Вы находитесь на странице: 1из 27

JUR"" l EI(O"OMI 0"" M""A] I! MI!

"
Vol. 2, No. I, luni 2001, 29-53

PRISONER'S DILEMMA GAME DALAM


PERDAGANGAN INTERNASIONAL:
TEORI DAN BUKTI EMPI RIS
The Prisoner's Oilemma Game in International Trade :
Theory and an Empirical Evidence

Jose Rlzal Joesoef


Universitas Gajayana, Malang

This paper aims to provide an appraisal of game theory in the field of


International economics, and demonstrates that strategic interactions
between two or more cou ntries are not less Important to elaborate, in
order to capture behavioral aspects of international trade. By applying
the Cournot model of oligopoly and endogenlzing government behavior
in the model, it is shown that competing countries are subject to a
prisoner's dilemma game, under which they keep mutually harmful
actions. The prisoner's dilemma situation arises when two or more
parties are motivated to behave in a self-serving manner, take a
tougher stand, and they assume that thei r rivals witi act similarly .
My own research results a situation resembling the prisoner's
dilemma phenomena in which Indonesia and Japan are not able to
reach the payoff that is compelling for pSYChological reason. If there is
a tommorow, dramatic consequences may arise. At worst, the inter-
national relations between them could be constantly threatened by a
series of tension, or, if tension escalates, serious conflict may occur.
This problem is primarily one of transaction costs: the costs of
getting the concerned parties together, of reaching agreement and
credible commitment, and enforcing the terms of that agreement, If
there were no costs involved in carrying out the agreement, the system
would lead to a natural arrangement of who is to facilitate and enforce
the agreement, to compensate, to monitor, and so on.

Kata kuncl: model 0l1g9poll


, Cournot, prisoner's dilemma, trade war,
biaya t ransaksi.

I. PENDAHULUAN
Sejak awal abad 19 hingga tahun 1970an, teart-teorl perdagangan
internasional dldominasi oleh konsep comparative advantage, yang me-
ngatakan bahwa perbedaan antarnegara memungkinkan terjadlnya perda-
gangan internasionaL Ketika konsep comparative advantage disajikan da-

29
30 1. R. Joesae'
lam model-model formal, pasar mengemban asumsi constant returns dan
perfect competition. Dengan asumsi ini, perdagangan internasional terjadi
ketlka ada perbedaan antarnegara dalam hal selera, teknologi , atau factor
endowment. Sehubungan dengan sebab-musabab perdagangan interna-
sianal, model Ricardo menekankan pentingnya produktivitas atau tingkat
teknologi tenaga kerja, sementara Heckscher-Ohlln-Samuelson menekan-
kan pentingnya perbedaan dalam factor endowment.
Pada tiga dasawarsa terakhir, realitas perdagangan melaporkan
bahwa volume perdagangan sangat didomlnasi oleh perdagangan di antara
negara-negara yang relatif memiliki kemampuan teknologi dan factor
endowment yang sarna (Porter, 1990). Dinamlka yang terjadi di dalam
perdagangan tidak menampakkan perilaku perfect competitor atau price
taker. Situasi pasar persaingan tidak mensyaratkan pelakunya untuk
mengadakan gerakan-gerakan strategis (strategic move) dalam rangka
mempengaruhi rivalnya , Percuma seorang pesaing sempurna mempertim-
bangkan gerak-gerik rivalnya, kalau ia tldak berdaya dan akhirnya tunduk
kepada invisible hand, Dinamika perdagangan yang berkembang dewasa
ini mengajak ekonom untuk meninjau kembali penekanan yang terlalu kuat
terhadap asumsi perfect competition (Krugman, 1987).
Kenyataan dl atas juga dldukung oleh hasil survei stud! empiris oleh
Bresnahan (1989), yang menyimpulkan bahwa Industri cenderung bersifat
oligopolistis ketimbang mengkutub pada pasar persaingan sempurna di
satu sisl atau pasar monopolis di sisi lain. Pasar oligopoli merupakan
struktur pasar yang memotret interaksi strategis (strategic interaction) di -
antara aktor-aktornya, l Pasar ini bukan persaingan sempurna sekallgus
bukan monopoli, akan tetapi bisa menjadi persaingan sempurna dan bisa
monopoli. Berhubung dengan perilaku oligopollstis dalam perdagangan
internasional, Krugman & Obstfeld (2000: 125) mengatakan:

Monopoly profits rarely go uncontested . A firm making high profits


normally attracts competitors. Thus situations of pure monopoly are
rare in practice . Instead, the usual market structure in industries
characterized by Internal economies of scale is one of oligopoly : sev-
eral firms, each of them large enough to affect prices, but none with an
uncontested monopoly.

Model pasar oligopoli pad a dasarnya mengendorkan asumsi-asumsi model


persaingan sempurna dl satu sisl, dan model monopoli di sisi lain (Martin,
1993:17-40). Diasumsikan hanya ada beberapa atau setldaknya dua (duo)
aktor dalam pasar ollgopoli.
Dengan menggunakan model oligopoli Cournot dalam kerangka
analisis game theory, artlkel in! hendak membahas bagaimana !nteraks!

1 Cudd (1993:117) membenturkan model Interaksl strategis dengan Interaksi


parametris dengan mengatakan : ~Parametric (as opposed to strategic) models of
interaction assume that agents take the others ' actions to be fixed according to a
small set of predeterminable parameters. .,

Jurnal Ekonoml dan Manajemen 2(1), Junl 2001


Prisoner's Dilemma Game da/am Perdagangan Intemaslona/ 31
strategis terjadi dalam perdagangan internasional dengan memasukkan
perilaku pemerintah sebagai variabef endogen. Model Cournot mencer-
minkan permainan strategt dalam artl pihak satu saling mengamati, men-
duga, dan menghitung gerak-gerlk pihak latn .2 Maslng- mastng plhak me-
nyadari kesalingtergantungan di antara mereka, tap! mereka tidak meng -
adakan kerjasama secara terbuka, seperti halnya organisasi kartef. Per-
mainan non-cooperative Int cenderung membuat para oligopolis 'terpe-
rangkap' ke dalam situasl prisoner's dilemma apalagl jlka interaksinya satu
kall (one-shot) (lyons & Varoufakis, 1989; Rasmusen , 1994:18).
Dengan memasukkan pemerintah ke dalam model Cournot, perma-
salahan yang dimunculkan di sini adalah: "Adakah gejala prisoner's di-
lemma di dalam perdagangan internasional?" Masalah Inl tentunya, seperti
yang kita harapkan, berujung pada : "Bagaimanakah menghindarl renome-
na mutually harmfuff di antara negara satu dengan negara lainnya? "
Bagian 2 dan 3 artikel ini berturut- turut menyajikan model dasar prisoner's
dilemma game dan teor; pasar oligopoli Cournot. Dengan menggunakan
Cournot framework, Bagian 4 menyajikan model hipotesis peran
pemerintah dalam perdagangan Internasional. Bagian 5 menyoroti aspek
ekonoml-politik dari perdagangan Internaslonal, mengingat apa yang di -
katakan Frey (1984: 1), "Indeed, international economics is probably the
field within economics in which the interaction between economic and po-
litical factors is most intensive." Analisis kualitatir ini diharapkan bisa
menjadi dasar pijakan ;-nenuju kerjasama internasionaL

II. PRISONER 'S DILEMMA GAME


Game theory (untuk selanjutnya disingkat GT) atau interactive deci-
sion theory (Aumann, 1987) bukanlah suatu teor; daJam pengertian biasa .
Ia merupakan prosedur untuk menganaJisis rivalitas di antara dua atau
lebih aktor yang egois. Dengan prosedur ini-yang se ring dipakai untuk
studi eksperimental, pemodel menentukan rungsl laba (payoff), dan
member! perintah dan beberapa strategi kepada beberapa subyek, kemu-
dian pemodel menyuruh mereka berinteraksi satu sama lain. GT bisa
menggambarkan ke[aziman J pertlaku ekonomi individu yang terlibat dalam
persalngan. Asumsi rasionalitas adalah penting dalam ekonomika dan
metode GT. Artlnya, aktor tidak bergerak sembarangan, mampu mem-
bandingkan dan kemudian meranklng strategl-strateglnya . Untuk maksud

2 Kata Schelling (1978:229), ''A behavior propensity is strategic if It Influences


others by affecting their expectations. .-
) Kelazlman di sini merujuk pada apa yang sebenarnya (what is) terjadi, dan Inl
masuk wllayah analisls perilaku ekonoml positif. Anallsis ekonomi normatir menyoai
bagaimana kejadlan seharusnya (what should be). Solusl pasar ollgopolls dalam
kerangka game theory blsa bersifat behavioristic-positive dan/atau prescriptive-
normative (Lyons & Varourakls, 1989).

Jumal Ekonoml dan Manajemen 2(1), Jun12001


32 ). R. Joesoef

artikel inl, di bagian in! akan disajikan salah model baku dalam GT, yang
dikenal dengan sebutan prisoner's dilemma game.
Suatu hari tertangkaplah dua orang: lonl dan Rudi, dua tersangka
tindak pi dana subverslf, namun polisi belum memilikl bukti verbal yang
kuat untuk menyeret keduanya ke pengadilan. Pengakuan dari sa lah
seorang darl keduanya, cukup sebagal bukti verbal. Untuk itu, keduanya
ditempatkan dalam dua ruangan terpisah dan tidak memungkinkan mereka
mengadakan komunlkasl. Kemudian, polisi yang menangani kasus
subverslf ini, mendatangl kamar tahanan mereka satu persatu. Kepada
setiap tersangka, ia menawarkan keringanan hukuman apablla tersangka
membuat pernyataan bahwa mereka telah bersekongkol mendirikan ge-
rakan bawah tanah.
Katakanlah Joni dan Rud! hanya memiliki dua pili han : DIAM atau
KHIANAT. Ketika pollsi "menekan" Joni dan Rud! di kamar tahanan masing-
masing, segera keduanya menghadapi sltuasi dilemma seperti berlkut:

Rudi

OIAM KHIANAT
Keduanya Rudl dlhukum
DIAM dlbebaskan leblh rlngan
Jonl
Jonl dlhukum Keduanva
KHlANAT lebih ringan dihukum berat

Matriks payoff atau lebih tepatnya matrlks masa hukuman dari situasi dl-
lema tis antara memilih DIAM atau KHIANAT, ada pada Tabel 1 berikut:

TABEL 1
Prisoner's Dilemma Game

Rudi

DlAM KHlANAT

OIAM -1, -1 - 10,0


Joni
KHIANAT 0 , -10 -8, -8

Selama kedua tersangka d itempatkan pada ruang yang terpisah,


maka Jonl (Rudi) hanya bisa menduga-duga strategi apa yang diambil oleh
Rudl (Joni). Marl kita melihat mental process dari sisi Jonl:
a Jlka )onl menduga bahwa Rudi dipastlkan DIAM, masalah yang diha-
dapi Jon! adalah bahwa hukuman DIAM sebesar 1 tahun dan hu -
kuman KHIANAT sebesar 0 (bebas). PIli han yang rasional bagl Jonl

Jurnaf Ekonomi dan Manajemen 2(1), Juni 2001


Prisoner's Dilemma Game CIa/am PerCIagangan Internasiona/ 33
adalah KHIANAT (0 tahun), selama mengakui segala perbuatannya
menjanjikan kebebasan dari tuduhan . Dengan kata lain, best re -
sponse loni adalah KHIANAT, dengan menetapkan Rudi mengambll
postsi DIAM.
a llka loni menduga bahwa Rud! dipastlkan KHIANAT, lont menghadapi
hukuman DIAM 10 tahun da n hukuman KHIANAT 8 tahun . Pilihan
yang rasional bagi lont adalah KHIANAT (8 tahun hukuman) ketim -
bang DIAM (10 tahun hukuman). Dengan kata lain, best response
lonl adalah KHIANAT, dengan menetapkan Rud i mengambil posisi
KHIANAT.
Sejauh payoff loni dan Rudi simetris, maka incentive problem Rudi sama
dengan lont.
loni memiliki d omina n t s t ra tegy, yaknl KHIANAT. Karena apapun
yang diambil oleh Rudi, lonl cenderung memilih KHIANAT. Ironisnya, Rudl
juga memllikl strategl domlnan yang sarna, yakni KHIANAT. Dengan
demlkian kita bisa menduga bahwa kedua tersangka terjebak dalam ke-
selmbangan KHIANAT-KHIANAT. Menurut game theory, pasangan strategi
disebut Na sh equilibrium jika pilihan loni adalah optimal dengan meng -
anggap tetap (given) pilihan Rud l, dan pili han Rudi adalah optimal dengan
menganggap tetap (given) pilihan loni. Selama situasi tersebut bersifat
mutually harmful dipandang dar! sist kedua tersangka, maka situasi ini
disebut dengan prisoner's dilemma .
Penyajian game (G) pada Tabel 1 dikenal dengan istilah norma /-
form game atau s t r ategic-form gam e . Adapun deflnlsl penyajian game
dalam bentuk normal atau strategls (N,5,u) ada lah :
1. Ada sekumpulan N ;;: {1,2, .... ,n} pemain,
2. Ada sekum pulan strategi dari para pemaln, 5 11 5 2' .... ' 5",
3. Ada fungsi payoff yang dinotasikan dengan, Ut (SI,S2' ''' 'S,,),
U 2(511 5 21 ,,,, s,, ), ... , U,,(5 11 52' ... , 5,, ) .
ladi, kasus pada Tabel 1, N ;;: {Joni, Rudi}, 5, = Sft :::: {D, K}, uJ(K ; K) ;;: - 8 ,
u,(K ; D) ;;: 0, u,(D; K) ;;: - 10, ul eDi D) = - 1, dan uft(K; K) ;;: - 8, b ,
u,(O;K) = - 10,u,(0;0) =-1

III. MODEL OLIGOPOLI COURNOT


Antoine Augustin Cournot (1801-1877) adalah ekonom sekaUgus
matematikawan, lahir tahun 1801 di Haute Saone, Prancis. Ia menyele-
saikan program doktornya dl University of Paris selama periode 1823- 1833 .
Oalam kurun waktu terse but, beliau banyak sekali menu lis artikel ,
utamanya tentang matematika- kalkulus dan statistika - probabilitas. Minat-
nya untuk menggeluti ilmu-llmu eksak tersebut t idak terlepas darl per-
galuan dla dengan beberapa ftslkawan selama menglkutl program doktor
(Ekelund & Hebert, 1997 :259· 267).

}urnal Ekonoml dan Manajemen 2(1), }unI2001


34 J, R. laesae'

Dalam bidang ekonomika mikro, Cournot adalah orang pertama


yang menganalisis imperfect market. Menurutnya, meskipun beberapa
perusahaan terlibat dalam rivalitas non-cooperative dalam suatu industri,
ada perasaan kesalingtergantungan (interdependence) dl antara mereka,
yang ditunjukkan oleh bagaimana masing-masing perusahaan memberikan
reaksi sehubungan dengan strategi rivalnya.
Untuk mempermudah kita memahami bagaimana model Cournot
bekerja seraya kita menerapkan konsep-konsep yang terkandung di dalam
normal-form game, marilah dicermati beberapa batasan atau rules of the
game berikut:
DAda dua perusahaan (duopolis) yang memproduksi dan/atau menjual
barang.
o Output pasar bersifat homogen.
(J Masing-masing perusahaan menghadapi fungs! permintaan dan struktur
blaya yang seragam.
o Pasar duopoli dalam kondisi complete information, artinya fungsi laba
setiap perusahaan merupakan common knowledge bagi masing-masing
perusahaan.
(J Interaksi dua perusahaan berlangsung secara simultan dan satu kali
(one shot).
(J Untuk mengejar laba maksimum, strategi perusahaan adalah dengan
mengubah - ubah kuantitas dan di dalam pasar berlaku kaidah perilaku
Cournot (Cournot behavioral rule): ketika menentukan jumlah output
yang diproduksi, setiap perusahaan menganggap bahwa jumlah output
yang diproduksi para pesaingnya adalah konstan. 4

Sayangkan ada dua perusahaan, perusahaan 1 dan perusahaan 2,


dalam suatu industri yang memproduksi barang standard. Oi sini kita
hendak memperoleh gambaran tentang keseimbangan pasar dengan me-
megang kaidah perilaku Cournot: perusahaan 1 (atau perusahaan 2)
mengetahui apa yang diproduksi oleh perusahaan 2 (perusahaan 1), dan
perusahaan 1 (perusahaan 2) menetapkan output yang memaksimumkan
labanya dengan menganggap bahwa output perusahaan 2 (perusahaan 1)
tetap.
Misalkan industrl tersebut menghadapi rungsi permintaan inverse
,
P(Q) = a - Q, dengan L
,., Q = q) + q2· ql dan q2 masing-masing adalah

kuantitas yang diproduksi oleh perusahaan 1 dan perusahaan 2, sehlngga


fungsl permintaan dapat klta tulls sebagai

P(Q) =.- (q, + q,) (1]

4 Eksposisi model Cournot berikut varlasinya-misalkan Cournot dengan biaya tidak


simetris, Cournot dengan fixed cost, Cournot dengan n perusahaan, dll., bisa
diperoleh dari Martin (1993:13-35).

}urnal Ekonoml dan Manajemen 2(1), Juni 2001


Prisoner's Dilemma Game dalam Perdagangan Internasional 35
Perlu ditegaskan bahwa output bersifat continuously divisible dengan bi-
langan posit if, sehingga ruang strategi masing-masing perusahaan bisa
dinyatakan dengan ql '" [0,00) untuk i =: 1,2. Mungkin ada yang merasa
bahwa pada jumlah output tertentu adalah tidak feasible. Qleh karena itu
perlu kiranya diberi batasan bahwa tidak ada satupun perusahaan yang
memproduksi ql > a. Sebab, jika Q > a, maka P(Q) = o.
Fungsi biaya total (e) masing-masing perusahaan adalah

[2J

sehingga MC, i i OCj(q, )!aq, '" c


Sekarang perhatikan keputusan penetapan output (quantity-setting
decision) oleh perusahaan 1. Selama perusahaan 1 mengetahui berapa
besar qz , dan qz dianggapnya konstan, maka perusahaan 1 akan memiliki
residual demand. Total revenue (TR) perusahaan 1 adalah

TRI = Pql
=(a - ql - qz)ql
= aql - q~ - qlqz

Sedangkan marginal revenue (MR) adalah MRI ii5 8TR.JaQI

[3J

Perusahaan 1 akan memaksimumkan labanya u 1 pada kondisi MRI = MCI


sehingga a - qz - 2ql = C , atau

[4.J

Dengan cara yang sama, output yang memaksimumkan laba perusahaan 2


U z diperoleh melalui MRz = Mez , yang pasti menghasilkan persamaan

reaction function berlkut

[4bJ

Persamaan [4aJ dan [4b] ini disebut reaction function atau best-response
function perusahaan 1 dan 2, seperti pada Gambar 1. 5 Kurva inl menunjuk-

5 Penamaan reaction function atau best-response function memang sedikit


membingungkan. Kata Rasumsen (1994:85):

Jurnal Ekonoml dan Manajemen 2(1), Jun/2001


36 1. R. laesae'

kan hubungan timbal-balik keputusan output perusahaan 1 dengan


pertimbangan (conjecture) output perusahaan 2 pada kondlsl laba mak-
slmum.

GAM BAR 1
Fungsi Reaksl Perusahaan 1 dan Perusahaan 2

q,

(O,a - c)

R, (q,)

(0, (a - c) /2)

R,(q,)

«a - c)/2,O) (a - c,O) q,

Persamaan reaksi [4a] dan [4b] di atas menunjukkan hubungan


negatif antara keputusan output perusahaan satu dengan keputusan output
perusahaan lainnya. Inl berarti,

dan

Jadi ketika perusahaan 2 exit dar! pasar, sehingga q2 "" 0, maka pe-
rusahaan 1 akan menjadi monopolis dengan memproduksi output sebesar

Both names are somewhat misleading, since the players move simultaneously,
with no chance to reply or react, but they are useful in Imagining what a player
would do If the rule s of the game did allow him to move second.

}urnaf Ekonomi dan Manajemen 2(J), }unf 2001


Prisoner's Dilemma Game dafam Perdagangan lntemaslonal 37

a-c
ql =-2- [Sa]

Sebaliknya jlka perusahaan 1 exit dari pasar, maka perusahaan 2 menjadl


monopolis dengan output maksimal sebesar

a- c
q,' - 2 - [Sb]

Titik keseimbangan (atau cross point) antara fungsl reaksi perusa-


haan 1 dengan fungsi reaksi perusahaan 2 adalah

dan

• ",(
a"",,"
- "-'c)
q2 =~ 3 [6b]

Makna diballk Coumot equilibrium (q;,q;) cukup sederhana.


Masing-maslng perusahaan Ingln menjadl pemaln tunggal di dalam Indus-
tri, di mana ia akan menentukan output q/ untuk memaksimumkan
u/(q/,O) agar menghasilkan kuantitas monopolis qm ; (a - c) I 2 dan laba
monopolis u/(q/,O) = (a - cf /4. Apablla dua perusahaan di atas membuat
kese pakatan untuk mengharmonlsasikan strateginya dalam rangka men-
dapatkan laba monopolis U m , maka laba agregat akan dimaksimumkan
dengan menetapkan MRm(qm) = MCm(qm ) dl mana qm "" ql + q2. Konsekuen -
si nya, masing - masing perusahaan akan memproduksi q/ = Qm / 2 :::::.
q, = 1 «a - c) / 2) atau q, = (a - c) / 4 untuk ; = 1,2.
Masalah yang muneul darl upaya harmonisasi tersebut dl atas
adalah adanya insentlf bagi perusahaan untuk ' menyimpang ' dari kesepa-
katan dengan menambah output. Kuantltas maslng-maslng ' anggota ke -
sepakatan ' adalah keeil dengan harga P(qm) tinggi . Pada harga yang tinggi
ini, masing -masing perusahaan cenderung meningkatkan produksinya yang
pada gilirannya membuat harga turun . Dengan kata lain, upaya untuk
mengharmonisasikan strategi, katakanlah meralui pembentukan karter ,
adalah tidak stabi!'
Pembuktian secara formal bisa dilakukan dengan memasukkan
q2 = (a - e) 1 4, misalnya, ke daram best-response function pada persamaan
(4aJ. Substltusl Inl akan menghasilkan jawaban terbaik (best response)

Jumal Ekonomf dan Manaj emen 2(1), Junf 2001


38 J, R. laesae'
dari perusahaan 1 dengan memproduksi ql :: 3(a - c) /8. Hanya pada kon-
disi (q; .q~) -yang lazim disebut Cournot-Nash equilibrium, masing-masing
perusahaan tidak memiliki insentif untuk berubah seraya menganggap
rivalnya pad a kondlsl optimal dan given.
Menurut Stigler (1964), model Cournet bisa menjelaskan perHaku
kartel. dan keberadaan organisasi kartel baik yang terang-terangan (open)
maupun tersembunyi (tacit), adalah tidak stabi!. Masing-masing anggota
cenderung untuk cheating. Dengan kata lain, upaya untuk menyedikitkan
output untuk mendongkrak harga naik akan gaga!. Maslng-masing pihak
cenderung menaikkan output sa mpai pada Coumot-Nash equilibrium.
Model oligopoli Cournot dengan analisis game theory sudah menjadi
sebuah paradigma dalam literatur organisasl industri (Lyons & Varoufakis,
1989; Tirole, 1992; Rasmusen, 1994), dan bahkan dalam literatur
ekonomlka internaslonal (Krugman, 1987 ; Porter, 1990; Helpman &
Krugman, 1994). Jika Joni dan Rudi dalam Tabel 1 di atas diubah menjadi
perusahaan 1 dan perusahaan 2, DIAM diganti dengan Membatasi Produksi,
dan KHIANAT dengan Menambah Produksi, maka sama artinya bahwa pasar
oligopoli dengan sedikit perusahaan, tidak mencapai Pareto optimality6
atau mencapai joint profit yang maksimum (lihat Tabel 2 ).

TABEL 2
Prisoner's Dilemma (PO) dalam Pasar Cournot

Perusahaan 2

Membatasl Menambah
Produksi Produksi

~
Membatasi
0
Produksi
5,5 0, 8
m
m
~
m
~

2 Menambah 8, 0 3,3
"
Q. Produksi

6 Optlmalitas Pareto Inl dlpandang dari sudut para ollgopolls, bukan konsumen.

Jumaf Ekonoml dan Manajemen 2(1). Junl 200J


Prisoner's Dilemma Game dalam Perdagangan /nternas/onal 39

IV. HIPOTESIS PRISONER 'S DILEMMA DALAM


PERDAGANGANINTERNASIONAL
Misalkan ada dua negara identik, dinyatakan dengan i = 1,2, yang
di dalam masing-masing negara ada: 7
1. Pemerintah yang hendak menetapkan tarit Impor, t, .
2. Satu perusahaan yang memproduksi komoditi Q" balk untuk me me-
nuhi permintaan domestik hi maupun untuk ekspor el •
3. Konsumen yang bisa membeli komoditi dar; perusahaan domestik hi
atau dari impor e j •
Jika kuantitas total di pasar dalam negara i disebut QI maka harga
yang terbentuk atau market-clearing price adalah

[7]

Perusahaan di dalam negara i (yang selanjutnya kita sebut perusahaan i)


menghasilkan hi untuk konsumSi dalam negeri, dan ei untuk ekspor. Jadi
total kuantitas yang dipasok dalam masing-masing negara adalah

Q, =h, +e j [8]

di mana i ~ j, hi adalah kuantitas dari perusahaan domestik, dan e j ada-


lah kuantitas impor dari negara j.
Anggaplah perusahaan menanggung biaya marjinal yang konstan,
yakni

Me,(Q, ) = c [9]

Jadi total biaya produksi perusahaan i adalah

[10]

Oleh karena ada pemerintah dalam masing-masing negara, maka


perusahaan yang hendak mengakses pasar negara lain terbebanl biaya
ekspor atau tarit. Jika perusahaan i mengekspor sebesar e, ke negara j;
dan pemerintah j memungut tarit sebesar t j untuk setiap unit el , maka
perusahaan i harus membayar sebesar t j el kepada pemerintah j.
Perlu kiranya juga definisikan terlebih dahulu rules of the game-nya,
yakni:

7 Analisis pada bagian Ini mendasarkan pada Gibbons (1992:75-79).

)urnal Ekonomf dan Manajemen 2(1), Juni 2001


40 J. R. Joesoef

1. The first-stage game. Otoritas di masing-masing negara secara


simultan menetapkan tarif t\ dan t 2 •
2. The second-stage game. Setelah mengetahui tarif yang berlaku di
negaranya maslng- masing , peru sa haan di negara 1 dan negara 2 se-
cara simultan menentukan kuantitas untuk pa sa r dom esti k dan pasar
ekspor, (hll e1 ) dan (h2 ,e2 ).
3. Ada dua struktur payoff atau fungsi tujuan dalam game ini, yakn!
CJ Total Laba perusahaan i atau u, ;
t:l Kesej ahteraan negara VlI; I yang didefinisikan sebagai

1. Surplus konsumen di negara i


2. Total laba perusa haan, u,
3. Tariff revenue pemerintah i
+
Kesejahteraan Nega ra W,

sehingga B

[llJ

Memperhatikan rules of the game tersebut di atas, kita bisa men ~


duga bahwa game ini masuk dalam kelompok complete but imperfect in·
formation, atau the two-stage game of complete but imperfect i nfor-
mation . Yang dimaksud dengan two-stage adalah ada gerakan berurutan
(sequential-move), yakni: dua pemerintah secara simultan menetapkan
tarif, kemudian dua perusahaan secara simultan menentukan produksi.
Selama ada gerakan simultan, maka game masuk dalam katagori imperfect
information. la dikatakan complete information sejauh setiap fungsi payoff
perusahaan satu merupakan common knowledge bagi perusahaan lainnya
atau setiap rungsi payoff negara satu merupakan common knowledge bagi
negara lainnya
Oi sini kita hendak menyelesaikan game in! dengan melalui back-
ward induction atau looking ahead and reasoning back (Dixit & Nalebuff,
1991:34-40), artinya kita atau perusahaan menganggap the first-stage su-
dah tertentu (given), kemudian perusahaan 1 dan 2 bergerak seca ra
simultan. Oengan kata lain, pemerintah akan merespon seca ra optimal
apapun gerakan yang dilakukan o leh perusahaan.

8 Jlka seorang konsumen membeti barang dengan harga p, padahal ia memiliki


wiflingness to pay sebesar v, maka la men ikmati surplus sebesar v - p. Jika
fungsi permintaan inverse adalah ~ (Q,) = a - Q/, dan kuantitas yang terjual di
pasar i adalah Q/, maka surplus konsumen agregat adalah tQ(a - p) :: tQ,2.

}umal Ekonomi dan Manajemen 2(1), }unl 2001


Prisoner's Dilemma Game dalam Perdagangan [nternasional 41
Marilah kita melihat the second-stage game terleblh dahulu, dengan
menganggap infarmasi tentang tarif sudah diketahui aleh kedua perusaha-
an di masing-masing negara 1 dan 2 . Dengan ditetapkannya struktur in-
farmasi dan payoff di atas, kedua perusahaan sekarang terlibat dalam
normal-form game. Marilah kita terapkan konsep kriteria Nash equifibrium
untuk memprediksl outcome dar! Interaksl dua-perusahaan. Fungsi laba
(payoff function) untuk perusahaan 1 adalah

ul«h ll el )' (hZ, el » = (a - hi - e1)hl + (a - hl. - el }el - c(hl + el ) - t 2el


[12a]
== (a - c - h. - e1)h. + (a - c - t l - hl - e.}el

di mana
(a - hi - e1)h. = Total pendapatan dari pasar domestik.
(a - ~ - el)e. = Total pendapatan expor.
c(hl + el) = Total biaya produksi.
t 2 el = Tarif yang dibayarkan kepada pemerintah 2.

Perusahaan 2 juga mempunyai payoff function

[12b]

Untuk memperoleh keseimbangan Nash (NE) dar! game ini, pertama


kali harus kita cari reaction function perusahaan 1. Artinya, dengan mene -
tapkan (h2,e2) sebagai given, kita hendak mempredlksi (h2,e2) (hlle.)
yang memaks!mumkan payoff perusahaan 1. Untuk mengetahuinya, rna -
rilah kita bermain dengan rnatematika kalkulus . FOe ( first order condition )
dari persamaan [12a] dan [12b] berturut-turut adalah

au,«h" e,),(h" e, » . o au,«h"e, ),(h"e,» . o


ahl ah,
dan [13]
aUI«hpel) , (hl ,e2» = 0 au,«h"e, ),(h"e,» . O
ae, ae,
Melalui kalkulus, darl persamaan [13] dipero leh

a - c - 2ht - e1 = 0 a - c - t 2 - hz. - 2e l ::::: 0


U dan U
[14a]
h _ a - c - e2
, - 2

dan

)umal Ekonoml dan Manajemen 2(1), )unl 2001


42 J, R. loesae'

[14bJ

Dengan demiklan kita bisa merumuskan tungsi reaksi (reaction


function) perusahan 1 dan perusahaan 2 berikut

R[h ) _( a - c - e2 a - c - t2 - ~ ) [ 150J
I I' e2 - 2 ' 2

untuk perusahaan 1, dan

R [h
1. I' e1
)_
-
(a-c2 - e ' a-c -2
1 tl - hi )
[15bJ

untuk perusahaan 2 .
kemudian kita harus mencari nilai keempat varia bel strategis
(hl'el' h2 ,e2 ), yang secara simultan menyelesaikan persamaan (14a] dan
[14bJ.
Mensubstitusikan e 2 (.) pada sisi kanan persamaan (14b] ke dalam
h l {.) pad a sisi kir; persamaan (14a] akan menghasilkan

h, _ a - c+t, [16.J
• - 3

Mensubstitusikan kembali [16a] ke dalam e2 ( . ) pada sisl kanan persamaan


[14b] menghasilkan

. a - c - 2t,
e, = 3 [16bJ

Merujuk kepada persamaan [8] di atas , maka Q ; = h; + atau pe rsamaan e;,


[16a] ditambah [16b], merupakan jumlah kuantitas keseimbangan yang
tersedia dl dalam negara 1.
Mensubstitus!kan e\ (.) pad a sis! kanan persamaan (14a] ke dalam
Ir(IqG pad a sis! kiri persamaan [14b] akan menghasllkan

Mensubstitusikan kemball [17a] ke dalam e\(.) pada sisi kanan per-


samaan [14a] menghasilkan

Jumal Ekonoml dan ManiJjemen 2(1), }unI2001


Prisoner's Dilemma Game dalam Perdagangan /nternaslonal 43
• a-c - 2t2
e1 '" 3 (17bJ

Sehingga diperoleh Q~ = h; + e; .
Nampak bahwa adanya tarir membuat biaya marjinal menjadi tidak
simetris dalam NE. Oi negara 1, misalkan, biaya marjinal perusahaan 1
adalah c, tapi biaya marjinal perusahaan 2 adalah c + t, . Selama biaya
marjlna l perusahaan 2 lebih tlnggl, perusahaan 2 cenderung memproduksi
sedikit. Namun, ketika perusahaan 2 menyedikitkan outputnya, maka mar-
ket-clearing price menjadi lebih tinggi, sehingga perusahaan 1 akan mem-
produksi lebih banyak. Jadi pada kondisi NE, h; akan naik ketika t l naik;
dan e~ akan menu run (dengan tingkat yang lebih cepat) keUka t2 naik.
Dengan ditemukannya solusi dari interaksi dua-perusahaan di atas
pad a level the second-stage game, kini tibalah saatnya kita melihat the
first-stage game, yakni interaksi dua-pemerintah. Misalkan pemerintah 1
dan 2 sudah mengantisipasi NE, seperti pada persamaan [16a], [16b],
[17a], dan (17b]. Oengan kata lain, pemerintah 1 (atau 2) tahu bahwa
kuantitas produksl perusahaan 2 (atau 1) yang ditujukan untuk ekspor ter-
gantung pada tarir pemerintah 1 (atau 2). Berdasarkan 'persamaan' [5],
tungsi kesejahteraan (welfare function) negara 1 adalah

(18aJ

dan welfare function negara 2 ada lah

(18bJ

di mana h dan e-pada persamaan [16a], (16b], (17a], dan [17b), adalah
tungsi dari t. Sekarang kita hendak mencari NE dari interaksi dua-
pemerintah.
Mensubstitusikan persamaan [16a], (16b], [17aL dan (17b] ke da-
lam persamaan [lSa) dan [lSb], kemudian kita melakukan manipuiasi ai-
jabar akan diperoleh

(19aJ

dan

)umal Ekonoml dan Manajemen 2(1), )uni 2001


44 1. R. Joesoef

W2 ( tl' t z ) ""
(2(a - c ) - t J 2 (a - c + t 2)2 (a - c _ 2tl )2 t 2(a - c - 2t z ) [19b]
18 + 9 + 9 + 3

Sebagaimana biasanya, untuk menemukan NE adalah melalu i fungsi


reaksi, yang didapatkan dengan menderlvasi persamaan [I9a] dan [19b]
berikut

aw (t
l 1 ,t2 ) = 0
at )
[20 ]
aw2 (t 1 ,t2 ) '" 0
at,
In i menghasilkan

t,· -- ~ [ 21a]
3

dan

t,. : -
a --
c
[21b]
3

Dar; tungsi reaksi pad a [2Ia] dan [2Ib] nampak bahwa kebljakan
tarlf oleh negara 1 (atau 2) tidak dipengaruhl oleh kebijakan tarlf negara 2
(atau I ) . Ini berartl tarlf yang opti mal (the best) bagi suatu negara tidak
berhubungan sama sekali dengan tarlf optimal negara lain . Jadi, pemerin-
tah 1 dan 2 memiliki dominant strategy yakni

[22]

Apabila kedua negara menetapkan tarlf seragam , yakni t\ :;: t z = t ,


maka tingkat tanf yang terba i k adalah yang memaksimumkan W, (t ,t) un-
tuk i :: 1, 2 . Namun demikian

(2(a - c) - t)' (a - c + t)' (a - c - 2t )' t (a - c - 21 )


W,( t , t ): 18 + 9 + 9 + 3 [23]

dan derlvatif dari persamaan (23] sehubungan dengan t adalah

aw,(t, t)
:
-« 0- c) + t) [24]
at 9

Jumal Ekonoml dlJn Hanajemetl 2(J), )unI2001


Prisoner's Dilemma Game dalam Perdagangan lnternasional 45

Selama persamaan [24] adalah negatif untuk t 2: 0, maka tarif yang mutu-
ally optimal bagi kedua negara adalah t = O. Jadi, tariff game ini me-
nyerupai prisoner's dilemma, dalam arti masing-masing negara memiliki
strictly dominant tariff strategy, yang mengarah pad a Pareto inefficient.

V. ANALISIS EKONOMI POLITIK INTERNASIONAL


Perdagangan dan Aksl Kolektif

Ekonom :iepakat bahwa dalam proses penentuan kebijakan publik,


disyaratkan ad<Jnya analisis benefit & cost, Selama ada unsur biaya dan
manfaat yang melekat pada pelaksanaan kebijakan publik, dipastikan ada
konflik antara mereka yang merasa diuntungkan dengan mereka yang
merasa dlrugikan. Menurut literatur evaluasl proyek, sebuah kebljakan
akan go jika memberikan benefit sosial-ekonomi lebih besar ketimbang
cost-nya, atau akan no-go jika sebaliknya. Namun kenyataan sering mem-
berikan kesan kepada kita bahwa faktor politik sering ikut andil dalam
penentuan dan pelaksanaan kebijakan publik. Oengan kata lain, ada per-
gulatan kepentingan ekonomi dan paUtik di dalam penentuan kebijakan
publik.
Oi sini saya hendak mengatakan bahwa dalam proses penentuan
dan pelaksanaan perdagangan internasional, intensitas konflik domestik-
internal relatif tidak signifika n dibanding dengan in tensita s konflik-ekster-
nal antarnegara. Hal ini ditegaskan oleh Friedman & Friedman (1980:327) :

It IS often said that bad economic poliCY reflects disagreement among


the experts; that if all economists gave the same advice, economic
policy wou!1 be good . Economists often do disagree, but that has not
been true \;Vith respect to international trade.

Secara umum bisa dikatakan bahwa meskipun munculnya kebijakan eko-


nomi-perdagangan merupakan outcome dari pergulatan intra-domestik di
antara kepentingan institusi bisnis dengan institusi politik , namun belum
tentu ada ketidaksepakatan itu dalam proses dan pelaksanaan kebljakan
perdagangan Internasional.
lni berarti dari dalam wilayah jurisdiction- nya, pemerintah memiliki
dasar politis yang bisa membenarkan sekaligus menguatkan kebijakan
perdagangan yang protective, meskipun menanggung domestic cost of
protection dan ada btaya yang dltanggung negara mitra dagang. Argu -
mentasl 'demi kepentingan nasional' akan memperkecil tensl konflik do-
mestik-internal dalam proses pembentukan kebijakan perdagangan. Per-
nyataan ini setidaknya bisa dijelaskan dengan konsep collective action
yang dipertajam oleh Olson (1971).
Menurut Olson (1971:1-16), negara adalah sebuah organisasi, yang
sudah seharusnya pemerintahnya menyediakan barang-jasa kolektif (co/-

)urnal Ekonoml dan Manajemen 2(1), }un; 2001


46 J, R. laesae'
lective good) bagi rakyatnya. Barang kolektlf ini menyerupai public good-
seperti pertahanan-keamanan, hukum, kebijakan negara, dU., yaknl se-
suatu yang memenuhi kondisi JOint consumption dan high exclusion cost.
Artlnya, sebagai anggota organisasi negara, semua anggota organlsasl bisa
mengambil manfaat kebijakan secara lang sung maupun tidak, dan setlap
anggota tidak bisa melarang anggota lainnya untuk tidak memanfaatkan
kebljakan tersebut. Dalam konteks hubungan ekonomi-politlk interna-
sianal, barang-barang publik tersebut berslfat rivalrous. Negara satu tldak
bisa mengkonsumsi kebijakan ekonomi dan politik negara lain
(Kindleberger, 1986).
Pengertlan barang kolektif tersebut mudah·mudahan menjadi lebih
jelas dengan menyimak pernyataan berikut. Jika sesuatu tidak dikhususkan
bagi satu atau beberapa anggota, maka ia bisa dlnikmati seluruh anggota.
Ketika tidak ada satu orang pun menghaklnya dan seluruh anggota bisa
menikmatinya, maka sesuatu itu menjadi hak bag! seluruh anggota. Ketika
semua anggota mempunyaJ kesempatan yang sama untuk menlkmatl se·
suatu Itu, dan tidak ada satu anggota pun yang menghakinya, maka se·
suatu itu menjadi barang kolektif (Joesoef, 2000). Selama tldak semua
anggota organlsasi menjadi free rider dalam mewujudkan barang kolektif,
maka efektlvltas aksi kolektif terjamin.
Mungkin di antara kita ada yang menanyakan posisi pemerintah
dalam mewujudkan aksi kolektif negara. Buchanan & Tullock (1962:13)
mengatakan:

Collective action is viewed as the action of individuals when they


choose to accomplish purposes collectively rather than individually, and
the government is seen as nothing more than the set of processes, the
machine, which allows such collective action to take place.

Hal Inl diperkuat oleh perbedaan alamiah (nature) keanggotaan kita


dalam organisasi negara dan organisasi lalnnya sepertl partai politlk, or·
ganlsasi keagamaan, serikat buruh, kartel, dll. Interaksl kita di daiam orga-
nisasi-organisasi tersebut biasanya dilakukan secara sukarela, namun tran·
saksl antara negara dengan masyarakat (rakyat) bisa jadl sebaliknya.
Stiglitz (1989:98) berargumen demlkian:

I would argue that there are two distinguishing features of the State,
from which most of the other differences between the State and other
economic organizations follow: the State IS the one organization mem-
bership of which is universal, and the State has powers of compulsion
not given to other economic organizations.

Keanggotaan kita dalam suatu negara bersifat universal. Arti nya, hampir
tldak ada satu orang pun mempertlmbangkan negara sebagal a matter of
choice. Setiap indlvidu telah ditakdirkan tingga\ dl negara tertentu, se-
hingga la menjadl subyek negara (subject to the State). Sedangkan com-
pulsion mengandung arti bahwa ketlka indlvldu tidak puas dengan kebijak·
an negara, suka atau tidak, la harus menerimanya (no right to exit).

Jurnal Ekonoml dan Manajemen 2(1), Junl2001


Prisoners Dilemma Game dafam Perdagangan Intemasionaf 47
Jadi, selama kebijakan perdagangan seperti tarif, subsidi, kuota,
dll., merupakan barang kolektif negara, maka aspek universal dan compul-
sion di atas bisa menjadi modal soslal untuk mewujudkan barang kolektif
negara. Lebih dar! itu, persatuan dl antara kita ce nderung semakln kuat
ketika berkonfrontasi dengan mereka. Oalam konteks perdagangan, per-
gulatan kepentingan antamegara cenderung m enci ptakan dan memperko-
koh solldaritas penduduk di dalam suatu negara.

Mari kita IIhat kembali model Cournot dalam konteks perdagangan


antarnegara pada bag ian 4 seraya memikirkan dinamlka collective action di
atas. Jika kit:l mengijinkan tariff game di atas berlangsung beberapa
periode-di mana kebijakan tarif merupakan strategi dominan masing-
masing negara, intuisi kita akan mengatakan bahwa yang terjadt adalah
perang tartf (tariff war).9 Ketika suatu negara dan mitra dagangnya terlibat
dalam upaya untuk saling memproteksi pasar domestiknya, maka mereka
terjebak dalam situasi prisoner's dilemma (seperti pada Tabel 1 di atas)
dengan data hipotesis pada Tabel 3 berikut (Krugman & Obstfeld,
2000 :235):

TABEL 3
Prisoner's Dilemma dalam Perdagangan

Negara 2

FREE rRAOE PROTECTION

FREETRAOE la, 10 -la, 20


Negara 1
PROrECTJON 20, -10 -5, -5

Negara 1 atau negara 2 saling memproteksi pasar domest iknya dengan


biaya yang ditanggung o leh negara rivalnya.
Drama perang tarif in! mudah dipahami oleh karena teori dan fakta

9 Gejala ini bisa dljelaskan dengan konsep Chainstore Paradox dari Selten (1 978),
yang kurang lebihnya menyatakan nKalau pad a akhirnya dia mengkhianatl saya,
mengapa sekarang saya harus bekerjasama?" Proses mental ini menyatakan bahwa
kalau periode permainan berulang-ulang hingga, katakanlah, 20 kali , maka para
pemaln akan memandang bahwa periode ke 1 hingga ke 20 sebagai satu periode
(on e-shot game), yang kelak berhenti pad a KHlANAT·KHlANAT. Kalau Joni (dan Rudi)
berpikir bahwa pada periode ke 20 nanti akan berakhir dengan KHlANAT· KHlANAT,
maka dengan backward Induction, Jo nl (dan Rudl) akan berpikir: Mengapa saya
harus OIAM pada periode ke 19? Joni (dan Rudi) akan memilih KHlANAT pada periode
ke 19. Oengan backward induction pula Jonl (dan Rudi) akan mengambil keputusan
yang sama di pt: riode 18, 17, 16, dan seterusnya hingga 1. Akibatnya, dalam
permainan 20 p ~<'lode terdapat 20 rentetan prisoner's dilemma.

Jumal Ekonom l dan Manajemen 2(1), Junl 2001


48 1. R. Joesoef

sering menunjukkan bahwa keuntungan suatu negara adalah kerugian ne-


gara lain, dominasi suatu negara adalah ketergantungan negara lain. Eks-
por suatu negara adalah impor negara lain. Surplus suatu negara adalah
defJsit negara lain. Dan mungkin, kebangkitan suatu negara diblayaJ oleh
kebangkrutan negara lain. Kecuali ada planit selain bumi yang mampu
menyerap excess supply kita (Azis, 1996).
Mungkin bagl para pendukung hlpotesis market failure (yang sering
dikontradiksl kan dengan government failure) memlnta penjelasan tentang
intervensi pemerintah yang menyumbang naiknya tens! trade war. Nam-
paknya hipotesis market failure yang menjadi pembenar bagi intervens!
pemerintah di dalam pasar, tldak blsa dibuktlkan dalam interaksi bisnis
lintas negara. Dalam ekonomlka polltlk internasional , hubungan antara
politik dan ekonoml atau 'a pa mempengaruhi apa' menjadi acak (mixed)
dan sulit ditentukan (Frey, 1984 :bab 1)
Yang se ring nampak adalah bahwa ketika intervensi pemerintah di
dalam blsnls swasta domestlk dirasa merugikan institusl bisnis negara lain,
maka konfllk ekono ml Internaslonal blsa menjurus ke konflik politlk inter-
nasional. Friedman & Friedman (1980) mengatakan sebagal berikut:

Intervention by one government in behalf of local enterprises leads en-


terprises in other countries to seek the aid of their own government to
counteract the measures taken by the foreign government. Private dis-
putes become the occasion of disputes between governments. Every
trade negotiation becomes a political matter. High govemment officials
jet around the world to trade conference. Frictions develop.

Kalau gejala trade war dirasa berpotensi akan meluas, dalam arti
satu negara lawan semua negara lainnya (one country against all other
countries), kita blsa meletakkan harapan kepada harmonisasi kepentingan
melalui organisasi perdagangan regional, meskipun regionalisasi In! belum
menjamin tidak adanya gejala free-riding dan konflik di dalam wilayah re-
gional. Meskipun demikian, Secara politis organisasi perdagangan regional
bisa memperkuat posisl tawar (bargaining position) anggotanya dalam
bertransaksl dengan negara-negara non-anggota.

Studl Empiris

Game theory (GT) bukanlah suatu teorl dalam pengertian blasa. Ia


merupakan metode anallsls untuk situasi persalngan atau konfllk. Keber-
adaan metode inl berangkat darl sltuasi di mana dua atau lebih individu
egois, dengan kepentlngan yang saling antagonistis di antara mereka, ter-
libat dalam interaksi sosial. GT memillki tiga struktur utama : struktur
player, strategy, dan payoff. Yang pertama mengenaJ jumlah indlvidu (ke-
lompok) yang terlibat Interaksl, yang kedua menyoal bagaimana individu
berusaha mencapai tujuann ya, dan yang ketlga tentang konsekuensi darl
usaha-usaha pencapalan tujuan (Rasmusen, 1994) .

Jurna/ Ekonoml dan Manajemen 2(1), }un12001


Prisoner's Dilemma Game da/am Perdagangan Intemas/onal 49
Dengan kerangka analisis GT tersebut, kami melihat adanya gejala
prisoner's dilemma dalam hubungan internasional Indonesia- Jepang, yang
dipicu oleh perbedaan kepentingan keduanya di pasar otomotif (Joesoef,
1998; Jamli & Joesoef, 1999). Untuk maksud analisis game theory, kaml
menetapkan satu tujuan dan empat strateg i bagi Indonesia dan Jepang se-
bagai berikut:

Indonesia lepang
Mempertahankan dan mening-
Meraih kebebasan dari dominasi
Tujuan katkan aksesibilitas pasar produk
produk otomotlf Jepang
otomotif di Indonesia
Meningkatkan diplomasi perda- Menlngkatkan transfer teknologi
gangan (D1Pl) otomotif ke Indonesia (TECH)
Memproteksi pesaing Jepang
Memberikan insentif kepada In-
lainnya, seperti Korea Selatan
dustri otomotif Jepang di Indone-
Strategi (Hyundai) atau Amerika Serikat
sia (iNcr)
(Fo,d) (PROT)
Mengenakan tarif tinggi terhadap Mengenakan sangsi perdagangan
produk otomotif Jepang (TRFF) (SANe)
Status quo (SQUO) Tidak melakukan apa-apa (NOTH)

Setelah melalui se rangkaian prosedur analytic hierarchy process (AHP), di-


peroleh matriks payoff pada Tabel 4.

TABEL 4
Matriks payoff Indonesia &: lepang
(I nd onesia::: 30 & Jepang ::: 20 responden)

Jepang

TECH INCT SANC NOTH


0,070 0,223 0,0 14 0,007
OIPL 0,067 0,007 0,058 0,029
~
.~ 0,015 0,158 0,110 0,005
~
PROT 0,034 0,156 0,051 0,067
c
0 0,015 0,13 1 0,123 0,004

-'"
c TRFF

SQUO
0,004
0,011
0,173
0,007
0,157
0, 177
0,004

0,175
0,109
0,005
0,006
0,228

Marl disimak Tabel 4 dengan seksama. Apapun strategi Jepang,


apakah strategi TECH , INCT, SANC , atau NOTH, Indonesia menanggapinya
dengan strategi SQUO. Di lain pihak , apapun strategi Indonesia, apakah
strategi DlPL, PROT, TRFF, atau SQUO, Jepang menjawabnya dengan
strategi INCT. Ini berarti SQUO adalah strategi dominan Indonesia, dan
INCT strategi dominan Jepang.

Jurna/ Ekonoml dan Manajemen 2(1), Juni 200J


so J. R. laesae'

Keseimbangan Nash dart Tabel 4 adalah {sQua, INCT} dengan


payoff (0,177, 0,157), yakn! ketika Indonesia (Jepang) tidak memiliki in M
sentif untuk melakukan gerakan unilateral (bergantl strategl), dl bawah
suatu strategi yang dltetapkan (given) oleh Jepang (Indonesla).10 Keseim-
bangan ini sangat kuat sekali, karena m erupakan tempat bertemunya dua
strategi dominan . Sehingga, kesimbangan Nash game Ini juga merupakan
dominant-str ategy equilibriu m .

lalan Menuj u Ke rjasam a

Analisls game theory tldak hanya menunjukkan bagal mana sebe-


narnya, tapi juga mensyaratkan analisis bagaimana seharusnya. Ia tidak
H
mengajarkan tentang standard "kebalkan" dan "keburukan tahiat ekono-
mi. largon-ja rgo n normatif, seperti kebohongan, kejujuran, pengkhianatan,
fairness, penja rahan, kredlbil itas, dll., sering dijumpai dalam IIteratur. Ka-
lau tidak ada standard normatlf bagl tablat ekonomi, sullt membuktian
apakah seseorang telah berbohong, berkhlanat, atau berdosa. Masing -
maslng Individu tidak mempunyai kesempatan sama untuk menilai per-
buatan normatif ( Dixit & Nalebuff, 1991:223-224).
Peneliti mencoba menghayatl seandainya situasi SQUO-INCT terasa
tida k nyaman, atau, katakanlah bertensi tinggi. Jika dirasa demikian, Indo-
nesia dan Jepang terjebak dalam situasi prisoner's dilemma . Kedua pihak
bersikukuh pad a strategi domlnannya, dan terjerat dalam situasi SQUO-
INCT. Jika ada hari esok, situasi semacam Ini ren tan terhadap timbulnya
saling provokasl, perang tarif, dan perang dagang.
Setidaknya ada empat langkah umum untuk keluar dari kondisi
prisoner's dilemma itu, yaitu:
1. Kedua pihak harus membuka jalur komunlkast untuk saling menunjuk-
kan preferensinya. Jika komuntkasi tidak atau belum memungkinkan,
preferensi dapat dtkirim dengan sinyal-sinya l (signal).
2. Kedua pihak harus menemukan pasangan strategi baru ( Nash), yang
secara pslkologis saling menguntungkan. Pasangan strategi inl, jika di-
rasa pas, dise but titik fokal (focal paint).
Berhubung dengan focal point, Rasmusen (1994:28) mengatakan
demlkian:

Certain of the strategy profiles are focal points: Nash equilibria which
for psycological reasons are particula rly compelling. Formalizing what
makes a strategy profile a focal point is not an easy task and depends
on the context.

10 Kata Varian (1993:471):


A Nash equilibrium can be interpreted as a pair of expectations about each
person's choice such that, when the other person's ctlolce Is revealed, neither
individual w/!Ints to change his behavior.

Jurnal Ekonomi dan Manajemen 2(1), Junl 2001


Prisoner's Dilemma Game dalam Perdagangan Internasional Sl
Rasanya pasangan strategi DIPL-TECH dapat dijadikan titik toka!. Ti-
tik ini tentunya harus menjadl komitmen bersama, dan akan tercapai
selama tidak ada kecurlgaan di antara mereka pada sa at atau sebelum
game berlangsung.
3. Supaya komitmen di langkah (2) mempunyai kredibilitas, kedua pihak
sebalknya menyatakan komitmennya secara tertulis, dan agar lebih
credible lagi, disaksikan plhak ketiga. l1 Usaha ini semata-mata untuk
membuat khlanat (cheating) menjadi mahal jika hendak dllakukan.
4. Kedua pihak menahan diri dengan menghapus sebagian strategi atau
burn the bridges behind you (Dixit & Nalebuff, 1991:152-155). Pepe-
rangan biasany a dipicu oleh tindakan- tlndakan provokatif. Ketika kedua
pihak saling mengancam, ancaman -ancaman itu berdampak strategis,
artinya lawan akan menangkapnya sebagai strategi-strategi baru. Se-
makin banyak alte;natif strategi atau ancaman, semakin kecil proba-
bilitas untuk mencapai kesepakatan (focal point). Pembatasan pilihan
(menahan diri) akan menambah kredibilitas suatu komitmen.

VI. PENUTUP
Studi ini melihat situasi non -cooperative dalam hubungan ekonomi-
politik antarnegara perlu menjadi perhatian kita bersama. Situasi semacam
Ini rnenjadi serna kin eskalatif, apabila masing -maslng negara-yakni kola-
borasi antara institusi bisnis dengan institusi po litik di dalam sebuah ne-
gara - memiliki dan memegang teguh strategi dominannya dalam
menghadapi rekan dagangnya . Ketika setlap negara bersikukuh pada
strategi dominannya, maka outcome pasar internasional adalah dominant-
strategy equilibrium. Selama strategi d o minan setiap negara bersifat mu-
tually harmful bagi negara lain, terjadilah prisoner's dilemma. Jlka ada hari
esok (atau harl setelahnya), situasi ini cenderung provokatif.
Jebakan prisoner's dilemma bisa diloncati dengan bantuan komit-
men bersama yang credible. Misalkan Indonesia menyatakan komitmen-
nya, melalul sinyal-slnyal, bahwa ada fleksibllitas dalam program Mobnas
(SQUO) dan ada kemungkinan berdiplomasi (DIPL). Sementara Jepang
menyatakan bahwa kebljakan perdagangan yang rnengandung unsur
predatory (INCT) adalah tidak populer, seraya mengisyaratkan kemungkin-
an modus-modus baru dalam proses alih teknologi (TECH) . Ketika niat baik
itu dltangkap dan diyakini masing-masing pihak, pasangan strategi DIPL-
TECH bisa dltetapkan sebagal titlk kesepakatan atau focal pOint. Untuk
mencegah upaya penyelewengan dari titik itu, komitmen tersebut sebaik-
nya dlnyatakan secara tertulis dl bawah kesaksian pihak ketiga. Komitment

II Adanya pihak ketiga bukan hanya untuk menghukum siapa yang bersalah, tapi
sekaligus memperhitungkan efek hukuman (spillover effect). Coase (1960)
mewaspadal kemungkinan terjadinya efek hukuman atau social cost yang lebih
besar daripada memblarkan prisoner's dilemma berlangsung.

}umal Ekonoml dan Manajemen 2(1), Junl 2001


52 1. R. laesoef

tertulis dan keterlibatan pihak ketiga, semata-mata untuk membuat


pengkhlanatan atau perselingkuhan menjadi mahal untuk dilakukan _

Dattar Pustaka

Aumann, R. J. (1987). "Game Theory." Dalam Eatwell, J.; Milgate, M. & Newman P.
(eds.). The New Pa/grave. Vol. 2. London: Macmillan. 460-83.
Azis, 1. J. (1996). Kesenjangan antara Ekonomi Makro dan Geja/a Mikro: Keterba-
tasan I1mu Ekonoml. Pidato Pengukuhan Guru Besar FE UI. 29 Februari 1996.
Bresnahan, T. F. (1989). "Empirical Studies of Industries with Market Power." Da-
lam Schmalensee, R. C. & Willig, R. D. (eds.). Handbook of Industrial Organi-
zation. Vol. 2. Amsterdam: North-Holland. 1011-57.
Buchanan , ). M. & Tullock, G. (1962). The Calculus of Consent. Ann Arbor: The Uni-
versity of Michigan Press.
Coase, R. H. (1960). "The Problem of Social Cost." Oalam Baker, S. & Elliot, C.
(eds.). Readings in Public Sector Economics. Lexington, Mass.: D.C. Heath .
1990, 124-139.
Cudd , A. E. (1993). "Game Theory and the History of Ideas about Rationality : An
Introductory Survey." Economics and Philosophy. Vol. 9,101-133 .
Dixit, A. K. & Nalebuff, B. J. (1991). Thinking Strategically: The Competitive Edge in
Business, Politics, and Everyday Ufe. New York : W. W. Norton.
Ekelund, R. B. & Hebert, R. F. (1997). A History of Economic Theory and Method.
Edls; 4. New York: McGraw-HilI.
Friedman , M. & Friedman, R. (1980). "Tyranny of Controls." Oalam Dotl, J. L. & Lee,
D. R. (eds.). The Market Economy: A Reader. Los Angeles: Roxbury. 1991,
326-338.
Frey, B. (1984). International Political Economics. Oxford: Basil Blackwell.
Gibbons, R. (1992). Game Theory for Applied Economists. Princeton: Princeton Uni -
versIty Press.
Helpman, E. & Krugman, P. R. (1994). Trade Policy and Market Structure. The MIT
Press.
Jamli , A. & Joesoef, J. R. (1999). "Anal isis Konflik Indonesla-Jepang di dalam Pasar
Otomotif: Penera pan Analytic Hierarchy Process (AHP) dan Game Theory."
lurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. Vol. 14, 17-33.
Jaesoef, J. R. (1998). Ana/fsis Konflik Indonesia-lepang dl da/am Pasar Otomotif:
Penerapan Analytic Hierarchy Process (AHP) dan Game Theory. Tesls . Pro-
gram Magister Sa Ins FE -UGM.
Joesoef, J. R. (2000). " Perdagangan, Konflik, dan Teorema Coase." lurnal Ekonomi
dan Manajemen. Vol. 1(1), Juni, 41 -5 1.
Kindleberger, C. P. (1986). " International Public Goods without International Gov-
ernment." American Economic Review. Vol. 76 (1), 1-13.
Krugman, P. R. (1987), "Is Free Trade Passe?" lournal of Economic Perspective.
Fall, 131 - 141. Oalam King, P. (ed.). International Economics and [ntema-
tional Economic Policy: A Reader. Edisi 2. Singapore: McGraw- HilI. 1995, 21-
32.
Krugman , P. R. & Obstfeld, M. (2000). International Economics: Theory and Policy.
Edlsi 5. Reading, Massachusetts: Addison-Wesley Publishing .
Lyons, 8 . & Varoufakis, Y. (1989). " Game Theory, Oligopoly and Bargaining." Dalam
J. O. Hey (ed.). Current Issues in MicroeconomIcs. Hampshire: Macmillan. 79-
126.

)umal Ekonoml dan Manajemen 2(1), )unl 2001


Prisoner's Dilemma Game dalam Perdagangan lnternaslonal 53
Martin, S. (1993) . Advanced Industrial Economics. Cambridge: Blackwell.
Olson, M. (1971). The Logic of Coflective Action : Public Goods and the Theory of
Groups. Cambridge: Harvard University Press.
Porter, M. E. (1990) . The Competitive Advantage of Nations, New York: The Free
Press.
Rasmusen, E. (1994). Games and Information. Edisi 2. Cambridge: Blackwell Pub·
lishers.
Schelling, T. C. (1978). "AltruIsm, Meanness, and Other Potentially Strategic
Behaviors ." American Economic Review. Vol. 68, 229·230.
Selten, R. (1978). "The Chain· Store Paradox ." Theory and Decision. April, 127·159.
Stigler, G. J. (1964). "A Theory of Oligopoly ." Journal of Political Economy. Vol. 72,
44·61.
StIglitz, J. E. (1989). "On the The Economic Role of the State." Dalam Heertje, A.
(ed.). The Economic Role of the State. Cambridge: Basil Blackwell. 9·85.
TLrole. J. (1988) . The Theory of Industrial OrganizatIon. Cambridge: The MIT Press.
Varian, H. R. (1993) . Intermediate MicroeconomICS: A Modem Approach. Edisi 3.
New York: W . W. Norton.

Jose Rlzal Joesoef adalah dosen ekonomika pada Universitas Gajayana Malang. la
memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dan Universitas Brawijaya tahun 1993 dan ge·
lar Magister Sains bidang Jlmu Ekonomi & Studi Pembangunan (IESP) dari Univer·
sitas Gadjah Mada tahun 1998.

Jurnal Ekonoml dan Manajemen 2(1), Junl 2001


ISSN 1411 -5794
JURNAL
EKONOMI DAN MANAJEMEN
Journal of Economics and Management

DEWAN PENYUNTING

Pe nyunting Ahli Mochammad Rosul


Departemen Keuangan
Abdul Halim
Umversitas Gaj,;yana, Ma/ang Munawar Ismai l
Universitas Brawijaya, Ma/ang
Ahmad Jamll
Umversitas Gadjah Mada, Yogyakarta Puput Tn Komalasari
Universitas Gajayana, Ma/ang
Bambang Subroto
Universitas Brawijaya, Ma/ang Y. Sri Susilo
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Carunld M. Firdausy
Lembaga IImu Pengetahuan Indonesia Pemimpi n Umum
Edi Purwo Saputro Agus Suman
Universitas Muhammadiyah $urakarta Ketua Pe nyunti ng
Fatlk Rahayu Jose Rizal Joesoef
Universitas Trisakti, Jakarta Pe nyunti ng Pe laksana
Imam SUYltno Teguh Prasetio (chief)
UniverSitas Negen Malang Djunl Farhan
Sri Hastu t l
James Damel D. Massie
Universitas Sam Ratu/angl, Manado Sugeng Mulyano
Urn] Muawanah
Kusdi Rahardjo
Universitas Brawijaya, ""a/ang

Jurna/ Ekanomi dan Manajemen (JEM)-terbi t pertama pad a tahun 2000-adalah


Jurnal untuk IOformasi dan pem bahasan masalah -ma salah ekonomj, manaJemen,
dan bisnis. JEM dlterbltkan setlap bula n Juni dan Desember, berisi ringkasan hasi l
penelltlan, artikel Ilmlah, telaah kritis, atau gagasan murni untuk dikomunikasikan
kepada masyarakat luas.
JEM mengundang tullsan dart berbagal kalangan utamanya kalangan peneliti, do-
se n, pengamat ekonami, praktisi bisnis, dan mahasiswa. Tu lisan dalam JEM tidak
sela lu segaris dengan pendapat dewan penyuntlng . Dewan penyunting dapat
menyingkat dan memperbaiki na skah yang hendak dimuat tanpa bermaksud
mengubah substansinya. l si pokok tulisan yang dimuat bukan tanggung jawab
dewan penyu nting. Surat-menyurat mengenai naskah, langganan, dan lainnya
dapat ditujukan kepada
Teguh Prasetlo, JURNAL EKONOMI DAN MANAJ EMEN
Program Pascasaf]ana Universitas Gajayana
JI. Mertojayo, Blok l, t-1a la ng 65144, Indonesia
Telp .: 0341 - 562411, Fax : 0341 -5821 68
I
E- mail: pa~cauniga@telkom.net

JEM Vol. 2 I No . 1 Him. 1-91


I
Malang
Juni 2001 I
ISSN
1411 -5794
ISS N 1411 -579 4

JURNAL
EKONOMI DAN MANAJEMEN
Journal of Economics and Management

Vo lume 2, Nomor 1 Juni 200 1

Efisiensi Teknis Industri Elektronika di Indonesia


1976-1999
Y. Sri Susilo & Prisila Q. Parera

Progresivitas Praktik Sumber Oaya Manusia dan


Kinerja Organisasional di Indonesia
Teguh Prasetio

Prisoner's Dilemma Game dalam Perdagangan Interna·


sional: Teori dan Bukti Empiris
Jose Rizal Joesoef

Peran Financial Leverage terhadap Profitabilitas dalam


Seldor Perbankan Indonesia
Tatik Mulyati

Analisis Shift-Share pada Perekonomian lawa Timur


(1990-1999)
Imam Mukhlis

Underpricing: The Puzzling Phenomenon


Arum Prastiwi

Telaah Literatur