You are on page 1of 35

DISUSUN OLEH ADITYA SUNDAWA 210 240 O13 III.

FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjat kehadirat allah swt yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya lah sehingga makalah ini yang berjudul penyakit akibat kerja dapat terselesaikan tepat pada waktunya Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan dari penulis, namun penulis berharap agar pembaca dapat memberikan kritik an saran yang membangun sehingga dapat membantu menyempurnkan makalah ini Mudahan-mudahan dengan keterbatasan makalah ini tetap dapat member manfaat kepada pembaca tentang penyakit akibat kerja, terimakasih.

Parepare 27 desember 2011

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGATAR..2 DAFTAR ISI.3 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG...4 B. RUMUSAN MASALAH...5 C. TUJUAN6 BAB II PEMBAHASAN 1. DEFINISI PENYAKIT AKIBAT KERJA7 2. CARA IDENTIFIKASI PENYAKIT AKIBAT KERJA10 3. KRITERIA UMUN DAN FAKTOR PENYEBAB PENYAKIT AKIBAT KERJA.11 4. LANGKAH-LANGKAH DIAGNOSIS PENYAKIT AKIBAT KERJA...16 5. GAMBARAN PENYAKIT AKIBAT KERJA...21 6. PENCEGAHAN PENYAKIT AKIBAT KERJA31 BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN....34 B. SARAN35 DAFTAR PUSTAKA..36

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG Ratusan juta tenaga kerja di seluruh dunia saat bekerjapada kondisi yang tidak nyaman dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Menurut Internasional Labor Organization ( ILO) setiap tahu terjadi 1,1 juta kematian yang disebabkan oleh penyakita atau yang disebabkan oleh pekerjaan. Sekitar 300.000 kematian terjadi dari250 juta kecelakaan dan sisanya adalah karena penyakit akibat kerja dimana diperkirakan terjadi 160 juta penyakit akibat hubungan pekerjaan baru setiap tahunnya. Masalah kesehatan lain terutama adalah ketulian, gangguan muskulosaltel,gangguan reproduksi dan lain-lain. Wawasan para pengusaha mengenai kesehatan kerja masih rendah. Itulah sebabnya segala penyakit akibat kerja sering dianggap biasa dan tidak mendapat klaim asuransi. Padahal, banyak penyakit muncul justru di lingkungan kerja, terutama yang berhubungan dengan bahan kimia dan fisika. Untuk itu, masalah penyakit dalam klaim asuransi perlu disempurnakan. banyak penyakit akibat kerja tidak bisa mendapatkan klaim asuransi. Sebagai contoh mereka yang bekerja di pabrik sepatu atau garmen. Telapak tangan menjadi kapalan atau gatal-gatal. Tetapi ketika berobat ke dokter pun tidak bisa diklaim ke asuransi karena dianggap hal biasa.Contoh lain, lanjutnya,

terjadi di sebuah pabrik yang pernah dikunjunginya. Di situ ada enam karyawan meninggal karena kanker. Tetapi mereka tidak menyadari terjadinya kanker karena berhubungan dengan pekerjaannya. Daftar penyakit akibat kerja dibagi tiga bagian, antara lain penyakit akibat bahan kimia, fisika, dan biologi; penyakit sistem organ target (pernapasan, kulit, otot rangka) dan kanker akibat kerja.Apabila sebuah perusahaan menggunakan bahan-bahan seperti fosfor, cadmium, mangan, arsenik, merkuri, ozone, selenium, dan bahan kimia lainnya, maka kewajiban perusahaan untuk memberikan preventif dan promosi kepada karyawan tentang akibatnya bagi kesehatan. Demikian juga dengan akibat bahan fisika, seperti radiasi, kebisingan, getaran, suhu yang ekstrem, dan sebagainya. Sedangkan penyakit akibat bahan biologik di tempat kerja sering kali dari kontaminasi. Bahan kimia pun bisa menjadi pemicu terjadinya kanker prostat, payudara, kanker paru-paru, dan kanker hati. B. RUMUSAN MASALAH 1. Apa definisi penyakit akibat dari kerja ? 2. Bagaimana kriteria umun dan faktor penyebab penyakit akibat kerja ? 3. Bagaimana langkah-langkah diagnosisi penyakit akibat kerja ? 4. Bagaimana pencegahan penyakit akibat kerja ?

C. TUJUAN 1. Untuk mengetahui dafinisi penyakit akibat kerja 2. Untuk mengetahui cara identifikasi penyakit akibat kerja 3. Untuk mengetahui kriteria umum dan faktor penyebab penyakit 4. Untuk mengetahui langkah-langkah diagnosis penyakit akibat kerja 5. Untuk mengetahui gambaran penyakit (PAK) 6. Untuk mengetahui pencegahan penyakit akibat kerja yang diakibat kan oleh kerja

BAB II PEMBAHASAN
1. DEFINISI PENYAKIT AKIBAT KERJA Penyakit adalah suatu keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang menyebabkan ketidaknyamanan, disfungsi atau kesukaran terhadap orang yang dipengaruhinya. Untuk menyembuhkan penyakit, orang-orang biasa berkonsultasi dengan seorang dokter. Patologi adalah pelajaran tentang penyakit. Subyek pengklasifikasian sistematik penyakit disebut nosologi. Badan pengetahuan yang lebih luas tentang penyakit adalah kedokteran. Penyakit Akibat Kerja. Sebuah hal yang subtansi dari kehidupan kita adalah pentingnya pekerjaan, karena dengan bekerja kita dapat menghidupi kehidupan kita secara jasmaniah, namun kadang dengan pekerjaan membuat seluruh organ-organ tubuh jenuh dengan aktivitas yang sering kita lakukan. sehingga organ tubuh mengalami suatu hal membuat kita merasa sakit, untuk memahami lebih dalam kami akan mendefinisikan penyakit yang sebkan oleh pekerjaan. Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja. Dengan demikian Penyakit Akibat Kerja merupakan penyakit yang artifisial atau man made disease.

Upaya Kesehatan Kerja adalah upaya penyerasian antara kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat di sekelilingnya, agar diperoleh produktivitas kerja yang optimal (UU Kesehatan Tahun 1992 Pasal 23). WHO membedakan empat kategori Penyakit Akibat Kerja : a. Penyakit yang hanya disebabkan oleh pekerjaan misalnya pneumoconiosis b. Penyakit yang salah satu penyebabnya adalah pekerjaan misalnya karsinoma bronkhogenik c. Penyakit dengan pekerjaan merupakan salah satu penyebab diantara faktor-faktor penyebab lain nya misalnya bronchitis kronik d. Penyakit dimana pekerjaan memperberat suatu kondisi yang sudah ada sebelumnya misalnya asma

Peraturan Menaker No Per 01/MEN/1981 tentang Kewajiban Melapor Penyakit Akibat Kerja menyebutkan bahwa Penyakit Akibat Kerja (PAK) adalah setiap penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja.

Beberapa ciri penyakit akibat kerja adalah : o Populasi pekerja o o Penyebab spesifik Pemajanan di tempat kerja sangat menentukan

o o

Kompensasi ada Contohnya adalah keracunan Pb, Asbestosis, Silikosis (Budiono, Sugeng. 2003)

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENYAKIT YANG TIMBUL KARENA HUBUNGAN KERJA (PENYAKIT AKIBAT KERJA

Pasal 1 Penyakit yang timbul karena hubungan kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja Pasal 2 Setiap tenaga kerja yang menderita penyakit yang timbul karena hubungan kerja berhak mendapat jaminan Kecelakaan Kerja baik pada saat masih dalam hubungan Pasal 3 (1) Hak atas Jaminan Kecelakaan Kerja bagi tenaga kerja yang hubungan kerjanya telah berakhir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 diberikan, apabila menurut hasil diagnosis dokter yang merawat penyakit tersebut diakibatkan oleh pekerjaan selama tenaga kerja yang bersangkutan masih dalam hubungan kerja (2) Hak jaminan kecelakaan kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan, apabila penyakit tersebut timbul dalam waktu paling lama 3 (tiga) kerja maupun setelah hubungan kerja berakhir.

tahun Pasal 4

terhitung

sejak

hubungan

kerja

tersebut

berakhir.

Penyakit yang timbul karena hubungan kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1, sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan Presiden ini.

2. KRITERIA UMUM DAN FAKTOR PENYEBAB PENYAKIT AKIBAT KERJA a. kriteria umum penyakit akibat kerja Adanya hubungan antara pajanan yang spesifik dengan penyakit Adanya fakta bahwa frekwensi kejadian penyakit pada populasi pekerja lebih tinggi daripada pada masy. Umum Penyakit dapat dicegah dengan melakukan tindakan preventif di tempat kerja b. Faktor penyebab Penyakit Akibat Kerja sangat banyak, tergantung pada bahan yang digunakan dalam proses kerja, lingkungan kerja ataupun cara kerja, sehingga tidak mungkin disebutkan satu per satu. Pada umumnya faktor penyebab dapat dikelompokkan dalam 5 golongan :

Golongan fisik : -Bunyi : Bising

10

-Suhu Tinggi : dehidrasi dan pengeluaran elektrolit tubuh yang banyak

-Hyperpirexia,

-Heat Cramp,

-Heat Exhaustion,

-Heat Stroke

-Radiasi Sinar Elektromagnetik : Katarak

-infra merah

-Ultraviolet Konjungtivitis -Sinar , dan dan Bahan radioaktif lainnya -Tekanan Udara Penyakit Caisons Tajam penglihatan berkurang

-Pencahayaan

-Getaran

Penyempitan pembuluh darah (Raynaud disease)

Golongan kimiawi.

11

o Perusahaan/

Perindustrian

pupuk,

Pestisida,

Kertas,

Refinery, Pengolahan gas bumi, obat-obatan banyak menggunakan bahan kimia sebagai bahan baku atau pembantu o Penggunaan bahan kimia tadi bisa menyebabkan bahaya Kebakaran, Peledakan, Iritasi dan Keracunan 70% PAK adalah disebabkan oleh bahan kimia berbahaya yang masuk lewat mulut, pernafasan atau kulit o Bahan Kimia Berbahaya bisa berupa padat, gas, partikel maupun uap Masuknya Bahan kimia tadi bisa

menimbulkan gejalanya secara akut atau kronik Keracunan Akut biasanya terjadi akibat masuknya bahan kimia dalam jumlah besar pada waktu singkat, misalnya : -Keracunan gas CO -Keracunan asam Sianida (HCN) -Keracunan Benzena -Keracunan Uap Pb Leukemia - Keracunan bahan-bahan Karsinogen Kanker Golongan biologis : -Virus (Hepatitis): Virus mempunyai ukuran yang sangat kecil antara 16 300 nano meter. Virus tidak mampu bereplikasi, untuk

12

itu virus harus menginfeksi sel inangnya yang khas. Contoh penyakit yang diakibatkan oleh virus : influenza, varicella, hepatitis, HIV, dan sebagainya. -Bakteri (Tuberkulosis pada petugas medis) : Bakteri mempunyai tiga bentuk dasar yaitu bulat (kokus), lengkung dan batang (basil). -Parasit (Malaria): -Cacing -Jamur : Jamur dapat berupa sel tunggal atau koloni, tetapi berbentuk lebih komplek karena berupa multi sel.

Mikroorganisme penyakit di tempat kerja Daerah pertanian : Lingkungan pertanian yang cenderung berupa tanah membuat pekerja dapat terinfeksi oleh

mikroorganisme seperti : Tetanus, Leptospirosis, cacing, Asma bronkhiale atau keracunan Mycotoxins yang merupakan hasil metabolisme jamur. Di lingkungan berdebu (Pertambangan atau pabrik) : Mikroorganisme yang mungkin ditemukan adalah bakteri

penyebab penyakit saluran napas, seperti : TBC, Bronchitis dan Infeksi saluran pernapasan lainnya seperti Pneumonia.

13

Daerah peternakan : terutama yang mengolah kulit hewan serta produk-produk dari hewan: Anthrax yang penularannya melalui bakteri yang tertelan atau terhirup, Brucellosis, Infeksi Salmonella. Di Laboratorium : Terutama untuk laboratorium yang menangani organisme pathogen. Di Perkantoran : terutama yang menggunakan pendingin tanpa ventilasi alami Humidifier fever yaitu suatu penyakit pada saluran pernapasan dan alergi yang disebabkan organisme yang hidup pada air yang terdapat pada system pendingin, Legionnaire disease penyakit yang juga berhubungan dengan sistem pendingin dan akan lebih berbahaya pada pekerja dengan usia lanjut. Cara Penularan kedalam Tubuh Manusia Banyak dari mikroorganisme ini dapat menyebabkan penyakit hanya setelah masuk kedalam tubuh manusia dan cara masuknya kedalam tubuh, yaitu : -Melalui saluran pernapasan atau bahan-bahan yang megandung organisme

-Melalui mulut (makanan dan minuman) -Melalui kulit apabila terluka Cara Mengontrol Bahaya dari Faktor Biologis Faktor biologis dan juga bahaya-bahaya lainnya di tempat kerja dapat dihindari dengan pencegahan antara lain dengan:

14

-Penggunaan masker yang baik untuk pekerja yang berisiko tertular lewat debu yang mengandung organism pathogen -Mengkarantina hewan yang terinfeksi dan vaksinasi -Imunisasi bagi pekerja yang berisiko tertular penyakit di tempat kerja -Membersihkan semua debu yang ada di sistem pendingin paling tidak datu kali setiap bulan

-Membuat sistem pembersihan yang memungkinkan terbunuhnya mikroorganisme yang patogen pada system pendingin. Golongan fisiologis : biasanya disebabkan oleh penataan tempat kerja dan cara kerja Golongan psikososial -Suasana Kerja monoton -Hubungan kerja yang kurang baik -Upah tidak sesuai -Tempat kerja yang terpencil Stress Perubahan tingkah laku Tidak bisa menagmbil atau Kecelakaan keputusan, TD naik Penyakit lain

15

3. LANGKAH-LANGKAH DIAGNOSIS PENYAKIT AKIBAT KERJA Penegakan diagnosis Penyakit Akibat Kerja masih merupakan masalah di Indonesia. Diperlukan minat dan pengetahuan yang khusus untuk dapat menegakkan diagnosis Penyakit Akibat Kerja. Untuk mengatasi masalah tersebut, selain perlu ditingkatkan pendidikan bagi dokter dalam bidang kedokteran kerja, juga perlu dikembangkan suatu sistem rujukan, baik di tingkat nasional maupun daerah. Dikembangkannya klinik-klinik Kedokteran Kerja di Indonesia dapat membantu permasalahan yang dihadapi.

Untuk dapat mendiagnosis Penyakit Akibat Kerja pada individu perlu dilakukan suatu pendekatan sistematis untuk mendapatkan informasi yang diperlukan dan menginterpretasinya secara tepat. Pendekatan tersebut dapat disusun menjadi 7 langkah yang dapat digunakan sebagai pedoman : a. Tentukan Diagnosis klinisnya Diagnosis klinis harus dapat ditegakkan terlebih dahulu, dengan memanfaatkan fasilitas-fasilitas penunjang yang ada, seperti umumnya dilakukan untuk mendiagnosis suatu penyakit. Setelah diagnosis klinik ditegakkan baru dapat dipikirkan lebih lanjut apakah penyakit tersebut berhubungan dengan pekerjaan atau tidak.

b. Tentukan pajanan yang dialami oleh tenaga kerja selama ini Pengetahuan mengenai pajanan yang dialami oleh seorang tenaga kerja adalah esensial untuk dapat menghubungkan suatu penyakit dengan

16

pekerjaannya. Untuk ini perlu dilakukan anamnesis mengenai riwayat pekerjaannya secara cermat dan teliti, yang mencakup: Penjelasan mengenai semua pekerjaan yang telah dilakukan oleh penderita secara khronologis Lamanya melakukan masing-masing pekerjaan Bahan yang diproduksi Materi (bahan baku) yang digunakan Jumlah pajanannya Pemakaian alat perlindungan diri (masker) Pola waktu terjadinya gejala Informasi mengenai tenaga kerja lain (apakah ada yang mengalami gejala serupa) Informasi tertulis yang ada mengenai bahan-bahan yang digunakan (MSDS, label, dan sebagainya) c. Tentukan apakah pajanan tersebut memang dapat menyebabkan penyakit tersebut Apakah terdapat bukti-bukti ilmiah dalam kepustakaan yang mendukung pendapat bahwa pajanan yang dialami menyebabkan penyakit yang diderita. Jika dalam kepustakaan tidak ditemukan adanya dasar ilmiah yang menyatakan hal tersebut di atas, maka tidak dapat ditegakkan diagnosa penyakit akibat kerja. Jika dalam kepustakaan ada yang mendukung,

17

perlu dipelajari lebih lanjut secara khusus mengenai pajanan sehingga dapat menyebabkan penyakit yang diderita (konsentrasi, jumlah, lama, dan sebagainya). d. Tentukan apakah jumlah pajanan yang dialami cukup besar untuk dapat mengakibatkan penyakit tersebut. Jika penyakit yang diderita hanya dapat terjadi pada keadaan pajanan tertentu, maka pajanan yang dialami pasien di tempat kerja menjadi penting untuk diteliti lebih lanjut dan membandingkannya dengan kepustakaan yang ada untuk dapat menentukan diagnosis penyakit akibat kerja. e. Tentukan apakah ada faktor-faktor lain yang mungkin dapat

mempengaruhi Apakah ada keterangan dari riwayat penyakit maupun riwayat pekerjaannya, yang dapat mengubah keadaan pajanannya, misalnya penggunaan APD, riwayat adanya pajanan serupa sebelumnya sehingga risikonya meningkat. Apakah pasien mempunyai riwayat kesehatan (riwayat keluarga) yang mengakibatkan penderita lebih rentan/lebih sensitif terhadap pajanan yang dialami. f. Cari adanya kemungkinan lain yang dapat merupakan penyebab penyakit Apakah ada faktor lain yang dapat merupakan penyebab penyakit? Apakah penderita mengalami pajanan lain yang diketahui dapat merupakan penyebab penyakit. Meskipun demikian, adanya penyebab lain

18

tidak selalu dapat digunakan untuk menyingkirkan penyebab di tempat kerja. g. Buat keputusan apakah penyakit tersebut disebabkan oleh pekerjaannya Sesudah menerapkan ke enam langkah di atas perlu dibuat suatu keputusan berdasarkan informasi yang telah didapat yang memiliki dasar ilmiah. Seperti telah disebutkan sebelumnya, tidak selalu pekerjaan merupakan penyebab langsung suatu penyakit, kadang-kadang pekerjaan hanya memperberat suatu kondisi yang telah ada sebelumnya. Hal ini perlu dibedakan pada waktu menegakkan diagnosis. Suatu

pekerjaan/pajanan dinyatakan sebagai penyebab suatu penyakit apabila tanpa melakukan pekerjaan atau tanpa adanya pajanan tertentu, pasien tidak akan menderita penyakit tersebut pada saat ini.

Sedangkan pekerjaan dinyatakan memperberat suatu keadaan apabila penyakit telah ada atau timbul pada waktu yang sama tanpa tergantung pekerjaannya, tetapi pekerjaannya/pajanannya memperberat/mempercepat timbulnya penyakit Dari uraian di atas dapat dimengerti bahwa untuk menegakkan diagnosis Penyakit Akibat Kerja diperlukan pengetahuan yang spesifik, tersedianya berbagai informasi yang didapat baik dari pemeriksaan klinis pasien, pemeriksaan lingkungan di tempat kerja (bila memungkinkan) dan data epidemiologis. Tujuan dan manfaat diagnosis penyakit akibat kerja

19

Tujuan: a. b. c. d. Dasar terapi Membatasi kecacatan & mencegah kematian Melindungi pekerja lain Memenuhi hak pekerja

Manfaat : dapat mengidentifikasi sejak dini penyebab penyakit akibat kerja

4. GAMBARAN PENYAKIT AKIBAT KERJA (PAK) a. Penyakit Saluran Pernafasan Partikel Debu di Udara Pencemaran udara oleh partikel dapat disebabkan karena peristiwa alamiah dan dapat pula disebabkan karena ulah manusia, lewat kegiatan industri dan teknologi. Partikel yang mencemari udara banyak macam dan jenisnya, tergantung pada macam dan jenis kegiatan industri dan teknologi yang ada. Mengenai macam dan jenis partikel pencemar udara serta sumber pencemarannya telah banyak

Secara umum partikel yang mencemari udara dapat merusak lingkungan, tanaman, hewan dan manusia. Partikel-partikel tersebut sangat merugikan kesehatan manusia. Pada umumnya udara yang telah tercemar oleh partikel dapat menimbulkan berbagai macam penyakit saluran pernapasan atau pneumoconiosis. Pada saat orang menarik nafas, udara yang mengandung partikel akan terhirup ke dalam paru-paru. Ukuran partikel

20

(debu) yang masuk ke dalam paru-paru akan menentukan letak penempelan atau pengendapan partikel tersebut. Partikel yang berukuran kurang dari 5 mikron akan tertahan di saluran nafas bagian atas, sedangkan partikel berukuran 3 sampai 5 mikron akan tertahan pada saluran pernapasan bagian tengah. Partikel yang berukuran lebih kecil, 1 sampai 3 mikron, akan masuk ke dalam kantung udara paru-paru, menempel pada alveoli. Partikel yang lebih kecil lagi, kurang dari 1 mikron, akan ikut keluar saat nafas dihembuskan.

Pneumoconiosis adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh adanya partikel (debu) yang masuk atau mengendap di dalam paru-paru. Penyakit pnemokoniosis banyak jenisnya, tergantung dari jenis partikel (debu) yang masuk atau terhisap ke dalam paru-paru. Beberapa jenis penyakit pneumoconiosis yang banyak dijumpai di daerah yang memiliki banyak kegiatan industri dan teknologi, yaitu Silikosis, Asbestosis, Bisinosis, Antrakosis dan Beriliosis. Penyakit silikosis Penyakit Silikosis disebabkan oleh pencemaran debu silika bebas, berupa SiO2, yang terhisap masuk ke dalam paru-paru dan kemudian mengendap. Debu silika bebas ini banyak terdapat di pabrik besi dan baja, keramik, pengecoran beton, bengkel yang mengerjakan besi (mengikir, menggerinda, dll). Selain dari itu,

21

debu silika juka banyak terdapat di tempat di tempat penampang bijih besi, timah putih dan tambang batubara. Pemakaian batubara sebagai bahan bakar juga banyak menghasilkan debu silika bebas SiO2. Pada saat dibakar, debu silika akan keluar dan terdispersi ke udara bersama sama dengan partikel lainnya, seperti debu alumina, oksida besi dan karbon dalam bentuk abu. Debu silika yang masuk ke dalam paru-paru akan mengalami masa inkubasi sekitar 2 sampai 4 tahun. Masa inkubasi ini akan lebih pendek, atau gejala penyakit silicosis akan segera tampak, apabila konsentrasi silika di udara cukup tinggi dan terhisap ke paru-paru dalam jumlah banyak. Penyakit silicosis ditandai dengan sesak nafas yang disertai batuk-batuk. Batuk ii seringkali tidak disertai dengan dahak. Pada silicosis tingkah sedang, gejala sesak nafas yang disertai terlihat dan pada pemeriksaan fototoraks kelainan paru-parunya mudah sekali diamati. Bila penyakit silicosis sudah berat maka sesak nafas akan semakin parah dan kemudian diikuti dengan hipertropi jantung sebelah kanan yang akan mengakibatkan kegagalan kerja jantung. Tempat kerja yang potensial untuk tercemari oleh debu silika perlu mendapatkan pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja dan lingkungan yang ketat sebab penyakit silicosis ini belum ada obatnya yang tepat. Tindakan preventif lebih penting dan berarti

22

dibandingkan dengan tindakan pengobatannya. Penyakit silicosis akan lebih buruk kalau penderita sebelumnya juga sudah menderita penyakit TBC paru-paru, bronchitis, astma broonchiale dan penyakit saluran pernapasan lainnya.Pengawasan dan pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi pekerja akan sangat membantu pencegahan dan penanggulangan penyakit-penyakit akibat kerja. Data kesehatan pekerja sebelum masuk kerja, selama bekerja dan sesudah bekerja perlu dicatat untuk pemantulan riwayat penyakit pekerja kalau sewaktu waktu diperlukan. Penyakit asbestosis Penyakit Asbestosis adalah penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh debu atau serat asbes yang mencemari udara. Asbes adalah campuran dari berbagai macam silikat, namun yang paling utama adalah Magnesium silikat. Debu asbes banyak dijumpai pada pabrik dan industri yang menggunakan asbes, pabrik pemintalan serat asbes, pabrik beratap asbes dan lain sebagainya.

Debu asbes yang terhirup masuk ke dalam paru-paru akan mengakibatkan gejala sesak napas dan batuk-batuk yang disertai dengan dahak. Ujung-ujung jari penderitanya akan tampak membesar / melebar. Apabila dilakukan pemeriksaan pada dahak maka akan tampak adanya debu asbes dalam dahak tersebut.

23

Pemakaian asbes untuk berbagai macam keperluan kiranya perlu diikuti dengan kesadaran akan keselamatan dan kesehatan lingkungan agar jangan sampai mengakibatkan asbestosis ini. Penyakit bisinosis Penyakit Bisinosis adalah penyakit pneumoconiosis yang

disebabkan oleh pencemaran debu napas atau serat kapas di udara yang kemudian terhisap ke dalam paru-paru. Debu kapas atau serat kapas ini banyak dijumpai pada pabrik pemintalan kapas, pabrik tekstil, perusahaan dan pergudangan kapas serta pabrik atau bekerja lain yang menggunakan kapas atau tekstil; seperti tempat pembuatan kasur, pembuatan jok kursi dan lain sebagainya. Masa inkubasi penyakit bisinosis cukup lama, yaitu sekitar 5 tahun. Tanda-tanda awal penyakit bisinosis ini berupa sesak napas, terasa berat pada dada, terutama pada hari Senin (yaitu hari awal kerja pada setiap minggu). Secara psikis setiap hari Senin bekerja yang menderita penyakit bisinosis merasakan beban berat pada dada serta sesak nafas. Reaksi alergi akibat adanya kapas yang masuk ke dalam saluran pernapasan juga merupakan gejala awal bisinosis. Pada bisinosis yang sudah lanjut atau berat, penyakit tersebut biasanya juga diikuti dengan penyakit bronchitis kronis dan mungkin juga disertai dengan emphysema.

24

Penyakit antrakosis Penyakit Antrakosis adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh debu batubara. Penyakit ini biasanya dijumpai pada pekerja-pekerja tambang batubara atau pada pekerja-pekerja yang banyak melibatkan penggunaan batubara, seperti pengumpa batubara pada tanur besi, lokomotif (stoker) dan juga pada kapal laut bertenaga batubara, serta pekerja boiler pada pusat Listrik Tenaga Uap berbahan bakar batubara.

Masa inkubasi penyakit ini antara 2 4 tahun. Seperti halnya penyakit silicosis dan juga penyakit-penyakit pneumokonisosi lainnya, penyakit antrakosis juga ditandai dengan adanya rasa sesak napas. Karena pada debu batubara terkadang juga terdapat debu silikat maka penyakit antrakosis juga sering disertai dengan penyakit silicosis. Bila hal ini terjadi maka penyakitnya disebut silikoantrakosis. Penyakit antrakosis ada tiga macam, yaitu penyakit antrakosis murni, penyakit silikoantraksosis dan penyakit tuberkolosilikoantrakosis. Penyakit antrakosis murni disebabkan debu batubara. Penyakit ini memerlukan waktu yang cukup lama untuk menjadi berat, dan relatif tidak begitu berbahaya. Penyakit antrakosis menjadi berat bila disertai dengan komplikasi atau emphysema yang

25

memungkinkan terjadinya kematian. Kalau terjadi emphysema maka antrakosis murni lebih berat daripada silikoantraksosis yang relatif jarang diikuti oleh emphysema. Sebenarnya antara antrakosis murni dan silikoantraksosi sulit dibedakan, kecuali dari sumber penyebabnya Sedangkan paenyakit

tuberkolosilikoantrakosis lebih mudah dibedakan dengan kedua penyakit antrakosis lainnya. Perbedaan ini mudah dilihat dari fototorak yang menunjukkan kelainan pada paru-paru akibat adanya debu batubara dan debu silikat, serta juga adanya baksil tuberculosis yang menyerang paru-paru. Penyakit beriliosis Udara yang tercemar oleh debu logam berilium, baik yang berupa logam murni, oksida, sulfat, maupun dalam bentuk halogenida, dapat menyebabkan penyakit saluran pernapasan yang disebut beriliosis. Debu logam tersebut dapat menyebabkan nasoparingtis, bronchitis dan pneumonitis yang ditandai dengan gejala sedikit demam, batuk kering dan sesak napas. Penyakit beriliosis dapat timbul pada pekerja-pekerja industri yang menggunakan logam campuran berilium, tembaga, pekerja pada pabrik fluoresen, pabrik pembuatan tabung radio dan juga pada pekerja pengolahan bahan penunjang industri nuklir. .

26

Selain dari itu, pekerja-pekerja yang banyak menggunakan seng (dalam bentuk silikat) dan juga mangan, dapat juga menyebabkan penyakit beriliosis yang tertunda atau delayed berryliosis yang disebut juga dengan beriliosis kronis. Efek tertunda ini bisa berselang 5 tahun setelah berhenti menghirup udara yang tercemar oleh debu logam tersebut. Jadi lima tahun setelah pekerja tersebut tidak lagi berada di lingkungan yang mengandung debu logam tersebut, penyakit beriliosis mungkin saja timbul. Penyakit ini ditandai dengan gejala mudah lelah, berat badan yang menurun dan sesak napas. Oleh karena itu pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi pekerja-pekerja yang terlibat dengan pekerja yang menggunakan logam tersebut perlu dilaksanakan terus menerus.

b. Penyakit Kulit

Pada umumnya tidak spesifik, menyusahkan, tidak mengancam kehidupan, kadang sembuh sendiri. Dermatitis kontak yang dilaporkan, 90% merupakan penyakit kulit yang berhubungan dengan

pekerjaan.Penting riwayat pekerjaan dalam mengidentifikasi iritan yang merupakan penyebab, membuat peka atau karena faktor lain. Penyakit

27

kulit (dermatosis) yang disebabkan oleh penyebab fisik, kimiawi atau biologik.

c. Kerusakan Pendengaran

Banyak kasus gangguan pendengaran menunjukan akibat pajanan kebisingan yang lama, ada beberapa kasus bukan karena pekerjaan. Riwayat pekerjaan secara detail sebaiknya didapatkan dari setiap orang dengan gangguan pendengaran. Dibuat rekomendasi tentang pencegahan terjadinya hilangnya pendengaran

d. Gejala pada Punggung dan Sendi

Tidak ada tes atau prosedur yang dapat membedakan penyakit pada punggung yang berhubungan dengan pekerjaandaripada yang tidak berhubungan dengan pekerjaan Penentuan kemungkinan bergantung pada riwayat pekerjaan. Artritis dan tenosynovitis disebabkan oleh gerakan berulang yang tidak wajar.

e. Kanker

Adanya presentase yang signifikan menunjukan kasus Kanker yang disebabkan oleh pajanan di tempat kerja. Bukti bahwa bahan di tempat kerja, karsinogen sering kali didapat dari laporan klinis individu dari pada

28

studi epidemiologi. Pada Kanker pajanan untuk terjadinya karsinogen mulai > 20 tahun sebelum diagnosis.

Kanker kulit epitelioma primer yang disebabkan oleh ter, pic, bitumen, minyak mineral, antrasena, atau persenyawaan, produk atau residu adri zat tersebut.

f. Penyakit Liver

Sering di diagnosis sebagai penyakit liver oleh karena hepatitis virus atau sirosis karena alkohol. Penting riwayat tentang pekerjaan, serta bahan toksik yang ada.

g. Masalah Neuropsikiatrik

Masalah neuropsikiatrik yang berhubungan dengan tempat kerja sering diabaikan Neuro pati perifer, sering dikaitkan dengan diabet, pemakaian alkohol atau tidak diketahui penyebabnya, depresi SSP oleh karena penyalahgunaan zat-zat atau masalah psikiatri. Kelakuan yang tidak baik

29

mungkin merupakan gejala awal dari stres yang berhubungan dengan pekerjaan. Lebih dari 100 bahan kimia (a.I solven) dapat menyebabkan depresi SSP. Beberapa neurotoksin (termasuk arsen, timah, merkuri, methyl, butyl ketone) dapat menyebabkan neuropati perifer. Carbon disulfide dapat menyebabkan gejala seperti psikosis.

5. PENCEGAHAN PENYAKIT AKIBAT KERJA Upaya pencegahan yang dilakukan terkait penyakit akibat kerja adalah : Pencegahan awal (primer) -Penyuluhan - perilaku K3 yang baik. -olahraga -Perilaku Kesehatan -Faktor bahaya di tempat kerja -Gizi seimbang Pencegahan setempat (sekunder)

30

-pengendalian melalui undang-undang.. - pengendalian melalui administrasi/organisasi///////////////////////////// - pengendalian secara teknis (substitusi, ventilasi, isolasi, ventilasi, alat pelindung diri. -Pengendalian jalur kesehatan: imunisasi Pencegahan dini (tersier),,, -Pemeriksaan kesehatan pra-kerja. -Pemeriksaan kesehatan berkala. -Surveilans. -Penatalaksanaan kasus cepat dan tepat. -Upaya rehabilitasi

Kondisi fisik sehat dan kuat sangat dibutuhkan dalam bekerja, namun dengan bekerja benar teratur bukan berarti dapat mencegah kesehatan kita terganggu. Kepedulian dan kesadaran akan jenis pekerjaan juga kondisi pekerjaan dapat menghalau sumber penyakit menyerang. Dengan didukung perusahaan yang sadar kesehatan, maka kantor pun akan benar-benar menjadi lahan menuai hasil bukanlah penyakit. Penerapan konsep five level of prevention deseases pada PAK Penerapan konsep 5 tingkatan pencegahan penyakit (five level of prevention deseases) pada Penyakit Akibat Kerja adalah (Silalahi, Benet dan Silalahi, Rumondang, 1985) :

31

a. Health promotion (peningkatan kesehatan) Misalnya : pendidikan kesehatan, meningkatkan gizi yang baik, pengembangan kepribadian, perusahaan yang sehat dan memadai, rekreasi, lingkungan kerja yang memadai, penyuluhan perkawinan dan pendidikan seks, konsultasi tentang keturunan dan pemeriksaan kesehatan periodic b. Specific protection (perlindungan khusus) Misalnya : imunisasi, higiene perorangan, sanitasi lingkungan, proteksi terhadap bahaya dan kecelakaan kerja. c. Early diagnosis and prompt treatmean (diagnosis dini dan pengobatan tepat) Misalnya : diagnosis dini setiap keluhan dan pengobatan segera, pembatasan titik-titik lemah untuk mencegah terjadinya komplikasi d. Dissability imitation (membatasi kemungkinan cacat) Misalnya : diagnosis dini setiap keluhan dan pengobatan segera, pembatasan titik-titik lemah untuk mencegah terjadinya komplikasi e. Rehabilitasi Misalnya : rehabilitasi dan mempekerjakan kembali para pekerja yang menderita cacat. Sedapat mungkin perusahaan mencoba menempatkan karyawan-karyawan cacat di jabatan-jabatan yang sesuai.

32

BAB III PENUTUP


A. KESIMPULAN Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang diakibatkan oleh pekerjaan dan linkungan kerja.Identifikasi penyakit akibat kerja dilakukan melalui pendekatan epidemiologis( komunitas ) dan pendekatan klinis ( individu ).Adapun criteria umum dari PAK adalah adanya hubungan antara pajanan yang spesifik dengan penyakit,adanya fakta bahwa frekwensi kejadian penyakit pada populasi pekerja lebih tinggi daripada pada masyarakat umum,dan penyakit dapat dicegah dengan melakukan tindakan preventif di tempat kerja. Penyebabnya dibagi dalam 4 golongan yaitu golongan fisik, kimia, biologis , fisiologis dan mental psikologis.

Untuk dapat mendiagnosis Penyakit Akibat Kerja pada individu perlu dilakukan suatu pendekatan sistematis untuk mendapatkan informasi yang diperlukan dan menginterpretasinya secara tepat. Pendekatan tersebut dapat disusun menjadi 7 langkah yang dapat digunakan sebagai pedoman: Tentukan Diagnosis klinisnya , Tentukan pajanan yang dialami oleh tenaga kerja selama ini , Tentukan apakah pajanan tersebut memang dapat menyebabkan penyakit tersebut , Tentukan apakah jumlah pajanan yang dialami cukup besar untuk dapat mengakibatkan penyakit tersebut , Tentukan apakah ada faktor-faktor

33

lain yang mungkin dapat mempengaruhi , Cari adanya kemungkinan lain yang dapat merupakan penyebab penyakit , buat keputusan apakah penyakit tersebut disebabkan oleh pekerjaannya

B. SARAN Agar tidak terkena penyakit akibat kerja lebih baik sejak dini sudah dilakukan pencgahan Adapun upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan pencegahan awal , pencegahan setempat dan penccegahan dini.

34

DAFTAR PUSTAKA Abipraya.2008.Penyakit Akibat Kerja.Diakses pada tanggal 20 November 2010 : http://safety4abipraya.wordpress.com/2008/03/19/penyakit-akibat-kerja/ Arief.2010.Penyakit Akibat Kerja. Diakses pada tanggal 20 November 2010 : www.drarief.com/tag/penyakit-akibat-kerja Diana, Ditha. . PENYAKIT AKIBAT KERJA & PENYAKIT YG

BERHUBUNGAN DG PEKERJAAN. Diakses pada tanggal 20 November 2010 : d.yimg.com/kq/groups/11126309/presentasi+PAK-Ditha.ppt Isfany.2009.Diagnosis Penyakit Akibat Kerja ( PAK ). Diakses pada tanggal 26 November 2010 : http://tuloe.wordpress.com/2009/10/16/diagnosis-penyakit-akibatkerja/ Siswono.2004.Penyakit Akibat Kerja Dianggap Biasa. Diakses pada tanggal 26 November 2010 : http://www.gizi.net/cgi-

bin/berita/fullnews.cgi?newsid1087879021,17828, Susiloharjo.2010. 5 faktor Penyebab Penyakit Akibat Kerja . Diakses pada tanggal 20 Oktober 2010 : http://susiloharjo.web.id/2010/05/20/5-faktor-penyebab-penyakitakibat-kerja/ http://wawaditaode.blogspot.com/2010/12/pengantar-penyakit-akibat-kerja.html

35