Вы находитесь на странице: 1из 9

STATUS MORTALITAS DAN POLA PENYEBAB KEMATIAN

DI KABUPATEN SUKABUMITAHUN 2007

Causes Of Death And Mortality Status In Sukabumi District 2007

Felly Philipus Senewe* dan Sarimawar Djaja*

Abstract. Indicators of mother and child survivalship generally has been accepted as an indicator of MM
Ratio, U5MR including IMR. Those indicators are reflecting the health status as stated in the Healthy
Indonesia 2010 and Millennium Development Goals (MDGs). The benefit of this survey is to support
evidence based data as a basic policy to reduce MMRatio and U5MR. The objective of this survey was to
identify mortality status and also the cause of death in Sukabumi people. The survey design was cross
sectional, the sample was all mothers who have been delivered and lived in Puskesmas study area in
Sukabumi District area. The number of sample was 3008 household member interviewed. The result of
IMR in Sukabumi 2006 was 45.7 per 1000 LB while the U5MR ways 59 per 1000 LB. The highest
proportion of causes of death was cardiovascular system that is 18 percent, then, that of digestive system 9
percent. The recommendation is strengthening of midwives role in village and in Puskesmas, so that every
delivery can be assisted by health providers. Intensive education to reduce mortality cause by
cardiovascular system is also necessary.

Keywords: Mortality status, cause of death.

PENDAHULUAN Berdasarkan hasil kajian Angka


Kematian Ibu dan Anak di Indonesia
Ukuran dari kelangsungan hidup ibu
menunjukkan besaran AKI berkisar 307-461
dan anak yang secara umum sudah diterima
per 100.000, Angka Kematian Balita 54-64
sebagai indikator adalah Angka kematian ibu
per 1000, Angka Kematian Bayi 35-42 per
(AKI), angka kematian anak (AKA)
1000, (Soemantri, 1997). Bila dibandingkan
didalamnya termasuk angka kematian bayi
dengan negara-negara ASEAN lainnya, AKI
(AKB). Pentingnya mendapatkan indikator
dan AKA di Indonesia relatif masih tinggi.
tersebut tercermin dari pemakaian AKI dan
Kecenderungan AKI dan AKB memberikan
AKB sebagai indikator derajat kesehatan
prospek penurunan yang kurang
yang ditetapkan dalam Indonesia Sehat 2010
menggembirakan. Kalau kesepakatan global
(Soemantri,2004) dan Millenium
MDGs ingin direalisir, pencapaian AKI akhir
Development Goals (MDGs) (UNDP,2003,
2015 tidak akan terpenuhi. Pencapaian AKI
WHO,2000).
tahun 2015 hanya dapat menurunkan 52-55%
Di Indonesia perkiraan AKI maupun dari keadaan 1990, masih jauh dari
AKA saat ini masih mengandalkan dari kesepakatan menurunkan tiga perempatnya
survei dan sensus karena sumber data dari sesuai dengan target MDGs sedangkan
registrasi vital, sebagai sumber data yang pencapaian AKB tahun 2015 hanya dapat
ideal masih belum memadai. Demikian pula menurunkan 53-73% dari keadaan 1990,
pengukuran AKI dan AKA dari sistem (UNDP,2003).
pencatatan rutin fasilitas kesehatan juga
Berbagai intervensi untuk
belum bisa diharapkan karena hasilnya
menurunkan AKI dan AKA telah dilakukan
memberikan gambaran bias, tidak semua
oleh Depkes sejak tahun 1980-an melalui
kejadian kematian terjadi dan dicatat di
program Safe Motherhood Inititatif yang
fasilitas pelayanan kesehatan. Keragaman
mendapat perhatian besar dan dukungan dari
sumber data menyulitkan untuk membuat
berbagai pihak, baik dalam dan luar negeri.
perbandingan, untuk generalisasi dan adn
Pemantapan dan peningkatan program
kecenderungan kematian ibu dilaporkan
kesehatan ibu dan anak telah menjadi
lebih rendah karena tidak mudah
prioritas utama. Berbagai upaya
menegakkan sebab kematian, (Soemantri,
meningkatkan kemampuan pengelola
1997).
program KIA menunju percepatan penurunan
AKI telah dilakukan. Secara konseptual, pada

* Peneliti pada Puslitbang Ekologi & Status Kesehatan


1117
Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 8 No 4, Desember 2009 :1117 - 1125

tahun 1990-an telah diperkenalkan lagi upaya mortalitas dan pola penyebab kematian
untuk menajamkan strategi dan intervensi masyarakat di Kabupaten Sukabumi tahun
dalam menurunkan AKI yaitu Making 2006.
Pregnancy Safer (MPS) yang dicanangkan
oleh pemerintah pada tahun 2000,
(Soemantri,2004; Soemantri, 1997, BAHAN DAN CARA
Mosley,1984).
Kerangka pikir kelangsungan hidup
Kebijakan desentralisasi menuntut ibu dan anak mengacu konsep yang
pimpinan Kabupaten/Kota dan jajarannya dikembangkan Mosley dan Chen (1984),
mampu untuk merencanakan, McCarthy dan Maine (1992) dan kerangka
memprioritaskan kegiatan serta memantau pikir Sistem Kesehatan Nasional (SKN)
dampaknya dengan memanfaatkan data lokal tahun 2004, (Soemantri,2004). Faktor-faktor
yang tersedia serta sumber daya yang ada. yang mempengaruhi kelangsungan hidup ibu
Sehubungan dengan penerapan sistem dan anak sangat kompleks mencakup faktor
desentralisasi maka pelaksanaan strategi yang mendasar (status ibu, keluarga dan
MPS di daerahpun diharapkan dapat lebih status masyarakat), faktor langsung (status
terarah dan sesuai dengan permasalahan reproduksi, status kesehatan/ gizi, perilaku
setempat. Adanya keragaman daerah di menggunakan yankes, kontaminasi
Indonesia menurut demografi dan lingkungan, kecelakaan, pengontrolan
geografi,maka kegiatan program kesehatan penyakit). Keberhasilan tindakan program
ibu dan anak (KIA) akan beragam pula. Agar (upaya kesehatan) tergantung dari efisiensi
pelaksanaan program KIA berjalan lancar, mengelola input berupa sumber daya
aspek peningkatan mutu pelayanan program manusia, sarana dan dana yang tercermin dari
KIA tetap diharapkan menjadi kegiatan cakupan dan kinerja program. Kebijakan dan
prioritas utama baik ditingkat puskesmas managemen kesehatan dan pemberdayaan
maupun di tingkat kabupaten/kota. masyarakat merupakan dukungan dan sukses
Peningkatan mutu program KIA juga dinilai tidaknya pencapaian upaya meningkatkan
dari besarnya cakupan program di masing- kelangsungan hidup ibu dan anak.
masing wilayah kerja, (WHO,2000;
Penelitian dilakukan di Kabupaten
Setyowati,1999).
Sukabumi Provinsi Jawa Barat Maret s/d
Kematian maternal juga disebut Desember tahun 2006. Desain penelitian
kematian ibu oleh program adalah kematian secara potong lintang. Populasi adalah semua
seorang wanita yang sedang hamil, penduduk yang ada di wilayah kerja
melahirkan sampai dengan 42 hari sesudah Puskesmas di daerah penelitian di Kabupaten
berakhirnya kehamilan (masa nifas), tidak Sukabumi. Sampel adalah semua ibu yang
tergantung dari umur kehamilan dan letak pernah melahirkan dan berada di wilayah
kehamilan di dalam ataupun di luar kerja Puskesmas di daerah penelitian.
kandungan yang disebabkan oleh keadaan Perhitungan besar sampel pengumpulan data
kehamilan atau oleh keadaan yang primer menggunakan rumus:
diperburuk akibat kehamilan atau disebabkan
n = { 4 ( r ) ( l - r ) ( f ) (!,!)}/{(C2)(p)(nb)}
kesalahan pada pertolongan persalinan, tetapi
tidak termasuk kematian yang disebabkan Keterangan:
oleh kecelakaan atau kelalaian. Dibagi dalam n = jumlah sampel indikator kunci
2 kelompok yaitu karena obstetri langsung 4 = faktor untuk confidens interval 95%
dan tidak langsung. Menghitung ukuran r = perkiraan prevalens/ cakupan dari
kematian maternal dapat dilakukan dengan indikator kunci
dua cara yaitu cara langsung (direct) dan cara 1,1 = faktor untuk memperbesar jumlah
tidak langsung (indirect), (Utomo,1988; sampel (non respon)
Setyowati,1999, Depkes,2004). f =deff(l,75)
e = margin of error (3%)
Manfaat penelitian sebagai dukungau
p = proporsi target group yang ada di
"evidence data" yang melandasi kebijakan
populasi
dan intervensi penurunan AKI dan AKA. nb = rata rata jumlah ART di suatu RT
Tujuan penelitian untuk mengetahui status

1118
Status Mortalitas...( Felly & Sarimawar)

Proporsi bayi dari populasi = 0,024 sebelum mencapai umur lima tahun (dihitung
(Profil Sukabumi, 2004), prevalensi diare per 1000). AKABA dihitung dengan cara
pada bayi = 0,107 (SKRT 2001), margin of tidak langsung (Q-five) program, Trussel
error = 5%, design effect = 1,75%, angka non equation, West model). Angka merujuk rata-
respons = 10%, rata-rata anggota rumah rata tiga tahun sebelum survei.
tangga = 4,08 (Profil Sukabumi,Dinkes
Probabilitas anak lahir hidup yang
Kabupaten Sukabumi, 2004). Indikator kunci
meninggal sebelum mencapai umur lima
ditetapkan angka prevalensi diare pada Bayi
tahun (dihitung per 1000). AKB dihitung
nasional 10,7%, r= 0.107, p = 0,024, nb =
dengan cara tidak langsung (Q-five)
4,08 jumlah sampel = 3.005 rumah tangga
program, Trussel equation, West model).
dibulatkan 3008 RT (12.273 anggota RT).
Angka merujuk rata-rata tiga tahun sebelum
Besar Sampel adalah 3.008 RT atau 12.273
survei.
ART. Kerangka sampel menggunakan daftar
Blok Sensus (BS) dari Badan Pusat Statistik Untuk pelaksanaan kegiatan
(BPS). Pemilihan sampel rumah tangga penelitian kami telah mendapat izin
dilakukan tahapan sebagai berikut: penelitian dari Ditjen Kesatuan Bangsa
Depdagri, Pemerintah Daerah Provinsi Jabar
Pemilihan kecamatan berdasarkan
- Kab Sukabumi. Untuk pelaksanaan
strata Puskesmas cakupan KIA tahun 2005
penelitian ini kami telah mendapatkan
baik (>80%), sedang (60-80%), kurang
pertimbangan etik penelitian dari Komisi
(<60%) secara sistematik sampling
Etik Badan Litbangkes.
Pemilihan blok sensus dalam
kecamatan terpilih, diplih secara peluang
sebanding (PPS ) BASIL
Pemilihan rumah tangga dalam blok Gambaran Umum
sensus terpilih. Setiap blok sensus dipilih 16 Kabupaten Sukabumi secara
rumah tangga secara linier sistematik, atau
geografis terletak diantara 60 571 Lintang
secara pemetaan rumah tangga. Jumlah blok Selatan dan 1060 491 - 1070 001 Bujur
sensus ialah 188 BS. Instrumen Timur dan mempunyai luas 4.128 km2 atau
menggunakan kuesioner terstruktur, dengan 14,39 persen dari luas provinsi Jawa Barat
cara mewawancarai responden (ibu) di setiap atau 3,01 persen dari luas pulau Jawa dengan
blok sensus pada 16 RT setiap BS. batas wilayahnya: sebelah Utara berbatasan
Mengumpulkan data sekunder di institusi dengan kab Bogor, sebelah Selatan
Dinas kesehatan dan sektor terkait. berbatasan dengan Samudera Indonesia,
Wawancara dilakukan oleh tenaga sebelah Barat berbatasan dengan kab Lebak
mahasiswa D3 kesehatan (kebidanan dan dan Samudera Indonesia, serta sebelah Timur
keperawatan) dan tenaga staf Puskesmas kab berbatasan dengan kab Cianjur. Bentuk
Sukabumi. Data dianalisis secara deskriptif topografi wilayah kabupaten Sukabumi pada
dan analitik. Program entry menggunakan umumnya permukaan yang bergelombang di
program SPSS, dan analisis data daerah selatan dan bergunung di daerah
menggunakan SPSS. Proses manageman data bagian utara dan tengah. Dengan daerah
mulai dari penomoran, edit, koding, entri, pantai, daerah berlereng dan gunung-gunung
analisis, imputasi dan cleaning. Cara antara lain Gunung Salak dan Gunung Gede.
perhitungan: Demikian juga dengan ada daerah pertanian,
Probabilitas anak lahir hidup yang (Dinas Kesehatan Kab Sukabumi,2006).
meninggal sebelum mencapai umur satu Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa
tahun (dihitung per 1000). AKB dihitunp Barat merupakan salah satu kabupaten di
dengan cara tidak langsung (Q-five) T
ndonesia yang mempunyai jumlah penduduk
program, Trussel equation, West modev. yang relatif banyak dan secara geografis
Angka merujuk rata-rata tiga tahun sebelum relatif luas dan sulit. Kabupaten Sukabumi
survei. sampai tahun 2006 ini masih merupakan
Probabilitas anak mencapai umur salah satu kabupaten di Jawa Barat yang
tepat satu tahun yang akan meninggal tergolong kabupaten daerah tertinggal,

1119
Jumal Ekologi Kesehatan Vol. 8 No 4, Desember 2009 : 1117 - 1125

disamping kabupaten Garut. Pada tahun 2005 karakteristik semua anggota rumah tangga
wilayah kepemerintahan yang berada di dan karakteristik anggota rumah tangga
kabupaten Sukabumi meliputi 45 kecamatan, khususnya berusia 10 tahun ke atas. Rumah
348 desa dan 56 Puskesmas. Jumlah tangga yang dikunjungi berada di daerah
penduduk menurut proyeksi sampai dengan perkotaan sebanyak 720 RT (23,9%) dan di
tahun 2005 adalah 2.274.899 jiwa dengan perdesaan sebanyak 2288 RT (76,1%). Total
jumlah penduduk laki-laki sebesar 1.150.966 rumah tangga yang dikunjungi sebanyak
jiwa dan perempuan sebesar 1.123.903 jiwa, 3008 RT dengan respons rate 100%. Dalam 1
dengan tingkat pertumbuhan penduduk tahun rumah tangga dengan jumlah anggota rumah
2005 sebesar 1,67%. Kabupaten Sukabumi tangga (ART) 5 orang atau lebih sebanyak
masih termasuk kategori kurang padat 1136 RT (37,8%), dimana dijumpai lebih
dimana pada tahun 2005 yaitu 551,09 banyak di perkotaan (48,5%) dibandingkan di
jiwa/km2. Dengan adanya perkembangan di perdesaan (34,4%).
wilayah kecamatan maka terjadi
Dari RT terpilih tersebar pada semua
ketidakmerataan persebaran penduduk.
kecamatan yang terbagi pada 7
Kecamatan yang jumlah penduduknya
wilayah/lokasi responden tinggal, yaitu:
relative besar adalah kecamatan di wilayah
wilayah I meliputi Kecamatan Sukabumi,
utara seperti kec Cibadak, Sukaraja, Cisaat
Sukaraja, Sukalarang, Cireunghas,
dan Kebonpedes sedangkan kecamatan yang
Kebonpedes, Cisaat, Gunungguruh,
luas tapi jarang penduduknya adalah kec
Kadudampit, dan Gegerbitung. Wilayah II
Ciemas. Secara umum sebaran pendapatan
meliputi Kecamatan Cibadak, Cicantayan,
penduduk termasuk golongan rendah. Jumlah
Caringin, Nagrak, Cikidang, dan Cikembar.
keluarga miskin pada tahun 2005 sebesar
Wilayah III meliputi Kecamatan Parungkuda,
188.778 KK dan jumlah keluarga yang
Bojonggenteng, Kabandungan,
mendapat Kartu sehat sebanyak 321.436 KK,
Kalapanunggal, Parakansalak, Cicurug dan
(Dinas Kesehatan Kab Sukabumi,2006).
Cidahu. Wilayah IV meliputi Warungkiara,
Bantargadung, Pelabuhan Ratu, Simpenan,
Cisolok, dan Cikakak). Wilayah V meliputi
Gambaran Khusus
Jampang Tengah, Purabaya, Nyalindung,
Menurut perhitungan BPS provinsi Cijangkar, dan Lengkong. Wilayah VI
Jawa Barat maka angka kematian bayi meliputi Jampang Kulon, Cimanggu,
(AKB) kab Sukabumi tahun 2005 sebesar Kalibunder, Surade, Cibitung, Ciracap,
53,25 per 1000 kelahiran hidup, sedangkan Waluran, dan Ciemas. Wilayah VII meliputi
angka kematian ibu (AKI) kelompok wilayah Kecamatan Sagaranten, Curugkembar,
Sukabumi dan Cianjur tahun 2005 sebesar Cidadap, Pabuaran, Cidolog dan
364,17 per 100.000 kelahiran hidup, (Dinas Tegalbuleud.
Kesehatan Kab Sukabumi,2006).
Paling banyak RT terpilih berada di
Menurut laporan program Kesga wilayah I yaitu 663 RT (22,0%) dan wilayah
Kab, ibu hamil yang meninggal dari 0,08% II sebesar 544 RT (18,1%). Selanjutnya pada
turun menjadi 0,04%. Komplikasi persalinan wilayah VI sebesar 448 RT (14,9%),
yang ditangani meningkat dari 36,76% kemudian wilayah III sebesar 416 RT
(tahun 2004) menjadi 53,67% (2005). Kasus (13,8%), selanjutnya wilayah IV sebesar 394
yang dirujuk sebesar 7,9% (2004) menjadi RT (13,1%). Paling sedikit pada wilayah VII
12,72%, sedangkan kasus yang meninggal yaitu sebesar 320 RT (10,6%) dan pada
dari 0,08% (2004) turun menjadi 0,04% wilayah V sebesar 223 RT (7,4%). Pada
(2005), (Dinas Kesehatan Kab Sukabumi, rumah tangga terpilih dijumpai rata-rata
2006). anggota rumah tangga (ART) sebesar 4,17
orang. Jumlah rata-rata anggota rumah
tangga lebih banyak dari perhitungan
Gambaran Rumah Tangga kaoupaten Sukabumi dalam Profil Kesehatan
Gambaran rumah tangga meliputi Tahun 2005 sebesar 4,08 orang (Tabel 1)
karakteristik rumah tangga terpilih,

1120
Status Mortalitas...( Felly & Sarimawar)

Tabel 1. Proporsi karakteristik rumah tangga di Kab Sukabumi tahun 2006

Daerah Kab Sukabumi


Karakteristik
Perkotaan Perdesaan Jumlah RT
rumah tangga %
(n=720) (n=2288) (3008)
1. JumlahART:
- <=4 org 51,5 65,6 62,2 1872
-5+ org 48,5 34,4 37,8 1136
2. Wilayah (Kecamatan):
- Wilayah I 44,4 15.0 22,0 663
- Wilayah II 20,0 17,5 18,1 544
- Wilayah III 24,4 10,5 13,8 416
- Wilayah IV 6.7 15,1 13,1 394
- Wilayah V 0,0 9,7 7.4 223
- Wilayah VI 2,2 18.9 14,9 448
- Wilayah VII 2,2 13,3 10,6 320

Status Mortalitas maka ditemukan Angka Kematian Bayi


(AKB) di kab Sukabumi tahun 2006 sebesar
a. Status Kematian Anak
45,67 per 1000 kelahiran hidup. Angka
Status kematian anak diukur secara kematian anak balita sebesar 13,33 per 1000
tidak langsung dengan memperhitungkan kelahiran hidup dan Angka kematian Balita
riwayat anak lahir hidup dan anak yang sebesar 59,00 per 1000 kelahiran hidup.
sudah meninggal. Dengan menggunakan (Tabel 2)
metode perhitungan secara Trussel-Brass

Tabel 2. Angka kematian bayi, angka kematian anak balita dan angka kematian balita di Kab
Sukabumi tahun 2006

Status kematian anak Per 1000 kelahiran hidup


AKB 45,67
AKABA 13,33
AKBA 59,00

b. Status Mortal itas/Kematian Semua umur gambaran anggota rumah tangga yang
meninggal, penyebab kematian (cause of
Mortalitas atau kematian yang
death), tahun kejadian kematian, surat
dialami semua anggota rumah tangga terpilih
keterangan kematian, tempat meninggal dan
pada saat survei. Kejadian kematian sejak
jumlah kejadian kematian dalam 1 rumah
tahun 2003 termasuk kejadian lahir mati yang
tangga.
terjadi di dalam keluarga. Juga diketahui
mengenai kepemilikan surat keterangan
kematian, tempat meninggal apakah di
b. 1. Pola Penyebab kematian
rumah, di sarana kesehatan atau kematian
yang terjadi di jalan (death of arrival/DOA). Kejadian kematian menurut
Ditanyakan juga secara umum penyebab penyebab kematian yang dikonfirmasi
meninggal dan kemudian dikonfirmasikan menurut ICD-X paling banyak ditemukan
diagnosis penyebab kematian menuru; meninggal karena Circulatory system
International Classificasion of Death X (ICC (misalnya hipertensi atau stroke) sebesar
X). Pada wanita umur 15-49 tahun ya^ , '8,1% dan terbanyak di perkotaan (31,1%),
meninggal juga ditanyakan kepada keluar .a i ^mudian Diseases of Digestive system
apakah meninggal pada masa kehamilan, (8,5%) dan terbanyak di perdesaan (10,3%).
keguguran/pengguguran, saat melahirkan, Selanjutnya Intestinal infectious diseases
masa nifas 42 hari setelah melahirkan atau (7,7%) terbanyak di perdesaan (9,8%) dan
sebab lain, Mortalitas akan disajikan Senility/ketuaan (7,3%) terbanyak di

1121
Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 8 No 4, Desember 2009 : 1117 -1125

perdesaan (9,2%). Kematian pada ibu dalam asfiksia (4,0%) juga kematian BBLR sebesar
proses maternal sebesar 1,2 persen. Kematian 3,2%. (Tabel 3)
bayi dengan lahir mati (1,6%) dan kematian

Tabel 3. Pola penyebab kematian sejak tahun 2003 di Kab Sukabumi tahun 2006

Daerah Kab Sukabumi


Pola penyebab kematian Junilah
Perkotaan Perdesaan
menurut ICD-X % kematian
(n=74) (n=174)
(248)

- Asphyxia (P21) 4,1 4,0 4,0 10


- Asthma (J45) 2,7 5,2 4,4 11
- Bronchitis/Emphisema (J40-J47) 0,0 4,6 3,2 8
- Congenital (QOO-Q99) 2,7 1,1 1,6 4
- Diabetes mellitus (E10-E14) 8,1 2,9 4,4 11
- Diseases of Digestive system (KOO-K93) 4,1 10,3 8,5 21
- Fetal death (P95) 1,4 1,7 1,6 4
- Inflamatory Poliarthropathis (M05-M14) 2,7 1,1 1,6 4
- Intestinal infectious diseases (AOO-A09) 2,7 9,8 7,7 19
- Low birth weight (P05-P08) 4,1 2,9 3,2 8
- Maternal (OOO-O99) 4,1 0,0 1,2 3
-NeopIasma(COO-C97) 1,4 1.7 1,6 4
- Nutritional &haemolytic anaemias(D50-D59) 0,0 1.7 1,2 3
- Other bacterial diseases (A30-A49) 0,0 1,7 1,2 3
- Pneumonia/influenza (J10-J18) 4,1 4,6 4,4 11
- Protozoal diseases (B50-B64) 1,4 6,3 4,8 12
- Senility (R54) 2,7 9,2 7,3 18
- Circulatory system (100-199) 31,1 12,6 18,1 45
- Transport accidents&injury(V01-99/WOO-19) 5,4 2,3 3,2 8
- Tuberculosis (A15-A19) 5,4 6,9 6,5 16
- Urinary system (NOO-N99) 2,7 2,3 2,4 6
- Viral haemorrhagic fevers (A90-A99) 6,8 1,7 3,2 8
-Viral hepatitis (B15-B 19) 2,7 5,2 4,4 11

b.2. Tahun kejadian kematian, surat Hanya sedikit dari mereka yang meninggal
keterangan kematian dan tempat meninggal yang memiliki surat keterangan kematian
(19%). Tempat meninggal paling banyak
Karakteristik anggota rumah tangga
meninggal di rumah (88,3%) dan hanya
yang meninggal menurut kelompok umur
sedikit yang meninggal di sarana kesehatan
paling banyak pada usia 65 tahun ke atas
(10,1%). Jumlah kejadian kematian di dalam
(34,6%) dan usia bayi (11,8%). Kematian
satu rumah tangga kebanyakan hanya 1 orang
lebih banyak pada laki-laki (58,1%), tinggal
(84,3%). Tetapi ada juga yang meninggal
di perdesaan (70,3%). Kejadian kematian
dalam jumlah yang lebih dari 1 orang
menurut tahun kejadian kematian mempunyai
misalnya jumlah yang meninggal 2 atau 3
persentase yang hampir sama yaitu sejak
orang dalam 1 RT sebesar 16 persen. (Tabel
tahun 2003 (25,0%), sedikit naik pada tahun
2004 (25,8%) dan tahun 2005 (29,8%). 4)

1122
Status Mortalitas...( Felly & Sarimawar)

Tabel 4. Proporsi karakteristik yang meninggal sejak tahun 2003 di Kab Sukabumi tahun 2006

Daerah Kab Sukabumi


Jumlah
Karakteristik yang meninggal Perkotaan Perdesaan
% kematian
(n=74) (n=174)
(248)
1. Surat keterangan kematian:
-Ada 35,6 12,1 19,1 47
- Tidak 64,4 87,9 80,9 199
2. Tempat meninggal:
- Rumah 82,2 91,3 88,6 218
- Sarana kesehatan 16,4 6,9 9,8 24
- Lainnya/DOA 1.4 1,7 1,6 4
3. Jenis kelamin:
- Laki-laki 47,9 62,4 58,1 143
- Perempuan 52,1 37,6 41,9 103
4. Tahun kejadian kematian:
- tahun 2003 21,9 24,9 24,0 59
- tahun 2004 23,3 28,3 26,8 66
- tahun 2005 31,5 28,9 29,7 73
- tahun 2006(sd agustus 2006) 23,3 17,9 19,5 48

PEMBAHASAN Cause of death atau penyebab


kematian untuk semua golongan umur
Dalam penelitian ini ada beberapa
ditemukan paling banyak meninggal karena
keterbatasan penelitian yaitu pertanyaan
penyakit Sirkulasi. Artinya penyakit-penyakit
untuk mengukur kematian anak dan pola
degeneratif atau penyakit tidak menular
penyebab kematian pada orang dewasa
makin bertambah sedangkan penyakit-
sangat tergantung pada daya ingat keluarga
penyakit infeksi atau menular masih tetap
atau ibu anak tersebut.
tinggi. Hal ini telah terjadi double burden
Mortalitas Anak dan Cause of death (COD) diseases atau emarging of diseases. Penyakit-
penyakit menular masih menjadi penyebab
Indonesia Sehat 2010 mentargetkan
kematian disamping kematian pada golongan
Angka kematian Bayi dan Balita masing-
perinatal, neonatal dan maternal, (Surkesnas,
masing sebesar 40 per 1000 KH dan 58 per
2002; Senewe (2), 2006; Bisara,2003).
1000 KH. Sementara Millenium
Development Goals mentargetkan penurunan
kematian Bayi dan Balita masing-masing dua
KESIMPULAN DAN SARAN
pertiga dari tahun 1990 ke tahun 2015.
Dibandingkan hasil SDKI 2002-2003 dalam Kesimpulan
5 tahun sebelum survei AKB dan AKBA AKB Kab Sukabumi tahun 2006
masing-masing 35 per 1000 KH dan 46 per
sebesar 45,67 per 1000 kelahiran hidup.
1000 KH, maka AKB dan AKBA di kab.
AKABA sebesar 13,33 per 1000 kelahiran
Sukabumi dalam 3 tahun sebelum survei
hidup dan AKBA sebesar 59 per 1000
masih tinggi tetapi sedikit rendah pada
kelahiran hidup.
Susenas 2004 AKB sebesar 31/1000KH dan
jauh lebih tinggi di daerah tertinggal Penyebab kematian paling banyak
(42/1000KH), (BPS-BKKBN-Depkes, 2003; karena penyakit Sistem Sirkulasi (18%), dan
Senewe(l),2006). Dalam studi di Sukabumi sistem pencernaan (9%). Kematian Maternal
tahun 2006 ditemukan angka kematian bayi sebesar 1 persen, sedangkan Lahir mati (2%),
sebesar 46 per 1000 kelahiran hidup. Angks BBLR (3%).
ini masih cukup tinggi dibandingkan dengar
angka Nasional dan angka di provinsi Jawa
Barat, (Senewe(3),2006; Senewe(4),2006 ; Saran
Djaja, 2003). Peran bidan di desa dan di
Puskesmas perlu ditingkatkan agar setiap

1123
Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 8 No 4, Desember 2009 : 1117 - 1125

pertolongan persalinan dilakukan oleh tenaga 2005, Seksi Yankesdas Dinas Kesehatan Kab
kesehatan Sukabumi, Februari 2006.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi: Profil
Perlu penyuluhan yang lebih intensif Kesehatan Kabupaten Sukabumi tahun 2005,
dalam rangka untuk mengurangi kematian Tim Penyusun Profil Kesehatan Kab
Sukabumi, Juli 2006.
oleh karena gangguan sistim sirkulasi Djaja, Sarimawar, Soemantri Soeharsono, Irianto Joko:
Perjalanan transisi epidemiologi di Indonesia
dan implikasi penanganannya, studi
UCAPAN TERIMA KASIH mortalitas - Survei kesehatan rumah tangga
(1986-2001), Buletin Penelitian Kesehatan,
Kami mengucapkan banyak terima Badan Litbangkes Depkes RI Jakarta, vol.31
kasih atas bantuan berbagai pihak dalam No.3-2003, hal 119-131, Jakarta 2003
menyelesaikan penelitian ini. Kami McCarthy, James and Deborah Maine. A framework
for analyzing the determinants of maternal
menghaturkan terima kasih yang sebesar- mortality. In studies of Family Planning, 23
besarnya kepada: Kepala Pusat Penelitian (1): 23-33,1992
dan Pengembangan Ekologi dan Status Mosley, W Henry and Lincoln C Chen. An analytical
Kesehatan Badan Litbangkes Depkes RI, framework for study of child survival in
developing countries. In Population and
Ketua PPI Puslitbang Ekologi dan Status Development Reviews 10 (suppl):22-45,
Kesehatan, Ketua Komisi Etik Badan 1984
Litbangkes, Kepala Dinas Kesehatan Senewe,Felly Philipus(l), Afifah Tin: Status Mortalitas
Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat Balita di daerah tertinggal tahun 2004, Jurnal
dan staff, Kepala Badan Pusat Statistik (EPS) Ekologi Kesehatan Puslitbang Ekologi &
Status Kesehatan-Jakarta, vol.5 No.l April
Kab Sukabumi dan staff, 19 Kepala 2006,hal.394-402, Jakarta - 2006.
Puskesmas, para Bikor PKM, bidan di desa, Senewe.Felly Philipus(2), Djaja Sarimawar, Wiryawan
Direktur Poltekes Sukabumi, para Dosen dan Yuana, Pradono Julianty: Kesehatan anak dan
mahasiswa tkt.III, Bapak Soeharsono bayi baru lahir di Kota Bekasi tahun 2002,
Jurnal Ekologi Kesehatan Puslitbang Ekologi
Soemantri, PhD, APU, DR.dr. Trihono, MSc, & Status Kesehatan-Jakarta, vol.5 No.l April
dr. Erna Mulati, MSc (CMFM) selaku 2006,hal.361-364, Jakarta - 2006.
Narasumber, Aim. Ibu Titiek Setyowati, Senewe,Felly Philipus(3), Pangaribuan Lamria,
SKM, MSc yang merupakan pencetus dan Pritasari Kirana: Status Morbiditas Balita di
pemberi ide awal. Serta semua pihak yang daerah tertinggal tahun 2004, Buletin
Penelitian Sistem Kesehatan, Puslitbang
tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang Sistem & Kebijakan-Surabaya, vol.9 No.2
telah membantu, memberi masukan dan April 2006,hal.82-92, Surabaya - 2006.
saran-saran dalam penelitian ini. Senewe,Felly Philipus(4), Sandjaja: Status Gizi Balita
di daerah tertinggal tahun 2004-Kajian Data
SKRT 2004, Jurnal Penelitian Gizi &
Makanan, Puslitbang Gizi & Makanan-
DAFTAR PUSTAKA Bogor, vol.29 No.l Juni 2006,hal.l6-20,
Bisara, Dina, Supraptini.Afifah Tin: Status Gizi Wanita Bogor-2006.
Usia Subur (WUS) dan Balita di Indonesia Setyowati Titiek, Wiryawan Yuana: Laporan
menurut data SKRT 2001, Buletin Penelitian penelitian :Protap pencatatan / pelaporan
Kesehatan, Badan Litbangkes Depkes RI kematian maternal di Puskesmas.
Jakarta, vol.31 No.3-2003, hal 143-154, Puslitbangkes Ekologi Kesehatan, Badan
Jakarta 2003 Litbangkes, Jakarta, 1999
BPS-BKKBN-Depkes-ORC Macro: Survei Demografi Soeharsono Soemantri. Angka Kematian Ibu di
dan Kesehatan Indonesia 2002-2003, Badan Indonesia : Telaah berbagai sumber data,
Pusat Statistik, Badan Koordinasi Keluarga pendekatan pengukuran dan hasil
Berencana Nasional, Departemen Kesehatan pengukuran. Puslitbangkes Ekologi
dan ORC Macro Calverton, Maryland USA, Kesehatan, Badan Litbangkes, Jakarta, 1997
Jakarta Desember 2003. Soeharsono, Soemantri, Setyowati Titiek: Kajian
Departemen Kesehatan RI: Pedoman Tugas Bidan Kematian Ibu dan Anak di Indonesia. Depkes
Puskesmas sebagai Bidan Koordinator, RI, Badan Litbangkes, Jakarta, 2004
Direktorat Bina Kesehatan Keluarga Ditjen Soemantri,Soeharsono, Setyowati Titiek, Wiryawan
Binkesmas Depkes RI, Jakarta, Februa1' Yuana: Laporan penelitian: Pedoman
1997. Menghitung Angka Kematian Ibu (AKI).
Depkes RI. Direktorat Jenderal Bina Kesehai.ji Puslitbangkes Ekologi Kesehatan, Badan
Masyarakat. Pedoman Pemantauan Wilayah Litbangkes, Jakarta, 1997
Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS- Tim Surkesnas: Laporan SKRT 2001, Studi Tindak
KIA), Jakarta 2004 Lanjut Ibu Hamil (Deskripsi awal dari WH1),
Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi: Laporan Badan Litbangkes Depkes RI, Jakarta
Tahunan Pelayanan Kesehatan Dasar tahun Desember 2002.

1124
Status Mortalitas...( Felly & Sarimawar)

Tim Surkesnas: Laporan Studi Mortalitas 2001, Pola Utomo, Budi, Kelangsungan hidup anak di Indonesia:
Penyakit Penyebab Kematian di Indonesia, Pengertian, Masalah, Program dan bahasan
Badan Litbangkes Depkes RI, Jakarta metodologi, Pusat Penelitian Kesehatan,
Agustus 2002. Lembaga Penelitian UI, Jakarta 1988.
United Nations Development Program. Human World Health Organization. Making Pregnancy Safer
Development Report 2003. Millenium (MPS). A Health sector strategy for reducting
Development Goals (MDGs): a compact maternal and perinatal morbidity and
among nations to end human poverty, New mortality. New Dehli, WHO SEARO, 2000
York, Oxford University Press, 2003.

1125