Вы находитесь на странице: 1из 7

Pembuatan Dan Optimalisasi Kinerja Shakan (Sluice Box) Dalam Proses

Pemisahan Bijih Timah Sekala Laboratorium Dengan Teknik Gravity


(Manufacture and Performance Optimazion Shakan (Sluice Box) in Tin Ore Separation
Process With Enginering Laboratory Scale Gravity)

Chorio Ryiandi Arif 1, Irvani1 Guskarnali1


1
Jurusan Teknik Pertambangan, Universitas Bangka Belitung

Abstract
Tin ore leaching process has an important role in the activities of production, so that the washing
process needs to be performed optimally in order to concentrate obtained in accordance with the
wishes of the market that have economic value. Separation of tin ore from mineral impurities can be
done with the use of a sluice box (Shakan). The design tool Shakan with laboratory scale needs to be
done to get the performance of a good tool to be able to produce a concentrate that is optimal.
bbbbbData to determine the dimensions obtained from the calculation capacity Shakan dilate the
adjusted number of assumptions sample of 40 kg, as well as make comparisons with actual Shakan.
Concentrat value calculation criteria and mineral impurities are used to determine the likelihood of
separation with gravimetric technique, while to determine the value of Sn from washery used methods
of chemical analysis on 10 samples. Determining the value of recovery for each sample is done by
calculating the concentration and weight gain is generated for each sample of the washing process.
The variables used were Shakan slope of 3 °, 4 ° and 5 ° and the speed of the water flow of 35.3 L /
minute, 30 L / minute and 22.22 L / minute. Based on the capacity calculation dilate, didapatlah
Shakan dimensions with a width of 40.6 cm, 162 cm long, 10 cm high side box and riffle use as much
as 2 pieces. Mineral - minerals with high CC value will very easily be separated by gravimetric
techniques. Obtaining the highest recovery value obtained on the sample 3 in the amount of 91.76%
with Shakan 3 ° slope and speed of the water at the discharge 22.22 L / min, while the highest levels
of Sn obtained on the sample 7 at 37.13%, with a slope of 5 ° and a velocity of water in the discharge
of 35.3 L / minute.

Keywords: shakan, criteria concentrat, recovery.

1. Pendahuluan prinsip gravity dapat dilakukan dengan


menggunakan alat jig, shaking table dan shakan
Proses pengolahan bahan galian mempunyai (sluice box). Shakan (sluice box) umumnya
peran penting dalam kegiatan produksi bijih digunakan pada tambang semprot bijih timah
timah yang dilakukan oleh PT Timah (Persero) dengan lapisan aluvial untuk mendapatkan hasil
Tbk maupun Mitra Penambangan. Keadaan pemisahan yang baik, maka perlu diketahui
instalasi pencucian yang kurang baik akan desain teknis alat shakan untuk skala
mengakibatkan kehilangan mineral-mineral laboratorium sebagai alat percobaan pemisahaan
berharga yang terkandung dalam tanah yang konsentrat dan pengotornya, sehingga harus
merupakan hasil dari proses kegiatan penggalian diketahui desain ukuran alat seperti panjang,
yang dilakukan di darat maupun di laut. Proses lebar, tinggi riffle dan jarak riffle yang akan
pengolahan pencucian bijih timah dari hasil diterapkan serta kemiringan alat tersebut
penambangan bertujuan untuk memisahkan maupun kinerja alat dalam proses pemisahan
mineral yang diinginkan (konsentrat) dari mineral dengan teknik gravity. Pemisahan bijih timah
pengotor (tailing) agar didapatkan hasil dengan shakan dapat dilaksanakan dengan baik
konsentrat sesuai dengan permintaan pasar yang jika kinerja shakan dalam proses pemisahan bijih
bernilai ekonomis dan dapat memenuhi timah menghasilkan mineral konsentrat yang
persyaratan yang diminta sebagai bahan baku diinginkan.
industri ataupun untuk proses peleburan ketahap
selanjutnya. Proses pemisahan bijih timah pada Lokasi Penelitian
* Korespodensi Penulis: ( Chorio R. Arif) Jurusan Kegiatan penelitian Tugas Akhir ini dilakukan
Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas dengan sekala penelitian mandiri, untuk
Bangka Belitung. Jl Kampus Terpadu Balunijuk, pengambilan sampel dilakukan di Desa Air Putih,
E-mail: choriora@gmail.com Kecamatan Muntok Kabupaten Bangka Barat
Hp: 082282310527 dan pengujian sampel dilakukan di Laboratorium.

1
Teknik Pertambangan. Penelitian ini dilakukan 2 – 2 % dan menggunakan penyekat (riffle)
selama 121 hari atau kurang lebih selama lima setinggi 10 cm dengan jarak 4 m.
bulan, terhitung dari Tanggal 2 Agustus – 20
Shakan (Sluice Box)
Desember 2016.
Menurut Rahmanudin (2010), sluice box
Tinjauan Pustaka adalah proses konsenterasi ataupun proses
pemisahan berdasarkan berat jenis melalui suatu
Pengertian Timah aliran air yang tipis pada deck dengan alat
tambahan riffle. Penentuan lebar desain shakan
Menurut Graha (1987), timah adalah logam dapat digunakan berikut (Lubis, 2011) :
berwarna putih keperakan dengan kekasaran
dan kekuatan (strength) yang rendah, serta Q
mempunyai sifat konduktivitas panas dan listrik L ........................................... (2)
yang tinggi. W

Ganesa Endapan Timah Keterangan :


L = lebar palong (cm)
3
Menurut Sujitno (2007), ganesa endapan Q = volume pulp (cm /detik)
timah dibagi menjadi dua yaitu : endapan timah W = kapasitas per lebar (cm3/detik/cm)
primer yang merupakan penerobosan granit yang 3
mengandung unsur timah dimana butir kasiterit (ρ  g (sin θ) D )
masih terikat pada batuan dasarnya (Sudrajat,
W ....................... (3)

1996) dan endapan timah sekunder berasal dari Keterangan :
endapan timah primer yang teralapukan ʋ = visikositas air (0,01 poice)
kemudian terangkut oleh air dan terkonsentrasi
secara selektif (Sujitno, 2007).
⍴ = berat jenis cairan
θ = kemiringan palong ( 3° - 5°)
Dasar-dasar Pengolahan Bahan Galian D = tebal lapisan (2 – 5 cm)
Menurut Wills (1980) dalam Arief (2014), Riffles (Penyekat)
pengolahan bahan galian merupakan proses
untuk memisahkan konsentrat dari mineral Menurut Rahmanudin (2010), riffles memiliki
pengotornya dengan memanfaatkan perbedaan fungs utama sebagai penahan partikel berat dan
sifat-sifat fisik, tanpa mengubah identitas kimia pembuat aliran turbulen agar partikel berat dan
dan fisik dari produk tersebut. ringan dapat terpisahkan. Riffles yang umumnya
diggunakan adalah riffle memanjang dan riffle
Gravity Concentration melintang.
Burt (1984) dalam Arief (2014), gravity Mekanisme Pemisahan Konsentrat
concentration adalah proses pemisahan mineral
berharga dengan mineral kurang berharga, Menurut Rahmanudin (2010), keberhasilan
berdasarkan perbedaan berat jenis. Perhitungan proses pemisahan konsentrat dengan cara
criteria concentration dapat menentukan sluicing dipengaruhi hal-hal sebagai berikut :
penggunaan teknik gravity dengan persamaan 1. Kecepatan aliran air
berikut : Menurut Rahmanudin (2010), bila kecepatan
ρ - ρ fluida terlalu besar, maka banyak mineral yang
h f .................................. (1) looses. Penentuan kecepatan aliran digunakan
CC 
ρ -ρ persamaan berikut (Harsokoesoemo, 1983) :
i f S
Keterangan : V  ............................................ (4)
CC = criteria concentration t
⍴f = berat jenis fluida Keterangan :
⍴h = berat jenis mineral berat V = Kecepatan aliran (m/detik)
s = Jarak (m)
⍴i = berat jenis mineral ringan
t = Waktu (detik)
Awal Penggunaan Sluice Box Pada Pencucian 2. Kemiringan sluice box
Bijih Timah Kemiringan deck yang umum digunakan
Menurut Sujitno (2007), sluice box dalam proses pemisahan bijih timah adalah 3 –
merupakan alat pencucian yang paling tua 5°, sedangkan untuk menetukan kemiringan
digunakan dalam penambangan mineral berat deck dapat digunakan persamaan berikut (Lubis,
yaitu penambangan timah (aluvial) yang disebut 2010) :
dengan palong, memiliki dimensi panjang 32 m, Panjang kemiringan deck
Sin α  ...... (5)
lebar 3 – 4 m, tinggi dinding box 1 m , kemiringan Ketinggian deck

© Teknik Pertambangan, Univ. Bangka Belitung 2


3. Berat jenis mineral yang akan dipisahkan dalam proses pemisahan bijih timah sekala
Adanya perbedaan density yang besar, maka laboratorium dengan teknik gravity yaitu nilai
operasi pemisahan akan semakin mudah dan variabel kemiringan box dan kecepatan aliran air
yang berbeda-beda pada tiap percobaan,
kadar konsentrat yang dihasilkan akan semakin
dengnan tujuan mendapatkan nilai recovery dan
tinggi. kadar Sn tertinggi pada setiap uji coba yang
4. Banyaknya air (fluida) dilakukan, sedangkan untuk menentukan dimensi
Penggunaan air yang terlalu sedikit akan panjang shakan dilakukan perhitungan
membuat kadar konsentrat yang dihasilkan perbandingan data lapangan terhadap lebar yang
rendah tetapi jumlah konsentrat tinggi. telah ditentukan sebelumnya.
5. Ketinggian riffle
Ketinggian riffel harus sebanding dengan Tahapan Penelitian
ketebalan aliran air paling tidak harus melebihi
Penelitian ini dilakukan melalui beberapa
0,5 cm dari permukaan riffle.
tahapan yang meliputi : studi literatur,
6. Kekasaran butir dan kekasaran deck
pengamatan di lapangan, pengelompokan data
Semakin kasar deck, maka gaya gesek primer maupun data sekunder. Data yang telah
semakin besar, sehingga partikel berat akan diperoleh kemudian dilakukan pengolahan data
mudah tertahan. dan analisisa data. Hasil akhir dari penelitian ini
7. Panjang box adalah perolehan nilai kadar Sn dan recovery
Panjang box sangat menentukan karena hasil pencucian tertinggi berdasarkan variabel
semakin panjang akan semakin besar kemiringan box dan kecepatan laju air .
kemungkinan (recovery tinggi) material itu untuk
tersangkut pada riffle.. 3. Hasil dan Pembahasan
Recovery Pencucian Bijih Timah
Meneurut Lubis (2010), recovery menyatakan Desain Shakan (Sluice Box) dan Criteria
jumlah atau persentase mineral berharga yang Concentrat
dapat diambil. Perhitungan recovery dapat Dimensi Shakan (Sluice Box)
digunakan persamaan berikut :
Dimensi shakan didapatkan dari perhitungan
Cc
R  100% ............................... (6) serta perbandingan shakan aktual di lapangan,
Ff lebar shakan ditentukan berdasarkan kapasitas
Keterangan : per lebar serta kapasitas pulp asumsi sebesar 40
F = banyaknya Feed (gr) C = Konsentrat (gr) kg, sehingga nilai lebar shakan sebesar 40,6 cm,
c = kadar konsentrat (%) f = kadar feed (%) sedangkan panjang shakan dihitung berdasarkan
data panjang shakan aktual yang akan
dibandingkan dengan panjang shakan teoritis,
2. Metode Penelitian sehingga didapatkan panjang shakan sebesar
162 cm. Desain riffle yang terpasang digunakan
Objek Penelitian sebanyak dua buah dengan dimensi panjang
40,6 cm, lebar 3,0 cm dan tinggi 1,8 cm. Jarak
Beberapa objek penelitian pada pembuatan antara riffle 1 dengan riffle 2 sejauh 50 cm
dan optimalisasi kinerja shakan (sluice box) (Gambar 1).

Panjang box

Lebar box

Gambar 1. Desain teknis shakan (Sluice Box)

© Teknik Pertambangan, Univ. Bangka Belitung 3


Desain shakan dilengkapi feed box (kotak
umpan) yang digunakan untuk memasukkan feed
dengan bahan alumunium, memiliki dimensi luas
bukaan atas 60 cm2, luas bukaan bawah 6 cm2
dan tinggi 30 cm yang mampu menjatuhkan
Separation possible
sampel (feed) seberat 2 kg, dengan rata-rata
waktu 7,6 detik. Desain box yang telah siap
digunakan akan dilengkapi dengan pipa jenis
PVC yang mempunyai diameter dalam 2,3 cm
Separation impossible
yang memiliki aksesoris pipa elbow 90° dan
katup (valve) diameter 2,3 cm. Suplay air yang
digunakan dalam proses pencucian digunakan
alat bantu berupa pompa celup (submersible
pump) dengan kapasitas volume 4000 L/H serta Size Microns

bak penampung air yang dilengkapi dengan


selang penghubung pada pompa, sehingga Gambar 2. Grafik ploting batas ukuran
sistem air yang digunakan merupakan sistem pemisahan dengan teknik gravity
sirkulasi air tertutup. Hasil ploting data pada Gambar 2
Criteria Concentrat (Cc) menunjukan adanya perbedaan nilai Criteria
Concentrat pada setiap mineral ikutan timah,
Penentuan nilai Cc untuk mengetahui mineral yang dibedakan berdasarkan warna. Garis
ikutan timah apa saja yang memungkinkan untuk berwarna merah yang berada di bawah garis
dapat dipisahkan dengan teknik gravity. Mineral batas pemisahan menunjukan bahwa mineral
utama dari bijih timah adalah cassiterite dengan tersebut sulit untuk dipisahkan (separation
berat jenis 6,9 gr/cm3, proses pemisahan ini impossible), sedangkan untuk garis berwarna
diperlukan pengurangan dengan berat jenis air biru menunjukan bahwa mineral tersebut
yaitu 1 gr/cm3. Perhitungan nilai Cc cassiterite dimungkinkan untuk dapat dipisahkan dengan
dengan mineral ikutan timah ilmenit yang teknik gravity, sehingga untuk mineral galena
memiliki nilai berat jenis 4,5 gr/cm3, sehingga sulit dilakukan pemisahani karena memiliki Cc
memiliki nilai Cc sebesar 1,6. Hasil keseluruhan yang rendah, sedangkan untuk mineral ilmenit,
nilai Cc mineral ikutan timah dapat dilihat pada rutil dan xenotime dapat dipisahkan dengan
Tabel 1 berikut : syarat ukuran butir >250 µm, mineral monazit,
Tabel 1. Nilai Cc pada mineral ikutan timah pyrite, zirkon dan hematite sayarat ukuran butir
>350 µm, dan untukmineral tourmaline, quartz,
Berat jenis siderite, limonite, dan topas memiliki nilai Cc
Mineral Cc
(gr/cm3) yang tinggi, sehingga memungkinkan untuk
Ilmenit 4,5 1,7 dipisahkan.
Monazite 4,8 1,6 Kadar Sn dan Recovery Pencucian pada Bijih
Pyrite 4,8 1,6 Timah
Zircon 4,7 1,6
Proses pencucian bijih timah dengan sluice
Tourmaline 3,1 2,8 box menggunakan sampel sebanyak 10 kantong
dengan berat masing-masing sampel 2 kg,
Quartz 2,6 3,7
dimana 9 sampel digunakan pada saat uji coba
Siderite 3,8 2,1 pencucian dengan alat, sedangkan satu sampel
Limonite 3,6 2,3 tidak dilakukan uji coba pencucian agar dapat
digunakan sebagai arsip sampel (Gambar 3).
Rutile 4,5 1,7
Topas 3,5 2,4
Hematite 5 1,5
Xenotime 4,6 1,6
Galena 7,4 0,9

Berdasarkan Tabel 1 nilai Criteria concentrat


yang didapat pada tigabelas mineral ikutan timah
dapat dianalisis dengan mengeplotkan hasil
perhitungan pada grafik acuan (Gambar 2 ).
Gambar 3. Sampel yang digunakan saat uji coba

© Teknik Pertambangan, Univ. Bangka Belitung 4


Kegiatan pengambilan sampel dilakuan di
Desa Air Putih, Muntok Bangka Barat, sampel
yang dijadikan feed didapatkan dari Tambang
Semprot (TS), sedangkan kegiatan pencucian
bijih timah dengan sluice box dilakukan pada
Tanggal 13 dan 14 Desember 2016 di
Laboratorium Teknik Pertambangan. Persiapan
teknis dalam proses pencucian untuk
mendapatkan nilai perhitungan recovery
pencucian bijih timah dapat dilakukan sebagai
berikut :
1. Menentukan kemiringan box
Kemiringan box yang akan digunakan adalah
3°, 4° dan 5°, untuk menentukan kemiringan box Gambar 4. Kegiatan pencucian bijih timah
tersebut maka perlu dilakukan perhitungan
terhadap tinggi penyangga dan panjang box yang Dari hasil pencucian bijih timah, maka akan
tersedia sehingga untuk data ketinggian dilakukan penimbangan berat sampel kering dan
penyangga dapat dilihat pada Tabel 2 berikut : pengecekan kadar sampel yang dilakukan di
Laboratorium PT DS Jaya Abadi, oleh petugas
Tabel 2. Tinggi penyangga pada tiap kemiringan laboratorium setempat dengan menggunakan
Kemiringan Panjang box Ketinggian analisa kimia. Hasil analisa kadar Sn setelah
(°) (cm) penyangga (cm) pencucian pada 9 sampel dapat dilihat pada
3 162 8,5 Tabel 4.
4 162 11,3 Tabel 4. Hasil Kadar Sn pada tiap sampel
5 162 14,2
Berat Berat % Kadar
Berdasarkan Table 2 dapat diketahui bahwa sampel
awal (gr) kering (gr) Sn
nilai ketinggian penyangga yang diperoleh
didapat dari nilai panjang box terhadap nilai 1 2000 750 26,21
kemiringan sudut pada box.
2. Menentukan laju kecepatan air 2 2000 900 25,12
Debit air yang digunakan memiliki nilai yang
berbeda-beda dengan nilai sebesar 35,3 L/menit, 3 2000 1000 24,06
untuk Level 1, 30 L/menit untuk Level 2 dan
4 2000 570 30,23
22,22 L/menit untuk Level 3. Nilai kecepatan laju
air yang digunakan dipengaruhi oleh kemirngan
5 2000 610 28,27
dan debit air yang diberikan sehingga nilai
kecepatn laju air pada tiap kemiringan dapat
6 2000 860 24,42
dilihat pada Tabel 3 berikut :
Tabel 3. Nilai kecepatan air rata-rata 7 2000 430 37,13
sudut Kecepatan air rata-rata (m/s)
8 2000 480 35,45
(°) Level 1 Level 2 Level 3
75 62,3 57,8 9 2000 600 28,51
3 (sampel 1) (sampel 2) (sampel 3)
75,7 67,5 60 Berdasarkan Tabel 4 yang menyajikan nilai
4 (sampel 4) (sampel 5) (sampel 6) perolehan Kadar Sn dan berat kering pada tiap
101,8 83,07 70,4 sampel, maka dapat diketahui nilai recovery hasil
5 (sampel 7) (sampel 8) (sampel 9) pencucian tiap sampel dari hasil perhitungan
berdasarkan variabel kemiringan box 3°, 4° dan
Berdasarkan data Tabel 3, dapat diketahui 5° serta variabel kecepatan laju air dengan debit
bahwa kecepatan air yang diberikan untuk 35,3 L/menit, 30 L/menit dan 22,22 L/menit. Hasil
melakukan uji coba pencucian pada sampel 1 perhitungan nilai recovery ini didapatkan
pada kemiringan 3 ° yaitu sebesar 75 m/s berdasarkan perbandingan nilai kadar awal dan
dengan debit air sebesar 30 L/menit. berat feed dengan kadar konsentrat dan berat
3. Perhitungan recovery pencucian bijih timah konsentrat dimana kadar Sn sebelum pencucian
Proses kegiatan pencucian yang dilakukan sebesar 13,11 %, hasil perhitungan recovery
dengan menggunakan seluice box (Gambar 4). berdasarkan Variabel kemiringan dan Kecepatan
laju air yang digunakan dilihat pada Tabel 5.

© Teknik Pertambangan, Univ. Bangka Belitung 5


Tabel 5. Nilai recovery berdasarkan variabel Pada Tabel 5 dapat diketahui bahwa debit air
kecepatan dan kemiringan sebesar 35,3 L/menit pada kemirngan 3 °
No. Sudut Kecepatan Recovery menghasilkan nilai recovery sebesar 74,97 %
Sampel (°) (m/s) (%) (sampel 1), kemiringan 4 ° sebesar 65,71%
(sampel 4) dan kemiringan 5° sebesar 60,89 %
1 3 75 74,97 (sampel 7). Debit air 30 L/menit pada kemiringan
2 3 62,3 86,22 3° menghasilkan nilai recovery sebesar 86,22 %
3 3 57,8 91,76 (sampel 2), kemiringan 4° sebesar 65,77 %
4 4 75,7 65,71 (sampel 5) dan kemiringan 5 ° sebesar 64,89 %
5 4 67,5 65,77 (sampel 8). Debit air 22,22 L/menit pada
6 4 60 80,09 kemiringan 3° menghasilkan nilai recovery
sebesar 91,76% (sampel 3), kemiringan 4°
7 5 101,8 60,89 sebesar 80,09% (sampel 6) dan kemiringan 5 °
sebesar 65,24% (sampel 9). Perbandingan nilai
8 5 83,07 64,89 recovery pada tiap sampel dapat dilihat pada
9 5 70,4 65,24 Gambar 5.

100 Nilai Kadar Sn dan Recovery Tiap Sampel

80

60
Kadar Sn %
40 Recovery

20

Nilai tiap sampel didasarkan pada variabel kemringan dan kecepatan

Gambar 5. Grafik nilai recovery hasil pencucian bijih timah pada tiap sampel

Berdasarkan hasil grafik pada Gambar 5 4. Kesimpulan


dapat diketahui bahwa nilai kadar Sn dan
recovery yang didapat memiliki nilai yang Berdasarkan uraian hasil dari pembahasan
berbeda-beda untuk tiap sampelnya, untuk dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai
sampel 1 didapatkan nilai kadar Sn sebesar berikut:
26,21 % dengan berat kering sampel hasil 1. Desain shakan (sluice box) yang digunakan
pencucian 750 gr, sehingga recovery yang memiliki dimensi panjang 162 cm, lebar 40,6
dihasilkan sebesar 74,97 % berbeda dengan cm dan ketinggian box samping 10 cm. Riffle
sampel 3 yang memiliki nilai recovery tertinggi sebanyak 2 buah berbentuk balok dengan
sebesar 91,76 %. Perbedaan recovery tersebut dimensi panjang 40,6 cm, lebar 3 cm dan
dikarenakan perolehan berat kering sampel 3 tinggi 2,5 cm, jarak riffle 1 dari pipa penyalir
lebih banyak dibandingkan dengan sampel 1 sejauh 72 cm dan jarak antar riffle 1 dan 2 50
yaitu 1000 gr, namun untuk perolehan kadar Sn cm. Untuk feed box memiliki luas bukaan atas
sampel 1 lebih tinggi dibandingkan sampel 3 60 cm, luas bukaan bawah 6 cm dan tinggi 30
yang hanya memiliki kadar Sn 24,06 %, sehingga cm. Pada nilai Cc mineral quartz, tourmaline,
dapat diketahui bahwa nilai recovery pencucian topas, siderite,dan limonite tergolong dalam
bijih timah tidak hanya didasarkan pada persen mineral yang memungkinkan bisa dipisahkan
kadar Sn yang didapat, melainkan juga dengan teknik gravimeteri. sedangkan galena
dipengaruhi oleh perolehan berat kering yang merupakan mineral yang sulit dipisahkan
sesuai. dengan teknik gravimetri.

© Teknik Pertambangan, Univ. Bangka Belitung 6


2. Nilai recovery hasil pencucian pada 9 sampel, Harkoesoemo, Darmawan, 1983, Aliran Fluida
didapatkan nilai perhitungan pada variabel Dalam Pipa, Buku Penataran Pengawas PT
kemiringan 3° menghasilkan recovery Timah (Persero) Tbk, Pangkalpinang.
pencucian tertinggi yaitu 74,97 %, 86,22% Lubis, Ichwan A., 2012, Penambangan Timah
dan 91,76 %, sedangkan variabel kecepatan Alluvial di Darat PT Timah (Persero) Tbk,
laju air menghasilkan nilai recovery tertinggi Pangkalpinang.
pada debit air sebesar 22,22 L/menit yaitu Rahmanudin, 2010, Pengolahan Bahan Galian,
91,76 %, 80,09% dan 65,62%. Berdasarkan Buku Ajar Praktikum Laboratorium
analisa hasil perhitungan, maka nilai recovery Pengolahan Jurusan Teknik Pertambangan
tertinggi didapatkan pada sampel 3 dengan Universitas Lambung Mangkurat,
kemiringan 3° dan kecepatan laju air pada Banjarmasin.
debit 22,22 L/menit, dengan recovery 91,76 Sartika, Desi, 2014, Pengaruh Ukuran Butir dan
%, sedangkan untuk kadar Sn tertinggi Karakteristik Umpan Bijih Timah Terhadap
didapat pada sampel 7 sebesar 37,13%, Peningkatan Kadar Konsentrat (SnO2)
dengan kemiringan 5° dan kecepatan air pada
Setelah Proses Pemisahan Dengan
debit 35,3 L/menit
Menggunakan Jig Hartz, Skripsi Jurusan
Daftar Pustaka Teknik Pertambangan Universitas Bangka
Belitung, Bangka Belitung.
Arif, A.Taufik, 2014, Pengolahan Bahan Galian Sudrajat, D, H., 1996, Geologi Endapan Mineral
(Mineral Dressing), Buku Ajar Jurusan Teknik (Genesa Bahan Galian), Buku Ajar Jurusan
Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral
Sriwijaya, Sumatra Selatan. ITB, Bandung.
Graha, Dodi.S., 1987, Batuan dan Mineral, Nova, Sujitno, Sutedjo., 2007, Sejarah Pertambangan
Bandung. Timah Di Indonesia, Cempaka Publishing,
Gupta, A dan Yan D., 2006, Mineral Processing Jakarta
Design and Operation, Dert, Australia. Sukandarrumidi, 2007, Geologi Mineral Logam,
Universitas Gajah Mada Press, Yogyakarta.

© Teknik Pertambangan, Univ. Bangka Belitung 7