Вы находитесь на странице: 1из 8

Penerapan LKS Eksperimen Berbasis Pendekatan Scientific Melalui ICT

Dalam Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Modifikasi


Terhadap Pencapaian Kompetensi Fisika Siswa
Kelas X MIA SMAN 6 Padang

Diana Hariyanti(1), Masril(2), Hidayati(2)


1)
)Mahasiswa Pendidikan Fisika, FMIPA Universitas Negeri Padang
2)
Staf Pengajar Jurusan Fisika, FMIPA Universitas Negeri Padang
hariyantidiana@gmail.com

ABSTRACT
One cause of low achievement of students in the competence of SMAN 6 Padang is learning in school is not
optimal, both in terms of learning and in experiments activities. To overcome these problems, the authors
designed experiments LKS in oriented scientific approach thought ICT in cooperative learnig model jigsaw
modified. Therefore, the authours propose the purose of this study was to investigate the application of LKS
effect scientific axperiments through ICT based the approach in cooperative learning type jigsaw modifications
to the attainment of knowledge and competence skills of students of class X MIA SMAN 6 Padang to achive these
objectives the study took two classes samples by purposive sampling technique. To evaluate the lessons, the
authors conducted a competency assessment for the third. Attitude competency assessment through observation
technique with instruments such as observation sheet. For knowledge competency assessment through written
tests in the form of multiple choice test. As for competency skills through technical performance of the
instrument in the form of scoring rubric. Based on an analysis of data on each of the competencies acquired
that: there are differences in attitudes competence value fot both classes. In the knowledge acqured competence
th’ = 3,962, t table = 2,00 on the rea level of 0,05, meaning that the value of th’> ttabel Hi received with great
influence of 0,39%. On the skill competencies th’ = 3,96 t table = 2,00 on the rea level of 0,05, meaning that the
value of th’> ttabel Hi received with great influence of 93,10%. Based on the Results obtained can be concluded
there is a significant impact LKS application of scientific experiments through ICT base approach in a
cooperative learning type jigsaw modifications to the attainment of knowledge and competence skills of class X
MIA SMAN 6 Padang with 95% significance level.

Keywords : : LKS experimental, Scientific approach, Cooperative Learning Type Jigsawm of Modification, ICT

PENDAHULUAN
Fisika merupakan salah satu cabang sains dan sekolah seperti laboratorium, pustaka, ICT
merupakan dasar dari berbagai cabang disiplin ilmu (Information and Communication Technologies), dan
lain terutama dalam bidang teknologi. Hal ini sumber belajar lain. 4) meningkatkan profesional
menunjukan bahwa fisika memegang peranan guru melalui penataran, diklat, dan sertifikasi guru.
penting dalam menciptakan teknologi baru agar tidak Seiring upaya yang telah dilakukan
terbelakang dari dunia Ilmu Pengetahuan dan pemerintah tersebut, kenyataan yang dijumpai di
Teknologi (IPTEK). Semakin pesatnya lapangan belum menunjukkan hasil yang
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, memuaskan. Hal ini masih terlihat dari mata
maka pemerintah perlu meningkatkan kualitas pelajaran Fisika masih belum mencapai KKM
pendidikan untuk mengimbanginya, sesuai dengan (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang telah ditetapkan.
tuntutan Kurikulum 2013 yaitu diharapkan peserta Hasil observasi melalui wawancara dengan salah satu
didik kreatif, aktif, berfikir kristis, dan mandiri serta guru fisika di SMAN 6 Padang diperoleh penjelasan
mampu untuk bersaing dengan bangsa-bangsa lain. penyebab pencapaian kompetensi fisika siswa belum
Menyadari pentingnya mata pelajaran fisika, mencapai KKM antara lain:1) pembelajaran masih
pemerintah telah melakukan upaya agar kualitas berpusat pada guru walaupun sudah menerapkan
pembelajaran itu dapat meningakat. Upaya-upaya Kurikulum 2013, 2) pendekatan scientific dalam
yang dilakukan pemerintah seperti:1) merevisi model pembelajaran yang digunakan oleh guru
kurikulum dari KTSP menjadi Kurikulum 2013 yang belum optimal, 3) guru jarang memfasilitasi siswa
lebih menekankan kepada karakter dari peserta didik, dalam pembelajaran kelompok, 4) LKS (Lembar
2) perubahan dalam pendekatan pembelajaran (dari Kerja Siswa) yang dipakai siswa di sekolah berisi
teacher center menjadi student center), 3) ringkasan materi dan soal latihan, sedangkan
menyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan kegiatan praktikum dalam LKS berisi judul, tujuan,
alat dan bahan serta langkah kegiatan belum ada

1
langkah-langkah scientific, 5) buku paket yang maupun gagasan dapat menjadi lebih menarik,
digunakan guru belum berorientasi pada pendekatan menyenangkan, dan praktis. Tujuan penggunaan ICT
scientific, 6) sarana sekolah untuk menunjang dalam pembelajaran agar siswa dapat belajar dengan
penggunaan media pembelajaran masih terbatas, akses yang lebih mudah dan dapat memungkinkan
contohnya OHP proyektor hanya ada satu yang bisa belajar dimana saja dan kapan saja. LKS eksperimen
digunakan, 7) fasilitas Laboratorium Fisika cukup untuk kegiatan laboratorium dapat dipelajari siswa
memadai tetapi kegiatan praktikum pada mata dalam ICT. Pembelajaran menggunakan LKS dengan
pelajaran Fisika belum terlaksana, 8) Pembelajaran memanfaatkan ICT dapat menjadi lebih efektif dan
menggunakan ICT belum maksimal walaupun sudah siswa dapat belajar dimana saja dengan akses yang
tersedia fasilitas ICT. lebih mudah. Dalam LKS eksperimen berbasis
Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu pendekatan scientific melalui ICT, siswa belajar
dilakukan perbaikan-perbaikan dalam pembelajaran menggunakan HP atau laptop yang di dalamnya
Fisika. Khusus untuk masalah laboratorium, siswa dapat mengakses animasi, video kegiatan
diperlukan LKS yang sesuai dengan Kurikulum 2013 praktikum, dan materi yang menunjang siswa dalam
berorientasi pendekatan scientific. LKS tersebut kegiatan pembelajaran.
dapat dipelajari siswa melalui ICT. Tujuan Dalam mengimplementasikan LKS
penggunaan ICT dalam pembelajaran agar peserta eksperimen melalui ICT perlu diterapkan dengan
didik dapat belajar dengan akses yang lebih mudah suatu model pembelajaran agar pembelajaran yang
dan dapat memungkinkan belajar dimana dan kapan dilakukan dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
saja. Salah satu model pembelajaran yang digunakan
LKS adalah lembaran-lembaran berisi tugas adalah model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw,
yang harus dikerjakan oleh peserta didik, lembaran karena model ini dapat meningkatkan aktivitas siswa
kegiatan biasanya berupa petunjuk, langkah-langkah melalui kerja sama antar siswa dalam proses
untuk menyelesaikan tugas[1]. LKS dapat dibedakan pembelajaran dan dalam kegiatan laboratorium.
atas dua macam, yakni LKS eksperimen dan LKS Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
non eksperimen[2]. LKS eksperimen merupakan LKS merupakan model belajar kooperatif dengan cara
yang dijadikan pedoman untuk melaksanakan siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari
kegiatan laboratorium atau melakukan eksperimen empat sampai enam orang secara heterogen dimana
dan dapat memuat semua jenis keterampilan proses. siswa belajar secara bekerja sama yang saling
LKS eksperimen digunakan untuk membimbing berketergantungan positif dan bertanggung jawab
siswa dalam berpraktikum cocoknya dengan secara mandiri. Model pembelajaran koopertif tipe
memberikan pendekatan laboratorium, dimana siswa jigsaw, guru membagi satuan informasi yang besar
lebih aktif, terampil dan lebih mudah memahami menjadi komponen-komponen yang lebih kecil[4].
konsep materi yang dipelajari. Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu tipe
Dalam pelaksanaan Kurikulum 2013, pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa
pembelajaran yang dilakukan dituntut menggunakan anggota dalam satu kelompok yang bertanggung
ICT. ICT dalam proses pembelajaran diharapkan jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan
dapat memberikan kemudahan dan kesempatan yang mampu mengajarkan materi tersebut kepada orang
lebih luas kepada peserta didik dalam belajar. lain dalam kelompoknya[5]..
Pemanfaatan ICT dalam pembelajaran salah satunya Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
dapat berupa pemanfaatan internet sebagai media lebih baik diterapkan dibandingkan metode
pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar konvensional atau ceramah, hal ini sesuai dengan
secara mandiri yang dapat diakses secara online. peneliti lain bahwa pembelajaran kooperatif jigsaw
Perkembangan teknologi pada zaman sekarang, adalah metode yang lebih efektif dalam hal prestasi
penggunaan internet menjadi hal yang biasa bagi akademik daripada pembelajaran tradisional[6].
siswa. Oleh karena itu guru juga perlu menikmati Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memiliki
penggunaan internet dan mengikuti trend dalam unsur akuntabilitas dan saling ketergantungan setiap
desain dan informasinya yang digunakan dalam siswa, hal tersebut tidak ditemukan dalam metoda
proses pembelajaran. Dalam pembelajaran online, ceramah[7]. Model pembelajaran kooperatif tipe
guru perlu membantu peserta didik mengembangkan jigsaw disarankan dapat diterapkan dalam berbagai
strategi untuk mengerjakan pekerjaan mereka secara mata pelajaran dan tingkat kelas sehingga metode
efisien dan memperoleh informasi dan keterampilan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat
yang mereka butuhkan untuk melengkapi digeneralisasikan[5]. Salah satu mata pelajaran yang
pelajarannya[3]. Guru harus merasa nyaman dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif
melakukan browsing web untuk mendapatkan tipe jigsaw adalah mata pelajaran fisika.
informasi baru yang dapat digunakan dalam proses Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
pembelajaran. merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif
Selain itu, dengan bantuan ICT proses yang paling fleksibel, sehingga dapat dimodifikasi
penyampaian dan penyajian materi pembelajaran untuk mengubah beberapa detil implemetasi tetapi

2
tidak mengubah dasar dari model pembelajaran pertama, akan berlanjut ke judul selanjutnya dengan
tersebut[8]. Dalam kegiatan laboratorium model ahli selanjutnya, sehingga masing-masing anggota
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dimodifikasi kelompok asal akan mendapatkan kesempatan
agar pelaksanaan praktikum dapat berjalan meskipun menjadi ahli di setiap praktikum dan begitu
dengan alat praktikum yang terbatas. Pemodifikasian seterusnya untuk praktikum berikutnya.
ini dikarenakan dalam satu pertemuaan tidak dapat Berdasarkan uraian di atas, rumusan masalah
menyelesaikan semua praktikum untuk masing- dalam peneliti ini adalah “Apakah terdapat pengaruh
masing kelompok, sehingga modifikasi jigsaw ini penerapan LKS eksperimen berbasis pendekatan
tidak menghilangkan unsur jigsaw, terutama scientific melalui ICT dalam model pembelajaran
kelompok asal dan kelompok ahli. Pemodifikasian kooperatif tipe jigsaw modifikasi terhadap
jigsaw hanya untuk mempermudah pelaksanaan pencapaian kompetensi pengetahuan dan kompetensi
praktikum dengan waktu yang efektif. Ilustrasi keterampilan siswa kelas X MIA SMAN 6 Padang?
pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe
jigsaw modifikasi dapat dilihat pada Gambar 1. METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang dilakukan adalah quasi
Model kooperatif Tipe Jigsaw Modifikasi eksperimen (eksperimen semu) dengan rancangan
P1
penelitian Randomized Control-Group only Design
P2 P3 P4
untuk melihat pengaruh penerapan LKS eksperimen
Kelompok melalui ICT dalam model pembelajaran kooperatif
Ahli tipe jigsaw modifikasi. Populasi merupakan seluruh
subjek dalam penelitian yang mempunyai kualitas
dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
Kelompok peneliti untuk diteliti sehingga dapat ditarik
Asal kesimpulan. Populasi pada penelitian ini adalah siswa
kelas X SMAN 6 Padang yang terdaftar pada
semester ganjil tahun ajaran 2016/2017. Sampel
merupakan sebagian dari populasi yang mewakili
dari populasi tersebut dalam semua aspek atau
karakteristik populasi. Sampel harus bersifat
P1 P2 P3 P4 Praktikum refresentatif artinya semua karakteristik populasi ada
K. Bergantian dalam sampel yang akan diteliti. Pengambilan sampel
K.
Ahli Ahli dilakukan secara purposive sampling. Sampel terdiri
dari 2 kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Setelah didapatkan dua kelas sampel, sampel
Kelompok Ahli di yang berada di kelompok asal dianalisis dengan uji kesamaan dua rata-rata untuk
akan membantu kelompok asalnya melakukan mengetahui kemampuan awal dari kelas sampel.
pratikum, sehingga di setiap praktikum akan Setelah didapatkan hasil analisis menggunakan uji
selalu ada kelompok ahli di kelompok asal. kesamaan dua rata-rata, untuk menentukan kelas
eksperimen dan kelas kontrol dilakukan pengundian
secara random menggunakan mata uang. Sampel
Gambar 1. Model Kooperatif Tipe Jigsaw yang terpilih adalah kelas X MIA 4 sebagai kelas
Modifikasi eksperimen dan kelas X MIA 5 sebagai kelas kontrol.
Dalam penelitian ini terdapat tiga variabel
Berdasarkan Gambar 1 pelaksanaan model
penelitian, yaitu: 1) variabel bebas yaitu LKS
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw modifikasi
eksperimen berbasis pendekatan scientific melalui
dijelaskan sebagai berikut: 1) setiap kelompok asal
ICT[9], 2) variabel terikat yaitu pencapaian
sudah ditetapkan anggota yang akan menjadi
kompetensi fisika siswa kelas X MIA SMAN 6
kelompok ahli di setiap praktikum yang akan
Padang yang meliputi kompetensi sikap, kompetensi
dilakukan, 2) kelompok ahli dari masing-masing
pengetahuan, dan kompetensi keterampilan, 3)
kelompok asal bergabung melakukan praktikum yang
variabel kontrol yaitu model kooperatif tipe jigsaw
menjadi keahlianya, 3) kemudian pada pertemuan
modifikasi, guru mata pelajaran, materi
selanjutnya praktikum akan dilakukan oleh kelompok
pembelajaran, jumlah dan jenis soal, serta suasana
asal, jika tidak bisa dilakukan keseluruhan
belajar. Dalam kegiatan penelitian ini melalui tiga
percobaan, maka dalam 1 kali pertemuan, hanya 2
tahap yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan
praktikum yang dapat dilakukan oleh kelompok asal,
penyelesaian. Dari ketiga tahap tersebut yang
4) setiap praktikum yang dilakukan oleh kelompok
berbeda adalah pada tahap pelaksanaan. Tahap
asal, maka kelompok ahli dari judul praktikum
persiapan yang dilakukan adalah menyiapkan
tersebut akan membantu dalam kegiatan praktikum,
perangkat pembelajaran serta instrumen yang
5) setelah selesai kelompok asal praktikum dari judul
digunakan dalam penelitian. Tahap pelaksanaan yang

3
dilakukan adalah melakukan penelitian terhadap a. Kompetensi Sikap
kedua sampel yang terpilih dengan menerapkan Perolehan nilai kompetensi sikap setelah
sesuai rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dianalisis untuk delapan kali pertemuan pada kedua
disiapkan sebelumnya, yaitu menerapkan LKS kelas sampel dapat dilihat pada Tabel 1:
eksperimen berbasis pendekatan scientific melalui Tabel 1. Nilai Rata-Rata Kompetensi Sikap Setiap
ICT dalam model pembelajaran kooperatif tipe Pertemuan Kelas Eksperimen dan Kelas
jigsaw modifikasi di kelas eksperimen. Tahap Kontrol
penyelesaian adalah menganalisis data-data yang Aspek penilaian
telah didapatkan saat penelitian. Instrumen penelitian Pert Spritual Kerja Sama Disiplin Jujur
Rasa Ingin Tanggung
Percaya Diri
ini mencakup pada kompetensi sikap, pengetahuan, Tahu Jawab
dan keterampilan. Penilaian pada kompetensi sikap Eksp Kont Eksp Kont Eksp Kont Eksp Kont Eksp Kont Eksp Kont Eksp Kont
1 75 75 72 70 74 73 74 67 65 66 78 75 77 70
dilakukan untuk mengetahui sikap siswa selama
2 75 75 79 74 74 76 75 73 65 75 79 75 76 73
proses pembelajaran dengan instrumen berupa
3 75 75 81 76 76 81 76 75 78 77 76 75 76 74
lembaran observasi kompetensi sikap. Instrumen
4 84 77 85 76 79 80 78 77 84 81 79 76 79 74
kompetensi pengetahuan dalam penelitian ini adalah 5 100 79 85 79 82 80 79 76 87 83 82 77 79 76
lembaran tes objektif yang jenisnya multiple choice 6 100 100 86 84 88 85 80 80 88 85 86 77 80 76
test yang dilaksanakan di akhir penelitian. Agar tes 7 100 100 90 87 88 87 89 83 88 86 88 84 83 81
ini menjadi alat ukur yang baik, maka dilakukan tes 8 100 100 90 88 97 89 90 86 96 88 90 88 88 87
uji coba soal. Soal yang dipakai untuk penelitian ini Rata-
88,6 85,133 83,364 79,167 82,169 81,25 80,147 76,989 81,434 80,114 82,261 78,31 79,87 76,52
adalah soal yang valid, reliabilitas tes dengan Rata
klasifikasi sangat tinggi, tingkat kesukaran soal
Rata-rata Kelas Eksperimen 82,55 Rata-rata Kelas Kontrol 79,64
dengan klasifikasi sedang dan daya beda soal dengan
klasifikasi diterima. Selanjutnya, penilaian pada Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa nilai
kompetensi keterampilan dilakukan selama proses kompetensi sikap untuk setiap indikator penilaian
kegiatan praktikum berlangsung dengan mengacu pada setiap pertemuan cenderung mengalami
pada lembar penilaian unjuk kerja. peningkatan baik kelas eksperimen maupun kelas
Data dari ketiga kompetensi dianalisis untuk kontrol, tetapi pada beberapa pertemuan nilai kelas
menguji kebenaran hipotesis yang diajukan dalam eksperimen dan kelas kontrol konstan atau tetap.
penelitian. Teknik analisis data untuk kompetensi Rata-rata nilai sikap kelas eksperimen lebih tinggi
sikap menggunakan deskripsi dan grafik, untuk dibandingkan kelas kontrol untuk tujuh aspek yang
kompetensi pengetahuan dan kompetensi diukur, tetapi pada setiap pertemuan untuk masing-
keterampilan dianalisis menggunakan uji kesamaan masing indiktor penilaian, tidak selalu kelas
dua rata-rata. Sebelum dilakukan uji kesamaan dua eksperimen yang nilainya lebih tinggi dibanding
rata-rata dilakukan terlebih dahulu uji normalitas dan kelas kontrol, beberapa pertemuan dan beberapa
uji homogenitas untuk mengetahui apakah sampel indikator penilaian justru nilai kelas kontrol lebih
berasal dari populasi terdistribusi normal dan apakah tinggi dibandingkan kelas eksperimen. Data
memiliki varians yang homogen. Data dari kedua kompetensi sikap dianalisis menggunakan grafik,
kelas sampel dikatakan berasal dari populasi yang dapat dilihat pada Gambar 2.
terdistribusi normal, jika nilai L0 lebih kecil dari nilai
Lt dan data pada kedua kelas sampel dikatakan 100
memiliki varians yang homogen jika nilai Fh lebih
80
kecil dari nilai Ft.. Untuk mengetahui berapa besar
Nilai Siswa

pengaruh dari penerapan LKS eksperimen melalui 60


ICT dalam model pembelajaran kooperatif tipe eksperimen
40
jigsaw modifikasi digunakan uji regresi linear
sederhana. 20 kontrol
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 0
1. Hasil Penelitian
Data yang dianalisis dalam penelitian ini
mencangkup tiga kompetensi yaitu kompetensi
sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Data
kompetensi sikap diperoleh selama proses Aspek Penilaian
pembelajaran tatap muka di dalam kelas melalui
lembar observasi, data kompetensi pengetahun Gambar 2. Grafik Nilai Kompetensi Sikap Kelas
diperoleh melalui tes tertulis berupa posttest diakhir Eksperimen dan Kelas Kontrol Setiap
pembelajaran, dan data kompetensi keterampilan Aspek Penilaian
diperoleh selama kegiatan praktikum melalui rubrik Berdasarkan Gambar 2 dapat dilihat bahwa
penskoran pada unjuk kerja. nilai rata-rata kompetensi sikap kelas eksperimen

4
untuk setiap aspek penilaian berbeda dari kelas Hi diterima, berarti terdapat perbedaan kompetensi
kontrol. Jadi, berdasarkan analisis menggunakan pengetahuan kelas eksperimen dengan kelas kontrol.
grafik, dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat Perbedaan tersebut karena ada pengaruh penerapan
perbedaan nilai kompetensi sikap kelas eksperimen LKS eksperimen berbasis pendekatan scientific
dengan kelas kontrol. melalui ICT dalam model pembelajaran kooperatif
b. Kompetensi Pengetahuan tipe jigsaw modifikasi terhadap pencapaian
Deskripsi data kompetensi pengetahuan dapat dilihat kompetensi pengetahuan siswa.
pada Tabel 2. Untuk mengetahui besarnya pengaruh
Tabel 2. Deskripsi Nilai Kompetensi Pengetahuan penerapan LKS eksperimen berbasis pendekatan
Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol di scientific melalui ICT terhadap kompetensi
SMAN 6 Padang pengetahuan dilakukan uji regresi linear sederhana
Kelas Kelas dengan persamaan yang diperoleh adalah:
Eksperimen Kontrol Ŷ = a + bX = 75,37- 0,085X
N 31 31 Sedangkan uji keberartian dan uji linearitas dapat
dibantu dengan Tabel Anava.
Mean 68,04 60,65 Tabel 3. Anava untuk Regresi Kompetensi
Std. Deviation 6,15 8,38 Pengetahuan
Variance 37,84 70,24
Sumber
Minimum 53 47
Maximum 80 77 Variansi dk JK KT F
Sum 2109 1880 Total 31 144744,44 144744,44
Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa nilai rata- Fh =
rata kompetensi pengetahuan kelas eksperimen Koefesien 0,867
1 143616,13 143616,129
68,04, nilai rata-rata untuk kelas kontrol 60,65, (a) Ft = 4,18
standar deviasi kelas eksperimen 6,15, standar devisi Fh < Ft
kelas kontrol 8,38 nilai minimum dan maksimum Regresi
1 4,419 4,419
kelas eksperimen 53 dan 80, nilai maksimum dan (b/a)
minimum kelas kontrol 47 dan 77. Data yang
Sisa 29 1123,896 38,3755
diperoleh rata-rata nilai kelas eksperimen lebih tinggi
dibandingkan dengan rata-rata kelas kontrol. Tuna
16 -4,419 -0,276
Pada kompetensi pengetahuan untuk Cocok
mengetahui perbedaan kompetensi pengetahuan Fh =
antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol -0,003
dilakukan uji kesamaan dua rata-rata. Sebelum Ft = 2,70
Galat 13 1128,315 86,793
melakukan uji kesamaan dua rata-rata terlebih dahulu Fh < Ft
dilakukan uji normalitas dan homogenitas. Uji rh =
normalitas menggunakan uji liliefors didapatkan hasil 0,06
bahwa kelas eksperimen dan kelas kontrol Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa untuk uji
mempunyai nilai L0 < Lt pada taraf nyata 0,05 , keberartian didapatkan nilai Fhitung = 0,867, sedangkan
berarti data kelas eksperimen dan kelas kontrol nilai Ftabel = 4,17. Berdasarkan nilai Fhitung dan Ftabel
terdistribusi normal. Kemudian dilakukan uji yang diperoleh, nilai Fhitung lebih kecil dari nilai Ftabel
homogenitas menggunakan uji F didapatkan hasil artinya koefisien arah regresi tidak berarti. Untuk uji
bahwa Fh = 1,86 dan Ft dengan taraf nyata α = 0,05 linearitas didapatkan nilai Fhitung sama dengan -0,003,
dkpembilang (30) dan dkpenyebut (30) adalah 1,84. Hasil sedangkan nilai Ftabel sama dengan 2,34. Berdasarkan
perhitungan tersebut menunjukkan bahwa nilai Fhitung dan Ftabel yang diperoleh, nilai Fhitung lebih
Fh>F(0,05);(30,30), hal ini berarti data kedua kelas kecil dari nilai Ftabel artinya regresi linear. Untuk uji
sampel mempunyai varians yang tidak homogen. hubungan antara dua variabel didapat rhitung sama
Setelah melakukan uji normalitas dan uji dengan 0,06, sedangkan rtabel sama dengan 0,349.
homogenitas didapatkan bahwa masing-masing kelas Berdasarkan nilai rhitung dan rtabel yang diperoleh, nilai
sampel terdistribusi normal dan tidak homogen rhitung lebih kecil dari nilai rtabel, ini berarti tidak
sehingga analisis data yang digunakan adalah uji terdapat hubungan antara LKS eksperimen berbasis
kesamaan dua rata-rata dengan uji t’. Hasil uji pendekatan scientific melalui ICT dalam model
hipotesis menggunakan uji t’ adalah nilai t’ untuk pembelajaran kooperatif tipe jigsaw modifikasi
kompetensi pengetahuan pada taraf nyata 0,05 terhadap pencapaian kompetensi pengetahuan.
didapatkan 3,96, sedangkan nilai t tabel diperoleh 2,00 c. Kompetensi Keterampilan
pada derajat kebebasan 62 dengan taraf nyata 0,05. Pada kompetensi keterampilan, didapatkan
Berdasarkan data uji t’ yang diperoleh menunjukan deskripsi data seperti Tabel 4.
bahwa t’ berada di luar daerah penerimaan H o artinya

5
Tabel 4. Deskripsi Nilai Kompetensi Keterampilan Tabel 5. Anava untuk Regresi Kompetensi
untuk Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Keterampilan
di SMAN 6 Padang Sumber
Kelas Kelas
Eksperimen Kontrol Variansi dk JK KT F
N 31 31 Total 31 229931,25 229931,25
Mean 86,54 81,64 Fh =
Std. Deviation 5,67 3,90 391,487
Koefesien 232958,67 232958,67
Variance 32,17 15,18 1 Ft =
(a) 4 4
Minimum 74 74 4,18
Maximum 96 88 Fh > Ft
Sum 2683 2530,96 Regresi
1 894,240 894,240
Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat bahwa nilai rata- (b/a)
rata kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan Sisa 29 66,242 2,284
dengan rata-rata kelas kontrol. Deskripsi data Tuna
16 -894,240 -55,890
kompetensi keterampilan dianalisis menggunakan uji Cocok
kesamaan dua rata-rata. Sebelum dianalisis Fh =
menggunakan uji kesamaan dua rata-rata, terlebih -0,756
dahulu melakukan uji normalitas dan uji Ft =
homogenitas. Uji normalitas menggunakan uji Galat 13 960,482 73,883 2,70
lilieford didapatkan hasil bahwa kelas eksperimen Fh < Ft
dan kelas kontrol mempunyai nilai Lo<Lt pada taraf rh =
nyata 0,05, berarti data hasil tes unjuk kerja kelas 0,965
eksperimen dan kelas kontrol terdistribusi normal. Berdasarkan hasil analisis Tabel 5, untuk uji
Kemudian dilakukan uji homogenitas menggunakan keberartian didapatkan nilai Fhitung sama dengan
uji F didapatkan hasil bahwa Fhitung = 2,12 dan Ftabel 391,487, sedangkan nilai Ftabel sama dengan 4,17.
dengan taraf nyata α = 0,05 pada dkpembilang (30) dan Berdasarkan nilai Fhitung dan Ftabel yang diperoleh, nilai
dkpenyebut (30) adalah 1,86. Hasil ini menunjukkan Fhitung lebih besar dari nilai Ftabel, artinya koefisien
bahwa Fh>F(0,05);(30,30). Hal ini berarti data tes unjuk arah regresi berarti. Untuk uji linearitas didapatkan
kerja kedua kelas sampel mempunyai varians yang nilai Fhitung sama dengan -0,756 sedangkan nilai Ftabel
tidak homogen. sama dengan 2,34. Berdasarkan nilai Fhitung dan Ftabel
Setelah melakukan uji normalitas dan uji yang diperoleh, nilai Fhitung lebih kecil dari nilai Ftabel
homogenitas didapatkan bahwa masing-masing kelas artinya regresi linear. Untuk uji hubungan antara dua
sampel terdistribusi normal dan tidak homogen variabel didapat rhitung sama dengan 0,965, sedangkan
sehingga analisis data yang digunakan adalah uji rtabel sama dengan 0,349. Berdasarkan nilai rhitung dan
kesamaan dua rata-rata dengan uji t’. Hasil uji rtabel yang diperoleh, nilai rhitung lebih besar dari nilai
hipotesis kelas sampel pada kompetensi pengetahuan rtabel, ini berarti terdapat hubungan antara LKS
adalah nilai t’ untuk kompetensi keterampilan eksperimen berbasis pendekatan scientific melalui ICT
dengan taraf nyata 0,05 didapatkan 3,96 dan nilai dalam model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
ttabel adalah 2,00 berdasarkan tabel uji t’ pada derajat modifikasi terhadap pencapaian kompetensi
kebebasan 62 dengan taraf nyata 0,05. Berdasarkan pengetahuan. Untuk mengetahui besar pengaruh LKS
data uji t’ dapat dikemukakan bahwa t’ berada di luar eksperimen berbasis pendekatan scientific melalui ICT
daerah penerimaan Ho maka Hi diterima, berarti pada terhadap pencapaian kompetensi keterampilan siswa
kelas eksperimen dan kelas kontrol terdapat maka dihitung koefisien determinasinya. Dari hasil
perbedaan kompetensi keterampilan kelas perhitungan didapat nilai koefisien determinasi
eksperimen dengan kelas kontrol. perbedaan tersebut sebesar 93,10%. Nilai ini artinya 9 3 , 1 0 % pada
karena ada pengaruh penerapan LKS eksperimen kompetensi keterampilan dipengaruhi oleh
berbasis pendekatan scientific melalui ICT dalam penggunaan LKS eksperimen berbasis pendekatan
model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw scientific melalui ICT dalam model pembelajaran
modifikasi terhadap pencapaian kompetensi kooperatif tipe jigsaw modifikasi.
keterampilan siswa. Untuk mengetahui besarnya Pada kompetensi keterampilan, dalam
pengaruh penerapan LKS eksperimen berbasis penelitian selain analisis data unjuk kerja
pendekatan scientific melalui ICT terhadap menggunakan uji kesamaan dua rata-rata dan uji
kompetensi keterampilan, dapat menggunakan uji regresi linear sederhana, juga dianalisis
regresi linear sederhana dengan persamaan sebagai menggunakan grafik. Hasil analisis data unjuk kerja
berikut: menggunakan grafik dapat dilihat pada Gambar 3.
Ŷ =a+bX= 1,209X-17,257
Sedangkan uji keberartian dan uji linearitas dapat
dibantu dengan Tabel Anava.

6
dengan mengamati animasi-animasi, video
100 praktikum, LKS eksperimen, dan kuis interaktif. Di
80
Nilai Siswa
samping itu, LKS eksperimen melalui ICT ini siswa
60 dapat belajar secara mandiri karena materi dalam
40 LKS eksperimen dapat diakses siswa melalui HP
20 ataupun laptop sehingga siswa dapat mempelajari
0 LKS eksperimen dimana dan kapan saja. Dalam
Eksperimen
pembelajaran online, pengajar perlu membantu
peserta didik mengembangkan strategi untuk
Kontrol
mengerjakan pekerjaan mereka secara efisien dan
memperoleh informasi dan keterampilan yang
Persiapan
PelaksanaanPenutup mereka butuhkan untuk melengkapi pelajarannya[3].
Keadaan seperti ini memudahkan siswa untuk
Aspek Penilaian
memahami materi-materi yang ada dalam ICT.
Gambar 3. Grafik Perbandingan Nilai Rata-Rata LKS eksperimen yang ada di dalam ICT
Praktikum Kelas Eksperimen dan sesuai dengan langkah-langkah pendekatan scientific
Kelas Kontrol. supaya siswa paham dengan berfikir ilmiah.
Berdasarkan Gambar 3 dapat dilihat bahwa nilai rata- Pengamatan yang dituntut dalam LKS adalah
rata setiap praktikum untuk 3 aspek penilaian memahami materi keseluruhan baik pengamatan
(persiapan, pelaksanaan, dan penutup) kelompok ahli terhadap animasi, video, dan animasi virtual. Hal ini
dan kelompok asal kelas eksperimen lebih tinggi membuat siswa lebih kreatif dalam penggunaan LKS
dibandingkan kelas kontrol. eksperimen yang diberikan. Langkah pertanyaan
yang diajukan dalam LKS mengacu kepada apa yang
2. Pembahasan diamati sehingga hasil pengamatan siswa dapat
Berdasarkan hasil analisis untuk kompetensi menjadi pertanyaan dalam proses pembelajaran.
sikap menggunakan deskripsi dan grafik untuk kedua Langkah scientific berikutnya yaitu mencari
kelas sampel diperoleh hasil bahwa kelas eksperimen informasi dengan melakukan kegiatan praktikum di
memiliki sikap yang baik dibandingkan kelas kontrol. laboratorium. Dengan adanya LKS seperti ini
Hal tersebut terlihat pada grafik perbandingan nilai memungkin siswa memahami melakukan kegiatan
kompetensi sikap kelas eksperimen dengan kelas praktikum yang lebih baik.
kontrol. Pada penilaian kompetensi sikap untuk aspek Walaupun sudah terdapat perbedaan yang
penilaian sikap spritual kelas eksperimen dan kelas nyata antara kompetensi pengetahuan siswa kelas
kontrol mengalami peningkatan dan pada beberapa eksperimen dan kelas kontrol, namun nilai rata-rata
minggu cenderung tidak berubah atau konstan. Aspek kompetensi pengetahuan yang diperoleh siswa masih
penilaian dibatasi pada sikap mengucapkan salam, di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang
bersyukur dan mengaji. Secara rata-rata terdapat ditetapkan, hal ini disebabkan karena masih banyak
perbedaan nilai sikap spritual kedua kelas sampel. siswa yang belum mampu memahami secara baik
Pada kompetensi sikap, terdapat perbedaan LKS eksperimen berbasis pendekatan scientific,
nilai rata-rata sikap sosial kedua kelas sampel untuk apalagi ditambah dengan sering terganggunya
masing-masing aspek penilaian seperti kerja sama, jaringan online[11]. Kendala yang dihadapi peneliti
disiplin, jujur, rasa ingin tahu, tanggung jawab, sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti
percaya diri. Penilaian masing-masing aspek sosial lain yang mengungkapkan bahwa dalam pelaksanaan
untuk setiap minggu juga mengalami perubahan. pembelajaran ICT, saat pembelajaran berlangsung,
Nilai kompetensi sikap kelas eksperimen berbeda siswa akan menggunakan koneksi internet secara
dari kelas kontrol, hal ini dikarenakan kebiasaan- bersamaan sehingga akan membuat siswa terhubung
kebiasaan yang dilakukan oleh guru selama proses ke pembelajaran ICT dengan waktu yang cukup
pembelajaran berlangsung. Pembentukan karakter lama dikarenakan koneksi internet lambat [10]. Selain
oleh guru untuk kedua kelas sampel menunjukan hal tersebut, penyesuaian menggunakan model
karakter yang terbentuk semakin lama semakin baik. pembelajaran yang selama ini terbiasa dengan
Ditinjau dari kompetensi pengetahun terdapat metode ceramah membutuhkan waktu yang lama,
perbedaan antara kelas eksperimen dengan kelas kurang antusias dalam mengikuti model
kontrol. Hal ini mengindikasikan bahwa LKS pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif
eksperimen berbasis pendekatan scientific melalui tipe jigsaw modifikasi dikarenakan siswa merasa
ICT memberikan efek terhadap kompetensi asing dengan model tersebut. Siswa masih bingung
pengetahuan siswa. Efek yang tampak dari dengan peranan kelompok asal dan kelompok ahli,
penggunaan LKS eksperimen tersebut adalah siswa Siswa mengulur waktu saat praktikum dan
lebih semangat dan termotivasi menggunakan LKS mengumpulkan hasil kegiatan praktikum sehingga
eksperimen berbasis pendekatan scientific melalui pelaksanaan pembelajaran tidak tepat waktu.
ICT, karena siswa mudah menerima pembelajaran Berdasarkan uji pengaruh menunjukkan bahwa besar

7
pengaruh LKS eksperimen berbasis pendekatan DAFTAR PUSTAKA
scientific melalui ICT dalam model pembelajaran
[1] Depdiknas. 2007. Standar Isi Untuk Satuan
kooperatif tipe jigsaw modifikasi sebesar 0,39%, hal
Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta :
ini menunjukkan bahwa 99,71% kompetensi
Depdiknas.
pengetahuan dipengaruhi oleh yang lain. Keadaan ini
[2] Depdiknas. 2008. Panduan Pengembagan
mengindikasikan bahwa LKS eksperimen bukanlah
Bahan Ajar. Jakarta: Direktorat Jendral
satu-satunya faktor yang mempengaruhi kompetensi
Manajemen Pendidikan Dasar dan
Fisika siswa[12].
Menengah.
Pada kompetensi keterampilan, setelah
[3] Munir. 2008. Kurikulum Berbasis
dianalisis menggunakan uji kesamaan dua rata-rata
Teknologi Informasi dan komunikasi.
dengan statistik uji t’didapatkan hasil bahwa terdapat
Jakarta: Alfabeta.
perbedaan anatara kelas eksperimen dengan kelas
[4] Rusman. 2013. Model-model
kontrol, artinya LKS eksperimen berbasis pendekatan
Pembelajaran: Mengembangkan
scientific melalui ICT memiliki pengaruh terhadap
Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali
kompetensi keterampilan. Besar pengaruh LKS
press.
eksperimen berbasis pendekatan scientific dalam
[5] Lie, Anita.2002. Cooperative Learning.
model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah
Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia
93,10%. Hal ini karena di dalam ICT ada materi,
[6] Khan, Gul Nazir. Effect Of Jigsaw
LKS eksperimen, animasi berhubungan dengan
Technique Of Cooperative Learning (JCL)
hipotesis praktikum dalam LKS eksperimen, dan
Academic Achievement Of Secondary
video yang berisi petunjuk dalam praktikum sehingga
School Students. Global Advancer
memudahkan siswa dalam melaksanakan praktikum.
Reasearch Journl of Education Research
LKS eksperimen melalui ICT tersebut juga
and Review (ISSN: 2315-513) Vol 5(2), PP
dilengkapi dengan langkah-langkah scientific yang
(02-031, February, 2016).
menuntun siswa melaksanakan percobaan secara
[7] Zakaria, Effandi, Solfitri, Titi, Daud,
sistematis. Sedangkan di kelas kontrol menggunakan
Yosoff, Abidin, Z.Z. Effect of Cooperative
LKS yang ada di sekolah yang berisi sedikit sekali
Learning on Secondary School Students
yang membahas tentang kegiatan praktikum, hanya
Mathematic Achivement. Creative
ada judul, alat dan bahan dan langkah percobaan.
Eduacation, 2013 Vol 4 No 2, 98-100.
Selain itu dikelas kontrol LKS dalam kegiatan
[8] Slavin, Robert E. 2009. Coopererative
praktikum yang digunakan tidak ada animasi dan
Learning, teori, riset, dan praktik.
video petunjuk praktikum yang dapat membantu
Bandung: NusaMedia.
dalam kegiatan praktikum. Hal ini LKS eksperimen
[9] Masril, Hidayati. 2015. Pengembangan
berbasis pendekatan scientific melalui ICT dapat
Bahan Ajar Berbasis Scientific Approach
menunjang siswa dalam melakukan praktikum seperti
Melalui ICT Untuk Menunjang
dalam melakukan analisis data praktikum dan
Implementasi Kurikulum 2013 dalam Mata
menyimpulkan praktikum.
Pelajaran Fisika SMA (Laporan Penelitian
KESIMPULAN HB tahun I). Padang: UNP.
[10] Hidayati, Masril, Gisti Vilara. 2016.
Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah
Pengembangan Bahan Ajar Fisika Melalui
diuraikan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
ICT Menggunakan Software Moodle Untuk
1. Terdapat perbedaan kompetensi sikap kelas
SMA Kelas X. Prosiding SEMIRATA
eksperimen dengan kelas kontrol selama proses
bidang MIPA 2016: BKS-PTS Barat,
pembelajaran.
Palembang 22-24 Mei 2016.
2. Terdapat pengaruh dari penerapan LKS
eksperimen berbasis pendekatan scientific [11] Masril, Hidayati, 2015. Perancangan
melalui ICT dalam model pembelajaran Bahan Ajar Berbasis Scientific
kooperatif tipe jigsaw modifikasi terhadap Approach Untuk Mata Pelajaran
pencapaian kompetensi pengetahuan dan Fisika Sma Kelas X, Jurnal Eksakta
kompetensi keterampilan siswa kelas X MIA 1, Hal . 102
SMAN 6 Padang pada taraf signifikansi 95%.
3. Besarnya pengaruh dari penerapan LKS [12] Masril, Hidayati, 2014, Perancangan
eksperimen berbasis pendekatan scientific Bahan Ajar Berbasis Scientific
melalui ICT dalam model pembelajaran Approach Untuk Mata Pelajaran
kooperatif tipe jigsaw modifikasi terhadap Fisika Sma Kelas X, Jurnal PILLAR
pencapaian kompetensi pengetahuan sebesar OF PHYSICS EDUCATION 3(1).
0,39% dan pada pencapaian kompetensi
keterampilan sebesar 93,10% pada taraf
signifikansi 95%