You are on page 1of 172

Aslimeri, dkk.

TEKNIK
TRANSMISI
TENAGA LISTRIK
JILID 1

SMK

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan


Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang

TEKNIK
TRANSMISI
TENAGA
LISTRIK
JILID 1
Untuk SMK
Penulis : Aslimeri
Ganefri
Zaedel Hamdi

Perancang Kulit : TIM

Ukuran Buku : 17,6 x 25 cm

ASL ASLIMERI
t Teknik Transmisi Tenaga Listrik Jilid 1 untuk SMK /oleh
Aslimeri, Ganefri, Zaenal Hamdi ---- Jakarta : Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen
Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan
Nasional, 2008.
ix, 170 hlm
Daftar Pustaka : Lampiran. A
ISBN : 978-979-060-159-8
ISBN : 978-979-060-160-4

Diterbitkan oleh
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
KATA SAMBUTAN

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan
karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, telah melaksanakan
kegiatan penulisan buku kejuruan sebagai bentuk dari kegiatan
pembelian hak cipta buku teks pelajaran kejuruan bagi siswa SMK.
Karena buku-buku pelajaran kejuruan sangat sulit di dapatkan di pasaran.

Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK dan telah
dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses
pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 45
Tahun 2008 tanggal 15 Agustus 2008.

Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada


seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya
kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas
oleh para pendidik dan peserta didik SMK.

Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada


Departemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (download),
digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat.
Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya
harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan
ditayangkan soft copy ini diharapkan akan lebih memudahkan bagi
masyarakat khsusnya para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh
Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri untuk
mengakses dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar.

Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Kepada


para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat
memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini
masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik
sangat kami harapkan.

Jakarta, 17 Agustus 2008


Direktur Pembinaan SMK
Kata Pengantar
Akhir-akhir ini sudah banyak usaha penulisan dan pengadaan buku-
buku teknik dalam Bahasa Indonesia. Namun untuk Teknik Elektro, hal ini
masih saja dirasakan keterbatasan-keterbatasan terutama dalam
mengungkapkan topik atau materi yang betul-betul sesuai dengan
kompetensi dalam bidang Transmisi Tenaga Listrik untuk Sekolah
Menengah Kejuruan. Hal inilah yang mendorong penulis untuk menyusun
buku ini agar dapat membantu siapa saja yang berminat untuk
memperdalam ilmu tentang Transmisi Tenaga Listrik.

Dalam buku ini dibahas tentang : pemeliharaan sistim DC, pengukuran


listrik, tranformator, gandu induk ,saluran udara tegangan tinggi, kontruksi
kabel tenaga dan pemeliharaan kabel tenaga .

Penulis menyadari masih banyak kekurangan- kekurangan baik


dalam materi maupun sistematika penulisan, untuk itu saran-saran dan kritik
yang membangun guna memperbaiki buku ini akan diterima dengan senang
hati.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak-banyak terima


kasih kepada Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat
Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depertemen
Pendidikan Nasional yang telah memberikan kesempatan kepada penulis
untuk menulis buku ini dan Drs.Sudaryono, MT yang telah bersedia menjadi
editor buku ini. Juga penulis megucapkan terima kasih kepada Maneger
PLN (persero) Udiklat Bogor yang telah banyak membatu penulis dalam
menyediakan bahan untuk penulisan buku ini .

Harapan penulis semoga buku ini ada mamfaatnya untuk


meningkatkan kecerdasan bangsa terutama dalam bidang teknik elektro .

Penulis

i
Daftar Isi

Kata Pengantar …………….................................................... i


Daftar isi ……………………….......................... ii
Diagram Pencapaian Kompetensi ............................................... ix

BAB. I. PEMELIHARAAN DC POWER .................................. 1


1.1. Hukum Ohm ………....................... 1
1.2. Hukum Kirchoff ......… ........................ 3
1.3. Daya Dalam Rangkaian DC ………………............. 6
1.3.1. Prinsip Dasar Rangkaian DC …............................... 7
1.3.2. Hubungan Antara Arus Tegangan dan Tahanan ............. 8
1.4. Komponen Semikonduktor ……………….................. 15
1.5. Sistem DC Power ………………...................................... 20
1.6. Charger (Rectifier) …………………………………….. 25
1.6.1. Jenis Charger …....................................................... 25
1.6.2. Prinsip Kerja Charger ........................................... 26
1.6.3. Bagian-Bagian Charger ............................... 27
1.7. Automatic Voltaga Regulator ………………........................ 29
1.7.1. Komponen Pengantar Seting Tegangan ....................... 30
1.7.2. Komponen Pengantar Seting Floating ....................... 31
1.7.3. Komponen Pengantar Seting Equalizing ....................... 31
1.7.4. Komponen Pengantar Seting Arus ....................... 31
1.8. Rangkaian voltage Dropper ………………............................ 33
1.9. Rangkaian Proteksi Tegangan Surja Hubung....................... 34
1.10. Pengertian beterai ..................................................... 37
1.10.1. Prinsip kerja baterai ............................................... 37
1.10.2. Prinsip kerja baterai asam-timah ................................. 38
1.10.3. Poses pengisian baterai ....................... ………............. 38
1.10.4. Prinsip kerja baterai alkali.................................................... 39
1.11. Jenis-jenis Baterai ………………................... ... 39
1.12. Bagian-bagian Utama Baterai ………………......................... 46
1.13. Instalasi Sel Baterai ………………...................................... 48
1.14. Pentilasi Ruang Baterai ……………….......................... 52
1.15. Pengertian pemeliharaan DC power ................................... 54
1.15.1. Tujuan Pemeliharaan ............................................... 54
1.15.2. Jenis Pemeliharaan ............................................... 54
1.15.3. Pelaksanaan Pemeliharaan ....................... ………. 55
1.15.4. Kegiatan Pemeliharaan ....................... 56
1.15.5. Pemeliharaan Charger ……………….................................. 58
1.15.6 Pengukuran Arus Output Maksimum .................................... 61
1.16 Jadwal dan Chek list Pemeliharaan Charger ........................ 63
1.16.1. Pemeliharaan Baterai ............................................... 63
1.16.2. Cara pelaksanaan pengukuran tegangan ....................... 64
1.16.3. Pengukuran Berat Jenis Elektrolit ………......................... 65

ii
1.16.4. Pengukuran Suhu Elektrolit ................................... 68
1.16.5. Jadwal pemeliharaan periodik baterai ....................... 70
1.17. Pengujian dan shooting pada DC Power................................. 73
1.17.1. Pengujian Indikator Charger ..................................... 73
1.17.2. Pengujian Kapasitas Baterai ............................................... 75
1.17.3. Pengujian kadar Potassium Carbonate ( KZC03 ) ............. 81
1.18. Trouble shooting ................................... 90
1.18.1. Kinerja Baterai ……………….................................. 91
1.19. Keselamatan kerja ……………….................................... 95

BAB. II. PENGKURAN LISTRIK ……………….............. 97


2.1. Pengertian Pengukuran ………………........................... 97
2.2. Besaran Satuan dan dimensi ……………….......................... 98
2.3. Karaktaristik dan Klasifikasi Alat Ukur ………...................... 101
2.4. Frekuensi Meter ………………....................................... 109
2.5. Kwh Meter ……….............. .................................................... 111
2.6. Megger ……………………............................... 111
2.7. Fase Squensi ………………............................................ 112
2.8. Pengukuran Besaran Listrik …………................................. 114
2.9. Prinsip kerja Kumparan Putar ……………….......................... 116
2.10. Sistem Induksi ………………................................................ 117
2.11. Sistem Elektro Dinamis …........................................... 118
2.12. Sistem Kawat Panas ................................................ 120
2.13. Alat Ukur Elektronik …................................................... 120
2.14. Alat Ukur dengan Menggunakan Transformator …........ 121
2.15. Macam-macam alat ukur untuk keperluan pemeliharaan........ 123
2.15.1.Meter Tahanan Isolasi ........................................................... 123
2.15.2.Meter Tahanan Pentanahan .................................... 123
2.15.3.Tester Tegangan tinggi .................................... 125
2.15.4.Tester Tegangan tembus .................................... 127

BAB. III. TRANSFORMATOR …………………...................... 128


3.1. Prinsip induksi ………………..................................... 128
3.2. Kumparan Transformator ………………......................... 130
3.3. Minyak Transformator ………………..................................... 131
3.4. Bushing ………………............................................................ 132
3.5. Tangki Konservator .......................................................... 132
3.6. Peralatan Bantu Pendingin Transformator …………........ 133
3.7. Tap Changer …………….................................................... 135
3.8. Alat Pernapasan Transformator …………................. .............. 135
3.9. Alat Indikator Transformator ………………......................... 137
3.10.Peralatan Proteksi Internal ............................................... 137
3.11.Peralatan Tambahan Untuk Pengaman Transformator ........... 142
3.12.Rele Proteksi Transformator dan Fungsinya ....................... 144
3.13.Announciator Sistem Instalasi Tegangan Tinggi ............... 150
3.13.Parameter/Pengukuran Transformator ................................... 153

iii
BAB IV. SALURAN UDARA TEGANGAN TINGGI ……………...... 159
4.1. Saluran Udara ………........................................................... 160
4.2. Saluran Kabel ……………............................ ........................ 160
4.3. Perlengkapan SUTT/SUTETI .................................... 161
4.3.1.Tower .................................................................................... 161
4.3.2.Bagian-bagian tower ......................................................... 165
4.4. Kondukror .........……………................................. 170
4.5. Kawat Tanah .........…...................... ......................... 172
4.5.1.Bahan Kawat Tanah ................................................ 173
4.5.2.Jumlah dan Posisi Kawat Tanah ........................................ 173
4.5.3.Pentanahan Tower ............................................................ 173
4.6. Isolator ………………………................................................... 174
4.6.1.Isolator Piring ............................................................ 174
4.6.2.Nilai Isolator ....................................................................... 178
4.6.3.Jenis Isolator ...................................................................... 178
4.6.4.Speksifikasi isolator. ........................................................... 180

BAB V. GARDU INDUK ................................................. 184


5.1. Busbar …………………................................................ 184
5.1.1. Jenis Isolasi Busbar ……….................................................. 184
5.1.2. Sistem Busbar (Rel) .................................................. 184
5.1.3. Gardu Induk dengan single busbar ..................................... 185
5.1.4. Gardu Induk dengan Doble busbar ..................................... 186
5.1.5. Gardu Induk dengan satu setengah / one half busbar ............ 186
5.2. Arrester …………………............................................................ 187
5.3. Transformator Instrumen ………....................................... 188
5.3.1. Transformator Tegangan ………....................................... 188
5.3.2. Transformator Arus ………....................................... 190
5.3.3. Transformator Bantu ………....................................... 191
5.3.4 Indikator Unjuk kerja Transformator Ukur ………................ 192
5.4. Pemisah (PMS) ………................................................... 194
5.4.1. Pemisah Engsel ……….................................................. 195
5.4.2. Pemisah Putar .............................................................. 195
5.4.3. Pemisah Siku .............................................................. 195
5.4.4. Pemisah Luncur ……….................................................. 196
5.5. Pemutus tenaga listrik (PMT) ...................................... 199
5.5.1. Jenis Isolasi Pemutus Tenaga ............................................ 199
5.5.2, PMT dengan Media pemutus menggunakan udara …………. 201
5.5.3. PMT dengan Hampa Udara ................................................. 204
5.5.4. PMT dengan Media pemutus menggunakan Minyak.......... 206
5.5.5. PMT dengan Sedikit Minyak ..................................... 207
5.6. Jenis Penggerak Pemutus Tenaga .................................... 209
5.6.1. Mekanik Jenis Spering ………........................................... 209
5.6.2. Mekanik Jenis Hidrolik ……….................................................. 212

iv
5.6.3. Penutupan PMT .................................................................. 216
5.6.4. Pembukaan PMT ................................................................. 216
5.7. Kompesator ........................................................................ 220
5.7.1. Kompensator shunt ................................................. 221
5.7.2. Kompensator reaktor shunt .................................... 222
5.8. Peralatan SCADA dan Telekomunikasi................................. 223
5.8.1. Prinsip Dasar PLC ................................................ 223
5.8.2. Peralatan Kopling ................................................ 224
5.8.3. Kapasitor Kopling ................................................ 225
5.8.4. Wave trap .................................. ......................... 226
5.8.5. Prinsip Kerja Dasar Wave trap .................................... 227
5.8.6. Line Matching Unit ............................................................ 230
5.9 . Peralatan Pengaman ............................................................ 231
5.9.1. Lightning Arester ................................................. 232
5.10. Aplikasi PLC ............................................................. 233
5.10.1. Komunikasi Suara ................................................. 233
5.10.2. Penggunaan Kanal Suara ..................................... 234
5.10.3. Teleproteksi Protection Signalling ............................... 234
5.10.4. Ramute Terminal Unit (RTU) Tipe EPC 3200........................ 235
5.11. Simbul-simbul yang ada pada Gardu Induk ..................... ... 236
5.12. Rele Proteksi dan Annunsiator .................................... 238

BAB VI. SISTEM PENTANAHAN TITIK NETRAL ............ 246


6.1. Sistem Pentanahan Titik Netral ................................... 246
6.2. Tujuan Pentanahan Titik Netral .................................... 247
6.2.1. Sistem Yang tidak Ditanahkan ….................................. 247
6.2.2. Metode Pentanahan titik Netral ..................................... 247
6.3. Pentanahan Titik Netral Tampa Impedansi .......................... 247
6.4. Pentanahan Titik Netral Melalui Tahanan ………............... 248
6.5. Pentanahan Titik Netral Melalui Kumparan Peterson.............. 251
6.6. Tranformator Pentanahan ………........................... 252
6.7. Penerapan Sistem Pentanahan di Indonesia .............. 253
6.8. Pentanahan Peralatan ............................................... 254
6.9. Exposur tegangan ................................................ 256
6.10. Pengaruh Busur Tegangan Terhadap Tenaga Listrik.......... 258
6.10.1.Pengaruh tahanan Pentanahan Terhadap Sistem ............... 258
6.10.2.Macam-macam Elektroda Pentanahan .............. .......... 258
6.11. Metode Cara Pentanahan ................................................. 260
6.11.1.Pentanahan dengan Driven Ground. .......................... 260
6.11.2.Pentanahan Dengan Mesh atau Jala .............. .................. 261
6.12. Tahanan Jenis Tanah ............................................................. 262
6.13. Pengkuran Tahanan Pentanahan .................................... 263

BAB VII. KONTRUKSI KABEL TENAGA ........................ 265


7.1. Kabel Minyak .......................................................................... 265
7.1.1. Bagian-bagian Kabel Minyak …................................... 265

v
7.1.2. Konduktor ................................................. 265
7.1.3. Isolasi Kabel ........................................................................ 266
7.1.4. Data Kimia ........................................................................ 267
7.2. Karakteristik Minyak ............................................................. 268
7.3. Macam-macam Minyak Kabel ................................................. 270
7.4. Tangki Minyak ............................................................. 272
7.5. Perhitungan Sistem Hidrolik ..................................... 278
7.6. Keselamatan Kerja ….............................................. 280
7.7. Crossbonding dan Pentanahan .......................... 290
7.8. Cara Kontruksi Solid bonding …................................. 292
7.9. Tranposisi dan sambung Silang …................................ 294
7.10. Alat Pengukur Tekakan …................... .............. 299
7.11. Tekanan Pada Kabel Minyak ….................................. 300
7.12. Kabel Tenaga XLPE ….............................................. 303
7.13. Kontruksi Kabel Laut ….............................................. 307

BAB VIII. PEMELIHARAAN KABEL TEGANGAN TINGGI ......... 310


8.1. Manajemen Pemeliharaan ................................................. 310
8.1.1. Manajemen Pemeliharaan Peralatan .................................. 310
8.1.2. Perencanaan ................................................ 311
8.1.3. Pengorganisasian ........................................................... 312
8.1.4. Penggerakan ........................................................................ 313
8.1.5. Pengendalian ........................................................................ 314
8.2. Pengertian dan tujuan Pemeliharan .................................... 314
8.3. Jenis-jenis Pemeliharaan ............................................... 315
8.4. Pemeliharaan Yang Dilakukan Terhadap Kabel Laut
Tegangan Tinggi ................................................................ 318
8.5. Prosedur Pemeliharaan ................................................ 321
8.6. Dekumen Prosedur Pelaksanan Pekerjaan .......................... 330
8.7. Pemilihan Instalasi Kabel Tanah Jenis Oil Fillied .............. 332
8.8. Spare Kabel ........................................................................ 335
8.9. Termination ....................................................................... 335
8.10. Tank Chanber Umum ............................................................. 337
8.11. Anti Crossbonding Coverting ..................................... 338
7.12. Cara mengukur Tekanan Minyak Dengan Manometer......... 342
8.13. Penggelaran Kabel ................................................ 348
8.14. Regangan maksimum yang diizinkan pada Kabel ............. 349
8.15. Perhitungan Daya tarik Horizontal ........................ 350
8.16. Peralatan Pergelaran kabel .................................... 353
8.17. Jadwal Pemeliharaan ................................................ 353
8.18. Kebocoran minyak Kabel Tenaga ......................... 354
8.19. Gangguan kabel pada lapisan pelindung P.E. oversheath..... 360
8.19.1.Methoda mencari lokasi gangguan pada lapisan pelindung
kabel....................................................................................... 360
8.19.2.Methoda Murray ............................................................. 360

vi
8.20. Memperbaiki Kerusakan Kabel ......................... 366
8.20.1.Memperbaiki kerusakan lead sheath kabel .......................... 366
8.20.2.Mengganti Kabel yang rusak ...................................... 367
8.21. Auxiliary Cable. .................................................................... 370

BAB . IX. PROTEKSI SISTEM PENYALURAN ........................ 372


9.1. Perangkat Sistem Proteksi .................................... 373
9.1.1. Elemen Pengindra .............................. .............. 373
9.1.2 Elemen Pembanding ............................................... 373
9.1.3 Elemen Pengukur ............................................................ 373
9.2. Fungsi dan Peralatan Rele Proteksi ..................................... 374
9.2.1. Sensitif. .............................. ................................ 374
9.2.2. Selektif .......................................................... 374
9.2.3. Cepat .................................................................................... 374
9.2.4. Handal.................................................................................... 375
9.2.5. Ekonomis ..................................................................... ... 375
9.2.6. Sederhana ........................................................................ 375
9.3. Penyebab Terjadinya Kegagalan Proteksi ......................... 375
9.4. Gangguan pada sistem Penyaluran ..................................... 376
9.4.1. Gangguan Sistem ......................... .................... 376
9.4.2 Gangguan Non Sistem .................................... 376
9.5. Proteksi Pengantar ............................................................. 376
9.6. Sistem Proteksi SUTET ................................................. 378
9.7. Media Telekomunikasi ................................................. 379
9.8. Relai Jarak ........................................................................ 379
9.8.1. Prinsip Kerja Relai Jarak ............................. ................ 379
9.8.2. Pengukuran Impedansi Gangguan Oleh Relai Jarak ............ 381
9.8.3 Gangguan Hubung Singkat Tiga Fasa ......................... 381
9.8.4 Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa ......................... 381
9.8.5 Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa Ke Tanah.................. 382
9.9. Karakteristik Rele Jarak ................................................. 383
9.9.1. Karakteristik Impedansi ............................. .................. 383
9.9.2. Karakteristik Mho ............................................................ 383
9.9.3 Karakteristik Reaktance ................................................. 384
9.9.4 Karakteristik Quadrilateral .................................... 385
9.10. Pola Proteksi ........................................................... 386
9.10.1. Pola Dasar ........................................................... 386
9.10.2. Pola PUTT ........................................................... 386
9.10.3. Pola Permissive Underreach Transfer Trip ......................... 387
9.10.4. Pola Blocking ....................................................................... 387
9.11. Current Differential Relay ................................................ 390
9.12. Proteksi Transformator Tenaga ..................................... 397
9.13. Rele Arus Lebih ................................................ 400
9.14. Proteksi Penyulang 20 KV ............................................... 401
9.15. Disturbance Fault ............................................................ 402
9.16. Basic Operation ................................................ 404

vii
9.17. Auto Recloser ............................................................ 405
BAB . X. PEMELIHARAAN SUTT/SUTETI BEBAS TEGANGAN.. 410
10.1. Tujuan Pemeliharaan ........................................................... 410
10.2. Jenis-jensi pemeliharaan ............................................. 410
10.2.1. Pemeliharaan Rutin : ........................................................... 410
10.2.2. Pemeriksaan Rutin................................................................ 410
10.2.3. Pemeriksaan Sistematis........................................................ 411
10.2.4. Pemeliharaan Korektif............................................................ 412
10.2.5. Pemeliharaan Darurat........................................................... 412
10.3. Prosedur Pemeliharaan SUTT/SUTET ......................... 413
10.3.1. Peralatan yang dipelihara .................................................... 413
10.3.2. Peralatan Kerja ........................................................... 418
10.3.3. Petunjuk Pemeliharaan Peralatan ................................. .. 420
10.3.4. Pelaporan Pekerjan Pemeliharaan ................................. .. 421

LAMPIRAN :
Daftar Pustaka . ....................................................................... A

viii
DIAGRAM PENCAPAIAN KOMPETENSI
menunjukan tahapan atau tata urutan kompetensi yang diajarkan dan dilatihkan kepada peserta didik dalam kurun
waktu yang dibutuhkan serta kemungkinan multi exit-multi entry yang dapat diterapkan.

TIG.CBH. Asisten
TGM.HRB Asist 5 Teknisi
3 en 8 Konstruks
2 Tekn i&
Teknisi isi TIG.CIS.0 Pemelihar
TGM.HRB Konstr P
1
3 uksi &
8
2
Pemeli TIG.CBH. TIG.CBH.0
TGM.HRB TGM.HRE TMP.HPN. 4 4
3 3 2 4 4
2 4 Tekn 4
isi TIG.CIT.0 TIG.CIT.0
TGM.CIF. TIG.CIP.0 Instal TMP.HPN. 9 9
1 1 asi 2 4 4
TIG.CIF.0 2 2 Listri
4 TIG.CIC.0
3 2 TNP.HPG.
4 TIG.CIF.0
k TMP.PN.0 1 2
3 TIG CIT 0
2 7 1
2 4 4
TIG.CIF.0 TIG.CBH. TIG CIT 0 TIG.CIP.0
1 3 TMP HPN 8 1
5 5 2 TIG CIT 0 Asisten 4 4
4 1 Teknisi
8 TIG CIF 0 Asisten
Konstruks Asist Teknisi
TIG.CIF.0 TIG.CIT.0 i&
2
1 1 en Konstruksi
8 1 Pemelihar Tekn &
4 TIG.CIT.0 isi P lih
TMC.Mmc 1 Kons
2 TGU.HW 4
2 3 t k
2 TIG CIP 0
TSU.HSC. Asiste TGC.HWC
1
3 4
1 n 3
Teknis 8 TIG.CIP.0
TIG.CIS.0 i 1
2 Konstr 4
8
TIG.CIF.0
2
Keterangan 4

: 6
TIG.CIT.0

Nomor Kompetensi dari daftar 4


keseluruhan kompetensi program keahlian = Outlet
teknik transmisi
Nomor Kode
Kompetensi
Jam Pencapaian
Kompetensi

ix
BAB . I
PEMELIHARAAN SUMBER LISTRIK DC.

1.1.Hukum Ohm lain adalah satu joule untuk setiap


coulomb yang mengalir.
Mari kita tinjau sebuah
rangkaian listrik tertutup yang Kerja sebesar W Joule
berupa sebuah tahanan Volt (V) =
Muatan sebesar Q Coulomb
dihubungkan pada kutub-kutub
sebuah baterai. seperti gambar 1.1
R 1.1.2. Arus Listrik
Arus listrik adalah gerakan
muatan listrik di dalam suatu
penghantar pada satu arah tertentu.
Saklar Muatan listrik dapat berupa
elektron, ion atau keduanya. Di
dalam penghantar, umumnya
terdapat gerakan acak elektron
Sumber tegangan (Baterai)
bebas diantara atom-atom statis.
Gambar 1.1. Rangkaian Listrik Gerakan ini tidak menghasilkan
Tertutup arus listrik. Namun pada suatu
Perbedaaan muatan di dalam keadaan tertentu, elektron bebas
Baterai mengakibatkan mengalirnya dapat dipaksa untuk bergerak
arus listrik di dalam rangkaian yang dalam satu arah tertentu, yaitu ke
secara perjanjian ditentukan satu titik yang kekurangan elektron.
mengalir dari kutub positip baterai (perhatikan bahwa keadaan
melalui beban tahanan kemudian kekurangan elektron disebut
masuk ke kutub negatip baterai. muatan positip sedang kelebihan
Dalam peristiwa ini dikatakan elektron disebut muatan negatip).
sebuah Gaya Gerak Listrik bekerja Keadaan mengalirnya elektron
sehingga mengakibatkan mengalir- pada satu arah tertentu dinamakan
nya arus listrik dalam rangkaian . konduksi atau arus aliran elektron.

1.1.1.Perbedaan Potensial Pergerakan elektron ditentukan


(Tegangan) oleh perbedaan muatan yang
terdapat antara kedua ujung
Bila antara dua titik dalam penghantar. Jadi pergerakan
sebuah rangkaian terdapat energi elektron di dalam penghantar terjadi
listrik yang dapat diubah menjadi akibat tarikan ujung penghantar
energi lain, maka antara dua titik yang bermuatan positip maupun
tersebut, disebut terdapat dari ujung yang lebih negatip.
perbedaan potensial atau Sampai tahap ini harus sudah dapat
tegangan. Satuan dari tegangan dimengerti perbedaan arus listrik
adalah Volt. Tegangan antara dua (konvensional) dan arus elektron.
titik dikatakan satu Volt bila energi Istilah yang mengatakan arus listrik
listrik yang diubah menjadi bentuk mengalir dari kutub positip ke arah

1
kutub negatip berasal dari teori dengan besarnya arus yang
kuno, pada waktu kenyataan mengalir di sepanjang penghantar
sebenarnya mengenai arus elektron adalah sama.
belum diketahui benar. Dengan demikian untuk setiap
penghantar berlaku :
Karena itu pada pembahasan Tegangan.pada.penghantar
mengenai tabung elektron maupun = Tetap
arus.pada.penghantar
transistor gambar-gambarnya
dilengkapi dengan tanda panah
Hubungan dalam rumus di atas
arah arus elektron dan bukannya
bersifat LINIER dan bila digambar
arus listrik.
berbentuk garis lurus. Harga tetap
pada rumus di atas ternyata adalah
1.1.3. Satuan Arus Listrik
nilai tahanan dari penghantar itu
dalam satuan OHM.
Satu satuan muatan listrik
V (Volt)
adalah sebanding dengan adanya R=
6,20 x 1018 buah elektron. I (Ampere)
Satuannya adalah coulomb (simbol Jadi 1 Ohm merupakan arus
Q), jadi 1 coulomb = 6,20 x 1018 listrik sebesar satu ampere yang
buah elektron. Arus listrik dalam mengalir dalam penghantar pada
penghantar adalah pergerakan tegangan 1 volt.
terarah sejumlah elektron dari ujung
satu ke ujung lainnya. Dengan 1.1.5. Faktor-Faktor Yang
demikian arus listrik dapat Mempengaruhi Tahanan
didefinisikan sebagai coulomb per
detik. Namun satuan arus listrik Tahanan sebuah penghantar
yang umum digunakan yaitu berbanding lurus dengan
ampere, dimana satu coulomb per panjangnya dan berbanding terbalik
detik = satu ampere dengan besarnya penampang.
l
Sehingga : R (Ohm ) = ρ
Q A
atau =I
t dimana ρ adalah tetapan
dimana I adalah lambang dari arus (konstanta)
listrik Besarnya tetapan ρ tergantung
pada jenis material penghantar.
1.1.4. Tahanan Konstanta atau disebut tahanan
jenis suatu material adalah tahanan
Sebuah penghantar disebut
antara dua permukaan yang
mempunyai tahanan sebesar satu
berlawanan dari material itu dalam
OHM bila pada kedua ujungnya
bentuk kubus, dinyatakan dengan
diberi perbedaan potensial sebesar
satuan Ohm-cm.
satu volt dengan arus satu amper
Suatu dari panjang penghantar
mengalir diantara kedua ujung
yang dicari besar tahanannya
tersebut. Dalam penghantar jenis
haruslah sesuai dengan satuan dari
apapun, selama suhunya tetap,
tahanan jenis yang dipakai untuk
perbandingan antara perbedaan
penghitung. Bila satuan panjang
potensial pada ujung-ujungnya
yang digunakan adalah cm, maka
2
satuan tahanan jenisnya haruslah sedangkan yang meninggalkan
menggunakan Ohm-cm. diberi tanda negatip, seperti gambar
1.2.
Contoh : Jadi berlaku I1 + I2 - I3 - I4 = 0
Sepotong kawat sepanjang 100
m dengan penampang 0,001 cm2 I1
dibuat dari bahan tembaga dengan
tahanan jenis = 1,7 µ ohm-cm.
Hitunglah tahanan kawat
penghantar tersebut.
I4
L = 10.000 cm A = 0,001 cm2
1,7 I2 I3
ρ = 6 Ohm − cm
10

Gambar 1. 2.arah aliran arus.


1,7
R= 2 = 17Ohm
10 x 0,001
1.2. 2. Hukum Kirchoff II
Selain nilai tahanan tergantung
Hukum Kirchoff II sering
dari panjang dan material maka
disebut dengan Hukum Kirchoff
besar nilai tahanan juga ditentukan
tentang tegangan, dinyatakan
oleh faktor naik turunnya
dengan persyaratan bahwa dalam
temperatur, sebagaimana dituliskan
suatu rangkaian tertutup jumlah
dalam rumus.
aljabar sumber tegangan, dan
tegangan jatuh pada tahanan
Rt = R0 {1 + α (t2 - t1) }
adalah nol. Atau secara matematis
dimana R0= Tahanan pada ditulis dengan rumus :
temperatur t1 oC
Rt = Tahanan pada temperature Σ V = Σ ( I x R)
t2 oC Sebagai contoh gambar 1.3 dibatasi
α = Koefisien muai panjang sebuah daerah A-B-C-D-A.
tahanan. Jadi untuk menerapkan hukum
ini, haruslah dipilih suatu rangkaian
1.2. Hukum Kirchoff yang tertutup. Arah arus harus
1.2.1. Hukum Kirchoff I ditentukan lebih dahulu, seperti
gambar 1.3. searah dengan putaran
Hukum Kirchoff I menyatakan, jarum jam dan ditentukan juga arah
bahwa aljabar arus-arus yang referensi ggl suatu baterai adalah
menuju ke suatu titik simpul adalah searah dengan arus yang
sama dengan nol. Gambar 1.2 diakibatkannya, bila baterai tersebut
menunjukkan sebuah titik simpul dibebani sebuah tahanan sendiri
dari suatu rangkaian, dengan arus- (tanpa ada baterai lain), jadi
arus I1, I2, I3, I4 yang terhubung arahnya harus diambil dari kutub
dengan titik simpul tersebut. Untuk negatip ke kutub positip.
dapat menjumlahkan secara aljabar
maka arus yang arahnya menuju
titik simpul diberi tanda positip,

3
Arah arusnya, bila belum 1. Rangkaian Seri
diketahui sebenarnya (harus dicari
Tahanan-tahanan dikatakan
dahulu) tetapi untuk keperluan
tersambung seri bila tahanan-
perhitungan dapat dipilih
tahanan tersebut dihubung kan dari
sembarang. Nanti hasil perhitungan
ujung ke ujung sebagaimana
akan menunjukkan, apakah arah
diperlihatkan dalam gambar 1.4
yang dipilih sementara itu sesuai
Dalam sambungan seri arus yang
dengan arah arus sebenarnya
mengalir pada setiap tahanan akan
atau tidak, hal ini akan ketahuan
sama besarnya.
pada hasil akhir perhitungan (+
atau - ) R1 R2 R3
I6 R1 I1 I7

B I C V1 V2 V3

I2 I (Amps)
ra R2 V Volt

Gambar1. 4. Sambungan Seri


Ea R

A I5
I3 Eb rb D I8
E0 I (AMPS)
V (VOLT)
Gambar1. 3.Arah aliran arus
tertutup Gambar1. 5. Tahanan Pengganti
(Ekivalen)
Suatu ggl dihitung positip, bila
arah referensinya sama dengan Dengan menggunakan hukum
arah arus yang telah dipilih. Ohm diperoleh :
Sebaliknya bila arah referensi V1 = Tegangan di R1 = IR1 volt
berlawanan dengan arah arus maka V2 = Tegangan di R2 = IR2 volt
besaran yang bersangkutan V3 = Tegangan di R3 = IR3 volt
dihitung negatip.
Sehingga dari gambar 1.3. Sekarang bilamana ketiga
dapat dituliskan. tahanan itu harus digantikan oleh
satu tahanan pengganti yang
I1 R1 + I2 R2 + I3 ( R3+ rb) - Eb + Ea+ nilainya tak berubah maka hal itu
I ra = 0 dapat digambarkan sebagai
tahanan ekivalen, lihat gambar 1.5.
atau Dari hukum Ohm, perbedaan
Eb - Ea = I1 R1 + I2 R2 + potensial pada V = I.R volt atau,
I3 (R3 + rb)+ I ra
V = I.R

4
Kembali kepada gambar 1.4, dari persamaan diatas diperoleh
jumlah perbedaan potensial yang V V V V
melalui tahanan R1, R2, R3 : = + +
R R1 R 2 R3
haruslah sama dengan tegangan
sumber sebesar V volt, atau :
I1 R1

R2
V = IR1 + IR2 + IR3 dan
I1
IR = IR1 + IR2 + IR3 atau
I3 R3
R = R1 + R2 + R3 I AMPS
V Volt
2. Rangkaian Paralel
Gambar1. 6. Sambungan Paralel
Tahanan-tahanan dinyatakan
tersambung paralel bila kedua R
ujung tahanan disambung
sebagaimana diperlihatkan dalam
gambar 1.6. Dalam keadaan ini
semua tahanan tersambung
I AMPS
langsung kepada sumber tegangan,
sehingga perbedaan potensial yang
dialami setiap tahanan adalah sama
VVolt
dengan V volt. Tetapi arus dari
sumber kini terpecah menjadi tiga
Gambar 1.7. Tahanan Pengganti
I1, I2, I3, sehingga:
Paralel
I = I1 + I2 + I3
1 1 1 1
Sehingga = + +
V R R1 R 2 R3
dan I1 =
R1
Rumus ini digunakan untuk
V mendapatkan tahanan pengganti
I2 =
R2 dari rangkaian tahanan yang
V tersambung paralel.
I3 =
R3
Contoh :
Carilah tahanan pengganti dari 3
Tahanan ekivalen / pengganti buah tahanan 10 ohm yang
dari ketiga tahahan yang disambung paralel.
tersambung paralel digambarkan
dalam gambar 1. 7.
1 1 1 1 3
= + + =
I=V/R R 10 10 10 10

5
10 Sehingga arus yang mengalir ke
Sehingga R = = 3,333Ohm dalam rangkaian dapat dihitung
3
sebagai berikut :
3. Rangkaian Kombinasi V
I=
R
Gambar 1.8 adalah suatu 12
rangkaian yang memiliki I=
1
sambungan paralel maupun seri. 17
3
Dari harga tahanan yang diberikan
9
kita dapat menghitung besarnya I = Amper
tahanan pengganti sebagai berikut. 13
Bila Rx merupakan tahanan
pengganti yang dimaksud dan Ry 1.3. Daya Dalam Rangkaian DC.
adalah tahanan pengganti dari Bila suatu arus melewati suatu
rangkaian paralel ( 4 dan 2 Ohm ) tahanan, maka akan timbul panas.
maka, Seperti halnya dalam bidang
1 1 1 3 mekanik, disini ada dua hal yang
= + =
Ry 4 2 4 mempunyai definisi sama, yaitu
energi dan daya (power). Energi
listrik adalah kemampuan suatu
4 1 sistem listrik untuk melakukan kerja.
Ry = = 1 Ohm
3 3 Satuan energi listrik adalah joule.
Rangkaiannya kini sama seperti
pada gambar 1.4. dimana : Kerja (work) atau usaha
adalah terjadi bila suatu muatan
R1 = 10 ohm Q coloumb bergerak melalui
1 perbedaan tegangan V volt, atau
R2 = 1 ohm
3
R3 = 6 ohm W (work) = VQ joule
Dengan demikian tahanan Q = I t coloumb
pengganti seri paralel adalah :
1 sehingga W = V I t joule
Rx = 10 + 6 + 1
3
1 Daya listrik adalah ukuran
Rx = 17 ohm
3 kerja yang dilakukan. Karena
.. 4Ω satuan kerja adalah joule maka
10Ω 6Ω daya diukur dalam joule per-detik,
atau watt.

1 watt = 1 joule/detik
2Ω
I AMPS Energi atau kerja(joule)
12 VOLTS Jadi, Daya = --------------------------
waktu (detik )
Gambar 1.8. Rangkaian Seri –
Paralel

6
VIt P = I2 x R atau
P= atau P = VI
t V .V V2
P= watt atau P = watt
R R
Dengan hukum OHM dapat kita
peroleh rumus (formula) lain yang Sebagai contoh :
akan memudahkan perhitungan. Lampu dengan sumber tegangan
220 V mengalirkan arus 1 Amper
P = V.I (watt) (Gambar 1.9), maka :

Menurut hukum Ohm V = IR P = 220 x 1 = 200 watt


sehingga P = I x IR atau

P = I2 R

V2
dan P= watt
R
Jika suatu alat pemanas
disambungkan pada suatu sumber
tegangan, maka arus akan mengalir Gambar 1.9.
pada elemen (tahanan) dari alat Rangkaian Pengukuran Daya Dari
pemanas tersebut. Proses ini Arus Listrik DC
adalah sebagai aplikasi dari
perubahan energi listrik menjadi 1.3.1.Prinsip Dasar Rangkaian DC
energi panas dengan elemen
(tahanan) dari alat pemanas Pada arus searah, sumber
tersebut. tegangan pada suatu rangkaian
Apabila alat pemanas yang mempunyai sisi positif dan sisi
digunakan pada labelnya tertulis negatif, kedua sisi ini disebut
1 kW, 2 kW dan sebagainya, ini polaritas. Sisi posiif atau kutub
menunjukkan bahwa alat pemanas positif digambarkan dengan “ + “
2 kW menyerap daya lebih besar dan kutub negatif digambarkan
dari alat pemanas 1 kW, karena alat dengan “ - “.
pemanas 2 kW menyerap daya 2
kali lebih besar dari alat pemanas
1 kW. Besarnya daya yang diserap _ Negative pole
ini dinotasikan denga simbol P
dalam satuan watt.
Dalam kenyataannya daya + Positive pole
(dalam watt) pada suatu rangkaian
tahanan (resistor) dapat
menggunakan perhitungan yang
mudah yaitu : Gambar 1.10. Rangkaian

P=VxI Polaritas dari sumber


dimana : V=IxR tegangan arus searah (DC) tak
pernah berubah, dimana terminal
maka :P = I x R x I kutub negatif selalu
7
mempertahankan polaritas negatif, Jumlah elektron yang mengalir
dan terminal positif setiap detik dapat mencapai jutaan
mempertahankan polaritas positif. elektron. Laju aliran elektron setiap
Oleh karena itu dalam suatu detik diukur dalam satuan Ampere
rangkaian yang menggunakan (I)
sumber rangkaian DC, arus selalu
mengalir melalui rangkaian tersebut 2. Tegangan Listrik.
dalam satu arah.
Untuk menghasilkan aliran listrik
Mari kita tinjau sebuah
harus ada beda potensial antara 2
rangkaian listrik tertutup yang
kutub. Beda potensial antara 2
berupa sebuah tahanan yang
kutub ini dinyatakan dalam satuan
dihubungkan pada kutub-kutub
Volt (V). Tegangan dapat dianggap
sebuah baterai.
Beban sebagai potensial pendorong bagi
proses perpindahan elektron
melintasi konduktor.
Saklar
Bila beda potensial antara dua
kutub konduktor naik, maka jumlah
elektron yang mengalir melintasi
Baterai konduktor menjadi bertambah
banyak, karena itu arus listrik pun
Gambar 1.11. Rangkaian Tertutup akan bertambah besar.
Perbedaan muatan didalam 3.Tahanan Listrik.
baterai mengakibatkan mengalirnya
arus listrik di dalam rangkaian yang sudah diketahui bahwa
secara perjanjian ditentukan konduktor mempunyai sejumlah
mengalir dari kutub positif baterai elektron bebas. Logam-logam
melalui beban tahanan kemudian biasanya merupakan konduktor
masuk ke kutub negatif baterai. yang baik karena mempunyai
Dalam peristiwa ini dikatakan banyak elektron bebas. Tembaga
Gaya Gerak Listrik (GGL) bekerja (Cu) dan Alumunium (AL) adalah
sehingga mengakibatkan mengalir- logam yang banyak digunakan
nya arus listrik. sebagai konduktor.

1.3.2. Hubungan Antara Arus, Sebaliknya bahan yang


Tegangan dan Tahanan. mempunyai sedikit elektron bebas
disebut isolator. Isolator bukan
1. Arus Listrik. penghantar listrik yang baik, karena
mempunyai sedikit sekali elektron
Arus listrik adalah aliran
bebasnya. Apabila diinginkan untuk
elektron bebas berpindah dari suatu
menghambat aliran listrik, maka
atom ke atom lain dalam
gunakan isolator.
penghantar. Arus Listrik (aliran
Penghambat aliran listrik
elektron) akan terjadi bila ada
biasanya disebut Tahanan (R)
perbedaan potensial diantara ke
dalam satuan ohm. Sebuah
dua ujung sebuah konduktor.
penghantar disebut mempunyai

8
tahanan sebesar satu ohm bila mengandung resistor yang
perbedaan ujungnya diberikan berfungsi mengontrol arus dan atau
perbedaan potensial sebesar satu tegangan.
volt dengan arus satu amper Didalam aplikasinya resistor sering
mengalir diantara kedua ujung digunakan untuk :
tersebut. Dalam penghantar jenis - Mengontrol tegangan dan arus
apapun, selama suhunya bias pada amplifier/penguat
tetap,perbandingan antara transistor
perbedaan potensial pada ujung- - Mengubah arus keluaran yang
ujungnya dengan besarnya arus berkaitan dengan drop
yang mengalir disepanjang tegangan keluaran, dan
penghantar adalah sama. Dengan menyediakan suatu nilai
demikian untuk setiap penghantar tertentu.
berlaku : Nilai resistansi, biasanya
Tegangan.Pada.pengantar dinyatakan dengan besaran : Ω, kΩ
= tetap atau m Ω.
Arus.dalam.penghantar
Hubungan dalam rumus
b. Resistor Variable
tersebut diatas bersifat linier dan
bila digambarkan berbentuk garis Resistor variabel mempunyai
lurus. Harga tetap pada rumus bermacam-macam bentuk, tetapi
diatas ternyata adalah nilai tahanan yang paling populer adalah
dari penghantar itu dalam satuan potensiometer karbon dan gulungan
ohm. kawat. Tipe karbon lebih cocok
V (Volt ) diaplikasikan untuk daya rendah
I .( Amp) = (umumnya kurang dari 1 watt). Tipe
R (ohm )
gulungan kawat digunakan untuk
(formula ini disebut hukum Ohm)
daya maksimum 3 watt.
Tipe dan aplikasi resistor yang
c. Nilai Resistansi
sering ditemui adalah sebagai
berikut. Rangkaian elektronik yang - Tertulis pada body resistor,
sangat komplek, mungkin terdiri mempunyai toleransi 10%.
dari beberapa ratus komponen.
Misal : tertulis 100 Ω, maka nilainya
Komponen-komponen tersebut
mempunyai bermacam-macam (90 - 110) Ω.
katagori, antara lain ada komponen - Dekade seri, misal : seri E6
yang tidak dapat menguatkan mempunyai toleransi 20%; seri E
(misal : resistor, kapasitor, dan 12 mempunyai toleransi 10%; dan
induktor), dan ada pula kompoen seri E 24 mempunyai
yang dapat menguatkan/ amplifikasi toleransi 5%.
atau berfungsi sebagai saklar (misal Kode warna, ada dua metode,
: Transistor, IC). antara lain metode : empat pita; dan
lima pita . Tipe dan aplikasi resistor
a. Resistor yang sering ditemui adalah seperti
Hampir dapat dipastikan pada tabel 1.1 :
semua rangkaian elektronik

9
Tabel 1.1 Tipe dan aplikasi resistor

Tipe Karakteristik Aplikasi


Carbon Murah, toleransi rendah Keperluan umum yang tidak
composition koefisien temperatur kritis, penguat sinyal besar,
rendah, ada desah, dan dan catu daya.
kestabilan rendah.
Carbon film Keperluan umum : bias,
Toleransi tinggi, kestabilan
beban, dan pull-up.
tinggi
Keperluan umum dan
Metal film Koefisien suhu rendah,
rangkaian desah rendah:
kestabilan tinggi
bias dan beban rangkaian
penguat tingkat rendah
Desah sangat rendah, Keperluan umum : amplifier
Metal oxide
kestabilan dan keandalan desah rendah dan sinyal
tinggi. kecil.
Aluminium clad Disipasi sangat tinggi Catu daya dan beban daya
wirewound tinggi
Disipasi tinggi Catu daya.
Ceramic
wirewound
Disipasi tinggi
Silicon and Catu daya, penguat daya
vitreous enamel dan kendali
wirewound

Metode empat pita

Toleransi
Pengali
Angka II
Angka I

Gambar 1.12. Kode Warna Resistor Empat Pita

10
Keterangan :
Angka I, II dan III Pengali Toleransi
Hitam =0 Perak = 0.01 Merah = ± 2%
Coklat =1 Emas = x 0.1 Emas = ± 5%
Merah =2 Hitam =x1
Orange =3 Coklat = x 10 Perak = ± 10%
Kuning =4 Merah = x 100 Tanpa warna =± 20%
Hijau =5 Orange = x 1000
Biru =6 Kuning = x 10.000
Ungu =7 Hijau = x 100.000
Abu-abu =8
Putih =9 Biru = x 1.000.000

contoh :

Kuning = 4
Ungu = 7
Emas = x 0.1
jadi, nilai resistansi = 47 x 0.1 = 4.7Ω ± 10%
Perak = ± 10% = 4R7 ± 10%

Gambar 1.13. Rangkaian

Metode lima pita

Toleransi

Pengali
Angka III
Angka II
Angka I

Gambar 1.14. Kode Warna Resistor Lima Pita

11
Contoh

Coklat = 1
Hitam = 0 Jadi, nilai resistance
Hitam = 0 = 100 x 100 = 10.000 ± 5%
Merah = x 10 = 10 K ± 5% Ω
Emas = ± 5%

Gambar 1.15. Rangkaian

Ada kode huruf yang menyatakan posisi titik desimal pengali dan
toleransi, yang digunakan untuk menentukan nilai resistansi, antara lain :
Kode Pengali Kode Toleransi
R x1 F ± 1%
K x 1000 G ± 2%
M x 1.000.000 J ± 5%
K ± 10%
M ± 20%

Contoh :
Kode Nilai Toleransi

R22M 0.22Ω ± 20%


4R7K 4.7 Ω ± 10%
68RJ 68 Ω ± 5%
1MOF 1M Ω ± 1%

d. Aplikasi Resistor
e. Termistor
- Hubungan seri R = R1 + R2
Termistor (thermally sensitive
- Hubunganparalel
resistor) adalah komponen
1 1 1 elektronika yang mempunyai
= + .
R R1 R2 sifat/karakteristik resistansinya
- Pembagi tegangan Vout = Vin bervariasi terhadap perubahan
suhu. Karena sifat inilah, maka
R1 - didalam aplikasinya sering
- Pembagi arus Iout = Iin digunakan sebagai elemen
R2 + R 2
sensor kompensasi suhu. Ada 2
tipe termistor ; PTC (Positive

12
Temperature Coefficiant), dan listrik. Aplikasi kapasitor antara
NTC (negative temperature lain sebagai kapasitor
coefficient). penyimpan pada catu daya,
kopling sinyal AC antara tingkat
f. Kapasitor penguat dan kopling DC catu
daya. Nilai kapasitansi, biasanya
Kapasitor adalah komponen
dinyatakan dengan besaran: uF,
elektronik yang sangat penting
nF atau pF. Tipe dan aplikasi
untuk memperbaiki kerja
kapasitor yang sering ditemui
rangkaian elektronik, dan dapat
adalah sebagai berikut :
berfungsi untuk menyimpan
energi dalam bentuk medan

Tabel 1.2 Tipe dan aplikasi kapasitor


Tipe Karakteristik Aplikasi
Keramik Ukuran kecill,
De-kopling frekuensi menengah
induktansi rendah
dan tinggi, timing, kompensasi
suhu,
Elektrolit Nilai kapasitansi Reservoir catu daya, de-kopling
relatif besar, frekuensi rendah
polarisasi

Metal - film Reservoir catu daya tegangan


Nilai kapasitansi
tinggi DC, koreksi faktor daya
sedang, cocok untuk
pada rangkaian AC
aplikasi tegangan
tinggi, relatif mahal
Mika Stabil, koefisien suhu Osilator frekuensi tinggi, timing,
rendah filter, pulsa

Kestabilan tinggi, Rangkaian timing dan filter


Polikarbonat
ukuran fisik kecil.

Poliyester Keperluan umum Kopling dan de-kopling

Polipropilin Hilang dielektrik Kopling dan de-kopling rangkaian


sangat rendah tegangan tinggi filter utama
Polistirin Harga murah, aplikasi Timing, filter, osilator dan
tegangan rendah . deskriminator
Tantalum
Nilai kopel relatif Kopling dan de-kopling
besar ukuran fisik
sangat kecil.

13
g. Aplikasi kapasitor (d) Low-Pass filter C-R
(e) High-pass filter C-R
- Hubungan seri 1/C = 1/C1 +1/C2
(f) Filter C-R kaskade
- Hubungan paralel C = C1 + C2
(g) Band pass filter C-R
- Kapasitor didalam rangkaian AC
(h) Low-pass dan high-pass filter
Reaktansi kapasitip dinyatakan
L-C
sebagai rasio tegangan
(I) Band-pass filter L-C seri
terhadap arus kapasitor dan
(j) Band-pass L-C paralel
diukur dalam Ω.
V I 1 Transformator (trafo)
XC = C = = .Ω
IC 2π .f .c ω.f .c
Berdasarkan fungsinya, trafo
Induktor dibagi menjadi empat kategori :
Induktor adalah komponen - Trafo utama /daya (50 Hz, atau
elektronika yang jarang 60 Hz )
digunakan seperti halnya - Trafo frekuensi audio ( 20 Hz -
resistor atau kapasitor. tetapi 20 Khz )
penting didalam aplikasinya - Trafo frekuensi tinggi
sebagai filter frekuensi tinggi (≥ 100 k Hz)
dan penguat frekuensi radio. - Trafo pulsa ( 1k Hz - 100 kHz)
Nilai induktansi biasanya Hubungan antara tegangan
dinyatakan dengan besaran : H, primer dan sekunder
mH, nH. VP NP
Tipe induktor yang sering =
VS NS
ditemui adalah :
Vp = Tegangan primer
RM6, RM7, dan RM10.
Vs = Tegangan sekunder
Np = Belitan primer
Aplikasi Induktor
Ns = Belitan sekunder
- Hubungan seri L = L1 + L2
- Hubungan paralel 1/L = 1/L1 + Hubungan antara arus Primer dan
1/L2 sekunder
- Induktor didalam rangkaian AC : Ip = Arus Primer
Reaktansi induktif dinyatakn Is = Arus sekunder
sebagai rasio tegangan terhadap Np = Belitan Primer
arus induktor dan diukur dalam Ω Ns = Belitan sekunder
V IS N P
X L = L = 2.π .f .L = ω.L.Ω =
IL I P NS
Rangkaian R, L, dan C
Daya Trafo ( VA )
(a). Rangkaian timing C-R dan
karakteristiknya Daya trafo dapat diestimasi
(b) Integrator C-R dengan perhitungan : Total daya
(c Differensiator C-R

14
yang dikonsumsi oleh beban c. Dioda Schottky .
dikalikan 1.1.
Dioda schottky mempunyai
Daya trafo = 1.1 x Ps (VA)
karakteristik “fast recovery”,
(waktu mengembalikan yang
1.4. SEMIKONDUKTOR
cepat, antara konduksi ke non
Semikonduktor dapat mencakup konduksi). Oleh karena
beberapa alat/komponen karakteristiknya ini, maka banyak
elektronika, antara lain mulai dari diaplikasikan pada rangkaian daya
dioda s/d VLSI. ( Very Large modus “saklar”. Dioda ini dapat
Scale Integrated ) membangkitkan drop tegangan
maju kira-kira setengahnya dioda
1. Dioda silikon konvensional, dan waktu
kembali balik sangat cepat.
Dioda adalah alat elektronika
dua-terminal, yang hanya
d. Optoelektronika
mengalirkan arus listrik dalam
satu arah apabila nilai Optoelektronika adalah alat
resistansinya rendah. yang mempunyai teknologi
Bahan semikonduktor yang penggabungan antara optika dan
digunakan umumnya adalah elektronika. Contoh alat
silikon atau germanium. optoelektronika antara lain : LED
Jika dioda dalam keadaan (Light Emitting Dioda), foto dioda,
konduksi, maka terdapat tegangan foto optokopler, dan sebagainya.
drop kecil pada dioda tersebut.
Drop tegangan silikon ≈ 0,7 V; e.L E D
Germanium ≈ 0.4V. LED adalah sejenis dioda,
yang akan memancarkan cahaya
a. Aplikasi Dioda apabila mendapat arus maju
Sesuai dengan aplikasinya sekitar 5 ∼ 30 mA. Pada umumnya
dioda, sering dibedakan menjadi LED terbuat dari bahan galium
dioda sinyal dan dioda penyearah. pospat dan arsenit pospit.
(a) Penyearah setengah gelom - Didalam aplikasinya, LED sering
bang digunakan sebagai alat indikasi
(b). Penyearah Gelombang Penuh status/kondisi tertentu, tampilan
“Seven-segment, dan sebagainya.
b. Dioda Zener
f. Fotodioda
Dioda zener adalah dioda
silikon, yang mana didesain Foto dioda adalah jenis foto
khusus untuk menghasilkan detektor, yaitu suatu alat
karakteristik “breakdown” optoelektronika yang dapat
mundur,. Dioda zener sering mengubah cahaya yang datang
digunakan sebagai referensi mengenanya menjadi besaran
tegangan. listrik. Prinsip kerjanya apabila
sejumlah cahaya mengena pada
persambungan, maka dapat

15
mengendalikan arus balik di i. LDR
dalam dioda.
LDR (Light Dependent
Di dalam aplikasinya, foto dioda
Resistor) adalah komponen
sering digunakan untuk elemen
elektronika yang sering digunakan
sensor/detektor cahaya.
sebagai transduser/elemen sensor
cahaya. Prinsip kerja LDR apabila
g. Fototransistor
cahaya yang datang mengena
Fototransistor adalah jendela LDR berubah, maka nilai
komponen semikonduktor resistansinya akan berubah pula.
optoelektronika yang sejenis LDR disebut juga sel
dengan fotodioda. Perbedaannya fotokonduktip.
adalah terletak pada penguatan
arus βdc. Jadi, pada fototransistor j. S C R
akan menghasilkan arus βdc kali SCR (Silicon Controlled
lebih besar dari pada fotodioda. Rectifier) disebut juga “thyristor”,
adalah komponen elektronika tiga-
h.Optokopler terminal yang keluarannya dapat
Optokopler disebut juga dikontrol berdasarkan waktu
optoisolator adalah alat penyulutnya. Di dalam
optoelektronika yang mempunyai aplikasinya, SCR sering
teknologi penggabungan dua digunakan sebagai alat
komponen semikonduktor di “Switching” dan pengontrol daya
dalam satu kemasan, misalnya : AC.
LED - fotodioda, LED -
fototransistor dan sebagainya. k. TRIAC
Prinsip kerja optokopler adalah Triac adalah pengembangan
apabila cahaya dari LED mengena dari SCR, yang mana mempunyai
foto dioda atau foto transistor, karakteristik dua-arah
maka akan menyebabkan (bidirectional). Triac dapat disulut
timbulnya arus balik pada sisi oleh kedua tegangan positip dan
fotodioda atau foto transistor negatip. Aplikasinya, triac sering
tersebut. Arus balik inilah yang diguna- kan sebagai pengontrol
kana menentukan besarnya gelombang penuh
tegangan keluaran. Jadi apabila
tegangan masukan berubah,
maka cahaya LED berubah, dan
tegangan keluaran juga berubah.
Didalam aplikasinya, optokopler
sering digunakan sebagai alat
penyekat diantara dua-rangkaian
untuk keperluan pemakaian
tegangan tinggi.

16
Tabel 1. 3. Macam-macam Tipe Triac

Type BC109 BC184L BC212L TIP31A TIP3055

Material Construction Silicon Silicon Silicon Silicon Silicon

Case style n-p-n n-p-n n-p-n n-p-n n-p-n

Maximum collector TO18 TO92 TO92 TO220 TAB


power
Dissipaition (Pc) 360 mW 300 mW 300 mW 40 W 90 W

Maximum collector 100 mA 200 mA -200 mA 3A 15A


Current (Ic)
Maximum Collector 20 V 30 V -50 V 60 V 60V
Emitter voltage (Vceo)
Maximum collector 30 V 45 V -60 V 60V 100V
base voltage (Vcbo)

Current gain (hfe) 200-800 250 60-300 10-60 5-30

Transition frequency 250 MHz 150 MHz 200 MHz 8 MHz 8MHz

l. DIAC Transistor dapat digunakan


bermacam-macam aplikasi namun
Diac adalah saklar
dapat dikategorikan sebagai
semikonduktor dua-terminal yang
berikut :
sering digunakan berpasangan
- Transistor linear, didesain untuk
dengan TRIAC sebagai alat
aplikasi linear (penguatan
penyulut (trigger).
tegangan tingkat rendah)
- Transistor daya, didesain untuk
2. Transistor (Transfer Resistor)
beroperasi tingkat daya tertentu
Transistor adalah salah satu (daya frekuensi audio dan
komponen semikonduktor yang sebagainya)
dapat digunakan untuk - Transistor frekuensi radio,
memperkuat sinyal listrik, sebagai didesain khusus untuk aplikasi
sakelar dan sebagainya. Pada frekuensi tinggi
dasarnya transistor terbuat dari - Transistor tegangan tinggi,
bahan silikon atau germanium. didesain khusus untuk
Jenis transistor adalah PNP dan menangani keperluan tegangan
NPN simbol kedua jenis transistor tinggi
adalah sebagai berikut :

17
Kerja transistor dapat dijelaskan fungsi transistor, tetapi prinsip
dengan bantuan grafik garis dasar kerjanya berbeda. Ada dua
beban DC dan rangkaian dasar jenis FET, antara lain : JFET
bias-basis sebagai berikut : (junction field effect transistor),
dan MOSFET (Metal-Oxide Semi
Perpotongan dari garis beban Conductor Field Effect Transistor).
DC dengan kurva arus basis Seluruh jenis FET dapat dibagi
disebut titik kerja (titik Q) atau titik menjadi dua versi, yaitu : kanal P,
stasioner. dan kanal N. Simbol JFET dan
Contoh karakteristik beberapa tipe karakteristiknya adalah seperti
transistor berikut ini :
Contoh karakteristik FET dapat
a. F E T disusun sesuai konfigurasinya,
adalah sebagai berikut :
FET (Field effect transistor)
adalah komponen semikonduktor
yang dapat melakukan berbagai

Tabel 1.4. Mode of operation

Parameter Common source Common drain Common gate


Voltage Medium Unity High
gain (40) (1) (250)
Current Very high Very high Unity
gain (200.000) (200.000) (1)
Power gain Very high Very high High
(8.000.000) (200.000) (250)

Input Very high Very high Low

resistance (1 MΩ) (1 MΩ) (500 Ω)

Output (Medium/high Low High

resistance (50 kΩ) (200 Ω) (150 kΩ)


Phase shift 180° 0° 0°

b. JFET
JFET sangat luas digunakan pada 3. IC (Integrated Circuit)
rangkaian penguat linier,
IC adalah bentuk rangkaian
sedangkan MOSFET sering
integrasi yang terdiri dari
dipakai pada rangkaian digital.
beberapa komponen elektronik,

18
misalnya : transistor, dioda, dan OPAMP (Operational Amplifier)
resistor. Ukuran relatif alat dan IC digital misalnya IC-TTL
semikonduktor chip ditentukan (Transistor - Transistor Logic).
oleh apa yang disebut dengan
skala-integrasi (SI). Terdapat 4. OP-AMP
beberapa skala integrasi ukuran
IC, antara lain SSI, MSI, LSI, OP-AMP adalah rangkaian
VLSI, dan SLSI. IC dapat dibagi penguat operasional yang
menjadi dua kelas umum, antara berbentuk IC (chip). Simbol Op-
lain ; IC linier (analog), dan IC Amp adalah seperti gambar 1.16.
digital. Contoh IC analog adalah sebagai berikut :

V2

A Vo

V1

Gambar 1.16. Simbol OP-AMP

Contoh karakteristik beberapa tipe Op-Amp adalah seperti tabel 1- 5. :


Tabel 1- 5 karakteristik beberapa tipe Op-Amp
Type 741 355 081 3140 7611
Technology Bipolar JFET BIFET MOSFET CMO
Open loop voltage 106 106 106 100 102
gain(dB)
Input resistance 2 MΩ 1012Ω 1012Ω 1012Ω 1012Ω
Full-power bandwidth 10 60 150 110 50*
(kHz)
Slew rate (V/us) 0,5 5 13 9 0.16*
Input offset voltage 1 3 5 5 15
(mV)
Common mode
rejection ratio (dB) 90 100 76 90 91*

Di dalam aplikasinya OP-AMP, dan paket empat (tipe quad).


ada yang berbentuk paket Sebenarnya ada tiga konfigurasi
tunggal, berpasangan (tipe dual) 1 dasar Op-Amp, yaitu inverting,

19
non-inverting, dan differential baik dari sumber 3 phase maupun
amplifier. Namun dapat 1 phase yang dihubungkan
dikembangkan menjadi dengan baterai dengan kapasitas
konfigurasi penguat yang lainnya. tertentu sesuai kebutuhan dan
Beberapa konfigurasi Op-Amp tingkat kepentingannya.
dan rumus persamaannya adalah Kapasitas baterai biasanya
sebagai berikut : disesuaikan dengan kebutuhan
(a) Inverting (e) Summer yang ada pada unit pembangkit itu
(b) Non-Inverting (f) Differensiator sendiri baik sebagai back up
(c) Differential (g) Integrator power ataupun start up unit. 2.
(d) Voltage Follower
(h) Instrumentation Amplifier 1.Penggunaan Sistem DC
Power
1.5. Sistem DC Power
Sistem DC Power pada unit
DC Power adalah alat bantu pembangkit digunakan untuk
utama yang sangat diperlukan mensuplai tenaga listrik
sebagai suplai arus searah (direct keperalatan-peralatan yang
current) yang digunakan untuk menggunakan arus searah,
peralatan-peralatan kontrol, seperti :
peralatan proteksi dan peralatan − Motor-motor arus searah
lainnya yang menggunakan (Motor DC), seperti untuk EOP
sumber arus DC, baik untuk unit − Sistem Kontrol dan
pembangkit dalam keadaan Instrumentasi, seperti kontrol
normal maupun dalam keadaan turbin, kontrol boiler,
darurat (emergency). switchgear.
− Relay Proteksi
Pada beberapa unit − Lampu Penerangan
pembangkit kecil, khususnya (Emergency Lamp).
Pembangkit Listrik Tenaga Gas − Inverter (UPS)
(PLTG) maupun Pembangkit
Listrik Tenaga Diesel (PLTD) 2. Instalasi Sistem DC Power
dengan kapasitas daya terpasang
kecil, sumber DC Power Instalasi sistem DC power
digunakan sebagai start-up unit. suatu pembangkit berfungsi untuk
menyalurkan suplai DC yang
Dalam instalasi sumber dipasok oleh rectifier atau charger
tegangan/ arus searah (direct tiga fasa maupun satu fasa yang
current, DC) meliputi panel-panel dihubungkan dengan satu atau
kontrol, instalasi / pengawatan dua set baterai.
listrik, meter-meter, indikator dan
perlengkapan lainnya seperti : Terdapat 3 (tiga) jenis instalasi
charger, baterai dan inverter. atau suplai DC power yang
digunakan di unit pembangkit,
Sumber Instalasi DC Power antara lain:
dipasok oleh rectifier atau charger

20
− Instalasi Sistem DC Power digunakan untuk Telekomunikasi
220 / 250 Volt, (Telepon/Facsimile) dan Telepro-
teksi (khusus di Gardu Induk).
− Instalasi Sistem DC Power
110 / 125 Volt, Sedangkan instalasi DC power
dengan sumber tegangan 24 volt
− Instalasi Sistem DC Power DC biasa digunakan pada
24 / 48 Volt Emergency Diesel Generator
1.5.1. Instalasi Sistem DC Power untuk Starting Aplications
220/250 Volt,
Instalasi DC power dengan 220 Vac
EDG Charger
sumber tegangan 220/250 Volt ini
dipasok dari charger yang
dihubungkan dengan baterai pada
panel DC. Dari panel DC ini
digunakan untuk mensuplai : 24 Vdc
ƒ DC Station Board, antara lain
untuk Motor-motor, Indikator,
Load Recharger
Lampu Penerangan dll
Gambar 1. 17
ƒ Inverter yang digunakan untuk
Instalasi Sistem DC Power
mensuplai Kontrol dan
Instrumentasi pada turbin,
Pola Instalasi DC Power
boiler, switchgear dll.
Instalasi pada sistem DC
1.5.3.Instalasi Sistem DC Power
power terdiri dari beberapa pola
110 / 125 Volt,
atau model berdasarkan kondisi
Instalasi DC power dengan peralatan yang terpasang. Hal ini
sumber tegangan 110/125 Volt ini juga dipengaruhi oleh tingkat
dipasok dari charger yang keandalan yang dibutuhkan dan
dihubungkan dengan baterai pada kemampuan dari sumber DC itu
panel DC. Dari panel DC ini sendiri.
digunakan untuk mensuplai 125
Volt DC Station Board, untuk Pola 1
mensuplai :
Pola 1 ini terdiri dari : 1 trafo PS,
ƒ Kontrol & Instrumentasi seperti
1 charger, 1 baterai dan 1 bus DC.
pada Turbin, Boiler, Ash &
Dash Handling dll. Dalam hal ini pengaman utama
ƒ Relay Proteksi dan pengaman cadangan
ƒ Motor-motor DC 110/125 Volt menggunakan MCB yang berbeda
seperti terlihat pada gambar 1.18
1.5.3. Instalasi Sistem DC Power
48 Volt,
Instalasi DC power dengan
sumber tegangan 48 volt biasanya

21
Gambar 1.18. Pola 1 Instalasi Sistem DC Power
− Sistem 1 : PS 1, Charger 1
Pola 2 dan Baterai 1, beroperasi
Pola 2 ini terdiri dari : 2 trafo memikul beban
PS, 2 charger, 2 baterai dan 1 bus − Sistem 2 : PS 2, Charger 2
DC. dan Baterai 2, beroperasi
tanpa beban
Dalam hal ini pengaman utama
dan pengaman cadangan Sistem 1 dan sistem 2 beroperasi
menggunakan MCB yang berbeda secara bergantian yang dilakukan
seperti terlihat pada gambar oleh Interlock System DC Utama
dibawah ini.
Pola operasinya adalah :

22
Gambar 1.19. Pola 2 Instalasi Sistem DC Power

Pola 3
Pada posisi normal sistem 1
Pola 3 ini terdiri dari : 2 trafo dan sistem 2 operasi secara
PS, 2 charger, 2 baterai dan 2 bus terpisah, posisi MCB keluar (MCB
DC. Pengaman utama dan kopel interlock dengan MCB
cadangan menggunakan MCB sistem 1 dan sistem 2).
yang berbeda.
Pada saat pemeliharaan
Pola operasinya adalah : sistem 1, MCB sistem 1 dilepas
− Sistem 1 : PS 1, Charger 1 maka MCB kopel akan masuk
dan Baterai 1, beroperasi secara otomatis. Demikian juga
memikul beban sebaliknya. Lihat diagram
− Sistem 2 : PS 2, Charger 2 dibawahini
dan Baterai 2, beroperasi
tanpa beban

23
Gambar 1.20. Pola 3 Instalasi Sistem DC Power
Pola instalasi diatas adalah hanya contoh dari sekian banyak pola instalasi
yang berkembang saat ini khususnya di unit pembangkit yang memerlukan
keandalan yang tinggi dengan pola pengoperasian yang tinggi juga.

24
1.6. Charger = ( 0,2 x 200A ) + 10A
= 40A + 10A
Charger sering juga disebut
= 50 Ampere
Converter adalah suatu rangkaian
peralatan listrik yang digunakan Jadi kapasitas rectifier minimum
untuk mengubah arus listrik bolak yang harus disiapkan adalah
balik (Alternating Current, disingkat sebesar 50 Ampere.
AC) menjadi arus listrik searah
(Direct Current, disingkat DC), yang Sumber tegangan AC untuk
berfungsi untuk pasokan DC power rectifier tidak boleh padam atau
baik ke peralatan-peralatan yang mati. Untuk itu pengecekan
menggunakan sumber DC maupun tegangan harus secara rutin dan
untuk mengisi baterai agar periodik dilakukan baik tegangan
kapasitasnya tetap terjaga penuh inputnya (AC) maupun tegangan
sehingga keandalan unit outputnya (DC).
pembangkit tetap terjamin. Dalam
hal ini baterai harus selalu 1.6.1. Jenis Charger atau
tersambung ke rectifier. Rectifier

Jenis charger atau rectifier ada


A ~ D 2(dua) macam sesuai sumber
tegangannya yaitu rectifier 1 phasa
C
= C
dan rectifier 3 phasa

Gambar 1.21. Prinsip Converter 1.Rectifier 1 ( Satu ) Fasa


atau Charger atau Rectifier
Yang dimaksud dengan rectifier
Kapasitas rectifier harus 1 fasa adalah rectifier yang
disesuaikan dengan kapasitas rangkaian inputnya menggunakan
baterai yang terpasang, setidaknya AC suplai 1 fasa. Melalui MCB
kapasitas arusnya harus mencukupi sumber AC suplai 1 fasa 220 V
untuk pengisian baterai sesuai masuk ke dalam sisi primer trafo
jenisnya yaitu untuk baterai alkali utama 1 fasa kemudian dari sisi
adalah 0,2 C (0,2 x kapasitas) sekunder trafo tersebut keluar
sedangkan untuk baterai asam tegangan AC 110V, kemudian
adalah 0,1C (0,1 x kapasitas) melalui rangkaian penyearah
ditambah beban statis (tetap) pada dengan diode bridge atau thyristor
unit pembangkit. bridge. Tegangan AC tersebut
diubah menjadi tegangan DC 110V.
Sebagai contoh jika suatu unit Keluaran ini masih mengandung
pembangkit dengan baterai jenis ripple cukup tinggi sehingga masih
alkali kapasitas terpasangnya diperlukan rangkaian filter untuk
adalah 200 Ah dan arus statisnya memperkecil ripple tegangan
adalah 10 Ampere, maka minimum output.
kapasitas arus rectifier adalah :

25
2. Rectifier 3 ( Tiga ) Fasa. memperkecil ripple tegangan
input.
Yang dimaksud dengan
rectifier 3 ( tiga ) fasa adalah 1.6.2.Prinsip Kerja Charger
rectifier yang rangkaian inputnya
menggunakan AC suplai 3 fasa. Sumber tegangan AC baik yang
Melalui MCB sumber AC suplai 3 1 fasa maupun 3 fasa yang masuk
fasa 380 V masuk ke dalam sisi melalui terminal input trafo step-
primer trafo utama 3 fasa down dari tegangan 380V/220V
kemudian dari sisi sekunder trafo menjadi tegangan 110V kemudian
tersebut keluar tegangan AC oleh diode penyearah / thyristor arus
110V per fasa kemudian melalui bolak balik ( AC ) tersebut dirubah
rangkaian penyearah dengan menjadi arus searah dengan ripple
diode bridge atau thyristor bridge, atau gelombang DC tertentu.
arus AC tersebut dirubah menjadi Kemudian untuk memperbaiki
arus DC 110V yang masih ripple atau gelombang DC yang
mengandung ripple lebih rendah terjadi diperlukan suatu rangkaian
dibanding dengan ripple rectifier 1 penyaring ( filter) yang dipasang
fasa akan tetapi masih diperlukan sebelum terminal output.
juga rangkaian filter untuk lebih

Gambar 1.22 Contoh Rangkaian Rectifier

26
1.6.3. Bagian-bagian Charger 3. Thyristor
Charger yang digunakan pada
Suatu bahan semikonduktor
pembangkit tenaga listrik terdiri dari
seperti diode yang dilengkapi
beberapa peralatan antara lain
dengan satu terminal kontrol,
adalah :
Thyristor berfungsi untuk merubah
1. Trafo utama arus bolak-balik menjadi arus
searah.
Trafo utama yang terpasang
di rectifier merupakan trafo Step- Thyristor mempunyai 3 (tiga)
Down (penurun tegangan) dari terminal yaitu :
tegangan AC 220/380 Volt menjadi • Terminal positif ( anode )
AC 110V. Besarnya kapasitas trafo • Terminal negatif ( katode)
tergantung dari kapasitas baterai • Terminal kontrol ( gate ).
dan beban yang terpasang di unit
pembangkit yaitu paling tidak Terminal gate ini terletak
kapasitas arus output trafo harus diantara katode dan anode yang
lebih besar 20 % dari arus bilamana diberi trigger signal positif
pengisian baterai. Trafo yang maka konduksi mulai terjadi antara
digunakan ada yang 1 fasa ada katode dan anode melalui gate
juga yang trafo 3 fasa. tersebut ( α = 30o ) sehingga arus
mengalir sebanding dengan
2. Penyearah / Diode besarnya tegangan trigger positif
Diode merupakan suatu bahan yang masuk pada terminal Gate
semi konduktor yang berfungsi tersebut.
merubah arus bolak-balik menjadi
arus searah. Mempunyai 2 (dua)
terminal yaitu terminal positif
(Anode) dan terminal negatif
(Katode)
Konfigurasi Penyerah ada beberapa macam antara lain:
1. Penyearah Diode ½ Gelombang ( Half Wave ) 1 fase

DIODE + ( Positif )

Trafo
1 Fasa

- ( Negatif )

Gambar 1.23. Penyearah Diode ½ Gelombang ( Half Wave ) 1 fase

27
2. Penyearah Diode Gelombang Penuh dengan Center Tap ( Full Wave ) 1 fase

Gambar 1.24. Penyearah Diode Gelombang Penuh dengan Center Tap

3. Penyearah Diode Gelombang Penuh ( Full Wave Bridge ) 1 fase

Gambar 1.25. Penyearah Diode Gelombang Penuh

4. Penyearah Diode Gelombang Penuh 3 fase

28
Gambar 1.26 Penyearah Diode Gelombang Penuh 3 fase
.
5. Penyearah Dengan thyristor
Penyearah dengan thyristor
inilah yang banyak dipakai untuk
rectifier-rectifier yang bisa dikontrol
besar tegangan dan arus
outputnya

Gambar 1.27. Thyristor


Penyearah Thyristor Gelombang
Penuh 3 fase Gambar 1.29. Penyearah Thyristor
Gelombang Penuh 3 fase
1.7. Automatic Voltage Regulator
(AVR)

Automatic Voltage Regulator


yang terpasang pada rectifier atau
charger adalah merupakan suatu
rangkaian yang terdiri dari
Gambar 1.28. Penyearah Thyristor komponen elektronik yang
3 Fasa berfungsi untuk memberikan trigger

29
positif pada gate thyristor sehingga
pengaturan arus maupun tegangan
output suatu rectifier bisa dilakukan
sedemikian rupa sehingga
pengendalian arus pengisian ke
baterai bisa disesuaikan dengan
arus kapasitas baterai yang
terpasang.
Rangkaian elektronik AVR ini
sendiri sangat peka terhadap
kenaikan tegangan yang terjadi
pada rangkaian input misalnya
terjadinya tegangan, Surja Hubung
pada setiap kegiatan switching
pada PMT 20 kV Incoming Trafo Gambar 1.31. Rangkaian kontrol
yang langsung mensuplai trafo PS Tegangan (AVR)
/ Sumber AC 3 Φ380V.
1.7.1. Komponen Pengaturan /
Sehingga diperlukan suatu alat Setting Tegangan
proteksi terhadap Tegangan Surja Floating.
Hubung (Switching Surge), yaitu
berupa rangkaian timer dan Untuk memenuhi standar
kontaktor yang berfungsi untuk pengisian baterai secara floating
menunda masuknya tegangan input maka pengaturan seting
rectifier sehingga tegangan surja tegangannya perlu dilakukan pada
hubung tidak lagi masuk ke input rectifier, hal ini dapat dilakukan
atau ke rangkaian elektronik dengan mengatur Variabel Resistor
(Tegangan Surja Hubung sudah pada PCB rangkaian elektronik
hilang). AVR, dengan cara memutar ke kiri
atau ke kanan sesuai dengan
spesifikasi baterai yang terpasang.
Biasanya VR tersebut diberi indikasi
/ tulisan " Floating”

Gambar 1.30 Rangkaian elektronik


AVR

30
Boost maka pengaturan seting
tegangannya perlu dilakukan pada
rectifier.
` Hal ini dapat dilakukan dengan
mengatur Variabel Resistor pada
PCB rangkaian elektronik AVR
dengan cara memutar ke kiri atau
ke kanan sesuai dengan spesifikasi
baterai yang terpasang. Biasanya
VR tersebut diberi indikasi / tulisan
Gambar 1.32. Variable Resistor "Boost”
Floating

1.7.2. Komponen Pengaturan


/ Setting Tegangan
Equalizing

Untuk memenuhi standar


pengisian baterai secara
Equalizing maka pengaturan
seting tegangannya perlu
dilakukan pada rectifier, hal ini
dapat dilakukan dengan Gambar 1.34. Variable Resistor
mengatur Variabel Resistor pada “Boost”
PCB rangkaian elektronik AVR
dengan cara memutar kekiri atau 1.7.4. Komponen Pengaturan /
kekanan sesuai dengan Setting Arus (Current
spesifikasi, baterai yang Limiter )
terpasang. Biasanya VR tersebut
diberi indikasi / tulisan Komponen pengaturan atau
"Equalizing” seting arus biasanya dilakukan
untuk membatasi arus maksimum
output rectifier agar tidak terjadi
over load atau over charge pada
baterai, hal ini dapat dilakukan juga
dengan mengatur-Variabel Resistor
(VR) pada PCB rangkaian
elektronik AVR, dengan cara
memutar ke kiri atau ke kanan
sesuai dengan spesifikasi baterai
Gambar 1.33. Variable Resistor yang terpasang. Biasanya VR
Equalizing tersebut diberi indikasi / tulisan
1.7.3. Komponen Pangaturan/ "Current Limiter".
Setting Tegangan Boost.
Untuk memenuhi syarat/
standard pengisian baterai secara

31
Filter ( Penyaring )
Tegangan DC yang keluar dari
rangkaian penyearah masih
mempunyai ripple / frequensi
gelombang yang cukup tinggi, maka
suatu rangkaian filter (penyaring)
berfungsi untuk memperbaiki ripple
tersebut agar menjadi lebih kecil
sesuai dengan yang Gambar 1.36. Bentuk
direkomendasikan ≤ 2% ( Standar gelombang ripple
SE.032 ).
Tegangan Ripple yang terlalu
Tegangan Ripple merupakan besar akan mengakibatkan
perbandingan antara unsur lamanya proses pengisian
tegangan output AC terhadap unsur baterai, sedangkan pada beban
tegangan output DC. dapat menyebabkan kerusakan.
Pengukuran tegangan ripple
Dibawah ini diperlihatkan rumus dilakukan pada titik output
untuk mencari ripple, adalah : charger (sesudah rangkaian
Filter LC) dan titik input beban
Komponen AC (Output Voltage Dropper).
r = x 100%
KomponenDC
Rangkaian filter ini bisa
Sedangkan bentuk gelombang terdiri dari rangkaian Induktif,
ripple adalah seperti dibawah ini. kapasitif atau kombinasi dari
keduanya.

Gambar 1.35. Bentuk


gelombang ripple Gambar 1.37. Rangkaian Filter
untuk memperbaiki Ripple
Komponen AC adalah harga
RMS dari tegangan output AC. Untuk rangkaian diatas
Komponen DC adalah harga rata- besarnya ripple dan faktor reduksi
rata tegangan output filternya adalah sebagai berikut :

32
Tegangan Ripple =
118
%
Faktor Reduksi F
(L x C)-1 Dimana,
1,76 L = Induktansi dalam Henry
Faktor Reduksi Filter =
(L x C)-1 C = Kapasitansi dalam mikro farad
Jadi, (µF )
118 dan 1,76 adalah konstanta
Riple = Tegangan Ripple x

Rangkaian Fiter L & C Rangkaian Fiter C

Gambar 1.38. Rangkaian Filter LC dan Filter C

1.8. Rangkaian Voltage Dropper


Pada saat rectifier dioperasikan
secara Boost atau Equalizing untuk
mengisi baterai unit pembangkit,
maka tegangan output rectifier
tersebut jauh lebih tinggi dari
tegangan yang ke beban ( bisa
mencapai 1.7 Volt per sel baterai
atau 135 Volt ). Agar tegangan Gambar 1.39. Rangkaian
output yang menuju beban Voltage Drop
tersebut tetap stabil dan sesuai
dengan yang direkomendasikan, Rangkaian dropper ini terdiri
yaitu sebesar 110 V ± 10%, maka dari beberapa diode Silicone atau
diperlukan suatu rangkaian Germanium yang dirangkai secara
dropper secara seri sebelum ke seri sebanyak beberapa buah
terminal beban. sesuai dengan berapa Volt DC
yang akan di drop. Sebagai
contoh bila kenaikan tegangan
Equalizing mencapai 135 V
sedangkan tegangan beban harus
122 V, maka tegangan yang
didrop sebesar 135 V - 122 V =
13V dc, maka diperlukan diode
sebanyak 13 : 0.8V = 16,25 atau

33
dibulatkan ± 17 buah. Biasanya perbaikannya memerlukan waktu
setiap diode mampu menurunkan yang cukup lama dan biaya yang
( drop ) tegangan sebesar antara relatif mahal, karena kerusakannya
0.8 - 0.9 vd diikuti rusaknya Thyristor.
Untuk mencegah adanya
1.9. Rangkaian Proteksi kerusakan serupa, maka rectifier
Tegangan Surja Hubung harus dipasang alat yang disebut "
Alat Proteksi Tegangan Surja
Setiap kegiatan Switching Hubung ". Alat ini merupakan
pada instalasi tegangan tinggi rangkaian kontrol yang terdiri dari se
selalu terjadi kenaikan tegangan buah timer AC 220V dan 2 buah
secara signifikan dalam waktu yang kontaktor, tirner sebagai sensor dan
relatif singkat, kenaikan tegangan sekaligus sebagai penunda waktu
tersebut kita sebut "Tegangan Surja masuknya sumber AC 3 fasa 380 V
Hubung" ( Switching Surge ), ke input rectifier hingga beberapa
tegangan inilah yang sering detik sampai Tegangan surja hubung
merusak rangkaian elektronik hilang atau unit normal kembali,
sebagai rangkaian kontrol pada melalui 2 buah kontaktor sumber AC
rectifier sehingga tidak dapat 3 fasa masuk ke rangkaian Input
operasi kembaliSedangkan rectifier tersebut

34
THYRYSTOR
BRIDGE
RANGKAIAN KONTROL
ELEKTRONIK

FUSE
TERMINAL
OUT

TRAFO TRAFO
INDUKTOR UTAMA
( / Filter L )

Gambar 1.40. Panel untuk Proteksi

35
.
Gambar 1.41. Rangkaian Alat Proteksi Tegangan Surja Hubung

36
1.10. Pengertian Baterai negatif yang dicelupkan dalam suatu
larutan kimia.
Baterai atau akumulator adalah
sebuah sel listrik dimana didalamnya
berlangsung proses elektrokimia Menurut pemakaian baterai
yang reversibel (dapat berbalikan) dapat digolongkan ke dalam 2 jenis :
dengan efisiensinya yang tinggi. − Stationary ( tetap )
Yang dimaksud dengan proses − Portable (dapat dipindah-pindah)
elektrokimia reversibel, adalah
didalam baterai dapat berlangsung 1.10.1.Prinsip Kerja Baterai
proses pengubahan kimia menjadi
tenaga listrik (proses pengosongan), a. Proses discharge pada sel
dan sebaliknya dari tenaga listrik berlangsung menurut skema
menjadi tenaga kimia, pengisian Gambar 1.42. Bila sel
kembali dengan cara regenerasi dari dihubungkan dengan beban
elektroda-elektroda yang dipakai, maka, elektron mengalir dari
yaitu dengan melewatkan arus listrik anoda melalui beban ke katoda,
dalam arah ( polaritas ) yang kemudian ion-ion negatif
berlawanan didalam sel. mengalir ke anoda dan ion-ion
positif mengalir ke katoda.
Jenis sel baterai ini disebut juga
Storage Battery, adalah suatu b. Pada proses pengisian menurut
baterai yang dapat digunakan skema Gambar 1.43. dibawah ini
berulang kali pada keadaan sumber adalah bila sel dihubungkan
listrik arus bolak balik (AC) dengan power supply maka
terganggu. elektroda positif menjadi anoda
dan elektroda negatif menjadi
Tiap sel baterai ini terdiri dari dua katoda dan proses kimia yang
macam elektroda yang berlainan, terjadi adalah sebagai berikut:
yaitu elektroda positif dan elektroda

DC
Load Power supply
Aliran Aliran
Ion Neg Ion Neg
K K A
A A
N A N
T Aliran
O Aliran T O
O Ion Pos
D Ion Pos O D
Elektrolit D D Elektrolit A
A A
A

Gambar 1.42. Proses Pengosongan Gambar 1.43. Proses Pengisian


( Discharge ) ( Charge )

37
1). Aliran elektron menjadi terbalik, timbulnya beda potensial listrik
mengalir dari anoda melalui antara kutub-kutub sel baterai.
power suplai ke katoda.
Proses tersebut terjadi secara
2). Ion-ion negatif rnengalir dari
simultan dengan reaksinya dapat
katoda ke anoda
dinyatakan.
3). Ion-ion positif mengalir dari
anoda ke katoda Pb O2 + Pb + 2 H2SO4

Jadi reaksi kimia pada saat Sebelum Proses


pengisian (charging) adalah Pb SO4 + Pb SO4 + 2 H2O
kebalikan dari saat pengosongan Setelah Proses
(discharging)
dimana :
1.10.2. Prinsip Kerja Baterai Pb O2 = Timah peroxida (katub
Asam - Timah. positif / anoda)
Pb = Timah murni (kutub
Bila sel baterai tidak dibebani, negatif/katoda)
maka setiap molekul cairan 2H2SO4= Asam sulfat (elektrolit)
elektrolit Asam sulfat (H2SO4) Pb SO4 = Timah sulfat (kutub
dalam sel tersebut pecah menjadi positif dan negatif setelah
dua yaitu ion hydrogen yang proses pengosongan)
bermuatan positif (2H+) dan ion H2O= Air yang terjadi setelah
sulfat yang bermuatan negatif pengosongan
(SO4 -)
H2SO4 2H + + SO4
-- Jadi pada proses pengosongan
baterai akan terbentuk timah sulfat
(PbSO4) pada kutub positif dan
Proses pengosongan negatif, sehingga mengurangi
Bila baterai dibebani, maka tiap reaktifitas dari cairan elektrolit
ion negatif sulfat. (SO4-) akan karena asamnya menjadi timah,
bereaksi dengan plat timah murni sehingga tegangan baterai antara
(Pb) sebagai katoda menjadi timah kutub-kutubnya menjadi lemah.
sulfat (Pb SO4) sambil melepaskan
dua elektron. Sedangkan sepasang 1.10.3. Proses Pengisian
ion hidrogen (2H+ ) akan beraksi
Proses ini adalah kebalikan dari
dengan plat timah peroksida (Pb
proses pengosongan dimana arus
O2) sebagai anoda menjadi timah
listrik dialirkan yang arahnya
sulfat (Pb SO4) sambil mengambil
berlawanan, dengan arus yang
dua elektron dan bersenyawa
terjadi pada saat pengosongan.
dengan satu atom oksigen untuk
Pada proses ini setiap molekul air
membentuk air (H2O). Pengambilan
terurai dan tiap pasang ion hidrogen
dan pemberian elektron dalam
(2H+) yang dekat plat negatif
proses kimia ini akan menyebabkan

38
bersatu dengan ion negatif Sulfat Untuk baterai Nickel-Cadmium
(SO4--) pada plat negatif untuk
Pengosongan
membentuk Asam sulfat.
Sedangkan ion oksigen yang bebas 2 Ni OOH + Cd + 2H2O
bersatu dengan tiap atom Pb pada 2Ni (OH)2 + Cd (OH)2
plat positif membentuk timah Pengisian
peroxida (Pb O2).
dimana :2NiOOH = Incomplate
Proses reaksi kima yang terjadi nickelic - hydroxide (Plat
adalah sebagai berikut : positif atau anoda)
Cd = Cadmium (Plat negatif atau
Pb SO4 + Pb SO4 + 2H2O katoda)
Setelah pengosongan 2Ni (OH)2 = Nickelous hydroxide
(Plat positif)
PbO2 + Pb + 2H2SO4 Cd (OH)2 = Cadmium hydroxide
Setelah pengisian (Plat negatif)

1.10.4.Prinsip Kerja Baterai Alkali Untuk Baterai nickle - Iron


Baterai Alkali menggunakan Pengosongan
potasium Hydroxide sebagai 2 Ni OOH + Fe + 2H2O
elektrolit, selama proses 2Ni (OH)2 + Fe (OH)2
pengosongan (Discharging) dan . Pengisian
pengisian (Charging) dari sel
baterai alkali secara praktis tidak dimana : 2NiOOH = Incomplate
ada perubahan berat jenis cairan nickelic - hydroxide
elektrolit. (Plat positif)
Fe = Iron (Plat negatif)
Fungsi utama cairan elektrolit 2Ni (OH)2 = Nickelous hydroxide
pada baterai alkali adalah bertindak (Plat positif)
sebagai konduktor untuk Fe (OH)2 = Ferrous hydroxide (Plat
memindahkan ion-ion hydroxida negatif)
dari satu elektroda keelektroda
lainnya tergantung pada prosesnya, 1.11. Jenis-jenis Baterai.
pengosongan atau pengisian,
sedangkan selama proses Bahan elektrolit yang banyak
pengisian dan pengosongan dipergunakan pada baterai adalah
komposisi kimia material aktif pelat- jenis asam (lead acid) dan basa
pelat baterai akan berobah. Proses (alkali). Untuk itu dibawah ini akan
reaksi kimia saat pengosongan dan dibahas kedua jenis bahan elektrolit
pengisian pada elektroda-elektroda tersebut.
sel baterai alkali sebagai berikut.

39
1. Baterai Asam ( Lead Acid ƒ Pengisian awal (Initial Charge) :
Storage Battery) 2,7 Volt
Baterai asam bahan elektrolitnya ƒ Pengisian secara Floating :
adalah larutan asam belerang 2,18 Volt
(Sulfuric Acid = HzS04). Didalam
ƒ Pengisian secara Equalizing :
baterai asam, elektroda-
2,25 Volt
elektrodanya terdiri dari plat-plat
timah peroksida Pb02 (Lead ƒ Pengisian secara Boosting :
Peroxide) sebagai anoda (kutub 2,37 Volt
positif) clan timah murni Pb (Lead
− Tegangan pengosongan per sel
Sponge) sebagai katoda (kutub
(Discharge ) : 2,0 – 1,8 Volt
negatif). Ciri-ciri umum (tergantung
pabrik pembuat) sebagai berikut :
2. Baterai Alkali ( Alkaline
− Tegangan nominal per sel 2 Volt Storage Battery )
− Ukuran baterai per sel lebih
besar bila dibandingkan dengan Baterai alkali bahan elektrolitnya
baterai alkali. adalah larutan alkali (Potassium
Hydroxide) yang terdiri dari :
− Nilai berat jenis elektrolit
sebanding dengan kapasitas ƒ Nickel-Iron Alkaline Battery ( Ni-
baterai Fe battery )
ƒ Nickel-Cadmium Alkaline Battery
− Suhu elektrolit sangat ( Ni-Cd battery )
mempengaruhi terhadap nilai
berat jenis elektrolit, semakin Pada umumnya yang banyak
tinggi suhu elektrolit semakin dipergunakan di instalasi unit
rendafi berat jenisnya dan pembangkit adalah baterai alkali-
sebaliknya. cadmium ( Ni-Cd ). Ciri-ciri umum
− Nilai standar berat jenis elektrolit (tergantung pabrik pembuat)
tergantung dari pabrik sebagai berikut :
pembuatnya. − Tegangan nominal per sel 1,2 Volt
− Umur baterai tergantung pada − Nilai berat jenis elektrolit tidak
operasi dan pemeliharaan, sebanding dengan kapasitas
biasanya dapat mencapai 10 - baterai
15 tahun, dengan syarat suhu
baterai tidak lebih dari 20o C. − Umur baterai tergantung pada
operasi dan pemeliharaan,
− Tegangan pengisian per sel biasanya dapat mencapai 15 -
harus sesuai dengan petunjuk 20 tahun, dengan syarat suhu
operasi dan pemeliharaan dari baterai tidak lebih dari 20o C.
pabrik pembuat. Sebagai contoh
adalah : − Tegangan pengisian per sel
harus sesuai dengan petunjuk

40
operasi dan pemeliharaan dari 3. Konstruksi Pocket Plate
pabrik pembuat. Sebagai contoh
Baterai dengan konstruksi pocket
adalah :
plate merupakan jenis baterai yang
o Pengisian awal (Initial banyak digunakan di PLN (sekitar
Charge) = 1,6 – 1,9 Volt 90%). Baterai NiCd pertama kali
diperkenalkan pada tahun 1899 clan
o Pengisian secara Floating
baru diproduksi secara masal tahun
= 1,40 – 1,42 Volt
1910. Konstruksi material aktif yang
o Pengisian secara Equalizing pertama dibuat adalah konstruksi
= 1,45 Volt pocket plate.
o Pengisian secara Boosting Konstruksi ini dibuat dari plat baja
= 1,50 – 1,65 Volt tipis berlubang-lubang yang disusun
sedemikian rupa sehingga
− Tegangan pengosongan per sel membentuk rongga-rongga atau
(Discharge ) : 1 Volt (reff. kantong yang kemudian diisi dengan
Hoppeke & Nife) material aktif seperti terlihat pada
gambar 1.44 dibawah ini.
Menurut Konstruksinya baterai bisa
dikelompokkan atas:

Gambar 1. 44. Baterai dengan kuntruksi Pocket Plate

41
Gambar 1.45. Konstruksi Elektrode Tipe Pocket Plate dalam 1 rangkaian

Dari disain diatas dapat dilihat secara perlahan bereaksi dengan


bahwa material aktif yang akan larutan elektrolit (KOH) kemudian
bereaksi hanya material yang membentuk senyawa baru yaitu
bersinggungan langsung dengan Potassium Carbonate (K2C03)
plat baja saja, padahal material Sesuai dengan persamaan :
aktif tersebut mempunyai daya
konduktifitas yang sangat rendah. 2KOH+C02 K2C03+H20
Senyawa ini justru menghambat
Untuk menambah konduktifitas- daya konduktifitas antar plat
nya, maka ditambahkan bahan (Tahanan dalam baterai makin
graphite di dalam material aktif besar). Reaksi tersebut otomatis
tersebut. Penambahan ini juga mengurangi banyaknya graphite
membawa masalah baru yaitu sehingga daya konduktifitas material
bahwa material graphite ternyata aktif didalam kantong berkurang.

42
Kejadian tersebut berakibat karena udara luar perlu menjadi
langsung pada performance sel pertimbangan serius dalam masalah
baterai atau dengan kata lain penyimpanan baterai yang tidak
menurunkan kapasitas ( Ah ) sel beroperasi.
baterai.
Dalam kasus ini, penggantian 4. Konstruksi Sintered Plate
elektrolit baterai ( rekondisi baterai)
Sintered Plate ini merupakan
hanya bertujuan memperbaiki atau
pengembangan konstruksi dari
menurunkan kembali tahanan
baterai NiCd tipe pocket plate,
dalam ( Rd ) baterai namun tidak
Bateraii Sintered Plate ini pertama
dapat memperbaiki atau mengganti
kali diproduksi tahun 1938.
bahan graphite yang hilang.
Konstruksi baterai jenis ini sangat
Pembentukan Potassium
berbeda dengan tipe pocket plate.
Carbonate ( K2C03 ) juga dapat
Konstruksi sintered plate dibuat dari
terjadi antara larutan elektrolit (
plat baja.tipis berlubang yang dilapisi
KOH ) dengan udara terbuka,
dengan serpihan nickel (Nickel
namun proses pembentukannya
Flakes). Kemudian pada lubang -
tidak secepat proses diatas dan
lubang plat tersebut diisi dengan
dalam jumlah yang relatif kecil.
material aktif seperti pada Gambar
Perhatian terhadap pembentukan
1. 46
Potassium Carbonate ( K2C03 )

Gambar 1.46. Sintered Plate Electrode


Konstruksi ini menghasilkan Karena lapisan Nickel Flake
konduktifitas yang baik antara plat pada plat baja sangat getas maka
baja dengan material aktif. Namun sangat mudah pecah pada saat
karena plat baja yang digunakan plat baja berubah atau memuai.
sangat tipis ( sekitar 1.0 mm s/d Hal ini terjadi pada saat baterai
1.5 mm ), maka diperlukan plat mengalami proses charging atau
yang sangat luas untuk discharging. Akibatnya baterai
menghasilkan kapasitas sel baterai jenis ini tidak tahan lama
yang tidak terlalu besar dibandingkan dengan baterai jenis
(dibandingkan dengan tipe pocket pocket plate.
plate ).

43
2. Plat elektrode yang elastis
5. Konstruksi Fibre Structure sehingga tidak mudah patah /
pecah
Fibre structure pertama kali
3. Tidak memerlukan bahan
diperkenalkan pada tahun 1975
tambahan (seperti graphite
clan baru diproduksi secara masal
pada baterai jenis Pocket
tahun 1983. Baterai jenis ini
Plate)
merupakan perbaikan dari tipe-tipe
4. Dimensi elektrode yang relatif
baterai yang terdahulu. Konstruksi
lebih kecil dibandingkan dengan
baterai ini dibuat dari campuran
tipe Pocket Rate untuk
plastik dan nickel yang
kapasitas baterai yang sama
memberikan keuntungan :
5. Pembentukan K2C03 hanya
1. Konduktifitas antar plat yang terjadi karena kontaminasi
tinggi dengan tahanan dalam dengan udara (sargat kecil)
yang rendah. Konstruksi baterai tipe Fibre
Structure digambarkan pada
gambar dibawah ini.

Gambar 1.47. Fibre Nickel Cadmium Electrode

6. Menurut Karakteristik tinggi yaitu diatas 7 CnA (kapasitas


Pembebanan. nominal arus) dengan waktu yang
singkat ± 2 menit. Tegangan akhir
Yang dimaksud tipe baterai per sel 0,8 Volt. Tipe ini belum
menurut karakteristik pembebanan pernah digunakan di PLN.
adalah sebagai berikut :
Tipe H : High Loading
Tipe X : Very High Loading.
Tipe ini adalah untuk jenis
Tipe ini adalah untuk jenis pembebanan dengan arus yang
pembebanan dengan arus yang tinggi yaitu antara 3,5 - 7 CnA

44
dengan waktu yang singkat, lama induk. Tegangan akhir per sel adalah
waktu pembebanan ± 4 menit. Tipe 0,9 Volt.
ini biasanya digunakan di
pembangkit-pembangkit untuk start Tipe L : Low Loading
up mesin pembangkit. Tegangan
akhir per sel adalah 0,8 Volt. Tipe ini adalah untuk jenis
Tipe M : Medium Loading pembebanan dengan arus kecil
yaitu sebesar 0,5 CnA, lama
Tipe ini adalah untuk jenis waktu pembebanan 5 jam,
pembebanan dengan arus yang biasanya digunakan di gardu-
tinggi yaitu antara 0,5 - 3,5 CnA gardu induk. Tegangan akhir 1
dengan waktu yang singkat, lama Volt per sel.
waktu pembebanan ± 40 menit,
biasanya digunakan di gardu-gardu

45
1.12. Bagian-bagian Utama Baterai

Gambar 1.48. Bagian-bagian Baterai

46
1. Elektroda
Tiap sel baterai terdiri dari 2 (dua)
macam elektroda, yaitu elektroda
positif (+ ) dan elektroda negatif (- )
yang direndam dalam suatu larutan
kimia ( gambar 1.49 ).
Elektroda-elektroda positif dan
negatif terdiri dari :
− Grid, adalah suatu rangka besi
atau fiber sebagai tempat
material aktif. Gambar1. 49. Bentuk Sederhana
− Material Aktif, adalah suatu Sel Baterai
material yang bereaksi secara
kimia untuk menghasilkan energi 3. Sel Baterai
listrik pada waktu pengosongan Sesuai dengan jenis bahan
(discharge) bejana ( container ) yang digunakan
terdiri cari 2 (dua) macam :
2. Elektrolit a. Steel Container
Elektrolit adalah Cairan atau b. Plastic Container
larutan senyawa yang dapat
menghantarkan arus listrik, karena 4. Steel Container
larutan tersebut dapat menghasilkan Sel baterai dengan bejana
muatan listrik positif dan negatif. (container) terbuat dari steel
Bagian yang bermuatan positif ditempatkan dalam rak kayu, hal ini
disebut ion positif dan bagian yang untuk menghindari terjadi hubung
bermuatan negatif disebut ion singkat antar sel baterai atau hubung
negatif. Makin banyak ion-ion yang tanah antara sel baterai dengan rak
dihasilkan suatu elektrolit maka baterai
makin besar daya hantar listriknya. .
Jenis cairan elektrolit baterai 5. Plastic container
terdiri dari 2 ( dua ) macam, yaitu:
1. Larutan Asam Belerang ( H2S04 ), Sel baterai dengan bejana
digunakan pada baterai asam. (container) terbuat dari plastik
2. Larutan Alkali ( KOH ), digunakan ditempatkan dalam rak besi yang
pada baterai alkali. diisolasi, hal ini untuk menghindar
terjadi hubung singkat antar sel
baterai atau hubung tanah antara sel
baterai de !gan rak baterai apabila
terjadi kerusakan atau kebocoran
elektrolit baterai.

47
1.13. Instalasi Sel Baterai. ditempatkan pada stairs rack
sehingga memudahkan dalam
Sel baterai dibagi dalam
melaksanakan pemeliharaan,
beberapa unit atau group yang terdiri
pengukuran dan pemeriksaan level
dari 2 sampai 10 sel per unit dan
elektrolit.
tergantung dari ukuran sel baterai
Agar ventilasi cukup dan
tersebut. Baterai tidak boleh
memudahkan pemeliharaan maka
ditempatkan langsung di lantai
harus ada ruang bebas pada
sehingga memudahkan dalam
rangkaian baterai sekurang-
melakukan pemeliharaan dan tidak
kurangnya 25 cm antara unit atau
terdapat kotoran dan debu diantara
grup baterai lainnya serta grup atau
sel baterai. Baterai jangan
unit baterai paling atas. Instalasi
ditempatkan pada lokasi yang mudah
baterai dan charger ditempatkan
terjadi proses karat dan banyak
pada ruangan tertutup dan
mengandung gas, asap, polusi serta
dipisahkan, hal dimaksudkan untuk
nyala api.
memudahkan pemeliharaan dan
Instalasi baterai sesuai
perbaikan.
penempatannya dibagi dalam 2 (dua)
macam juga, sama dengan bahan
1.13.2. Terminal dan Penghubung
bejana yaitu :
Baterai.
1. Steel Container
2. Plastic Container
Sel baterai disusun sedemikian
rupa sehingga dapat memudahkan
1.13.1. Steel Container
dalam menghubungkan kutub-kutub
baterai yang satu dengan yang
Sel baterai dengan bejana
lainnya. Setiap sel baterai
(container) terbuat dari baja (steel)
dihubungkan menggunakan nickel
ditempatkan dalam rak dengan jarak
plated steel atau copper. Sedangkan
isolasi secukupnya. Setiap sel baterai
penghubung antara unit atau grup
disusun pada rak secara paralel
baterai dapat berbentuk nickel plated
sehingga memudahkan untuk
steel atau berupa kabel yang
melakukan pemeriksaan batas (level)
terisolasi (insulated flexible cable).
tinggi permukaan elektrolit serta
Khusus untuk kabel
pemeliharaan baterai lainnya.
penghubung berisolasi, drop voltage
maksimal harus sebesar 200 mVolt
Plastic Container
(Standar dari Alber Corp ) seperti
terlihat pada Gambar 1.50
Sel baterai dengan bejana
(container) terbuat dari plastik
biasanya dihubungkan secara seri
dalam unit atau grup dengan suatu
"plastic button plate". Sel baterai
disusun memanjang satu baris atau
lebih tergantung jumlah sel baterai
dan kondisi ruangan. Sel baterai

48
I= Arus dalam ampere

1.13.5. Rangkaian Baterai


Dikarenakan tegangan baterai
per sel terbatas, maka perlu untuk
mendapatkan solusi agar tegangan
baterai dapat memenuhi atau
sesuai dengan tegangan kerja
peralatan yang maupun untuk
Gambar 1.50. Susunan Sel pada menaikkan kapasitas dan juga
Baterai kehandalan pemakaian dengan
Demikian pula kekerasan atau merangkai (meng-koneksi)
pengencangan baut penghubung beberapa baterai dengan cara :
harus sesuai dengan spesifikasi 1. Hubungan seri
pabrik pembuat baterai. Hal ini untuk 2. Hubungan paralel
menghindari loss contact antara 3. Hubungan Kombinasi
kutub baterai yang dapat a. Seri Paralel
menyebabkan terganggunya sistem b. Paralel Seri
pengisian baterai serta dapat
menyebabkan terganggunya 1. Hubungan Seri
performance baterai. Oleh karena itu
perlu dilakukan pemeriksaan Koneksi baterai dengan
kekencangan baut secara periodik hubungan seri ini dimaksudkan
untuk dapat menaikkan tegangan
1.13.4. Ukuran Kabel baterai sesuai dengan tegangan
kerja yang dibutuhkan atau sesuai
Bagian yang terpenting dalam tegangan peralatan yang ada.
pemasangan instalasi baterai Sebagai contoh jika kebutuhan
adalah diperolehnya sambungan tegangan baterai pada suatu unit
kabel yang sependek mungkin pembangkit adalah 220 Volt maka
untuk mendapatkan rugi tegangan akan dibutuhkan baterai dengan
(voltage drop) sekecil mungkin. kapasitas 2,2 Volt sebanyak 104
Ukuran kabel disesuaikan dengan buah dengan dihubungkan secara
besarnya arus yang mengalir. seri.
Dengan demikian rumus yang Kekurangan dari hubungan seri
digunakan adalah : ini adalah jika terjadi gangguan atau
kerusakan pada salah satu sel
0,018 x I baterai maka suplai sumber DC ke
U =
A beban akan terputus.
Dimana :
U = rugi tegangan (single
conductor) dalam volt / meter

49
Gambar 1.51. Hubungan Baterai Secara Seri

2. Hubungan Paralel paralel mengalami gangguan atau


kerusakan maka sel baterai yang
Koneksi baterai dengan
lain tetap akan dapat mensuplai
hubungan paralel ini dimaksudkan
tegangan DC ke beban, jadi tidak
untuk dapat menaikkan kapasitas
akan mempengaruhi suplai secara
baterai atau Ampere hour (Ah)
keseluruhan sistem, hanya
baterai, selain itu juga dapat
kapasitas daya sedikit berkurang
memberikan keandalan beban DC
sedangkan tegangan tidak
pada sistem. Mengapa bisa
terpengaruh
demikian?
.
Hal ini disebabkan jika salah
satu sel baterai yang dihubungkan

Gambar 1.52. Hubungan Baterai Secara Paralel

50
3. Hubungan Kombinasi 4. Hubungan Seri Paralel
Pada hubungan kombinasi ini Pada hubungan Seri Paralel
terbagi menjadi 2 macam yaitu seri seperti gambar 1.53, jika tiap
paralel dan paralel seri. Hubungan baterai tegangannya 2,2 Volt dan
ini digunakan untuk memenuhi Arusnya 20 Ampere maka akan
kebutuhan ganda baik dari sisi didapat : Tegangan dibaterai adalah
kebutuhan akan tegangan dan arus = 2,2 + 2,2 + 2,2 = 6,6 Volt,
yang sesuai maupun keandalan sedangkan arusnya adalah = 20 +
sistem yang lebih baik. Hal ini 20 = 40 Ampere, sehingga
disebabkan karena hubungan seri kapasitas baterai secara
akan meningkatkan tegangan keseluruhan adalah 6,6 Volt dan 40
sedangkan hubungan paralel akan Ampere.
meningkatkan arus dan keandalan Dari perhitungan tersebut
sistemnya. maka yang mengalami kenaikan
signifikan adalah tegangannya.

Gambar 1.53. Hubungan Baterai Secara Seri Paralel

51
5. Paralel Seri adalah = 20 + 20 + 20 = 60
Ampere, sehingga kapasitas baterai
Pada hubungan Paralel Seri
secara keseluruhan adalah 4,4 Volt
seperti gambar dibawah ini, jika tiap
dan 60 Ampere.
baterai tegangannya 2,2 Volt dan
Dari perhitungan tersebut maka
Arusnya 20 Ampere maka akan
yang mengalami kenaikan
didapat :
signifikan adalah tegangannya
Tegangan dibaterai adalah = 2,2 +
2,2 = 4,4 Volt, sedangkan arusnya
.

Gambar 1.54. Hubungan Baterai Secara Seri Paralel

1.14. Ventilasi Ruang Baterai ingin menjaga kondisi temperatur


dan kelembaban yang lebih baik
Pada pemasangan baterai di
maka perlu dipasang pendingin
ruangan tertutup, maka perlu
ruangan atau Air Conditioning (AC)
adanya sirkulasi udara yang cukup
dengan suhu yang sesuai standar
di ruangan baterai tersebut. Untuk
yang berlaku.
harus dilengkapi dengan ventilasi
Sesuai dengan Standar DIN
atau lubang angin atau exchaust
0510 maka suhu ruangan baterai
fan. Dalam hal ini keadaan ventilasi
untuk jenis baterai asam tidak boleh
harus baik untuk membuang gas
lebih dari 38 oC dan untuk baterai
yang berupa campuran hydrogen
alkaline tidak boleh lebih dari 45 oC.
dan oxygen (eksplosif) yang timbul
akibat proses operasi baterai. Jika

52
Sedangkan untuk ventilasi atau Dimana :
volume udara yang mengalir Q = Volume Udara ( liter/jam )
dirancang sebagai berikut : n = Jumlah Sel Baterai
• Untuk Instalasi di Darat ( Land l = Arus pengisian pada akhir
Instalation ) : pengisian atau dalam kondisi
pengisian Floating.
Q = 55 x n x l Bilamana baterai sedang
dilakukan pemeriksaan atau
pengujian, maka semua pintu dan
• Untuk Instalasi di Laut (Marine jendela ruangan baterai harus
Instalation ) : terbuka.

Q = 110 x n x l

53
1.15. Pemeliharaan DC Power Pemeriksaan atau monitoring
dalam hal ini adalah melihat,
Pemeliharaan adalah serang- mencatat, meraba (jika
kaian tindakan atau proses kegiatan memungkinkan) dan
untuk mempertahankan kondisi mendengarkan. Kegiatan ini
atau meyakinkan bahwa suatu dilakukan pada saat unit sedang
peralatan dapat berfungsi dengan dalam keadaan beroperasi.
baik sebagai mana mestinya
sehingga dapat dicegah terjadinya Kemudian untuk pemeliharaan
gangguan yang dapat menimbulkan meliputi kalibrasi, pengujian,
kerusakan yang lebih fatal. koreksi, resetting, perbaikan dan
membersihkan peralatan. Kegiatan
1.15.1.Tujuan Pemeliharaan ini dilakukan pada saat unit sedang
tidak beroperasi atau waktu
Tujuan Pemeliharaan adalah untuk inspection atau overhoul.
menjamin keberlangsungan atau
kontinyuitas dan keandalan 1.15.2. Jenis-jenis Pemeliharaan
penyaluran tenaga listrik pada unit
pembangkit, yang meliputi Jenis-jenis pemeliharaan yang ada
beberapa aspek yaitu : adalah :
1. Predictive Maintenance
ƒ Untuk meningkatkan reliability,
(Conditon Base Maintenance)
availibility dan efisiency
2. Preventive Maintenance (Time
ƒ Untuk memperpanjang umur
Base Maintenance)
peralatan
3. Corrective Maintenance (Curative
ƒ Mengurangi resiko terjadinya
Maintenance)
kegagalan pengoperasian atau
4. Breakdown Maintenance
kerusakan peralatan
ƒ Meningkatkan keamanan atau
1. Predictive Maintenance
safety peralatan
ƒ Mengurangi lama waktu padam
Predictive Maintenance adalah
akibat sering terjadi gangguan
pemeliharaan yang dilakukan
dengan cara memprediksi kondisi
Faktor terpenting atau paling suatu peralatan, kemungkinan-
dominan dalam pemeliharaan kemungkinan apakah dan kapan
instalasi atau peralatan listrik peralatan tersebut menuju
adalah pada sistem isolasi. kerusakan atau kegagalan operasi.
Dalam pemeliharaan ini dibedakan Dengan memprediksi kondisi
menjadi 2 aktifitas atau kegiatan tersebut maka dapat diketahui
yaitu : gejala kerusakan secara dini.
− Pemeriksaan atau monitoring, Metode yang biasa digunakan
dan adalah dengan memonitor kondisi
− Pemeliharaan peralatan secara online baik saat

54
peralatan beroperasi maupun tidak 3. Corrective Maintenance
beroperasi.
Corrective Maintenance adalah
Untuk itu diperlukan peralatan pemeliharaan yang dilakukan
dan personil yang ditugaskan dengan berencana pada waktu-
khusus untuk memonitor dan waktu tertentu ketika peralatan
menganalisa peralatan tersebut mengalami kelainan atau unjuk
atau ditugaskan pada bagian kerja rendah saat menjalankan
tertentu yang berkaitan dengan fungsinya.
peralatan tersebut. Pemeliharaan Hal ini dimaksudkan untuk
ini disebut juga pemeliharaan mengembalikan peralatan pada
berdasarkan kondisi peralatan kondisi semula (sebelum rusak)
atau Condition Base dengan perbaikan-perbaikan,
Maintenance. pengujian dan penyem-purnaan
peralatan. Pemeliharaan ini bisa
2. Preventive Maintenance dilakukan dengan cara trouble
shooting atau penggantian
Preventive Maintenance adalah komponen atau part atau bagian
pemeliharaan yang dilakukan untuk yang rusak atau kurang berfungsi
mencegah terjadinya kerusakan yang dilakukan dengan terencana.
peralatan secara tiba-tiba dan untuk Pemeliharaan ini disebut juga
mempertahankan unjuk kerja pemeliha- raan berdasarkan kondisi
peralatan yang optimal sesuai umur peralatan atau Currative
teknis yang telah ditentukan oleh Maintenance.
pabrikan.
4. Breakdown Maintenance
Kegiatan pemeliharaan ini Breakdown Maintenance adalah
dilakukan secara berkala dengan pemeliharaan yang dilakukan jika
berpedoman pada Instruction terjadi kerusakan mendadak yang
Manual dari pabrik pembuat waktunya tidak dapat diprediksi
peralatan tersebut. Disamping itu atau tidak tertentu dan sifatnya
juga menggunakan standar yang darurat atau emergency.
ditetapkan oleh badan standar
Nasional maupun Internasional 1.15.3. Pelaksanaan
(seperti SNI, IEEC dan lain-lain) Pemeliharaan
dan data-data yang diambil dari
pengalaman operasi di lapangan. Pelaksanaan pemeliharaan
peralatan ini dibagi 2 (dua) macam
Pemeliharaan ini disebut juga yaitu :
pemeliharaan berdasarkan waktu
operasi peralatan atau Time Base 1. Pemeliharaan berupa
Maintenance monitoring yang dilakukan oleh
petugas operator setiap hari

55
atau setiap minggu oleh dilakukan pembersihan jika ada
petugas patroli unit pembangkit. kotoran dan penggantian-
Kegiatan pemeliharaan ini penggantian pada lampu atau
merupakan pengamatan secara meter indikator.
visual terhadap kelainan,
kebersihan, indikasi yang muncul, 1. Pemeliharaan Instalasi DC.
arus beban, tegangan pada
Ada beberapa langkah dalam
panel, level air pada baterai dan
pemeliharaan Instalasi DC anatar
lain-lain yang terjadi pada
lain :
peralatan dicatat pada daftar
cekllist harian atau mingguan
yang kemudian dilaporkan 2. Pengukuran Tegangan dan
kepada atasan. Arus Beban

2. Pemeliharaan yang berupa Dengan dilakukannya


pembersihan dan pengukuran pengukuran tegangan dan arus
yang dilakukan setiap bulan beban diharapkan dapat diperoleh
atau pengujian yang dilakukan data-data aktual mengenai besaran
setiap tahun oleh petugas tegangan dan arus beban,
pemeliharaan. sehingga dapat mengantisipasi
perubahan besaran tegangan dan
1.15.4. Kegiatan Pemeliharaan arus beban.

Kegiatan Pemeliharaan pada Cara Pelaksanaan Pengukuran


sistem DC Power ini meliputi
pemeliharaan dari mulai sumber 1. Mempersiapkan Pengukuran
listrik untuk input charger (panel • Mempersiapkan Material dan
listrik ac 380V), charger, instalasi Peralatan Kerja yang
listriknya, baterai dan ruangan diperlukan.
baterai, panel listrik DC, inverter • Mempersiapkan Dokumen dan
(jika ada) dan instalasi listrik yang Peralatan K3.
ke beban-beban DC. Dari hasil
survey dan wawancara di 2.Melakukan pengukuran
lapangan yang sering mengalami • Ukur dan catat tegangan tiap
gangguan adalah di sisi instalasi MCB beban.
listrik yaitu DC ground, baterai dan • Ukur dan catat arus beban
charger. setiap MCB jika memungkinkan
• Membersikan Panel Pembagi
Untuk pemeliharaan instalasi • Periksa suhu tiap MCB dengan
listrik dan perangkat Thermovisi
pendukungnya seperti panel- • Periksa dan kencangkan baut-
panel, meter indikator, lampu baut pada terminal MCB
indikator dan sebagainya cukup • Ukur dan catat arus DC ground
dilakukan secara visual dan

56
3. Standar Pengukuran sebelumnya atau laporan hasil
komisioning.
Bandingkan hasil pengukuran
dengan laporan/catatan
sebelumnya atau laporan hasil 7. Pengukuran Keseimbangan
komisioning. Tegangan

4. Pemeriksaan Fuse atau MCB Tujuan Pengukuran


Keseimbangan Tegangan
Dengan dilakukannya
pemeriksaan fuse dan MCB Dengan dilakukannya penguku-
diharapkan dapat diperoleh data- ran keseimbangan tegangan
data aktual mengenai kondisi diharapkan dapat diperoleh data-
secara fisik peralatan tersebut data aktual apakah terjadi
sehingga dapat dihindari terjadinya penyimpangan keseimbangan
”Mal-Function” peralatan lain akibat tegangan. Apabila terjadi
terputus pasokan tegangan dan penyimpangan tegangan – 5 % dan
arus. + 5 %, itu berarti menunjukkan
adanya DC ground.
5.Cara Pelaksanaan Pemeriksaan
Fuse atau MCB Cara Pelaksanaan Pengukuran
Keseimbangan Tegangan
1. Mempersiapkan Pemeriksaan
• Material dan peralatan kerja 1. Mempersiapkan Pengukuran
dipersiapkan • Mempersiapkan Material
• Dokumen dan peralatan K3 dan Peralatan Kerja yang
dipersiapkan diperlukan.
• Mempersiapkan Dokumen
2. Melakukan pemeriksaan dan Peralatan K3.
• Membersihkan panel Fuse dan
pengaman baterai. 2. Melakukan Pengukuran
• Periksa suhu tiap MCB dengan • Membersihkan Rangkaian
Thermovisi Output Rectifier/Charger.
• Periksa dan kencangkan baut- • Membersihkan Panel Fuse
baut pada terminal MCB dan Pengaman Baterai
• Ukur dan catat arus DC ground • Ukur dan catat besaran
• Periksa label atau marker masing- tegangan antara :
masing panel fuse baterai dan − Kutub Positif terhadap
kabel baterai Negatif,
− Kutub Positif terhadap
6. Standar Pemeriksaan Fuse Ground,
atau MCB − Kutub Negatif terhadap
Bandingkan hasil pengukuran Gound
dengan laporan/catatan

57
1.15.5. Pemeliharaan Charger - Rangkaian rectifier (thyristor)
bekerja tidak seimbang, mungkin
Seperti halnya peralatan pada
salah satu Tyristor bekerja tidak
umumnya charger juga harus
stabil / tidak normal.
dipelihara. Hal ini harus dilakukan
- Rangkaian Filter LC yang kurang
agar charger dapat beroperasi
baik (Kapasitor atau Induktor
secara andal dan optimal. Dalam
bocor ).
pemeliharaan charger ini ada
beberapa hal yang harus
dilakukan sepeti dijelaskan pada 2. Cara Pengukuran
uraian berikut ini. Pengukuran tegangan ripple
dilakukan pada titik output charger
1. Pengukuran Ripple atau sesudah rangkaian filter LC
(lihat gambar dibawah ini yaitu pada
Tujuan pengukuran Tegangan
titik ukur 1) dan pada titik input
Ripple pada charger untuk
beban atau output voltage dropperl
mengetahui mutu tegangan DC
(titik ukur 2). Pengukuran tegangan
yang dihasilkan. Tegangan ripple
ripple menggunakan alat ukur
yang tinggi, kemungkinan
Ripple Voltage Meter atau
disebabkan oleh beberapa hal
Oscilloscope.
antara lain :

Gambar 1.55. Skema Pengukuran Tegangan Ripple


Dari contoh pembacaan hasil 3. Standard Tegangan Ripple
pengukuran diatas nilainya adalah
Standard tegangan ripple yang
0,386 volt, kalau tegangan DC-nya
diizinkan untuk semua merk atau
adalah 110V maka prosentase
type charger adalah ≤ 2 % (Sesuai
ripplenya adalah :
SE. 032).
0,386
Tegangan Ripple = x 100 %
110%
= 0,351 %

58
4. Pengukuran Tegangan dan charger dilengkapi dengan
Arus Input rangkaian sensor arus dan
tegangan yang akan mendeteksi
Pengukuran tegangan dan arus arus pengisian dan tegangan
input dilakukan pada titik input output. Tujuan pengukuran
charger bertujuan untuk tegangan dan arus output
mengetahui besarnya tegangan dan charger adalah :
arus masing-masing fasa. − Mengetahui besaran tegangan
dan arus output pada setiap
Cara Pengukuran mode operasi.
Pelaksanaan pengukuran − Pembanding hasil pengukuran
dilakukan pada rangkaian input meter terpasang.
charger. Cara pelaksanaan
pengukuran tegangan Cara Pengukuran pengukuran
menggunakan Voltmeter AC tegangan dan arus output dilakukan
standar. pada saat floating, equalizing dan
Standar Tegangan input boosting. Pengukuran dilakukan
adalah380 volt AC ± 10% pada titik-titik terminal baterai dan
Frekuensi tegangan input 50 hz ± terminal beban atau output dropper
6% (lihat gambar1.55 ).
5. Pengukuran Tegangan dan Pelaksanaan pengukuran dilakukan
Arus Output dengan cara :
Tegangan output dari
charger digunakan untuk
mensuplai beban DC dan juga
digunakan untuk pengisian
baterai. Pada rangkaian control

Gambar 1.55. Pengukuran Tegangan dan Arus Output

59
boosting pada pemeliharaan
1. Pengisian floating
tahunan dilakukan saat rectifier tidak
- Posisikan selector switch "mode
berbeban dan untuk pemeliharaan
operasi" pada posisi floating,
bulanan pengukuran dan reseting
- Catat hasil pengukuran pada
floating dan equalizing dilakukan
logsheet,
pada saat berbeban .
- Bandingkan hasil pengukuran
dengan setting floating,
- Lakukan reseting apabila tidak Apabila tegangan output
sesuai pengisian terlalu rendah,
2 . Pengisian equalizing kemungkinan penyebabnya antara
- Posisikan selector switch "mode lain :
operasi" pada posisi equalizing, - Terjadi gangguan pada rangkaian
- Catat hasil pengukuran pada tenaga DC.
logsheet, - Pada untai jembatan Thyristor, ada
- Bandingkan hasil pengukuran salah satu thyristor yang
dengan setting equalizing, penyulutannya tidak normal.
- Lakukan reseting apabila tidak - Rangkaian Pulse Generator tidak
sesuai bekerja dengan baik.
- Kerusakan pada rangkaian Control
3. Pengisian boosting Charger.

- Posisikan selector switch "mode Pengukuran tegangan output


operasi" pada posisi boosting, sangat tergantung pada merk dan
- Catat hasil pengukuran pada type baterai yang dilayani, dalam
logsheet, pelaksanaan menggunakan standar
- Bandingkan hasil pengukuran IEC 623 atau sesuai dengan buku
dengan setting boosting, manual seperti pada tabel Tegangan
- Lakukan reseting apabila tidak per Sel pada bahasan baterai,
sesuai setting boosting sebagai contoh kita lihat tabel
dibawah ini standar untuk baterai
alkali merk saft.
Pelaksanaan pengukuran dan
reseting floating, equalizing dan

Tabel . 1. 6. Pengisian boosting

Jenis / Tegangan Baterai ( Volt )


Merk Initial Akhir
Baterai Nominal Float Equal Boost
Baterai Dischrage
ALKALI
Saft 1,2 1,40 - 1,50 - 1,65 - 1,65 - 1
1,42 1,55 1,70 1,70

60
Arus keluaran charger tergantung 1.15.6. Pengukuran Arus Output
pada beban atau dibatasi oleh arus Maksimum
maksimum charger
Tujuan pengukuran adalah
untuk mengetahui apakah charger
Keseimbangan Tegangan
masih dapat bekerja optimal
Tujuan pengukuran keseimbangan dengan arus output sesuai dengan
tegangan adalah untuk mengetahui yang dibutuhkan (kapasitas
keseimbangan antara tegangan positif baterai). Pengukuran arus
ke ground dengan negatif ke ground. maksimum juga dilakukan saat
Hal ini dapat terjadi akibat ketidak komisioning untuk mengetahui
seimbangan tegangan output charger apakah arus maksimum charger
atau ketidak seimbangan tegangan sudah sesuai spesifikasi.
pada beban karena adanya hubung
singkat antara positif ke ground atau Apabila hasil pengukuran
negatif ke ground. terjadi perbedaan antara besaran
Cara Pengukuran untuk arus, output dengan arus yang
melaksanakan pengukuran ini dibutuhkan, maka perlu dilakukan
dilakukan pada titik output charger ke pengaturan ulang (resetting) pada
beban, caranya yaitu dengan charger.
mengukur tegangan antara positif Cara pengukuran arus output
dengan ground, kemudian ukur maksimum atau sesuai kebutuhan
tegangan negatif dengan ground. baterai dilakukan dengan cara :
Dari hasil pengukuran ini, 1. Lepaskan charger dari baterai
perhatikan apakah sudah sama clan beban
(toleransi dari pabrik) antara besaran 2.Kosongkan energi baterai
tegangan positif ke ground dengan dengan dummy load.
besaran tegangan negatif ke ground. 3..Pasang amperemeter secara
Apabila hasil pengukuran diketahui seri pada titik output charger.
sama, berarti, tegangan output charger 4..Posisikan charger pada mode
sudah seimbang clan tidak terjadi Boost
hubung singkat pada beban.Apabila 5.Hubungkan charger dengan
terjadi ketidakseimbangan maka perlu baterai yang telah dikosongkan
dilakukan pengecekan lebih lanjut atau menggunakan dummy load.
(lihat pokok bahasan troubleshooting ) 6..Amati besaran arus pada
amperemeter.
7..Apabila terdapat perbedaan
Standard hasil pengukuran
antara hasil pengukuran dengan
keseimbangan tegangan masing-
besarnya arus output yang
masing antara positif dan negatif ke
dibutuhkan (sesuai kapasitas
ground adalah 50 persen dari
baterai), maka lakukan
tegangan output charger. (toleransi ±
penyetelan arus output charger
12,5%)
sesuai kebutuhan.

61
Untuk charger type BCT, rangkaian ke beban (tegangan
penyetelan dilakukan pada rangkaian pada rangkaian ke beban harus
kontrol charger, yaitu dengan tetap).
mengatur trimpot VR1 dan VR2
4. Posisikan selector switch pada
(besar arus maksimum yang
Equalizing, amati tegangan
diizinkan 110 % dari arus nominal).
pada rangkaian 'ke beban
(tegangan pada rangkaian ke
Untuk charger type ABB 626 170, beban harus tetap).
penyetelan dilakukan pada circuit
card A1, yaitu pengaturan 5. Posisikan selector switch pada
potensiomefer R5. Boosting, amati tegangan pada
rangkaian ke beban (tegangan
Standard masing-masing type I pada rangaian ke beban harus
merk charger telah mempunyai) tetap)
standar kapasitas arus maksimum
yang diizinkan. Sebagai contoh, Apabila hasil pengukuran
charger type ABB 162 170 standar tegangan pada rangkaian ke beban
kapasitas arus maksimum adalah saat posisi floating, equalizing clan
105 % dari arus keluaran ( 105% x boosting tetap (± 10 %) maka
100 A = 105 A ) dan charger dari PT rangkaian dropper bekerja normal.
Catu daya Data Prakasa, Pada saat ini pengukuran
mempunyai standar arus maksimum rangkaian tegangan dropper
110 % dari arus keluaran charger ( mengacu pada pengalaman
110% x 80 A = 88 A ). lapangan clan buku manual
masing-masing merk, seperti :
Pengukuran Rangkaian Dropper - Charger type ABB 162 1 70
Untuk mengetahui apakah besarnya tegangan dropper
rangkaian Dropper dapat bekerja adalah 80 % dari tegangan
normal. Cara pengukuran tegangan keluaran, yaitu sE kitar 10 VDC.
dropper dilakukan dengan - Charger dari PT Catudaya Data
pengecekan tegangan rangkaian ke Prakasa, menggunakan dropper
beban untuk masing-masing posisi diode. 3 step, dengan range
selector switch, seperti sebagai berikut tegangan 24 VDC pada arus 80
: A.
- Charger BCT menggunakan 2
1. Tentukan besaran tegangan yang buah dropper diode, masing-
diperlukan pada rangkaian ke masing besarnya adalah 24 VDC.
beban (misalnya 110 volt).
2. Hubungkan voltmeter pada output Pengecekan Meter-meter
charger (sebelum rangkaian Tujuan pengecekan meter
dropper) dan rangkaian ke beban adalah untuk mengetahui akurasi
(setelah rangkaian dropper). dari meter-meter terpasang (arus
3. Posisikan selector switch pada baterai, arus beban dan tegangan
Floating, amati tegangan pada beban) Pada charger baterai

62
umumnya memiliki tiga buah alat ukur cairan pembersih. Khusus untuk
terdiri dari meter untuk pengukuran peralatan elektronika,
arus baterai, arus beban, clan gunakanlah kompressor udara
tegangan beban. dengan tekanan maksimum 3
bar.
Pengecekan dilakukan dengan cara
sebagai berikut : 5. Periksa kondisi baut-baut jika
perlu dikencangkan.
Ukur besaran tegangan dan arus di
Gunakanlah alat yang sesuai
terminal meter menggunakan alat ukur
dengan peruntukkannya.
standar.
Standard pemeriksaan fisik pada
1. Bandingkan hasil pengukuran
peralatan adalah secara visual
antara alat ukur standar dengan
ataupun bisa juga dengan diraba
hasil penunjukkan meter
yaitu peralatan dalam kondisi baik
terpasang.
dan bersih.
2. Apabila perbedaan hasil
pengukuran antara alat ukur 1.16.Jadwal dan Chek list
standar dengan meter terpasang Pemeliharaan Charger
di atas 5% (+5%) atau dibawah
5% (-5%) sesuai dengan klas Agar periode dan objek
meternya, maka meter tersebut pemeliharaan charger sama, maka
harus dikalibrasi. perlu membuat jadwal dan cheklist
Standar akurasi meter sesuai dengan pemeliharaan charger.
klas meter yang dipakai, misal : 0,5% -
5% Pembuatan jadwal dan
cheklist pemeliharaan charger,
Pemeriksaan Fisik disesuaikan dengan buku petunjuk
peralatan yang dikeluarkan oleh
Pemeriksaan secara fisik bertujuan pabrik pembuat peralatan atau
untu.k mengetahui kondisi cubicle instrument tersebut.
charcer dan fuse box apakah dalam
keadaan baik dan bersih. Cara 1.16.1. Pemeliharaan Baterai
pelaksanaan pemeriksaaan fisik Pengukuran tegangan pada sel
adalah sebagai berikut : baterai bertujuan untuk mengetahui
1. Buka pintu panel charger sebagai berikut :
2. Perhatikan kondisi kebersihan − Kondisi tegangan sel baterai,
peralatan elektronik, meter-meter apakah kondisi operasi normal
dan fuse. − Tegangan pengisian ke baterai
3. Bersihkan apabila jika terdapat (Tegangan output charger)
kotoran baik debu atau sarang − Kondisi open sirkit pada
laba-laba. rangkaian baterai.
4. Pembersihan dilakukan dengan − Keseimbangan tegangan
menggunakan alat pembersih dan baterai terhadap tanah.

63
1.16.2. Cara Pelaksanaan b) Pengukuran tegangan
Pengukuran Tegangan. seluruh sel :
Pengukuran tegangan baterai per − Rangkaian Baterai ke Rectifier di-
sel dan keseluruhan sel dilakukan off-kan.
dengan langkah-langkah sebagai
berikut : − Siapkan AVO meter ( diajurkan
menggunakan AVO meter digital
).
Pengukuran Tegangan per Sel
− Ubah posisi selektor switch pada
− Rangkaian Baterai ke Rectifier di-off-
AVO meter pada skala yang
kan
sesuai.
− Siapkan AVO meter ( diajurkan
− Ukur tegangan sel baterai sesuai
menggunakan AVO meter digital )
polaritasnya, warna merah pada
− Sesuaikan selektor switch pada kutub positif pada sel no.1 dan
AVO meter pada skala yang kecil, warna hitam pada kutub negatif
misalnya pada skala 10 volt. pada sel terakhir.
− Ukur tegangan sel baterai sesuai − Catat hasilnya pada lembar
polaritasnya ( positif warna merah kerja pengukuran tegangan.
dan negatif warna hitam ) mulai dari
− Koreksi besaran hasil ukur
sel no. 1 sampai dengan sel terakhir.
tegangan tersebut dan
− Catat hasil pengukuran pada bandingkan dengan standard
lembar kerja pengukuran tegangan. tegangan.

Tabel 1.7. Tegangan per Sel.


Jenis / Tegangan Baterai ( Volt )
Merk
Baterai Nominal Initial Akhir
Floating Equalizing Boost
Alkali Baterai Dischrage
Saft 1,2 1,40 - 1,42 1,50 - 1,55 1,65 - 1,65 - 1
1,70 1,70
Nife 1,2 1,40 - 1,42 1,55 1,70 1,65 1
Hoppecke 1,2 1,40 - 1,45 1,50 - 1,65 1,70 1,70 1
/ FNC
Friwo / TS 1,2 1,40 - 1,42 - 1,70 1,70 1,15
Alcad 1,2 1,45 - 1,47 1,50 - 1,60 1,70 1,70 1
Furukawa 1,2 1,40 - 1,42 - - - 1
Emisa / 1,2 1,40 - 1,45 1,50 - 1,60 1,70 1,70 1
LP, MP

64
Jenis / Tegangan Baterai ( Volt )
Merk
Baterai Initial Akhir
Nominal Floating Equalizing Boost
Asam Baterai Dischrage

Rocket 2 2,3 2,4 - 2,3 1,8


SAFT NIFE
2 2,27 - - 2,3 1,8
/ Lead Line

Fiam / SMG 2 2,23 - - 2,35 1,8


Furukawa 2 - - - - -
Yuasa 2 - - - - -
Gould 2 - - - - -
Fulmen / 2 2,27 - - 2,40 1,8
EHP
DRYFIT /
2 2,3 - - - 1,8
A600 OpzV

DRYFIT / 2 2,3 - - - 1,8


PzS
HOPPEKE /
2 2,23 - 2,24 - - 1,8
OPzS
2,24
Cloride
2 2,25 - 2,4 - 2,3 - 1,8
Powersafe
2,27 2,4

1.16.3.Pengukuran Berat Jenis Oleh karena itu agar proses kimia


Elektrolit didalam sel baterai bekerja baik,
maka perlu dilakukan pemeriksaan
Tujuan melakukan pengukuran
atau pengukuran berat jenis
adalah untuk mengetahui kondisi
elektrolit. Alat ukur yang digunakan
elektrotit. Hal ini sangat penting
adalah Hydrometer, seperti gambar
karena elektrolit pada baterai
1-57
berfungsi sebagai konduktor atau
sebagai media pemindah elektron.

65
Pompa Karet

Silinder

Aerometer

Cairan Elektrolit

Gambar 1. 57. Hydromete

Aerometer yang biasa dipakai atau Bd ( hs )= Pembacaan berat jenis


yang beredar dipasaran terdiri dari pada hydrometer ( gr/cm3 )
3 (tiga) macam, yaitu :
1. Aerometer yang bertuliskan ts = Temperatur larutan asam
angka-angka berwarna putih, belerang ( 0 C )
biasanya pada baterai merk
Hoppecke (buatan Jerman).. b. Pada baterai alkali
2. Aerometer yang dilengkapi
dengan warna : Merah, Hijau, ( t a - 15 )
Bd ( a ) = Bd ( ha ) + x 0,001
Kuning (buatan RRC). Arti dari 2
warna-warna tersebut adalah : Diman
− Merah : Dead Batery, adalah
a:
muatan baterai tidak ada atau
mati Bd ( a ) = Harga berat jenis
− Hijau : Half Charge, Sebenarnya
kapasitas baterai sudah 50% Bd ( ha ) = Pembacaan berat jenis
larutan alkali pada hydrometer
a) Pada Baterai Asam : (gr/cm3 )
− Ta = Temperatur larutan asam
belerang Kuning : Full Charge,
( t s - 15 )
Bd (s) = Bd ( hs ) + x 0,001 kapasitas baterai sudah 90–
1,5
100%
Dimana :
3. Aerometer yang dilengkapi
Bd ( s ) = Harga berat jenis warna : Merah, Putih, Hijau (buatan
sebenarnya

66
Taiwan), arti warna-warna tersebut - Pompakan cairan elektrolit secara
adalah : maksimal / sampai penuh seperti
− Merah : Recharge gambar 1-58.
− Putih : Fair - Baca skala pada areometer sesuai
− Hijau : Good permukaan cairan elektrolit.
- Siapkan alat ukur berat jenis - Catat hasil pengukuran.
(hydrometer).
- Pembacaan berat jenis (Bd)
- Gunakan alat / hydrometer sesuai dipengaruhi oleh perubahan
jenis baterai yang akan diukur temperatur maka diperlukan koreksi
(jangan tertukar dengan hydrometer pembacaan berat jenis dengan
untuk baterai jenis yang lain.) ketentuan sebagai berikut:
- Pada saat pengukuran posisi ( 0C )
hydrometer harus tegak lurus.

Gambar 1.58. Cara Pelaksanaan Pengukuran Berat Jenis

Tabel 1-8. Standar Berat Jenis Elektrolit

Kondisi Elektrolit Berat Jenis


Jenis Baterai
( temp. 20o C ) ( gr / cm3 )

ALKALI Elektrolit baru 1,20


Kondisi terisi penuh 1,18
Berat jenis minimum 1,16

67
ASAM Elektrolit baru 1,190
Kondisi terisi penuh 1,215
Berat jenis minimum 1,16

1.16.4. Pengukuran Suhu - Suhu maksimum pada normal


Elektrolit operasi : 25 - 35 °C ( suhu
ruangan )
Tujuan pengukuran suhu
- Suhu maksimum yang diijinkan
elektrolit adalah untuk mengetahui
pada saat pengisian /
kondisi elektrolit baterai ketika
pengosongan : 45 °C.
baterai sedang diisi ( charge )
maupun ketika sedang terjadi Tujuan pengukuran arus
kondisi tidak normal, mengingat pengisian pada baterai adalah :
pengaruhnya sangat besar terhadap
- Untuk mengetahui besarnya
operasional baterai maka perlu
arus pengisian dari rectifier ke
dilakukan pemeriksaan atau
baterai, pada saat baterai
pengukuran suhu pada sel baterai.
floating. Arus pengisian ini
mendekati nol.
Cara Pelaksanaan pelaksanaan
pengukuran suhu elektrolit dilakukan - Untuk mengetahui besarnya
dengan langkah-langkah sebagai arus pengisian dari rectifier ke
berikut : baterai, pada saat baterai
− Siapkan alat ukur suhu elektrolit equalizing.
yang bersih dan dianjurkan - Untuk mengetahui besarnya
menggunakan thermometer jenis arus pengisian dari rectifier& ke
alkohol. baterai, pada saat baterai
− Yakinkan bahwa termometer boosting. Apabila Rectifier tidak
berfungsi dengan baik. dilengkapi dengan Dropper
− Masukan alat ukur ke dalam sel
baterai sampai terendam cairan Untuk melakukan pengukuran
elektrolit. arus pengisian pada baterai dengan
langkah-langkah sebagai berikut :
− Tunggu beberapa saat dan
amati sampai ada perubahan - Siapkan Tang Ampere DC
suhu.
- Posisikan saklar atau selector
− Catat hasil ukur ke dalam lembar
switch untuk pengukuran arus
kerja yang telah disediakan.
searah (DC)
Standar suhu elektrolit pada
- Sesuaikan posisi range arus
baterai alkali maupun asam adalah
pada tang ampere
sebagai berikut :
- Lakukan pengukuran pada :
- Kabel dari rectifier ke baterai

68
- Kabel konektor antar rak baterai arus pada ampere meter yang
terpasang pada rectifier.
- Yakinkan penunjukan arus harus
konstan Contoh pengukuran arus pada
baterai dapat dilihat pada gambar
- Catat hasil pengukuran
1.59.
- Cocokkan hasil pengukuran
tersebut dengan penunjukkan

Gambar 1.59. Pengukuran arus pada Rangkaian Sel Baterai

69
Gambar 1.60. Diagram Titik Ukur Arus Pengisian Pada Baterai
Surat Edaran dari PLN Pusat No.
Besarnya arus pengisian adalah
032/PST/1984, tentang uraian
sebagai berikut :
Kegiatan Pemeliharaan Peralatan
- Baterai Alkali : 0,2 x C ( 0,2
Listrik.
x kapasitas baterai)
- Baterai Asam : 0,1 x C ( 0,1 Periodik Pemeliharaan Baterai
x kapasitas baterai) adalah sebagai berikut :
- Pada operasi floating arus − Mingguan
yang mengalir ke baterai relatif − Bulanan
kecil − Tahunan
Namun demikian pemeriksaan
1.16.5. Jadwal Pemeliharaan
baterai secara rutin tiap hari tetap
Periodik Baterai
dilakukan oleh patroli operator
namun hanya bersifat fisik atau
Pedoman yang diterapkan secara visual, tidak menggunakan
untuk melakukan pemeliharaan
meter-meter yang rumit.
pada peralatan Instalasi adalah
bardasarkan pada SUPLEMEN,

70
Tabel 1-9. Pemeliharaan Mingguan (dalam keadaan operasi )

Peralatan /
Peralatan
No Kegiatan Material yang
Yang
. digunakan
Dipelihara
1 Sel Baterai Periksa kebersihan sel baterai. Bila - Check List
kotor bersihkan sel dan klemnya.
- Kuas Cat
Ukur Tegangan dan Berat jenis pada
- Sikat
sel yang dipilih atau ambil contoh /
sampel dari beberapa sel - Lap Kaos
Periksa arus pengisian dan ukur -Vaseline
tegangan total baterai. Netral
- Multi meter
2 Ruang Baterai Periksa kipas ventilasi, apakah normal,
jika tidak normal segera di perbaiki -Pengukur
tinggi
3 Elektrolit Periksa level dan suhu cairan elektrolit, Elektrolit
apakah normal? Jika tidak normal -Thermometer
sesuaikan dengan standar yang telah
ditentukan

4 Sekring / NFB Periksa apakah ada yang putus atau


trip

Tabel 1- 10. Pemeliharaan Bulanan (dalam keadaan operasi )


Peralatan /
Peralatan
No. Kegiatan Material
Yang
yang
Dipelihara
digunakan
1 Sel Baterai Ukur Tegangan dan Berat jenis di - Check List
seluruh sel pada kondisi charger Off
- Kuas Cat
(tidak operasi).
- Sikat
Ukur tegangan total.
- Lap Kaos
Periksa kebersihan sel baterai, bila kotor
bersihkan dan lapisi dengan vaseline -Vaseline
netral. Netral
Lakukan pengisian dengan mode - Multi meter
Equalizing.

71
2 Rangkaian Charger di Off-kan, ukur tegangan total
Baterai baterai untuk menguji open circuit (sirkuit
terbuka)

Tabel 1- 11. Pemeliharaan Tahunan (dalam keadaan tidak operasi )


Peralatan /
Peralatan
No. Kegiatan Material yang
Yang
digunakan
Dipelihara
- Check List
1 Sel Baterai Lakukan Pengujian Kapasitas : - Kuas Cat
ƒ Pengisian kembali dengan mode - Lap Kaos
Boosting -Vaseline Netral
- Multi meter
ƒ Rekondisi elektrolit baterai bila -Tang amper
hasil test kapasitas tidak baik DC
(bila diperlukan) - Alat Uji
ƒ Pengujian kadar potassium Kapasitas
karbonat, khusus pada baterai - Alat Uji kadar
yang telah berusia lebih dari 5 Potassium
tahun. Karbonate

72
1.17. Pengujian dan shooting pada melalui rangkaian control charger
DC Power sampai indikasi muncul.

Sistem DC Power pada unit Over Voltage Bateray. Untuk


pembangkit yang sering mengalami pengujian ini dilakukan dengan cara
permasalahan adalah pada baterai. menaikkan tegangan keluaran melaui
Terutama bateraiai jenis asam karena rangkaian control charger sampai
didalamnya terdapat larutan kimia indikasi muncul.
(elektrolit) yang tentu jika dipengaruhi AC Power Failure Untuk
kondisi lingkungan yang berubah- pengujian ini dilakukan dengan cara
ubah akan mempengaruhi berbagai melepas (meng-off-kan) MCB input
unsur baik level air, berat jenis, AC ke charger
temperatur elektrolitnya dan
sebagainya. Untuk peralatan lain Charger Failure 'Untuk
seperti sistem instalasi, panel-panel, pengujian ini dilakukan dengan cara
meter indikator, lampu indikator, melepas (meng-off-kan) MCB output
charger dan inverter biasanya jarang DC ke baterai.DC Fuse
terjadi masalah.
Failure, 'Untuk pengujian
1.17.1. Pengujian Indikator Charger dilakukan dengan cara melepas
(meng-off-kan) fuse output DC ke
Pengujian pada charger meliputi
baterai.
beberapa hal antara lain : Low
Baterai Indicator, AC Power Failure, Earth Fault Untuk pengujian ini
Over Voltage Bateray, Charger dilakukan dengan cara
Failure, DC Fuse Failure, Earth memindahkan posisi switch penguji
Fault, dan lain-lain. Pengujian DC Ground pada charger.
indikator bertujuan untuk mengetahui
apakah indikator tersebut bekerja Dalam pelaksanaan di lapangan,
sesuai dengan fungsinya ataukah alarm indikasi charger dapat
tidak sesuai. Beberapa pengujian dikatakan sesuai dengan standar
yang dapat dilakukan pada indikator apabila pada saat dilakukan
charger antara lain : pengujian (simulasi gangguan) pada
salah satu bagian charger tersebut,
Low Bateray Indicator . Untuk alarm dapat muncul dengan baik.
pengujian ini dilakukan dengan cara
menurunkan tegangan keluaran

73
Tabel 1 . 12 Trouble Shooting pada Charger

ALARM PENYEBAB CARA MENGATASI


AC Power Input circuit On-kan kembali saklar. MCCB mungkin trip
Failure breaker (MCCB) karena adanya arus Lebih (lonjakan arus
trip sesaat). Pada kasus ini: On-kan charger
dengan kontrol manual dan arus di set ke nol
(sesuai buku petunjuk pengoperasian)

Under Charger trip On-kan charger.


Voltage Periksa semua phasa dan perbaiki sistem
Bateray suplay AC

Suplay AC lepas Periksa semua phasa dan perbaiki sistem


suplay AC.

AC MCCB trip On-kan MCCB. Jalankan charger dengan


control manual, dan seting arus pada level nol.

Mini Fuse putus Ganti fuse, bila fuse putus , perbaiki hubungan
antar PCB

Under Tegangan output Bandingkan tegangan output charger dengan


Voltage tidak sesuai nilai yang ditunjukkan data sheet. Bila tidak
Bateray sesuai, setting ulang nilai tegangannya.

Pemakaian Hitung ulang pemakaian beban DC. Putuskan


Beban DC terlalu pemakaian beban DC. Ganti charger dengan
tinggi kapasitas arus output DC yang lebih tinggi.

Baterai habis Isi baterai, periksa level elektrolit baterai


Periksa baterai untuk gangguan short circuit
internal

Over Tidak berfungsi - Periksa seting charger.


Voltage nya charger, Putuskan rangkaian beban dari sumber
Bateray karena suplay tegangan.
tegangan yang
terlalu besar dari
rangkaian beban
ke baterai

Charger Charger mati On-kan charger


Failure

74
Suplay utama Periksa semua phasa dan perbaiki sistem
putus / hilang suplay AC

MCCB suplay On-kan kembali MCCB. On-kan charger


AC trip dengan kontrol manual dan arus diset ke nol
(sesuai buku petunjuk pengoperasian)

DC Fuse Mini Fuse putus Ganti fuse. Bila fuse putus lagi, periksa
Failure hubungan antar PCB. Bila rusak, maka
perbaiki. Periksa semua fuse dan cari fuse
yang putus dan cari penyebabnya

DC Fuse putus Ganti Fuse-nya

1.17.2. Pengujian Kapasitas baterai Waktu pengujian kapasitas


baterai ini biasanya dilakukan pada :
Kapasitas suatu baterai adalah
menyatakan besarnya arus listrik o Saat komisioning baterai ( Initial
(Ampere) baterai yang dapat disuplai Charge )
atau dialirkan ke suatu rangkaian luar
o Setelah 5 ( lima ) tahun beroperasi.
atau beban dalam jangka waktu
(jam) tertentu, unt uk memberikan o Berikutnya dilakukan setiap 1 tahun
tegangan tertentu. Kapasitas baterai sekali.
( Ah ) dinyatakan sebagai berikut :
C = Ix t Pada baterai alkali nickel-
cadmium (NiCd) umumnya kapasitas
Dimana :
baterai dinyatakan dalam C5 dan
C = Kapasitas baterai ( Ah )
untuk baterai Asam adalah C10.,
I = Besar arus yang mengalir
tujuan pengujian ini adalah untuk
(Ampere )
mengetahui kapasitas baterai yang
t = Waktu pemakaian ( Jam ).
sesungguhnya.
Pengujian kapasitas baterai Pelaksanaan pengujian
menggunakan kode atau istilah kapasitas baterai yang pada unit
dengan C.. Kode yang biasa pembangkit yang terpasang 1
digunakan adalah C3 , CS dan C,o. Hal (satu) unit baterai adalah sebagai
ini menyatakan besarnya kapasitas berikut :
baterai dalam Ah yang tersedia, yaitu 1. Mencatat data-data baterai
yang akan diuji.
o untuk C3 , waktunya selama 3 jam
2. Menyiapkan peralatan kerja
o untuk C5 , waktunya selama 5 jam dan alat uji.
3. Menyiapkan baterai cadangan
o untuk C,o, waktunya selama 10 jam
dan yakinkan siap operasi.
4. Siapkan Rectifier uji.
75
5. Melakukan manuver peminda- kan charger dan tunggu selama
han pasokan sumber DC 2 jam.
(Gambar 1.61) dengan uraian 15. Mengukur besarnya arus
manuver sebagai berikut pengisian ke baterai atau
ƒ Masukan NFB baterai menyetel besarnya arus/
cadangan (paralel). tegangan output charger.
ƒ Buka Fuse baterai yang 16. Mencatat tegangan seluruh sel
akan diuji. baterai selama pengisian
ƒ Baterai siap diuji. ber.langsung.
6. Melepas kabel pada terminal 17. Memeriksa/ mengukur
Positif clan Negatif baterai. temperatur sel baterai selama
7. Pertahankan level elektrolit berlangsung pengisian
baterai. (charging). Pengisian dihentikan
8. Kencangkan mur/baut yang apabila temperatur sel baterai
kendor pada seluruh sel telah mencapai 45°C, tunggu
baterai. sampai suhu baterai menurun
9. Sambungkan alat uji ke baterai dan lanjutkan pengisian.
( lihat gambar 1.62 clan 1.63 ). 18. Pelaksanaan Pengujian
10. Pelaksanaan Pengujian (discharge ) tahap 2.
(Discharge ) menggunakan alat 19. Selanjutnya lakukan seperti
BCT2000 atau BTS100. urutan pekerjaan nomor 11 s/d
11. Ukur suhu pada sampel sel 13
baterai secara random. 20. Bila hasil uji Ecapasitas baterai
12. Khusus bila menggunakan alat < 50 % maka lakukan
uji Merk ISA, BTS 100 catat pengecekan potasium karbonat
penurunan tegangar per sel 21. Bila kandungan potasium
pada seluruh sel baterai. karbonat < 75 gram/liter lakukan
13. Bila tegangan per sel < 1 volt rekondisi, jika > 75 gram/liter
(mendekati nol), maka sel baterai harus diganti. (Lihat
baterai diindikasikan rusak. Tabel Standar Batas maksimum
14. Bila hasil uji kapasitas baterai < kadar K2C03)
50% maka lakukan pengisian 22. Bila hasil uji kapasitas baterai >
kembali sebesar 140 % x 50 % maka baterai dapat
kapasitas, setelah penuh off- dioperasikan kembali / masuk
ke sistem.

76
Gambar 1.61. Pengujian pada baterai yang terpasang 1 unit

Pelaksanaan pengujian gambar 1.62 ) dengan uraian


kapasitas baterai yang pada unit manuver sebagai berikut :
pembangkit yang terpasang 2 Manuver Pembebasan Baterai
( dua ) unit baterai adalah sebagai Unit 1 yang akan di uji
berikut : kapasitasnya yaitu:
1. Mencatat data-data baterai − Masukan NFB Rel DC
yang akan diuji. (Rectifier Unit 1 dan 2 paralel
2. Menyiapkan peralatan kerja sesaat )
dan alat uji. − Keluarkan NFB out going Unit 1
3. Melakukan manuver pemindah- Keluarkan NFB incoming Unit 1
an pasokan sumber DC dengan − Off-kan Rectifier Unit 1
cara bergantian. Bila Unit 1 di
uji, maka unit 2 memasok ( Baterai Unit 1 bebas tegangan dan
sumber DC ke beban ( lihat siap dilakukan.test kapasitas ).

77
Gambar 1.62. Pengujian pada Baterai yang terpasang 2 Unit.

4. Membuka fuse baterai. penurunan tegangan per sel


pada seluruh sel baterai.
5. Melepas kabel pada terminal
Positif dan Negatif baterai. 12. Bila tegangan per sel < 1 volt
(mendekati nol), maka sel baterai
6. Memeriksa level cairan elektrolit
diindikasikan rusak.
seluruh sel baterai
13. Bila hasil uji kapasitas baterai <
7. Memeriksa kekecangan mur
50 % maka takukan pengisian
baut peda seluruh sel baterai.
kembali sebesar 140% x
8. Penyambungan alat uji ke kapasitas, setelah penuh off-kan
baterai charger dan tunggu selama 2
9. Pelaksanaan Pengujian jam.
(Discharge) menggunakan alat 14. Mengukur besarnya arus
BCT2000 atau BTS100 pengisian ke baterai atau
10. Ukur suhu pada sampel sel menyetel besarnya arus /
baterai secara random. tegangan output charger.

11. Khusus bila menggunakan alat


uji Merk ISA, BTS 100 catat

78
15. Mencatat tegangan seluruh sel Standar yang digunakan dalam
baterai selama pengisian melaksanakan pengujian kapasitas
berlangsung. baterai mengacu pada karakteristik
baterai yang akan diuji antara lain
16. Memeriksa / mengukur
sebagai berikut :
temperatur sel baterai selama
berlangsung pengisian ( charging
). a) Parameter Test

17. Pengisian dihentikan apabila − Besarnya arus pengosongan


temperatur sel baterai telah / discharge, contoh untuk
mencapai 45°C, tunggu sampai baterai alkali : 0,2 x kapasitas
suhu baterai menurun dan baterai dan baterai asam :
lanjutkan pengisian. 0,1 x kapasitas baterai.

18. Pelaksanaan Pengujian − Setting waktu pengosongan,


(Discharge ) tahap 2. contoh untuk baterai alkali : 5
jam dan untuk baterai asam :
19. Selanjutnya lakukan seperti 10 jam.
urutan pekerjaan nomor 9 sld 11
− Tegangan akhir
20. Bila hasil uji kapasitas baterai < pengosongan per-sel,
50 % maka lakukan pengecekan contoh untuk baterai alkali : 1
potasium karbonat volt dan untuk baterai asam :
21. Bila kandungan potasium 1,8 volt
karbonat < 75 gram/liter lakukan − Baterai alkali sebesar 1 volt
rekondisi, jika > 75 gram / liter clan untuk baterai asam
baterai harus diganti. sebesar 1,8 Volt.
22. Bila hasil uji kapasitas baterai >
50 % maka baterai dapat Standar Kapasitas
dioperasikan kembali / masuk ke
− Baterai baik : 80 %
sistem.
− Baterai kurang baik : < 80%

79
Gambar 1.63. Penyambungan alat uji ke baterai menggunakan alat uji
Merk Albert - type BCT-128

Gambar 1.64. Penyambungan alat uji ke baterai menggunakan alat uji


Merk ISA - type BTS-100 Plus

80
1.17.3. Pengujian kadar Potassium Peralatan yang digunakan
Carbonate ( KZC03 ) dalam pengujian ini adalah sebagai
berikut :
Dalam melaksanakan - 1 bh Pipet ukuran 5 ml clan pipet
pemeliharaan tahunan pada baterai filler
diantaranya adalah pengujian
kapasitas, dari hasil test tersebut - 1 bh pipet kecil
belum menjadi jaminan bahwa - 1 bh gelas Berker ukuran 250 ml
kondisi baterai tidak baik, sehingga
perlu ada usaha usaha lain yang - 1 bh gelas Erlenmeyer ukuran
perlu diakukan yaitu dengan cara 500 ml
melakukan pengisian kembali dan - 1 bh corong diameter 5 cm
menguji ulang baterai tersebut.
Apabila masih tetap kondisi tidak - 1 bh washing bottle uk. 1000 ml
baik idealnya baterai tersebut - 1 bh sarung tangan karet
diganti, tetapi hal ini dianggap tidak
efisien. Salah satu upaya yang - 1 bh gelas Burette kapasitas 25m1
dilakukan sebelum beterai diganti - 1 tube obat tetes mata (untuk P3K)
adalah dengan melaksanakan
rekondisi pada baterai atau
mengganti cairan elektrolitnya. 1. Bahan Kimia yang Digunakan
Bahan kimia yang digunakan
Dalam melaksanakan rekondisi dalam pengujian ini adalah :
seringkali juga masih didapatkan
- 1 botol ukuran @ 250 ml
hasil yang tidak memuaskan
phenolphtalein (Reagent A)
sehingga tidak berdaya guna dalam
meningkatkan kondisinya, oleh - 1 botol ukuran @ 250 ml methyl
karena itu dari hasil pengujian orange (Reagent B)
kandungan potassium karbonat
- 1 botol ukuran @ 1000 ml Hydro
(KZC03) pada cairan elektrolit
Chloric Acid (HCl)
baterai dapat ditentukan apakah
baterai bila direkondisi dapat - 1 liter air distillate (H2O)
meningkat kondisinya atau tidak,
sebelum mengganti baterai dengan 2. Pelaksanaan Pengukuran
yang baru.
Untuk satu unit baterai, sampel
diambil dengan cara mengambil
Adapun Tujuan pengujian beberapa tetes larutan elektrolit tiap
kandungan potassium carbonate sel baterai hingga terkumpul sekitar
(K2C03) adalah untuk memperoleh ± 200 ml elektrolit.
infomasi apakah elektrolit baterai
masih efektif. untuk direkondisi atau Pembuatan 50 ml larutan HCL 10 %
sudah tidak efektif lagi untuk - Dengan memakai gelas ukur
direkondisi. 250 ml, masukkan 50 ml air
murni ke gelas Prlenmeyer

81
− Kemudian dengan memakai pipet permukaanr,ya dengan tanda "
5 ml, masukkan 5 ml HCL pekat p"
ke gelas erlenmeyer lalu aduk g. Tambahkan sedikit bubuk methyl
secukupnya orange ke dalam larutan bening
− Larutan tersebut cukup untuk satu pada gelas Erlenmeyer hingga
kali pengujian berubah warna menjadi kuning
− Untuk pembuatan larutan yang jernih
lebih banyak dapat dilakukan
dengan ketentuan setiap 10 h. Sambil mengocok perlahan
bagian H20 ditambah dengan 1 gelas Erlenmeyer, perlahan
bagian HCL. teteskan HCL 10 % dari gelas
burette sampai larutan dalam
3. Pengukuran gelas Erlenmeyer berubah
warna menjadi ' orange
Prosedur pengukuran i. Bacalah jumlah HCL 10 % yang
dilaksanakan sebagai berikut : teiah dipakai pada gelas burette
dan catatlah batas
a. Isilah gelas burette dengan HCL
permukaannya dengan tanda "
10 % sampai penuh (larutan
m"
sampai pada batas titik nol)
j. Dari langkah - langkah tersebut
b. Dengan menggunakan pipet,
kandungan KZC03 dari sampel
teteskan 5 ml larutan sampel
dapat diketahui dengan rumus :
(Potassium hydroxide) ke gelas
erlenmayer
69,1
c. Masukkan 50 ml (Dengan ( m- p ) x 2 x ( gr/liter)
5
mengguna- kan pipet) air murni
(H20) ke dalam gelas
Untuk memudahkan dan
Erlenmeyer
mempercepat penghitungan pada
d. Tambahkan beberapa tetes langkah 10 ini, disediakan Tabel
phenolphtalein ke dalam larutan Standar Kandungan K2C03
tersebut hingga berubah warna sehingga hanya perlu diketahui
menjadi ungu. nilai titik "m" dan "p" saja.
e. Sambil mengocok perlahan
gelas Erlenmeyer, perlahan Langkah-langkah pengujian
teteskan HCL 10 % dari gelas kadar K2C03 sebagai berikut :
burette sampai larutan dalam
gelas Erlenmeyer berubah a. Isilah gelas burette dengan
warna menjadi bening (tanpa HCl 10% sampai penuh
warna) (larutan sampai pada batas
titik nol)
f. Bacalah jumlah HCL 10 % yang b. Masukkan 50 ml air murni
telah dipakai pada gelas burette (H2O) pada gelas berker,
dan catatlah batas kemudian teteskan 5 ml

82
larutan sampel yang diambil gelas Erlenmeyer berubah
dari sel baterai dengan warna menjadi orange.
menggunakan pipet filter. k. Hitung dan catat kembali
Setelah diaduk secukupnya banyaknya HCl 10% yang
tuangkan ke gelas terbuang dan tandai dengan
Erlenmeyer. titik dan ketik ”m”
c. Tambahkan beberapa tetes l. Masukkan angka yang didapat
phenolphtelein kedalam kedalam rumus yang sudah
larutan tersebut hingga tersedia dan hitung
berubah warna menjadi ungu. kandungan pottasium
d. Sambil mengocok perlahan carbonate (K2C03).
gelas Erlenmeyer, teteskan
HCl 10% dari gelas burette Dari hasil pengukuran
perlahan-lahan sampai larutan kandungan pottasium carbonate
dalam gelas Erlenmeyer (K2C03), dapat memberikan
berubah warna menjadi informasi dan pertimbangan
bening (tak berwarna lagi). bahwa jika hasil ukur kadar
e. Segera tutup kran gelas pottasium carbonate (K2C03) ≥
burette setelah larutan pada 100 gr/liter, maka rekondisi
gelas Erlenmeyer berubah elektrolit baterai adalah langkah
menjadi bening. yang tepat. Namun jika hasil uji
f. Hitung dan catat banyaknya kadar pottasium carbonate
HCl 10% yang terbuang dan (K2C03) ≤ 100 gr/liter, maka
tandai dengan titik dan ketik langkah yang tepat adalah usulan
”p”. penggantian baterai dengan
g. Bubuhkan sedikit Methyl baterai yang baru.
Orange kedalam gelas
Erlenmeyer sehingga larutan
berubah warna menjadi kuning 4. Hasil Pengukuran
bening. Untuk menentukan kadar
h. Kocok perlahan agar larutan Pottasium Carbonate (K2C03) dari
yang baru berubah warna hasil nilai (m - p) dapat dilihat pada
menjadi lebih homogen. tabel dihalaman berikut ini.
i. Teteskan kembali larutan HCl
10% dari gelas burette
kedalam gelas Erlenmeyer
hingga larutan berubah warna
menjadi orange.
j. Segera tutup kran pada gelas
burette setelah larutan pada

83
Tabel 1. 13. Kandungan Pottasium Carbonate (K2C03) pada elektrolit baterai.

Nilai Kandungan K2C03 Nilai Kandungan K2C03


(m – p) ( gr / liter ) (m–p) ( gr / liter )

0,1 2,764 2,6 71,864


0,2 5,528 2,7 74,628
0,3 8,292 2,8 77,392
0,4 11,056 2,9 80,156
0,5 13,82 3 82,920
0,6 16,584 3,1 85,684
0,7 19,348 3,2 88,448
0,8 22,112 3,3 91,212
0,9 24,876 3,4 93,976
1 27,64 3,5 96,740
1,1 30,404 3,6 99,504
1,2 33,168 3,7 102,268
1,3 35,932 3,8 105,032
1,4 38,696 3,9 107,796
1,5 41,46 4 110,560
1,6 44,224 4,1 113,324
1,7 46,988 4,2 116,088
1,8 49,752 4,3 118,852
1,9 52,516 4,4 121,616
2 55,28 4,5 124,380
2,1 58,044 4,6 127,144
2,2 60,88 4,7 129,908
2,3 63,572 4,8 132,672
2,4 66,336 4,9 135,436
2,5 69,1 5 138,2

84
Setiap produsen pembuat baterai menentukan standar maksimum yang
diijinkan terhadap kadar Pottasium Carbonate (K2C03) seperti pada tabel 1.14
berikut :

Tabel 1.14. Standar maksimum yang diijinkan terhadap kadar Pottasium


Carbonate (K2C03)

Produsen Standar Kadar Maksimum

Furukawa Battery 75 gram / liter

Friwo Battery 75 gram / liter

Saft 100 gram / liter

Nife 100 gram / liter

Sab Nife 100 gram / liter

5. Rekondisi Baterai lama ( selama 20 menit ) atau


langsung akan diganti elektrolit,
Tujuan rekondisi baterai adalah
maka tidak perlu pengosongan
suatu usaha untuk meningkatkan
energi. ( Referensi dari : Nife
kembali kapasitas baterai atau
Nickel Cadmium Battery )
memperbaiki dan mengembalikan
proses kimia didalam sel baterai d. Pembongkaran sel baterai.
dengan cara melakukan penggantian e. Membersihkan kontainer,
elektrolit. Dari hasil overhaul tersebut konektor antar sel atau rak dan
diharapkan dapat mengembalikan ke membersihkan rak baterai.
karakteristik semula atau dapat
memperpanjang masa pakai atau f. Pembuangan dan penggantian
usia baterai. cairan elektrolit satu persatu.
g. Merangkai kembali baterai pada
6. Cara Pelaksanaan. raknya.
Tahapan Pelaksanaan R'ekondisi h. Pengisian kembali ( 140% x
Baterai adalah sebagai berikut : kapasitas )

a. Mempersiapkan cairan elektrolit i. Test kapasitas ( Discharge ).


j. Pengisian kembali ( 140% x
b. Pengosongan energi sampai kapasitas )
tegangan akhir per sel.
k. Pengoperasian ke sistem.
c. Apabila, setelah cairan elektrolit
dibuang tidak akan disimpan

85
Gambar 1.60. Pembuangan cairan elektrolit baterai

Gambar 1.61. Penggantian Elektrolit, Membersihkan Kontainer Baterai dan


Pengeringan

86
Gambar 1. 62. Pembersihan Terminal Sel Baterai, Klem, Baut dan
Pengecatan Rak

Charging (Pengisian)

Discharge (Test Kapasitas)

Gambar 1.63 Pengisian (Charging) dan Test Kapasitas setelah Rekondis

87
7. Standar Rekondisi Baterai kerusakan pada sel tersebut dapat
mempengaruhi keamanan dan
Pelaksanaan rekondisi baterai
keandalan operasional baterai.
didasarkan pada beberapa kriteria
Umumnya kerusakan pada sel
pemeriksaan, sehingga dapat
baterai antara lain :
dijadikan standar atau acuan
sebelum dilakukan rekondisi pada a) Retak pada bagian atas sel
baterai antara lain sebagai berikut :
b) Cairan elektrolit Bocor
a. Hasil Test Kapasitas dinyatakan
c) Korosif pada terminal atau
baik ( Standard > 80% )
sambungan kabel Drat pada
b. Charger Discharge minimal 2 terminal baterai rusak
kali, hal ini bertujuan untuk
meyakinkan apakah baterai Cara Pelaksanaan
kondisi tidak baik atau under
Pelaksanaan pemeriksaan fisik
charge.
pada beterai dilakukan secara visual
c. Pengukuran berat jenis elektrolit pada kontainer atau pada komponen
sel baterai yaitu :
d. Pemeriksaan fisik.
a. Kontainer
e. Pemeriksaan kondisi elektrolit
dengan cara pengujian kadar b. Mur baut terminal baterai
potasium karbonat. (terminasi)
(Rekomendasi dari baterai merk
c. Kabel sambungan antar rak
Friwo : Bila tiap 1 liter cairan
baterai.
elektrolit sudah mengandung
karbon seberat 75 gram, maka
elektrotit harus diganti.
f. Kondisi Plat-plat aktif sel baterai.
g. Hasil pengukuran temperatur
elektrolit pada saat charging.
h. Usia baterai dll.

Pemeriksaan fisik baterai


Tujuan melakukan pemeriksaan
fisik pada baterai adalah untuk
mengetahui keadaan sel baterai
berikut sambungan antar sel dimana

88
Contoh baut terminal yang korosif

Terminal sel baterai menonjol akibat Kontainer Sel Baterai Retak


desakan dari dalam sel

Gambar 1.64. Beberapa Contoh Temuan pada Sel Baterai yang Abnormal
Kontainer Sel Baterai Pecah

89
1.18. Trouble Shooting
Untuk melacak kerusakan baterai dapat dilakukan dengan urutan seperti
tabel 1 .15. berikut.

Tabel 1.15 Trouble Shooting


Kemungkinan
Masalah Cara Penanggulangan
Penyebab

Penurunan Kandungan Karbon Lakukan pengosongan baterai dan


Kapasitas dalam elektrolit ganti elektrolit rendah & lakukan
rekondisi
Float charging dalam
waktu lama Lakukan pelatihan, bila kapasitas < 80
% lakukan rekondisi
Permukaan elektrolit
terlalu rendah Tambahkan aquades hingga level
antara Min – Max, lakukan pelatihan
atau rekondisi

Penurunan Satu atau beberaoa sel Ganti dengan sel yang baru
kapasitas atau open sirkuit
Bersihkan permukaan kontak
gagal total
Konektor antar sel,
Kencangkan konektor antar sel
konektor antar rak atau
dengan 16Nm. Kencangkan konektor
terminal sel berkarat
antar rak dengan 20 Nm atau ganti
atau putus
konektor dengan yang baru.
Kerusakan pengaman
Perbaiki dan ganti dengan yang baru.
lebur / pemisah

Penguapan Vent-plug bocor, sel Kencangkan Vent-plug, ganti dengan


terlalu bocor sel yang baru
berlebihan
Tegangan Charging Turunkan tegangan floating hingga 1,4
Penguapan sel terlalu tinggi. -1,45 Volt per Sel
terlalu
Tegangan sel tidak Batasi boost charging tidak lebih dari 7
berlebihan
merata jam. Lakukan rekondisi
atau mendidih
Float charging dalam
Tegangan sel Lakukan boost charging, bila
waktu lama
tidak merata diperlukan lakukan pelatihan atau
Level elektrolit terlalu
rekondisi.
Elektolit tinggi pada saat
berhamburan charging awal. Batasi level Min - Max tetelah charging
keluar awal selesai.

90
Berbusa Densitas elektrolit Lakukan pengosongan baterai
selama rendah akibat sesuaikan BJ elektrolit, kemudian
charging penambahan aquades lakukan rekondisi, bila tetap berbusa,
yang berlebihan. ganti dengan sel yang baru
Tampak benda
asing didalam Aquades tidak bersih Lakukan pengosongan pada baterai
elektrolit atau atau bahkan tercemar dan ganti elektrolit atau lakukan
perubahan asam. rekondisi.
warna
elektrolit
Tampak Densitas elektrolit Lakukan pengosongan pada
rontokan terlaiu pekat karena baterai dan ganti elektrolit clan
material aktif penam bahan lakukakn rekondisi.
didalam sel elektrolit dengan
KOH
Meledak atau Suhu elektrolit terlalu Sesuaikan kapasitas charger
terjadi tinggi pada saat dengan kapasitas baterai.
deformasi pengisian( charging ) Perhatikan batasan arus charging
& suhu maksimum yang diijinkan
oleh pembuat baterai
Elektrolit kosong, Periksa dan perbaiki charger dan
charger gagal ganti dengan sel yang baru.
sehingga terjadi
tegangan lebih.
Vent-plug tersumbat
terminal kendor dan
terjadi arching

Terjadi Terdapat sel yang Keringkan Rak baterai dan ganti


hubung tanah bocor. sel yang bocor.
DC
kerusakan pada auxelery dan alat-
1.18.1. Kinerja Baterai alat bantu elektrik serta kerusakan
pada sisi TT/TM.
Kerusakan Peralatan pada
instalasi Gardu Induk dan
Transmisi setiap saat bisa terjadi Kerusakan peralatan instalasi
baik yang disebabkan oleh sumber yang sifatnya controllable tersebut
qangguan dari luar (uncontrollable) dipicu oleh suatu kondisi
atau sumber gangguan pada pengoperasian yang kurang
peralatan itu sendiri (controllable), sempurna atau manajemen
atau bila dilihat dari jenis pemeliharaan yang tidak
penyebabnya dapat terjadi karena terlaksana dengan terpadu antara
perencanaan dan pelaksana (lihat
91
diagram manajement pemelihara- − Permukaan terminal korosif/
an). terlepas.
− Bagian atas sel retak/
Bila ditinjau dari akibat
berlubang
kerusakan pada peralatan instalasi
Gardu Induk clan Transmisi maka − Sel baterai bocor
kerusakan yang terjadi dapat
− Ring isolasi antara elektroda
dikelompokan menjadi kerusakan
dengan body
besar/parah (major) clan
kerusakan kecil/ringan (minor). − Mur baud pada terminal
berkarat atau drat rusak
1. Kerusakan Major
− Permukaan pada terminal
tidak rata/rusak akibat
Adalah kerusakan internal loncatan bunga api.
baterai yang mengakibatkan
penurunan kapasitas baterai
Dengan data-data tersebut,
sampai 50% dari kapasitas awal
maka untuk periode pemantauan
berdasarkan hasil pengujian,
yang ditentukan dapat dihitung :
dengan kondisi tersebut
menyebabkan baterai tidak dapat − Jumlah peralatan yang
optimal melayani beban. terpasang per merk [ Satuan ]
− Jumlah total kerusakan yang
Misalnya : Kerusakan pada sel
pernah terjadi untuk setiap
baterai, kandungan potasium
merk sampai dengan periode
dalam elektrolit tidak sesuai,
pemantauan [Kali]
elektroda rontok.
3. Historical Alat / Sejarah
2. Kerusakan Minor
Alat
Adalah kerusakan Kecil yang
menyebabkan kapasitas baterai Sejarah alat adalah fiie yang
turun sampai dengan 80% atau sangat diperlukan untuk mengetahui
terjadi kerusakan fisik pada sel unjuk kerja atau tingkat keberhasilan
baterai tetapi tidak mengganggu produksi alat dan pemeliharaan pada
operasi. Misalnya : alat tersebut (dalam hal ini baterai)
atau secara umum adalah sistem DC
− Keretakan casing
Power.
− Kerusakan terminal
− Terjadi benjolan pada dinding Manajemen aset dan manajemen
sel gangguan yang terpadu dan selalu
online sang diperlukan untuk
− Elektroda menonjol mengumpulkan data yang diperlukan
karena sejarah alat adalah
− Sel baterai pecah / meledak
kumpulan data marcatat baterai

92
mulai dari mulai factory test di − Tindakan pencegahan
pabrik sampai dengan saat kerusakan baterai
dioperasikan terakhir kalinya,
sehingga dari data tersebut dapat − Tindakan kebijakan pola
dilakukan evaluasi analisa dan pemeliharaan
pengkajian dan tindakan untuk − Merekomendasikan
menghindari atau mencegah pengadaan baterai baru
terjadinya kerusakan mayor atau
minor pada baterai tersebut. − Strategi effisiensi biaya

Sejarah alat atau baterai 4. Komisioning Baterai Baru
mencatat hal-hal sebagai berikut :
Untuk menjaga mutu terhadap
1. Data faktory test baterai di baterai yang diterima oleh PLN,
pabrik I vendor maka harus dilakukan pengujian
2. Data pengiriman clan kapasitas, hal tersebut dimaksudkan
pembongkaran di side untuk mengantisipasi apabila terjadi
kelainan pada baterai sebelum
3. Data proses comisioning diterima, selain itu juga untuk
4. Data TBM atau pemeliharaan mengetahui kebenaran
rutin karakteristiknya.

5. Data pemeriksaan rutin 5. Lingkup Pekerjaan


6. Data Pelaksanaan komisioning pada
troubleshooting/kerusakan baterai baru meliputi kegiatan
minor/ mayor termasuk sebagai berikut :
recondisioning.
− Pemeriksaan fisik sel baterai
7. Data biaya pemeliharaan − Merangkai baterai
− Pengisian muatan (Charging )
Bila data sejarah tersebut
dapat dilihat secara on line maka − Pengosongan muatan
manajement pemeliharaan dapat (Discharge / Test Kapasitas )
melakukan evaluasi dan kajian − Pengisian Muatan kembali.
thd kinerja baterai tersebut clan − Pembongkaran
menyimpulkan halal sebagai
berikut : − Pengepakan.

− Tingkat kerusakan 6. Karakteristik Test


baterai setiap merk
Parameter Test yang
− Jenis kerusakan baterai dilaksanakan dalam pengujian
setiap merk baterai baru berbeda dengan
− Penurunan kenerja pengujian seperti pada baterai yang
baterai setiap merk sudah beroperasi yaitu harus
mengacu pada : persyaratan teknis

93
yang ditentukan sesuai yang tertuang
dalam surat perjanjian / kontrak
antara lain :
- Besarnya arus pengosongan
(discharge )
- Waktu / lama pengujian
- Tegangan Akhir penyujian
per-sel.

7.Pelaksanaan Pekerjaan
Pelaksanaan komisioning pada
baterai baru meliputi kegiatan
sebagai berikut :
a. Pengangkutan baterai dari
gudang kelokasi test
b. Pembongkaran dari peti kemas
c. Merangkai baterai
d. Charging (Pengisian)
e. Discharge (Test Kapasitas)
f. Pengepakan (Kemas)

Standar
Standar Quality Control pada
baterai baru adalah sebagai
berikut :
a. Hasil Test kapasitas : 80%
b. Karakteristik pembebanan
sesuai type / jenis baterai.
c. Fisik sel baterai baik / tidak
ada tanda-tanda kerusakan.
d. Temperatur sel baterai pada
saat charge discharge normal
( sesuai brosur ). Apabila hasil
pemeriksaan tidak memenuhi
standar, maka sebelum
diterima oleh PLN sel tersebut
harus diganti.

94
1.19 KESELAMATAN KERJA oleh bahaya yang berkaitan dengan
pekerjaan.
Untuk itu keselamatan dan
Peralatan pengaman (safety )
kesehatan kerja pada bab ini
yang harus disiapkan untuk
secara khusus membahas hal-hal
keselamatan kerja ini antara lain:
yang berkaitan dengan
− Sepatu Pengaman ( Safety
keselamatan dan kesehatan kerja
Shoes)
pada Pemeliharaan DC Power,
yang meliputi peralatan-peralatan − Topi Pengaman ( Helmet )
pengaman yang diperlukan pada − Kacamata Pengaman
pekerjaan-pekerjaan untuk instalasi − Masker
listrik dan panel listrik DC, charger − Sarung Tangan Karet
dan baterai. Disamping itu Sedangkan aturan keselamatan
disampaikan juga aturan-aturan kerja yang harus dipatuhi dan
yang berlaku secara umum. Namun ditaati oleh setiap personil didalam
untuk mengingatkan kembali akan pelaksanaan pekerjaan yang
kami berikan beberapa tentang sifatnya rutin maupun non rutin
keselamatan dan kesehatan kerja. adalah :
a. Siapkan peralatan sesuai
1.Dasar-dasar Keselamatan Kerja dengan kebutuhan dan
Dasar-dasar Keselamatan dan penggunaannya.
Kesehatan Kerja (K3) di PT PLN b. Siapkan Dokumen yang
(Persero) adalah berdasarkan : diperlukan guna kepentingan
− Undang-Undang K3 No.1 keselamatan kerja.
Tahun 1970
− Pengumuman Direksi PLN No. c. Pastikan langkah-langkah yang
023/PST/75 akan dilakukan sudah siap dan
sesuai dengan prosedur yang
− Surat Edaran (SE) Direksi PLN
ditetapkan.
No. 005/PST/82
− Instruksi Direksi No. 002/84. d. Gunakan perlengkapan
keselamatan kerja seperti
2. Definisi Keselamatan Kerja disebutkan diatas, baik sepatu,
helm, kacamata, masker dan
Keselamatan kerja adalah
sarung tangan karet.
suatu kegiatan untuk mencegah
terjadinya kecelakaan kerja di e. Gunakan peralatan kerja yang
lingkungan kerja dan dalam ada isolasinya dan dijamin
keadaan bekerja. keselamatanya.
f. Jangan pernah bekerja seorang
3. Definisi Kecelakaan kerja diri, setidaknya berdua
Kecelakaan kerja adalah suatu g. Pastikan rangkaian listrik tidak
kecelakaan yang terjadi pada bertegangan (power off) jika
seseorang karena hubungan kerja bekerja pada area yang harus
dan memungkinkan disebabkan aman dari arus listrik.

95
h. Sebagai tindakan pencegahan, peralatan harus dicuci dengan
lakukan grounding peralatan air biasa / air hangat
ataupun discharge circuit
c. Pastikan ruangan pengujian
sebelum memulai pekerjaan.
mempunyai ventilasi yang
i. Lakukan pengamatan, baik
pemeriksaan dan analisa
d. Gunakan selalu peralatan
sebelum melakukan suatu
keselamatan kerja karena
pekerjaan atau tindakan.
bahan - dahan kimia yang
j. Harus mengetahui efek dari digunakan sangat
pekerjaan yang akan kita berbahaya dan beracun
lakukan. bagi makhluk hidup
k. Mengetahui tempat e. Jangan membuang limbah
penyimpanan kelengkapan fire hasil pengukuran
fighting dan bisa disembarang tempat karena
menggunakannya saat limbah tersebut tetap
diperlukan. beracun bagi makhluk hidup
l. Sudah familiar dengan f. Sesudah pengujian simpan
peralatan kerja yang akan bahan - bahan kimia
digunakan, baik secara tersebut ditempat yang
prosedur maupun cara kering, terlindung dari sinar
pemakaiannya. matahari langsung, dan
tertutup rapat.
m. Bersihkan alat kerja dan tempat
kerja setelah selesai melakukan
pemeliharaan atau pemeriksaan
n. Letakkan peralatan kerja sesuai
dengan tempatnya masing-
masing setelah selesai
melakukan pekerjaan.
o. Patuhi dan taati aturan dan
prosedur yang berlaku demi
keselematan dan kesehatan
kerja kita.

4. Prosedur Keselamatan Kerja

a. Seluruh peralatan, bahan kimia


dan prosedur pengukuran ini
hanya untuk Batere NiCd saja,
tidak untuk Batere asam
b. Sebelum dan sesudah
pengujian dilakukan semua
96
96
BAB II
PENGUKURAN LISTRIK

2.1. Pengertian Pengukuran dengan baik pula. Setiap alat harus


diketahui dan diyakini cara
Pengukuran adalah suatu
kerjanya. Dan harus diketahui pula
pembandingan antara suatu
apakah alat-alat yang akan
besaran dengan besaran lain yang
digunakan dalam keadaan baik dan
sejenis secara eksperimen dan
mempunyai klas ketelitian sesuai
salah satu besaran dianggap
dengan keperluannya.
sebagai standart. Dalam
pengukuran listrik terjadi juga
Jadi jelas pada pengukuran
pembandingan, dalam pembanding-
listrik ada tiga unsur penting yang
an ini digunakan suatu alat Bantu
perlu diperhatikan yaitu :
(alat ukur). Alat ukur ini sudah
- cara pengukuran
dikalibrasi, sehingga dalam
- orang yang melakukan
pengukuran listrikpun telah terjadi
pengukuran
pembandingan. Sebagai contoh
- alat yang digunakan
pengukuran tegangan pada
jaringan tenaga listrik dalam hal ini
Sehubungan dengan ketiga hal
tegangan yang akan diukur
yang penting ini sering juga harus
diperbandingkan dengan
diperhatikan kondisi dimana
penunjukkan dari Volt meter.
dilakukan pengukuran, seperti
suhu, kelembaban, medan magnet,
Pada pengukuran listrik dapat
dll. Mengenai alat ukur itu sendiri
dibedakan dua hal :
penting diperhatikan mulai dari
a. Pengukuran besaran listrik,
pembuatannya sampai
seperti arus (ampere), tegangan
penyimpanannya. Karena sejak
(Volt), daya listrik (Watt), dll
pembuatannya, alat itu ditentukan
b. Pengukuran besaran non listrik,
ketelitiannya sesuai dengan yang
seperti suhu, luat cahaya,
dikehendaki. Setelah itu dalam
tekanan , dll.
pemakaian, pemeliharaan dan
penyimpanan memerlukan
Dalam melakukan pengukuran ,
perhatian kita agar ketelitiannya
pertama harus ditentukan cara
tetap terpelihara.
pengukurannya. Cara dan
pelaksanaan pengukuran itu dipilih
Hal-hal yang penting
sedemikian rupa sehingga alat ukur
diperhatikan pada pengukuran
yang ada dapat digunakan dan
listrik
diperoleh hasil dengan ketelitian
seperti yang dikehendaki. Juga cara
ƒ Cara pengukuran → harus
itu harus semudah mungkin,
benar
sehingga diperoleh efisiensi
Pada pengukuran listrik
setinggi-tingginya. Jika cara
pengukuran dan alatnya sudah terdapat beberapa cara ⇒ Pilih
ditentukan, penggunaannya harus cara yang ekonomis

97
- Alat ukur, harus dalam keadaan - Besaran turunan: besaran yang
baik : diturun- kan dari besaran-besaran
- Secara periodik harus dicek dasar. Jadi merupakan kombinasi
(kalibrasi) dari besaran dasar.
- Penyimpanan, transportasi alat - Besaran pelengkap : besaran
harus diperhatikan yang diperlukan untuk
- Operator (Orang) Æ Harus teliti membentuk besaran turunan.
- Keadaan dimana dilakukan
pengukuran harus diperhatikan Satuan
- Jika diperlukan laporan ,
Satuan adalah ukuran dari
maka pencatatan hasil
pada suatu besaran. Sistem satuan
pengukuran perlu
dapat dibagi menjadi 2 (dua) yaitu :
mendapat perhatian
- Untuk catatan digunakan buku
Sistem satuan metrik (universal),
tersendiri
yaitu :
- Gunakan FORMULIR tertentu
2.2. Besaran ,satuan dan Satuan Panjang dalam meter
dimensi (m). Satu meter (1 m) didefinisikan
sepersepuluh juta bagian dari jarak
Alat ukur adalah alat yang dapat antara kutub dan katulistiwa
digunakan untuk mendapatkan / sepanjang meredian yang melewati
mengetahui hasil perbandingan Paris.
antara suatu besaran / ukuran Pada tahun 1960 satuan
yang ingin diketahui dengan panjang meter didefinisikan
standar yang dipakai. Fungsi kembali lebih teliti dan dinyatakan
penting dari alat ukur baik alat ukur dalam standard optik yang disebut
listrik maupun mekanik adalah radiasi merah jingga dari sebuah
untuk mengetahui nilai yang telah atom Krypton. Sehingga Satu (1)
ditentukan sebagai batasan laik meter sama dengan 1.650.763,73
atau tidaknya peralatan / jaringan panjang gelombang radiasi merah
akan dioperasikan. jingga dari atom Krypton-86 dalam
ruang hampa.
Dalam pengukuran kita • Satuan Massa dalam gram (g).
membandingkan suatu besaran Satu gram (1 gram) didefinisikan
dengan besaran standard. massa 1 cm kubik air yang telah
Sehingga dalam pengukuran perlu disuling dengan suhu 4 derajat
mengetahui besaran, satuan dan Celcius (C) dan pada tekanan
dimensi. udara normal (760 mm air raksa
Besaran atau Hg).
Besaran adalah sesuatu yang • Satuan Waktu dalam sekon (s).
dapat diukur. Besaran terdiri dari : Satu sekon (1sekon) didefinisikan
- Besaran dasar : besaran yang sebagai 1/ 86400 hari matahari
tidak tergantung pada besaran rata-rata.
lain

98
Satuan lainnya dijabarkan dari tersebut sebesar 2/
ketiga satuan dasar diatas yaitu 10.000.000 Newton per satuan
panjang, massa dan waktu. Semua panjang.
pengalian dari satuan dasar diatas
adalah dalam sistem desimal (lihat Satuan Temperatur
Tabel 2.1.) Sistem absolut CGS
Derajat Kelvin (K) telah
atau sistem centi gram sekon ini
ditetapkan dengan mendefinisikan
dikembangkan dari sisem metrik
temperatur termodinamik dari titik
MKS atau meter kilogram sekon.
tripel air pada temperatur tetap
sebesar 273,160 0 K.
Sistem Internasional
Ttitik tripel air ialah suhu
Dalam sistem internasional (SI) keseimbangan antara es dan uap
digunakan enam sistem satuan air. Skala praktis internasional
dasar. Keenam besaran dasar SI untuk temperatur adalah derajat
dan satuan-satuan pengukuran Celcius (0 C) dengan simbol ”t”.
beserta simbolnya diberikan pada Skala Celcius mempunyai dua
Tabel 2.2. skala dasar yang tetap yaitu :
- Titik triple air yang sebenarnya
Satuan Arus 0,01 derajat C
- Titik didih air yang besarnya
Nilai ampere Internasional 100 derajat C, keduanya pada
didasarkan pada endapan elektrolit tekanan 1 atmosfer .
perak dari larutan perak nitrat. 1 T (0 C) = T (0 K) - To
Ampere Internasional didefinisikan Dimana To = 273,16 derajat
sebagai arus yang mengendapkan
perak dengan laju kecepatan Intensitas Penerangan
sebesar 1,118 miligram per sekon
Intensitas penerangan disebut
darei statu larutan perak nitrat
lilin (candela). 1 lilin didefinisikan
Standard.
sebagai 1/60 intensitas penerangan
Nilai Ampere absolut dilakukan
setiap centimeter kuadrat radiator
dengan menggunakan keseimbang-
sempurna.
an arus yakni dengan mengukur
Radiator sempurna adalah
gaya-gaya antara dua konduktor
benda radiator benda hitam atau
yang sejajar. 1 Amper didefinisi-
Planck Standard Primer untuk
kan sebagai arus searah konstan,
intensitas penerangan adalah
yang jika dipertahankan dalam
sebuah radiator sempurna pada
konduktor lurus yang sejajar dan
temperatur pembekuan platina
konduktor tersebut ditempatkan
(kira-kira 2024 0C)
pada jarak satu meter di dalam
ruang hampa akan menghasilkan
gaya antara kedua konduktor

99
Tabel 2.1. Perkalian faktor 10 (Satuan SI)
Faktor Perkalian Sebutan
dari Satuan Nama Simbol
1012 tera T
109 giga G
106 mega M
3
10 kilo k
102 hecto h
10 deca d
10-1 deci d
10-2 centi c
10-3 milli mm
10-6 micro µ
10-9 nano n
10-12 pico p
10-15 fento f
10-18 atto a

Dimensi
Dimensi adalah cara penulisan Contoh :
dari besaran-besaran dengan Dimensi Gaya (F) Æ
menggunakan simbol-simbol −2
F = m.a = M .L.T
(lambang-lambang) besaran dasar.
Dimensi Kecepatan (v) Æ
Kegunaan dimensi adalah : panjang meter
v= = = .L.T −1
- Untuk menurunkan satuan waktu det ik
dari suatu besaran.
- Untuk meneliti kebenaran
suatu rumus atau
persamaan.
Tabel 2.2. Besaran Dasar dan Satua SI

No. Besaran Simbol Satuan Simbol


Dimensi
1. Panjang L meter m
2. Massa M kilogram kg
3. Waktu T sekon s (det)
4. Kuat Arus I Ampere A
5. Temperatur Ө derajat K
6. Intensitas Cahaya J Kelvin
Besaran Pelengkap lilin
a. Sudut dasar (plane - (Kandela) Cd
b. angle) - Rad
Sudut ruang (solid Radian
angle) Steradian Sr

100
Kita mengenal berbagai besaran-besaran listrik antara lain :
Tabel 2.3. Besaran Dasar dan Satua SI

BESARAN LISTRIK SATUAN ALAT UKUR

Tegangan volt Voltmeter


Tahanan ohm Ohmmeter
Arus ampere Amperemeter
Daya watt Wattmeter
Energi wattjam (kWh) kWhmeter
Frekuensi hertz Frekuensimeter
Induktansi henry Induktasimeter
Kapasitansi dll farad Kapasitasmeter

2.3. Karakteristik dan klasifikasi E=I–T atau dalam


alat ukur. Karakteristik. I −T
% E= x100 %
Karakteristik dari suatu alat ukur
T
adalah : Dimana :
• Ketelitian E = Kesalahan
I = Nilai pembacaan
• Kepekaan
T = Nilai sebenarnya
• Resolusi (deskriminasi)
• Repeatibility Kesalahan (Error)
• Efisiensi
Koreksi ialah selisih antara nilai
Ketelitian sebenarnya dari besaran yang
Ketelitian ini didefinisikan diukur dan nilai pembacaan pada
sebagai persesuaian antara alat ukur.
pembacaan alat ukur dengan nilai
sebenarnya dari besaran yang C=T-I
diukur. Ketelitian alat ukur diukur atau dalam %
dalam derajat kesalahannya. T −I
C= x100 %
T
Kesalahan (Error)
Dimana :
Kesalahan ialah selisih antara C = Koreksi
nilai pembacaan pada alat ukur dan Dari kedua rumus diatas yaitu
nilai sebenarnya . kesalahan dan koreksi dapat dilihat
Dalam rumusan dapat ditulis : bahwa :
C= - E

101
Kesalahan pada alat ukur kerja yang mempunyai kesalahan
umumnya dinyatakan dalam klas ukur ± 1 – ± 2 % juga dibuat dalam
ketelitian yang dinyatakan dengan bentuk transportable dan dipakai
klas 0.1; 0.5 ; 1,0 dst. Julat ukur dibengkel-bengkel, pabrik-pabrik
dinyatakan mempunyai ketelitian dan lain-lain. Untuk alat kerja
klas 0,1 bila kesalahan maksimum dengan kesalahan ukur ± 2 -3 %
ialah ± 1 % dari skala penuh efektif. dipakai untuk pengukuran pada
Tergantung dari besar kecilnya papan penghubung baik dipusat-
ketelitian tersebut alat-alat ukur pusat tenaga listrik, pabrik-pabrik
dibagi menjadi : dan lain-lain.
• Alat cermat atau alat presisi,
alat ukur dengan ketelitian tinggi Alat Ukur Kasar :
(< 0,5%).
Alat ukur yang mempunyai
• Alat kerja, alat ukur dengan
kesalahan ukur > 3% termasuk
ketelitian menengah (± 1 ÷ 2
golongan alat kasar dan hanya
%).
digunakan sebgai petunjuk
• Alat ukur kasar, alat ukur
umpama arah aliran untuk melihat
dengan ketelitian rendah (≥ 3
apakah accumulator dari sebuah
%).
mobil yang sedang diisi atau
dikosongkan.
Alat cermat / alat persisi :
Pada beberapa alat ukur yang
Alat ukur yang mempunyai akan ditempatkan pada panel-panel
salah ukur dibawah 0,5% termasuk maka untuk mengurangi kesalahan
golongan alat cermat / alat persisi. membaca karena paralaks, jarum
Alat ukur ini sangat mahal harganya petunjuk dan skala pembacaan
dan hanya dipakai untuk pekerjaan ditempatkan pada bidang-bidang
yang memerlukan kecermatan yang yang sama seperti yang
tinggi, umpamanya dilaboraturium. diperlihatkan dalam gambar 2.1.
Alat ukur cermat / alat persisi dibuat
dalam bentuk transfortable dan
untuk menjaga terhadap perlakuan-
perlakuan yang kasar, maka alat
tesebut dimasukan dalam peti/kotak
dan dibuat dalam bentuk dan rupa
yang bagus sekali, yang tujuannya
untuk memperingatkan sipemakai
bahwa alat yang tersimpan dalam
kotak yang bagus tersebut adalah
alat berharga dan harus
diperlakukan secara hati-hati.

Alat kerja :
Alat ukur dengan kesalahan
ukur diatas 0,5% termasuk
golongan alat kerja. Untuk alat ukur

102
- Ketelitian alat ukur dapat
berkurang disebabkan antara lain,
umur alat ukur yang memang
sudah melebihi yang
direncanakan sehingga
mengalami kerusakan atau
sumber listrik yang harusnya
terpasang dengan kondisi
tertentu, sudah tidak memenuhi
seperti yang dipersyaratkan.
- Operator atau pengguna alat ukur
tidak memahami cara yang benar,
sehingga terjadi kesalahan
pemakaian atau cara membaca
skala salah padahal alat ukur
pada kondisi yang baik.
- Alat ukur yang dimaksud disini
selain merupakan alat yang
menghasilkan nilai dengan satuan
listrik maupun mekanik, ada alat
yang hanya menunjukkan indikasi
Gambar 2.1 Skala dan Plat skala benar atau tidaknya suatu
pada alat ukur rangkaian / sirkit. Alat seperti ini
disebut dengan indikator.
Ketelitian hasil ukur ditentukan
oleh 2 (dua ) hal, yaitu :
- Kondisi alat ukur, yaitu ketelitian-
nya harus sesuai dengan yang
dipersyaratkan untuk pengukuran
pada pemeliharaan kubikel.

Tabel 2.4. Klas ketelitian alat ukur dan penggunaannya.

Klas Kesalahan yang Penggunaan Keterangan


diijinkan (%)
0,1 ± 0,1 Laboratorium Presisi
0,2 ± 0,2 Laboratorium Presisi
0,5 ± 0,5 Laboratorium Menengah
1,0 ± 1,0 Industri Menengah
1,5 ± 1,5 Industri Menengah
2,0 ± 2,0 Industri Menengah
2,5 ± 2,5 Industri Menengah
3,0 ± 3,0 Hanya untuk cek Rendah
5,0 ± 5,0 Hanya untuk cek Rendah

103
Kepekaan Sehingga dalam pengukuran
Kepekaan ialah perbandingan sebaiknya perlu diperhatikan
antara besaran akibat (respone) kondisi alat ukur dengan
dan besaran yang diukur. memperhatikan syarat-syarat dari
Kepekaan ini mempunyai satuan, alat ukur, yaitu :
misalnya mm / µA. Sering
kepekaan ini dinyatakan sebgai - Alat ukur tidak boleh membebani /
sebaliknya. Jadi besarannya / mempengaruhi yang diukur atau
satuannya menjadi µA / mm atau disebut mempunyai impedansi
disebut faktor penyimpangan masuk yang besar
(kebalikan dari kepekaan). - Mempunyai keseksamaan yang
tinggi, yaitu alat harus
Resolusi ( Deskriminasi) mempunyai ketepatan dan
Resolusi dari suatu alat ukur ketelitian yang tinggi (mempunyai
adalah pertambahan yang terkecil accuracy error dan precision
dari besaran yang diukur yang error yang tinggi)
dapat dideteksi alat ukur dengan - Mempunyai kepekaan
pasti. Misalnya suatu Volt meter (sensitifitas) yang tinggi, yaitu
mempunyai skala seragam yang batas input signal yang sekecil-
terbagi atas 100 bagian dan kecilnya sehingga mampu
berskala penuh sama dengan 200 membedakan gejala-gejala yang
V. Satu perseratus jelas, maka kecil
deskriminasi alat ukur sama dengan - Mempunyai stabilitas yang
1/100 atau 2 V. tinggi sehingga menolong dalam
pembacaan dan tidak terganggu
Repeatibility karena keadaan yang tidak
dikehendaki
Banyak alat ukur mempunyai
sifat bahwa nilai penunjukkannya
- Kemampuan baca (readibilitas)
bertendensi bergeser, yaitu dengan
yang baik, hal ini banyak
satu nilai masukan yang sama, nilai
tergantung dari skala dan alat
pembacaan berubah dengan waktu.
penunjuknya serta piranti untuk
Hal tersebut disebabkan antara lain
menghindari kesalahan paralak.
oleh :
- Kemantapan (realibilitas) alat
a. Fluktuasi medan listrik
yang tinggi, yaitu alat yang dapat
disekitarnya. Untuk mencegah
dipercaya kebenarannya untuk
hal ini harus dipasang
jangka waktu yang lama.
pelindung.
b. Getaran makanis. Untuk
Efisiensi Alat Ukur
menghindari hal ini dipasang
peredam getaran. Efisiensi dari alat ukur
c. Perubahan suhu. Dalam hal ini didefinisikan sebagai perbandingan
ruangan diusahakan suhunya antara nilai pembacaan dari alat
tetap dengan cara pemasangan ukur dan daya yang digunakan alat
alat pendingin (AC). ukur pada saat bekerja untuk
pengukuran tersebut. Biasanya

104
diambil dalam keadaan pengukuran - Arus bolak balik
pada skala penuh. Adapun - Arus searah dan arus bolak
satuannya adalah besaran yang balik
diukur per Watt. Efisiensi suatu alat
ukur harus sebesar mungkin. Pada Menurut tipe / jenis
Voltmeter efisiensi dinyatakan - Tipe Jarum Petunjuk
dalam Ohm per Volt.
Harga / nilai hasil ukur yang
dibaca adalah yang ditunjuk oleh
V fs I fs .Rm Rm jarum petunjuk, harga tersebut
Evm = = =
Pfs I fs .V fs V fs adalah harga sesaat pada waktu
meter tersebut dialiri arus listrik

Dimana : E vm = Efisiensi Volt - Tipe Recorder


meter
Harga / nilai hasil ukur yang
V fs = Penunjukkan Volt dibaca adalah harga yang ditulis /
meter pada skala penuh dicatat pada kertas, pencatat ini
Pfs
= Daya yang dilakukan secara otomatis dan
terus menerus selama meter
diperlukan pada penunjukkan Volt tersebut dialiri arus listrik.
meter pada skala penuh.
I fs
= Arus yang - Tipe Integrator
mengalir pada penunjukkan volt Harga / nilai hasil ukur yang
meter pada skala penuh. dibaca adalah harga dari hasil
Rm = Tahanan dalam penjumlahan yang dicatat pada
selang waktu tertentu selama alat
dari volt meter. tersebut digunakan
Efisiensi biasanya tidak - Digital
dinyatakan pada spesifikasi suatu
alat ukur, tetapi dapat dihitung, jika Harga / nilai hasil ukur yang
impedansi dari alat ukur dan arus dibaca adalah harga sesaat
yang mengalir pada skala penuh
diketahui atau tegangan yang Menurut prinsip kerja :
dipasang diketahui.
Volt meter dengan efisiensi Besi putar, tanda ( S )
yang tinggi misalnya disyaratkan Prinsip kerja : gaya
pada pengukuran rangkaian elektromagnetik pada
elektronik, dimana arus dan daya suatu inti besi dalam suatu
biasanya terbatas. medan magnet.
(kumparan tetap, besi
Macam-macam alat Ulat ukur dan yang berputar)
pengukurannya. penggunaan pada
rangkaian AC/DC.
Menurut macam arus :
- Arus searah

105
Kumparan putar, tanda (M) menggunakan
Prinsip kerja : sistem ini A/V/.
gaya
elektromagnetik Menurut sumber tegangan :
antar medan
magnet suatu tetap Pengukuran
dan arus untuk
(kumparan = kebesaran- DC
berputar magnit kebesaran arus
tetap), pengunaan searah
pada rangkaian ≈ Pengukur untuk
DC,alat ukur yang kebesaran arus AC
menggunakan bolak-balik
sistem ini VA/Ω. = Pengukur untuk
≈ kebesaran arus
DC/AC
Elektrodinamik, tanda (D) searah dan
Prinsip kerja: gaya elektromagnetik bolak-balik
antar arus-arus. 3 Pengukur
(kumparan tetap & AC 3
≈ phasa tiga
kumparan berputar),
pemakaian pada
rangkaian AC/DC, Menurut tegangan pengujiannya
alat yang :
menggunakan
sistem ini V/A / W /F. Tegangan uji 2 kv
2
Induksi, tanda (I)
Prinsip kerja : gaya
elektromagnetik yang
ditimbulkan oleh
medan magnit bolak- Tegangan uji 3 kV
3
balik dan arus yang 2 kv
terimbas oleh medan
magnet, (arus induksi
dalam hantaran).

Kawat panas Tegangan uji 4 kv


4
ƒ Prinsip kerja :
gerakan jarum
diakibatkan oleh
pemuaian panas dan
tarikan pegas,
(pemakaian pada
rangkaian AC/DC,
alat yang

106
Menurut Posisi Pengoperasian Menurut sifat penggunaannya
Portable
Dipasang untuk posisi mendatar .
Alat ini mudah dipergunakan dan
dibawa pergi kemana-mana
sesuai kehendak hati kita dalam
pengukuran.
Di pasang dengan posisi tegak.
Papan hubung/panel

Alat ini dipasang pada panel


o secara permanent atau tempat-
Di pasang dengan posisi miring 60
tempat tertentu, sehingga tidak
dapat dibawa pergi untuk
60o mengukur ditempat lain.

Menurut besaran yang diukur

Nama Alat Besaran Tanda Rangkaian


Keterangan
Ukur yang diukur Satuan Penggunaan

Amper Meter Arus A AC & DC V/R


Volt Meter Tegangan V AC & DC I.R
Watt Meter Daya W AC & DC V.I
Ohm Meter Tahanan Ohm DC V/I
kWh Meter Energi kWh AC & DC V.I.t cosφ
kVArh Meter Energi kVArh AC & DC V.I.t sinφ
Frekwensi Getaran/detik Hz AC -
-
Cos Phi Meter Faktor Kerja Cos phi AC

Menurut pengawatannya - Arus listrik yang diproduksi


Ampere-meter . mesin pembangkit
- Arus listrik yang didistribusikan
Alat ukur ini digunakan untuk ke jaringan distribusi
mengetahui besarnya arus/aliran Cara penyambungan dari
listrik baik berupa : ampere meter adalah dengan

107
menghubungkan seri dengan Tegangan antara P dan Q tetap
sumber daya lisitrik (power source). 1000 volt
Req = 100 Ω + 10 Ω = 110 Ω

1000
I= = 9.09 Amper
110

3. Amperemeter 3 ( A3 ) ⇒
RA = 0,1 Ω
Tegangan antara P dan Q
Gambar 2.2 Pemasanan tetap 1000 volt
Amperemeter Req = 100 Ω + 0,1 Ω = 100,1 Ω
Amperemeter harus 1000
⇒ I= = 9,99 Amper
dihubungkan seri dengan rangkaian 100,1
yang akan diukur karena
mempunyai tahanan dalam ( RA ) Tahanan amperemeter harus
yang kecil sehingga apabila kecil, agar pengaruh terhadap
amperemeter dihubungkan paralel rangkaian kecil . Juga harus kecil
akan terjadi dua aliran ( I1 dan I2 ) , agar daya yang hilang menjadi kecil
karenanya pengukuran tidak benar
(salah) akan tetapi merusak 2
Plosses = I RA
amperemeter karena dihubung
singkat dengan baterai/tegangan
sumber alat ukur tersebut.
A

P
sumber beban
~ daya
Gambar 2.3 Amperemeter dan
tahanan

1. Amperemeter 1 ( A1 ) ⇒
Gambar 2.4 Amperemeter dan
RA = 100 Ω
Beban
Tegangan antara P dan Q tetap
1000 volt
Volt-meter Meter .
Req = 100 Ω + 100 Ω = 200 Ω
Alat ukur ini digunakan untuk
⇒ mengetahui besarnya tegangan
Cara penyambungan dari Volt-
1000 meter adalah dengan
I= = 5Amper
200 menghubungkan parallel dengan
sumber daya lisitrik (power source )
2. Amperemeter 2 ( A2 ) ⇒ Voltmeter harus dihubungkan
RA = 10 Ω paralel dengan rangkaian yang

108
akan diukur karena mempunyai
tahanan dalam ( RA ) yang besar.

Gambar 2.5 Volt-meter

Tahanan voltmeter harus besar ,


agar tidak mempengaruhi sistem
pada saat digunakan, juga agar
daya yang hilang pada voltmeter itu Gambar 2.7 Cosphi meter
kecil.
Cos phi meter banyak digunakan
E2 dan terpasang pada :
PLosses =
RV • Panel pengukuran mesin
pembangkit
Cosphi meter (Cos φ). • Panel gardu hubung gardu
Alat ini digunakan untuk induk
mengetahui, besarnya factor kerja • Alat pengujian, alat
(power factor) yang merupakan penerangan, dan lain-lain.
beda fase antara tegangan dan
arus. Cara penyambungan adalah 2.4. Frekwensi Meter
tidak berbeda dengan watt meter Frekwensi meter digunakan
sebagaiman gambar dibawah ini : untuk mengetahui frekwensi
(berulang) gelombang sinusoidal
arus bolak-balik yang merupakan
jumlah siklus sinusoidal tersebut
perdetiknya (cycle / second).

Cara penyambungannya adalah


sebagai berikut :

109
Gambar 2.8 Pemasangan
Frekwensi meter Gambar 2.9 Pemasangan Watt
meter
Frekwensi meter mempunyai Jenis lain dari watt meter
peranan cukup penting khususnya berdasarkan besarannya adalah :
dalam mensinkronisasikan • kW – meter (kilo watt meter)
(memparalelkan) 2 unit mesin • MW – meter (mega watt
pembangkit dan stabilnya frekwensi meter)
merupakan petunjuk kestabilan
mesin pembangkit. Alat untuk mengukur daya pada
beban atau pada rangkaian daya itu
Watt Meter adalah nilai-nilai rata-rata dari
Alat ukur ini untuk mengetahui perkalian e. i , yaitu nilai sesaat
besarnya daya nyata (daya aktif). dari tegangan dan arus pada beban
Pada watt meter terdapat atau rangkaian tersebut
spoel/belitan arus dan spoel/ belitan
tegangan, sehingga cara
penyambungan watt pada
umumnya merupakan kombinasi
cara penyambungan volt meter dan
ampere meter sebagaimana pada
gambar dibawah ini :

Gambar 2.10 Rangkaian wattmeter

110
Rangkaian potensial wattmeter Nilai rata-rata dalam 1 (satu )
dibuat bersifat resistip, sehingga Siklus ( Cycle ) :
arus dan
tegangan pada rangkaian 1 T dM e.i
tersebut satu fasa iV satu fasa τ d rata − rata =
∫ K. . .dt
T 0 dθ Rv
dengan e karena
Zv = Rv 2.5. KWH – Meter
Wattmeter yang didasarkan
atas instruments elektrodinamik . Kwh meter digunakan untuk
mengukur energi arus bolak balik,
Torsi pada alat ini adalah merupakan alat ukur yang sangat
penting, untuk Kwh yang
dM
τ d = K. .i1 .i2 diproduksi, disalurkan ataupun kWh
dθ yang dipakai konsumen-konsumen
listrik. Alat ukur ini sangat popular
Maka dikalangan masyarakat umum,
dM karena banyak terpasang pada
τ d = K. .iv .i rumah-rumah penduduk (konsumen

listrik) dan menentukan besar
e e kecilnya rekening listrik si pemakai.
dimana iv = = ⇒ Mengingat sangat pentingnya
Z v Rv
arti kWh meter ini baik bagi PLN
i τ d = K . dM . e ataupun sipemakai, maka agar
dθ Rv diperhatikan benar cara
penyambungan alat ukur ini.

Gambar penyambungan adalah sebagai berikut

P : Spoel Arus
~ sumber beban
daya : Spoel Tegangan

Gambar 2.12 KWH – Meter

2.6 Megger umumnya adalah tegangan tinggi


arus searah, yang diputar oleh
Megger dipergunakan untuk
tangan.
mengukur tahanan isolasi dari alat-
Besar tegangan tersebut pada
alat listrik maupun instalasi-
umumnya adalah : 500, 1000, 2000
instalasi, output dari alat ukur ini

111
atau 5000 volt dan batas
pengukuran dapat bervariasi antara
0,02 sampai 20 meter ohm dan 5
sampai 5000 meter ohm dan lain-
lain sesuai dengan sumber
tegangan dari megger tersebut.
Dengan demikian, maka
sumber tegangan megger yang
dipilih tidak hanya tergantung dari
batas pengukur, akan tetapi juga
terhadap tegangan kerja (sistem
tegangan) dari peralatan ataupun
instansi yang akan diuji isolasinya.
Gambar 2.13 Rangkaian dasar
Dewasa ini telah banyak pula megger
megger yang mengeluarkan
tegangan tinggi, yang 2.7. Phasa Squence
didapatkannya dari baterai sebesar Alat ukur ini digunakan untuk
8 – 12 volt (megger dengan sistem mengetahui benar/tidaknya urutan
elektronis). Megger dengan bateri phasa sistem tegangan listrik tiga -
umumnya membangkitkan phasa. Alat ini sangat penting arti
tegangan tinggi yang jauh lebih khususnya dalam melaksanakan
stabil dibanding megger dengan penyambungan gardu-gardu
generator yang diputar dengan ataupun konsumen listrik, karena
tangan. Gambar rangkaian dasar kesalahan urutan phasa dapat
megger adalah seperti gambar 2.13 menimbulkan :
Megger ini banyak digunakan
• Kerusakan pada peralatan/
petugas dalam mengukur tahanan
mesin antara lain putaran motor
isolasi anata lain untuk
listrik terbalik
• Kabel instalasi pada rumah-
• Putaran piringan kWh meter
rumah / bangunan
menjadi lambat ataupun terhenti
• Kabel tegangan rendah sama sekali, dll
• Kabel tegangan tinggi
• Transformator, OCB dan Cara penyambungannya phasa
peralatan listrik lainnya. squence
Adalah sebagaimana terlihat pada
gambar 2.14 .berikut ini

112
Phasa
Sq ence
R
RST S Sumber Daya/
T tegangan

Gambar 2.14. Cara penyambungan phasa squence

Sesuai dengan keterangan dan pengertian simbol-simbol


diatas alat ukur ini sangat maupun kode non teknis yang
diperlukan petugas dalam terdapat pada alat ukur.
melaksanakan penyambungan
listrik pada : Posisi pembacaan
• Pusat-pusat pembangkit, gardu
Pembacaan harga pada alat
hubung, Gardu induk, gardu
ukur secara cermat harus dilakukan
distribusi, konsumen listrik
dengan melihat tepat diatas jarum
lainnya.
penunjuk. Dengan demikian dibaca
harga pada garis skala yang tertulis
Cara pengukuran
tepat dibawah runcing jarum. Bila
tidak melihat tepat diatas penunjuk
Untuk mengetahui dan
akan terbaca harga sebelah kiri
bagaimana memilih alat ukur yang
atau disebelah kanan dari garis
akan dipergunakan sesuai dengan
sebenarnya, kesalahan ini disebut
kebutuhan dilapangan, berikut
paralaks.
dijelaskan tentang cara pembacaan

Gambar 2.15 Posisi pembacan meter

Untuk menghindari paralaks runcing jarum skala. Dalam posisi


tersebut runcing jarum dari alat baca yang benar, maka jarum
cermat dibuat berupa sayap tipis runcing dan bayangannya pada
dan dipasang cermin kecil dibawah cermin harus tepat satu garis tipis.

113
Contoh cara membaca skala pada Perubahan batas ukur arus
alat ukur : dilakukan dengan cara memasang
secara paralel Resistor, sehingga
arus yang terukur dibagi dengan
perbandingan tertentu antara yang
melewati resistor dan yang
melewati komponen utama alat
ukur. Semakin kecil nilai resistor,
maka batas ukur menjadi lebih
besar.
Sedangkan untuk merubah batas
Gambar 2.15 pembacan meter ukur tegangan dilakukan dengan
cara memasang secara seri
2.8. pengukuran besaran resistor, sehingga nilai tegangan
listrik sebelum masuk ke dalam alat ukur
dapat lebih besar . Semakin besar
Setiap alat ukur mempunyai nilai resistor, maka batas ukur
batas ukur tertentu, yang artinya menjadi semakin besar
alat ukur tersebut hanya mampu
mengukur sampai harga maksimal
tertentu dimana jarum petunjuk
akan menyimpang penuh sampai
pada batas maksimal dari skala.
Alat-alat ukur yang terpasang
tetap pada panel pada umumnya
mempunyai satu macam batas ukur
saja dikarenakan besaran yang
akan diukur nilainya tidak akan
berubah dari nilai yang ada pada
batas ukur meter tersebut, Gambar.2. 16 batas ukur meter
sedangkan alat ukur kerja Petunjuk jarum petunjuk pada
menyediakan beberapa pilihan angka 7. skala maksimum 10.
batas ukur, karena besaran yang seandainya kita tentukan batas ukur
akan diukur belum diketahui pada angka 5 maka harga
sebelumnya. sebenarnya yang ditunjuk oleh
Cara merubah batas ukur angka 7 adalah sebagai berikut
dilakukan dengan menambah atau
mengurangi tahanan dari resistor P
sebelum besaran listrik masuk ke Hs = xBU
SM
komponen utama alat ukur dengan
7
perbandingan nilai tertentu Jadi Hs = x 5V = 3,5V
terhadap nilai tahanan alat ukur, 10
sehingga besaran sebenarnya yang Dimana : Hs = harga sebenarnya
masuk pada komponen utama alat . BU = batas ukur.
ukur tetap pada batas semula. P = penunjuk jarum.
SM = skala maksimum

114
Prinsip kerja alat ukur tetap dan besi yang berputar. Bila
sebuah kumparan dan didalamnya
Prinsip kerja yang paling
terdapat besi, maka besi tersebut
banyak dari alat – alat ukur tersebut
akan menjadi magnet. Jika di dalam
adalah :
kumparan tersebut diletakkan dua
• kWh dan kVArh meter :
batang besi maka kedua-duanya
sistem induksi
akan menjadi magnet sehingga
• kW /kVA maksimum meter
kedua batang besi tersebut akan
: sistem elektro dinamis
saling tolak menolak, karena ujung-
• Volt meter : sistem elektro
ujung kedua batang besi tersebut
magnit, kumparan putar, besi
mempunyai kutup yang senama.
putar
Prinsip kerja tersebut diterapkan
• Amper meter : sistem
pada sistem elektro magnit dengan
elektro magnit, kumparan putar
mengganti besi tersebut dengan 2
buah plat besi yang satu dipasang
Prinsip kerja besi putar
tetap (diam) sedang yang lain
Alat ukur dengan prinsip kerja bergerak dan dihubungkan dengan
besi putar atau disebut juga sistem jarum petunjuk.
elektro magnet adalah sesuatu alat
ukur yang mempunyai kumparan

+ – – +

Arah arus Arah arus

Dua batang
besi yang
berdampinga

kumparan
α α α

Gambar 2-18 Prinsip kerja besi putar

Arus yang diukur melalui sangat besar, sebagai alat


kumparan yang tetap dan pengukur untuk arus dan tegangan
menyebabkan terjadinya medan pada frekwensi-frekwensi yang
magnet. Potongan besi ditempatkan dipakai pada jaring-jaring distribusi
dimedan magnet, magnet tersebut yang didapat dikota-kota.
dan menerima gaya
elektromagnetis. Alat ukur dengan Suatu keuntungan lain bahwa
tipe besi putar ini adalah sederhana alat pengukur ini dapat pula dibuat
dan kuat dalam konstruksi, murah sebagai alat pengukur yang
dan dengan demikian mendapatkan mempunyai sudut yang sangat
penggunaan-penggunaan yang besar.

115
2.9. Prinsip kerja kumparan kutub-kutubnya dilengkapi dengan
putar lapis-lapis kutub, dan di dalam
lapang magnetis antara lapisan
Alat ukur sistem kumparan putar ini kutub tersebut dipasangkan sebuah
adalah alat ukur yang mempunyai kumparan yang dapat berkeliling
kutub magnet permanent dan poros Arus yang dialirkan melalui
kumparan yang berputar. Besi kumparan akan menyebabkan
magnet adalah permanent kumparan tersebut berputar
berbentuk kaki kuda yang pada
Gulungan
: + –

S U
S U Magnit S U
S
U Tetap

+

a b
Gambar 2-19 Prinsip kerja kumparan putar
Alat ukur kumparan putar dicelah udara antara kutub-kutub
adalah alat ukur penting yang magnet dan silinder inti besi akan
dipakai untuk kumparan bermacam berbentuk medan magnet yang
arus, tidak hanya untuk arus rata, yang masuk melalui kutub-
searah, akan tetapi dengan alat kutub tersebut. Kedalam silinder,
pertolongan lainnya, dapat pula secara radial sesuai dengan arah-
dipakai untuk arus bolak-balik. arah panah. Dalam selah udara ini
Pemakaian dari alat ukur ditempatkan kumparan putar (4),
kumparan putar adalah sangat luas, yang dapat berputar melalui sumbu
mulai dari alat-alat ukur yang ada (8).
dilaboraturium sampai pada alat
ukur didalam pusat-pusat Bila arus searah yang tidak
pembangkit listrik. diketahui besarnya mengalir melalui
Pada gambar 2.20 berikut ini kumparan tersebut, suatu gaya
diperlihatkan adanya magnet yang elektromagnetis f yang mempunyai
permanen (1), yang mempunyai arah tertentu akan dikenakan pada
kutub-kutub (2), dan diantara kutub- kumparan putar sebgai hasil
kutub tersebut ditempatkan suatu interaksi antar arus dan medan
silinder inti besi (3). magnit. Arah dari gaya f dapat
Penempatan silinder inti besi ditentukan menurut ketentuan
(3), tersebut diatas ini, diantara tangan dari fleming (lihat gambar
kedua kutub magnet, utara dan berikutnya)
selatan, akan menyebabkan bahwa,

116
Gambar 2. 20 Bahagian meter
Gambar 23 Bentuk Lain Konstruksi
Kumparan Putar

Gambar 2.21. Prinsip kerja alat


ukur jenis kumparan putar

1. Magnet tetap 5. Pegas spiral


Gambar 2.24. Konstruksi
2. Kutub sepatu 6. Jarum
Kumparan Putar
3. Inti besi lunak penunjuk
4. Kumparan putar
2. 10. Sistem induksi
7. Rangka kumparan putar
8. Tiang poros Alat ukur dengan sistem
induksi atau dikenal dengan system
Ferraris ini mempunyai prinsip kerja
sebagai berikut :
Bila pada piringan yang terbuat
dari bahan penghantar tetapi non
feromagnetik misalnya alumunium
atau tembaga ditempatkan dalam
medan magnet arus bolak balik,
maka akan dibangkitkan arus pusar
pada piringan tersebut.
Gambar 2.22. Prinsip kerja meter Arus pusar dan medan magnet
dari arus bolak balik yang
menyebabkannya akan
menimbulkan interaksi yang
menghasilkan torsi gerak pada

117
piringan, dan prinsip ini akan
mendasari kerja dari pada alat ukur Menurut hukum LENZ aliran
induksi. Atau dengan kata lain bila induksi dengan arah sedemikian
didalam medan magnet dengan rupa sehingga selalu melawan
garis gaya magnet dengan arah penyebabnya, karena induksi itu
yang berputar, dipasang sebuah dibangkitkan oleh pemotong garis-
tromol yang berbentuk silinder, garis gaya yang berputar, maka
tromol tersebut akan turut berputar tromol aluminium akan berputar
menurut arah putaran garis-garis dengan arah yang sama dengan
gaya magnet tadi, medan magnet arah putaran garis-garis gaya
ini dinamakan alat ukur medan tersebut.
putar atau alat ukur induksi, bisa Pada alat ukur jarum putaran
juga disebut alat ukur Ferraris tromol ditahan oleh pegas spiral,
Alat ukur ini dapat sehingga putarannya pada jarak
diklasifikasikan pada medan yang tertentu sesuai dengan garis
bergerak. Prinsip ini digunakan skalanya. Oleh karena sistem
pada alat ukur energi (kWh meter) induksi ini bekerja dengan medan
arus bolak balik. Gambar tengah putar yang dibangkitkan oleh arus
menunjukan arah Ф1dan Ф2 dalam bolak-balik, maka jika tanpa alat
ruangan A, B, C, D, kedua medan Bantu atau alat tambahan lainnya
itu dilukiskan sebagai vektoris maka alat ukur ini hanya
Ф1dan Ф2 pada suatu periode dipergunakan pada sumber arus
penuh. Dari gambar tersebut bolak-balik saja.
tampak jelas bahwa medan magnet
total mempunyai arah yang 2.11 Sistem elektro dinamis
berputar pada poros (a) dengan
Alat ukur elektro dinamis adalah
kecepatan sama dengan arus bolak
alat ukur yang mempunyai
balik dinding tromol aluminium
kumparan tetap dan kumparan
terpotong. Oleh garis gaya dari
putar.
medan putar sehingga dalam tromol
Sistem kerjanya sama dengan
terbangkit tegangan dan arus
sistem kumparan berputar tetapi
induksi atau arus pusar.
magnet tetap diganti dengan
magnet listrik.
Berdasarkan kaidah tangan
kanan pada gambar 2.26 a jarum
akan menyimpang kekanan, bila
arus dibalik arahnya pada gambar
2.26 b maka jarum akan tetap
menyimpang kekanan. Baik arah
arus berganti-ganti arah jarum tetap
menyimpang ke satu arah
Gambar 2.25 Azas Alat Ferraris
atau Alat Induksi

118
Gambar 2.26.a Gambar 2.26.b

Alat ukur tipe elektrodinamis ini,


dapat dipergunakan untuk arus
bolak-balik, atau arus searah, dan
dapat dibuat dengan persisi yang
baik, dan telah pula banyak
dipergunakan dimasa–masa yang
lalu. Akan tetapi pemakaian daya
sendirinya tinggi, sedangkan alat
ukur prinsip yang lain telah dapat
pula dibuat dengan persisi tinggi,
maka pada saat ini alat ukur Gambar 2.28 kumparan meter
elektrodinamis kurang sekali
dipergunakan sebagai alat ukut F = Arah dari gaya
ampere maupun volt, akan tetapi I = Arah dari arus
penggunaannya masih sangat luas H = Arah dari Fluksi magnet
sebgai alat pengukur daya atau
lazim disebut pengukur watt. Gambar Prinsip suatu alat ukur
elektrodinamis

Seperti diperlihatkan dalam


gambar diatas suatu kumparan
putar M ditempatkan diantara
kumparan-kumparan putar F1 dan
F2. bila arus I1 melalui kumparan
yang tetap dan arus I2 melalui
kumparan yang berputar, maka
Gambar 2.27 Jarum Penunjuk kepada kumparan yang berputar
akan dikenakan gaya
elektromagnetis, yang berbanding
lurus dengan hasil kali dari i1 dan i2.
Misalkan sekarang, bahwa
kumparan yang berputar terdapat

119
dalam medan magnet hampir-
hampir rata yang dihasilkan oleh
kumparan-kumparan tetap.

2.12. Prinsip kawat panas


Jika sepotong kawat logam
dialiri arus listrik yang cukup besar,
kawat tersebut akan menjadi panas,
oleh sebab itu akan memuai
(menjadi lebih panjang). Pemuaian
tersebut digunakan untuk
mengerakkan jarum petunjuk. Pada
gambar berikut terlihat sepotong Gambar -2.29 kawat panas
kawat logam campuran dari logam Keterangan :A & B = baut terminal
platina dan iridium yang m = kawat penarik
direntangkan pada A-B, pada waktu C = tempat pengikat
tiada arus ( I = 0 ) jarum petunjuk n = tali penarik
tepat ditengah-tengah (angka 0). x = kawat panas
Jika kita alirkan arus searah dari A D = ikatan tali
ke B sehingga kawat A – B menjadi P = pegas
memuai dan lebih panjang, ternyata A = poros penggulung
jarum tidak menunjuk 0, tetapi
menyimpang kearah kanan. Hal ini 2.13. Alat ukur sistem elektronik
disebabkan karena kawat A – B
menjadi lebih panjang dan ditarik Sesuai dengan perkembangan
oleh pegas sehingga memutar dan kemajuan teknologi khususnya
poros jarum. dalam bidang elektronik tak
Baik arus searah tersebut tertinggal pula kesertaan dari pada
mengalir dari A – B maupun dari B alat-alat ukur elektronik, pada
ke A jarum tetap menyimpang laboraturium dan industri-industri
kearah kanan ( lihat gambar banyak menggunakan alat ukur tipe
bawah). ini, karena memerlukan kecermatan
dalam petunjukan, untuk harga
Kesimpulan : relative mahal dibandingkan
Prinsip ini dapat dipakai untuk dengan alat ukur yang bukan
searah dan bolak-balik. elektronik, pada umumnya alat ukur
elektronik adalah digital, karena
penunjukannya berupa nilai angka,
maka penggunaan dalam
pembacaan sangat sederhana,
mudah dicerna.
Keuntungan alat ukur elektronik :
- Portable
- Kecermatan tinggi mencapai
factor kesalahan 0,1 – 0,5 %

120
- Kedudukan atau posisi alat ukur pembacaannya menjadi tidak
tidak mempengaruhi langsung, karena harus dikalikan
penunjukan. dengan perbandingan penurunan
Kelemahannya. besaran listrik yang diakibatkan
- Dapat dipengaruhi oleh oleh trafo-ukur tersebut.
temperature ruangan yang tinggi Ada 2 ( dua ) macam trafo ukur
- Tidak boleh ditempatkan pada yang digunakan untuk pengukuran,
ruangan yang lembab / basah yaitu trafo arus dan trafo tegangan .
- Harga relative mahal - Trafo arus digunakan untuk
menurunkan arus dengan
perbandingan transformasi
tertentu dan sekaligus
mengisolasi peralatan ukur dari
tegangan sistem yang diukur
- Trafo tegangan digunakan untuk
menurunkan tegangan sistem
dengan perbandingan
transformasi tertentu.

K L
IS = Max
S2
A
S1

Gambar 2.30 Alat Ukur tang


BEBAN
Ampere Digital

2.14. Alat ukur dengan


menggunakan trafo ukur . Gambar.2.31.Sisitim Pengukuran
arus Pakai trafo arus.
Untuk mengukur satuan listrik
dengan besaran yang lebih besar, Ns I p
=
maka alat ukur mempunyai a. N p Is
keterbatasan. Karena semakin Ns .Is = N p .I p
tinggi besaran yang diukur secara b.
langsung diperlukan peralatan Ns
dengan ukuran fisik yang lebih c. N p adalah perbandingan teoritis,
besar. Hal ini tentu tidak dimana :
dimungkinkan, maka penggunaan
alat bantu berupa trafo-ukur sangat
diperlukan. Dengan demikian cara
121
Ip
d. Is adalah perbandingan
C
praktis,
dimana : a = 80 (lihat gambar)
karena NP = I Jadi a = 80 K L
IS = Max
maka IP = NS . IS
sama juga S2
Ns N I A
= s = Ns = P = Ns = 80
Np I IS S1

IP = 80 . 5 = 400 A (terbukti)
Beban

NS IP
a= = IS
NP Gambar 2.32 Sisitim Pengukuran
arus Pakai trafo arus
a = 1 : 20
atau NP . IP = NS . IS Pelaksanaan pengukuran
karena NP = 1 tegangan pada jaringan tegangan
maka = IP = NS . IS tinggi tidak cukup hanya
a = Ratio perbandingan mempergunakan tahanan-tahanan
depan yang nilainya besar , tetapi
dilaksanakan dengan transformator
tegangan ( PT ) dengan tujuan
bahwa memakai pesawat ukur
dengan batas normal dapat diukur
batas normal dan ukuran yang lebih
tinggi, sehingga diperoleh
rangkaian pengukuran yang lebih
aman

122
Primer E pimer : E sekunder = N primer : N sekunder

PT
Gunanya dihubungkan ketanah
yaitu untuk menghilangkan arus
Sekunder bocor dari kumparan primer

Gambar 2.33 Pelaksanaan pengukuran arus bola-balik untuk tegangan tinggi

Beban

I pimer : I sekunder = I primer : I sekunder


Primer

Karena arus I sekunder cukup besar , maka hubungan


PT belitan sekunder dengan beban (amperemeter)
tidak boleh diputus / dilepas , kalau putus maka
Sekunder transformator akan rusak ⇒ maka kita gunakan
transformator arus (CT)

Gambar 2.3 Pelaksanaan pengukuran arus bola-balik untuk arus yang besar

2.15. Macam- macam alat ukur 2.15.1. Meter Tahanan Isolasi


untuk keperluan
Biasa disebut Meger, untuk
pemeliharaan
mengukur tahanan isolasi instalasi
tegangan menengah maupun
Berdasarkan fungsinya pada
tegangan rendah.Untuk instalasi
kegiatan pemeliharaan alat ukur
tegangan menengah digunakan
yang digunakan antara lain :

123
Meger dengan batas ukur Mega tegangan alat ukur antara 500
sampai Giga Ohm dan tegangan sampai 1.000 Volt arus searah.
alat ukur antara 5.000 Volt sampai Ketelitian hasil ukur dari meger
dengan 10.000 Volt arus searah. juga ditentukan oleh cukup
Untuk instalasi tegangan rendah tegangan baterai yang dipasang
digunakan Meger dengan batas pada alat ukur tersebut.
ukur sampai Mega Ohm dan

Gambar 2.34 Meter Tahanan Isolasi

2.15.2. Meter Tahanan 1 (satu ) dihubungkan dengan


Pentanahan elektroda yang akan diukur nilai
tahanan pentanahannya dan 2
Biasa disebut dengan Meger (dua) dihubungkan dengan
Tanah atau Earth Tester, digunakan elektroda bantu yang merupakan
untuk mengukur tahanan bagian dari alat ukurnya. Ketelitian
pentanahan kerangka kubikel dan hasil tergantung dari cukupnya
pentanahan kabel. Terminal alat energi yang ada pada baterai.
ukur terdiri dari 3 ( tiga ) buah,

Gambar.2.35 Meter Tahanan Pentanahan

124
Meter Tahanan Kontak masuk dan keluar akan
mengalirkan arus searah
Biasa disebut dengan Micro
dengan nilai minimal 200
Ohm meter dan digunakan untuk
Amper. Sebenarnya yang
mengukur tahanan antara terminal
terukur pada alat ukurnya
masuk dan terminal keluar pada
adalah jatuh tegangan antara
alat hubung utama kubikel. Nilai
2 ( dua ) terminal yang
yang dihasilkan adalah dalam
terhubung dengan alat ukur,
besaran micro atau sepersatu juta
tetapi kemudian nilainya
ohm.
dikalibrasikan menjadi satuan
Dua terminal alat ukur yang
micro ohm.
dihubungkan ke terminal

Gambar 2.36 Micro Ohm meter.

2.15,3. Tester Tegangan Tinggi Arus Searah ( HVDC Test )


Test terhadap bagian yang bertegangan terhadap kerangka / body kubikel
dengan tegangan listrik arus searah 40 kV selama 1 menit. Kubikel dinyatakan
laik operasi bila arus yang mengalir tidak lebih dari 1 mili amper.

125
Gambar 2. 37 Tester Tegangan Tinggi Arus SearahTester 20 kV
Untuk memeriksa adanya tegangan pada kabel masuk / keluar kubikel

Gambar 2. 38 Tester Tegangan Tingi

Test Keserempakan Kontak Alat Hubung


Alatnya disebut Breaker Analizer , yaitu untuk mengukur waktu
pembukaan atau penutupan Kontak ketiga fasa Alat Hubung.

Gambar 2. 39 Breaker Analizer

126
2.15.4. Test Tegangan Tembus ( Dielectricum Test )
Untuk menguji tegangan tembus minyak isolasi bagi PMT atau LBS yang
menggunakan media peredam berupa minyak. Kemampuan Alat Test minimal
sampai 60 kV arus searah dengan arus minimal 1 mA

Gambar 2. 40 Test Tegangan Tembus

Alat ukur mekanik .


1. Manometer
Untuk mengukur tekanan Gas SF 6 yang berada didalam tabung Alat
Hubung LBS atau PMT. Dapat dilakukan bila disediakan Klep / pentil dan
indikator penunjuk tekanan tidak ada.

Gambar 2. 41 Manometer

127
BAB III.
TRANSFORMATOR TENAGA
Transformator adalah alat yang
digenakan untuk memindahkan
energi listrik arus bolak balik dari
satu rangkaian ke rangkaian yang
lain dengan prinsip kopel magnetik.
Tegangan yang dihasilkan dapat
lebih besar atau lebih kecil dengan
frekuensi yang sama .

3.1. Prinsip Induksi.


Hukum utama dalam
transformator adalah hukum induksi Gambar 3.2. Arus magnitisasi
faraday. Menurut hukum ini suatu secara grafis dengan
gaya listrik melalui garis lengkung memperhitungkan rugi-rugi besi.
yang tertutup, adalah berbanding
lurus dengan perubahan persatuan Selain hukum Faraday,
waktu dari pada arus induksi atau transformator menggunakan hukum
flux yang dilingkari oleh garis Lorenz seperti terlihat pada gambar
lengkung itu (Lihat gambar 3.1. dan 3.3. berikut ini :
3.2).

Gambar 3.3. Hukum Lorenz

Dasar dari teori transformator


Gambar 3.1. Arus magnitisasi adalah sebagai berikut :
secara grafis tanpa Apabila ada arus listrik bolak-
memperhitungkan rugi-rugi besi. balik yang mengalir mengelilingi
suatu inti besi maka inti besi itu
akan berubah menjadi magnit
(seperti gambar 3.4.) dan apabila
magnit tersebut dikelilingi oleh
suatu belitan maka pada kedua
ujung belitan tersebut akan terjadi
beda tegangan mengelilingi magnit,

128
maka akan timbul gaya gerak listrik
(GGL). Dari prinsip tersebut di atas karena f 1 = f2
dibuat suatu transformator seperti
gambar 3.6. di bawah ini maka

E1 : E2 = N1: N2

E1 N2 = E2 N1

E2 = (N2 / N1) x E1
Dimana ;
E1 = tegangan primer
E2 = tegangan sekunder
Gambar 3.4. Suatu arus listrik N1 = belitan primer
mengelilingi inti besi N2 = belitan sekunder
maka besi itu menjadi
magnit VA primer = VA sekunder
I1 x E1 = I2 x E2
E1 I 2 E
= maka I1 = I2 2
E 2 I1 E1

Dimana ;
I1 = Arus primer
I2 = Arus sekunder
E1 = tegangan primer
Gambar 3.5. Suatu lilitan E2 = tegangan sekunder
Rumus umum menjadi :
E1 N1 I 2
a= = =
E 2 N 2 I1

Bagian-bagian Transformator
Transformator terdiri dari :

Bagian Utama.
Inti besi berfungsi untuk
mempermudah jalan fluksi, yang
Gambar 3.6. Prinsip Dasar dari ditimbulkan oleh arus listrik yang
Transformator. melalui kumparan. Dibuat dari
lempengan-lempengan besi tipis
Rumus tegangan adalah: yang berisolasi, untuk mengurangi
E1 =4,44 N1 f 1.Ø max10 – 8 panas (sebagai rugi-rugi besi) yang
Maka untuk transformator rumus ditimbulkan oleh Eddy Current
tersebut sebagai berikut: (gambar 3.7).
E1 =4,44 N1 f 1.Ø max10 – 8
E2 = 4,44 N2 f2 Ø max 10 - 8

129
Gambar 3.7. Inti Besi dan Laminasi yang diikat Fiber Glass

3.2. Kumparan Transformator terhadap inti besi maupun terhadap


antar kumparan dengan isolasi
Kumparan transformator adalah padat seperti karton, pertinak dan
beberapa lilitan kawat berisolasi lain-lain. Kumparan tersebut
yang membentuk suatu kumparan. sebagai alat transformasi tegangan
Kumparan tersebut terdiri dari dan arus.
kumparan primer dan kumparan
sekunder yang diisolasi baik

Gambar 3.8. Kumparan Phasa RST

130
3.3. Minyak Transformator mengetahui apakah suatu minyak
transformator memiliki ketahanan
Minyak transformator merupa- listrik yang memahami persyaratan
kan salah satu bahan isolasi cair yang berlaku .
yang dipergunakan sebagai isolasi Secara analisa kimia
dan pendingin pada transformator. ketahanan listrik suatu minyak
Sebahagian bahan isolasi minyak transformator dapat menurun akibat
harus memiliki kemampuan untuk adanya pengaruh asam dan
menahan tegangan tembus, pengaruh tercampurnya minyak
sedangkan sebagai pendingin dengan air. Untuk menetralisir
minyak transformator harus mampu keasaman suatu minyak
meredam panas yang ditimbulkan, transformator dapat mengunakan
sehingga dengan kedua potas hidroksida(KOH). Sedangkan
kemampuan ini maka minyak untuk menghilangkan kandungan
diharapkan akan mampu air yang terdapat dalam minyak
melindungi transformator dari tersebut yaitu dengan cara
gangguan. memberikan suatu bahan
Minyak transformator mempu- higroskopis yaitu selikagel.
nyai unsur atau senyawa Dalam menyalurkan perannya
hidrokarbon yang terkandung sebagai pendingin, kekentalan
dalam minyak transformator ini minyak transformator ini tidak
adalah senyawa hidrokarbon boleh terlalu tinggi agar mudah
parafinik, senyawa hidrokarbon bersikulasi, dengan demikian
naftenik dan senyawa hidrokarbon proses pendinginan dapat
aromatik. Selain ketiga senyawa berlangsung dengan baik.
diatas minyak transformator masih Kekentalan relatif minyak
mengandung senyawa yang disebut transformator tidak boleh lebih dari
zat aditif meskpun kandungan nya 4,2 pada suhu 200 C dan 1,8 dan
sangat kecil . 1,85 dan maksimum 2 pada suhu
50 0 C . Hal ini sesuai dengan sifat
Minyak transformator adalah minyak transformator yakni
cairan yang dihasilkan dari proses semakin lama dan berat operasi
pemurnian minyak mentah. Selain suatu minyak transformator, maka
itu minyak ini juga berasal dari minyak akan akan semakin kental .
bahan bahan organik, misalnya Bila kekentalan minyak tinggi
minyak piranol dan silikon, berapa maka sulit untuk bersikulasi
jenis minyak transformator yang sehingga akan menyulitkan proses
sering dijumpai dilapangan adalah pendinginan transformator.
minyak transformator jenis Diala A, Sebagai bahan isolasi minyak
diala B dan Mectrans. transformator memiliki beberapa
Kenaikan suhu pada kekentalan, hal ini sebagai mana
transformator akan menyebabkan dijelaskna dalam SPLN(49-1:1980)
terjadinya proses hidrokarbon pada Adapun persyaratan yang harus
minyak, nilai tegangan tembus dan dipenuhi oleh minyak transformator
kerapatan arus konduksi adalah sebagai berikut:
merupakan beberapa indikator
atau variable yang digunakan untuk

131
1. Kejernihan 9. Kandungan air .
Kejernihan minyak isolasi tidak Adanya air dalam dalam isolasi
boleh mengandung suspensi menyebabkan menurunnya
atau endapan (sedimen) tegangan tembus dan tahanan
2. Massa jenis. jenis minyak isolasi akan
Massa jenis dibatasi agar air mempercepat kerusakan kertas
dapat terpisah dari minyak pengisolasi.
isolasi dan tidak melayang
3. Viskositas Kinematika 3.4. Bushing.
Viskositas memegang peranan
penting dalam pendinginan, Hubungan antara kumparan
yakni untuk menentukan kelas transformator dan ke jaringan luar
minyak. melalui sebuah bussing yaitu
4. Titik Nyala . sebuah konduktor yang diselubungi
Titik nyala yang rendah oleh isolator yang kontrutruksinya
menunjukkan adanya dapat dilihat pada gambar 3.9.
konstaminasi zat gabar yang Bushing sekaligus berfungsi
mudah terbakar sebagai penyekat antara konduktor
5. Titik Tuang. tersebut dengan tangki
Titik tuang dipakai untuk transformator.
mengidentifikasi dan menentu-
kan jenis peralatan yang akan
menggunakan minyak isolasi .
6. Angka kenetralan .
Angka kenetralan merupakan
angka yang menunjukkan
penyusutan asam minyak dan
dapat mendeteksi kontaminasi
minyak, menunjukkan
kecendrungan perobahan kimia
atau indikasi perobahan kimia
dalam bahan tambahan .

7. Korosi belerang
Korosi belerang kemungkinan
dihasilkan dari adanya belerang
bebas atau senyawa belerang
yang tidak stabil dalam minyak Gambar 3. 9 Bushing
isolasi .
8. Tegangan tembus Pada bushing dilengkapi fasilitas
Tegangan tembus yang terlalu untuk pengujian kondisi bushing
rendah menunjukkan adanya yang sering disebut center tap.
kontaminasi seperti air, kotoran
atau partikel konduktif dalm 3.5. Tangki Konservator
minyak
Tangki Konservator berfungsi
untuk menampung minyak

132
cadangan dan uap/udara akibat saluran pelepasan dan masukanya
pemanasan trafo karena arus udara kedalam konservator perlu
beban. Diantara tangki dan trafo dilengkapi media penyerap uap air
dipasangkan relai bucholz yang pada udara sering disebut denga
akan meyerap gas produksi akibat silicagel dan dia tidak keluar
kerusakan minyak . mencemari udara disekitarnya.
Untuk menjaga agar minyak Seperti gambar 3.10.
tidak terkontaminasi dengan air,
ujang masuk saluran udara melalui

Gambar 3. 10. konservator minyak trafo

3.6. Peralatan Bantu Pendinginan Pada cara alamiah, pengaliran


Transformator media sebagai akibat adanya
perbedaan suhu media dan untuk
Pada inti besi dan kumparan – mempercepat pendinginan dari
kumpaan akan timbul panas akibat media-media (minyak-udara/gas)
rugi-rugi tembaga. Maka panas dengan cara melengkapi
tersebut mengakibatkan kenaikan transformator dengan sirip-sirip
suhu yang berlebihan, ini akan (radiator). Bila diinginkan
merusak isolasi, maka untuk penyaluran panas yang lebih cepat
mengurangi kenaikan suhu yang lagi, cara manual dapat dilengkapi
berlebihan tersebut transformator dengan peralatan untuk
perlu dilengkapi dengan alat atau mempercepat sirkulasi media
sistem pendingin untuk pendingin dengan pompa pompa
menyalurkan panas keluar sirkulasi minyak, udara dan air,
transformator media yang dipakai cara ini disebut pendingin paksa
pada sistem pendingin dapat (Forsed). Macam macam sistim
berupa: Udara/gas, Minyak dan pendingin transformator dapat
Air. dilihat pada tabel 3.1.

133
Tabel 3.1. Macam-macam sistem pendingin

No Macam MEDIA
sistem Didalam transformator Diluar transformator
pendingin Sirkulasi Sirkulasi Sirkulasi Sirkulasi
alami Paksa alami Paksa
1 AN - - Udara -
2 AF - - - Udara
3 ONAN Minyak - Udara -
4 ONAF Minyak - - Udara
5 OFAN - Minyak Udara -
6 OFAF - Minyak - Udara
7 OFWF - Minyak - air
8 ONAN/ONAF Kombinasi 3 dan 4
9 ONAN/OFAN Kombinasi 3 dan 5
10 ONAN/OFAF Kombinasi 3 dan 6
11 ONAN/OFWF Kombinasi 3 dan 7

Contoh sistim pendinginan transformator dapat dilihat pada gambar 3. 11


dibawah ini ;

Gambar 3. 11 pendingin trafo type ONAF

134
3.7. Tap Changer (On Load Tap perubahan tegangan pada salah
Changer) satu sisi input berubah tetapi sisi
outputnya tetap. Alat ini disebut
Kualitas operasi tenaga listrik sebagai sadapan pengatur
jika tegangannya nominal sesuai tegangan tanpa terjadi pemutusan
ketentuan, tapi pada saat operasi beban maka disebut On Load Tap
terjadi penurunan tegangan Cahnger (OLTC). Pada umumnya
sehingga kualitasnya menurun OLTC tersambung pada sisi primer
untuk itu perlu alat pengatur dan jumlahnya tergantung pada
tegangan agar tegangan selau perancang dan perubahan sistem
pada kondisi terbaik, konstan dan tegangan pada jaringan, yang
kontinyu. Untuk itu trafo dirancang kontruksinya dapat dilihat pada
sedemikian rupa sehingga gambar 3.12 .

Saklar pengubah
(driverter switch)

Tap pemilih
(selector switch)

Gambar 3.12 : On Load Tap Changer (OLTC)

3.8. Alat pernapasan ditampung pada tangki yang sering


(Dehydrating Breather) disebut sebagai konservator. Pada
konservator ini permukaan minyak
Sebagai tempat penampungan diusahakan tidak boleh
pemuaian minyak isolasi akibat bersinggungan dengan udara
panas yang timbul maka minyak karena kelembaban udara yang

135
mengandung uap air akan baik panasnya kumparan primer
mengkontaminasi minyak walaupun dan sekunder juga minyak.
prosesnya berlangsung cukup Thermometer ini bekerja atas dasar
lama. air raksa (mercuri/Hg) yang
Untuk mengatasi hal tersebut tersambung dengan tabung
udara yang masuk kedalam tangki pemuaian dan tersambung dengan
konservator pada saat minyak jarum indikator derajat panas.
menjadi dingin diperlukan suatu Beberapa thermometer
media penghisap kelembaban yang dikombinasikan dengan panas dari
digunakan biasanya adalah resistor khusus yang tersambung
silicagel. Kebalikan jika trafo panas dengan tansformator arus, yang
maka pada saat menyusut maka terpasang pada salah satu fasa
akan menghisap udara dari luar (fasa tengah) dengan demikian
masuk kedalam tangki dan untuk penunjukan yang diperoleh adalah
menghindari terkontaminasi oleh relatif terhadap kebenaran dari
kelembaban udara maka diperlukan panas yang terjadi. Gambar
suatu media penghisap kelemba- kontruksi Thermometer dapat dilihat
ban yang digunakan biasanya pada gambar 3.14.
adalah silicagel yang secara khusus
direncang untuk maksud tersebut
diatas. Kontruksi alat pernapasan
transformator dapat dilihat pada
gambar 3.13

Gambar 3. 14 Thermometer

2. Permukaan minyak

Alat ini berfungsi untuk


penunjukan tinggi permukaan
minyak yang ada pada konservator.
Gambar 3.13 Kontruksi alat Ada beberapa jenis penunjukan
pernapasan transformator seperti penunjukan lansung yaitu
dengan cara memasang gelas
3. 9. Indikator-indikator : penduga pada salah satu sisi
konservator sehingga akan mudah
1. Thermometer, mengetahui level minyak.
Sedangkan jenis lain jika
Alat ini berfungsi untuk konservator dirancang sedemikian
mengukur tingkat panas dari trafo rupa dengan melengkapi semacam

136
balon dari bahan elastis dan diisi udara yang masuk kedalam balon
dengan udara biasa dan dilengkapi dalam kondisi kering dan aman.
dengan alat pelindung seperti pada Gambar kontruksi nya dapat dilhat
sistem pernapasan sehingga pada gambar 3.15
pemuan dan penyusutan minyak

Gambar 3.15. Alat ukur penunjukan tinggi permukaan minyak

3.10. Peralatan Proteksi Internal. terhadap ketidaknormalan aliran


minyak yang tinggi yang timbul
1. Relai Bucholz pada waktu transformator terjadi
gangguan serius. Peralatan ini
Penggunaan relai deteksi gas akan menggerakkan kontak trip
(Bucholtz) pada Transformator yang pada umumnya terhubung
terendam minyak yaitu untuk dengan rangkaian trip Pemutus
mengamankan transformator yang Arus dari instalasi transformator
didasarkan pada gangguan tersebut. Ada beberapa jenis relai
Transformator seperti : arcing, buchholtz yang terpasang pada
partial discharge, over heating transformator,
yang umumnya menghasilkan gas. Relai sejenis tapi digunakan
Gas-gas tersebut dikumpulkan untuk mengamankan ruang On
pada ruangan relai dan akan Load Tap Cahnger (OLTC) dengan
mengerjakan kontak-kontak alarm. prinsip kerja yang sama sering
Relai deteksi gas juga terdiri disebut dengan Relai Jansen.
dari suatu peralatan yang tanggap Terdapat beberapa jenis antara lain

137
sema seperti relai buhcoltz tetapi Relai ini bekerja karena
tidak ada kontrol gas, jenis tekanan tekanan lebih akibat gangguan
ada yang menggunakan didalam transformator, karena
membran/selaput timah yang lentur tekanan melebihi kemampuan
sehingga bila terjadi perubahan membran yang terpasang, maka
tekanan kerena gangguan akan mamran akan pecah dan minyak
berkerja, disini tidak ada alarm akan akan keluar dari dalam
tetapi langsung trip dan dengan transformator yang disebabkan oleh
prinsip yang sama hanya tekanan minyak
menggunakan pengaman tekanan
atau saklar tekanan. Gambar 3. Relai tekanan lebih (Sudden
kontruksi Relai Bucholz seperti Pressure Relay)
gambar 3.16.
Suatu flash over atau hubung
singkat yang timbul pada suatu
transformator terendam minyak,
umumnya akan berkaitan dengan
suatu tekanan lebih didalam tangki,
karena gas yang dibentuk oleh
decomposisi dan evaporasi minyak.
Dengan melengkapi sebuah
pelepasan tekanan pada trafo maka
tekanan lebih yang membahayakan
tangki trafo dapat dibatasi
besarnya. Apabila tekanan lebih ini
Gambar 3.16. Relai Bucholz tidak dapat dieliminasi dalam waktu
beberapa millidetik, tangki trafo
2. Jansen membran akan meledak dan terjadi panas
lebih pada cairan, konsekuensinya
Alat ini berfungsi untuk
pada dasarnya harus memberikan
Pengaman tekanan lebih (Explosive
suatu peralatan pengaman.
Membrane) / Bursting Plate yang
Peralatan pengaman harus cepat
kontruksinya seperti gambar 3.17.
bekerja mengevakuasi tekanan
tersebut. Gambar kontruksi relai
tekanan lebih dapat dilihat pada
gambar 3.18.

4. Relai pengaman tangki


Relai bekerja sebagai
pengaman jika terjadi arus mengalir
tangki akibat gangguan fasa ke
tangki atau dari instalasi bantu
seperti motor kipas, srkulasi dan
motor-motor bantu yang lain,
pemanas dll. Arus ini sebagai
pengganti relai diferensial sebab
Gambar 3.17. Jansen membran sistim relai pengaman tangki
138
biasanya dipasang pada trafo yang primer dan biasanya pada trafo
tidak dilengkapi trafo arus disisi dengan kapasitas kecil.

Pipa penghubung

Konservator

Tutup tangki

Tangki

Gambar3.18. Relai tekanan lebih

Trafo dipasang diatas isolator


sehingga tidak terhubung ke tanah
kemudian dengan menggunakan
kabel pentanahan yang dilewatkan
melali trafo arus dengan tingkat
isolasi dan ratio yang kecil
kemudian tersambung pada relai
tangki tanah dengan ratio Trafo
arus antara 300 s/d 500 dengan sisi
sekunder hanya 1 Amp.

Gambar 3.19 : Rureele Sudden


pressure

5. Neutral Grounding Resistance

Neutral Grounding Resistance


Adalah tahanan yang dipasang
antara titik neutral trafo dengan
pentanahan dimana berfungsi untuk
memperkecil arus gangguan yang
terjadi sehingga diperlukan proteksi
yang praktis dan tidak terlalu mahal
karena karakteristik relai
dipengaruhi oleh sistem
pentanahan titik netral.

139
Gambar 3.20. Neutral Grounding Resistance (NGR)

Neutral Grounding Resistance Untuk memperoleh nilai Resistance


atau Resistance Pentanahan Trafo, yang diinginkan ditambahkan
yaitu resistance yang dipasang garam KOH .
pada titik neutral trafo yang Resistance Logam, yaitu bahannya
dihubungkan Y ( bintang ). NGR terbuat dari logam nekelin dan
biasanya dipasang pada titik netral dibuat dalam panel dengan nilai
trafo 70 kV atau 20 kV, sedangkan resistance yang sudah ditentukan.
pada titik neutral trafo 150 kV dan Cara pengkuran resistansi
500 kV digrounding langsung (solid) pentanahan transformator dapat
dilihat pada gambar 3.21.
NILAI NGR Sedangkan gambar Perlengkapan
Tegangan 70 kV 40 Ohm Transformator dapat dilihat pada
Tegangan 20 kV 12 Ohm,40 Ohm, gambar 3 22 .
200 Ohm dan 500 Ohm

Jenis Neutral Grounding


Resistance

Resistance Liquit ( Air ), yaitu


bahan resistance adalah air murni .

140
Gambar 3.21. Pengukuran Neutral Grounding Resistance

141
KONSERVATOR

KLEM

BUCHOLTZ RELAI
BUSHING
JANSEN RELAI

RADIATOR
TERMOMETER

SILICAGEL OLTC
MEKANIK OLTC
KIPAS PENDINGIN

KONTROL BOX SILICAGEL

Gambar 3.22 Perlengkapan Transformator

3.11. Peralatan Tambahan untuk sumber DC yang tidak ada serta


Pengaman Transformator. kerusakan sistim pengawatan ..
Sistem pemadam kebakaran
1. Pemadam kebakaran yang modern yaitu dengan sistem
(transformator - transformator mengurangi minyak secara
besar ) otomatis sehingga terdapat ruang
yang mana secara paksa gas
Sistem pemadam kebakaran pemisah oksigen diudara
yang modern pada transformator dimasukan kedalam ruang yang
saat sekarang sudah sangat sudah tidak ada minyaknya
diperlukan. Fungsi yang penting sehingga tidak ada pembakaran
untuk mencegah terbakarnya trafo. minyak, sehingga kerusakan yang
Penyebab trafo terbakar adalah lebih parah dapat dihindarkan,
karena gangguan hubung singkat walaupun kondisi trafo menjadi
pada sisi sekunder sehingga pada rusak. Gambar aliran minyak
trafo akan mengalir arus pendingin trafo dapat dilihat pada
maksimumnya. Jika prose tersebut gambar 3.23.
berlangsung cukup lama karena Proses pembuangan minyak
relai tidak beroperasi dan tidak secara grafitasi atau dengan
beroperasinya relai juga sebagai menggunakan motor pompa DC
akibat salah menyetel waktu adalah suatu kondisi yang sangat
pembukaan PMT, relai rusak, dan berisiko sebab hanya
142
menggunakan katup otomatis yang
dikendalikan oleh pemicu dari
saklar akibat panasnya api dan
menutupnya katup otomatis pada
katup pipa minyak penghubung
tanki (konservator) ke dalam trafo
(sebelum relai bucholz) serta
adanya gas pemisah oksigen ( gas
nitrogen yang bertekanan tinggi)
diisikan melaui pipa yang
disambung pada bagian bawah
trafo kemudian akan menuju
keruang yang tidak terisi minyak.
Dengan demikian mencegah
terbakarnya minyak didalam trafo
dapat dihindarkan. Gambar Gambar 3 24 alat pemadam
kontruksi alat pemadam kebakaran kebakaran tranformator
dapat dilihat pada gambar 3.24.
2. Thermometer pengukur
langsung.

Thermometer pengukur langsung


banyak digunakan pada instalasi
tegangan tinggi/Gardu Induk ,
seperti pada ruang kontrol, ruang
relai, ruang PLC dll. Suhu ruangan
dicatat secara periodik pada
formulir yang telah disiapkan
(contoh formulir terlampir) dan
dievaluasi sebagai bahan laporan.

3. Thermometer pengukur tidak


langsung
Termometer pengukur tidak
Gambar 3.23 Aliran minyak langsung banyak digunakan pada
pendingin trafo instalasi tegangan tinggi/
transformator yang berfungsi untuk
mengetahui perubahan suhu
minyak maupun belitran
transformator. Suhu minyak dan
belitan trafo dicatat secara periodik
pada formulir yang telah disiapkan
(contoh formulir terlampir) dan
dievaluasi sebagai laporan. Skema
peralatan ukur dimaksud dapat
dilihat pada gambar 3.25 dibawah
ini.
143
Keterangan :
1. Trafo arus
2. Sensor suhu
3. Heater
4. Thermometer Winding
5. Thermometer oil

gambar 3.25 Skema peralatan pengukuran tidak langsung

3.12. Relai Proteksi trafo dan terhadap gangguan hubung singkat


fungsinya . antar fasa didalam maupun diluar
daerah pengaman transformator
Jenis relai proteksi pada trafo Juga diharapkan relai ini
tenaga adalah sebagai berikut : mempunyai sifat komplementer
dengan relai beban lebih. relai ini
1. Relai arus lebih (over current berfungsi pula sebagai pengaman
relay) cadangan bagi bagian instalasi
lainnya.bentuk relai ini dapat dilhat
Relai ini berfungsi untuk pada gambar 3.26.dan gambar 3.27
mengamankan transformator

indikator

reset

Gambar 3.26: Relai arus lebih dan hubung tanah


(OCR/GFR)

144
+
CT

OCR
Tripping coil

PMT IND AU
beban X

Gambar 3.27: sistem pengawatan OCR.

2. Relai Difrensial yang terjadi didalam daerah


Relai ini berfungsi untuk pengaman transformator dapat
mengamankan transformator dilhat pada gambar 3.28 a.dan
terhadap gangguan hubung singkat gambar 3.28.b
.

Gambar 3,28 a: Diagram relai Gambar 2.28.b: Relai differensial,


differensial REF dan SBEF

3. Relai gangguan tanah terbatas pengaman transformator khususnya


(Restricted Earth fault Relay ) untuk gangguan didekat titik netral
yang tidak dapat dirasakan oleh
Relai ini berfungsi untuk relai differensial dapat dilhat pada
mengamankan transformator gambar 3.29
terhadap tanah didalam daerah

145
x
87N
87N

Gambar 3.29: single line diagram relai differensial dan REF

Gambar 3.30. Restristant earth foult detector

146
4. Relai arus lebih berarah Relai ini terpasang pada jaringan
Directional over current Relai tegangan tinggi, tegangan
atau yang lebih dikenal dengan menengah juga pada pengaman
Relai arus lebih yang mempunyai transformator tenaga dan berfungsi
arah tertentu merupakan Relai untuk mengamankan peralatan
Pengaman yang bekerja karena listrik akibat adanya gangguan
adanya besaran arus dan tegangan phasa-phasa maupun Phasa
yang dapat membedakan arah arus ketanah.
gangguan.
Bus 20 KV

Trippin PT
g

-
ZC +
67 G

Gambar 3.31: Diagram Situasi Pemasangan Relai 67 G

Relai ini mempunyai 2 buah


parameter ukur yaitu tegangan dan Untuk membedakan arah
arus yang masuk ke dalam relai tersebut maka salah satu phasa
untuk membedakan arah arus ke dari arus harus dibandingakan
depan atau arah arus ke belakang. dengan Tegangan pada phasa
Pada pentanahan titik netral trafo yang lain.
dengan menggunakan tahanan,
relai ini dipasang pada penyulang 5. Relai connections
20 KV. Bekerjanya relai ini
berdasarkan adanya sumber arus Adalah sudut perbedaan antara
dari ZCT (Zero Current arus dengan tegangan masukan
Transformer) dan sumber tegangan relai pada power faktor satu.
dari PT (Potential Transformers). Relai maximum torque angle
Sumber tegangan PT umumnya Adalah perbedaan sudut antara
menggunakan rangkaian Open- arus dengan tegangan pada relai
Delta, tetapi tidak menutup yang menghasilkan torsi
kemungkinan ada yang maksimum.
menggunakan koneksi langsung 3
Phasa.

147
Gambar 3. 32. Relai arus lebih berarah.

melalui rangkaian trafo arus


6. Relai gangguan tanah . penghantar (Iop = 3Io) sedangkan
Relai ini berfungsi untuk polarising signal diperoleh dari
mengamankan transformator tegangan residual.
gangguan hubung tanah, didalam Tegangan residual dapat
dan diluar daerah pengaman diperoleh dari rangkaian sekunder
transformator. Relai arah hubung open delta trafo tegangan seperti
tanah memerlukan operating signal pada Gambar 3.32
dan polarising signal. Operating
signal diperoleh dari arus residual

148
B

........
.......

VRES

Gambar 3.33: Rangkaian open delta trafo tegangan

Gambar 3.33. Relai gangguan tanah

6. Relai tangki tanah tangki atau dari instalasi bantu


seperti motor kipas, sirkulasi dan
Relai ini berfungsi untuk motor-motor bantu, pemanas dll.
mengamankan transformator Pengaman arus ini sebagai
terhadap hubung singkat antara pengganti relai diferensial sebab
kumparan fasa dengan tangki sistim relai pengaman tangki
transformator dan transformator biasanya dipasang pada trafo yang
yang titk netralnya ditanahkan. tidak dilengkapi trafo arus disisi
Relai bekerja sebagai primer dan biasanya pada trafo
pengaman jika terjadi arus mengalir dengan kapasitas kecil. Trafo
dari tangki akibat gangguan fasa ke dipasang diatas isolator sehingga

149
tidak terhubung ke tanah kemudian kemudian tersambung pada relai
dengan menggunakan kabel tangki tanah dengan ratio Trafo
pentanahan yang dilewatkan Arus(CT) antara 300 s/d 500
melalui trafo arus dengan tingkat dengan sisi sekunder hanya 1 Amp.
isolasi dan ratio yang kecil

Gambar 3.34 : relai hubung tanah pada trafo

3.13, Announciator Sistem Kumpulan indikator-indikator


Instalasi Tegangan Tinggi. tersebut biasanya disebut sebagai
announciator.
Annunciator adalah indikator
kejadian pada saat terjadi ketidak Announciator yang terlengkap
normalan pada sistem instalasi pada saat sekarang adalah pada
tegangan tinggi, baik secara instalasi gardu induk SF6, sebab
individu maupun secara bersama. pada system GIS banyak sekali
Annunciator terjadi bersamaan kondisi yang perlu di pantau seperti
dengan relai yang bekerja akibat tekanan gas, kelembaban gas SF6
sesuatu yang terjadi ketidak disetiap kompartemen, posisi
normalan pada peralatan tersebut. kontak PMT, PMS baik PMS line,
Annunciator biasanya berbentuk PMS Rel maupun PMS tanah dll.
petunjuk tulisan yang pada kondisi Untuk itu pembahasan tentang
normal tidak ada penunjukan, bila annunciator akan diambil dari
terjadi ketidaknormalan maka sistem annunciatornya gardu induk
lampu didalam indikator tersebut SF6. seperti. Annunciator pada bay
menyala sesuai dengan kondisi penghantar (SUTT maupun SKTT),
sistem pada saat tersebut. Transformator dan Koppel.

150
Pemasangan lampu indikator pada transformator dapat dilihat pada gambar
3.20 .

33L

43L

31L 32L 41L 42L


Q21
31T 32T
41T 42T

T
51L 52L

63L 51T 52T


61L 62L
61T 62T
Q5 21L 23L 24L 25L
22L 26L 27L
83L
T

71T 72T
72L
71L Q3
81L 82L
Q2
81T 82T

92L 91T 92T

91L Q3

28L

29L 21C 21T

Gambar 3.35. Pemasangan lampu indikator pada transformator

151
Indikator berupa lampu dapat dilihat pada table 3.2
Tabel 3.2 Indikator berupa lampu
Kode
21LA Pasokan Pemanas gagal/trip.
22LA Pasokan Motor PMT gagal/trip.
23LA Pasokan Motor PMS dan PMS Tanah gagal/trip.
24LA Pasokan rangkaian trip 1 gagal/trip
25LA Pasokan rangkaian trip 2 gagal/trip
26LA Pasokan saklar control PMS dan PMS tanah
gagal/trip
27LA Pasokan untuk signaling gagal/trip.
28LA Posisi control remote.
29LA Posisi control Lokal.
31LA Posisi PMS Q21 Membuka/Open.
32LA Posisi PMS Q21 menutup /Close
33LA Tekanan gas SF6 pada kompartemen G1 gangguan.

Kode Indikator
41LA Posisi PMS Q22 terbuka/open
42LA Posisi PMS Q22 menutup/close..
43LA Tekanan gas SF6 pada kompartemen G2 gangguan.
51LA Posisi PMS TANAH Q35 terbuka/open
52LA Posisi PMS TANAH Q35 menutup/close..
61LA Posisi PMT Q50 terbuka/open
62LA Posisi PMT Q50 menutup/close..
63LA Tekanan gas SF6 pada kompartemen G0 gangguan
71LA Posisi PMS TANAH Q30 terbuka/open
72LA Posisi PMS TANAH Q30 menutup/close..
73LA Tekanan gas SF6 pada kompartemen G5 gangguan
(ada PT)
81LA Posisi PMS LINE Q28 terbuka/open
82LA Posisi PMS LINE Q28 menutup/close..
83LA Tekanan gas SF6 pada kompartemen G9 gangguan
91LA Posisi PMS TANAH Q38 terbuka/open
92LA Posisi PMS TANAH Q38 menutup/close..

Bentuk dan kode saklar dan saklar tekan (push button)


Kode Indikator
21CV Kunci selektor switch untuk kontrol lokal dan remote.
21TO Saklar tekan (on/off) untuk mengecek lampu pada
panel kontrol
31TO Saklar tekan untuk menutup PMS REL Q21.
32TO Saklar tekan untuk membuka PMS REL Q21.
41TO Saklar tekan untuk menutup PMS REL Q22.

152
42TO Saklar tekan untuk membuka PMS REL Q22.
51TO Saklar tekan untuk menutup PMS TANAH Q35.
52TO Saklar tekan untuk membuka PMS TANAH Q35.
61TO Saklar tekan untuk menutup PMT Q50.
62TO Saklar tekan untuk membuka PMT Q50.
71TO Saklar tekan untuk menutup PMS TANAH Q30.
72TO Saklar tekan untuk membuka PMS TANAH Q30.
81TO Saklar tekan untuk menutup PMS LINE Q28.
82TO Saklar tekan untuk membuka PMS LINE Q28.
91TO Saklar tekan untuk menutup PMS TANAH Q38.
92TO Saklar tekan untuk membuka PMS TANAH Q38.

3.14. Parameter/pengukuran transformator.


Parameter/pengukuran transformator dapat dilihat pada tabel 3.3

Tabel 3.3 Parameter/pengukuran transformator


Indikasi keterangan
Oil level transformer Indikasi ini menunjukan bahwa minyak
low alarm transformator yang ada di dalam tangki trafo
berkurang, sehingga alat ukur permukaan
minyak (level ) mengerjakan kontak dan
mengirim alarm ke panel kontral ,dan di
panel kontrol muncul sinyal oil level
transformer low alarm serta membunyikan
bel(kontak penggerak untuk memberikan
sinyal dan alarm bekerja ).
Oil level OLTC low alarm Indikasi ini menunjukan bahwa minyak yang
ada di dalam tangki tap changer berkurang,
sehingga alat ukur permukaan minyak (level)
mengerjakan kontak dan mengirim alarem ke
panel kontral ,dan di panel kontrol muncul
sinyal oil level OLTC low alarm serta
membunyikan bel ( kontak penggerak untuk
memberikan sinyal dan alarm bekerja ).
Bucholtz Alarm Indikasi ini menunjukan bahwa kontak relai
Bucholtz untuk Alarm bekerja (kontak relai
bucholtz ada dua ,satu alarm dan yang
satunya trip). Bekerjanya disebabkan
beberapa kejadian yaitu : Jika didalam trafo
ada gas yang disebabkan oleh adanya panas
lebih sehingga terjadi gelembung-gelembung
gas yang terakumulasi sampai nilai tertentu
(300 -350 Cm3 ).Gas tersebut menekan
pelampung untuk kontak alarm, dan mengirim
sinyal ke panel kontrol dan dipanel timbul
sinyal Bucholtz alarm dan bel berbunyi .

153
Jika didalam trafo terjadi partial discharge
pada isolasi, maka akan terjadi gelembung
gas (seperti diatas ) maka timbul Bucholtz
alarm dan bel berbunyi.
Jika minyak didalam trafo bocor sehingga
sampai tingkat permukaan relai bucholtz,
maka apabila pelampung atas sudah tidak
terendam minyak, maka kontak bucholtz
alarm akan tertutup dan memberikan sinyal
bucholtz alarm dan bel berbunyi.
Winding temperature Winding primer
alarm Indikasi ini menunjukan bahwa suhu
(temperature ) kumparan primer panas
melebihi setting alarm termometer (misalnya
85 °C) dan sushu trafo mencapai 85 ° C,
maka kontgak alarm pada termometer
(termostat) akan tertutup dan mengirim sinyal
alarem ke panel kontrol winding primer alarm
serta bel berbunyi.
Winding sekunder
Indikasi ini menunjukan bahwa suhu
(temperature) kumparan primer panas
melebihi setting alarm termometer (misalnya
85 °C) dan sushu trafo mencapai 85 ° C
,maka kontgak alarm pada termometer
(termostat) akan tertutup dan mengirim sinyal
alarm ke panel kontrol winding sekunder
alarm serta bel berbunyi.
Winding temperature Winding primer
alarm Indikasi ini menunjukan bahwa suhu
(temperature ) kumparan primer panas
melebihi setting alarm termometer (misalnya
85°C) dan suhu trafo mencapai 85° C ,maka
kontak alarm pada termometer ( termostat)
akan tertutup dan mengirim sinyal alarm ke
panel kontrol winding primer alarm serta bel
berbunyi.
Winding sekunder
Indikasi ini menunjukan bahwa suhu
(temperature) kumparan primer panas
melebihi setting alarm termometer (misalnya
85°C) dan sushu trafo mencapai 85° C, maka
kontak alarm pada termometer (termostat)
akan tertutup dan mengirim sinyal alarem ke
panel kontrol winding sekunder alarm serta
bel berbunyi.

154
OLTC voltage regulator Pengaturan setting tegangan pada peralatan
alarm regulator tidak sesuai dengan tegangan yang
diminta ,maka relai regulator tegangan aklan
memberikan sinyal ke panel kontrol dan
memberi sinyal OLTC voltage regulator alarm
serta bel berbunyi.

Transformer cooling Indikasi ini menunjukan bahwa sistem


fault alarem pendingin (kipas atau pompa minyak sirkulasi
ada gangguan) yaitu :
saklar termis untuk pasokan motor kipas
pendingin trip (lepas) sehingga motor tidak
berputar dan saklar termis tersebut kontak
bantunya tertutup dan memberikan sinyal ke
panel kontrol Transformer cooling fault
alarem dan bel berbunyi.
Pompa sirkulasi minyak tidak berputar/bekerja
saklar termis untuk pasokan motor pompa
minyak pendingin trip (lepas) sehingga motor
tidak berputar dan saklar termis tersebut
kontak bantunya menutup dan memberikan
sinyal ke panel kontrol Transformer cooling
fault alarm dan bel berbunyi.
Marshalling kios fault Indikasi tersebut menunjukan terjadi gangguan
alarem sumber arus bolak-balik 220/380 V, yaitu
saklar sumber tegangan AC 220/380 V trip,
sehingga bay tersebut tidak ada pasokan AC,
dan saklar tersebut kontak bantunya menutup
dan mengirim sinyal gangguan ke panel
kontrol sehingga timbul sinyal Marshalling
kios fault alarem dan bel berbunyi.
Fire protection out of Indikasi ini menunjukan bahwa sistem
service alarem pemadam api transformator tidak siap bekerja
(out of service), yaitu akibat saklar DC 110 V
sumber pasokan untuk sistem instalasi
pemadam api trip (tidak masuk), sehingga
kontak bantunya menutup dan megirim sinyal
ke panel kontrol dengan indikasi Fire
protection out of service alarem dan bel
berbunyi.
Bucholtz trip a. Indikasi ini menunjukan bahwa relai
bucholtz bekerja menjatuhkan PMT (trip)
yang disebabkan oleh :gangguan yang
serius atau hubung singkat lilitan
trafo/kumparan trafo sehingga terjadi
penguraian minyak dan bahan isolasi lain
serta menimbulkan gas dan aliran minyak

155
dari trafo ke relai bucholtz, sehingga
kontak relai bekerja mengirim sinyal trip ke
PMT primer dan sekunder, memberi- kan
sinyal alarm bucholtz trip dan membunyi-
kan bel.
b. Gangguan minyak trafo bocor sehingga
terjadi penurunan permukaan minyak
sampai level yang minimum (sebelumnya
terjadi alarm bucholtz) ,sehingga kontak
relai bekerja mengirim sinyal trip ke PMT
primer dan sekunder,memberikan sinyal
alarm bucholtz trip dan bel berbunyi.
c. Terjadi gangguan alam ,misalnya gempa
bumi yang besar ,sehingga terjadi
goncangan minyak didalam terfo maupun
relai bucholtz,dan kontak relai menutup
memberikan sinyal trip PMT primer dan
sekunder dan sinyal bucholtz trip bel atau
klakson bunyi.
Oil temperature trip Indikasi ini menunjukan bahwa minyak trafo
panas yang melebihi setting pengaman
temperatur, sehingga kontak termometer
untuk trip menutup memberikan sinyal untuk
menjatuhkan PMT primer dan sekunder dan
mengirim sinyal ke panel kontrol bucholtz trip
dan bel bunyi
winding temperature trip Indikasi ini menunjukan bahwa winding atau
kumparan trafo panas yang melebihi setting
pengaman temperatur, sehingga kontak
termometer untuk trip menutup memberikan
sinyal guna menjatuhkan PMT primer dan
sekunder dan mengirim sinyal ke panel
kontrol bucholtz trip dan bel bunyi.
Protection device OLTC Indikasi ini menunjukan relai Jansen dan atau
trip pengaman OLTC bekerja , akibat terjadi
breakdown isolasi pada wadah tap changer
atau ketidaknormalan operasi tap changer
atau terjadi tahanan pengalih putus , maka
akan memberikan sinyal trip PMT primer dan
sekunder dan sinyal ke panel protection
device OLTC trip dan bel/klakson bunyi.
Pressure relief device Indikasi ini menunjukan terjadi gangguan
transformer trip didalam trafo ,misalnya hubung singkat lilitan
/kumparan sehingga terjadi tekanan hidraulik
di dalam trafo. Tekanan ini didistribusikan ke
semua arah didalam trafo yang akan
mendorong dinding trafo, jika tekanan yang

156
terjadi melebihi kemampuan gaya dorong
relai sudden pressure ( misalnya 10 psi)
maka katup piringan akan terdorong dan
mengerjakan limit switch relai, memberikan
sinyal trip ke PMT primer dan sekunder ,
serta sinyal ke panel kontrol pressure relief
device dan bel/klakson bunyi
Fire protection operated Indikasi menunjukan ada gangguan fire
trip protection trafo bekerja, yaitu indikasi ada
kebakaran trafo,dan PMT trafo trip, bucholtz
bekerja, fire detector bekerja ,maka
pemadam api memberikan sinyal untuk
mengerjakan sistem pemadam api bekerja
yaitu membuang sebagian permukaan
minyak, kurang lebih 15 cm dari deksel atas,
menutup shutter,memasukan nitrogen
bertekanan dan mengaduk minyak didalam
tangki trafo, yang akhirnya api yang berkobar
dapat padam.dan mengirim sinyal ke panel
kontrol pemadam atau panel kontrol fire
protection operated bel bunyi.
Circuit breaker 20 kV Indikasi ini menunjukan bahwa pada kubikel
open 20 kV ada yang trip, PMT yang trip tersebut
memberikan sinyal ke panel kontrol circuit
breaker 20 kV open bel bunyi.
DC supply failure Indikasi menunjukan ada saklar DC 110 V
panel kontrol atau proteksi pada panel trafo
trip , dan kontak bantu saklar DC tersebut
memberikan sinyal DC supply failure dan bel
berbunyi
Main protection Indikasi ini menunjukan relai utama
operated pengaman trafo (diferensial ) bekerja,
sehingga kontak relai diferensial menutup
dan mengirim sinyal untuk mentripkan PMT
primer dan sekunder serta mengirim sinyal ke
panel kontrol Main protection operated bel
/klakson berbunyi.
Back up protection Indikasi ini menunjukan relai cadangan (back
operated up ) pengaman trafo (OCR,REF,SBEF )
bekerja ,sehingga kontak relai (OCR,REF,
SBEF) menutup dan mengirim sinyal untuk
mentripkan PMT primer dan sekunder serta
mengirim sinyal ke panel kontrol Back up
protection operated bel / klakson berbunyi.
Breaker failure operated Indikasi menunjukan relai breaker failure
bekerja,kontak relai breaker menutup
memberi sinyal trip pada PMT dan PMT yang

157
lain yang satu rel(bus) dan mengirim sinyal
ke panel kontrol Breaker failure operated dan
b el/klakson berbunyi.
Healty trip 1-2 alarem Indikasi menunjukan ada gangguan sistem
pemantau rangkaian trip PMT melihat ada
ketidaknormalan ( coil trip putus,) dan
mengirim alarm ke panel kontrol Healty trip
1-2 alarm dan bel berbunyi
Transformer fault alarem Indikasi menunjukan ada gangguan pada
stage pengaman trafo ( bucholtz,suhu tinggi,
permukaan minyak) dan kontak relai tersebut
mengirim sinyal alarem ke panel kontrol
Transformer fault alarem stage dan bel
berbunyi.
Transformer fault tripping Indikasi menunjukan ada gangguan pada
stage pengaman trafo ( bucholtz, suhu tinggi,
permukaan minyak, jansen, sudden pressure
) dan kontak relai tersebut mengirim sinyal
trip ke PMT primer dan sekunder dan sinyal
ke panel kontrol Transformer fault tripping
stage dan bel berbunyi.
Auto reclose in progress Indikasi menunjukan relai recloser bekerja
pada waktu ada gangguan , kontak relai
memberikan indikasi ke panel kontrol Auto
reclose in progress dan bel/klakson berbunyi.

158
Lampiran : A

DAFTAR PUSTAKA

Bernad Grad ( 2002) Basic Electronic Mc Graw Hill Colage New- York
David E Johnson (2006) Basic Electric Circuit Analisis John Wiley & Sons.Inc
New- York
Diklat PLN Padang . (2007) Transmisi Tenaga Listrik Padang
Diklat PLN Pusat . (2005) Transmisi Tenaga Listrik Jakarta
Fabio Saccomanno (2003) Electric Power System and Control John Wiley &
Sons.Inc New- York
John D. McDonald (2003) Electric Power Substation Engginering CRC Press
London
Jemes A.Momoh (2003) Electric Power System CRC Press London
Luces. M . (1996) Electric Power Distribution and Transmision Prantice Hall
New- York
Oswald (2000) Electric Cables for Pewer Transmision John Wiley & Sons.Inc
New- York
Paul M Anderson (2000) Analisis of Faulted Power System John Wiley &
Sons.Inc New- York
Panagin.R.P ( 2002) Basic Electronic Mc Graw Hill Colage New- York
Stan Stawart (2004) Distributet Swichgear John Wiley & Sons.Inc New- York
Stepen L. Herman (2005) Electrical Transformer John Wiley & Sons.Inc
New- York
Hutauruk (2000)Tranmisi Daya listrik Erlangga Jakarta.

A-1