You are on page 1of 5

Artikel Keistimewaan Yogyakarta

Berdasarkan :
• UU no 82 th 2004 tentang pemda
• UUD 1945 pasal 18
• Referensi hukum lainnya

Landasan hukum keistimewaan Yogyakarta, tertuang dalam Piagam yang


ditandatangani Presiden Soekarno pada 19 Agustus 1945. Sekalipun ditandatangani
tanggal 19 Agustus 1945, namun piagam tersebut diserahkan kepada Sri Sultan HB IX,
setelah Sultan Yogyakarta membacakan amanat 5 September 1945.
Untuk menguatkan landasan hukum tersebut, pemerintah kemudian mengeluarkan
UU no 22 Tahun 1948 yang secara jelas mengukuhkan bahwa Yogyakarta adalah suatu
daerah istimewa. Keistimewaan itu tertuang dalam pasal 18 ayat 5 yang berbunyi; Kepala
Daerah Istimewa diangkat oleh Presiden dari keturunan keluarga yang berkuasa di daerah
itu di zaman sebelum Republik Indonesia dan yang masih menguasai daerahnya, dengan
syarat-syarat kecakapan, kejujuran dan kesetian dan dengan mengingat adat istiadat di
daerah itu.
Selain itu keistimewaan bagi Yogyakarta, juga dikarenakan Yogyakarta dianggap
sebagai daerah setingkat provinsi, tetapi bukan suatu provinsi dan tidak pula sebagai
suatu bentuk monarki konstitusional.
UU pemerintahan daerah yang berlaku selanjutnya mengacu pada ketentuan UU
No 22/1948, termasuk UU No. 3/1950 Tentang Pembentukan Daerah Istimewa
Yogyakarta dan UU No.19/1950 tentang perubahan UU No. 3/1950.
Sampai di sini, Pemerintah Pusat masih teguh memegang komitmennya terhadap
keistimewaan Yogyakarta. Daerah Istimewa tetap pada statusnya sebagai daerah
setingkat Provinsi, dengan segala keistimewaan yang melekat padanya, termasuk
kedudukan Kepala Daerahnya.
Gejala diabaikannya keistimewaan Yogyakarta, sebenarnya telah tampak sejak
tahun 1988, seiring dengan mangkatnya Sri Sultan HB IX. Pada saat itu pemerintah pusat
menetapkan Paku Alam VIII yang saat itu menjabat sebagai Wakil Gubernur, untuk
menjadi Gubernur DIY menggantikan Sri Sultan HB IX.
Secara jelas ini menunjukkan bahwa pemerintah pusat sebenarnya tidak berkenan, andai
jabatan Gubernur DIY secara otomatis dijadikan sebagai jabatan turun temurun bagi Raja
Kasultanan Yogyakarta.
Fakta kedua terjadi pada 1998 ketika Paku Alam VIII mangkat. Pada waktu itu
posisi Gubernur DIY dibiarkan kosong untuk beberapa saat, karena pemerintah pusat
belum mempunyai formulasi tentang tata cara suksesinya. Baru setelah rakyat
Yogyakarta mengepung dan mendesak DPRD Provinsi DIY, maka Sri Sultan HB X
diusulkan untuk mendapat penetapan sebagai Gubernur. Pemerintah pusat akhirnya
menetapkan Sri Sultan HB X sebagai Gubernur DIY untuk periode 1998 – 2003.
Namun, persoalan ini terus bergulir dan jadi masalah laten yang selalu meletup di tiap
penghujung masa jabatan Sultan HB X sebagai Gubernur. Tahun 2003 dan 2008, masalah
yang sama muncul lagi. Rakyat mengepung dan mendesak DPRD Provinsi DIY untuk
menetapkan Sultan HB X sebagai Gubernur DIY. Dan sekarang persoalan ini muncul
lagi, dan makin meruncing karena pernyataan Presiden SBY beberapa waktu lalu.
Wacana politik modern selalu mengagungkan bahwa sistem demokrasi
merupakan sistem politik terbaik untuk mengatur masyarakat. Di mana melalui
demokrasi, setiap rakyat yang memenuhi syarat memiliki hak yang sama secara politik,
yakni hak untuk memerintah.
Dengan sendirinya, konsep demokrasi telah mengubur anggapan bahwa yang
berhak untuk memerintah hanyalah raja dan kerabatnya. Sementara pada lain sisi telah
menerbitkan harapan bagi rakyat untuk juga dapat memerintah.
Keberadaan sistem demokrasi pada akhirnya berhasil menggusur kekuasaan monarki
berbagai kerajaan di dunia. Dan mulailah era kaum politisi, militer, intelektual, dan
pengusaha untuk berkuasa dan memerintah.
Namun demikian, suatu sistem politik yang baik adalah sistem yang bisa diterima
oleh masyarakatnya. Begitu juga dengan yang terjadi di Yogyakarta. Selama ini rakyat
tidak pernah mempersoalkan posisi Sultan HB X sebagai Gubernur.
Bahkan dalam anggapan mereka; siapapun yang menjadi Sultan dia jugalah yang
otomatis menjabat sebagai Gubernur DIY. Itulah kebenaran politik yang diyakini oleh
sebagian besar rakyat Yogyakarta.
Sekalipun Sultan HB X adalah seorang raja, bukan berarti pemerintahan di DIY
dijalankan dengan sistem monarki. Sebab perangkat birokrasi yang ada di Yogyakarta,
bukanlah diisi oleh kaum bangsawan dan kerabat istana. Tetapi diisi oleh masyarakat
yang direkrut secara terbuka. Begitu juga dengan posisi kepala daerah yang tidak
diduduki secara otomatis oleh para Pengeran Adipati.

Sedangkan menurut uu no 32 th 2004 tentang pemerintahan daerah yang berbunyi :


bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan amanat
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pemerintahan daerah,
yang mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan
tugas pembantuan, diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat
melalui peningkatan, pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta
peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan,
keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan
Republik Indonesia.

sehingga berdasarkan pertimbangan pada poin diatas perlu ditetapkan Undang-Undang


tentang Pemerintahan Daerah.

Dan juga bunyi pasal 225

Pasal 225
Daerah-daerah yang memiliki status istimewa dan diberikan otonomi khusus selain diatur
dengan Undang-Undang ini diberlakukan pula ketentuan khusus yang diatur dalam undang-
undang lain.

Pasal 226
(1) Ketentuan dalam Undang-Undang ini berlaku bagi Provinsi Daerah Khusus Ibukota
Jakarta, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Provinsi Papua, dan Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta sepanjang tidak diatur secara khusus dalam Undang-Undang
tersendiri.
(2) Keistimewaan untuk Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, adalah tetap dengan ketentuan bahwa
penyelenggaraan pemerintahan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta didasarkan pada
Undang-Undang ini.
Keistimewaan untuk Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, adalah tetap dengan ketentuan bahwa penyelenggaraan
pemerintahan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta didasarkan pada Undang-Undang ini.
Sedangkan uu no 22 thn 1999 sendiri berbunyi :

Pengakuan keistimewaan Propinsi istimewa Yogyakarta didasarkan pada asal-usul dan


peranannya dalam sejarah perjuangan nasional, sedangkan isi keistimewaannya adalah
Pengangkatan Gubernur dengan mempertimbangkan calon dari keturunan Sultan
yogyakarta dan Wakil Gubernur dengan mempertimbangkan calon dari keturunan
Paku Alam yang memenuhi syarat sesuai dengan undang-undang ini.

Kesimpulan :

1. Berdasarkan hal hal yang telah tertera diatas, saya rasa keistimewaan yogyakarta
tidak perlu dipermasalahkan lagi terutama menyangkut pemilihan kepala
daerahnya yang selama ini berdasarkan penetapan

2. Mengenai prinsip demokrasi menurut saya posisi sultan sebagai kepala daerah
sudah sangat demokrasi karena selama ini masyarakat yogyakarta tidak pernah
mempermasalahkannya, dan ini sesuai dengan prinsip demokrasi yang
berdasarkan prinsip suara rakyat..

3. Para elit politik di pusat tidak seharusnya memunculkan wacana yang


menyebabkan polemik polemik yang tidak perlu yang dapat mengakibatkan
terjadinya disentegrasi atau perpecahan di masyarakat yang berdampak bagi
stabilitas nasional.

4. Jikalau di masa yang akan datang masyarakat yogyakarta ternyata tidak


menginginkan lagi sultan sebagai gubernur atau dari pihak kraton sendiri
menyatakan ketidaksediaannya untuk menjadi gubernur baru pemerintah pusat
bertindak dengan mengeluarkan peraturan barulah dengan tujuan mengakomodir
keinginan masyarakat dengan mengedepankan aspek demokrasi dan
memperhatikan stabilitas nasional