You are on page 1of 14

PEMBAHASAN Pertama-tama akan dijelaskan dua pengertian pokok yang terkandung dalam judul dari makalah ini, yaitu

pengertian dan peranan dari strategi dan metode. Kata strategi mengacu pada konsep perencanaan atau pengelolaan suatu kompleks kegiatan menjadi pola umum bertindak untuk mencapai tujuan tertentu. Rumusan makana strategi tersebut bisa dihubungkan dengan pemakaian kata tersebut dengan hubungan mengajar. Seorang ahli pendidikan, Raka Joni, mengartikannya pola umum perbuatan guru murid di dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar. Istilah lain yang sering digunakan adalah model-model mengajar. Secara lebih tegas, kata strategi bisa dirumuskan sebagai beberapa alternatif model cara-cara menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang merupakan pola-pola umum kegiatan yang harus diikuti guru dan murid. Polapola umum kegiatan ini ditempuh untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditentukan sebelumnya. Metode diartikan sebagai teknik atau cara yang merupakan perangkat sarana untuk menunjang pelaksanaan strategi mengajar. Jadi strategi dan metode dalam kegiatan pembelajaran, memiliki hubungan yang saling berkait. Apabila strategi mengacu pada pola-pola umum atau model kegiatan belajar mengajar yang dilakukan guru murid, maka metode menunjukkan pada cara-cara khusus bagaimana model mengajar itu bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya agar tercapai tujuan yang diharapkan, karena suatu strategi dalam pelaksanaannya perlu ditunjang oleh berbagai metode, dan berbagai metode perlu digunakan untuk menyokong pelaksanaan strategi mengajar. Untuk memperjelas pernyataan diatas, bisa diambil contoh penggunaan strategi mengajar sejarah yang disebut strategi atau model tematis. Apabila seorang guru mengambil model ini, ia akan menekankan pembahasan topik-topik tertentu dalam kelasnya. Disini pola umum kegiatan belajar mengajarnya tidak diorganisasikan atas dasar urutan perkembangan peristiwa sejarahnya, tapi pada tema-tema menarik dalam sejarah. Dalam pelaksanaan pembahasan topik-topik itu guru akan menentukan satu atau lebih metode. Ia misalnya bisa mulai dengan metode ceramah singkat, kemudia di ikuti dengan metode diskusi, dan akhirnya ditutup dengan metode pelaksanaan tugas-tugas. Hal kedua yang perlu mendapat perhatian adalah pengertian yang terkandung dalam kata pengembangan dalam judul makalah ini. Ini berkaitan 2

dengan prinsip yang ingin ditekankan, yaitu pada strategi yang baik. Masingmasing guru harus berusaha mengembangkan sendiri cara-cara melaksanakan proses belajar mengajarnya atas dasar tujuan yang hendak dicapai, dan kondisikondisi yang dimiliki, seorang guru tidak hanya meniru atau mengaplikasikan strategi yang sudah ada. Sehingga dapat dikatakan bahwa dalam mengajar perlu menciptakan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. 2.1. Kegunaan dari pengajaran sejarah Walaupun sebagian dari kalangan awam mempertanyakan tentang adanya kegunaan sejarah, para ahli telah menyatakan bahwa sejarah itu memiliki kegunaan. Secara garis besar setidaknya terdapat tiga kegunaan sejarah, yaitu: guna edukatif, guna inspiratif, dan guna rekreatif dan instruktif. Sejarah memiliki guna edukatif karena sejarah dapat memberikan kearifan bagi yang mempelajarinya, yang secara singkat dirumuskan oleh Bacon: histories make man wise. Sejarah yang memberikan perhatian pada masa lampau tidak dapat dipisahkan dari kemasakinian, karena semangat dan tujuan untuk mempelajari sejarah ialah nilai kemasakiniannya. Hal ini tersirat dari kata-kata Croce bahwa all history is contemporary history, yang kemudian dikembangkan oleh Carr bahwa sejarah adalah unending dialogue between the present and the past (Widja, 1988: 49-50). Dari pernyataan-pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa apabila kita dapat memproyeksikan masa lampau ke masa kini, maka kita dapat menemukan makna edukatif dalam sejarah. Sejarah memiliki guna inspiratif karena sejarah dapat memberikan inspirasi kepada kita tentang gagasan-gagasan dan konsep-konsep yang dapat digunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan masa kini, khususnya yang berkaitan dengan semangat untuk mewujudkan identitas sebagai suatu bangsa dan pembangunan bangsa. Sejarah memiliki guna rekreatif karena dengan membaca tulisan sejarah kita seakan-akan melakukan perlawatan sejarah karena menerobos batas waktu dan tempat menuju zaman masa lampau untuk mengikuti peristiwa yang terjadi. Sementara itu guna instruktif merupakan kegunaan sejarah untuk menunjang bidang-bidang ketrampilan tertentu. 3

Dalam hubungannya dengan guna edukatif dan inspiratif dari sejarah, dapat dikemukakan bahwa sejarah memiliki kaitan yang sangat erat dengan pendidikan pada umumnya dan pendidikan karakter bangsa pada khususnya. Melalui sejarah dapat dilakukan pewarisan nilai-nilai dari generasi terdahulu ke generasi masa kini. Dari pewarisan nilai-nilai itulah akan menumbuhkan kesadaran sejarah, yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk pembangunan watak bangsa (nation character building). Atas dasar nilai guna yang dimilikinya, tidak mengherankan apabila sejarah perlu diberikan kepada seluruh siswa di sekolah (dari SD sampai SMA) dalam bentuk mata pelajaran. Kedudukannya yang penting dan strategis dalam pembangunan watak bangsa merupakan fungsi yang tidak bisa digantikan oleh mata pelajaran lainnya. Namun demikian, tujuan pembelajaran sejarah itu tidak sepenuhnya dapat tercapai yang disebabkan oleh beberapa faktor antara lain berkaitan dengan proses pembelajarannya. Oleh karena itu, sepanjang seluruh eksponen dan komponen bangsa masih menginginkan eksistensi sebuah bangsa dan negaranya, upaya-upaya peningkatan kualitas pembelajaran sejarah sampai kapan pun masih menemukan signifikansinya. Dalam hal ini guru menduduki posisi yang penting dan strategis dalam peningkatan kualitas pembelajaran sejarah. Sehubungan dengan hal itu, guru harus selalu meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sejarah, dengan memperhatikan empat pilar pembelajaran sebagaimana telah dideklarasikan oleh Unesco (1988), yaitu:1)learning to know (pembelajaran untuk tahu) 2)learning to do (pembelajaran untuk berbuat), 3)learning to be (pembelajaran untuk membangun jati diri, dan 4) learning to live together (pembelajaran untuk hidup bersama secara harmonis). 2.2. Permasalahan dalam pembelajaran sejarah Beberapa pakar pendidikan sejarah maupun sejarawan memberikan pendapat tentang fenomena pembelajaran sejarah yang terjadi di Indonesia diantaranya masalah model pembelajaran sejarah, kurikulum sejarah, masalah materi dan buku ajar atau buku teks, profesionalisme guru sejarah dan lain sebagainya.

Yang pertama adalah masalah model pembelajaran sejarah. Menurut Hamid Hasan dalam Alfian (2007) bahwa kenyataan yang ada sekarang, pembelajaran sejarah jauh dari harapan untuk memungkinkan anak melihat relevansinya dengan kehidupan masa kini dan masa depan. Mulai dari jenjang SD hingga SMA, pembelajaran sejarah cenderung hanya memanfaatkan fakta sejarah sebagai materi utama. Tidak aneh bila pendidikan sejarah terasa kering, tidak menarik, dan tidak memberi kesempatan kepada anak didik untuk belajar menggali makna dari sebuah peristiwa sejarah. Taufik Abdullah memberi penilaian, bahwa strategi pedagogis sejarah Indonesia sangat lemah. Pendidikan sejarah di sekolah masih berkutat pada pendekatan chronicle dan cenderung menuntut anak agar menghafal suatu peristiwa (Abdullah dalam Alfian, 2007:2). Siswa tidak dibiasakan untuk mengartikan suatu peristiwa guna memahami dinamika suatu perubahan. Sistem pembelajaran sejarah yang dikembangkan sebenarnya tidak lepas dari pengaruh budaya yang telah mengakar. Model pembelajaran yang bersifat satu arah dimana guru menjadi sumber pengetahuan utama dalam kegiatan pembelajaran menjadi sangat sulit untuk diubah. Pembelajaran sejarah saat ini mengakibatkan peran siswa sebagai pelaku sejarah pada zamannya menjadi terabaikan. Pengalaman-pengalaman yang telah dimiliki oleh siswa sebelumnya atau lingkungan sosialnya tidak dijadikan bahan pelajaran di kelas, sehingga menempatkan siswa sebagai peserta pembelajaran sejarah yang pasif. Dengan kata lain, kekurangcermatan pemilihan strategi mengajar akan berakibat fatal bagi pencapaian tujuan pengajaran itu sendiri Kedua adalah masalah kurikulum sejarah, karena kurikulum adalah salah satu komponen yang menjadi acuan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Secara umum dapat dikatakan bahwa kurikulum adalah rencana tertulis dan dilaksanakan dalam suatu proses pendidikan guna mengembangkan potensi peserta didik menjadi berkualitas. Dalam sebuah kurikulum termuat berbagai komponen, seperti, tujuan, konten dan organisasi konten, proses yang menggambarkan posisi peserta didik dalam belajar dan asessmen hasil belajar. Selain komponen tersebut, kurikulum sebagai suatu rencana tertulis dapat pula berisikan sumber belajar dan peralatan belajar dan evaluasi kurikulum atau program.

Sejak Indonesia merdeka, telah terjadi beberapa kali perubahan kurikulum dan mata pelajaran sejarah berada didalamnya. Akan tetapi materi-materi yang diberikan dalam kurikulum yang sering mendapat kritik dari masyarakat maupun para pemerhati sejarah baik dari pemilihannya, teori pengembangannya dan implementasinya yang seringkali digunakan untuk mendukung kekuasaan. Ketika Orde Baru bermaksud menata kembali kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945, tujuan pendidikan nasional diarahkan untuk mendukung maksud tersebut. Tentu saja kurikulum sekolahan dikembangkan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Kurikulum 1986 yang berlaku pada awal masa Orde Baru kemudian mengalami pergantian menjadi kurikulum 1975, kurikulum sejarah juga mengalami penyempurnaan. Demikian seterusnya terjadi beberapa perubahan kurikulum menjadi kurikulum 1984, 1994 dan 2004. Kurikulum yang dipakai arahannya kurang jelas dan sangat berbau politis, artinya kurikulum yang digunakan tidak lepas dari adanya kepentingan-kepentinagn dari rezim yang berkuasa. Sejarah dijadikan alat untuk membangun paradigma berfikir masyarakat mengenai perjalanan sejarah bangsa dengan mengagung-agungkan rezim yang mempunyai kekuasaan. Sistem pembelajaran yang diterapkan tidak mengarahkan siswa untuk berfikir kritis mengenai suatu peristiwa sejarah, sehingga siswa seakan-akan dibohongi oleh pelajaran tentang masa lalu. Selain masalah kurikulum yang selalu mengalami perubahan, masalah yang tak kalah pentingnya adalah masalah materi dan buku ajar/buku teks sejarah. Masalah buku ajar ini sudah ada sejak sistem pendidikan nasional mulai diterapkan di Indonesia tahun 1946. Saat buku ajar yang dipakai sebagai bahan ajar sejarah adalah karangan Sanusi Pane yang berjudul Sejarah Indonesia (4 Jilid) yang ditulis atas permintaan pihak Jepang pada tahun 19431944, yang kemudian dicetak ulang pada tahun 1946 dan 1950. Pada tahun 1957 Anwar Sanusi menulis buku sejarah Indonesia untuk sekolah menengah (3 Jilid). Setelah itu kemudian muncul berbagai buku ajar lainya yang ditulis oleh berbagai pihak, terutama oleh guru. Hampir seluruh buku ajar, baik yang diterbitkan oleh swasta maupun pemerintah sebenarnya kurang layak untuk dijadikan referensi. Hampir seluruh penulis buku hanya membaca dokumen kurikulum secara harfiah dan 6

tidak mampu memahami jiwa kurikulum dengan baik. Sebagian besar penulis buku juga tidak paham sejarah sebagi ilmu, historiografi, dan tertinggal sangat jauh dalam referensi mutahkir penulisan (Purwanto, 2006:268). Masalah profesionalisme guru sejarah juga masih dipertanyakan, sampai saat ini masih berkembang kesan dari para guru, pemegang kebijakan di sekolah bahwa pelajaran sejarah dalam mengajarkannya tidak begitu penting memperhatikan masalah keprofesian, sehingga tidak jarang tugas mengajar sejarah diberikan kepada guru yang bukan profesinya. Akibatnya, guru mengajarkan sejarah dengan ceramah mengulangi apa isi yang ada dalam buku. Sementara itu terlalu banyak sekolah yang memposisikan guru sejarah sebagi orang buangan, dan mata pelajaran sejarah sekedar sebagai pelengkap. Bahkan banyak kasus ditemukan, guru sejarah menjadi sasaran untuk menaikkan nilai siswa agar siswa yang bersangkutan dapat naik kelas. Selain itu, sebagian besar guru juga tidak mengikuti perkembangan hasil penelitian dan penerbitan mutakhir sejarah Indonesia. Hal yang terakhir itu juga berkaitan dengan adanya kenyataan bahwa institusi resmi yang menjadi tempat pendidikan tambahan bagi guru sejarah itu hanya berkutat pada substansi historis dan metode pengajaran sejarah yang tertinggal jauh. 2.3. Peranan guru sejarah dalam usaha perbaikan pengajaran sejarah Guru adalah komponen penting dalam pendidikan. Di pundaknya siswa menggantungkan harapan terhadap pelajaran yang diajarkannya. Suka atau tidak sukanya siswa terhadap suatu pelajaran bergantung pada bagaimana guru mengajar. Selain itu, perkembangan baru terhadap pandangan belajar mengajar membawa konsekuensi kepada guru untuk meningkatkan peranan dan kompetensinya karena proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa sebagian besar ditentukan oleh peranan dan kompetensi guru. Guru yang kompeten akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat optimal. Berikut peranan guru yang dianggap paling dominan : 2.3.1. Guru sebagai demonstrator Melalui perannya sebagai demonstrator atau pengajar, guru hendaknya senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkanya serta senantiasa mengembangkanya dalam arti meningkatkan kemampuannya 7

dalam ilmu yang dimiliki karena hal ini akan sangat menentukan hasil belajar yang dicapai siswa. Salah satu yang harus diperhatikan oleh guru bahwa ia sendiri adalah pelajar. Ini berarti bahwa guru harus terus menerus belajar. Dengan cara demikian ia akan memperkaya dirinya dengan berbagai ilmu pengetahuan sebagai bekal dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengajar dan demonstrator sehingga mampu memeragakan apa yang diajarkanya secara didaktis. Maksudnya agar apa yang disampaikanya itu betul-betul dimiliki oleh siswa. Juga hendaknya seorang guru mampu dan terampil dalam merumuskan dan memahami kurikulum, dan dia sendiri sebagai sumber belajar terampil dalam memberikan informasi kepada kelas. Sebagai pengajar, seorang guru juga memiliki kewajiban untuk membantu perkembangan siswa untuk dapat menerima, memahami, serta menguasai ilmu pengetahuan. Untuk itu guru hendaknya mampu memotivasi siswa untuk senantiasa belajar dalam berbagai kesempatan. 2.3.2. Guru sebagai pengelola kelas Dalam perannya sebagai pengelola kelas, guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan pendidikan. Lingkungan yang baik adalah yang bersifat menantang, dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan dalam mencapai tujuan. Sebagai manajer, guru bertanggung jawab memelihara lingkungan fisik kelasnya agar senantiasa menyenangkan untuk belajar dan mengarahkan atau membimbing proses intelektual dan social dalam kelasnya. Salah satu manajemen kelas yang baik adalah menyediakan kesempatan bagi siswa untuk sedikit demi sedikit mengurangi ketergantunganya pada guru sehingga mereka mampu membimbing kegiatanya sendiri. Sebagai manajer lingkungan, guru hendaknya mampu mempergunakan pengetahuan tentang teori-teori belajar mengajar dan teori perkembangan sehingga kemungkinan untuk menciptakan situasi belajar mengajar yang menimbulkan kegiatan belajar pada siswa akan mudah dilaksanakan dan sekaligus memudahkan pencapaian tujuan yang diharapkan. 8

2.3.3. Guru sebagai mediator dan fasilitator Sebagai mediator guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media pendidikan merupakan alat komunikasi untuk lebih mengefektifkan proses belajar mengajar. Dengan demikian media pendidikan merupakan dasar yang diperlukan yang bersifat melengkapi dan merupakan bagian integral demi berhasilnya proses pendidikan dan pengajaran disekolah. Guru tidak hanya cukup memiliki pengetahuan tentang media pendidikan, tetapi juga harus memiliki ketrampilan memilih dan menggunakan serta mengusahakan media itu dengan baik. Guru harus dapat memilih media yang sesuai dengan tujuan, materi, metode, evaluasi, dan kemampuan guru serta minat dan kemampuan siswa. Sebagai fasiltator, guru hendaknya mampu mengusahakan sumber belajar yang berguna serta dapat menunjang pencapaian tujuan dan proses belajar mengajar, baik yang berupa nara sumber, buku teks, majalah ataupun surat kabar. 2.3.4. Guru sebagai evaluator Guru hendaknya menjadi seorang evaluator yang baik, kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai atau belum, dan apakah materi yang diajarkan sudah cukup tepat. Semua pertanyaan tersebut akan dapat dijawab melalui kegiatan evaluasi atau penilaian. Dengan menggunakan penilaian, guru dapat mengklasifikasikan apakah seorang siswa termasuk kelompok siswa yang pandai, sedang, kurang atau cukup baik dikelasnya jika dibandingkan dengan teman-temanya. Guru juga dapat mengetahui apakah proses belajar yang dilakukan cukup efektif memberikan hasil yang baik dan memuaskan atau sebaliknya. Jadi jelaslah bahwa guru hendaknya mampu dan terampil dalam melaksanakan penilaian karena dengan evaluasi guru dapat mengetahui prestasi siswa setelah melaksanakan proses belajar mengajar. Guru hendaknya terus menerus mengikuti hasil belajar yang telah dicapai siswa dari waktu ke waktu. Informasi yang diperoleh merupakan feedback terhadap proses belajar mengajar. Umpan balik ini akan dijadikan titik tolak untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar selanjutnya. 9

Jadi dalam kasus pengembangan pembelajaran sejarah, guru sejarah pun memiliki kontribusi yang sangat besar karena guru adalah ujung tombak dalam sistem pendidikan. Sehingga guru sejarah seharusnya memiliki profesionalisme, pengetahuan dan referensi yang luas, serta kemampuan untuk menciptakan strategi serta metode baru agar dapat mengembangkan dan melakukan perbaikan terhadap pembelajaran sejarah. 2.4 Strategi yang bisa digunakan dalam pengajaran sejarah Seperti yang telah dijelaskan diatas, strategi pengajaran merupakan alternatif model cara-cara menyelenggarakan proses belajar mengajar yang menggunakan pola-pola umum kegiatan yang harus diikuti siswa. Maka berikut ini adalah beberapa strategi yang bisa digunakan dalam pengajaran sejarah. 2.4.1. Model Garis Besar Kronologis Model ini adalah yang paling sering dipakai dalam pengajaran sejarah. Pada dasarnya model ini mengajarkan sejarah itu sebagai suatu perkembangan atas dasar urutan tahun terjadinya peristiwa sejarah itu. Contohnya dalam pembelajaran sejarah di SMA yang memakai urutan kronologis dalam sub pokok bahasannya: 1) jaman prasejarah Indonesia; 2) hubungan dengan India dan pengaruhnya; 3) masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia; 4) Hubungan dengan Eropa dan Kolonialisme; 5) perang kemerdekaan dst. Keunggulan dari strategi pembelajaran ini adalah bahwa model ini sejalan dengan esensi pokok inti dari sejarah yaitu evolusi atau proses berkelanjutan yang mana dapat berguna bagi siswa dapat merasakan suatu dinamika dalam pembelajaran sejarah. 2.4.2. Model Tematis Disini tekanan strategi pengajaran adalah pada penanaman atau pengembangan pengertian yang mendalam untuk periode-periode tertentu dalam pembelajaran sejarah. Tentu saja unsur kronologi tetap tidak bisa diabaikan, tapi yang dipentingkan adalah studi yang lebih mendalam mengenai aspek-aspek kehidupan manusia yang memang benar-benar menarik perhatian murid. Maka dari itu untuk strategi ini perlu dipilih temetema tertentu yang diperkirakan bisa menarik minat siswa. Kemudian tema10

tema ini ditinjau dari berbagai sudut dengan bantuan berbagai buku sumber dan berbagai alat bantu mengajar. Pelaksanaan pembahasan tema-tema yang penting itu, disamping dengan kegiatan biasa didalam kelas melalui metode cermah, diskusi dan lain-lain, juga bisa diwujudkan dengan menggunakan kegiatan khusus seperti kegiatan proyek, dimana siswa mengorganisir diri untuk menyusun sejarah yang menyangkut tema tertentu. Dengan menggunakan model dan kegiatan seperti ini pasti membuat tugas guru menjadi lebih berat karena untuk tercapainya kegiatan tersebut guru harus menyiapkan fasilitas belajar yang lebih banyak. Namun, dengan cara ini pembelajaran sejarah diharapkan bisa lebih menarik, terutama karena menyangkut tema-tema yang lebih sesuai dengan minat siswa. 2.4.3. Model Garis Perkembangan Khusus Pada dasarnya strategi ini hampir mirip dengan model garis besar kronologis seperti diuraikan diatas, karena model ini juga menekankan urutan perkembangan kronologis dari suatu peristiwa sejarah. Tetapi berbeda dengan model garis besar kronologis yang menekankan perkembangan keseluruhan dari berbagai aspek kehidupan manusia, maka model garis perkembangan khusus ini terutama hanya menelusuri aspek khusus yang menarik saja dari kehidupan manusia tersebut. Ide dasar dari model ini adalah bahwa suatu perkembangan itu hendaknya tidak diartikan sekedar sebagai peralihan dari satu periode ke periode berikutnya sematamata, tapi seharusnya diartikan sebagai pertumbuhan dari suatu aspek kehidupan manusia. Maka dari itu, dari sejumlah peristiwa sejarah, hanya dipilih tema-tema yang dianggap relevan dan menelusuri pertumbuhannya atas dasar perkembangan kronologisnya. Sebagai contoh misalnya bisa dipilih salah satu dari tema berikut ini:sekolah, rumah, alat transportasi, pengobatan dan lain-lain. Kalau salah satu tema sudah dipilih maka kemudian ditelusuri garis pertumbuhannya. Dalam tema mengenai rumah misalnya, kita bisa melihat pertumbuhannya dari bentuk rumah permulaan yang merupakan gua batu, kemudian manusia membangun bangunan sederhana dengan atap miring dan hanya satu tembok batu, kemudian mulai berkembang rumah dua dinding, rumah dengan tiang-tiang sederhana yang kemudian lantainya diangkat menjadi panggung, demikiran seterusnya hingga terbentuk gedung pencakar langit seperti sekarang. 11

Jadi model garis pertumbuhan khusus dalam pengajaran sejarah, sebenarnya merupakan gabungan antara penekanan pada unsur kronologis dan penekanan pada unsur tematis. 2.4.4. Model regresif Model regresif ini adalah kebalikan dari model pertama (model garis besar kronologis) yang memulai pengajaran sejarah dari perkembnagan awal terus sampai perkembangan sekarang (kontemporer). Sebaliknya model regresif ini memakai titik tolak situasi jaman sekarang, untuk kemudian menelusuri balik ke belakang/ masa lampau yang merupakan latar belakang dari perkembangan kontemporer tersebut. Sebagai contoh misalnya, apabila kita membicarakan masalah toleransi dalam kehidupan beragama sekarang ini kita bisa menelusuri akar-akar dari gejala ini pada perkembangan sejarah sebelumnya. Untuk itu guru bisa mengajak murid pertama-tama mempelajari bagaimana para pejuang kemerdekaan Indonesia yang terdiri dari berbagai macam agama berjuang bersama melawan penjajah, para tokoh berbagai aliran keagamaan juga bahu membahu membangkitkan jiwa nasionalisme, kemudian guru bisa membawa siswanya ke jaman-jaman yang lebih lama seperti perkembangan agama islam, perkembangan jaman pengaruh India bahkan sampai ke jaman prasejarah untuk mencari contoh-contoh dari berlakunya gejala toleransi di kalangan bangsa kita. Hal ini sama bisa pula dilaksanakan oleh guru bersama-sama siswanya untuk mempelajari sejarah yang menyangkut aspek-aspek kehidupan masyarakat lainnya. 2.5 Metode yang bisa digunakan dalam pengajaran sejarah Metode mengajar adalah bagian dari strategi pengajaran yang merupakan langkah-langkah taktis yang perlu diambil guru dalam menunjang strategi yang hendak dikembangkan di mana harus dikaitkan dengan tujuan, topik dan kemampuan siswa. Salah satu metode pembelajaran sejarah yang cocok untuk menjadikan siswa aktif dan guru sebagai fasilitatornya adalah kontruktivisme, inquiry, dan cooperatif learning. Kontruktivisme adalah bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (Anggara, 2007:104). Pembelajaran sejarah kontruktivisme berkaitan dengan pembelajaran yang berhubungan dengan masalah-masalah yang 12

dihadapi oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan model pembelajaran cooperatif learning menempatkan guru sebagai fasilitator, director-motivator dan evaluator bagi siswa dalam upaya membantu siswa mengembangkan keterampilan sosial dan kemampuan berfikir kritis, agar mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, mampu bekerjasama dengan orang lain, dan mampu berinteraksi sosial dengan masyarakat.Dan metode yang bisa digunakan antara lain adalah: Metode inquiry adalah sebuah model proses pengajaran yang banyak melibatkan siswa dalam proses-proses kegiatan pembelajaran, dimana siswa dihadapkan pada situasi dan mereka mulai bertanya-tanya tentang hal tersebut dengan langkah-langkah kegiatan pembelajarannya adalah memperkenalkan masalah, merumuskan hipotesis, pengumpulan data, menguji hipotesis, menganalisis data dan membuat kesimpulan. Sedangkan pembelajaran dengan metode ceramah adalah suatu teknik pengajaran yang banyak diwarnai oleh ciri karakteristik presentasi bicara oleh guru pada suatu pelajaran. Peran siswa dalam metode ceramah yang penting adalah mendengarkan dengan teliti serta mencatat pokok-pokok yang disampaikan oleh guru, aktivitas KBM ditekankan pada guru. Penggunaan kedua metode tersebut saling melengkapi dalam kegiatan pembelajaran, guru tidak hanya menggunakan metode ceramah saja, namun juga bisa menggunakan metode inquiry, begitu pula dalam penggunaan metode inquiry di dalamnya masih perlu penggunaan ceramah walaupun penggunaannya tidak mendominasi misalkan saja dalam menyimpulkan materi yang telah dipelajari siswa. Metode dengan manfaatkan penggunaan media sastra. Banyak karya fiksi berlatar sejarah di negeri ini yang dapat digunakan sebagai sarana membangkitkan minat siswa pada studi sejarah. Karya-karya Pramoedya Ananta Toer dan Romo Mangunwijaya adalah contoh yang bisa disebut. Dalam karya fiksi, sejarah memang hanya digunakan sebagai latar. Namun, ada unsur-unsur estetis di dalamnya yang bisa membuat pembaca menghadirkan dunia imajinasi di kepalanya sendiri. Ada pula unsur-unsur drama, konflik, dan solusi yang tentunya bisa menyentuh emosi si pembaca sehingga membetuk ingatan emosional. Ingatan emosional yang diperoleh siswa melalui pembacaan karya fiksi akan bisa menggugah mereka mempelajari lebih lanjut sejarah yang dijadikan latar dalam karya fiksi. 13

Misalkan, mereka yang habis membaca Burung-burung Manyar karya Romo Mangun atau Di Tepi Kali Bekasi karya Pramoedya Ananta Toer akan tergerak mempelajari lagi sejarah revolusi fisik. Dalam kaitannya dengan penggunaan karya sastra pengarang Indonesia sebagai sarana pembelajaran, kita justru tertinggal jika dibandingkan dengan beberapa negara tetangga. Di Malaysia sudah sejak lama novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer menjadi bacaan wajib siswa setingkat SMP, begitu pula dengan Gadis Pantai yang menjadi bacaan wajib siswa setingkat SMP di Australia. Sementara itu, di negeri si pengarang, semua karyakaryanya sempat dilarang keras beredar. Jadi, sebagai ilmu sejarah harus senantiasa mendasarkan dirinya pada fakta-fakta, sementara ia tak boleh menutup diri dari metode pembelajaran yang lebih mudah diterima dan lebih digemari siswa sehingga mereka tak mengalami amnesia sejarah PENUTUP Dua hal pokok yang sering dijadikan dasar bagi keragu-raguan akan arti penting dari pelajaran sejarah di sekolah. Yang pertama adalah bahwa di dalam abad teknologi modern sekarang ini, yang sangat menekankan pada unsur produktivitas keuntungan baik secara ekonomis maupun tujuan matrealistis nyata lainnya, bany, banyak orang yang mempertanyakan keuntungan dari belajar sejarah yang dianggap hanya studi perenungan. Dan yang kedua adalah karena banyak orang yang belum mengerti mengenai pentingnya dan tujuan dari pembelajaran sejarah. Sehingga sebagai seorang calon guru kita harus bisa mengubah imej sejarah yang dianggap hanya studi perenungan dan kurang berguna tersebut. Seorang guru harus bisa menciptakan suatu strategi dan metode dalam hal mengajar sejarah agar siswa yang diajarnya merasa tertarik dan senang untuk mempelajari sejarah. Selain itu, pendidikan dan pembinaan guru perlu ditingkatkan untuk menghasilkan guru yang bermutu dan dalam jumlah yang memadai, serta perlu ditingkatkan pengembangan karir dan kesejahteraannya termasuk pemberian penghargaan bagi guru yang berprestasi. Maka dari itu secara profesional, guru sejarah harus memilki pemahaman tentang hakikat pembelajaran sejarah, tujuan pembelajaran sejarah, kompetensi-kompetensi apa yang dapat dikembangkan 14

dalam pembelajaran sejarah, nilai-nilai apa yang dibutuhkan dan dapat dikembangkan dalam pembelajaran sejarah, sebelum nantinya guru dapat menentukan metode atau pendekatan yang digunakan. DAFTAR PUSTAKA Widja, I Gede. 1989. Dasar - Dasar Pengembangan Strategi Serta Metode Pengajaran Sejarah.Jakarta : Debdikbud

Widja, G.. 1988. Pengantar Ilmu Sejarah: Sejarah dalam Perspektif Pendidikan. Semarang: Satya Wacana. Notosusanto, Nugroho. 1979. Sejarah Demi Masa Kini. Jakarta: UI press. Gottschalk, Louis. 1975. Understanding Histori (Mengerti Sejarah). Yayasan Penerbit Universitas Indonesia.

15