Вы находитесь на странице: 1из 23

PENGANTAR MANAJEMEN STRATEGIK

“ANALISIS STRATEGI PEMASARAN


TERHADAP KELANGSUNGAN USAHA PADA KOPI BUBUK UD. LUMBUNG
MAS GIANYAR”

OLEH :

Nama : Kadek Wanda Pangesti


Npm : 1733122001
Kelas : F1 / Akuntansi Reguler B
Semester :V

UNIVERSITAS WARMADEWA
FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI
TAHUN AJARAN 2019
1

ABSTRACT

Coffee is a plant that shape of the tree and included in the Rubiaceae family’s.
These plants grow upright, branched, and can reach a height of up to 12 meters. Coffee is
an export commodity that has a high economic value in the world market. Due to an
insistence of modernization, coffee consumption has now become part of the lifestyle for
everyone. This research is purpose to identify the key internal and external factors that
influence the marketing of Lumbung Mas coffee powder at UD. Lumbung Mas and
simultaneously formulating alternative strategies that can be selected by the company.
The research used data analysis in the form of internal environmental factor
analysis using matrix IFAS with indicators such as the strengths and weaknesses as well
as external environmental factor analysis using matrix EFAS with indicators such as
opportunities and threats. Then proceed with formulating the strategy through the
matching of the matrix Internal External (IE), and at this stage will be strengthened with
the SWOT matrix to obtain an alternative strategies at companies.
The results showed that internal environmental factors that affect the marketing
strategy of Lumbung Mas coffee is good quality of ground coffee, the price of the products
cheaper than competitors products, companies are still doing activities independently with
simple equipment, as well as a limited amount of capital company. As for the external
environmental factors that affected is availability of sufficient raw materials, demand of
consumption of beverages such as coffee, competition with similar companies, as well as
the increasing number of product substitution. Alternative strategies that need to be done
by a company that is developing a marketing network, improve service quality to
customers, strengthen cooperation with government agencies, improving the quality of
human resources by training, improve promotion and advertising, set prices to face the
competition, improve the use of technology, as well as suppress any the possibility of
leakage of operational costs.

Keywords: coffee, marketing, marketing strategy, UD. Lumbung Mas


2

ABSTRAK

Kopi merupakan spesies tanaman berbentuk pohon dan termasuk dalam famili
Rubiaceae. Tanaman ini tumbuh tegak, bercabang, dan dapat mencapai tinggi hingga 12
meter. Kopi merupakan komoditas ekspor yang mempunyai nilai ekonomis yang relatif
tinggi di pasaran dunia. Adanya desakan modernisasi, mengonsumsi kopi kini telah
menjadi bagian dari gaya hidup setiap lapisan masyarakat. Tujuan penelitian adalah untuk
mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengarui pemasaran kopi
bubuk Lumbung Mas pada UD. Lumbung Mas serta sekaligus merumuskan berbagai
alternatif strategi yang dapat dipilih oleh perusahaan.
Penelitian menggunakan analisis data berupa analisis faktor lingkungan internal
menggunakan matriks IFAS dengan indikator berupa kekuatan dan kelemahan serta
analisis faktor lingkungan eksternal menggunakan matriks EFAS dengan indikator berupa
peluang dan ancaman. Dilanjutkan dengan merumuskan strategi melalui pencocokan
terhadap matriks Internal Eksternal (IE), serta pada tahap ini akan diperkuat dengan
matriks SWOT untuk mendapatkan berbagai alternatif strategi pada perusahaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor lingkungan internal yang
mempengaruhi strategi pemasaran kopi Lumbung Mas adalah kualitas kopi bubuk yang
baik, harga produk yang lebih murah dibandingkan produk pesaing, posisi usaha yang
masih melakukan kegiatan secara mandiri dengan peralatan sederhana, serta jumlah modal
perusahaan yang terbatas. Sedangkan untuk faktor lingkungan eksternal yang
mempengaruhi adalah ketersediaan bahan baku yang cukup, kebutuhan masyarakat akan
konsumsi minuman berupa kopi, persaingan dengan perusahaan yang sejenis, serta
semakin meningkatnya produk substitusi. Alternatif strategi yang perlu dilakukan oleh
perusahaan yaitu mengembangkan jaringan pemasaran, meningkatkan kualitas layanan
kepada para pelanggan, memperkuat kerjasama dengan instansi pemerintahan,
meningkatkan kualitas SDM dengan pelatihan, meningkatkan kegiatan promosi dan
periklanan, menetapkan harga untuk menghadapi persaingan, meningkatkan penggunaan
teknologi, serta menekan segala kemungkinan adanya kebocoran biaya operasional.

Kata kunci : kopi, pemasaran, strategi pemasaran, UD. Lumbung Mas


3

PENDAHULUAN

Sektor pertanian tampaknya masih menjadi primadona perekonomian di


Indonesia, meskipun telah terjadi transformasi struktur ekonomi, dimana perekonomian
negara lebih ditopang pada sektor industri dan jasa. Selain dibutuhkan sebagai penyedia
pangan nasional, sektor pertanian juga menyerap sebagian besar tenaga kerja. Sektor
pertanian mencakup subsektor tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, dan
kehutanan. Hingga saat ini sektor pertanian menyumbang penyerapan tenaga kerja baru
setiap tahunnya dan masih menjadi tumpuan hidup bagi sebagian besar angkatan kerja di
Indonesia. Bahkan kebutuhan akan pangan nasional, masih menumpukan harapan kepada
sektor pertanian.
Salah satu subsektor pertanian yang memegang peranan besar untuk produk
ekspor Indonesia ialah subsektor perkebunan. Produk perkebunan yang kini tengah
menjadi andalan di Indonesia yaitu kopi. Devisa dari kopi menunjukkan perkembangan
yang cukup berarti bagi Indonesia. Tahun 1960-an pangsa devisa kopi masih peringkat
keenam (Nataatmadja dan Baharsyah, 1982). Pada tahun 1970 hingga 1990-an melonjak
tajam dan menjadi peringkat kedua sebelum karet dalam subsektor perkebunan. Pada
tahun 1986, kopi menyumbang devisa lebih dari US$ 800 juta (46,7% dari ekspor
komoditi pertanian). Sejak tahun 1999, Indonesia termasuk sebagai negara produsen dan
pengekspor kopi dunia keempat setelah Brazil, Vietnam, dan Columbia (AEKI, 2013).
Luas areal perkebunan kopi Indonesia saat ini mencapai 1,2 juta hektar. 96% dari
luas areal tersebut merupakan lahan perkebunan kopi rakyat dan sisanya 4% milik
perkebunan swasta dan Pemerintah (PTP Nusantara). Oleh karena itu, produksi kopi
Indonesia sangat tergantung oleh perkebunan rakyat. Luas areal yang menghasilkan
(produktif) mencapai 920 hektar atau sekitar 77% dari total keseluruhan areal perkebunan
kopi. Luas areal perkebunan kopi, dari tahun ke tahun terus menunjukkan peningkatan
khususnya pada perkebunan kopi rakyat. Sebaliknya pada perkebunan swasta dan
perkebunan negara tidak menunjukkan perkembangan yang berarti (AEKI, 2013).
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian,
produksi kopi Indonesia dalam lima tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup
signifikan. Pada tahun 2008 Indonesia mampu memproduksi kopi sebanyak 680 ribu ton
dan meningkat sebesar 10,29% menjadi 750 ribu ton pada tahun 2012. Peningkatan
tersebut disebabkan karena cuaca yang mendukung untuk pembungaan dan
pembentukan buah kopi. Pengaruh cuaca merupakan faktor yang dominan dalam
4

mempengaruhi tingkat produksi kopi nasional (Ditjenbun Kementerian Pertanian,


2013).
Secara komersial ada dua jenis kopi yang dihasilkan di Indonesia yaitu kopi
arabika dan kopi robusta. Tanaman kopi arabika dapat tumbuh dan berbuah optimal pada
ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut (dpl), sedangkan kopi robusta pada
ketinggian 400 s.d 800 meter dpl. Mengingat di Indonesia lahan dengan ketinggian
diatas 1.000 meter di atas permukaan laut pada umumnya berupa hutan, maka
perkembangan tanaman kopi arabika terbatas. Produksi kopi arabika menghasilkan
hampir 150 ton dari luas areal 250 ribu hektar, sedangkan kopi robusta menghasilkan
600 ribu ton dari luas areal 1,05 juta hektar, sehingga total produksi kopi keseluruhan
tahun 2012 sebesar 750 ribu ton (AEKI, 2013).
Akibat adanya dorongan pertumbuhan kelas menengah dan perubahan gaya hidup
masyarakat Indonesia, kinerja industri pengolahan kopi di dalam negeri mengalami
peningkatan yang signifikan. Ekspor produk kopi olahan pada tahun 2011 yang mencapai
lebih dari US$ 268,6 juta meningkat menjadi US$ 315,6 juta pada tahun 2012 atau
meningkat lebih dari 17,49%. Ekspor produk kopi olahan didominasi produk kopi instan,
ekstrak, esens, dan konsentrat kopi yang tersebar ke negara tujuan ekspor seperti Mesir,
Afrika Selatan, dan Taiwan, serta negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Filipina, dan
Singapura (Hidayat, 2013).
Berbeda dengan ekspor yang meningkat, impor produk kopi olahan turun sangat
signifikan. Impor kopi olahan yang mencapai lebih dari US$ 78 juta pada tahun 2011
turun menjadi US$ 63,2 juta pada tahun 2012 atau turun 19,01%. Impor terbesar dialami
produk kopi instan (Hidayat, 2013).
Provinsi Bali sebagai salah satu daerah pariwisata ternama di Indonesia mampu
memberikan kontribusi yang cukup besar dalam hal produksi kopi. Produksi perkebunan
kopi di Bali mengalami peningkatan sebesar 20,53% dalam empat tahun terakhir, yaitu
tahun 2010 mampu memproduksi sebanyak 14.363 ton dan meningkat menjadi 17.315
ton pada tahun 2013. Produksi kopi tertinggi tahun 2013 ada di Kabupaten Buleleng, yaitu
7.063 ton atau 40,79% dari total produksi kopi di Bali. Kabupaten Tabanan menduduki
urutan kedua dengan produksi sebesar 5.937 ton dan produksi terendah ada di Kabupaten
Klungkung dengan 37,71 ton. Adanya dukungan cuaca dan kontur alam yang baik,
sehingga sangat potensial untuk pengembangan perkebunan kopi di Bali (Badan Pusat
Statistik Provinsi Bali, 2014).
Sama halnya dengan produksi kopi, konsumen kopi dewasa ini juga mengalami
perubahan yang signifikan. Harian Kompas (30 Januari 2012) menyatakan kebiasaan
5

minum kopi di Indonesia mulai meningkat hingga 0,9 kg per kapita per tahun. Awalnya,
penikmat kopi di Indonesia merupakan kalangan orang tua dan pekerja kasar seperti kuli
bangunan dan buruh proyek. Namun seiring berjalannya waktu telah terjadi pergeseran
citra dan pandangan masyarakat tentang konsumsi kopi tersebut. Kini penikmat kopi
hampir tidak pandang usia lagi mulai dari remaja hingga orang dewasa bahkan manula,
serta tidak memandang sektor apa yang digelutinya. Terlebih lagi adanya desakan
modernisasi, kopi kini telah menjadi bagian dari gaya hidup setiap lapisan masyarakat,
serta dengan semakin banyaknya kafe khusus kopi (coffee shop) dan inovasi dalam
pembuatan kopi, sehingga melahirkan semakin banyak pecandu kopi di dunia ini.
Konsumen mendatangi gerai kopi bukan semata-mata ingin minum kopi, melainkan
karena ada sentuhan emosi yang dihadirkan gerainya. Entah itu perasaan bangga, gengsi,
atau kehangatan (Herlyana, 2012).
Demikian pesatnya perkembangan produksi kopi di Indonesia sudah tentu
ditunjang penuh oleh usaha dan industri rumah tangga penghasil kopi. Strata industri kopi
dalam negeri sangat beragam, dimulai dari unit usaha berskala home industry hingga
industri kopi berskala multinasional. Salah satunya adalah usaha penggilingan kopi pada
UD. Lumbung Mas.
UD. Lumbung Mas merupakan salah satu produsen kopi bubuk di Bali. UD.
Lumbung Mas berlokasi di Banjar Pande, Kelurahan Beng, Kecamatan Gianyar,
Kabupaten Gianyar, Bali. Perusahaan ini bergerak dalam bidang pengolahan kopi biji
menjadi kopi bubuk dengan merek dagang “Lumbung Mas”. Bahan baku yang digunakan
dalam proses produksinya adalah berupa kopi biji (green beans). Bahan baku ini
didapatkan dari petani kopi ataupun pedagang pengumpul yang tersebar di beberapa
daerah di Bali. Berikut ini merupakan data produksi dan penjualan kopi yang dilakukan
oleh UD. Lumbung Mas dari tahun 2000 hingga 2014.
6

Tabel 1.
Data Produksi dan Penjualan Kopi Bubuk Lumbung Mas pada UD. Lumbung Mas

Tahun Produksi Penjualan Sisa Stok Persentase


(kg) (kg) (kg) (%)
2000 98.210 97.478 732 0,75
2001 111.933 110.838 1.095 0,98
2002 111.933 110.108 1.825 1,63
2003 27.983 25.428 2.555 9,13
2004 28.060 24.400 3.660 13,04
2005 27.983 25.063 2.920 10,43
2006 27.983 25.420 2.563 9,16
2007 30.782 29.087 1.695 5,51
2008 29.463 28.931 532 1,81
2009 40.576 39.481 1.095 2,70
2010 40.576 38.951 1.625 4,00
2011 41.975 40.050 1.925 4,59
2012 42.090 40.626 1.464 3,48
2013 41.975 41.610 365 0,87
2014* 25.530 24.990 540 2,12

Sumber : Data sekunder UD. Lumbung Mas (2014) yang sudah diolah
Catatan : *sampai bulan Juni

Berdasarkan data yang diuraikan di atas dapat diketahui bahwa terjadi penurunan
jumlah produksi dan penjualan yang cukup tajam pada tahun 2003. Anjloknya produksi
dan pemasaran di tahun ini diakibatkan oleh adanya dampak tidak langsung dari tragedi
bom Bali I. Pasca tragedi ini, Bali semakin menjadi perhatian dunia dan banyak pemodal-
pemodal domestik yang mulai mengembangkan usaha di Bali. Berbagai jenis dan merek
kopi mulai tumbuh dan berkembang di pasaran. Hal ini tentu menimbulkan persaingan
yang semakin ketat pula dalam memasarkan produk kepada konsumen. Menurunnya
7

jumlah penjualan di tahun 2003 ini diikuti oleh pengurangan jumlah produksi pula.
Pengurangan jumlah produksi ini merupakan sebuah pengendalian yang dilakukan
perusahaan untuk meminimalisir terjadinya kerugian.
Seiring berjalannya waktu, perusahaan mulai mengembangkan usahanya lagi
untuk mencapai target yang diinginkan. Hingga saat ini perusahaan masih tetap
berproduksi walaupun dengan kapasitas yang masih jauh lebih rendah dari tahun sebelum
tragedi, sehingga secara umum dapat disimpulkan bahwa jumlah produk yang terjual
masih cenderung menurun.
Perbandingan antara jumlah produksi dengan jumlah penjualan tiap tahunnya
selalu mengalami ketimpangan, dimana jumlah penjualan selalu lebih rendah daripada
jumlah produksi. Artinya, perusahaan belum mampu memasarkan produknya sesuai
dengan target produksi. Perbedaan nilai ini selalu terjadi dari tahun ke tahun yang juga
merupakan suatu permasalahan yang dihadapai perusahaan dalam bidang pemasaran.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka sangat penting bagi
perusahaan untuk menemukan dan menentukan strategi pemasaran yang paling tepat
diterapkan oleh perusahaan sesuai dengan kondisi saat ini. Perusahaan diharapkan mampu
untuk mengembangkan suatu strategi bersaing yang tepat untuk menghadapi segala
kemungkinan perubahan - perubahan yang terjadi di lingkungan perusahaan. Dalam
menetapkan strategi bersaing yang tepat, perusahaan membutuhkan analisis mengenai
lingkungan usahanya, yang meliputi lingkungan eksternal dan lingkungan internal
perusahaan. Melalui analisis lingkungan usaha, perusahaan dapat mengidentifikasi
kekuatan dan peluang yang dapat dimanfaatkan dalam strategi bersaing sekaligus juga
menghindari serta mengatasi ancaman dan kelemahan perusahaan. Sehingga sangat
menarik bagi peneliti untuk mengangkat tema mengenai strategi pemasaran pada UD.
Lumbung Mas dengan mengangkat judul “Strategi Pemasaran Kopi Bubuk Lumbung
Mas, Kelurahan Beng, Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar”
8

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Kopi


2.1.1 Definisi dan perkembangannya
Kopi adalah spesies tanaman berbentuk pohon dan termasuk dalam famili
Rubiaceae. Tanaman ini tumbuh tegak, bercabang dan dapat mencapai tinggi 12 m
(Danarti dan Najiyati, 1999). Tanaman kopi merupakan komoditas ekspor yang
mempunyai nilai ekonomis yang relatif tinggi di pasaran dunia, di samping merupakan
salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan di Jawa Barat. Sudah hampir tiga abad
kopi diusahakan penanamannya di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di
dalam negeri dan luar negeri (Siswoputranto, 1978). Lebih dari 90% tanaman kopi
diusahakan oleh rakyat. Di dunia perdagangan dikenal beberapa golongan kopi, akan
tetapi yang paling sering dibudidayakan dan diperdagangkan adalah kopi arabika, robusta,
dan liberika (Danarti dan Najiyati, 1999).
Tanaman kopi dipercaya berasal dari benua Afrika kemudian menyebar ke seluruh
dunia. Saat ini kopi ditanam meluas di Amerika Latin, Asia-Pasifik, dan Afrika. Pohon
kopi bisa tumbuh dengan baik di daerah yang beriklim tropis dan subtropis meliputi
dataran tinggi maupun dataran rendah. Kopi dipanen untuk diambil bijinya kemudian
dijadikan minuman atau bahan pangan lainnya.

Di Indonesia, tanaman kopi dibawa oleh bangsa Belanda pada tahun 1896. Mereka
memperkenalkan jenis kopi arabika. Pada perkembangannya, terjadi serangan penyakit
karat daun (HV) yang menyebabkan kematian tanaman secara masal. Kemudian
pemerintahan kolonial memperkenalkan jenis kopi liberika dan robusta yang lebih tahan
penyakit HV.
2.1.2 Jenis kopi budidaya
Jenis kopi yang paling populer adalah arabika. Para penikmat kopi menghargai
jenis kopi arabika lebih dibanding jenis kopi lainnya. Faktor penentu mutu kopi selain
jenisnya antara lain habitat tumbuh, teknik budidaya, penanganan pasca panen dan
pengolahan biji. Jenis kopi yang ada di bumi ini sangat banyak ragamnya. Namun hanya
empat jenis kopi yang dibudidayakan dan diperdagangkan secara masal. Sebagian hanya
dikoleksi pusat-pusat penelitian dan ditanam secara terbatas. Sebagian lagi masih tumbuh
liar di alam.
Dikutip dari Alamtani.com (2014), terdapat empat jenis kopi yang banyak
dibudidayakan di dunia, yaitu jenis kopi arabika, robusta, liberika, dan excelsa. Sekitar
9

70% jenis kopi yang beredar di pasar dunia adalah kopi arabika. Disusul jenis kopi robusta
menguasai 28%, sisanya adalah kopi liberika dan excelsa.
1. Kopi arabika
Kopi arabika (Coffea arabica) merupakan jenis kopi yang paling disukai karena
rasanya dinilai paling baik. Jenis kopi ini disarankan untuk ditanam di ketinggian 1000
s.d 2100 meter dpl. Namun masih bisa tumbuh baik pada ketinggian di atas 800 meter dpl.
Bila ditanam di dataran yang lebih rendah, jenis kopi ini sangat rentan terhadap penyakit
HV.
Arabika akan tumbuh optimal pada kisaran suhu 16 s.d 20oC. Untuk mendapatkan
hasil panen yang baik, kopi arabika membutuhkan bulan kering sekitar tiga bulan per
tahun. Arabika mulai bisa dipanen setelah berumur empat tahun. Dengan produktivitas
rata-rata sekitar 350 s.d 400 kg/ha/tahun. Namun bila dipelihara secara intensif bisa
menghasilkan hingga 1500 s.d 2000 kg/ha/tahun.
Apabila telah matang, buah arabika berwarna merah terang. Buah yang telah
matang mudah sekali rontok, jika dibiarkan buah tersebut akan menyerap bau-bauan yang
ada di tanah sehingga mutunya turun. Arabika sebaiknya dipanen sebelum buah rontok ke
tanah. Rendemen atau persentase antara buah yang panen dengan biji kopi (green bean)
yang dihasilkan sekitar 18 s.d 20%.
Para petani kopi arabika biasa mengolah buah kopi dengan proses basah. Meski
memerlukan biaya dan waktu lebih lama, tetapi mutu biji kopi yang dihasilkan jauh lebih
baik.

2. Kopi robusta
Kopi robusta (Coffea canephora) lebih toleran terhadap ketinggian lahan
budidaya. Jenis kopi ini tumbuh baik pada ketinggian 400 s.d 800 meter dpl dengan suhu
21 s.d 24oC. Budidaya jenis kopi ini sangat cocok dilakukan di dataran rendah dimana
kopi arabika rentan terhadap serangan penyakit HV. Dahulu setelah ada serangan penyakit
HV yang masif, pemerintah kolonial mereplanting tanaman kopi arabika dengan kopi
robusta.
Jenis kopi robusta lebih cepat berbunga dibanding arabika. Dalam waktu sekitar
2,5 tahun robusta sudah mulai bisa dipanen meskipun hasilnya belum optimal.
Produktivitas robusta secara rata-rata lebih tinggi dibanding arabika yakni sekitar 900 s.d
1.300 kg/ha/tahun. Dengan pemeliharaan intensif produktivitasnya bisa ditingkatkan
hingga 2000 kg/ha/tahun.
Untuk berbuah dengan baik, jenis kopi robusta memerlukan waktu panas selama
3 s.d 4 bulan dalam setahun dengan beberapa kali hujan. Buah robusta bentuknya
10

membulat dan warna merahnya cenderung gelap. Buah robusta menempel kuat di
tangkainya meski sudah matang. Rendemen kopi robusta cukup tinggi sekitar 22%. Para
penggemar kopi menghargai robusta lebih rendah dari arabika. Karena harganya yang
murah, para petani seringkali mengolah biji kopi robusta dengan proses kering yang lebih
rendah biaya.
3. Kopi liberika
Kopi liberika (Coffea liberica) bisa tumbuh dengan baik di dataran rendah di
mana robusta dan arabika tidak bisa tumbuh. Jenis kopi ini paling tahan pada penyakit
HV dibanding jenis lainnya. Mungkin inilah yang menjadi keunggulan kopi liberika.
Ukuran daun, percabangan, dan tinggi pohon jenis kopi liberika lebih besar dari arabika
dan robusta.
Kopi liberika mutunya dianggap lebih rendah dari robusta dan arabika. Ukuran
buahnya tidak merata, ada yang besar ada yang kecil bercampur dalam satu dompol.
Selain itu rendemen kopi liberika juga sangat rendah yakni sekitar 12%. Hal ini yang
membuat para petani malas menanam jenis kopi ini.
Produktivitas jenis kopi liberika ada pada kisaran 400 s.d 500 kg/ha/tahun.
Liberika dapat berbunga sepanjang tahun dan cabang primernya dapat bertahan lebih
lama. Dalam satu buku bisa berbunga lebih dari satu kali. Di Indonesia, jenis kopi ini
ditanam di daerah Jawa dan Lampung.
4. Kopi excelsa
Kopi excelsa (Coffea excelsa) merupakan salah satu jenis kopi yang paling toleran
terhadap ketinggian lahan. Kopi ini bisa tumbuh dengan baik di dataran rendah mulai 0
s.d 750 meter dpl. Selain itu, kopi excelsa juga tahan terhadap suhu tinggi dan kekeringan.

Pohon kopi excelsa bisa menjulang hingga 20 meter. Bentuk daunnya besar dan
lebar dengan warna hijau keabu-abuan. Kulit buahnya lembut, bisa dikupas dengan mudah
oleh tangan. Kopi excelsa memiliki produktivitas rata-rata 800 s.d 1.200 kg/ha/tahun.
Kelebihan lain jenis kopi excelsa adalah bisa tumbuh di lahan gambut. Di Indonesia,
excelsa ditemukan secara terbatas di daerah Tanjung Jabung Barat, Jambi.
Keempat jenis kopi tersebut merupakan jenis-jenis kopi yang paling umum
ditemui dalam perdagangan global. Namun, berdasarkan penelusuran literatur, terdapat
ribuan spesies kopi di dunia. Adapun beberapa jenis lainnya seperti Coffea dewevrei,
Coffea khasiana, Coffea arnoldiana, Coffea abeokutae, Coffea wightiana, Coffea
bengalensis, Coffea traverncorensis, Coffea recemosa, Coffea salvatrix, Coffea congenis,
Coffea kapakata, Coffea stenophylla, Coffea eugenioides, Coffea recemosa, Coffea
zanguebariae, dan sebagainya (Alamtani.com, 2014).
11

2.2 Manajemen Pemasaran


2.2.1 Pengertian pemasaran
Pemasaran merupakan salah satu fungsi bisnis manajemen perusahaan yang
langsung menghasilkan penerimaan (output) bagi perusahaan. Menurut Kotler (2000)
pemasaran adalah proses sosial yang di dalamnya individu dan kelompok mendapatkan
apa yang mereka butuhkan dan inginkan dalam menciptakan, menawarkan, dan secara
bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.
Kotler (1997), menyatakan bahwa pemasaran adalah fungsi bisnis yang
mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan yang belum terpenuhi, mengidentifikasi dan
mengukur besarnya, menentukan pasar sasaran mana yang paling baik yang dapat
dilayani, menentukan berbagai produk dan jasa, serta program yang sesuai untuk melayani
pasar-pasar dan meminta setiap orang dalam organisasi untuk berpikir dan melayani
pelanggan.
Menurut Swastha dalam Amin (2008), pemasaran adalah sistem keseluruhan dari
kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan produk, menentukan harga,
mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan
kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial. Dengan demikian pemasaran adalah
salah satu fungsi manajemen perusahaan yang langsung menghasilkan penerimaan
(output) bagi perusahaan melalui proses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran
penetapan harga, promosi, serta penyaluran barang atau jasa untuk menciptakan
pertukaran yang dapat memenuhi keinginan konsumen.
2.2.2 Strategi pemasaran
Ditinjau dari asal usul katanya, strategi berasal dari bahasa Yunani (stratos=
militer; dan ag = memimpin), yang artinya seni atau ilmu untuk menjadi seorang jendral.
Selain itu, strategi juga bisa diartikan sebagai suatu rencana alokasi atau pengerahan
kekuatan militer dan material pada daerah-daerah tertentu untuk mencapai tujuan tertentu
(Thaufik dalam Amin, 2008). Dalam melaksanakan pemasaran, perusahaan harus
memiliki konsep pemasaran yang tepat sehingga pemasaran yang dijalankan akan lebih
efektif daripada pesaing dalam menciptakan, menyerahkan, dan mengkomunikasikan
produk barang atau jasa kepada pelanggan. Konsep pemasaran berfokus kepada
kebutuhan pembeli dan mempunyai gagasan untuk memuaskan kebutuhan pelanggan
lewat sarana- sarana produk dan keseluruhan barang yang dihubungkan dengan hal
menciptakan, menyerahkan, dan akhirnya mengkonsumsi (Kotler, 2000)
12

Menurut Swastha dalam Amin (2008), bagian pemasaran mempunyai peranan


aktif sejak dimulainya proses produksi semua kegiatan perusahaan untuk menghasilkan
dan menjual barang yang didasarkan pada masalah pemasaran, sehingga secara difinitif
dapat dikatakan bahwa konsep pemasaran adalah sebuah falsafah bisnis yang menyatakan
bahwa pemuasan kebutuhan konsumen merupakan syarat ekonomi dan sosial bagi
kelangsungan hidup perusahaan.
Menurut Kotler (2000), konsep pemasaran berdiri di atas empat pilar yaitu pasar
sasaran, kebutuhan pelanggan, pemasaran terpadu, dan kemampuan menghasilkan laba.
Konsep pemasaran mempunyai perspektif dari luar ke dalam yang artinya konsep ini
dimulai dari pasar yang berfokus pada kebutuhan pelanggan, mengkoordinasikan semua
aktivitas yang akan mempengaruhi pelanggan, dan menghasilkan laba yang memuaskan
pelanggan. Strategi merupakan rencana yang disatukan, luas, dan integritas yang
menghubungkan keunggulan strategis perusahaan dengan tantangan lingkungan dan
dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama perusahaan dapat dicapai melalui
strategi yang tepat dari suatu organisasi.

Menurut Kotler (1997), strategi pemasaran terdiri atas prinsip-prinsip dasar yang
melandasi manajemen untuk mencapai sasaran, bauran pemasaran, dan alokasi pemasran.
Dalam strategi pemasaran terdapat bauran pemasaran (marketing mix) yang merupakan
seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai tujuan dalam
pasar sasaran. Keputusan-keputusan dalam bauran pemasaran dapat dikelompokan
menjadi empat elemen yang terdiri atas produk (product), harga (price), distribusi (place),
dan promosi (promotion).

2.3 Manajemen Strategi


2.3.1 Definisi manajemen strategi
Manajemen strategi merupakan istilah yang banyak digunakan untuk
menggambarkan proses keputusan yang merupakan fokus pembahasan ini. Menurut Umar
(2008), manajemen strategi adalah seni dan ilmu untuk pembuatan (formulating),
penerapan (implementing) dan evaluasi (evaluating) keputusan- keputusan antarfungsi
yang memungkinkan sebuah organisasi mencapai di masa yang akan datang. Perencanaan
strategi lebih terfokus pada bagaimana manajemen puncak menentukan visi, misi,
falsafah, dan strategi perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan dalam jangka
panjang.
Rencana manajemen strategi untuk perusahaan ialah suatu rencana jangka panjang
yang didasarkan pada analisis dan diagnosis lingkungan internal dan eksternal yang
13

selanjutnya memformulasikan hasil analisis tersebut menjadi sebuah keputusan strategi


yang merupakan sarana untuk mencapai tujuan akhir. Keputusan ini mencakup ruang
lingkup bisnis, produk dan pasar yang harus dilayani, fungsi-fungsi yang harus
dilaksanakan dan kebijakan utama yang diperlukan untuk mengatur pelaksanaan
keputusan untuk mencapai sasaran. Kebijakan menunjukkan bagaimana sumber harus
dialokasikan dan bagaimana tugas yang diberikan dalam organisasi harus dilaksanakan
sehingga manajer tingkat fungsional dapat melaksanakan strategi itu dengan sebaik-
baiknya.
David (2004) mendefinisikan manajemen strategi merupakan ilmu tentang
perumusan dan evaluasi keputusan-keputusan lintas fungsi yang memungkinkan
organisasi mencapai tujuannya. Menajemen strategi terfokus pada upaya memadukan
menajemen pemasaran, keuangan atau akuntansi, produksi penelitian dan pengembangan,
dan sistem informasi untuk mencapai keberhasilan dalam organisasi. Tujuan manajemen
strategi adalah memanfaatkan dan menciptakan peluang-peluang baru dan berbeda di
masa mendatang.
2.3.2 Proses manajemen strategi
Proses manajemen strategi adalah suatu paket komitmen, keputusan, dan langkah
yang diharapkan bagi sebuah perusahaan untuk memiliki daya saing strategis dan
menghasilkan keuntungan. Proses manajemen strategi bersifat dinamis. Input yang
relevan serta akurat yang berasal dari analisis lingkungan internal maupun eksternal
perusahaan diperlukan untuk merumuskan strategi yang efektif dan efisien serta
penerapannya. Langkah strategi yang efektif dan efisien merupakan syarat untuk
mencapai penampakan strategi dari daya saing strategi yang diharapkan (Hoskisson dalam
Ardhanareshwari, 2010).
Proses manajemen strategi menurut David (2004) terdiri dari tiga tahap, yaitu:
1. Formulasi strategi

Formulasi strategi termasuk mengembangkan visi dan misi,


mengidentifikasikan peluang dan ancaman eksternal organisasi, menentukan kekuatan
dan kelemahan internal organisasi, menetapkan tujuan jangka panjang, membuat
sejumlah strategi alternatif, dan memilih strategi yang akan dilaksanakan. Keputusan
formulasi strategi mengikat organisasi terhadap produk, pasar, sumberdaya dan
teknologi yang spesifik untuk periode waktu yang panjang.
2. Pelaksanaan strategis
Tahapan implementasi strategis merupakan tahap yang relatif paling rumit
karena dalam implementasi strategi melibatkan seluruh individu dalam organisasi.
14

Tahapan ini membutuhkan disiplin pribadi, komitmen dan, pengorbanan setiap


individu yang terlibat. Suksesnya implementasi strategi terletak pada kemampuan
manajer untuk memotivasi karyawan. Strategi yang telah diformulasikan tetapi tidak
diimplementasikan dengan baik tidak memiliki arti apapun. Kemampuan
interpersonal sangat dibutuhkan dalam tahap implementasi strategi ini. Aktivitas ini
mempengaruhi semua karyawan dan manajer dalam organisasi.
3. Evaluasi strategi
Evaluasi stretegi merupakan tahap akhir dalam manajemen strategi. Evaluasi
strategi adalah cara pertama untuk memperoleh informasi. Strategi dapat diubah
sewaktu-waktu karena faktor-faktor internal dan eksternal yang selalu berubah. Tiga
kegiatan pokok dalam evaluasi strategi adalah (1) mengkaji ulang faktor-faktor
ekternal dan internal yang menjadi landasan perumusan strategi yang diterpakan
sekarang, (2) mengukur kinerja, dan (3) melakukan tindakan korektif. Evaluasi
strategi perlu dilakukan karena keberhasilan saat ini merupakan jaminan untuk
keberhasilan di waktu yang akan datang.
Secara umum, Purwanto dalam Wulandari (2013) menuliskan penentuan
strategi yang tepat bagi perusahaan dimulai dengan mengenali peluang dan ancaman
yang terkandung dalam lingkungan ekternal serta memahami kekuatan dan kelemahan
pada aspek internal perusahaan. Dengan demikian, perusahaan mampu bersaing dan
mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
2.3.3 Tahapan penyusunan strategi
Lingkungan bisnis dapat dibagi menjadi dua, yaitu : lingkungan internal dan
lingkungan eksternal. Berikut ini merupakan penjelasan dari masing-masing elemen.
1. Analisis lingkungan internal
Lingkungan internal merupakan suatu kondisi yang ada di dalam suatu
perusahaan. Analisis internal adalah proses perencanaan strategi menentukan letak
kekuatan dan kelemahan suatu perusahaan. Lingkungan internal menurut David
(2004) merupakan kekuatan dan kelemahan perusahaan pada area fungsional bisnis,
termasuk manajemen, pemasaran, keuangan dan akuntansi, produksi dan operasi,
penelitian dan pengembangan, dan sistem informasi manajemen.
Dalam menganalisis lingkungan internal ada beberapa unsur yang dianalisis,
yaitu diantaranya :
a. Manajemen dalam perusahaan
Manajemen dalam perusahaan merupakan pola hubungan di dalam perusahaan
atau hubungan antar orang sehingga setiap pekerja dapat diarahkan dalam
15

mencapai tujuan dan misi perusahaan.

b. Budaya perusahaan
Budaya perusahaan adalah sekumpulan kepercayaan, harapan dan nilai yang
dipahami serta dilaksanakan oleh tiap-tiap anggota perusahaan dan akan
membentuk perilaku orang-orang di dalam perusahaan tersebut.

c. Sumberdaya perusahaan
Sumberdaya perusahaan adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh
perusahaan guna mendukung perkembangan perusahaan, diantaranya sumberdaya
manusia, sumberdaya produksi, sumberdaya keuangan, pemasaran serta penelitian
dan pengembangan.
2. Analisis lingkungan eksternal
Umar (2008) menjelaskan, lingkungan eksternal merupakan suatu proses yang
dilakukan oleh perencanaan strategi untuk memantau sektor lingkungan dalam
menentukan peluang dan ancaman bagi perusahaan. Faktor lingkungan eksternal
terdiri dari :
a. Faktor ekonomi
Umar (2008) menjelaskan, kondisi ekonomi suatu daerah atau negara dapat
mempengaruhi iklim bisnis suatu perusahaan. Semakin buruk kondisi ekonomi,
semakin buruk pula iklim berbisnis. Beberapa faktor kunci yang perlu
diperhatikan dalam menganalisis ekonomi suatu daerah atau negara adalah : siklus
bisnis, ketersediaan energi, inflasi, suku bunga, investasi, harga-harga produk dan
jasa, produktivitas, dan tenaga kerja.
b. Faktor sosial, budaya, demografi dan lingkungan
Faktor-faktor sosial yang mempengaruhi suatu perusahaan mencakup keyakinan,
nilai, sikap, opini yang berkembang dan gaya hidup dari orang-orang di
lingkungan eksternal perusahaan. Faktor-faktor ini biasanya dikembangkan dari
kondisi kultural, ekologis, pendidikan dan kondisi etnis. Seandainya faktor sosial
berubah maka permintaan untuk berbagai produk dan aktivitas juga turut
mengalami perubahan. Perusahaan juga harus dapat memperhatikan tentang hal-
hal yang menyangkut faktor demografi diantaranya adalah ukuran populasi,
distribusi geografi (lokasi/jalur distribusi sampai ke agen-agen), pencampuran
etnis serta distribusi pendapatan.
c. Faktor politik dan kebijakan pemerintah
Arah, kebijakan, dan stabilitas politik pemerintah menjadi faktor penting bagi para
16

pengusaha untuk menjalankan usaha. Beberapa hal yang perlu di perhatikan dari
faktor politik agar bisnis dapat berkembang dengan baik adalah undang-undang
tentang lingkungan dan perburuhan, peraturan tentang perdagangan luar negeri,
stabilitas pemerintahan, peraturan tentang keamanan dan kesehatan kerja, dan
sistem perpajakan (Umar, 2008).
d. Faktor teknologi
Untuk menghindari keusangan dan meningkatkan inovasi suatu perusahaan maka
harus disadari akan perubahan teknologi yang dapat mempengaruhi industrinya.
Adaptasi teknologi yang kreatif dapat memiliki dampak terhadap perencanaan
perusahaan melalui pengembangan proses produksi dan pemasaran produk suatu
perusahaan.
e. Pesaing
Intensitas persaingan cenderung meningkat apabila jumlah pesaing bertambah
karena perusahaan yang bersaing menjadi setara dalam ukuran dan kemampuan
(David, 2004). Strategi yang dijalankan oleh salah satu perusahaan dapat berhasil
hanya sejauh strategi itu menyediakan keunggulan bersaing atas strategi yang
dijalankan oleh perusahaan pesaing. Persaingan ini terjadi karena satu atau lebih
pesaing melihat peluang untuk memperbaiki posisi.

2.4 Matriks Internal Eksternal (IE)


Untuk menentukan posisi perusahaan digunakan matriks Internal Eksternal (IE)
yang merupakan matriks portfolio, maksudnya bahwa alat analisis ini dapat
menggambarkan bagaimana posisi suatu unit bisnis strategis dalam industri. Rangkuni
dalam Sugiarta (2013) mengungkapkan bahwa matrik IE terdiri dari sembilan bagian,
adapun bagian-bagian dari matriks IE adalah: (I) strategi konsentrasi melalui integrasi
vertikal, (II) strategi konsentrasi melalui integrasi horizontal, (III) strategi turnaround,
(IV) strategi stabilitas, (V) strategi konsentrasi melalui integrasi horizontal atau stabilitas,
(VI) strategi divestasi,
(VII) strategi diversifikasi konsentrik, (VIII) strategi diversifikasi konglomerat, dan (IX)
strategi likuiditas atau bangkrut.

2.5 Analisis SWOT


Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) adalah
identifikasi sistematis atas kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman
berdasarkan analisis internal dan eksternal yang dihadapi perusahaan. Dengan analisis ini
17

diharapkan perusahaan dapat menyusun strategi bersaing berdasarkan kombinasi antara


faktor-faktor tersebut. Perumusan alternatif strategi dari matriks SWOT terdiri dari empat
alternarif strategi, yaitu strategi S-O atau strategi kekuatan-peluang menggunakan
kekuatan internal perusahaan untuk memanfaatkan peluang eksternal, strategi W-O atau
strategi kelemahan-peluang bertujuan untuk mernperbaiki kelemahan dengan
memanfaatkan peluang eksternal, strategi S-T atau strategi kekuatan-ancaman
menggunakan kekuatan perusahaan untuk menghindari atau mengurangi dampak
ancaman eksternal, dan strategi W-T atau strategi kelemahan-ancaman merupakan taktik
defensif yang diarahkan untuk mengurangi kelemahan internal dan menghindari ancaman
lingkungan eksternal (David, 2002).

2.6 Kerangka Pemikiran


UD. Lumbung Mas merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang
pengolahan kopi biji menjadi kopi bubuk. Bahan baku yang digunakan untuk berproduksi
adalah biji kopi robusta yang didapat dari petani ataupun pedagang pengumpul yang
tersebar di daerah Tabanan dan Buleleng. Produk yang dihasilkan berupa kopi bubuk
dalam kemasan dengan merek dagang Lumbung Mas. Kopi Lumbung Mas ini merupakan
kopi bubuk murni tanpa campuran bahan baku lainnya. Kopi Lumbung Mas ini dipasarkan
di beberapa daerah di Provinsi Bali dengan harga Rp. 52.000 per kilogram.
Semakin bertambahnya jumlah pendatang baru di pasaran, mengakibatkan
berkurangnya pangsa pasar dan menyebabkan target pemasaran tidak dapat tercapai.
Mengantisipasi adanya penurunan omset penjualan maka perusahaan perlu mencari
alternatif strategi untuk mencari pasar atau pelanggan yang baru. Untuk memperoleh
keuntungan maksimal dan mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, maka UD.
Lumbung Mas harus menerapkan strategi pemasaran yang baik dan tepat. Strategi yang
baik bagi suatu unit usaha adalah strategi yang disusun dengan mempertimbangkan
kondisi internal unit usaha yang terdiri dari kekuatan dan kelemahan untuk memanfaatkan
peluang dan mengantisipasi ancaman yang ada di dalam lingkungan yang selalu berubah
dan semakin kompetitif.
Adanya penurunan pangsa pasar perlu dilakukan identifikasi lingkungan yang
mempengaruhi keadaan tersebut dan menghasilkan gambaran umum lingkungan
perusahaan yang terbagi menjadi dua klasifikasi, yaitu lingkungan internal dan
lingkungan eksternal. Hasil dari pengumpulan data dari kedua faktor tersebut, analisis
dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis yang digunakan untuk
menganalisis faktor lingkungan internal dan eksternal adalah IFAS (Internal Factor
Analysis Summary) dan EFAS (External Factor Analysis Summary).
18

Setelah menganalisis lingkungan internal dan lingkungan eksternal, dilanjutkan


dengan tahap kedua yaitu merumuskan strategi melalui pencocokan terhadap matrik
Internal Eksternal (IE) untuk mendapatkan strategi tingkat korporat yang terinci dan
memberikan gambaran tentang keadaan UD. Lumbung Mas saat ini. Tahap ini juga akan
diperkuat dengan matriks SWOT, yaitu kekuatan (S), kelemahan (W). peluang (O), dan
ancaman (T) untuk mendapatkan alternatif-alternatif strategi pada perusahaan. Berbagai
alternatif strategi yang didapatkan inilah yang nantinya akan direkomendasikan kepada
perusahaan.
19

Kerangka pemikiran penelitian dapat dilihat pada Gambar 2.1.

UD. Lumbung Mas

Identifikasi masalah dan


target yang belum
tercapai

Faktor Lingkungan Internal: Faktor Lingkungan Eksternal


1. Manajemen dalam :
perusahaan 1. 1Faktor ekonomi
2. SumberdaYa . Faktor sosbud
perusahaan 2. 2Faktor politik dan
.kebijakan pemerintah
3. Budaya perusahaan
3. Faktor teknologi
4. Pesaing

Matriks IFAS Matriks EFAS

Matriks IE dan Matriks SWOT

Alternatif Strategi

Rekomendasi

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Strategi Pemasaran Kopi Bubuk Lumbung Mas,
Kelurahan Beng, Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar.
20

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di perusahaan kopi bubuk Lumbung Mas yaitu UD.
Lumbung Mas yang berlokasi di Jl. Gunung Agung No. 48, Banjar Pande, Kelurahan
Beng, Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar, Bali mulai bulan Desember 2014
hingga Februari 2015. Penelitian diawali dari studi awal untuk identifikasi masalah,
pengumpulan data, pengolahan data, serta interpretasi data. Lokasi penelitian dipilih
dengan metode purposive, yaitu pemilihan secara sengaja (Antara, 2010).

3.2 Jenis, Sumber, dan Metode Pengumpulan Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan data
kualitatif. Data kuantitatif digunakan dalam pembobotan, pemberian rating, dan
penghitungan skor dari faktor internal dan eksternal, sedangkan data kualitatif
digunakan pada penjelasan deskriptif mengenai gambaran umum perusahaan,
alternatif strategi yang dihasilkan, dan penjelasan deskriptif tentang faktor-faktor
internal dan eksternal. Sumber data yang dipergunakan dalam penelitian ini ada dua
yaitu data perimer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh secara
langsung dari sumbernya, sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari
hasil pengelolaan pihak kedua dari hasil penelitian lapangnya (Iskandar, 2008). Data
ini didapatkan dari literatur-literatur maupun instansi/lembaga yang mampu
memberikan informasi terkait penelitian. Metode pengumpulan data dalam penelitian
ini terdiri dari metode observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi.

3.3 Informan Kunci dan Variabel Penelitian

Informan kunci dipilih secara sengaja dengan pertimbangan mengetahui


keadaan internal maupun eksternal perusahaan. Informan kunci dalam penelitian ini
adalah pihak manajemen UD. Lumbung Mas serta pihak luar yang dianggap
berkompeten. Informan kunci berjumlah lima orang untuk pembobotan dan peratingan
faktor strategis internal serta lima orang untuk pembobotan dan peratingan faktor
strategi eksternal.
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini meliputi variabel internal dan
variabel eksternal, dimana dari setiap variabel terdiri dari dua indikator, yaitu variabel
21

internal terdiri dari indikator kekuatan dan kelemahan sedangkan variabel eksternal
terdiri dari peluang dan ancaman. Masing-masing indikator mempunyai beberapa
parameter yang telah ditentukan sesuai dengan keadaan perusahaan.

3.4 Analisis Data


Metode pengolahan dan analisis data menggunakan matriks IFAS dan EFAS,
matriks IE (Internal-Eksternal), serta matriks SWOT. Untuk membentuk matriks IFAS
dan EFAS digunakan analisis lingkungan internal dan analisis lingkungan eksternal.
Hasil dari matriks IFAS dan EFAS akan menjadi input dalam matriks IE. Dan
dilanjutkan dengan matriks SWOT untuk menghasilkan berbagai strategi alternatif
(David, 2004).
22

DAFTAR PUSTAKA

AEKI. 2013. Luas dan Areal Produksi. Internet. [Artikel on-line]. http://www.aeki-
aice.org/page/areal-dan-produksi/id. Diunduh tanggal 29 Juli 2014.

Alamtani.com. 2014. Mengenal Jenis - jenis Kopi Budidaya. Internet. [Artikel on- line].
http://www.alamtani.com/jenis-kopi.html. Diunduh 15 Agustus 2014.

Antara. 2010. Bahan Ajar Metodologi Penelitian Sosek. Denpasar: Agribisnis


UNUD

Badan Intelijen Negara. 2012. Prediksi dan Tantangan Sektor Pertanian


IndonesiaTahun2013.Internet.[Artikelon-
line].http://www.bin.go.id/wawasan/detil/155/3/29/10/2012/prediksi-dan-tantangan-
sektor-pertanian-indonesia-tahun-2013. Diunduh tanggal 1 Agustus 2014.

David, F.R. 2004. Manajemen Strategi : Konsep-konsep. Jakarta: Indeks.

Iskandar. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial (Kuantitaif dan


Kualitatif). Jakarta: Gaung Persada Group.

Kotler, P. 2000. Manajemen Pemasaran, Edisi Millenium. PT. Prehalindo, Jakarta. Oka,
I.B. 2012. Sistem Pemasaran Kopi Bubuk Sari Buana pada UD. Mega Jaya.
Jurnal Agribisnis dan Agrowisata. 1(1): 53-60.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. 2014. Tanaman Kopi. Internet.


[Artikel on-line]. http://perkebunan.litbang.deptan.go.id/?p=6151. Diunduh
tanggal 5 Agustus 2014.

Rangkuti, F. 2001. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama.