Вы находитесь на странице: 1из 4

Kebijakan Sister city Surabaya-Seattle

Sister city atau kerjasama persahabatan antar kota merupakan salah satu terobosan bagi percepatan pembangunan daerah dalam arti luas. Sister city adalah langkah maju, positif dan konstruktif yang harus mendapat dukungan semua pihak. Untuk itulah latar belakang, ide dasar, target sasaran, serta syarat-syarat dan prinsip pembentukannya harus dipahami betul oleh para penggagas wacana serta para pelakunya. Di Eropa, istilah kota kembar ini lebih dikenal sebagai twin towns atau friendship towns, sedangkan di Jerman dikenal dengan istilah partner towns. Istilah sister city ini lebih dikenal di Asia, Australia dan Amerika Utara, sedangkan di negara-negara CIS dikenal dengan sebutan brother cities. Ide awal Sister city dilontarkan pertama kali pada tahun 1956 oleh Dwight David Eisenhower, Presiden Amerika Serikat ke 34. Awal mulanya penerapan konsep ini adalah sebagai sarana diplomasi politik negara di tingkat regional dan internasional bagi terciptanya saling kesepahaman dan persahabatan antar kota, antar negara dan antar benua bagi terwujudnya perdamaian antar kawasan, dan sebagai pilar terwujudnya perdamaian dunia. Pengimplementasiannya dapat menjadi pendorong bagi rakyat untuk dapat saling menjalin persahabatan dan kerjasama yang konstruktif, baik antar elemen masyarakat, antar kota, antar pemerintahan lokal dan pusat maupun antar negara di seluruh dunia (Perdana, 2008). Secara prinsip, Sister city adalah hubungan persahabatan dan kerjasama antara rakyat dengan rakyat jadi rakyatlah yang menentukan bahwa mereka ingin menjalin persahabatan dan kerjasama dengan rakyat dari kota, daerah dan negara mana (detikSurabaya). Pemerintah kedua belah pihak hanyalah sebagai penghubung untuk mempertemukan kehendak rakyatnya. Sehingga pilihan tersebut merupakan kehendak rakyat yang diaspirasikan melalui representasi mereka, mengingat secara prinsip pula, bahwa yang lebih banyak akan menjalin hubungan kerjasama secara nyata adalah rakyat. Sedangkan kerjasama yang hanya didominasi oleh Pemerintah tanpa menyertakan partisipasi dan keterlibatan aktif masyarakat luas serta stakeholder lainnya, patut kita kritisi bersama. Apalagi bila kerangka acuan kerjasama dimaksud tidak jelas, dan cenderung dipaksakan. Maka sudah dapat diduga bahwa kerjasama dimaksud, akan berujung pada kegagalan dan kesia-siaan.

Dengan pertimbangan signifikansi tujuan beserta manfaat di atas, kelompok peneliti memilih topik ini. Agar penelitian ini lebih valid peneliti tidak hanya melakukan observasi saja, namun juga menggunakan dukungan dari berbagai sumber baik primer seperti wawancara dengan beberapa stakeholder terkait maupun data sekunder seperti buku dan internet. Agar lebih fokus, Peneliti membatasi penelitian ini pada hubungan kerjasama Surabaya-Seattle untuk mengukur sejauh mana keberhasilan dan keuntungan program ini bagi perkembangan dan kemajuan Surabaya khususnya. Kerjasama antarkota, baik sesama pemerintah kota di dalam satu negara, maupun dengan kota di mencanegara, biasanya disepakati karena adanya kesamaan kepentingan. Dalam rangka merancang terbentuknya kota kembar (sister city), secara umum setidaknya perlu diperhatikan (Perdana, 2008). Beberapa hal diantaranya adalah latar belakang (faktor) kesejarahan, karena ini dapat dijadikan pembuka pintu pembicaraan, sehingga lebih mempermudah pembicaraan dan negosiasi menuju rencana-rencana dan kesepakatan-kesepakatan berikutnya. Karena setidaknya misi persahabatan dan kerjasama hari ini adalah episode lanjutan dari persahabatan dan kerjasama bilateral yang telah pernah terjalin jauh hari sebelumnya. Selanjutnya adalah faktor budaya dan adat istiadat. Persahabatan dan kerjasama dapat pula diawali dari adanya latar belakang kebudayaan dan adat istiadat yang sama. Bila berbeda juga tidak terlalu menjadi masalah karena kerjasama ini dapat menjadi jembatan budaya antar pihak untuk dapat saling mengenal dan saling memahami. Misalnya melalui pertukaran misi kebudayaan, melalui misi ini pula dapat lahir potensi kerjasama baru, seperti wisata budaya dan pariwisata dalam arti luas. Selain itu juga perlu diperhatikan faktor potensi daerah yang dimiliki, sehingga memudahkan pengelolaan yang lebih baik lagi dengan memanfaatkan relasi, pengalaman dan hasil-hasil penelitian serta tekhnologi yang diadaptasi dari kota/daerah sahabat. Misalnya berbagi informasi dan pengalaman antara petani dengan petani, petani dengan pengusaha, petani dengan peneliti, serta petani dengan tekhnologi baru. Kerjasama ini dapat pula dilakukan dalam bidang perencanaan, penataan ruang dan wilayah, tata kota, pelayanan publik, air bersih, pendidikan, kesehatan, pengelolaan lingkungan dan limbah, penataan birokrasi dan manajemen pemerintahan, perhubungan dan transportasi, tenaga kerja, pengelolaan sumber daya alam dan sebagainya. Kesamaan dan keterkaitan potensi sangat diperlukan dalam bekerjasama, sehingga antara satu pihak dengan pihak lainnya dapat

saling membuka peluang pasar, prospek investasi serta kesempatan kerja. Sejauh ini Surabaya telah mengembangkan kerjasama dengan tiga kota yaitu Seattle (Amerika Serikat), Busan (Korea Selatan), dan Kochi (Jepang). Selain tiga kota yang sudah resmi mengikat kesepahaman berupa MoU (Memorandum of Understanding), delapan lagi sudah diikat dengan LoI (Letter of Intent) dan joint declaration (detikSurabaya). Ke delapan kota itu adalah Kota Kitakyushu (Jepang), Kota Izmir (Turki), Kota Guangzhou, Kota Xiamen, Kota Kunming (Cina), Kota Cebu (Filipina), Kota Rotterdam (Belanda) dan Kota Monterry (Meksiko) yang diresmikan menjadi kota kembar yang diikat dengan MoU. Peresmian ini berlangsung pada acara Sister city Forum (Forum Kota Kembar) di Surabaya, tanggal 29 hingga 31 Agustus 2005. Dengan Seattle, kerjasama sister city dimulai sejak tahun 1992 oleh Walikota Surabaya (waktu itu) dr.H.Poernomo Kasidi. Kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan terutama pada bidang pendidikan, manajemen perkotaan, dan pengembangan dunia usaha (Surabaya.go.id). Dalam bidang pendidikan, Seattle telah melakukan tiga kali kunjungan delegasi yaitu tahun 1996, 1997, dan 2000 dengan agenda kunjungan ke museum Mpu Tantular, museum Tugu Pahlawan, menyaksikan kesenian daerah dan nasional, nonton film, berolahraga dan diskusi antarpelajar. Sedangkan Surabaya pernah satu kali melakukan kunjungan yaitu pada tahun 1995 (Surabaya.go.id). Ada yang menarik dalam kunjungan ini, rombongan dari Surabaya membawa beberapa jenis binatang dari KBS (Kebun Binatang Surabaya). Di sini terjadi tukar menukar satwa dengan kebun binatang setempat. Rombongan dari Surabaya ini juga diajak melihat dari dekat ke Evergreen School, suatu sekolah yang mengutamakan murid-murid yang mempunyai kemampuan lebih di banding murid di sekolah biasa yang selanjutnya memunculkan sekolah evergreen ala Surabaya yang didirikan oleh Sunarto Sumoprawiro yang ditujukan untuk anak yang berkemampuan lebih tapi dari berasal dari kalangan yang kurang mampu. Pada tanggal 1 Desember 1996 hingga 10 Januari 1997, delegasi dari Seattle datang lagi ke Surabaya. Delegasi Seattle Water Department (SWD) ini khusus mengadakan kunjungan dan mengikat kerjasama dengan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Surabaya. Delegasi yang dipimpin ahli air bersih Bruce itu didampingi staf lainnya Melinda Jones, Silvia Cavador dan Diana Gale. Kerjasama antara PDAM Surabaya dengan SWD Seattle, ditekankan sistem manajemen dan pemberian saran dan masukan kepada jajaran PDAM Surabaya tentang BOT (Built Operate and Transfer) berkaitan dengan proyek penjernihan air Karangpilang III dan Umbulan. Pada bidang manajemen perkotaan, Pemkot Surabaya juga melakukan kunjungan

delegasi pada tahun 2001. Saat itu juga Surabaya mengirim delegasi ke Kota Seattle untuk mengikuti acara Asia Pasific Cities Summit. Dalam rangka memperluas jaringan kerjasama, pada tahun 2003 Pemkot Surabaya melakukan penjajakan kerjasama sister city dengan beberapa kota lain seperti Guangzhou, Fuzhou, Xiamen dan Kunming di Cina, dan Kitakyushu di Jepang. Pengembangan kerjasama ini dimaksudkan agar Surabaya mampu bersaing di era pasar bebas, mampu menghadapi perkembangan global dalam pengembangan sumber daya manusia. sekaligus sebagai sarana promosi dan pengembangan potensi daerah kepada masyarakat dunia (Surabaya.go.id). Setelah diterapkan selama 18 tahun, kerjasama ini tidak berjalan lancar begitu saja namun juga mengalami beberapa hambatan yang akan dibahas lebih lanjut pada bab berikutnya, seperti pemberdayaan masyarakat dan aktor non pemerintah lain yang kurang maksimal, kelemahan di bidang regulasi dan kerangka kerja institusi, kurangnya koordinasi dan sosialisasi antar lembaga dan dengan pihak-pihak terkait, dan lain-lain (detikSurabaya). Selain menjabarkan tentang hambatannya, peneliti juga akan berusaha memberikan solusi dalam permasalahan tersebut dan juga mengungkapkan berbagai keberhasilan dari sister city ini. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya untuk menyukseskan kerjasama yang telah disepakati. Tidak diragukan lagi bahwa pelaksanaan kerjasama tersebut dalam beberapa aspek telah memberikan nilai positif bagi pelaksanaan pembangunan Kota Surabaya (detikSurabaya). Seperti peningkatan kapasitas pembangunan melalui berbagai program pelatihan dan seminar di luar negeri serta program pertukaran pendidikan melalui program sister school (untuk SMP, SMA/SMK) maupun sister university (untuk perguruan tinggi). Di bidang perdagangan, dibukanya kerjasama ini telah membuka peluang pasar bagi Kota Surabaya untuk mempromosikan potensi ekonomi yang dimiliki melalui berbagai kegiatan pertukaran ekonomi, seperti kegiatan pameran produk perdagangan. Bidang lain yang juga memberikan kontribusi positif adalah program pertukaran bidang kebudayaan dan pariwisata. Melalui program ini Pemerintah Kota Surabaya telah melakukan berbagai langkah kegiatan untuk meningkatkan potensi budaya lokal dalam rangka menarik potensi turis manca negara untuk berkunjung ke Surabaya.