You are on page 1of 5

TEKNIK VAKUM

Derina Adriani, Mutiara N.A, Resti Fauziah, Tuti Alawiyah, Akbar Rizal T, Daniel Hanry S 10209043, 10209035, 10209029, 10209044, 10209045, 10208100 Program Studi Fisika, Institut Teknologi Bandung, Indonesia Email: rins.adriani@gmail.com Asisten: Malinda Sabrina/10208051 Tanggal Praktikum: 3 Oktober 2011 Abstrak
Keadaan vakum adalah suatu kondisi dimana tidak adanya materi dalam suatu ruangan, dengan cara membuat tekanan ruangannya berada jauh lebih rendah daripada tekanan atmosfer. Pada praktikum kali ini kita akan menggunakan pompa tabung leybold TRIVAC dengan tabung vakum, memanfaatkan pompa dan tabung ini kita akan membuat sebuah system vakum lalu setelah itu akan di dibuat 5 kondisi dalam system vakum tersebut yaitu, tanpa zat, aqua dm, alcohol 70%, alcohol 90%, dan gliserin. Dari percobaan ini kita akan menentukan kebocoran dari unsur-unsur yang dimasukan dalam ruang vakum, serta untuk menentukan proses evaporasi tiap unsur akibat proses vakum. Didapatkan kebocoran pada zat aqua dm, dan alcohol 90% disebabkan kemampuan selang untuk mengalirkan muatan sudah berkurang. Kata Kunci: Evaporasi, Ruang vakum, Tekanan atmosfer

I. Pendahuluan Suatu keadaan vacuum adalah keadaan dimana tidak ada suatu materi apapun di dalam ruangan tersebut. Namun, dalam praktikum didefinisikan sebagai ruangan yang tekanannya berada jauh dari tekanan atmosfer normal. Dalam proses pemvakuman ada yang disebut laju pemvakuman (S), yaitu laju yang bergantung pada tekanan, yang memiliki batas terendah yang berbeda untuk masing-masing system.

masuk atau keluar / satuan waktu dikalikan tekanan: (3) Lalu ada konduktansi selang penghubung ( F ) antara tabung dengan pompa yang didefinisikan sebagai: (4) Hubungan laju pompa Sp, konduktansi selang F, dan tekanan pada pompa Pp yang terhubung dengan volume vessel, yaitu (5) Dimana, (6) Sehingga didapatkan hubungan antara laju pemvakuman pompa dengan laju pemvakuman sistem. = (7)

(1) Jika S dianggap konstan, maka akan didapat hubungan antara tekanan residu (Pr), volume total (V), dengan Po adalah tekanan pemompaan awal saat t=0, menjadi :

dP S P Pr dt V

(2) Di dalam proses vakum juga terdapat Throughput (Q) sistem yaitu volume gas yang

yang memberikan gambaran hubungan dasar antara laju pemvakuman SP dari pompa yang digunakan dan laju pemvakuman sistem.

Hubungan tekanan, laju pemvakuman, dengan waktu serta memperhitungkan kebocoran dijabarkan dalam rumus : P= exp (8)

Diagram fasa air adalah suatu grafik yang merupakan representasi tentang fasa-fasa yang ada dalam suatu material pada variasi temperatur, tekanan dan komposisi.

Gambar 1. Diagram fasa air

Setelah selesai, buka kran secara perlahan lalu bersihkan cawan. tunggu sampai keadaaan tekanan dan suhu kembali seperti semula. Baru ulangi praktikum ini dengan mengisi cawan dengan aqua dm, alcohol 70%, 90%, dan gliserin. Bagian kedua: Untuk bagian kedua ini, kita tidak menggunakan zat, melainkan menggunakan sarung tangan plastik yang sebelumnya telah diikat lalu dimasukkan ke dalam ruang vakum. Buat system dalam keadaan vakum, lalu nyalakan pompa, perhatikan sarung tangan yang ada didalam tabung vakum. setelah mengembang, matikan pompa dan buka kran perlahan-lahan. III. Data dan Pengolahan 1. Grafik P terhadap t sebelum pompa mati

Gambar 2. Diagram fasa zat

Gambar 3. Grafik P terhadap t tanpa zat

II. Metode Percobaan Praktikum kali ini kita akan melakukan 2 bagian percobaan. Sebelum kita melakukan percobaan ini kita harus menyiapkan system vakum yang sudah di olesi oleh vacuum grease di bagian lingkar luar piringan coklat, agar mencegah terjadi kebocoran dan penyumbatan. Bagian pertama: Pada bagian pertama ini, setelah system vakum sudah siap, buka kran tabung agar udara luar masuk, lalu letakkan thermometer pada cawan yang sebelumnya telah dimasukan kedalam tabung. Tutup kran udara lalu, nyalakan mesin pompa vakum. Catat nilai suhu dan tekanan dengan selang waktu 10 detik sampai dengan nilai tekanan yang konstan. Lalu matikan pompa dan catat lagi keadaan suhu dan tekanan sampai 1 menit.

R-square: 0.9855 Adjusted R-square: 0.9806 RMSE: 36.35 Upper: 6000, 3000, 9000

Gambar 4. Grafik P terhadap t aqua dm

R-square: 0.9944 Adjusted R-square: 0.9928 RMSE: 21.75 Upper: 1000, 800, 800

Gambar 5. Grafik P terhadap t alcohol 70%

Gambar 8. Grafik P terhadap t (tanpa zat)

R-square: 0.9978 Adjusted R-square: 0.9973 RMSE: 13.43 Upper: 1000, 900, 800

Gradien: 0 R2: 0

Gambar 9. Grafik P terhadap t (aqua dm)

Gradien: 0.2571 R2: 0


Gambar 6. Grafik P terhadap t alcohol 90%

R-square: 0.9983 Adjusted R-square: 0.9979 RMSE: 10.98 Upper: 1000, 900, 700
Gambar 10. Grafik P terhadap (alcohol 70%)

Gradien: 0 R2: 0

Gambar 7. Grafik P terhadap t gliserin

R-square: 0.9967 Adjusted R-square: 0.9959 RMSE: 16.17 Upper: 1000, 800, 900
Tabel 1. Tabel grafik dan koefisien A, B, C dari grafik P-t

Gambar 11. Grafik P terhadap t (alcohol 90%)

Gradien: 0.2286 R2: 0 .6857

Gambar 12. Grafik P terhadap t (gliserin)

2. Grafik P terhadap t setelah pompa mati

Gradien: 0 R2: 0

Diketahui, Vt = Vol bola + Vol tabung = 4/3 (1/2) )(10.5)3+4/3()(10.5)2(17.5) = 8.41 dm3 Sp = 1.6 m3/hour = 0.444 dm3/s
Tabel 2. Tabel Vol.total, S, Ps, Ql, F, dan Q

Gambar 17. Grafik P terhadap T (gliserin)

3. Grafik P terhadap T

Gambar 13. Grafik P terhadap T (tanpa zat)

Gambar 14. Grafik P terhadap T (aqua dm)

Gambar 15. Grafik P terhadap T (alcohol 70%)

Gambar 16. Grafik P terhadap T (alcohol 90%)

IV. Pembahasan Jika dilihat dari kurva P-t saat dilakukan regeresi eksponensial, terlihat bahwa semua kurva sesuai teori yaitu eksponensial negative. ini disebabkan R2 yang dihasilkan mendekati nilai 1. Jika dilihat pada tabel.2, kita peroleh hubungan konduktansi dengan laju pemompaaan, dimana makin besar laju pemompaan maka konduktansi selang akan makin besar. Dengan nilai laju aliran volume yang sama, maka sesuai dengan teori dimana laju pemompaan vakum akan sebanding dengan konduktansi selang. Menurut hasil pengamatan dalam praktikum, terdapat kebocoran pada aqua dm dan alcohol 90%. Ketika adanya harga Ql menyebabkan semakin kecilnya harga konduktansi selang yang berarti bahwa kemampuan selang mangalirkan muatan menjadi berkurang disebabkan adanya kebocoran. Pada saat pompa dimatikan kita bisa mencari nilai Ql dari gradient, ini disebabkan karena pada kondisi ini sudah tidak ada lagi tekanan yang masuk dalam system, sehingga seharusnya ketika system tidak ada kebocoran Ql tersebut 0. Ketika tekanan yang ada pada tabung vakum diambil oleh pompa, maka akan ada perubahan tekanan yang mempengaruhi besarnya suhu dan juga berpengaruh pada fasa benda. Dalam termodinamika, fasa suatu benda tergantung dari besarnya tekanan dan temperatur benda tersebut[1]. Perubahan dari zat cair ke gas itu disebut dengan evaporasi. Anomaly alcohol terjadi ketika alcohol berada dalam ruang vakum yang

mengakibatkan kontraksi volum, dimana alcohol 70% mengandung air yang lebih banyak dibanding alcohol 90%, hal ini menyebabkan titik didih untuk alcohol 90% akan lebih rendah dari 70%. Pada percobaan sarung tangan karet yang dimasukkan dalam ruang vakum, terlihat bahwa semakin lama sarung tangan tersebut akan mengembang, dimana mengembang disini dalam artian volume dari sarung tangan tersebut bertambah. Hal ini disebabkan karena tekanan luar dari sarung tangan tersebut lebih kecil dibandingkan tekanan yang ada didalam sarung tangan. Sehingga, semakin lama sarung tangan tersebut akan bertambah besar. V. Simpulan Kebocoran pada praktikum kali ini terjadi pada zat aqua dm, dan alcohol 90%, hal ini disebabkan kemampuan selang untuk mengalirkan muatan sudah berkurang, ketika zat tersebut dimasukan. Proses evaporasi akan terjadi pada system vakum apabila cairan dimasukan kedalamnya, akibat ada perubahan tekanan yang mempengaruhi besarnya suhu dan juga berpengaruh pada fasa benda, sehingga terlihat dalam praktikum ketika zat cair tersebut mendidih dan bergelembung. VI. Referensi [1] Zeemansky, M.W. dan Dittman, R.H. (1986). Kalor dan Termodinamika.Bandung:Penerbit ITB (terjemahan)