You are on page 1of 5

Suatu antena dapat diartikan sebagai suatu tranduser antara saluran transmisi atau pandu

gelombang dalam suatu saluran transmisi dan suatu medium yang tak terikat (zona bebas)
tempat suatu gelombang elektromagnetik berpropagasi (biasanya udara), ataupun sebaliknya.
Dalam aplikasinya, suatu antena dapat berfungsi selain sebagai media pemancar gelombang
elektromagnetik, juga sebagai pe nerima gelombang elektromagnetik secara efisien dan
berpolarisasi sesuai dengan struktur yang dimilikinya. Selain itu, untuk meminimalkan
refleksi gelombang pada titik antara saluran transmisi dan titik catu antena, maka suatu
antena harus mempunyai kesesuaian (matched) dengan saluran transmisi yang digunakan.

Beberapa contoh antena dalam berbagai bentuk dapat dilihat pada Gambar 1-1.

Dan aplikasinya, antena banyak digunakan pada penyiaran radio dan televisi, sistem
komunikasi satelit, telepon selular, sistem radar dan sensor otomatis mobil anti tabrakan, dan
masih banyak fungsi-fungsi yang lain. Sifat radiasi dan impedansi dari hambatan suatu antena
banyak dipengaruhi oleh struktur atau bentuk, ukuran dan bahan pembuatannya. Dimensi dari
suatu antena selalu diukur dalam unit panjang gelombang (disimbolkan dengan “l” dibaca:
“lamda”). Sebagai contoh, antena dipole dengan panjang 1 m yang berkerja pada suatu
panjang gelombang l = 2 m, akan menunjukkan karakterisitik yang sama dengan antena
dipole dengan panjang 1 cm yang bekerja pada panjang gelombang l = 2 cm. Oleh karena itu,
dalam membahas permasalahan antena dalam buku ini, dimensi antena selalu dinyatakan
dalam satuan panjang gelombang (l)?.
Suatu karakteristik yang menggambarkan daya radiasi relatif yang dipancarkan oleh suatu
antena fungsi terhadap arah pada daerah medan jauh, dikenal dengan pola radiasi antena, atau
disingkat dengan pola antena (antenna pattern). Karakteristik ini, akan menunjukkan arah
kerja suatu antena dalam memancarkan atau kepekaan menerima gelombang
elektromagnetik.
Suatu antena isotopis merupakan suatu antena hipotetikal yang meradiasikan daya ke segala
arah dengan intensitas yang sama. Antena ini hanya ada dalam teori, dan sering digunakan
untuk referensi pada saat menggambarkan sifat radiasi dari antena yang sesungguhnya.

Kebanyakan antena memiliki sifat timbal-balik atau resiprositas, yang menyatakan bahwa
suatu antena mempunyai pola radiasi yang sama, pada saat memancarkan dan menerima
gelombang elektromagnetik. Dengan sifat resiprositas ini, jika dalam mode pemancar suatu
antena memancarkan daya pada arah A sebesar 100 kali dari arah B, maka bila antena
tersebut digunakan sebagai sebagai penerima , akan mempunyai kepekaan penerimaan
gelombang elektromagnetik pada arah A 100 kali lebih sensitif dari pada arah B. Semua
antena yang ditunjukkan pada Gambar 1-1 mengikuti aturan resiprositas, tapi tidak semua
antena mempunyai sifat resiprositas. Untuk antena-antena yang mempunyai material non-
linier semikonduktor atau material ferit, maka sifat resiprositas ini sulit dipertahankan.

Performansi antena terdiri dari dua aspek, yaitu sifat radiasi dan impedansi yang dimiliki.
Sifat radiasi antena, mencakup pola radiasi dan polarisasi ketika antena digunakan dalam
mode transmisi. Model polarisasi yang dimiliki antena , bersesuaian dengan arah medan
listrik yang dipancarkan oleh suatu antena, dan disebut sebagai polarisasi antena. Aspek
kedua adalah impedansi antena, menyangkut masalah transfer energi dari sebuah sumber ke
suatu antena, pada saat antena digunakan sebagai sebuah pemancar. Selain itu, parameter ini
digunakan sebagai pertimbangan, apakah suatu antena pantas dipasangkan pada suatu
terminal untuk dihubungkan dengan saluran transmisi atau tidak. Hal ini dilakukan untuk
menghindarkan masalah refleksi gelombang yang terjadi pada titik catu antena.

1.2 DASAR RADIASI ANTENA

Mekanisme radiasi gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh suatu sebuah antena,
ditunjukkan pada Gambar 1-2a. Pada gambar tersebut , antena digunakan sebagai mode
pemancar. Garis-garis medan listrik yang dihasilkan dari radiasi suatu antena, mempunyai
arah vertikal dan tegak lurus dengan arah rambat gelombang, yang arahnya menjahui antena.
Kondisi ini bisa berlaku sebaliknya, bila antena digunakan sebagai mode penerima
gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh antena lain (Gambar 1-2b).

Jika antena dianggap sebagai sumber radiasi, maka sumber radiasi tersebut dapat dibedakan
menjadi 2 kelompok, yaitu sumber arus dan bidang medan . Antena dipole dan antena loop
(Gambar 1-12a dan 1-1c) merupakan contoh antena sebagai sumber radiasi dari sumber arus.
Yakni, arus yang berubah terhadap waktu dalam suatu kawat konduktor, yang akhirnya
membangkitkan gelombang elektromagnetik. Antena horn (Gambar 1-1g) merupakan contoh
antena dari kelompok yang kedua ini. Hal ini karena medan listrik dan medan magnet yang
terjadi dalam antena ini, berfungsi sebagai sumber radiasi dan mempunyai arah yang saling
tegak lurus terhadap bidang lua sanhorn. Bidang-bidang medan itu sendiri, diinduksi oleh
arus yang berubah terhadap waktu dari permukaan dinding-dinding horn. Pemisahan sumber
arus dan bidang medan sebagai sumber radiasi di sini, dilakukan untuk mengklasifikasi
perhitungan medan yang diradiasikan oleh suatu antena berdasarkan struktur antena yang
dimiliki.
1.3 RADIASI ANTENA DIPOLE PENDEK

Pada bagian ini, kita mempelajari tentang suatu antena linear yang tersusun atas elemen
konduktor pendek sangat kecil dalam jumlah yang banyak. Dan masing-masing elemen
tersebut, dicatu dengan arus serba-sama (uniform) di seluruh bagian. Antena demikian ini
dikenal sebagai antena dipole pendek, dan disebut juga antena dipole Hertzian. Medan yang
dihasilkan oleh antena tersebut, diperoleh dengan menjumlahkan medan-medan yang
dibangkitkan oleh seluruh antena yang sangat kecil, dengan perhitungan yang didasarkan
pada magnitudo dan fasa relatif yang dimiliki. Dengan demikian, kita dapat menganalisa sifat
radiasi dari suatu antena linier kecil ini. Diasumsikan suatu antena dipole pendek, merupakan
konduktor tipis dan linear dengan panjang l; sangat pendek bila dibandingkan dengan panjang
gelombangnya ( l << ?). Untuk memenuhi syarat arus serba-sama (uniform), panjang dipole
tidak boleh melebihi ?/50 (l = ?/50). Bila struktur tersebut diimplementasikan pada sistem
koordinat, maka dapat digambarkan sebagai kawat konduktor yang memanjang sepanjang
arah-z dengan membawa arus sinusoidal, seperti ditunjukkan pada Gambar 1-3. Secara
matematis, arus sinusoidal tersebut dinyatakan dengan:

Dimana: I0 adalah amplitudo arus.

Dari Pers. (1.1), dapat dinyatakan bahwa bentuk fasor arus I = I0. Karena antena ini sangat
pendek, maka dalam analisa nanti kita dapat mengasumsikan arus ini sebagai konstanta, pada
saat arus melewati struktur antena tersebut. Metode umum pertama yang digunakan untuk
mencari medan listrik dan medan magnet pada point Q di suatu medium (berdasarkan
Gambar 1-3), adalah dengan teknik radiasi dari sebuah sumber arus, sehingga menghasilkan
vektor potensial A. Bentuk fasor vektor potensial Ã(R) pada jarak vektor R dari suatu
struktur dengan volume v’ yang dialiri arus dengan distribusi arus (bentuk fasor) J~
dinyatakan dengan :
Dimana µ 0 adalah permeabilitas magnetik dari suatu ruang bebas dan k = ?/c = 2π /? merupakan
konstanta gelombang. Untuk dipole pendek, kerapatan arus dinyatakan dengan sederhana J~ = zˆ
(I0 / s), dimana s adalah luas penampang dari kawat dipole; dv’ = s dz, dan batas integrasinya
mulai dari z = -l /2 sampai z = l /2. Berdasarkan Gambar 1-3, jarak R’ antara titik pengamatan dan
suatu titik yang diambil sepanjang dipole, tidaklah sama dengan jarak ke tengah-tengah dipole, R.
Tetapi untuk dipole sangat pendek, maka dapat dianggap R’˜ R , sehingga:

Fungsi ( e- jkR /R) disebut sebagai faktor propagasi bentuk bola, dimana 1/R merupakan
penurunan magnitude yang bersesuaian dengan bertambahnya jarak, sedangkan e- jkR
menyatakan perubahan fasa gelombang. Arah vektor à ditentukan oleh arah aliran arus
(arah-z). Dalam analisa ini, tujuan akhir kita adalah mendapatkan formulasi dari daya radiasi
yang dipa ncarkan oleh antena dipole pendek pada suatu titik R dari antena tersebut. Untuk
itu, perlu kiranya mengkonversi analisa kita dari koordinat tabung ke sistem koordinat bola ,
dengan menyatakan variabel R, ?, f sebagai batasan sudut elevasi atau zenith dan sudut
azimut, seperti ditunjukkan pada Gambar 1-4.