Вы находитесь на странице: 1из 15

2.

2 Skenario Kasus
Impending doom

Mrs. Z,a 40years old, G5P4A0, 36 weeks pregnant, came to the emergency
department of RSMP with a chief complain of blurry vision since one days ago. This
complain also followed with severe headache. Mrs. Z tries to relieve the complain by
taking some painkillers but the complain were not reduced. Mrs. Z also claims that he
often suffering from frequent headache but not as severe as this one, then Mrs. Z
brought to the village midwife, and the midwife said that Mrs. Z had high blood
pressure so she reffers her to the hospital.

Since 3 days ago, Mrs. Z also complain of epigastric pain without nausea and
vommiting. Mrs. Z went to the Puskesmas, but the complain were not relieved. Mrs. Z
claimed that she had history of high blood pressure during the fourth pregnancym and
also she claimed that she is nine months pregnant and still able to feel the baby
movement. Mrs. Z only did ANC once during this pregnancy.

Physical examination:

General appearance: looks moderately sick, sensorium: compos mentis, GCS: 15

Vital Sign: BP: 190/120mmHg, Pulse:84x/m, RR:20x/menit, Temp:36,80C

Head: anemic conjungtive (-)

Thorax: cor and pulmo within normal range

Ekstremity: edeme extremity (+/+)

Obstetry Examination

External examination : Fundus uteri height3fingers below the procesus xiphoideus


(30cm), elongated, left back, lowest part is head, descending 5/5, HIS 1x/10minute/20
seconds, Fetal Heart sound: 136x/minute.

Internal examination : soft portio, posterior, effacement 20%, opening 1 cm, head
hodge I-II, denominator difficult to determine, amniotic membrane complete.
Laboratory Examination:

Blood chemistry: Hb:12 g/dl, leucocyte : 9000/mm3, thrombocyte: 200.000/mm3

Urinalysus : Protein (++)

2.5 analisis masalah


1. Mrs. Z, a 40years old, G5P4A0, 36 weeks pregnant, came to the emergency
department of RSMP with a chief complain of blurry vision since one days
ago. This complain also followed with severe headache.
A. What is the anatomy,physiolgy,and histology in this case (uterus, plasenta,
fisiologi pembentukan plasenta, kehamilan)?
Fertilisasi
Proses pembuahan umumnya terjadi pada ampula tuba. Disini ovum akan
dibuahidalam 12 jam setelah ovulasi, bila tidak ovum akan segera mati dalam 24
jam. Dalam saluran reproduksi perempuan, spermatozoa mengalami kapasitasi
(pematangan) sebelum memenuhi ovum, yaitu melepaskan enzim corona
penetetring enzyme (CPE) untuk mencerna korono radiata dan enzim
hialuronidase untuk mencerna zona pellusida (cangkang telur).
Implantasi
Setelah pertemuan kedua inti spermatozoa dan ovum, maka terbentuklah zigot
yang dalam beberapa jam telah mampu membelah dirinya dari dua sel menjadi
trilyunan sel. Berbarengan dengan proses pembelahan sel. Hasil konsepsi terus
berjalan menuju uterus. Implantasi didefinisikan sebagai proses melekatnya
embrio pada dinding uterus dan menembus epitel serta sistem sirkulasi ibu untuk
membentuk plasenta. Implantasi terjadi 5 -7 hari sesudah fertilisasi.Tempat
terjadinya implantasi biasanya pada fundus uteri bagian posterior
Pembentukan plasenta
Plasentasi adalah proses pembentukan struktur dan jenis plasenta. Pada manusia
plasentasi terjadi 12-18 minggu setelah fertilisasi.Tiga minggu pasca dimulai
pembentukan vili korealis. Vili korealis ini akan bertumbuh menjadi suatu masa
jaringan yaitu plasenta. Lapisan desidua yang meliputi hasil konsepsi ke arah
kavum uteri disebut desidua kapsularis, yang terletak antara hasil konsepsi dan
dinding uterus disebut desidua basalis, disitu plasenta akan dibentuk. Darah ibu
dan darah janin dipisahkan oleh dinding pembuluh darah janin dan lapisan
korion. Plasenta yang demikian disebut plasenta jenis hemokorial.Disini jelas
tidak ada percampuran darah antara darah janin dan darah ibu.Ada juga sel-sel
desidua yang tidak dapat dihancurkan oleh trofoblas dan sel-sel ini akhirnya
membentuk lapisan fibrinoid yang disebut lapisan Nitabuch. Ketika proses
melahirkan, plasenta terlepas dari endometrium pada lapisan Nitabuch ini
Fisiologi kehamilan
Ovum yang keluar ditangkap oleh fimbriae masuk ke tuba falopii (dibagian
ampula) bertemu dengan sperma terjadi proses fertilisasi lalu terbentuk
zigot yang dipengaruhi oleh estrogen dan progesterone , progesteron
menebalkan dinding endometrium, estrogen menjaga suasana di uterus agar
sperma dapat hidup , adanya pergerakan dari tunika muscularis di tuba,
zigot masuk ke uterus dalam bentuk blastula ,blastula bernidasi pada
endometrium fundus uteri dan berubah menjadi embrioblast dan trofoblast
,embrioblast berubah menjadi janin dan tropoblast menjadi plasenta.
Fisiologi persalinan normal
Persalinan normal partus dibagi menjadi 4 kala, yaitu:
I. Kala I
Pembukaan serviks sampai 10 cm
Proses membukanya serviks dibagi 2 fase:
1. Fase Laten: pembukaan sampai 3 cm selama 8 jam
2. Fase Aktif:
dibagi 3 fase lagi:
a. Fase Akselerasi: pembukaan 3cm – 4cm selama 2 jam
b. Fase Dilatasi Maksimal: pembukaan 4cm sd 9cm selama 2 jam
c. Fase Deselerasi: pembukaan 9cm sd lengkap selama 2 jam
II. Kala II/ kala pengeluaran
His menjadi lebih kuat dan lebih cepat, kira- kira 2 sampai 3 menit
sekali.Kala pengeluaran janin sewaktu uterus dengan kekuatan His
ditambah kekuatan mengejan mendorong janin hingga lahir. Para
primigravida kala II berlangsung rata- rata 1,5 jam – 2 jam dan pada
multipara rata- rata 0,5 jam- 1 jam.
III. Kala III
Lepasnya plasenta dari dinding uterus. Biasanya plasenta lepas dalam 6
sampai 15 menit setelah bayi lahir dan keluar spontan atau dengan
tekanan pada fundus uteri.Pengeluaran plasenta disertai dengan
pengeluaran darah.
IV. Kala IV
Mengamati apakah ada perdarahan postpartum. Mulai dari lahirnya
plasenta dan alamya 1 jam

B. What is the fetal growth and stage of pregnancy?

C. How the relation of age and G5P5A0 ( status gravida) In this case?

Dari segi usia, wanita hamil dengan usia 35 tahun dianggap berisiko untuk mengalami
preeklampsia. Hal ini disebabkan karena seiring peningkatan usia, akan terjadi proses
degenaratif yang meningkatkan risiko hipertensi kronis dan wanita dengan risiko
hipertensi kronik ini akan memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami
preeklampsia.Berdasarkan data German Perinatal Quality Registry, didapatkan angka
kejadian preeklampsia lebih tinggi pada usia di atas 35 tahun, yakni 2,6%, dan pada
usia di bawah 35 tahun hanya berkisar 2,2% – 2,3%.3 Di Rumah Sakit Dr. M. Djamil
Padang, juga ditemukan kejadian preeklampsia lebih tinggi pada usia di bawah 20
tahun dan di atas 35 tahun.

Berdasarkan paritas, diyakini paritas 0 adalah faktor risiko preeklampsia, dimana


kelainan ini lebih umum terjadi pada primigravida. Hal ini diduga karena pada
kehamilan pertama cenderung terjadi kegagalan pembentukan blocking antibodies
terhadap antigen plasenta sehingga timbul respon imun yang tidak menguntungkan.9
Penelitian terhadap data German Perinatal QualityRegistry menemukan bahwa angka
kejadian preeklampsia lebih tinggi pada kelompok paritas 0 atau kehamilan pertama,
yakni 3,1%, dibandingkan dengan pada kehamilan selanjutnya yang hanya 1,5%.3
Penelitian lain menemukan bahwa risiko terjadinya preeklampsia pada kehamilan
pertama adalah 4,1%, sedangkan akan berkurang pada kehamilan berikutnya menjadi
1,7%.

Hubungan Usia dan Paritas dengan Kejadian Preeklampsia Berat di Rumah Sakit
Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2012 - 2013

D. What is the meaning Mrs. Z,a 40years old, G5P4A0, 36 weeks pregnant, came
to the emergency department of RSMP with a chief complain of blurry vision
since one days ago. This complain also followed with severe headache ?
Makna G5P4A0 :
 Gravida ( pernah hamil )  5 kali
 Partus (pernah melahirkan  4 kali
 Abortus (keguguran )  belum pernah keguguran
Jadi maknanya Multigravida

E. What is the etiology of blurry vision and headache ?

Nyeri Kepala Primer


- Migraine
- Tension Type headache
- Nyeri kepala cluster dan hemicrania proksimal kronik
- Nyeri kepala lain yang tidak ada hubungannya dengan lesi struktural
Nyeri kepala sekunder
- Nyeri kepala karena trauma
- Nyeri kepala karena kelainan vaskular
- Nyeri kepala karena kelainan intracranial nonvaskular
- Nyeri kepala karena penggunaan zat
- Nyeri kepala karena infeksi
- Nyeri kepala karena kelainan metabolic
- Nyeri kepala atau nyeri wajah karena kelainan saraf

F. what is the possible disease with a chief complain of blurry vision and
headache?

 Retinopati diabetik
 Retinopati hipertensi
 Hipertensi
 Preeklamsia
 Keratitis
 Uveitis
 Katarak
 Kelainan refraksi
G. how the pathophysiology of blurred vision is accompanied by headaches?

H. What are the sign of impartu?

2. Mrs. Z tries to relieve the complain by taking some painkillers but the
complain were not reduced. Mrs. Z also claims that he often suffering from
frequent headache but not as severe as this one, then Mrs. Z brought to the
village midwife, and the midwife said that Mrs. Z had high blood pressure
so she reffers her to the hospital.

A. what is the meaning Mrs. Z tries to relieve the complain by taking some
painkillers but the complain were not reduced?

Maknanya pengobatan hanya berdasarkan simptomatik saja, tidak mengobati


penyebabnya

B. what is the meaning Mrs. Z also claims that he often suffering from frequent
headache but not as severe as this one?

C. what kind of drug that mrs Z take?

 Obat golongan NSAID seperti asam mefenamat, ibu profen, natrium diclofenat
dan lain-lain

Farmakokinetik

Sebagian besar dari obat ini diserap baik, dan makanan tidak secara substansial
mengubah ketersediaan-hayati mereka. Kebanyakan OAINS dimetabolisasi
secara ekstensif, sebagian oleh mekanisme faseI diikuti oleh fase II dan yang lain
oleh glukuronidasi langsung (fase II) saja. Metabolisme OAINS berlanjut,
umumnya, melalui famili enzim P450 CYP3A atau CYP2C di hati. Sementara
ekskresi di ginjal adalah rute terpenting eliminasi akhir, hampir semua obat
mengalami ekskresi di empedu dan reabsorpsi (sirkulasi enterohepatik) dengan
derajat bervariasi. Pada kenyataannya, derajat iritasi saluran cerna bawah
berkorelasi dengan jumlah sirkulasi enterohepatik.
Sebagian besar OAINS sangat terikat ke protein (sekitar 98%), biasanya ke
albumin. Kebanyakan OAINS (mis. ibuprofen, ketoprofen) adalah campuran
rasemi. Obat dengan waktu-paruh singkat berada di sendi paling lama daripada
yang diperkirakan dari waktu-paruh mereka, sementara obat dengan waktu-paruh
lebih lama menghilang dari cairan sinovium dengan laju setara dengan waktu-
paruh mereka.
Farmakodinamik
Aktivitas anti-inflamasi OAINS terutama diperantarai oleh inhibisi biosintesis
prostaglandin. Berbagai OAINS mungkin memiliki mekanisme kerja tambahan,
termasuk inhibisi kemotaksis, penekanan produksi interleukin-I, penekanan
produksi radikal bebas dan superoksida, dan mengganggu proses-proses intrasel
yang diperantarai oleh kalsium. Aspirin secara ireversibel mengasetilasi dan
menghambat siklo-oksigenase trombosit, sementara OAINS non-selektif-COX
adalah inhibitor reversibel. Untuk OAINS yang lebih lama, selektivitas untuk
COX-1 versus COX-2 bervariasi dan inkomplit, tetapi telah disintesis inhibitor
selektif COX-2. Pada dosis yang lazim, inhibitor COX-2 selektif tidak
memengaruhi fungsi trombosit. Dalam menguji darah lengkap manusia, aspirin,
ibuprofen, indometasin, piroksikam, dan sulindak agak lebih efektif dalam
menghambat COX-1. Efikasi obat-obat selektif-COX2 setara dengan OAINS
lama, sementara keamanan saluran cerna meningkat. Di pihak lain, inhibitor
COX-2 selektif mungkin meningkatkan insidens edema dan hipertensi. Sejak
bulan Agustus 2011, selekoksib dan meloksikam, yang kurang selektif, adalah
satu-satunya inhibitor COX-2 yang dipasarkan di AS. Dianjurkan bahwa label
produk semua OAINS direvisi untuk menyebutkan risiko kardiovaskular.
OAINS mengurangi sensitivitas pembuluh terhadap bradikinin dan histamin,
memengaruhi produksi limfokin oleh limfosit T, dan memulihkan vasodilatasi
pada peradangan. Dengan derajat yang bervariasi, semua OAINS baru bersifat
analgesik, anti-inflamasi, dan antipiretik, dan semua (kecuali obat selektif-COX2
dan salisilat nonasetilasi) menghambat agregasi trombosit. OAINS adalah iritan
lambung dan dapat menyebabkan tukak dan perdarahan saluran cerna, meskipun
sebagai satu golongan obat-obat yang lebih baru cenderung lebih sedikit
menyebabkan iritasi GI daripada aspirin. Nefrotoksisitas pernah dijumpai pada
semua obat yang telah banyak digunakan. Nefrotoksisitas sebagian disebabkan
oleh terganggunya autorgulasi aliran darah ginjal, yang dimodulasi oleh
prostaglandin.

 Obat golongan anti-piretik : acetaminophen (paracetamol)


Farmakodinamik
Efek analgesik parasetamol serupa dengan salisilat yaitu
menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Keduanya
menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga juga berdasarkan
efek sentral seperti salisilat. Efek anti-inflamasinya sangat lemah, oleh
karena itu parasetamol tidak digunakan sebagai antireumatik. Parasetamol
merupakan penghambat biosintesis PG yang lemah. Efek iritasi, erosi dan
perdarahan lambung tidak terlihat pada kedua obat ini, demikian juga
gangguan pernapasan dan keseimbangan asam basa (Gan, 2007).
Farmakokinetik
Parasetamol diabsorpsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna.
Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu setengah jam
dan masa paruh plasma antara 1-3 jam. Obat ini tersebar ke seluruh cairan
tubuh. Dalam plasma, 25% parasetamol terikat protein plasma. Obat ini
dimetabolisme oleh enzim mikrosom hati. Sebagian asetaminofen (80%)
dikonjungasi dengan asam glukoronat dan sebagian kecil lainnya asam
sulfat. Selain itu obat ini juga dapat mengalami hidroksilasi. Metabolit
hasil hidroksilasi ini dapat menimbulkan methemoglobinemia dan
hemolisis eritrosit. Obat ini diekskresi melalui ginjal, sebagian kecil
sebagai parasetamol (3%) dan sebagian besar dalam bentuk terkonjugasi

Buku farmakologi katzung

D. what is the meaning midwife said that Mrs. Z had high blood pressure so she
reffers her to the hospital?

E. What is the etiology of hypertension in pregnancy

F. What is risk factor of hypertension in pregnancy

G. . What are the types of hypertension in pregnancy?

H. What is patofisiology hypertension on pregnancy?

I. What is the impact of hypertension in pregnancy on the fetus and mrs. z?

Persalinan janin merupakan salah satu tatalaksana dari eklampsia setelah


pasien distabilisasi. Proses persalinan, baik pervaginam maupun seksio sesarea
tidak dapat dilakukan sebelum pasien melewati fase kejang atau komanya.
Cara persalinan dapat ditentukan berdasarkan indikasi obstetrik pada ibu dan
janin dengan catatan bahwa cara pervaginam lebih disukai dari sisi maternal.
Untuk meringankan nyeri ibu saat persalinan maka dapat digunakan opioid
sistemik atau anestesi epidural. Jika tidak ditemukan malpresentasi janin
ataupun distres janin, maka oksitosin atau prostaglandin dapat diberikan untuk
menginduksi persalinan.
Seksio sesarea dapat dilakukan pada pasien dengan serviks yang belum dilatasi
dan usia gestasi kurang dari 30 minggu. Hal ini dikarenakan jika dalam
keadaan tersebut dilakukan induksi persalinan maka akan menyebabkan
pemanjangan fase intrapartum dan berujung seksio sesarea yang meningkatkan
komplikasi intrapartum. Ketika seksio sesarea darurat dilakukan, pastikan
terlebih dahulu bahwa tidak ada kelainan koagulopati pada pasien. Komplikasi
intrapartum yang dimaksud adalah:
Retardasi pertumbuhan janin (30%)
Pola DJJJ yang tidak pasti (30%)
Abruptio plasenta (23%)

J. What is high risk pregnancy?

Faktor risiko hipertensi dalam kehamilan menurut Angsar dalam


Prawirohardjo (2009: 532) adalah sebagai berikut:
- Primigravida, primipaternitas
- Hiperplasentosis, misalnya mola hidatidosa, kehamilan multipel, DM,
hidrops fetalis, bayi besar
- Umur, usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.
- Riwayat keluarga yang pernah pre-eklampsia atau eklampsia
- Penyakit-penyakit ginjal dan hipertensi yang sudah ada sebelum hamil
- Obesitas.

3 Since 3 days ago, Mrs. Z also complain of epigastric pain without nausea and
vommiting.

A. what is meaning Since 3 days ago, Mrs. Z also complain of epigastric pain
without nausea and vommiting ?

makna nya telah terjadi gannguan pada liver di mana terjadi peningkatan
konsentras transaminase 2 kali normal akan menyebabkan nyeri epigastrik
regio kanan atas abdomen

B. What is the relation of this complain with chief complain ?

C. what is etiology of epigastric pain without nausea and vommiting

D. what is patofisology of epigastric pain without nausea and vommiting


4 Mrs. Z went to the Puskesmas, but the complain were not relieved. Mrs. Z
claimed that she had history of high blood pressure during the fourth
pregnancym and also she claimed that she is nine months pregnant and still able
to feel the baby movement. Mrs. Z only did ANC once during this pregnancy.

A. what is the meaning Mrs. Z went to the Puskesmas, but the complain were not
relieved?

B. what is the meaning Mrs. Z claimed that she had history of high blood
pressure during the fourth pregnancym and also she claimed that she is nine
months pregnant and still able to feel the baby movement.

C. what is the relationship of hypertension during pregnancy with complaints

D. What is the impact Mrs. Z only did ANC once during this pregnancy?

E. What are the benefits and objectives of the ANC?

F. How the schedule of ANC?

G. What is the principle of ANC?

H. how is the government program for pregnant women in preventing maternal


and child mortality and morbidity?

5. pemeriksaan fisik

A. What interpretation of physical examination?

B. What is abnomal mechanism of physical examination?

6 pemeriksaan obstrekti

Obstetry Examination

External examination : Fundus uteri height3fingers below the procesus xiphoideus


(30cm), elongated, left back, lowest part is head, descending 5/5, HIS 1x/10minute/20
seconds, Fetal Heart sound: 136x/minute.

Internal examination : soft portio, posterior, effacement 20%, opening 1 cm, head
hodge I-II, denominator difficult to determine, amniotic membrane complete.
A. What is interpretation of obstetry examination?

Interpretasi hasil pemeriksaan obstetrikus

Hasil Interpretasi

Fundus uteri Usia 36 minggu Normal


height 3 fingers fundus uteri di
below the procesus bawah UK lebih
xiphoideus (30cm) kurang 2 cm pada
processus
xiphoideus

elongated, left Normal Normal


back, lowest part is
head

descending 5/5 - Bagian terbawah


janin seluruh nya
teraba di atas
simfisis pubis

HIS >3 dalam 10 menit Normal


1x/10minute/20 dan durasi 40 detik
seconds

Fetal Heart sound: 120-160x/menit Normal


136x/minute

Soft portio Portio pada Normal


kehamilan akan
teraba lunak

effacement 20%, Pada kehamilan Normal


opening 1 cm primigravida
pendataran akan
terjadi lebih dulu
dibandingkan
pembukaan

opening 1 cm Fase laten Kala I Normal

head hodge I-II kepala memasuki Normal


symphisis pubis

denominator - Normal
difficult to
determine

amniotic - Normal
membrane
complete

B. What is abnormal mechanism of obstetry examination?

C. how is the procedure Obstetry Examination?

7 pemeriksan labortaorium

A. What is interpretation of laboratory examination?

B. What is abnormal mechanism of laboratory examination?

1. How to diagnose?

2. How to different diagnose

3. How to additional examination

4. What is working diagnose

A. What is definition of wd

B. What is etiology

C. What is phatophysiology

D. What is classification

1. Hipertensi kronik
2. Preeklamsia-eklampsia
 Preeklamsia ringan
 Preeklamsia berat
3. Hipertensi kronik dengan superimposed
4. Hipertensi gestasional

E. What is risk factor

12. How to treatment

13. What is the complication

Komplikasi Ibu
 Paru
Edema paru adalah tanda prognostik yang buruk yang menyertai
eklampsia. Faktor penyebabnya adalah: (1) pneumonitis aspirasi setalah
inhalasi isi lambung jika terjadi muntah pada saat kejang, (2) kegagalan
fungsi jantung yang mungkin sebagai akibat hipertensi berat dan
pemberian cairan intravena yang berlebihan.
 Otak
Pada preeklampsia, kematian yang tiba-tiba terjadi bersamaan dengan
kejang atau segera setelahnya sebagai akibat perdarahan otak yang hebat.
Koma atau penurunan kesadaran yang terjadi setelah kejang atau
menyertai preeklampsia yang tanpa kejang adalah sebagai akibat edema
otak yang luas.
 Mata
Kebutaan dapat terjadi setelah kejang atau dapat terjadi spontan bersama
dengan preeklampsia. Ada dua penyebab kebutaan yaitu: (1) ablasio retina
yaitu lepasnya retina yang ringan sampai berat, (2) iskemia atau infark
pada lobus oksipitalis.
 Psikosis
Eklampsia dapat diikuti keadaan psikosis dan mengamuk, tapi keadaan ini
jarang terjadi.
 Sistem hematologi
Plasma darah menurun, viskositas darah meningkat, hemokonsentrasi,
gangguan pembekuan darah, disseminated intravascular coagulation
(DIC) dan sindroma HELLP.
 Ginjal
Filtrasi glomerulus menurun, aliran plasma ke ginjal meningkat, klirens
asam urat menurun dan gagal ginjal akut.
 Hepar
Nekrosis periportal, gangguan sel liver dan perdarahan subkapsuler.
 Uterus
Solusio plasenta yang dapat menyebabkan perdarahan pascapartum.
Abrutio plasenta yang dapat menyebabkan DIC.
 Kardiovaskuler
Cardiac arrest, acute decompensatio cordis, spasme vaskular menurun,
tahanan pembuluh darah tepi meningkat, indeks kerja ventrikel kiri naik,
tekanan vena sentral menurun dan tekanan paru menurun.
 Perubahan metabolisme umum
Asidosis metabolik dan gangguan pernapasan maternal.

Komplikasi Janin
Preeklampsia dan eklampsia memberi pengaruh buruk pada kesehatan janin
yang disebabkan oleh menurunnya perfusi uteroplasenta, hipovolemia,
vasospasme dan kerusakan sel endotel pembuluh darah plasenta. Dampak pada
janin adalah:
 Intrauterine growth restriction (IUGR) dan oligohidramnion.
 Kenaikan morbiditas dan mortalitas janin, secara tidak langsung akibat
intrauterine restriction growth, prematuritas, oligohidramnion dan solusio
plasenta.

14. What is prognose

15. What is SKDU

16. What is islamic view


Kesimpulan

Mrs. Z, 40 years old, G5P4A0, 36 weeks pregnant, complains of blurred eyes, severe
headaches, epigastric pain, high blood pressure, edema, and proteinuria due to the
possibility of experiencing preeclampsia

Kerangka konsep

FR (age, multipara, and hypertension) >> endhotelial dysfunction >> vasocontriction


of the arterial blood vessels >> preeclampsia>> blurry vision, headache, nausea and
vomiting