You are on page 1of 78

ROADMAP WCU

YPT Grup

WORLD CLASS UNIVERSITY

AGUNG RIKSANA 2010

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI .......................................................................................................................................................................................... 1 BAB I....................................................................................................................................................................................................... 2 1.1 PERMASALAHAN DAYA SAING EKONOMI DAN PENDIDIKAN TINGGI DI INDONESIA.......................... 2 PERAN PENDIDIKAN TINGGI DALAM DUNIA GLOBAL ............................................................................................... 5 1.2 TREND PERSAINGAN GLOBAL PENDIDIKAN TINGGI........................................................................................... 5 1.3 ARAH PEMBANGUNAN PENDIDIKAN INDONESIA................................................................................................ 7 1.4 SASARAN STRATEGIS PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA ............................................................................. 7 1.5 TANTANGAN WORLD CLASS UNIVERSITY................................................................................................................. 8 BAB II ...................................................................................................................................................................................................13 2.1 APA YANG DIMAKSUD DENGAN WORLD CLASS UNIVERSITY (WCU) DAN KRITERIA WCU MENURUT DIKTI....................................................................................................................................................................... 13 2.2 KRITERIA WCU VERSI THES DAN WEBOMETRICS ............................................................................................ 30 2.3 Perbandingan metodologi penilaian WCU antara Webometrics, ARWU, dan THES............................. 33 BAB III..................................................................................................................................................................................................40 3.1 ISU ISU STRATEGIS........................................................................................................................................................... 40 3.2 Arah Pengembangan Mutu lembaga YPT Grup..................................................................................................... 41 3.2.1 Perluasan Akses dan Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Kemahasiswaan............................... 41 A. Landasan Kebijakan Pengembangan Pendidikan dan Kemahasiswaan.................................................. 41 Kebijakan Umum Strategis Pendidikan dan Kemahasiswaan .......................................................................... 41 3.2.2 PENINGKATAN KUALITAS PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT...................................... 44 A. Landasan Kebijakan Pengembangan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat..................................... 44 Kebijakan Strategis Pengembangan Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat ........................... 45 3.2.3 Penguatan Sistem Manajemen ................................................................................................................................. 46 A. Landasan Kebijakan Penguatan Sistem Manajemen ....................................................................................... 46 B. Kebijakan Strategis Penguatan Sistem Manajemen ......................................................................................... 47 BAB IV.................................................................................................................................................................................................... 1 4.1.KRITERIA WCU SERTA ARAH PENCAPAIAN WCU YANG AKAN DIKEJAR OLEH LEMBAGA DI BAWAH NAUNGAN YPT GRUP ............................................................................................................................................... 1 4.1.1 KRITERIA WCU YANG AKAN DIKEJAR ............................................................................................................... 1 4.1.2 PROGRAM KERJA BERBASIS WEBOMETRICS................................................................................................. 2 BAB V...................................................................................................................................................................................................... 3

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU BAB I PENDAHULUAN

YPT Grup

1.1

PERMASALAHAN DAYA SAING EKONOMI DAN PENDIDIKAN TINGGI DI INDONESIA

Pertumbuhan ekonomi indonesia berdasar Pendapatan Domestik Bruto (PDB) tahun 2010 yang berkisar 5,9% masih kalah jauh berbanding Thailand yang pada akhir akhir ini mengalami permasalahan politik dengan pertumbuhan PDB 7%. Hal ini karena indonesia belum mampu mengoptimalkan sumber daya terbesarnya, yaitu Human Capital. Bila dilihat negara China dan India, sumber daya manusianya dapat memberikan kontribusi dalam bentuk produktivitas tinggi sehingga ekonominya unggul sehingga menempati peringkat 27 tertinggi di dunia versi World Economic Forum (WEF) 2010, dengan kontributor yang cukup tinggi di dalam kategori inovasi (WEF, 2010). Sementara Indonesia belu bisa mensejajarkan dengan Korea bahkan Malaysia sekalipun. Tabel 1 Daya Saing Ekonomi Versi World Economic Forum 2010
NEGARA SINGAPURA JEPANG HONGKONG ARAB SAUDI KOREA ISRAEL MALAYSIA BRUNEI THAILAND INDONESIA Sumber: WEF, 2010 PERINGKAT DAYA SAING 3 6 11 21 22 24 26 28 38 44

Sementara dari segi pendidikan kondisi Indonesia juga masih belum layak bersaing dengan negara unggul di asia, seperti korea dan jepang, hal ini karena sumber daya manusia indonesia belum teroptimalkan. Salah satu masalahnya adalah Brain Power Deficit. Jumlah aset intelektual Indonesia saat ini hanya 13.000 (Doktor) atau rasio 65 doktor berbanding 1 juta, sementara kebutuhan untuk bisa layak bersanding dengan negara negara seperti korea dan jepang, maka Indonesia membutuhkan 75.000 100.000 Doktor, artinya saat ini baru terpenuhi 10% dari kebutuhan. Apalagi bila kita berkaca pada negara maju seperti Amerika, mereka memiliki 2 Juta PhD

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

atau memiliki rasio 6.500 banding 1 Juta, sementara rasio PhD tertingi disandang oleh Israel dengan 135 banding 10.000. Untuk detail dapat dilihat dari tabel berikut: Tabel 2 Perbandingan Jumlah dan Rasio Aset Intelektual (Phd) Indonesia dengan Negara Asia NEGARA USA ISRAEL JEPANG CHINA INDONESIA
Sumber: Direktori Doktor ,2010

JUMLAH DOKTOR 2 JUTA n/a 605.600 78.000 (TAHUN 2001) 13.000

RASIO 6.500: 1 JUTA 135: 10.000 (tertinggi) 4.800: 1 JUTA n/a 65: 1 JUTA

Karena itu pemenuhan aset intelektual kepada sektor yang berkontribusi pada PDB amatlah kurang, sektor yang berkontribusi pada PDB diantaranya adalah sektor jasa 38,5%, Industri 47,1%, Agriculture 14,4%. Komposisinya dapat terlihat dari tabel berikut: Tabel 3 Suplai Aset Intelektual untuk Sektor yang berkontribusi pada PDB Sektor Industri Agriculture
Sumber: Campus Asia, 2010

Aset Intelektual 160 Doktor 510 Doktor

Untuk sektor Industri cukup bermasalah, terutama untuk sektor pertambangan (Mining), karena kebutuhan akan tenaga intelektual cukup besar (Campus Asia, 2010) Apabila kita mengkaji signifikansi produktivitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam Inovasi dan riset dan hubungannya dengan pertumbuhan ekonomi, maka kita dapat melihat best pratice yang membuktikan bahwa aset intelektual dalam kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi adalah sangat signifikan berpengaruh. Dalam paper yang dikaji oleh Boston Bank menyimpulkan dalam papernya yang berjudul MIT Impact of Innovation, bahwa alumni MIT telah membangun 4000 perusahaan dengan menciptakan 1 juta pekerjaan, dengan pendapatan total USD 232 Milyar. Bila MIT ini diandaikan sebuah negara, maka produktivitas PDB MIT dua kali lebih besar dari PDB negara Afrika Selatan, tentunya ini sangat luar biasa.

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

Selain rendahnya aset intelektual dan produktivitasnya, Indonesia juga memiliki permasalahan terkait rendahnya kapasitas (resource), terutama dana riset. Apabila kita lihat negara Singapura, Malaysia, dan Korea, maka kita dapat melihat salah satu faktor mengapa produktivitas riset dan inovasi mereka cukup tinggi. Kita dapat melihat perbandingan kapasitas alokasi dana, dan apresiasi mereka terhadap peneliti dari komparasi berikut: Tabel 4 Perbandingan Dana Riset Indonesia dengan Negara Tetangga dan Asia Aspek Dana Riset dari Pemerintah Singapura 470 Juta USD untuk National University Singapore Malaysia 25 Juta USD untuk University of Malaysia/tahun Korea Selatan 50 Juta USD untuk Seoul National University Indonesia -Dana Research Excellent hanya: 27.500 USD atau 250 Juta. -ITB menerima 4 Juta USD Selain hal di atas, apresiasi terhadap peneliti juga sangat kurang di Indonesia, bila kita melihat negara dengan produktivitas cukup baik seperti Korea, maka apresiasi pemerintah sangat baik terhadap aset intelektual mereka. Korean Advanced Institute of Science and Technology menerima USD 1,900 (Rp.18 Milyar) setiap bulannya (Campus Asia, 2010). Sementara di Indonesia, Profesor riset, dengan pengabdian 25 tahun, golongan tertinggi IV-e hanya di beri insentif 4 Juta saja. Selain kapasitas dana, kapasitas Perguruan Tinggi di Indonesia juga rata rata belum optimal dari segi sarana prasarana. Bila kita lihat Stanford University California Amerika, yang merupakan peringkat 19 Dunia, maka sumber dayanya luar biasa. Mereka memiliki 94 Research Center dengan bermacam macam kajian keilmuan dengan tujuan menciptakan knowledge baru, lab independen dengan didukung 300 dosen dan 400 tenaga administratif, 20 gedung perpustakaan, 8 Juta Volume buku fisik, 34.000 jurnal online, 800 database artikel. Sehingga mereka memiliki aset intelektual yang produktif dan menghasilkan peraih nobel. (Stanford.edu, November 2010) Untuk Indonesia, tidak mengherankan apabila daya saing Perguruan Tinggi nya juga belum mampu bersaing dengan negara negara di asia.

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU
NEGARA SINGAPURA MALAYSIA THAILAND INDONESIA Sumber: WEF, 2010 PERINGKAT DAYA SAING PT 5 DARI 139 49 59 66

YPT Grup

PERAN PENDIDIKAN TINGGI DALAM DUNIA GLOBAL Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, terutama telekomunikasi dan transportasi telah mempermudah akses kepada setiap orang sehingga batas batas antara negara semakin transparan secara ekonomi, sosial, politik, dan budaya, sehingga hal tersebut memicu kompetisi global yang semakin menguat dari waktu ke waktu. Setiap negara menghadapi tantangan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saingnya diantara negara-negara di dunia untuk mampu memelihara pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan warga negaranya. Sebagaimana diindikasikan oleh World Development Report on Knowledge Economy pada tahun 1999, faktor kunci dimana ekonomi berbasis wawasan yang dikembangkan meliputi ekonomi yang kondusif, sumber daya manusia yang kuat, infrastruktur teknologi informasi yang sehat, dan sistem inovasi yang efisien (the world bank, 1999). Sebagian besar persyaratan tersebut sangat berhubungan dengan pengembangan Pendidikan Tinggi (PT). PT memiliki peran dan tanggung jawab untuk membangun landasan yang kokoh untuk daya saing bangsa melalui pengembangan SDM, dan penciptaan knowldge, dan teknologi. Hal ini terkait penggunaan secara efektif seluruh jenis knowledge dalam kegiatan ekonomi (DTI, 1998). Pada dunia yang bergerak cepat menuju kearah sistem yang mengglobal, pergerakan dan mobilitas manusia lintas batas negara dengan lebih mudah menjadi bagian kehidupan sehari hari. Pendidikan tinggi sebagai salah satu ujung tombak pengembangan SDM harus berada didepan untuk mempersiapkan para lulusannya untuk dilengkapi dengan keterampilan yang dibutuhkan, wawasan dan kemampuan untuk bekerja dan produktif dalam sistem tersebut. PT harus mempersiapkan lulusannya dengan kreativitas dan keterampilan belajar seumur hidup yang diperlukan untuk generasi masa depan. Para siswa juga harus dibekali dengan pemahaman yang baik tentang isu global dan diekspose ke siatuasi multi budaya untuk dididik menjadi warga negara global yang bertanggungjawab. Oleh sebab itu internasionalisasi PT hal yang tidak terhindarkan. 1.2 TREND PERSAINGAN GLOBAL PENDIDIKAN TINGGI Globalisasi yang terjadi di berbagai bidang menurut UNESCO (2002) akan pula berpengaruhi secara langsung pada pendidikan tinggi. Batas batas administratif negara tertembus sehingga penyelenggaraan suatu pendidikan tinggi di suatu negara bisa saja adalah perguruan tinggi yang

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

berbasis di negara negara maju seperti fenomena berkembangnya perusahaan multinasional di negara berkembang yang telah terjadi secara luas dewasa ini. Bukan hanya itu, globalisasi juga memungkinkan lulusan dari berbagai perguruan tinggi di dunia, terutama yang sudah tersertifikasi, untuk berkompetisi meraih peluang kerja di berbagai negara termasuk negara berkembang yang daat berakibat pada semakin tertekannya lulusan perguruan tinggi domestik di pasar kerja lokal. Foenomena ini semakin kuat pada beberapa dekade terakhir yang menyebabkan tekanan persaingan pendidikan tinggi semakin meningkat dan perguruan tinggi seluruh dunia mendapatkan tekanan untuk melakukan perubahan dalam penyelenggaraan fungsi dan peran pendidikan tinggi. Lembaga pendidikan tinggi dituntut untuk mampu mengembangkan kapasitasnya secara fleksibel dan mempu beradaptasi sehingga memungkinkan melakukan perubahan secara terus menerus dan berkesinambungan. UNESCO (2004) dalam World Declaration on Higher Education for the Twenty First

Century : Vision and Action and the Framework for Priority Action for Change Development of Higher Education memberikan outline kerangka konseptual dan aksi dalam pembaharuan dan
reformasi pendidikan tinggi yang mengharuskan pendidikan tinggu untuk: 1. Memperluas akses dan menjamin pengembangan pendidikan tinggi merupakan faktor kunci pembangunan sebagai barang publik (public good) dan hak azasi manusia (human right) 2. Mempromosikan pembaruan dan reformasi sistem maupun kelembagaan dengan tujuan meningkatkan kualitas, relevansi dan efisiensi sehingga memiliki keterkaitan dengan masyarakat, terutama dunia kerja (world of work). 3. Menjamin sumberdaya dan dana yang memadai baik publik maupun swasta dalam menjamin terpenuhinya kebutuhan akan pendidikan tinggi oleh masyarakat secara keseluruhan dan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) 4.Mendukung pengembangan kemitraan dan kerjasama internasional. Untuk menghadapi globalisasi dan menjawab berbagai tantangan pembangunan di tanah air, dokumen RPPJP (Rencana Pembangunan Jangka Panjang) mengamanatkan pentingnya peningkatan kapasitas dan moderniasi perguruan tinggi (2003-2010), penguatan pelayanan (2010-2015), peningkatan daya saing regional (2015-2020), dan penguatan daya saing internasional (2020-2025). Dalam implementasinya, Departemen Pendidikan Nasional, khususnya Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi telah encanangkan HELTS (Higher Education Long Term Strategies 2003-2010) dengan tujuan untuk menjadikan perguruan tinggi sebagai pengjasil lulusan dan IPTEKS yang dapat memperkuat daya saing bangsa melalui paradigma baru yang berfokus pada kualitas, akses dan ekuiti, serta otonomi perguruan tinggi. Dalam konteks ini, HELTS juga memandatkan akredisasi dan

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

standarisasi nasional maupun internasional dalam bentuk produk dan proses pendidikan, menuntut evaluasi dan penjaminan mutu pendidikan yang handal dengan indikator keberhasilan (performance indicators) yang terukur. Sebagai implikasinya, globalisasi dan iklim kompetisi yang tinggi pada akhirnya mengharuskan perguruan tinggi untuk masuk dalam jajaran perguruan tinggi bermutu dan terbaik tingkat dunia (World Class University). Menjadi sangat penting bagi perguruan tinggi untuk mengadopsi berbagai karakteristik dan indikator yang diterapkan oleh badan-badan akreditasi internasional yang mengadopsi berbagai model seperti ISO-9000s, EFQM, MB, HEFCE, Six-Sigma dan AUN. 1.3 ARAH PEMBANGUNAN PENDIDIKAN INDONESIA Bagaimana arah pembangunan Indonesia, terutama di bidang ekonomi dapat dilihat dari rencana yang sudah disusun oleh Pemerintah. Dalam Undang-Undang nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 ditetapkan bahwa berlandaskan pelaksanaan, pencapaian, dan sebagai kelanjutan dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) ke-1 (2004-2009) maka RPJMN ke-2 (2010-2014) ditujukan untuk lebih memantapkan penatan kembali Indonesia di segala bidang dengan menekankan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia termasuk pengembangan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta penguatan daya saing perekonomian. Strategi dan arah kebijakan pembangunan pendidikan tahun 2010--2014 dirumuskan berdasarkan pada RPJMN 2010--2014 dan evaluasi capaian pembangunan pendidikan sampai tahun 2009 serta komitmen pemerintah pada konvensi internasional mengenai pendidikan, khususnya Konvensi Dakar tentang Pendidikan untuk Semua (Education For All), Konvensi Hak Anak (Convention on the Right of Child), Millenium Development Goals (MDGs), dan World Summit on Sustainable Development. 1.4 SASARAN STRATEGIS PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA Sedangkan tujuan strategis Pendidikan Tinggi yang tercantum dalam Renstra Kemendiknas 2010 2014 adalah Tersedia dan terjangkaunya layanan pendidikan tinggi bermutu, relevan, berdaya saing internasional dan berkesetaraan di semua provinsi. untuk mencapai tujuan tersebut ditetapkan sasaran strategis seperti dalam gambar 2 berikut:

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

Gambar 2. Sasaran strategis Kemendiknas 2010 2014 Jika melihat pada sasaran strategis yang ditetapkan oleh Kemendiknas, maka yang perlu diperhatikan oleh perguruan tinggi adalah peningkatan kualifikasi dosen pasca sarjana hingga 90% bergelar Doktor, dan kualifikasi dosen S-1 dan diploma yaitu master (S-2). Sedangkan untuk insitusi sertifikasi ISO 9001:2008 menjadi hal yang wajib untuk didapat. Sementara untuk pencapaian WCU THES, untuk YPT Group dapat diupayakan secara bertahap dengan meraih kriteria WCU dari yang termudah, kemudian berkembang terus sehingga dapat mencapai kriteria THES. 1.5 TANTANGAN WORLD CLASS UNIVERSITY World Class University bukanlah suatu hal yang baru kita dengar. Suatu istilah yang berarti Universitas Kelas Dunia atau Universitas yang mempunyai nama/kelas didunia. Menjadi suatu universitas berkelas dunia merupakan impian seluruh Universitas/PT untuk menjadi terkenal dan lebih baik dari yang lain. Kualitas pendidikan Indonesia, terutama perguruan tinggi memang masih tertinggal jauh dengan Negara-negara barat.Ini terbukti banyaknya Universitas/PT dinegara Barat yang sudah World Class University. Untuk mewujudkan hal tersebut memang bukan pekerjaan mudah dan butuh berbagai prosedur-prosedur yang harus diselesaikan dan dipenuhi.Perlu adanya strategi tepat untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi di Indonesia. World class university tampaknya menjadi syarat utama bagi Indonesia jika ingin bersaing dengan perguruan tinggi luar negeri. Sering kali kita dengar Suatu Universitas atau perguruan tinggi yang bercita-cita untuk go internasional dengan berbagai sasaran atau target keberhasilan. Namun tidak menunjukkan kapan target tersebut akan tercapai. Apa yang direncanakan dalam Renstra masih sebatas wacana/impian dan belum dilakukan action yang jelas, sistemik, terarah, terprogram sebagaimana mestinya. Secara riil, posisi suatu Universitas/Perguruan tinggi secara nasional mungkin sudah baik. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) yang berhasil memperoleh nilai Akreditasi A, B, C serta berbagai

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

prestasi-prestasi kampusnya Namun apakah nilai Akreditasi yang didapat PTS/PTN itu akan menjadi jaminan bahwa Universitas/perguruan tinggi itu akan menjadi World Class University? Berbicara tentang World Class University, tentu Universitas/Perguruan Tinggi pada level internasional. Sejak akhir Januari 2006, Departemen Pendidikan Nasional telah membentuk Tim Gugus Tugas penetapan 10 Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia yang akan dipersiapkan sebagai universitas-universitas yang akan dikembangkan menjadi universitas kelas dunia (world-class university). Pengembangan beberapa universitas kelas dunia di Indonesia dapat menjadi terobosan penting dalam rangka akselerasi dan peningkatan kualitas dan daya saing PT Indonesia vis-a-vis PT mancanegara. Pengembangan sejumlah universitas menjadi world-class university sudah dilakukan di banyak negara Asia, khususnya di Korea Selatan, Cina, Singapura, dan bahkan Thailand. Bukan rahasia lagi, tidak banyak PT Indonesia yang mampu bersaing di tingkat internasional, bahkan untuk level nasional bahkan lokal saja, sebagian besar belum memenuhi harapan. Banyak faktor penyebabnya sejak dari tradisi universitas yang relatif baru, hanya sejak masa pasca Kemedekaan Indonesia mulai memiliki universitas, pembiayaan yang minim atau masih mengandalkan bantuan APBD dari daerah, kualifikasi pendidikan sumber daya dosen yang rendah, fasilitas yang tidak/kurang memadai, tidak ada atau kurangnya jaringan nasional dan internasional, dan sejumlah faktor lainnya lagi. Philip G Albach dalam The Costs and Benefits of World-Class Universities (2005), universitas kelas dunia adalah universitas yang memiliki rangking utama di dunia, yang memiliki standar internasional dalam keunggulan (excellence). Keunggulan tersebut mencakup, antara lain, keunggulan dalam riset yang diakui masyarakat akademis internasional melalui publikasi internasional, keunggulan dalam tenaga pengajar (profesor) yang berkualifikasi tinggi dan terbaik dalam bidangnya, keunggulan dalam kebebasan akademik dan kegairahan intelektual, keunggulan manajemen dan governance, fasilitas yang memadai untuk pekerjaan akademis, seperti perpustakaan yang lengkap, laboratorium yang mutakhir, dan pendanaan yang memadai untuk menunjang proses belajar-mengajar dan riset. Dan tidak kurang pentingnya, keunggulan dalam kerja sama internasional, baik dalam program akademis, riset, dan sebagainya. Jelas tidak mudah bagi PTPT Indonesia mencapai berbagai keunggulan tersebut. Tetapi, jika pemerintah, masyarakat, dan kalangan PT-PT Indonesia serius memiliki world-class universities, maka jelas tantangannya tidak sederhana. Namun, peluang bukan tidak ada. pemerintah pusat dan daerah menganggarkan minimal 20 persen APBN untuk pendidikan, dapat menjadi peluang untuk lebih menyeriusi peningkatan kualifikasi PT Indonesia menjadi world-class universities. Selain dianggarkan terutama untuk

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

pendidikan dasar, sebagian anggaran pendidikan tersebut seyogianya dialokasikan untuk akselerasi beberapa PT Indonesia ke kelas internasional. Setidaknya ada tiga hal yang harus ada dalam strategi menuju world class university. Pertama, perguruan tinggi harus punya fokus riset atau pengembangan bidang-bidang tertentu yang akan jadi unggulan mereka. Sebaiknya, bidang-bidang ini punya kedekatan dengan kondisi alam, sosial, dan budaya. Hasil riset juga punya kegunaan langsung di masyarakat. Kedua, mendorong tiga mesin utama, yaitu integrasi berbagai bidang terkait, pemanfaatan teknologi IT, dan penanaman nilai-nilai entrepreneurship. Ketiga, ada pengembangan ventura-ventura atau sumber daya yang ada di perguruan tinggi. Pengembangan itu bisa dari segi akademik dengan pengembangan intellectual capital dan sumber daya lain yang bersifat ekonomis. Strategi harus dipikirkan, dan dijalankan secara sinergi dan kontinu. Kalau tidak, sulit untuk untuk bersaing. salah satu cara menuju world class university adalah bekerja sama dengan perguruan-perguruan tinggi luar negeri yang kredibel. Kerja sama itu harus didasarkan pada prinsip saling menguntungkan dan bisa menjadi pemicu peningkatan kualitas pendidikan.beberapa kriteria yang umumnya dijadikan sebagai dasar bagi penentuan peringkat adalah sebagai berikut : Ada tidaknya peraih nobel di perguruan tinggi tersebut, Jumlah mahasiswa asing yang menjadi mahasiswa di perguruan tinggi tersebut, Jumlah staff yang bergelar doktor beserta prestasi akademik dan penelitian yang diraihnya, Adanya internet bandwidth connectivity yang baik serta kecepatan aksesnya, Adanya rasio student-dosen yang seimbang serta tingkat selectivity mahasiswa yang baik, Seberapa banyak publication index dari para peneliti di perguruan tinggi tersebut yang dikutip oleh orang lain, Seberapa sering update informasi dari berbagai aktivitas di perguruan tinggi tersebut, Seberapa banyak adaptasi pembelajaran modern dalam proses pembelajarannya,Terdapatnya berbagai sumber keuangan yang mendukung keberlanjutan berbagai aktivitas perguruan tinggi tersebut. Selain itu terdapat pula lembaga yang hanya menggolongkan kriteria kedalam lima item saja, yaitu : Academic reputation, Student selectivity, Faculty resources, Research : citation, papers, publication book, peer reviewed article, funding, graduated student, Financial resources : total spending perstudents, library spending per students. Maka untuk memenuhi cita-cita menjadi menjadi world class university, unit yang harus ektra keras untuk mensupportnya antara lain : lembaga penelitian, perpustakaan, teknologi informasi, biro SDM. Paling tidak harus ada kebijakan khusus pada lembaga tersebut untuk mengejar ketertinggalannya sehingga memiliki program yang jelas untuk meningkatkan kualitasnya. Kalau untuk PTS, ada hal yang sulit untuk bisa dipenuhi agar menjadi world class university, yaitu terkait dengan student

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

selectivity dan rasio dosen-mahasiswa. Bagaimana akan memiliki student selectivity yang baik kalau setiap tahun prodi-prodinya di target harus menerima sekian banyak mahasiswa baru, dengan alasan untuk pendanaan subsidi silang ke prodi yang lain. Bagaimana akan memiliki rasio yang seimbang kalau student body nya gemuk sementara kebijakan untuk pengadaan dosennya sangat lambat (kalaupun tidak zero growth) padahal dosen adalah salah satu point penting juga. Tidak mungkin pengajaran semuanya diajarkan oleh Dosen luar yang latar belakang disiplin ilmunya berbeda. Jangan sampai nantinya mahasiswa banyak tapi dosennya itu-itu saja dan hal ini harus menjadi point terpenting bagi Pimpinan Universitas/PT untuk segera diselesaikan. Serta aturan-aturan Universitas/PT jangan hanya tebang pilih tetapi harus ada azas kesamaan supaya aturan-aturan itu tidak jadi aturan khusus orang tertentu. Peningkatan kualitas pendidikan perguruan tinggi di Indonesia ini harus jadi perhatian. membuat kebijakan untuk mengubah perguruan tinggi negeri menjadi badan hukum. Dengan badan hukum, perguruan tinggi punya otonomi dan independensi untuk mengelola aset dan keuangan mereka sendiri. Dengan begitu, mereka diminta untuk bisa lebih cepat dalam meningkatkan kualitas dan menjalin hubungan dengan perguruan tinggi luar negeri, bahwa perubahan menjadi badan hukum memberikan keleluasaan bagi perguruan tinggi untuk mengelola aset mereka masing-masing. kebebasan itu tidak akan efektif jika tidak ada strategi tepat menuju world class university. Walaupun world class university, tentu bukan segalanya dalam kriteria pendidikan tinggi di negara berkembang karena tuntutan peran dalam pengembangan kesejahteraan rakyat menjadi sangat mendesak. Tetapi persaingan global memerlukan kemampuan segenap perguruan tinggi di Indonesia menggerakkan seluruh daya dan upaya untuk mencapai beberapa langkah secara sinergis. Beberapa kriteria world class university diantaranya adalah 40 % tenaga pendidik bergelar Ph.D, publikasi internasional 2 papers/staff/tahun, jumlah mahasiswa pasca 40% dari total populasi mahasiswa (student body), anggaran riset minimal US$ 1300/staff/tahun, jumlah mahasiswa asing lebih dari 20%, dan Information Communication Technology (ICT) 10 KB/mahasiswa. Kriteria tersebut tentu tidak 100% sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini yang sedang memperjuangkan anggaran pendidikan yang memadai, terbatasnya kursi bagi mahasiswa dalam negeri yang kemampuan ekonominya rendah, maupun peran pendidikan tinggi dalam menghasilkan iptek yang bermafaat bagi kesejahteraan rakyatnya. Namun ukuran-ukuran tersebut penting sebagai dasar bagi referensi kesejajaran universitas di Indonesia dengan universitas lainnya yang bertaraf internasional. Guna mencapai tujuan jangka panjang tersebut harus dapat meletakkan basis yang kuat melalui

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

pembangunan karakter pendidik dan tenaga kependidikan yang memiliki etika akademik dengan ciri-ciri rasional, obyektif dan normatif. Etika akademik tersebut harus menjadi unsur fundamental moralitas dalam menghadapi perkembangan sosial, ekonomi, politik, budaya dan iptek. Sehingga selain tanggung jawab individu yang mengutamakan kompetensi professional, kejujuran, integritas dan obyektivitas serta sebagai institusi harus mampu mempertanggung jawabkan secara publik, hormat kepada martabat dan hak azasi manusia serta dapat menjadi sumber acuan budaya luhur bangsa. Beberapa aspek yang perlu dibenahi diantaranya untuk mencapai world class university adalah: Menjunjung tinggi nilai-nilai ilmiah, etika dan estetika yakni apakah setiap unit menjunjung tinggi prinsip-prinsip kebenaran dan kejujuran ilmiah. Seperti telah menjunjung tinggi bidang ilmu yang dikembangkan dan apakah tenaga pendidik dan unsur akademiknya telah jujur dengan bidang keilmuan yang ditekuni dan diajarkannya sehingga misalnya: tidak terjadi illegal teaching, dan ini banyak terjadi di dunia Pendidikan kita, Menjaga standar professional dan standar ilmiah yang tinggi secara berkelanjutan setingkat dengan universitas kelas dunia,Tidak melakukan diskriminasi dalam pelaksanaan kegiatan akademik, Menciptakan lingkungan belajar dan mengajar yang berkualitas dan bertaraf internasional, Mengembangkan dan menerapkan iptek pertanian yang bermanfaat bagi kesejahteraan bangsa dan seluruh umat manusia, Menghormati hukum dan hak azasi manusia, Mampu menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat dan bertaraf internasional.Nilai-nilai penting tersebut harus menjadi landasan bagi pembuatan kebijakan akademik dan terus dikembangkan melalui berbagai instrumen serta dilaksanakan secara komprehensif beserta jaminan mutu, pemantauan dan evaluasinya sehingga menjadi budaya akademik Pencapaian unsur-unsur penting tersebut dalam tingkah laku para tenaga pendidik, peneliti dan tenaga kependidikan sangat menentukan kualitas sebagai institusi universitas bertaraf internasional dan berperan dalam pembangunan bidang pertanian yang dapat mensejahterakan segenap warga serta seluruh rakyat Indonesia dan umat manusia.

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU BAB II STUDI LITERATUR: CHANGE MANAGEMENT DAN WCU 2.1 CHANGE MANAGEMENT (MANAJEMEN PERUBAHAN)

YPT Grup

Terkait pengembangan pendidikan di universitas Ling (2005) menyatakan bahwa, pengembangan dalam organisasi organisasi pada umumnya dapat dilihat sebagai efektivitas, efisiensi insitusi dalam pencapaian tujuannya. Peranan perguruan tinggi dalam mempersiapkan daya saing bangsa mengarungi era persaingan global sudah sangat urgen. Pada umumnya pendidikan tinggi di negara ini telah tertinggal, bahkan terasing dari kebutuhan dan realitas sosial, ekonomi, serta budaya masyarakatnya. Perguruan tinggi memerlukan otonomi dan independensi untuk dapat memulihkan perannya itu keluar dari menara gading dan terlibat secara langsung sebagai agent of change dalam perubahan masyarakat. Memposisikan sebuah perguruan tinggi pada barisan perguruan tinggi-perguruan tinggi terbaik memerlukan perubahan yang fundamental sehingga mampu bersaing (better competitive situation). Sebuah perguruan tinggi harus memiliki strategic intent. Untuk mewujudkannya perlu dilakukan transformasi kelembagaan yang lebih kompleks dari sekadar pengembangan organisasi (organization development). Perguruan tinggi merupakan lembaga, dibangun komunitas akademik yang bersifat kolegial, dan menjunjung tinggi academic value untuk mencerdaskan bangsa. Ini yang membedakannya dengan organisasi lain. Melakukan perubahan fundamental untuk dapat menghasilkan nilai-nilai akademik, sosial, dan ekonomi merupakan kata kunci dalam transformasi sebuah perguruan tinggi. Transformasi kelembagaan ini mencakup penyelarasan atau perancangan ulang dari strategi, struktur, sistem, stakeholders relation, staff, skills (competence), style of leadership, dan shared value. Upaya transformasi kelembagaan ini diharapkan dapat merevitalisasi peran perguruan tinggi agar mampu berperan secara optimal dalam mewujudkan academic excellence for education, for industrial relevance, for contribution for new knowledge, dan for empowerment. Konsep manajemen Perubahan (Management of Change) Perubahan adalah hal yang pasti terjadi, termasuk di dalam konteks organisasi. Perubahan terjadi karena yang menjalankan organisasi adalah manusia, dan manusia terus berubah. Sering dikatakan satu hal yang pasti terjadi di dunia adalah perubahan. RoadMap WCU YPT Group perubahan terencana dalam perilaku orang, proses proses pada lingkungan organisasi untuk meningkatkan

ROADMAP WCU

YPT Grup

Pengertian perubahan secara umum menurut Stephen Robbins dalam Organizational behavior (2009), adalah membuat sesuatu terjadi. Dalam organisasi, perubahan dapat terjadi dalam lingkup yang kecil, tentang sesuatu yang kecil, dan perubahan yang kecil-kecil ini terjadi secara terus menerus. Perubahan ini disebut first order change atau sering juga disebut contiuous improvement. Pada umumnya perusahaan perusahaan jepang yang dikenal piawai dalam menerapkan perubahan ini. Ada pula perubahan yang besar besaran, yakni perubahan multi dimensi dalam suatu organisasi. Perubahan ini disebut second order change atau disebut dengan istilah dramatic change. Ini tidak berarti bahwa jika suatu organisasi menerapkan sudah menerapkan first order change, maka organisasi tersebut tidak perlu menerapkan second order change. Juga tidak berarti bahwa jika suatu organisasi menerapkan second order change, maka organisasi tersebut tidak perlu menerapkan first order change. Kedua jenis perubahan itu perlu diterapkan. Pimpinan organisasi harus jeli dan peka terhadap faktor faktor yang menyebabkan perlunya melakukan perubahan. Sonnenberg, dalam Managing With A Conscience: How to Improve Performance Through Integrity, Trust, And Commitment (1994) menyatakan bahwa di dunia ini perubahan terjadi setiap hari, sehingga menjalankan usaha seperti biasa adalah merupakan resep yang dapat menjamin kegagalan. Agar berhasil, perusahaan harus merangkul perubahan. Tidak cukup perusahaan hanya reaktif terhadap perubahan. Perusahaan harus belajar mengantisipasi perubahan. Robbins menyatakan, organisasi harus berubah, kalau tidak berubah, organisasi tersebut akan mati. Apa yang diutarakan Sonnenberg dan Robbins senada dengan Smither, Houston dan McIntire (Organizational Development: Strategies for changing Environment, 1996) yang menyatakan bahwa semua organisasi harus berubah agar dapat bertahan hidup. Pernyataan ini mempunyai makna bahwa perubahan yang terjadi dalam organisasi harus dirumuskan sedemikian rupa demi kepentingan organisasi. Oleh karena itu, setiap perubahan dalam organisasi harus direncanakan dan dikelola sebaik mungkin. Smither, Houston dan McIntire secara tegas menyatakan bahwa proses perubaan harus dikelola secara terampil agar perubahan tersebut terjadi secara efektif demi kepentingan organisasi. Perubahan seperti ini disebut dengan istilah planned change. Inilah yang merupakan pokok bahasan dari manajemen perubahan. Dalam melakukan perubahan, informasi tentang perlunya perubahan boleh datang dari mana saja: dari bawahan, orang luar organsasi, dari orang desa, dari pengamat, dari konsultan, dari pelanggan, dan lain lain. Keputusan untuk berubah atau tidak berubah selalu dari atas (pimpinan puncak organisasi, pemilik organisasi atau kepala unit kerja), pendekatan manajemen perubahan adalah top-down. RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

Jika keputusan untuk berubah sudah ditetapkan, pelaksanaan atau implementasi perubahan tidak dapat dilakukan sendiri oleh orang yang memutuskan perubahan itu. Sejumlah orang tertentu diperlukan untuk meyakinkan seluruh anggota organisasi bahwa perubahan itu akan membuat organisasi menjadi lebih baik, serta untuk mengelola dan memonitor perubahan itu. Sejumlah orang tersebut disebut dengan change agent (agen perubahan). Orang orang yang di angkat sebagai agen perubahan tersebut berperan sebagai katalisator dan motivator untuk membuat seluruh anggota organisasi termotivasi untuk berubah. Tanpa motovasi yang tinggi dari seluruh anggota organisasi, tujuan yang telah ditetapkan tidak akan terwujud. Hal ini senada dengan yang dikatakan oleh Bateman dan Snell dalam Management: Competing In The New Era (2002) bahwa seluruh anggota organisasi harus termotivasi untuk berubah, jika tidak tujuan perubahan tidak akan terwujud. Faktor faktor penyebab perubahan Menurut berbagai literatur, terdapat berbagai faktor penyebab terjadinya perubahan dalam organisasi. Dari berbagai sumber, berikut ini rangkuman faktor-faktor penyebab perubahan yang lazim diidentifikasi dalam berbagai kajian. Pertama, teknologi. Perkembangan teknologi sering menjadi penyebab penting untuk melakukan perubahan. Hal ini karena teknologi beru selalu lebih canggih dari teknologi lama. Kedua, sumber daya manusia. Kualitas SDM terus berkembang karena kurikulum di lembaga lembaga pendidikan terus berubah. Tingkat pendidikan sumberdaya manusia terus meningkat. Pengetahuan dan keterampilan karyawan sebagai dampak dari pengalaman kerja dan pelatihan terus berkembang. Dengan demikian pola pikir SDM terus berubah. Keanekaragaman latar belakang tenaga kerja terus berkembang, masing masing membawa budaya yang berbeda. Ini semua membawa perubahan dalam organisasi. Ketiga ekonomi. Keadaan ekonomi suatu negara berpengaruh terhadap terjadinya perubahan dalam organisasi di negara tersebut. Krisis moneter menimbulkan perubahan dalam organisasi. Banyak perusahaan mengurang tenaga kerja, tingkat pengangguran tinggi. Jika ekonomi suatu negara baik akan semakin sulit mendapat tenaga kerja dari dalam negeri, akan terjadi kelangkaan tenaga kerja, tenaga kerja harus diimpor dari negara lain. Sebagai contoh malaysia. Sekitar tiga juta orang tenaga kerja malaysia berasal dari luar Malaysia. Peraturan tenaga kerja tentang malaysia terus berubah. Perlakuan terhadap tenaga kerja yang di impor diatur tersendiri. (dikenal dengan migrant worker). Keempat, persaingan. Dalam era globalisasi ini, persaingan tidak hanya datang dari dalam negeri, melainkan juga dari luar negeri. Esensi persaingan adalah perebutan pasar. Dengan adanya persaingan, terjadi perubahan perilaku pelanggan yang menyebabkan perusahaan melakukan perubahan untuk merebut hati RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

pelanggan agar pelanggan tidak pindah ke perusahaan lain dan sekaligus dapat menarik pelanggan pesaing. Ini berlaku pula didunia pendidikan Tinggi, persaingan antara perguruan tinggi di dalam negeri semakin ketat dengan makin banyaknya perguruan tinggi baru yang muncul, tetapi disisi lain diperlukan perubahan yang konsisten dalam hal mutu pengelolaan pendidikan tinggi tersebut agar tidak kalah bersaing dengan perguruan tinggi lain dan dapat survive. Kelima, regulasi. Peraturan daerah, nasional, maupun internasional terus berubah. Organisasi harus terus memperhatikan dan menyesuaikan diri dengan regulasi yang berlaku.sebagai contoh dalam bidang pendidikan UU BHP yang sempat diberlakukan pada tahun 2009 menyebabkan seluruh perguruan tinggi di indonesia melakukan perubahan dalam rencana strategisnya, dengan mengakomodasi poin poin yang strategis bagi kelangsungan perguruan tinggi tersebut. Keenam adalah politik. Sebagai dampak dari faktor faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut , perubahan dalam organisasi dapat dapat dikelompokan menjadi beberapa opsi. Robbins dalam Organizationa Behavior: Concepts,Controversies, Applications (2004), misalnya mengelompokan opsi perubahan menjadi empat yaitu: struktur (baik struktur organisasi, kebijakan, maupun komposisi orang), teknologi, Physical setting (lay out), dan orang. Dari empat opsi ini, yang paling sukar diubah adalah orang, hal ini karena yang diubah adalah pola pikir orang, bukan memecat semua orang dan mengganti dengan yang baru. Oleh sebab itu permasalahan yang terjadi adalah orang (tenaga kerja) sering enggan untuk mengubah perilaku mereka. Keengganan untuk berubah muncul karena mereka merasa nyaman dengan cara kerja yang ada. Dalam manajemen perubahan, keengganan untuk berubah atau penolakan terhadap perubahan dikenal dengan resistensi. Konteks perubahan Dalam kaitannya dengan konteks perubahan Balogun dan Hailey dalam bukunya yang berjudul Exploring Strategic Change (2004) merumuskan suatu model berupa kaledoskop perubahan yang merupakan fitur fitur atau aspek kontekstual yang perlu dipertimbangkan dalam memutuskan suatu perubahan, fitur tersebut yaitu: 1. Time: seberapa cepat perubahan diperlukan? Apakah organisasi dalam keadaan krisis atau apakah itu terkait dengan pengembangan strategi jangka panjang? 2. Scope: tingkatan perubahan yang bagaimana yang dibutuhkan? Penyesuaian atau trasformasi? Apakah perubahan mempengaruhi seluruh organisasi atau hanya sebagaian.

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

3. Preservation: aset, karakteristik, praktik organisasi apa yang perlu tetap dijaga dan dilindungi selama perubahan 4. Diversity: apakah staf dan profesional dan divisi dalam organisasi bersifat homogen atau lebih beragam dalam hal nilai nilai, norma, adan perilaku? 5. Capability: apa tingkatan kemampuan organisasi, manajerial, dan personal untuk melaksanakan perubahan? 6. Capacity: seberapa besar sumber daya yang mampu diinvestasikan oleh organisasi dalam perubahan yang diajukan terutama dalam hal keuangan, SDM, dan waktu. 7. Readiness for Change: Seberapa siap anggota organisasi dalam melakukan perubahan? Apakah mereka menyadari akan kebutuhan perubahan dan termotivasi untuk melaksanakan perubahan? 8. Power: apakah kekuasaan diberikan dalam organisasi. Seberapa besar kebebasan hak dalam memilih yang dibutuhkan oleh unit untuk berubah, dan yang dimiliki oleh pimpinan perubahan? Resistensi Terhadap Perubahan Pada dasarnya, melakukan perubahan merupakan usaha untuk memanfaatkan peluang untuk mencapai keberhasilan. Karena itu melakukan perubahan mengandung resiko, yaitu adanya resistensi atau penolakan terhadap perubahan. Dalam konteks ini Ahmed, Lim & Loh di dalam Learning Through Knowledge Management (2002) secara tegas menyatakan bahwa resistensi terhadap perubahan adalah tindakan yang berbahaya dalam lingkungan yang penuh dengan persaingan ketat. Resistensi terhadap perubahan dapat dikelompokan menjadi dua kategori, yaitu resistensi individu dan resistensi organisasi. Pengertian resistensi individu adalah penolakan anggota organisasi terhadap perubahan yang diajukan oleh pimpinan organisasi. Beberapa faktor resistensi yang lazim terjadi dalam perubahan organisasi adalah sebagai berikut: 1. Kebiasaan kerja. Orang sering resisten terhadap perubahan karena menganggap kebiasaan yang baru dianggap merepotkan atau mengganggu. 2. Keamanan. Seperti takut dipecat, atau kehilangan jabatan 3. Ekonomi. Faktor ekonomi seperti gaji paling sering dipertanyakan, karena orang sangat tidak megharapkan gajinya turun. 4. Sesuatu yang tidak diketahui.

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

Istilah lain yang sering dipakai mengenai resistensi terhadap perubahan adalah karena setiap perubahan akan mengganggu comfort zone (zona nyaman), yaitu kebiasaan-kebiasaan kerja yang selama ini dirasakan nyaman, Sonnenberg dalam kaitannya dengan hal ini mengidentifikasi tujuh alasan mengapa orang resisten terhadap perubahan, yaitu: 1. Procastination. Kecenderungan menunda perubahan, karena merasa masih banyak waktu untuk melakukan perubahan. 2. Lack of motivation. Orang berpendapat bahwa perubahan tersebut tidak memberikan manfaat sehingga enggan berubah 3. Fear of failure. Perubahan menimbulkan pembelajaran baru. Orang takut kalau nantinya ia tidak memiliki kemampuan yang baik tentang sesuatu yang baru tersebut sehingga ia akan gagal. 4. Fear of the unkown. Orang cenderung merasa lebih nyaman dengan hal yang diketahuinya dibandingkan dengan hal yang belum diketahui. Perubahan berarti mengarah kepada sesuatu yang belum diketahui. 5. Fear of loss. Orang takut kalau perubahan akan menurunkan job security, power, t atau status. 6. Dislike the innitiator of change. Orang sering sulit menerima perubahan jika mereka ragu terhadap kepiawaian inisiator perubahan atau tidak menyukai anggota agen perubahan. 7. Lack of communication. Salah pengertian akan apa yang diharapkan dari perubahan, informasi yang disampaikan tidak utuh dan komprehensif. Penanggulangan Resistensi Kotter dan Schlesinger, dalam Choosing Strategies for Change (Harvard Business Review-Juli Agustus, 2008), merumuskan enam cara untuk menanggulangi resistensi terhadap perubahan. Robbins (2005), mengkaji berbagai taktik untuk menanggulangi resistensi terhadap perubahan, namun kemudian memutuskan untuk merangkum keenam taktik yang dirumuskan oleh Kotter & Schlesinger (2008) sebagaimana rangkuman berikut. 1. Pendidikan dan Komunikasi. Menerapkan komunikasi terbuka kepada seluruh anggota. Komunikasi dapat dilakukan dalam bentuk lisan, tulisan, atau lisan dan tulisan. Dengan demikian seluruh anggota organisasi dapat menerima informasi dari satu sumber. Informasi yang disampaikan harus jelas, baik alasan mengapa dilakukan perubahan, tujuan melakukan perubahan, dan manfaat perubahan bagi seluruh organisasi.

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

2. Partisipasi. Sebelum mengaplikasikan rancangan perubahan yang telah diformulasikan, pimpinan puncak dan agen perubahan harus dapat mengidentifikasi siapa-siapa yang resisten terhadap perubahan. Orang orang yang resisten kemudian dilibatkan dalam membahas faktor faktor yang menimbulan perubahan. 3. Fasilitas dan dukungan. Agen perubahan harus dilatih sedemikian rupa agar dapat memfasilitasi dan membantu anggota organisasi yang menghadapi kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan yang telah dirancang. Jika perlu agen perubahan dapat menyelenggarakan pelatihan atau seminar seminar untuk meningkatkan pemahaman tentang perubahan tersebut. 4. Negoisasi. Dilakukan jika agen perubahan menemui resistensi perubahan dari orang tertentu. Orang tersebut diundang untuk berdiskusi dan negosiasi. 5. Manipulasi dan kooptasi. Yang dimaksud dengan manipulasi adalah menonjolkan suatu realita sehingga terlihat dan terasa akan sangat menarik. Sedangkan kooptasi adalah kombinasi dari manipulasi dan partisipasi. Dengan menonjolkan suatu realita sehingga terlihat menarik orang yang resisten diajak berdiskusi dan membuat keputusan tentang faktor faktor yang mempengaruhi pentingnya melakukan perubahan. 6. Paksaan. Taktik ini adalah penerapan ancaman atau pemaksaan terhadap orang yang resisten terhadap perubahan. Pemindahan atau rotasi, tidak promosi, pemecatan, adalah beberapa bentuk paksaan. Dalam rumusan cara-cara penanggulangan resistensi terhadap perubahan, Kotter dan Schlesinger (2008) menggabungkan pendidikan dan komunikasi sebagai satu cara. Dalam praktiknya, pendidikan dapat juga dijadikan sebagai satu taktik tersendiri. Orang orang yang resisten terhadap perubahan dapat juga ditanggulangi dengan menyekolahkan mereka untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi. Diharapkan, selama mereka mengikuti pendidikan, pola pikir mereka akan berubah dan akan lebih memahami perubahan yang akan dilakukan. Langkah Langkah Perubahan Pakar manajemen perubahan C.Carr, dalam Seven Keys to Successful Change (1994) merumuskan 7 langkah perubahan dalam bentuk pertanyaan. Menurut Carr, pemimpin dan agen perubahan harus menemukan jawaban terhadap ketujuh pertanyaan tersebut demi keberhasilan perubahan. Tujuh langkan tersebut adalah: Pertama, Apakah perubahan tersebut merupakan suatu beban atau tantangan? Perubahan harus dipersepsikan sebagai tantangan, bukan sebagai beban. Karena itu, agen perubahan dan pimpinan

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

harus kreatif meyakinkan semua anggota organisasi bahwa perubahan tersebut merupakan tantangan. Kedua, Apakah perubahan tersebut jelas, bermanfaat, nyata? Jika agenda perubahan tidak jelas, bermanfaat dan nyata, dalam arti benar benar urgen, maka resistensinya akan tinggi. Karena itu data yang mendukung urgensi perubahan tersebut harus dipersiapkan. Manfaat perubahan juga harus jelas bagi seluruh anggota organisasi. Ketiga, apakah manfaat perubahan tersebut segera diperoleh? Anggota organisasi selalu ingin mengetahui kapan manfaat perubahan dapat dapat mereka nikmati. Agar manfaat perubahan dirasakan dalam waktu relatif singkat, perubahan harus dimulai dari suatu hal yang dapat dirasakan. Ini berarti tujuan tujuan antara harus dirumuskan. Keempat, apakah perubahan terbatas pada satu unit kerja atau beberapa unit kerja terkait? Jika karyawan mempunyai persepsi bahwa perubahan hanya diterapkan pada satu unit kerja saja, maka karyawan pada unit kerja tersebut akan menganggap perubahan merupakan suatu beban. Dalam organisasi, tidak ada perubahan yang terjadi pada satu unit kerja tanpa ada perubahan pada unit kerja lain. Satu unit kerja pasti terkait pada unit kerja lain. Kerena itu, keterkaitan perubahan dengan unit kerja lain harus jelas. Kelima, apa dampak perubahan tersebut terhadap kekuasaan dan status? Kekuasaan (power) dan status dalam perusahaan berkaitan erat dengan unit kerja. Agen perubahan sering salah mengantisipasi pentingnya kekuasaan dan status bagi karyawan. Namun jika dibahas terlalu banyak, maka pelaksanaan perubahan akan sulit. Keenam, apakah perubahan sejalan dengan budaya organisasi yang ada? Satu perubahan sering diikuti dengan perubahan lain. Agen perubahan harus dapat meyakinkan anggota organisasi bahwa nilai nilai organisasi tetap dipertahannkan. Ketujuh, apakah perubahan tersebut pasti akan dilaksanakan? Jika karyawan sudah menyadari urgensi perubahan, karyawan ingin kepastian akan terjadinya perubahan tersebut. Pakar manaajemen perubahan yang lain, Kotter dalam Leading Change: Why Transformation Effort Fail yang dimuat dalam Harvard Business Review (2007) yang merupakan terbitan ulang dari edisi tahun 1995, merumuskan 8 langkah perubahan yang dikenal dengan Kotters Eight Step to Transforming Organization. Dalam uraiannya, Kotter menyoroti kesalahan kesalahan yang sering dilakukan oleh agen perubahan. Delapan langkah perubahan dan kesalahan kesalahan yang dirumuskan oleh Kotter (2007) merupakan rangkuman dari observasi yang ia lakukan terhadap perusahaan perusahaan yang sukses maupun gagal menerapkan perubahan.

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

Langkah 1: Establishing A Sense Of Urgency Makna kata urgensi adalah sesuatu yang sangat penting dan mendesak. Sebagai langkah pertama dalah perubahan, pimpinan harus merumuskan perubahan berdasarkan kajian yang rinci tentang faktor faktor yang memperngaruhi perubahan. Dengan demikian, hasil rumusan akan terasa urgen. Langkah pertama ini kelihatannya mudah, tetapi realitanya sulit. Menurut Kotter, lebih dari 50% perusahaan yang melakukan perubahan gagal pada langkah pertama ini. Kesulitan terjadi karena mayoritas pimpinan perusahaan sibuk dengan aktivitas operasional, sibuk bekerja untuk mencapai target yang ditetapkan sehingga kurang mengikuti perkembangan eksternal. Langkah 2: Forming A Powerful Guiding Coalition Mayoritas inisiatif perubahan berasal dari satu atau dua orang. Namun untuk kesuksesan agenda perubahan diperlukan kerjasama yang baik dari sejumlah orang (disebut dengan istilah guiding coalition team). Jumlah anggota tim bervariasi, bergantung besar kecilnya perusahaan. Komitmen tim perubahan ini sangat diperngaruhi oleh perasaan masing masing anggota tim tentang urgensi perubahan. Anggota tim ini harus bertemu berkali kali untuk menyusun agenda membangun komitmen. Kegagalan dalam membangun tim ini adalah kesalahan kedua dalam memimpin perubahan. Kesalahan ini terjadi karena pemimpin beranggapan bahwa membuat agenda perubahan adalah pekerjaan mudah. Langkah 3: Creating a Vision Aktivitas lain yang harus dirumuskan oleh guiding coalition team adalah merumuskan visi. Pada awalnya visi berupa draft dapat dirumuskan oleh satu orang atau oleh beberapa orang sebagai tim kecil. Draft visi tersebut dibahas dalam tim besar. Visi harus berfungsi sebagai arah dan panduan panduan kerja. Visi harus dihayati oleh seluruh anggota tim. Visi harus mudah dipahami dan mudah dikomunikasikan kepada seluruh karyawan. Oleh karena itu, rumusan visi harus sederhana dan merumuskannya sering menyita banyak waktu. Visi yang tidak jelas dan membingungkan merupakan kesalahan ketiga yang sering terjadi dalam memimpin perubahan. Akibat kesalahan ini, berbagai rencana kerja tidak dapat dilaksanakan karena masing masing menuju arah yang berbeda beda.

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

Langkah 4: Communicating A Vision Visi yang telah dirumuskan harus dikomunikasikan kepada seluruh karyawan agar seluruh karyawan benar benar memahami visi tersebut. Visi tersebut harus berfungsi sebagai guiding principle dalam bertindak dan berperilaku. Untuk itu pemimpin harus mampu memanfaatkan semua media komunikasi yang ada di perusahaan. Penjelasan harus dibuat sedemikian rupa sehingga menarik untuk dibaca dan didengarkan serta mudah untuk dipahami. Semua anggota coalition team harus menjadi simbol yang hidup, harus menjadi panutan bagi seluruh karyawan. Kata kata yang mereka ucapkan atau tuliskan harus sesuai dengan perilaku mereka. Inilah yang disebut denga istilah words equal deeds. Dalam hal ini, Kotter merumuskan tiga kesalahan yang sering terjadi. Kesalahan pertama: melakukan komunikasi dengan satu kali tulisan atau pertemuan. Kesalahan kedua: pimpinan puncak perusahaan mengumpulkan semua karyawan dan kemudian memberikan ceramah yang panjang. Setelah ceramah, pemimpin tersebut berasumsi bahwa semua karyawan telah memahami visi tersebut. Kesalahan ketiga: pemimpin senior atau agen perubahan memberikan ceramah berkali kali, tetapi tidak mencerminkan apa yang mereka ceramahkan. Langkah 5: Empowering Other To Act On The Vision Seluruh anggota coalition team harus menyadari bahwa komunikasi tidak pernah cukup. Setiap perubahan pasti menghadapi kendala. Yang sering menjadi kendala adalah pola pikir. Kerena itu, yakinkan karyawan bahwa perubahan tersebut adalah benar dan demi kepentingan perusahaan, yang juga demi kepentingan karyawan. Jika yang menjadi kendala adalah sistem dan prosedur kerja, ganti sistem dan prosedur kerja tersebut. Dalam mengelola perubahan banyak perusahaan yang berhasil sampai langkah keempat tetapi gagal pada langkah kelima. Kegagalan terjadi karena pimpinan perusahaan tidak berani menyingkirkan kendala yang dihadapi karyawan Langkah 6: Planning For and Creating Short-Term Wins Perubahan memerlukan waktu yang relatif lama. Namun karyawan cenderung untuk mengetahui hasil perubahan dalam waktu yang relatif singkat. Jika setelah dua tahun tidak diketahui hasilnya, pada umumnya karyawan mulai jenuh dan berusaha kembali ke cara kerja lama. Karena itu, perlu dirumuskan tujuan antara (short-term-wins). Tujuan antara harus mengukur keberhasilan perubahan pada skala kecil. Tujuan antara harus dipahami oleh semua karyawan sejak awal RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

pelaksanaan perubahan. Komitmen untuk mewujudkan tujuan antara tersebut membantu meningkatkan perasaan urgensi. Kesalahan yang sering terjadi adalah mengabaikan tujuan antara. Langkah 7: Consolidating Improvements and Producing Still More Changes Keberhasilan mewujudkan tujuan antara perlu dirayakan. Berbagai bentuk perayaan dapat diadakan. Memuat tulisan selamat dalam intranet atas suatu keberhasilan unit kerja dalam menwujudkan tujuan merupakan satu bentuk perayaan, mengumumkan pemberian insentif atas keberhasilan suatu unit kerja adalah juga satu bentuk perayaan. Momentum perayaan harus dimanfaatkan untuk meningkatkan rasa urgensi. Merayakan tidak sama dengan melakukan deklarasi. Melakukan deklarasi mempunyai makna mengumumkan bahwa tujuan perubahan telah terwujud. Melakukan deklarasi terlalu dini dapat menurunkan rasa urgensi. Kesalahan yang terjadi dalam mengelola perubahan adalah terlalu dini mendeklarasikan keberhasilan. Kadang kadang pemimpin bermaksud melakukan perayaan, namun karyawan menginterpretasikan sebagai deklarasi. Langkah 8: Institutionalizing New Approaches Langkah terakhir dalam memimpin perubahan adalah mengukuhkan (melembagakan) perilaku kerja yang sesuai dengan apa yang direncanakan. Perubahan dikatakan berhasi jika karyawan sudah berpendirian bahwa perilaku kerja yang baru tersebut adalah perilaku kerja yang benar. Perilaku harus dikukuhkan, dilembagakan, melalui dua cara sebagai berikut. Pertama, pemimpin harus secara tegas menyampaikan kepada seluruh karyawan bahwa peningkatan kinerja perusahaan terjadi karena semua karyawan menerapkan pendekatan baru, perilaku baru, dan sikap baru. Kedua yakinkan seluruh karyawan bahwa siapapun yang menjadi pemimpin puncak berikutnya pasti akan bangga dengan budaya baru tersebut. Langkah langkah perubahan yang dirumuskan oleh Carr (1994) dan Kotter (2007) tersebut adalah rumusan berdasarkan kajian teoretis dan observasi lapangan. Rumusan rumusan tersebut dapat dikatakan generalisasi dari langkah langkah perubahan yang diterapkan di berbagai perusahaan yang berhasil menerapkan perubahan. Berikut ini langkah langkah yang diterapkan oleh Jack Welch di GE sebagaimana diuraikan oleh D.A Garvin dalam Learning in Action: A Guide to Putting the Learning Organization to Work (2000).

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

Pada waktu Jack Welch menjadi CEO perusahaan General Electric (GE), perusahaan tersebut dalam keadaan kacau balau dan merugi. Tugas utama Jack Welch adalah menjadikan GE perusahaan yang profesional yang profit. Welch kemudian membentuk tim kecil untuk merumuskan langkah langkah untuk mentransformasi GE di seluruh dunia. Setelah melakukan kajian, tim tersebut merumuskan tujuh langkah perubahan, sebagaimana diuraikan oleh Garvin (2000), tujuh langkah tersebut adalah sebagai berikut. 1. Leading Change. Pemimpin harus komit terhadap perubahan, baik waktu maupun perhatian 2. Creating a shared need. Seluruh karyawan harus sepenuhnya memahami alasan perubahan 3. Shaping a vision. Seluruh karyawan harus sepenuhnya memahami arah dan tujuan perubahan 4. Mobilizing commitment. Seluruh karyawan harus memahami stakeholders dan tuntutan dari para stakeholder. Yakinkan karyawan akan pentingnya membangun kerjasama untuk memenuhi kerbutuhan stakeholders. 5. Making change last. Perubahan harus dimulai dari langkah pertama dan kemudian membuat rencana jangka panjang 6. Monitoring Progress. Membuat matriks sebagai alat untuk mengontrol dan mengevaluasi keberhasilan perubahan. 7. Changing system and structure. Mengembangkan karyawan, melakukan evaluasi kinerja, mengkomunikasikan keberhasilan, memberikan rewards, memperbaiki sistem pelaporan sesuai dengan perubahan. Penerapan 7 langkah perubahan tersebut membuat GE bangkit dari kerugian dan menjadi perusahaan kelas dunia. Jack Welch menjadi terkenal dan diakui sebagai CEO terkemuka di dunia. Model Manajemen Perubahan Model dasar manajemen perubahan yang lazim dipakai adalah model yang dikembangkan oleh Kurt Lewin, yang dikenal dengan Lewins Three Step Model, karena model ini terdiri dari tiga langkah dalam melakukan perubahan. Model ini pertama kali dikembangkan Lewin pada tahun 1940; kemudian Schein melakukan kajian dan menggunakannya lagi pada tahun 1970, sepuluh tahun kemudian Beckhart melakukan kajian ulang, namun tetap mengakui kebenaran model ini.

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

Kata unfreezing berasal dari kata freeze (membeku). Yang dimaksud dengan membeku adalah kebiasaan kerja yang selama ini diterapkan dimana karyawan merasa nyaman dengan dengan kebiasaan kerja tersebut. Dalam melakukan perubahan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menggugah kesadaran bahwa zona nyaman tersebut (cara kerja, mekanisme kerja, teknologi, struktur organisasi, atau yang lainnya yang selama ini menjadi zona nyaman) sudah tidak mumpuni lagi. Menggugah kesadaran harus merujuk pada realita tentang persaingan, kebutuhan pelanggan, perkembangan teknologi, regulasi yang berlaku, dan fakta lain yang relevan. Langkah moving dilakukan jika unfreezing telah dilaksanakan dengan baik. Pelaksanaan perubahan harus menuju ke suatu titik sebagai tujuan perubahan yang harus dirumuskan secara bertahap. Artinya, untuk mewujudkan tujuan akhir, harus diwujudkan sejumlah tujuan kecil sebagai tujuan antara. Dalam usaha mewujudkan tujuan durasi waktu harus diperhatikan. Jika hal hal yang telah dirancang dilaksanakan dengan baik sehingga tujuan terwujud, baik tujuan antara maupun tujuan akhir, maka perilaku kerja yang mendukung pencapaian tujuan tersebut harus dikukuhkan. Inilah yang disebut dengan istilah refreezing (membekukan kembali), menjadikan budaya baru tersebut sebagai zona nyaman yang baru.

Gambar 1: Lewins Three-Step Model Untuk memudahkan pemahaman, model perubahan yang dikenal dengan Lewins Threestep model ini dikembangkan dengan visualisasi yang disebut dengan Force Field Analysis. Berikut disajikan model force field analysis yang juga dikembangkan oleh Lewin. Pengertian Status Quo adalah keadaan atau kondisi yang sedang terjadi sehingga perubahan perlu dilakukan. Yang menjadi status quo dapat berupa teknologi yang dipakai adalah teknologi lama, atau gaya manajemen dimana pengambilan keputusan dilakukan secara sentralisasi, dan lain lain. Sedangkan desired state adalah penggunaan teknologi baru, desentralisasi dll.

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

Gambar 2: Lewin Force-Field Analysis Dalam model Force field analysis diatas, arah tanda panah ke bawah menunjukan restraining force, yang menggambarkan resistensi terhadap perubahan. Arah panah ke atas merupakan driving force, yaitu usaha usaha yang dilakukan oleh agen perubahan untuk meminimalisasi resistensi. Arah garis putus putus ke kanan dalam bentuk miring curam artinya proses perubahan. Semakin landai garis putus putus tersebut berarti semakin lama durasi waktu yang diperlukan untuk mewujudkan desired state.
2.2 APA YANG DIMAKSUD DENGAN WORLD CLASS UNIVERSITY (WCU) DAN KRITERIA WCU MENURUT DIKTI Banyak sekali definisi yang berbeda-beda tentang apa yang dimaksud dengan WCU. Demikian pula kriteria dan lembaga pengakreditasiannya, sehingga tidak heran jika kita mengenal WCU berdasarkan Times Higher Education Supplement (THES); berdasarkan Webometrics, dll. Menurut Levin et al (2006), ada tiga penciri bahwa suatu perguruan tinggi tersebut telah mencapai kriteria unggul dalam: (1) Pembelajaran mahasiswanya; (2) dalam riset, pengembangan dan penyebaran IPTEKS; dan (3) dalam aktivitasnya yang menyumbang peningkatan budaya, keilmiahan

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

dankehidupan kemasyarakatan. Secara lebih rinci Levin (2006) menyatakan terdapat indikator persyaratan WCU sebagai berikut: 1. Exellence in research 2. Academic freedom & an atmosphere of intellectual excitement 3. Self Governance 4. Adequate facility & Funding 5. Diversity 6. Internationalization: Student, scholars, and faculty from abroad. 7. Democratic leadership 8. A talented undergraduate body 9. Use of ICT, efficiency of management, Library 10. Quality of teaching 11. Connection with society/community needs 12. Within Institutional Collaboration. Menurut Salmi (2009) terdapat pengalaman internasional yang merupakan tiga strategi dasar yang dapat diikuti untuk membangun WCU, yaitu: 1. Pemerintah harus mempertimbangkan untuk meng upgrade sejumlah universitas yang berpotensi unggul (mengambil unggulan) 2. Pemerintah dapat mendorong sejumlah institusi yang ada untuk merger dan bertransformasi menjadi suatu universitas baru yang dapat mencapai tipe sinergi ke WCU 3. Pemerintah membangun WCU baru dari awal Untuk gambaran analisis pro kontra setiap pendekatan dapat dilihat dari gambar 1, Salmi mengatakan bahwa bahwa strategi umum ini dapat digunakan oleh negara dengan konsep gabungan strategi dari model model tersebut.

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

Gambar 1. Analisis biaya dan keuntungan dari strategi pendekatan WCU versi Jamil Salmi Bila dilihat dari segi biaya maka strategi meng upgrade institusi yang sudah ada akan memakan biaya yang lebih murah, tetapi memiliki kendala untuk bertransformasi dari segi budaya, selain itu akan ada kesulitan untuk memperbaharui staff, dan meningkatkan brand image untuk menarik siswa yang berbakat. Selain itu pula dari segi tata kelola model strategi ini akan menemui kesulitan dalam merubah prosedur operasional dalam framework regulasi yang sama. Sebaliknya untuk strategi membangun institusi yang baru akan mempermudah peluang untuk semua indikator, tetapi dari segi biaya memakan jumlah biaya yang lebih tinggi. Sedangkan karakteristik WCU menurut Salmi (2009) merupakan keselarasan dari beberapa faktor kunci sebagaiman tergambar pada model WCU Jamil Salmi sebagai berikut:

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

Gambar 2. Karakteristik WCU menurut Jamil Salmi Karakteristik WCU menurut Salmi (2009) sebagaimana terlihat pada gambar diatas, adalah merupakan keselarasan dari unsur transfer teknologi, hasil riset lulusan. Kemudian masih dalam sistem yang mendukung ketercapaian WCU adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Sumber daya budget publik Pendapatan hibah Sumberdaya yang melimpah SPP Hibah Riset Internasionalisasi Siswa Internasionalisasi Staf pengajar Konsentrasi bakat (talent) Internasionalisasi Peneliti Framework regulasi yang mendukung Kebebasan akademik Otonomi Tata kelola yang mendukung Tim kepemimpinan Visi strategis Budaya mutu Kemudian Salmi membagi lagi faktor-faktor penentu mutu WCU institusi pendidikan tinggi untuk setiap jenis insitusi, yaitu research university, teaching university, community college, dan Open university dengan penjelasan tingkat faktor penentu seperti tergambar dibawah ini:

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

Gambar 3. Faktor penentu mutu WCU Institusi Perguruan Tinggi

2.2 KRITERIA WCU VERSI THES DAN WEBOMETRICS Sebagaimana telah dibahas di atas untuk memenagkan pertempuran diperlukan strategi memahami dengan baik aturan mainnya supaya persiapan yang akan dilakukan menjadi terarah dan efisien. Untuk itu mari kita lihat beberapa kriteria yang digunakan oleh beberapa lembaga pengakreditasian WCU berikut ini.

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

Tabel . Kriteria WCU menurut The Times Higher Supplement (THES) World University Ranking Kriteria Kualitas Riset Indikator Peer Review Sitasi per dosen Keterserapan lulusan Citra Internasional Review Perekrut Dosen Internasional Mahasiswa Internasional Kualitas Pengajaran Dosen Total Bobot 40% 20% 10% 5% 5% 20% 100%

Berdasarkan kriteria THES, maka komponen akademik yang menjadi kriteria utama adalah penelitian dan publikasi, yaitu masing-masing memiliki bobot 70% dari kriteria penilaian. Dengan demikian, jika lembaga-lembaga dibawah naungan YPTgrup ingin menembus rangking di versi ini, maka konsentrasi ke peningkatan kualitas penelitian harus menjadi prioritas utama.

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU Tabel 3. Kriteria Ranking dan Bobot WCU menurut Webometric KRITERIA Ukuran (Size): Jumlah halaman referensi tentang lembaga ypt grup dan sivitas akademikanya yang dapat diperoleh dari mesin pencari Google, Yahoo, Live Search, dan Exalead Keterlihatan (Visibility): Jumlah link eksternal yang berkaitan dengan lembaga dan sivitas akademikanya, yang dapat diakses melalui mesin pencari (Yahoo dan MSN) Dokumen(Rich File): Adanya dokumen-dokumen dalam format Adobe PDF, Adobe Postscript, MS Word, dan MS Powerpoint dari artikel artikel akademik sivitas akademika lembaga yang dapat diekstrak dari internet Pakar (Schoolar): Melalui mesin pencari Google terdeteksi sejumlah artikel dan sitasi dari setiap akademisi. Kepakaran lembaga harus dapat terdeteksi oleh mesin pencari Google di Internet 15% 15% 50% 20%

YPT Grup

BOBOT

Kriteria WCU menurut webometrics, lebih banyak ditekankan kepada penyajian data-data capaian kinerja perguruan tinggi yang dapat diakses melalui website. Dengan demikian, jika versi ini yang ingin ditembus oleh ypt grup, maka pemutakhiran data-data website lembaga harus menjadi prioritas utama. Selain itu untuk membantu pencapaian kriteria versi webometrics ini diperlukan juga kebijakan web dari pimpinan lembaga untuk mendorong produktivitas peningkatan konten ilmiah dari web lembaga terkait.

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU 2.3 Perbandingan metodologi penilaian WCU antara Webometrics, ARWU, dan THES

YPT Grup

Kriteria WCU versi QS Untuk kriteria WCU versi QS, terlihat serupa dengan THES, dan untuk pemeringkatan oleh QS ASIA, beberapa universitas di Indonesia telah mampu memasuki 300 besar WCU ASIA versi QS ini. Kriteria QS dapat dilihat dalam gambar berikut:

Sementara Universitas yang telah mampu masuk kedalam peringkat QS ini dapat terlihat dari gambar berikut:

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

Sementara untuk peringkat QS ASIA sebanya 7 (tujuh) universitas di Indonesia telah dapat masuk top 200 universitas top diASIA seperti dapat dilihat dari gambar berikut:

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

Sumber: topupuniversities.com (2010)

Akreditasi Regional Asean University Networl (AUN) Selain versi WCU diatas, terdapat pula kriteria akreditasi regional AUN. Program penting yang dikembangkan AUN saat ini adalah penyusunan AUN Quality Assurance Guidelines, sebagai modalitas dalam rangka pembentukan negara-negara ASEAN. Terhitung sejak tahun 2007, masing masing universitas yang tergabung dalam AUN diharapkan sudah mulai melaksanakan program AUN Quality Label, yaitu upaya-upaya internal untuk meningkatkan kualitas akademik sesuai dengan ketentuan yang telah diformulasikan dalam AUN Quality Assurance Guidelines Perguruan tinggi yang dinilai baik dan dapat memenuhi semua kriteria yang telah diisyaratkan dalam AUN Quality Assurance Guidelines selanjutnya akan diberikan pengakuan atau label sebagai perguruan tinggi yang berkualitas. Untuk matrik penilaian atau kriteria AUN dapat dilihat dari table dibawah ini: AUN QA IMPLEMENTATION GUIDLINE TO REGIONAL ACCREDITATION KRITERIA LEVEL AUN Standard for Higher Education (AUN-SHE), yang nantinya diharapkan dapat menjadi landasan menuju proses harmonisasi sistem pendidikan tinggi di antara

QUALITY 1. keberadaan dokumen mutu dan evaluasi berkelanjutan dari sistem mutu. 2. ASSURANCE sistem QA diaudit oleh pihak eksternal SYSTEM Teaching Pengembangan kurikulum. Kurikulum harus dievaluasi dalam 3-5 tahun and Learning Staf akademik minimum master, staf tetap akademik lebih tinggi dari master degree penilaian siswa.kriteria penilaian jelas Efektivitas proses belajar. Rasio staf akademik dan siswa lebih rendah dari 1: 30 Standar keamanan dan kesehatan lingkungan Sumber belajar. Digilib, electronic version of research, jurnal, in CD ROM. Riset Dana riset harus disediakan. Alokasi tidak boleh kurang dari 2-5% budget akademik tahunan Riset Output. Perbandingan riset output dengan staf akademik tetap adalah 1: 5 dalam bentuk jurnal terindex

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

Pengabdian Pengabdian masyarakat yang menguntungkan masyarakat. Pengabdian yang Masyarakat menguntungkan masyarakat regional dan internasional Ethic Mempraktikan kode Etik.(1) Code of conduct for reseach (standard of performance), (2) code of ethic for research (prinsip, integritas, saling menghargai, keadilan, keamanan, hak partisipan, privasi, kerahasiaan dll. (3). keberadaan komite etik Human Program HRD sistematis. Pengembangan Dosen bermutu. Sistem evaluasi minimal Resource 2 tahun sekali oleh komite yang berdampak pada promosi dan hukuman. Development Peningkatan moralitas dan etik. Penilaian rasio guru besar. Pada aspek teaching & Learning AUN memiliki model yang dijadikan panduan untuk akreditasi yaitu sebagai berikut:

Model ini dapat dijadikan pedoman insitusi di bawah naungan YPT untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajarnya untuk mencapai kepuasan dari stakeholder, maupun untuk peningkatan penjaminan mutu. Sedangkan menurut Ditjen Dikti, terdapat 35 item, yang menjadi kriteria WCU, sebagaimana surat Ditjen Dikti No. 204/D/T/2007 tertanggal 25 Juli 2007 sebagaimana berikut ini:

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

Tabel 1. Kriteria WCU Menurut Dikti (Perguruan Tinggi Berbasis Kesehatan Organisasi dan Daya Saing Bangsa) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Informasi Rasio keketatan pendaftar terhadap yang diterima (%) Jumlah mahasiswa asing (%) Jumlah penerima beasiswa (%) Rasio mahasiswa: dosen (total) % dosen bergelar master dan doktor % dosen aktif vs dosen total Jumlah hibah Dikti Jumlah hibah diluar Dikti dari Nasional Jumlah hibah diluar Dikti dari internasional % dari lulusan yang bekerja dalam periode 1 tahun setelah lulus Dokumen evaluasi pengguna lulusan Jumlah award yang diterima alumni/ staf ditingkat nasional Jumlah award yang diterima alumni/staf di tingkat internasional Jumlah Haki Jumlah penelitian/pagelaran berskala kabupaten/kota/proponsi Jumlah penelitian/pagelaran berskala nasional Jumlah penelitian/pagelaran berskala internasional Jumlah publikasi di jurnal nasional terakreditasi Jumlah publikasi di jurnal internasional terakreditasi Jumlah tugas akhir S1 dipublikasikan pada jurnal nasional terakreditasi atau prosiding/jurnal internasional Jumlah Tesis S2 dipublikasikan pada Jurnal nasional terakreditasi atau prosiding/jurnal internasional Jumlah Disertasi S3 dipublikasikan pada Jurnal nasional terakreditasi atau prosiding/jurnal internasional Jumlah makalah ilmiah yang dipublikasikan pada majalah Nature dan Science Jumlah layanan masyarakat/pagelaran berskala kota/kabupaten/propinsi Jumlah layanan masyarakat/pagelaran berskala nasional Jumlah layanan masyarakat/pagelaran berskala internasional Jumlah dosen asing yang mengikuti kegiatan program pendidikan jangka pendek pada PT

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU pada tahun tersebut 28 29 30 31 32 33 34 Jumlah dosen PT anda yang mengikuti kegiatan program jangka pendek pada PT di luar negeri pada tahun tersebut Jumlah program pendidikan yang khusus diselenggarakan untuk mahasiswa asing

YPT Grup

Jumlah mahasiwa asing yang mengikuti kegiatan program pendidikan jangka pendek pada PT pada tahun tersebut Jumlah mahasiswa PT anda yang mengikuti kegiatan program pendidikan jangka pendek pada PT di luar negeri pada tahun tersebut Jumlah mahasiswa asing yang mengikuti program internasional Jumlah peserta program internasional Jumlah event internasional yang diselenggarakan pada tahun tersebut.

Sedangkan arah dan strategi pencapaian standar juga ditetapkan oleh Dikti dalam kebijakannya bahwa standar pencapaian kualitas pendidikan World Class paling tidak harus dicapai pada tahun 2020 yaitu pencapaian posisi 100 besar Asia/Dunia. Secara lebih lengkap roadmap pencapaian WCU kebijakan dikti adalah sebagai berikut:

Gambar 5. Kebijakan Dikti tentang strategi Pencapaian Standar Menuju WCU

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

Apabila melihat kebijakan di atas, maka pada tahun 2012 Perguruan tinggi diharapkan untuk mencapai Standar Nasional Pendidikan, dan juga mencapai standar Asean University Network (AUN), dan pada tahun 2020 mencapai 100 besar Asia/Dunia. Maka untuk mencapai ini diperlukan suatu rencana dan program strategis untuk mendorong upaya ketercapaian tujuan kebijakan tersebut. QS Star World Class University Ranking Sejumlah perguruan tinggi Indonesia berpartisipasi dalam program QS Star Ratings yang diselenggarakan oleh QS-APPLE (Quacquarelli Symonds- Asia Pacific Professional Leaders in Education). Ini adalah satu dari sekian cara benchmark dan peningkatan mutu bagi perguruan tinggi Indonesia. QS Star Rating ini adalah satu model pemeringkatan yang lebih ramah dan lengkap dibandingkan dengan traditional rankings yang sudah ada. Dalam pemeringkatan ini dilakukan penilaian terhadap perguruan tinggi partisipan apa adanya. Penilaian berdasarkan borang yang diisi oleh perguruan tinggi partisipan. Perguruan tinggi kemudian dibintang berdasarkan hasil penilaian borang itu. Ada lima hal yang dilihat dan dinilai, yaitu Research Quality, Graduate Employability, Teaching Quality, infrastructure, Internationalisation, dan Specialist Strength. Masing-masing ada kriteria award, indikator, dan minimum requirements-nya. Hal yang paling penting dalam QS Rating ini menurut Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D, adalah unsur pemberdayaannya. Dari hasil penilaian perguruan tinggi bisa melihat komponen apa yang sudah baik. Kemampuan apa yang harus ditingkatkan dan kelemahan apa yang perlu diperkuat (Dikti, 2010)

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU BAB III URGENSI PENINGKATAN MUTU LEMBAGA LEMBAGA YPT GRUP 3.1 ISU ISU STRATEGIS

YPT Grup

Isu isu strategis yang menjadi latar belakang perlunya YPT grup melakukan pningkatan mutu adalah: 1. Arah pembangunan Indonesia, khususnya dibidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, ICT, manajemen sumberdaya alam dan lingkungan. 2. Tren persaingan global pendidikan tinggi yang mengharuskan perguruan tinggi di dalam negeri untuk meningkatkan daya saingnya, baik dalam penyelenggaraan maupun mutu lulusan yang bertaraf internasional, termasuk pembangunan Perguruan Tinggi menuju World Class University. 3. Optimalisasi peran lembaga-lembaga YPT grup dalam penyelenggaraan pendidikan yang harus mampu menghasilkan lulusan yang kompetitif, bermutu dan kompeten serta penelitian yang bermanfaat bagi pengembangan IPTEKS dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. 4. Efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan tridharma di lembaga YPT grup yang mengharuskan pengelolaan kegiatan akademik dan mengacu pada operational excellence yaitu pemanfaatan investasi sumber daya dan sistem pengelolaannya yang transparan dan akuntabel Permasalahan umum lembaga-lembaga YPT grup terkait pencapaian target WCU Terkait pencapaian target WCU lembaga lembaga di bawah naungan YPT grup masih memiliki permasalahan mendasar yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah: 1. Produktivitas yang rendah dalam tridharma terutama bidang riset. Hal ini disebabkan karena permasalahan rasio dosen mahasiswa yang tinggi sehingga beban mengajar dosen pun tinggi dan dosen pun kurang memiliki komitmen terhadap riset masih rendah. Hal ini terlihat jelas dari jumlah prosiding baik nasional maupun internasional. 2. Kualifikasi pendidikan dosen yang rata-rata masih rendah, dengan indikator jumlah doktor dan guru besar, serta jabatan akademik lektor kepala yang juga masih sedikit. Sehingga hal ini menghambat proses menuju internasionalisasi. Jika akan menerima mahasiswa asing, tentunya kualifikasi dosen yang diperlukan harus sangat baik, dan memiliki keahlian yang baik dalam bahasa inggris.

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

3. Selain itu untuk mendukung internasionalisasi kendala yang ada adalah belum adanya program konkrit untuk mendatangkan mahasiswa asing yang berkualitas, belum ada program beasiswa unggulan untuk mendapatkan mahasiswa asing. Begitu pula untuk program program internasionalisasi lainnya seperti twinning program, dual degree, program sandwich, dll masih belum dilaksanakan. 3.2 Arah Pengembangan Mutu (Quality Excellence) lembaga YPT Grup 3.2.1 Perluasan Akses dan Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Kemahasiswaan A. Landasan Kebijakan Pengembangan Pendidikan dan Kemahasiswaan Arah pengembangan bidang pendidikan dan kemahasiswaan lembaga hingga tahun 2021 adalah: (1) menjadi penyelenggaran pendidikan memiliki daya saing internasional yang tinggi; (2) memperoleh akreditasi dan standarisasi nasional dan internasional dengan kualifikasi tinggi, dan (3) menghasilkan lulusan yang mampu memecahkan masalah ICT dalam arti luas di tingkat nasional maupun internasional. Untuk mewujudkan hal itu, pendidikan lembaga dibawah naungan ypt grup di masa datang harus menjawab dan memenuhi tantangan di atas dan mengarah kepada: 1. Standar kompetensi dan kurikulum internasional sehingga menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dengan standar kompetensi internasional, untuk mewujudkan hal ini tentunya bukan hal yang mudah, diperlukan mutu input siswa yang baik, mutu proses pembelajaran yang baik juga, dan tidak kalah pentingnya adalah mutu sumber daya, baik dosen dan infrasruktur pendukung lainnya; 2. Terfokus pada bidang ilmu teknologi dan manajemen dalam arti luas (bukan generalis) sehingga menghasilkan lulusan yang spesialis dan mumpuni di bidangnya, sehingga mampu memecahkan masalah spesifik kebutuhan pembangunan ilmu yang berkelanjutan, melalui berbagai pemanfaatan teknologi tinggi berbasis IT dan robotik, maupun teknologi yang memanfaatkan kearifan lokal; 3. Berwawasan global dalam bidang ICT dan manajemen dalam arti luas, sehingga lulusan mampu berkomunikasi dan berinteraksi dalam forum internasional, salah satunya melalui produktivitas dalam meneliti dan menghasilkan produk inovasi yang berkualitas sesuai dengan bidang kompetensi mahasiswa. Dengan meningkatnya produktiitas dalam bidang inovasi dan mampu memcatatkan karya pada jurnal internasional maupun media internasional lainnya, maka mutu mahasiswa dan kemampuan daya saingnya pada lingkup global akan mengalami peningkatan. Kebijakan Umum Strategis Pendidikan dan Kemahasiswaan Berdasarkan berbagai pertimbangan diatas, kebijakan strategis di bidang pendidikan diarahkan pada perluasan akses dan peningkatan kualitas pendidikan dan kemahasiswaan lembaga dibawah naungan ypt grup dengan rincian berikut:

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU 1. Penguatan mutu proses pendidikan

YPT Grup

Perluasan akses dan kesempatan belajar pada program multistrata (sarjana, magister, doktor maupun diploma) perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas input (calon mahasiswa). Jalur seleksi masuk lembaga dibawah naungan ypt grup yang diterapkan saat ini akan terus dikembangkan yang diiringi dengan promosi yang lebih intensif untuk meningkatkan competitive rate atau tingkat selektifitas calon mahasiswa. Pengelolaan administrasi dan perencanaan proses pendidikan multistrata diintegrasikan dalam suatu direktorat untuk memudahkan integrasi dan koordinasi administrasi dan pelaksanaan kegiatan akademik serta peningkatan efisiensi penggunaan fasilitas pendidikan. Dalam hal proses, selain penajaman kurikulum dan implementasi kurikulum perlu didorong pula peningkatan kualitas dosen dalam proses belajar mengajar melalui berbagai kegiatan bersumber dari dana masyarakat maupun dana hibah kompetitif serta pelaksanaan dan peningkatan cakupan sertifikasi dosen. Perbaikan bahan ajar dan metode pembelajaran efektif akan terus didorong dan dikembangkan melalui raihan program berbasis hibah kompetitif. Sistem insentif yang dapat memberikan dorongan motivasi terhadap hal ini akan terus dikembangkan. Kerjasama dengan institusi mitra dalam penyelenggaraan kegiatan praktek kerja, penelitian dan kegiatan-kegiatan yang dapat mendekatkan mahasiswa dengan wahana penerapan keilmuan dan dunia kerja akan terus dibina dan dikembangkan cakupannya. Berbagai pelatihan penunjang kompetensi akan dikembangkan untuk meningkatkan mutu lulusan agar lebih siap dalam memasuki dunia kerja. Komitmen lembaga dibawah naungan YPT grup untuk peningkatan kualitas penjaminan mutu ditunjukkan dengan dikembangkannya Satuan Penjaminan Mutu (SPM) yang bertugas menyusun dan mengevaluasi penjaminan mutu berbagai aktivitas di lembaga dibawah naungan ypt grup baik aktivitas akademik (termasuk pendidikan, penelitian dan PPM) maupun pendukungnya. Melalui unit ini lembaga dibawah naungan ypt grup terus mendorong dikembangkan dan diterapkannya sistem jaminan mutu, termasuk jaminan mutu pendidikan, antara lain dengan pengembangan dan penerapan manual mutu termasuk berbagai prosedur operasional baku (POB) atau prosedur yang telah tercantum dalam manual ISO 9001:2008 lembaga. Peningkatan kapasistas dan mutu fasilitas pendidikan ini perlu dilakukan untuk memudahkan implementasi jadwal terpadu dan meningkatkan kualitas pelayanan akademik kepada mahasiswa dan dosen. Mendorong dan membina tiap departemen agar dapat mengoptimalkan pemanfaatan seluruh sumberdayanya untuk peningkatan kualitas kegiatan akademik. Dengan penerapan sistem yang memberikan desentralisasi kewenangan yang sangat luas bagi departemen atau prodi untuk mengelola program pendidikan dan penelitian, maka kinerja akademik diharapkan dapat meningkat dengan lebih cepat. Untuk itu akan dikembangkan berbagai kegiatan pembinaan untuk mendorong seluruh potensi yang dimiliki tiap departemen agar dapat diarahkan untuk mendukung peningkatan kinerja akademik lembaga dibawah naungan ypt

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

grup. Komitmen lembaga dibawah naungan ypt grup dalam mendidik mahasiswa tidak berhenti selama proses pendidikan, namun masih terus dilanjutkan setelah mahasiswa lulus. Peningkatan kompetensi tambahan di bidang kewirausahaan telah dan akan terus diberikan kepada para lulusan baru agar lebih siap di pasar kerja dan mampu berdiri sendiri dalam berwirausaha. Kerjasama kemitraan dengan berbagai perusahaan yang berbasis ICT maupun perusahaan lain yang relevan telah dijalin dan akan terus ditingkatkan. Upaya ini diharapkan akan memperpendek masa tunggu (waiting period) dalam memperoleh pekerjaan serta menghasilkan wirausahawan tangguh yang memiliki latar belakang dan kedalaman keilmuan yang memadai sehingga akan menghasilkan irausahawan-wirausahawan yang berilmu dan ilmuwan yang juga memiliki pemahaman dan jiwa kewirausahaan. 2. Pemantapan Kurikulum Kurikulum yang telah diterapkan dan perlu dievaluasi dan dipertajam agar sesuai dengan tujuan awal pengembangan, yaitu memberikan kompetensi secara lebih luas kepada mahasiswa baik program sarjana maupun pascasarjana dan meningkatkan efisiensi proses pendidikan. Setiap mahasiswa dimungkinkan memiliki kompetensi utama dan pendukung yang berbeda sebagai keungggulan kompetitif bagi dirinya dalam memasuki dunia kerja. Penajaman perlu dilakukan mencakup struktur kurikulum, substansi maupun implementasinya sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu dan kebutuhan pembangunan. Penajaman dimaksudkan agar lulusan yang dihasilkan benar-benar memiliki kompetensi untuk memasuki dunia kerja di bidangnya mencakup kompetensi sikap (attitude), pengetahuan (knowledge), dan keterampilan (skill/psikomotorik). Pada awal tahun 2008 beberapa prodi lembaga telah berhasil mendapatkan akreditasi institusi dengan Nilai A. Sejalan dengan hal itu sebagian akreditasi program studi lain juga telah mendapatkan nilai A dan sebagian lainnya nilai B. Seiring dengan upaya lembaga dibawah naungan ypt grup melakukan proses internasionalisasi, maka ke depan beberapa program studi yang telah dinilai siap akan didorong dan difasilitasi untuk mencapai akreditasi regional atau internasional seperti AUN QA dan QS- Star. 3. Peningkatan promosi pendidikan Sejalan dengan upaya peningkatan kualitas input dan pengembangan lembaga dibawah naungan ypt grup menuju institusi pendidikan yang kuat dalam riset pada tahun 2013, lembaga dibawah naungan ypt grup perlu untuk terus membuka diri dan melakukan upaya-upaya untuk mendekatkan diri dengan masyarakat baik di tingkat domestik maupun internasional. Efektifitas promosi dalam hal ini oleh bagian marketing dan panitia Seleksi Mahasiswa Baru Bersama (SMBB) yang berdampak pada peningkatan peminat/pendaftar ditentukan oleh banyak faktor, khususnya kualitas promosi dan intensitas promosi. Besarnya biaya promosi harus disiasati dengan pemilihan strategi promosi

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

yang cost-effective. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa kualitas pelayanan kepada mahasiswa merupakan salah satu media promosi yang sangat baik, bukan hanya promosi melalui media massa, penyebaran promotion kit (leaflet, dll) maupun roadshow ke berbagai daerah dan sekolah. Oleh karena itu promosi akan terus dikembangkan dengan tujuan untuk: (1) meningkatkan jumlah peminat untuk pendidikan multistrata (Termasuk Program Pasca Sarjana), (2) meningkatkan kualitas peminat pendidikan multistrata, dan (3) meningkatkan proporsi perolehan mahasiswa program pasca sarjana secara lebih tinggi sebagai salah satu indikator ke arah penguatan riset. Pada saat bersamaaan, keberhasilan pendidikan tinggi antara lain dicirikan oleh penyerapan pasar kerja terhadap lulusannya dan kesesuaian latar pendidikan dengan jenis pekerjaannya. Untuk mewujudkan hal itu lembaga dibawah naungan ypt grup fokus pada penguatan kerjasama profesional baik tingkat nasional dan internasional khususnya di bidang 'entrepreneurial activities' yang pada akhirnya akan bermuara pada peningkatan kompetensi dan penyerapan lulusan. 4. Peningkatan mutu dan penyelenggaraan program diploma Lembaga dibawah naungan ypt grup juga menyelenggarakan pendidikan vokasional diploma (dalam hal ini Politeknik) yang merupakan pendidikan terminal untuk menghasilkan lulusan dengan kualifikasi ahli madya yang siap memasuki pasar kerja. Pengembangan kurikulum dan fasilitas pendidikan program diploma harus sesuai denan karakternya yaitu lembaga pendidikan vokasional, artinya konten pendidikan lebih dominan pada praktik lapangan. Langkah ke depan adalah meningkatkan mutu dan penyempurnaan kurikulum program diploma yang dapat memfasilitasi peningkatan kompetensi lulusan sehingga siap memasuki dunia kerja yang kompetitif. Kerjasama dengan para pemangku kepentingan, khususnya dunia industri dalam penyempurnaan kurikulum akan dilakukan untuk meningkatkan link & match dengan industri/pihak pengguna lainnya. Penyempurnaan kurikulum akan diiringi dengan peningkatan kompetensi dosen sesuai dengan tuntutan pendidikan vokasional, serta peningkatan kualitas penyelenggaraan perkuliahan dan praktikum. 3.2.2 PENINGKATAN KUALITAS PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT A. Landasan Kebijakan Pengembangan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Pengembangan penelitian dan unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPM) di lembaga dilandasi oleh kesadaran akan pentingnya perguruan tinggi untuk mengembangkan IPTEKS yang bermanfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan, pendidikan, pengembangan masyarakat, serta solusi atas permasalahan bangsa, khususnya bidang ICT. Lembaga harus memiliki kepedulian terhadap pengembangan kondisi aktual baik di tingkat nasional maupun internasional, sehingga harus bertanggung jawab dalam memberikan RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

solusi atas berbagai persoalan bangsa, khususnya bidang yang menjadi kompetensi lembaga.
Kebijakan Strategis Pengembangan Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat

1. Pembinaan kualitas penelitian secara khusus penelitian terobosan yang bertaraf internasional. Pembinaan kualitas penelitian memiliki tiga dimensi. Pertama, pengembangan kualitas peneliti diarahkan pada peningkatan kualitas dosen, peneliti, dan mahasiswa untuk melakukan kegiatan penelitian, termasuk didalamnya menguasai dan mengembangkan metodologi penelitian. Kedua, pengembangan kualitas sumber daya penelitian diarahkan pada peningkatan sumber dana penelitian untuk meningkatkan jumlah dan kualitas penelitian serta meningkatkan kualitas sarana prasarana penelitian yang memenuhi standar internasional. Ketiga, peningkatan kualitas materi dan hasil penelitian yang relevan dengan kebutuhan pengembangan ilmu itu sendiri, untuk pendidikan, untuk kepentingan usaha, serta masyarakat. Untuk itulah perlu pengembangan knowledge management untuk mensintesis produk-produk penelitian sehingga memiliki manfaat sosial dan ekonomi bagi pengembangan ICT dan masyarakat. 2. Pengembangan kegiatan penelitian berbasis prioritas. Prioritas agenda penelitian lembaga merupakan payung penelitian yang penting dalam mensinergikan, memperkuat, dan mengarahkan kegiatan penelitian sehingga menghasilkan prosuk riset yang lebih bermanfaat dan fokus dalam pengembangan keilmuan maupun mengatasi persoalan masyarakat dan pasar. Di tiap prodi juga perlu ada prioritas tema penelitian tahunan yang dapat dihasilkan dan dipublikasikan secara rutin. Untuk itu perlu ada prioritas untuk hal tersebut. Terkait hal ini tentunya diperlukan panduan kebijakan terkait arah pengembangan riset institusi. 3. Peningkatan kualitas perlindungan dan daya guna HKI. Salah satu yang penting adalah melakukan perlindungan yang paling tepat untuk setiap kekayaan intelektual yang dihasilkan sivitas akademika lembaga. 4. Pengembangan kemitraan dalam komersialisasi hasil penelitian. Pengembangan kerjasama riset dengan swasta melaui mekasnisme yang fair dan saling menguntungkan, serta mendorong pemanfaatan dana corporate social responsibility (CSR) akan dapat meningkatkan produk riset komersial. Peningkatan produk riset komersial akan menguatkan usaha-usaha komersial (auxiliary enterprises) dan RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

mendongkrak pendapatan institusi (university income). Penigkatan citra publik dari produk riset dan kualitas lulusan, serta perolehan dana riset yang memadai akan meningkatkan citra riset itu sendiri. Hal ini merupakan tanggung jawab setiap institusi YPT group untuk meningkatkan perolehan dana riset, selain itu YPT sendiri telah melakukan upaya kongkrit dalam upaya peningkatan pendapatan non-tuition fee melalui pendirian Bandung Techno Park (BTP). 5. Pengembangan publikasi hasil-hasil penelitian. Dokumentasi dan publikasi merupakan jembatan antara peneliti dan pemanfaat. Lembaga perlu untuk meningkatkan jumlah dan kualitas publikasi internasional tidak saja dalam jurnal ilmiah tapi juga dalam buku buku teks yang menjadi rujukan internasional. Lembaga juga perlu mendorong para dosen dan penelitinya untuk aktif terlibat dalam forum ilmiah internasional, baik seminar konferensi, workshop, serta keterlibatan dalam keanggotaan organisasi profesi internasional.
3.2.3 Penguatan Sistem Manajemen A. Landasan Kebijakan Penguatan Sistem Manajemen Sistem manajemen dibangun berlandaskan pada prinsip-prinsip good governance yaitu implementasi empat komponen manajemen secara baik: (1) sistem audit, (2) accounting, (3) keberadaan komite-komite yang independen (segregasi fungsi dalam organisasi) dan (4) publikasi laporan (Keasey dan Wright, 1997). Sistem manajemen ini meliputi (1) form organisasi yang baik, (2) kebijakan (policy) dan prosedur yang baik, dan (3) SDM yang berkualitas dan mempunyai integritas baik. Sistem audit meliputi audit untuk manajemen program akademik maupun manajemen sumberdaya. salah satu mekanisme penting dalam membangun sistem audit ini adalah pengendalian internal (internal control). Untuk meningkatkan kepercayaan kepada publik, sistem akuntansi harus mengikuti sistem yang dapat diterima secara universal, bahkan lembaga harus mentargetkan agar laporan keuangannya diaudit oleh akuntan publik dan mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian (WTP). Dalam sistem akuntansi yang baik ini, analisis akuntansi manajemen harus dapat menopang tercapainya biaya satuan yang akuntabel untuk menghasilkan lulusan maupun hasil riset yang bermutu. Dalam good management, komite-komite pada level steering core maupun unit-unit pada manajemen operasi, baik pelaksana akademik, administrasi, maupun unsur penunjang, haruslah independen terutama dalam proses pengambilan keputusan, sehingga keputusan, evaluasi dan review manajemen pada berbagai level dapat dilakukan secara obyektif. Sejalan dengan tuntutan publik kepada lembaga, publikasi laporan merupakan salah satu

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU prasyarat. Dengan komunitas demikian, lembaga tidak saja perlu

YPT Grup

membangun sistem pelaporan

administratif atas permintaan namun lembaga juga harus mampu memberikan akses kepada dan membeberkan (to disclose) fakta dan informasi yang menurut sifatnya perlu dibeberkan kepada komunitas. B. Kebijakan Strategis Penguatan Sistem Manajemen Untuk dapat mengimplementasikan langkah strategis pengembangan YPT 2021 , khususnya membangun good university governance (GUG) diperlukan 3 (tiga) kebijakan strategis yaitu (1) peningkatan keprimaan organisasi dan tatalaksana, (2) peningkatan akuntabilitas, dan (3) peningkatan transparansi. Lembaga telah berhasil meletakkan dasar-dasar GUG tersebut beserta sistem penunjangnya baik soft system maupun hard system dan ke depan diarahkan pada performance based contract. Basis GUG yang telah dibangun meliputi sistem perencanaan dan monitoring evaluasi, manajemen keuangan, SDM, fasilitas, teknologi informasi dan knowledge management system (KMS), dan pembangkitan pendapatan. Pada lima tahun ke depan, basis GUG di atas harus lebih siap untuk diimplementasikan. Sasaran pengembangan bidang ini meliputi: (1) pengelolaan perencanaan dan monitoring evaluasi berbasis kinerja, (2) pengelolaan keuangan yang wajar tanpa pengecualian (WTP), (2) pengelolaan infrastruktur (fasilitas dan properti) efektif dan proporsional, (4) pengelolaan sistem informasi terintegrasi dan efisien, dan (5) pemantapan landasan hukum dan sistem manajemen mutu. Untuk merealisasikan GUG ini maka diperlukan pula keberadaan pendukungnya seperti unit Satuan Penjaminan Mutu (SPM) dan Satuan Audit Internal (SAI). Kedua uni ini sangat penting untuk berfungsi dengan baik yaitu melakukan fungsi pengawasan dalam bentuk audit akademik (SPM) dan audit non akademik (SAI), dengan demikian, prinsip GUG seperti adanya transparansi dan akuntabilitas dapat terwujud. 1. Peningkatan keprimaan organisasi dan tata laksana Untuk dapat menjalankan GUG dengan lebih baik, lembaga harus melakukan review organisasi dan tatalaksana existing yang meliputi (1) struktur organisasi, (2) aturan perilaku, (3) sistem audit, (4) statement of university intent, (5) pengelompokan fungsi dan tugas strategis, (6) kebijakan pengelolaan keuangan, dan (g) kebijakan pengembangan sumberdaya manusia. Mengingat sebagian landasan GUG telah dibangun, maka dalam lima tahun ke depan kegiatan pengembangan perlu lebih difokuskan pada beberapa bidang yang masih lemah. Dari prinsip GUG atau good corporate governance (Keasy dan Wright, 1997) organisasi lembaga perlu diperkuat agar lebih segregatif terutama pada peran pengambilan keputusan. Di samping itu belajar dari pengalaman tahuntahun sebelumnya, untuk pengamanan berbagai usaha pembangkitan pendapatan lembaga perlu melengkapi fungsi financial controller yang bertindak sebagai nahkoda atau memberikan analisis secara profesional atas benefit maupun cost (materil maupun immateril) suatu usaha pembangkitan

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

pendapatan. Adanya beberapa fungsi yang bermiripan atau mempunyai ranah kerja yang berpotensi tumpang tindih memerlukan review yang mendalam. Organisasi tidak tuntas dengan semata struktur, namun organisasi harus dilengkapi dengan tata laksana. Sistem tata laksana yang telah ada saat ini tampaknya masih perlu diinternalisasikan lebih lanjut. Statement of university intent pada hakekatnya merupakan kontrak antara lembaga dengan pelanggan mahasiswa, pemerintah, donor maupun masyarakat pengguna output pendidikan tinggi. Statement ini telah terwakili oleh sasaran-sasaran atau indikator kinerja sebagaimana telah dirumuskan dalam sistem jaminan mutu lembaga. Kebijakan pengelolaan keuangan satu pintu (one gate policy) tampaknya masih perlu dielaborasi lebih lanjut agar dapat diimplementasikan secara lebih efektif. Kebijakan pengembangan sumberdaya sebagaimana telah juga diimplementasikan pada periode sebelumnya dilanjutkan dengan tetap memperhatikan prinsip SADAR (sentralisasi akademik dan riset dan desentralisasi administrasi). Untuk dicapainya kondisi di atas, maka diperlukan: (1) review struktur organisasi: pembentukan financial controller ; reformasi tugas pokok dan fungsi (tupoksi); penyempurnaan manual mutu, (2) pengawalan aturan perilaku (perbaikan mutu, penerbitan petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan), ( 3 ) pemantapan sistem audit, (4) pengawalan implementasi sistem jaminan mutu, (5) reklasifikasi unit tanggung jawab (responsibility centres), (6) pengelolaan keuangan terpusat, (7) kuantitas dan kualitas SDM yang proporsional, terutama terselenggaranya rekruitmen terbuka (vertikal dan horizontal) dan pembinaan tenaga

kependidikan, (8) pelayanan fasilitas dan properti yang prima, (9) integrasi sistem informasi dan komunikasi data yang konsisten, dan (10) pelayanan tata hukum yang memadai. 2. Peningkatan akuntabilitas Akuntabilitas menjadi tuntutan publik yang semakin penting di masa mendatang. Akuntabilitas menjadi salah satu komponen tetrahedron kualitas pendidikan tinggi (Ditjen Dikti, 1996). Untuk dapat membangun akuntabilitas ini diperlukan kebijakan-kebijakan (1) penerapan manajemen berbasis kinerja, (2) perencanaan strategis, (3) penerapan perencanaan kerja-anggaran berbasis kinerja, (4) pengukuran kinerja, (5) penyempurnaan sistem akuntansi, (6) pelaporan keuangan, dan (7) penerapan sistem pengendalian internal. Beberapa butir kebijakan strategis ini telah diimplementasikan seperti perencanaan strategis, pengukuran kinerja dan sistem akuntansi. Beberapa butir kebijakan lainnya dapat dijadikan focus di masa mendatang. Namun demikian implementasi beberapa kebijakan tersebut tetap memerlukan pengawalan. 3. Peningkatan transparansi Sama halnya dengan akuntabilitas, di masa mendatang transparansi semakin dituntut oleh publik, karena transparansi merupakan prasyarat kesehatan organisasi. Untuk dapat membangun transparansi ini, terhadap praktik manajemen existing, lembaga perlu melakukan review agar implementasi kebijakan transparansi terkawal dengan baik. Beberapa prasyarat yang perlu

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

dibangun meliputi: (1) kebijakan pengelolaan dan transparansi penyebaran informasi, (2) sistem informasi manajemen berbasis teknologi informasi, dan (3) kemudahan akses terhadap Informasi kepada stakeholders dan publik. Informasi dikelola mengikuti hirarkhi unit kerja, sesuai dengan ranah tugas pokok dan fungsi unit kerja (responsibility centers). Sejalan dengan kemajuan teknologi informasi dan arus globalisasi, kebijakan pengelolaan perlu memperhatikan (meng-address) beberapa issue antara lain HAKI dan pemasaran intellectual capital. Dalam rangka peningkatan kesejahteraan, pemasaran intelectual capital tampak akan merupakan sumber penerimaan (revenue) institusi maupun individu dosen yang potensial. Sistem informasi manajemen (SIM) tidak dapat dihindari harus ditingkatkan dari sekedar otomatisasi dan pengolah informasi kelak menjadi sistem penunjang keputusan (decision support system). Pengembangan SIM secara advanced dapat menjamin transparansi dalam pelayanan dan penilaian akademik maupun administrasi sumberdaya seperti untuk perencanaan pengadaan kenaikan pangkat, penilaian kinerja, alokasi sumberdaya, fasilitas, manajemen untuk sharing penggunaan peralatan lab dan

sebagainya. Bagian terpenting lainnya sebagai komponen GUG adalah akses publik kepada informasi lembaga. Sejalan dengan tuntutan publik kepada lembaga seperti halnya lembaga , publikasi informasi merupakan salah satu prasyarat. Dengan demikian, lembaga tidak saja perlu membangun sistem pelaporan administratif atas permintaan (on-request) namun lembaga juga harus mampu memberikan akses kepada komunitas dan membeberkan (to disclose) fakta dan informasi yang menurut sifatnya perlu dibeberkan kepada komunitas. Lembaga pendidikan dibawah naungan YPT grup diarahkan untuk pengembangan diri pada beberapa aspek. Pertama pengembangan ke arah lembaga pendidikan yang kuat dalam riset dan kewirausahaan. Dengan modal ini ditargetkan lembaga pendidikan dibawah naungan YPT Grup memiliki daya saing tinggi dan berkompetisi secara sehat dengan perguruan-perguruan tinggi lainnya. Upaya itu perlu dikembangan secara lebih agresif melalui upaya-upaya kondusif dan stimulatif. Kedua membangun Institutional building dan good university governance. Ketiga, meningkatkan tanggung jawab sosial (social responsibility), lembaga harus dapat berkontribusi pada terciptanya dan meningkatnya kesejahteraan sosial (social prosperity) di masyarakat luas yang mencakup pemecahan masalah, peningkatan pendapatan, dan penyediaan lapangan kerja. Hal ini diharapkan dapat terjadi melalui produk lulusan, produk riset, dan produk pengembangan usaha komersial yang dikembangkan lembaga pada kompetensi intinya. Kemampuan lembaga berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat luas akan berimplikasi balik terhadap peningkatan kepercayaan publik. Pelaksana akademik (Jurusan, Prodi, Lembaga Penelitian) diharapkan mampu meraih hibahhibah riset atau riset kerjasama (collaborative research), yang selanjutnya dapat meningkatkan kualitas proses belajar mengajar (PBM), mendongkrak partisipasi mahasiswa dan dosen dalam

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

berbagai paket riset yang mempercepat laju lulusan (annual graduates), publikasi ilmiah, paten, dan produk riset komersial. Penigkatan laju lulusan, publikasi riset, dan perolehan paten menjadi pembangkit citra publik (public recognition/trust) yang memperbesar peluang komersialisasi produk riset ke masyarakat luas yang berimplikasi balik pada peningkatan citra publik (public recognition) serta pengembangan usaha-usaha komersial (auxiliary enterprises). Perbaikan kepercayaan publik akan memperbesar berbagai hubungan kemitraan (linkages) baik dengan sektor swasta maupun pemerintah yang menjadi kekuatan kolabortif dan konsorsia (collaborative & consortia research), menurut Cole et al, (1993). Peningkatan produk riset komersial akan menguatkan usaha usaha komersial dan mendongkrak pendapatan institusi. Pendapatan yang sehat dan berkelanjutan ini memompa kesejahteraan pegawai dan dosen, pemasok sarana/prasarana riset serta insentif riset yang diharapkan meningkatkan minat dan budaya, serta pelaku riset yang berkualitas sehingga menopang siklus pengembangan proposal riset unggulan secara berkelanjutan. Peningkatan citra publik dari produk riset dan kualitas lulusan, serta tersedianya perolehan dana riset yang memadai akan meningkatkan kualitas mahasiswa yang diterima oleh institusi. Arah pengembangan good university governance di lembaga, melalui penyempurnaan sistem ketatapmongan yang akan membangun trust dan confidence para stakeholder dan men-support pengembangan usaha komersial. Dengan ketatapamongan ini diharapkan kepercayaan dari masyarakat akan meningkat bila lembaga-lembaga dalam naungan YPT grup cukup sehat dalam empat sistem berikut: (1) audit, (2) accounting, (3) keberadaan komite independen dan (4) publikasi laporan (Keasey dan Wright, 1997). Ketatapamongan ini perlu diterjemahkan ke dalam praktek good management yang memerlukan form organisasi yang baik, kebijakan (policy) dan prosedur yang baik dan SDM yang berkualitas dan mempunyai integritas baik. Formulasi konseptual penetapan arah pengembangan YPT Grup tahun 2021, mencakup: 1. Pemantapan lembaga menuju pendidikan tinggi berkarakter kelas dunia dengan riset unggulan pada kompetensi utama bidang Information, communication dan Technology (ICT); 2. Pemantapan lembaga-lembaga dalam penciptaan budaya enterpreneurship sebagai kekuatan daya saing (competitive force) global sesuai perkembangan jaman; 3. Pemantapan sistem nilai akdemik perguruan tinggi yang unggul dalam konteks nasional maupun internasional; 4. Pemantapan lembaga sebagai kontributor dan trendsetter dalam pemecahan masalah krisis perencanaan strategis nasional dan internasional khususnya pada bidang core competency-nya; 5. Pemantapan lembaga untuk merebut pasar riset, tenaga kerja IPTEKS nasional dan internasional;

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU 6. Pemantapan manajemen tepadu yang mengarah pada quality excellence Malcolm Balgride dan good university governance; Penigngkatan mutu di lingkungan YPT Grup secara konseptual dapat terlihat dari gambar berikut:

YPT Grup

Gambar 1. Peningkatan mutu secara berkelanjutan di YPT Grup

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU Formulasi pemantapan langkah strategis dari arah pengembangan YPT grup 2021 mencakup:

YPT Grup

1. Peningkatan pendapatan institusi dengan intensifikasi bisnis berbasis kepakaran melalui cara-cara konvensional maupun dengan memanfaatkan knowledge management system, yang memungkinkan peningkatan standar kesejahteraan yang bersaing dan progresif bagi karyawan institusi melalui performanced-based merit system 2. Pengembangan dan pemantapan pelayanan berbasis Teknologi Komunikasi dan Informasi yang dapat menjangkau masyarakat luas dan bersahabat melalui pendayagunaan enterprise collaboration system, e-learning system, e-library system, knowledge management system (KMS), office automation system, e-commerce dan customer relationship management (CRM) system; 3. Pemantapan perolehan akreditasi institusi dan seluruh program studi yang dikembangkan di lembaga daribadan akreditasi nasional dan internasional; 4. Peningkatan jumlah mahasiswa potensial, khususnya pada porsi magister dan doktor (sebagai modal riset), melalui penguatan sistem promosi, seleksi dan penguatan fungsi sistem penjaminan mutu; 5. Pemanfaatan pengelolaan, pendayagunaan dan pengembangan sumberdaya/aset vital lembaga excellence; 6. Peningkatan diseminasi dan komersialisasi produk riset yang agresif dan persuasif; 7. Peningkatan kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan lembaga hendaknya menjadi fokus perhatian penting yang harus diwujudkan secara bertahap. secara profesional untuk mendukung kinerja lembaga mencapai academic

Elemen konseptual dan skenario langkah strategis dari arah pengembangan YPT grup 2021 di atas disajikan pada tabel 1.4 Tabel 4. Elemen Konseptual dan Skenario Strategis Arah Perkembangan Lembaga 2021
Elemen Konseptual dan Langkah strategis 2013 Skenario implementasi waktu 2021 optimis Tingkat pencapaian moderat pesimis

1.

Menjadikan lembaga mencapai academic excellence berkarakter WCU dalam kompetensi intinya

2. Menjadikan lembaga dibawah


naungan ypt grup sebagai universitas riset unggulan dalam menghasilkan

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU
IPTEKS dan SDM profesional yang mampu menjawab tantangan nasional maupun global.

YPT Grup

3. Menjadikan lembaga dibawah


naungan ypt grup sebagai pusat jasa kepakaran untuk masyarakat dan pengembangan profesionalisme nasional dan internasional. 4. Menjadikan lembaga dibawah naungan ypt grup sebagai pendukung pembangunan nasional 5. Membangun enterpreneurship yang mampu mendukung lembaga dalam pencapaian academic excellence 6. Mengembangkan program pendidikan profesional melalui peningkatan link and match dengan industri dan pemerintahan 7. Menjadikan lembaga sebagai trendsetter dan main promoting agent bidang ICT yang menarik (attractive) dan menjanjikan (promising) 8. Meningkatkan daya saing lembaga dalam penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas yang memenuhi tuntutan pasar nasional dan global yang dinamis 9. Memanfaatkan TI dalam membangun linkages dan menembus pasar untuk e-learning (knowledge management system) dan komersialisasi riset (ecommerce) 10. Memanfaatkan seluruh aset lembaga secara optimal sebagai modal dasar untuk perluasan sumber-sumber pembiayaan institusi

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU
11. Mengembangkan sistem mutu berstandar internasional dan good university governance 12. Meningkatkan program dan kerjasama internasional dalam mendorong collaborative research dan penerimaan mahasiswa asing 13. Mengembagkan digital library dengan penyediaan e-journal khususnya publikasi internasional yang up to date dan relevan 14. Meningkatkan kesejahteraan institusi berbasis kinerja, dengan sistem merit (reward & punishment) yang konsisten dan kondusif 15. Mengembangkan hubungan & apresiasi alumni sebagai consulting dan promoting agents institusi dalam skala nasional dan internasional 16. Memperkuat akreditasi PS dan institusi baik secara nasional sebagai modal menuju akreditasi internasional 17. Memperkuat insentif untuk publikasi dan diseminasi riset bagi para peneliti di jurnal dan pertemuan ilmiah nasional dan internasional 18. Mengembangkan payung payung riset multidisiplin yang berorientasi pada kekayaan dan potensi nasional dalam bidang ICT, energi, lingkungan, dan sosioteknologi

YPT Grup

Arah pengembangan YPT grup 2010 di atas merupakan dasar untuk menetapkan kebijakan strategis pengembangan lembaga tahun 2010-2013 secara umum, yaitu : 1. Perluasan akses dan peningkatan kualitas pendidikan dan kemahasiswaan untuk menghasilkan

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

lulusan yang kompeten, cerdas dan kompetitif melalui penguatan pengelolaan akademik yang berkualitas, sistem monitoring dan evaluasi serta sistem penjaminan mutu yang handal; 2. Peningkatan kualitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat untuk menghasilkan temuan IPTEKS yang bermutu melalui pengembangan sistem insentif pada pendidikan yang didukung hasil riset, pembinaan penelitian tematik sesuai dengan problematika yang dihadapi bangsa dan tantangan perkembangan jaman, pembinaan penelitian bertaraf internasional, pengembangan kemitraan dalam komersialisasi hasil penelitian dan pengembangan fasilitas penelitian; 3. Peningkatan kesejahteraan dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa melalui peningkatan insentif berbasis kinerja, peningkatgan standar insentif, peningkatan jaminan sosial termasuk kesehatan, penggalangan dana beasiswa, penggalangan kerjasama profesional; 4. Peningkatan kapasitas sumberdaya untuk membangun ketangguhan institut melalui

pengembangan SDM dan technopreneurship, pengembangan bisnis kepakaran dan usaha penunjang, penguatan peran lembaga dibawah naungan ypt grup dalam pembangunan pertanian dan penguatan citra lembaga; 5. Penguatan sistem manajemen institut untuk mencapai kesehatan organisasi diantaranya melalui pengelolaan keuangan yang berjalan baik (akuntabel, kredibel, dan transparan), pengelolaan infrastruktur, pengelolaan perencanaan dan pengembangan dan pengelolaan, serta sistem informasi manajemen yang tersistem dengan baik salah satunya dengan berfungsinya unit Satuan Audit Internal dan Satuan Penjaminan Mutu. Arah pengembangan lembaga lembaga YPT grup tahun 2021 dan kebijakan strategis pengembangan tahun 2010-2013 tergambar dalam Rencana Empat Tahun (Reneta II), secara diagramatik disajikan pada gambar 2. sebagai berikut:

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

PROGRAM UTAMA SASARAN


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Organisasi & Tata Kelola (Manajemen) Sistem Mutu Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Proses Pembelajaran (Akademik) Kemahasiswaan & Pemasaran Penelitian & Pengabdian Masyarakat Sarana & Prasarana Sumber Dana (Keuangan)
SUSTAINABLE GROWTH

PEKU

QUALITY EXCELLENCE

Kualitas Masukan, Kualitas Proses dan Kualitas Lulusan Pengembangan Tata Kelola Organisasi & Sistem Manajemen Mutu Peringkat Perguruan Tinggi Terbaik & Akreditasi Nasional Pengembangan Riset dan IT Sinergi Peningkatan kerjasama Pengembangan industri kreatif dan multimedia Peningkatan pendapatan non tuition fee Pemberdayaan Aset YPT Group Pertumbuhan Unit Bisnis

PEKA
KNOWLEDGE CREATION

AKU

AKA

Jabatan Fungsional Akademik & Sertifikasi Dosen International class, student & Faculty Sertifikasi Sistem Mutu (ISO 9001: 2008) Link & Match Implementasi WCU Implementasi GUG Pengembangan SIM, Digital/Smart Campus Kualitas akademik & Implementasi BAN PT (Akreditasi A/Unggulan) Go Internasional/Kemahasiswaan Diversifikasi bisnis Kompetensi & Produktivitas SDM Peningkatan Kualitas Layanan e-Radio (e - Broadcasting) Sistem Tata Kelola Riset Budaya Riset & Joint research Publikasi Riset Bandung Techno Park Optimalisasi sinergi YPT Grup Sinergi Telkom Grup Program Hibah & Beasiswa bagi PT Kerjasama dan kemitraan dengan PT & Industri nasional dan internasional Franchising pelatihan bersertifikasi Tata Kelola Aset dan Integrasi Fasilitas kampus Pengembangan kawasan pendidikan Telkom

Gambar 2.15. Formulasi Strategi untuk menentukan Program Utama RENETA II 2010 2013

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

Gambar 2. arah dan kebijakan strategis pengembangan lembaga lembaga YPT grup Ketika YPT Grup memutuskan bahwa pada tahun 2017 akan mencapai kelas dunia, terdapat pemikiran terkait ketercapaian akan Visi yang telah dilontarkannya tersebut. Dalam Renstra YPT Grup dan Reneta II 2010 2013 dianalis kondisi internal dan eksternal yang ada di lingkungan lembaga dibawah naungan YPT grup, sehingga dapat dipetakan gambaran langkah-langkah strategis yang perlu diambil untuk menjaga supaya target yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan baik. Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa institusi dalam naungan YPT grup masih harus melakukan berbagai pembenahan internal. Hal ini bukan berarti bahwa kondisi internal institusi kurang bagus, melainkan apa-apa yang sudah dipersiapkan dan diberlakukan di YPT grup selama ini, ternyata memerlukan adanya berbagai penyesuaian akibat kondisi eksternal yang berubah dengan sangat cepat. Sebagai contoh kecil, selama ini kita dihadapkan kepada sistem akreditasi program studi. Dalam sistem ini, masing-masing program studi meningkatkan kualitasnya untuk meraih akreditasi program unggul. Keunggulan suatu program studi tidak dipengaruhi oleh baik buruknya akreditasi program studi lain, walaupun dalam suatu institusi yang sama. Kini paradigmanya berubah. Akreditasi kini dilakukan terhadap institusi secara keseluruhan. Artinya, jika dalam suatu perguruan tinggi ada program studi yang nilai akreditasinya rendah atau belum terakreditasi, maka nilai akreditasi perguruan tinggi tersebut secara institusi akan rendah, walaupun ada beberapa program studi yang berstatus unggul. Contoh lain adalah tentang EPSBED (Evaluasi Program Studi Berbasis Evaluasi Diri). Walaupun namanya evaluasi program studi, pada kenyataannya sistem penilaiannya digabung untuk seluruh institusi, dari program Diploma, S1, maupun S2. Jika ada program studi yang tidak berkomitmen

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

terhadap pengisian laporan maupun terhadap peningkatan kualitas, maka nama dan citra institusi secara keseluruhan menjadi ikut jatuh. Dengan berubahnya rules of the game , yang memang ditentukan oleh pihak luar, maka YPT grup pun perlu terus merevisi dan memperbaiki kondisi internal lembaga sebelum melangkah lebih jauh. Sehingga kondisi internal yang sudah ada di YPT grup, bukan salah, tetapi diperlukan penyesuaian terkait perubahan dari luar, terkait perubahan rules of the game tadi. Dengan demikian, hal ini membuktikan bahwa teori Graham Winter (2003) yang menyatakan bahwa kinerja World-Class dicirikan oleh skalanya yang internasional, kecepatan perubahan yang tinggi, dan standar yang menglobal.

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

BAB IV STRATEGI PENCAPAIAN WCU YPT GRUP 4.1.KRITERIA WCU SERTA ARAH PENCAPAIAN WCU YANG AKAN DIKEJAR OLEH LEMBAGA DI BAWAH NAUNGAN YPT GRUP Secara akademik,harus masuk dalam beberapa metode perankingan universitas dunia, seperti: Academic Ranking of World Universities (ARWU), The Times Higher Education Supplement (THES) maupun ranking universitas dunia secara elektronik melalui Webometric, ataupun QS Star. Untuk itu, suatu Universitas/Perguruan Tinggi hendaknya perlu bekerja lebih keras guna mencapai impian untuk masuk dalam kategori World Class University. Apalagi untuk Masing-masing lembaga pengakeditasi mempunyai kriteria dan metodologi penilaian yang berbeda-beda, bahkan sangat berbeda. Indonesia mengalami peningkatan jumlah perguruan tinggi yang masuk 500 besar THES. 4.1.1 KRITERIA WCU YANG AKAN DIKEJAR Apabila diamati dengan seksama kriteria-kriteria penilaian di atas, bagi perguruan tinggi Indonesia, terlebih bagi lembaga dibawah naungan YPT grup, makan nampaknya yang paling memungkinkan (feasible) untuk dikejar oleh lembaga adalah status WCU berdasarkan kriteria Webometrics. Jika mengacu kepada THES, walaupun akan sangat bergengsi, rasanya lembaga tidak mungkin dalam waktu dekat mampu merekrut dosen peneliti kelas internasional, menyediakan laboratorium berperalatan lengkap, merekrut mahasiswa asing top dari berbagai negara, atau segera para penelitinya berhasil menembus jurnal-jurnal ilmiah internasional (seperti Nature dan Science). Dengan demikian, secara jujur kriteria Webometrics merupakan yang termudah untuk dapat diraih. Oleh karena itu penetapan kebijakan dari pimpinan YPT Grup akan menjadi sangat penting untuk upaya pencapaian WCU, terkait kriteria WCU mana yang akan di kejar, tahapannya dll. Dengan data evaluasi diri sebagaimana tersaji diatas, tidak seharusnya membuat kita pesimis. Sebaliknya, kita harus semakin giat bekerja keras agar dapat meningkatkan performa kinerja dalam setiap butir penilaian dari lembaga akreditasi manapun yang akan digunakan. Secara garis besar, langkah langkah yang harus dilakukan adalah: 1. Penguatan komitmen dan kesamaan visi serta persepsi (dimulai dari unsur pimpinan sebagai teladan, dan terus menetes ke level bawah) 2. Membentuk gugus tugas/tim yang khusus bertugas merencanakan langkah kerja untuk mempersiapkan diri melengkapi persyaratan yang diperlukan.

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU 3. Setiap unit kerja mempelajari persyaratan penilaian

YPT Grup

4. Perbaiki yang kurang, kembangkan yang belum ada, dan tingkatkan yang sudah bagus (complience to continuous improvement) 5. Kerahkan seluruh sumberdaya yang ada untuk melakukan contiuous improvement dengan mengacu ke standar yang ingin dicapai. 4.1.2 PROGRAM KERJA BERBASIS WEBOMETRICS DAN QUACQUARELLI SYMONDS (QS) STAR Beberapa lembaga dibawah naungan YPT grup sudah masuk ke daftar webometrics, seperti IT Telkom, dan IM Telkom meskipun masih diperlukan usaha yang baik untuk peningkatan dan konsistensinya, karena selain dinamis, semua perguruan tinggi, terutama Indonesia, sama sama berupaya untuk terus memperbaiki para pesaingnya, oleh karena itu diperlukan langkah khusus terkait hal ini yaitu: 1. Merevitalisasi unit pelaksana teknis pengelola ICT (Sisfo). Selain menjadi tempat pengelolaan data dan pelayanan teknologi informasi, salah satu tugas sisfo adalah mengelola website lembaga dan isinya. 2. Memperhatikan kapasitas Bandwith dan titik pengaksesan (acces point) agar akses ke web lembaga menjadi lancar. 3. Menerbitkan kebijakan institusi tentang segala sesuatu dalam pembangunan dan pengembangan ICT di lembaga, dan pengembangan sumber daya penting lainnya seperti dosen. Selain itu kebijakan riset harus ditetapkan untuk memacu produktivitas riset dan inovasi. 4. Mempersiapkan isi web. Isi web merupakan hal yang sama pentingnya dalam pembangunan jaringan dan situsnya itu sendiri. Data data yang disajikan sebagaimana disyaratkan oleh webometrics, yang juga harus akurat dan terkini (up to date), serta tentu saja dalam bahasa Inggris. 5. Terus menghimbau pemahaman tentang pembangunan citra peningkatan pemahaman, persepsi, dan kesadaran sivitas akademika tentang betapa pentingnya meraih dan menjaga citra bagi lembaga. 6. Membentuk tim khusus webometrics dan QS Star. Upaya menjadikan lembaga ypt grup menjadi WCU berbasis webometrics dan QS perlu dikerjakan secara khusus oleh suatu tim yang anggotanya memiliki pemahaman yang cukup tentang konten webometrics. Tim webometrics sejenis ini dibentuk pula oleh Universitas Indonesia dan Universitas Pendidikan Indonesia, serta perguruan tinggi lain, yang juga telah secara sadar menginginkan tercapainya citra unggul berkelas dunia. Selain mempersiapkan konten, dan upaya merumuskan strategi, tugas tim ini juga adalah menyosialisasikan perlunya partisipasi seluruh sivitas akademika lembaga ypt grup terhadap konsep pencapaian WCU lembaga ypt grup melalui webometrics.

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

BAB V KINERJA LEMBAGA YPT GROUP DALAM PENCAPAIAN WCU 2017 Terkait kinerja eksisting pencapaian WCU 2017, lembaga YPT belum ada yang masuk ke rangking THES, tetapi untuk versi WCU webometric telah masuk meskipun masih belum stabil seperti IT Telkom pada tahun 2009 dapat mencapai posisi 2800 besar, tetapi untuk tahun 2010 turun sampai peringkat 5700an. Sementara IM Telkom baru berhasil masuk dalam rangking webometric pada tahun 2010, dengan meraih posisi 11.000-an. Hal ini tentunya memerlukan perhatian dalam bentuk upaya untuk mencapai konsistensi dari tahun ke tahun, dengan tetap menajga performansi penelitian, dalam hal ini unit Penelitian dan pengabdian Masyarakat (PPM), unit sistem informasi yang bertanggungjawab dalam uploading data ke internet, dan juga support dari unit perpustakaan. Untuk mendukung kinerja PPM diperlukan kebijakan riset, untuk memberikan insentif dan dorongan bagi dosen dosen untuk produktif dalam melakukan penelitian yang dapat bermanfaat bagi institusi dan masyarakat pada umumnya. Dengan kebijakan riset yang jelas dan terperinci, maka produktivitas riset diharapkan dapat ditingkatkan, terutama riset internasional yang dapat meningkatkan kualitas lembaga pendidikan seiring meingkatknya sitasi dari dosen institusi YPT Group. Tabel Peringkat Webometric IT Telkom dan IM Telkom

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

Untuk pemetaan institusi pendidikan di bawan naungan YPT Group dalam hal ini IT Telkom, IM Telkom, dan Politeknik Telkom dapat terlihat dari tabel indikator kinerja terkait WCU berikut ini:

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU Tabel

YPT Grup

Performansi Lembaga Terkait Pencapaian Target WCU 2017 YPT Group (Semester II 2010) Performansi IT Telkom Ada 5721 (dunia) 45 dari 50 (Indonesia) Performansi IM Telkom Ada Ada 11.696 Performansi Politeknik Telkom Tidak ada Tidak ada Tidak ada Kriteria webometrics, kriteria WCU Dikti, dan ISO 9001:2008 Ada Ada Tidak ada REFERENSI/LANDASAN ISO 9001:2008 tentang kebijakan mutu, dan visi YPT WCU 2017 ISO 9001:2008 dan kriteria webometrics Kriteria webometrics

INDIKATOR KINERJA TERKAIT PENCAPAIAN WCU Kebijakan mutu terkait dengan konten target pencapaian WCU Kebijakan terkait web dan publikasi ilmiah dalam web Peringkat Webometrics terakhir (aktual) Kebijakan penelitian dan pengabdian masyarakat terkait publikasi ilmiah/prosiding/jurnal nasional, internasional, termasuk kebijakan insentif riset, dan penyelenggaraan pengabdian kepada masyarakat

% Dosen tetap berkualifikasi Master (S2) % Dosen tetap bergelar Doktor (S3) Jumlah guru besar berbanding seluruh dosen tetap Jumlah lektor kepala berbanding seluruh dosen tetap Rasio dosen tetap berbanding mahasiswa

69.76 4,39 1:80 1:9 1:49

40 orang/73% 8 orang/12% 3:72 6:72 1:62

46,7% 0% 0:21 0:21 1:143

Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi BAN PT Akreditasi

Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi,THES (Teaching Quality Student Faculty Ratio)

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU Jumlah Hibah Dikti yang diterima dalam 1 tahun terakhir Jumlah Hibah diluar Dikti dari Nasional dalam 1 tahun terakhir Jumlah Hibah diluar Dikti dari Internasional dalam 1 tahun terakhir Jumlah award yang diterima alumni/staf di tingkat Nasional Jumlah award yang diterima alumni/staf di tingkat internasional Jumlah HAKI Jumlah Prosiding Nasional (6 Bulan terakhir) Jumlah Prosiding Internasional (6 Bulan terakhir) Jumlah publikasi di jurnal nasional terakreditasi Jumlah publikasi di jurnal internasional terakreditasi Jumlah tugas akhir D3 dipublikasikan pada jurnal nasional terakreditasi atau prosiding/jurnal internasional

YPT Grup Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi,THES (Citation) Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi, Webometrics Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi, Webometrics Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi, Webometrics Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi, Webometrics, THES (citation) Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi, Webometrics

2 3 0 2 4 33 20 6 3

0 0 0 0 0 0 13 0 0 0

Tidak ada Tidak ada Tidak ada 0 0 0 6 judul 8 Judul 0 0

3 Publikasi

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU Jumlah Tesis S2 yang dipublikasikan pada jurnal nasional terakreditasi atau prosiding/jurnal internasional Jumlah layanan masyarakat berskala kota/kabupaten/propinsi Jumlah layanan masyarakat berskala nasional Jumlah layanan masyarakat berskala internasional Jumlah dosen asing yang mengikuti kegiatan program pendidikan jangka pendek pada PT anda pada tahun ini Jumlah dosen PT anda yang mengikuti kegiatan program jangka pendek pada PT di luar negeri pada tahun ini Jumlah program pendidikan khusus yang diselenggarakan untuk mahasiswa asing Jumlah mahasiswa asing yang mengikuti kegiatan program pendidikan jangka pendek pada tahun ini Jumlah mahasiswa PT anda yang mengikuti program pendidikan jangka pendek pada PT di luar negeri pada tahun ini

YPT Grup Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi, Webometrics

2 publikasi internasional, 3 publikasi nasional 0 0 0 2 1 0

0 Publikasi

0 Kegiatan 0 Kegiatan 0 Kegiatan

Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi

0 Dosen

0 Dosen

Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi

0 Program

Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi, THES (international student) Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi, THES (international student) Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi

S1:4 mhs S2:2 mhs

0 mahasiswa

4 mahasiswa

0 Mahasiswa

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU Jumlah program Internasional pada PT anda Jumlah mahasiswa asing yang mengikuti program internasional Jumlah event Internasional yang diselenggarakan pada tahun ini Program Internasionalisasi seperti dual degree, twinning, sandwich, pertukaran pelajar, dll Tahun yang ditetapkan untuk tersertifikasi ISO 9001:2008 Jumlah unit kerja yang belum memiliki prosedur ISO 9001:2008 Audit Mutu Internal (AMI) yang dilakukan dalam tahun ini Program beasiswa unggulan Program beasiswa untuk mendapatkan mahasiswa asing Jumlah buku perpustakaan (Hardcopy) berbanding mahasiswa aktif Jumlah pustakawan bergelar magister/doktor berbanding seluruh tenaga pustakawan Jumlah jurnal elektronik berlangganan per institusi

YPT Grup Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi, THES (international student,faculty) BAN PT Akreditasi, THES (international student) Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi, THES (international student) Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi, THES (international student) Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi

0 0 2 Tidak ada 2010 0 4 Ada Tidak ada

Ada S1:4mhs S2:2mhs 1 ada 2011 0 2 kali Ada Ada

Tidak ada 0 mahasiswa 0 Event Tidak ada Tahun 2011 semua Unit kerja 0 AMI Ada Tidak ada

3:1

1:6

3373 :3016

0 8

Blm ada 3

0:00 0 Jurnal elektronik

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU Bandwidth Internet/mahasiswa Jurnal nasional terakreditasi yang dimiliki institusi Jurnal nasional terakreditasi yang dimiliki Prodi Rata-rata skor TOEFL alumni atau mahasiswa Rata-rata skor TOEFL dosen Fasilitas pelatihan bahasa Inggris untuk mahasiswa % lulusan tepat waktu D3 (berbanding seluruh angkatan) % lulusan tepat waktu S1 (berbanding seluruh angkatan) % lulusan tepat waktu S2 (berbanding seluruh angkatan) % jumlah dosen tetap yang sedang studi lanjut S2 % jumlah dosen tetap yang sedang studi lanjut S3 % jumlah prodi D3 yang terakreditasi A % jumlah prodi S1 yang terakreditasi A % jumlah prodi S2 yang terakreditasi A

YPT Grup Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi, Webometrics Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi Kriteria WCU Dikti, BAN PT Akreditasi

4kb/mhs 1 0 489 477 Ada 74,29 46,07 9,09 3,75 18,75 50 38 0

2kb/mhs 1 0 0 29 23 16,43 (12/73) Proses 20 -

64 kb/mahasiswa 0 jurnal 0 jurnal Tidak ada 507 Tidak ada 7% 0% 0% 38,1% 0% 0% 0% 0%

Sumber: Form data dari masing-masing lembaga yang ditandatangani Rektor (2010) - Terlampir RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU Analisis Performansi IT Telkom

YPT Grup

Pada umumnya untuk kinerja mutu IT Telkom relatif lebih baik dibanding lembaga lain, namun demikian masih banyak indicator yang perlu ditingkatkan apabila akan mengejar target WCU seperti yang telah ditetapkan. Apabila IT Telkom ingin mencapai target webometric, maka peningkatan yang perlu dilakukan adalah: 1. Sumber Daya Dosen IT Telkom dengan kualifikasi S-3 masih kurang (4,39%) sementara dosen yang sedang studi lanjut S-3 sebanyak 18,75%. Ini artinya apabila dosen yang studi lanjut telah lulus dan mendapat gelar S-3, jumlah dosen IT Telkom belum mencapai 25% dari dosen tetap yang tentunya jumlah ini masih kurang untuk mendukung produktivitas dan mutu produk riset dan inovasi. Hal lain yang perlu ditingkatkan adalah rasio guru besar yang masih minim (1:80) sementara jumlah rasio lektor kepala sebesar 1:9, ini artinya IT Telkom perlu membuat suatu roadmap pengembangan sumber daya khususnya bagaimana meningkatkan kuantitas guru besarnya dengan perencanaan yang baik. Selanjutnya untuk memenuhi kriteria internasionalisasi yaitu berdirinya kelas internasional, diperlukan pula sumber daya pendukung, misalnya fakulti asing ataupun fakulti lokal dengan kapasitas internasional. IT Telkom dapat memenuhi keberadaan fakulti asing ini dengan mendatangkan visiting professor atau doktor dengan pengalaman yang mumpuni di bidang ICT untuk memenuhi kebutuhan kelas internasionalnya. Salah satu manfaat dari baiknya mutu internasionalisasi ini selain untuk akreditasi tentunya pencitraan di masyarakat akan semakin baik. Begitu juga dengan mahasiswa IT Telkom, untuk memenuhi outlook internasional, maka komposisi mahasiswa asing yang sampai saat ini belum dimiliki oleh IT Telkom perlu dijadikan perhatian, untuk dirancang apa yang perlu dilakukan untuk menarik mahasiswa asing kuliah di IT Telkom, misalnya dengan program beasiswa untuk mahasiswa asing ataupun program lainnya. Program yang tidak kalah pentingnya adalah program internasionalisasi seperti twinning proram, pertukaran pelajar, program sandwich perlu segera dirancang oleh IT Telkom, hal ini untuk memperkuat mutu lulusan/mahasiswa pasca sarjana IT Telkom maupun untuk mendukung akreditasi internasional. 2. Produktivitas Tridharma Pendidikan Untuk produktivitas penelitian IT Telkom dapat dikatakan cukup baik dengan jumah 33 judul prosiding nasional dalam 6 bulan, dan 20 judul prosiding internasional. Hal ini tentunya dapat mendukung kriteria WCU, misalnya untuk kriteria webometric, maka jika konsistensi dapat dijaga dan dukungan dari system informasi baik, maka peringkat webometric pun dapat membaik.

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU Analisis Performansi IM Telkom 1. Sumber daya

YPT Grup

Terkait sumber daya, IM Telkom masih memiliki kekurangan dalam hal rasio dosen dan mahasiswa (1:62), jumlah dosen tetap dengan kualifikasi doktor (8 orang), jumlah guru besar masih minim yaitu sebanyak 3 orang dari seluruh dosen tetap yang berjumlah 72 orang. Selain itu jumlah lektor kepala pun masih kurang yaitu hanya 6 orang. Sementara untuk program kelas internasional telah ada, hanya saja perlu peningkatan dari segi keberadaan fakulti asing yang bermutu. Sampai saat ini jumlah fakulti dan mahasiswa asing di IM Telkom masih perlu ditingkatkan apabila hendak meningkatkan kualitas internasionalisasinya. Selain hal tersebut untuk mendukung kualitas internasionalisasi diperlukan peningkatan kualitas kemampuan bahasa asing, baik dosen, staf, maupun mahasiswanya. Hingga saat ini catatan terkait rata rata kemampuan bahasa inggris dosen maupun mahasiswanya belum ada, dan fasilitas pelatihan bahasa asing pun belum ada. 2. Produktivitas Tridharma Pendidikan Terkait produktivitas riset masih perlu ditingkatkan, karena belum semua dosen tetap melakukan penelitian, dengan prosentase yang ada hanya 13 judul dari 72 dosen tetap atau sekitar 17%. Untuk itu diperlukan kebijakan riset yang mencakup insentif ataupun dorongan dari insitusi bagi dosen supaya terdorong untuk melakukan riset secara baik/bermutu. Kemudian jika melihat Rencana Strategis IM Telkom 2010 2017 masih banyak indikator yang belum terpenuhi, seperti kegiatan seminar internasional sekali dalam setahun yang menurut Renstra akan dilaksanakan pada tahun 2010. Hal lain adalah perolehan hibah kompetisi, tiap dosen sebagai penulis utama buku teks dengan ISBN minimal 1 dalam 3 tahun, setiap dosen sebagai peneliti utama melakukan penelitian 1 dalam 1 tahun, dll masih belum tercapai seperti yang ditargetkan dalam Renstra IMT 2010 - 2017. Analisis Performansi Politeknik Telkom Secara umum performansi politeknik Telkom masih perlu perhatian, hal hal seperti belum adanya kebijakan mutu, kebijakan riset akan menjadi permasalahan apabila tidak segera dibuat. Kemudian permasalahan lain terkait rasio dosen dan mahasiswa yang masih kurang baik (1:143) hal ini memerlukan perencanaan terkait bagaimana meningkatkan jumlah dosen tetap, tetapi tetap mempertimbangkan aspek efisiensi anggaran. Untuk performansi riset, diperlukan peningkatan produktivitas riset, keberadaan jurnal, dan pengelolaan hasil hasil riset sehingga dapat terekam dalam jaringan internet yang dapat diakses oleh

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

pihak lain, sehingga hal ini dapat menjadi contributor kepada penilaian akreditasi nasional ataupun kriteria WCU versi webometric. LANGKAH (ROADMAP) DARI TAHUN 2011 2017 LEMBAGA YPT GROUP Setelah memetakan performansi masing masing lembaga YPT Group, maka selanjutnya diperlukan langkah atau roadmap yang harus dilakukan oleh masing masing lembaga dari tahun 2011 2017. Langkah ini diperlukan agar perkembangan setiap lembaga dapat terukur dan terevaluasi, sehingga setiap kemajuan dilakukan secara terencana. Gambaran langkah atau roadmap YPT untuk setiap lembaga dapat dilihat dari table berikut:

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU ROADMAP LEMBAGA PENDIDIKAN YPT GROUP 2011 2017 LEMBAGA IT TELKOM TAHAPAN WCU 2011 -Upaya peningkatan mutu indikator SNP, SNMPT, dan BAN PT -melakukan upaya peningkatan kualitas dan kuantitas penelitian dan kinerja sisfo untuk mendukung peningkatan peringkat WEBOMETRICS/4icu -seminar internasional setiap tahun -persiapan program internasionalisasi -melakukan persiapan (kajian) untuk qs- star -meningkatkan kualitas lembaga dengan framework indikator MALCOLM BALGRIDE 2012 -menjalankan MBPE -perbaikan peringkat webometrics -inisiasi program internasionalisasi (kelas internasional, faculty asing, mhs asing, program pertukaran pelajar, sandwich, dll) -melakukan inisiasi untuk QS STAR 2013 -peningkatan produktivitas riset internasional -publikasi skripsi dan tesis -penambahan jumlah guru besar -program visiting professor -program joint research/ seminar internasional untuk siswa dan dosen pasca sarjana 2014 -penambahan jumlah doktor dan jumlah dosen studi lanjut S-3. -peningkatan produktivitas jurnal internasional dosen dan sitasi. -publikasi riset dan disertasi -penambahan jumlah guru besar -jurnal nasional terakreditasi pada setiap prodi

YPT Grup

2015 -masuk peringkat QS ASIA top 300 (ranking top up university) -peringkat 1000 besar dunia WEBOMETRICS/4icu -30 besar perguruan tinggi di indonesia -peningkatan jumlah siswa asing (kelas internasional) -Penambahan jumlah fakulti asing

2016 -100% dosen pascasarjana berkualifikasi S-3/guru besar -membuka program S-3 (Doktor) -minimal 1 seminar internasional setiap tahun. -Akreditasi A untuk semua Prodi -peningkatan jumlah jurnal/artikel dari dosen masuk dalam jurnal elektronik, JSTOR, Proquest, Elsevier, dll -Tersertifikasi MBPE

2017 -Guru besar dan Doktor yang merata di semua Prodi -produktivitas penelitian dan karya inovatif dosen -Peningkatan inovasi/paten -Pembelajaran berbasis riset -peningkatan jumlah jurnal/artikel dari dosen masuk dalam jurnal elektronik, JSTOR, Proquest, Elsevier, dll

-pelaksanaan program studi lanjut S-3 bagi dosen -program studi tetap lanjut S-3 bagi dosen tetap -peningkatan konten jurnal nasional -100% dosen terakreditasi berkualifikasi minimum S-2 -peningkatan pendapatan hibah -mengajukan untuk dan beasiswa dari diakreditasi luar negeri regional AUN-QA

-setiap dosen menghasilkan minimal -Peningkatan jumlah 1 riset HKI (Paten) nasional/internasional setiap tahun -100% dosen tetap memiliki minimal 1 -join seminar jurmal internasional internasional minimal per tahun 1 tahun 2 kali. -100% dosen tetap -jurnal/artikel dosen memiliki buku ISBN

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU -Pelatihan bahasa inggris rutin bagi siswa - Tes TOEFL rutin setiap tahun bagi siswa dengan bekerja sama dengan penyelenggara TOEFL Insititusional -Peningkatan Kerjasama Internasional -Mendapat proram hibah -menjalankan MBPE -perbaikan peringkat webometrics -inisiasi program internasionalisasi (kelas internasional, faculty asing, mhs asing, program pertukaran pelajar, sandwich, dll) -melakukan inisiasi untuk QS STAR masuk dalam jurnal elektronik, JSTOR, Proquest, atau Elsevier

YPT Grup

-melakukan kajian terhadap indikator AUN-QA (akreditasi regional), terkait target waktu &, tahapan akreditasi tsb. -program pengembangan fakulti untuk jenjang S-3 bagi dosen tetap -Peningkatan kerjasama Internasional -Upaya peningkatan mutu indikator SNP, SNMPT, dan BAN PT -tersertifikasi ISO 9001:2008 -melakukan upaya peningkatan kualitas dan kuantitas penelitian dan kinerja sisfo untuk mendukung peningkatan peringkat webometric/4icu

-terakreditasi QS STAR -Insitusi Terakreditasi BAN PT -peningkatan perolehan program hibah -Joint seminar internasional -50% dosen tetap memiliki buku ISBN -peningkatan produktivitas riset internasional -publikasi skripsi dan tesis -penambahan jumlah guru besar -program visiting professor -program joint research/ seminar internasional untuk siswa dan dosen

IM TELKOM

-penambahan jumlah doktor dan jumlah dosen studi lanjut S-3. -peningkatan produktivitas jurnal internasional dosen dan sitasi. -publikasi riset dan disertasi -penambahan jumlah guru besar -jurnal nasional terakreditasi pada

-masuk peringkat QS ASIA top 500 (ranking top up university) -peringkat 2000 besar dunia webometrics -50 besar perguruan tinggi di indonesia -peningkatan jumlah siswa asing (kelas internasional)

-100% dosen pascasarjana berkualifikasi S3/guru besar -membuka program S-3 (doktor) -peningkatan jumlah jurnal/artikel dari dosen masuk dalam jurnal elektronik, JSTOR, Proquest, atau Elsevier -Tersertifikasi MBPE

-Guru besar dan Doktor yang merata di semua Prodi -produktivitas penelitian dan karya inovatif dosen -peningkatan inovasi/ paten -Akreditasi A untuk semua Prodi -Pembelajaran berbasis riset

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU -seminar internasional setiap tahun -inisiasi konsep penambaan program internasionalisasi -melakukan persiapan (kajian) untuk QS- STAR -meningkatkan kualitas lembaga dengan framework indikator MALCOLM BALGRIDE -melakukan kajian terhadap indikator AUN-QA (akreditasi regional), terkait target waktu &, tahapan akreditasi tsb. -program pengembangan fakulti untuk jenjang S-3 bagi dosen tetap POLITEKNIK -Upaya peningkatan mutu indikator SNP, -pelaksanaan pasca sarjana program studi lanjut S-3 bagi dosen -program studi tetap lanjut S-3 bagi dosen tetap -peningkatan konten jurnal nasional -100% dosen terakreditasi berkualifikasi minimum S-2 -peningkatan pendapatan hibah -Institusi dan beasiswa dari Terakreditasi oleh luar negeri BAN PT -terbentuknya lembaga pelatihan bahasa asing -Program pelatihan bahasa inggris rutin bagi seluruh siswa - Tes TOEFL rutin setiap tahun bagi siswa dengan bekerja sama dengan penyelenggara TOEFL Insititusional -Peningkatan kerjasama internasional -menjalankan MBPE -mengajukan untuk diakreditasi regional AUN-QA -peningkatan perolehan program hibah -Joint seminar internasional -50% dosen tetap memiliki buku ISBN setiap prodi -terakreditasi QS STAR -join seminar internasional minimal 1 tahun 2 kali. -jurnal/artikel dosen masuk dalam jurnal elektronik, JSTOR, Proquest, atau Elsevier

YPT Grup -peningkatan jumlah jurnal/artikel dari dosen masuk dalam jurnal elektronik, JSTOR, Proquest, Elsevier, dll

-Penambahan jumlah fakulti asing -Penambahan jumlah fakulti asing -Peningkatan jumlah HKI (Paten) -100% dosen tetap memiliki minimal 1 jurmal internasional per tahun -100% dosen tetap memiliki buku ISBN

-peningkatan produktivitas riset

-penambahan jumlah doktor dan jumlah

-peringkat 4000 besar dunia

-Institusi terakreditasi A

-Setiap Prodi Terakreditasi A

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU SNMPT, dan BAN PT -tersertifikasi ISO 9001:2008 -melakukan upaya peningkatan kualitas dan kuantitas penelitian dan kinerja sisfo untuk mendukung masuk peringkat webometric -seminar internasional minimal 2 setiap tahun -Kajian Internasionalisasi (siswa/fakulti asing/kelas internasional) -meningkatkan kualitas lembaga dengan framework indikator MALCOLM BALGRIDE -program pengembangan fakulti untuk jenjang S-2 bagi dosen -masuk peringkat webometrics -inisiasi program internasionalisasi (kelas internasional, faculty asing, mhs asing, program pertukaran pelajar, sandwich, dll) internasional -publikasi skripsi dan tesis yang rutin -program visiting fakulti asing dosen studi lanjut S-3. -peningkatan produktivitas jurnal internasional dosen dan sitasi. -publikasi riset dan disertasi -penambahan jumlah guru besar -jurnal nasional terakreditasi pada setiap prodi -jurnal/artikel dosen masuk dalam jurnal elektronik, JSTOR, Proquest, atau Elsevier

YPT Grup BAN PT -Publikasi Rutin Penelitian dosen dan mahasiswa dalam jurnal terkareditasi -satu dosen minimal satu prosiding setiap tahun - peningkatan jumlah jurnal/artikel dosen masuk dalam jurnal elektronik, JSTOR, Proquest, atau Elsevier BAN PT -Jurnal terakreditasi pada setiap Prodi -SNP terpenuhi dengan baik -tersertifikasi IWA II education/ MBPE

webometrics/4icu -100 besar perguruan tinggi di indonesia

-program joint research/ seminar nasional -pelaksanaan internasional untuk program studi lanjut siswa dan dosen S-2 bagi dosen pasca sarjana tetap -program studi -peningkatan konten lanjut S-3 bagi jurnal nasional dosen tetap terakreditasi -100% dosen -peningkatan berkualifikasi pendapatan hibah minimum S-2 dan beasiswa -rata rata skor -terbentuknya unit TOEFL mahasiswa pelatihan bahasa >500 asing -Pelatihan bahasa inggris rutin bagi siswa - Tes TOEFL rutin setiap tahun bagi siswa dengan

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU tetap bekerja sama dengan penyelenggara TOEFL Insititusional

YPT Grup

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

YPT Grup

Berdasarkan pemaparan di atas, dalam upaya lembaga pendidikan ypt grup menuju sebuah WCU, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Menjadi sebuah WCU adalah sebuah pilihan wajib, karena kita harus tetap eksis dan bersaing dalam persaingan penyelenggaraan pendidikan tinggi melalui peningkatan mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Khusus YPT Group target WCU adalah versi Webometrics dan QS Star. 2. Diperlukan penghayatan dan kesamaan ke arah visi yang sama, dengan adanya keteladanan dan kepemimpinan para pemimpin lembaga YPT grup, seperti yang telah dirumuskan dalam Visi pencapaian WCU 2017. Komitmen dari pimpinan untuk pencapaian WCU 2017 ini adalah sangat penting untuk menjaga konsistensi upaya seluruh anggota organisasi dalam pencapaian target ini. 3. Menfokuskan arah pencapaian WCU kepada arah yang realistis sesuai dengan kemampuan lembaga dengan tetap memperhatikan standar nasional (Akreditasi BAN PT, SNP, SMNPT) dan regional (AUN-QA). 4. Dalam pencapaiannya perlu dianut falsafah Kaizen, atau peningkatan mutu yang terus menerus (continuous improvement). Untuk itu peran Satuan Penjaminan Mutu (SPM) sebagai pendukung upaya pencapaian WCU sangat vital, sehingga SPM harus memiliki komitmen dan kepemimpinan yang kuat dalam mengawal perkembangan mutu institusinya. 5. Berusaha untuk selalu memperoleh value-added dalam pencapaian WCU yaitu dalam hal pencitraan lembaga dimata masyarakat sebagai lembaga yang bermutu sehingga dengan peningkatan pencitraan tersebut, kepercayaan masyarakat terhadap lembaga di bawah naungan YPT grup dapat dijaga dan dipelihara dan berdampak pada peningkatan jumlah customer.

RoadMap WCU YPT Group

ROADMAP WCU

YPT Grup

Lampiran -Lampiran
Performansi Lembaga Lembaga YPT Group Terkait Kriteria WCU standar Nasional (DIKTI), Regional (AUN-QA) dan Internasional (Webometrics, THES, QS Star).

RoadMap WCU YPT Group