You are on page 1of 5

INTISARI September 2011 HOBI MERAJUT

Jari-Jari Cantik Yang Merajut


Penulis: Siska Widyawati, Kontributor Intisari
Ibu-ibu muda perkotaan kini gemar merajut. Jangan aneh jika di dalam tas laptop seorang programmer atau ransel wartawan yang sesak terselip jarum dan gulungan benang rajut. Charles Dickens dalam Tale of Two Cities memandang kegiatan merajut dengan suram. Madame Defarge, tokoh antagonis berdarah dingin dalam novel terkenal itu, menulis nama orang-orang yang akan dibunuh pada karya rajutannya. Mereka merajut dan terus merajut sambil menghitung kepala yang jatuh, tulis Dickens. Namun jika Dickens hidup saat ini kalimat itu mungkin tidak mampir ke novelnya. Kegiatan yang identik dengan kesepian dan soliter itu kini berubah 180 derajat. Merajut kini menjadi tren yang mewabah tak hanya di kalangan ibu rumah tangga namun menjangkiti para perempuan pekerja. Perempuan-perempuan sibuk itu merajut tidak karena kesepian. Mereka bahkan berjuang menemukan waktu hanya untuk merajut. Mereka merajut dengan gembira dan cinta. Fin Harini (34) wartawan kantor berita asing adalah seorang perajut aktif. Ia setia membawa benang dan jarum di tasnya. Dia sering merajut sering saat pergi meliput di luar kota, terutama saat menunggu pesawat di bandara. Saya suka merajut sambil menunggu keberangkatan atau bahkan di dalam pesawat. Tinggal kepala biro yang pening melihat anak buahnya kayak nenek-nenek, katanya sambil tertawa berderai. Fien mulai merajut sejak SMP. Ia pertama kali mempelajarinya melalui Pendidikan Keterampilan Keluarga (PKK). Kesukaannya tersebut mungkin juga menurun dari orangtua dan leluhurnya.

Nenek dari pihak ayah suka merajut. Ibu dan kakak sulung saya juga bisa merajut, ujarnya. Saat meliput ke berbagai negara, gadis hitam manis asal Solo itu kerap mencari benang rajut di kota-kota yang disinggahinya. Dia malah pernah sempat histeris menemukan toko benang murah di Hanoi, Vietnam,. Benang yang dijual di Hanoi itu setengah harga dari Jakarta. Jadi, ketika kantor menugaskan saya untuk yang kedua kalinya ke sana, toko benang itu jadi tujuan wisata saya, katanya. Sebetulnya, apa sih nikmatnya merajut? Saya bisa bercermin, karena rajutan itu sangat jujur. Saat mood lagi berantakan, tidak tenang, kerapatan tarikan benang akan berbeda dengan saat kita melakukannya dengan tenang, kata perempuan yang bercita-cita membuka toko rajutan setelah pensiun. Berbeda dengan Fien, Mariane Boenadi (31) seorang manajer marketing di Jakarta tertarik merajut karena menonton suatu tayangan di TV. Saya nonton sebuah drama seri Jepang. Di situ ada pemeran yang sedang membuatkan baju hangat merah untuk pacarnya. Sejak itu,saya jadi kepikiran buat baju hangat untuk Mama, ujarnya. Perempuan yang akrab dipanggil Pipiet ini mengaku sudah hampir 10 tahun merajut. Menurutnya, merajut itu atraktif. Di tangan kita itu ada benang dan jarum yang bisa kita buat rangkaian dan motif menarik. Bisa kita pakai sendiri. Bangga sekali rasanya, katanya. Namun bagi Octiani Larasati (35), seorang konsultan Teknologi Informatika (TI), merajut awalnya adalah upaya melepas stres. Itu terjadi awal 2000, saat dia berkantor di Kuningan, Jakarta Pusat. Berangkat dari rumah di Depok ke kantor menghabiskan waktu 2 jam setiap hari. Rasanya penat sekali, kata Oty, sapaan akrabnya. Tidak berhenti di situ, melihat teman-temannya juga merindukan kegiatan sampingan, Oty yang sudah mahir pun membuka kursus

merajut. Kursus itu digelarnya setiap Sabtu di sebuah pusat perbelanjaan di Kuningan, 2003. Seru banget waktu itu. Pesertanya rata-rata perempuan pekerja seperti saya, kebanyakan sekretaris. Mereka galak-galak, tuh, jadi saya juga ikut-ikutan galak mengajarinya, tawa Oty. Murid-murid Oty kini menjadi perajut andal. Bahkan, ada di antara mereka yang serius menjadikan rajutan sebagai pekerjaan kedua dengan membuka toko benang. Layanan kursus merajut Oty sempat terhenti saat programmer bergelar Magister Manajemen ini mempunyai anak. Kini, Oty melanjutkannya kembali di salah satu pusat perbelanjaan di Depok, Jawa Barat. Bertemu melalui Blog dan Mailing List Selain melalui kursus, para penghobi merajut sering berbagi cerita dan pengalaman melalui blog dan mailing list. Salah satu mailing list yang cukup popular adalah Mari Merajut. Mailing list ini dimulai oleh dua sahabat, Dyah Dyanita dan Safrida Purwati Juni, 2006. Dydy , panggilan akrab Dyah yang berdomisili di New York, Amerika Serikat, bertemu dengan Frida lewat blog. Merasa info, alat dan bahan tentang merajut di Indonesia kurang lengkap, mereka memutuskan untuk memopularkannya dengan menulis buku merajut. Kami berharap setelah popularitasnya naik Indonesia semakin dilirik oleh pemasok alat dan bahan, sehingga semakin mudah mencarinya dan harganya juga semakin terjangkau, ungkap Didy, ibu dari dua anak ini. Sambil mengerjakan buku, mereka membentuk mailing list Mari Merajut pada 26 Juni 2006. Selang sebulan, tanggal 17 Juli 2006 diluncurkan situs merajut.com. Buku Merajut, Yuk yang merupakan proyek awal dua sahabat ini diterbitkan Gramedia pada 2008. Pelan tapi pasti, pencinta merajut bertambah. Hal ini setidaknya terlihat dari pertambahan anggota mailing list Mari Merajut. Saat ini, anggotanya telah mencapai 1.600 orang, tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Dari mailing list, kegiatan mereka berkembang. Berkat ide salah seorang anggotanya yang berprofesi sebagai event organizer, para perajut mengadakan Festival Rajutan Indonesia yang saat ini memasuki tahun ketiga. Bermula di Jakarta, kegiatan ini menular ke kota-kota lain, seperti Pontianak, Bandar Lampung, Pekanbaru, Yogyakarta, Bandung, Depok, Surabaya, Medan, Banda Aceh, sampai Batam. Oty yang dipercaya menjadi Ketua Festival Rajutan Indonesia yang ketiga di Jakarta mengatakan festival ini murni dimodali anggota. Sponsor sulit dicari. Kalau kami sumbangannya benang. Ada yang menyumbang benang sampai 2 kg, katanya mesem-mesem. Knitting 1st Club Anggota mailing list Mari Merajut memang terbilang aktif. Sebagian anggota membentuk komunitas merajut di wilayahnya. Contohnya, Knitting 1st Club, yang dipelopori Christine Djaffar. Klub merajut ini dikenal dengan proyek-proyek Knit Along (merajut bersama) yang cantik dan trendi. Proyek rajutan ditentukan bersama dalam arisan bulanan. Dengan cara ini, mereka saling berbagi trik membaca pola, teknik pengerjaan dan sebagainya. Biasanya hanya pilihan benang dan jarum yang berbeda. Klub yang beranggotakan 15 perempuan pekerja di Jakarta itu pun rajin memantau tren. Mereka pun menjadi anggota Ravelry, wadah perajut sedunia yang dapat diakses melalui internet. Kami juga membeli majalah-majalah rajutan luar, seperti Vogue Knitting dan Interweave Knits, juga terbitan-terbitan eletronik seperti Twist Collective, Knitty, tambah Christine yang biasa dipanggil Chrissy. Ada juga anggota yang membisniskan kreasinya. Pipit, contohnya, menerima pesanan pembuatan baju serta aksesori bayi dan orang dewasa. Kadang pengerjaan pesanan diserahkan kepada temantemannya yang sudah dia latih merajut. Rentang harga baju bayi antara Rp 150-500 ribu, untuk baju dewasa antara Rp 300 ribu sampai Rp 2,5 juta. Lumayan untuk nambah ekonomi teman-teman, katanya. []

<Boks>

Rajutan Yogya Merambah Dunia


Jauh sebelum wanita pekerja dan ibu rumah tangga di kota-kota besar Indonesia gemar merajut dan mulai membisniskannya, di Godean, Yogyakarta, sudah ada pengrajin yang mengekspor kreasi rajutan ke pasar dunia sejak 16 tahun lalu. Bisnis ini dijalankan oleh Delia Murwihartini sejak akhir 80-an. Sejak tahun 1995 saya fokus menggarap tastas rajut yang saya lihat potensi ekspornya cukup besar, katanya. Amerika menjadi pasar ekspor utama Delia berkat pertemuannya dengan pembeli tasnya yang berasal dari Amerika. Pembeli itu kini menjadi rekanannya dalam menggarap pasar di negeri Paman Sam. Sebesar 80% tas rajutan kreasi perusahaan Delia untuk tujuan ekspor, yaitu ke AS dan Eropa. Sisanya dipasarkan secara domestik menggunakan merek DOWA. Merek tersebut resmi diluncurkan April 2008. Untuk menjaga eksklusivitas produk, Delia menghindari sistem retail. Gerai pamernya ada empat, semuanya terletak di Yogyakarta. Saat ini omzet per tahun tas rajut yang diekspor ke Amerika dan Eropa mencapai US$ 4 juta, sedangkan omzet tas DOWA mencapai Rp 7 miliar. Dalam produksinya, Delia melibatkan 3.500 orang pengrajin pedesaan, terutama ibu rumah tangga yang tersebar di Bantul, Kulon Progo, dan Sleman. Kerajinan tangan adalah bakat yang dipunyai sebagian besar bangsa kita, pungkas Delia. []