Вы находитесь на странице: 1из 6

Agrotech Res J Vol 2. No 2.

2018: 63-68
ISSN: 2614-7416
THE ORGANIC FERTILIZERS RESIDUAL AND EARTHWORM INTRODUCTION ON GROWTH AND YIELD OF
UPLAND RICE

Dick Dick Maulana1*, Suli Suswana2


1,2
Agricultural Faculty of Islamic Nusantara University
Author contact: dickdick.maulana@yahoo.com

ABSTRACTS
In modern agriculture, over use of inorganik fertilizers causes dangerous effects on environment, human health and
loss of soil fertility. Soil organic matter is a main indicator of the quality and healthy soils. Organic matter
mineralization is a key process that releasing the available nutrients to the plants. There are many organisms
involved in the mineralization processes. Earthworm enable to digest soil organik matters, and the excretion’s have
more available nutrients content, that potential to increase nutrients absorption. This research intended to study
influences of organic fertilizers residuals and earthworm introduction on growth of the upland rice in pots. The
experiment was conducted in Agricultural Faculty of Universitas Islam Nusantara (UNINUS), from January - June
2017, with RBD that comprised of two factors: (1) earthworm; and (2) residual of kinds and rates of the organik
fertilizers. The results showed that aren’t significantly interaction influences of the organik fertilizers residuals
and earthworm introduction on growth and yield of upland rice also to increase yield components of upland rice.
Keywords: Organic Fertilizer Residuals, Earthworm, Soil Quality, Upland Rice

Maulana DD, Suswana S. 2018. Pengaruh residu pupuk organik dan cacing tanah terhadap pertumbuhan dan hasil
padi gogo. Agrotech Res J 2(2): 63-68.
Maulana DD, Suswana S. 2018. The organic fertilizers residual and earthworm introduction on growth and yield of
upland rice. Agrotech Res J 2(2): 63-68.
tanah dan di sisi lain lebih mengenai penanganannya
PENDAHULUAN terhadap lingkungan dan kehirupan dari pemanfaatan
berlebihan dari pupuk kimia.
Pada pertanian modern seperti saat ini, penggunaan
Indonesia merupakan negara yang mengandalkan
pupuk anorganik yang berlebihan berdampak kepada
pertanian sebagai salah satu indikator pertumbuhan
kondisi lingkungan, kesehatan manusia dan kesuburan
ekonomi. Oleh karena itu, produksi pertanian di
tanah. Secara umum pemanfaatan pupuk kimia dapat
Indonesia setiap tahun harus dalam kondisi yang
meningkatkan produksi, namun penggunaan secara
terpenuhi dan diharapkan mengalami peningkatan
berlebihan dapat mengeraskan tanah, menurunkan
untuk mengimbangi pertumbuhan penduduknya seiring
kesuburan, meningkatkan penggunaan pestisida,
fluktuasi dimana pemanfaatan lahan pertanian.
mencemari air dan udara, mengakibatkaan efek rumah
Bermula dari tahun 1990, para ahli mulai
kaca, sehingga akhirnya berdampak pada kesehatan
mempertanyakan keberlanjutan strategi intensifikasi
manusia dan lingkungan secara keseluruhan (Shanika,
“revolusi hijau” dalam hal pelambatan pertumbuhan
2015). Penurunan kesuburan tanah merupakan
hasil dan degradasi lahan (Burno and Ladha, 2009).
kerusakan fungsi dari faktor penopang tanaman dalam
Pelambatan tersebut terjadi akibat dari degradasi
kemampuannya mengubah hara menjadi bentuk yang
lahan di kawasan pertanian khususnya terjadi pada
dapat dimanfaatkan oleh tanaman (Notohadikusuma,
tanaman-tanaman strategis seperti padi di kawasan
1999). Pada tingkat paling ekstrim, yakni pada aras
pantura dan karawang. Beras merupakan bahan
pemberian pupuk kimia tidak dapat menopang secara
pangan pokok bagi 95% penduduk Indonesia
berkelanjutan hara yang hilang dari dalam tanah dan
(Swastika et al., 2007).
juga bahan-bahan penyehat tanah.
Adopsi padi produksi tinggi dan berumur pendek
Perbandingan antara unsur hara terserap dalam
saat revolusi hijau semakin luas. Perbaikan
tanah dan hara yang diberikan (recovery efficiency)
pengelolaan tanaman, ketersediaan irigasi, dan
merupakan permasalahan utama jumlah pupuk yang
penggunaan bahan kimia selama revolusi hijau telah
sesuai dengan kebutuhan tanaman. Efisiensi tersebut
membawa ke arah intensifikasi cepat di lahan sawah
merupakan bagian penting dari keseluruhan faktor
daerah tropika di Asia. Hal itu berakibat pada beban
eksternal tanaman (seperti tekstur tanah, pH tanah,
terhadap tanah dan sumberdaya alam lain semakin
iklim, cara pengelolaan, jenis pupuk dan
besar (Suswana, 2015).
implementasinya) dan juga faktor internal pada
Produksi padi rata-rata Indonesia pada tahun 2013
tanaman (pola pertumbuhan, pola perakaran,
sebesar 71,3 juta ton, padi sawah 67,4 juta ton, dan
kesehatan tanaman, dan besar kebutuhan hara
padi ladang 3,9 juta ton; dengan produktivitas padi
tanaman pada setiap fase tumbuh).
rata-rata 5,2 ton/ha, padi sawah 5,3 ton/ha, dan padi
Ilmuan dan peneliti sering beradu pendapat tentang
ladang 3,3 ton/ha (Basis Data Statistik Pertanian,
pemanfaatan berbagai jenis pupuk organik yang dapat
2015). Produktivitas padi pada lahan bukan sawah
digunakan untuk meningkatkan ketersediaan unsur
(tadah hujan dan gogo) masih rendah antara lain
hara, retensi unsur hara dan penanganan pencemaran
disebabkan oleh kendala lingkungan biofisik yang
*Fak. Pertanian Universitas Islam Nusantara belum terpecahkan (Makarim, 2009). Masalah
Jl. Soekarno-Hatta 530, Buah Batu, Bandung lingkungan biofisik terutama di lahan sawah perlu
The Organic Fertilizers Residual and Earthworm Introduction on Growth and Yield of Upland Rice 63
(Dick Dick Maulana, Suli Suswana)
Maulana dan Suswana Vol 2. No 2. 2018

menjadi fokus perhatian terutama dalam hal lebih tinggi dibandingkan dengan tanah di sekitarnya.
peningkatan kualitas udara dan air di dalam tanah Selain itu, hasil analisis oleh Badan Penelitian dan
dalam rangka mempertahankan kondisi tanah dalam Pengembangan Pertanian (2008), menunjukkan bahwa
menopang ketersediaan unsur hara. bahan organik yang telah terdekomposisi oleh cacing
Dengan abad ke-20 yang telah berlalu, perhatian tanah, mempunyai sifat kimia lebih unggul, yaitu
terhadap kualitas udara dan air menjadi sama penting memiliki kandungan N dan P tinggi. Kandungan N tinggi
dengan perhatian terhadap produktivitas pertanian berasal dari perombakan bahan organik kaya N dan
(Bellows, 2005). Untuk menuju ke arah perlindungan ekskresi mikroba yang bercampur dengan tanah dalam
lingkungan dan memelihara potensi produksi lahan, sistem percernaan cacing tanah.
sekarang ini upaya-upaya yang dilakukan harus lebih Berdasarkan uraian di atas tergambarkan bahwa
meningkatkan upaya pengendalian dan pengelolaan permasalahan utama penurunan peningkatan
dampak erosi untuk dapat meningkatkan kualitas produktivitas dan efisiensi produksi padi adalah
tanah. Cara yang paling praktis untuk meningkatkan karena penurunan kandungan bahan organik tanah.
kualitas tanah adalah melalui gerakan pengelolaan Karama (2000) melaporkan bahwa pada tahun 1999
bahan organik atau C tanah. Banyak sifat-sifat tanah tercatat luas tanah sawah di pulau Jawa dan di
mempengaruhi kualitas tanah, tetapi disisi lainbahan lumbung pangan di luar Jawa yang mengandung
organik sebaiknya mendapat perhatian khusus. bahan organikkurang dari 1% telah mencapai 80%.
Bahtan organik mempengaruhi beberapa fungsi tanah Namun upaya pemulihan kualitas tanah melalui
yang bersifat kritis, dapat dimanipulasi melalui praktek penambahan pupuk organik sering terlambat
pengelolaan lahan, dan penting dalam kebanyakan memberikan pengaruh positif. Ini karena proses
kondisi pertanian. Tambahan pula bahwa peningkatan mineralisasi pupuk organik berjalan lambat, sehingga
kadar bahan organik tanah dapat mengurangi kadar pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman tidak
CO2 atmosfer yang berkontribusi terhadap perubahan signifikan pada musim tanam pertama. Hasil
iklim (Bellows, 2005). penelitian lapangan Danuwikarsa et al. (2012)
Peningkatan ketersediaan bahan organik tanah menunjukkan bahwa pemberian pupuk kotoran sapi
berakibat pada: kualitas udara, air, dan produktivitas tidak berpengaruh secara signifikans, baik terhadap
pertanian membaik, dicirikan dengan debu, alergen, pertumbuhan maupun komponen hasil padi sawah.
dan pathogen di udara segera menurun; muatan Hasil penelitian pada musim sebelumnya
sedimen dan unsur hara dalam air permukaan menunjukkan bahwa introduksi cacing tanah tidak
menurun segera setelah agregasi tanah meningkat signifikan mempengaruhi pertumbuhan padi gogo.
dan aliran permukaan menurun; kualitas air bawah Pemberian pupuk kandang ayam broiler 5 ton/ha
tanah dan air permukaan membaik karena struktur, mampu meningkatkan tinggi tanaman dan jumlah
infiltrasi dan kapasitas menahan air lebih baik, dan anakan, serta cenderung mempercepat keluar malai,
aktivitas biologik membuat tanah menjadi suatu filter meningkatkan jumlah malai per rumpun, jumlah bulir
yang lebih efektif, serta kemampuan tanaman untuk per malai, jumlah bulir bernas per malai, dan hasil
bertahan dari kekeringan lebih baik apabila infiltrasi gabah kering panen per rumpun. Pemberian pupuk
dan kapasitas menahan air tanah meningkat. Bahan kandang ayam broiler juga berpengaruh lebih baik
organik dapat membalut pestisida, sehingga menjadi terhadap pertumbuhan dan komponen hasil padi
kurang aktif. Bahan organik dapat menekan gogo bila dibandingkan dengan pemberian pupuk
organisme pengganggu tanaman sehingga petroganik 5 dan 10 ton/ha (Suswana, 2015).
mengurangi kebutuhan akan pestisida. Kesehatan Penelitian bertujuan untuk menguji pengaruh residu
dan vigor tanaman meningkat apabila aktivitas dan pupuk kandang broiler pemberian musim tanam
diversitas biota tanah meningkat. Habitat satwa sebelumnya dan aktivitas cacing tanah (Lumbricus
membaik apabila pengelolaan residu tanaman rubellus Hoffm.) terhadap pertumbuhan dan hasil padi
membaik (Bellows, 2005). gogo varietas Situbagendit.
Cacing tanah merupakan organisme tanah penting
BAHAN DAN METODE
yang mempengaruhi banyak sifat-sifat tanah penting,
seperti pembentukan agregat tanah, kapasitas Penelitian melalui percobaan di Lahan
menahan air, aktivitas mikroflora melalui Percobaan Fakultas Pertanian UNINUS, Jawa
pencampuran sisa-sisa tanaman dan tanah mineral, Barat, Indonesia (posisi geografi 107°7”45’ LS dan -
dan ketersediaan unsur hara. Oleh karena pengaruh 6°3”57’ BT) pada bulan Januari sampai dengan Juni
terhadap sifat-sifat tanah itu, cacing tanah kerap 2017. Penelitian merupakan lanjutan penelitian
berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman musim tanam sebelumnya (panen pada November
(Roubickova et al., 2009). Dari hasil penelitian 2016).
laboratorium Roubickova et al. (2009), cacing tanah Bahan yang digunakan dalam penelitian ini
secara nyata meningkatkan biomassa Festuca rubra sama dengan yang digunakan pada musim
dan Trifolium hibridum. Peningkatan biomassa itu sebelumnya, karena pada penelitian ini tidak
sesuai dengan penurunan pH yang nyata dan diaplikasikan perlakuan baru. Bahan yang
peningkatan C teroksidasi, N-total, kandungan P, K digunakan pada musim sebelumnya meliputi tanah
dan Ca dapat dipertukarkan. mineral, pupuk organik (kompos kotoran sapi,
Hasil penelitian Kaviraj, et al. (2003) menunjukkan kompos kotoran kambing, pupuk kandang ayam
bahwa hasil analisis kimia kotoran cacing tanah pedaging (broiller litter), dan petroganik, dan benih
memiliki jumlah magnesium, nitrogen dan potassium
64
Maulana dan Suswana Vol 2. No 2. 2018

padi gogo varietas Situbagendit, dan cacing tanah Tabel 1 Pengaruh residu cacing tanah dan pupuk
(Lumbricus rubellus Hoffm.). Alat-alat yang organik terhadap tinggi tanaman pada 8, 10, 12 dan 14
digunakan juga sama dengan yang digunakan pada MST
musim sebelumnya, yakni meliputi pot plastik hitam, Tinggi Tanaman (cm)
kertas label, emrat, timbangan, dan meteran. Perlakuan pada umur (MST)
Benih yang ditanam sebanyak 10 biji per pot 8 10 12 14
pertumbuhannya tidak seragam, sehingga perlu Introduksi Cacing
dilakukan penyulaman untuk menyeragamkan jumlah Tanah (ekor/m2):
tanaman seluruh satuan percobaan pada awal Kontrol (w0) 34,31 49,02 60,63 69,85
percobaan. Selama masa pertumbuhan tanaman ns ns ns ns
terjadi serangan hama, diantaranya belalang, ulat, 100 (w1) 31,84 46,11 58,60 70,11
walangsangit, dan sejenis kutu pada akar. ns ns ns ns
Selanjutnya hama tikus ditanggulangi dengan 200 (w2) 34,76 48,29 58,92 69,28
memasang pagar seng di sekeliling areal percobaan. ns ns ns ns
Hama belalang, ulat, dan walangsangit diatasi Residu Pupuk
dengan cara ditangkapi secara manual setiap hari. Organik:
Gulma yang tumbuh dicabuti setiap hari, sehingga di
dalam pot percobaan hanya ada tanaman padi saja. Tanpa pupuk organik 38,74 51,12 61,61 68,39
Pengamatan yang dilakukan pada penelitian ini (o0) ns ns ns ns
terdiri dari pengamatan utama dan pengamatan Kotoran sapi 5 ton/ha 31,83 45,67 58,39 68,50
penunjang. Pengamatan utama adalah pengamatan (o1) ns ns ns ns
terhadap variabel-variabel pertumbuhan tanaman, Kotoran sapi 10 34,67 48,61 60,59 69,33
yaitu: tinggi tanaman, jumlah anakan, dan umur ton/ha (o2) ns ns ns ns
keluar malai. Pengamatan tinggi tanaman dan Kotoran kambing 5 36,24 48,37 59,34 69,22
jumlah anakan dilakukan pada waktu tanaman ton/ha (o3) ns ns ns ns
berumur 8, 10, 12, dan 14 minggu setelah tanam. Kotoran kambing 10 33,77 46,83 58,11 69,56
Pengamatan komponen hasil meliputi jumlah malai ton/ha (o4) ns ns ns ns
per rumpun (jumlah anakan produktif), panjang malai, Ayam broiler 5 ton/ha 33,64 48,12 60,37 70,67
jumlah bulir per malai, dan bobot 100 butir gabah (o5) ns ns ns ns
kering panen. Pengamatan penunjang menyangkut Ayam broiler 10 34,61 50,00 62,08 73,06
pengamatan terhadap performa pertumbuhan ton/ha (o6) ns ns ns ns
tanaman secara umum, seperti vigor tanaman, Petroganik 5 ton/ha 28,76 45,27 58,06 71,44
kasus-kasus gangguan hama/penyakit, dan lain-lain. (o7) ns ns ns ns
Analisis statistik dilakukan terhadap data variabel Petroganik 10 ton/ha 30,47 46,29 55,91 67,56
pertumbuhan tanaman sesuai dengan model linier (o8) ns ns ns ns
RAK, dalam hal ini menggunakan uji F (anova) 5%, Keterangan: Angka rata-rata yang ditandai huruf kecil
perlakuan yang berbeda nyata diuji lanjut dengan sama ke arah vertikal ns = non-signifikan berdasarkan
LSD 0,05%. uji LSD pada taraf nyata 5%;

HASIL DAN PEMBAHASAN Umur keluar malai


Pengamatan penunjang Pengaruh interaksi dari sisa perlakuan populasi
cacing tanah dan residu pupuk organik tidak
Tanah pada awal penelitian musim tanam
signifikan terhadap umur keluar malai. Pengaruh
sebelumnya memiliki kandungan C-organik sedang
mandiri dari introduksi cacing tanah juga tidak
(2,4%), N-total sangat rendah (0,09%), C/N sangat
signifikan terhadap umur keluar malai. Begitu pula
tinggi (27), P2O5 total sangat rendah (14 mg/100g),
pengaruh mandiri dari perlakuan pupuk organik
P-tersedia sangat rendah (4 ppm), K 2O-total sangat
(Tabel 2).
rendah (7,1 mg/100g), Kapasitas Tukar Kation (KTK)
rendah (5,14 me/100g), kejenuhan basa (KB) tinggi, Tabel 2 Pengaruh mandiri dari residu introduksi cacing
kejenuhan aluminium tak terukur, kation-kation K-dd tanah dan pupuk organik terhadap umur inisiasi malai
rendah, Ca-dd dan Mg-dd tinggi. Tanah sengaja tidak Umur Inisiasi
dianalisis kembali karena peneliti mencoba menguji Perlakuan
Malai (HST)
pengaruh residu dari tanaman padi tersebut Introduksi Cacing Tanah (ekor/m2):
Tinggi tanaman Kontrol (w0) 120,04 ns
100 (w1) 123,00 ns
Interaksi antara residu pupuk organik dan 200 (w2) 119,44 ns
introduksi cacing tanah tidak terhadap tinggi tanaman Residu Pupuk Organik :
pada 6, 8, 10, dan 12 minggu setelah tanam (MST).
Tanpa pupuk organik (o0) 120,44 ns
Pengaruh mandiri dari perlakuan introduksi cacing
tanah juga tidak signifikan (Tabel 1). Kotoran sapi 5 ton/ha (o1) 123,00 ns
Kotoran sapi 10 ton/ha (o2) 119,89 ns
Kotoran kambing 5 ton/ha (o3) 122,44 ns
Kotoran kambing 10 ton/ha (o4) 120,67 ns

65
Maulana dan Suswana Vol 2. No 2. 2018

Umur Inisiasi Hasil Gabah per Rumpun


Perlakuan Perlakuan
Malai (HST) (gram)
Ayam broiler 5 ton/ha (o5) 119,78 ns 100 (w1) 18,10 ns
Ayam broiler 10 ton/ha (o6) 120,44 ns 200 (w2) 20,10 ns
Petroganik 5 ton/ha (o7) 120,67 ns Residu Pupuk Organik :
Petroganik 10 ton/ha (o8) 120,11 ns Tanpa pupuk organik (o0) 18,18 ns
Keterangan: Angka rata-rata yang ditandai huruf kecil Kotoran sapi 5 ton/ha (o1) 17,78 ns
sama ke arah vertikal, ns = non-signifikan berdasarkan Kotoran sapi 10 ton/ha
uji LSD pada taraf nyata 5% 18,69 ns
(o2)
Jumlah malai per rumpun Kotoran kambing 5 ton/ha
17,90 ns
(o3)
Pengaruh interaksi dari perlakuan cacing tanah Kotoran kambing 10
dan pupuk organik tidak signifikan terhadap jumlah 20,37 ns
ton/ha (o4)
malai per rumpun dan panjang malai. Pengaruh Ayam broiler 5 ton/ha (o5) 22,35 ns
mandiri dari introduksi cacing tanah juga tidak Ayam broiler 10 ton/ha
signifikan. Akan tetapi, pengaruh mandiri dari 22,81 ns
(o6)
perlakuan pupuk organik signifikan baik terhadap Petroganik 5 ton/ha (o7) 21,13 ns
jumlah malai per rumpun maupun panjang malai Petroganik 10 ton/ha (o8) 16,35 ns
(Tabel 3). Keterangan: Angka rata-rata yang ditandai huruf kecil
Tabel 3 Pengaruh residual dari pupuk organik dan sama ke arah vertical ns = non-signifikan berdasarkan
introduksi cacing tanah terhadap jumlah malai per uji LSD pada taraf nyata 5%
rumpun (anakan produktif) Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh
Jumlah Malai per introduksi cacing tanah secara konsisten tidak
Perlakuan
Rumpun signifikan terhadap variable-variabel pertumbuhan
Introduksi Cacing Tanah dan hasil padi gogo. Hal ini dikarenakan pada
(ekor/m2): penelitian sebelumnya pengaruh introduksi cacing
Kontrol (w0) 17,93 ns tanah non signifikan terhadap berbagai variable
100 (w1) 16,48 ns pertumbuhan dan hasil padi gogo. Hal ini
200 (w2) 17,89 ns dikarenakan pada penelitian sebelumnya diketahui
Residu Pupuk Organik : bahwa peran-peran penting cacing tanah yang
Tanpa pupuk organik (o0) 18,22 ns diintroduksikan dalam suatu agroekosistem, seperti
Kotoran sapi 5 ton/ha (o1) 16,22 ns aktivitas makan, memperkuat dekomposisi bahan
Kotoran sapi 10 ton/ha (o2) 16,56 ns organik, pembentukan humus, mempercepat siklus
Kotoran kambing 5 ton/ha unsur hara dan perkembangan struktural tanah
18,33 ns cacing tanah juga meningkatkan kuantitas nitrogen
(o3)
Kotoran kambing 10 ton/ha termineralisasikan dari bahan organik tanah tersebut
18,00 ns sebagian sudah dilakukan oleh koloni cacing tanah
(o4)
Ayam broiler 5 ton/ha (o5) 19,22 ns endogeneous (Kaviraj et. al. 2003). Diketahui
Ayam broiler 10 ton/ha (o6) 18,44 ns sebelumnya bahwa tanah yang digunakan tidak
Petroganik 5 ton/ha (o7) 16,67 ns dipastikan terbebas dari koloni cacing tanah; atau
Petroganik 10 ton/ha (o8) 15,22 ns cacing tanah yang diintroduksikan belum beradaptasi
dengan kondisi ekologinya yang baru di dalam pot
Keterangan: Angka rata-rata yang ditandai huruf kecil
sehingga belum beraktivitas secara efektif. Diketahui
sama ke arah vertikal ns = non-signifikan berdasarkan
pula bahwa bakteri penambat-nitrogen terdapat di
uji LSD pada taraf nyata 5%
dalam perut cacing dan dalam kascing, aktivitas
Hasil gabah per rumpun enzim nitrogenase lebih tinggi, yang berarti laju
fiksasi nitrogen lebih besar dan ternyata pada
Pengaruh interaksi dari perlakuan cacing tanah
penelitian ini belum cukup signifikan pengaruhnya
dan pupuk organik non signifikan terhadap hasil
terhadap pertumbuhan dan hasil padi gogo (Kaviraj
gabah kering panen (GKP) per rumpun. Pengaruh
et. al., 2003).
mandiri dari perlakuan introduksi cacing tanah juga
Hasil gabah kering panen dengan pupuk kandang
non signifikan. Sedangkan pengaruh mandiri dari
ayam broiler 5 ton/ha (o5) cenderung lebih tinggi
perlakuan pupuk organik signifikan (Tabel 4).
(signifikan) jika dibandingkan dengan tanpa pupuk
Tabel 4 Pengaruh residual dari pupuk organik dan organik (o0) dan signifikan bila dibandingkan pupuk
introduksi cacing tanah terhadap hasil gabah per petroganik 10 ton/ha (o8) dan 5 ton/ha (o7). Pengaruh
rumpun dari pupuk kandang ayam broiler 5 ton/ha terhadap
Hasil Gabah per Rumpun hasil gabah kering panen ini konsisten dengan
Perlakuan pengaruhnya terhadap jumlah malai per rumpun,
(gram)
Introduksi Cacing Tanah jumlah bulir per rumpun, dan jumlah bulir bernas per
(ekor/m2): rumpun. Fakta ini menunjukkan bahwa jelas pupuk
Kontrol (w0) 20,32 ns kandang ayam broiler lebih baik pengaruhnya terhadap
komponen hasil padi gogo dibandingkan dengan jenis
66
Maulana dan Suswana Vol 2. No 2. 2018

pupuk organik lainnya. Hal ini diduga karena komposisi Science+Business Media Dordrecht. DOI
kimiawi dari campuran sekam padi dan kotoran ayam 10.1007/s13165-012-0032-9.
broiler lebih cocok bagi pertumbuhan baik vegetatif Burno, C. S. and J. K. Ladha. 2009. Comparison of
maupun generatif tanaman padi gogo. Soil Properties between Continuously Cultivated
KESIMPULAN DAN SARAN and Adjacent Uncultivated Soils in Rice-based
System. Springer-Verlag. DOI 10.1007/s00374-
Kesimpulan 009-0358-y.
Residu dari pupuk kandang ayam broiler 5 ton/ha Danuwikarsa, D., R. Robana, L. Irmawati, dan E. T.
tidak mampu meningkatkan pertumbuhan tinggi Susandi. 2012. Respons Tanaman Padi (Oryza
tanaman dan jumlah anakan, serta keluarnya malai, sativa L.) terhadap Metode SRI dengan Berbagai
jumlah malai per rumpun, dan tidak mempengaruhi Taraf Dosis Pupuk Organik dan Anorganik.
hasil gabah kering panen per rumpun. Pemberian Laporan Akhir Penelitian Unggulan PT. Uninus.
pupuk kandang ayam broiler tidak memberikan Bandung.
pengaruh terhadap pertumbuhan dan komponen Danuwikarsa, D., R. Robana, dan L. Irmawati. 2014.
hasil padi gogo varietas Situbagendit selaras dengan Respons Tanaman Padi (Oryza sativa L.) terhadap
hasil residu pemberian pupuk petroganik 5 dan 10 Metode SRI Semi Organik dengan Berbagai
ton/ha. Sejumlah residu pupuk organik pada Sumber Pupuk Organik. Laporan Akhir Penelitian
agroekosistem dalam jangka waktu tertentu efektif Unggulan PT. Uninus. Bandung.
memberikan pengaruh pada musim pertama saja,
Eikeren, N.van, H. de Boer, J. Bluem, T. Schouten, M.
sedangkan pada musim tanam kedua sudah tidak
Rutgers, R. De Goede, and L. Brussaard. 2009.
efektif lagi, yang mana pengebabnya diduga sebagai
Soil Biological Quality of Grassland Fertilized with
akibat dari cepatnya proses dekomposisi bahan
Adjusted Catle Manure Slurries in Comparison with
organik pada kondisi lahan padi gogo yang aerob
Organic and Inorganik Fertilizers. Biololy and
dengan kelembaban yang cukup memadai. Hal ini
Fertility of Soils. Springer-Verlag.
menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik untuk
http://link.springer.com/article/10.1007/ s00374-
meningkatkan kondisi fisik, kimia, dan biologi tanah
009-0370-2.
pada usaha tani padi gogo perlu dilakukan pada
setiap awal musim tanam. Gaspersz, V. 1995. Teknik Analisis Dalam
Introduksi cacing tanah non signifikan Penelitian Percobaan. Tarsito. Bandung.
mempengaruhi pertumbuhan tanaman padi gogo Horie, T., T. Shiraiwa, K. Katsura, Y. Maeda, and H.
varietas Stubagendit. Hal ini dikarenakan pengaruh Yoshida. 2004. Can yields of lowland rice
introduksi cacing tanah pada penelitian sebelumnya resumes the increases that showed in the
diperoleh hasil yang konsiten non signifikan terhadap 1980s/Paper on International Crop Science
berbagai variable pertumbuhan dan hasil padi gogo. Congress. p.1-24.
Saran Kaviraj and S. Sharma. 2003. Municipal Solid Waste
Management Trought Vermicomposting Employing
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa Exotic and Local Species of Earthworms.
pemberian pupuk organik perlu dilakukan pada setiap Bioresource Tecnology. 90: 169-173.
awal musim tanam. Diperlukan pengujian pengaruh
Lemanski, K. and S. Scheu. 2015. The Influence of
residual pupuk organik dan introduksi cacing tanah
Fertilizer Addition, Cutting Frequency and
pada kondisi agroekosistem lahan kering yang
Herbicide Application on Soil Organism in
sesungguhnya sehingga diperoleh data yang riil bagi
Grassland. Biology and Fertility of Soils. Volume
petani.
51, Issue 2, pp 197-205.
DAFTAR PUSTAKA http://link.springer.com/article/ 10.1007/s00374-
014-0965-0.
Basis Data Statistik Pertanian. 2015. Statistik Makarim, A.K. 2009. Aplikasi Ekofisiologi dalam
Pertanian Indonesia. http://aplikasi. Sistem Produksi Padi Berkelanjutan. Pusat
deptan.go.id/bdsp/hasil_kom. asp. Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.
Bellows, B. C. 2005. Soil Organic Matter. National Pengembangan Inovasi Pertanian. 2(1), 2009: 14-
Center fos Appropriate Technology. 34.
http://www.attra.ncat.org. Roubickova, A., O. Mudrak and J. Fruuz. 2009. Effect
Bot, A. and J. Benites. 2005. The importance of soil of Earthworm on Growth of Late Succession Plant
organik matter Key to drought-resistant soil and Species in Postmining Sites under Laboratory and
sustained food production. FAO Soils Bulletin 80. Field Condition. Biology and Fertility of Soils.
FAO of The United Nation. Springer-Verlag. http://link.springer.com/article/
http://www.fao.org/docrep/009/a0100e/a0100e05.ht 10.1007/s00374-009-0356-7.
m. Suswana, S. and I. Danuwikarsa. 2014. Influence of
Brito, L., M., R. Pinto, I. Mourao, and J. Coutinho. Manure Proportion in Grow Media and Interval
2012. Organic Lettuce, rye/vetch, and Swiss Water Supply on Growth of Jabon (Anthochepalus
Chard Growth and Nutrient Uptake Response to cadamba Roxb. Miq.) Seedling. International
Lime and Horse Manure Compost. Springer Journal of Basic and Applied Science. Insan
67
Maulana dan Suswana Vol 2. No 2. 2018

Akademika Publications. Vo.03.No.2:154-168. Swastika, D.K.S., J. Wargino, B. Sayaka, A.


Suswana, S. dan C. Purwasih. 2015. Pengaruh Agustian., V. Darwis. 2007. Kinerja dan Masa
Jenis dan Proporsi Pupuk Organik dalam Media Depan Pembangunan Pertanian Tanaman
Tumbuh Bibit dan Interval Penyiraman terhadap Pangan. Prosiding: Kinerja dan Prospek
Pertumbuhan Bibit Gmelina (Gmelina arborea Pembangunan Pertanian Indonesia. Pusat
Roxb.). Laporan Hasil Penelitian (Tidak Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.
Dipublikasikan) Fakultas Pertanian Uninus. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Bandung.

68

Оценить