Вы находитесь на странице: 1из 18

Jurnal Poetika Vol. I No.

2, Desember 2013

KRITIK SASTRA PUITIKA KULTURAL STEPHEN GREENBLATT:


METODE DAN PRAKTIK ANALISIS

Moh. Fathoni
Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
Email: fath_email@yahoo.co.id

Abstrak
Sebagai eksponen new historisisme, Greenblatt menggagas puitika kultural dalam kritik sastra.
Pemikiran Greenblatt yang luas dan ekletik dari berbagai ranah disiplin dan mengadopsi teori pemikir
lain memperkuat praktik dalam menganalisis teks sastra. Sementara tulisan-tulisan Greenblatt yang
berupa analisis teks sastra tidak secara baku merumuskan teori dan metode praksisnya. Hal ini pada
sisi lain memungkinkan bagi siapapun memformulasikan teori dan metode untuk analisis sesuai dengan
kritik sastra yang dilakukannya. Tulisan ini berupaya merumuskan kritik sastra puitika kultural Stephen
Greenblatt dengan berusaha menelusuri dan memahami praktik analisisnya melalui karya- karyanya.
Perumusan gagasan Greenblatt tersebut dilakukan dengan mengidentifikasi beberapa buku yang menjadi
karya utamanya dalam praktik analisis teks sastra, yang antara lain Renaissance Self-Fashioning: From More to
Shakespeare (1980), Shakespearean Negotiations: The Circulation of Social Energy in Renaissance England (1988),
dan Marvelous Possessions: The Wonder of the New World (1991).
Kata Kunci: new historisisme, greenblatt, puitika
Abstract
As an exponent of new historicism, Greenblatt initiated cultural poetic in literary criticism . The broad and eclectic
of Greenblatt‘s thought in various disciplines and also what he had adopted from other thinkers‘ theory strengthen in
practising literary texts analysis, while Greenblatt ‘s writings about literary texts analysis were not formulated in the form
of theories and praxis methods. In the other hand, it makes possible for anyone to formulate theories and methods for
analysis according to literary criticism does. This paper describes a poetic culture literary critic of Stephen Greenblatt by
trying to explore and understand the world through the analysis of his works. The formulation of Greenblatt‘s thought
was proccesed by identifying some of his major books in the practice of literary text analysis, such as Renaissance Self
- Fashioning: From More to Shakespeare (1980), Shakespearean Negotiations: The Circulation of Social Energy in
Renaissance England (1988), and Marvelous possessions: The Wonder of the New World (1991).
Keywords:new historicism, Greenblatt, poetic

Pendahuluan Brannigan atau Claire Colebrook (1998) dan


Stephen Greenblatt merupakan salah A. E. B. Coldiron (2001: 97). Atau, kemudian
satu eksponen dari gerakan new historicism, pengembangan yang cukup beragam, seperti
sebuah gerakan yang menolak aliran new Chung-Hsiung Lai, Jane Marcus dan Judith
criticism, formalisme, dan sekaligus historisisme Lowder Newton dalam feminism (Marcus, 1989:
lama di Amerika. Sebagai pelopor gerakan, 132); Donald Pease dalam postcolonial (1991:
Greenblatt baru secara terang memperkenalkan 108); Jan R. Veenstra melalui hermeneutika
new historisisme pada 1982. New historisisme (1995: 174-198), dan lainnya.
Greenblatt mencakup beragam pandangan Tulisan-tulisan Greenblatt yang tersebar
dengan mengadopsi berbagai pandangan pemikir di berbagai jurnal dan di dalam buku lebih
lain, beberapa diantaranya seperti Foucault, mengedepankan praktik analisis daripada teori.
Jameson, Geertz, Williams, Lyotard, Derrida, Dari buku-buku yang secara ketat menguraikan
dan lainnya. Keluasan dan keragaman tersebut praktik analisis karya sastra kemudian oleh para
membuat pemikirannya sulit dirumuskan pengikut new historisisme dijadikan sebagai
seperti yang tampak dalam perbedaan pendapat contoh model kritik sastranya. Dalam hal ini
dan tanggapan Alan Liu (1989: 721), John Greenblatt menyatakan bahwa ia memang ingin

151
Jurnal Poetika Vol. I No. 2, Desember 2013

menunjukkan dan mendahulukan praktik dari formalisme di Yale University, antara lain
pada konsep teoretiknya. Bahkan diakuinya Stanley Fish dan Harold Bloom. Fish dengan
bahwa new historisisme tidak pernah dirumuskan gagasan affective fallacy dimana makna bukan
sebagai suatu proposisi teoretik yang sudah pada puisi tetapi pada pembaca, sedangkan
selesai (Greenbalt, 2000: 1). Bloom dengan intentional fallacy yang fokus pada
Di Indonesia, new historisisme sudah pengarang dan perjuangan psikisnya melawan
digunakan oleh para akademisi. Beberapa di para pendahulunya. Sementara Greenblatt
antaranya oleh Taum, Asep Samboja, Nurhadi, memfokuskan perhatiannya pada keadaan
Melani Budianta, dan Bambang Purwanto dengan historis dan biografis yang melingkupi karya
memilih penekanan tertentu dari gagasan besar sastra.
new historisisme, tetapi kurang memberikan Ketika di Cambridge, khususnya dari
perhatian pada pemikiran khas Greenblatt: Raymond Williams, Greenblatt mempelajari
puitika kultural. Dengan beberapa alasan tersebut, aspek-aspek sosial dari sastra. Tetapi, Greenblatt
maka dalam tulisan ini akan memeriksa kembali tidak kemudian menjadi Marxis sebagaimana
buku-buku Stephen Greenblatt yang dijadikan Williams. Ia justru lebih banyak mengadopsi
acuan bagi praktik new historisisme beserta gagasan Michel Foucault dan antropologi
dasar pemikirannya. kultural Clifford Geertz.
Berdasarkan dari Discipline and Punish-
Stephen Greenblatt: Kehidupan dan Latar nya Foucault, Greenblatt memeriksa cara-cara
Pemikirannya masyarakat modern menggunakan kontrol
Latar kehidupan dan karier Greenblatt melalui disiplin, tekanan dengan yang subtil,
dapat ditemukan pada teks wawancara dengan daripada kekuasaan secara terang- terangan
Jeffrey J. William yang dimuat dalam “Critical secara fisik. Bermula dari Discipline and Punish
Self-Fashioning: An Interview with Stephen J. kemudian karya-karya Foucault lainnya, ia dan
Greenblatt,” Minnesota Review, 71-72 (2009), juga para pemikir new historisisme lainnya
dan dalam bab tentang Bibliografi Stephen mengembangkan gagasan tersebut.
Greenblatt edisi Norton Anthology of Theory and Gagasan Foucautldian yang mencolok,
Criticism (2010: 2146-50). misalnya, new historisisme mengikuti pandangan
Greenblatt lahir di Boston (1928). Ayahnya bahwa terdapat subversi dan pengurungan
seorang pengacara, dan Kakeknya adalah (containment) di dalam sistem masyarakat
imigran dari Lithuania. Ia mendapatkan B.A. modern. Sebagaimana yang tampak pada
dari Yale University pada tahun 1964 dan Ph.D praktiknya, subversi akan meruntuhkan disiplin
tahun 1969 dari universitas yang sama. Setelah atau ketertiban, tetapi perlawanan tersebut
itu, selama dua tahun ia ke Cambridge University akan memicu pembentukan kembali sistem
di London untuk mengikuti kuliah Raymond yang teratur. Protes terhadap ketidakadilan
Williams. Selain itu, ia mengembangkan minatnya pemerintah, misalnya. Tindakan protes tersebut
pada sastra masa Renaissans. Pada tahun 1969- menegaskan bahwa di bawah pemerintah
1997 ia mengajar di University of California. masyarakat memiliki kebebasan, tetapi juga
Kemudian ia pindah dan mengajar di Harvard pada sisi lain, protes justru memperkuat kontrol
University, kampus yang kemudian memberinya pemerintah yang lebih menyeluruh terhadap
gelar profesor humaniora. warga negaranya.
Semasa ia kuliah di Yale University Pada paruh pertama abad ke-20 pemikiran
mode kritik di Amerika didominasi oleh kritis Amerika didominasi oleh pandangan yang
New Kritisisme, demikian pula di kampusnya memberatkan pada kritik historis dan teori
khususnya dipengaruhi oleh Cleanth Brooks sastra. Beragam gagasan kritis didikotomi secara
dan William K. Wimsatt Jr. Beberapa mahasiswa ekstrem antara otonomi tekstual pada sastra di
yang mendapatkan keuntungan dari kritik satu sisi, dan di sisi lain tekstual pada sisi historis.

152
Jurnal Poetika Vol. I No. 2, Desember 2013

Kritisisme historis cenderung menganggap Selain itu, tampak jelas pula bahwa
bahwa suatu teks sebagai sesuatu transparan, Greenblatt mengikuti pandangan sejarah
yang segera menyediakan suatu pemahaman postrukturalisme yang memandang bahwa sejarah
terhadap realitas. Referensi tekstual terlihat jelas merupakan hasil konstruksi, bersifat tekstual,
sebagaimana dalam pandangan realisme. Pada hal dan memiliki kontradiksi di dalam dirinya (self-
lain, upaya untuk mendapatkan informasi makna contradictory). Dengan dasar demikian, Greenblatt
dipandang sebagai sebuah proses yang tidak mengkritik pemutusan teks dari konteks sosio-
terhalangi oleh apapun dan bersih oleh tugas historisnya. Dari beberapa buku utamanya,
interpretasi dari pembaca (dalam pengertian Greenblatt mengadopsi pemikiran antropologi,
subjektivitas). terutama Clifford Geertz. Darinya Greenblatt
Pada tahun 1980-an diskusi sastra di Amerika mengadopsi pandangan artefak kultural, dimana
didominasi oleh perdebatan- perdebatan teori budaya sebagai suatu teks beserta praktik dan
yang berlebihan, terutama perihal status bahasa, jalinan kultural dalam konteks sosiohistorisnya.
seperti para akademisi yang mempertanyakan Dalam hal ini, yang paling mencolok adalah
nilai referensial dan kewenangannya untuk analisisnya dalam merepresentasikan dinamika
membangun atau merusak makna. Penekanan kekuasaan dan gender pada masa renaissans.
perhatian dalam pembicaraan sastra tersebut Dalam konteks demikian, Brannigan
berakar dari pengaruh paradigma positivistik menyebut bahwa objek kajian Greenblatt
sebagaimana yang dilakukan oleh new kritisisme adalah bukan teks atau konteksnya, bukan sastra
yang mengisolasi teks dari lingkungan sekitarnya. atau sejarahnya, tetapi lebih pada sastra ‘dalam’
Kritik sastra seperti yang dipraktikkan new sejarah (1998: 3-6). Demikian dengan Montrose
kritisisme, dan formalisme, yang memperlakukan menyebut bahwa ‘tekstualitas sejarah dan
dan menghormati teks sebagai sesuatu entitas historisitas teks’ (Brannigan, 1998: 84). Maka,
yang otonom. Kritik tersebut berusaha objektif tekstualitas sejarah berarti mengasumsikan
dengan tujuan mengartikulasikan makna adanya perbedaan historis, sedangkan historisitas
dan tulisan dari suatu teks dalam pengertian teks mengacu pada pembacaan suatu teks.
sistem-bahasa intrinsik. Prinsip hati-hati dalam Dua pemikir utama yang paling
menganalisis suatu teks membuat mereka mempengaruhi Greenblatt adalah Michel
menghindari semua keterkaitan teks dengan Foucault dan Clifford Geertz. Melalui Foucault,
lingkungan di luar, kondisi konteks dimana teks Greenblatt menyerap gagasan tentang diskursus
berada diabaikan. Dampaknya, dunia pengarang, dan implikasinya dalam kritik atas kekuasaan
pembaca, dan keadaan sosial menjadi sesuatu dan sejarah. Dengan demikian, dari Foucault
yang terlarang, seperti close reading. kemudian Greenblatt memasuki analisis diskursus
Sebagaimana disebutkan di atas, dalam melalui pengarang dan sejarah yang melekat
perjalanan pemikirannya di Yale University padanya; dari Geertz, Greenblatt mendasarkan
Greenblatt memfokuskan perhatiannya pada praktik analisisnya dalam hal tekstulitas budaya
keadaan historis dan biografis yang melingkupi dan realitas simbolik. Sedangkan dari (post)
karya sastra. Ia memandang bahwa seni marxis seperti, utamanya Williams dan Jameson,
merupakan produk dari keadaan historis yang ia mengembangkan strategi dialektis dan
khas dan konvensi-konvensi tertentu. Konvensi metaforik dalam praktik kritisnya.
tersebut diantaranya adalah politik, sejarah,
budaya, atau diskursus yang melingkupinya, yang Pemikiran Greenblatt dalam Karya-
semuanya berjejalin satu sama lain, sebagaimana Karyanya
‘sebuah keseluruhan, jaringan berkabut dari Karya Greenblatt pertama sebenarnya
pembatasan dan pemberian-nama, mimpi dan bukan Renaissans Self-Fashioning: From More to
praktik-praktik yang menghubungkan kita pada Shakespeare (1980), tapi Three Modern Satirist:
dunia’. Waugh, Orwell, and Huxley (1965). Meski buku

153
Jurnal Poetika Vol. I No. 2, Desember 2013

pertama yang merupakan tesisnya tersebut bahwa “narasi dan identitas sosial dibentuk di
mengarah pada kajian pengarang dan konteks dalam budaya” (1980: 6).
historis, tapi belum mengarah pada konsepsi a Selang dua tahun kemudian, ia menerbitkan
poetic of culture dan new historisisme. Demikian artikel “The Power of the Forms in the English
juga pada buku keduanya, Sir Walter Ralegh: The Renaissance” dalam jurnal Genre (1982) yang
Renaissance Man and His Roles (1973). Buku tersebut secara terang-terangan mendeklarasikan ‘new
merupakan pengembangan dari disertasinya, historisisme’. Tahun 1985 bersama Raymond
dimana perhatian Greenblatt bergeser dari Williams, Alan Sinfield, Jonathan Dollimore,
konteks sejarah masa modern ke renaissans. dan pemikir materialisme kultural lainnya
Dalam buku keduanya ini ia menemukan dan menerbitkan Political Shakespeare. Buku tersebut
mempertanyakan terus- menerus persoalan menunjukkan kecenderungan dan kedekatan
kepengarangan yang dibentuk oleh persona pemikiran Greenblatt pada marxisme, selain
dalam historisitas yang melingkupinya. diakuinya Greenblatt dalam kajian renaissans
Pandangan tersebut terus dikembangkan dan Shakespeare.
sampai terbit buku ketiganya, Renaissans Self- Tulisan-tulisan Greenblatt pada tahun
Fashioning: From More to Shakespeare (1980) 1980an diterbikan oleh Genre, dan Representation
yang merupakan semacam deklarasi atas yang kemudian dianggap sebagai media yang
pemikirannya, sekaligus mengukuhkannya menjadi corong gerakan new historisisme.
sebagai kritikus sastra yang disegani. Buku Selain itu, artikel-artikel Greenblatt juga dimuat
ketiga Greenblatt tersebut melanjutkan apa yang ulang, diterjemahkan, dan dijadikan antologi
sudah diperiksanya pada buku-buku sebelumnya dalam beragam tema. Hal ini memungkinkan
dengan lebih rinci dan kuat. ketersebaran gagasan Greenblatt dalam dunia
Namun, Greenblatt tidak berhenti pada pemikiran dan ia dijadikan sebagai pemuka
pengarang dan relasinya dengan konteks dalam gerakan new historisisme.
historisnya, ia juga memperlakukan teks, Buku utama berikutnya ialah Shakespearean
pengarang, dan konteks historisnya dalam Negotiations: The Circulation of Social Energy
suatu jaringan pemaknaan. Pemaknaan suatu in Renaissance England (1988). Dalam buku
teks tidak terhindarkan dari perkara diskursus tersebut Greenblatt mengembangkan
yang kemudian beroperasikan kekuasaan dalam gagasan self-fashioning dengan penggunaan
mendominasi, mengontrol, dan membentuk pola-pola negosiasi dan pertukaran dalam
pengarang, teks, dan konteksnya. Tetapi, relasi relasi sosiohistoris. Buku ini disebut juga
tersebut tidak stabil atau bersifat deterministik. menunjukkan bahwa Greenblatt tidak sekedar
Dalam hal ini kritik sastra berupaya membaca mengadopsi konsep kekuasaan Foucault dan
dan memberikan makna dengan bernegosiasi kesadaran marxisme. Greenblatt menggunakan
dengan ketiganya secara dialektik dan tidak metafor ekonomi untuk menjembatani antara
terpisahkan. teks, pengarang, dan konteks. Keterhubungan
Hasil pengkajian tersebut di dalam tersebut diwujudkan dalam pola negosiasi dan
Renaissance Self-Fashioning, oleh Greenblatt disebut pertukaran barang- barang simbolik dan energi
dengan ‘a poetics of culture’(1980: 5) yakni dalam sosial dapat beroperasi.
rangka menemukan konsep utama self-fashioning. Bagi Greenblatt bahwa pengarang, teks,
Pengkajian tersebut dilakukan terhadap karya- pembaca, dan masyarakat bukan fenomena
karya More, Wyatt, Tyndale, Spencer, Marlowe, yang terpisah dan tidak mungkin dipisahkan,
dan Shakespeare. Greenblatt ingin membuktikan tetapi, semua itu berjalinan, menyusun dan
bahwa pada abad ke-16 tampak meningkatnya mengisi dalam suatu rangkaian diskursus.
kesadaran diri mengenai pembentukan (fashioning) Dengan mengungkapkan unsur politis dari teks
identitas manusia sebagai sesuatu yang dapat dan mempertegas eratnya keterikatan dengan
dimanipulasi” (1980: 2) sehingga dibuktikan lingkungan sosiohistoris, Greenblatt tidak

154
Jurnal Poetika Vol. I No. 2, Desember 2013

hanya memeriksa kesadaran subjek dan makna oleh dialektika kultural yang sama sebagai
teks pada periode historis tertentu, tetapi juga masyarakat luar. Menurutnya, sebuah teks juga
membuat pembaca menyadari bahwa masyarakat merefleksikan sandaran dialektika tersebut, atau
dan sejarah merupakan kekuatan utama dalam menempatkannya pada posisi yang berbeda yakni
produksi makna teks. suatu konteks sosiohistoris mengkondisikan
Tahun 1990 Greenblatt mengumpulkan representasi tekstual dan demikian juga suatu
beberapa artikelnya dan menerbitkannya dalam teks yang menginformasikan dan kadangkala
Learning to Curse: Essays in Early Modern Culture. sejajar dengan kondisi proses historis.
Di antaranya artikel yang dimuat adalah “Toward Dengan demikian, representasi merupakah
A Poetics of Culture” di dalamnya Greenblatt bagian dari kapital mimetis yang beredar di dalam
menyatakan bahwa new historisisme bukan suatu masyarakat tertentu dan memungkinkan
suatu doktrin yang baku dan definitif. Ia juga proses asimilasi. Dalam hal ini Greenblatt
berbeda pandangan dengan estetika marxisme, menekankan perhatiannya pada perbedaan
dan Jameson khususnya dalam The Political antara petities histories (sejarah kecil), sifat-dasar
Unconscious, yang menurut Greenblatt, Jameson fragmented (terpisah-pisah dan tidak lengkap)
membuka jarak antara yang privat dan publik, yang masih memberikan kesaksian akan shock
yang sosial dan psikologis, yang politik dan pertemuan dengan alteritas, dan sejarah besar
puitik. Bagi Greenblatt ia mengakui bahwa pentotalisasian dimana semua yang berbeda
pandangan estetika marxisme mengarah dari disatukan, diasimilasikan, dan direduksi pada
diferensiasi ke totalisasi. Hal yang tolak belakang kesamaan (sameness).
dengan post-strukturalisme, Lyotard dan Greenblatt lebih memihak sejarah kecil
Derrida khususnya. Greenblatt memposisikan (petities histories) yang menandakan panggung
dirinya di antara keduanya, tidak berhenti pertama dari proses asimilasi tersebut, sejak
pada salah satunya dan terus bergerak bolak- pengarang sangat berminat pada ketakjuban
balik di antara keduanya. Dengan demikian, dan keheranan pada penglihatan dunia baru
ia menyebutnya dengan pengertian sirkulasi dan orang-orang yang tidak dikenalinya. Proses
dan negosiasi. Hasilnya, ia menyatakan bahwa dialektika tersebut oleh Greenblatt dioperasikan
karya seni merupakan produk negosiasi antara oleh teks sebagaimana narasi-narasi secara
pengarang atau kelas pengarang yang kompleks kuat menentukan interpretasi, seperti yang ia
berjalinan, yang telah disajikan secara komunal tunjukkan dalam Travels-nya Mandeville dan
dalam suatu konvensi, oleh suatu institusi surat-suratnya Columbus. Sekali lagi, dalam buku
dan masyarakat yang melingkupinya dengan ini Greenblatt tetap menggunakan simbolik
berbagai praktik dan fenomena kultural, yang interpretatif Geertz.
dikonstruksi dan dimanipulasi. Demikian pada Pada 2000 Greenblatt kembali
akhirnya tidak ada karya seni yang benar-benar mengumpulkan dan menerbitkan artikel-
asli, mandiri, otonom atau otentik. Maka, suatu artikelnya dalam Practicing New Historicism
karya ditentukan oleh keberhasilan pengarang bersama dengan Catherine Gallagher. Diantara
dalam bernegosiasi untuk memunculkan suatu artikel yang terang memuat konsepsi pemikiran
makna. Greenblatt adalah artikel “The Touch of the Real”
Sedangkan di dalam buku utama yang sebelumnya dimuat oleh Jurnal Representation
berikutnya, Marvellous Possessions: The Wonder (1997:14-29). Dalam artikel tersebut Greenblatt
of the New World (1992), Greenblatt mengkaji kembali menyatakan bahwa antara tulisan sastra
teks-teks dengan menguraikan strategi-strategi dan antropologi adalah sama, yakni sebuah
kekuasaan yang diproduksi masa penaklukan teks yang dikonstruksi oleh imajinasi dan cerita
(imperial). Ia mencoba menunjukkan suatu (narasi) meski dalam penguraiannya Greenblatt
penguraian dan analisis yang cermat dengan tampak seperti retorik tapi menurutnya ia
menekankan bahwa suatu teks diinformasikan menggunakan cara anekdot dan parodi. Ia juga

155
Jurnal Poetika Vol. I No. 2, Desember 2013

menunjukkan kesamaan tersebut antara teks dan melemparkannya keluar.


Geertz (Interpretation of Culture) dengan Gustav Menurut Greenblatt, karya-karya
Faubert (Madame Bovary) dan Shakespeare. Shakespeare memuat pandangan skeptis terhadap
Dalam hal ini Greenblatt mengikuti diktum sistem monarki yang karismatik pada masa
terkenal Derrida: There is nothing outside the text. hidup. Misalnya dalam “Henry V”, Shakespeare
Berikutnya Greenblatt kembali menggambarkan seorang raja pejuang yang
menerbitkan artikel-artikelnya dalam buku karismatik. Pada satu sisi diungkapkan suatu
Hamlet in Purgatory (2002) dan Will in the World perayaan akan heroisme yang meriah. Di sisi
(2004). Dalam buku pertama Greenblatt sampai lain raja tersebut digambarkan memerintahkan
pada kesimpulan bahwa nama “Hamnet” tokoh pembunuhan massal orang-orang yang dipenjara,
Shakespeare berkaitan erat dengan nama seorang melanggar aturan-aturan perang, mengancam
anak laki-laki” Shakespeare yang meninggal pada akan memperkosa (cabul), bertindak dengan
usia 11 tahun, “Hamnet”. Kesimpulan tersebut cara-cara yang luar biasa. Sehingga, bagi
jelas didasarkan pada pembacaan biografis Greenblatt, Shakespeare memperhatikan adanya
pengarang. Menurut Greenblatt, setelah kematian otoritas yang kharismatik yang jalin-menjalin
putranya Shakespeare tampak dingin dan seperti dengan tindakan kejahatan. Analisis Greenblatt
tidak bereaksi apa-apa di dalam karyanya. Dalam tersebut menyarankan penggunaan metode
hal ini ada yang beranggapan bahwa Hamnet dialektik, yang didahului dengan pencarian
adalah anak haram Shakespeare dari istri oposisi berlawanan, dalam konteks kekuasaan
pertamanya. Prasangka ini disebabkan setelah Foucauldian.
kematian itu Shakespeare menulis, seperti “Much Sementara dari beberapa artikel lainnya
Ado About Nothing”, “Merry Wives of Windsor” dalam buku tersebut, salah satu yang terpenting
atau “As You Like It”, yang justru hendak adalah “The Touch of the Real”. Dalam tulisan
menunjukkan kegembiraan dan mengumbar tersebut Greenblatt menyatakan tetap
gelak-tawa, sedang adegan pernikahan yang menggunakan ‘thick descriptionI’ dalam membaca
menyenangkan dikaitkan dengan pernikahan teks-teks Shakespeare. Ia juga mengarahkan
Shakespeare dengan istri keduanya. pembacaannya dengan mencoba membawa
Namun, hal tersebut berbeda setelah Shakespeare kembali ke dalam dunia dimana ia
5 tahun (1601) dari kematian putranya, hidup dan di dalam dunia pembaca yang kini.
Shakespeare menulis Hamlet. Di sini Greenblatt Belakangan, dewasa ini Greenblatt terus
menghubungkan teks (karakter) dengan melanjutkan konsep narasi historis. Pada 2010
kehidupan pengarang, terutama penguraian ia menulis The Cultural Mobility: A Manifesto
psikologis secara mendetail. Jika dibandingkan (2010:250-253) bersama dengan Pannewick,
misalnya dengan tragedy “Richard III” yang Zupanov, dan pemikir lainnya, Greenblatt
masih kasar, “Hamlet” yang sama kejam, jahat, membuat semacam manifesto dalam rangka
dan sejenisnya tapi dengan bangunan cerita yang reorientasi asumsi-asumsi tradisonal mengenai
kuat. identitas kultural dalam teks-teks travel writing.
Kemudian, Greenblatt mengarahkan Greenblatt memeriksa kembali gagasan
uraiannya pada diskursus. Menurutnya, Hamlet keseluruhan (wholeness), pembangunan teleologis,
adalah duri yang masuk di dalam kerongkongan kemajuan evolusioner, dan kemurnian etnis
peradaban Barat, sementara pembaca mencoba yang dikatakan telah dibongkar seiring dengan
menelan dan meludahkannya terus-menerus. teori-teori hibriditas, jaringan (network), dan arus
Kasus Hamlet ini sebenarnya terjadi dimana- persilangan informasi, barang, orang, uang
mana, ia juga berlaku pada Freud, dan Marx. yang kompleks, dan pandangan lain yang ingin
Sebagaimana hal yang sering-sangat membayang mempertahankan suatu identitas nasionalisme,
di dalam kehidupan, dan tidak terjadi tidak hanya agama, dan etnis di hadapan politik global atau
‘di sini’. Ia terjadi dengan luar biasa mendorong realitas kekinian yang terus-menerus bergerak.

156
Jurnal Poetika Vol. I No. 2, Desember 2013

Persoalan-persoalan tersebut ditempatkan pada kehadiran sosial dari dan di dalam teks sastra.
diskursus kultural tertentu beserta perubahannya, Kemudian dengan asumsi tersebut,
kemudian dianalisis sesuai dengan kompetensi Grenblatt menunjukkan langkah kerja kritik
penulis masing-masing. Berangkat dari karya- sastranya: 1) pengkajian dilakukan sebagai suatu
karya Shakespeare khususnya Cardenio, Greenblatt manifestasi dari tindakan kepengarangan. Aspek
kemudian menempatkan Shakespeare dalam pengarang menjadi perhatiannya. Kemudian, 2)
bangunan kultur renaissans dan ruang diskursus tindakan pengarang tersebut dipandang sebagai
mobilitas kultural. Tampaknya Greenblatt masih ekspresi simbolik, suatu kode-kode tekstual
konsisten menggunakan strategi dialektis dalam berkaitan dengan pembentukan tindakan baik
analisisnya. personal pengarang maupun sosiokulturalnya
Dalam buku yang disebut manifesto dalam kehidupan masyarakatnya. Pokok
ini Greenblatt menulis bagian pengantar dan pengkajian menekankan bahwa teks dianggap
penutupnya. Pada bagian penutup Greenblatt sebagai suatu kode simbolik yang tidak lepas dari
menulis ‘semacam’ manifesto. Dalam hal ini ia suatu konstruksi oleh subjek kekuasaan. Dengan
mencoba memperluas kajiannya dengan beragam kata lain, sebagai produk atau artefak yang
isu dari kolonial, postkolonial, feminisme, bersifat material sekaligus ideologis sehingga
psikoanalisis, sampai pada kajian budaya (cultural teks dapat berarti memuat pandangan ideologi
studies) seperti identitas kultural dan etnisitas, tertentu yang berkaitan diskursus pada konteks
tetapi tetap dalam kerangka pendekatan new sosiohistorisnya. Dan, 3) interpretasi reflektif
historisisme. Mobilitas, yang menjadi masalah dari kode-kode tertentu yang dikonstruksi oleh
utama dalam buku ini, diungkapkan dalam kekuatan sosialnya. Teks produk pengarang
merespon kemapanan budaya atau terjadinya dan pengarang sendiri diprosisikan sebagai
suatu perubahan dan perbedaan budaya, dimana bagian dari jaringan diskursus dan bagian
di dalamnya dominasi dan resistensi tidak masyarakatnya. Praktik tersebut oleh Greenblatt
terelakkan, dan Greenblatt seperti memposisikan disebut sebagai fungsi interpretasi seperti tiga
dirinya “in between” dan berdialektika antara serangkai dalam sastra yang tidak bisa tidak mesti
keduanya. dikaji seluruhnya.
Dari beberapa karya Greenblatt di atas Mengacu pada langkah kerja atau
hanya buku yang berkaitan dengan metode cara analisis tersebut, mula-mula Greenblat
dan praktik kritik sastra Greenblatt yang akan menguraikan konsep diri (self) pengarang.
diuraikan secara lebih rinci kemudian, yakni Kondisi diri More diuraikan pada bab I. Menurut
buku Renaissance Self-Fashioning: From More to Greenblatt, terdapat konflik yang dialami oleh
Shakespeare (1980), Shakespearean Negotiations: The diri pengarang Thomas More dalam menuliskan
Circulation of Social Energy in Renaissance England cerita (fictionalizing). Konflik tersebut dibentuk
(1988), dan Marvelous Possessions: The Wonder of the oleh respon konflik antara yang publik (luar)
New World (1991). dan (dalam) pribadinya. Hal itu oleh Greenblatt
ditunjukkan di dalam karangan More, Utopia.
Renaissance Self-Fashioning Dengan demikian fiksionalisasi More sebenarnya
Dalam buku Renaissance Self- Fashioning, telah menceritakan dua sisi dari dirinya: antara
Greenblatt mengikuti Geertz, bahwa karya sastra posisi sebagai pengarang yang menulis Utopia ia
merupakan artefak kultural. Maka, menurutnya, dapat menenangkan dirinya, yang sekaligus telah
terdapat fungsi kesusastraan di dalam sistem menyangkal kediriannya sendiri.
makna kultural. Bahasa faktanya, sebagaimana Kemudian Greenblatt melanjutkan pada
sistem tanda, merupakan suatu konstruksi bab II dengan memeriksa bahwa kedirian
kolektif. Maka, dalam kritik harus menyadari (selfhood) More terbuka, tidak lepas dari, konflik
tugas interpretasi, yakni memahami konsekuensi agama (kekuasaan) yang melibatkannya.
tersebut dengan lebih peka dengan memeriksa Greenblatt mengkaji secara luas dengan

157
Jurnal Poetika Vol. I No. 2, Desember 2013

melibatkan pengaruh sosial dan psikologis pada Menurut Greenblatt, di bawah rezim
reformasi Protestan abad ke 15 dan awal abad 16. Elizabeth sebuah pola muncul dari penjelmaan
Kitab Bibel dan agama menjadi kekuatan yang relasi kekuasaan ke dalam relasi erotik,
dapat mengendalikan penulisan (percetakan) sebagaimana klaim Freud bahwa peradaban
pada masa tersebut. Greenblatt menyimpulkan berjalan menuju seksualitas dengan cara yang
bahwa tulisan (More) dapat menghubungkan sama. Tokoh Ksatria dalam Faerie Queene-
antara Kata Tuhan dan internalisasi cara hidup nya Edmund Spenser merepresentasikan
orang Kristiani. Meski demikian, tulisan juga kompleksitas penyairnya dalam pola subjection
berpotensi untuk mengkespresikan perlawanan (penaklukan, penundukan). Greenblatt
terhadap kekuasaan institusional. Hal terakhir ini memeriksa mengapa Kesatria Temperance
seperti tulisan Tyndale. Bagi Greenblatt, More bersedia berurusan dengan Bower of Bliss. Hal
dan Tyndale diposisikan berseberangan dalam ini bagi Greenblatt “seperti suatu penduduk atau
pandangan politik masa Reformasi. Pemetaan lapisan dari populasinya yang memperlakukan
posisi pengarang tersebut oleh Greenblatt (menanklukkan) satu sama lain untuk eksploitasi”
dimaksudkan untuk memeriksa realisasi kedirian (Greenblatt, 2010: 173).
(selfhood) mereka yang dibentuk (fashioned) oleh Pada bab V diuraikan puisi-puisi Spenser
kekuasaan besar pada masa itu ketika masa merupakan penuh keterlibatan dengan
peralihan kekuasaan gereja dan Negara. kekuasaan, sebaliknya dengan drama Marlowe
Pada bab III Greenblatt menguraikan yang subversif. Selain itu, Greenblatt juga
puisi Thomas Wyatt dalam konteks riwayat menjelaskan bahwa tokoh-tokoh Marlowe
pengarang Wyatt di bawah rezim Henry. Bagi tetap membatasi diri sehingga identitas tampak
Greenblatt, puisi-pusi Wyatt mempunyai tujuan dibuat-buat. Tokoh-tokohnya yang subversif
ganda: menyebarkan ajaran Zabur (psalm) yang seperti tidak terlibat ‘di dalam’ keadaan,
pada akhirnya puisi berfungsi sebagai karya seperti meloncati suatu masa dimana ia hidup di
dari keterampilan bersastra, dan di sisi lain dalamnya. Greenblatt juga membuat pemetaan
ditekan oleh syarat-syarat dari istana sehingga posisi Spenser dan Marlowe yang bertentangan,
puisi tampak sebagaimana suatu diplomasi. sedangkan Shakespeare di antara keduanya.
Tujuan ganda puisi Wyatt merupakan sebuah Pemetaan tersebut kemudian didasarkan pada
“jarak internal” antara maksud pengarang dan improvisasi pengarang. Greenblatt kemudian,
diskursus (Greenbalt, 2010: 153). Tetapi jarak pada bab VI, menyebut mode self-fashioning yang
tersebut memungkinkan teks sastra “terlibat dapat memanipulasi kemampuan improvisasi
dalam refleksi yang kompleks atas sistem nilai yang (improvisation), dimana ia mengemukakan posisi
menggerakkannya” (Greenbalt, 2010: 156). Shakespeare tersebut seperti pada tokoh Iago
Dalam kondisi demikian, diantara dua (dalam Othello). Improvisasi digambarkan sebagai
kutub besar yang berbeda, Wyatt tidak tampak manipulasi yang oportunis yang tampaknya
melibatkan dirinya dalam suatu penciptaan stabil dan established. Maka, Iago dan juga Othello
karya reflektif dalam kompleksitasnya. Hal ini merupakan produk “doktrin seksualitas Kristen
karena kedirian Wyatt kurang stabil, dari sifat yang sudah berabad-abad lamanya” (Greenblatt,
eksternal pengarang, sehingga Wyatt kurang 2010: 246).
memiliki posisi yang aman untuk melakukan Manipulasi Iago dari relasi dimana ia
refleksi. Sedangkan More dan Tyndale memiliki dan Othello berpijak pada doktrin tersebut
posisi lebih aman, bersikap secara reflektif atas oleh Greenblatt dilihat sebagai sesuatu yang
keraguan-keraguan posisi kediriannya. Bagi khas renaissans dari apa yang disebut Lacan
mereka kata-kata tidak memiliki jarak internal. di dalam kritiknya terhadap Freud mengenai
Bagi More, fiksionalisasi cenderung seperti “ketergantungan dari setiap diri (self) yang paling
penyerapan (absorption) Gereja; sedangkan bagi dalam pada sebuah bahasa” (Greenblatt, 2010:
Tyndale, penyerapan Kata Tuhan. 245). Iago sepenuhnya tergantung pada bahasa

158
Jurnal Poetika Vol. I No. 2, Desember 2013

untuk mendapatkan akses kepada Othello, dan keterpisahan dari yang privat dan yang publik,
dalam pada itu, ia mesti mereproduksinya di dalam yang psikologis dan sosial. Dengan demikian,
dirinya sendiri. Dengan demikian, kekuasaan diferensiasi agen-agen kapitalis merupakan
improvisasi mampu menginternalisasi dan pemisahan yang represif.
memanipulasi sesuai dengan ketergantungannya. Pada sisi lain Lyotard berusaha menarik diri
Improvisasi Iago dalam memanipulasi bahasa dari integrasi dan mengarahkan pada diferensiasi
juga untuk mewujudkan jarak internal seperti semua diskursus. Kapitalisme bagi Lyotard tidak
tampak pada posisi Wyatt, yang mewujudkan menabalkan pembedaan (seperti Jameson) tetapi
dan mentransormasikan antithesis di antara mempertanyakannya, dan mencoba membuat
More dan Tyndale. Demikian strategi dialektis sebuah bahasa/diskursus tunggal atau jaringan
Greenblatt dalam Renaissance Sel-Fashioning. yang tunggal. Maka, kapitalisme menjadi agen
Selanjutnya pada bab VI Greenblatt totalisasi yang monologis.
menguraikan self fashioning Iago untuk Jika Jameson bergerak dari diferensiasi
menunjukkan bahwa self-fashioning Renaissans ke totalisasi, sebaliknya dengan Lyotard dari
sebagai sebuah watak mendasar dan sebuah totalisasi ke diferensiasi. Bagi Greenblatt,
alat cerita yang sangat penting. Greenblatt kapitalisme memiliki efek kontradiktif, maka
menggambarkan self-fashioning dari apa yang kontradiksi tersebut dengan sendirinya
disebut Geertz dengan ‘mekanisme kontrol’ menunjukkan kekurangan konsepsi kapitalisme
yang mengkonstitusi sebuah kebudayaan. Jameson dan Lyotard. Demikian Greenblatt
Dari improvisasi tokoh Iago Greenblatt melihat kontradiksi kapitalisme tersebut seperti
menunjukkan kemampuan pengarangnya. Hal halnya sejarah seperti hiasan dan ilustrasi yang
ini untuk memberlakukan mekanisme kontrol bersifat anekdot.
mengurungnya ke dalam satu panggung, budaya Greenblatt melihat bahwa kekuasaan tidak
Renaissans. Demikian buku Renaissans Self- didasarkan pada suatu asumsi dari posisi yang
Fashioning merupakan realisasi dari kritik sastra stabil, menjadi totalitas atau diferensiasi, tetapi
Greenblatt. pada gerakan bolak-balik antara keduanya. Hal
tersebut sebagaimana ciri masyarakat kapitalis
Strategi Dialektis Greenblatt: Antara sejak dari abad ke-16, yakni “membangun ranah
Marxisme dan Poststrukturalisme diskursif yang berbeda-beda dan meruntuhkan
Startegi dialektik tersebut kemudian ranah-ranah itu satu sama lain” (Greenblatt,
dirumuskan sendiri oleh Greenblatt pada 1990: 153)
“Towards a Poetics of Culture”. Pada tulisan Dari analisis tersebut, Greenblatt yang
tersebut Greenblatt menguraikan gagasan menekankan gerak bolak-balik antara totalisasi
Marxis Jameson dan poststrukturalis Lyotard dan diferensiasi, keseragaman dan perbedaan,
(Greenblatt, 1990: 146-160) untuk memposisikan menjadi jelas dialektika Greenblatt, yakni dengan
kritik sastra Greenblatt yang bergerak di yang membangun puitika perilaku keseharian
antara keduanya, gerakan bolak-balik seperti dalam suatu masyarakat kapitalis yang memiliki
ayunan (oscillation); Seluruh proses sirkulasi konsekuensi penting bagi praktik analisis teks
diidentifikasi sebagai sebuah dialektika totalitas seorang pengarang. Pertama, gagasan suatu teks
dan diferensiasi, sebagai sebuah kekuatan sosial berangkat dari keterbatasan teks tradisional oleh
dimana pergerakannya secara ekstrem di antara konsep diskursus dimana, Foucault menunjukkan
yang sama dan yang berbeda. bahwa pemikiran sebagai praktik sosial. Kedua,
Dialektika Jameson, menurut Greenblatt, suatu teks yang terberi (given) bukan hanya
mengarah pada keseluruhan diskursus, dengan sebuah fragmen dari keseluruhan diskursus,
mengungkap kesalahan-kesalahan dari suatu tetapi juga tunduk pada dialektika kultural yang
ruang artistik yang terpisah-pisahkan; antara membentuknya, dan seperti tergantung antara
teks yang puitik dan sosio-politik menabalkan dua ketegangan besar.

159
Jurnal Poetika Vol. I No. 2, Desember 2013

Kehatian-hatian Greenblatt dalam praktik relasi yang rumit antara teks dan konteksnya
analisisnya tersebut berbeda dengan para (seperti alegori, simbolisme, mimesis, dan
new historisisme lainya. Jonathan Dollimore, lainnya) digantikan oleh suatu penyusunan kata
misalnya, yang tampak terang secara politik (pharseologi) yang tampaknya menjadi metaforis,
dan ideologis, cenderung pada materialisme tetapi pada waktu yang sama melekat suatu
kultural. Dollimore sebagaimana Greenblatt, usaha yang mendukung untuk menggolongkan
melihat ‘diri’ manusia sebagai produk dari (memasukkan) semua bentuk dari produksi
momen historis yang partikular, pengalaman sosial, menjadi kesusastraan atau perdagangan,
manusia dan kesadaran kognisi dikonstitusi di bawah suatu idiom deskripsi yang umum.
oleh struktur sosial dan ideologis secara historis. Penggunaan metafor ekonomi Greenblatt
Tetapi tidak seperti Greenblatt, Dollimore lebih merupakan bukan suatu usaha untuk
tegas menekankan strategi perlawanan ideologis. menghidupkan kembali (enliven) bahasa kritik,
Ideologi lebih cenderung tampak (seperti seperti “pembungkusan, seolah-olah itu untuk
ideologi yang dicurigai) mencoba memberi dijual”, nilai dan makna diperoleh dari pasar di
kesan pada pikiran individu-individu, yang mana diskursus (metafor) beroperasi. Metafor,
dengan demikian menolak dan meminggirkan terutama gagasan pasar bebas, juga merupakan
pandangan yang tidak sepakat. konsekuansi langsung dari pengertian kapitalisme
Sebagai perlawanan, ideologi dominan Greenblatt.
dipandang sebagai lawan, sedangkan yang Disebutkan di awal pada pembandingan
marginal dibela. Jika klaim-kebenaran atas kritik antara Jameson dan Lyotard, Greenblatt
ideologi tersebut berhenti pada penekanan motif tidak menolak kapitalisme baik totalisasi atau
ideologis, bagi Greenblatt hal itu tidak cukup. diferensiasi. Justru gerak bolak- balik (oscillation)
Menurutnya, mesti melanjutkan proses dialektis antara totalisasi dan diferensiasi dipandang
antara totalisasi dan diferensiasi, sebagaimana sebagai sebuah kekuatan yang menghasilkan
relasi antara individu dan teks, antara individu (produktif). Dalam atmosfer negosiasi dan
dan diskursus, seperti dalam buku RenaissanceSelf- pertukaran (exchange), sirkulasi arus yang
Fashioning, atau pada “Invisible Bullets” dalam berbeda-beda, batas-batas antara individu,
Shakespearean Negotiations. bangsa, perbedaan kelas, dan kontak sosial,
Dengan demikian, tuduhan Brannigan (akan) mudah diseberangi dan dengan demikian
kepada Greenblatt dalam hal totalisasi kekuasaan dipertanyakan.
di dalam analisis tekstualnya kurang tepat. Sebagaimana dalam perdagangan dan
Menurut Brannigan (1998: 53), Greenblatt telah perusahaan niaga membutuhkan gagasan untuk
mewarisi kekeliruan Foucault yakni dengan mobilisasi dan demikian juga membutuhkan
memaksakan pandangan yang monologis produksi individualitas. Bagi Greenblatt, gagasan
atas relasi-relasi kekuasaan pada masa lampau perdagangan komersial tersebut meliputi tidak
sehingga mereduksi sejarah dalam segala hanya ekonomi tetapi juga ranah sosial dan
kompleksitasnya, suatu perbedaan bentuk sosial artistik. Relasi seni dan masyarakat digolongkan
dan kultural yang luas dijelaskan sebagai fungsi ke dalam proses negosiasi dan pertukaran seperti
dari satu mode tunggal kekuasaaan. dalam ranah ekonomi.
Negosiasi dan pertukaran tersebut tampak
Shakespearean Negotiations (1988) pada Richard II-nya Shakespeare, yang mengatasi
Dalam Shakespearen Negotiation Greenblatt batas-batas konvensional teater menjadi “open
berusaha mengartikulasikan cara-cara yang streets and houses” sehingga menerima makna-
beragam dimana makna teks tertulis dikonstitusi, makna baru dan membentuk (fashions) identitas-
sebagaimana pada basis dimana makna berada. identitas baru, seperti ketidakpuasan Ratu
Cara-cara lama dan idiom konvensional tidak Elizabeth. Pertunjukan tersebut menurut
mencukupi digunakan untuk menangkap Greenblatt merupakan displacement dan bukan

160
Jurnal Poetika Vol. I No. 2, Desember 2013

sebuah penyimpangan, bukan pembajakan versi dapat beredar secara bebas dalam tatanan
legal produksi artistik. Produksi tekstual bukan simbolik tersebut, dan pada waktu yang sama
merupakan ruang milik pribadi; pengarang tidak mengkonstitusi dasar bagi eksistensi tatanan
sepenuhnya memiliki diri memperhatikan simbolik. Energi sosial berfungsi tidak hanya
bagaimana sastra dan lintasan historisnya, teks seperti sebuah mata uang, tapi juga seperti
sastra ditempatkan dalam ruang sejarah. “Aku sesuatu “di bawah mata uang” (undercurrency).
bermimpi berbicara dengan orang mati, dan Semua itu adalah lapisan bawah (substratum)
bahkan sampai sekarang aku tidak bisa membuang dari alam simbolik dan bukan suatu bentuk dari
mimpi itu. Tetapi yang jadi persoalannya adalah produksi sosial.
aku hanya mendengar satu suara, suara ‘the other’. Teks dikatakan bermakna karena
Jika hanya mendengar satu suara, aku tidak pembaca menginvestasikan emosinya di dalam
bisa tidak mendengar suara-suara lain. Dan jika artefak kultural, sehingga energi sosial tersebut
ingin mendengar suara ‘the other’, aku mesti kembali kepada pembaca ketika pembaca
mendengar suaraku sendiri. Cara bicara orang mengkonsumsi produk-produk sosial tersebut,
yang mati itu seperti cara bicaraku sendiri...” dan ketika pembaca menafsirkan teks-teks
(Greenblatt,1988: 20). tersebut. Pandangan dasar Greenblatt adalah
Dalam Shakespeare Negotiations, Greenblatt setiap sesuatu yang diproduksi oleh masyarakat
mengemukakan mengenai dasar material dari memenuhi syarat sebagai energi sosial, semisal
prinsip makna dan nilai, dengan mengidentifikasi “kekuasaan, karisma, kegembiraan seksual,
peredaran yang menyebar di dalam pola pembayangan kolektif, ketakjuban, hasrat,
negosiasi dan pertukaran sebagaimana energi kegelisahan, perasaan religius, intensitas yang
sosial. Menurutnya, kegembiraan, kesedihan, mengapung-bebas dari pengalaman,” yang
kegelisahan, kelegaan, dan bentuk emosi lainnya semua itu merupakan fenomena psiko-fisikal
merupakan suatu teks atau pertunjukan yang (Greenblatt, 1988: 1)
mungkin menginspirasi audiens atau pembaca,
sebagai sebuah hasil dari “energi sosial” Renaissans dan Shakespeare
dituliskan di dalam karya tersebut. Kehidupan Dalam Shakespearean Negotiations,
dari karya sastra tersebut terwujud (materialize) di Greenblatt diantaranya menulis―Fiction and
pentas, cerita, pakaian, bahasa, metafor, simbol, Friction” dan―Shakespeare and Exorcist”. Kedua
upacara yang ingin membuat (make up) suatu tulisan tersebut Greenblatt mempersoalkan
pertunjukan. individu dan kelompok yang dimarjinalkan
Dengan demikian, puitika kultural dan fenomena pada masyarakat, dan dalam
berupaya menjelaskan mengapa dan bagaimana penafsiran teks-teks ia tidak berangkat dari alur
baik intensitas pengalaman maupun produk- utama, tetapi dari “pinggiran”, yang subalur.
produk kultural lainnya dibutuhkan. Sedangkan Berangkat dari suatu segi yang tampaknya
energi sosial sebagai dasar atau mendorong insignifikan dari teks, Greenblatt bergeser untuk
aktivitas primer manusia yang, oleh Greenblatt menemukan segi minor dalam suatu konteks
yakini, bukan bersifat material tapi bersifat kultural yang lebih luas, dimana dari semua itu
simbolik. Sehingga, dengan kata kepengarangan, untuk mendapatkan kemungkinan makna yang
akhirnya seperti sesulit dipahaminya diri besar, yang mungkin memberikan suatu cahaya
pembaca), mereka akan menjadi ada sebagai baru yang menyeluruh pada teks yang ia atur
fenomena di dalam publik pasar. untuk menafsirkan.
Dalam tulisan “The Circulation of Social Dalam “Fiction and Friction” Greenblatt
Energy” Greenblatt mengakui bahwa ia lain, menguraikan formasi identitas Renaissans,
teks merupakan bagian dari produksi simbolik khususnya pada tema pakaian- perkawinan
tersebut, dan begitu juga semua artefak sosial, dan identitas seksual yang keliru dalam
termasuk sejarah. Sedangkan energi sosial relasinya dengan teks drama Elizabeth

161
Jurnal Poetika Vol. I No. 2, Desember 2013

(Greenblatt,1988:66-93). Ia juga dengan bayangannya perihal pakaian-perkawinan


mensejajarkan sebuah cerita yang cukup fantastis dan gaun-pasangan pengantin Greenblatt
dari buku- buku pelajaran pada awal abad ke- melihat adanya persoalan kekuasaan yang
17: Des Hermaphrodits, accouchemens des femmes, et kemudian membangun kembali (re-establish) pola
traitement qui est requis pour les releuer en sante’, et penentraman sosial dan aturan seksual pada
bien eleuer leurs enfans-nya Jacques Duval (Rouen, akhirnya. Selain itu, Greenblatt juga menemukan
1603) dengan Twelfth Night-nya Shakespeare. nada-tambahan erotis dalam persahabatan yang
Teks Duval tersebut bagi Greenblatt tidak akrab antara Antonio dan Sebastian (saudara
menunjukkan “batas-batas individualism yang kembar Viola). Seksualitas dalam Twelfth Night
berdasarkan norma”, tetapi memberikan suatu terletak pada penyimpangan—dari objek
gagasan “diskursus di luar dari subjek spesifik yang diinginkan ke arah sebuah objek yang
yang secara historis dibentuk (fashioned)” dan marginal, suatu tubuh seseorang yang diketahui.
“disatukan secara komunal” (Greenblatt, 1988: Penyimpangan yang dimaksud Greenblatt
75). tersebut dipahami pada suatu perlintasan atau
Dengan demikian pada setiap orang aturan sosiokultural, bahwa sifat dasar (alami
diskursus menanamkan suatu―beban yang seksual) merupakan suatu tindakan yang tidak
di luar pusat pendefinsian (off-center), semisal, sehat pikiran (unbalancing act) (Greenblatt, 1988:
suatu pencampuran-atas aturan-aturan seksual, 68).
yang memainkan suatu aturan kritis dalam Dalam Shakespearean Negotiations Greenblatt
pembentukan identitas. Persoalan perkawinan juga memeriksa Saturnalia, sebuah perayaan
(Jeane dan Marin) kemudian menjadi tanda suatu bulan Desember masa Romawi. Menurutnya,
pergerakan dari individualitas partikular ke arah dalam strategi perlawanan terhadap aturan sosial
norma komunal dan wilayah pembicaraan publik, dan seksual tidak perlu mengancam tatanan yang
sebab Renaissans “cenderung membentuk berlaku, dengan kata lain, ketika yang normal itu
pengertian nomatifnya dengan perencanaan terjamin, maka yang perlawanan mestinya bersifat
yang luar biasa” (Greenblatt, 1988: 77). lunak atau halus. Etika kasih-sayang homoerotic
Meski demikian, Greenblatt melihat bahwa yang bertubi-tubi (terus-menerus) mengaburkan
karakteristik masyarakat Renaissans khususnya gender yang tetap bersikeras menentang justru
aturan seksual ternyata tidak stabil sebagaimana seperti playful aberration, penyimpangan yang
anggapan pada umumnya. Perlawanan terhadap dimain-mainkan sehingga tampak lucu. Di sini
aturan-aturan tersebut juga merupakan negasi Greenblatt tampak menggunakan anekdot yang
dialektis yang melalui suatu pentotalisasian berangkat dari metafor, kemudian menariknya
masyarakat dapat terbangun dengan sendirinya. dalam ruang diskursus. Seperti halnya Foucault,
Kebingungan gender tersebut, himpitan di luar Greenblatt menguraikan kekuasaan (energi
pusat pendefinsian (off-center)‘ tersebut, dapat juga sosial) beserta subversi dan dominasi, dari tubuh
dilihat bekerja dalam “cerita bayangan skandal” yang faktis dan privat ke material- diskursus,
yang secara terus-menerus membayangi Twelfth dengan menggunakan istilah-istilah ekonomi.
Night-nya Shakespeare. Meski komedi ini pada Dari Shakespeare kemudian Greenblatt
esensinya merupakan sebuah permainan yang dalam analisis diskursus dihubungkan dengan
amat sangat membingungkan menyembunyikan Duval, Greenblatt mencoba menunjukkan
dan keruwetan cinta-kasih yang secara rapi, tapi mengapa dan bagaimana pengkaburan gender
pada akhirnya terpecahkan dan tampak sebagai di dalam Twelfth Night dan Des Hermaphrodits
“sebuah pertunjukan hasrat homoerotis.” menyumbangkan pembentukan (fashioning)
Greenblatt menjelaskan dari plot utama, identitas. Dalam teks Duval, Greenblatt
yang menunjukkan adanya hubungan antara menemukan suatu catatan ganda keaslian gender:
pangeran yang sempurna, Sebastian, dan keadaan laki-laki yang spiritual, intelektual, dan
putri Olivia yang bijak dan kaya. Tetapi, plot kuat, sedang perempuan yang ditandai dengan

162
Jurnal Poetika Vol. I No. 2, Desember 2013

dingin, pasif, dan lemah. Tetapi, keduanya, bersama-sama dengan teks seperti dalam teks-
baik lelaki maupun perempuan sama-sama teks Duval. Kemudian, representasi kekuasaan
diperlukan dalam memperoleh air mani sebagai erotik tersebut dikembalikan kepada audiens
akses nafsu, yakni melalui kesuburan perempuan atau pembaca ‘dengan kepentingan‘ sebagai
dan kelelakian. bagaian dari proses negosiasi dan pertukaran.
Mengacu pada teori tersebut (teori dalam “Renaissanse” yang Greenblatt bicarakan
karya Galen), perbedaan seksual dibangun adalah Renaissans dalam bingkai diskursus,
dengan suatu perjuangan antara elemen laki-laki dengan menekankan pada yang plural
dan perempuan di dalam tubuh. Manusia, dalam (prodigious)—secara tidak langsung sebagai
kasus ini, memiliki suatu alam ganda yang dengan implikasi dari “signifikansi dari marginalitas”.
segera menjadi satu. Sedangkan, mengacu pada Atas dasar tersebut new historisisme mengklaim
teori yang lain, kelamin perempuan adalah berbicara atas nama yang dimarginalisasi,
kebalikan dari kelamin laki-laki, dan untuk yang diopresi, dan atas nama yang dipandang
mencapai identitas seksualnya mesti melalui terbelakang oleh suatu masyarakat. Persoalan
perempuan, melalui panggung perempuan. seksual dan tatanan sosial Renaissans dalam
Lelaki akan tampak sempurna dengan adanya Twelfth Night diruntuhkan hanya dengan gaun-
tonjolan dari tubuhnya, dengan terpaksa melalui pengantin yang ditafsirkan sebagai suatu
tubuh perempuan yang kurang sempurna. gerakan penyimpangan (sekaligus perlawanan)
Psikologi perempuan tampak lebih pendek hermeunetika dalam pandangan puitika kultural
daripada tonjolan tubuh laki-laki. Maka, teori Greenblatt.
ini membayangkan adanya kesatuan struktur
genetis yang dapat dibagi dalam dua bentuk, Negosiasi dan Pertukaran
internal dan eksternal: sebuah alam tunggal yang Konsep negosiasi dan pertukaran
menjadi ganda. dieksplorasi Greenblatt dalam tulisan
Dalam teori klasik, relasi genetis mencoba “Shakespeare and the Exorcists” (Greenblatt, 1988:
menjaga tercipta suatu keserasian yang harmonis 94-128). Greenblatt mencoba mengungkap
antara seks dan gender. Dengan menggunakan relasi yang lebih kompleks dengan menyisakan
perbedaan teori-teori tersebut, menurut pola negosiasi dan pertukaran yang berangkat
Greenblatt, akan menjadi jelas dualitas dan dari sudut pandang yang dimarginalkan di dalam
kontradiksi di dalamnya. Maka, determinasi masyarakat: konsep kerasukan atau kesurupan
gender dan identitas menurutnya, didasarkan dimaknai menjadi perampasan (dipengaruhi,
pada legitimasi sekaligus subversi terhadap aturan dirasuki, dimiliki—the possessed).
seksual. Sementara gagasan “pembelokan” Sebagai pembaca, Greenblatt
Greenblatt diperlukan sebagai kebutuhan memperhatikan kedekatan relasi antara King Lear
untuk mengatasi struktur, yakni dengan suatu dan buku, yang oleh Samuel Harnett disebut, A
gerakan bolak-balik seperti bandul ayunan Declaration of Egregious Popish Impostures (1603),
(oscillation), antara totalisasi dan diferensiasi, sebuah deklarasi ajaran katolik yang terkenal.
sebagaimana dialektika dalam self-fashioning. Oleh Buku Harsnett tersebut merekam sebuah ajaran
karena itu, trans-fethisme dalam Twelfth Night yang menakjubkan tentang pengusiran setan
“merepresentasikan sebuah identitas antara lelaki yang dilakukan oleh sebuah golongan Jesuit
dan perempuan,” tanpa merepresentasikan identitas pada 1585-1586. Tetapi, justru ajaran tersebut
tersebut sebagai realitas. (Greenblatt,1988: 82). menjadi bumerang bagi katolik, buku tersebut
Selain itu, menurut Greenblatt dualitas mencela praktik-praktik Jesuit sebagai suatu
dan kontradiksi dalam Twelfth Night juga kecurangan, memindahkan ‘sifat’ jahat (demonic)
menunjukkan kekacauan seksual. Baginya, yang tidak di dalam diri yang dirasuki, tetapi di
kekacauan (confusion) merupakan bagian dari dalam pengusiran ‘diri’ mereka.
diskursus, sebagaimana panggung (teater) yang Buku karya tersebut terbukti berada di

163
Jurnal Poetika Vol. I No. 2, Desember 2013

dalam masyarakat yang hendak meredefinisi nilai- pengusiran setan, tetapi juga terhadap Harsnett
nilai utamanya, terutama definisi yang sakral— pada ‘ajaran’ pengusiran setan. Untuk mendukung
yang pada masa itu dilegitimasi oleh otoritas. klaim tersebut, dalam teks Shakespeare,
Selama berabad-abad karisma pengusiran setan Greenblatt mengacu pada adegan dalam King
tersebut menjadi epitome (lambang) dan epiphany Lear dimana Edgar, berpura-pura menjadi orang
yang sakral dalam agama Kristen Latin. Secara gila Poor Tom, dan ingin membunuh ayahnya
alamiah Aliran Protestan mencoba ―mengakhiri yang buta, Pangeran Gloucester, dengan
untuk kebesaran karisma tersebut”. Pengusiran menipunya dan agar seolah-olah ayahnya bunuh
setan baik yang dilakukan oleh gereja (Anglikan) diri. Seperti kerasukan, yang berpura-pura gila,
maupun pengadilan merupakan suatu tuduhan Edgar membuat ayahnya yakin bahwa mereka
(penipuan) yang dirancang untuk mengusir ‘diri’ berdiri di atas tanah yang rata—kenyataannya,
manusia -yang dianggap bid‘ah, tidak patuh, di tepi jurang yang curam, hal yang menegaskan
dan menyimpang dari doktrin (otoritas) gereja bahwa orang lemah/miskin terlalu lemah/
yang sakral sehingga setan telah menaklukkan sulit memahami keadaan di sekitarnya, ketika
mereka, sehingga menjadi suatu “kebijaksanaan” Gloucester melangkah ke depan, ia benar-benar
menggantung manusia yang dirasukinya terjatuh ke jurang. Edgar, seketika merubah
(Greenblatt,1988:97). aturan (sikap awalnya yang berpura-pura gila), ia
Menurut Greenblatt, realisasi pengusiran kemudian mengandaikan dirinya seperti ‘melihat
setan tersebut merupakan suatu praktik setan yang keluar dari tubuh orang tua’.
Perjanjian Baru yang tidak mengingkari pengaruh Dari pembacaan tersebut pada satu sisi
setan, tetapi menyarankan bahwa hal tersebut bukan pada penggambaran pengusiran setan,
memproduksi suatu ilusi akan adanya kerasukan karena, pertama, memang bukan pengusir setan,
roh jahat (demonic possession). Maka, karisma dan kedua, karena setan yang memisah-diri dari
seorang pengusir setan semata-mata tergantung Gloucester tidak benar-benar di dalam (inside)
pada kesan yang dibuat atas pikiran-pikiran manusia tetapi agaknya setan dalam penyamaran
penonton, dan hal itulah yang direalisasikan agar Poor Tom; Pada sisi lain, Shakespeare tidak
kesan tersebut dikuatkan dan dimanipulasi oleh membuat alasan gambling ‘apa maksud Edgar
pertunjukan yang dituliskan, atau dengan kata meyakinkan ayahnya’ atau apa yang diinginkan
lain, roh jahat yang di-(panggung)-pertunjukan. Edgar sebenarnya. Greenblatt berpendapat
Pada lain hal, kecenderungan agresif bahwa pengusiran setan berkaitan dengan
Protestan yang menyerang gereja katolik pada kecurangan (penipuan) atau kepura-puraan.
teater kadangkala juga disebabkan oleh pakaian Meski ia tidak menganggap dirinya menjadi
pendeta Katolik dijual kepada aktor atau pihak seorang pengusir setan, Edgar mencoba untuk
teater, pihak yang rela membayar lebih kostum ‘mengusir setan’ keputus-asaan ayahnya dengan
bagus adalah demi pertunjukan yang bagus. Maka, demonizing (keadaan yang menyedihkan dari
sejak saat itu pakaian bukan sekedar ‘pakaian’ pikirannya dianggap sebagai setannya).
tapi juga merupakan kekuasaan simbolik yang Dengan demikian, apa yang dimaksud
dibutuhkan. Greenblatt menekankan bahwa Harsnett dapat berarti sebaliknya, yakni pihak
masa Elizabeth ditandai oleh suatu ‘obsesi’ pengusir setan sebenarnya (juga) mengalami
fetishistik terhadap pakaian sebagaimana sebuah penderitaan secara psikologis, merasa bersalah,
tanda (nilai) dari status dan derajat (Greenblatt, kegusaran, dan frustasi terhadap keadaan
1988: 113). dengan mengalihkannya pada alibi pengusiran
Dengan cara demikian, Harsnett telah setan untuk merealisasikan kegelisahannya. Oleh
menjual ‘ritual’ pengusiran setan kepada teater karena itu, Harsnett berarti ingin membersihkan
(dan Shakespeare) yakni dengan membaca dunia dengan ajaran pengusiran setan, dengan
Declaration, menerima tawaran, menuliskan logika dominasi-subversi: Jika pengusir setan
dan mementaskannya; juga tidak hanya ajaran adalah penipu, maka harapan penebusan

164
Jurnal Poetika Vol. I No. 2, Desember 2013

dosa dihancurkan. Sebaliknya, Shakespeare Greenblatt mencoba menunjukkan operasi


merealisasikan kebutuhan pengusiran setan dan kerja dialektik antara diferensiasi dan asimilasi
mengintensifkan kebutuhan tersebut sebagai (totalisasi) pada budaya penjelajah dan budaya
suatu pengalaman teatrikal (Greenblatt, 1988: asing. Dalam buku ini ia menguraikan narasi Sir
126). John Mandeville (penjelajah abad ke-14 secara
Cerita Gloucester dan putranya adalah imajiner) dan Columbus. Menurut Greenblatt,
cerminan dari plot utama Lear dan anak keduanya merepresentasikan narasi eksotik, dan
perempuannya. Persamaannya, Gloucester terutama teks-teks Columbus memperlihatkan
dan Lear diarahkan pada keputusasaan (hilang adanya shock atau gap pada mula bertemu dengan
harapan). Gloucester memiliki pengusir setan alterititas.
(Edgar), sedangkan Lear tidak. “Ketiadaan dari Greenblatt memaparkan ketakjuban
harapan menebus dosa” (Greenblatt, 1988: (marvelous) dan keheranan (wonder) para
124) tersebut disajikan dalam pertunjukan penjelajah. Hal itu dijelaskan sebagai pokok
yang murung, sekaligus memberikan kesaksian penanda strategis dalam representasi Barat,
bahwa kekuasaan religius memproduksi yang sekaligus juga merupakan sebuah langkah
sebuah sandiwara. Meski Shakespeare tidak awal untuk ‘membungkus‘ yang lain (the other) ke
menegosiasikan baik pengusiran setan dalam dalam jaringan diskursus Barat. Dalam tulisan
ajaran katolik atau protestan, tapi ia mengakui yang terkenal “From the Dome of the Rock to
perlu mengangkatnya dalam teks atau panggung, the Rim of the World”, Greenblatt mencoba
dan alasan dari pengakuannya adalah kesadaran menunjukkan bagaimana Travel-nya Mandeville
untuk suatu penebusan bagi Shakespeare. ditandai oleh sebuah ketegangan intern yang
Pola negosiasi dan pertukaran oleh dapat mendistorsi realitas antara suatu dunia
Greenblatt dipandang sejajar dengan pola yang familiar (yang- dikenal) dengan dunia
kerasukan, pengusiran setan, dan penebusan dosa. yang-tidak-dikenal (baru), antara dunia yang
Dan pada kenyataannya, menurut Greenblatt, diandaikan pertama dengan perbedaan dunia
meski tidak dipercayai lagi ritual pengusiran yang mengherankan dan eksotis.
setan, meski hal itu dianggap sebagai penipuan, Pada bagian lain dari buku ini, Greenblatt
pola seperti dalam King Lear tersebut pada menguraikan dengan sebuah perjalanan melalui
dasarnya tetap berlaku dan bahkan lebih intensif, tanah suci (Holy Land) yang akrab dengan
karena pola dan ritual (tata cara, formasi, norma, narasi Al-Kitab dan pandangan dunia kaum
nilai) tersebut telah tertanam sejak berabad-abad Kristen, tanah suci merupakan tempat akan
dengan kekuasaan dan pembatasan (Greenblatt, metonimi kudus. Metonimi, relasi faktual
1988: 128). antara penanda dan petanda (suatu tempat suci
Akhirnya, dari King Lear dan Twelfth yang menunjukkan suatu peristiwa dari sejarah
Night, Greenblatt mengartikulasikan makna suci diasosiasikan dengan tempat tersebut)
dan membuktikan bahwa karya sastra tidak melebur ke dalam metafor ketika Mandeville
lagi dipahami sebagai pusat yang otonom dan mengembara ke yang-tidak-diketahui dan segala
terpisah tetapi sebagai suatu perhubungan sesuatu terlalu seringkali curiga dunia imajiner
dengan konteks sosio-historisnya, baik relasi dan yang bersimpangan (berbeda, lain).
secara simbolik dalam bingkai biografis maupun Pandangan dunia kristiani setidaknya
konteks pada masa teks tersebut diproduksi dan merupakan referen yang cukup penting dari
masa pembaca. teks, tetapi relasi antara penanda dan petanda
tidak lagi faktual sebab dengan penggunaan
Marvelous Possessions (1991) representasi atau metafor: Kota pemujaan di
Dalam buku Marvelous Possessions Tibet meniru sebagaimana kebalikan dari civitas
Greenblatt menguraikan teks naratif travel Kristiani; Sebuah pemakaman kanibal di mana
writing, baik narasi fiksional maupun historis. jenazah tidak ‘dimakan‘ oleh api atau tanah,

165
Jurnal Poetika Vol. I No. 2, Desember 2013

tapi oleh orang yang berkabung (orang yang sini oleh Greenblatt dipandang dalam bingkai
ditinggalkan), yang tampak sebagai suatu parodi sejarah, sebagai sosok masa lampau, yang
metaforis yang aneh dari kaum Ekaristi (Eucharist). tidak mungkin dihidupkan kembali. Greenblatt
Dalam pemaparannya Greenblatt memeriksa tampaknya ingin menunjukkan konsistensinya
pandangan dunia yang stabil (totalisasi). pada pandangan ‘berbicara pada orang mati’
Dalam pembahasan mengenai perjalanan dalam Renaissans Self-Fashioning.
Columbus ke dunia baru, Greenblatt mencoba Penguraian pada analisis Greenblatt
menunjukkan ketegangan dialektis yang sama menunjukkan bahwa suatu teks diinformasikan
antara dua motif dominan penjelajah (penjajah): konteks sosiokultural secara dialektis, sebuah teks
haus emas dan kekuasaan atas nama religius atau merefleksikan sama baiknya dengan referennya,
semangat misionari. Greenblatt menguraikan dan menempatkannya secara berbeda,
mengapa politik imperialis di awal penjelajahan dan sebaliknya suatu konteks sosio-kultur
sebagai sesuatu yang tidak pernah terjadi dan mengkondisikan representasi tekstualnya, dan
apa dasar pemikiran (rasionalitas) di belakang demikian juga suatu teks yang menginformasikan
percampuran motif (gold-power dengan misi dan kadangkala sejajar dengan kondisi proses
agama), kemudian mengkaitkan kepada Kristian historis. Proses ini seperti yang disebut Montrose
Columbus jaman sekarang, dengan mode yang di atas, tekstualitas historis dan historistas
bertentangan (dialektik). Greenblatt menemukan tekstual.
bahwa di dalam paradoks Kristiani ‘diri yang Selanjutnya Greenblatt mencoba
baru’ tidak akan bisa ‘sampai ke kehidupan’ menunjukkan bahwa strategi-strategi kekuasaan
kecuali membunuh ‘diri yang lama’, atau dengan yang diproduksi masa penaklukan (Age of
kata lain seperti dalam soneta kudus-nya Donne Conquest) juga menghasilkan teks-teks yang
yang dikutip Greenblatt, “Take mee to you, imprison berkaitan dengannya, dengan kolonialisme dan
me, for I / Except you enthrall mee, never shall be free” imperialisme serta apa-apa yang mengikutinya.
(Greenblatt,1988:70). Greenblatt berusaha menguraikan bahwa teks-
Dengan demikian, dalam hal ini untuk lahir teks tersebut secara ketat berjejalin dengan
kembali orang-orang Indian mesti sebelumnya konteks sosiokulturnya. Sampai di sini,
menjadi budak dulu. Greenblatt berpendapat Greenblatt mengikuti tekstualitas Geertz, bahwa
bahwa aksi Columbus sama dengan pola ini, teks sastra adalah bentuk lain dari artefak kultural.
diinformasikan secara kultural oleh dialektika.
Sebaliknya pada perampasan Mandeville Kesimpulan
terhadap dunia baru (suatu sifat yang mungkin- Dari uraian di atas dapat dirumuskan
mudah bagi penjelajah yang berkuasa) dalam kritik sastra puitika kultural Stephen Greenblatt.
diskursus Columbus membuktikan shock dan Pandangan Greenblatt sebagai pelopor new
keheranan adalah awal dari adanya alteritas, yang historisisme bermula dari penolakannya
digantikan oleh yang material dengan anggapan atas pandangan New Kritisisme dalam
bahwa untuk membayangkan integrasi yang memperlakukan teks sastra secara otonom.
lebih menyeluruh ke dalam totalitas diskursus Dengan mengacu terutama pada pemikiran
Barat, perlu diciptakan yang lain (the other). Geertz dan Foucault, Greenblatt menyebut
Dalam kasus Mandeville ini, Greenblatt kritik sastra yang dipraktikkannya dengan puitika
memandang bahwa buku sebagai sesuatu yang kultural (cultural poetic). Greenblatt menyatakan
“mengurangi hak milik” atau “perampasan bahwa karya sastra adalah produk budaya
yang luar biasa”, yang artinya realitas pada buku sebagaimana artefak kultural, yang juga sejajar
bukan hanya ‘milik’ sastra. Hal ini mengacu dengan konsepsi tekstulitas Geertz (budaya
pada realitas tekstual Mandeville yang fiksional sebagai teks). Dengan demikian, teks sastra
ataupun pengarang Travel yang sesungguhnya dan konteks dipandang sebagai suatu jaringan
tidak-dikenal (tidak diketahui). Mandeville di yang berjalinan satu dengan yang lain, demikian

166
Jurnal Poetika Vol. I No. 2, Desember 2013

halnya dengan teks sastra, teks sejarah, teks sastra tersebut. dengan demikian, posisi kritik
resmi bahkan personal atau berbagai bentuk sastra Greenblatt bergerak diantara totalisasi
teks lainnya, ditempatkan pada rangkaian yang (marxisme) dan diferensiasi (postmodernisme).
disebut diskursus (Foucault). Lebih lanjut, Greenblatt juga
Pandangan tersebut berimplikasi pada memberlakukan teori representasi dalam relasinya
praktik interpretasi dan analisis dalam kritik dengan sosiohistoris. Representasi Greenblatt
sastra. Dalam hal ini Greenblatt menyampaikan dipandang dalam relasi antara mimetik (tiruan)
tiga langkah kerja atau tiga serangkai: (1) dan kapitalisme. Menurutnya, representasi
Teks sastra dengan asumsi sebagai suatu adalah kumpulan citra (image) yangdengan
manifestasi dari ekspresi kepengarangan tujuan tertentu diakumulasi dan diciptakan
baik psikologis, biografis, maupun ideologis. serta ditransformasikan secara kultural baik
Maka, aspek pengarang menjadi titik perhatian dalam teks sastra maupun dalam bentuk yang
dalam interpretasi dan analisis karya sastra. lain. Maka, representasi dalam pandangan ini
Kemudian, (2) karya sastra dipandang secara berkembang biak dan beredar (sirkulasi) dalam
simbolik-struktural sebagai suatu kode-kode jaringan diskursus pada waktu dan masyarakat
tekstual yang pembentukannya erat berkaitan tertentu. Sedangkan konsep-konsep Greenblatt
dengan baik ekspresi kepengarangan maupun lainnya, seperti self- fashioning, anekdot, negosiasi
sosiokulturalnya. Oleh karena itu, pokok dan pertukaran hanya memungkinkan dalam
interpretasi dan analisis menekankan pada teks, interpretasi dan analisis jika metode puitika
yang diasumsikan memiliki jaringan makna yang kultural di atas digunakan.
tidak lepas dari suatu konstruksi pemaknaan.
Dengan kata lain, sebagai produk atau artefak Daftar Pustaka
yang bersifat material sekaligus ideologis, teks Brannigan, John. 1998. New Historicism and
memuat suatu pandangan pengarang yang Cultural Materialism. London: Macmillan
berkaitan dengan ideologi tertentu dalam Press Ltd.
ruang diskursus pada konteks sosiohistorisnya. Colebrook, Claire. 1998. New Literary Histories:
Selanjutnya, 3) secara reflektif dilakukan New Historicism and Contemporary Criticism.
interpretasi dan analisis atas kode-kode teks Manchester: Manchester University
sastra yang dikonstruksi oleh kekuatan sosial di Press.
dalam diskursus. Ringkasnya, teks sastra secara Coldiron, A. E. B. 2001. “Toward a Comparative
historis adalah karya pengarang dan pengarang New Historicism: Land Tenures and Some
sendiri diposisikan sebagai bagian dari jaringan Fifteenth-Century Poems”. Comparative
diskursus dan tatanan (episteme) masyarakatnya. Literature 53, tahun ke 2, edisi Spring
Maka, yang fokus pengkajian adalah diskursus 2001.
yang melingkupi dan membentuk penciptaan Greenblatt, Stephen. 1980. Renaissance Self-
dan pemaknaan teks sastra. Ketiga praktik Fashioning: From More to Shakespeare.
Greenblatt ini disebut sebagai interpretasi tiga Chicago & London: The University of
serangkai puitika kultural yang tidak bisa tidak Chicago Press.
mesti dikaji seluruhnya. ______1988. Shakespearean Negotiations: The
Kemudian Greenblatt juga Circulation of Social Energy in Renaissance
mengembangkan analisis tersebut dengan strategi England. Berkeley & Los Angeles:
dialektika kultural. Yakni dalam analisis teks University of California Press.
sastra mempertimbangkan konsep dominasi dan ______. 1990. Learning to Curse: Essays in Early
subversi dengan bergerak bolak- balik diantara Modern Culture, New York and London.
keduanya, sehingga dalam menemukan makna ______. 1997. “The Touch of The Real”, Jurnal
akan mengungkap mengapa dan bagaimana Representation, edisi 57 spesial “The Fate of
diskursus yang membingkai makna dari teks ‘Culture‘: Geertz and Beyond”.

167
Jurnal Poetika Vol. I No. 2, Desember 2013

______ et al. 2010. The Cultural Mobillity:


A Manifesto. New York: Cambridge
University Press.
______& Gallager, Catherine. 2000. Practicing
New Historicism. London & Chicago:
The University of Chicago Press.
Liu, Alan. 1989. “The Power of Formalism: The New
Historicism,” dalam English Literary History
edisi 56.
Marcus, Jane. 1989. “The Asylum of Antaeus:
Women, War, and Madness “Is there a Feminist
Fetishism?” dalam The New Historicism, H.
Aram Veeser (ed.) New York & London:
Routledge.
Newton, Judith Lowder. 1989. “History as Usual?
Feminism and the ‘New Historicism” dalam
The New Historicism, H. Aram Veeser (ed.)
New York & London: Routledge.
Pease, Donald. 1991. “Toward a Sociology of
Knowledge,” dalam Consequence of Theory.
Jonathan Arac and Barbara Johnson
(Ed.). Baltimore: Johns Hopkins UP.
Veensra, Jan R. 1995. “The New Historicism
of Stephen Greenblatt: on Poetics
of Culture and the Interpretation of
Shakespear,” dalam History and Theory
edisi 34, tahun ke-3.

168

Оценить