You are on page 1of 25

Ilmu Keperawatan Gerontik ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA dengan DEMENSIA

disusun Oleh : 1. Evo susanty 2. Lisa oktavia 3. Melvani Wahyuli 4. Mesya Aswandi 5. Nadya frima siswaita 6. Nona Kelas : III C Dosen Pembimbing: Ns. Kurnia illahi S.kep

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) YAYASAN PENDIDIKAN AMANAH KESEHATAN PRODI SI KEPERAWATAN PADANG 2011

KATA PENGANTAR

Segala Puji dan Syukur Penulis ucapkan pada Allah SWT,

yang mana telah

memberikan rahmat dan hidayah - Nya sehingga penulis diberi kekuatan menyelesaikan makalah ini dengan judul Asuhan Keperawatan dengan klien demensia . Makalah ini merupakan salah satu tugas yang di berikan dalam mata kuliah Ilmu Keperawatan gerontik. Dalam pembuatan makalah ini tidak sedikit masalah yang penulis temui. Namun berkat peran, Bantuan, dorongan dan doa dari berbagai pihak akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah ini, untuk itu pada kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan membimbing dalam menyelesaikan makalah ini. Penulis sudah memberikan yang terbaik untuk kesempurnaan makalah ini namun jika terdapat kekurangan atau kesalahan, penulis sangat mengarapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun untuk Penyempurnaan makalah ini. Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih dan berharap semoga makalah ini memberikan manfaat khususnya bagi penulis sendiri dan semua pihak yang membacanya.

Padang, Mei 2011

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................. DAFTAR ISI ............................................................................................... BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang ....................................................................... 1.2 Tujuan ................................................................................... BAB II PEMBAHASAN
II.1 Laporan Pendahuluan polisitemia II.1.1 Pengertian II.1.2 Gejala II.1.3 faktor resiko II.1.4 Etiologi II.1.5. Patofisiologi II.2 Askep II.2.1 Pengkajian II.2.2 Analisa Data II.2.3 Diagnosa Keperawatan II.2.4 Intervensi

i ii

BAB III PENUTUP 3.1. kesimpulan ........................................................................... 3.2 saran ...................................................................................... DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar belakang demensia adalah suatu gangguan intelektual / daya ingat yang umumnya progresif dan ireversibel. Biasanya ini sering terjadi pada orang yang berusia > 65 tahun. Di Indonesia sering menganggap bahwa demensia ini merupakan gejala yang normal pada setiap orang tua. Namun kenyataan bahwa suatu anggapan atau persepsi yang salah bahwa setiap orang tua mengalami gangguan atau penurunan daya ingat adalah suatu proses yang normal saja. Anggapan ini harus dihilangkan dari pandangan masyarakat kita yang salah. Lanjut Usia (Lansia) tidak identik dengan pikun, bukanlah hal yang normal pada proses penuaan. perlu diketahui bahwa pikun

Lansia dapat hidup normal tanpa

mengalami berbagai gangguan memori dan perubahan tingkah laku seperti yang dialami oleh Lansia dengan demensia (dementia: red). Sebagian besar orang mengira bahwa demensia adalah penyakit yang hanya diderita oleh para Lansia, kenyataannya demensia dapat diderita oleh siapa saja dari semua tingkat usia dan jenis kelamin (Harvey, R. J. et al. 2003). Tulisan ini akan menitikberatkan pada demensia yang diderita oleh Lansia dan perawatan yang dapat dilakukan keluarga sebagai support system yang penting untuk penderita demensia.

1.2.Tujuan Adapun tujuan dari makalah ini adalah : y y Mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan demensia pada lansia Mengetahui perbedaan antara demensia dan alzhaemer

BAB II PEMBAHASAN ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DAN DEMENSIA A. Pengertian Demensia dapat diartikan sebagai sindroma yang ditandai dengan gangguan kognitif dan memori yang dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari maupun hubungan dengan orang sekitar. beberapa symptom) Penderita gangguan yang dan demensia perubahan pada seringkali tingkah ataupun laku tidak harian menunjukkan (behavioral (non-

mengganggu

(disruptive)

menganggu

disruptive) (Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. 1998). Grayson (2004) menyebutkan bahwa demensia bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku. Demensia adalah satu penyakit yang melibatkan sel-sel otak yang mati secara abnormal. Demensia adalah penurunan kemampuan mental yang biasanya berkembang secara perlahan, dimana terjadi gangguan ingatan, fikiran, penilaian dan kemampuan untuk memusatkan perhatian, dan bisa terjadi kemunduran kepribadian. Pada usia muda, demensia bisa terjadi secara mendadak jika cedera hebat, penyakit atau zat-zat racun (misalnya karbon monoksida) menyebabkan hancurnya sel-sel otak. Tetapi demensia biasanya timbul secara perlahan dan menyerang usia diatas 60tahun. Namun demensia bukan merupakan bagian dari proses penuaan yang normal. Sejalan dengan bertambahnya umur, maka perubahan di dalam otak bisa menyebabkan hilangnya beberapa ingatan (terutama ingatan jangka pendek) dan penurunan beberapa kemampuan belajar. Perubahan normal ini tidak mempengaruhi fungsi. Lupa pada usia lanjut bukan merupakan pertanda dari demensia maupun penyakit Alzheimer stadium awal. Demensia merupakan penurunan kemampuan mental yang lebih serius, yang makin lama makin parah. Pada penuaan normal, seseorang bisa lupa akan hal-hal

yang detil; tetapi penderita demensia bisa lupa akan keseluruhan peristiwa yang baru saja terjadi.

B. Epidemiologi Laporan Departemen Kesehatan tahun 1998, populasi usia lanjut diatas 60 tahun adalah 7,2 % (populasi usia lanjut kurang lebih 15 juta). peningkatan angka kejadian kasus demensia berbanding lurus dengan meningkatnya harapan hidup suatu populasi . Kira-kira 5 % usia lanjut 65 70 tahun menderita demensia dan meningkat dua kali lipat setiap 5 tahun mencapai lebih 45 % pada usia diatas 85 tahun. Pada negara industri kasus demensia 0.5 1.0 % dan di Amerika jumlah demensia pada usia lanjut 10 15% atau sekitar 3 4 juta orang. Demensia terbagi menjadi dua yakni Demensia Alzheimer dan Demensia Vaskuler. Demensia Alzheimer merupakan kasus demensia terbanyak di negara maju Amerika dan Eropa sekitar 50-70%. Demensia vaskuler penyebab kedua sekitar 15-20% sisanya 15- 35% disebabkan demensia lainnya. Di Jepang dan Cina demensia vaskuler 50 60 % dan 30 40 % demensia akibat penyakit Alzheimer.

C. Etiologi Disebutkan dalam sebuah literatur bahwa penyakit yang dapat menyebabkan timbulnya gejala demensia ada sejumlah tujuh puluh lima. Beberapa penyakit dapat disembuhkan sementara sebagian besar tidak dapat disembuhkan (Mace, N.L. & Rabins, P.V. 2006). Sebagian besar peneliti dalam risetnya sepakat bahwa penyebab utama dari gejala demensia adalah penyakit Alzheimer, penyakit vascular (pembuluh darah), demensia Lewy body, demensia frontotemporal dan sepuluh persen diantaranya disebabkan oleh penyakit lain. Lima puluh sampai enam puluh persen penyebab demensia adalah penyakit Alzheimer. Alzhaimer adalah kondisi dimana sel syaraf pada otak mati sehingga membuat signal dari otak tidak dapat di transmisikan sebagaimana mestinya (Grayson, C. 2004). Penderita Alzheimer mengalami gangguan memori, kemampuan membuat keputusan dan juga penurunan proses berpikir.

Demensia juga dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain infeksi dalam waktu lama, pemakaian obat-obatan yang berlebihan, emosional yang meningkat, nutrisi yang kurang dalam waktu yang lama, serta trauma kepala yang berat. Infeksi dan obat-obatan dalam tubuh bersifat toksin/racun sehingga dapat menyebabkan masuk ke dalam pembuluh darah beredar keseluruh tubuh termasuk ke otak yang kemudian akan merusak sel otak. Emosional yang berlebihan juga dapat menyebabkan terjadinya demensia, pada saat emosional tekanan darah akan meningkat dan bila tidak ada penanganan yang baik akan menyebabkan stroke, pada keadaan stroke tersebut menyebabkan gangguan fungsi motorik maupun sensorik atau lainnya. Sedangkan pada keadaan nutrisi yang kurang dari kebutuhan dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan gangguan proses metabolisme yang berpengaruh pada produksi sel darah merah dan menyebabkan arteriosklerotik yang dapat menyebabkan stroke. Pada sel darah merah yang menurun akan menganggu suplai O2 ke dalam jaringan tubuh termasuk jaringan otak sehingga dapat menyebabkan iskemik otak. Trauma berat pada kepala merupakan pencetus kerusakan sel-sel otak yang akan menyebabkan volume otak mengecil dan terjadi degerasi neuron sehingga akan menyebabkan gangguan fungsi otak. Beberapa jenis demensia dapat membaik, fungsi intelektualnya dapat kembali normal dengan pengobatan yang efektif ketika penyebabnya bukan karena proses degenerasi otak yang bersifat permanen. D. Patofisiologi Factor factor regulasi DNA, neuralreserver capasiti untuk CNS performance yang exshausted, dan gangguan supply energy untuk metabolism CNS glikolitik sehingga terjaddi penurunan sintesis asetil COA penurunan

yang penting untuk

sintesia asetil choline , penurunan aktifitas cholin asetiltransfarase di kortek hipokampus terjadi penurunan kadar aktifitas kolinergic sehingga terjadi demensia Pada penelitian terbukti bahwa kadar cholin asetiltransferase mempunyai korelasi langsungdengan hasil test mental score / aktifitas iintelektual yang menurun dan juga peninggian jumlah plague senile. Aktifitas kolinergic terutama bersumber dari basal fortebrain nucleus of mainer, locus corelus dan dorsal raphe nuclei

E. Manifestasi Klinis Tanda dan gejala : y y y y y y y y y y y y Kesukaran dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari Pelupa Sering mengulang kata-kata Tidak mengenal dimensi waktu, misalnya tidur di ruang makan Cepat marah dan sulit di atur. Kehilangan daya ingat kesulitan belajar dan mengingat informasi baru kurang konsentrasi kurang kebersihan diri Rentan terhadap kecelakaan jatuh Tremor Kurang koordinasi gerakan.

Gejala Klinis Ada dua tipe demensia yang paling banyak ditemukan, yaitu tipe Alzheimer dan Vaskuler. 1. Demensia Alzheimer Gejala klinis demensia Alzheimer merupakan kumpulan gejala demensia akibat gangguan neuro degenaratif (penuaan saraf) yang berlangsung progresif lambat, dimana akibat proses degenaratif menyebabkan kematian sel-sel otak yang massif. Kematian sel-sel otak ini baru menimbulkan gejala klinis dalam kurun waktu 30 tahun. Awalnya ditemukan gejala mudah lupa (forgetfulness) yang menyebabkan penderita tidak mampu menyebut kata yang benar, berlanjut dengan kesulitan mengenal benda dan akhirnya tidak mampu menggunakan barangbarang sekalipun yang termudah. Hal ini disebabkan adanya gangguan kognitif sehingga timbul gejala neuropsikiatrik seperti, Wahan (curiga, sampai menuduh ada yang mencuri barangnya), halusinasi pendengaran atau penglihatan, agitasi (gelisah, mengacau), depresi, gangguan tidur, nafsu makan dan gangguan aktifitas psikomotor, berkelana.

Stadium demensia Alzheimer terbagi atas 3 stadium, yaitu :


y

Stadium I

Berlangsung 2-4 tahun disebut stadium amnestik dengan gejala gangguan memori, berhitung dan aktifitas spontan menurun. Fungsi memori yang terganggu adalah memori baru atau lupa hal baru yang dialami
y

Stadium II

Berlangsung selama 2-10 tahun, dan disebut stadium demensia. Gejalanya antara lain,
y y y y

Disorientasi gangguan bahasa (afasia) penderita mudah bingung penurunan fungsi memori lebih berat sehingga penderita tak dapat melakukan kegiatan sampai selesai, tidak mengenal anggota keluarganya tidak ingat sudah melakukan suatu tindakan sehingga mengulanginya lagi.

Dan ada gangguan visuospasial, menyebabkan penderita mudah tersesat di lingkungannya, depresi berat prevalensinya 15-20%,

.Stadium III Stadium ini dicapai setelah penyakit berlangsung 6-12 tahun.Gejala klinisnya antara lain:
y y y

Penderita menjadi vegetatif tidak bergerak dan membisu daya intelektual serta memori memburuk sehingga tidak mengenal keluarganya sendiri

y y y

tidak bisa mengendalikan buang air besar/ kecil kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan ornag lain kematian terjadi akibat infeksi atau trauma

2. Demensia Vaskuler Untuk gejala klinis demensia tipe Vaskuler, disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah di otak. Dan setiap penyebab atau faktor resiko stroke dapat berakibat terjadinya demensia,.

Depresi bisa disebabkan karena lesi tertentu di otak akibat gangguan sirkulasi darah otak, sehingga depresi itu dapat didiuga sebagai demensia vaskuler. Gejala depresi lebih sering dijumpai pada demensia vaskuler daripada Alzheimer. Hal ini disebabkan karena kemampuan penilaian terhadap diri sendiri dan respos emosi tetap stabil pada demensia vaskuler. Dibawah ini merupakan klasifikasi penyebab demensia vaskuker, diantaranya: 1. Kelainan sebagai penyebab Demensia :
y y y y y y y y y

penyakit degenaratif penyakit serebrovaskuler keadaan anoksi/ cardiac arrest, gagal jantung, intioksi CO trauma otak Tumor primer atau metastasis Autoimun, vaskulitif Multiple sclerosis Toksik kelainan lain : Epilepsi, stress mental, stroke, whipple disease

2. Kelainan/ keadaan yang dapat menampilkan demensia 1. Gangguan psiatrik :


y y y

Depresi Anxietas Psikosis

2. Obat-obatan :
y y y

Psikofarmaka Antiaritmia Antihipertensi

3. Antikonvulsan
y

Digitalis

F. Tanda dan Gejala Demensia Hal yang menarik dari gejala penderita demensia adalah adanya perubahan kepribadian dan tingkah laku sehingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari.. Penderita yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah Lansia dengan usia enam puluh lima tahun keatas. Lansia penderita demensia tidak memperlihatkan gejala yang menonjol pada tahap awal, mereka sebagaimana Lansia pada umumnya mengalami proses penuaan dan degeneratif. Kejanggalan awal dirasakan oleh penderita itu sendiri, mereka sulit mengingat nama cucu mereka atau lupa meletakkan suatu barang. Mereka sering kali menutup-nutupi hal tersebut dan meyakinkan diri sendiri bahwa itu adalah hal yang biasa pada usia mereka. Kejanggalan berikutnya mulai dirasakan oleh orang-orang terdekat yang tinggal bersama, mereka merasa khawatir terhadap penurunan daya ingat yang semakin menjadi, namun sekali lagi keluarga merasa bahwa mungkin Lansia kelelahan dan perlu lebih banyak istirahat. Mereka belum mencurigai adanya sebuah masalah besar di balik penurunan daya ingat yang dialami oleh orang tua mereka. Gejala demensia berikutnya yang muncul biasanya berupa depresi pada Lansia, mereka menjaga jarak dengan lingkungan dan lebih sensitif. Kondisi seperti ini dapat saja diikuti oleh munculnya penyakit lain dan biasanya akan memperparah kondisi Lansia. Pada saat ini mungkin saja Lansia menjadi sangat ketakutan bahkan sampai berhalusinasi. Di sinilah keluarga membawa Lansia penderita demensia ke rumah sakit di mana demensia bukanlah menjadi hal utama fokus pemeriksaan. Seringkali demensia luput dari pemeriksaan dan tidak terkaji oleh tim kesehatan. Tidak semua tenaga kesehatan memiliki kemampuan untuk dapat mengkaji dan mengenali gejala demensia. Mengkaji dan mendiagnosa demensia bukanlah hal yang mudah dan cepat, perlu waktu yang panjang sebelum memastikan seseorang positif menderita demensia. Setidaknya ada lima jenis pemeriksaan penting yang harus dilakukan, mulai dari pengkajian latar belakang individu, pemeriksaan fisik, pengkajian syaraf, pengkajian status mental dan sebagai penunjang perlu dilakukan juga tes laboratorium. Pada tahap lanjut demensia memunculkan perubahan tingkah laku yang semakin mengkhawatirkan, sehingga perlu sekali bagi keluarga memahami dengan baik perubahan tingkah laku yang dialami oleh Lansia penderita demensia. Pemahaman perubahan tingkah

laku pada demensia dapat memunculkan sikap empati yang sangat dibutuhkan oleh para anggota keluarga yang harus dengan sabar merawat mereka. Perubahan tingkah laku (Behavioral symptom) yang dapat terjadi pada Lansia penderita demensia di antaranya adalah delusi, halusinasi, depresi, kerusakan fungsi tubuh, cemas, disorientasi spasial,

ketidakmampuan melakukan tindakan yang berarti, tidak dapat melakukan aktivitas seharihari secara mandiri, melawan, marah, agitasi, apatis, dan kabur dari tempat tinggal (Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. 1998). Secara umum tanda dan gejala demensia adalah sbb: 1. Menurunnya daya ingat yang terus terjadi. Pada penderita demensia, lupa menjadi bagian keseharian yang tidak bisa lepas. 2. Gangguan orientasi waktu dan tempat, misalnya: lupa hari, minggu, bulan, tahun, tempat penderita demensia berada 3. Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat yang benar, menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi, mengulang kata atau cerita yang sama berkali-kali 4. Ekspresi yang berlebihan, misalnya menangis berlebihan saat melihat sebuah drama televisi, marah besar pada kesalahan kecil yang dilakukan orang lain, rasa takut dan gugup yang tak beralasan. Penderita demensia kadang tidak mengerti mengapa perasaan-perasaan tersebut muncul. 5. Adanya perubahan perilaku, seperti : acuh tak acuh, menarik diri dan gelisah

G. Pencegahan & Perawatan Demensia Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya demensia diantaranya adalah menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa mengoptimalkan fungsi otak, seperti : 1. Mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti alkohol dan zat adiktif yang berlebihan 2. Membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya dilakukan setiap hari.

3. Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan aktif
o o

Kegiatan rohani & memperdalam ilmu agama. Tetap berinteraksi dengan lingkungan, berkumpul dengan teman yang memiliki persamaan minat atau hobi

4. Mengurangi stress dalam pekerjaan dan berusaha untuk tetap relaks dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat otak kita tetap sehat 5. Pengobatan alternative Di Australia telah dibuat obat dengan nama Gotu Kola yang bermanfaat sebagai anti pikun dan juga sebagai anti stress. di Indonesia pegagan telah banyak dimanfaatkan sebagai obat yang cukup mujarab untuk penyembuhan penyakit HIV melalui peningkatan ketahanan tubuhpasien. Secara empirik, pegagan bermanfaat sebagai penyembuh luka, radang, reumatik, asma, wasir, tuberkulosis, lepra, disentri, demam dan penambah selera makan. Di Cina, pegagan bermanfaat untuk memperlancar sirkulasi darah, bahkan lebih bermanfaat dibandingkan dengan ginko biloba atau ginseng yang berasal dari Korea.

Penyakit demensia atau pikun, perlahan namun pasti, akan dialami sejalan dengan pertambahan usia. Dan menurut studi, dengan minum kopi atau teh pahit setiap pagi, mampu untuk memperlambat dan melawan kepikunan. Kopi dan teh sudah menjadi minuman favorit bagi kebanyakan orang di dunia. Tapi efek menguntungkan dari kafein pada kopi sebagai obat psikoaktif, yang dapat memelihara fungsi otak, mulai belakangan ini dihargai.

Penelitian terbaru oleh pakar internasional dari University of Lisbon dan University of Coimbra, Portugal menemukan, bahwa kafein dalam kopi dan teh dapat

melindungi terhadap penurunan kognitif yang terlihat pada demensia (kepikunan) dan penyakit Alzheimer.

"Studi epidemiologis pertama menunjukkan, hubungan terbalik antara konsumsi kafein dengan kejadian penyakit Parkinson. Kemudian beberapa studi epidemiologi lanjutan menunjukkan, bahwa konsumsi jumlah moderat kafein juga berbanding terbalik dengan penurunan kognitif yang terkait dengan penuaan serta kejadian penyakit Alzheimer," jelas Alexandre de Mendonca, dari Institute of Molecular Medicine and Faculty of Medicine, University of Lisbon, Portugal, seperti dilansir dari Seniorjournal.

Selain kopi pahit, teh pahit juga dapat melawan kepikunan. Uji laboratorium menemukan, bahwa minum secangkir teh hitam dan hijau secara teratur dapat menghambat aktivitas enzim tertentu di otak, yang membawa pada Alzheimer, yaitu suatu bentuk demensia generatif yang mempengaruhi 10 juta orang di seluruh dunia.

Berdasarkan jurnal Phytotherapy Research, Alzheimer ditandai dengan penurunan asetilkolin. Kopi dan teh pahit dapat menghambat aktivitas enzim

acetylcholinesterase (AChE), yang memecah bahan kimia atau neurotransmiter dan asetilkolin. Selain itu kopi, teh hitam, dan teh hijau juga menghambat aktivitas enzim butyrylcholinesterase (BuChE), yang ditemukan dalam deposit protein pada otak penderita Alzheimer.

"Meskipun tidak ada obat untuk Alzheimer, kopi dan teh berpotensi menjadi senjata

lain

yang

digunakan

untuk

mengobati

penyakit

ini

dan

memperlambat

perkembangannya," ungkap Dr. Ed Okello, peneliti dari Medicinal Plant Research Centre di Newcastle University, Inggris. Tapi ingat, harus kopi atau teh pahit, cukup setiap paginya. Karena minum kopi secara berlebihan, dapat meningkatkan serangan stroke akibat kerusakan pada dinding pembuluh darah. Pada wanita hamil dapat meningkatkan denyut jantung, menyerang plasenta, masuk ke dalam sirkulasi darah, dan yang lebih parah bisa menyebabkan kematian.

Tapi minum kopi dalam jumlah yang sedang tidak membahayakan, malah bisa memberikan manfaat. Pengobatan medis Obat pikun atau obat lebih tepatnya penurunan fungsi otak seperti Alzheimer belum banyak yang ada di Indonesia. Semua obat pikun merupakan golongan penghambat kolinesterase. Obat pikun golongan ini menghambat Acetylcholinesterase, suatu enzim yang bertanggung jawab dalam mengurai salah satu neurotransmiter, Acetylcholine. Hal ini menyebabkan peningkatan kadar dari Acetylcholine di dalam otak, dan peningkatan kadar tersebut diyakini berkaitan dengan peningkatan berpikir sewaktu minum Obat pikun. Obat pikun dapat menghilangkan gejala-gejala tetapi tidak menurunkan perkembangan penyakit Alzheimer.

Gambar. Otak penderita Alzheimer

Berikut obat pikun yang ada : 1. Donepezil Donepezil adalah obat yang diminum secara oral untuk mengobati penyakit Alzheimer taraf rendah hingga medium. Donepezil tersedia dalam bentuk tablet oral. Biasanya diminum satu kali sehari sebelum tidur, sebelum atau sesudah makan. Dokter anda akan memberikan dosis rendah pada awalnya lalu ditingkatkan setelah 4 hingga 6 minggu. Efek samping yang sering terjadi sewaktu minum Donepezil adalah sakit kepala, nyeri seluruh badan, lesu, mengantuk, mual, muntah, diare, nafsu makan hilang, berat badan turun, kram, nyeri sendi, insomnia, dan meningkatkan frekwensi buang air kecil. 2. Rivastigmine

Rivastigmine adalah obat yang diminum secara oral untuk mengobati penyakit Alzheimer taraf rendah hingga medium. Setelah enam bulan pengobatan dengan Rivastigmine, 25-30% penderita dinilai membaik pada tes memori, pengertian dan aktivitas harian dibandingkan pada pasien yang diberikan plasebo hanya 10-20%. Rivastigmine biasanya diberikan dua kali sehari setelah makan. Karena efek sampingnya pada saluran cerna pada awal pengobatan, pengobatan dengan Rivastigmine umumnya dimulai dengan dosis rendah, biasanya 1,5 mg dua kali sehari, dan secara bertahap ditingkatkan tidak lebih dari 2 minggu. Dosis maksimum biasanya hingga 6 mg dua kali sehari. Jika pasien mengalami gangguan pencernaan yang bertambah parah karena efek samping obat seperti mual dan muntah, sebaiknya minum obat dihentikan untuk beberapa dosis lalu dilanjutkan dengan dosis yang sama atau lebih rendah. Sekitar setengah pasien yang minum Rivastigmine menjadi mual dan sepertiganya mengalami muntah minimal sekali, seringkali terjadi pada pengobatan di beberapa minggu pertama pengobatan sewaktu dosis ditingkatkan. Antar seperlima hingga seperempat pasien mengalami penurunan berat badan sewaktu pengobatan dengan Rivastigmine (sekitar 7 hingga 10 poun). Seperenam pasien mengalami penurunan nafsu makan. Satu dari lima puluh pasien mengalami pusing. Secara keseluruhan, 15 % pasien (antara sepertujuh atau seperenam) tidak melanjutkan pengobatan karena efek sampingnya. 3. Galantamine HBr Galantamine biasanya diberikan dua kali sehari, setelah makan pagi dan malam. Seringkali Galantamine diberikan dengan dosis rendah pada awalnya yaitu 4 mg dua kali sehari untuk beberapa minggu dan dilanjutkan dengan 8 mg dua kali sehari untuk beberapa minggu pengobatan selanjutnya. Meskipun demikian, beberapa pasien membutuhkan dosis yang lebih besar. Untuk kapsul lepas lambat diminum satu kali sehari.

Obat dari golongan antikolinergik yang langsung masuk ke dalam otak, seperti Atropin, Benztropin dan Ttriheksiphenil memberikan efek yang berseberangan dengan Galantamine dan harus dihindari minum obat tersebut jika dalam pengobatan dengan Galantamine. Efek samping yang sering terjadi dari Galantamine adalah mual (seperenam pasien mengalaminya) , muntah ( lebih dari 10 %), diare (lebih dari seperdelapan pasien), anoreksia, kehilangan berat badan. Efeks samping ini umumnya terjadi pada awal pengobatan atau ketika dosis ditingkatkan. Efek samping yang terjadi umumnya ringan dan bersifat sementara. Minum Galantamine sesudah makan dan minum dengan air yang cukup akan mengurangi akibat efek sampingnya. Kurang dari 10 % pasien harus menghentikan pengobatan karena efek samping. Untuk pemilihan obat pikun atau obat Alzheimer yang tepat ada baiknya anda harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter Peran Keluarga

Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perawatan lansia penderita demensia yang tinggal di rumah. Hidup bersama dengan penderita demensia bukan hal yang mudah, tapi perlu kesiapan khusus baik secara mental maupun lingkungan sekitar. Pada tahap awal demensia penderita dapat secara aktif dilibatkan dalam proses perawatan dirinya. Membuat catatan kegiatan sehari-hari dan minum obat secara teratur. Ini sangat membantu dalam menekan laju kemunduran kognitif yang akan dialami penderita demensia. Keluarga tidak berarti harus membantu semua kebutuhan harian Lansia, sehingga Lansia cenderung diam dan bergantung pada lingkungan. Seluruh anggota keluargapun diharapkan aktif dalam membantu Lansia agar dapat seoptimal mungkin melakukan aktifitas sehari-harinya secara mandiri dengan aman. Melakukan aktivitas sehari-hari secara rutin sebagaimana pada umumnya Lansia tanpa demensia dapat mengurangi depresi yang dialami Lansia penderita demensia. Merawat penderita dengan demensia memang penuh dengan dilema, walaupun setiap hari selama hampir 24 jam kita mengurus mereka, mungkin mereka tidak akan

pernah mengenal dan mengingat siapa kita, bahkan tidak ada ucapan terima kasih setelah apa yang kita lakukan untuk mereka. Kesabaran adalah sebuah tuntutan dalam merawat anggota keluarga yang menderita demensia. Tanamkanlah dalam hati bahwa penderita demensia tidak mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Merekapun berusaha dengan keras untuk melawan gejala yang muncul akibat demensia. Saling menguatkan sesama anggota keluarga dan selalu meluangkan waktu untuk diri sendiri beristirahat dan bersosialisasi dengan teman-teman lain dapat

menghindarkan stress yang dapat dialami oleh anggota keluarga yang merawat Lansia dengan demensia.

Tingkah Laku Lansia

Pada suatu waktu Lansia dengan demensia dapat terbangun dari tidur malamnya dan panik karena tidak mengetahui berada di mana, berteriak-teriak dan sulit untuk ditenangkan. Untuk mangatasi hal ini keluarga perlu membuat Lansia rileks dan aman. Yakinkan bahwa mereka berada di tempat yang aman dan bersama dengan orang-orang yang menyayanginya. Duduklah bersama dalam jarak yang dekat, genggam tangan Lansia, tunjukkan sikap dewasa dan menenangkan. Berikan minuman hangat untuk menenangkan dan bantu lansia untuk tidur kembali. Lansia dengan demensia melakukan sesuatu yang kadang mereka sendiri tidak memahaminya. Tindakan tersebut dapat saja membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain. Mereka dapat saja menyalakan kompor dan meninggalkannya begitu saja. Mereka juga merasa mampu mengemudikan kendaraan dan tersesat atau mungkin mengalami kecelakaan. Memakai pakaian yang tidak sesuai kondisi atau menggunakan pakaian berlapis-lapis pada suhu yang panas. Seperti layaknya anak kecil terkadang Lansia dengan demensia bertanya sesuatu yang sama berulang kali walaupun sudah kita jawab, tapi terus saja pertanyaan yang sama disampaikan. Menciptakan lingkungan yang aman seperti tidak menaruh benda tajam sembarang tempat, menaruh kunci kendaraan ditempat yang tidak diketahui oleh Lansia, memberikan pengaman tambahan pada pintu dan jendela untuk menghindari Lansia kabur adalah hal yang dapat dilakukan keluarga yang merawat Lansia dengan demensia di rumahnya.

H. Diagnosis

Diagnosis difokuskan pada hal-hal berikut ini:


y y y y y y y y

Pembedaan antara delirium dan demensia Bagian otak yang terkena Penyebab yang potensial reversibel Perlu pembedaan dari depresi (ini bisa diobati relatif mudah) Pemeriksaan untuk mengingat 3 benda yg disebut Mengelompokkan benda, hewan dan alat dengan susah payah Pemeriksaan laboratonium, pemeriksaan EEC Pencitraan otak amat penting CT atau MRI Asuhan Keperawatan Pengkajian 1. Data demografi ( nama, umur, jenis kelamin, agama, suku, genogram, dll) 2. Riwayat kesehatan sekarang Klien mengatakan ia sering lupa seperti lupa tanggal atau nama hari, disorientasi tempat, suka mengulang kata kata yang sama, ekspresi yang berlebihan missal saat menonton film drama 3. Riwayat kesehatan dahulu Apakah klien pernah mengalami cedera kepala, tumor, apakah klien ada mengidap penyakit degenerative, apakah klien pernah mengidap parkinson 4. Riwayat kesehatan keluarga Apakah keluarga ada mengidap penyakit kelainan genetic, penyakit tumor atau penyakit keturunan. 6. Data psikologis Klien mengatakan ia merasa tidak nyaman dengan lingkungan sekitar rumah, ia merasa anak anaknya kurang perhatian dengannya karena anaknya semua memiliki kerja masing masing. Hal ini membuat lansia suka curiga atau

menuduh orang orang jika orang tesebut dekat dengannya. 7. Riwayat social/ekonomi Pekerjaan, kebiasaan , kehidupan sehari hari Pemeriksaan Fisik

Kepala  Bentuk simetris(+/-)  Hyegiene baik (+/-)  Apakah teraba ada massa (+/-)  Apakah ada cedera (+/-)

Mata  Konjungtiva hiperemis (+/-)  Sklera normal atau tidak  Pupil miosis atau midriasis

y y

Telinga : berdenging(+/-) Hidung : epistaksis (+/-), simetris (+/-), , penciuman baik(+/-)terdapat secret

pada hidung.(+/-)
y y Wajah : meringis(+/-) Leher  Kelenjar tiroid tidak ada kelainan  Bentuk leher normal (+/-), warna kulit normal (+/-).  Tidak ada pembengkakan dan bekas luka. y Dada y Paru Tidak adanya bunyi mengi Ekspansi paru sama (+/-) terdapat lesi (+/-) Tidak adanya efusi pleura

Jantung adanya bunyi mur mur (+/-) apakah adanya pembesaran jantung Batas jantung normal

y y

Genitalia : tidak ada kelainan Rectum dan anus : konstipasi(+/-), diare (+/-), inkotinensia alvi(+/-)

Analisa data no Data penunjang 1. DS : keluarga mengatakan bahwa ia tidak dapat Masalah intoleransi aktifitas Diagnose intoleransi aktifitas berhubungan dengan proses pikun/pelupa (demensia) gangguan pikir

melakukan kegiatan sehari hari sendiri klien mengatakan

tidak dapat makan sendiri klien terdapat pada matanya(kabur) mengatakan gangguan

DO: kurang gerak jalan dipapah atau dibantu keluarga 2. DS : Keluarga mengatakan klien lansia Resiko Cedera Resiko cedera pada lansia kurangnya perhatian keluarga terhadap lansia b.d koordinasi

tersebut tidak dapat melakukan kegiatan sehari hari Klien mengatakan

sering pusing Keluarga mengatakan belum klien rumah

disesuaikan

dengan klien Klien

keadaan

mengatakan

matanya kabur DO : klien meracau terjadi gangguan gerak tubuh

BAB III PENUTUP 3.1. kesimpulan Demensia adalah kumpulan gejala yang ditandai dengan penurunan kognitif, perubahan mood dan tingkah laku sehingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari penderitanya. Kondisi penderita demensia secara perlahan mengalami kemunduran yang tidak dapat dihindarkan. Memahami kondisi penderita dan merawat dengan sabar adalah peran penting keluarga yang salah satu anggotanya menderita demensia. prilaku pasien demensia seperti: y y y y y y y y Kurang konsentrasi Kurang kebersihan diri Rentan terhadap kecelakaan: jatuh Tidak mengenal waktu, tempat dan orang Tremor Kurang kordinasi gerak Aktiftas terbatas Sering mengulang kata-kata.

3.2 saran Agar pembaca dapat lebih mengetahui dan memahami tentang asuhan keperawatan pada pasien lansia dengan demensia,pembaca harus memahami benar tentang definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinik, serta penatalaksanaan dari polisitemia ini. Semoga ini sangat bermanfaat dan menambah pengetahuan pembaca.

DAFTAR PUSTAKA

Nugroho,Wahjudi. Keperawatan Gerontik.Edisi2.Buku Kedokteran EGC.Jakarta;1999 Stanley,Mickey. Buku Ajar Keperawatan Gerontik.Edisi2. EGC. Jakarta;2002 Grayson, C. (2004). All about Alzheimer. Retrieved on October 2006 from Harvey, R. J., Robinson, M. S. & Rossor, M. N. (2003). The prevalence and causes of dementia in people under the age of 65 years. Journal Neurosurg Psychiatry, 74: 1206-1209. Mace, N. L. & Rabins, P. V. (2006). The 36-hour day: a family guide to caring for people with Alzheimer disease, other dementias, and memory loss in later life (4th Ed.) Baltimore, USA: The Johns Hopkins University Press. Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. (1998). Behavioral symptom of dementia. In Volicer, L., Hurley, A.C. (Eds), Hospice care for patients with advance progressive dementia. New York: Springer Publishing Company. www.kamusilmiah.com www.medicastore.com