Вы находитесь на странице: 1из 11

PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 7 No.

2 MEI 2018 ISSN 2302 - 2493

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGOBATAN PASIEN


PEDIATRIK DEMAM TIFOID MENGGUNAKAN CEFIXIME
DAN CEFOTAXIME DI RSU PANCARAN KASIH GMIM
MANADO

Kereh Meiryna Juliana Beatrix1), Gayatri Citraningtyas1), Sri Sudewi1)


1)
Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, 95115

ABSTRACT

The highest prevalence of thyphoid fever in Indonesia in the age group of 5-14
years old. The mortality rate of typhoid fever in some areas was 2-5% of patients into
asymptomatic careers, thus providing a new source of infection for the surrounding
community. Treatment using antibiotics is the most widely used typhoid fever drug,
related to the many incidences of bacterial infection suffered by many people. This study
aims to determine which drugs are more effective between Cefixime and Cefotaxime in
the treatment of pediatric typhoid fever in GMIM Pacaran Kasih Hospital Manado. Cost
Effectiveness Analysis has been done using descriptive observational method with cross
sectional design, retrieval data using retrospective approach through patient medical
record data search. Based on the results obtained, the average total cost of pediatric
typhoid fever patients who received cefixime were Rp. 2.546.912 while at cefotaxime were
of Rp. 2.594.693. Based on patient free fever time, the value of ACER Cefotaxime were
Rp. 1.179.406 per day of free of fever, while cefixime were Rp. 1.142.113 per dy of free of
fever with ICER value of Rp. 1.592.700 per day free of fever. For long patient care,
ACER cefotaxime value of Rp. 589.703 per day of care while cefixime of Rp. 585.497 per
day treated with ICER value of Rp. 955.620 per day addition of length of stay. So in
conclusion, cefixime is more cost effective than cefotaxime.

Keywords : Cost Effectiveness Analysis, Cefixime, Cefotaxime, Typhoid Fever, Pediatrics

ABSTRAK

Prevalensi tertinggi demam tifoid di Indonesia terjadi pada kelompok usia 5–14
tahun. Angka kematian demam tifoid di beberapa daerah adalah 2-5% pasien menjadi
karier asimptomatik, sehingga merupakan sumber infeksi baru bagi masyarakat
sekitarnya. Pengobatan menggunakan antibiotik merupakan obat demam tifoid yang
paling banyak digunakan, terkait dengan banyaknya kejadian infeksi bakteri yang diderita
oleh banyak orang. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan obat mana yang lebih
efektif antara Cefixime dan Cefotaxime pada pengobatan demam tifoid pediatrik di RSU
Pancaran Kasih GMIM Manado. Telah dilakukan penelitian Cost Effectiveness Analysis
menggunakan metode observasional deskriptif dengan rancangan cross sectional,
pengambilan data menggunakan pendekatan retrospektif melalui penelusuran data rekam
medik pasien. Berdasarkan hasil didapatkan total biaya rata-rata pasien demam tifoid
pediatrik yang mendapat cefixime sebesar Rp.2.546.912 sedangkan pada cefotaxime
sebesar Rp.2.594.693. berdasarkan waktu bebas demam pasien, nilai ACER cefotaxime
sebesar Rp.1.179.406 per hari bebas demam, sedangkan cefixime sebesar Rp. 1.142.113
per hari bebas demam dengan nilai ICER sebesar Rp. 1.592.700 per hari bebas demam.
Untuk lama rawat pasien, nilai ACER cefotaxime sebesar Rp. 589.703 per hari rawat
sedangkan cefixime sebesar Rp. 585.497 per hari rawat dengan nilai ICER sebesar Rp.

17
PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 7 No. 2 MEI 2018 ISSN 2302 - 2493

955.620 per hari penambahan lama rawat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, cefixime
lebih cost effective dibandingkan dengan cefotaxime.

Kata kunci : Analisis Efektivitas Biaya, Cefixime, Cefotaxime, Demam Tifoid, Pediatrik

18
PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 7 No. 2 MEI 2018 ISSN 2302 - 2493

PENDAHULUAN yang digunakan untuk pasien demam


tifoid yang dirawat inap di RSU
Demam tifoid merupakan GMIM Pancaran Kasih yaitu
suatu penyakit infeksi sistemik yang cefixime dan cefotaxime.
disebabkan oleh Salmonella typhi. Pengobatan menggunakan
Demam tifoid dijumpai secara luas di antibiotik merupakan obat yang
berbagai Negara berkembang yang paling banyak digunakan, terkait
terutama terletak di daerah tropis dan dengan banyaknya kejadian infeksi
subtropis. World Health bakteri yang diderita oleh banyak
Organization mengatakan bahwa, orang (Juwono, 2004). Sejalan
sekitar 500.000 kematian karena dengan itu antibiotik menjadi obat
penyakit tifoid dilaporkan setiap yang paling sering disalahgunakan
tahun secara global. atau digunakan secara irasional
Prevalensi tertinggi demam sehingga akan menimbulkan
tifoid di Indonesia terjadi pada kegagalan terapi dan berbagai
kelompok usia 5–14 tahun masalah seperti: ketidaksembuhan
(Riskesdas, 2007). Pada usia 5–14 penyakit, meningkatkan resiko efek
tahun merupakan usia anak dimana samping obat, resistensi, supra
kurang memperhatikan kebersihan infeksi, dan biaya (Sastramihardja,
diri dan kebiasaan jajan yang 2001).
sembarangan sehingga dapat World Health Organization
menyebabkan tertular penyakit (2003) mengungkapkan biaya
demam tifoid. Pada anak usia 0–1 pengobatan demam tifoid tergolong
tahun prevalensinya lebih rendah tinggi. Penggunaan antibiotik dengan
dibandingkan dengan kelompok usia biaya yang relatif tinggi belum tentu
lainnya dikarenakan kelompok usia bisa menjamin efektifitas perawatan
ini cenderung mengkonsumsi pasien. Demam tifoid merupakan
makanan yang berasal dari rumah penyakit yang memerlukan
yang memiliki tingkat kebersihannya pengobatan serius sehingga penderita
yang cukup baik dibandingkan demam tifoid lebih memilih untuk
dengan yang dijual di tempat – berobat ke rumah sakit. Oleh karena
tempat yang memiliki kualitas yang itu perlu dilakukan penelitian untuk
kurang baik (Nurvina, 2013). mengetahui gambaran penggunaan
Berdasarkan hasil survei di antibiotik serta biayanya pada pasien
RSU Pancaran Kasih GMIM demam tifoid pediatrik di rumah
Manado, Data pasien demam tifoid sakit.
pediatrik yang dirawat inap Keterbatasan sumber daya
sepanjang Juni 2015 – Februari 2017 yang tersedia dalam memberikan
yaitu sebanyak 130 pasien. Dari 130 pelayanan kesehatan, dan dari sudut
pasien yang dirawat inap di ruangan pandang pasien dimana kebutuhan
Ester yaitu terdapat 52 pasien yang pasien adalah biaya yang seminimal
memenuhi kriteria inklusi. Antibiotik mungkin, maka farmakoekonomi

19
PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 7 No. 2 MEI 2018 ISSN 2302 - 2493

dimanfaatkan dalam membantu menggunakan antibiotik cefixime dan


membuat keputusan dan menentukan cefotaxime yang rawat inap di RSU
pilihan atas alternatif – alternatif Pancaran Kasih GMIM Manado.
pengobatan agar pelayanan
kesehatan menjadi lebih efisien dan Sampel
ekonomis (Trisna, 2008). Untuk Sampel yang diambil harus memiliki
mencapai tujuan tersebut dapat Kriteria sebagai berikut :
dilakukan dengan analisis ekonomi Kriteria Inklusi :
kesehatan yang disebut analisis biaya 1. Pasien demam tifoid pediatrik
hasil atau analisis efektivitas biaya umur 0 – 13 tahun yang dirawat
(Bootman, 1996). inap di ruangan Ester RSU
Pancaran Kasih GMIM Manado.
METODOLOGI PENELITIAN 2. Pasien demam tifoid pediatrik
tanpa penyakit penyerta
Tempat dan Waktu Penelitian 3. Pasien yang mendapat antibiotik
Penelitian ini dilakukan di cefixime dan cefotaxime
RSU Pancaran Kasih GMIM 4. Data status pasien yang lengkap
Manado dan waktu penelitian Kriteria Eksklusi :
dimulai pada Desember 2016 – 1. Pasien demam tifoid pediatrik
November 2017. umur > 13 tahun yang
dipindahkan ke unit lain
2. Pasien demam tifoid pediatrik
Jenis dan Rancangan Penelitian meninggal dunia
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang Pengambilan Data
digunakan dalam penelitian ini yaitu Pengambilan data dilakukan
penelitian observasional yang melalui penelusuran rekam medik
bersifat deskriptif dengan pendekatan pasien dan catatan keuangan pasien
retrospektif. demam tifoid, yang kemudian dicatat
ke dalam lembar pengumpulan data
Rancangan Penelitian yang disiapkan peneliti.
Penelitian ini menggunakan
rancangan cross sectional yaitu,
Alur Penelitian
mengamati status paparan, penyakit, Surat permohonan perizinan
atau terkait karakteristik kesehatan penelitian di masukkan pada kantor
lainnya. RSU Pancaran Kasih GMIM
Manado, kemudian diberikan izin
Populasi dan Sampel Penelitian untuk mengambil data pada rekam
Populasi medik dan hasil pemeriksaan
Populasi dalam penelitian ini laboratorium. Pengambilan data pada
ialah pasien pediatric yang menderita rekam medik, harus mengambil
penyakit Demam Tifoid dan nomor rekam medik yang telah

20
PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 7 No. 2 MEI 2018 ISSN 2302 - 2493

tercatat pada ruang Ester kemudian


dilihat rincian biaya pasien yang
terdapat dalam data rekam medic
pasien.

Analisis Data

Analisis data pada penelitian ini


HASIL DAN PEMBAHASAN
menggunakan metode ACER dan
ICER. Karakteristik Pasien
Tabel.1 Karakteristik Pasien berdasarkan Umur

Karakteristik Cefixime Cefotaxime Total


Pasien
Umur (Tahun)
0–5 4 9 13
5 – 11 19 15 34
12 -13 3 2 5
26 26 52

Tabel 2. Karakteristik Pasien berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Cefixime Cefotaxime Total


Laki – laki 12 13 25
Perempuan 14 13 27
26 26 52

Waktu Bebas Demam dari hasil tersebut dapat dilihat lama


Rerata waktu bebas demam rawat pasien terbanyak memiliki
pasien yang menggunakan cefixime selisih 1 hari lebih cepat untuk
lebih lama yaitu 2.23 hari pasien yang menggunakan
dibandingkan dengan pasien yang cefotaxime dibandingkan dengan
menggunakan cefotaxime dengan pasien yang menggunakan cefixime.
rerata waktu 2.19 hari.
Biaya Medik Langsung
Lama Rawat Pasien Rata – rata total biaya pasien
Lama rawat pasien yang yang menggunakan cefixime lebih
paling banyak yaitu pasien yang murah yaitu Rp. 2.546.912
menggunakan cefotaxime dengan dibandingkan dengan pasien yang
jumlah pasien 15 orang lama rawat 4 menggunakan cefotaxime yaitu Rp.
hari. sedangkan pasien yang 2. 596.975. Dapat dilihat bahwa
menggunakan cefixime, paling terdapat selisih Rp.50.063 antara
banyak lama rawat 5 hari dengan cefotaxime dan cefixime, dimana
jumlah pasien 7 orang dari 26 pasien, cefixime lebih murah dibandingkan

21
PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 7 No. 2 MEI 2018 ISSN 2302 - 2493

cefotaxime dilihat dari total direct Suatu obat dikatakan cost


medical cost yang berarti cefixime effective apabila nilai ACER suatu
lebih cost effective daripada obat dari kedua obat yang
cefotaxime. dibandingkan adalah yang paling
rendah dari obat yang dibandingkan.
Perhitungan Efektivitas Biaya Hasil perhitungan ACER dapat
berdasarkan ACER dan ICER dilihat pada tabel 8 berikut.

Tabel 2. Hasil Perhitungan ACER Waktu Bebas Demam dan Lama Rawat Pasien
Demam Tifoid yang mendapatkan Cefixime dan Cefotaxime

Biaya dan Outcome Cefixime Cefotaxime


1. Rata – rata Direct Rp. 2.546.912 Rp. 2. 596.975
medical cost pasien
2. Rata – rata waktu 2.23 hari 2.19 hari
bebas demam pasien
3. Rata – rata lama 4.35 hari 4.38 hari
rawat pasien
ACER waktu bebas demam Rp. 1.142.113 per hari Rp. 1.185.833 per hari
bebas demam bebas demam
ACER Lama rawat Rp. 585.497 per hari Rp. 592.917 per hari lama
lama rawat rawat

Pada penelitian ini, nilai outcome. Hasil perhitungan ICER


ICER menunjukkan penambahan dari Cefixime dan Cefotaxime dapat
biaya untuk menghasilkan satu unit dilihat pada Tabel 3 berikut.

Tabel 3. Hasil Perhitungan ICER Waktu Bebas Demam dan Lama Rawat Pasien
Demam Tifoid yang mendapatkan Cefixime dan Cefotaxime

Outcome Cefixime – cefotaxime


ICER waktu bebas demam Rp. – 1.251.575 per hari bebas demam
ICER lama rawat Rp. 1.668.767 per hari rawat

Cost Effectiveness Analysis Karena cefotaxime memiliki


efektivitas biaya yang tinggi
Berdasarkkan hasil nilai dibandingkan dengan cefixime, maka
ACER untuk kedua outcome klinis perlu untuk dilakukan perhitungan
baik lama rawat pasien dan waktu rasio inkremental efektivitas biaya
bebas demam, maka cefixime lebih (Incremental Cost-Effectiveness
cost-effective dibandingkan dengan Ratio/ ICER) untuk menentukan
cefotaxime karena nilai ACER posisi alternatif terapi untuk
cefixime lebih rendah dibandingkan pengobatan tifoid. ICER digunakan
dengan nilai ACER cefotaxime. untuk mendeterminasi biaya

22
PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 7 No. 2 MEI 2018 ISSN 2302 - 2493

tambahan untuk setiap pertambahan Salmonella. Medicastore.


efektivitas dari suatu terapi. Nilai Jakarta.
ICER tersebut memperlihatkan
bahwa adanya tambahan biaya yang Adiningsih, Roro Utami. 2011.
diperlukan jika akan dilakukan Faktor-faktor yang
perpindahan terapi dari cefixime ke Berhubungan dengan Kejadian
cefotaxime. Bilakah rumah sakit DM tipe II pada Orang
menginginkan peningkatan Dewasa di Kota Padang
efektivitas penyembuhan demam Panjang. [Skripsi]. Padang:
tifoid per pasien dengan Kesehatan Masyarakat
menggunakan cefotaxime, maka Universitas Andalas Padang.
rumah sakit harus mengeluarkan
biaya sebesar Rp. 1.251.575 per hari Andayani, Tri Murti. 2013.
bebas demam dan Rp. 1.668.767 per Farmakoekonomi Prinsip dan
hari lama rawat. Metodologi. BursaIlmu.
Yogyakarta.
KESIMPULAN
Antibiotik yang lebih cost – Anonim. 2011. Standar
effective antara cefixime dan Antropometri Penilaian Status
cefotaxime dilihat dari nilai ACER Gizi Anak. Direktorat Bina
cefixime berdasarkan outcome waktu Gizi. Jakarta.
bebas demam yaitu Rp. 1.142.113 Anonim. 2011. Laporan Akhir Riset
dan berdasarkan outcome lama rawat Fasilitas Kesehatan tahun.
yaitu Rp. 585.497 sedangkan ACER Badan Litbangkes. Jakarta.
cefotaxime berdasarkan outcome
waktu bebas demam yaitu Rp. Bahn MK, Bahl R, Bhatnagar S.
1.185.833 dan berdasarkan outcome 2005. Typhoid and paratyphoid
lama rawat yaitu Rp. 592.917 fever. J Indian Assoc Pediatr
sehingga cefixime lebih cost – Surg 10 : 80-85.
effective dibandingkan cefotaxime
BNF. 2007. British National
karena nilai ACER cefixime lebih
Formulary 54th Edition. BMJ
rendah daripada cefotaxime dan
Publishing Group. London.
untuk nilai ICER berdasarkan
outcome waktu bebas demam yaitu Bootman, J. L., Towsend, R. J. &
Rp. 1.251.575 per hari bebas demam McGhan W. F., 1996.
dan berdasarkan outcome lama rawat Principles of
yaitu Rp. 1.668.767 per hari rawat. Pharmacoeconomics, 3rd
Edition, Harvey Whitney
DAFTAR PUSTAKA Bosoks Company. USA.

Algerina, A. 2008. Demam Tifoid Chin J. 2000. Control Of


dan lnfeksi Lain dari Bakteri Communicable Disease

23
PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 7 No. 2 MEI 2018 ISSN 2302 - 2493

Manual. 17 ed. American Ircham Machfoedz, 2004. Menjaga


Public Health Association. Kesehatan Rumah dari
Berkeley. USA. Berbagai Penyakit. Fitramaya.
Yogyakarta.
Darmowandowo W.2006. Demam
Tifoid : Buku Ajar Ilmu Jawetz, Melnick dan Adelbergs,
Kesehatan Anak : Infeksi & 2005. Mikrobiologi
Penyakit Tropis, edisi 1. Kedokteran, Terjemahan oleh
Jakarta. Bagian Mikrobiologi Fakultas
Ilmu Kedokteran Universitas
David Ovedoff, 2002. Kapita Selekta Airlangga. Salemba Medika.
Kedokteran. Binarupa Aksara. Jakarta.
Jakarta Barat.
James Chin, 2000. Manual
Depkes RI. 2005. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit
Pemberantasan Demam Menular. C.V Info Medika.
Berdarah Dengue di Indonesia. Jakarta.
Jakarta: Dirjen PP& PL.
Juli Soemirat. 2002. Epidemiologi
Hadisaputro, S. 1990. Beberasssspa Lingkungan. Gajahmada
faktor yang memberi pengaruh University Press. Yogyakarta.
terhadap kejadian perdarahan
dan atau perforasi usus pada Juwono, R., Prayitno, A. 2003.
demam tifoid. Direktorat Terapi Antibiotik. Dalam :
Pembinaan Penelitian pada Farmasi Klinik, Ed Aslam PT.
Masyarakat Departemen Elex Media Komputindo
Pendidikan dan Kebudayaan. Kelompok Gramedia. Jakarta.
No 1: 1-8. Jakarta.

Hardinge, Mervyn. 2002, Kiat Kee, J.L. dan Hayes, E.R.,1996,


Keluarga Sehat Mencapai Farmakologi Pendekatan
Hidup Prima dan Bugar. Proses Keperawatan. Penerbit
Terjemahan oleh J.F Buku Kedokteran, Jakarta.
Manullang. Indonesia
Publishing House. Bandung. Kemenkes. 2006. Pedoman
Pengendalian Demam Tifoid.
Hossain, S.Z., Khan, R.F., Barua, Menteri Kesehatan Republik
U.K., dan Sobhan, M.J., 2011. Indonesia. Jakarta.
Treatment Pattern of Acute
Respiratory Tract Infection In Kementerian Kesehatan RI. 2013.
General Practice with 3rd Pedoman Penerapan Kajian
Generation Oral Cefixime in Farmakoekonomi. Direktorat
Bangladesh. Bangladesh Bina Kefarmasian Dan Alat
Medical Journal, 40: 39–42. Kesehatan. Jakarta.

24
PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 7 No. 2 MEI 2018 ISSN 2302 - 2493

Laksono Trisnantoro. 2005. Aspek Kelima. Penerbit Erlangga.


Strategis Manajemen Rumah Jakarta.
Sakit, Antara Misi Sosial dan
Tekanan Pasar. Andi Offset : Nelwan, R.H.H. 2012. Tata Laksana
1-359. Yogyakarta. Terkini Demam Tifoid. Divisi
Penyakit Tropik dan Infeksi
Mansjoer, A., Suprohaita, Wardhani, Departemen Ilmu Penyakit
W. I., dan Setiowulan, W. Dalam. FKUI/RSCM.
2000. Kapita Selekta Jakarta.
Kedokteran Jilid I Edisi
Ketiga. Media Aesculapius. Ngastiyah.1997. Perawatan Anak
FKUI. Jakarta. Sakit. EGC. Jakarta.

Hadinegoro, S.R.S. 2001. Uji klinis Nurmainah. 2017. Efektivitas Biaya


non-komparatif Pengobatan Penggunaan Ampisilin dan
Cefixime terhadap Demam Sefotaksim Pada Pasien Anak
Tifoid anak di Bagian Ilmu Demam Tifoid. [Skripsi].
Kesehatan Anak FKUI-RSCM Program Studi Farmasi
Jakarta, sejak Mei 1999 – Universitas Tanjungpura
Januari 2000. Subbagian Pontianak
Infeksi dan Penyakit Tropis, Nur Nasry Noor, 2006. Pengantar
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Epidemiologi Penyakit
FKUI-RSCM. Jakarta Menular. Rineka Cipta.
Jakarta.
Herawati, M.H. Ghany, L. 2009. Nurvina Wahyu Artanti. 2013.
Hubungan Faktor Determinan Hubungan Antara Sanitasi
dengan Kejadian Tifoid di Lingkungan, Higiene
Indonesia tahun 2007. Media Perorangan dan Karakteristik
Penelitian dan Pengembangan Individu Dengan Kejadian
Kesehatan. Jakarta. Demam Tifoid Di Wilayah
Mycek, 2001. Farmakologi Ulasan Kerja Puskesmas
Bergambar. Jakarta : Widya Kedungmundu Kota
Medika. Hal. 304, 307-309, Semarang Tahun 2012.
318, 328-329. [Skripsi]. Universitas Negeri
Nasrudin. 2007. Manajemen Semarang.
Pembelajaran. Sukses Offset.
Yogyakarta. Orion. 1997 . Pharmacoeconomics
Primer and Guide
Introduction to Economic
Neal, M.J. 2006. At a Glance Evaluation. Hoesch Marion
Farmakologi Medis Edisi Rousell Incorporation.
Virginia.

25
PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 7 No. 2 MEI 2018 ISSN 2302 - 2493

Priyanto, 2009, Farmakoterapi dan & Pediatri Tropis. Ikatan


Terminologi Medis, Leskonf. Depok. Dokter Anak Indonesia.
Jakarta.
Rascati, K.I., Drammond, M.F.,
Annemans, I., and Davey, Spilker, B. 1996. Quality of Life and
P.G., 2004. Education In Pharmacoeconomics in
Pharmacoeconomics: an Clinical Trials, 2nd edition.
International Multidiciplinary Lippincott-Raven Publisher.
View (Review). Pharmaco- Philadelphia.
Economics 2004; 22: 139-47.
Stringer, J. L. (2006). Basic
Ringo-Ringo PH. 1996. Pola Concepts in Pharmacology.
resistensi antibiotik pada McGraw Hill. New York
penderita demam tifoid anak
di Bagian Ilmu Kesehatan Susono, R.F. (2014). Cost
Anak FKUI.RSCM Jakarta Effectiveness Analysis
Tahun 1990-1994. [Tesis]. Pengobatan Pasien Demam
Program Studi ilmu Tifoid Pediatrik
Kesehatan Anak Fakultas menggunakan Cefotaxime
Kedokteran Universitas dan Chloramphenicol di
Indonesia, Jakarta. Instalasi Rawat Inap RSUD
Prof. DR. Margono Soekarjo.
Riset Kesehatan Dasar. 2007. Badan [Skripsi]. Fakultas Farmasi
Penelitian dan Pengembangan Universitas Muhammadiyah
Kesehatan, Departemen Purwokerto.
Kesehatan, Republik
Indonesia. Jakarta. Tjay, Tan Hoan dan Kirana
Rahardja, 2007. Obat-Obat
Sastramihardja, H.S. 2001. Redefinisi Penting Khasiat Penggunaan
Peran Apoteker Rumah Sakit. dan Efek-Efek Sampingnya
Prosiding Forum Temu Edisi Keenam. PT. Elex
Ilmiah Nasional Farmasi Media Komputindo. Jakarta.
Rumah Sakit. Jurusan
Farmasi Fakultas MIPA ITB. Tjiptoherijanto P. and Soesetyo, B.
Bandung. 1994. Ekonomi Kesehatan.
Rineka Cipta. Jakarta.
Soedarmo, S.S.P., Garna, H. &
Hadinegoro, S.R., 2002. Buku Trisna, Y. 2008. Aplikasi
Ajar Ilmu Kesehatan Anak : Farmakoekonomi. Materi
Infeksi &Penyakit Tropis, Perkembangan Farmasi
Edisi I. IDAI. Jakarta. Nasional. Ikatan Apoteker
Indonesia. Jakarta.
Soedarmo SSP, Herry G, Sri Rezeki
SH. 2008. Buku Ajar Infeksi Vogenberg, FR. 2001. Introduction
To Applied

26
PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 7 No. 2 MEI 2018 ISSN 2302 - 2493

Pharmacoeconomics. Editor: Biologicals. Geneva.Widodo,


Zollo S. McGraw-Hill DJ. 2006. Buku Ajar Ilmu
Companies. USA. Penyakit Dalam Jilid III Edisi
IV. FKUI. Jakarta.
World Health Organization. 2003.
The diagnosis, treatment and
prevention of typhoid fever.
Department of Vaccines and

27