk tanaman kelapa sawit,
yaitu diperlukan: (1) keterpaduan kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah,
(2) penegakkan penerapan tataruang sektor pertanian, (3) perbaikan dan
peningkatan sarana dan prasarana (jalan, air, listrik), (4) industri pengolahan, dan
(5) dukungan lembaga riset dan perguruan tinggi. Selanjutnya dari ketiga
kebutuhan pemangku kepentingan untuk masing-masing komoditas, dilakukan
penggabungan dan penyederhanaan terhadap kebutuhan yang relatif sejenis.
Tabel 48, menunjukkan kebutuhan para pemangku kepentingan terhadap tiga
komoditas yang diusahakan oleh masyarakat di Desa Sungai Ambangah dan
Pasak Piang.
Tabel 48 Penggabungan dan penyederhanaan kebutuhan para pemangku
kepentingan
No Kebutuhan pemangku kepentingan
1 Diperlukan adanya keterpaduan kebijakan pusat dan daerah
2 Penegakan penerapan tataruang sektor pertanian
3 Diperlukan adanya dukungan lembaga riset dan PT
4 Diperlukan teknis budidaya konservasi rawa lebak
5 Perbaikan dan peningkatan sarana dan prasarana
6 Penggunaan jenis unggul spesifik lokasi
7 Peningkatan indeks pertanaman dan pola tanam padi
berdasarkan kondisi setempat
8 Pemupukan yang rasional
9 Pemeliharaan yang intensif
10 Diperlukan peningkatan peran lembaga penyuluhan pertanian
11 Teknologi pengolahan yang memadai
12 Industri pengolahan
Sumber: Hasil wawancara dan olahan
Dari hasil penggabungan dan penyederhanaan Tabel 47, menunjukkan
bahwa terdapat sebanyak 12 kebutuhan para pemangku kepentingan terhadap
pengelolaan rawa lebak. Selanjutnya untuk memperolah kebutuhan yang paling
penting (faktor penting) dari 12 kebutuhan stakeholders tersebut, dilakukan
analisis prospektif. Hasil analisis Gambar 25 menunjukkan bahwa kebutuhan-
kebutuhan stakeholders yang perlu diperhatikan dalam rangka untuk perbaikan
pengelolaan rawa lebak baik di Desa Sungai Ambangah maupun Pasak Piang di
masa yang akan datang, terdiri dari (1) pemeliharaan yang intensif, (2)
peningkatan indeks pertanaman dan pola tanam padi, (3) teknis budidaya
konservasi, (4) keterpaduan kebijakan antara pusat dan daerah, (5) penegakkan
penerapan tataruang sektor pertanian, (6) pemupukan rasional, (7) dukungan
lembaga riset dan PT, (8) teknologi pengolahan yang memadai, (9) peningkatan
peran lembaga penyuluhan pertanian, dan (10) penggunaan jenis unggul.

Gambaran Tingkat Kepentingan Faktor-Faktor yang Berpengaruh


pada Sistem yang Dikaji
1.40
Pemeliharaan yang
intensif
Peningkatan IP padi
1.20
Keterpaduan kebijakan Penegakan penerapan
pusat dan daerah tataruang
Indutri pengolahan
Dukungan lembaga Teknologi pengolahan
1.00 riset dan PT
Pemupukan rasional yg memadai
Teknis budidaya Peran lembaga
konservasi RL penyuluhan pertanian
Pengaruh

0.80 Penggunaan jenis


unggul

0.60
Peningkatan sarana
dan prasarana

0.40

0.20

-
- 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20 1.40 1.60
Ketergantungan

Gambar 25 Pengaruh dan ketergantungan antar faktor pengungkit berdasarkan


analisis kebutuhan stakeholders di Desa Sungai Ambangah dan Pasak
Piang

6.2.3 Faktor penting untuk keberlanjutan pengelolaan rawa lebak

Untuk mengembangkan model pengelolaan rawa lebak berkelanjutan


pada masa yang akan datang, maka dilakukan penggambungan antara faktor-
faktor penting/pengungkit yang telah didapatkan dari hasil analisis keberlanjutan
Rap-Lebak yang menggambarkan kondisi saat ini (eksisting) terhadap Desa
Sungai Ambangah dan Pasak Piang, dan hasil analisis kebutuhan pemangku
kepentingan (stakeholders) yang menggambarkan kondisi yang diharapkan pada
masa yang akan datang. Hasil gabungan yang dilakukan antara hasil analisis
keberlanjutan dan analisis pemangku kepentingan diperoleh masing-masing,
yaitu 23 faktor penting/pengungkit untuk Desa Sungai Ambangah, dan 23 faktor
penting/pengungkit untuk Desa Pasak Piang. Hasil selengkapnya disajikan pada
Tabel 49.
Tabel 49 Faktor-faktor penting/pengungkit dari hasil analisis keberlanjutan
dan analisis pemangku kepentingan berdasarkan bobotnya
Faktor-faktor penting/pengungkit
Desa
Analisis keberlanjutan Analisis kebutuhan pemangku kepentingan
Sungai 1 ketersediaan modal usahatani
Ambangah 2 jumlah alat pemberantasan jasad pengganggu
3 harga produk usahani
4 ketersediaan sarana produksi
5 keuntungan usahatani
6 produksi usahtani
7 ketersediaan kembaga keuangan mikro
8 RT petani yg pernah mengikuti penyuluhan pertanian
9 pengendalian gulma
10 periode tergenang
11 jumlah rumah tangga petani
12 pemupukan
Pasak 1 peran adat dalam kegiatan pertanian
Piang 2 harga produk usatahi
3 RT petani yg pernah mengikuti penyuluhan
pertanian
4 pola hubungan masyarakat dalam usahatani
5 ketersediaan sarana produksi
6 kandungan bahan organik tanah
7 produktivitas lahan
8 keuntungan usahatani
9 efesiensi ekonomi
10 periode tergenang
11 tingkat pendidikan formal petani
12 ketersediaan lembaga keuangan mikro
1 keterpaduan kebijakan pusat dan daerah
2 penegakan penerapan tataruang sektor
pertanian
3 dukungan lembaga riset dan PT
4 perbaikan teknis budidaya konservasi
rawa lebak lokal
5 perbaikan dan peningkatan sarana dan
prasarana
6 penggunaan jenis unggul spesifik lokasi
7 peningkatan indeks pertanaman dan pola
tanam padi berdasarkan kondisi
setempat
8 pemupukan yang rasional
9 pemeliharaan yang intensif
10 peningkatan peran lembaga penyuluhan
pertanian
11 industri pengolahan
Selanjutnya, faktor penting/pengungkit Tabel 49 di atas, terlebih dahulu
dilakukan penggabungan antara faktor penting hasil analisis keberlanjutan dan
hasil analisis kebutuhan pemangku kepentingan untuk masing-masing desa.
Selain dilakukan penggabungan, juga dilakukan strukturisasi berdasarkan bobot
masing-masing faktor penting tersebut. Hal itu dilakukan agar diketahui urutan
prioritas dari masing-masing faktor penting/pengungkit tersebut. Hasil
selengkapnya sebagaimana disajikan pada Tabel 50.
Tabel 50 Penyederhanaan/penggabungan faktor-faktor penting berdasarkan
prioritas untuk Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang
Penyederhaan/penggabungan faktor-faktor penting
No
Sungai Ambangah Pasak Piang
1 ketersediaan modal usahatani (3,77) 1 keuntungan usahatani (1,74)
2 jumlah alat pemberantasan jasad pengganggu 2 kandungan bahan organik tanah(1,55)
(3,05) 3 pola hubungan masyarakat dlm usahatani
3 harga produk usahani (1,58) (1,46)
4 pemeliharaan yang intensif (1,43) 4 pemeliharaan yang intensif (1,43)
5 peningkatan IP dan pola tanam padi berdasarkan 5 peningkatan IP dan pola tanam padi
kondisi setempat (1,42) berdasarkan kondisi setempat (1,42)
6 perbaikan teknis budidaya konservasi RL lokal 6 peran adat dalam kegiatan pertanian (1,32)
(1,31) 7 perbaikan teknis budidaya konservasi rawa
7 keterpaduan kebijakan pusat - daerah (1,25) lebak (1,31)
8 penegakan penerapan tataruang sektor pertanian 8 keterpaduan kebijakan pusat dan daerah
(1,21) (1,25)
9 jumlah rumah tangga petani (0,96) 9 penegakan penerapan tataruang sektor
10 dukungan lembaga riset dan PT (0,95) pertanian (1,21)
11 industri pengolahan (0,94) 10 harga produk usatahi (1,20)
12 pemupukan yang rasional (0,91) 11 rumah tangga petani yang pernah mengikuti
13 peningkatan peran lembaga penyuluhan pertanian penyuluhan pertanian (1,02)
(0,73) 12 dukungan lembaga riset dan PT (0,95)
14 periode tergenang (0,72) 13 industri pengolahan (0,94)
15 pengendalian gulma (0,66) 14 ketersediaan lembaga keuangan mikro (0,93)
16 penggunaan jenis unggul spesifik lokasi (0,61) 15 produktivitas lahan (0,92)
17 perbaikan dan peningkatan sarana dan prasarana 16 pemupukan yang rasional (0,91)
(0,39) 17 tingkat pendidikan formal petani (0,90)
18 rumah tangga petani yang pernah mengikuti 18 periode tergenang (0,82)
penyuluhan pertanian (0,38) 19 perbaikan dan peningkatan sarana dan
19 ketersediaan kembaga keuangan mikro (0,22) prasarana (0,77)
20 keuntungan usahatani (0,21) 20 efesiensi ekonomi (0,75)
21 produksi usahtani (0,19) 21 peningkatan peran lembaga penyuluhan
pertanian (0,73)
22 penggunaan jenis unggul spesifik lokasi (0,61)

Hasil penyederhaan/penggabungan di atas, diperoleh 21 faktor penting


untuk Desa Sungai Ambangah dan 22 faktor penting untuk Desa Pasak Piang
(Tabel 50). Selanjutnya dari faktor-faktor penting dimasing-masing desa tersebut,
dilakukan analisis prospektif untuk mendapatkan faktor-faktor penting yang
selanjutnya akan dijadikan sebagai faktor penyusun skenario untuk mendisain
model pengelolaan rawa lebak berkelanjutan pada masa akan datang.
Gambaran Tingkat Kepentingan Faktor-Faktor yang Berpengaruh
pada Sistem yang Dikaji
1.60

1.40 Pengendalian gulma


Harga produk usahatani
Keuntungan usahatani Pemupukan yang
rasional
1.20 Ketersediaan modal
Rumah tangga petani usahatani
Peningkatan indeks
yg pernah mengikuti pertanaman padiLembaga penyuluh
penyuluhan pertanian pertanian
1.00
Dukungan lembaga Produksi usahatani
Pengaruh

riset dan PT Ketersediaan lembaga


keuangan mikro
0.80
Jumlah rumah tangga Periode tergenang
petani
Alat pemberantasan
0.60
jasad pengganggu

Industri pengolahan
0.40

0.20 Pemeliharaan yang Penerapan tataruang


intensif sektor pertanian
Perbaikan sarana dan
prasarana Teknis budidaya Penggunaan jenis Keterpaduan kebijakan
konservasi RL unggul spesifik
-
- 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00

Ketergantungan

Gambar 26 Pengaruh dan ketergantungan antar faktor pengungkit hasil analisis


leverage dan pemangku kepentingan di Desa Sungai Ambangah

Hasil analisis prospektif berupa matriks pengelompokkan empat kuadran


untuk Desa Sungai Ambangah Gambar 26, dapat diidentifikasi pengaruh dan
ketergantungan faktor-faktor dalam upaya pengelolaan rawa lebak berkelanjutan.
Kuadran I (kiri atas) merupakan kelompok faktor yang memberikan pengaruh
kuat terhadap kinerja sistem dengan ketergantungan yang rendah terhadap
keterkaitan antar faktor. Pada kuadran ini terdiri dari sebelas faktor; yaitu (1)
keuntungan usahatani, (2) rumahtangga yang mengikuti penyuluhan pertanian,
(3) ketersediaan modal usahatani, (4) peningkatan indeks pertanaman padi, (5)
pengendalian gulma, (6) pemupukan yang rasional, (7) harga produk usahatani,
(8) dukungan lembaga riset dan PT, (9) ketersediaan lembaga keuangan mikro,
(10) lembaga penyuluh pertanian, dan (11) produksi usahatani. Kesebelas faktor
pada kuadran I merupakan variabel penentu yang digunakan sebagai input di
dalam sistem yang dikaji. Kuadran II (kanan atas) merupakan kelompok faktor
yang memberikan pengaruh kuat terhadap kinerja sistem namun mempunyai
ketergantungan yang tinggi terhadap keterkaitan antar faktor, sehingga
digunakan sebagai variabel penghubung (stake) di dalam sistem. Hasil analisis
menunjukkan, faktor dengan pengaruh kuat dan dengan ketergantungan yang
tinggi tidak ditemui. Kuadran III (kanan bawah) merupakan kelompok faktor yang
memiliki pengaruh lemah terhadap kinerja sistem dan ketergantungan yang tinggi
terhadap keterkaitan antar faktor, sehingga digunakan sebagai variabel terkait
(output) di dalam sistem. Kuadran ini hanya terdapat satu faktor, yaitu faktor
keterpaduan kebijakan. Kuadran IV (kiri bawah) merupakan kelompok faktor
yang memiliki pengaruh lemah terhadap kinerja sistem dan ketergantungan juga
rendah terhadap keterkaitan antar faktor. Kuadran ini terdiri dari sembilan faktor,
yaitu (1) jumlah rumahtangga petani, (2) periode tergenang, (3) alat
pemberantasan jasad pengganggu, (4) industri pengolahan, (5) perbaikan sarana
dan prasana, (6) teknis budidaya konservasi rawa lebak, (7) pemeliharaan yang
intensif, (8) penggunaan jenis unggul, dan (9) penerapan tataruang sektor
pertanian.
Berdasarkan hasil penilaian pengaruh langsung antar faktor Gambar 26 di
atas, dari 21 faktor kunci yang teridentifikasi didapatkan sebelas faktor yang
mempunyai pengaruh kuat terhadap kinerja sistem dengan ketergantungan faktor
yang rendah. Kesebelas faktor tersebut perlu dikelola dengan baik dan dibuat
kondisi (state) yang mungkin terjadi di masa depan untuk pengelolaan rawa
lebak berkelanjutan di Desa Sungai Ambangah.
Gambaran Tingkat Kepentingan Faktor-Faktor yang Berpengaruh
pada Sistem yang Dikaji
1.60

Dukungan lembaga
riset dan PT
1.40
Periode tergenang
Harga produk
Pola hubungan usahatani
masyarakat dalam Lembaga penyuluh
1.20 pertanian
usaha pertanian
Produktivitas lahan Efesiensi ekonomi
Peran adat dalam Keuntungan usahatani
1.00 kegiatan pertanian Ketersediaan lembaga
Pengaruh

Rumah tangga petani keuangan mikro


yg pernah mengikuti Perbaikan sarana dan
penyuluhan pertanian prasarana
0.80

Pemeilharaan yang
intensif
0.60 Tingkat pendidikan Peningkatan indeks
formal petani pertanaman padi

0.40

0.20 Kandungan bahan


Penerapan tataruang
organik tanah
sektor pertanian
Teknis budidaya Pemupukan yang Pengunaan
Industri pengolahan jenis
konservasi RL rasional unggul Keterpaduan kebijakan
-
- 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20 1.40 1.60 1.80 2.00
Ketergantungan

Gambar 27 Pengaruh dan ketergantungan antar faktor pengungkit hasil analisis


leverage dan pemangku kepentingan di Desa Pasak Piang

Hasil analisis prospektif berupa matriks pengelompokkan empat kuadran


untuk Desa Pasak Piang Gambar 27, juga dapat diidentifikasi pengaruh dan
ketergantungan faktor-faktor dalam upaya pengelolaan rawa lebak berkelanjutan.
Kuadran I (kiri atas) merupakan kelompok faktor yang memberikan pengaruh
kuat terhadap kinerja sistem dengan ketergantungan yang rendah terhadap
keterkaitan antar faktor. Pada kuadran ini terdiri atas tujuh faktor; yaitu (1)
dukungan lembaga riset dan PT, (2) peran adat dalam kegiatan pertanian, (3)
pola hubungan masyarakat dalam usaha pertanian, (4) perode tergenang, (5)
harga produk usahatani, (6) produktivitas lahan, dan (7) keuntungan usahatani.
Ketujuh faktor pada kuadran I, merupakan variabel penentu yang digunakan
sebagai input di dalam sistem yang dikaji. Kuadran II (kanan atas) merupakan
kelompok faktor yang memberikan pengaruh kuat terhadap kinerja sistem namun
mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap keterkaitan antar faktor,
sehingga digunakan sebagai variabel penghubung (stake) di dalam sistem. Pada
kuadran ini terdiri atas lima faktor, yaitu (1) lembaga penyuluh pertanian, (2)
efesiensi ekonomi, (3) ketersediaan lembaga keuangan mikro, (4) perbaikan
sarana dan prasarana, dan (5) rumahtangga petani yang pernah mengikuti
penyuluhan pertanian. Kuadran III (kanan bawah) merupakan kelompok faktor
yang memiliki pengaruh lemah terhadap kinerja sistem dan ketergantungan yang
tinggi terhadap keterkaitan antar faktor, sehingga digunakan sebagai variabel
terkait (output) di dalam sistem. Kuadran ini terdapat empat faktor, yaitu (1)
pemeliharaan yang intensif, (2) penggunaan jenis unggul, (3) penerapan
tataruang sektor pertanian, dan (4) keterpaduan kebijakan. Kuadran IV (kiri
bawah) merupakan kelompok faktor yang memiliki pengaruh lemah terhadap
kinerja sistem dan ketergantungan juga rendah terhadap keterkaitan antar faktor.
Kuadran ini terdiri atas enam faktor, yaitu (1) tingkat pendidikan formal petani, (2)
peningkatan indeks pertanaman, (3) industri pengolahan, (4) teknis budidaya
konservasi, (5) pemupukan yang rasional, dan (6) kandungan bahan organik
tanah.
Berdasarkan hasil penilaian pengaruh langsung antar faktor Gambar 27 di
atas, dari 22 faktor kunci yang teridentifikasi didapatkan tujuh faktor yang
mempunyai pengaruh kuat terhadap kinerja sistem dengan ketergantungan faktor
yang rendah. Dan lima faktor yang mempunyai pengaruh yang kuat terhadap
kinerja sistem dengan ketergantungan ketergantungan yang tinggi terhadap
keterkaitan antar factor. Keduabelas faktor tersebut perlu dikelola dengan baik
dan dibuat kondisi (state) yang mungkin terjadi di masa depan untuk pengelolaan
rawa lebak berkelanjutan di Desa Pasak Piang.

6.3 Skenario Model Pengelolaan Lahan Rawa Lebak Berkelanjutan

Pengembangan model pengelolaan lahan rawa lebak berkelanjutan


dilakukan dengan analisis keberlanjutan terhadap kondisi saat ini (eksisting) dan
analisis kebutuhan pemangku kepentingan (stakeholders). Analisis keberlanjutan
dengan MDS diperoleh nilai indeks dan status keberlanjutan masing-masing
dimensi. Dimensi yang digunakan untuk menilai keberlanjutan pengelolaan rawa
lebak sebanyak lima dimensi keberlanjutan, yaitu dimensi ekologi, ekonomi,
sosial budaya, teknologi dan kelembagaan. Dari kelima dimensi tersebut
mencakup 37 atribut. Hasil analisis leverage, terhadap kelima dimensi
keberlanjutan, diperoleh atribut-atribut sensitif yang berpengaruh dalam
pengelolaan rawa lebak. Terhadap atribut-atribut sensitif tersebut, kemudian
dilanjutkan dengan analisis prospektif untuk menentukan faktor-faktor
penting/pengungkit yang diperkirakan akan memberikan pengaruh yang besar
terhadap sistem yang akan dibangun dalam upaya untuk mendisain model
pengelolaan rawa lebak secara berkelanjutan.
Analisis kebutuhan pemangku kepentingan dilakukan untuk mengetahui
preferensi kebutuhan stakeholders pada masa yang akan datang. Faktor-faktor
yang menjadi kebutuhan pemangku kepentingan tersebut, kemudian dianalisis
dengan analisis prospektif untuk memperoleh faktor-faktor penting/pengungkit
terhadap pengelolaan rawa lebak berkelanjutan pada masa yang akan datang.
Selanjutnya faktor-faktor penting/pengungkit dari hasil analisis
keberlanjutan dan analisis pemangku kepentingan digabungkan dan untuk
selanjutnya dilakukan analisis prospektif, untuk memperoleh faktor-faktor
penting/pengungkit yang akan dijadikan sebagai dasar untuk menyusun skenario
pengembangan model pengelolaan rawa lebak. Skenario yang akan dibangun,
menggunakan tiga skenario yaitu skenario I, skenario II, dan skenario III,
ketiganya merupakan gambaran kondisi masa depan. Pada setiap skenario-
skenario tersebut, akan dilakukan beberapa perbaikan terhadap faktor-faktor
penting/pengungkit yang diperoleh sebelumnya. Selanjutnya, skenario-skenario
yang telah ditetapkan kemudian disimulasikan melalui analisis MDS, untuk dinilai
kembali indeks dan status keberlanjutannya. Tabel 51 menggambarkan
perubahan kondisi (state) pada masing-masing skenario yang akan disusun.
Tabel 51 Uraian masing-masing skenario untuk pengembangan model
pengelolaan rawa lebak di Desa Sungai Ambangah dan Pasak
Piang
Skenario Uraian
I Tetap pada kondisi saat ini dan dilakukan sedikit perbaikan
melalui peningkatan skoring pada beberapa faktor penting
khususnya pada dimensi yan tidak berkelanjutan
II Melakukan perbaikan melalui peningkatan skoring terhadap
beberapa faktor penting pada semua dimensi, tetapi tidak
maksimal
III Melakukan perbaikan melalui peningkatan skoring terhadap
beberapa faktor penting pada semua dimensi, secara maksimal

Perbaikan terhadap faktor-faktor penting melalui ketiga skenario, dilakukan


dengan cara meningkatkan nilai skor terhadap atribut sensitif atau faktor penting
baik di Desa Sungai Ambangah maupun Pasak Piang.
Pada skenario I, dengan melakukan peningkatan nilai skor terhadap
beberapa atribut sensitif yang mempengaruhi keberlanjutan dari masing-masing
dimensi yaitu ekologi, ekonomi, sosial budaya, teknologi dan kelembagaan.
Perubahan skoring dimaksud selengkapnya pada Tabel 52.
Tabel 52 Atribut sensitif masing-masing dimensi yang dinaikkan pada
skenario I untuk Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang
Skoring
Saat ini (eksisting) Skenario I
No Atribut sensitif/Faktor penting
Sui Pasak Sui Pasak
Ambangah Piang Ambangah Piang
Dimensi ekologi
1. Periode tergenang 2 2
2. Produktivitas lahan 0 1
1. Kandungan BO tanah 2 2
2. Produktivitas lahan 0 1
3. Periode tergenang 2 2
4. Penggunaan pupuk 0 1
Dimensi ekonomi
1. Harga produk usahatani 2 2
2. Ketersediaan sarana produksi 0 1
3. Keuntungan usahatani 0 0
4. Produksi usahatani 0 0
5. Ketersediaan modal usahatani 1 1
1. Harga produk UT 2 2
2. Ketersediaan sarana produksi 0 1
3. Keuntungan UT 0 0
4. Efesiensi ekonomi 2 2
Dimensi sosial budaya
1. Pola hub. Masyarakat dlm pertanian 1 1
2. RT petani yg pernah mengikuti 0 1
penyuluhan pertanian
3. Jumlah RT petani 0 0
1. Peran adat dlm kegiatan pertanian 2 2
2. RT petani yg pernah mengikuti 0 1
penyuluhan pertanian
3. Pola hub. Masyarakat dlm pertanian 1 1
4. Jumlah RT petani 0 0
5 Tingkat pendidikan formal petani 1 1
6. Intensitas konflik 0 0
Dimensi teknologi
1. Jumlah alat pemberantasan jasad 1 1
2. pengganggu 1 1
Pengendalian gulma
3. Pemupukan 1 2
1. Jumlah alat pemberantasan jasad 1 1
pengganggu
2. Ketersediaan mesin pompa air 0 1
3. Ketersediaan mensin pasca panen 0 0
Dimensi kelembagaan
1. Ketersediaan lembaga keuangan 0 1
mikro
2. Keberadaan petugas penyuluh 0 1
lapangan
3. Keberadaan lembaga sosial 2 2
1. Ketersediaan lembaga keuangan 0 1
mikro
2. Keberadaan lembaga sosial 2 2
Sumber: Hasil Olahan

Hasil perubahan nilai skor pada beberapa dimensi keberlanjutan di


skenario I Tabel 52, selanjutnya dianalisis kembali dengan menggunakan Rap-
Lebak, untuk mengetahui peningkatan indeks keberlanjutan yang telah disusun.
Pada skenario I, untuk Desa Sungai Ambangah atribut yang dinaikkan nilai
skornya terdiri atas: produktivitas lahan, ketersediaan sarana produksi, rumah
tangga petani yang pernah mengikuti penyuluhan pertanian, pemupukan,
ketersediaan lembaga keuangan mikro, dan ketersediaan petugas penyuluh
pertanian. Sedangkan untuk Desa Pasak Piang, atribut yang dinaikkan nilai
skornya terdiri atas: produktivitas lahan, penggunaan pupuk, ketersediaan sarana
produksi, rumah tangga petani yang pernah mengikuti penyuluhan pertanian,
ketersediaan mesin pompa air, dan ketersediaan lembaga keuangan mikro.
Hasil analisis menggunakan Rap-Lebak Tabel 53, menunjukkan bahwa
terjadi peningkatan nilai indeks keberlanjutan dari masing-masing dimensi, baik
untuk Desa Sungai Ambangah maupun Pasak Piang. Selengkapnya dapat dilihat
pada Tabel 53.
Tabel 53 Nilai indeks keberlanjutan pengelolaan rawa lebak untuk Desa
Sungai Ambangah dan Pasak Piang pada skenario I
Nilai indeks (%)
Eksisting Skenario I Selisih
No Dimensi
Sui Pasak Sui Pasak Sui Pasak
Ambangah Piang Ambangah Piang Ambangah Piang
1 Ekologi 39,55 45,36 45,29 54,00 5,74 8,64
2 Ekonomi 35,04 24,20 54,43 44,54 19,39 20,34
3 Sosial Budaya 43,89 48,30 48,39 55,82 4,50 7,52
4 Teknologi 37,53 28,92 42,30 40,33 4,77 11,41
5 Kelembagaan 54,82 52,19 56,74 56,78 1,59 5,37
6 Gabungan 45,40 44,92 47,59 50,01 2,19 5,09
Sumber: Hasil olahan

Pada skenario II, dengan melakukan peningkatan nilai skor terhadap


beberapa atribut sensitif yang mempengaruhi keberlanjutan masing-masing
dimensi yaitu ekologi, ekonomi, sosial budaya, teknologi dan kelembagaan baik
di Desa Sungai Ambangah maupun Pasak Piang. Untuk Desa Sungai
Ambangah atribut yang dinaikkan skornya terdiri atas: produktivitas lahan,
ketersediaan sarana produksi, rumah tangga petani yang pernah mengikuti
penyuluhan pertanian, jumlah alat pemberantasan jasad pengganggu,
pengendalian gulma, dan keberadaan petugas penyuluh pertanian. Sedangkan
untuk Desa Pasak Piang, atribut yang dinaikkan nilai skornya terdiri atas:
produktivitas lahan, penggunaan pupuk, ketersediaan sarana produksi, jumlah
alat pemberantasan jasad pengganggu, ketersediaan mesin pasca panen, dan
ketersediaan lembaga keuangan mikro. Perubahan skoring dimaksud
selengkapnya pada Tabel 54.
Tabel 54 Atribut sensitif masing-masing dimensi yang dinaikkan pada
skenario II untuk Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang
Skoring
Saat ini (eksisting) Skenario II
No Atribut sensitif/Faktor kunci
Sui Pasak Sui Pasak
Ambangah Piang Ambangah Piang
Dimensi ekologi
1. Periode tergenang 2 2
2. Produktivitas lahan 0 2
1. Kandungan BO tanah 2 2
2. Produktivitas lahan 0 2
3. Periode tergenang 2 2
4. Penggunaan pupuk 0 2
Dimensi ekonomi
1. Harga produk usahatani 2 2
2. Ketersediaan sarana produksi 0 2
3. Keuntungan usahatani 0 0
4. Produksi usahatani 0 0
5. Ketersediaan modal usahatani 1 1
1. Harga produk UT 2 2
2. Ketersediaan sarana produksi 0 2
3. Keuntungan UT 0 0
4. Efesiensi ekonomi 2 2
Dimensi sosial budaya
1. Pola hub. Masyarakat dlm pertanian 1 1
2. RT petani yg pernah mengikuti 0 2
penyuluhan pertanian
3. Jumlah RT petani 0 1
1. Peran adat dlm kegiatan pertanian 2 2
2. RT petani yg pernah mengikuti 0 2
penyuluhan pertanian
3. Pola hub. Masyarakat dlm pertanian 1 1
4. Jumlah RT petani 0 0
5. Tingkat pendidikan formal petani 1 1
6. Intensitas konflik 0 0
Dimensi teknologi
1. Jumlah alat pemberantasan jasad 1 2
pengganggu
2. Pengendalian gulma 1 2
3. Pemupukan 1 2
1. Jumlah alat pemberantasan jasad 1 2
pengganggu
2. Ketersediaan mesin pompa air 0 1
3. Ketersediaan mensin pasca panen 0 1
Dimensi kelembagaan
1. Ketersediaan lembaga keuangan 0 1
mikro
2. Keberadaan petugas penyuluh 0 2
lapangan
3. Keberadaan lembaga sosial 2 2
1. Ketersediaan lembaga keuangan 0 2
mikro
2. Keberadaan lembaga sosial 2 2
Sumber: Hasil Olahan

Hasil analisis menggunakan Rap-Lebak pada skenario II, menunjukkan


bahwa terjadi peningkatan nilai indeks keberlanjutan dari masing-masing
dimensi, baik untuk Desa Sungai Ambangah maupun Pasak Piang.
Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 55.
Tabel 55 Nilai indeks keberlanjutan pengelolaan rawa lebak untuk Desa Sungai
Ambangah dan Pasak Piang pada skenario II
Nilai indeks (%)
Eksisting Skenario II Selisih
No Dimensi
Sui Pasak Sui Pasak Sui Pasak
Ambangah Piang Ambangah Piang Ambangah Piang
1 Ekologi 39,55 45,36 50,89 68,46 11,34 23,10
2 Ekonomi 35,04 24,20 74,93 60,26 39,89 36,06
3 Sosial Budaya 43,89 48,30 56,38 66,40 12,49 18,10
4 Teknologi 37,53 28,92 60,28 51,98 22,75 23,06
5 Kelembagaan 54,82 52,19 63,35 64,31 8,20 12,90
6 Gabungan 45,40 44,92 56,69 56,16 11,29 11,24
Sumber: Hasil olahan

Sedangkan pada skenario III, dengan melakukan peningkatan nilai skor


terhadap beberapa atribut sensitif yang mempengaruhi keberlanjutan dari
masing-masing dimensi yaitu ekologi, ekonomi, sosial budaya, teknologi dan
kelembagaan baik di Desa Sungai Ambangah maupun Pasak Piang. Untuk Desa
Sungai Ambangah atribut yang dinaikkan skornya pada skenario ini terdiri atas:
produktivitas lahan, pola hubungan masyarakat dalam kegiatan pertanian, jumlah
alat pemberantasan jasad pengganggu, ketersediaan lembaga keuangan mikro,
dan keberadaan petugas penyuluh pertanian. Sedangkan untuk Desa Pasak
Piang, atribut yang dinaikkan nilai skornya pada skenario ini terdiri atas:
penggunaan pupuk, ketersediaan sarana produksi, rumah tangga petani yang
pernah mengikuti penyuluhan pertanian, jumlah alat pemberantasan jasad
pengganggu, ketersediaan mesin pasca panen, ketersediaan lembaga keuangan
mikro, dan keberadaan lembaga sosial. Perubahan skoring dimaksud
selengkapnya pada Tabel 56.
Tabel 56 Atribut sensitif masing-masing dimensi yang dinaikkan pada
skenario III untuk Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang
Skoring
Saat ini (eksisting) Skenario IIII
No Atribut sensitif/Faktor kunci
Sui Pasak Sui Pasak
Ambangah Piang Ambangah Piang
Dimensi ekologi
1. Periode tergenang 2 2
2. Produktivitas lahan 0 3
1. Kandungan BO tanah 2 2
2. Produktivitas lahan 0 2
3. Periode tergenang 2 2
4. Penggunaan pupuk 0 3
Dimensi ekonomi
1. Harga produk usahatani 2 2
2. Ketersediaan sarana produksi 0 2
3. Keuntungan usahatani 0 0
4. Produksi usahatani 0 0
5. Ketersediaan modal usahatani 1 1
1. Harga produk UT 2 2
2. Ketersediaan sarana produksi 0 3
3. Keuntungan UT 0 0
4. Efesiensi ekonomi 2 2
Dimensi sosial budaya
1. Pola hub. Masyarakat dlm pertanian 1 2
2. RT petani yg pernah mengikuti
penyuluhan pertanian 0 2
3. Jumlah RT petani 0 1
1. Peran adat dlm kegiatan pertanian 2 2
2. RT petani yg pernah mengikuti 0 3
penyuluhan pertanian
3. Pola hub. Masyarakat dlm pertanian 1 1
4. Jumlah RT petani 0 0
5. Tingkat pendidikan formal petani 1 1
6. Intensitas konflik 0 1
Dimensi teknologi
1. Jumlah alat pemberantasan jasad 1 3
pengganggu
2. Pengendalian gulma 1 2
3. Pemupukan 1 2
1. Jumlah alat pemberantasan jasad 1 3
pengganggu
2. Ketersediaan mesin pompa air 0 1
3. Ketersediaan mensin pasca panen 0 2
Dimensi kelembagaan
1. Ketersediaan lembaga keuangan mikro 0 2
2. Keberadaan petugas penyuluh 0 3
lapangan
3. Keberadaan lembaga sosial 2 2
1. Ketersediaan lembaga keuangan mikro 0 3
2. Keberadaan lembaga sosial 2 3
Sumber: Hasil Olahan

Hasil analisis menggunakan Rap-Lebak pada skenario III, menunjukkan


bahwa juga terjadi peningkatan nilai indeks keberlanjutan dari masing-masing
dimensi, baik untuk Desa Sungai Ambangah maupun Pasak Piang.
Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 57.
Tabel 57 Nilai indeks keberlanjutan pengelolaan rawa lebak untuk Desa Sungai
Ambangah dan Pasak Piang pada skenario III
Nilai indeks (%)
Eksisting Skenario III Selisih
No Dimensi
Sui Pasak Sui Pasak Sui Pasak
Ambangah Piang Ambangah Piang Ambangah Piang
1 Ekologi 39,55 45,36 59,71 79,89 20,71 34,53
2 Ekonomi 35,04 24,20 92,91 67,11 57,87 42,91
3 Sosial Budaya 43,89 48,30 90,55 80,18 46,66 31,88
4 Teknologi 37,53 28,92 76,68 72,58 39,15 43,66
5 Kelembagaan 54,82 52,19 85,70 76,23 30,55 24,82
6 Gabungan 45,40 44,92 62,70 62,92 17,30 18,00
Sumber: Hasil olahan

6.4 Nilai Indeks Keberlanjutan masing-masing Skenario dan Gabungan


antara MDS dan Kebutuhan Stakeholders dari lima Dimensi dan Nilai
BC ratio, Persentase KHL, dan Lm antara Kondisi Eksisting dengan
masing-masing Skenario

Sebelum dilakukan penyusunan rekomendasi model pengelolaan lahan


rawa lebak berkelanjutan melalui tiga skenario, Tabel 58 di bawah ini merangkum
hasil analisis berupa: nilai indeks keberlanjutan masing-masing skenario dan nilai
indeks keberlanjutan gabungan antara MDS dan kebutuhan stakeholders. Hasil
selengkapnya sebagaimana disajikan pada Tabel 58.

Tabel 58 Nilai indeks keberlanjutan masing-masing dimensi, nilai indeks


keberlanjutan gabungan antara MDS dan kebutuhan stakeholders
antara kondisi eksisting dengan masing-masing skenario di Desa
Sungai Ambangah dan Pasak Piang
Desa / Nilai indeks keberlanjutan (%)
Dimensi Eksisting Skenario I Skenario II Skenario III
Sungai Ambangah
Ekologi 39,55 45,29 50,89 59,71
Ekonomi 35,04 54,43 74,93 92,91
Sosial budaya 43,89 48,39 56,38 90,55
Teknologi 37,53 42,30 60,28 76,68
Kelembagaan 54,82 56,74 63,35 85,70
Gabungan 45,40 47,59 56,69 62,70
Pasak Piang
Ekologi 45,36 54,00 68,46 79,89
Ekonomi 24,20 44,54 60,26 67,11
Sosial budaya 48,30 55,82 66,40 80,18
Teknologi 28,92 40,33 51,98 72,58
Kelembagaan 52,19 56,78 64,31 76,23
Gabungan 44,92 50,01 56,16 62,92
Sumber: Hasil olahan

Hasil analisis keberlanjutan antara masing-masing skenario dan kondisi


saat ini (eksisting) yang dirangkum dalam bentuk diagram layang-layang (kite
diagram) sebagaimana disajikan pada Gambar 28 dan 29. Untuk Desa Sungai
Ambangah Gambar 28 memperlihatkan bahwa dari kelima dimensi keberlanjutan
yang dianalisis, diperoleh hasil pada skenario I, yaitu terdapat dua dimensi yang
dikategorikan cukup berkelanjutan yaitu dimensi ekonomi dan kelembagaan
yang mempunyai nilai indeks keberlanjutan masing-masing sebesar 54,43% dan
56,74%. Untuk skenario II, dari kelima dimensi yang dianalisis diperoleh nilai
indeks keberlanjutan berkisar antara 50,89 – 74,93% atau pada kategori cukup
berkelanjutan untuk semua dimensi. Sedangkan pada skenario III, diperoleh nilai
indeks keberlanjutan sebesar 59,71% untuk dimensi ekologi atau pada kategori
cukup berkelanjutan, dan empat dimensi lainnya diperoleh nilai indeks
keberlanjutan berkisar antara 76,68 – 92,91% atau pada kategori berkelanjutan.
Untuk Desa Pasak Piang Gambar 29 memperlihatkan bahwa kelima
dimensi keberlanjutan yang dianalisis, diperoleh hasil pada skenario I, yaitu
terdapat tiga dimensi yang dikategorikan cukup berkelanjutan yaitu dimensi
ekologi, sosial budaya dan kelembagaan yang mempunyai nilai indeks
keberlanjutan masing-masing sebesar 54,00%, 55,82%, dan 56,78%. Untuk
skenario II, diperoleh nilai indeks keberlanjutan berkisar antara 51.98 – 68,46%
atau pada kategori cukup berkelanjutan untuk semua dimensi. Dan pada
skenario III, diperoleh nilai indeks keberlanjutan sebesar 67,11% untuk dimensi
ekonomi dan 72,58% untuk dimensi teknologi atau keduanya pada kategori
cukup berkelanjutan, dan tiga dimensi lainnya diperoleh nilai indeks
keberlanjutan berkisar antara 76,23 – 80,18% atau pada kategori berkelanjutan.
Tabel 59 di bawah ini merangkum hasil analisis berupa: nilai BC ratio,
persentase KHL dan Lm antara kondisi eksisting dengan masing-masing
skenario di Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang untuk masing-masing
skenario.
Tabel 59 Nilai BC ratio, persentase KHL (%) dan Lm (ha/KK) antara kondisi
eksisting dengan masing-masing skenario di Desa Sungai
Ambangah dan Pasak Piang
Desa Eksisting Skenario I Skenario II Skenario III
Sungai Ambangah
B/C ratio 2,02 2,04 2,16 2,29
Padi 3,3 3,37 3,67 3,87
Karet 1,23 1,25 1,35 1,41
Sawit 1,52 1,53 1,55 1,57
KHL (%) 29,92 30,98 32,02 37,39
Lm (ha/KK) 3,15 2,99 2,35 1,91
Padi 11,48 11,23 10,2 9,49
Karet 5,49 5,35 4,8 4,42
Sawit 2,21 2,13 1,79 1,56
Pasak Piang
B/C ratio 10,22 11,20 13,29 13,49
Padi 4,8 5,3 5,89 6,51
Karet 24,35 26,75 29,44 32,35
Sawit 1,52 1,55 1,59 1,63
KHL (%) 35,7 39,5 43,78 48,39
Lm (ha/KK) 2,54 1,84 1,06 0,22
Padi 12,63 11,28 9,77 8,14
Karet 3,76 3,41 3,02 2,6
Sawit 2,21 1,81 1,32 1,10
1) 2) 3)
Sumber: Hasil olahan, Benefit Cost ratio, Kebutuhan Hidup Layak, Luas
Lahan Minimal

Hasil tiga skenario yang telah disusun Tabel 59 diperoleh nilai B/C ratio
gabungan tiga tanaman yang diusahakan dan kemudian dibandingkan antara
kondisi eksisting dengan skenario I, II dan III, memperlihatkan peningkatan nilai
B/C ratio masing-masing sebesar 0,02, 0,14 dan 0,27 untuk Desa Sungai
Ambangah dan 0,98, 3,07 dan 3,27 di Pasak Piang.
Persentase nilai kebutuhan hidup layak (KHL) antara kondisi eksisting
dan skenario I, II dan III, juga terjadi peningkatan masing-masing sebesar 1.06%,
2,10% dan 7,47% untuk Desa Sungai Ambangah dan 3,80%, 8,08% dan 12,69%
di Pasak Piang.
Untuk nilai luas lahan minimal (Lm), gabungan tiga tanaman yang
diusahakan dan juga dibandingkan antara kondisi eksisting dengan skenario I, II
dan III, memperlihatkan penurunan kebutuhan luas lahan minimal, masing-
masing seluas 2,99 ha/KK, 2,35 ha/KK dan 1,91 ha/KK di Desa Sungai
Ambangah dan 1,84 ha/KK, 1,06 ha/KK dan 0,22 ha/KK di Pasak Piang.
Tabel 60 Pendapatan dan nilai tambah pendapatan dari kondisi eksisting
terhadap masing-masing skenario yang disusun untuk Desa
Sungai Ambangah dan Pasak Piang
Desa/ Pendapatan (Rp/ha/th) Nilai tambah pendapatan (Rp/ha/th)
Jenis
tanaman Eksisting Skenario I Skenario II Skenario III Skenario I Skenario II Skenario III
Sui Ambangah
Padi 2 090 000 2 135 771 2 325 961 2 609 000 45 771 235 961 519 000
Karet 4 370 000 4 465 703 4 859 003 5 126 000 95 703 489 003 756 000
Kelapa sawit*) 10 862 527,6 11 100 416,95 12 088 906,97 13 559 968,66 237 889,35 12 26 379,37 2 697 441,06
Jumlah 17 322 527,6 17 701 890,95 19 273 870,97 21 294 968,66 379 363,35 1 951 343,37 3 972 441,06
Pasak Piang
Padi 1 900 000 2 102 350 2 330 160 2 575 450 202 350 430 160 675 450
Karet 6 387 667 7 067 953,54 7 833 834,81 8 658 482,62 680 286,54 1 446 167,81 2 270 815,62
Kelapa sawit*) 10 862 527,6 12 019 386,79 13 321 803,85 14 724 156,16 1 156 859,19 2 459 276.25 3 861 628,56
Jumlah 19 150 194,6 21 189 690,32 23 485 798,66 25 958 088,78 2 039 495,72 4 335 604,06 6 807 894,18
Sumber: Hasil olahan
Ket: *)Nilai perkiraan pendapatan per tahun per hektar
Dari hasil analisis tiga skenario di atas, menunjukkan bahwa terjadi
peningkatan pendapatan petani dari saat ini (eksisting) terhadap masing-masing
skenario, dari masing-masing komoditas yang diusahakan yaitu padi, karet dan
kelapa sawit baik di Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang selengkapnya
disajikan pada Tabel 60.
Hasil analisis Tabel 59 menunjukkan bahwa petani di Desa Sungai
Ambangah pada skenario I, II, dan III akan memperoleh peningkatan pendapatan
dari keadaan saat ini (eksisting) masing-masing sebesar Rp306 744,3,-
Rp1 778 874,- dan Rp2 750 181,-. Sedangkan untuk petani di Desa Pasak
Piang, menunjukkan bahwa pada skenario I, II, dan III akan memperoleh
peningkatan pendapatan dari keadaan saat ini (eksisting) masing-masing
sebesar Rp1 820 582,04,- Rp2 132 771,61,- dan Rp6 077 154,12,-.
Hasil analisis keberlanjutan antara masing-masing skenario dan kondisi
saat ini (eksisting) yang dirangkum dalam bentuk diagram layang-layang (kite
diagram) sebagaimana disajikan pada Gambar 28 dan 29. Untuk Desa Sungai
Ambangah Gambar 28 memperlihatkan bahwa dari kelima dimensi keberlanjutan
yang dianalisis, diperoleh hasil adalah untuk skenario I, hanya terdapat dua
dimensi yang dikategorikan cukup berkelanjutan yaitu dimensi ekonomi dan
kelembagaan yang mempunyai nilai indeks keberlanjutan, masing-masing
sebesar 54,43% dan 56,74%. Untuk skenario II, dari kelima dimensi yang
dianalisis diperoleh nilai indeks keberlanjutan berkisar antara 50,89 – 74,93%
atau pada kategori cukup berkelanjutan untuk semua dimensi. Sedangkan pada
skenario III, dari kelima dimensi yang dianalisis diperoleh nilai indeks
keberlanjutan sebesar 59,71% untuk dimensi ekologi atau pada kategori cukup
berkelanjutan, dan keempat dimensi yang lainnya diperoleh nilai indeks
keberlanjutan, berkisar antara 76,68 – 92,91% atau pada kategori cukup
berkelanjutan dan sangat berkelanjutan (baik).
SUNGAI AMBANGAH

Dimensi Ekologi
100

80

60

40
Dimensi Kelembagaan Dimensi Ekonomi
20

Dimensi Teknologi Dimensi Sosial Budaya

Eksisting Skenario I Skenario II Skenario III

Gambar 28 Indeks keberlanjutan lima dimensi keberlanjutan masing-masing pada


kondisi eksisting, skenario I, II, dan III untuk Desa Sungai Ambangah

Sedangkan untuk Desa Pasak Piang Gambar 29 memperlihatkan bahwa


dari kelima dimensi keberlanjutan yang dianalisis, diperoleh hasil untuk skenario
I, terdapat tiga dimensi yang dikategorikan cukup berkelanjutan yaitu dimensi
ekologi, sosial budaya dan kelembagaan yang mempunyai nilai indeks
keberlanjutan, masing-masing sebesar 54,00%, 55,82%, dan 56,78%. Untuk
skenario II, dari kelima dimensi yang dianalisis diperoleh nilai indeks
keberlanjutan berkisar antara 51,98 – 68,46% atau pada kategori cukup
berkelanjutan untuk semua dimensi. Sedangkan pada skenario III, dari kelima
dimensi yang dianalisis diperoleh nilai indeks keberlanjutan sebesar 67,11%
untuk dimensi ekonomi dan 72,58% untuk dimensi teknologi atau keduanya pada
kategori cukup berkelanjutan, dan tiga dimensi lainnya diperoleh nilai indeks
keberlanjutan berkisar antara 76,23 – 80,18% atau pada kategori cukup
berkelanjutan dan sangat berkelanjutan (baik).
PASAK PIANG

Dimensi Ekologi
100

80

60

40
Dimensi Kelembagaan Dimensi Ekonomi
20

Dimensi Teknologi Dimensi Sosial Budaya

Eksisting Skenario I Skenario II Skenario III

Gambar 29 Indeks keberlanjutan lima dimensi keberlanjutan masing-masing


pada kondisi eksisting, skenario I, II, dan III untuk Desa Pasak Piang
Dari masing-masing skenario yang telah disusun di atas, diperoleh hasil
bahwa terjadi peningkatan nilai indeks keberlanjutan dari kondisi eksisting.
Untuk memilih skenario yang terbaik, dari ketiga skenario tersebut, didasarkan
pada perhitungan jarak euclidian antara nilai indeks keberlanjutan pada kondisi
eksisting dengan nilai indeks keberlanjutan pada masing-masing skenario baik
untuk Desa Sungai Ambangah maupun Pasak Piang. Hasil perhitungan
selengkapnya disajikan pada Tabel 61 dan 62
Tabel 61 Jarak euclidian antara kondisi eksisting dan masing-masing skenario
di Desa Sungai Ambangah
A. Eksisting dan Skenario I
2 2
No Dimensi X2 X1 X2- (X2-X1) Y2 Y1 Y2- (Y2-Y1)
X1 Y1
1 Ekologi 45,29 39,55 5,74 32 9476 -5,38 3,93 9,31 86 6761
2 Ekonomi 54,43 35,04 19,39 375 9721 19,69 6,25 13,39 179 2921
3 Sosial Budaya 48,39 43,89 4,50 20 25 6,25 0,92 5,33 28 4089
4 Teknologi 42,30 37,53 4,77 22 7529 1,44 4,18 -2,74 7 5076
5 Kelembagaan 56,74 55,15 1,59 2 5281 6,06 6,65 0,59 0 3481
2 2
Σ(X2-X1) : 454 4507 Σ(Y2-Y1) : 302 2328
(a+b): 756 6835
distance: 21 8322
B. Eksisting dan Skenario II
1 Ekologi 50.89 39.55 11.34 128.5956 -8.54 3.93 12.47 155.5009
2 Ekonomi 74.93 35.04 39.89 1.591.2121 28.03 6.25 21.78 474.3684
3 Sosial Budaya 56.38 43.89 12.49 156.0001 14.36 0.92 13.44 180.6336
4 Teknologi 60.28 37.53 22.75 517.5625 14.00 4.18 9.82 96.4324
5 Kelembagaan 63.35 55.15 8.20 67.24 5.56 6.65 -1.09 1.1881
2 2
Σ(X2-X1) : 869 3982 Σ(Y2-Y1) : 908.1234
(a+b): 1777.522
distance: 30.3511
C. Eksisting dan Skenario III
1 Ekologi 59,71 39,55 20,16 406 4256 -15,87 3,93 19,80 392,04
2 Ekonomi 92,91 35,04 57,87 3.348 9369 34,39 6,25 28,14 791 8596
3 Sosial Budaya 90,55 43,89 46,66 2 177 1556 24,74 0,92 23,82 567 3924
4 Teknologi 76,68 37,53 39,15 1 532 7225 21,93 4,18 17,75 315 0625
5 Kelembagaan 85,70 55,15 30,55 933 3025 9,56 6,65 2,91 8 4681
2 2
Σ(X2-X1) : 1339 7280 Σ(Y2-Y1) : 2074 823
(a+b): 3414 551
distance: 60 5667
Sumber: Data primer dan hasil olahan

Hasil analisis pada Tabel 61 menunjukkan bahwa di Desa Sungai


Ambangah, diperoleh jarak euclidian antara kondisi eksisting dengan skenario I,
II, dan III masing-masing sebesar 21,83%, 30,35% dan 60,57%. Dari hasil
tersebut, diperoleh bahwa nilai euclidian yang terbesar adalah pada skenario III
atau jarak yang paling baik. Dengan demikian dari ketiga skenario yang disusun
untuk Desa Sungai Ambangah, yang terbaik adalah skenario III.
Tabel 62 Jarak Euclidian antara kondisi eksisting dan masing-masing
skenario di desa Pasak Piang
A. Eksisting dan Skenario I
2 2
No Dimensi X2 X1 X2-X1 (X2-X1) Y2 Y1 Y2-Y1 (Y2-Y1)
1 Ekologi 54,00 45,36 8,64 746 496 2,88 2,26 0,62 0,3844
2 Ekonomi 44,54 24,20 20,34 413 7156 34,52 18,10 16,42 2696,6164
3 Sosial Budaya 55,82 48,30 7,52 565 504 21,81 8,34 13,47 181,4409
4 Teknologi 40,33 28,92 11,41 130 1881 -3,55 1,76 5,31 28,1961
5 Kelembagaan 56,78 51,41 5,37 288 369 4,28 4,25 0,03 0,0009
2 2
Σ(X2-X1) : 703 9406 (Y2-Y1) : 2906,6387
(a+b): 2202,6981
distance: 39,8511
B. Eksisting dan Skenario II
1 Ekologi 68,46 45,36 23,10 533,61 3,30 2,26 1,04 1,0816
2 Ekonomi 60,26 24,20 36,06 1 300 3236 42,45 18,10 24,35 592 9225
3 Sosial Budaya 66,40 48,30 18,10 327,61 30,62 8,34 22,28 496 3984
4 Teknologi 51,98 28,92 23,06 531 763,6 -4,66 1,76 6,42 41 2164
5 Kelembagaan 64,31 51,41 12,9 166 ,41 7,58 4,25 3,33 11 0889
2 2
Σ(X2-X1) :1559.3936 Σ(Y2-Y1) : 1142 707,8
(a+b): 2702 1014
distance: 431 252
C. Eksisting dan Skenario III
1 Ekologi 79,89 45,36 34,53 1 192 3209 10,37 2,26 8,11 65,7721
2 Ekonomi 67,11 24,20 42,91 1 841 2681 47,69 18,10 29,59 875,5681
3 Sosial Budaya 80,18 48,30 31,88 1 016 3344 34,87 8,34 26,53 703,8409
4 Teknologi 72,58 28,92 43,66 1 906 1956 -12,56 1,76 14,32 205,0624
5 Kelembagaan 76,23 51,41 24,82 616 0324 22,60 4,25 18,35 336,7225
2 2
Σ(X2-X1) : 616.0324 (Y2-Y1) : 2 186 966
(a+b): 2 802 9989
distance: 456 013
Sumber: Data primer dan hasil olahan

Sedangkan hasil analisis pada Tabel 62 menunjukkan bahwa di Desa


Pasak Piang, diperoleh jarak euclidian antara kondisi eksisting dengan skenario
I, II, dan III masing-masing sebesar 39,85%, 43,12% dan 45,60%. Dari hasil
tersebut, diperoleh bahwa nilai euclidian yang terbesar juga pada skenario III
atau jarak yang paling baik. Dengan demikian bahwa dari ketiga skenario yang
disusun untuk Desa Pasak Piang, yang terbaik adalah skenario III.
VII. MODEL PENGEMBANGAN DAN STRATEGI PENERAPAN
USAHATANI DI RAWA LEBAK

7.1 Sumberdaya Lokal Rawa Lebak

Pasal 1 ayat (10) Undang-Undang No 23 Tahun 1997 tentang


Pengelolaan Lingkungan Hidup disebutkan bahwa sumber daya adalah unsur
lingkungan hidup yang terdiri atas sumberdaya manusia, sumberdaya alam, baik
hayati maupun nonhayati, dan sumberdaya buatan.
Berdasarkan Undang-Undang RI tentang Sistem Budidaya Tanaman
Nomor 12 Tahun 1992, disebutkan bahwa sistem budidaya tanaman adalah
sistem pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya alam nabati melalui upaya
manusia yang dengan modal, teknologi, dan sumberdaya lainnya menghasilkan
barang guna memenuhi kebutuhan manusia secara lebih baik. Selanjutnya pada
pasal 2 disebutkan bahwa sistem budidaya tanaman sebagai bagian pertanian
berasaskan manfaat, lestari, dan berkelanjutan. Sedangkan pasal 3 disebutkan
bahwa sistem budidaya tanaman bertujuan: a). meningkatkan dan memperluas
penganekaragaman hasil tanaman, guna memenuhi kebutuhan pangan,
sandang, papan, kesehatan, industri dalam negeri, dan memperbesar ekspor; b).
meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani; c). mendorong perluasan dan
pemerataan kesempatan berusaha dan kesempatan kerja.
Hasil observasi lapangan dan studi literatur menunjukkan bahwa
sumberdaya lokal potensial yang terdapat di lokasi penelitian yang dapat
dimanfaatkan dalam rangka pengembangan rawa lebak untuk kegiatan usahatani
berkelanjutan yang dipilah menjadi empat kelompok yaitu sumberdaya manusia,
sumberdaya alam, sumberdaya teknologi dan sumberdaya kelembagaan dan
institusi pendukung. Tabel 63 menyajikan potensi sumberdaya lokal di kawasan
rawa lebak baik di Desa Sungai Ambangah maupun Desa Pasak Piang.

Tabel 63 Potensi sumberdaya lokal di Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang
No Jenis dan Potensi Lokasi / Desa
Sumberdaya Keterangan
Sui Ambangah Pasak Piang
1. Sumberdaya Manusia
Jumlah penduduk (jiwa) 5 002 3 001
Penduduk berdasarkan
jenis kelamin (jiwa)
- Laki-laki 2 554 1 537
- Perempuan 2 448 1 464
Lanjutan
No Jenis dan Potensi Lokasi / Desa Keterangan
Sumberdaya
Sui Ambangah Pasak Piang
Penduduk berdasarkan
usia produktif (jiwa)
- 21 – 30 tahun 605 426
- 31 – 40 tahun 880 553
- 41 – 50 tahun 781 458
- 51 – 58 tahun 421 134
- > 59 tahun 181 103
Penduduk berdasarkan
pendidikan (jiwa)
- Tdk sekolah/putus sklh 340 2 366
- Tamat SD 989 346
- Tamat SLTP 1 986 184
- Tamat SLTA 1 665 96
- PT / Akademi 23 9
2. Sumberdaya Alam
a. Luas Wilayah (ha) 15 650 16 539
b. Tanah dan Iklim
- Terletak dibawah garis 109 – 22,31 BT
katulistiwa dan 0,21 LS -
- Altitude (m dpl) 0 -8 0 – 1.5
- Kemiringan wilayah 0 – 10 0 – 10
(%)
- Lapisan Top Soil (cm) <12 <15
- pH tanah 3–5 3 -5
- Tingkat kesuburan sedang Sedang
tanah
o
- Suhu ( C) 20 - 34 20 - 34
- Curah hujan (mm/th) 3 142,3 3 142,3
- Kelembaban (%) 81 - 95 81 - 95
c.Tanaman/Vegetasi
- Tanaman Budidaya
1. Semusim Padi, jagung, ubi Padi, jagung, ubi
kayu, ketelah kayu, talas/keladi,
rambat, kacang ketela rambat.
tanah, talas/keladi

2. Tahunan Karet, kelapa Karet, kelapa


sawit, kakao, kopi, sawit, kopi, lada,
kelapa, sagu kelapa

3. Hortikultura Durian, rambutan, Pisang, rambutan,


jeruk, langsat, jengkol, langsat,
pisang, manggis, nanas, kacang
pepaya, nenas, panjang, bawang
lidah buaya, cabe daun, tomat,
rawit, bawang terong, cabe
daun, kacang rawit, serai, timun.
panjang, timun,
terong, tomat,
jahe, serai,
anggrek.

4. Non Budidaya/hutan Tidak ada data 12 481


(ha)
d. Peternakan Sapi, kambing, Sapi, ayam,
ayam, itik, angsa kambing, itik,
dan babi babi.
e. Perikanan air tawar Lele, nila dan mas Lele, nila, mas,
bawal
Lanjutan
No Jenis dan Potensi Lokasi / Desa Keterangan
Sumberdaya
Sui Ambangah Pasak Piang
f. Jenis padi lokal palawang, palawang,
sampit, pantat sampit, pantat
ulat, angkung, ulat, angkung,
siam, langsat, siam, langsat,
katumbar, katumbar,
purun, padi purun, padi
putih, talang putih, talang
dan pulut dan pulut
3. Sumberdaya Teknologi
a. Penyuluhan 1 1 Dilaksanakan
penggunaan benih pada bulan April
bermutu dan 2009
pemupukan berimbang
(jml)
b. Teknologi Pengendalian 1 1 Dilaksanakan
Organisme Pengganggu sekolah lapang
(OPT) melalui pengedalian
Pengendalian Hama hama terpadu
Terpadu (PHT) (jml) (SLPHT) bulan
Mei – Agtus 2009
c. Teknologi pembuatan - - Dilaksanakan
kompos (jml) percontohan/dem
plot pada bulan
April 2009
d. Teknis budidaya - 1 Dilaksanakan
tanaman campuran/sela pelatihan/demplot
diantara tanaman pada bulan Juni –
perkebunan (jml) Agustus 2009
e. Penyuluhan teknis 1 1 Dilaksanakan
peningkatan Indeks pada bulan Mei
Pertanaman (IP) (jml) 2009
f. Pelatihan teknik okulasi 1 1 Dilaksanakan
(jml) pada bulan
Sepetember 2009
g. Penyuluhan teknis 1 1 Dilaksanakan
pemeliharaan ternak pada bulan Juli
(sapi dan ayam) (jml) 2009
h. Penyuluhan teknis - 1 Dilaksanakan
pengendalian penyakit pada bulan
ternak (jml) Oktober 2009
i. Pelatihan manajemen 1 1 Dilaksanakan
kelompok (jml) pada bulan April
2009
4. Sumberdaya
Kelembagaan/Istitusi
Pendukung
a. Universitas dan BPTP
(jml)
- PT/Akademi 6 Terletak di
Pertanian Ibukota Provinsi
- BPTP 1 Terletak di
- BPP 1 Ibukota Kec.
b. Kelembagaan kelompok
tani (klp)
- Kelompok tani 16 8
- Anggota kelompok 556 458
- Gapoktan 1 1
Lanjutan
No Jenis dan Potensi Lokasi / Desa Keterangan
Sumberdaya
Sui Ambangah Pasak Piang
c. Kelas Kelompok Tani
(klp)
- Pemula 12 8
- Lanjut 2 -
- Madya 2 -
- Utama - -
d. Kelembagaan
pemerintahan desa (jml)
- LPMD 1 1
- BPD 1 1
- PKK 1 1
- KUD - -
- Posyandu 1 3
e. Kelompok informal
- Kelompok arisan ibu 1 -
- Kelompok yasinan 1 -
f. Kelompok informal
- Tuha tahun - 1 Bp. Julim Ita
g. Bank/lembaga - -
keuangan mikro
h. Pasar/kios saprotan
- Pasar 1 -
- Kios saprotan 1 1
i. Alsintan (jml)
- Hand tracktor 1 -
- Mids blower 2 1
- Punsa - 3
- Hand sprayer 24 29
- Power threser 2 1
- Muler gabah - 7
Sumber: Hasil observasi dan wawancara; BPP Sungai Raya (2010) dan Sungai
Ambawang (2010); Kec. Sungai Raya Dalam Angka (2009) dan Kecamatan
Sungai Ambawang Dalam Angka (2009)

Pada Tabel 63, menunjukkan bahwa terdapat lima potensi sumberdaya


yang ada, yaitu sumberdaya manusia, sumberdaya alam, sumberdaya teknologi
dan sumberdaya pendukung lain.
Potensi sumberdaya manusia, di Desa Sungai Ambangah dengan jumlah
penduduk mencapai 5 002 jiwa apabila dihubungkan dengan luas wilayah di
desa tersebut mencapai 15 650 ha, maka rasio jumlah penduduk dengan luas
wilayah mencapai 32 jiwa per km2, sedangkan di Desa Pasak Piang dengan
jumlah penduduk 3 001 jiwa dengan luas wilayah yang tersedia mencapai 16 539
hektar, maka rasio jumlah penduduk dengan luas wilayah mencapai 18 jiwa
per km2.
Berdasarkan mata pencaharian penduduk di Desa Sungai Ambangah dan
Pasak Piang masing-masing mencapai sebanyak 72% dan 67% mengandalkan
sumber penghasilan mereka dari kegiatan pertanian, sedangkan sebanyak 28%
dan 33% dari kegiatan non pertanian.
Berdasarkan umur penduduk di Desa Sungai Ambangah dan Pasak
Piang masing-masing sebanyak 41,62% dan 38,15% berusia antara 31 – 58
tahun atau yang berusia produktif untuk bekerja disektor pertanian, sedangkan
penduduk berdasarkan tingkat pendidikan didominasi mereka yang
berpendidikan setingkat sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), sekolah
lanjutan tingkat atas (SLTA), dan sekolah dasar (SD) untuk Desa Sungai
Ambangah berturut-turut dari yang tertinggi mencapai 39,70%, jiwa 32,29% dan
19,77%. Sedangkan di Pasak Piang berturut-turut mencapai 77,84% tidak
sekolah atau putus sekolah, sebanyak 11,53% tamat SD, dan sebanyak 6,13%
tamat SLTP.
Berdasarkan keadaan sumberdaya iklim dan tanah, secara umum
menunjukkan bahwa kedua desa masih sesuai untuk pengembangan kegiatan
pertanian baik pertanian tanaman semusim, pangan, perkebunan, hortikultura,
peternakan, dan perikanan air tawar. Hasil observasi di lapangan menunjukkan
bahwa kegiatan pertanian tersebut, sudah dilakukan oleh masyarakat tani
dikedua desa, secara turun-temurun dari orang tua mereka. Di Desa Sungai
Ambangah sudah dilakukan sejak tahun 1956, sedangkan untuk Desa Pasak
Piang sudah dilakukan sejak tahun 1965.
Secara umum petani di kedua desa penelitian telah memperoleh
informasi tentang teknologi sistem usahatani. Informasi tersebut, berupa
punyuluhan penggunaan benih bermutu dan pemupukan berimbang, teknologi
pengendalian organisme pengganggu (OPT) dan pengendalian hama terpadu
(PHT), teknologi pembuatan kompos, teknis budidaya tanaman campuran/sela
diantara tanaman perkebunan, pelatihan teknis peningkatan indeks pertanaman
(IP), teknik okulasi, pemeliharaan dan pengendalian penyakit ternak serta
pelatihan menejemen kelompok Tabel 63. Disiminasi informasi teknologi ini
diberikan dalam bentuk pelatihan dan demplot percontohan (Balai Penyuluhan
Pertanian Sungai Ambawang, 2010 dan Balai Penyuluh Pertanian Sungai Raya,
2010). Untuk Desa Pasak Piang, informasi teknologi tersebut telah disampaikan
pada tahun 2009. Sedangkan untuk Desa Sungai Ambangah beberapa dari
informasi teknologi tersebut belum diberikan, diantaranya adalah teknis
pengendalian OPT dan PHT, teknis peningkatan IP, teknis pemeliharaan ternak
dan pengendalian penyakit ternak serta pelatihan manajemen kelompok.
Sumberdaya kelembagaan dan institusi pendukung lainnya yang tersedia
sangat berperan dalam menunjang kegiatan pertanian dikedua desa tersebut,
meliputi institusi pendidikan pertanian, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
(BPTP) dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), kelembagaan kelompok tani dan
kelas kelompok tani, kelembagaan pemerintahan desa, lembaga keuangan
mikro, pasar dan kios sarana produksi pertanian (saprotan) Tabel 63.
Institusi informal seperti kelompok arisan ibu-ibu dan kelompok yasinan
ibu-ibu dan bapak-bapak. Kelompok ini setiap bulan mengadakan pertemuan.
Untuk kegiatan arisan dilakukan bergilir disetiap rumah para peserta arisan.
Setelah kegiatan arisan, biasanya mereka para ibu-ibu melakukan pengajian
bersama yang dipimpin oleh seorang pandai mengaji atau ustad. Untuk
kelompok yasinan bapak-bapak dilakukan sebulan sekali yaitu malam jumat dan
diikuti dengan pembelajaran mengenai tata cara memandikan mayat dan
kadang-kadang diisi dengan ceramah agama dalam rangka untuk meningkatkan
keimanan mereka, hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Bapak Sapingi salah
satu pengurus masjid di Desa Sungai Ambangah. Untuk Desa Pasak Piang
kelompok informal ini tidak ada. Hal itu dikarenakan masyarakat tani di desa
Pasak Piang didominasi oleh Suku Dayak yang beragama non muslim.
Beberapa responden petani muslim yang ditemui mengungkapkan bahwa
kelompok yasinan pernah dibentuk dan pernah melakukan kegiatan pengajian,
dan ceramah agama, tetapi kegiatan itu berlangsung tidak terlalu lama dan
kemudian berhenti atau dengan kata lain kurang aktif.
Hal lain yang menarik diperhatikan pada saat dilakukan wawancara
terhadap kepala desa (Bapak Markus) dan bapak tetua adat, bahwa kelompok
informal yang dinamakan Tuha Tahun (terdiri atas tiga orang) atau tetua adat
yang dipimpin oleh Bapak Julim Ita khusus di Desa Pasak Piang. Tuha Tahun ini
mempunyai pengaruh yang sangat penting terhadap sistem budidaya khususnya
padi. Peran dari Tuha Tahun, mulai dari rencana tanam sampai waktu akan
dilakukan pemanenan semuanya atas arahan dan petunjuk dari Tuha Tahun. Hal
itu menurut petani disana, agar supaya apa yang mereka lakukan dalam
budidaya padi tersebut dapat memberikan berkah dan diperoleh hasil panen
yang baik.

7.2 Potensi Turunan Sumberdaya Lokal Rawa Lebak

Berdasarkan hasil investigasi di lapangan diperoleh data bahwa panen


padi pada tahun 2009 mencapai luas 574 hektar. Dari luas panen ini dapat
diperkirakan jumlah jerami yang dihasilkan yaitu mencapai 4 592 – 6 888 ton
berat segar panen. Jerami padi yang dihasilkan ini dapat digunakan sebagai
pakan sapi dewasa berkisar 500 – 650 ekor sepanjang tahun. Dan apabila panen
padi dapat dilakukan sebanyak dua kali dalam setahun artinya jumlah ternak sapi
yang dapat mengkonsumsi pakan jerami tersebut menjadi 1 000 – 1 300 ekor per
tahun. Potensi jerami kurang lebih adalah 1,4 kali dari hasil panen gabah kering
giling (GKG). Jadi kalau hasil panen padi dalam bentuk GKG sekitar 6 kuintal,
maka jerami kering yang akan diperoleh tinggal dikali dengan 1,4. Dari dasar
perhitungan ini, dengan menggunakan data dari Deptan, dimana produktivitas
padi secara nasional adalah 48,95 ku/ha dengan produksi padi sebesar 57,157
juta ton, maka dapat diperkirakan jumlah jerami yang dihasilkan secara yaitu
mencapai 80,02 juta ton.
Sebagai perbandingan, berikut ini disajikan hasil penelitian Karyaningsih
et al. (2008), dari luasan sawah yang diusahakan tanaman padi 6 141 ha dengan
produksi gabah kering panen (GKP) 40 651 ton. Hasil samping panen padi
berupa limbah jerami padi yang konversinya per hektar mencapai 5 ton.
Penyusutan jerami segar menjadi kompos mencapai 50% (Balittanah, 2008).
Dengan berpatokan pada angka tersebut maka wilayah Kecamatan Polokarto
menghasilkan limbah jerami padi sebanyak 31 560 ton dan hanya 65% yang
dijadikan pupuk kompos sehingga diperoleh sumber pupuk sebanyak 20 514 ton.
Potensi jerami setiap desa di Kecamatan Polokarto disajikan pada Tabel 64.
Tabel 64 Luas panen padi. potensi limbah jerami dan produksi pupuk kompos
di wilayah Kecamatan Polokarta tahun 2007
Luas Produksi Produksi Jerami yang Produksi
Desa panen gabah jerami dikomposkan kompos
(ha) (GPP) ton (ton) (ton) (ton)
Bakalan 641 4 540 3 205 2 083,25 1 041,63
Mranggem 510 3 611 2 550 1 657,50 828,75
Kemasan 633 4 481 3 165 2 057,25 1 028,63
Kenokorejo 526 3 722 2 630 1 709,50 854,75
Godog 632 4 475 3 160 2 054,00 2 057,25
Jumlah 6 312 44 734 31 560 20 514,00 11 287,26
Sumber: Karyaningsih et al. (2008)

Seekor sapi dapat menghasilkan kotoran sebanyak 8–10 kg setiap hari.


Dan bentuk kotoran cair (urine) mencapai 8–10 liter per hari. Apabila kotoran
sapi ini diproses menjadi pupuk organik diharapkan akan menghasilkan 4–5 kg
per hari. Dengan demikian, pada luasan sawah satu hektar akan menghasilkan
sekitar 7,3–11,0 ton pupuk organik. Dipihak lain, penggunaan pupuk organik
pada lahan persawahan adalah 2 ton per hektar, sehingga potensi pupuk organik
yang ada dapat menunjang kebutuhan pupuk organik untuk 1,8–2,7 hektar
dengan dua kali tanam.
Jerami yang dihasilkan dari sisa-sisa panen, dapat pula diolah terlebih
dahulu menjadi kompos dan selanjutnya dapat dikembalikan lagi ke tanah.
Kompos jerami ini secara bertahap dapat menambah kandungan bahan organik
tanah, dan berperan dalam mengembalikan kesuburan tanah. Kompos selain
dibuat dari jerami dapat juga dibuat dari seresah atau sisa-sisa tanaman lain.
Rumput-rumputan, sisa-sisa daun dan batang, atau daun-daun tanaman lain.
Pada prinsipnya semua limbah organik dapat dijadikan kompos. Jika jerami
dibuat kompos, maka rendemen kompos yang dihasilkan mencapai 60%, dengan
demikian dalam satu hektar sawah dapat dihasilkan 4,11 ton kompos.
Kompos jerami memiliki potensi hara yang sangat tinggi. Berikut ini hasil
analisis kompos jerami yang dibuat dengan waktu pengomposan 3 minggu yaitu
Rasio C/N 18,88, C 35,11%, N 1,86%, P2O5 0,21%, K2O 5,35%, dan air 55%.
Dari data tersebut, kompos jerami memiliki kandungan hara setara dengan
41,3kg urea, 5,8 kg SP36, dan 89,17kg KCl per ton kompos atau total 136,27 kg
NPK per ton kompos kering. Apabila dikonversi secara nasional, kompos jerami
setara dengan 1,09 juta ton urea, 0,15 juta ton SP36, dan 2,35 juta ton KCl atau
3,6 juta ton NPK. Jumlah ini kurang lebih 45% dari komsumsi pupuk nasional di
tahun 2007 untuk pertanian atau setara dengan Rp5,42 trilyun.
Di lain pihak, penggunaan pupuk anorganik di perkebunan rakyat saat ini
diyakini belum optimal, karena harga yang relatif tidak terjangkau dan
ketersediaannya sering terhambat. Mencermati kondisi ini, sehingga arah
kebijakan penggunaan pupuk ke depan lebih mengutamakan penggunaan pupuk
organik. Optimalisasi penggunaan pupuk organik melalui pemanfaatan bahan
baku yang dapat diperoleh secara in situ di kebun yang dapat berupa limbah
jarami padi, jagung, janjang kosong tandan segar/limbah cair kelapa sawit, kulit
kakao, kulit kopi, jambu mete, serta blotong tebu, dan sebagainya. Dapat pula
dilakukan dengan cara limbah organik dari kebun (pangkasan tanaman utama
atau naungan, gulma, pelepah dan janjang kelapa sawit, kulit kopi, kakao, sisa
tanaman atau hijauan tanaman lainnya), terlebih dahulu dibuat kompos.
Selain produk bahan sampingan di atas, dari kegiatan penanaman dan
pengolahan gabah padi menjadi beras dapat pula diperoleh beberapa produk
turunan lainnya seperti sekam dan dedak.
7.2 1 Pengolahan padi
Pengolahan padi menjadi beras, secara prinsip, melibatkan beberapa
tahapan yakni (a) pemisahan kotoran, (b) pengeringan dan penyimpanan padi,
(c) pengupasan kulit (husking), (d) penggilingan (milling), dan (e) pengemasan
dan distribusi. Pemisahan kotoran dari padi hasil panen di sawah dilakukan
karena masih banyak terbawa kotoran lain seperti jerami, daun, batang bahkan
benda lain yang tidak diinginkan seperti batu dan pasir. Kotoran ini akan
mengganggu proses pengeringan terutama penyerapan kalori dan
penghambatan proses pengolahan pada tahapan berikutnya.
Kadar air padi hasil panen sangat bervariasi antara 18–25%, bahkan
dalam beberapa kasus dapat lebih besar. Pengeringan dilakukan untuk
mengurangi kadar air sampai sekitar 14% sehingga memudahkan dan
mengurangi kerusakan dalam penyosohan dan proses selanjutnya. Kadar air
yang terlalu tinggi menyulitkan pengupasan kulit dan menyebabkan kerusakan
(pecah atau hancur) karena tekstur yang lunak.
Penyosohan adalah pengupasan kulit padi yang merupakan tahapan
paling penting dari keseluruhan proses. Pengupasan kulit adalah proses
menghilangkan gabah padi menjadi beras yang secara prinsip sudah dapat
dimasak untuk dimakan. Proses selanjutnya hanyalah penyempurnaan dari
penyosohan dan untuk meningkatkan kebersihan. Gabungan dari sosoh serta
kebersihan dan keutuhan biji adalah ukuran mutu beras putih.
Tahapan penggilingan adalah proses penyempurnaan penyosohan dan
pelepasan lapisan penutup butir beras. Teknologi penggilingan sudah sangat
berkembang untuk menghasilkan beras putih yang baik. Proses ini dibagi lagi
menjadi penyosohan, pemutihan (whitening) dan pengkilapan (shining).
Walaupun demikian, inti proses ini adalah untuk memisahkan lapisan penutup
semaksimal mungkin.
Selain proses utama tersebut ada beberapa tambahan yakni proses
pemisahan yang dimaksudkan untuk mendapatkan beras putih utuh dan murni.
Oleh karena itu, proses pemisahan terdiri dari pemisahan kotoran dari benda
atau bahan lain (seperti batu, daun dan benda atau bahan lainnya) dan
pemisahan beras yang kurang baik (muda, busuk, berjamur, berwarna dan
rusak/pecah). Perkembangan teknologi dalam rangka untuk menghasilkan
kualitas beras yang baik telah berkembang cukup pesat, diantaranya teknologi
pemisah batu, pemisah beras berdasarkan warna (color sorter), pemisah biji
pecah (rotary shifter) dan pemisah biji menurut panjang (lenght grader).
Tahap akhir dari proses pengolahan adalah pengemasan yang ditujukkan
untuk memudahkan dalam pengangkutan dan distribusi. Perkembangan terkini di
bidang pengemasan menambah atribut produk yakni estetika, dayatarik,
informasi produk dan perbaikan daya simpan. Dewasa ini, teknologi pengemasan
beras sudah sangat canggih, teknologi tersebut, meliputi keragaman bentuk,
rupa, ukuran dan cara atau metoda.

7.2.2 Sekam

Dalam proses pengolahan gabah padi menjadi beras, juga dihasilkan


produk sampingan berupa sekam. Sekam padi adalah bagian terluar dari butir
padi yang merupakan hasil sampingan saat proses penggilingan padi dilakukan.
Sekitar 20% dari bobot padi adalah sekam padi (Kartika, 2009). Volume sekam
yang dihasilkan dari proses penggilingan tersebut mencapai 17% dari Gabah
kering giling (GKG). Untuk penggilingan padi yang berkapasitas 5 ton/jam beras
putih atau sekitar 7 ton GKG/jam akan dihasilkan sekam sekitar 0,85 ton/jam
atau sekitar 8,5 ton/hari. Berat ini setara dengan 25 m3/hari atau 7 500 m3/tahun.
Volume yang besar ini akan menjadi masalah serius dalam jangka panjang
apabila tidak ditangani dengan baik.
Sekam tersusun dari palea dan lemma (bagian yang lebih lebar) yang
terikat dengan struktur pengikat yang menyerupai kait. Sel-sel sekam yang telah
masak mengandung lignin dan silica dalam konsentrasi tinggi. Kandungan silica
diperkirakan berada dalam lapisan luar (De Datta, 1981) sehingga
permukaannya menjadi keras dan sulit menyerap air, dan berfungsi dalam
mempertahankan kelembaban, serta memerlukan waktu yang lama untuk
mendekomposisinya (Houston, 1972). Silica sekam dalam bentuk tridymite dan
crytabolalite mempunyai potensi juga sebagai bahan pemucat minyak nabati
(Proctor dan Palaniappan, 1989). Komposisi sekam dapat dilihat pada Tabel 65.
Tabel 65 Komposisi sekam
Kandungan Persentase
C-organik 45,06
N-total 0,31
P-total 0,07
K-total 0,28
Mg-total 0,16
SiO3 33,01
Sumber: Hidayati (1993)

Dari komposisi kimia sekam Tabel 65, dapat diketahui potensi


penggunaannya terbatas sebagai sumber C-organik tanah dan media tumbuh
(dari kandungan karbon organik yang tinggi) serta bahan pemurnian dan bahan
bangunan (dari kandungan silica yang tinggi). Karbon yang tinggi juga
mengindikasikan banyaknya kandungan kalori sekam. Proses yang diperlukan
untuk pemanfaatan tersebut terdiri atas:
1. Pelunakan tekstur dan pengembangan permukaan
Pelunakan ditujukan untuk memperbaiki dayaserap (absorption),
pengurangan volume, dan lebih apseptis karena diperoses dengan panas dan
tekanan tinggi. Sekam yang telah lunak dan mengembang dapat digunakan
untuk media gundukan tanaman padi, palawija, dan persemaian (padi, cabai),
bedengan tomat, bahan kompos, dan lapisan alas tidur ternak. Alat untuk
pelunakkan sekam saat ini, sudah dipasarkan secara komersial.
2. Pengarangan (carbonizing)
Pengarangan adalah proses pembakaran dengan oksigen terbatas. Arang
padi mempunyai beberapa kegunaan (Bantacut, 2006), antara lain:
a. mempertahankan kelembaban: apabila arang ditambahkan ke dalam tanah
akan dapat mengikat air dan melepaskannya jika tanah menjadi kering,
b. mendorong pertumbuhan (proliferation) mikroorganisme yang berguna bagi
tanah dan tanaman,
c. penggembur tanah: menghindari pengerasan tanah karena sifatnya yang
ringan,
d. pengatur pH: arang dapat mengatur pH dalam situasi tertentu,
e. menyuburkan tanah: kandungan mineral arang adalah hara tanaman,
f. membantu melelehkan salju karena arang yang disebarkan di atas salju akan
menyerap panas yang dapat mencairkan salju, dan
g. menyerap kotoran sebagai bahan pemurnian dalam pengolahan air, minyak,
sirup dan sari buah.
Dalam proses pengarangan juga dihasilkan cairan hasil kondensasi asap
yang disebut wood vinegar yang mengandung konsentrasi formaldehid tinggi
sehingga dapat digunakan sebagai pengawet pangan lainnya seperti ikan, tahu,
dan bakso.
3. Pembakaran
Kandungan karbon yang tinggi juga mengindikasikan bahwa sekam
mempunyai kalori yang tinggi sehingga dapat digunakan sebagai sumber energi
panas. Banyak penggilingan padi menengah dan besar menggunakannya
sebagai bahan bakar pengering padi. Penggunaan yang sama juga dapat
dijumpai pada pembakaran batu bata.
Abu sisa pembakaran mengandung SiO2 sekitar 85% sehingga baik
digunakan untuk pembuatan bahan bangunan (seperti papan semen) dan bahan
pemurnian minyak (kelapa). Abu sekam memperbaiki daya serap air, kerapatan,
perubahan panjang dan konduktifitas panas papan semen pulp. Penggunaan
abu dalam pemucatan minyak kelapa dapat memperbaiki kejernihan.

7.2.3 Dedak

Persentase dedak mencapai 10% dari GKG. Penggilingan dengan


kapasitas beras putih sebesar 5 ton/jam akan menghasilkan dedak sebanyak 0.7
ton/jam atau sekitar 7 ton/hari. Jumlah ini cukup potensial untuk dikelola. Volume
dedak sekitar 600 liter/ton, maka akan dihasilkan sekitar 12 m3 dedak setiap
harinya.
Dedak adalah bagian padi yang mempunyai kandungan nutrisi yang tinggi
seperti minyak, vitamin, protein dan mineral. Pada kadar air 14%, dedak
mengandung pati sebesar 13,8%, serat 23,7-28,6%, pentosan 7,0-8,3%,
hemiselulosa 9,5-16,9%, selulosa 5,9-9,0%, asam poliuronat 1,2%, gula bebas
5,5-6,9% dan lignin 2,8-3,0% (Juliano dan Bechtel, 1985). Dari kandungan ini
maka dedak telah banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti
sumber minyak, pakan ternak dan bahan makanan.
Berbasis pada kandungan bahannya, maka dedak dapat dimanfaatkan
untuk berbagai tujuan. Minyaknya dapat diambil melalui ekstraksi menggunakan
pelarut, protein dan vitaminnya berguna sebagai nutrisi makanan. Namun
demikian, upaya pemanfaatan tersebut secara ekonomi belum menguntungkan.
Ekstraksi minyak melibatkan investasi yang besar dan hanya layak pada skala
yang besar pula. Ini berarti pengolahan terintegrasi pada penggilingan tidak
dapat dilakukan.
Sejauh ini, dedak bukan lagi sebagai limbah tetapi telah menjadi hasil
samping yang mempunyai pasar tersendiri. Pengguna utama dedak adalah
industri pakan ternak. Pemanfaatan lain yang telah berkembang dan
peralatannya sudah dijual secara komersial adalah mengolahnya menjadi pellet.
Kandungan hara yang tinggi menjadikan pellet dedak dapat digunakan untuk
pakan ternak terutama unggas dan pupuk organik. Bahkan dalam kondisi aplikasi
awal, pellet dedak dapat menghambat pertumbuhan gulma apabila disebarkan
pada permukaan tanah.
Dari uraian yang telah disampaikan sebelumnya, maka ke depan sistem
pengolahan padi perlu dikembangkan menuju ke sistem pengolahan yang
terintegrasi, mengingat peran dan fungsi dari industri dan hasil sampingan atau
turunan dari pengolahan padi tersebut. Pola berpikir seperti ini dapat
menyebabkan industri penggilingan padi, dapat memberikan nilai tambah dan
tidak seperti yang banyak terjadi saat ini, karena dihadapkan dengan berbagai
persoalan lingkungan. Dalam sistem pengolahan yang terintegrasi, memandang
semua bagian bahan baku adalah bahan yang harus dimafaatkan untuk
menghasilkan produk yang bernilai (ekonomi dan lingkungan). Secara
keseluruhan, model terpadu mempunyai beberapa keuntungan antara lain tidak
mencemari lingkungan, mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku dan
memperoleh manfaat ekonomi total (baik langsung maupun tidak).

7.3 Konsep Pengembangan Usahatani di Rawa Lebak Berdasarkan


Sumberdaya Lokal

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa pengelolaan rawa


lebak yang selama ini dilakukan dengan cara semi intensif, yaitu penanaman
sekali dalam setahun untuk tanaman padi yaitu dilakukan penanaman pada
bulan Agustus hingga September dengan waktu panen dilakukan pada bulan
Februari atau selama tujuh bulan. Jenis padi yang digunakan umumnya adalah
jenis lokal diantaranya palawang, pantat ulat dan pulut lihat Tabel 63. Kalaupun
jenis unggul seperti ciherang yang digunakan oleh petani disana, akan
diusahakan oleh mereka apabila benih tersebut berasal dari bantuan yang
diberikan oleh pemerintah. Akan tetapi sekitar 60 persen dari responden tidak
menyukai dalam hal penggunaan jenis unggul yang diberikan oleh pemerintah,
dengan alasan bahwa bantuan yang diberikan umumnya tidak bersamaan
dengan waktu tanam yang berlaku disana. Biasanya terlambat dari waktu tanam.
Selain itu, pengusahaan padi unggul bantuan pemerintah harus dipupuk dalam
hal ini pupuk organik, karena kalau tidak dilakukan pemupukan biasanya padi
tersebut tidak berisi atau hampa. Dipihak lain pupuk menurut mereka tidak
tersedia. Untuk padi jenis lokal, tanpa dilakukan pemupukan tetap memberikan
hasil.
Untuk tanaman karet saat penelitian ini dilaksanakan telah berumur
kurang lebih 30 tahun. Dan jenis karet yang diusahakan adalah karet jenis lokal.
Hasil observasi di lapangan, kondisi kebun tidak terawat, banyak terserang
penyakit seperti Jamur Akar Putih (Rigidoporus lignosus), busuk bidang sadap
(Phytophthora palmivora dan Ceratocystis fimbriata), mati pucuk (Colletotrichum
gloeosporoides), gulma tumbuh sangat banyak, jarak tanaman yang tidak teratur.
Sedangkan keadaan kebun kelapa sawit, pada saat penelitian baru berumur
sekitar 2,5 tahun. Penanaman dengan jarak tanam yang teratur yaitu 9x9x9m
yang juga ditumbuhi oleh gulma, akan tetapi gulma yang ada tidak separah di
kebun karet.
Berkenaan dengan pengelolaan lahan rawa lebak berbasis sumberdaya
lokal untuk mengembangkan usahatani berkelanjutan di lokasi penelitian, sesuai
hasil analisis sebelumnya dan dihubungkan dengan daya dukung dan
ketersediaan sumberdaya lokal serta sasaran yang diinginkan, maka penerapan
sistem pertanian terpadu adalah alternatif sistem pertanian yang perlu dilakukan.
Model pengelolaan Usahatani Lahan Rawa Lebak (UTLRL) dari hasil
penelitian ini merupakan suatu bentuk rekomendasi kebijakan. Dari tiga skenario
yang disusun sebagai alternatif pilihan dalam penerapan pengelolaan lahan rawa
lebak berkelanjutan, dengan mempertimbangkan ketersediaan sumberdaya lokal
di lokasi penelitian, maka skenario yang direkomendasikan dari penelitian ini
adalah skenario III baik di Desa Sungai Ambangah maupun Desa Pasak Piang.
Berdasarkan hasil kajian dan sasaran yang diinginkan, maka model yang
paling sesuai untuk dikembangkan dalam rangka pengelolaan lahan rawa lebak
adalah sistem pertanian terpadu. Sebelum dijelaskan lebih lanjut, terlebih dahulu
akan diuraikan tentang sistem pertanian terpadu. Sistem pertanian terpadu
artinya pertanian yang mengintegrasikan antara tanaman dan ternak di dalam
suatu lahan usahatani. Sebaliknya sistem pertanian campuran adalah pertanian
yang mengusahakan beberapa jenis tanaman pada suatu hamparan lahan
usahatani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktek sistem pertanian ini
dapat menekan kerusakan sumberdaya lahan dan lingkungan (Suryana et al.
1995), sekaligus dapat meningkatkan pendapatan petani. Tambahan pendapatan
petani, berasal dari peningkatan berat badan sapi, nilai pupuk organik dan
peningkatan produksi gabah kering giling. Hasil penelitian yang dilaporkan oleh
Dwiyanto dan Haryanto (2001) dalam Soekardono (2009) menunjukkan bahwa
peningkatan pendapatan petani tersebut hingga 100% apabila dibandingkan
dengan pola tanam padi tanpa ternak. Dimana sekitar 40% dari pendapatan
tersebut berasal dari pupuk organik yang dihasilkan oleh ternak.
Menurut Sulaimen (2009) pertanian terpadu atau integrated farming
adalah usaha pertanian dengan kelola berkesinambungan, sehingga tidak
dikenal limbah sebagai produk sampingan, semua bagian hasil pertanian
diasumsikan sebagai produk ekonomis dan semua kegiatan adalah profit center,
hasil samping dari salah satu sub bidang usaha menjadi bahan baku atau bahan
pembantu sub bidang lainnya yang masih terkait.
Ilustrasi yang sederhana adalah pada usaha budidaya jagung,
produk bukan hanya jagung pipilan kering sedangkan biaya pembuangan
batangnya di lahan dan dibakar menjadi beban/cost, tetapi dalam pertanian
terpadu meskipun ada biaya pengumpulan batang jagung dari lahan tetapi
dapat diproses menjadi silage (pakan ternak ruminansia) atau disimpan
sebagai pakan kering, sehingga untuk jumlah yang memenuhi kriteria ekonomis
justru akan membuka cluster ekonomi baru.
Konsep pertanian terpadu diutamakan pada pendayagunaan sumberdaya
yang tersedia ditingkat petani dengan prinsip yang menserasikan tiga faktor
penting manusia, lahan dan ternak yang berinteraksi secara sembiosa mutualistis
guna membuat sistem usahatani menjadi lebih produktif (Tim P3PK-UGM, 1988)
antara Lahan, tanaman dan ternak. Ternak dapat diberi makanan tidak hanya
rumput, melainkan juga dari limbah pertanian. Selain itu agar output yang
dihasilkan tidak hanya berupa ternak, maka perlu dilakukan upaya pemanfaatan
limbah ternak berupa kotoran ternak. Kotoran ternak atau biasa disebut pupuk
kandang dapat langsung dimanfaatkan sebagai pupuk atau dijadikan kompos.
Selanjutnya kompos ini dapat dijadikan sebagai pupuk. Pupuk kandang dan
kompos, selain dapat digunakan sendiri oleh petani, juga dapat dijual untuk
meningkatkan penghasilan keluarga.
Menurut Devendra (1993) dalam Dwiyanto (2001), ada delapan
keuntungan dari penerapan integrasi usaha tanaman dan ternak (crop-livestock
system), yaitu (1) diversifikasi penggunaan sumberdaya produksi, (2)
mengurangi terjadinya risiko, (3) efisiensi penggunaan tenaga kerja, (4) efisiensi
penggunaan komponen produksi, (5) mengurangi ketergantungan energi kimia
dan energi biologi serta masukan sumberdaya lainnya dari luar, (6) sistem
ekologi lebih lestari dan tidak menimbulkan polusi sehingga melindungi
lingkungan hidup, (7) meningkatkan output, dan (8) mengembangkan rumah
tangga petani yang lebih stabil.
Rangnekar et al. (1995) menyatakan pertanian terpadu mempunyai
peranan komplementer dan juga suplementer di dalam produksi pertanian.
Ternak menjadi sarana penting untuk mengatasi risiko dan daur ulang biomasa.
Ternak diketahui juga dapat berintegrasi secara baik dengan berbagai sistem
tanaman. Devendra (1993) dalam Bruchem dan Zemmelink (1995) menyebutkan
bahwa di dalam skala kecil usahatani terpadu, ternak ruminansia lebih berperan
penting dari pada yang lain karena mampu memanfaatkan serat kasar dari residu
tanaman. Pakan ternak dari bahan ini, walaupun berkualitas rendah, sering
menjadi pakan utama terutama pada musim kering. Ternak ruminansia
mempunyai kegunaan ganda. Selain memproduksi daging dan susu, ternak
dapat menghasilkan kulit untuk pakaian dan input utama usahatani, seperti
kotoran ternak. Ternak juga menjadi sumber uang tunai yang strategis dalam
masa kritis setiap tahun. Ternak juga signifikan menyumbang pendapatan rumah
tangga petani sehingga membantu mengatasi kemiskinan dan meningkatkan
ketahanan pangan rumah tangga.
Dalam upaya pemanfaatan sumberdaya lokal secara optimal, pada
kawasan persawahan dapat dikembangkan usaha pemeliharaan sapi. Hal ini
berkaitan dengan adanya jerami padi yang berlimpah setiap kali musim panen.
Untuk memanfatkan potensi pakan berserat tersebut, perlu dikembangkan
rencana unit usaha yang meliputi unit proses peningkatan kualitas nutrisi jerami
padi, unit pemanfaatan jerami padi yang telah diproses sebagai pakan sapi, unit
pembuatan pupuk organik serta unit pemanfaatan pupuk organik untuk menjaga
kelestraian kesuburan lahan persawahan. Dengan demikian pada satu kawasan
persawahan dapat menghasilkan padi sebagai produk utama, daging sebagai
hasil usaha peternakan.
Penggunaan pupuk organik pada lahan persawahan memberikan peluang
untuk menambah kandungan bahan organik tanah serta mikrobiologi tanah.
Dengan penggunaan pupuk organik juga diharapkan akan mengurangi biaya
pupuk anorganik. Dalam kaitannya dengan penyediaan pupuk organik tersebut,
maka pemeliharaan sapi pada lahan persawahan dan kebun (karet, kelapa sawit)
dapat memberikan peluang besar untuk mengoptimalkan pemanfaatan
sumberdaya yang ada pada kawasan tersebut, misalnya jerami padi yang dapat
digunakan sebagai pakan sapi yang pada gilirannya sapi akan menghasilkan
kotoran yang dapat diproses menjadi pupuk organik. Dengan demikian pada
lahan persawahan tersebut, selain menghasilkan pangan dalam bentuk beras
juga akan mampu menghasilkan daging. Lahan pertanian memerlukan pupuk
organik untuk mempertahankan kesehatan tanah serta kecukupan unsur hara
tanaman. Integrasi sapi pada lahan persawahan ini pada prinsipnya untuk
memanfatkan potensi sumberdaya lokal setempat dalam rangka
mempertahankan kesehatan lahan melalui siklus unsur hara secara sempurna
dari sawah, jerami, sapi pupuk organik dan kembali ke sawah lagi (BPTP, 2003).
Pola integrasi antara tanaman dan ternak atau yang sering disebut
dengan pertanian terpadu, adalah memadukan antara kegiatan peternakan dan
pertanian. Pola ini sangat menunjang dalam penyediaan pupuk kandang di
lahan pertanian, sehingga pola ini sering disebut pola peternakan tanpa limbah
karena limbah peternakan digunakan untuk pupuk, dan limbah pertanian untuk
pakan ternak. Integrasi hewan ternak dan tanaman dimaksudkan untuk
memperoleh hasil usaha yang optimal, dan dalam rangka memperbaiki kondisi
kesuburan tanah. Interaksi antara ternak dan tanaman harus saling melengkapi,
mendukung dan saling menguntungkan, sehingga dapat mendorong peningkatan
efisiensi produksi dan meningkatkan keuntungan hasil usahatani.
Sistem pengolahan ternak sapi/kerbau dalam suatu kawasan pertanian
hendaknya dapat disesuaikan dengan jenis tanaman pangan yang diusahakan.
Ternak yang dipelihara dirancang, sehingga tidak menggangu tanaman yang
diusahakan. Dalam hal ini tanaman pangan sebagai komponen utama dan ternak
menjadi komponen kedua. Ternak diberikan makanan hasil limbah (jerami) dari
sawah, atau ternak dapat digembalakan di pinggir atau pada lahan yang belum
ditanami dan pada lahan setelah pemanenan hasil, sehingga ternak dapat
memanfaatkan limbah tanaman pangan, gulma, rumput, semak dan hijauan
pakan yang tumbuh di sekitar lahan/tempat tersebut. Sistem ini, ternak dapat
mengembalikan unsur hara dan memperbaiki struktur tanah melalui urine dan
kotoran padatnya.
Praktek pertanian terpadu pada dasarnya adalah suatu praktek pertanian
yang telah populer dikalangan petani, bahkan telah banyak dilakukan. Dalam
prakteknya petani dapat memanfaatkan limbah tanaman (misal jerami) sebagai
pakan ternak sehingga tidak perlu mencari pakan lagi, petani juga dapat
menggunakan tenaga sapi/kerbau dalam pengolahan tanah, dan ternak
sapi/kerbau dapat digunakan sebagai investasi (tabungan) yang sewaktu-waktu
dapat dijual untuk keperluan yang mendesak.
Praktek pertanian terpadu merupakan praktek pertanian yang perlu
digalakan, mengingat sistem ini di samping menunjang pola pertanian organik
yang ramah lingkungan, juga mampu meningkatkan usaha peternakan.
Komoditas sapi merupakan salah satu komoditas yang penting yang harus terus
ditingkatkan, sehingga rencana kecukupan daging dalam negeri dan sekaligus
dapat mengurangi bahkan terlepas dari ketergantungan impor daging dan ternak
serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas usaha peternakan. Oleh karena itu,
upaya ini dapat digalakan pada tingkat petani baik dalam rangka penggemukan
ataupun dalam perbanyakan populasi, serta produksi susu. Dengan
meningkatnya populasi ternak sapi akan mampu menjamin ketersediaan pupuk
kandang di lahan pertanian. Sehingga program pertanian organik dapat
terlaksana dengan baik, kesuburan tanah dapat terjaga, dan pertanian bisa
berkelanjutan.
Integrasi ternak dan tanaman, tidak hanya terbatas pada budidaya padi
(pangan) atau hortikultura dengan sapi dan kerbau saja, namun dapat
dikembangkan lebih luas melalui integrasi dalam sistem lahan kering dan
perkebunan. Semuanya tergantung dari usaha pertanian yang dikembangkan
setempat, sehingga limbah pertanian dapat bervariasi seperti misalnya limbah
jerami padi di lahan sawah, limbah jerami jagung di lahan kering, dan limbah dari
berbagai tanaman lainnya. Demikian juga dalam pemilihan jenis ternak, tidak
hanya terbatas pada pengusahaan hewan besar seperti yang telah disebutkan di
atas, namun juga dapat diintegrasikan antara ternak unggas (ayam, itik) atau
ternak lain. Kotoran ternak unggas cukup potensial dimanfaatkan sebagai
pupuk, karena kandungan hara dalam kotoran ayam relatif cukup tinggi yang
dapat mencapai 2,6 % N, 3,1 % P dan 2,4 % K.
Praktek ini juga telah banyak dilakukan di daerah perkebunan. Dengan
praktek ini pemanfaatan lahan dapat dilakukan secara optimal. Di dalam
implementasinya, tanaman perkebunan sebagai komponen utama dan tanaman
rumput dan ternak yang merumput di atasnya merupakan komponen kedua.
Praktek ini dapat diperoleh keuntungan antara lain :(1) dari tanaman perkebunan
dapat menjamin tersedianya tanaman peneduh bagi ternak, sehingga dapat
mengurangi stress karena cuaca yang kurang menguntungkan bagi ternak,
(2) meningkatkan kesuburan tanah melalui proses kembalinya air seni dan
kotoran berupa padatan ke dalam tanah, (3) meningkatkan kualitas pakan
ternak, serta membatasi pertumbuhan gulma, (5) meningkatkan hasil tanaman
perkebunan dan (6) meningkatkan keuntungan ekonomis termasuk hasil
ternaknya.
Konsep dan pemikiran sistem integrasi ternak-tanaman dalam menunjang
kebijakan pengembangan agribisnis peternakan menjadi sangat penting selain
upaya meningkatkan produktivitas pertanian secara terpadu. Peranan
peternakan dalam ekosistem mempunyai posisi yang cukup penting dengan
adanya keuntungan-keuntungan sampingan seperti produksi pupuk kandang
yang mutlak dibutuhkan dalam melestarikan tanah sebagai basis ekologi,
disamping menunjang sektor kehidupan sebagai produsen hewani dan tenaga
kerja. Dengan demikian kesuburan tanah dapat ditingkatkan yang selanjutnya
dapat meningkatkan produksi usahatani per satuan luas tanah. Disisi lain, hasil
sampingan dari tanaman yang diusahakan dapat dimanfaatkan sebagai makanan
ternak.
Interaksi ternak dengan tanah menurut Idham et al. (2005) mempunyai
tiga aspek yaitu: 1) adaptasi ternak secara biologi, 2) kemampuan lahan
menghasilkan hijauan pakan ternak dan 3) pola pemeliharaan dan daya tampung
areal yang tersedia. Gambar 30 menunjukkan integrasi antara tanaman baik
tanaman pangan dan tanaman perkebunan dengan ternak sapi, kambing, ayam
dan itik. Dari tanaman pangan dan tanaman perkebunan dapat diperoleh hasil
segar tanaman. Selain itu, juga diperoleh limbah yang dapat dijadikan sebagai
pakan ternak atau limbah tersebut diolah terlebih dahulu menjadi kompos.
Ternak, selain dapat menghasilkan produk segar, juga menghasilkan limbah
padat dan cair yang dapat digunakan dalam proses pembuatan kompos.
Integrasi tanaman dan ternak ini pada akhirnya dapat memberikan pendapatan
tambahan bagi petani (Rustam et al., 2009).
Gambar 30 Sistem usahatani terpadu di adopsi dari Rustam et al. (2009)

Untuk mendapatkan gambaran tentang sejauh mana keuntungan yang


dapat diperoleh dari hasil usaha peternakan, maka berikut ini disajikan hasil
analisis ekonomi usaha peternakan, khususnya ternak sapi, kambing, itik dan
ayam. Perhitungan di bawah ini hanya difokuskan kepada pendapatan dari hasil
penjualan daging dan telur, tanpa diikuti dengan perhitungan pendapatan dari
limbah (urine dan feces) yang dihasilkan oleh masing-masing ternak tersebut.

1. Ternak Sapi

Sapi merupakan salah satu jenis ternak yang sudah dikenal secara luas
dikalangan masyarakat perdesaan, bahkan telah banyak diusahakan baik untuk
skala peternakan rakyat maupun skala peternakan besar. Menurut Soehadji
(1992), komposisi peternakan rakyat untuk masing-masing jenis ternak
pengusahaan sapi potong dan sapi perah mencapai 99,6%, dan 91,1%. Namun,
kontribusi usaha ternak sapi terhadap pendapatan usahatani keluarga relatif
masih rendah. Untuk itu, pengembangan usaha ternak sapi menjadi suatu
sistem agribisnis hendaknya lebih mengutamakan kesejahteraan dan tidak
mematikan usaha peternakan rakyat. Melihat kondisi sosial ekonomi peternak
yang ada di perdesaan dengan mata pencaharian utama sebagai petani, maka
pengembangan agribisnis peternakan rakyat tidak terlepas dari usahatani
lainnya, sehingga peningkatan skala usaha ternak harus mengkombinasikan
berbagai faktor produksi yang dimiliki agar hasil yang diperoleh lebih optimal
(Noferdiman dan Novra, 2002).
Hasil analisis Tim Peneliti P3R Unram (2004) menunjukkan bahwa
pengembangan ternak sapi bali secara finansial layak untuk dikembangkan. Nilai
B/C rasio untuk sistem pemeliharaan terkurung untuk penggemukan (feed lot)
sebesar 1,12; sedangkan nilai B/C rasio untuk sistem penggembalaan bersama
sebesar 1,19 dan mini ranc sebesar 1,10. Sebagai perbandingan, rata-rata
penghasilan bersih yang diperoleh dari hasil penggemukan ternak sapi sebesar
Rp300 000,- sampai Rp400 000,- per ekor per per bulan dengan rentang waktu 4
– 5 bulan untuk setiap kali periode pemeliharaan. Untuk saat ini harga sapi yang
akan digemukkan berkisar antara Rp3,5 – 4 juta, kemudian setelah dipelihara 4 –
5 bulan dapat dijual dengan harga Rp5 – 5,5 juta. Sementara itu untuk
pengembangan sapi bibit, rata-rata lama waktu pemeliharaan sampai
menghasilkan bibit yang bisa dijual adalah 1 (satu) tahun dengan harga jual
berkisar antara Rp1,6 – 2 juta. Jadi rata-rata penghasilan setiap bulannya
berkisar antara Rp125 000,- sampai Rp170 000,-. Penghasilan sebesar ini
diperoleh tanpa membeli pakan (zero cost), dimana pakan disediakan sendiri
oleh peternak, baik untuk penggemukan maupun pembibitan.

2. Ternak Kambing

Kambing merupakan salah satu komoditas ternak yang cukup potensial


untuk dikembangkan. Ternak ini banyak dipelihara di perdesaan, karena telah
dikenal kemampuannya beradaptasi pada lingkungan yang sederhana, miskin
pakan, dan dapat lebih efesien dalam mengubah pakan berkualitas rendah
menjadi air susu dan daging. Selain itu, pemeliharaannya relatif muda, kambing
juga sebagai penghasil kompos dan merupakan tabungan keluarga sewaktu-
waktu dapat dijual. Pemeliharaan ternak ini hanya memerlukan luasan lahan
yang relatif sempit, mudah dipasarkan, biaya pemeliharaannya rendah, dapat
memanfaatkan hasil sampingan pertanian, dan mempunyai adaptasi yang tinggi
dengan risiko yang rendah (Knipscheer et al., 1983).
Ternak kambing cukup banyak dipelihara petani di lokasi penelitian,
disamping usahatani tanaman pangan, perkebunan dan perikanan. Potensi
pengembangan usahatani tanaman – ternak di lokasi penelitian cukup besar
mengingat produktivitas tanaman padi yang dihasilkan belum maksimal.
Hasil analisis usaha ternak kambing oleh Badan Pengkajian Pertanian
Lampung (2009), menunjukkan bahwa dari 9 (sembilan) ekor yang terdiri atas 1
(satu) jantan dan 8 (delapan) ekor betina dapat diperoleh pendapatan sebesar
Rp1 166 150 per tahun. Uraian selengkapnya disajikan pada Tabel 66.
Tabel 66 Analisa usahatani ternak kambing (skala usaha 9 ekor) dengan
pemberian Blok Suplemen Pakan (BSP)
Perlakuan
Uraian Kontrol + BSP
Penerimaan (Rp/th) 8 019 750 9 274 500
Total biaya (Rp/th) 6 853 600 5 389 500
Pendapatan (Rp/th) 1 166 150 2 165 300
Ket : Skala usaha 9 ekor (1 pejantan + 8 induk)
Pakan tradisional petani (hijauan/limbah pertanian)
Sumber: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung (2009)

3. Ternak Itik

Meskipun tidak sepopuler ternak ayam, itik mempunyai potensi yang


cukup besar sebagai penghasil telur dan daging. Jika dibandingkan dengan
ternak unggas yang lain, ternak itik mempunyai kelebihan diantaranya adalah
memiliki daya tahan terhadap penyakit. Oleh karena itu, usaha ternak itik
memiliki risiko yang relatif lebih kecil, sehingga sangat potensial untuk
dikembangkan (Budiraharjo, 2006). Hasil sarasehan pengembangan peternakan
itik di Jawa Tengah, ternak itik merupakan salah satu aset nasional dan sekaligus
komoditas yang bisa diandalkan sebagai sumber gizi dan sumber pendapatan
masyarakat.
Menurut Suparwoko dan Waluyo (2009) ternak itik mempunyai potensi
yang cukup potensial di lahan rawa lebak dengan menggunakan paket teknologi
perlakukan pakan dan pemeliharaan secara semi intensif dan intensif. Hasil
pengkajian yang dilakukan, angka kematian sangat rendah pada semi intensif
dan tidak ada kematian pada pemeliharaan secara intensif. Dan sistem
pemeliharaan secara semi intensif dapat meningkatkan produksi telur sebesar
40,36%.
Hasil penelitian Anggraeni (2002) menunjukkan bahwa pendapatan usaha
ternak itik dalam sebulan berdasarkan sistem pemeliharaan tradisional dapat
mencapai Rp370 494,51,- per bulan dengan jumlah itik yang diusahakan
sebanyak 50 ekor. Hasil selengkapnya disajikan pada Tabel 67.
Tabel 67 Rata-rata pendapatan peternak itik sistem pemeliharaan tradisional
(Rp/Bulan)
Uraian Sistem pemeliharaan tradisional
50 ekor 200 ekor >500 ekor
Penerimaan 463 500 1 854 000 8 037 090
Total biaya 93 005,49 372 021,96 984 068
Pendapatan 370 494,51 1 481 978,04 7 053 022
Sumber: diolah dari Anggraeni (2002)

4. Ternak Ayam

Ternak ayam, merupakan jenis unggas yang telah umum diusahakan oleh
masyarakat perdesaan, khususnya ayam buras (lokal). Ayam buras merupakan
singkatan dari Ayam Bukan Ras atau ayam kampung Suci (2009). Dari beberapa
hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha ternak ayam buras dapat diandalkan
sebagai sumber pendapatan keluarga (cash income), sebagai tabungan dan
membantu dalam penyediaan pangan bergizi hewani (Togatorop, 1994). Ayam
buras juga diketahui mampu beradaptasi dengan baik pada berbagai lingkungan,
sehingga dapat ditemukan diseluruh pelosok Indonesia (Zubaedah, 1993).
Namun demikian usaha ini, masih menemui berbagai kendala, seperti
tingginya tingkat kematian. Hal ini lebih disebabkan oleh latar belakang teknis
pemeliharaan oleh masyarakat, yang memperlakukan sebagai usaha sampingan,
dengan tujuan untuk diambil daging dan telurnya sebagai penambah gizi
keluarga serta dijual pada saat membutuhkan uang. Dengan kata lain, usaha ini
hanya merupakan pelengkap, tanpa didorong oleh manfaat lain dari hasil ternak
ayam tersebut. Oleh karena itu, cara pandang seperti ini perlu dirubah ke arah
sistem beternak yang lebih baik atau berorientasi agribisnis. Peternak ayam
buras, biasanya membiarkan ayam-ayam mereka berkeliaran (diumbar) di kebun
atau di pekarangan dalam mencari makan, karena peternak jarang memberi
pakan pada ayam-ayamnya.
Mengingat keberadaan dan pemilikan ayam buras yang sudah umum
dikalangan masyarakat di perdesaan, maka usaha untuk meningkatkan peranan
ayam buras dalam upaya meningkatkan produktivitas serta pengembangan
sistem produksi yang lebih baik. Upaya ini dapat dimulai dengan jalan
melakukan penyeleksian terhadap bibit-bibit ayam. Selanjutnya diikuti dengan
perbaikan sistem pemeliharaan. Perbaikan sistem pemeliharaan meliputi sistem
perkandangan, perbaikan mutu pakan dan pemeliharaam kesehatan ternak.
Selain faktor teknis, juga perlu adanya pembinaan motivasi ke arah usaha yang
bernilai ekonomis untuk peningkatan pendapatan keluarga petani. Untuk
mencapai keberhasilan tersebut, maka perlu dilakukan suatu program
penyuluhan dan pembinaan untuk meningkatkan pengetahuan petani dalam
melakukan usahatani ayam buras yang lebih ekonomis.
Hasil penelitian Suci (2009) menunjukkan bahwa pendapatan usaha
ternak ayam dalam setahun berdasarkan sistem pemeliharaan umbaran atau
tradisional dapat mencapai Rp1 494 900 per tahun dengan jumlah ayam buras
yang diusahakan sebanyak 10 ekor. Hasil selengkapnya disajikan pada Tabel 68.

Tabel 68 Analisis ekonomi usaha ternak ayam (Rp/th)


No Uraian Biaya (Rp)
I. Investasi (Modal tetap)
- Kandang 150 000
- Induk 150 000
- Anak + pemanas 100 000
- Bibit ayam betina 9 ekor 270 000
- Bibit ayam jantan 1 ekor 35 000
Jumlah 705 000
II. Biaya Produksi 1 tahun
a. Pakan
- Ayam dewasa 912 500
- Ayam muda 2-4 bulan 567 000
- Anak ayam 0 – 2 bulan 972 000
b. Vaksin
- Induk + jantan 4 000
- Ayam muda 19 800
- Anak ayam 43 000
c. Penyusutan kandang 20% 80 000
Jumlah 2 498 300
III. Pendapatan
- Produksi telur ±35 butir/periode 583 200
- Penjualan ayam 45 ekor x Rp 22000/ekor 3 510 000
Jumlah 4 093 200
Keuntungan dalam setahun (I – II – III) 1 494 900
Sumber: Suci (2009)

Dari uraian-uraian di atas, selanjutnya dilakukan simulasi integrasi pola


pertanian terpadu. Hal ini dimasudkan untuk memperoleh pola integrasi antara
tanaman dan ternak yang dapat dilakukan di kedua lokasi penelitian. Pola
integrasi ini dilakukan, dengan mempertimbangan ketersediaan dan kesesuaian
lahan, karakteristik petani dan pengetahuan petani terhadap usaha ternak
tersebut. Dan hal yang juga perlu mendapatkan perhatian dari hasil simulasi ini
adalah seberapa besar kontribusi dari usaha tersebut dapat meningkatkan
pendapatan petani. Simulasi pola pertanian terpadu yang memungkinkan untuk
diimplementasikan di kedua lokasi penelitian ini secara rinci disajikan pada Tabel
Lampiran 19. Selanjutnya dari hasil simulasi pola integrasi Tabel Lampiran 19,
dilakukan juga perhitungan besarnya kanaikan pendapatan yang diperoleh petani
dari masing-masing pola usahatani yang disusun. Hasil tersebut berupa asumsi
penerimaan usahatani sebagaimana disajikan pada Tabel Lampiran 20.
Estimasi pendapatan dari hasil simulasi model pertanian terpadu di Desa
Sungai Ambangah Tabel Lampiran 20, menunjukkan bahwa untuk integrasi
tanaman dengan ternak sapi bentuk p11 (padi – ratun – padi, karet, kelapa
sawit) diperoleh pendapatan tertingi sebesar Rp24 468 000,- per tahun diikuti
bentuk p19 (padi – padi, kelapa sawit), bentuk p15 (padi – ratun, karet, kelapa
sawit). Selanjutnya integrasi dengan ternak kambing model p34 (padi – ratun –
padi, karet, kelapa sawit) diperoleh pendapatan tertinggi sebesar Rp23 033 000,-
per tahun diikuti model p42 (padi – padi, karet, kelapa sawit), bentuk p38 (padi –
ratun – jagung, karet, kelapa sawit). Selanjutnya integrasi dengan ternak itik
bentuk p57 (padi – ratun – padi, karet, kelapa sawit) diperoleh pendapatan
tertinggi sebesar Rp25 314 000,- per tahun diikuti model p65 (padi – padi, karet,
kelapa sawit), bentuk p61 (padi – ratun – jagung, karet, kelapa sawit).
Selanjutnya integrasi dengan ternak ayam model p80 (padi – ratun – padi) dan
karet dan kelapa sawit diperoleh pendapatan tertinggi sebesar Rp22 362 900,-
per tahun diikuti bentuk p88 (padi – padi, karet, kelapa sawit), bentuk p84 (padi –
ratun – jagung, karet, kelapa sawit).
Estimasi pendapatan dari hasil simulasi model pertanian terpadu di Desa
Pasak Piang Tabel Lampiran 21, menunjukkan bahwa untuk integrasi dengan
ternak sapi model p11 (padi – ratun – padi) dan karet dan kelapa sawit diperoleh
pendapatan tertingi sebesar Rp29 862 350,- per tahun diikuti bentuk p19 (padi –
padi, kelapa sawit), model p7 (padi – ratun, karet, kelapa sawit). Selanjutnya
integrasi dengan ternak kambing bentuk p34 (padi – ratun – padi, karet, kelapa
sawit) diperoleh pendapatan tertinggi sebesar Rp28 427 350,- per tahun diikuti
bentuk p42 (padi – padi, karet, kelapa sawit), bentuk p38 (padi – ratun – jagung,
karet, kelapa sawit). Selanjutnya integrasi dengan ternak itik bentuk p57 (padi –
ratun – padi – karet, kelapa sawit) diperoleh pendapatan tertinggi sebesar
Rp30 708 350,- per tahun diikuti bentuk p65 (padi – padi – karet, kelapa sawit),
bentuk p61 (padi – ratun – jagung, karet, kelapa sawit). Selanjutnya integrasi
dengan ternak ayam bentuk p80 (padi – ratun – padi, karet, kelapa sawit)
diperoleh pendapatan tertinggi sebesar Rp28 427 350,- per tahun diikuti bentuk
p88 (padi – padi – karet, kelapa sawit), bentuk p84 (padi – ratun – jagung, karet,
kelapa sawit).
Dari hasil simulasi penyusunan pola integrasi Tabel Lampiran 19,
selanjutnya dipilah masing-masing berdasarkan jenis tanaman dan jenis ternak.
Adapun integrasi tersebut terdiri atas integrasi padi, jagung, karet dan kelapa
sawit. Uraian lebih selengkapnya untuk masing-masing pola tanam tersebut
disajikan berikut ini.

1. Pola usahatani padi dan jagung berbasis sumberdaya tanaman lokal


Berikut ini Tabel 69, memperlihatkan bentuk-bentuk pola usahatani antara
tanaman padi dan jagung dengan masing-masing jenis ternak.

Tabel 69 Pola usahatani (padi) dan jenis ternak


Musim tanam dengan berbagai pola dan ternak
Simbol pola
No MT 1 MT 2 Jenis ternak
tanam
Padi Ratun Padi/Jagung
Pola usahatani (padi) dan jenis ternak
1. p1 padi - - Sapi
2. p24 padi - - Kambing
3. p47 padi - - Itik
4. p70 padi - - Ayam
Pola usahatani (padi - ratun) dan jenis ternak
1. p4 padi ratun - Sapi
2. p27 padi ratun - Kambing
3. p50 padi ratun - Itik
4. p73 padi ratun - Ayam
Pola usahatani (padi - ratun - padi) dan jenis ternak
1. p8 padi ratun padi Sapi
2. p31 padi ratun padi Kambing
3. p54 padi ratun padi Itik
4. p77 padi ratun padi Ayam
Pola usahatani (padi - ratun - jagung) dan jenis ternak
1. p12 padi ratun jagung Sapi
2. p35 padi ratun jagung Kambing
3. p58 padi ratun jagung Itik
4. p81 padi ratun jagung Ayam
Pola usahatani (padi - padi) dan jenis ternak
1. p16 padi - padi Sapi
2. p39 padi - padi Kambing
3. p62 padi - padi Itik
4. p85 padi - padi Ayam
Pola usahatani (padi - jagung) dan jenis ternak
1. p20 padi - jagung Sapi
2. p43 padi - jagung Kambing
3. p66 padi - jagung Itik
4. p89 padi - jagung Ayam
Sumber: Hasil olahan
Selanjutnya Tabel 70 berikut ini memperlihatkan bentuk-bentuk pola
integrasi dan musim tanam padi dan jagung terhadap masing-masing jenis
ternak.
Tabel 70 Berbagai pola tanam padi dan jagung terhadap jenis ternak
Musim tanam, pola tanam dan jenis ternak
Simbol pola
MT1 MT2 Jenis ternak
tanam
Padi ratun Padi/Jagung
p1 Padi - - Sapi
p4 Padi Ratun - Sapi
p8 Padi Ratun Padi Sapi
p12 Padi Ratun Jagung Sapi
p16 Padi - Padi Sapi
p20 Padi - Jagung Sapi

p2 Padi - - Kambing
p27 Padi Ratun - Kambing
p31 Padi Ratun Padi Kambing
p35 Padi Ratun Jagung Kambing
p39 Padi - Padi Kambing
p43 Padi - Jagung Kambing

p47 Padi - - Itik


p50 Padi Ratun - Itik
p54 Padi Ratun Padi Itik
p58 Padi Ratun Jagung Itik
p62 Padi - Padi Itik
p66 Padi - Jagung Itik

p70 Padi - - Ayam


p73 Padi Ratun - Ayam
p77 Padi Ratun Padi Ayam
p81 Padi Ratun Jagung Ayam
p85 Padi - Padi Ayam
p89 Padi - Jagung Ayam
Sumber: Hasil olahan

2. Pola usahatani Karet


Berikut ini Tabel 71 memperlihatkan bentuk-bentuk integrasi tanaman
perkebunan khususnya tanaman karet dengan masing-masing ternak.
Tabel 71 Pola integrasi tanaman karet dan jenis ternak
Pola tanamam karet dan ternak
No Simbol pola tanam
Tanaman Jenis ternak
1. p2 Karet Sapi
2. p25 Karet Kambing
3. p48 Karet Itik
4. p71 karet Ayam
Sumber: Hasil olahan
3. Pola usahatani Kelapa Sawit

Berikut ini Tabel 72 memperlihatkan bentuk-bentuk integrasi tanaman


perkebunan khususnya tanaman kelapa sawit dengan masing-masing jenis
ternak.
Tabel 72 Pola integrasi tanaman kelapa sawit dan jenis ternak
Pola tanamam perkebunan dan ternak
No Simbol pola tanam
Tanaman Jenis ternak
1. p3 Kelapa sawit Sapi
2. p26 Kelapa sawit Kambing
3. p49 Kelapa sawit Itik
4. p72 Kelapa sawit Ayam
Sumber: Hasil olahan

7.4 Model Pengembangan Usahatani Berdasarkan Pola Tanam


Tanaman Setahun

Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumberdaya hayati yang


dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri atau
sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Kegiatan
pemanfaatan sumberdaya hayati yang termasuk dalam pertanian biasa difahami
orang sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam (bahasa Inggris: crop
cultivation) serta pembesaran hewan ternak (raising), meskipun cakupannya
dapat pula berupa pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim dalam
pengolahan produk lanjutan, seperti pembuatan keju dan tempe, atau sekedar
ekstraksi semata, seperti penangkapan ikan atau eksploitasi hutan (Wikipedia
diakses tanggal, 23 Maret 2011). Atau dapat diartikan sebagai suatu sistem
produksi yang kompleks dengan melibatkan berbagai proses fisik, kimia dan
biologi dalam memproses input untuk menghasilkan produk (output).
Ketentuan dan implementasi dari model pengembangan usahatani lahan
rawa lebak (UTLRL) hasil penelitian ini yaitu dengan menerapkan sistem
pertanian terpadu. Penerapan konsep pertanian ini dimaksudkan agar supaya
terjadi peningkatkan produksi dan pendapatan petani di kawasan rawa lebak.
Konsep pengelolaan tanaman secara terpadu dan sekaligus sumberdaya
terpadu, melalui pengelolaan tanaman dan sumberdaya secara terintegrasi dan
dengan dukungan teknologi yang memiliki efek sinergis sehingga mampu
meningkatkan produktivtas tanaman secara berkelanjutan (sustainable). Adapun
ciri dari konsep pengelolaan tanaman dan sumberdaya secara terpadu, yaitu:
1. Keterpaduan/Integrasi
Keterpaduan yang dimaksudkan adalah tidak hanya terbatas pada
keterpaduan tanaman dan sumberdaya input, namun melibatkan keterpaduan
yang luas, meliputi keterpaduan institusi (pemerintah ataupun swasta),
sumberdaya alam, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta keterpaduan analisis.
Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan tanaman secara terpadu, tidak hanya
mempertimbangkan subsistem produksi tetapi sudah merencanakan sampai
kepada subsistem pemasaran, termasuk kelembagaan pendukung sehingga
kegiatan usahatani dapat berjalan secara berkesinambungan.
2. Sinergisme
Efek sinergisme adalah efek yang saling mendukung/menguatkan antara
komponen yang satu dengan komponen lainnya. Pemanfaatan sinergisme antara
komponen-komponen produksi yang akan diterapkan bertujuan untuk
mendapatkan output hasil yang lebih tinggi. Misalnya penggunaan teknologi
pembuat kompos, mekanisme dan proses yang dibuat selain dapat digunakan
untuk memupuk tanaman sehingga akan menaikkan ketersediaan unsur hara
yang ada di lapisan olah tanah, sehingga pertumbuhan tanaman dapat lebih
optimal yang pada gilirannya akan meningkatkan produksi secara lebih efisien.
Penggunaan varietas unggul, akan lebih bersinergi dengan kualitas benih yang
prima (baik kualitas genetik, fisik ataupun kualitas fisiologi) dengan kriteria daya
tumbuh benih yang lebih seragam (minimal 90%). Benih dengan kualitas yang
lebih prima dapat tumbuh lebih cepat, perakarannya akan tumbuh lebih kuat
dengan distribusi akar yang lebih baik sehingga dapat memanfaatkan air dan
unsur hara secara optimal.
3. Partisipatif
Pendekatan partisipatif merupakan pendekatan dengan cara melibatkan
semua pihak yang berkepentingan mulai dari petani, swasta, penyuluh serta
instansi terkait mulai dari identifikasi, pelaksanaan sampai kepada evaluasi
kegiatan. Dengan demikian komponen utama yang akan di integrasikan dalam
sistem ini dapat berjalan secara kontinyu karena telah mengakomodasikan dan
mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan petani yang pada umumnya
kekurangan modal untuk mengelola usahataninya secara optimal. Dalam
penerapannya, partisipasi petani dan swasta sangat diperlukan untuk
menentukan pengembangan yang akan dilakukan di lahannya. Misalnya
introduksi pembuat alur, alat penyiang, mesin pengola hasil dan penyediaan
benih unggul berkualitas serta penyediaan pupuk perlu partisipasi swasta yang
dapat bermitra dengan petani dalam menyediakan sarana produksi, penyediaan
jasa alsintan (alat dan mesin pertanian) serta dapat menampung hasil usahatani
dengan harga yang layak. Dengan cara tersebut akan tercipta suatu pola
kemitraan dengan asas saling membutuhkan dan saling menguntungkan
sehingga baik petani maupun swasta memiliki posisi tawar yang kuat. Oleh
sebab itu, dalam implementasinya, penerapan sistem pertanian terpadu di awali
dengan identifikasi permasalahan baik masalah teknis, maupun sosial-ekonomi
dan budaya, mengetahui potensi sumberdaya, baik sumberdaya lahan atau
buatan yang dapat menunjang keberhasilan melalui studi pemahaman
perdesaan partisipatif (PRA/Participartory Rural Appraisal).
Pemilihan komponen pendukung lainnya yang tepat dalam rangka
penerapan pelaksanaan pertanian terpadu, merupakan hal yang penting untuk
mendapatkan sinergisme yang tinggi. Dalam penerapannya, ada berbagai
komponen yang perlu mendapatkan perhatian dan perbaikan, yaitu (1) pola
usahatani, benih atau bibit unggul, (2) pemeliharaan dan pemupukan, (3)
ketersediaan modal usahatani, (4) petani dan kelompok tani, (5) ketersediaan
lembaga keuangan mikro, (6) peran aktif lembaga penyuluh pertanian, (7)
dukungan lembaga riset dan perguruan tinggi dan (8) pengelolaan pascapanen
dan pemasaran hasil.
Beberapa faktor atau komponen yang menyusun model ini dapat dipilah
atas faktor input, proses dan output. Tujuan akhir yang ingin dicapai atau output
dari model ini adalah berupa terjadinya peningkatan produksi dan pendapatan
petani. Uraian lebih lanjut tentang faktor input, proses dan output adalah berikut:
1. Pola usahatani, benih atau bibit unggul.
Penggunaan bahan tanaman yang bermutu bersertifikat merupakan
salah satu aspek penting dalam mendukung keberhasilan pengelolaan
tanaman. Peran benih sangat penting pada komoditas pertanian, karena
benih merupakan carrier technologi. Benih/bibit merupakan cetak biru dalam
pengembangan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing,
berkelanjutan, berkerakyatan, dan terdesentralisasi. Oleh sebab itu,
ketersediaan benih/bibit bermutu dari varietas/jenis unggul sangat strategis
karena menjadi tumpuan utama dalam pencapaian keberhasilan usahatani.
Industri benih/bibit sebagai salah satu subsistem dalam sistem agribisnis
bersifat profit oriented, maka peran pemerintah untuk mengupayakan kondisi
yang menguntungkan (favorable), mulai dari pelestarian dan pengelolaan
plasma nutfah sebagai materi genetik varietas/jenis unggul, pengembangan
varietas unggul, produksi benih/bibit dan sertifikasi, hingga pengawasan
mutu benih/bibit.
Pada saat ini penggunaan benih unggul dan bermutu masih belum
optimal, dan masih terbatas untuk usaha pertanian khususnya skala
perusahaan dan kegiatan yang dibiayai dan terbatas pada beberapa
komoditi antara lain kelapa sawit, kakao, kapas dan tembakau.
Permasalahan pokok yang menyebabkan rendahnya adopsi varietas unggul
tanaman yaitu ketidaktahuan adanya benih unggul dan bermutu, terbatasnya
ketersediaan dan sekaligus distribusi benih unggul juga masih terbatas.
Penggunaan benih unggul dan bermutu merupakan salah satu faktor
yang berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas. Dalam penggunaan
benih unggul dapat diperoleh keuntungan antara lain dapat meningkatkan
produksi per satuan luas dan per satuan waktu, disamping itu meningkatkan
mutu hasil yang pada gilirannya meningkatkan pendapatan petani.
Pemilihan suatu jenis tanaman yang akan digunakan disuatu daerah
biasanya didasarkan pada kesesuaian varietas dengan lingkungan
pertumbuhan setempat (spesifik lokasi) serta sesuai dengan kebutuhan
petani. Dalam banyak kasus, petani pada umumnya kekurangan modal
untuk menerapkan usahataninya secara optimal. Karena itu, banyak petani
menggunakan benih dari penanamannya sendiri tanpa seleksi lapangan 2-3
generasi untuk hibrida dan beberapa siklus untuk jenis bersari bebas, kecuali
pada wilayah pengembangan yang telah terbentuk kemitraan antara petani
dengan pengusaha benih.
Benih dengan kualitas yang prima (daya tumbuh dan vigornya cukup
tinggi) diperlukan untuk memacu keseragaman dan kecepatan pertumbuhan.
Benih dengan kualitas fisiologi yang tinggi (daya tumbuh minimal 90%) juga
lebih toleran pada kondisi lingkungan tumbuh yang kurang optimal
dibandingkan benih dengan kualitas fisiologi yang lebih rendah, serta lebih
efektif memanfaatkan pupuk dan hara lain yang ada di dalam tanah. Pada
lingkungan pertumbuhan yang sama dengan manipulasi hara yang sama,
benih dengan vigor yang tinggi akan tumbuh lebih baik.
Selain penggunaan benih atau bibit unggul, untuk meningkatkan hasil
tanaman diperlukan berbagai input produksi diantaranya pupuk, pestisida,
dan herbisida. Selain itu, penerapan sistem budidaya tanaman berupa
pengaturan pola tanam (cropping patern) dalam rangka optimalisasi
pemanfaatan sumberdaya lahan, juga bertujuan untuk meningkatkan
produksi per satuan luas lahan. Sebagaimana diketahui bahwa pola tanam,
dapat meningkatkan hasil tanaman. Pola tanam adalah suatu sistem dalam
menentukan jenis-jenis tanaman atau pergiliran tanaman, pada suatu daerah
tertentu yang disesuaikan dengan ketersediaan air yang ada pada periode
musim hujan dan musim kemarau. Mengacu kepada kebijakan
pembangunan pertanian, pengembangan pola tanam dan diversifikasi
usahatani di lahan sawah memiliki justifikasi yang kuat.
Bersamaan dengan kebijakan diversifikasi tersebut di atas, perlu terus
dilakukan penelitian dan pengembangan pola tanam dengan
mempertimbangkan aspek yang luas pada berbagai agroekosistem.
Pelaksanaan penelitian dan pengembangan pola tanam mengacu pada
kerangka kerja dan metodologi yang diarahkan untuk memenuhi beberapa
tujuan (Partodiharjo, 2003): (a) penelitian dan pengembangan pola tanaman
harus berkaitan erat dengan mempertimbangkan kondisi fisik, sosial
ekonomi, dan peluang yang tersedia; (b) pelibatan petani dalam
perancangan dan pengkajian pola tanam yang dikaji dalam rangka
perolehan umpan balik dan memperlancar proses adopsi teknologi; (c)
keikutsertaan peneliti dengan tim yang bersifat multi-disiplin dari bidang
keahlian ilmu tanah, tanaman, perlindungan tanaman, dan sosial ekonomi;
dan (d) penekanan sasaran penelitian dan pengembangan pola tanam untuk
meningkatkan intensitas tanam dan dapat diterima petani.
Diversifikasi usahatani dan pertanian bukanlah hal yang baru bagi
sebagian besar petani skala kecil di Indonesia (Kasryno, 2000). Pada
awalnya, petani melakukan diversifikasi usahatani adalah untuk memenuhi
keragaman kebutuhan konsumsi keluarga. Dalam konteks ekonomi,
diversifikasi pertanian diarahkan untuk memenuhi permintaan pasar dan
meningkatkan pendapatan petani dengan tingkat stabilitas yang lebih tinggi.
Dengan demikian diversifikasi pertanian (demand driven farming system
diversication) memerlukan instrument kebijakan pembangunan pertanian
yang berbeda dengan diversifikasi intensifikasi usahatani (supply driven)
dengan sasaran utama memenuhi kebutuhan dan memperoleh surplus
produksi (Rusastra, 2004). Dalam penerapan pola tanam, biasanya
tanaman palawija diusahakan dalam bentuk pergiliran tanaman di lahan
sawah tadah hujan dan sawah berpengairan. Adapun pola tanam yang
umumnya dianjurkan menurut Tanga (2007) berdasarkan ketersediaan
irigasi sebagaimana Tabel 73.
Tabel 73 Pola tanam pada suatu daerah irigasi

Ketersediaan air Pola tanam

Air cukup Padi – padi palawija

Air terbatas Padi – padi – palawija (sebagian areal) atau

Padi – padi (sebagian areal) - palawija

Air sangat terbatas Padi – palawija – palawija

Sumber: Tanga (2007)

Pola tanam merupakan sub sistem dari sistem budidaya tanaman,


merupakan jenis-jenis tata urutan tanaman yang diusahakan pada sebidang
tanah tertentu selama satu jangka waktu tertentu. Komponen-komponen
penting dalam sistem pola tanam yaitu agroklimat, tanah, tanaman, teknik
budidaya, dan sosial ekonomi. Sasaran utama penerapan pola tanam yang
tepat adalah produksi yang secara agronomis dapat mencapai hasil yang
maksimum.
Tujuan dari penerapan pola tanam diantaranya adalah: (1)
menghindarkan adanya ketidakseragaman tanaman, (2) melaksanakan
waktu tanam sesuai dengan jadual yang telah ditetapkan, (3) efesien dalam
hal penggunaan air irigasi, (4) mempertahankan kontinuitas hasil tanaman,
(5) meningkatkan hasil tanaman, dan (6) dapat mengurangi biaya
pemeliharaan.
Pada umumnya lahan rawa lebak dapat ditanami jenis palawija varietas
unggul berumur pendek yang penanamannya dilakukan setelah padi,
pemanfaatan lahan rawa lebak dapat dilakukan dengan baik pada umumnya
disaat awal musim kemarau. Pola tanam yang biasa digunakan yaitu: pola
tanam satu kali dalam setahun dan pola tanam dua kali dalam setahun.
Bentuknya adalah sebagaimana Tabel 74.
Tabel 74 Pola tanam di rawa lebak

Pola Tanam Jenis Tanaman

Satu kali tanam dalam setahun Padi

Jagung

Dua kali tanam dalam setahun Padi – padi

Padi – jagung

Berbagai pola penanaman tumpangsari juga diketahui telah terbukti


unggul dalam pola tanam di lahan kering (Indrawati et al., 1993). Di samping
sebagai upaya diversifikasi komoditas, pola tumpangsari terbukti dapat
memanfaatkan lahan dan energi dengan lebih baik (Karimuna dan Daud,
1992). Sebagai contoh hasil penelitian Pribadi (2007), pola tanam jagung
dan sambiloto, dapat memanfaatkan komponen agroekosistem lahan apabila
tersusun dalam suatu bentuk kombinasi yang memiliki sifat saling
melengkapi (komplementari) dan berhubungan dalam interaksi yang bersifat
sinergis (positif). Interaksi yang terjadi dalam bentuk pola tanam ini dapat
mendorong terjadinya efisiensi produksi, pencapaian produksi yang optimal,
dan peningkatan diversifikasi usaha, peningkatan daya saing produk
pertanian yang dihasilkan, sekaligus mempertahankan dan melestarikan
sumberdaya lahan.
Selain pola tanam, sistem penanaman ratun adalah suatu teknis
budidaya yang cukup strategis diterapkan dalam sistem usahatani padi di
rawa lebak. Pada sistem ratun, spesies padi yang memiliki "high
regeneration ability", (keturunan padi liar Oryza longistaminafa) mampu
menghasilkan tunas-tunas ratun yang produktif dari rumpun setelah dipanen
dan sangat sesuai untuk dikembangkan dalam sistem ratun (De Data dan
Bernasor, 1988). Pada daerah tertentu, panen kedua diharapkan dapat
dicapai melalui pemanfaatan ratun. Ratun atau singgang (Jawa) atau turiang
(Sunda) merupakan rumpun tanaman padi yang tumbuh kembali
menghasilkan anakan baru yang selanjutnya dapat dipanen (Flinn dan
Mercado, 1988; Islam et al., 2008). Sistem ini dikembangkan pertama kali di
areal persawahan dekat pantai di bagian selatan Amerika Serikat pada awal
tahun 1960. Setelah varietas padi keturunan 0. longisfaminata
diintroduksikan, kegiatan sistem ratunisasi semakin menyebar dan sangat
diminati oleh petani di beberapa negara bagian di Amerika Serikat yang
memiliki musim tanam terbatas (Jones dan Snyder, 1987). BoIlich et al.
(1988) juga melaporkan bahwa pada tahun 1985 di Lemont, Texas, lahan
sawah seluas 160 ha diusahakan secara komersial, pertanaman padi utama
menghasilkan sebesar 8,2 t/ha gabah kering giling (GKG) dan padi ratun
mampu menghasilkan sebesar 3,6 t/ha GKG, sehingga total produksi dapat
mencapai 11,6 t/ha GKG. Hasil studi memberikan gambaran bahwa,
diestimasikan sekitar 30% areal sawah di daerah tropik di Asia atau sekitar
26,63 juta ha, mempunyai hasil rata-rata 57 t/ha pada tanaman utama,
apabila dilaksanakan sistem ratun diperkirakan hasil ratun rata-rata 50% dari
tanaman utama, sehingga sumbangan padi ratun akan mencapai 35,95 juta
ton setiap tahun (Krishnamurthy, 1988).
Selain sifat genetik, dalam menghasilkan tunas produktif juga sangat
tergantung dari tinggi pemotongan batang padi, waktu panen, dan
pengaturan air irigasi. Waktu panen yang paling baik ketika batang padi
belum terlalu kering atau relatif masih hijau sehingga secara fisiologi akan
berkemampuan untuk menghasilkan anakan ratun (Gris, 1965 dalam
Krishnamurthy, 1988). Tunas ratun yang muncul dari pangkal batang rumpun
mirip dengan bibit muda, sedangkan tunas ratun dari buku atas mirip bibit
yang sudah tua. Hasil penelitian Jones (1993) menunjukkan bahwa tingginya
rumpun ratun dari permukaan tanah dapat berpengaruh pada jumlah malai
dan jumlah gabah per malai. Hasil tertinggi dipanen dari singkal padi setinggi
0,2 dan 0,3 m, dibandingkan pemotongan setinggi 0,1, 0,4 dan 0,5 m dari
permukaan tanah. Sistem ratun dengan tinggi rumpun padi 0,15 dan 0,20 m
menghasilkan padi lebih baik dari tinggi singka 0,5 m. Kemudian informasi
terakhir menyebutkan bahwa di Thailand, rumpun padi yang dipotong
dipangkal malai lalu direbahkan lurus barisan mampu menghasilkan padi
seperti tanaman awal (utama), apabila dilakukan pemupukan dan
pemeliharaan yang sama seperti halnya tanaman utama. Dari hasil
penelitian Isgianto et al. (1993) di Kebun Jambegede, Kendalpayak,
Mojosari, Ngale dan Genteng (Jawa Timur) pada musim hujan (MH)
1992/1993 dan musim kemarau (MK) 1993 menunjukkan bahwa varietas
IR64, IR66 dan Semeru dapat dibudidayakan secara ratun apabila tidak
terjadi endemi penyakit tungro, sedangkan varietas IR72 dan Krueng Aceh
cukup baik dibudidayakan secara ratun di lahan yang tidak endemik hama
wereng coklat. Sistem ratunisasi varietas IR64, IR72, Semeru dan IR66
menghasilkan padi yang sama pada pemotongan 5 atau 15 cm.
Salah satu unsur hara yang penting dan harus tersedia bagi tanaman
adalah nitrogen. Menurut Vergara et al. (1988) pemberian N meningkatkan
hasil padi sistem ratun. Setiap varietas mempunyai respon yang berbeda
terhadap pupuk nitrogen (Balasubramanian et al., 1970). Kebutuhan N
untuk padi sawah adalah 90-120 kg N ha-1(Taslim et al., 1989). Evatt dan
Beachell (1960) menyebutkan bahwa kebutuhan pupuk padi sistem ratun
hanya 75% dari tanaman utama. Menurut De Datta dan Bernasor (1988)
kebutuhan N optimal untuk padi sistem ratun 60 kg N per ha. Di China,
pemberian 0-69 kg meningkatkan jumlah anakan varietas Aiyou 2. Di
Columbia vide De Datta (1988) pemberian 25-50 kg N per ha memperoleh
hasil sistem ratun 3,8 ton per ha pada varietas CICA-4. Balasubramanian et
al (1970) melaporkan bahwa pemberian nitrogen 125 kg per ha segera
setelah panen utama, hasil padi sistem ratun berupa hasil gabah kering,
hasil jerami dan produktivitas anakan nyata lebih tinggi dari pada pemberian
75 kg N per ha. Hasil penelitian Evatt dan Beachell (1960) juga Chaterjee et
al. (1982) menyebutkan bahwa pemberian P dan K tidak berpengaruh nyata
terhadap hasil ratun. Selanjutnya De Datta dan Bernasor (1988), melaporkan
bahwa pupuk P dan K tidak perlu diberikan bila sudah diberikan pada
tanaman padi utama (Sutisna, 2006).
Keunggulan ratun, selain memberikan tambahan produksi padi per
musim tanam, juga hemat input produksi, biaya, tenaga, dan waktu
persiapan tanam (Ambili dan Rosamma, 2002; Santos et al., 2003).
Fenomena ratun tersebut telah menjadi pemikiran banyak ahli (Aswidinnoor
et al., 2008).
Vergara et al. (1988) mendeskripsikan beberapa karakter agronomi
yang merupakan prasyarat tanaman ratun, antara lain vigoritas sistem
perakaran tanaman utama dan konsentrasi karbohidrat yang tinggi pada
batang saat panen tanaman utama. Oleh karena itu, kemampuan padi
menghasilkan ratun akan menjadi nilai tambah dalam peningkatan produksi
per musim tanam.
Umur tanaman ratun yang lebih pendek dibandingkan tanaman
utama, erat hubungannya dengan pola pertumbuhan tanaman padi yang
berasal dari benih atau bibit. Pada tanaman utama terdapat tiga fase
pertumbuhan, yaitu fase vegetatif, reproduktif dan pemasakan. Namun untuk
tanaman ratun yang sejak keluar anakan sering diikuti juga keluarnya bunga,
hanya mengalami dua fase pertumbuhan, yaitu fase reproduktif dan
pemasakan. Kedua fase ini umumnya berlangsung sama pada semua
genotipe padi, yaitu selama 35 hari untuk fase reproduktif dan 30 hari untuk
fase pemasakan sehingga umur tanaman ratun akan berada pada kisaran
65 hari saja (Vergara, 1995).
Secara morfologi anakan ratun dapat muncul dari setiap buku
sehingga jumlah anakan ratun dapat melebihi tanaman utama, namun besar
kecilnya batang atau anakan yang dihasilkan sangat tergantung pada
cadangan karbohidrat yang tersisa pada tanaman utama setelah panen
(Mahadevappa dan Yogeesha, 1988).
Jumlah gabah total per malai sebagai kumulatif dari jumlah gabah isi
dan gabah hampa berkisar antara 122,7-389,0 butir, hasil ini berbeda nyata
antar kelompok genotipe. Jumlah gabah isi tanaman utama berkisar antara
65,3-266,3 butir. Terdapat sebagian kecil genotipe yang memenuhi kriteria
sebagai padi ideal seperti yang dikemukakan oleh Zhengjin et al. (2005),
yaitu menghasilkan jumlah gabah isi per malai lebih dari 160 butir. Genotipe
tersebut adalah varietas Ciapus, dan galur IPB106-F-7-1, IPB106-F-8-1,
IPB106-F-10-1, dan IPB106-F-12-1. Fenomena lain yang tampak dari hasil
pengamatan adalah tingginya persentase gabah hampa, yang berkisar
antara 21,6-60,1%.
Tanaman ratun memiliki ukuran malai yang lebih pendek dibandingkan
tanaman utama kecuali genotipe Fatmawati, IPB106-F-8-1, BP205D-KN-78-
1-8 dan B9833C-KA-14 yang hampir sama dengan panjang malai tanaman
utama. Hal tersebut sejalan dengan tampilan tanaman ratun pada genotipe-
genotipe tersebut yang relatif lebih vigor dibandingkan dengan genotipe lain.
Jumlah gabah total tanaman ratun pada sebagian besar genotipe lebih
rendah dibandingkan tanaman utama. Namun demikian beberapa genotipe
mampu menghasilkan jumlah gabah tanaman ratun yang setara dengan
tanaman utama yaitu genotipe BP138F-KN-23, BP360E-MR-79-PN-2,
B9852E-KA-66 dan B9858D-KA-55. Keempat genotipe tersebut mampu
menghasilkan jumlah gabah total tanaman ratun yang sama atau lebih tinggi
dibandingkan tanaman utama. Tanaman ratun beberapa galur padi tipe baru
sawah dan varietas padi tipe baru secara rata-rata mampu menghasilkan
gabah yang lebih tinggi dibandingkan genotipe lainnya.
Genotipe-genotipe yang mampu menghasilkan ratun dengan jumlah
gabah tinggi atau setara dengan tanaman utama, ternyata memiliki persen
gabah hampa yang cukup tinggi, walau lebih rendah dibandingkan
kehampaan pada tanaman utama. Hal tersebut mengindikasikan bahwa
faktor pembatas produktivitas dalam pengisian biji tanaman ratun mirip
dengan faktor pembatas pengisian biji pada tanaman utama. Dengan
demikian, upaya untuk meningkatkan produksi pada tanaman ratun dapat
didekati dengan cara meningkatkan produktivitas pada tanaman utama.
Mengacu dari berbagai informasi yang telah diuraikan di atas, dan kondisi
faktual di lapangan, rekomendasi pola tanam yang dapat diusulkan dari hasil
penelitian ini adalah sebagaimana disajikan pada Tabel 75.
Tabel 75 Rekomendasi pola tanam untuk tanaman pangan berbasis
sumberdaya tanaman lokal
Pola Tanam Jenis Tanaman Waktu Tanam
I Padi lokal – ratun Agustus/September –Februari
II Padi lokal – ratun – padi unggul Agustus/September –Februari
- April/Mei
III Padi lokal – padi unggul Agustus/September – Februari
dan April - Juli
IV Padi lokal – palawija Agustus/September – Februari
dan April - Juli
V Padi lokal – padi ratun – Agustus/September – Februari
palawija dan Februari – Maret dan April
- Juli
Sumber: Hasil olahan

2. Pemeliharaan dan pemupukan


Di dalam rangka pemupukan tanaman yang diusahakan praktek pertanian
terpadu dapat memanfaatkan pupuk kandang. Pupuk kandang yang
diberikan, dapat diperoleh dari hasil usaha ternak yang dipelihara secara
bersama-sama dalam sistem pertanian terpadu. Dalam praktek usahatani di
rawa lebak petani di kedua lokasi penelitian mengalokasikan anggaran untuk
pembelian pupuk (NPK) masing-masing mencapai 37,20% di Desa Sungai
Ambangah dan 22,56% di Pasak Piang dari total biaya yang dikeluarkan
dalam sekali musim tanam untuk padi dan setiap tahun untuk tanaman karet
dan kelapa sawit. Dengan memanfaakan kotoran ternak yang ada, hal itu
dapat mengurangi biaya produksi dalam kegiatan usahatani. Demikian pula
sebaliknya ternak yang dipelihara dalam sistem pertanian terpadu dapat
memanfaatkan jerami, tanaman jagung (biji dan batang) sebagai pakan
ternak.
3. Ketersediaan modal usahatani
Sumber modal dalam kegiatan UTLRL dapat dihimpun melalui sumber
pembiayaan partisipatif berupa iuaran yang secara teknis dapat dibuat
kesepakatan lebih lanjut tentang jumlah yang harus dikeluarkan/dibebankan
kepada setiap petani. Modal ini dikumpulkan pada setiap kali panen. Selain
pengumpulan modal melalui partisipatif di atas, dapat pula berupa sumber
pembiayaan pendukung yang berbentuk bantuan atau investasi yang
dikeluarkan oleh pemerintah provinsi/kabupaten atau dari sumber lain.
Selain sumber pembiayaan yang telah disebutkan sebelumnya alternatif
sumber pembiayaan lainnya adalah melalui keterlibatan lembaga keuangan
yang ada seperti perbankan. Mekanisme untuk mendapatkan pinjaman ini
dapat melibatkan pihak perguruan tinggi atau lembaga lain yang dapat
berperan untuk membantu dalam hal perhitungan-perhitungan
kalayakannya. Mekanisme pengumpulan dana dari berbagai sumber dan
pengelolaan lebih lanjut serta mekanisme pembiayaan atau kredit bantuan
kepada petani untuk modal usahatani diserahkan kepada lembaga keuangan
mikro petani rawa lebak (LKMPRL).
4. Petani dan kelompok tani
Setiap petani dalam mengusahakan sistem pertanian terpadu, harus
tergabung dalam suatu kelompok yang anggota-anggotanya ditentukan
sendiri oleh petani. Pemberdayaan kelompok tani dapat dilakukan dengan
cara membentuk kelompok yang baru atau memberdayakan dan
memaksimalkan kelompok yang sudah ada. Hal ini dimaksudkan agar
supaya terjadi efesiensi dan efektifitas usaha khususnya dalam penggunaan
faktor-faktor produksi dan kegiatan lain seperti pemasaran hasil usahatani.
5. Ketersediaan lembaga keuangan mikro.
Lembaga ini merupakan bagian dari sistem pertanian terpadu yang perlu
dibentuk dan diberdayakan. Karena salah satu persoalan yang dihadapi oleh
petani rawa lebak saat ini adalah keterbatasan modal dalam penyediaan
input produksi. Hal ini apabila tidak dicarikan jalan keluarnya, maka pola
penerapan sistem pertanian yang mengintegrasikan tanaman dan ternak
akan menjadi beban baru terhadap petani rawa lebak. Pembentukan
LKMPRL menjadi hal yang tidak terpisahkan, karena sistem perkreditan
pertanian yang ada masih kurang berpihak pada petani secara penuh.
Dengan kehadiran LKMPRL diharapkan dapat menciptakan iklim yang
menunjang kegiatan usahatani. Hal ini mengingat LKMPRL yang berskala
kecil bersifat lebih lentur sesuai karakteristik masyarakat petani setempat,
karena LKMPRL dibentuk dari dan untuk mereka. Untuk mengisi kebutuhan
LKMPRL, dapat ditempuh berbagai cara yaitu (1) menciptakan lembaga
baru, (2) memberi tugas baru atau menitipkan program pada lembaga yang
telah ada, dan (3) menyempurnakan lembaga yang telah ada. Pemilihan
alternatif sebaiknya dilakukan dengan indikator besarnya beban ekonomi
program maupun kecepatan berhasilnya program.
6. Peran aktif lembaga penyuluh pertanian
Dalam kegiatan usahatani khususnya pertanian rakyat, keterlibatan lembaga
penyuluh pertanian merupakan salah satu faktor penting yang berperan
dalam memberikan informasi tentang prinsip-prinsip pengelolaan usahatani.
Keterbatasan partisipasi lembaga ini dapat disiasati dengan cara
membangun kreativitas petani, baik sebagai individu maupun dalam bentuk
kelompok tani. Petani dalam hal ini, untuk mendapatkan dan mengetahui
informasi tentang prinsip-prinsip pengelolaan usahatani yang baik, seperti
teknis pemupukan, pemberantasan hama penyakit tanaman dan ternak,
pemangkasan, panen dan pascapanen, pemasaran produk usahatani serta
teknis pemeliharaan ternak dapat dilakukan melalui tukar menukar informasi
antar petani atau kelompok tani.
7. Dukungan lembaga riset dan PT
Perguruan Tinggi, BPTP dan BPP merupakan institusi pendukung yang
dapat berperan dalam hal transfer inovasi teknologi dan juga berperan dalam
pendampingan terhadap petani dalam memberikan advokasi dan bimbingan
dalam mengatasi pernasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh petani.
Selain itu, petani dan usahataninya dapat dijadikan sebagai wahana untuk
menggali permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh petani, yang
selanjutnya dapat dijadikan sebagai bahan riset lebih lanjut.
8. Pengelolaan pascapanen dan pemasaran hasil
Produk hasil usahatani dalam proses lebih lanjut yang dikenal dengan pasca
panen termasuk pemasaran hasil. Fungsi pengolahan hasil dan pemasaran
merupakan salah satu faktor penting dalam memecahkan masalah
penghambat bagi pembangunan pertanian selama ini (Soetrisno, 1988).
Untuk perlu diterapkan adalah sistem pemasaran produk pertanian yang
efesien untuk diproses oleh industri. Seperti diketahui, sistem pemasaran
produk pertanian umumnya kurang efisien sehingga menyebabkan besarnya
kehilangan, kerusakan dan penurunan mutu serta ongkos angkut yang
mahal sehingga harga produk bahan mentah untuk industri menjadi mahal
dan kualitasnya juga rendah. Produk usahatani pada tahap lebih lanjut, juga
dapat dikelola menjadi produk lain yang dapat berkontribusi dalam rangka
memberikan nilai tambah usaha. Nilai tambah ini dapat diartikan sebagai
peningkatan manfaat dari produk pertanian. Yang dimaksud adalah nilai
produk dikurangi dengan nilai bahan baku dan bahan penunjang yang
dipergunakan dalam proses produksi. Dengan kata lain, nilai tambah adalah
merupakan sejumlah nilai jasa (return) terhadap faktor produksi modal tetap,
tenaga kerja, dan ketrampilan menejemen pengelolaan (Wright, 1987).
Dalam rangka mengelola produk pertanian untuk memperoleh nilai tambah,
hendaknya didekati dengan kajian yang lebih mendasar. Kajian untuk
memperoleh nilai tambah produk hasil pertanian dapat pula dilakukan
dengan melibatkan lembaga riset, perguruan tinggi dan BPTP. Dalam hal
peningkatan pendapatan petani dapat dilakukan melalui peningkatan
produksi pertanian. Peningkatan produksi diharapkan dapat memberikan
jaminan pendapatan petani. Meningkatnya pendapatan petani diharapkan
dapat menciptakan surplus keuangan yang selanjutnya dapat diinvestasikan
kembali untuk meningkatkan produktivitas usahatani dan daya beli petani
khususnya pada produk lain yang tidak dihasilkan sendiri oleh petani.

7.5 Model Konseptual Pengembangan Usahatani Lahan Rawa Lebak


(UTLRL)

Secara skematis hubungan antara faktor dan komponen yang menyusun


model sistem pertanian terpadu yang dirumuskan dalam penelitian ini,
sebagaimana disajikan pada Gambar 31.
Gambar 31 Model konseptual pengembangan UTLRL berbasis sumberdaya lokal

Bentuk pertanian terpadu yang dapat ditawarkan dari hasil penelitian ini
terdiri atas berbagai pola sesuai dengan kondisi kepemilikan lahan dan jenis
tanaman yang diusahakan oleh petani di kedua lokasi penelitian. Pola yang
dirumuskan ini dalam rangka mengakomodir, yaitu 1) petani yang hanya memiliki
lahan usahatani padi dan karet, dan 2) petani yang memiliki lahan usahatani
padi, karet dan kelapa sawit. Dari jenis kepemilikan lahan usahatani oleh petani
di lokasi penelitian tersebut, selanjutnya dilakukan simulasi model usahatani
terpadu yang memberikan nilai pendapatan tertinggi Tabel Lampiran 21 dan 22.
Selain pertimbangan aspek ekonomis, penentuan kedua jenis ternak dalam
penerapan model ini dilakukan berdasarkan ketersediaannya di lokasi penelitian
dan pengetahuan petani terhadap usaha ternak tersebut. Hal ini dimaksudkan
agar supaya lebih memudahkan di dalam pemeliharaan dan adopsi teknologi
pengelolaannya. Implementasi bentuk model pertanian terpadu terpilih, secara
lengkap diuraikan berikut ini.
1. Pola usahatani tanaman Pangan, Perkebunan dan Ternak berbasis
sumberdaya tanaman pangan lokal

Pola usahatani antar tanaman pangan, perkebunan dan ternak yaitu p93,
p95 atau pola (padi, karet dan sapi), (padi, karet dan itik), memberikan
pandapatan masing-masing sebesar Rp11 335 010,- dan Rp12 181 010,-. Dan
integrasi p101, p103 atau pola (padi, karet, kelapa sawit dan sapi), (padi, karet,
kelapa sawit dan itik), memberikan pendapatan sebesar Rp21 337 181,- dan
Rp22 183 181,-. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 76.
Tabel 76 Pola usahatani tanaman pangan (padi, jagung), perkebunan
(karet, sawit) dan ternak
No Simbol Pola (padi – karet) dan ternak
pola Tanaman Jenis ternak Nilai pendapatan
tanam Padi Karet Kelapa sawit (Rp)
Pola usahatani (padi – karet) dan ternak
1. p93 Padi Karet - Sapi 11 335 010
2. p95 Padi Karet - Itik 12 181 010
Pola usahatani (padi – karet - sawit) dan ternak
1. p101 Padi Karet Kelapa sawit Sapi 21 337 181
2. p103 Padi Karet Kelapa sawit Itik 22 183 181
Sumber: Hasil olahan

Hasil usahatani p103 atau pola (padi, karet, kelapa sawit dan itik) Gambar 32
menunjukkan hasil pendapatan tertinggi mencapai Rp22 183 181,- dan diikuti
integrasi p101 pola (padi, karet, kelapa sawit dan sapi) mencapai Rp21 337 181.
Sedangkan pola p93 atau pola (padi, karet dan sapi) hanya mencapai
Rp17 737 181,-. Selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 32.

25000000
Pendapatan (Rp/thn)

20000000

15000000

10000000

5000000

0
p93 p95 p101 p103

Pola usahatani

Gambar 32 Pola usahatani padi, karet, sawit dan ternak

2. Pola usahatani musin tanam 1 (MT1) dan (MT2) (padi/jagung) dan Tanaman
Perkebunan dan Ternak

Pola usahatani p5, p51 atau pola (padi - ratun, karet dan sapi), (padi - ratun,
karet dan itik), dapat memberikan pandapatan petani sebesar Rp15 728 550,-
dan Rp16 574 550,-. Integrasi p9, p55 atau pola (padi - ratun, padi, karet dan
sapi), (padi - ratun, padi, karet dan itik), memberikan pendapatan memberikan
pendapatan sebesar Rp14 465 800,- dan Rp15 311 500,-. Sedangkan integrasi
p13, p59 atau pola (padi - ratun, jagung, karet dan sapi), (padi - ratun, jagung,
karet dan itik), memberikan pendapatan Rp12 432 300,- dan Rp13 278 300,-.
Integrasi p11, p15, p57 dan p61 atau pola (padi - ratun, padi, karet, sawit dan
sapi), (padi - ratun, jagung, karet, sawit dan sapi), (padi - ratun, padi, karet, sawit
dan itik), dan (padi - ratun, jagung, karet, kelapa sawit dan itik), memberikan
pendapatan masing-masing sebesar Rp24 468 000,-, Rp22 434 500,-,
Rp25 314 000,-, dan Rp23 280 500,-. Integrasi p17, p63 atau pola (padi, padi,
karet dan sapi) (padi, padi, karet dan itik), memberikan pendapatan sebesar
Rp13 944 000 dan Rp14 790 000,-. Integrasi p21, p67 atau pola (padi, jagung,
karet dan sapi), (padi, jagung, karet dan itik), juga memberikan pendapatan
Rp11 910 500,- dan Rp12 756 500,-. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 77.

Tabel 77 Pola usahatani tanaman pangan (padi, jagung), perkebunan


(karet, sawit) dan ternak
Musim tanam dengan berbagai pola (padi – jagung) dan ternak
Simbol
No pola MT 1 MT 2 Perkebunan Nilai
tanam Padi Ratun Karet Kelapa Jenis ternak pendapa
sawit tan (Rp)
Pola usahatani (padi - ratun), karet, sawit dan ternak
1 p5 padi ratun - karet - Sapi 15 728 550
2 p51 padi ratun - karet - Itik 16 574 550
Pola usahatani (padi - ratun - padi), karet, sawit dan ternak
1 p9 padi ratun padi karet - Sapi 14 465 800
2 p55 padi ratun padi karet - Itik 15 311 500
Pola usahatani (padi - ratun - jagung), karet, sawit dan ternak
1 p13 padi ratun jagung karet - Sapi 12 432 300
2 p59 padi ratun jagung karet - Itik 13 278 300
Pola usahatani (padi - ratun - jagung), karet, sawit dan ternak
1 p11 padi ratun padi karet sawit Sapi 24 468 000
2 p15 padi ratun jagung karet sawit Sapi 22 434 500
3 p57 padi ratun padi karet sawit Itik 25 314 000
4 p61 padi ratun jagung karet sawit Itik 23 280 500
Pola usahatani (padi - padi), karet, sawit dan ternak
1 p17 padi - padi karet - Sapi 13 944 000
2 p63 padi - padi karet - Itik 14 790 000
Pola usahatani (padi - jagung), karet, sawit dan ternak
1 p21 padi - jagung karet - Sapi 11 910 500
2 p67 padi - jagung karet - Itik 12 756 500
Sumber: Hasil olahan

Hasil usahatani p57 dan p11 atau pola (padi - ratun, padi, karet, kelapa
sawit dan itik) dan (padi - ratun, padi, karet, kelapa sawit dan sapi) Gambar 33,
menunjukkan hasil pendapatan tertinggi masing-masing mencapai Rp25 313 981
dan Rp24 467 981,-. Pendapatan ini dapat melewati nilai KHL yang diperlukan
oleh petani di lokasi penelitian masing-masing sebesar 5,19% dan 1,91%.
Sedangkan integrasi p61, p53, p15 dan p7 atau pola (padi - ratun, jagung,
karet, kelapa sawit dan itik), (padi - ratun, sawit dan itk), (padi - ratun, jagung,
kelapa sawit dan sapi), dan (padi - ratun, kelapa sawit dan sapi) berturut-turut
mencapai Rp23 280 481,-, Rp22 704 981,-, Rp22 434 481,- dan Rp21 858 981,-.
Dari hasil ini petani masih memerlukan berturut-turut sekitar 2,99%, 5,39%,
6,52% dan 8,92% untuk memenuhi KHL. Sedangkan integrasi p5 atau pola (padi
- ratun, karet dan sapi) hanya mencapai Rp11 856,81,- atau memerlukan sekitar
50,59% untuk memenuhi KHL petani di lokasi penelitian. Selengkapnya dapat
dilihat pada Gambar 33.

30000000

25000000
Pandapatan (Rp/thn)

20000000

15000000

10000000

5000000

0
p5 p51 p9 p55 p13 p59 p11 p57 p17 p63 p21 p67

Pola usahatani

Gambar 33 Pola usahatani tanaman padi, tanaman perkebunan dan ternak

3. Integrasi usahatani berdasarkan luas kepemilikan lahan petani

Integrasi usahatani (tanaman dan ternak) yang dapat memenuhi Kebutuhan


Hidup Layak (KHL) petani baik di Desa Sungai Ambangah maupun Pasak Piang
sebagaimana disajikan dalam bentuk matriks Tabel 78.
162
Tabel 78 Matriks luas kepemilikan lahan petani berbasis padi untuk memenuhi KHL
Luas Kepemilikan Lahan Padi (p)
Petani (P)
0,4-<0,5 ha 0,5-<1,0 ha 1,0-<1,5 ha 1,5-2,0 ha
Sungai Ambangah
Kombinasi dengan Karet (k) Sapi (s) dan Itik (i)
k(1,0) s2 dan i3 s2 dan i3 s2 dan i3 s1 dan i3
k(1,2) s2 dan i3 s2 dan i3 s1 dan i3 s1 dan i3
k(1,5) s1 dan i3 s1 dan i3 s3 atau i3 i3
k(2,5) s3 atau i3 s3 atau i3 s2 atau i2 i2
k(3,0) s3 atau i2 s2 atau i2 s2 atau i2 i2
Kombinasi Padi, Karet dan Sawit
k(1,0)(sw1,0) s2 atau i2 s2 atau i2 s1 atau i1 s1 atau i1
k(1,2)(sw1,0) s2 atau i2 s2 atau i2 s1 atau i1 s1 atau i1
k(1,5)(sw1,0) s1 atau i1 s1 atau i1 s1 atau i1 (+)
k(2,5)(sw1,0) (+) (+) (+) (+)
k(3,0)(sw1,0) (+) (+) (+) (+)
0,5-<0,8 0,8-<1,0 1,0-2,0
Pasak Piang
Kombinasi Padi dan Karet
k(1,0) s1 dan i3 s1 dan i3 s1 dan i2
k(1,2) s1i2 atau i3 s1 dan i2 s3 atau s1i2
k(1,5) s1i2 atau i3 i2 s3 atau i2
k(2,5) s1 atau i1 (+) (+)
Kombinasi Padi, Karet dan Sawit
k(1,0)(sw1,0) s1 atau i1 s1 atau i1 (+)
k(1,2)(sw1,0) (+) (+) (+)
k(1,5)(sw1,0) (+) (+) (+)
k(2,5)(sw1,0) (+) (+) (+)
Ket: P=petani; p=padi; k=karet; sw=sawit; (p0,4-2,0)=luas lahan padi; (k 1,0-3,0)=luas lahan karet; (sw1,0)=luas lahan sawit; s1=1 ekor sapi; s2=2
ekor sapi; s3=3 ekor sapi; i=50 ekor itik; i2=100 ekor itik; i3=150 ekor itik dan (+)=memenuhi KHL tanpa kombinasi dengan ternak.
Berdasarkan Tabel 78 dapat dinyatakan persamaan matematis yang
dapat mendeskripsikan hubungan antar variabel terikat (pendapatan petani)
dengan variabel bebas yang terdiri atas pendapatan bersih dari usahatani padi
(ax1), pendapatan bersih dari usahatani karet (bx2), pendapatan bersih dari
usahatani kelapa sawit (cx3), pendapatan bersih dari usaha ternak sapi (dy),
pendapatan bersih dari usaha ternak itik (ez). Persamaan matematisnya adalah
sebagai berikut:
1. Untuk kombinasi Tanaman Padi, Karet dan Ternak:

Y = ax1 + bx2 + dy + ez..…..…………………….…………………(6)

2. Untuk kombinasi Tanaman Padi, Karet, Sawit dan Ternak:

Y = ax1 + bx2 + cx3 +dy + ez……..……………………………….(7)

Dimana :
Y = pendapatan (Rp/KK) x1 = Rp/ha padi
ai = luas pemilikan lahan padi (ha) x2 = Rp/ha karet
bi = luas pemilikan lahan karet (ha) x3 = Rp/ha sawit
ci = luas pemilikan lahan sawit (ha) y = Rp/ekor sapi
di = jumlah sapi (ekor) z = Rp/ekor itik
ei = jumlah itik (ekor)

Selain itu, dari Tabel 78 dapat dideskripsikan hal-hal sebagai berikut:


1. Pendapatan yang memenuhi Kebutuhan Hidup Layak (KHL) petani di Desa
Sungai Ambangah dapat dicapai dengan mengkombinasi tanaman dan
ternak, sebagai berikut:

a. Y = (0,4-2,0)x1 + (1,0-1,5)x2 + (1,0)x3 + (2)y atau (100)z………..………………...(8)


b. Y = (0,4-1,5/2,0)x1 + (1,5-1,8/1,5-2,5)x2 + (3/2)y atau (150/100)z………………...(9)
c. Y = (0,4-1,5)x1 + (1,0-1,5)x2 + (1-2)y + (150)z……………………………………..(10)

2. Pendapatan yang memenuhi Kebutuhan Hidup Layak (KHL) petani di Desa


Pasak Piang dapat dicapai dengan mengkombinasi tanaman dan ternak,
sebagai berikut:

a Y =(0,5-1,0)x1 + (1,0)x2 + (1,0)x3 + (1)y atau (50)z.............................................(11)

c. Y =(0,5-1,5)x1 + (1,5-2,5)x2 + (1-3)y atau (50-150)z…..……………………………(12)

d. Y =(0,5-1,5)x1 + (1,0)x2 + (1)y + (150)z.…………..………..…………………........(13)


3. Selain itu, pendapatan yang memenuhi Kebutuhan Hidup Layak (KHL) petani
di Desa Sungai Ambangah dan Desa Pasak Piang dapat dicapai tanpa harus
mengkombinasikan usahatani tanaman dengan ternak, bentuk
persamaannya:

a. Y = (0,4-1,5)x1 +( 2,5)x2 + (1,0)x3..………………………………………………...(14)


b. Y = (0,5-1,5)x1 + (1,2-1,5)x2 + (1,0)x3 dan atau (0,8-1,5)x1 + (2,5)x2………….(15)

Mengacu pada persamaan umum (6) dan (7) serta persamaan yang
disesuaikan dengan luas kepemilikan lahan padi, pada kondisi dimana tanaman
kelapa sawit belum memasuki masa berproduksi (menghasilkan), maka
persamaan yang digunakan masih mengikuti persamaan (10, 11) dan (14,15)
VIII. REKOMENDASI KEBIJAKAN

Dari serangkaian hasil analisis yang telah dilakukan sebelumnya, maka


dapat direkomendasikan kebijakan model pengembangan usahatani lahan rawa
lebak berbasis sumberdaya lokal untuk berkelanjutan. Istilah kebijakan menurut
Spitzer (1987) adalah sebuah rangkaian konsep yang digunakan sebagai
pedoman dan dasar rencana untuk melaksanakan suatu pekerjaan,
kepemimpinan, dan cara bertindak. Sedangkan menurut Sasmojo (2001),
kebijakan merupakan himpunan arahan atau ketentuan yang dibentuk untuk
menciptakan iklim dalam rangka menfasilitasi berlangsungnya strategi, lebih jauh
lagi berupa program dan proyek, sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat
tercapai.
Model pengembangan usahatani rawa lebak dari hasil penelitian ini
merupakan suatu bentuk rekomendasi kebijakan yang apabila diterapkan secara
konsisten, maka diharapkan dapat memperbaiki pengelolaan rawa lebak yang
ada saat ini khususnya di kedua lokasi penelitian. Dari model yang dibangun
sebagai pilihan dalam penerapan usahatani lahan rawa lebak berkelanjutan,
dengan mempertimbangkan ketersediaan biaya, keberlanjutan ekologi rawa
lebak, nilai manfaat yang diperoleh petani dalam rangka pemenuhan Kebutuhan
Hidup Layak (KHL) masyarakat petani, maka rekomendasi kebijakan yang
dirumuskan sebagaimana disajikan dalam Tabel 79.
166
Tabel 79 Rekomendasi kebijakan model usahatani rawa lebak berkelanjutan
Rekomendasi Kebijakan
Komponen Model UT Indikator
Strategi Program
1. Pola tanam dan Inovasi teknologi Asistensi teknis sistem pertanian terpadu dan
indeks pertanaman fasilitasi penyediaan infrastruktur pendukung sistem
2. Pemeliharaan ternak pertanian terpadu

3. Petani dan kelompok Penguatan Peningkatan modal sosial petani RL melalui,


tani modal sosial bantuan permodalan dapat berupa subsidi
4. Ketersediaan modal pembibitan ternak dan pengadaan bibit tanaman
usahatani dan bibit ternak unggul, Mendorong terwujudnya
5. Ketersediaan organisasi tani dan jaringan tani yang kuat dan
lembaga keuangan berakar, Mendorong penguatan modal keloktif 1. Produktivitas
mikro petani, peninjauan kembali dan penguatan sistem lahan
6. Peran aktif lembaga kelembagaan penyuluhan pertanian yang telah ada 2. Pendapatan
penyuluh pertanian dan menfasilitasi terbentuknya kerjasama antara petani
7. Dukungan lembaga lembaga riset dan kelompok tani
riset
8. Pengelolaan Penanganan Menggalakan sistem alih teknologi melalui
pascapanen dan pascapanen pendidikan dan latihan kepada petani, pengadaan
pemasaran hasil sarana dan prasarana pengolahan dan
penanganan hasil usahatani. Mendorong dan
memfasilitasi terbentuknya pasar pertanian yang
lebih adil dalam bentuk organisasi rantai pasok dan
rantai pemasaran yang lebih baik, termasuk
regulasi pengaturan harga produk usahatani dan
meningkatkan layanan informasi bagi petani
Dalam upaya optimasi lahan pertanian, dapat dilakukan dengan cara
pengaturan pola tanam (cropping patern), pergiliran tanaman dan diversifikasi
usahatani. Secara operasional indeks pertanaman (IP) dapat ditingkatkan
dengan melakukan penanaman dua sampai tiga kali tanam dalam satu tahun
pada lahan yang sama dengan menggunakan jenis tanaman yang sama
contohnya: padi – ratun – padi dan atau menggunakan jenis tanaman yang
berbeda (pergiliran tanaman), contohnya: padi – ratun - jagung.
Sistem usahatani yang digeluti oleh petani saat ini, secara umum belum
dapat memenuhi kebutuhan hidup layak (KHL) keluarga petani dengan 5 orang
anggota keluarga. Untuk mengatasi hal tersebut, maka perlu dilakukan usaha
lain agar supaya KHL petani dapat terpenuhi. Kepada petani yang hanya
memiliki lahan garapan seluas 0,4 – 1,2 hektar padi dan 1,0 – 2,5 hektar karet
direkomendasikan untuk melakukan pemeliharaan ternak rata-rata berkisar
antara 2 – 3 ekor sapi dan 100 – 150 ekor itik.
Sebagaimana diketahui bahwa kelompok tani mempunyai peran yang cukup
penting. Oleh karena itu, dalam penerapan sistem pertanian terpadu, diharapkan
setiap petani tergabung dalam kelompok tani. Peran kelompok tani tersebut,
antara lain adalah sebagai: (1) wadah belajar mengajar bagi anggotanya guna
meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap (PKS) serta tumbuh dan
berkembangnya kemandirian dalam berusahatani, sehinga produktivitas
meningkat, pendapatannya bertambah serta kehidupan lebih sejahtera; (2)
merupakan tempat untuk memperkuat kerjasama diantara sesama petani dalam
kelompok tani dan antar kelompok tani serta dengan pihak lain; (3) usahatani
yang dilaksanakan oleh masing-masing anggota kelompok tani secara
keseluruhan harus dipandang sebagai satu kesatuan usaha yang dapat
dikembangkan untuk mencapai skala ekonomi, baik dipandang dari segi
kuantitas, kualitas maupun kontinuitas.
Modal dalam arti luas merupakan faktor penunjang utama dalam kegiatan
usahatani. Tanpa adanya modal, petani akan sulit untuk mengembangkan
usahataninya. Selama ini menurut Damihartini (2005), sumber modal oleh petani
dilakukan dengan jalan menyisihkan sebagian hasil pertanian pada musim tanam
yang lalu dan untuk tujuan produksi pada musim tanam berikutnya.
Lembaga keuangan mikro sebagai upaya penyediaan jasa keuangan
terutama simpanan dan kredit dan jasa-jasa keuangan lain yang diperuntukan
kepada keluarga miskin dan berpenghasilan rendah dan tidak memiliki akses
terhadap bank komersial (Arsyad, 2008). Rekomendasi lembaga penyedia jasa
keuangan atau penyediaan modal usahatani adalah lembaga keuangan mikro
petani rawa lebak (LKMPRL). Pembentukan LKMPRL menjadi hal yang tidak
terpisahkan, karena sistem perkreditan pertanian yang ada masih kurang
berpihak pada petani secara penuh. Dengan kehadiran LKMPRL diharapkan
dapat menciptakan iklim yang menunjang kegiatan usahatani.
Peningkatan profesionalisme penyuluh pertanian menjadi sesuatu hal yang
tidak dapat dihindari, mengingat tantangan pertanian di masa-masa yang akan
datang semakin besar. Profesionalime penyuluh sangat ditentukan oleh sistem
pengelolaan kelembagan penyuluh itu sendiri. Kelembagaan yang ada sangat
terkait dengan sistem pendanaan dan peraturan-peraturan yang mengatur
tatalaksana organisasi penyuluh pertanian.
Partisipasi dan dukungan lembaga riset dan perguruan tinggi dalam rangka
ikut serta untuk mengatasi permasalahan dan tantangan pertanian sangat perlu
dilakukan. Sebagaimana diketahui bersama, potensi riset sangat besar sebagai
salah satu instrument atau metode, untuk mewujudkan pengelolaan pertanian
yang berwawasan agribisnis dan hal itu hanya dapat diwujudkan oleh petani atau
pelaku agribisnis yang profesional. Keterbatasan-keterbatasan yang sifatnya
inheren dan ekternal dalam usahatani memerlukan kajian yang kontinyu. Dilain
pihak, metode atau jenis penelitian apapun membutuhkan waktu untuk
menghasilkan informasi dan teknologi.
Pengelolaan pascapanen bertujuan untuk mempertahan kualitas dan mutu
produk hasil pertanian. Penanganan pasca panen menurut Kitinoja dan Kader
(1993) dimulai sejak komoditas dipisahkan dari tanaman (dipanen) dan berakhir
apabila komoditas tersebut dikonsumsi atau digunakan. Mesin pengolahan padi
dan karet di kedua lokasi sudah tersedia, tetapi kondisi di lapangan menunjukkan
keberadaan mesin pengolahan dengan sarana pendukung yang ada sangat tidak
memadai. Sebagai contoh mesin pengolahan padi dimasing-masing lokasi
penelitian hanya terdapat satu unit. Dengan tempat penjemuran yang sangat
terbatas dan tidak memiliki gudang penyimpanan, kondisi ini kurang
menguntungkan bagi petani, mengingat kedua lokasi tersebut mempunyai iklim
basah, dengan curah hujan yang cukup tinggi.
IX. KESIMPULAN DAN SARAN

9.1 Kesimpulan

1. Kondisi fisiografis LRL relatif datar dan kering saat penelitian. Petani yg
berusahatani; didominasi suku Melayu, Dayak, Madura dan Jawa. Luas
lahan garapan petani masing-masing 45,60% dengan luas <0,5-1,0 ha;
41,30% dengan luas >1,0-2,0 ha; dan 13,10% dengan luas >2,0 ha di Desa
Sungai Ambangah. Dan sebanyak 60,40% dengan luas <0,5-1,0 ha; 27,20%
dengan luas >1,0-2,0 ha; dan 12,40% dengan luas >2,0 ha di Desa Pasak
Piang.
2. Kelas kesesuaian lahan untuk masing-masing tanaman (padi, karet dan
kelapa sawit) adalah pada kelas sesuai marginal (S3nr), dengan faktor
pembatas adalah pH tanah, baik di Desa Sungai Ambangah maupun Desa
Pasak Piang.
3. Analisis usahatani padi dan karet di Desa Pasak Piang lebih menguntungkan
(4,80) dan (24,35) dibandingkan dengan Desa Sungai Ambangah (3,30) dan
(1,23), dan kelapa sawit keduanya (1,52).
4. Status keberlanjutan dari lima dimensi keberlanjutan yang dianalisis dikedua
desa penelitian, hanya satu dimensi yang dikategorikan cukup berkelanjutan,
sedangkan empat dimensi lainnya dikategorikan tidak berkelanjutan.
5. Atribut-atribut sensitif yang tersebar dilima dimensi keberlanjutan, masing-
masing diperoleh 16 atribut di Desa Sungai Ambangah dan 19 atribut di
Desa Pasak Piang.
6. Model yang dirumuskan adalah model UTLRL yang penerapannya dalam
bentuk Pertanian Terpadu dengan delapan faktor yang perlu mendapatkan
perhatian.
7. Implementasi model (no 6) terhadap masing-masing luas kepemilikan lahan
petani diperolah hasil sebanyak 22,50% petani di Desa Sungai Ambangah
dan 58,33% petani di Pasak Piang telah memenuhi KHL. Dan sisanya
77,50% dan 41,67% petani dikedua desa tersebut, belum dapat memenuhi
KHL, bagi petani yang belum memenuhi KHL perlu memelihara ternak
berkisar 1-3 ekor sapi dan 50-150 ekor itik.
8. Hasil simulasi aplikasi model Pertanian Terpadu telah mampu meningkatkan
indeks keberlanjutan dan memenuhi KHL petani
9.2 Saran

1. Perlu dilakukan implementasi arahan kebijakan dalam pengelolaan lahan


rawa lebak secara berkelanjutan di Desa Sungai Ambangah dan Desa
Pasak Piang dan perlu dilakukan penyusunan program yang bersifat
operasional untuk melengkapi pengelolaan dan pemanfaatan rawa lebak
yang saat ini sedang berjalan.
2. Untuk meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani, perlu
dilakukan peningkatan indeks pertanaman khususnya untuk usaha tanaman
padi. Peningkatan indeks pertanaman dapat dilakukan dengan cara
melakukan penanaman dua hingga tiga kali tanam dalam setahun, pada
lahan yang sama. Penanaman ini dapat dilakukan dengan menggunakan
jenis tanaman yang sama dengan pola padi – ratun – padi atau pola padi –
ratun – jagung.
3. Untuk petani yang belum memenuhi KHL, dalam sistem usahataninya perlu
melakukan pemeliharaan ternak masing-masing berkisar antara 1-3 ekor
sapi dan atau 50-150 ekor.
4. Pemerintah perlu mendorong dan memfasilitasi percepatan peningkatan
produktivitas melalui penerapan sistem pertanian terpadu (tanaman –
ternak). Agar supaya sistem pertanian terpadu tersebut dapat berjalan
dengan baik, perlu dilakukan penataan infrastruktur kawasan,
pemberdayaan kelembagaan petani (kelompok tani, gabungan kelompok
tani, serta koperasi tani) secara botton-up, partisipatif dan berakar kepada
budaya lokal, termasuk penguatan kelembagaan penyuluh pertanian.
merevitalisasi sistem pembiayaan pertanian yang ada, dengan sistem
pembiayaan yang sesuai dengan karakteristik petani, sekaligus bantuan
permodalan, sedangkan untuk peternakan perlu dilakukan subsidi
pembibitan ternak. Disamping itu, perlu mengembangkan pasar pertanian
yang lebih adil dalam bentuk organisasi rantai pasokan dan rantai
pemasaran yang baik, termasuk regulasi pengaturan harga produk
usahatani.
DAFTAR PUSTAKA

Adnyana, M.O. 2001. Pengembangan Sistem Usaha Pertanian Berkelanjutan,


FAE.
Adiningsih, S., H. Suhardjo, I.P.G. Widjaja Adhi, H. Suwardjo, S. Sukwana, dan
M. Sudjadi. 1986. Hasil Rencana Penelitian Lahan Kering di Jambi.
Dalam Risalah Lokakarya Pola Usahatani, Bogor 2-3 Sepetember
1986.
Alwi H., Lapoliwa H., Sugono D. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia - Pusat
Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Balai Pustaka, Jakarta.
Ambili, S.N., C.A. Rosamma. 2002. Character Association in Ratoon Crop of Rice
(Oryza sativa L.). J. Tropical Agric. 40:1-3.
Anantanyu, S. 2009. Partisipasi Petani dalam Meningkatkan Kapsistas
Kelembagaan Kelompok Tani (Kasus di Provinsi Jawa Tengah)
Disertasi Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Anggraeni R.A.K. 2002. Analisis Kelayakan Usahaternak Itik Petelur pada
Kelompok Tani Ternak Itik Branjangan Putih Kecamatan Losari
Kabupaten Cirebon. Skripsi. Program Studi Sosial Ekonomi
Peternakan, Jurusan Sosial Ekonomi Industri Peternakan, Fakultas
Peternakan, IPB. Bogor.
Anonim, 2000. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Rumahtangga
Petani www.eko.net/pedoman-doc diakses 28 November 2010.
Anwarham, H. 1989. Bercocok Tanam Padi Pasang Surut dan Rawa dalam M.
Ismunadji, S. Partohardjono, M. Syam, dan A. Widjoyo (eds). Padi
Buku 2. Puslitbangtan. Bogor.
Ardi D.S., Kurnia U., Mamat H.S,Hartatik W., dan Setyorini D., 2006. Karakteristik
dan Pengelolaan Lahan Rawa. Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Balitbang Pertanian
Departemen Pertanian.
Arief, A dan Irman. 1993. Ameliorasi Lahan Kering Masam untuk Tanaman
Pangan. Proseding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III.
Jakarta, Bogor 23-25 Agustus 1993.
Arifin M.Z., Anwar K., dan Simatupang R.S. 2006. Karakteristik dan Potensi
Lahan Rawa Lebak untuk Pengembangan Pertanian di Kalimantan
Selatan dalam Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Lahan
Terpadu. Banjarbaru 28 – 29 Juli 2006.
Arikunto, S. 1993. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta,
Jakarta.
Arsana Dana, IGK, S. Yahya, A.P. Lontoh. 2003. Hubungan Antara
Penggenangan Dini dan Potensi Redoks, Produksi Ethilen dan
Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan. dan Hasil Padi (Oryza sativa)
Sistem Tabela. Buletin Agronomi. Vol.31, No.2.
Arsyad L. 2008. Lembaga Keuangan Mikro: Institusi, kinerja dan Sustainabilitas.
CV. Andi Offset, Yogyakarta.
Ar-Riza, I. 2001. Prospek Pengembangan Lahan Lawa Lebak Kalimantan
Selatan dalam Mendukung Peningkatan Produksi Padi. Jurnal
Litbang Pertanian. Vol.19 No.3.
Aswidinnoor, H., M. Sabran, Masganti, Susilawati. 2008. Perakitan Varietas
Unggul Padi Tipe Baru dan Padi Tipe Baru-Ratun Spesifi k Lahan
Pasang Surut Kalimantan untuk Mendukung Teknologi Budidaya Dua
Kali Panen Setahun. Laporan Hasil Penelitian KKP3T. Institut
Pertanian Bogor.
Atmojo, S. W. 2003. Peranan Bahan Organik terhadap Kesuburan Tanah dn
Upaya Pengelolaannya. Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu
Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
Bakhri S. 2007. Petunjuk teknis Budiadaya Jagung dengan Konsep Pengelolaan
tanaman terpadu (PTT). Balai Pengkajian Teknologi (BPTP) Sulawesi
Tengah.
Balasubramanian, B., Y.B. Morachan and R. Kaliappa. 1970. Studies on
Ratooning in Rice. I. Growth Attributes and Yield. Madras Agric. J.
Vol.57, No.11.
(BBPTP) Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. 2008.
Teknologi Budidaya Kelapa Sawit, Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian.
(BPTP) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2003. Panduan/Petunjuk Teknis
Integrasi Padi dan Ternak. Sulawesi Selatan.
(BPTP) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. 2009. Blok Suplemen Pakan
(BSP) untuk Ternak Kambing di Lampung. BPTP, Lampung.
(BPTP) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. 2009. Teknologi Budidaya Padi
Sawah dengan Pendekatan PTT. Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian Kalimantan Barat.
(Balittra) Balai Penelitian Rawa. 2005. Laporan Tahunan Penelitian Pertanian
Lahan rawa tahun 2004. Penyunting Trip Alihamsyah dan Izzuddin
Noor. Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa. Banjarbaru.
(Balittanah) Balai Penelitian Tanah. 2008. Pupuk Organik untuk Tingkatkan
Produksi Pertanian. Balittanah. Bogor. Soil-fertility@indo.net.id.
Bantacut, T. 2006. Teknologi Pengolahan Padi Terintegrasi Berwawasan
Lingkungan. Makalah Disampaikan pada Lokakarya Nasional
―Peningkatan Dayasaing Beras Melalui Perbaikan Kualitas‖ Gedung
Pertemuan Oryza Bulag, Jakarta, 13 September 2006.
(BPP) Balai Penyuluhan Pertanian. 2010. Programa Penyuluhan 2010, Badan
Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan,
Kecamatan Sungai Ambawang-Kabupaten Kubu Raya.
(BPP) Balai Penyuluh Pertanian (BPP). 2010.Monografi 2010. Kecamatan
Sungai Raya-Kabupaten Kubu Raya.
(BAPPENAS) Badan Perencana Pembangunan Nasional. 2002. Pengentasan
kemiskinan. Deputi bidang kemiskinan, ketenagakerjaan dan UKM.
http://www.bappenas.go.id (1 April 2005).
(BAPPEDA) Badan Perencanaan Daerah. 2008. Rencana Tata Ruang Wilayah,
Kabupaten Kubu Raya – Kalimantan Barat.
(BPS) Biro Pusat Statistik 2010. Kalimantan Barat dalam Angka. Kantor Statistik
Provinsi Kalimantan Barat.
(BPS) Biro Pusat Statistik. 2009. Kabupaten Kubu Raya dalam Angka. Kantor
Statistik Kabupaten Kubu Raya.
Bollich, C.N , B.D.Webb, and J.E. Scott. 1988. Breeding and testing for superior
ratooning ability of rice in Texas. p. : 48-53 In Rice Ratooning. Intem.
Rice Res.Inst. Los Banos. Philippines.
Bourgeois R. 2007. Bahan Pelatihan Analisis Prospektif Partisipatif, Taining of
Trainer. ICASEPS, Bogor.
Bourgeois R. and F. Jesus. 2004. Participatory prospective analisys, exploring
and anticipating challenges with stakeholders. Center for alleviation of
poverly through secondary crops development in Asia and the Pasific
and French Agricultural Research Center for International
Development.
Budiraharjo K. 2006. Analisis profitabilitas pengembangan usaha ternak itik di
Kecamatan Pagerbarang Kabupaten Tegal. Fakultas Peternakan
Universitas Diponegoro, Semarang.
Bruchem dan Zemmelink. 1995. Sustainable Animal Production from Small Farm
System in Animal Production and Health Paper. FAO Rome.
Chatterjee, B.N., Bhattacharya and P. Debath. 1982. Ratooning of Rice. Oryza.
Vol.19, No.3.
Chairil, A. 2001. Budidaya Karet, Pusat Penelitian Karet, Medan.
Chen, C.C., B. McCarl, and H. Hill. 2002. Agriculture Value of ENSO Information
Under Alternative Phase Defenition, Climate Change Journal.
Dahama, O.P. and O.P. Bhatnagar. 1980. Education and Communication for
Development. New Delhi: Oxford and IBH Publising, Co.
Damihartini, R.S. 2005. Hubungan Karakteristik Petani dengan Kopetensi
Agribisnis pada Usahatani Sayuran di Kabupaten Kediri Jawa Timur.
Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Daniel M. 2004. Pengantar ekonomi pertanian. PT. Bumi Aksara, Jakarta.
De Datta,S.K. 1981. Principles and practices of rice production. John Wiley,
NewYork.
De Datta S.K. and PC. Bernasor. 1988. Agronomic Principles and Practices of
Rce Ratooning. p. : 164-176 In Rice Ratooning. Intern. Rice Res. Inst
Los Banos. Philippines.
(Deptan) Departemen Pertanian. 2001. Program Pembangunan Pertanian
2001-2004, Departemen Pertanian Republik Indonesia, Jakarta.
(Deptan) Departemen Pertanian. 2007. Pedoman Penumbuhan dan
Pengembangan Kelompok Tani dan Gabungan Kelompok Tani.
(Deptan) Departemen Pertanian dalam Mardikanto T. 1993. Penyuluhan
Pembangunan Pertanian. Surakarta: Sebelas Maret Press.
Dinas Pertanian Prov. Kalbar, 2008. Statistik Pertanian Tanaman Pangan
Provinsi Kalimantan Barat.
Dinas Perhubungan. 2010. Stasiun Klimatologi, Bandara Supadio Pontianak.
Djaenudin, D., H. Marwan, A. Hidayat, dan H. Subagyo. 2003. Petunjuk Teknis
Evaluasi Lahan untuk Komoditas Pertanian. Balitanah,
Puslitbangtanak, Balitbang Pertanian. ISBN 979-9474-27-2.
Dwiyanto dan Haryanto 2001. Integrasi Tanaman Ternak (crop-livestock system)
Dalam Rangka Menuju Pertanian Berkelanjutan. Prosiding Seminar
Nasional Pengkajian Pendapatan Petani Melalui Penerapan
Teknologi Tepat Guna. Mataram 20 – 21 Nopember 2002. Hal 139 –
147.
Evatt, N.S. dan H.M. Beachell. 1960. Ratoon Cropping of Short Season Rice
Varieties in Texas. Inst. Rice Comm. Newsl. Vol.9, No.3.
Fadjry, Rafiek, Yanuar, A., Budiman dan Alwi M. 2006. Identifikasi Permasalahan
Petani untuk Pengembangan Agribisnis Padi di Lahan Rawa Lebak di
Kabupaten Tanah Laut dalam Prosiding Seminar Nasional
Pengelolaan Lahan Terpadu. Banjarbaru 28 – 29 Juli 2006.
Faturochman dan Ambar Widaningrum, 1993. Konsep dan Daya Tampung
Indikator Sosial. Jurnal Populasi, Pusat Penelitian Kependudukan
Universitas Gadjah Mada.
Fauzi A. Dan S. Anna. 2005. Pemodelan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan
untuk Analisis Kebijakan. Gramedia Pustaka, Jakarta.
Fisheries. 1999. Rapfish Software for Excel, Fisheries Centre Research Reports.
Flinn, J.C., M.D. Mercado. 1988. Economic Perspectives of Rice Ratooning. p.
17-29. In W.H. Smith, V. Kumble, E.P. Cervantes (Eds.) Rice
Ratooning. IRRI, Los Banos. Philippines.
Food and Agriculture Organization. 2000. Organic Farming: Demand for Organic
Products Has Created New Export Opportunities for the Developing,
World.http://www/fao.org/magazine.spotight.organic farming html
(diakses 10 Agustus 2010).
Gittinger, J.P. 1986. Economic Analysis of Agriculture Project, The John Hopkins
University Press. Terjemahan: Slamet Sutomo dan Komet Mangiri.
Analisa ekonomi proyek-proyek pertanian. Universitas Indonesia
Press, Jakarta.
Hermanto S. 2005. Analisis Ekonomi dan Kelembagaan Perkebunan Kelapa
Sawit Rakyat di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Forum Pascasarjana Vol.28 No.3.
Hidayati, U. 1993. Pengaruh Residu Kapur dan Sekam Padi pada Sifat Oxcyx
Dystripept Cikarang dan Hasil Kedelai. Skripsi Jurusan Tanah,
Fakultas Pertanian, Institut pertanian Bogor, Bogor.
Hikmatullah E. Suparna, D. Subardja. 2008. Pola Kebijakan Pemanfaatan
Sumberdaya Lahan Basah Rawa dan Pantai.
Houle, C.O. 1975. The Nature of Adult Education. Ney York. David Mc Kay
Company, Inc. Third Edition.
Houston, D.F. (ed). 1972 Rice, Chemistry and Technology. American Association
of Cereal Chemists.Inc., Minnesota.
Idham Alamsyah, Tri Lestari dan Dessy Adriani. 2005. Analisis finansial
usahatani terpadu berbasis ternak sapi di Kabupaten Ogan Hilir,
Jurnal Pembangunan Manusia Vol.6 No.2.
Indrawati, Suyamto, dan J. Purnomo. 1993. Peningkatan Intensitas dan
Produktivitas Lahan Kering Iklim E dengan Pola Dasar Tanaman
Jagung di Banyuwangi. Hasil Penelitian Sistem Usahatani Tahun
1991/92. p.26-44.
Irawan B. 2005. Konversi Lahan Sawah: Potensi Dampak, Pola
Pemanfaatannya, dan Faktor Determinan. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Forum Penelitian Agro
Ekonomi. Vol.23 No 1.
Irawan, B dan T. Pranaji. 2002. Kebijakan Pemberdayaan Lahan Kering Untuk
mendukung Pengembangan Agribisnis dan Peetanian Berkelanjutan.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian.
Bogor.
Irianto G. 2006. Kebijakan dan Pengelolaan Air Dalam Pengembangan Lahan
Rawa Lebak dalam Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Lahan
Terpadu. Banjarbaru 28 – 29 Juli 2006.
Isgiyanto, Punarto S., Sunarsedyono dan Amir Basyir. 1993. Budidaya Padi
Sawah Secara Ratun. Teknologi untuk Menjang Peningkatan
Produksi Tanaman Pangan. Badan Litbang Pertanian. Puslitbangtan.
Balitkabi. p: 32-41.
Islam M.S., M. Hasannuzzaman, Md. Rukonuzzaman. 2008. Ratoon rice
response to different fertilizer doses in irrigated condition. Agric.
Conspec. Sci. 73:197-202.
Jarmie, M.Y. 1985. Hubungan Beberapa Karakteristik terpilih PPL dan
Kebutuhan Latihannya dalam Perbaikan Mutu Intensifikasi Tanaman
Padi Sawah di Kabupaten Banjar Kalimantan Barat. Tesis Magister
Sains, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Jones D. B 1993. Rice ratoon respon to Main Crop Harverst Cutting Height. In
Agronomy Journal. An American Society of Agronomy Publication.
Vol.85. No.5.
Jones, D. B dan G.H. Snyder, 1987. Seeding rate and. row spacing Effects on
yields of ratoon Rice.p.: 627-629 In Agronomy Journal. An American
Society of Agronomy Publication. Vol.79, No. 4.
Karyaningsih, S., Harianti I. dan Suhendrata T. 2008. Daya dukung limbah
pertanian sebagai sumber pupuk organik di Kabupaten Sukoharjo.
Disampaikan dalam Gelar Teknologi dan Seminar Nasional Teknik
Pertanian Juursan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian
UGM, Yagyakarta 18-19 November 2008.
Kartika, T.S. 2009. Pengaruh penambahan silica amorf dari sekam padi
terhadap sifat menakis dan sifat fisis mortar. Skripsi Departemen
Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Univ.
Sumatra Utara, Medan.
Kartodihardjo, H., dan Jhamtani H. [Editor]. 2006. Politik Lingkungan dan
Kekuasaan di Indonesia. Jakarta: Equinox.
Kasryno. 2000. Membangun kembali sektor pertanian dan kehutanan. Makalah
Seminar Nasional ―Prespective Pembangunan Pertanian dan
Kehutanan Tahun 2000 ke depan. Bogor 9-10 November 2000.
Kavanagh, P. 2001. Rapid Appraisal of Fisheries (Rapfish) project, Rapfish
Software Des Eruption (For Microsoft Excel). University of British
Colombia, Fisheries Centre, Vancouver.
Kavanagh P. and TJ. Pitcher. 2004. Implementing microsoft excel sofware for
Rapfish: A. Technique for The Rapid Appraisal of Fisheries Status.
University of British Colombia. Fisheries Center Research Report
12(2).
Khush, G.S., 1996. Prospect and approach to increasing the genetic yield
potential of rice. In R.E. Venson, R.W.Herdt, M. Hossain (Eds.) Rice
Research in Asia: Progrees and Priorities. IRRI, Philippines.
Krishnamurthy, K. 1988. Rice Ratooning as an Alternative to Double Cropping in
Tropical Asia. p: 3-15 In Rice Ratooning. Intern. Rice Res. Inst. Los
Banos. Philippines.
Kitinoja, L., and A.A. Kader. 1993. Small-Scale Post Harvest Handling Practices:
A Manual for Horticultural Crops. Departemen of Pomology,
University of California. Davis, California.
Knipscheer, H.C, M. Sabrani, A.J. DeBoer and T.D. Soedjana. 1983. The
Economic role of sheep and goats in Indoensia: A Case study of
West Jawa, Bulletin of Indonesian, Economics Studies 29.
Krishnamurthy, K. 1988. Rice ratooning as an alternative to double cropping in
tropical Asia. p: 3-15 In Rice Ratooning. Intern. Rice Res. Inst. Los
Banos. Philippines.
Las, I. 2010. Manfaat, Disain dan Teknologi Pengelolaan Lahan Gambut Lesson
Learned Pengelolaan Lahan Gambut dan Pembangunan (Pertanian),
Balai Besar Liutbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Penelitian
dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, Disampaikan
pada Seminar dan Lokakarya Nasional – Bogor, tanggal 28 Oktober
2010.
Lewis Jr. , W.M. Hemilton S.K. Lasai M.A. Rodrigouz M. Sanders III J.F. 2000.
Ecological determinism on the Orinoco floodplain. Bioscience Vol.50,
No.10.
Mac Kinnon K., Hatta M. G.T Halim, H., Mangalik A. 2000. Ekologi Kalimantan
(alih bahasa oleh G. Tjitrosoepomo S.N. Kartikasari, A. Widyanto).
Prenhallindo. Jakarta.
Mahadevappa, M., H.S. Yogeesha. 1988. Rice ratooningbreeding, agronomic
practice, and seed production potential. p. 177-186. In W.H. Smith, V.
Kumble, E.P. Cervantes (Eds.) Rice Ratooning. IRRI, Los Banos.
Philippines.
Marschner, H. 1986. Mineral Nutrition of Higher Plants. Academic Press. Harcout
Brac Jovanvich, Publ. London.
Mitchell, B. 2000. Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan, Gadjah Mada
University Press.
Monde, A. 2008. Dinamika Kualitas Tanah, Erosi dan Pendapatan Petani Akibat
Alih Guna Lahan Hutan Menjadi Lahan Pertanian dan
Kakao/Agroforestry Kakao di DAS Nopu- Sulawesi Tengah, [disertasi]
Sekolah Pascasarjana Institur Pertanian Bogor, Bogor.
Mubyarto. 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian. Penerbit LP3ES. Jakarta.
Mulyanto S. dan H.D. Ever (ed). 1982. Sumber Pendapatan, Kebutuhan Pokok
dan Perilaku Menyimpang. CV. Rajawali, Jakarta.
Munif A. 2009. Kompos jerami untuk solusi kebutuhan pupuk petani: murah,
mudah dan cepat. Makalah disampaikan pada diskusi dengan
Sekretaris Menteri Pertanian Diakses 23 Maret 2011.
Nazemi, D. H. Sutikno dan S. Saragih. 2006. Penelitian Komponen Teknologi
Pengelolaan Lahan Terpadu Untuk Optimalisasi dan Peningkatan
Produktivitas Lahan Lebak. Laporan Akhir Balittra. Pusat Penelitian
dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Badanlitbang.
Noferdiman dan Novra, A. 2002. Kontribusi pendapatan usaha ternak sapi
potong rakyat pada pola usahatani terpadu. Media Peternakan, Vol.
24 No.1.
Noor, M. 2007. Rawa Lebak: Ekologi, Pemanfaatan, dan Pengembangannya.
Rajawali Pers, Jakarta.
Nunung, N.H. 2007. Analisis usaha ternak kambing dalam sistem usahatani
terpadu di Kabupaten Bayumas. Jurnal Animal Production, Vol. 9
No.2.
Pambudy, R. 1999. Perilaku Komunikasi, Perilaku Wirausaha Peternak, dan
Penyuluhan dalam Sistem Agribisnis Peternakan Ayam, [disertasi]
Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Permentan No 14 tahun 2009 tentang Pedoman pemnafaatan lahan gambut
untuk budidaya kelapa sawit. Menteri Pertanian Republik Indonesia.
Pitcher, T.J., and P. David. 2001. RAPFISH: A Rapid Appraisal Technique to
Evaluate the Sustainabiity Status of Fisheries Research.
Pribadi E.R, 2007. Kajian kelayakan usahatani pola tanam sambiloto dengan
jagung. Jurnal Litri Vol. 13 No. 3.
Proctor, A. and Palaniappan. 1989. Soy Oil Adsorption by Rice Hull Ash. J. Am.
Oil. Chem. Vol 66, No.11.
Pujosumarto, M., 1995. Evaluasi Proyek. Fakultas Ekonomi Brawijaya Malang.
Edisi Kedua. Liberty. Yogyakarta
Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 2000. Sumberdaya Lahan Indonesia dan
Pengelolaannya, Puslittanak, Bogor.
Pusat Penelitian Perencanaan Regional (P3R) Unram. 2004. Rencana
Pengembangan Usaha (Bisnis Plan) KAPET Bima dan Pra Studi
Kelayakan Peluang Investasi [Laporan Penelitian]. Mataram:
Kerjasama Badan Pengelola Kapet Bima dengan P3R Unram.
Puspita L. 2005. Lahan basah buatan di Indonesia. Publisher‘s Note On
constructed wetland n Indonesia.
Qomariah R., R. Zuraidah, A. Rafieg dan A. Sabur. 2006. Usaha pengembangan
kerbau rawa di Kalimantan Selatan.
Rangnekar, D.V., M.S. Sharma dan O.P. Gahlot. 1995. Towards Sustainable
Ruminant Livestock Production in Tropics Opportunities and
Limitations of Rice Straw Based Systems. Buletin Peternakan. Edisi
Spesial, Fakultas Peternakan,UGM, Yogyakarta; h: 33-37.
Rauf, A.W., Syamsuddin. T dan Sri Rahayu Sihombing, 2000. Peranan Pupuk
NPK pada Tanaman Padi. Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian, Loka Pengkajian Teknologi Pertanian Koya Barat, Irian
Jaya.
Ravianto, J. 1985. Produktivitas dan Tenologi, Lembaga Sarana dan Informasi
Usaha dan Produktivitas. Jakarta.
Rudito, B. dan M. Famiola. 2008. Sosial Mapping-Metode Pemetaan Sosial.
Teknik Memahami Suatu Masyarakat atau Komuniti. Penerbit
Rekayasa Sains, Bandung.
Rusastra I.W, Handewi P. Saliem, Supriati, dan Saptana, 2004. Prospek
pengembangan pola tanam dan diversifikasi tanaman pangan di
Indonesia. Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 22 No.1.
Rustam Massinai, Putu Sudidra, Lilik Sutiarso. 2009. Sistem pengembilan
keputusan untuk pengembangan usahatani terpadu di lahan pasang
surut. Jurnal Agritech, Vol. 29, No.3.
Santos, A.B., N.K. Fageria, A.S. Prabhu. 2003. Riceratooning management
practices for higher yields. Comm. Soil Sci. Plant Anal. 34:881-918.
Saragih, B., 2000. Agribisnis Berbasis Peternakan, USESE Foundation dan
Pusat Studi Pembangunan IPB. Bogor.
Saifuddin, E.S. 1986. Kesuburan dan Pemupukan Tanaman Pertanian. Penerbit
Pustaka Buana, Bandung.
Sajogyo. 2006. Ekososiologi Deideologisasi Teori, Restrukturisasi Aksi (Petani
dan Perdesaan sebagai Kasus Uji). Cinderelaras Pustaka Rakyat
Cerdas, Yogyakarta.
Sajogyo. 1977. Garis miskin dan kebutuhan minimum pangan. Lembaga
Penelitian Sosiologi Pedesaan (LPSP). Institut Pertanian Bogor,
Bogor.
Soehadji. 1992. Pembangunan Jangka Panjang Tahap I, Upaya Pemantapan
Kerangka Landasan, Pokok Pemikiran Pembangunan Jangka
Panjang Tahap II dan Konsepsi REPELITA VI Pembangunan
Peternakan, Dirjend Peternakan, Jakarta.
Soehardjo dan Dahlan. 1973. Sendi-Sensi Pokok Ilmu Usahatani, Bahan Kuliah,
Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor.
Soekardono, 2001. Integrasi Tanaman dengan Ternak (crop-livestock system).
Makalah Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner,
Auditorium Balai Penelitian Veteriner, Bogor, 17-18 September 2001.
Soekartawi. 2002. Analisis Usahatani, Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Soekartawi, A. Soehardjo, A. J. L. Dillon dan J. B. Hardaker. 1986. Ilmu Usaha
Tani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. Universitas
Indonesia Press, Jakarta.
Sasmojo,S. 2001. Kebijakan Teknologi untuk Pengembangan Wilayah, Pusat
Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Badan Pengkajian dan
Penerapan Teknologi.
Schonhuth M, Kievelitz U. 1994. Participatory Learning Approaches: an
Introductory Guide. Germany: GTZ.
Sehabudin, U. dan A. Agustian 2002. Karakteristik dan kontribusi usahatani
ternak ayam buras terhadap pendapatan rumah tangga peternak
serta alternatif pola pengembangannya. Media Peternakan Vol.24
No.1.
Sewoyo S. 2001. Pendayagunaan teknologi tepat guna untuk pengembangan
potensi perdesaan.Tiga Pilar Pengembangan Wilayah, Sumberdaya
Alam, Sumberdaya Manusia, Teknologi. Pusat Pengkajian Kebijakan
Teknologi Pengembangan Wilayah.
Sinukaban, N. 2007. Membangun Pertanian Menjadi Industri yang Lestari
dengan Pertanian Konservasi dalam: N Sinukaban. Konservasi
Tanah dan Air Kunci Pembangunan Berkelanjutan. Direktorat
Jenderal RLPS, Jakarta.
Slamet, M. 1975. Psikologi Belajar. Institut Pendidikan Latihan dan Penyuluhan
Pertanian, Ciawi Bogor
Slamet, M. 2003. Membentuk Pola Perilaku Pembangunan: Paradigma Baru
Penyuluhan Pertanian di Era Otonomi Daerah. Penyunting Ida
Yustina dan Adjat Sudrajat. Bogor, IPB Press.
Soerianegara, I. 1979. Pengelolaan Sumberdaya Alam, Bagian I dan Bagian II.
Sekolah Pasca Sarjana IPB, Bogor.
Soetrisno, N, 1988. Arti Strategis Integrasi Kelompok Tani dengan KUD Bagi
Pengembangan Pedesaan. Warta Intra Bulog.
Storey D. 1999. Issues of integration, Partcipation and empowerment in rural
development: The Case of LEADER in the Republic of Ireland.
Journal of Rural Studies Vol.15, No.3.
Subagjo, H. dan I P.G. Widjaja-Adhi. 1998. Peluang dan kendala penggunaan
lahan rawa untuk pengembangan pertanian di Indonesia, Kasus:
Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah. Makalah Utama
Pertemuan Pembahasan dan Komunikasi Hasil Penelitian Tanah dan
Agroklimat, Bogor, 10 Februari 1998.
Subagjo. 2006. Karakteristik dan pengelolaan lahan rawa. Balai Besar Penelitian
dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Penelitian
dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian.
Suci, Y.P. 2009. Petunjuk teknis Beternak ayam buras. GTC Merang Beed Pilot
Project Bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
(BPTP) Sumatera Selatan.
Sudana, W. 2005. Potensi dan Prospek Lahan Rawa Sebagai Sumber Produksi
Pertanian. Balai Pengkajian dan Pengambangan Teknologi Pertanian
Bogor.
Sulaimen, 2009. Analisis produksi dan pemasaran jagung di desa Labuan
Toposo Kecamatan Tawaeli Kabupaten Donggala. J. Agroland Vol.16
No.2.
Sulistyarto, B. 2008. Pengelolaan Ekosistem Rawa Lebak untuk Mendukung
Keanekaragaman Ikan dan Pendapatan Nelayan di Kota
Palangkaraya. Disertasi Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Summanth, D.J. 1985. Productivity Engineering and Management, Mc Graw Hill
Book Company. New York.
Sumintaredja S. 2001. Penyuluhan Pertanian . Jakarta. Yayasan Pengembangan
Sinar Tani.
Sunarso. 2005. Pembagian Kerja Pada Sistem Usahatani Sayuran (Kasus
Kelompok Tani Bambu Duri, Desa Cimanggis, Kecamatan Bojong
Gede, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat), [skripsi] Institut
Pertanian Bogor.
Suparwoto dan Waluyo, 2009. Peningkatan pendapatan petani di rawa lebak
melalui penganekaragamab komoditas. Jurnal Pembangunan
Manusia Vol.7, No.1.
Suryana, A., Erwidodo dan Prajogo. 2003. Isu Strategis dan Alternatif Kebijakan
Pembangunan Pertanian Memasuki Repelita VII, Pusat Penelitian
Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian, Bogor.
Suryana. 2008. Usahatani ayam buras di Indonesia permasalahan dan
tantangan. Jurnal Litbang Pertanian, Vol.27, No.3.
Susilawati, Purwoko B.S., Aswidinnoor H., dan E. Santosa, 2010. Keragaan
Varietas dan Galur Padi Tipe Baru Indonesia dalam Sistem Ratun.
Jurnal. Agronomi. Indonesia Vol.38, No.3.
Sutisna E.N, 2006. Pengaruh sistem ratunisasi dan pemupukan nitrogen
terhadap hasil beberapa varietas padi di lahan sawah irigasi. J.
Agrivigor Vol.5, No.3. ISSN:1412-2286.
Tanga F.A. 2007. Studi optimalisasi daerah irigasi legare Kabupaten Nabire-
Propinsi Papua. Tesis Fakulta Teknis Sipil, Institut Teknologi
Bandung.
Tarbiah S. 2009. Kajian Tingkat Pendapatan Petani Sawah Irigasi dengan
Diversifikasi pola usahatani. Tesis sekolah Pascasarjana, Institut
Pertanian Bogor.
Taslim, H. H. Sutjipto Partohardjono dan Subandi. 1989. Pemupukan Padi
Sawah dalam Padi. Buku 2. Penyunting. M. Ismunadji, Mahyudin
Syam dan Yuswadi. Badan Litbang Pertanian. Puslitbangtan. Bogor.
Tjahyono. 1987. Analisis Pendapatan Petani Karet di Desa Pulau Pandan
Kecamatan Limun Kabupaten Sarolangun. Jambi. Skripsi Fakultas
Ekonomi Universitas Jambi.
Tim Penulis PS, 2008. Agribisnis Tanaman Perkebunan. Penebar Swadaya,
Jakarta.
Tim P3PK-UGM, 1988. Konsep laporan akhir, pembangunan wilayah yang
efektif: kasus proyek pengembangan wilayah oleh TAD di Kalimantan
Timur. Kerjasama Technical Cooperation for area Development
Kabupaten Kutai, East Kalimantan, Indonesia dan Pusat Penelitian
Pembangunan Pedesaan dan Kawasan, Universitas Gadja Mada,
Yogyakarta.
Togatorop, M.H. 1994. Analisis usahaternak ayam buras di daerah transmigrasi
Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat. Majalah Sainteks, Univ.
Semarang, Semarang.
Vergara, B.S. 1995. A Farmer‘s Primer on Growing Rice. IRRI, Los Banos,
Philippines.
Vergara, B.S., F.S. Lopez, J.S. Chauhan. 1988. Morphology and physiology of
ratoon rice. p. 31-40. In W.H. Smith, V. Kumble, E.P. Cervantes
(Eds.) Rice Ratooning. IRRI, Los Banos. Philippines.
Waluyo. 2000. Pola Kondisi Air Rawa Lebak sebagai Penentu Masa dan Pola
Tanam Padi dan Kedelai di Daerah Kayu Agung (OKI) Sumatera
Selatan. Tesis Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Waluyo dan I.G. Ismail. 1995. Prospek Pengembangan Tanaman Pangan di
Lahan Rawa Lebak Sumatra Selatan. Makalah disampaikan pada
Seminar Nasional Pemanfaatan Lahan Rawa, di Kalimantan Selatan.
Banjarbaru 15 – 15 Februari 1995.
Wardoyo dan H. Prabowo, 2003. Kinerja Lembaga Keuangan Mikro bagi Upaya
Penguatan Usaha Mikro, kecil dan Menengah di Wilayah
Jabodetabek. www.google.co.id diakses 28 November 2010.
Wijoyo, W.W., 2005. Pemberdayaan lembaga keuangan mikro sebagai salah
satu Pilar Sistem Keuangan Nasional: Upaya konkrit Memutus Mata
Rantai Kemiskinan. Jurnal Kajian Ekonomi dan Keuangan: edisi
khusus November, Jakarta.
Wikipedia 2011. Pertanian, diakses tanggal 23 Maret 2011.
Wiriaatmadja, S. 1977. Pokok-Pokok Penyuluhan Pertanian. C.V. Yasaguna
Jakarta.
Wright, J.C.1987. Technoeconomics: Concepts and Cases, diterjemahkan oleh J.
Ravianto. Lembaga Sarana Informasi Usaha dan Produktivitas,
Jakarta.
Zaenudin, 2004. Panduan Lengkap Budidaya Kakao. Pusat Penelitian Kopi dan
Kakao Indonesia, AgroMedia Pustaka, Jakarta.
Zen, M.T. 2001. Falsafah Dasar Pengembangan Wilayah, Pusat Pengkajian dan
Penerapan Teknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.
Zhengjin, X.U., C. Wenfu, Z. Longbu, Y. Shouren. 2005. Design principles and
parameters of rice ideal panicle type. Chin. Sci. Bull. 50:2253-2256.
Zubaedah, 1993. Meningkatkan bobot telur dan bobot potong ayam buras melalui
pemuliaan. Poultry Indonesia, Jakarta.
Zuraida R., Ismadi D., dan Hikmah Z. 2006. Prospek Usahatani Padi dan
Hortikultura di Lahan Lebak dalam Prosiding Seminar Nasional
Pengelolaan Lahan Terpadu. Banjarbaru 28 – 29 Juli 2006.
Tabel Lampiran 1 Hasil analisis contoh tanah lebak Sungai Ambangah,
Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya
Sifat Kimia dan Metode Lokasi
Kriteria
Fisik Tanah s.a1 s.a2 s.a3
pH (H2O) 3,24 3,56 3,44 Sangat Rendah
pH
pH (KCl) 2,59 2,63 2,68 Sangat Rendah
C Organik (%) Walkley & 5,92 7,42 6,77 Sangat Tinggi
Black
N Total (%) Kjeldhal 0,47 0,55 0,45 Tinggi
P2O5 (ppm) Bray I 13,67 10,56 12,22 Sangat Rendah
-1
K (cmol(+)kg ) 0,25 0,43 0,33 Rendah dan
Ekstraksi Sedang
-1
Na (cmol(+)kg ) NH4OAC 0,49 0,60 0,28 Sedang dan
1N pH:7 Rendah
-1
Ca (cmol(+)kg ) 0,83 0,62 0,52 Sedang
-1
Mg (cmol(+)kg ) 0,40 0,37 0,45 Rendah dan
Sangat Rendah
-1
KTK (cmol(+)kg ) 24,59 29,35 23,44 Tinggi
Kejenuhan Basa 8,01 6,88 6,04 Sangat Rendag
%
-1
Al-dd (cmol(+)kg ) Eks. KCl 0,59 0,59 0,71 Sangat Tinggi
-1
H-dd (cmol(+)kg ) 1N 0,14 0,17 0,21
Pasir (%) 15,50 22,59 23,23
Debu (%) Tekstur 50,04 46,99 45,67
Liat (%) 34,46 30,42 31,10
Sumber: Laboratorium Kimia Tanah Untan, 2010

Tabel Lampiran 2 Hasil analisis contoh tanah lebak Pasak Piang, Kecamatan
Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya
Sifat Kimia dan Metode Lokasi
Kriteria
Fisik Tanah p.p1 p.p2 p.p3
pH (H2O) 3,38 4,08 3,74 Sangat Rendah
pH
pH (KCl) 2,79 3,34 2,92 Sangat Rendah
C Organik (%) Walkley & 10,64 14,32 13,02 Sangat Tinggi
Black
N Total (%) Kjeldhal 0,72 0,84 0,65 Tinggi
P2O5 (ppm) Bray I 6,16 12,50 9,19 Sangat Rendah dan
Rendah
-1
K (cmol(+)kg ) Ekstraksi 0,19 0,21 0,11 Sangat Rendah
-1
Na (cmol(+)kg ) NH4OAC 0,29 0,32 0,09 Rendah
-1
Ca (cmol(+)kg ) 1N pH:7 0,47 0,52 0,41 Sangat Rendah
-1
Mg (cmol(+)kg ) 0,21 0,24 0,19 Sangat Rendah
-1
KTK (cmol(+)kg ) 26,84 34,24 30,12 Tinggi
Kejenuhan Basa 4,32 3,77 3,15 Sangat Rendah
%
-1
Al-dd (cmol(+)kg ) Eks. KCl 1N 0,80 0,67 0,71 Sangat Rendah
-1
H-dd (cmol(+)kg ) 1,23 1,35 1,22
Pasir (%) 0,00 0,00 15,12
Debu (%) Tekstur 73,49 71,65 64,34
Liat (%) 26,51 28,35 20,54
Sumber: Laboratorium kimia tanah Untan, 2010
Tabel Lampiran 3 Kriteria penilaian sifat kimia tanah
Sifat Kimia Sangat Rendah Sedang Tinggi Sangat
Rendah Tinggi
C (%) <1 1-2 2-3 3-5 >5
N (%) <0,1 0,1-0,2 0,21-0,5 0,51-0,75 >0,75
C/N <5 5-10 11-15 16-25 >25
P2O5 HCl 25% <15 15-20 21-40 41-60 >60
(mg/100g)
P2O5 Bray I (ppm) <4 5-7 8-10 11-15 >15
P2O5 Olsen (ppm) <5 5-10 11-15 16-20 >20
K2O HCL 25% <10 10-20 21-40 41-60 >60
(me/100g)
KTK (CEC) (me/100g) <5 5-16 17-24 25-40 >40
Susunan Kation
Ca(me/100g) <2 2-5 6-10 11-20 >20
Mg (me/100g) <0,3 0,4-1 1,1-2,0 2,1-8,0 >8
K (me/100g) <0,1 0,1-0,3 0,4-0,5 0,6-1,0 >1
Na (me/100g) <0,1 0,1-0,3 0,4-0,7 0,8-1,0 >1
Kejenuhan Basah (%) <20 20-40 41-60 61-80 >80
Kejenuhan Aluminium <5 5-10 10-20 20-40 >40
(%)
Cadangan Mineral (%) <5 5-10 11-20 20-40 >40
DHL x 1000 (mhos/cm) <1 1-2 2-3 3-4 >4
Persentase Natrium <2 2-3 5-10 10-15 >15
dapat tukar/ESP (%)
pH
Sangat masam Masam Agak Netral Agak Alkalin
masam alkalin
pH H2O <4,5 4,5 – 5,5 5,6 – 6,5 6,6 – 7,5 7,6 – 8,5 >8,5
Sumber: Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (2000)
Tabel Lampiran 4 Kriteria kesesuaian lahan untuk padi sawah tadah hujan
(Oryza sativa)
Kriteria/Karakteristik Kelas Kesesuaian Lahan
Lahan S1 S2 S3 N
Temperatur (tc)
Rata-rata tahunan (oC) 24-29 22-24 32-35 <18
29-32 >35
Ketersediaan air (w)
Curah hujan (mm) bulan ke-1 175-500 500-650 650-750 >750
125-175 100-125 <100
Curah hujan (mm) bulan ke-2 175-500 500-650 650-750 >750
125-175 100-125 <100
Curah hujan (mm) bulan ke-3 175-500 500-650 650-750 >750
125-175 100-125 <100
Curah hujan (mm) bulan ke-4 50-300 300-500 500-600 >600
30-50 <30
Kelembaban (%) 33-90 30-33 <30->90 -
Media perakaran (r)
Drainase Tanah Terhambat, agak Agak cepat, Sangat cepat
terhambat sedang, baik Terhambat
Tekstur Halus, agak Halus, agak Agak kasar kasar
halus, sedang halus, sadang
Bahan kasar (%) <3 3-15 15-35 >35

Kedalaman tanah (cm) >50 40-50 25-40 >25

Gambut:
Ketebalan (cm) <60 60-140 140-200 >200
Ketebalan (cm), jika ada <140 140-200 200-400 >400
sisipan bahan
mineral/pengkayaan saprik Saprik, hemik Hemik, fibrik fibrik
Kematangan
Retensi Hara (nr)
KTK liat (cmol) >16 ≤16 -
-
Kejenuhan basa (%) >50 35-50 <35
-
pH Tanah 5,5-8,2 5,0-5,5 <5,5
-
8,2-8,5 >8,5
-
C-Organik (%) >1,5 0,8-1,5 <0,8
Toksisitas (xc)
Salinitas (ds/m) <2 2-4 4-6 >6
Sodisitas (xn)
Alkalinitas/ESP) (%) <20 20-30 30-40 >40
Bahaya sulfidik (xs)
Kedalaman Sulfidik cm) <100 75-100 40-75 <40
Bahaya Erosi (eh)
Lereng (%) <3 3-8 >8—25 >25

Bahaya erosi (%) Sangat rendah Rendah- berat Sangat


sedang berat
Bahaya banjir (fh)
F0-F12 F13-F23 F14,F24,F34,F43 >F14
genangan
F21-F22 F41-F42 >F43
Penyiapan lahan (lp)
Batuan dipermukaan (%) <5 5-15 15-40 >40
Singkapan batuan (%) <5 5-15 15-25 >25

Sumber: Balai Penelitian Tanah, 2003


Tabel Lampiran 5 Kriteria kesesuaian lahan untuk Karet (Havea brassiliensis
Muel)
Kriteria/Karakteristik Kelas Kesesuaian Lahan
Lahan S1 S2 S3 N
Temperatur (tc)
o 26-31 >30-34 - >34
Rata-rata tahunan ( C)
24-26 22-24 <22
Ketersediaan air (wa)
2.000-2.500
Curah hujan (mm) 2.500-3.000 1.500-2.000 >1.500
3.000-3.500
3.500-4.000 <4.000
2-3
Lamanya masa kering (bln) 1-2 3-4 >4

Ketersediaan oksigen (oa) Agak Sangat


Drainase baik sedang terhambat, terhambat,
terhambat cepat
Media perakaran (rc)
Tekstur Halus, agak - Agak kasar kasar
halus, sedang
<15
Bahan kasar (%) 15-35 35-60 >60
>100
Kedalaman tanah (cm) 75-100 50-75 <50

Gambut:
Ketebalan (cm) <60 60-140 140-200 >200
Ketebalan (cm), jika ada <140 140-200 200-400 >400
sisipan bahan
mineral/pengkayaan
Kematangan saprik Saprik, Hemik, fibrik fibrik
hemik
Retensi Hara (nr)
KTK liat (cmol) - - -
-
Kejenuhan basa (%) >35 35-50 >50
-
pH Tanah 5,0-6,0 6,0-6,5 >6,5
-
-
C-Organik (%) >0,8 ≤0,8 -
Toksisitas (xc)
Salinitas (ds/m) <0,5 0,5-1,0 1-2 >2
Sodisitas (xn)
Alkalinitas/ESP) (%) - - - -
Bahaya sulfidik (xs)
Kedalaman Sulfidik cm) <175 125-175 75-125 <75
Bahaya Erosi (eh)
>30
Lereng (%) 8-16 6-30
<8 >45
16-45
Sangat
Bahaya erosi (%) Rendah- berat
Sangat rendah berat
sedang
Bahaya banjir (fh)
genangan F0 - F1 >F1
Penyiapan lahan (lp)
Batuan permukaan (%) <5 5-15 15-40 >40
Singkapan batuan (%) <5 5-15 15-25 >25
Sumber: Balai Penelitian Tanah, 2003
Tabel Lampiran 6 Kriteria kesesuaian lahan untuk kelapa sawit (Elaeis guenensis
Jack)
Kriteria/Karakteristik Kelas Kesesuaian Lahan
Lahan S1 S2 S3 N
Temperatur (tc)
o
Rata-rata tahunan ( C) 25-28 22-25 20-22 <20
28-32 32-35 >35
Ketersediaan air (wa)
1 450-1 700
Curah hujan (mm) 1 700-2 500 1 250-1 450 >1 250
2 500-3 500
3 500-4 000 <4 000
2-3
Lamanya masa kering (bln) <2 3-4 >4
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase Baik,sedang Agak Terhambat, Sangat
terhambat agak cepat terhambat,
cepat
Media perakaran (rc)
Tekstur Halus, agak halus, - Agak kasar kasar
sedang
<15
Bahan kasar (%) 15-35 35-55 >55
>100
Kedalaman tanah (cm) 75-100 50-75 <50

Gambut:
Ketebalan (cm) <60 60-140 140-200 >200
Ketebalan (cm), jika ada <140 140-200 200-400 >400
sisipan bahan
mineral/pengkayaan
Kematangan saprik Saprik, Hemik, fibrik fibrik
hemik
Retensi Hara (nr)
KTK liat (cmol) >16 ≤16 -
-
Kejenuhan basa (%) >20 ≤20 -
-
pH Tanah 5,0-6,5 4,2-5,0 <4,2
-
6,5-7,0 >7,0
-
C-Organik (%) >0,8 ≤0,8 -
Toksisitas (xc)
Salinitas (ds/m) <2 2-3 3-4 >4
Sodisitas (xn)
Alkalinitas/ESP) (%) - - - -
Bahaya sulfidik (xs)
Kedalaman Sulfidik cm) <125 100-125 60-100 <60
Bahaya Erosi (eh)
>30
Lereng (%) 8-16 16-30
<8
Sangat
Bahaya erosi (%) Rendah- berat
Sangat rendah berat
sedang
Bahaya banjir (fh)
genangan F0 F1 F2 >F2
Penyiapan lahan (lp)
Batuan permukaan (%) <5 5-15 15-40 >40
Singkapan batuan (%) <5 5-15 15-25 >25
Sumber: Balai Penelitian Tanah, 2003
Tabel Lampiran 7 Penerimaan, pengeluaran dan pendapatan per hektar dari
Usahatani padi di rawa lebak Desa Sungai Ambangah (ha/th)

No Uraian Banyaknya (kg) Nilai (Rp)


A Penerimaan
Produksi dalam bentuk GKG 1 100 3 300 000

B Pengeluaran
1. bibit 45 KG 45 135 000
2. Pupuk (kg) 150 340 000
3. Pestisida (btl) 3,5 187 500
4. Tenaga kerja (HOK) 10 250 000

C Jumlah Pengeluaran 910 000


D Jumlah Penerimaan 3 300 000
E Jumlah Pendapatan 2 390 000
Sumber: Hasil survey
Ket: Jumlah sampel 45 petani

Tabel Lampiran 8 Penerimaan, pengeluaran dan pendapatan per hektar dari


Usahatani padi di rawa lebak Desa Pasak Piang (ha/th)

Banyaknya
No Uraian (kg) Nilai (Rp)
A Penerimaan
Produksi dalam bentuk GKG 900 2 700 000

B Pengeluaran
1. bibit 45 KG 45 135 000
2. Pupuk (kg) 50 112 500
3. Pestisida (btl) 1 52 500
4. Tenaga kerja (HOK) 10 200 000

C Jumlah Pengeluaran 500 000


D Jumlah Penerimaan 2 700 000
E Jumlah Pendapatan 2 200 000
Sumber: Hasil survey
Ket: Jumlah sampel 28 petani
Tabel Lampiran 9 Hasil analisis usahatani karet di rawa lebak Desa
Sungai Ambangah (ha/th)
Umur Produksi Harga Penerimaan Biaya Pendapatan
th (kg/ha) produksi usahatani pemeliharaan usahatani
Ke (Rp/kg) (Rp/ha) rutin (Rp/ha) (Rp/ha/th)
26 990 8 000 7 920 000 3 550 000 4 370 000
27 990 8 000 7 920 000 3 727 500,00 4 192 500
28 979,11 9 000 8 811 990 3 913 875,00 4 898 115
29 959,53 9 000 8 635 750,20 4 109 568,75 4 526 181
30 921,15 10 000 9 211 466,88 4 315 047,19 4 896 420
31 875,09 10 000 8 750 893,54 4 530 799,55 4 220 094
32 822,58 10 000 8 225 839,92 4 757 339,52 3 468 500
33 765,00 11 000 8 415 034,24 4 995 206,50 3 419 828
34 696,15 11 000 7 657 681,16 5 244 966,83 2 412 714
Sumber: Hasil Olahan

Tabel Lampiran 10 Hasil analisis usahatani karet di rawa lebak Desa Pasak
Piang (ha/th)
Umur Produksi Harga Penerimaan Biaya Pendapatan
th (kg/ha) produksi usahatani pemeliharaan usahatani
Ke (Rp/kg) (Rp/ha) rutin (Rp/ha) (Rp/ha/th)
26 990 7 000 6 930 000 262 333 6 667 667
27 990 7 000 6 930 000 275 449,65 6 654 550
28 980,1 8 000 7 840 800 289 222,13 7 551 578
29 960,50 8 000 7 683 984 303 683,24 7 380 301
30 922,08 9 000 8298 702,72 318 867,40 7 979 835
31 875,97 9 000 7883 767,58 334 810,77 7 548 957
32 823,42 9 000 7410 741,53 351 551,31 7 059 190
33 765,78 10 000 7657 766,25 369 128,88 7 288 637
34 696,86 10 000 6968 567,28 387 585,32 6 580 982
Sumber: Hasil Olahan
Tabel Lampiran 11 Rekapitulasi analisis pendapatan usahatani kelapa sawit di
Desa Sungai Ambangah dan Pasak Piang (ha/th)
Produksi Harga produksi Penerimaan Biaya pemeliharaan Pendapatan
Tahun (kg/ha)* (Rp/kg) usahatani rutin usahatani
tanam (Rp/ha) (Rp/ha)* (Rp/ha/th)
2007 0 0 0 7 120 250 -7120250
2008 0 0 0 2 743 600 -2743600
2009 0 0 0 3 201 200 -3201200
2010 0 0 0 7 505 200 -7505200
2011 1 263 1325,78 1674460,14 7 505 200 -5830739,86
2012 4 697 1351,56 6348277,32 7 505 200 -1156922,68
2013 7 337 1377,34 10105543,58 7 505 200 2600343,58
2014 2 140 1403,12 3002676,80 7 505 200 -4502523,20
2015 8 943 1428,90 127786520,70 7 505 200 5273452,70
2016 3 830 1431,45 5482453,50 7 505 200 -2022746,50
2017 3 313 1457,23 4827802,99 7 505 200 -2677397,01
2018 6 733 1483,01 9985106,33 7 505 200 2479906,33
2019 16 923 1508,79 25533253,17 7 505 200 18028053,17
2020 14 590 1543,57 22520686,30 7 505 200 15015486,30
2021 15 780 1560,35 24622323 7 505 200 17117123
2022 19 290 1586,13 30596447,70 6 823 000 23773447,70
2023 19 770 1611,91 31867460,70 6 823 000 25044460,70
2024 22 603 1637,69 370167070,07 6 823 000 30193707,07
2025 18 737 1663,47 31168437,39 6 823 000 24345437,39
2026 15 643 1689,25 26424937,75 6 823 000 19601937,75
2027 13 670 1715,03 23444460,10 6 823 000 16621460,10
2028 19 907 1740,80 34654105,60 6 823 000 27831105,60
2029 18 053 1766,59 31892249,27 6 823 000 25069249,27
2030 11 683 1792,23 20938623,09 6 823 000 14115623,09
2031 17 587 1818,15 31975804,05 6 823 000 25152804,05
2032 12 410 1843,93 22883171,30 6 823 000 16060171,30
Jumlah 274 902 34 736,28 449 743 639,9 178 180 450 271 563 189,90
Rata-rata 10 996,08 13894512 17 989 745,60 7127218 10862527,60
Keterangan: Asumsi harga TBS setiap tahun naik sebesar Rp 25.78,-
Tabel Lampiran 12 Proyeksi produksi karet kering dan estimasi produksi lateks

Tahun Estimasi Estimasi


Umur (th) Sadap produksi Produksi
KKK (ton/ha) Lateks (liter/ha)
6 1 500 2 000
7 2 1 150 4 600
8 3 1 400 5 600
9 4 1 600 6 400
10 5 1 750 7 000
11 6 1 850 7 400
12 7 2 200 8 800
13 8 2 300 9 200
14 9 2 350 9 400
15 10 2 300 9 200
16 11 2 150 8 600
17 12 2 100 8 400
18 13 2 000 8 000
19 14 1 900 7 600
20 15 1 800 7 200
21 16 1 650 6 600
22 17 1 550 6 200
23 18 1 450 5 800
24 19 1 400 5 600
25 20 1 350 5 400
26 21 1 200 4 800
27 22 1 000 4 600
28 23 1 150 4 000
29 24 850 3 400
30 25 800 3 200
Sumber: Pusat Penelitian Karet, Medan 2001
Ket: Estimasi produksi didasarkan pada asumsi karet kering (KKK) = 25%
Tabel Lampiran 13 Perkiraan produksi TBS, minyak sawit dan inti sawit pada
berbagai umur tanaman kelapa sawit

Umur Tanaman Produksi TBS Produksi Produksi Inti


(th) (ton) Minyak Sawit Sawit (ton)
(ton)
3 4,00 0,52 0,11
4 7,00 1,20 0,18
5 9,67 1,80 0,40
6 11,75 2,30 0,52
7 13,40 2,72 0,59
8 14,67 3,03 0,65
9 17,67 3,37 0,78
10 19,67 4,23 0,87
11 20,83 4,53 0,92
12 21,50 4,70 0,95
13 21,83 4,77 0,96
14 22,00 4,78 0,97
15 21,83 4,77 0,96
16 21,67 4,73 0,95
17 21,33 4,67 0,94
18 21,00 4,60 0,92
19 20,50 4,50 0,90
20 20,00 4,40 0,88
21 19,50 4,30 0,86
22 19,00 4,20 0,84
23 18,50 4,10 0,81
24 18,00 4,00 0,79
25 17,50 3,90 0,77
Sumber: Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Balitbang
Pertanian, 2008
Tabel Lampiran 14 Atribut dan skor keberlanjutan ekologi di rawa lebak
No Dimensi/Atribut Skor*) Baik Buruk Keterangan Sumber Data
1. Keberlanjutan Ekologi
1 Persentase 0,1,2,3 3 0 Didasarkan pada jumlah Statistik pertanian
luas lahan rumah tangga pertanian Kalbar, 2009
garapan berdasarkan luas lahan
garapan:
(0) <0.5; (1) 0.5 – 1.0; (2)
1.0 – 2.0; (3) >2.0
2 Penggunaan 0,1,2 2 0 Didasarkan pada Rekomendasi
pupuk banyaknya penggunaan teknologi budidaya
pupuk per hektar: (0) lebih BPTP Kalbar,
kecil; (1) sama; (2) lebih 2009
besar
3 Kelas 0,1,2,3 3 0 (0) tidak sesuai; Kelas kesesuaian
kesesuaian (2) Sesuai marginal; lahan Balai
lahan (3) cukup sesuai; Penelitian Tanah,
(4) sangat sesuai 2003
4 Kandungan 0,1,2 2 0 (0) rendah; Kritaria kesesuaian
bahan organik (1) sedang; lahan dan hasil
tanah (2) tinggi analisis tanah
5 Produktivitas 0,1,2 2 0 Didasarkan pada Staitik Pertanian
lahan produktivitas relatif Kalbar, 2009
regional; (0) lebih rendah;
(1) sama; (2) lebih tinggi
6 Periode 0,1,2 2 0 (0) sering; (1) kadang- Responden petani,
tergenang kadang; (2) tidak pernah ketua kelompok
tergenang tani
7 Periode 0,1,2 2 0 (0) sering; Responden petani,
kekeringan (1) kadang-kadang; ketua kelompok
(2) tidak pernah kering tani
8 Ketersediaan 0,1,2 2 0 Didasarkan pada jenis Indikator
sistem irigasi pengairan: (0) tanpa irigasi; Pertanian, 2004
(1) irigasi semi teknis; (2)
irigasi teknis
Tabel Lampiran 15 Atribut dan skor keberlanjutan ekonomi di rawa lebak

No Dimensi/Atribut Skor Baik Buruk Keterangan Sumber Data


2. Keberlanjutan Ekonomi
1 Pendapatan 0,1,2 2 0 Didasarkan pada relatif SK. Gub. Kalbar No.
rata-rata petani pendapatan regional 670 tahun 2009 ttg
Kab.: UMK (Rp 820 000
(0) dibawah UMR; per bulan)
(1) sama dengan UMR;
(2) diatas UMR
2 Produksi 0,1,2 2 0 Didasarkan pada Statistik Pertanian,
usahatani produksi relatif regional; 2009
(0) lebih rendah; (1)
sama;
(2) lebih tinggi
3 Ketersediaan 0,1,2 2 0 (0) relatif kurang; Responden petani
modal (1) relatif cukup; dan ketua klp. tani
usahatani (2) relatif lebih
4 Harga produk 0,1,2 2 0 (0) dibawah nasional; Responden petani
usahatani (1) sama dengan dan ketua klp. tani
nasional;
(2) diatas nasional
5 Ketersediaan 0,1 1 0 (0) tidak tersedia; Monografi
sarana (1) tersedia Kec.Sungai Raya
produksi dan S. Ambawang
6 Keuntungan 0,1,2 2 0 Didasarkan pada persen Indikator
usahatani keuntungan per ha dari Pertanian, 2004
usahatani terhadap
persen keuntungan
regional:
(0) lebih kecil; (1) sama;
(2) lebih besar
7 Efesiensi 0,1,2 2 0 didasarkan pada hasil Patanas, 2006
ekonomi hitungan B/C ratio:
(0) tidak layak;
(1) break even point;
(2) layak
Tabel Lampiran 16 Atribut dan skor keberlanjutan sosial budaya di rawa lebak

No Dimensi/Atribut Skor Baik Buruk Keterangan Sumber Data


3. Keberlanjutan Sosial Budaya
1 Status 0,1,2 2 0 (0) menyewa; Responden petani
kepemilikan (1) menggarap; dan ketua
lahan (2) milik sendiri kelompok tani
2 Jumlah rumah 0,1,2 2 0 Didasarkan pada jumlah Statistik pertanian
tangga petani rumah tangga petani Kalbar, 2009
relatif regional:
(0) dibawah rata-rata;
(1) sama;
(2) diatas rata-rata
3 Rumah tangga 0,1,2 2 0 Didasarkan pada rumah Responden petani
petani yang tangga petani yang dan ketua
pernah pernah mengikuti kelompok tani
mengikuti penyuluhan relatif
penyuluhan diwilayah regional:
pertanian (0) dibawah rata-rata;
(1) sama;
(2) diatas rata-rata
4 Peran adat 0,1,2 2 0 (0) rendah; Responden petani
dalam kegiatan (1) sedang; dan tokoh adat
pertanian (2) tinggi
5 Pola hub. 0,1 1 0 (0) tidak saling meng- Responden petani,
masyarakat untungkan, ketua kelompok
dlm usaha (1) saling meng- tani dan tokoh adat
pertanian untungkan
6 Tingkat 0,1,2, 4 0 (0) tidak tamat SD Monografi
pendidikan 3,4 (1) SD Kecamatan Sungai
formal petani (2) SLTP Raya dan Sungai
(3) SLTA Ambawang
(4) PT
7 Intensitas 0,1,2, 3 0 Didasarkan pada jumlah Responden petani
konflik 3 konflik yang terjadi dan tokoh
dalam setahun terkait masyarakat
masalah-masalah sosial:
(0) tidak pernah;
(1) 1 – 5 kali
(2) 6 – 10 kali
(3) > 10 kali
Tabel Lampiran 17 Atribut dan skor keberlanjutan teknologi di rawa lebak

No Dimensi/Atribut Skor Baik Buruk Keterangan Sumber Data


4. Keberlanjutan Teknologi
1 Pengolahan 0,1,2,3 3 0 (0) tanpa olah Responden
tanah tanah; petani, ketua
(1) tradisional; kelompok tani,
(2) semi PPL
tradisional;
(3) modern
2 Pemupukan 0,1,2 2 0 (0) tidak dipupuk; Responden
(1) dipupuk petani, ketua
secukupnya; kelompok tani,
(2) dipupuk sesuai PPL
anjuran
3 Pengendalian 0,1,2 2 0 (0) tidak Responden
gulma dibersihkan; petani, ketua
(1) dibersihkan kelompok tani,
sekucupnya; PPL
(2) dibersikan
setiap bulan
4 Jumlah alat 0,1,2 2 0 (0) tidak ada Monografi
pemberantasan (1) ada dan tidak Kecamatan
jasad mencukupi Sungai Raya dan
pengganggu (2) ada dan Sungai
mencukupi Ambawang
5 Ketersediaan 0,1,2 2 0 (0) tidak ada Monografi
mesin pompa (1) ada dan tidak Kecamatan
air mencukupi Sungai Raya dan
(2) ada dan Sungai
mencukupi Ambawang
6 Ketersediaan 0,1,2 2 0 (0) tidak ada Monografi
mesin pasca (1) ada dan tidak Kecamatan
panen mencukupi Sungai Raya dan
(2) ada dan Sungai
mencukupi Ambawang
7 Pola tanam 0,1 1 0 (0) monokultur Responden
(1) tumpangsari petani dan ketua
kelompok tani
8 Jadual tanam 0,1,2 2 0 (0) tidak mengikuti Responden
kalender tanam petani dan ketua
(1) mengikuti kelompok tani
kalender tanam
(2) lainnya
Tabel Lampiran 18 Atribut dan skor keberlanjutan kelembagaan di rawa lebak

No Dimensi/Atribut Skor Baik Buruk Keterangan Sumber Data


5. Keberlanjutan Kelembagaan
1 Keberadaan 0,1,2 2 0 (0) tidak ada, Monografi Kec.
kelompok tani (1) ada tetapi Sungai Raya dan
tidak berjalan, Sungai
(2) ada dan Ambawang
berjalan
2 Intensitas 0,1,2 2 0 Didasarkan pada Responden
pertemuan jadwal pertemuan petani, kelompok
kelompok tani kelompok: tani
(0) tidak pernah;
(1) jarang
/insidensial;
(2) rutin/
terjadwal
3 Keberadaan 0,1,2 2 0 (0) tidak ada; Responden
lembaga sosial (1) ada tetapi petani, kelompok
tidak berjalan; tani
(2) ada dan
berjalan
4 Ketersediaan 0,1,2 2 0 (0) tidak ada, Monografi Kec.
lembaga (1) ada tetapi Sungai Raya dan
keuangan tidak berjalan, Sungai
mikro (2) ada dan Ambawang
berjalan
5 Ketersediaan 0,1,2 2 0 (0) tidak ada, Monografi Kec.
petugas (1) ada tetapi Sungai Raya dan
penyuluh tidak berjalan, Sungai
pertanian (2) ada dan Ambawang
berjalan
6 Kondisi 0,1,2,3 3 0 (0) sangat jelek, Monografi Kec.
prasarana jalan (1) jelek Sungai Raya dan
desa (2) agak baik, Sungai
(3) baik Ambawang
7 Keberadaan 0,1,2 2 0 (0) tidak ada, Monografi Kec.
balai penyuluh (1) ada tetapi Sungai Raya dan
pertanian tidak Sungai
berjalan, Ambawang
(2) ada dan
berjalan
8 Ketersediaan 0,1,2 2 0 (0) tidak ada, Responden
kios saprodi (1) ada tetapi petani, kelompok
tidak tani
berjalan,
(2) ada dan
berjalan
Keterangan: *)Nilai skor adalah merupakan modus dari semua pendapat pakar
Tabel Lampiran 19 Simulasi pola pertanian terpadu berbagai praktek usahatani
dari berbagai tanaman berbasis sumberdaya tanaman lokal
dan jenis ternak untuk Desa Sungai Ambangah dan Pasak
Piang
No Simbol Musim tanam dengan berbagai Tanaman Jenis
pola MT 1 MT 2 Perkebunan Ternak
tanam Padi Ratun Karet K. Sawit
1. p0 padi - - - - -
(eksisting) - - - karet - -
- - - - sawit -
2. p1 padi - - - - sapi
3. p2 - - - karet - sapi
4. p3 - - - - sawit sapi
5. p4 padi ratun - - - sapi
6. p5 padi ratun - karet - sapi
7. p6 padi ratun - - sawit sapi
8. p7 padi ratun - karet sawit sapi
9. p8 padi ratun padi - - sapi
10. p9 padi ratun padi karet - sapi
11. p10 padi ratun padi - sawit sapi
12. p11 padi ratun padi karet sawit sapi
13. p12 padi ratun jagung - - sapi
14. p13 padi ratun jagung karet - sapi
15. p14 padi ratun jagung - sawit sapi
16. p15 padi ratun jagung karet sawit sapi
17. p16 padi - padi - - sapi
18. p17 padi - padi karet - sapi
19. p18 padi - padi - sawit sapi
20. p19 padi - padi karet sawit sapi
21. p20 padi - jagung - - sapi
22. p21 padi - jagung karet - sapi
23. p22 padi - jagung - sawit sapi
24. p23 padi - jagung karet sawit sapi

25. p24 padi - - - - kambing


26. p25 - - - karet - kambing
27. p26 - - - - sawit kambing
28. p27 padi ratun - - - kambing
29. p28 padi ratun - karet - kambing
30. p29 padi ratun - - sawit kambing
31. p30 padi ratun - karet sawit kambing
32. p31 padi ratun padi - - kambing
33. p32 padi ratun padi karet - kambing
34. p33 padi ratun padi - sawit kambing
35. p34 padi ratun padi karet sawit kambing
36. p35 padi ratun jagung - - kambing
37. p36 padi ratun jagung karet - kambing
38. p37 padi ratun jagung - sawit kambing
39. p38 padi ratun jagung karet sawit kambing
40. p39 padi - padi - - kambing
41. p40 padi - padi karet - kambing
42. p41 padi - padi - sawit kambing
43. p42 padi - padi karet sawit kambing
44. p43 padi - jagung - - kambing
45. p44 padi - jagung karet - kambing
Lanjutan
46. p45 padi - jagung - sawit kambing
No Simbol Musim tanam dengan berbagai Tanaman Jenis
pola MT 1 MT 2 Perkebunan Ternak
tanam Padi Ratun Karet K. Sawit
47. p46 padi - jagung karet sawit kambing

48. p47 padi - - - - itik


49. p48 - - - karet - itik
50. p49 - - - - sawit itik
51. p50 padi ratun - - - itik
52. p51 padi ratun - karet - itik
53. p52 padi ratun - - sawit itik
54. p53 padi ratun - karet sawit itik
55. p54 padi ratun padi - - itik
56. p55 padi ratun padi karet - itik
57. p56 padi ratun padi - sawit itik
58. p57 padi ratun padi karet sawit itik
59. p58 padi ratun jagung - - itik
60. p59 padi ratun jagung karet - itik
61. p60 padi ratun jagung - sawit itik
62. p61 padi ratun jagung karet sawit itik
63. p62 padi - padi - - itik
64. p63 padi - padi karet - itik
65. p64 padi - padi - sawit itik
66. p65 padi - padi karet sawit itik
67. p66 padi - jagung - - itik
68. p67 padi - jagung karet - itik
69. p68 padi - jagung - sawit itik
70. p69 padi - jagung karet sawit itik

71. p70 padi - - - - ayam


72. p71 - - - karet - ayam
73. p72 - - - - sawit ayam
74. p73 padi ratun - - - ayam
75. p74 padi ratun - karet - ayam
76. p75 padi ratun - - sawit ayam
77. p76 padi ratun - karet sawit ayam
78. p77 padi ratun padi - - ayam
79. p78 padi ratun padi karet - ayam
80. p79 padi ratun padi - sawit ayam
81. p80 padi ratun padi karet sawit ayam
82. p81 padi ratun jagung - - ayam
83. p82 padi ratun jagung karet - ayam
84. p83 padi ratun jagung - sawit ayam
85. p84 padi ratun jagung karet sawit ayam
86. p85 padi - padi - - ayam
87. p86 padi - padi karet - ayam
88. p87 padi - padi - sawit ayam
89. p88 padi - padi karet sawit ayam
90. p89 padi - jagung - - ayam
91. p90 padi - jagung karet - ayam
92. p91 padi - jagung - sawit ayam
93. p92 padi - jagung karet sawit ayam
94. p93 padi - - karet - sapi
Lanjutan
No Simbol Musim tanam dengan berbagai Tanaman Jenis
pola MT 1 MT 2 Perkebunan Ternak
tanam Padi Ratun Karet K. Sawit
95. p94 padi - - karet - kambing
96. p95 padi - - karet - itik
97. p96 padi - - karet - ayam
98. p97 padi - - - sawit sapi
99. p98 padi - - - sawit kambing
100. p99 padi - - - sawit itik
101 p100 padi - - - sawit ayam
102 p101 padi - - karet sawit sapi
103 p102 padi - - karet sawit kambing
104 p103 padi - - karet sawit itik
105 p104 padi - - karet sawit ayam
Ket: (p0)=pola tanam eksisting; (p1-p92)=simulasi pola tanam
Sumber: Hasil olahan
Tabel Lampiran 20 Estimasi pendapatan (Rp/tahun) dari simulasi model
pertanian terpadu di Desa Sungai Ambangah
Simbol Pendapatan dari Pendapatan Estimasi
pola tanam hasil tanaman berdasarkan pendapatan
(Rp/th) jenis ternak (Rp/th) (Rp/tahun)
(a) (b) (c) (b+c)
Pola 2 609 000 - 2 609 000
eksisting 5 126 000 - 5 126 000
p0 11 734 830 - 11 734 830
Untuk ternak sapi
p1 2 609 000 3 600 000 6 209 000
p2 5 126 000 3 600 000 8 726 000
p3 11 734 830 3 600 000 13 602 171
p4 3 130 800 3 600 000 6 730 800
p5 8 256 800 3 600 000 11 856 800
p6 13 133 000 3 600 000 16 733 000
p7 18 259 000 3 600 000 21 859 000
p8 5 739 800 3 600 000 9 339 800
p9 10 865 800 3 600 000 14 465 800
p10 15 742 000 3 600 000 19 342 000
p11*) 20 868 000 3 600 000 24 468 000
p12 3 706 300 3 600 000 7 306 300
p13 8 832 300 3 600 000 12 432 300
p14 13 708 500 3 600 000 17 308 500
p15 18 834 500 3 600 000 22 434 500
p16 5 218 000 3 600 000 8 818 000
p17 10 344 000 3 600 000 13 944 000
p18 15 220 200 3 600 000 18 820 200
p19 20 346 200 3 600 000 23 946 200
p20 3 184 500 3 600 000 6 784 500
p21 8 310 500 3 600 000 11 910 500
p22 13 186 700 3 600 000 16 786 700
p23 18 312 700 3 600 000 21 912 700
Untuk ternak kambing
p24 2 609 000 2 165 000 4 774 000
p25 5 126 000 2 165 000 7 291 000
p26 11 734 830 2 165 000 12 167 200
p27 3 130 800 2 165 000 5 295 800
p28 8 256 800 2 165 000 10 421 800
p29 13 133 000 2 165 000 15 298 000
p30 18 259 000 2 165 000 20 424 000
p31 5 739 800 2 165 000 7 904 800
p32 10 865 800 2 165 000 13 030 800
p33 15 742 000 2 165 000 17 907 000
p34 20 868 000 2 165 000 23 033 000
p35 3 706 300 2 165 000 5 871 300
p36 8 832 300 2 165 000 10 997 300
p37 13 708 500 2 165 000 15 873 500
p38 18 834 500 2 165 000 20 999 500
p39 5 218 000 2 165 000 7 383 000
Lanjutan
Simbol Pendapatan dari Pendapatan Estimasi
pola tanam hasil tanaman berdasarkan pendapatan
(Rp/th) jenis ternak (Rp/th) (Rp/tahun)
(a) (b) (c) (b+c)
p40 10 344 000 2 165 000 12 509 000
p41 15 220 200 2 165 000 17 385 200
p42 20 346 200 2 165 000 22 511 200
p43 3 184 500 2 165 000 5 349 500
p44 8 310 500 2 165 000 10 475 500
p45 13 186 700 2 165 000 15 351 700
p46 18 312 700 2 165 000 20 477 700
Untuk ternak itik
p47 2 609 000 4 446 000 7 055 000
p48 5 126 000 4 446 000 9 572 000
p49 11 734 830 4 446 000 14 448 200
p50 3 130 800 4 446 000 7 576 800
p51 8 256 800 4 446 000 12 702 800
p52 13 133 000 4 446 000 17 579 000
p53 18 259 000 4 446 000 22 705 000
p54 5 739 800 4 446 000 10 185 800
p55 10 865 800 4 446 000 15 311 800
p56 15 742 000 4 446 000 20 188 000
p57*) 20 868 000 4 446 000 25 314 000
p58 3 706 300 4 446 000 8 152 300
p59 8 832 300 4 446 000 13 278 300
p60 13 708 500 4 446 000 18 154 500
p61 18 834 500 4 446 000 23 280 500
p62 5 218 000 4 446 000 9 664 000
p63 10 344 000 4 446 000 14 790 000
p64 15 220 200 4 446 000 19 666 200
p65*) 20 346 200 4 446 000 24 792 200
p66 3 184 500 4 446 000 7 630 500
p67 8 310 500 4 446 000 12 756 500
p68 13 186 700 4 446 000 17 632 700
p69 18 312 700 4 446 000 22 758 700
Untuk ternak ayam
p70 2 609 000 1 494 900 4 103 900
p71 5 126 000 1 494 900 6 620 900
p72 11 734 830 1 494 900 11 497 100
p73 3 130 800 1 494 900 4 625 700
p74 8 256 800 1 494 900 9 751 700
p75 13 133 000 1 494 900 14 627 900
p76 18 259 000 1 494 900 19 753 900
p77 5 739 800 1 494 900 7 234 700
p78 10 865 800 1 494 900 12 360 700
p79 15 742 000 1 494 900 17 236 900
p80 20 868 000 1 494 900 22 362 900
p81 37 06 300 1 494 900 5 201 200
p82 8 832 300 1 494 900 10 327 200
Lanjutan
Simbol Pendapatan dari Pendapatan Estimasi
pola tanam hasil tanaman berdasarkan pendapatan
(Rp/th) jenis ternak (Rp/th) (Rp/tahun)
(a) (b) (c) (b+c)
p83 13 708 500 1 494 900 15 203 400
p84 18 834 500 1 494 900 20 329 400
p85 5 218 000 1 494 900 6 712 900
p86 10 344 000 1 494 900 11 838 900
p87 15 220 200 1 494 900 16 715 100
p88 20 346 200 1 494 900 21 841 100
p89 3 184 500 1 494 900 4 679 400
p90 8 310 500 1 494 900 9 805 400
p91 13 186 700 1 494 900 14 681 600
p92 18 312 700 1 494 900 19 807 600
p93 7 735 010 3 600 000 11 335 010
p94 7 735 010 2 165 000 9 900 010
p95 7 735 010 4 446 000 12 181 010
p96 7 735 010 1 494 900 9 229 910
p97 12 611 171 3 600 000 16 211 171
p98 12 611 171 2 165 000 14 776 171
p99 12 611 171 4 446 000 17 057 171
p100 12 611 171 1 494 900 14 106 071
p101 17 737 181 3 600 000 21 337 181
p102 17 737 181 2 165 000 19 902 181
p103 17 737 181 4 446 000 22 183 181
p104 17 737 181 1 494 900 19 232 081
Ket: Pandapatan dari usahatani jagung Rp575 500/ha di Desa Sungai
Ambangah
*) pola tanam yang memenuhi nilai KHL
Tabel Lampiran 21 Estimasi pendapatan (Rp/tahun) dari simulasi model
pertanian terpadu di Desa Pasak Piang
Simbol Penerimaan dari Penerimaan Estimasi
pola tanam hasil tanaman berdasarkan pendapatan
(Rp/th) jenis ternak (Rp/th) (Rp/tahun)
(a) (b) (c) (b+c)
Pola 2 575 450 - 2 575 450
eksisting 9 038 000 - 9 038 000
p0 11 558 350 - 11 558 350
Untuk ternak sapi
p1 2 575 450 3 600 000 6 175 450
p2 9 038 000 3 600 000 12 638 000
p3 11 558 350 3 600 000 15 158 350
p4 3 090 550 3 600 000 6 690 550
p5 12 128 550 3 600 000 15 728 550
p6 14 648 900 3 600 000 18 248 900
p7 23 686 900 3 600 000 27 286 900
p8 5 666 000 3 600 000 9 266 000
p9 14 704 000 3 600 000 18 304 000
p10 17 224 350 3 600 000 20 824 350
p11*) 26 262 350 3 600 000 29 862 350
p12 3 540 550 3 600 000 7 140 550
p13 12 578 550 3 600 000 16 178 550
p14 15 098 900 3 600 000 18 698 900
p15*) 24 136 900 3 600 000 27 736 900
p16 5 150 900 3 600 000 8 750 900
p17 14 188 900 3 600 000 17 788 900
p18 16 709 250 3 600 000 20 309 250
p19*) 25 747 250 3 600 000 29 347 250
p20 3 025 450 3 600 000 6 625 450
p21 12 063 450 3 600 000 15 663 450
p22 14 583 800 3 600 000 18 183 800
p23 23 621 800 3 600 000 27 221 800
Untuk ternak kambing
p24 2 575 450 2 165 000 4 740 450
p25 9 038 000 2 165 000 11 203 000
p26 11 558 350 2 165 000 13 723 350
p27 3 090 550 2 165 000 5 255 550
p28 12 128 550 2 165 000 14 293 550
p29 14 648 900 2 165 000 16 813 900
p30*) 23 686 900 2 165 000 25 851 900
p31 5 666 000 2 165 000 7 831 000
p32 14 704 000 2 165 000 16 869 000
p33 17 224 350 2 165 000 19 389 350
p34*) 26 262 350 2 165 000 28 427 350
p35 3 540 550 2 165 000 5 705 550
p36 12 578 550 2 165 000 14 743 550
p37 15 098 900 2 165 000 17 263 900
p38*) 24 136 900 2 165 000 26 301 900
p39 5 150 900 2 165 000 7 315 900
Lanjutan
Simbol Penerimaan dari Penerimaan Estimasi
pola tanam hasil tanaman berdasarkan pendapatan
(Rp/th) jenis ternak (Rp/th) (Rp/tahun)
(a) (b) (c) (b+c)
p40 14 188 900 2 165 000 16 353 900
p41 16 709 250 2 165 000 18 874 250
p42*) 25 747 250 2 165 000 27 912 250
p43 3 025 450 2 165 000 5 190 450
p44 12 063 450 2 165 000 14 228 450
p45 14 583 800 2 165 000 16 748 800
p46*) 23 621 800 2 165 000 25 786 800
Untuk ternak itik
p47 2 575 450 4 446 000 7 021 450
p48 9 038 000 4 446 000 13 484 000
p49 11 558 350 4 446 000 16 004 350
p50 3 090 550 4 446 000 7 536 550
p51 12 128 550 4 446 000 16 574 550
p52 14 648 900 4 446 000 19 094 900
p53*) 23 686 900 4 446 000 28 132 900
p54 5 666 000 4 446 000 10 112 000
p55 14 704 000 4 446 000 19 150 000
p56 17 224 350 4 446 000 21 670 350
p57*) 26 262 350 4 446 000 30 708 350
p58 3 540 550 4 446 000 7 986 550
p59 12 578 550 4 446 000 17 024 550
p60 15 098 900 4 446 000 19 544 900
p61*) 24 136 900 4 446 000 28 582 900
p62 5 150 900 4 446 000 9 596 900
p63 14 188 900 4 446 000 18 634 900
p64 16 709 250 4 446 000 21 155 250
p65*) 25 747 250 4 446 000 30 193 250
p66 3 025 450 4 446 000 7 471 450
p67 12 063 450 4 446 000 16 509 450
p68 14 583 800 4 446 000 19 029 800
p69*) 23 621 800 4 446 000 28 067 800
Untuk ternak ayam
p70 2 575 450 1 494 900 4 070 350
p71 9 038 000 1 494 900 10 532 900
p72 11 558 350 1 494 900 13 053 250
p73 3 090 550 1 494 900 4 585 450
p74 12 128 550 1 494 900 13 623 450
p75 14 648 900 1 494 900 16 143 800
p76*) 23 686 900 1 494 900 25 181 800
p77 5 666 000 1 494 900 7 160 900
p78 14 704 000 1 494 900 16 198 900
p79 17 224 350 1 494 900 18 719 250
p80*) 26 262 350 1 494 900 27 757 250
p81 3 540 550 1 494 900 5 035 450
p82 12 578 550 1 494 900 14 073 450
Lanjutan
Simbol Penerimaan dari Penerimaan Estimasi
pola tanam hasil tanaman berdasarkan pendapatan
(Rp/th) jenis ternak (Rp/th) (Rp/tahun)
(a) (b) (c) (b+c)
p83 1 5098 900 1 494 900 16 593 800
p84*) 2 4136 900 1 494 900 25 631 800
p85 5 150 900 1 494 900 6 645 800
p86 14 188 900 1 494 900 15 683 800
p87 1 6 709 250 1 494 900 18 204 150
p88*) 25 747 250 1 494 900 27 242 150
p89 3 025 450 1 494 900 4 520 350
p90 12 063 450 1 494 900 13 558 350
p91 14 583 800 1 494 900 16 078 700
p92*) 23 621 800 1 494 900 25 116 700
p93 11 613 450 3 600 000 15 213 450
p94 11 613 450 2 165 000 13 778 450
p95 11 613 450 4 446 000 16 059 450
p96 11 613 450 1 494 900 13 108 350
p97 14 133 800 3 600 000 17 733 800
p98 14 133 800 2 165 000 16 298 800
p99 14 133 800 4 446 000 18 579 800
p100 14 133 800 1 494 900 15 628 700
p101*) 23 171 800 3 600 000 26 771 800
p102*) 23 171 800 2 165 000 25 336 800
p103*) 23 171 800 4 446 000 27 617 800
p104*) 23 171 800 1 494 900 24 666 700
Ket: Pandapatan dari usahatani jagung Rp450 000/ha di Desa Pasak Piang
*) Pola tanam yang memenuhi nilai KHL
Tabel Lampiran 22 Simulasi pendapatan petani di Desa Sungai Ambangah berdasarkan luas kepemilikan lahan usahatani dalam
memenuhi KHL
Jenis Tanaman dan Luas Kepemilikan Lahan Jenis dan
Jumlah Jumlah
KHL
Petani Padi Karet K. Sawit (Rp) Ternak
(5 org/KK)
(ekor)
0.4 0.5 0.8 1.0 1.2 1.5 1.8 1.0 1.2 1.5 2.5 3.0 1.0
F1 1043600 5126000 6169600 s2i3 & s3i2 ++
F2 1043600 6151200 7194800 s3I2 & s2i3 ++
F3 1043600 7689000 8732600 s1i3 & s2i2 ++
F4 1043600 12815000 13858600 s3 & i3 ++
F5 1043600 15378000 16421600 I2 & s3 ++

F6 1304500 5126000 6430500 s2i3 & s3i2 ++


F7 1304500 6151200 7455700 s2I3 & s3i2 ++
F8 1304500 7689000 8993500 s1I3 & s2i2 ++
F9 1304500 12815000 14119500 s3 & I3 ++
F10 1304500 15378000 16682500 i2 & s3 ++

F11 2087200 5126000 7213200 s3i2 & s2i3 ++


F12 2087200 6151200 8238400 s3i2 & s2i3 ++
F13 2087200 7689000 9776200 s1i3 & s2i2 ++
F14 2087200 12815000 14902200 s3 & i3 ++
F15 2087200 15378000 17465200 s2 & i2 ++

207
Lanjutan

208
Jenis Tanaman dan Luas Kepemilikan Lahan Jenis dan
Jumlah Jumlah
KHL
Petani Padi Karet K. Sawit (Rp) Ternak
(5 org/KK)
(ekor)
0.4 0.5 0.8 1.0 1.2 1.5 1.8 1.0 1.2 1.5 2.5 3.0 1.0
F16 2609000 5126000 7735000 s3i2 & s2i3
F17 2609000 6151200 8760200 s3i2 &s2i3
F18 2609000 7689000 10298000 s1i3 & s2i2
F19 2609000 12815000 15424000 s3 atau i3
F20 2609000 15378000 17987000 s2 atau i2

s3i2 atau
F21 3130800 5126000 8256800
s2i3
s1I3 atau
F22 3130800 6151200 9282000
s2i2
F23 3130800 7689000 10819800 i3
F24 3130800 12815000 15945800 s3 atau i3
F25 3130800 15378000 18508800 s2 atau i2

F26 3913500 5126000 9039500 s1i3 & s2i2


F27 3913500 6151200 10064700 i3
F28 3913500 7689000 11602500 i3
F29 3913500 12815000 16728500 i2
F30 3913500 15378000 19291500 s2
Lanjutan

Jenis Tanaman dan Luas Kepemilikan Lahan Jenis


Jumlah dan
KHL
Petani Padi Karet K. Sawit (Rp) Jumlah
(5 org/KK)
Ternak
0.4 0.5 0.8 1.0 1.2 1.5 1.8 1.0 1.2 1.5 2.5 3.0 1.0 (ekor)
s3i1 &
F31 4696200 5126000 9822200 ++
s2i2
F32 4696200 6151200 10847400 i3 ++
F33 4696200 7689000 12385200 i3 ++
s2 atau
F34 4696200 12815000 17511200 ++
i2
F35 4696200 15378000 20074200 i1 ++

s2 atau
F36 1043600 5126000 12337700 18507300
i2
++
s2 atau
F37 1043600 6151200 12337700 19532500
i2
++
s1 atau
F38 1043600 7689000 12337700 21070300
i1
++
F39 1043600 12815000 12337700 26196300 +
F40 1043600 15378000 12337700 28759300 +

s2 atau
F41 1304500 5126000 12337700 18768200
i2
++
F42 1304500 6151200 12337700 19793400 i1 ++
s1 atau
F43 1304500 7689000 12337700 21331200
i1
++
F44 1304500 12815000 12337700 26457200 +
F45 1304500 15378000 12337700 29020200 +

209
210
Lanjutan
Jenis Tanaman dan Luas Kepemilikan Lahan Jenis dan
Jumlah
Jumlah KHL
Petani Padi Karet K. Sawit (Rp)
Ternak (5 org/KK)
0.4 0.5 0.8 1.0 1.2 1.5 1.8 1.0 1.2 1.5 2.5 3.0 1.0 (ekor)
F46 2087200 5126000 12337700 19550900 s2 ++
F47 2087200 6151200 12337700 20576100 s1 atau i1 ++
F48 2087200 7689000 12337700 22113900 s1 ++
F49 2087200 12815000 12337700 27239900 +

F50 2087200 15378000 12337700 29802900 +


F51 2609000 5126000 12337700 20072700 i1 ++
F52 2609000 6151200 12337700 21097900 s1 ++
F53 2609000 7689000 12337700 22635700 s1 ++
F54 2609000 12815000 12337700 27761700 +
F55 2609000 15378000 12337700 30324700 +

F56 3130800 5126000 12337700 20594500 s1 atau i1 ++


F57 3130800 6151200 12337700 21619700 s1 ++
F58 3130800 7689000 12337700 23157500 s1 ++
F59 3130800 12815000 12337700 28283500 +
F60 3130800 15378000 12337700 30846500 +

F61 3913500 5126000 12337700 21377200 s1 ++


F62 3913500 6151200 12337700 22402400 s1 ++
Lanjutan

Jenis Tanaman dan Luas Kepemilikan Lahan Jenis


Jumlah dan
KHL
Petani Padi Karet K. Sawit (Rp) Jumlah
(5 org/KK)
Ternak
0.4 0.5 0.8 1.0 1.2 1.5 1.8 1.0 1.2 1.5 2.5 3.0 1.0 (ekor)
F63 3913500 7689000 12337700 23940200 s1 ++
F64 3913500 12815000 12337700 29066200 +
F65 3913500 15378000 12337700 31629200 +

F66 4696200 5126000 12337700 22159900 ++


F67 4696200 6151200 12337700 23185100 ++
F68 4696200 7689000 12337700 24722900 +
F69 4696200 12815000 12337700 29848900 +
F70 4696200 15378000 12337700 32411900 +
Keterangan: s1 = sapi 1 ekor; s2 = sapi 2 ekor; s3 = sapi 3 ekor dan i1 = itik 50 ekor; i2 = itik 100 ekor; i3 = itik 150 ekor
s1i1 sampai s3i3 = kombinasi jumlah ternak untuk memenuhi KHL
(+) = memenuhi KHL tanpa penambahan jumlah ternak
(++) = memenuhi KHL dengan penambahan jumlah ternak

211
212
Tabel Lampiran 23 Simulasi pendapatan petani di Desa Pasak Piang berdasarkan luas kepemilikan lahan usahatani dalam memenuhi
KHL
Nilai Pendapatan Berdasarkan Luas Kepemilikan Lahan (Rp)
Jenis dan Jumlah
Jumlah (Rp) KHL
Petani Padi Karet K. Sawit Ternak (ekor)
(5 org/KK)
0.5 0.8 1.0 1.5 1.0 1.2 1.5 2.5 1.0

F1 1287725 9038000 10325725 s3i1 dan s2i2 dan s1i3 ++


F2 1287725 10845600 12133325 i3 ++
F3 1287725 13557000 14844725 S3 ++
F4 1287725 22595000 23882725 S1 atau i1 ++

F5 2060360 9038000 11098360 S3i1 dan s2i2 dan s1i3 ++


F6 2060360 10845600 12905960 I3 atau s2i1 dan s1i2 ++
F7 2060360 13557000 15617360 S3 atau i2

F8 2060360 22595000 24655360 +

F9 2575450 9038000 11613450 I3 dan s1i1 ++


F10 2575450 10845600 13421050 S3 dan s2i1 dan s1i2 ++
F11 2575450 13557000 16132450 S3 atau i2 ++
F12 2575450 22595000 25170450 +

F13 3863175 9038000 12901175 I3 dan s2i1 dan s1i2 ++


F14 3863175 10845600 14708775 S3 dan s2i1 ++
F15 3863175 13557000 17420175 S2 dan i2 ++
F16 3863175 22595000 26458175 +
Lanjutan
Nilai Pendapatan Berdasarkan Luas Kepemilikan Lahan (Rp)
Jenis dan Jumlah
Jumlah (Rp) KHL
Petani Padi Karet K. Sawit Ternak (ekor)
(5 org/KK)
0.5 0.8 1.0 1.5 1.0 1.2 1.5 2.5 1.0
S1 atau i1 ++
F17 1287725 9038000 12337700 22663425
+
F18 1287725 10845600 12337700 24471025
+
F19 1287725 13557000 12337700 27182425
+
F20 1287725 22595000 12337700 36220425

S1 atau i1 ++
F21 2060360 9038000 12337700 23436060
+
F22 2060360 10845600 12337700 25243660
+
F23 2060360 13557000 12337700 27955060
+
F24 2060360 22595000 12337700 36993060

F25 2575450 9038000 12337700 23951150 +


+
F26 2575450 10845600 12337700 25758750
F27 2575450 13557000 12337700 28470150 +
+
F28 2575450 22595000 12337700 37508150

+
F29 3863175 9038000 12337700 25238875
+
F30 3863175 10845600 12337700 27046475
+
F31 3863175 13557000 12337700 29757875
+
F32 3863175 22595000 12337700 38795875
Keterangan: s1 = sapi 1 ekor; s2 = sapi 2 ekor; s3 = sapi 3 ekor dan i1 = itik 50 ekor; i2 = itik 100 ekor; i3 = itik 150 ekor
F1-32= petani dengan kombinasi luas kepemilikan lahan
s1i1 sampai s3i3 = kombinasi jumlah ternak untuk memenuhi KHL
(+) = memenuhi KHL tanpa penambahan jumlah ternak
(++) = memenuhi KHL dengan penambahan jumlah ternak

213