You are on page 1of 20

MAKALAH SEMINAR I MODUL TROPIK INFEKSI LEPTOSPIROSIS

KELOMPOK 7

030.06.068 030.06.070 030.06.077 030.07.129 030.08.087 030.08.088 030.08.089 030.08.102 030.08.103 030.08.104 030.08.105 030.08.106 030.08.303

Dian puteri pratami Diana yulianti Dwi putri arlina Justicia Andhika Diyana Donna Novita A Edward Wijaya Ferdy Fifi Tandion Fitri Anugrah Fitrisia Rahma Friska Monita Siti Nasirah

JAKARTA, 04 DESEMBER 2009

FAKULTAS KEDOKTERAN BAB I PENDAHULUAN

Leptospirosis adalah penyakit infeksi. Penyakit ini disebabkan oleh leptospira patogenik dan memiliki manifestasi klinis yang luas, bervariasi mulai dari infeksi yang tiak jelas sampai fulminan dan fatal. Pada jenis yang ringan, leptospirosis dapat muncul seperti influenza dengan sakit kepala dan myalgia. Leptospirosis yang berat, ditandai oleh jaundice, disfungsi renal dan diatesis hemoragik, dikenal dengan Weils syndrome.

BAB II LAPORAN KASUS Kasus Seorang pasien datang dengan keluhan kuning seluruh tubuh. Datang dibawa oleh keluarganya ke Unit Gawat Darurat. Pada anamnesis tambahan dikatakan bahwa Pak Sadikin adalah sorang penderita tekanan darah tinggi sejak 5 tahun yang lalu namun minum obatnya tidak teratur. Penyakit kencing manis disangkal. Kurang lebih 4 bulan yang lalu Pak Sadikin mengalami hepatitis A dan pernah dibawa ke rumah sakit juga karena seluruh tubuhnya kuning, namun setelahnya sembuh dan tidak ada keluhan lagi. Pak Sadikin adalah seorang petani, dengan riwayat alkoholisme sejak umur 20 tahun, namun sudah berhenti minum alcohol sejak 5 tahun yang lalu. Temuan baru pada pemeriksaan Pak Sadikin adalah kesadaran somnolen, TD 80/60mmHg, nadi 110x/menit, suhu 38,5C, RR 24x/menit. THT terlihat epistaksis dengan jumlah perdarahan kurang lebih 50-100cc. Anamnesis 1. Identitas Nama : Pak Sadikin Usia JK Alamat : Pekerjaan : Petani : 40 tahun : Laki-Laki

Keluhan Utama : Kuning seluruh badan Riwayat Perjalanan Penyakit Sekarang 9 hari yang lalu menderita demam 2 hari yang lalu : kuning, mual, muntah, lemas, nafsu makan Sekarang : kuning seluruh tubuh

menurun, buang air kecil 1x sehari dengan warna yang pekat

Riwayat Penyakit Dahulu Hipertensi sejak 5 tahun yang lalu, dan tidak teratur minum

obat Hepatitis A 4 bulan yang lalu

Riwayat Kebiasaan Peminum alkohol sejak umur 20 tahun, tetapi berhenti sejak 5 tahun yang lalu

Pemeriksaan fisik Kesadaran Tekanan Darah Nadi Suhu RR Inspeksi


: somnolen penurunan kesadaran : 80/60 mmHg, hipotensi : 110x/menit takikardi : 38,5C febris : 24x/menit takipnoe

Kesadaran Somnolen Kuning seluruh tubuh Sklera Ikterik

2. Palpasi

Akral dingin Nyeri tekan epigastrium Hepatomegali teraba 2 jari dibawah arcus costae

3. Pekusi 4. Auskultasi Normal THT : epistaksis dengan jumlah perdarahan kurang lebih 50-100cc trombositopeni

Pemeriksaan Laboratorium Hb Leukosit Trombosit Hematokrit SGOT SGPT BT B1 B2 17,5 g/dl (normal)

13.000/mm3 (leukositosis) N=5000-10.000 90.000/mm3 (trombositopeni) N=150.000-400.000 54% 98 u/l 121 u/l 3,2 mg/dl 0,8 mg/dl 2,4 mg/dl (normal) N=37 u/l N=42 u/l N=0,3-1 mg/dl (normal) N=0,1-1 mg/dl N=0,2 mg/dl

Ureum dan Kreatinin : 110mg/dL dan 2,1 mg/dL penurunan fungsi ginjal dan penyusutan otot rangka Anti HAV IgG (+) Anti HAV IgM (-) GDS : infeksi hepatitis A terdahulu dan sudah sembuh : saat ini tidak terinfeksi virus hepatitis A : 110mg/dL dalam batas normal

Masalah dan Prioritas Dilihat dari hasil pemeriksaan fisik, pasien ini mengalami penurunan kesadaran dan terjadi perdarahan yang merupakan kumpulan gejala dari systemic inflammatory response syndrome (SIRS), yang harus segera diatasi. Diagnosis kerja Leptospirosis karena gejala yang diderita oleh pasien(demam, mual, muntah, ikterus, hepatomegali), hasil lab, dan faktor resiko yang didapat oleh pasien mengarah kepada leptospirosis. Dari hasil pemeriksaan fisik ,laboratorium dan faktor resiko pekerjaan pasien kami menyimpulkan bahwa pasien ini mengalami leptospirosis berat atau yang dikenal dengan nama penyakit weil. Penyakit, disfungsi paru, dan diatesis perdarahan. Kerusakan vaskular dan disfungsi ginjal dikaitkan dengan timbulnya ikterus setelah 4-9 hari setelah gejala awal penyakit. Penderita dengan ikterus berat lebih mudah terjadi gagal ginjal, perdarahan dan kolap kardiovaskular. Hepatomegali didapatkan

pada kuadran kanan atas. Oliguri atau anuri pada nekrosis tubular akut sering terjadi pada minggu ke dua sehingga terjadi hipovolemi dan menurunya perfusi ginjal. Leptospirosis sering diderita oleh petugas kebersihan, petani, pekerja hewan. Diagnosis banding Penyakit Leptospirosis Malaria Gejala Demam, anoreksia, mual, muntah, ikterus, hepatomegali Demam(37,5C-40C), hepatomegali, splenomegali, hipotensi, nadi cepat dan lemah, RR meningkat, ikterus, kesadaran menurun *Anamnesis : pernah pergi kedaerah endemik malaria ? Hepatitis Kuning, malaise, nyeri tekan, hepatomegali Obstruksi saluran empedu Ikterik Hemolitik Ikterus dibagi menjadi 3, yaitu : 1. Hemolitik : terjadi karena banyak sel darah merah yang dipecah sehingga Bilirubin 1 meningkat dalam darah. Bisa terjadi pada Malaria, defisiensi G6PD, HbS 2. Hepatoselluler : terjadi karena sel hati yang rusak, sehingga Bilirubin 1 banyak yang tidak bisa diubah menjadi Bilirubin 2. Sedangkan Bilirubin 2 mengalami gangguan transpor sehingga Bilirubin 1 dan 2 meningkat di dalam darah. Bisa terjadi pada Hepatitis 3. Obstruksi : terjadi karena saluran keluar tersumbat, sehingga terjadi regurgitasi dan Bilirubin yang akan dikeluarkan mengalami aliran balik sehingga kadar Bilirubin 2 dalam darah meningkat. Demam bisa terjadi karena adanya infeksi yang terus akan menyebabkan peradangan dan akan menimbulkan demam. Oligouri bisa disebabkan oleh : 1. Demam : karena pada saat demam akan banyak cairan yang dibuang melalui kulit sehingga tubuh menahan pengeluaran cairan melalui urin dengan menggunakan hormon Aldosteron di ginjal yang akan menahan Na dan Na akan menahan air. 2. Hipotensi yang akan menyebabkan laju filtrasi menurun dan akan

menyebabkan oligouri Hipotensi terjadi karena cairan yang menurun dan cardiac output yang menurun. Akral dingin terjadi karena perfusi O2 ke jaringan menurun karena hipotensi Respiration rate menurun karena perfusi jaringan menurun Patofisiologi Bakteri masuk melalui permukaan kulit yang terluka, selaput lendir mata dan hidung. Bisa juga melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi masuk aliran darah menyebar ke seluruh tubuh dan mengakibatkan gangguan multi organ, seperti : Ginjal migrasi ke interstitium, tubulus renal, dan tubular lumen nefritis interstitial dan nekrosis tubular hipovolemia karena dehidrasi dan peningkatan permeabilitas kapiler gagal ginjal akut. Hati nekrosis sentrilobular dengan proliferasi sel Kupffer disfunsi hepatocellular hepatomegali dan ikterus. Otot skletal edema vacuolisasi myofibril nekrosis fokal. Vaskular kerusakan endotelium kapiler perdarahan Susunan saraf pusat penurunan kesadaran

Pemeriksaan 1. Pemeriksaan Lab yang Dilakukan 1. Darah tepi 2. Darah rutin 3. Darah lengkap (kadar B1 dan B2) 4. Urinalisa (Harrison test) Tindakan yang Dilakukan

1. Perbaiki keadaan umum dan tanda vital 2. Mencari etiologi setelah menerima hasil lab

Penatalaksanaan Terapi : 1. Simtomatik : antipiretik dan antiemetik 2. Supportif : nutrisi dan cairan yang adekuat 3. Kausatif : terapi yang diberikan setelah etiologi ditemukan Penatalaksana penderita yang paling penting adalah memonitor dengan cermat perubahan klinis karena berpotensi terjadi gangguan kolap kardiovaskular dan syok dapat terjadi secara cepat dan mendadak. Fungsi ginjal harus dievaluasi secara cermat dan diperlukan dialisis pada kasus gagal ginjal. Pada umumnya kerusakan ginjal adalah reversibel jika penderita dapat bertahan dalam fase akut. Penyediaan ventilasi mekanik dan proteksi jalan napas harus tersedia bila terjadi gangguan pernapasan berat. Continuous cardiac monitoring untuk memantau keadaan yang dapat timbul seperti ventricular tachycardia, kontaksi ventrikel prematur premature ventricular contractions, fibrilasi atrial, flutter, dan takikardia.

Prognosis Dubia Ad Malam karena pada kasus ini pasien mengalami leptospirosis tipe berat atu disebut dengan weil disease yang sudah ditandai dengan ikterus.

BAB III

PEMBAHASAN

Definisi 4 Leptospirosis adalah penyakit infeksi. Penyakit ini disebabkan oleh leptospira patogenik dan memiliki manifestasi klinis yang luas, bervariasi mulai dari infeksi yang tiak jelas sampai fulminan dan fatal. Pada jenis yang ringan, leptospirosis dapat muncul seperti influenza dengan sakit kepala dan myalgia. Leptospirosis yang berat, ditandai oleh jaundice, disfungsi renal dan diatesis hemoragik, dikenal dengan Weils syndrome. Epidemiologi 6 Leptospirosis adalah zoonosis penting dengan penyebaran luas yang mempengaruhi sedikitnya 160 spesies mamalia. Tikus, adalah reservoir yang paling penting, walaupun mamalia liar yang lain yang sama dengan hewan peliharaan dan domestic dapat juga membawa mikroorganisme ini. Leptospira meningkatkan hubungan simbiosis dengan hostnya dan dapat menetap pada tubulus renal selama beberapa tahun. Transmisi leptospira dapat terjadi melalui kontak langsung dengan urin, darah, atau jaringan dari hewan yang terinfeksi atau paparan pada lingkungan; transmisi antar manusia jarang terjadi. Karena leptospira diekresikan melalui urin dan dapat bertahan dalam air selama beberapa bulan, air adalah sarana penting dalam transmisinya. Epidemik leptospirosis dapat terjadi melalui paparan air tergenang yang terkontaminasi Etiologi 4, 7 Leptospira adalah spirochaeta yang berasal dari famili Leptospiraceae. Genus Leptospira terdiri atas 2 spesies: L.interrogans yang patogenik dan L.biflexa yang hidup bebas. Organisme ini panjangnya 6 sampai 20 um dan lebarnya 0,1 um; kurang berwarna tetapi dapat dilihat dengan mikroskop dengan pemeriksaan lapangan gelap dan setelah pewarnaan silver. Leptospirosis membutuhkan media dan kondisi khusus untuk tumbuh; membutuhkan waktu beberapa bulan agar kultur menjadi positif.

. Patogenesis 4, 8 Leptospira masuk ke dalam tubuh melalui kulit atau selaput lender, memasuki aliran darah dan berkembang, lalu menyebar secara luas ke jaringan tubuh. Kemudian terjadi respon imunologi baik secara seluler maupun humoral sehingga infeksi ini dapat ditekan dan terbentuk antibodi spesifik. Walaupun demikian beberapa organisme ini masih bertahan pada daerah yang terisolasi secara imunologi seperti dalam ginjal dimana sebagian mikroorganisme akan mencapai convoluted tubules, bertahan disana dan dilepaskan melalui urin. Leptospira dapat dijumpai dalam air kemih sekitar 8 hari sampai beberapa minggu setelah infeksi dan sampai berbulanbulan bahkan bertahun-tahun kemudian. Leptospira dapat dihilangkan dengan fagositosis dan mekanisme humoral. Kuman ini dengan cepat lenyap dari darah setelah terbentuknya agglutinin. Setelah fase leptospiremia 4-7 hari, mikroorganisme hanya dapat ditemukan dalam jaringan ginjal dan okuler. Leptospiruria berlangsung 1-4 minggu. Tiga mekanisme yang terlibat pada patogenese leptospirosis : invasi bakteri langsung, factor inflamasi non spesifik, dan reaksi imunologi.

Patologi Dalam perjalanan pada fase leptospiremia, leptospira melepaskan toksin yang bertanggung jawab atas terjadinya keadaan patologi pada beberapa organ. Lesi yang muncul terjadi karena kerusakan pada lapisan endotel kapiler. Pada leptospirosis terdapat perbedaan antara derajat gangguan fungsi organ dengan kerusakan secara histiologik. Pada leptospirosis lesi histologis yang ringan ditemukan pada ginjal dan hati pasien dengan kelainan fungsional yang nyata dari organ tersebut. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kerusakan bukan pada struktur organ. Lesi inflamasi menunjukkan edema dan infiltrasi sel monosit, limfosit dan sel plasma. Pada kasus yang berat terjadi kerusakan kapiler dengan perdarahan yang luas dan disfungsi hepatoseluler dengan retensi bile. Selain di ginjal leptospira juga dapat bertahan pada otak dan mata. Leptospira dapat masuk kedalam cairan serebrospinalis pada fase leptospiremia. Hal ini akan menyebabkan meningitis yang merupakan gangguan neurologi terbanyak yang terjadi sebagai komplikasi leptospirosis. Organ-organ yang sering dikenai leptospira adalah ginjal, hati, otot dan pembuluh darah. Kelainan spesifik pada organ : 1. Ginjal Interstitial nefritis dengan infiltrasi sel mononuclear merupakan bentuk lesi pada leptospirosis yang dapat terjadi tanpa gangguan fungsi ginjal. Gagal ginjal terjadi akibat tubular nekrosis akut. Adanya peranan nefrotoksin, reaksi imunologis, iskemia ginjal, hemolisis dan invasi langsung mikroorganisme juga berperan menimbulkan kerusakan ginjal. 2. Hati Hati menunjukkan nekrosis sentilobuler fokal dengan infiltrasi sel limfosit fokal dan proliferasi sel kupfer dengan kolestasis. Pada kasus-kasus yang diotopsi, sebagian ditemukan leptospira dalam hepar. Biasanya organisme ini terdapat diantara sel-sel parenkim. 3. Jantung Epikardium, endokardium dan miokardium dapat terlibat. Kelainan miokardium dapat fokal atau difus berupa interstitial edema dengan infiltrasi sel mononuclear dan plasma. Nekrosis berhubungan dengan infiltrasi neutrofil. Dapat terjadi perdarahan fokal pada miokardium dan endokarditis. 4. Otot rangka

Pada otot rangka, terjadi perubahan-perubahan berupa local nekrotis, vakuolisasi dan kehilangan striata. Nyeri otot yang terjadi pada leptospira disebabkan invasi langsung leptospira. Dapat juga ditemukan antigen leptospira pada otot. 5. Mata Leptospira dapat masuk ruang anterior dari mata selama fase leptospiremia dan bertahan beberapa bulan walaupun antibody yang terbentuk cukup tinggi. Hal ini akan menyebabkan uveitis. 6. Pembuluh darah Terjadi perubahan pada pembuluh darah akibat terjadinya vaskulitis yang akan menimbulkan perdarahan. Sering ditemukan perdarahan/pteki pada mukosa, permukaan serosa dan alat-alat viscera dan perdarahan bawah kulit 7. Susunan saraf pusat Leptospira mudah masuk kedalam cairan cerebrospinal (CSS) dan dikaitkan dengan terjadinya meningitis. Meningitis terjadi sewaktu terbentuknya respon antibody, tidak pada saat memasuki CSS. Diduga bahwa terjadinya meningitis diperantarai oleh mekanisme imunologis. Terjadi penebalan meninges dengan sedikit peningkatan sel mononuclear arakhnoid. Meningitis yang terjadi adalah meningitis aseptic, biasanya paling sering disebabkan oleh L. canicola. 8. Weil Disease Weil disease adalah leptospirosis berat yang ditandai dengan ikterus, biasanya disertai perdarahan, anemia, azotemia, gangguan kesadaran dan demam tipe kontinua. Penyakit weil ini biasanya terdapat pada 1-6% kasus dengan leptospirosis. Penyebab weil disease adalah serotype icterohaemorragica pernah juga dilaporkan oleh serotype copanhageni dan bataviae. Gambaran klinis bervariasi berupa gangguan renal, hepatic, atau disfungsi vascular.

Gejala klinis 4,8

Masa inkubasi biasanya 1-2 minggu tetapi antara 2-20 hari. Gambaran klinis dapat dilihat pada table 2. Leptospirosis mempunyai 2 fase penyakit yang khas yaitu fase leptospiremia akut yang diikuti fase imun. Perbedaan kedua fase ini tidak selalu jelas, dan pada kasuskasus ringan tidak selalu diikuti fase kedua. Tabel 2. Gambaran klinis pada Leptospirosis Sering : demam, menggigil, sakit kepala, meningismus, anoreksia, mialgia, conjuctival suffusion, mual, muntah, nyeri abdomen, ikterus, hepatomegali, ruam kulit, fotophobi Jarang : pneumonitis, hemoptoe, delirium, perdarahan, diare, edema, splenomegali, atralgia, gagal ginjal, peroferal neuritis, pancreatitis, parotitis, epididimytis, hematemesis, asites, miokarditis Fase Leptospiremia

Fase ini ditandai dengan adanya leptospira di dalam darah dan cairan serebrospinal, berlangsung secara tiba-tiba dengan gejala awal sakit kepala biasanya di frontal, rasa sakit pada otot yang hebat terutama pada paha, betis, dan pinggang disertai nyeri tekan. Mialgia dapat diikuti dengan hiperestesi kulit, demam tinggi yang disertai mengigil, juga didapati, mual dengan atau tanpa muntah disertai mencret, bahkan pada sekitar 25% kasus disertai penurunan kesadaran. Pada pemeriksaan keadaaan sakit berat, bradikardi relative, dan ikterus (50%). Pada hari ke 3-4 dapat dijumpai adanya konjungtiva suffusion dan fotofobia. Pada kulit dapat dijumpai rash yang berbentuk macular, makulopapular atau urtikaria. Kadang-kadang dijumpai splenomegali, hepatomegali, serta limfadenopati. Fase ini berlangsung 4-7 hari. Jika cepat ditangani pasien akan membaik, suhu akan kembali normal, penyembuhan organ-organ yang terlibat dan fungsinya kembali normal 3-6 minggu setelah onset. Pada keadaaan sakit yang lebih berat, demam turun setelah 7 hari diikuti oleh bebas demam selam 1-3 hari, setelah itu terjadi demam kembali. Keadaan ini disebut fase kedua atau fase imun. Fase imun Fase ini ditandai dengan peningkatan titer antibody, dapat timbul demam yang mencapai suhu 400C disertai mengigil dan kelemahan umum. Terdapat rasa sakit yang menyeluruh pada leher, perut dan otot-otot kaki terutama betis. Terdapat perdarahan berupa epistaksis, gejala kerusakan pada ginjal dan hati, uremia, ikterik. Perdarahan paling jelas terlihat pada fase ikterik, purpura, petechiae, epistaksis, perdarahan gusi merupakan manifestasi perdarahan yang paling sering. Conjungtiva injection dan conjungtival suffusion dengan ikterus merupakan tanda patognomosis untuk leptospirosis. Terjadinya meningitis merupakan tanda fase ini, walaupun hanya 50% gejala dan tanda meningitis, tetapi pleositosis pada CSS dijumpai pada 50-90% pasien. Tanda-tanda meningeal dapat menetap dalam beberapa minggu, tetapi biasanya menghilang setelah 1-2 hari. Pada fase ini leptospira dapat dijumpai dalam urin. PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN RADIOLOGI Ditemukannya sedimen urin (leukosit, eritrosit, dan hyalin atau granular) dan proteinuria ringan pada leptospirosis anikterik menjadi gagal ginjal dan azotemia pada kasus yang berat. Jumlah sedimen eritrosit biasanya meningkat. Pada leptospirosis anikterik, jumlah leukosit antara 3000-26000/L, dengan pergeseran ke kiri ; pada

Weils sindrom, sering ditandai oleh leukositosis. Trombositopenia yang ringan terjadi pada 50 % pasien dan dihubungkan dengan gagal ginjal. Pada perbandingannya dengan hepatitis virus akut, leptospirosis memiliki bilirubin dan alkalin phospatase serum yang meningkat sama dengan peningkatan ringan dari aminotransferase serum (sampai 200/ul). Pada Weils sindrom, protrombin time dapat memanjang tetapi dapat dikoreksi dengan vitamin K. Kreatin phospokinase yang meningkat pada 50 % pasien dengan leptospirosis selama minggu pertama perjalanan penyakit, dapat membantu membedakannya dengan infeksi hepatitis virus. Bila terjadi reaksi meningeal, awalnya terjadi predominasi leukosit polimorfonuklear dan diikuti oleh peningkatan sel mononuklear. Konsentrasi protein pada LCS dapat meningkat dan glukosa pada LCS normal. Pada leptopirosis berat, lebih sering ditemukan abnormalitas gambaran radiologis paru daripada berdasarkan pemeriksaan fisik berupa gambarab hemoragik alveolar yang menyebar. Abnormalitas ini terjadi 3-9 hari setelah onset. Abnormalitas radiografi ini paling sering terlihat pada lobus bawah paru.

Diagnosis Pada umumnya diagnosis awal leptospirosis sulit, karena pasien biasanya datang dengan meningitis, hepatitis, nefritis, pneumonia, influenza, syndrome syok toksik, demam yang tidak diketahui asalnya dan diathesis hemoragik, bahkan beberapa kasus datang sebagai pancreatitis. Pada anamnesis, penting diketahui tentang riwayat pekerjaan pasien, apakah termasuk kelompok resiko tinggi. Gejala/keluhan didapati demam yang muncul mendadak, sakit kepala terutama di bagian frontal, nyeri otot, mata merah/fotofobia, mual atau muntah. Pada pemeriksaan fisik dijumpai demam, bradikardi, nyeri tekan otot, hepatomegali dan lain- lain. Pada pemeriksaan laboratorium darah rutin bisa dijumpai lekositosis, normal atau sedikit menurun disertai gambaran neutrofilia dan laju endap darah yang meninggi. Pada urin dijumpai proteinuria, leukosituria dan torak (cast). Bila organ hati terlibat, bilirubin direk meningkat tanpa peningkatan transaminase. BUN, ureum, dan kreatinin juga bisa meninggi bila terjadi komplikasi pada ginjal. Trombositopeni terdapat pada 50% kasus. Diagnosis pasti dengan isolasi leptospira dari cairan tubuh dan serologi. Kultur

Dengan mengambil specimen dari darah atau CSS selama 10 hari pertama perjalanan penyakit. Dianjurkan untuk melakukan kultur ganda dan mengambil specimen pada fase leptospiremia serta belum diberi antibiotic. Kultur urine diambil setelah 2-4 minggu onset penyakit. Kadng-kadang kultur urin masih positif selama memerapa bulan atau tahun setelah sakit. Untuk isolasi leptospira dari cairan atau jaringan tubuh, digunakan medium Ellinghausen-McCullough-Johnson-Harris; atau medium Fletcher dan medium Korthof. Spesimen dapat dikirim ke laboratorium untuk dikultur , karena leptospirosis dapat hidup dalam heparin, EDTA atau sitrat sampai 11 hari. Pada specimen yang terkontaminasi, inokulasi hewan dapat digunakan. Serologi Jenis uji serologi dapat dilihat pada table 3 pemeriksaan untuk mendeteksi adanya leptospira dengan cepat adalah dengan pemeriksaan Polymerase Chain Reaktion (PCR), silver stain, atau fluroscent antibody stain, dan mikroskop lapangan gelap.

Table 3. Jenis uji serologi pada Leptospirosis


Microscopic Agglutination Test (MAT) Macroscopic Slide AgglutinationTest (MSAT) Uji carik celup : assay
-

Enzyme linked immunosorbant (ELISA) Microcapsule agglutination test Patoc-slide agglutination test Sensitized erythrocyte lysis test Counter immune

Lepto Dipstick LeptoTek Lateral Flow

Aglutinasi lateks kering (PSAT) (LeptoTek Dry-Dot) (SEL) Indirect Fluorescent antibody test electrophoresis (CIE) (IFAT) Indirect haemagglutination test (IHA) Uji aglutinasi lateks Complement fixation test (CFT)

Diagnosis banding Leptospirosis harus dibedakan dengan demam yang lain dihubungkan dengan sakit kepala dan nyeri otot,seperti dengue, malaria, demam enterik, hepatitis virus, dan penyakit rickettsia.

Pengobatan

Pengobatan suportif dengan observasi ketat untuk mendeteksi dan mengatasi keadaan dehidrasi, hipotensi, perdarahan dan gagal ginjal sangat penting pada leptospirosis. Gangguan fungsi ginjal umumnya dengan spontan akan membaik dengan membaiknya kondisi pasien. Namun pada beberapa pasien membutuhkan tindakan hemodialisa temporer. Pemberian antibiotic harus dimulai secepat mungkin, biasanya pemberian dalam 4 hari setelah onset cukup efektif. Berbagai jenis antibiotic pilihan dapat dilihat pada table 4. Untuk kasus leptospirosis berat, pemberian intra vena penicillin G, amoxicillin, ampicillin atau eritromisin dapat diberikan. Sedangkan untuk kasus-kasus ringan dapat diberikan antibiotika oral tetrasiklin, doksisiklin, ampisilin atau amoksisilin maupun sepalosporin. Sampai saat ini penisilin masih merupakan antibiotika pilihan utama, namun perlu diingat bahwa antibiotika bermanfaat jika leptospira masih di darah (fase

leptospiremia). Pada pemberian penisilin dapat muncul reaksi Jarisch Herxherimer 4 sampai 6 jam setelah pemberian intra vena, yang menunjukkan adanaya aktifitas anti leptospira. Tindakan suportif diberikan sesuai dengan keparahan penyakit dan komplikasi yang timbul. Keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa diatur sebagaimana pada penanggulangan gagal ginjal secara umum. Kalau terjadi azotemia/uremia berat sebaiknya dilakukan dialysis. Prognosis Jika tidak ada ikterus, penyakit jarang fatal. Pada kasus dengan ikterus, angka kematian 5% pada umur di bawah 30 tahun, dan pada usia lanjut mencapai 30-40%. Leptospirosis selama kehamilan dapat meningkatkan mortality fetus. Pencegahan Pencegahan leptospirosis khususnya di daerah tropis sangat sulit. Banyaknya hospes perantara dan jenis serotype sulit untuk dihapuskan. Bagi mereka yang mempunyai resiko tinggi untuk tertular leptospirosis harus diberikan perlindungan berupa pakaian khusus yang dapat melindunginya dari kontak dengan bahan-bahan yang telah terkontaminasi dengan kemih binatang reservoir. Pemberian doksisiklin 200 mg perminggu dikatakan bermanfaat untuk mengurangi serangan leptospirosis bagi mereka yang mempunyai resiko tinggi dan terpapar dalam waktu singkat. Penelitian terhadap tentara amerika di hutan panama selama 3 minggu, ternyata dapat mengurangi serangan leptospirosis dari 4-2 % menjadi 0,2%, dan efikasi pencegahan 95%. Vaksinasi terhadap hewan-hewan tersangka reservoir sudah lama direkomendasikan tetapi vaksinasi terhadap manusia belum berhasil dilakukan, masih memrlukan penelitian lebih lanjut.

BAB IV KESIMPULAN

Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonosis yang disebabkan leptospira. Manusia dapat terinfeksi melalui kontak dengan leptospira secara incidental. Gejala klinis yang timbul mulai dari yang ringan sampai yang berat bahkan kematian, bila terlambat mendapat pengobatan. Diagnosis dini yang tepat dan penatalaksanaan yang cepat akan mencegah perjalanan penyakit menjadi berat. Pencegahan dini terhadap mereka yang terekspos diharapkan dapat melindungi mereka dari serangan leptospirosis.

DAFTAR PUSTAKA Brooks, Geo F: Mikrobiologi kedokteran ed 23, Jakarta, 2008, EGC. Fauci, Anthony S: Harrison's principles of internal medicine ed 17, United States of America, 2008, Mc Graw Hill. Ganon WF: Buku ajar fisiology kedokteran ed 20, Jakarta, 2003, EGC. Price, Sylvia A: Patofisiologi, Jakarta, 2006, EGC. Sherwood, Lauralee: Fisiologi manusia dari sel ke sistem ed 2, Jakarta, 2001, EGC. Sudoyo, Aru W: Buku ajar ilmu penyakit dalam ed 4, Jakarta, 2006, Pusat Penerbitan Departmen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Sutanto, Inge: Parasitologi kedokteran ed 4, Jakarta, 2008, Balai Penerbit FKUI.